ٱلْأَنْبِيَاء : ٨٧

  • وَذَا Zun
  • ٱلنُّونِ Nun (Yunus)
  • إِذ tatkala
  • ذَّهَبَ dia pergi
  • مُغَٰضِبٗا dalam keadaan marah
  • فَظَنَّ lalu dia menyangka
  • أَن bahwa
  • لَّن tidak
  • نَّقۡدِرَ Kami kuasa
  • عَلَيۡهِ atasnya
  • فَنَادَىٰ maka dia berseru/berdo'a
  • فِي dalam
  • ٱلظُّلُمَٰتِ kegelapan
  • أَن bahwa
  • لَّآ tidak
  • إِلَٰهَ Tuhan
  • إِلَّآ melainkan
  • أَنتَ Engkau
  • سُبۡحَٰنَكَ Maha Suci Engkau
  • إِنِّي sesungguhnya aku
  • كُنتُ adalah aku
  • مِنَ dari/termasuk
  • ٱلظَّـٰلِمِينَ orang-orang yang zalim
Dan (ingatlah kisah) Żun Nūn (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap,1 "Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim."
Catatan kaki
1 *536) Di dalam perut ikan, di dalam laut, dan pada malam hari.
(Dan) ingatlah kisah (Dzun Nun) yaitu orang yang mempunyai ikan yang besar, dia adalah Nabi Yunus bin Mataa. Kemudian dijelaskan kalimat Dzun Nun ini oleh Badalnya pada ayat selanjutnya, yaitu (ketika ia pergi dalam keadaan marah) terhadap kaumnya, disebabkan perlakuan kaumnya yang menyakitkan dirinya, sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk pergi (lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menjangkaunya) menghukumnya sesuai dengan apa yang telah Kami pastikan baginya, yaitu menahannya di dalam perut ikan paus, atau menyulitkan dirinya disebabkan hal tersebut (maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita) gelapnya malam dan gelapnya laut serta gelapnya suasana dalam perut ikan paus ("bahwa) asal kata An adalah Bi-an, artinya, bahwasanya (tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim") karena pergi dari kaumku tanpa seizin Allah.