طه ٥٨
- فَلَنَأۡتِيَنَّكَ maka sungguh kami akan mendatangkan kepadamu
- بِسِحۡرٖ dengan sihir
- مِّثۡلِهِۦ serupanya/seperti itu
- فَٱجۡعَلۡ maka jadikanlah/buatlah
- بَيۡنَنَا antara kami
- وَبَيۡنَكَ dan antara kamu
- مَوۡعِدٗا perjanjian/pertemuan
- لَّا kami tidak
- نُخۡلِفُهُۥ menyalahkannya
- نَحۡنُ kami
- وَلَآ dan tidak
- أَنتَ kamu
- مَكَانٗا tempat
- سُوٗى sama/pertemuan
Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu, maka buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan engkau yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) engkau, di suatu tempat yang terbuka."
("Dan kami pun pasti akan mendatangkan pula kepadamu sihir semacam itu) yang akan melawannya (maka buatlah suatu waktu antara kami dan kamu) untuk pertemuan itu (yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu, di suatu tempat) lafal Makaanan ini dinashabkan dengan mencabut huruf Jarnya, maksudnya, di tempat (yang pertengahan") lafal Suwan dapat pula dibaca Siwan, artinya, tempat yang letaknya pertengahan, dari arah mana saja didatangi oleh kedua pihak jaraknya sama.
Tafsir Surat Taha: 57-59
Berkata Firaun, "Apakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).” Berkata Musa, "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kalian itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.”
Ayat 57
Allah ﷻ menceritakan perihal Fir'aun ketika ia menyaksikan tanda yang besar, yaitu mukjizat yang ditampakkan oleh Nabi Musa kepadanya. Tongkat dilemparkan oleh Nabi Musa, maka jadilah tongkat itu ular yang sangat besar; lalu Nabi Musa memasukkan tangannya ke dalam ketiaknya, maka setelah dikeluarkan tangannya memancarkan sinar yang putih bukan karena penyakit.
Fir'aun berkata kepada Musa, "Ini adalah sihir yang kamu buat untuk menyihir kami dan menguasai orang-orang agar mereka mengikutimu, lalu engkau melawan kami bersama mereka; hal itu tidak akan terjadi. Sesungguhnya kami pun mempunyai ahli sihir yang pandai bersihir seperti kamu, maka janganlah kamu merasa besar diri dengan apa yang kamu miliki."
Ayat 58
“Maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu.” (Thaha: 58).
Yakni suatu hari untuk pertemuan kami dan kamu, lalu kita lakukan pertandingan antara ilmu yang kamu miliki dan ilmu yang kami miliki, yakni ilmu sihir, di tempat yang tertentu dan dalam waktu yang tertentu. Maka saat itu juga Musa menjawab tantangan tersebut, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
Ayat 59
“Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kalian itu ialah di hari raya.” (Thaha: 59).
Yaitu hari raya mereka dan hari libur mereka, dimaksudkan agar semua orang dapat menyaksikan kekuasaan Allah atas apa yang dikehendakiNya melalui mukjizat nabi, dan kalahnya ilmu sihir menghadapi mukjizat nabi. Karena itulah Nabi Musa a.s. berkata:
“Dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.” (Thaha: 59).
Yakni semua manusia dikumpulkan di waktu duha agar segala sesuatunya tampak jelas dan gamblang.
Demikian pula halnya semua perkara para nabi, berciri khas jelas dan gamblang, tiada yang tersembunyi dan tiada pula propaganda palsu. Karena itulah Nabi Musa a.s. berkata kepada mereka bahwa hendaknya waktu pertandingan itu diadakan di waktu siang hari, tepatnya waktu matahari sepenggalahan naik, bukan malam hari.
Ibnu Abbas mengatakan, hari raya itu adalah hari Asyura. As-Saddi, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa hari itu adalah hari raya mereka. Menurut Sa'id ibnu Jubair, hari itu adalah hari pasaran mereka. Semua pendapat yang dikemukakan pada hakikatnya tidak bertentangan.
Menurut pendapat kami, pada hari yang sama Allah membinasakan Fir'aun beserta bala tentaranya, seperti yang telah disebutkan di dalam hadis sahih. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa Fir'aun berkata, "Hai Musa, buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu agar kami dapat membuat persiapan terlebih dahulu." Musa menjawab,"Saya tidak diperintahkan untuk itu, melainkan diperintahkan untuk menantangmu secara langsung. Jika kamu tidak mau keluar, maka sayalah yang akan masuk kepadamu."
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Musa yang isinya mengatakan, "Buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kamu dan dia, dan katakanlah kepadanya bahwa silakan dia menentukannya sendiri." Kemudian Fir'aun berkata, "Berilah tempo empat puluh hari," maka Musa menyetujuinya.
Mujahid dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).” (Thaha: 58) Yang dimaksud dengan suwa ialah tempat yang pertengahan.
As-Saddi mengatakan tempat yang sebanding untuk tujuan itu. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Di suatu tempat yang pertengahan letak(nya).” (Thaha: 58). Yakni tempat yang datar tiada penghalangnya sehingga semua orang dapat menyaksikannya, tiada sebagian dari mereka terhalang penglihatannya oleh sebagian yang lain atau oleh penghalang lainnya.
Bila itu tujuanmu, maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu. Kami akan mengumpulkan para penyihir andal untuk mengalahkanmu. Maka, wahai Musa, buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan engkau. Tentukanlah waktu dan tempat pertemuan itu. Mari kita buat kesepakatan yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula engkau. Adakanlah pertemuan itu di suatu tempat yang terbuka sehingga tidak menyulitkan salah satu pihak dari kita atau orang-orang yang ingin menonton. '59. Nabi Musa tidak gentar menghadapi tantangan Fir'aun. Dia berkata, 'Kesepakatan yang menyangkut waktu untuk pertemuan kami dengan para penyihirmu itu ialah pada hari raya, di tempat kamu dan rakyatmu biasa berkumpul, dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari supaya mereka dapat menyaksikan sejak awal. '.
Ayat ini menerangkan bahwa Firaun berjanji dengan sungguh-sungguh akan mendatangkan ahli sihir untuk menandingi sihir Musa. Firaun meminta kepada Musa supaya ia menentukan tempat dan waktu untuk berhadapan dengan ahli-ahli sihirnya, serta berjanji supaya dia maupun Musa tidak akan menyalahi ketentuan yang telah disepakati itu. Ini dilakukan Firaun untuk menunjukkan bahwa dia betul-betul mempunyai hati yang keras dan persiapan yang mantap untuk bertanding menghadapi sihir Musa, dengan keyakinan bahwa ia akan menang dalam pertandingan nanti. Juga Firaun menganjurkan supaya Musa memilih tempat yang luas, tidak berbukit-bukit supaya penonton dapat menyaksikan dan melihat pertandingan itu dengan jelas, tidak terhalang oleh suatu apapun.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
FIR'AUN MENGUMPULKAN TUKANG SIHIR
Di ayat yang akan datang ini diterangkan bagaimana sikap Fir'aun menyambut seruan Nabi Musa dan Harun itu.
“Dan sesungguhnya telah Kami perlihatkan kepadanya ayat-ayat Kami semuanya."
(pangkal ayat 56)
Artinya bahwa Musa telah menjelaskan dakwah itu kepada Fir'aun menurut yang dititahkan oleh Allah. Dia telah membawakan sikap yang lemah lembut dengan harapan dia akan sadar, dia akan ingat dan timbul takutnya akan kebesaran Allah. Musa telah menjelaskan dan menyadarkan tentang Kemahakuasaan Ilahi pencipta langit dan bumi, penurunkan hujan dari langit, menyuburkan bumi. Allah telah memberi bentuk bagi masing-masing insan dengan kudrat iradatnya. Dan itu pun dikuatkan dengan mukjizat; tongkat dapat menjelma jadi ular, dan cahaya bisa memancar dari telapak tangan Musa. Tetapi Fir'aun tidak juga mau menerima.
“Namun dia masih mendustakan dan enggan."
(ujung ayat 56)
Dia tidak mau percaya, dia tidak mau menerima. Dia masih saja yakin akan kebesaran diri dan kekuasaannya. Segala seruan yang
mencoba mengusik pendiriannya itu dipandangnya adalah memusuhi dirinya. Oleh sebab itu maka mukjizat yang dipertunjukkan Nabi Musa di hadapannya itu dipandangnya sihir belaka.
“Dia berkata, Apakah engkau datang kepada kami karena hendak mengeluarkan kami dari tanah kami dengan sihir engkau, hai Musa."
(ayat 57)
Kalau kita pandangi secara modern penolakan Fir'aun ini ialah bahwa dia meng-anggap bahwa anjuran yang dibawa Nabi Musa itu terang hendak “mengeluarkan kami dari tanah kami", atau “hendak menurunkan kami dari singgasana kami", atau “hendak mencopot kami dari kekuasaan kami". Sebab kerajaan ini didirikan ialah dengan dasar menuhankan kepala negara, bahwa raja itu adalah tuhan yang mahakuasa, apa perintahnya tidak boleh ditolak, apa titahnya mesti dilaksanakan. Kalau wibawa raja yang seperti itu diganggu gugat, alamat akan runtuhlah kerajaan. Kalau diakui bahwa ada lagi kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaan Fir'aun, walaupun yang disebut kekuasaan tertinggi dari Yang Mahakuasa atas Alam, artinya ialah meletakkan Fir'aun sendiri di bawah kuasa itu. Dan ini tidak bisa diterima sama sekali. Barangsiapa yang menganjur-anjurkan pelajaran seperti ini berarti antipemerintah Fir'aun. Berarti musuh.
Karena Fir'aun merasa bahwa dirinya masih di puncak kekuasaan dan dia ingat bahwa Musa itu pernah hidup dalam istananya, di bawah naungan kuasanya, atau anak semang yang dia besarkan, itulah sebabnya dia bertanya berterus terang seperti itu, “Apakah maksudmu hendak mengusirku dari negeriku ini?"
“Maka kami pun pasti akan mendatangkan pula kepada engkau dengan sihir semacam itu."
(pangkal ayat 58)
Di pangkal ayat ini Fir'aun menunjukkan tidak mau mengertinya akan ayat-ayat atau mukjizat tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan Musa. Dia menyangka bahwa itu hanyalah sihir saja. Maka dia pun merasa bahwa kekuasaannya yang begitu besar akan sanggup mengalahkan sihir Musa itu. Itu sebabnya dia berkata bahwa dia pun sanggup memperlihatkan pula sihir semacam itu, bahkan dapat mengalahkan sihir Musa itu:
“Kanena itu perbuatlah di antara kami dan di antara engkau suatu perjanjian yang tidak akan kita mungkiri, tidak kami dan tidak engkau, di sesuatu tempat yang di tengah."
(ujung ayat 58) Di sini Fir'aun melanjutkan tantangannya. Bahwa dia, dengan ahli-ahli sihirnya sanggup menghadapi dan mengatasi sihir Musa itu. Oleh sebab itu dia bersedia jika diadakan satu pertemuan umum, yang di sana kedua sihir itu diadu, dikonfrontasikan. Hendaklah ditentukan waktunya dan dipilih tempat yang di tengah, sama jauh dari istana Fir'aun dengan tempat Musa dan pengikut-pengikutnya. Tidak boleh seorang pun di antara kedua pihak me-mungkiri janji pertemuan di hari dan di tempat yang ditentukan itu.
“(Musa) menjawab, “Perjanjian dengan kamu ialah di hari raya."
(pangkal ayat 59)
Dengan jawaban demikian artinya Musa menyanggupi. Bahkan dialah yang menentukan harinyayaumoz-z/mj/j.yangarti harfiahnya ialah hari perhiasan, hari seluruh kota dihiasi dan orang dengan sendirinya akan berduyun-duyun keluar dari rumah masing-masing menyambut hari itu. Kita artikan hari raya!
“Dan bahwa dikumpulkan manusia di sepenggalah malahan naik."
(ujung ayat 59)
Artinya Musalah sendiri yang menentukan harinya, yaitu di waktu orang ramai berhari raya. Dia pula yang menentukan saat atau waktunya, yaitu di waktu Dhuha, sepanggalah matahari naik di antara pukul delapan dan pukul sembilan pagi. Yaitu ketika manusia-manusia yang datang meramaikan Hari Raya berkerumun-kerumun itu sedang segar dan hari belum panas benar. Niscaya dengan demikian orang akan bertambah tertarik melihat pertandingan sihir itu.
“Maka Fir'aun pun meninggalkan tempat itu."
(pangkal ayat 60)
Kalau Fir'aun waktu itu sedang duduk di atas singgasana dan mahligai keemasannya, dan Musa sedang berdiri berhadapan dengan dia, maka Fir'aun meninggalkan tempat itu ialah dengan segeranya dia berdiri dari kursi keemasannya itu dan undur ke ruang dalam istana. Sudah menjadi adat raja-raja sejak zaman purbakala, bahwa apabila seorang raja telah undur ke ruang dalam istana artinya majelis pun bersurai, atau bubar dan masing-masing hadirin pun sudah boleh meninggalkan ruang balairungsari tempat menjunjung duli itu."Lalu dikumpulkan tipu dayanya." Atau diaturnya siasatnya, dikumpulnya ahli-ahli bicara, orang-orang besar istana untuk mem-perkatakan bagaimana caranya siasat yang harus diatur agar sihir Musa ini dapat dikalahkan. Maka dikirimlah utusan ke segala pelosok negeri guna menjemput dan mengumpulkan ahli-ahli sihir yang ternama, yang semuanya akan dikerahkan untuk menghancurkan sihir Musa itu, sampai Musa jatuh air mukanya di hadapan majelis orang banyak dan hilanglah kepercayaan orang kepadanya,
Berbagilah riwayat ahli tafsir tentang banyaknya ahli sihir yang disuruh berkumpul ke istana untuk kelaknya dengan sekali pukul menghancurkan sihir Musa itu.
“Kemudian dia pun datang!"
(ujung ayat 60)
Artinya tidak berapa lama kemudian hari yang telah ditentukan yaitu hari raya pun datanglah dan rakyat pun telah datang pula berduyun-duyun dan tukang-tukang sihir pun telah pula berkumpul ke tempat itu saat yang ditentukan di sepenggalah matahari naik. Musa pun telah hadir dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, karena percaya akan bantuan dan perlindungan Allah.
Setelah berhadap-hadapan antara Musa dan tukang-tukang sihir itu, di hadapan Fir'aun yang duduk di atas singgasananya:
“Berkata Musa kepada mereka, “Celaka kamu! Janganlah kamu mengada-adakan atas Allah suatu kedustaan niscaya kamu dicelakakan-Nya dengan adzab."
(pangkal ayat 61)
Mulai saja berhadapan Musa telah menunjukkan kelebihan dan ketinggian jiwanya karena kedatangannya adalah atas perintah dan utusan dari Allah. Kalian ini akan celaka semua, katanya. Karena sihir apa pun yang akan kalian keluarkan, semuanya itu adalah kebohongan dan kepalsuan belaka. Kalau ini akan kalian teruskan, pastilah adzab siksaan Allah akan menimpa diri kalian semuanya. Seakan-akan dia berkata, bahwa kalian akan sia-sia menantang dan melawan saya. Saya ini bersikap adalah atas kehendak Allah, padahal kalian hanyalah hamba sahaya, budak-budak dan orang-orang suruhan dari Fir'aun.
“Dan sesungguhnya sangat rugilah orang yang suka mengada-ada."
(ujung ayat 61)
Akan rugi harta, rugi tenaga, karena pasti tidak berhasil dan pasti kalah berhadapan dengan kudrat iradat Allah ﷻ
“Maka benbantah-bantahanlah mereka di antara mereka tentang unusan mereka itu."
(pangkal ayat 62)
Artinya, bahwa setelah mendengar perkataan Nabi Musa yang lantang, terus terang, dan penuh keyakinan itu, timbullah perbantahan di antara tukang-tukang sihir itu sendiri. Menjadi bukti bahwa tidaklah semua mereka yakin benar akan sekas sihirnya. Mungkin telah ada di antara mereka yang sebanyak itu yang telah mendengar berita bahwa tongkat Musa dapat menjelma menjadi ular dan menjalar di tanah dengan menggeleng-geleng yang menimbulkan takut. Dan mungkin pula ada di antara mereka yang telah mendengar bahwa jika telapak tangan kanan Musa dimasukkannya ke dalam ketiak kirinya dan dikeluarkannya kembali dia akan memancarkan sinar cahaya yang ajaib. Sebab itu maka timbul perbantahan di antara mereka, akan diteruskan jugakah melawan Musa ini.
“Dan mereka merahasiakan pencakupan."
(ujung ayat 62)
Seakan-akan dapatlah kita lihat dalam mata khayat kita apa yang diungkapkan dalam ayat ini. Setelah mendengar teguran Musa yang begitu jelas dan yakin, mereka timbul ragu. Mereka pecah pikiran sesama sendiri, sehingga timbul perbantahan. Tetapi karena Musa hadir Fir'aun pun menyaksikan, perbantahan terpaksa tidak keras-keras, malahan sambil berbisik-bisik, setengah rahasia. Dan dapat kita khayatkan juga bahwa orang banyak yang telah berduyun berkumpul pun hening melihat peristiwa itu.
Akhirnya dapatlah mereka dipersatukan kembali dengan peringatan beberapa orang di antara mereka, yaitu orang-orang yang terdekat kepada Fir'aun atau orang-orang yang ditugaskan oleh Fir'aun buat membujuk mereka. Di dalam surat al-A'raaf ayat 114 dan surat asy-Syu'araa' ayat 42 ada dijelaskan janji bujukan untuk mereka asal mau melawan sihir Musa itu, bahwa mereka akan dijadikan “al-Muqarrabin" yaitu orang-orang yang terdekat ke istana.
“Mereka berkata, Tidak lain kedua orang ini hanyalah dua tukang sihir yang hendak mengusir kamu dari tanah kamu dengan sihir keduanya"
(pangkal ayat 63)
Inilah salah satu siasat yang dipakai oleh Fir'aun dan kaki tangan kekuasaannya buat melumpuhkan lawannya. Dibuatnya fitnah dan ditafsirkan dengan cara yang lain. Tidak dibuka-buka dan tidak hendak dipedulikan apa maksud yang sejati dari kedatangan utusan Allah yang bernama Musa dan Harun itu. Disebarkan saja berita bahwa keduanya adalah tukang sihir dengan maksud tertentu. Yaitu hendak mengusir kamu dari tanah kamu, atau dari tanah air kamu.
“Dan keduanya hendak melenyapkan cara hidup kamu yang utama."
(ujung ayat 63)
Ditanamkanlah rasa kebencian kepada kedua utusan Allah itu. Hendak mengusir kamu dari tanah kamu, artinya hendak merebut kekuasaan dari tangan kamu. Padahal yang di-“kamu"-kan itu belumlah pernah selamanya menikmati hidup mewah di atas tanahnya. Yang mewah hanya Fir'aun dengan para pembantunya. Dikatakan pula bahwa kedua tukang sihir itu hendak melenyapkan cara hidup kamu yang utama. Yaitu bahwa kalau Fir'aun yang berkuasa, kalian boleh berkehendak hati, tidak ada yang akan terlarang, asal kalian taat setia kepada Fir'aun. Tetapi kalau sihir kedua orang ini yang menang, sudah banyak yang akan dilarang. Bermegah-megah tidak boleh lagi. Berharta banyak tidak boleh lagi.
“Sebab itu kumpulkanlah segala tipu daya kamu."
(pangkal ayat 64)
Kumpulkan segala kepandaian segala sihir, segala mantra-mantra, segala kepandaian dan kelicikan, kumpulkan semuanya jadi satu."Dan datanglah dengan berbaris." Artinya hendaklah serentak mengambil sikap, jangan berpecah dan bertindak sendiri-sendiri, dan sekali-kali jangan ada yang ragu menghadapi kedua tukang sihir ini. Maju serentak
“Dan sesungguhnya akan berbahagialah pada hari ini barangsiapa yang menang."
(ujung ayat 64)
Perkataan ini pun telah menunjukkan bahwa pihak istana telah mengerti juga bahwa hari ini memanglah hari yang menentukan. Barangsiapa yang menang dalam pertandingan sihir ini, di hari ini, menanglah dia buat seterusnya, dan kalau kalah, hancurlah buat seterusnya. Tetapi Fir'aun dan orang-orang besarnya yakin benar bahwa merekalah yang akan menang!
Manakah boleh tujuh puluh dua tukang sihir (menurut riwayat dari Ibnu Abbas, yaitu jumlah yang paling sedikit dari beberapa riwayat. Sedang Ibnu al-Munkadir 80.000 banyaknya). Mana boleh dua orang akan menang menghadapi tujuh puluh dua orang pilihan yang didatangkan dari seluruh negeri? Sebab itu Fir'aun memperhitungkan bahwa kemenangan di hari ini adalah kebahagiaan yang selanjutnya. Pertama Kerajaan Fir'aun tidak dapat ditumbangkan oleh sihir dua orang dari Bani Israil yang terhina. Dan kemenangan bagi tukang-tukang sihir itu sendiri pribadi, ialah bahwa mereka akan diberikan kedudukan yang mulia, menjadi orang-orang yang terdekat ke istana!
“Mereka berkata, “Hai Musa! Atau engkau yang akan melemparkan, atau kami yang terlebih dahulu."
(ayat 65)
Yaitu setelah mereka bulat kata kembali, sehabis diperingatkan bahwa pada kemenangan yang sekali ini ditentukan nasib mereka di belakang hari, akan menjadi orang-orang yang terdekat kepada sang raja jika menang, atau menjadi orang yang hina kalau
Di dalam berbagai tafsir disebutkan pula bahwa tali-tali dan tongkat-tongkat itu mereka cat dengan air cat berupa air emas atau air perak sehingga kalau kena cahaya matahari semuanya seakan-akan menjalar. Kita pun kerapkali melihat ular-ularan permainan kanak-kanak buatan Jepang yang sepintas lalu dapat menimbulkan cemas orang, karena menyangka bahwa ular betul-betul.
The Conversation between Musa and Fir`awn
Allah, the Exalted, informs about Fir`awn that he said to Musa, in his rejection of the existence of a Supreme Maker and Creator, Who is the God of everything and his own Lord and Owner:
قَالَ فَمَن رَّبُّكُمَا يَا مُوسَى
(Fir`awn) said:Who then, O Musa, is the Lord of you two!
meaning Who is the one who called you forth and sent you! For verily, I do not know him and I have not given you any god other than myself.
قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى
(Musa) said:Our Lord is He Who gave to each thing its form and nature, then guided it aright.
Ali bin Abi Talhah related that Ibn Abbas said,
He is saying that He created a mate for everything.
Ad-Dahhak said that Ibn Abbas said,
He made the man a man, and the donkey a donkey and the sheep a sheep.
Layth bin Abi Sulaym reported from Mujahid that he said,
He gave everything its form.
Ibn Abi Najih said that Mujahid said,
He fashioned the creation of every moving creature.
Sa`id bin Jubayr said concerning His statement,
أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى
((Who) gave to each thing its form and nature, then guided it aright),
He gave each of His creatures what is suitable for its creation.
Therefore, He did not give man the form of a wild beast, nor did He give wild beasts the form of the dog. Likewise, the dog's form is not like the sheep's. He also gave creature a suitable spouse, and He influenced everything towards that mate. There is no species of creation that is exactly like another species. They are different in their actions, their forms, their sustenance and their mating.
Some of the scholars of Tafsir have said that this statement, He gave to each thing its form and nature, then guided it aright, is similar to Allah's statement,
وَالَّذِى قَدَّرَ فَهَدَى
And Who has measured; and then guided. (87:3)
This means He measured out an ordained amount (of sustenance, actions, etc.) and then guided His creatures to it. He wrote the deeds, the appointed times of death and the provisions. Then, the creatures traverse upon that and they are not able to avoid it, nor are they able to abandon it.
In this Ayah Musa is saying that our Lord is the One Who created the creation, measured out its ordainment and compelled the creatures to that which He wanted.
قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الاْاُولَى
(Fir`awn) said:What about the generations of old!
The most correct opinion concerning the meaning of this, is that when Musa informed Fir`awn that his Lord Who sent him is the One Who creates, sustains, ordains and guides, Fir`awn began to argue, using the previous generations as a proof. He was referring to those people of old who did not worship Allah. In other words, If the matter is as you say, then what happened to those people! They did not worship your Lord. Instead they worshipped other gods besides Him.
قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ
(Musa) said:The knowledge thereof is with my Lord, in a Record.
Musa said to him, in response to this, that if they did not worship Allah, then Allah knows precisely what happened to them and He will give them just recompense for their deeds, as is written in Allah's Book (of decrees). This Book is called Al-Lawh Al-Mahfuz (The Preserved Tablet) and it is the Book of Deeds.
لاَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى
My Lord neither errs nor forgets.
This means that nothing eludes Him and He does not miss anything, whether it is small or great. He does not forget anything and His Most Exalted knowledge is described as encompassing everything. Blessed be He, the Exalted, the Most Holy and free of any imperfections.
The knowledge that creatures have has two deficiencies. The first is that it does not completely encompass anything, and the second is that the creature is prone to forget after knowing. Therefore, Allah has declared Himself above such deficiencies
The Completion of Musa's Reply to Fir`awn
This is from the completion of Musa's speech concerning the description of His Lord when Fir`awn asked him about Him.
He (Musa) said,
الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى
(He Who gave to each thing its form and nature, then guided it aright).
Then, Fir`awn attempted to present some argumentative rebuttal during Musa's reply. Yet, Musa continued by saying,
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الاَْرْضَ مَهْدًا
Who has made earth for you like a bed;
He is the One Who made the earth as a bed for you.
Some recited the word as Mihadan and others recited it as Mahdan, which means `a place of rest that you settle down upon.'
It also may mean `that which you stand upon, sleep upon or travel upon its back.'
وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلً
and has opened ways for you therein.
This means, `He made roads for you to walk upon their shoulders.'
This is just as He, the Exalted, said,
وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجاً سُبُلً لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
And placed therein broad highways for them to pass through, that they may be guided. (21:31)
وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّن نَّبَاتٍ شَتَّى
and has sent down water from the sky. And We have brought forth with it various kinds of vegetation.
referring to the various species of plants, such as vegetation and fruits. Some are sour, some are sweet, some are bitter and there are other kinds as well
كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ
Eat and pasture your cattle (therein);
meaning, `something that is food for you and a palatable fruit for you, and something that is for your cattle as fodder for them, both green and dry.'
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَايَاتٍ
Verily, in this are Ayat.
This means proofs, signs and evidences.
لاِّأُوْلِي النُّهَى
for men of understanding.
meaning those who possess correct and upright intelligence realizing that there is no god worthy of worship except Allah, and there is no true Lord other than Him.
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى
Thereof We created you, and into it we shall return you, and from it We shall bring you out once again.
meaning, `the earth is your beginning. For your father, Adam, was created with dirt from the surface of the earth. You also will be returned to the earth. This means that you will become dirt when you die and decay.'
The statement, And from it We shall bring you out once again, means,
يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلاَّ قَلِيلً
On the Day when He will call you, and you will answer with His praise and obedience, and you will think that you have stayed (in this world) but a little while! (17:52)
This Ayah is similar to Allah's statement,
قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ
He said:Therein you shall live, and therein you shall die, and from it you shall be brought out. (7:25)
Musa showed Fir`awn all of the Signs but He did not believe
Concerning Allah's statement,
وَلَقَدْ أَرَيْنَاهُ ايَاتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَأَبَى
And indeed We showed him (Fir`awn) all Our Ayat, but he denied and refused.
This means that the proofs, signs and evidences were established against Fir`awn and he ﷺ them with his own eyes, but he still denied and rejected them due to his disbelief, abstinence and transgression.
This is as Allah, the Exalted, says,
وَجَحَدُواْ بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَأ أَنفُسُهُمْ ظُلْماً وَعُلُوّاً
And they belied them wrongfully and arrogantly, though they themselves were convinced thereof. (27:14
Fir`awn describes Musa's Proofs as being Magic and Their Agreement to hold a Contest
Allah tells,
قَالَ أَجِيْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ أَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يَا مُوسَى
فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِّثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لاَّ نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنتَ مَكَانًا سُوًى
He (Fir`awn) said:Have you come to drive us out of our land with your magic, O Musa! Then verily, we can produce magic the like thereof; so appoint a meeting between us and you, which neither we nor you shall fail to keep, in an open place where both shall have a just and equal chance.
Allah, the Exalted, informs of what Fir`awn said to Musa when he showed him the great proof. This great sign to Fir`awn was Musa casting down his stick which became a huge snake, and his pulling his hand out from under his arm while it was glowing white without any illness.
At this, Fir`awn said, This is magic that you have brought to us to bewitch us and conquer the people, so that they will follow you. Then you will outnumber us.
Fir`awn then said, Your plan will not work. We have magic just like yours, so do not let yourself be deceived by that what you are doing.
فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا
so appoint a meeting between us and you,
Meaning, `a day that we can come together to present some of our magic to confront yours. It will be at a specified place and time.'
With this, Musa said to them
قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ
(Musa) said:Your appointed meeting is the day of the festival,
That was the day of their celebration and their New Year's festivity. It was a holiday for them when they took vacation from their work and came together for a large gathering.
This day was selected so that all of the people could witness the power of Allah to do whatever He wills. They would see the miracles of the prophets and the futility of magic to contest the supernatural prophetic powers.
This is why Musa said,
وَأَن يُحْشَرَ النَّاسُ
and let the people assemble,
meaning all of them.
ضُحًى
when the sun has risen (forenoon).
meaning in the morning, just before noon.
In this way the contest will be most visible, well lit, apparent and obvious in plain view. This is the way of the Prophets. Their work is always clear and apparent. It is never something hidden, or something for sale. This is why he did not say that the meeting should be at night, but rather, it was to be held during the bright part of the day.
Ibn Abbas said,
The day of their festivity was the day of `Ashura'.
As-Suddi, Qatadah and Ibn Zayd said,
It was the day of their great celebration.
Sa`id bin Jubayr said,
It was the day of their great bazaar.
These statements are not contradictory.
I say that Allah destroyed Fir`awn and his armies on a day similar to this, just as is confirmed in the Sahih.
Abdur-Rahman bin Zayd bin Aslam said,
It was a flat place where all of the people were on the same level, having an equal view of the event. There was nothing there that would obstruct the view so that some people could see what others did not.
Yet We [too] shall produce for you a sorcery like it, [one] which will counter it. So fix a tryst between us and you, for that [purpose], [a tryst] which neither we nor you shall fail to keep, [at] a place (makaanan is in the accusative because the genitive-operator preposition [fee, 'at'] has been removed) of equal distance (read siwaan or suwaan), in other words, in the middle, equidistant for a person coming from either side.
By words مَكَانًا سُوًى(at an even place) in verse 58 the Pharaoh proposed that the contest between Sayyidna Musa (علیہ السلام) and his own magicians should be held at a place which should, as far as possible, be within easy access of the Egyptians, Sayyidna Musa (علیہ السلام) and the Bani Isra'il. The latter readily accepted this proposal and fixed the day and the time for the contest by suggesting۔