ٱلْكَهْف : ٢٤

  • إِلَّآ melainkan
  • أَن bahwa
  • يَشَآءَ menghendaki
  • ٱللَّهُۚ Allah
  • وَٱذۡكُر dan ingatlah
  • رَّبَّكَ Tuhanmu
  • إِذَا jika
  • نَسِيتَ kamu lupa
  • وَقُلۡ dan katakanlah
  • عَسَىٰٓ mudah-mudahan
  • أَن akan
  • يَهۡدِيَنِ memberi petunjuk kepadaku
  • رَبِّي Tuhanku
  • لِأَقۡرَبَ untuk yang lebih dekat
  • مِنۡ dari
  • هَٰذَا ini
  • رَشَدٗا petunjuk/kebenaran
kecuali (dengan mengatakan), "Insyā Allah."1 Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini."
Catatan kaki
1 *492) Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang roh, kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua) dan kisah Zulkarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan kepadamu. Dan beliau tidak mengucapkan Insyā Allāh (artinya jika Allah menghendaki). Tapi rupanya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut Insyā Allāh haruslah segera menyebutkannya kemudian.
(Kecuali dengan menyebut "Insya Allah") artinya, mengecualikannya dengan menggantungkan hal tersebut kepada kehendak Allah, seumpamanya kamu mengatakan Insya Allah (Dan ingatlah kepada Rabbmu) yaitu kepada kehendak-Nya seraya menggantungkan diri kepada kehendak-Nya (jika kamu lupa) ini berarti jika ingat kepada kehendak-Nya sesudah lupa, sama dengan ingat kepada kehendak-Nya sewaktu mengatakan hal tersebut. Hasan dan lain-lainnya mengatakan, "Selagi seseorang masih dalam majelisnya" (dan katakanlah, "Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat daripada ini) yaitu berita tentang Ashhabul Kahfi untuk menunjukkan kebenaran kenabianku (kebenarannya") yakni petunjuk yang lebih benar, dan memang Allah memperkenankan hal tersebut.