ٱلْبَقَرَة : ١٥٦

  • ٱلَّذِينَ orang-orang yang
  • إِذَآ apabila
  • أَصَٰبَتۡهُم menimpa mereka
  • مُّصِيبَةٞ musibah
  • قَالُوٓاْ mereka mengucapkan
  • إِنَّا sesungguhnya kami
  • لِلَّهِ milik Allah
  • وَإِنَّآ dan sesungguhnya kami
  • إِلَيۡهِ kepadaNya
  • رَٰجِعُونَ mereka kembali
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn" 1 (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
Catatan kaki
1 *52) Kalimat ini dinamakan kalimat istirja' (pernyataan kembali kepada Allah). Disunnahkan mengucapkannya pada waktu ditimpa musibah, baik besar atau kecil.
(Yaitu orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah) bencana atau malapetaka (mereka mengucapkan, 'Innaa lillaahi') artinya sesungguhnya kita ini milik Allah; maksudnya menjadi milik dan hamba-Nya yang dapat diperlakukan-Nya sekehendak-Nya, ('wa innaa ilaihi raaji`uun') artinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali, yakni ke akhirat, di sana kita akan diberi-Nya balasan. Dalam sebuah hadis disebutkan, "Barang siapa yang istirja`/mengucapkan 'innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun' ketika mendapat musibah, maka ia diberi pahala oleh Allah dan diiringi-Nya dengan kebaikan." Juga diberitakan bahwa pada suatu ketika lampu Nabi ﷺ padam, maka beliau pun mengucapkan istirja`, lalu kata Aisyah, "Bukankah ini hanya sebuah lampu!" Jawabnya, "Setiap yang mengecewakan (hati) orang mukmin itu berarti musibah." Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kumpulan hadis-hadis mursalnya.