ٱلنَّمْل ٦٥
- قُل katakanlah
- لَّا tidak
- يَعۡلَمُ mengetahui
- مَن orang
- فِي di
- ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)
- وَٱلۡأَرۡضِ dan bumi
- ٱلۡغَيۡبَ gaib
- إِلَّا kecuali
- ٱللَّهُۚ Allah
- وَمَا dan mereka tidak
- يَشۡعُرُونَ menyadari/mengetahui
- أَيَّانَ bilamana
- يُبۡعَثُونَ mereka dibangkitkan
Katakanlah (Muhammad), "Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan."
(Katakanlah!, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui) baik dari kalangan para Malaikat maupun manusia (perkara yang gaib) dari mereka (kecuali) hanya (Allah saja) yang mengetahuinya (dan mereka tidak mengetahui) maksudnya orang-orang kafir Mekah sama pula dengan orang-orang selain mereka (bila) kapan waktunya (mereka dibangkitkan hidup kembali.").
Tafsir Surat An-Naml: 65-66
Katakanlah, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah," dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana), malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta darinya.
Ayat 65
Allah ﷻ berfirman, memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk memberitahukan kepada semua makhluk, bahwa sesungguhnya tiada seorang pun baik yang di langit maupun yang di bumi mengetahui perkara gaib selain dari Allah ﷻ. Kalimat Illallah (kecuali hanya Allah) merupakan istisna munqati', yang maksudnya ialah bahwa tiada seorang pun yang mengetahui perkara gaib selain dari Allah ﷻ semata, tiada sekutu bagi-Nya. Seperti yang diungkapkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.” (Al-An'am: 59), hingga akhir ayat.
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah Yang menurunkan hujan.”(Luqman: 34), hingga akhir surat. Ayat-ayat yang menerangkan tentang hal ini cukup banyak.
Firman Allah ﷻ: “Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)
Artinya, tiada seorang pun yang ada di langit maupun yang ada di bumi mengetahui waktunya hari kiamat. Sama halnya dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Kiamat itu amat berat (huru-haranya) bagi makhluk yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” (Al-A'raf: 187). Maksudnya amat berat pengetahuan hari kiamat itu bagi penduduk langit dan bumi.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Ja'd, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar-Razi, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya'bi, dari Masruq, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa barang siapa yang menduga bahwa dia (Nabi ﷺ) mengetahui apa yang akan terjadi besok, maka sesungguhnya dia telah berdusta besar terhadap Allah, karena Allah ﷻ telah berfirman: “Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah’.” (An-Naml: 65)
Qatadah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menjadikan bintang-bintang ini untuk tiga kegunaan; Allah menjadikannya sebagai perhiasan langit, dan menjadikannya sebagai tanda yang bisa dipakai untuk penunjuk arah, dan menjadikannya sebagai alat perajam setan.
Maka barang siapa yang menganggap selain dari itu, berarti dia mengatakan sesuatu yang tidak ada sandarannya melainkan hanya pendapat sendiri; dia keliru besar dan menyia-nyiakan waktunya serta memaksakan diri terhadap apa yang tidak ada pengetahuan baginya tentang hal itu. Dan sesungguhnya ada sebagian orang yang bodoh tentang urusan Allah, mereka membuat-buat ilmu tenung melalui bintang-bintang ini dengan mengatakan bahwa barang siapa yang turun istirahat di malam hari dengan bintang anu, maka akibatnya akan anu; barang siapa yang bepergian dengan bintang anu, maka akan anu; dan barang siapa yang dilahirkan dengan bintang anu, maka anu.
Demi usiaku, tiada suatu bintang pun melainkan ada yang lahir di waktunya orang yang berkulit merah, hitam, berperawakan pendek, berperawakan jangkung; dan ada yang tampan rupa, ada pula yang buruk rupa. Lalu apa kaitannya perbintangan ini dan hewan serta burung tersebut dengan sesuatu dari ilmu gaib? Allah telah memutuskan bahwa tiada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Dia, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan? Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Qatadah secara harfiyah. Pendapat ini merupakan pendapat yang benar, kuat, lagi berbobot.
Ayat 66
Firman Allah ﷻ: “Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana), malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu.” (Al-Naml: 66)
Artinya, pengetahuan mereka tidak mampu dan lemah untuk mengetahui waktu terjadinya hari kiamat. Sebagian ulama ada yang membacanya yang artinya "pengetahuan mereka sama tidak tahunya mengenai hal tersebut". Seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih Muslim, bahwa Rasulullah ﷺ dalam jawabannya terhadap Malaikat Jibril yang menanyakan kepadanya tentang waktu hari kiamat mengatakan: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” Yakni keduanya sama-sama tidak mengetahui kapan hari kiamat terjadi, baik orang yang ditanya maupun si penanya.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana).” (An-Naml: 66) Yaitu tidak dapat menjangkau, karena perkara terjadinya hari kiamat adalah hal yang gaib.
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana).” (An-Naml: 66). Karena ketidaktahuan mereka terhadap Tuhannya, maka pengetahuan mereka tidak dapat menembus tentang hari akhirat (kiamat); ini merupakan pendapat yang lain.
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ata Al-Khurrasani dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana).” (An-Naml: 66). Yakni di saat pengetahuan tidak ada manfaatnya lagi. Hal yang sama dikatakan oleh Ata Al-Khurrasani dan As-Saddi, bahwa pengetahuan mereka baru dapat terbuka kelak pada hari kiamat di saat tidak ada manfaatnya lagi bagi mereka hal tersebut. Seperti yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya: “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata.” (Maryam: 38).
Sufyan telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ubaid, dari Al-Hasan, bahwa ia pernah membaca firman-Nya: “Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana).” (An-Naml: 66). Lalu ia mengatakan bahwa pengetahuan mereka di dunia pudar ketika mereka menyaksikan hari akhirat (kiamat).
Firman Allah ﷻ: “Malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu.” (An-Naml: 66).
Damir ini kembali kepada isim jenis, yang dimaksud ialah orang-orang kafir, sama seperti yang terdapat di dalam firman-Nya: “Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali yang pertama; bahkan kamu mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.” (Al-Kahfi: 48). Yaitu orang-orang yang kafir dari kalangan kalian. Hal yang sama disebutkan pula dalam ayat ini:
“Malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu.” (An-Naml: 66).
Mereka meragukan keberadaan dan kejadiannya.
“Lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya.” (An-Naml: 66)
Yakni dalam kebutaan dan ketidaktahuan yang parah tentang hari kiamat dan keadaannya.
Banyak orang beranggapan bahwa ada orang yang dapat mengetahui hal ghaib, termasuk waktu kedatangan kiamat. Katakanlah wahai Nabi Muhammad, 'Tidak ada sesuatu dan siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak merasakan apalagi mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan dari alam barzakh. '66. Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka, yakni kaum musyrik, tentang akhirat tidak sampai ke sana. Bahkan mereka ragu-ragu tentangnya, yaitu akhirat. Bahkan mereka adalah orang-orang yang buta tentang kebenaran itu, karena tidak mau berusaha mencari alasan-alasan yang membenarkan adanya hari akhir. Hal itu disebabkan oleh mata hati mereka yang telah dirusak oleh kesesatan.
Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menerangkan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara yang gaib baik di langit maupun di bumi selain Allah, sesuai dengan firman-Nya:
Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. (al-An'am/6: 59)
Dan firman-Nya pula:
Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Luqman/31: 34)
Maksud perkara gaib di sini ialah persoalan-persoalan yang ada hubungannya dengan keadaan dan kehidupan di akhirat dan persoalan-persoalan di dunia yang berada dalam lingkungan hidup manusia dan dapat dirasakan tetapi di luar kemampuan manusia mencapainya. Diriwayatkan dari Masruq dari 'Aisyah beliau berkata:
Dari 'Aisyah r.a., beliau berkata, "Barang siapa yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengetahui apa yang akan terjadi besok, maka ia telah berdusta besar terhadap Allah, karena Allah menyatakan, 'Katakan, tidak ada yang tahu tentang kegaiban langit dan bumi kecuali Allah." (Riwayat Muslim)
Pada ayat ini disebutkan salah satu di antara yang gaib itu ialah mereka tidak mengetahui bila akan dibangkitkan dari kubur pada hari Kiamat, karena kiamat itu datangnya secara tiba-tiba sesuai dengan firman Allah:
Apakah mereka hanya menunggu saja kedatangan hari Kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak sedang mereka tidak menyadarinya? (az-Zukhruf/43: 66)
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Ilmu Yang Ghaib di Tangan Allah
“Katakanlah" — Hai Utusan Kami -"Tidak ada seorang pun di semua langit dan bumi yang mengetahui yang ghaib, kecuali Allah." (pangkal ayat 65).
Apa yang akan kejadian besok? Apa malang dan mujur yang akan menimpa diri seseorang? Baik di langit atau di bumi, tidak seorang pun yang mengetahuinya. Hanya Allah saja yang tahu. Nabi pun tidak tahu: “Dan tidak pula ada mereka yang menyadari bila mereka akan dibangkitkan." (ujung ayat 65). Tidak pula ada yang tahu, baik di langit ataupun di bumi, baik manusia ataupun malaikat, bilakah akan terjadi hari kebangkitan, atau tegasnya hari kiamat itu. Orang yang telah meninggal pun tidak tahu bila masanya mereka akan dibangunkan kembali dari alam barzakh atau alam kubur.
Berdasar kepada ayat inilah sebuah Hadis yang dirawikan oleh Ibnu Abi Hatim dari isteri Nabi kita Siti Aisyah. Bahwa Aisyah membantah sekeras-kerasnya orang yang mengatakan bahwa Nabi kita Muhammad s.a.w. mengetahui apa yang akan berlaku beresok lusa.
Qatadah pernah berkata tentang orang yang mempercayai apa yang dinamakan Ilmu Bintang atau Astrologi. Kata beliau: “Allah menjadikan bintang-bintang di langit itu hanya untuk tiga faedah. (1) Allah menjadikan bintang-bintang akan perhiasan langit; (2) Allah menjadikannya untuk memberi petunjuk dalam perjalanan, dan Allah menjadikan bintang-bintang (3) untuk menghumban melempari syaitan-syaitan. Maka barangsiapa yang mempergunakan bintang-bintang untuk selain dari itu, sesungguhnya dia telah disesatkan oleh pendapatnya sendiri, menjadi salah langkahnya dan buruklah nasibnya dan memaksa-maksakan suatu hal yang samasekali tidak ada dasar ilmiahnya. Orang-orang yang jahil dan tidak mengetahui Ilmu Allah telah membuat semacam ilmu nujum, ilmu tukang tenung. Barangsiapa yang melakukan perkawinan di waktu bintang begini, akibatnya ialah begitu. Barangsiapa yang bepergian (musafir) di waktu bintang anu, akibatnya ialah begini. Barangsiapa yang lahir ke dunia pada waktu bintang anu, akibat hidupnya ialah demikian. Demi umurku! Bintang di langit tetap ada ganti berganti kelihatan, namun manusia lahir juga ke dunia. Ada yang merah, ada yang hitam, ada yang pendek, ada yang panjang, ada yang cantik, ada yang jelek. Namun bintang-bintang itu, atau binatang itu, atau burung itu, tidak satu jua pun yang mengetahui yang ghaib. Allah telah menentukan bahwa tidak ada yang mengetahui akan yang ghaib, baik di langit atau di bumi, melainkan Allah sendiri, dan tidak ada orang yang tahu bila hari akan kiamat." Demikianlah perkataan berharga dari Qatadah, dirawikan oleh Ibnu Abi Hatim.
“Bahkan, tidaklah sampai pengetahun mereka tentang akhirat." (pangkal ayat 66). Allah telah menyampaikan dengan perantaraan Rasul-rasul bahwa sesudah hidup yang sekarang ini, akan ada lagi hidup, yang dinamai Hari Akhirat. Dia termasuk tiang dari Iman kita. Tetapi tidak ada manusia atau makhluk mana pun yang sampai pengetahuannya kepada akhirat itu bila masa akan terjadinya. Jibril sendiri pun seketika bertanya kepada Rasulullah, menurut riwayat dari Hadis yang shahih, bila akan terjadi hari kiamat atau saat itu. Nabi kita telah menjawab dengan bijaksana sekali. Kata beliau:
“Tidaklah yang ditanyai lebih tahu tentang hal itu dari yang bertanya."
Selanjutnya orang yang kafir ragu tentang akan terjadinya hari kiamat itu; “Bahkan mereka dalam keadaan ragu-ragu padanya."
Mungkin menurut pertimbangan akal saja orang bisa percaya bahwa dunia ini akhir kelaknya akan kiamat, sebagaimana tiap-tiap dip manusia pun pasti mati. Tetapi tentang bahwa manusia kelak akan dibangkitkan kembali, atau dihidupkar kembali sesudah mati beribu-ribu tahun, sesudah tulang hancur jadi tanah, atau orang-orang yang mayatnya dibakar dan abunya telah dihanyutkan ke laut, mereka itu ragu dalam hati, mungkinkah yang telah hancur itu akan dihidupkan kembali.
Syak dan ragu-ragu itu akan terus-menerus di dalam hidup kalau tidak ada kepercayaan kepada adanya Tuhan. Tidak pula percaya kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang diutus Tuhan itu dan wahyu-wahyu suci yang mereka sampaikan kepada manusia. Dan keraguan akan adanya Hari Kiamat itu akan hilang kalau percaya akan Tuhan, dan percaya pula bahwa Nabi-nabi yang menurut riwayat 124,000 banyaknya, dan yang menjadi Rasul di antara mereka itu sekitar 300 orang, mustahil akan bersepakat membuat dusta. Tetapi kaiau kepercayaan itu samasekali tidak ada, dan tetap juga dalam ragu-ragu tentang adanya hari kiamat, apatah jadinya? Lanjutan ayat tegas sekali: “Bahkan mereka pun buta daripadanya." (ujung ayat 66).
Tegasnya ialah bahwa akibat daripada ragu-ragu akan adanya hari kiamat, yang mempunyai ciri yang khas dari kekafiran, tidak lain ialah buta. Jalan buntu. Jalan yang tidak ada ujung. Hidup yang kehilangan hari esok. Atau jalan yang tidak mempunyai pengharapan. Itulah buta hidup, meskipun mata nyalang. Karena jiwa sendiri yang kehilangan penglihatan. Bila telah buta sejak dari dunia, sampai ke akhirat nanti tentu akan buta juga:
‘Barangsiapa yang ada di sini dalam keadaan buta, niscaya di akhirat dia pun akan buta juga, dan akan sangat sesatlah jalannya." (Surat 17, al-Isra':72)
“Dan berkata orang-orang yang kafir itu: “Apakah setelah kita menjadi tanah dan nenek-moyang kita, apakah kita semuanya akan dikeluarkan?" (ayat 67). Inilah macam pertanyaan dari orang-orang yang ragu itu. Sebab turun ayat tentu orang-orang Quraisy. sebab ayat ini diturunkan di Makkah. Tetapi sampai' saat kita ini pun, dan sampai kelak kemudian hari masih akan ada orang yang bertanya lantaran ragunya, apakah setelah kita hancur dalam kubur, apabila tulang telah berserak-serak, kadang-kadang telah jadi abu karena mati terbakar dan dibakar, sebagai kebiasaan pemeluk agama Hindu yang mayatnya dibakar atau orartg-orang yang meminta sendiri agar mayatnya dibakar, atau telah berkeping-keping dimakan ikan hiyu dalam laut, semuanya itu akan dikeluarkan kelak dari dalam kuburnya, atau akan dihidupkan kembali? Begitu juga nenek kita, nenek dari nenek yang dahulu, moyang turun-temurun yang kuburnya pun kita tidak tahu lagi; apakah semuanya itu akan dihidupkan kembali?
Mereka tidak mau percaya tentang Hari Kebangkitan itu. Lalu mereka tegaskan lagi bantahan mereka: “Sesungguhnya kami telah diancam dengan ini." (pangkal ayat 68). Mereka anggap kata-kata yang disampaikan Nabi ini hanya semata-mata ancaman, atau kasarnya “gertak sambal" saja. Ancaman menakut-nakuti saja."Kami dan nenek-moyang kami sebelum ini." Ancaman ini berlaku kepada kami sekarang ini. Nenek-moyang kami yang dahulu kala pun telah diancam dengan ancaman seperti ini."Ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang purbakala." (ujung ayat 68).
Mereka tidak mau percaya. Mereka katakan ini hanyalah dongeng-dongeng purbakala yang oleh Nabi-nabi yang dahulu telah disampaikan kepada nenek-moyang mereka. Memang Nabi Ismail bin Ibrahim telah menyampaikan ini juga, Nabi Shalih dan Hud dan Syu'aib, dan Nabi Alqamah telah menyampaikan ini juga, sehingga telah diterima turun-temurun dari nenek-moyang turun ke cucu. Tetapi karena kiamat itu belum juga kejadian, mereka anggap saja bahwa ini hanya dongeng untuk menakut-nakuti.
Alasan-alasan yang dikemukakan orang zaman itu buat mendustakan kebangkitan di hari kiamat itu sama juga dengan yang dikemukakan sekarang. Bagaimana akan bisa terjadi, tulang yang telah berserak akan dikumpul dan disusun kembali, lalu diberi berdaging, berurat dan bernyawa.
Mengapa cuma itu yang mereka fikirkan, lalu mereka bingung. Tidakkah mereka fikirkan, tubuh yang sekarang ini dari mana datangnya? Bagaimana, dari seorang laki-laki tidur dengan seorang perempuan lalu lahir seorang manusia? Bagaimana pergabungan dua tetes mani bisa dapat nyawa? Dan dari mana asal-usul mani itu? Ahli-ahli gizi memperkatakan tentang hormon, kalori, vitamin dan sebagainya. Kemudian setelah cukup bulannya anak itu pun lahir. Dia beransur besar.
Coba kita pertemukan saja di antara tiga fakta; Permulaannya: pergabungan dua tetes mani yang bersatu menjadi nuthfah diguiigakan dalam rahim (peranakan) seorang perempuan.
Pertengahannya: Seorang kanak-kanak yang memekik melancar dari dalam perut ibu.
Kesudahannya: Mayat seorang tua yang terbujur di tempat tidur menunggu akan dihantarkan ke pekuburan.
Apakah yang dilalui, apakah yang terjadi dan apakah yang berkumpul, sampai nuthfah itu bergerak jadi orang, lalu lahir ke dunia. Lalu menjadi seorang manusia yang bergerak dan berfikir. Zat-zat apa yang digabungkan untuk membina anak yang merangkak-rangkak itu sampai dia jadi orang dewasa, besar dan tegap. Cahaya matahari, cahaya ultra violet yang menyinari pagi, zat-zat yang tertinggal pada dirinya setelah dia habis makan. Ingatannya yang kuat dari mana datang? Fikirannya yang cerdas dari mana tiba?
Bolehkah kita ambil tiga buah foto dari masa yang dilalui dari seorang manusia sebagai yang kita katakan itu. Semasa dua tetes mani mulai bergabung, sesudah itu semasa seorang anak mulai lahir ke dunia dan masih merah memekik-mekik melengking-lengking. Dan yang terakhir foto dari orang itu juga setelah jenazahnya terbujur di hari tua.
Pengisi jasmaninya di saat-saat yang dilaluinya itu entah dari mana saja; dari sari tanah di ﷺah pada beras yang dimakan, dari dasar laut yang dihisap oleh ikan dan kerang, dari bau kembang yang dihisapnya sendiri ketika dihembuskan angin sepoi. Bahkan dari anasir empat yang terkenal, dari air. dari hawa, dari tanah dan dari api. Dari zat besi yang dibawa dalam sayur, dari saringan rumput hijau yang dimamah oleh kerbau. Semuanya melalui makanan, semuanya melalui minuman, dari hawa panas ikan digoreng, dari cahaya matahari ketika jendela terbuka pagi. Semua berkumpul ke dalam kerangka tubuh ini. Semua berkumpul menjadi satu ke dalam badan ini, jadi manusia, sejak mulai dikandung, sampai lahir dan menghisap susu ibu, sampai rezeki telah berhenti dan jasad telah terbujur. Dan tidak seorang jua pun yang dapat mengetahui bagaimana proses yang ditempuh oleh segala anasir, segala zat halus yang berkumpul jadi badan itu, yang kemudiannya ditimbun dalam tanah, hingga kemudian tinggal tulang, atau tulang pun akhirnya patah, remuk dan hancur, atau dibakar habis sekalipun.
Tidak diketahui ke mana abu itu perginya, bagaimana bekas badan itu jadinya. Sebagaimana tidak pun diketahui bagaimana asal mulanya maka badan tubuh ini maka ada.
Kita belum tahu bahwa diri ini akan dibangkitkan kembali, karena kita tidak tahu jalannya, lalu ada orang yang jadi ragu. Padahal kejadian diri manusia sendiri, sebagaimana yang kita uraikan itu sama saja dengan pengembalian badan ke atasnya, jadi tanah, sesudah mati. Sama-sama tidak ada orang yang tahu dari mana dan bagaimana. Padahal dia kita saksikan.
Kalau keadaan yang nyata ini ganjil dan ghaib bagi kita, lalu kita percaya mengapa kita tidak akan percaya bahwa Allah Yang Maha Kuasa itu masih sanggup lagi melanjutkan hidup makhlukNya itu menurut proses yang lain pula, yang sama gelapnya bagi kita dengan keadaan yang kita saksikan sekarang?
Melihat kemajuan ilmu pengetahuan alam di zaman sekarang, pengetahuan yang dinamai exact, dari hasil-hasil riset yang mendalam tentang'tenaga atom misalnya, maka ilmu pengetahuan moden sudah lebih maju dan lebih condong kepada percaya. Kemajuan ilmu pengetahuan itu jugalah yang menyatakan mungkin saja, menurut ilmiah bahwa manusia itu bisa dihidupkan kembali oleh Allah menurut kudrat idaratnya. Yang mengatakan tidak masuk akal bukan lagi orang yang berilmu, melainkan sisa-sisa dan keingkaran zaman lama.
“Katakanlah: “Mengembaralah di muka bumi, lalu pandanglah betapa akibat dari orang-orang yang berbuat dosa." (ayat 69), Anjuran supaya mereka mengembara, lalu meninjau bagaimana akibat yang menimpa orang yang berbuat dosa, ialah untuk dijadikan perbandingan betapa akibatnya orang yang mendustakan hari Kiamat itu. Kebanyakan orang berbuat dosa ialah karena tidak percaya bahwa dosanya akan diberi ganjaran di kemudian hari. Bila dia merasa kuat, dilakukannyalah aniaya kepada yang lemah. Bila dia kaya-raya, dia lupa membela dan menolong orang yang miskin. Dia berbuat sesuka hati karena menyangka bahwa perbuatannya tidak akan ada balasan. Oleh karena itu maka kacaulah masyarakat, hilanglah keamanan. Orang merasa tidak terjamin hidupnya. Yang kuat menindas yang lemah. Akhirnya kebinasaan menimpa negeri itu. Azab Tuhan datang, walaupun hari belum kiamat.
“Dan janganlah engkau berdukacita terhadap mereka." (pangkal ayat 70). Sebagai seorang Nabi yang sangat dikasihi kaumnya, sangatlah rasa dukacita Rasulullah s.a.w. memikirkan nasib kaumnya yang mendustakan kebenaran itu, yang menyambut' peringatan Rasul tentang hari kiamat, bahwa itu hanya semata-mata dongeng purbakala. Sedih beliau memikirkan betapa nasib ummat Nabi-nabi yang dahulu yang mendustakan Nabi-nabi Allah. Tetapi dalam ayat ini Nabi s.a.w. dibujuk oleh Tuhan, tak usahlah dia berdukacita memikirkan mereka; “Dan janganlah merasa sempit dari sebab tipudaga mereka." (ujung ayat 70).
Dukacita melihat perangai kaum itu kadang-kadang naik menjadi sebab akan sempit dada, atau dalam bahasa sehari-hari “jengkel" atau “kecewa". Karena kaum itu melakukan tipudaya, melakukan makar. Perbuatan berbelat-belit, rencana-rencana yang tidak jujur, yang akan membawa celaka bagi diri mereka sendiri. Dengan ayat ini Nabi s.a.w. dilunakkan hatinya oleh Tuhan, disuruh bersabar dan membiarkan saja sementara. Karena segala tipudaya dan makar itu tidaklah akan berhasil. Sebab rencana itu tidak akan dibantu oleh Tuhan. Bahkan Nabi s.a.w.lah yang akan berhasil dl dalam perjuangan menegakkan agama ini.
“Dan mereka berkata: “Bilakah akan datang janji itu?" (pangkal ayat 71). Yaitu janji Allah bahwa mereka akan beroleh bahagia jika garis yang ditentukan Tuhan dipatuhi dan mereka akan mendapat celaka besar jika kebenaran ini masih ditantang. Mereka minta tunjukkan dan buktikan; “Jika memang kamu tergolong orang-orang yang benar." (ujung ayat 71). Mereka menggantungkan kepercayaan mereka akan kebenaran Nabi kepada cepatnya janji itu dipenuhi Tuhan. Alangkah sombongnya! Padahal kalau janji itu dipenuhi segera, mereka pulalah yang akan terlebih dahulu musnah dihancurkan oleh azab.
Maka disuruhlah oleh Tuhan akan RasulNya supaya menjawab tantangan itu dengan peringatan: “Katakanlah" Hai Utusan Kami: “Mungkin telah hampir datang kepada kamu sebahagian dari apa yang kamu minta segerakan itu"(ayat 72). Dikatakan dalam ayat ini dengan secara isyarat saja, bahwa apa yang kamu tantang dan kamu tuntut supaya didatangkan itu, dengan tidak kamu sadari, mungkin sudah dekat. Belum semua, baru sebahagian. Yang sebahagian itu pun tidak akan dapat kamu tangkis dan tidak akan dapat kamu elakkan.
‘Peringatan itu bukan saja mengenai diri orang musyrikin yang menantang Nabi, melainkan untuk seluruh manusia. Janganlah menantang menanyai bila apa yang dijanjikan itu akan datang. Kerapkali dengan tidak disadari bahaya itu sudah ada*di hadapan mata. Alangkah lemahnya manusia, baik secara peri-badi, ataupun secara bersama-sama Sedang duduk senang-senang, tiba-tiba jantung berhenti bergerak, langsung mati. Tadinya tidak menyangka. Sedang bergembira-ria dalam satu kampung, tiba-tiba orang memekik-mekik berlarian, karena ada rumah terbakar. Ada orang sedang bersenang-senang, tiba-tiba banjir besar datang, atau gempa bumi, atau angin ribut.
“Dan sesungguhnya Tuhan engkau, benar-benar mempunyai kumia atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur" (ayat 73). Memang demikianlah kumia Tuhan kepada kita manusia ini. Kumia yang tidak berkeputusan, siang dan malam, petang dan pagi. Matahari terbit dan terbenam dengan teratur, bulan bercahaya dengan seksama tidak berkacau. hujan turun, air mengalir, bumi subur. Edaran alam berjalan sebagai biasa. Hidup kita manusia senantiasa dijamin oleh Tuhan dan dipelihara. Oleh karena sempurna dan berkekalan kurnia Allah, kita pun lupa bahwa nikmat itu ada. Setelah sekali-kali Tuhan menunjukkan kuasanya, barulah manusia bergoncang dan gelisah. Dalam ayat ini dikatakan bahwa kebanyakan di antara manusia tidaklah bersyukur, tidaklah berterimakasih. Kebanyakan manusia masih saja mengeluh mengingat kekurangan. Loba dan tamak dan perasaan tiada puas dengan yang telah ada menyebabkan kehidupan kebanyakan manusia itu lebih banyak berangan-angan.
Maka jika kita persambungkan di antara ayat ini dengan ayat yang sebelumnya, menjadi lebih parah lagiiah nasib manusia. Ketika kurnia Tuhan berlimpah-limpah mereka bersyukur. Mereka lupa akan kekuasaan Tuhan. Malahan ada yang menantang, mana janji Tuhan itu! Keluarkanlah sekarang kalau ada! Padahal bagi Tuhan mudah saja merubah keadaan. Dalam langit lazuardi hijau dan udara tenang saja, bisa saja dalam beberapa menit keadaan berubah, badai pun turun.
“Dan sesungguhnya Tuhan engkau benar-benar mengetahui apa yang terkandung dalam dada mereka" (pangkal ayat 74). Artinya, bahwa kepada Tuhan tidaklah dapat manusia berahasia. Apa yang dikandung dalam dada itu Tuhan tahu. Detak-detik hati manusia, ke mana condong, apa yang dituju dalam hati, walaupun diselimuti maksud buruk dengan sikap lain, namun Allah tahu juga. Janganlah mencoba bermain “komidi" dengan Allah, karena dengan demikian yang engkau “komidikan" hanya dirimu sendiri jua. “Dan yang mereka nyatakan" (ujung ayat 74). Sedangkan yang tersembunyi dalam dada Allah tahu, apatah lagi yang dinyatakan dalam sikap hidup, dalam tutur kata, dalam gerak langkah, dalam sepak terjang. Bahkan kadang-kadang Allah memberikan pula ilhamNya kepada orang yang beriman, sehingga dengan bim-bingan Allah orang yang beriman itu dapat pula mengetahui isi hati seseorang dari sikap dan tingkah lakunya. Bukan karena orang itu mengetahui yang ghaib, melainkan sikap dan laku perangai orang yang dilihatnya itu tidak ghaib lagi. Kadang-kadang tingkah laku, kerdip mata, buang kata, tidaklah dapat merahasiakan karakter buruk baik seseorang.
“Dan tidaklah ada sesuatu yang ghaib di langit dan di bumi." (pangkal ayat 75). Yaitu yang ghaib di langit dan di bumi pada pengetahuan manusia. Baik yang ghaib dari tangkapan pancaindera, atau ghaib dalam fikiran manusia karena tidak terpecahkan oleh fikiran. Misalnya berapa banyak bintang di langit; adalah ghaib bagi manusia. Berapa banyak pasir di pantai bumi; adalah ghaib bagi perhitungan manusia. Berapa yang sebenarnya umur seseorang manusia, bahkan berapa yang sebenarnya umur bumi ini; semuanya ghaib bagi manusia. Atau sebagaimana telah kita katakan terdahulu di atas tadi, bagaimana rahasia maka segumpal kumpulan mani seorang laki-laki dengan seorang perempuan, dapat menjelma jadi manusia, diberi nyawa dan akal; itu pun ghaib bagi manusia. Namun semuanya itu bagi Tuhan Allah tidak ghaib."Melainkan telah ada dalam kitab yang nyata." (ujung ayat 75).
Semuanya itu ada catatannya bagi Tuhan. Ada perhitungannya. Ada daftarnya, di dalam kitab yang bernama Al-Luhul Mahfuzh, suatu papan tulis yang terpelihara.
Apabila kita melihat “administrasi" yang teratur dari satu usaha besar, kita akan mengambil kesimpulan bahwa usaha ini dipimpin oleh seorang pemimpin yang amat teliti. Maka ketelitian itu pastilah pada Alam Raya ciptaan Allah ini. Percayalah kita bahwa yang ghaib bagi kita tidak ghaib bagi Allah. Semuanya teratur dengan lengkap, mempunyai peraturan sendiri. Kadang-kadang, dan sekali-sekali dan agak sejemput kecil, dibukakan Tuhan bagi kita manusia rahasia ghaib Alam itu, sehingga berbesar hatilah kita menerimanya. Misalnya rahasia listrik, rahasia tenaga atom, rahasia kekayaan alam terpendam dalam bumi dan lain-lain. Dan semuanya itu barulah sekelumit kecil, belum ada artinya dengan keghaiban yang masih banyak tersimpan dalam Perbendaharaan Tuhan.
The Command to praise Allah and send Blessings on His Messengers
Allah commands His Messenger to:
قُلِ
Say:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Praise and thanks be to Allah,
meaning, for His innumerable blessings upon His servants and for His exalted Attributes and most beautiful Names.
وَسَلَمٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى
and peace be on His servants whom He has chosen!
And He commands him to send peace upon the servants of Allah whom He chose and selected, i.e., His noble Messengers and Prophets, may the best of peace and blessings from Allah be upon them.
This was the view of Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam and others;the meaning of the servants He has chose is the Prophets. He said,
This like He said in the Ayah;
سُبْحَـنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
وَسَلَـمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَـلَمِينَ
Glorified be your Lord, the Lord of honor and power! (He is free) from what they attribute unto Him! And peace be on the Messengers! And all the praises and thanks be to Allah, Lord of all that exists. (37:180-182)
Ath-Thawri and As-Suddi said,
This refers to the Companions of Muhammad, may Allah be pleased with them all.
Something similar was also narrated from Ibn Abbas, and there is no contradiction between the two views, because they were also among the servants of Allah whom He had chosen, although the description is more befitting of the Prophets.
اللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ
Is Allah better, or what they ascribe as partners (to Him)!
This is a question aimed at denouncing the idolators for their worship of other gods besides Allah.
Some more Proofs of Tawhid
Then Allah begins to explain that He is the Only One Who creates, provides and controls, as He says
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ
Is not He Who created the heavens and the earth,
meaning, He created those heavens which are so high and serene, with their shining stars and revolving planets. And He created the earth, with its varying heights and densities, and He created everything in it, mountains, hills, plains, rugged terrain, wildernesses, crops, trees, fruits, seas and animals of all different kinds and colors and shapes, etc.
وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاء مَاء
and sends down for you water from the sky,
means, He sends it as a provision for His servants,
فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَايِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ
whereby We cause to grow wonderful gardens full of beauty and delight
means, beautiful and delightful to behold.
مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنبِتُوا شَجَرَهَا
It is not in your ability to cause the growth of their trees.
meaning, `you are not able to cause their trees to grow. The One Who is able to do that is the Creator and Provider, Who is doing all this Alone and Independent of any idol and other rival.'
The idolators themselves admitted this, as Allah says in another Ayah:
وَلَيِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
And if you ask them:Who has created them! they will certainly say:Allah. (31:25)
وَلَيِن سَأَلْتَهُمْ مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَأءِ مَأءً فَأَحْيَا بِهِ الاٌّرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّه
And if you were to ask them:Who sends down water from the sky, and gives life therewith to the earth after its death! they will surely reply:Allah. (29:63)
Meaning they will admit that He is the One Who does all these things, Alone, with no partner or associate, but then they worship others alongside Him, others who they admit cannot create or provide anything. But the Only One Who deserves to be worshipped is the Only One Who can create and provide,
Allah says:
أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ
Is there any god with Allah,
meaning, `is there any god that can be worshipped alongside Allah, when it is clear to you and anyone who with reason that He is the Creator and Provider, as you yourselves admit!'
Then Allah says:
بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ
Nay, but they are a people who ascribe equals (to Him)!
meaning, they describe others as being equal and comparable to Allah
Allah says:
أَمَّن جَعَلَ الاَْرْضَ قَرَارًا
Is not He Who has made the earth as a fixed abode,
meaning, stable and stationary, so that it does not move or convulse, because if it were to do so, it would not be a good place for people to live on. But by His grace and mercy, He has made it smooth and calm, and it is not shaken or moved.
This is like the Ayah,
اللَّهُ الَّذِى جَعَـلَ لَكُـمُ الاٌّرْضَ قَـرَاراً وَالسَّمَأءَ بِنَـأءً
Allah, Who has made for you the earth as a dwelling place and the sky as a canopy. (40:64)
وَجَعَلَ خِلَلَهَا أَنْهَارًا
and has placed rivers in its midst,
means, He has placed rivers which are fresh and sweet, cutting through the earth, and He has made them of different types, large rivers, small rivers and some in between. He has caused them to flow in all directions, east, west, south, north, according to the needs of mankind in different areas and regions, as He has created them throughout the world and sends them their provision according to their needs.
وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ
and has placed firm mountains therein,
means, high mountains which stabilize the earth and make it steadfast, so that it does not shake.
وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا
and has set a barrier between the two seas,
means, He has placed a barrier between the fresh water and the salt water, to prevent them from mixing lest they corrupt one another. Divine wisdom dictates that each of them should stay as it is meant to be. The sweet water is that which flows in rivers among mankind, and it is meant to be fresh and palatable so that it may be used to water animals and plants and fruits. The salt water is that which surrounds the continents on all sides, and its water is meant to be salty and undrinkable lest the air be corrupted by its smell, as Allah says:
وَهُوَ الَّذِى مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَـذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَـذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخاً وَحِجْراً مَّحْجُوراً
And it is He Who has let free the two seas, this is palatable and sweet, and that is salty and bitter; and He has set a barrier and a complete partition between them. (25:53)
Allah says:
أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ
Is there any god with Allah!
meaning, any god who could do this, or who deserves to be worshipped
Both meanings are indicated by the context.
بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Nay, but most of them know not!
means, in that they worship others than Allah
Allah points out that He is the One upon Whom people call in times of difficulty, and He is the One to Whom they turn when calamity strikes, as He says elsewhere:
وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِى الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَا إِيَّاهُ
And when harm touches you upon the sea, those that you call upon vanish from you except Him, (17:67)
ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَرُونَ
Then, when harm touches you, unto Him you cry aloud for help. (16:53)
Similarly, Allah says here:
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ
Is not He Who responds to the distressed one, when he calls on Him,
meaning, Who is the only One to Whom the person in desperate need turns, and the only One Who can relieve those who are stricken by harm
وَيَكْشِفُ السُّوءَ
and Who removes the evil,
Imam Ahmad reported that a man of Balhajim said:
O Messenger of Allah, what are you calling for?
He said:
أَدْعُو إِلَى اللهِ وَحْدَهُ الَّذِي إِنْ مَسَّكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَ عَنْكَ وَالَّذِي إِنْ أَضْلَلْتَ بِأَرْضٍ قَفْرٍ فَدَعَوْتَهُ رَدَّ عَلَيْكَ وَالَّذِي إِنْ أَصَابَتْكَ سَنَةٌ فَدَعَوْتَهُ أَنْبَتَ لَك
I am calling people to Allah Alone, the One Who,
if you call on Him when harm befalls you, will relieve you; and
when you are lost in the wilderness, you call on Him and He brings you back:and
when drought (famine) strikes, you call on Him and He makes your crops grow.
He said:Advise me.
He said:
لَاا تَسُبَّنَّ أَحَدًا وَلَاا تَزْهَدَنَّ فِي الْمَعْرُوفِ وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ وَلَوْ أَنْ تُفْرغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَقِي وَاتَّزِرْ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الاْاِزَارِ فَإِنَّ إِسْبَالَ الاْاِزَارِ مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللهَ لَاا يُحِبُّ الْمَخِيلَة
Do not slander anyone and do not think of any good deed as insignificant, even if it is only meeting your brother with a cheerful face or emptying your vessel into the vessel of one who is asking for water.
Wear your lower garment at mid-calf length, or -- if you insist -- let it reach your ankles, and beware of lowering the garment below the ankles along the ground, for it is a form of showing-off, and Allah does not like showing-off.
The Story of a Mujahid who fought for the sake of Allah
In his biography of Fatimah bint Al-Hasan Umm Ahmad Al-Ajaliyyah, Al-Hafiz bin Asakir reported that she said:
One day the disbelievers defeated the Muslims in a battle. There was a good horse which belonged to a rich man who was also righteous. The horse just stood there, so its owner said, `What is the matter with you Woe to you! I was only preparing you for a day such as this.'
The horse said to him:`How can you expect me not to perform badly, when you delegated my feeding to the grooms, and they mistreated me and only fed me a little.'
The man said, `I make you a promise before Allah that from this day on, only I will feed you from my own lap.'
So the horse began to run, and his owner was saved, and after that he only ever fed the horse from his own lap.
This story became well known among the people, and they started to come to him to hear the story from his own lips. News of this reached the king of Byzantium, and he said:`A city where this man is, will be kept safe from harm.' He wanted to bring the man to his own city, so he sent an apostate (a man who had left Islam) who was living in his city to go to him, and when he reached him, he pretended that his intentions towards Islam and its followers were good, so the Mujahid trusted him.
One day they went out walking along the shore, but the apostate made a pact with another person, a follower of the Byzantine king, to come and help him take the Mujahid prisoner. When they made their move, he lifted his gaze to the sky and said, `O Allah! He has deceived me by swearing in Your Name, so protect me in whatever way You will.'
Then two wild animals came out and seized them, and the Mujahid came back safe and sound.
The Inheritance of the Earth
Allah says:
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الاَْرْضِ
and makes you inheritors of the earth,
means, each generation inherits from the generation that came before them, one after the other, as Allah says:
إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِن بَعْدِكُم مَّا يَشَأءُ كَمَأ أَنشَأَكُمْ مِّن ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ ءَاخَرِينَ
if He wills, He can destroy you, and in your place make whom He wills as your successors, as He raised you from the seed of other people, (6:133)
وَهُوَ الَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَـيِفَ الاٌّرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَـتٍ
And it is He Who has made you generations coming after generations, replacing each other on the earth. And He has raised you in ranks, some above others, (6:165)
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـيِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِى الَارْضِ خَلِيفَةً
And (remember) when your Lord said to the angels:Verily, I am going to place generations after generations on earth. (2:30)
meaning, people who will come after one another, as we have already stated.
Allah's saying:
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الاَْرْضِ
and makes you inheritors of the earth,
means, nation after nation, generation after generation, people after people.
If He had willed, He could have created them all at one time, and not made some of them the offspring of others.
If He had willed, He could have created them all together, as He created Adam from dust.
If He had willed, He could have made some of them the offspring of others, but not caused any of them to die until they all died at one time; in this case the earth would have become constricted for them and it would be too difficult for them to live and earn a living, and they would have caused inconvenience and harm to one another.
But His wisdom and decree ruled that they should be created from one soul, then their numbers should be greatly increased, so He created them on the earth and made them generation after generation, nation after nation, until their time will come to an end and there will be no one left on earth, as Allah has decreed and as He has completely counted out their numbers. Then the Resurrection will come to pass, and each person will be rewarded or punished according to his deeds.
Allah says:
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الاَْرْضِ
أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ
Is not He Who responds to the distressed one, when he calls on Him, and Who removes the evil, and makes you inheritors of the earth, generations after generations! Is there any god with Allah,
meaning, is there anyone else able to do that, or a god with Allah worth worshipping -- while you know that He is the only one who can do that, having no partners
قَلِيلً مَّا تَذَكَّرُونَ
Little is that you remember!
meaning, how little they think about that which would guide them to the truth and show them the straight path
Allah says,
أَمَّن يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Is not He Who guides you in the darkness of the land and the sea,
meaning, by means of what He has created of heavenly and earthly signposts.
This is like the Ayah,
وَعَلمَـتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ
And landmarks and by the stars, they guide themselves. (16:16)
وَهُوَ الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُواْ بِهَا فِى ظُلُمَـتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
It is He Who has set the stars for you, so that you may guide your course with their help through the darkness of the land and the sea... (6:97)
...
وَمَن يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
and Who sends the winds as heralds of glad tidings, going before His mercy,
meaning, ahead of the clouds which bring rain, by means of which Allah shows His mercy to His servants who are suffering drought and despair.
...
أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Is there any god with Allah!
Exalted be Allah above all that they associate as partners!
Allah says,
أَمَّن يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ
Is not He Who originates creation, and shall thereafter repeat it,
He is the One Who, by His might and power, originates creation and then repeats it.
This is like the Ayat:
إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ
إِنَّهُ هُوَ يُبْدِىءُ وَيُعِيدُ
Verily, the punishment of your Lord is severe and painful. Verily, He it is Who begins and repeats. (85:12-13)
وَهُوَ الَّذِى يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
And He it is Who originates the creation, then He will repeat it; and this is easier for Him. (30:27)
...
وَمَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاء وَالاَْرْضِ
and Who provides for you from heaven and earth,
with the rain He sends down from the sky causing the blessings of the earth to grow, as He says elsewhere:
وَالسَّمَأءِ ذَاتِ الرَّجْعِ
وَالاّرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ
By the sky which gives rain, again and again. And the earth which splits. (86:11-12)
يَعْلَمُ مَا يَلْجُ فِى الاٌّرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَأءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا
He knows that which goes into the earth and that which comes forth from it, and that which descends from the heaven and that which ascends to it. (34:2)
Allah, may He be blessed and exalted, sends down water from the sky as a blessing, and causes it to penetrate the earth, and then come forth as springs. After that, by means of the water He brings forth all kinds of crops, fruits and flowers, in all their different forms and colors.
كُلُواْ وَارْعَوْا أَنْعَـمَكُمْ إِنَّ فِى ذلِكَ لايَـتٍ لاٌّوْلِى النُّهَى
Eat and pasture your cattle; verily, in this are signs for men of understanding. (20:54)
Allah says:
...
أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ
Is there any god with Allah!
meaning, who did this Or,
according to another interpretation:after this who could be worth worship!
...
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Say:Bring forth your proofs, if you are truthful.
Produce the evidence of that.
But it is known that they have no proof or evidence, as Allah says:
وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَـهَا ءَاخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَـفِرُونَ
And whoever invokes besides Allah, any other god, of whom he has no proof; then his reckoning is only with his Lord. Surely, the disbelievers will not be successful. (23:117
The One Who knows the Unseen is Allah
Allah says:
قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ الْغَيْبَ
Say:None in the heavens and the earth knows the Unseen,
Allah commands His Messenger to inform all of creation that no one among the dwellers of heaven and earth knows the Unseen, except Allah.
...
إِلاَّ اللَّهُ
except Allah,
This is an absolute exception, meaning that no one knows this besides Allah, He is alone in that regard, having no partner in that knowledge.
This is like the Ayat:
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَأ إِلاَّ هُوَ
And with Him are the keys of the Unseen, none knows them but He. (6:59)
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour, He sends down the rain. (31:34). until the end of the Surah.
And there are many Ayat which mention similar things.
...
وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
nor can they perceive when they shall be resurrected.
That is, the created beings who dwell in the heavens and on earth do not know when the Hour will occur, as Allah says:
ثَقُلَتْ فِى السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلاَّ بَغْتَةً
Heavy is its burden through the heavens and the earth. It shall not come upon you except all of a sudden. (7:187)
meaning, it is a grave matter for the dwellers of heaven and earth.
بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الاْخِرَةِ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِّنْهَا
Nay, their knowledge will perceive that in the Hereafter. Nay, they are in doubt about it.
means their knowledge and amazement stops short of knowing its time.
Other scholars read this with the meaning their knowledge is all the same with regard to that,
which reflects the meaning of the Hadith in Sahih Muslim which states that the Messenger of Allah said to Jibril, when the latter asked him when the Hour would come:
مَا الْمَسْوُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّايِل
The one who is being asked about it does not know any more than the one who is asking.
In other words, they were both equal in the fact that their knowledge did not extend that far.
...
بَلْ هُم مِّنْهَا عَمِونَ
Nay, they are in doubt about it.
This refers to the disbelievers in general as Allah says elsewhere:
وَعُرِضُواْ عَلَى رَبِّكَ صَفَا لَّقَدْ جِيْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَـكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّن نَّجْعَلَ لَكُمْ مَّوْعِدًا
And they will be set before your Lord in rows, (and Allah will say:) Now indeed, you have come to Us as We created you the first time. Nay, but you thought that We had appointed no meeting for you (with Us). (18:48)
i.e., the disbelievers among you.
By the same token, Allah says here:
بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِّنْهَا
(Nay, they are in doubt about it).
meaning, they doubt that it will come to pass.
...
بَلْ هُم مِّنْهَا عَمِونَ
Nay, they are in complete blindness about it.
They are blind and completely ignorant about it.
They [the disbelievers] also asked him when the Hour will come to pass, and the following was revealed: Say: 'No one in the skies or the earth knows, be it angels or human beings, the Unseen, namely, what is hidden from them, except God, He knows it, and they are not aware, the disbelievers of Mecca, like others, when, is the time in which, they will be resurrected.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.