ٱلْأَنْبِيَاء ٨٧
- وَذَا Zun
- ٱلنُّونِ Nun (Yunus)
- إِذ tatkala
- ذَّهَبَ dia pergi
- مُغَٰضِبٗا dalam keadaan marah
- فَظَنَّ lalu dia menyangka
- أَن bahwa
- لَّن tidak
- نَّقۡدِرَ Kami kuasa
- عَلَيۡهِ atasnya
- فَنَادَىٰ maka dia berseru/berdo'a
- فِي dalam
- ٱلظُّلُمَٰتِ kegelapan
- أَن bahwa
- لَّآ tidak
- إِلَٰهَ Tuhan
- إِلَّآ melainkan
- أَنتَ Engkau
- سُبۡحَٰنَكَ Maha Suci Engkau
- إِنِّي sesungguhnya aku
- كُنتُ adalah aku
- مِنَ dari/termasuk
- ٱلظَّـٰلِمِينَ orang-orang yang zalim
Dan (ingatlah kisah) Żun Nūn (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap,1 "Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim."
Catatan kaki
1 *536) Di dalam perut ikan, di dalam laut, dan pada malam hari.
(Dan) ingatlah kisah (Dzun Nun) yaitu orang yang mempunyai ikan yang besar, dia adalah Nabi Yunus bin Mataa. Kemudian dijelaskan kalimat Dzun Nun ini oleh Badalnya pada ayat selanjutnya, yaitu (ketika ia pergi dalam keadaan marah) terhadap kaumnya, disebabkan perlakuan kaumnya yang menyakitkan dirinya, sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk pergi (lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menjangkaunya) menghukumnya sesuai dengan apa yang telah Kami pastikan baginya, yaitu menahannya di dalam perut ikan paus, atau menyulitkan dirinya disebabkan hal tersebut (maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita) gelapnya malam dan gelapnya laut serta gelapnya suasana dalam perut ikan paus ("bahwa) asal kata An adalah Bi-an, artinya, bahwasanya (tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim") karena pergi dari kaumku tanpa seizin Allah.
Tafsir Surat Al-Anbiya': 87-88
Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersulitnya, maka ia berdoa dalam kegelapan: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.
Ayat 87
Kisah mengenai Nabi Yunus ini disebutkan di dalam surat ini, juga di dalam surat Ash-Shaffat dan surat Nun. Yunus ibnu Mata a.s. diutus oleh Allah kepada penduduk kota Nainawi, yaitu suatu kota besar yang terletak di negeri Mausul. Yunus menyeru mereka untuk menyembah Allah ﷻ, tetapi mereka menolak dan tetap tenggelam di dalam kekafirannya. Maka Yunus pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah seraya mengancam mereka bahwa dalam waktu tiga hari lagi akan datang azab dari Allah.
Setelah mereka melihat tanda-tanda datangnya azab itu dan mereka mengetahui bahwa nabi mereka tidak dusta dalam ancamannya, maka mereka keluar menuju ke padang sahara bersama anak-anak mereka dengan membawa ternak unta dan ternak lainnya milik mereka yang mereka pisahkan antara induk dan anaknya. Kemudian mereka memohon kepada Allah dengan merendahkan diri, dan berdoa kepada-Nya untuk meminta pertolongan, semua ternak unta dan anak-anaknya mengeluarkan suara lenguhan, begitu pula sapi dan anak-anaknya, dan juga kambing dan anak-anaknya.
Akhirnya Allah tidak jadi menurunkan azab kepada mereka. Kisah ini disebutkan oleh Allah ﷻ melalui firman-Nya: “Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98).
Sesudah itu Yunus a.s. pergi meninggalkan kaumnya dan menaiki perahu bersama suatu kaum. Di tengah laut, perahu oleng; mereka merasa takut akan tenggelam (karena keberatan penumpang). Maka mereka mengadakan undian di antara mereka untuk menentukan siapa yang bakal dilemparkan ke dalam laut untuk meringankan beban muatan perahu.
Akhirnya undian jatuh ke tangan Yunus, tetapi mereka menolak, tidak mau melemparkannya. Lalu dilakukan undian lagi, ternyata kali itu undian jatuh ke tangan Yunus lagi. Mereka menolak, lalu mengadakan undian lagi. Ternyata undian jatuh ke tangan Yunus juga. Hal ini disebutkan oleh Allah ﷻ melalui firman-Nya: “Kemudian ia ikut diundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.” (Ash-Shaffat: 141). Yakni undian jatuh ke tangannya. Maka Yunus a.s. melucuti pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam laut.
Saat itu Allah telah memerintahkan kepada ikan paus dari laut hijau menurut apa yang diceritakan oleh Ibnu Mas'ud, membelah lautan dan sampai di tempat Yunus, lalu menelannya saat Yunus menceburkan diri ke laut. Allah telah memerintahkan kepada ikan paus itu, "Janganlah kamu memakan secuil pun dari dagingnya, jangan pula mematahkan tulangnya, karena sesungguhnya Yunus itu bukanlah rezeki makananmu, tapi perutmu Aku jadikan sebagai penjara buatnya." Zun Nun adalah nama ikan paus itu menurut riwayat yang sahih, lalu dikaitkan dengan nama Nabi Yunus karena ia ditelan olehnya. Arti harfiyah Zun Nun ialah orang yang mempunyai ikan besar.
Firman Allah ﷻ: “Ketika ia pergi dalam keadaan marah.” (Al-Anbiya: 87)
Menurut Ad-Dahhak, Yunus marah terhadap kaumnya.
“Lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempit (mempersulit)nya.” (Al-Anbiya: 87)
Maksudnya, tidak akan mempersempitnya dengan dimasukkan ke dalam perut ikan besar. Hal yang serupa telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir, dan ia menentukan pilihannya ini berdasarkan dalil firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Ath-Thalaq: 7)
Atiyyah Al-Aufi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).” (Al-Anbiya: 87). Yaitu memutuskan ketetapan takdir baginya. Seakan-akan Atiyyah menganggap lafaz naqdira ini bermakna takdir. Karena sesungguhnya orang-orang Arab mengatakan qadara dan qaddara dengan makna yang sama. Salah seorang penyair mereka mengatakan: “Tidak akan terulang zaman yang telah berlalu itu. Maha Suci Engkau, segala sesuatu yang Engkau takdirkan pasti akan terjadi.” Termasuk ke dalam pengertian takdir ini, firman Allah ﷻ: “Maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditakdirkan.” (Al-Qamar: 12).
Adapun firman Allah ﷻ: “Maka ia berseru dalam kegelapan, ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim’.” (Al-Anbiya: 87).
Ibnu Mas'ud r.a. mengatakan bahwa zulumat bentuk jamak, maksudnya gelapnya perut ikan paus, gelapnya lautan, dan gelapnya malam hari. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Amr ibnu Maimun, Sa'id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ka'b, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah.
Salim ibnu Abul Ja'd mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah gelapnya keadaan di dalam perut ikan besar dan gelapnya laut. Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas serta lain-lainnya mengatakan ikan paus itu membawa Yunus menyelam hingga sampai di dasar laut, lalu Yunus mendengar suara tasbih batu-batu kerikil di dasar laut. Maka pada saat itu juga Yunus mengucapkan: “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.” (Al-Anbiya: 87).
Auf Al-A'rabi mengatakan bahwa ketika Yunus telah berada di dalam perut ikan besar, ia menduga dirinya telah mati. Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya, ternyata bergerak, lalu ia bersujud di tempatnya, dan menyeru Tuhannya, "Wahai Tuhanku, saya jadikan di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia ini tempat bersujud kepada Engkau." Sa'id ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Yunus tinggal di dalam perut ikan besar selama empat puluh hari.
Kedua riwayat di atas dikemukakan oleh Ibnu Jubair. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah menceritakan kisah berikut yang ia terima dari orang yang menceritakan kisah ini kepadanya dari Abdullah ibnu Rafi' maula Ummu Salamah yang mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika Allah hendak menyekap Yunus di dalam perut ikan besar, Allah memerintahkan kepada ikan besar untuk menelannya, tetapi tidak boleh melukai dagingnya dan tidak boleh pula meremukkan tulangnya. Setelah ikan besar sampai di dasar laut, sedangkan di perutnya terdapat Yunus, Yunus mendengar suara, maka Yunus berkala dalam hatinya, ‘Suara apakah ini?’ Lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya, sedangkan ia berada di dalam perut ikan, bahwa suara itu adalah suara tasbih hewan-hewan laut. Maka Yunus pun bertasbih pula dalam perut ikan besar itu; suara tasbihnya terdengar oleh para malaikat.
Maka mereka bertanya, ‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar suara (tasbih) yang lemah di kedalaman yang jauh sekali lagi terpencil.’ Allah berfirman, ‘Itu adalah suara hamba-Ku, Yunus. Dia durhaka kepada-Ku, maka Aku sekap dia di dalam perut ikan di laut.’ Para malaikat bertanya, ‘Dia adalah seorang hamba yang saleh, setiap malam dan siang hari dilaporkan ke hadapanMu amal saleh darinya.’ Allah berfirman, ‘Ya, benar.’ Maka pada saat itu para malaikat memohon syafaat buat Yunus, akhirnya Allah memerintahkan kepada ikan besar itu untuk mengeluarkan Yunus, lalu ikan besar melemparkannya ke tepi pantai, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: "Sedangkan ia dalam keadaan sakit." (Ash-Shaffat: 145).
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, juga oleh Al-Bazzar di dalam kitab Musnadnya melalui jalur Muhammad ibnu Ishaq, dari Abdullah ibnu Rafi', dari Abu Hurairah, lalu disebutkan hal yang serupa, kemudian ia menyebutkan bahwa kami tidak mengetahui hadis ini bersumber dari Nabi ﷺ kecuali melalui jalur sanad ini.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Ahmad ibnu Abdur Rahman (anak saudara lelaki Ibnu Wahb), telah menceritakan kepada kami pamanku, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, bahwa Yazid Ar-Raqqasyi pernah mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik yang menurut keyakinanku Anas tentu menerimanya dari Rasulullah ﷺ, menceritakan kisah berikut, bahwa Yunus a.s. ketika mulai memanjatkan doa berikut di dalam perut ikan, yaitu, "Ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.” Maka doanya itu naik sampai di bawah 'Arasy, maka para malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku, ada suara lemah yang telah dikenal bersumber dari negeri yang terasing." Allah berfirman, "Tidakkah kalian ketahui suara itu?" Mereka bertanya, "Tidak, wahai Tuhanku, siapakah dia?" Allah berfirman, "Dia adalah hamba-Ku Yunus." Mereka berkata, "Hamba-Mu Yunus yang sampai sekarang masih tetap dilaporkan ke hadapan-Mu yang amalnya diterima dan doanya diperkenankan." Mereka berkata pula, "Wahai Tuhan kami, tidakkah Engkau merahmatinya berkat amal yang dikerjakannya di saat dia senang, karenanya Engkau selamatkan dia di saat mendapat cobaan?" Allah berfirman, "Baiklah," maka Allah memerintahkan kepada ikan besar itu agar memuntahkannya ke daerah yang tandus.
Ayat 88
Firman Allah ﷻ: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan.” (Al-Anbiya: 88).
Yaitu Kami keluarkan dia dari dalam perut ikan dan dari kegelapannya.
“Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya: 88)
Yakni apabila mereka berada dalam kesengsaraan, lalu berdoa kepada Kami seraya bertobat, terlebih lagi jika mereka mengucapkan doa yang disebutkan dalam ayat ini saat mendapat musibah. Di dalam hadis Nabi ﷺ telah disebutkan anjuran untuk membaca doa ini di saat tertimpa musibah.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Umair, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abu Ishaq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Sa'd, telah menceritakan kepadaku ayahku, (yaitu Muhammad), dari ayahnya (yaitu Sa'd ibnu Abu Waqqas r.a.) yang mengatakan, bahwa ia berdua dengan Usman ibnu Affan di dalam masjid, lalu ia mengucapkan salam kepadanya, tetapi Usman hanya memelototkan mata ke arahnya tanpa menjawab salamnya.
Sa'd ibnu Abu Waqqas melanjutkan kisahnya, "Lalu saya pergi menghadap kepada Umar ibnul Khattab dan berkata kepadanya sebanyak dua kali, 'Hai Amirul Muminin, apakah telah terjadi sesuatu dalam Islam?' Umar menjawab, 'Tidak. Memangnya ada apa?' Saya berkata, 'Tidak ada apa-apa, hanya saja ketika saya melewati Usman tadi di masjid, saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi ia hanya memelototi diriku dan tidak menjawab salamku.’
Maka Khalifah Umar mengundang sahabat Usman, lalu berkata kepadanya, 'Apakah yang menyebabkan kamu tidak mau menjawab salam saudaramu?' Usman berkata, ‘Saya tidak merasa.' Sa'd berkata, 'Tidak, kamu benar melakukannya.' Akhirnya Usman bersumpah dan saya pun bersumpah pula. Sa'd ibnu Abu Waqqas melanjutkan kisahnya, "Setelah itu Usman teringat akan keadaan dirinya, lalu ia mengatakan bahwa memang benar, seraya beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Ia mengatakan, 'Memang kamu tadi lewat di hadapanku, saat itu aku sedang mengingat-ingat suatu kalimat yang pernah saya dengar dari Rasulullah ﷺ, tetapi demi Allah, tidak sekali-kali saya mengingatnya, melainkan mata dan hatiku seakan-akan tertutup oleh tabir penutup." Sa'd berkata, "Aku akan menceritakan kepadamu tentang kalimat itu. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ ketika sedang menceritakan kepada kami tentang permulaan doa (yang diucapkan oleh Yunus), tiba-tiba datanglah seorang Badui yang membuatnya sibuk melayaninya. Setelah itu Rasulullah ﷺ bangkit berdiri dan pergi, maka saya mengikutinya. Ketika saya merasa khawatir beliau ﷺ terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya, maka saya pukulkan kakiku ke tanah. Rasulullah ﷺ menoleh ke arahku dan bertanya, ‘Siapakah orang ini? Bukankah kamu Abu Ishaq?' Saya menjawab, 'Benar, wahai Rasulullah.' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Ada apa perlumu?' Saya menjawab, 'Tidak demi Allah, saya hanya mengingatkan, bahwa engkau tadi menceritakan kepada kami tentang permulaan doa (yang diucapkan oleh Yunus), kemudian datanglah seorang Badui yang membuat engkau sibuk.' Rasulullah ﷺ menjawab, 'Benar, doa itu adalah doa yang diucapkan oleh Zun Nun ketika ia berada di dalam perut ikan paus, yaitu firman-Nya: “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadzdzalimiin (Tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim).” (Al-Anbiya: 87). Sesungguhnya tiada seorang muslim pun berdoa kepada Tuhannya dengan menyebut kalimat ini untuk memohon sesuatu, melainkan Allah akan memperkenankan doanya."
Imam Turmuzi dan Imam Nasai meriwayatkan hadis ini di dalam kitab 'Amalul Yaumi walLailah melalui hadis Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Sa'd dari ayahnya dengan sanad yang sama.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar dari Kasir ibnu Zaid dari Al-Mutallib ibnu Hantab; menurut Abu Khalid, dia menerimanya dari Mus'ab ibnu Sa'd, dari Sa'd yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Barang siapa yang berdoa dengan doanya Nabi Yunus, pasti diperkenankan doanya.” Abu Sa'id mengatakan bahwa demikianlah yang dimaksud oleh firman-Nya: “Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya: 88).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Imran ibnu Bakkar Al-Kala'i, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku Bisyr ibnu Mansur, dari Ali ibnu Zaid, dari Sa'id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'd ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta dengannya, pasti Dia memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata." Sa'd bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah doa itu khusus bagi Yunus ataukah bagi seluruh kaum muslim?” Rasulullah ﷺ menjawab, "Doa itu bagi Yunus ibnu Mata secara khusus dan bagi kaum mukmin semuanya secara umum, jika mereka meyebutkannya di dalam doanya. Bukankah kamu telah mendengar firman Allah ﷻ yang mengatakan, 'Maka ia menyeru dalam kegelapan: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.' (Al-Anbiya: 87-88). Ini merupakan syarat dari Allah bagi orang yang mengucapkannya di dalam doanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Daud ibnul Muhabbar ibnu Muhazzam Al-Maqdisi, dari Kasir ibnu Ma'bad, bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hasan, "Hai Abu Said, apakah asma Allah yang paling agung, yang bila disebut di dalam doa, Dia pasti memperkenankannya; dan bila diminta, pasti Dia memberi?" Al-Hasan menjawab,"Hai anak saudaraku, bukankah kamu telah membaca firman Allah ﷻ: 'Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah' (Al-Anbiya: 87) sampai dengan firman-Nya: 'Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman' (Al-Anbiya: 88). Hai anak saudaraku, itulah asma Allah yang teragung, yang apabila disebutkan di dalam doa pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta, pasti Dia memberi
Dan ingatlah kisah Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, karena mereka berpaling dari dirinya dan tidak mau menerima ajaran Allah ketika ia berdakwah kepada me-reka. Lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya karena sikapnya yang tidak sabar itu. Lalu ia naik perahu, namun beban perahu yang ditumpanginya terlalu berat sehingga harus ada seorang yang dilemparkan ke laut. Setelah diundi tiga kali, Nabi Yunus yang harus dilemparkan ke laut. Allah segera mendatangkan seekor ikan menelan beliau. Maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, di dalam perut ikan, di dalam laut, dan pada malam hari dengan kesadaran, 'Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim, karena aku marah meninggalkan kaum yang seharusnya dibimbing olehku. '88. Karena ia berdoa dengan ikhlas serta menyadari kesalahannya, maka Kami kabulkan (doa)-nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan dan kesedihan, karena berada dalam perut ikan besar. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dari segala kesulitan yang dihadapinya.
Pada ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya, kepada kisah Nabi Yunus, yang pada permulaan ayat ini disebutkan dengan nama "dzun Nun".
dzu berarti "yang mempunyai", sedang an-Nun berarti "ikan besar". Maka dzu an-Nun berarti "Yang empunya ikan besar". Ia dinamakan demikian, karena pada suatu ketika ia pernah dijatuhkan ke laut dan ditelan oleh seekor ikan besar. Kemudian, karena pertolongan Allah, maka ia dapat keluar dari perut ikan tersebut dengan selamat dan dalam keadaan utuh.
Perlu diingat, bahwa kisah Nabi Yunus di dalam Al-Qur'an terdapat pada dua buah surah, yaitu Surah al-Anbiya` dan Surah shad. Apabila kita bandingkan antara ayat-ayat yang terdapat pada kedua Surah tersebut yang mengandung kisah Nabi Yunus ini, terdapat beberapa persamaan, misalnya dalam ungkapan-ungkapan yang berbunyi:
Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (shad/38: 3)
Ungkapan tersebut terdapat dalam Surah al-Anbiya` ini, dan terdapat pula dalam ayat Surah shad. Perhatikan pula al-Anbiya`/21:11 dan Yunus/10: 13.
Dalam ayat ini Allah berfirman, mengingatkan manusia pada kisah Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah. Yang dimaksud ialah bahwa pada suatu ketika Nabi Yunus sangat marah kepada kaumnya, karena mereka tidak juga beriman kepada Allah. Ia telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya untuk menyampaikan seruan kepada umatnya, untuk mengajak mereka kepada agama Allah. Tetapi hanya sedikit saja di antara mereka yang beriman, sedang sebagian besar mereka tetap saja ingkar dan durhaka. Keadaan yang demikian itu menjadikan ia marah, lalu pergi ke tepi laut, menjauhkan diri dari kaumnya.
Kisah ini memberi kesan bahwa Nabi Yunus tidak dapat berlapang hati dan sabar menghadapi umatnya. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya, ia termasuk nabi-nabi yang sempit dada. Memang dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah, hanya lima orang saja yang disebut "Ulul Azmi", yaitu rasul-rasul yang amat sabar dan ulet. Mereka adalah Nabi Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dan Muhammad ﷺ Sedang yang lain-lainnya, walaupun mereka ma'shum dari dosa besar dan sifat-sifat yang tercela, namun pada saat-saat tertentu sempit juga dada mereka menghadapi kaum yang ingkar dan durhaka kepada Allah.
Akan tetapi, walaupun Nabi Yunus pada suatu ketika marah kepada kaumnya, namun kemarahannya itu dapat dipahami, karena ia sangat ikhlas kepada mereka, dan sangat ingin agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dengan menjalankan agama Allah yang disampaikannya kepada mereka. Tetapi ternyata sebagian besar dari mereka itu tetap ingkar dan durhaka. Inilah yang menyakitkan hatinya, dan mengobarkan kemarahannya.
Nabi Muhammad sendiri, walaupun sudah termasuk ulul 'azmi, namun Allah beberapa kali memberi peringatan kepada beliau agar jangan sampai marah dan bersempit hati menghadapi kaumnya yang ingkar. Allah berfirman dalam ayat yang lain:
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan. (al- Qalam/68: 48)
Firman-Nya lagi kepada Nabi Muhammad ﷺ:
Maka boleh jadi engkau (Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu sempit karenanya. (Hud/11: 12)
Ringkasnya sifat marah yang terdapat pada Nabi Yunus bukanlah timbul dari sifat yang buruk, melainkan karena kekesalan hatinya melihat keingkaran kaumnya yang semula diharapkannya untuk menerima dan melaksanakan agama Allah yang disampaikannya.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan kesalahan Nabi Yunus dimana kemarahannya itu menimbulkan kesan bahwa seolah-olah dia mengira bahwa sebagai Nabi dan Rasul Allah tidak akan pernah dibiarkan menghadapi kesulitan, sehingga jalan yang dilaluinya akan selalu indah tanpa halangan.
Akan tetapi dalam kenyatan tidak demikian. Pada umumnya para rasul dan nabi banyak menemui rintangan, bahkan siksaan dan ejekan terhadap dirinya dari orang-orang yang ingkar. Hanya saja dalam keadaan yang sangat gawat, baik dimohon atau tidak oleh yang bersangkutan, Allah mendatangkan pertolongan-Nya, sehingga Rasul-Nya selamat dan umatnya yang ingkar itu mengalami kebinasaan.
Menurut riwayat yang dinukil dari Ibnu Kashir, bahwa ketika Nabi Yunus dalam keadaan marah, ia lalu menjauhkan diri dari kaumnya pergi ke tepi pantai. Di sana ia menjumpai sebuah perahu, lalu ia ikut serta naik ke perahu itu dengan wajah yang muram. Di kala perahu itu hendak berlayar, datanglah gelombang besar yang menyebabkan perahu itu terancam tenggelam apabila muatannya tidak segera dikurangi. Maka nahkoda perahu itu berkata, "Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua." Lalu diadakan undian untuk menentukan siapakah di antara mereka yang harus dikeluarkan dari perahu itu. Setelah diundi, ternyata bahwa Nabi Yunuslah yang harus dikeluarkan. Akan tetapi, penumpang kapal itu merasa keberatan mengeluarkannya dari pertahu itu. Maka undian dilakukan sekali lagi, tetapi hasilnya tetap demikian. Bahkan undian yang ketiga kalinya pun demikian pula. Akhirnya Yunus melepaskan pakaiannya, lalu ia terjun ke laut atas kemauannya sendiri. Allah mengirim seekor ikan besar yang berenang dengan cepat lalu menelan Yunus.
Dalam ayat ini selanjutnya Allah menerangkan bahwa setelah Nabi Yunus berada dalam tiga tingkat "kegelapan berbeda", maka ia berdoa kepada Allah, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."
Yang dimaksud dengan tiga kegelapan berbeda di sini ialah bahwa Nabi Yunus sedang berada di dalam perut ikan yang gelap, dalam laut yang dalam dan gelap, dan di malam hari yang gelap gulita pula.
Pengakuan Nabi Yunus bahwa dia "termasuk golongan orang-orang yang zalim", berarti dia sadar atas kesalahannya yang telah dilakukannya sebagai Nabi dan Rasul, yaitu tidak sabar dan tidak berlapang dada menghadapi kaumnya, seharusnya ia bersabar sampai menunggu datangnya ketentuan Allah atas kaumnya yang ingkar itu.
Karena kesadaran itu maka ia mohon ampun kepada Allah, dan mohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Nabi Yunus a.s.
“Dan kawan ikan nun."
(pangkal ayat 87)
Yang dimaksud ialah Nabi Yunus a.s. Ingatlah kembali apa yang telah kejadian pada Nabi Yunus. Di ayat ini dia disebut “kawan ikan nun". karena tiga hari tiga malam iamanya dia terkurung di dalam ikan nun. Nun adalah nama dari ikan yang teramat besar di laut, yang kita sebut juga ikan paus. Di dalam Surat 37 ash-Shaffat, ayat 1.42 diterangkan Nabi Yunus ditelan oleh ikan itu. "Seketika dia pergi dalam keadaan marah." Marah kepada kaumnya orang Niniwe. Dia marah kepada mereka, yang bilangan mereka 100,000 atau lebih sedikit, karena ketika dia diutus Tuhan menyampaikan da'wah kepda kaum itu, mereka tidak mau menerimanya, mereka masih tetap saja dalam kekafirannya. Lalu dia pun pergi dan tempat itu, ditinggalkannya tugas dan tanggungjawabnya, “Maka dia menyangka bahwa Kami tidak akan memperhitungkan atasnya:" Disangkanya bahwa kesalahannya meninggalkan tegas itu tidak akan dituntut tanggungjawabnya, atau tidak akan ada peringatan dart Tuhan atau dIsangkanya salah itu kecil saja. Maka tersebutlah di dalam Surat ash-Shaffat, bahwa setelah meninggalkan negeri itu dia pergi ke pelabuhan, hendak belayar jauh. Ahli-ahli tafsir menyebut bahwa dia pergi ke pelabuhan Jafa, hendak belayar ke negeri Terbis. Lalu dia menumpang pada satu biduk pencalang. Setelah pencaiang mengharung laut, tiba-tiba datanglah angin ribut yang amat besar dan ombak bergulung-gulung laksana gunung. Maka berkata nakhoda pencalang itu, bahwasanya pencalangnya bIsa saja tenggelam karena muatan amat berat berlebih dari ukuran. Beberapa barang berat dalam biduk telah dilemparkan ke laut, namun bahaya masih mengancam. Nakhoda kapal mengatakan bahwa salah seorang dart penumpang mesti keiuar dan biduk. Kalau tidak maka biduk akan tenggelam dan semua isi biduk jadi kurhari. Lebih baik seorang jadi kurhari daripada semua. Dan untuk itu akan dijalankan undian, siapa yang kena undi dialah yang melompati laut. Undian pun dijalankan. Dengan takdir Tuhan sarwa sekalian alam, jatuh undian pada diri Nabi Yunus a.s.
Sebagai seorang Nabi Allah mungkin telah terasa dalam jiwanya bahwa memang begInilah yang telah ditentukan Tuhan buat dirinya sebagai peringatan. Oleh sebab itu setelah undian jatuh kepada dirinya tidaklah dia tunggu-tunggu iagi. Langsung beliau lompati lautan yang ombaknya sedang sangat besar itu. Rupanya kejatuhannya ke laut itu telah ditunggu oleh seekor ikan raya. Faltagamohu. Lalu ikan itu menelannya. Ditelannya dengan fidak digigitnya, sehingga seluruh tubuh beliau fidak akan rusak. Maka dengan kekuasaan Tuhan, yang dinamai mu'jizat bagi Nabi-nabi, tidaklah beliau mati di dalam perut ikan itu. Maka berserulah dia di dalam gelap-gulita itu. gelap-gulita berlapis-lapis, karena cahaya tidak masuk ke dalam perut ikan. Dan laut yang amat dalam itu pun gelap, sehingga dimIsalkan cahaya bisa masuk, tidak ada cahaya yang akan masuk saking gelapnya laut. Dan hari pun matam, dan malam Au pun gelap pula. Begitulah Yunus tiga hari dalam perut ikan, gelap taut dan gelap malam Namun jiwa yang telah penuh dengan iman tetap terang, tidak gelap, tidak kehilangan akal. Dalam keadaan demikian dia tetap ingat akan Tuhan. Karena ingatnya akan Tuhan dia pun ingat akan diri dan ingat akan keteledorannya. "Lalu berserulah dia di dalam gelap-gulita." Yakni: Dalam gelap-gulita itulah dia ucapkan: “Bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau! Maha Suci Engkau! Sesungguhnya adalah aku ini dari orang-orang yang aniaya."
(ujung ayat 87).
Dengan ucapan demikian terkandunglah keikhlasan, penyerahan diri sebulat-bulatnya, penyerahan dan pengakuan salah. Walaupun mungkin tadiriya dirasa kesalahan itu kecil, namun melihat peringatan yang diberikan Tuhan, insaflah Yunus bahwa bagi seorang Nabi sebagai dia kesalahan seperti ini adalah tidak layak. Beliau pun mengaku bahwa beliau telah termasuk golongan orang-orang yang menganiaya, menempuh jalan yang salah. Karena di dalam melakukan da'wah seorang Nabi tidak boleh lekas marah.
“Maka Kami perkenankanlah baginya."
(pangkal ayat 88)
Artinya bahwa permohonannya dikabulkan Allah. Pengakuannya diterima, Penyesalannya diriengar. “Dan Kami selamatkan dia dari bahaya," karena terkurung di dalam perut ikan itu, setelah tiga hari tiga malam menyimpan seorang Nabi Allah di dalam perutnya pergi sendirilah ikan itu ke tepi pantai, lalu dingangakannya mulutnya dan dimuntahkannyalah Nabi Allah itu. Kemudian sadarlah dia dan pingsannya dan berangsur sembuh dari sakitnya, untuk mengulang lagi melakukan perintah Tuhan, menyampaikan da'wah kepada penduduk negeri Niniwe itu. Dan bersabdalah Tuhan selanjutnya: “Karena seperti itulah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman."
(ujung ayat 88).
Ujung ayat ini memberi petunjuk kepada kita bahwasanya orang yang mengaku beriman kepada Allah, tidaklah terlepas daripada percobaan. Dan meskipun Nabi Yunus mengaku sebelum di dalam perut ikan bahwa dia memang telah termasuk dalam golongan orang yang aniaya, karena marah kepada kaumnya lalu dia tinggalkan kaum itu dan dia belayar ke negeri lain. Dia telah mengakui bahwa perbuatan itu adalah salah, zalim, aniaya. Sebab itu dia telah merasakan bahwa jatuhnya undian kepada dirinya ketika isi biduk pencalang dikurangi adalah peringatan pertama dan Allah. Kemudian datang ikan raya menelannya; ini adalah peringatan kedua.
Tetapi Allah yang Maha Bijaksana, memperingatkan kepada itu di ujung ayat bahwa Yunus itu bukan orang yang zatim, melainkan orang yang beriman. Segala penderitaan yang ditempuhnya itu bukan azhab atau peringatan Allah karena dia termasuk orang yang zalim, melainkan percobaan Tuhan kepada tiap-tiap hambanya yang beriman. Dan bagaimanapun besanya percobaan, namun Allah selalu menyelamatkan hambanya yang beriman. Dengan tegas di ujung ayat ini Tuhan memberi ingat bahwa orang yang beriman yang selalu mendapat percobaan iman itu, selalu dilepaskan Tuhan dari bahaya.
Diperingatkan hal-ihwal Nabi Yunus ini kepada Nabi s.a.w. untuk beliau ingat apa yang beliau derita dari kaumnya, begitu jugalah yang diderita oleh Nabi-nabi yang dahulu.
Prophet Yunus
This story is mentioned here, and in Surah As-Saffat and Surah Nun.
Yunus bin Matta, upon him be peace, was sent by Allah to the people of Nineveh, which was a town in the area of Mawsil (in northern Iraq). He called them to Allah, but they rejected him and persisted in their disbelief. So he left them in anger, threatening them with punishment after three (days).
When they realized that he was telling the truth and that a Prophet never lies, they went out to the desert with their children and cattle and flocks. They separated the mothers from their children, then they beseeched Allah and pleaded to Him, with the camels and their young groaning, the cows and their calves mooing, and the sheep and their lambs bleating, so Allah spared them from the punishment.
Allah says:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَأ إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّأ ءَامَنُواْ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْىِ فِى الْحَيَوةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ
Was there any town that believed (after seeing the punishment), and its faith saved it Except the people of Yunus;
when they believed, We removed from them the torment of disgrace in the life of the world, and permitted them to enjoy for a while. (10:98)
Yunus, meanwhile, went and traveled with some people on a ship, which was tossed about on the sea. The people were afraid that they would drown, so they cast lots to choose a man whom they would throw overboard.
The lot fell to Yunus, but they refused to throw him overboard. This happened a second and a third time.
Allah says:
فَسَـهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ
Then he (agreed to) cast lots, and he was among the losers. (37:141)
meaning, the draw went against him, so Yunus stood up, removed his garment and cast himself into the sea.
Then Allah sent from the Green Sea -- according to what Ibn Mas`ud said -- a large fish which cleaved the oceans until it came and swallowed Yunus when he threw himself into the sea.
Allah inspired that large fish not to devour his flesh or break his bones, (as if He said) Yunus is not food for you, rather your belly is a prison for him.
وَذَا النُّونِ
إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا
And (remember) Dhun-Nun,
Here Nun refers to the fish; it is correct for it to be attributed to him here.
when he went off in anger,
Ad-Dahhak said:
Anger towards his people.
فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ
and imagined that We shall not punish him!
meaning, constrict him in the belly of the fish.
Something similar to this was reported from Ibn Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak and others.
This was the view favored by Ibn Jarir, and he quoted as evidence for that the Ayah:
وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّأ ءَاتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَأ ءَاتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً
and the man whose resources are restricted, let him spend according to what Allah has given him. Allah puts no burden on any person beyond what He has given him. Allah will grant after hardship, ease. (65:7)
فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
But he cried through the depths of darkness (saying):There is no God but You, Glorified be You! Truly, I have been of the wrongdoers.
Ibn Mas`ud said regarding the `depths of darkness':
The darkness of the belly of the fish, the darkness of the sea and the darkness of the night.
This was also narrated from Ibn Abbas, `Amr bin Maymun, Sa`id bin Jubayr, Muhammad bin Ka`b, Ad-Dahhak, Al-Hasan and Qatadah.
Salim bin Abu Al-Ja`d said:
The darkness of the fish in the belly of another fish in the darkness of the sea.
Ibn Mas`ud, Ibn Abbas and others said:
This was because the fish took him through the sea, cleaving it until it reached the bottom of the sea. Yunus heard the rocks at the bottom of the sea uttering glorification of Allah, at which point he said:
لااَّ إِلَـهَ إِلااَّ أَنتَ سُبْحَـنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ الظَّـلِمِينَ
There is no God but You, Glorified be You! Truly, I have been of the wrongdoers.
`Awf Al-A`rabi said:
When Yunus found himself in the belly of the fish, he thought that he had died. Then he moved his legs. When he moved his legs, he prostrated where he was, then he called out:`O Lord, I have taken a place of worship to You in a place which no other person has reached.'
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ
So `We answered his call, and delivered him from the distress.
means, `We brought him forth from the belly of the fish and from that darkness.'
...
وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُوْمِنِينَ
And thus We do deliver the believers.
means, when they are in difficulty and they call upon Us and repent to Us, especially if they call upon Us with these words at the time of distress.
The leader of the Prophets encouraged us to call upon Allah with these words.
Imam Ahmad recorded that Sa`d bin Abi Waqqas, may Allah be pleased with him, said:
I passed by Uthman bin Affan, may Allah be pleased with him, in the Masjid, and greeted him. He stared at me but did not return my Salam.
I went to Umar bin Al-Khattab and said:`O Commander of the faithful, has something happened in Islam!' I said that twice.
He said, `No, why do you ask?'
I said, `I passed by Uthman a short while ago in the Masjid and greeted him, and he stared at me but he did not return my Salam.'
Umar sent for Uthman and asked him, `Why did you not return your brother's Salam?'
He said, `That is not true.'
Sa`d said, `Yes it is.'
It reached the point where they both swore oaths. Then Uthman remembered and said, `Yes, you are right, I seek the forgiveness of Allah and I repent to Him. You passed by me a short while ago but I was preoccupied with thoughts of something I had heard from the Messenger of Allah, which I never think of but a veil comes down over my eyes and my heart.'
Sa`d said:`And I will tell you what it was. The Messenger of Allah told us the first part of the supplication then a Bedouin came and kept him busy, then the Messenger of Allah got up and I followed him. When I felt worried that he would enter his house, I stamped my feet. I turned to the Messenger of Allah , who said,
مَنْ هَذَا أَبُو إِسْحَاقَ
Who is this Abu Ishaq?
I said, Yes, O Messenger of Allah.
He said,
فَمَه
(What is the matter)?
I said, Nothing, by Allah, except that you told us the first part of the supplication, then this Bedouin came and kept you busy.
He said,
نَعَمْ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ هُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ
Yes, the supplication of Dhun-Nun when he was in the belly of the fish:
لااَّ إِلَـهَ إِلااَّ أَنتَ سُبْحَـنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ الظَّـلِمِينَ
There is no God but You, Glorified be You! Truly, I have been of the wrongdoers.
فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا مُسْلِمٌ رَبَّهُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ لَه
No Muslim ever prays to his Lord with these words for anything, but He will answer his prayer.
It was also recorded by At-Tirmidhi, and by An-Nasa'i in Al-Yawm wal-Laylah.
Ibn Abi Hatim recorded that Sa`d said that the Messenger of Allah said:
مَنْ دَعَا بِدُعَاءِ يُونُسَ اسْتُجِيبَ لَه
Whoever offers supplication in the words of the supplication of Yunus, will be answered.
Abu Sa`id said:
He was referring to:
وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُوْمِنِينَ
(And thus We do deliver the believers).
And, mention, Dhoo'l-Noon, the one of the whale, namely, Jonah son of Amittai (Yoonus bin Mattaa) when he went off enraged ([Dhaa'l-Noon] is substituted by [the clause idh dhahaba mughaadiban]) by his people, that is, furious with them because of what he had suffered at their hands - even though he had not been granted permission [by God to go off as he did] - thinking that We had no power over him, that is, that We could [not] compel him to [submit to] Our decree in the way that We did by imprisoning him inside the stomach of the whale; or that We could [not] make circumstances difficult for him. Then he cried out in the darknesses, [through] the darkness of the night, the darkness of the sea and the darkness of the whale's stomach, that :'There is no god except You! Glory be to You! I have indeed been one of the wrongdoers', for leaving my people without [Your] permission.
Commentary
وَذَا النُّونِ (21:87) The story of Sayyidna Yunus Ibn Matta (علیہ السلام) appears in the Holy Qur'an in Surah Yanus, Surah Al-Anbiya', Surah As-Saffat and Surah Nun. At some places he is mentioned by his real name and at others by the title as Dhunnun or Sahihul Hut. The meaning of Nun and Hut both is fish. Thus, Dhunnun and Sahibul Hut can be translated as man of the fish. Sayyidna Yunus (علیہ السلام) remained inside the stomach of a fish for a few days in very odd circumstances by the will of Allah. It is because of this episode that he is sometimes referred to as Dhunnun or Sahib Al-Hut.
The Story of Yunus (علیہ السلام)
According to the commentary by Ibn Kathir, Sayyidna Yunus (علیہ السلام) was sent to preach Allah's message among the people of Nineveh which is a township in the region of Mousel. Sayyidna Yunus (علیہ السلام) invited them towards Islam and asked them to follow the true religion and perform good deeds, but they rejected his call and behaved in an arrogant and defiant manner. Being dejected and annoyed, Yunus (علیہ السلام) left the place after warning them that Allah's wrath would descend upon them within three days. After he had departed from the township, the people realized that his warning might come true. (According to some versions they had actually seen the signs of the impending disaster). So they repented and asked pardon for their sins and the entire population retired to a forest with their cattle and animals. Then they started lamenting and bewailing and invoked Allah's forgiveness and protection. Allah Ta'ala accepted their sincere contrition and wailing over their sins and released them from the fear of the impending disaster. While all these events were taking place, Sayyidna Yunus (علیہ السلام) waited expecting the news about the destruction of his people. But when he learnt that the storm had passed and his people were safe and sound, he worried that they would regard him as a liar. According to some versions, it was customary with his people to execute a person if he was proved a liar. (Mazhari). Sayyidna Yunus (علیہ السلام) ، therefore, feared for his life and decided to go away to some other place rather than returning to his own people. He came across a river on his way and boarded a boat to cross it. While crossing the river it so happened that the boat was caught in a whirlpool and was in danger of sinking. The boatmen decided that if one of the passengers was off loaded from the boat the chances were that the rest of them would be saved from drowning. So they cast lots to decide as to who should be off-loaded. As luck would have it they drew the name of Sayyidna Yunus (علیہ السلام) . It seems that the boatmen were aware of his exalted position and they refused to throw him in the river. The lot was drawn a second and then a third time and his name was drawn on both occasions. This episode has been mentioned elsewhere in the Holy Qur'an in the following words: فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ (and cast lots, and was of the rebutted - 37:141). Thereupon Sayyidna Yunus (علیہ السلام) got up, took off the extra clothes which he was wearing and threw himself in the river. Immediately a fish from the Caspian Sea arrived on the scene as commanded by Allah Ta'ala and swallowed Yonus (علیہ السلام) . (as reported by Ibn Masud ؓ . The fish was further commanded by Allah Ta’ ala that he was not to be taken for food, that no harm was to be done to his body (both flesh and bones) and that he was only to be held as a prisoner in its stomach for a few days. (Ibn Kathir)
There are references in the Qur'an that Sayyidna Yunus (علیہ السلام) earned Allah Ta` a1a's displeasure when he left his people without His specific command and his stay for a few days in the stomach of the fish was a sign of Allah's displeasure for his lapse.
It is safe to assume that the warning of Sayyidna Yunus (علیہ السلام) to his people about their imminent destruction within three days was not the outcome of his own judgment but was based on Divine revelations. Similarly, his dissociation from his people was nothing new and was in line with the practice of other prophets in similar situations and must, therefore, also have been done by the command and approval from Allah Ta` ala. So, upto this point there seems nothing to be wrong in his conduct which would deserve Allah Ta’ ala's displeasure. But later on when Allah Ta’ ala accepted the genuine remorse and repentance of the people and released them from the fear of destruction, it was to be expected that Yunus (علیہ السلام) would return to his people. But his decision not to return to them and go away from them was based on his own judgment (اِجتِھَاد). He reasoned that if he returned to them, they would regard him as a liar and his teachings would be rendered ineffectual and fruitless. There was also the danger that he might have been taken and executed. For these reasons he was hopeful that his parting with his people would not be a reprehensible act before Allah Ta` ala. Although his decision to migrate was based on his personal judgment (Ijtihad اِجتِھَاد) without waiting for a clear direction from Allah Ta` ala, yet it did not constitute a sin. Nevertheless for a prophet to take a decision on his own without waiting for the revelation (وَحِی) from Allah Ta’ ala was not liked by Him. This was not a crime but an act which was not desirable. The status of the prophets and His closed ones is highly exalted and it is expected of them not to indulge even in such undesirable acts. The slightest lapse on their part is subjected to Allah's displeasure and reproach from Him, and that is why he faced this hardship.
It is quoted in Tafsir al-Qurtubi from al-Qushairi that this had happened to Yunus (علیہ السلام) when the tempest was removed from his people, which was against his wish and that his stay in the stomach of the fish for a few days was more of a reformatory measure than punishment, as sometimes people warn their young children and take reformatory measures against them. (Qurtubi)
After learning the background of the episode it would be easier to understand the meanings of the verses which is as follows:
ذَّهَبَ مُغَاضِبًا (he walked away in anger 21:87) It is obvious that the anger was against his own people. Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ has explained it as such.
فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ thought We will never put him to trouble - 21:87) Lexically the word نَّقْدِرَ has three different meanings: If it is derived from the meaning would be that Sayyidna Yunus (علیہ السلام) imagined that Allah Ta` a1a would not be able to gain mastery over him. This is obviously an unacceptable explanation as no Muslim can ever entertain such thoughts in his mind, least of all a prophet of Allah. Alternatively if it is considered that the word نَّقْدِرَ is derived from قَدر then the meaning would be to straighten or narrow down, as the Qur'an says:
اللَّـهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ (Allah extends provision to whom He wills and straitens it.) The Imams of Tafsir Ata', Said Ibn Jubair, Hasan Basri and many other scholars have adopted this interpretation, and therefore the meaning of the verse would be that Yunus (علیہ السلام) thought that he would not be put in a straitened condition by Allah Ta` a1a if he abandoned his people. This second explanation is adopted by most commentators (and the translation of the text as appeared above is based on it). The third possibility is that نَقدِر is a derivative of تَقدِیر in which case the verse would mean that Yunus (علیہ السلام) was sure that he would not be blamed if he dissociated himself from his people. Qatadah, Mujahid and Farra' have adopted this explanation.