ص ١٧
- ٱصۡبِرۡ bersabarlah
- عَلَىٰ atas
- مَا apa
- يَقُولُونَ mereka katakan
- وَٱذۡكُرۡ dan ingatlah
- عَبۡدَنَا hamba Kami
- دَاوُۥدَ Daud
- ذَا mempunyai
- ٱلۡأَيۡدِۖ tangan/kekuatan
- إِنَّهُۥٓ sesungguhnya dia
- أَوَّابٌ seorang yang kembali
Bersabarlah atas apa yang mereka katakan; dan ingatlah akan hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah).
Allah ﷻ berfirman, ("Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan) dalam beribadah; tersebutlah bahwa dia sepanjang tahun selalu berpuasa sehari dan berbuka sehari; bangun pada tengah malam untuk melakukan salat, kemudian tidur selama sepertiga malam dan seperenam malam harinya lagi ia gunakan untuk salat (sesungguhnya dia amat taat) yakni selalu mengerjakan hal-hal yang menjadi keridaan Allah ﷻ
Tafsir Surat Sad: 12-17
Sebelum mereka itu kaum Nuh, 'Ad, Fir'aun yang mempunyai tentara yang banyak juga telah mendustakan (para rasul). Dan begitu juga Samud, kaum Lut dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang para rasul). Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan para rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku. Dan yang mereka tunggu hanyalah satu teriakan saja yang tidak ada selanya. Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari perhitungan.” Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan.
Ayat 12
Allah ﷻ berfirman, menceritakan perihal umat-umat terdahulu dan apa yang telah menimpa mereka berupa azab, pembalasan, dan siksaan, karena mereka menentang para rasul dan mendustakan nabi-nabi Allah. Kisah-kisah mereka telah dijelaskan secara panjang lebar di berbagai tempat.
Ayat 13
Firman Allah ﷻ: “Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu (menentang para rasul).” (Shad: 13)
Mereka lebih banyak bilangannya daripada kalian (orang-orang Quraisy) dan lebih kuat serta lebih banyak harta dan anak-anaknya, tetapi semuanya itu tidak dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah barang sedikit pun, ketika datang kepada mereka azab Allah. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
Ayat 14
“Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan para rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku.” (Shad: 14)
Penyebab yang membinasakan mereka ialah karena mendustakan para rasul. Maka hendaklah waspada orang-orang yang diajak bicara oleh ayat ini, yakni janganlah mereka berbuat hal yang serupa.
Ayat 15
Firman Allah ﷻ: “Dan yang mereka tunggu hanyalah satu teriakan saja yang tidak ada selanya.” (Shad: 15)
Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, makna yang dimaksud ialah tiada masa tangguh bagi mereka melainkan saat (detik-detik) datangnya kiamat menimpa mereka dengan sekonyong-konyong, karena sesungguhnya semua tandanya telah ada.
Dengan kata lain, hari kiamat itu telah dekat masanya. Dan teriakan yang dimaksud adalah tiupan yang mengejutkan, Allah memerintahkan kepada Malaikat Israfil agar memperpanjang tiupan yang pertama ini, sehingga tiada seorang pun dari kalangan penduduk langit dan bumi, melainkan terkejut terkecuali orang-orang yang dikecualikan oleh Allah ﷻ.
Ayat 16
Firman Allah ﷻ mengutip ucapan mereka: “Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari perhitungan’." (Shad: 16)
Hal ini merupakan ungkapan rasa tidak percaya kaum musyrik terhadap azab yang dijanjikan oleh Allah buat mereka, karenanya mereka meminta agar azab itu disegerakan bagi mereka.
Lafaz qittun artinya ketetapan, menurut pendapat yang lain artinya bagian. Ibnu Abbas r.a., Mujahid, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang menyebutkan bahwa mereka meminta agar azab disegerakan bagi mereka.
Qatadah menambahkan, bahwa semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya, “Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini benar-benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah azab yang pedih.” (Al-Anfal: 32)
Menurut pendapat lain, mereka meminta agar bagian dari surga disegerakan buat mereka, jika surga itu memang ada, agar mereka dapat merasakannya di dunia.
Sesungguhnya hal ini diungkapkan oleh mereka hanyalah sebagai reaksi dari ketidakpercayaan mereka terhadapnya, dan bahwa itu mustahil terjadi. Ibnu Jarir mengatakan bahwa mereka meminta agar kebaikan atau keburukan yang berhak mereka terima disegerakan di dunia ini. Pendapat yang dikemukakannya cukup baik, dan berkisar pada pengertian inilah apa yang dikatakan oleh Ad-Dahhak dan Ismail ibnu Abu Khalid. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Mengingat ucapan yang dikeluarkan oleh kaum musyrik ini mengandung cemoohan dan ungkapan rasa tidak percaya, maka Allah ﷻ memerintahkan kepada Rasul-Nya agar bersabar dalam menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan itu, dan memberi kabar gembira kepadanya bahwa dengan kesabarannya itu ia akan mendapat kesudahan yang baik, pertolongan dari Allah, dan kemenangan.
Allah meminta Nabi bersabar dalam menghadapi keingkaran orang-orang musyrik, sebagaimana nabi-nabi terdahulu juga menghadapi rintangan yang sama. Bersabarlah wahai Nabi Muhammad atas apa yang mereka katakan dan tuduhkan kepadamu bahwa kamu adalah pendusta dan penyihir. Dan ingatlah akan kisah seorang hamba sebelum kamu yang Kami utus, yaitu Nabi Dawud, yang mempunyai kekuatan dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Sungguh dia sangat taat dan selalu mengembalikan urusannya kepada Allah. Bila merasa bersalah, ia pun segera minta ampun kepada Allah. 18-20. Karena ketaatan Nabi Dawud, sungguh Kami telah menganugerahinya beberapa kenikmatan. Kamilah yang menundukkan gunung-gunung yang kukuh untuk senantiasa bertasbih dan beribadah bersama dia pada waktu petang dan pagi. Kami tundukkan pula baginya burung-burung untuk bertasbih bersamanya dalam keadaan terkumpul maupun terbang. Burung-burung itu ikut bertasbih begitu mendengar suara Nabi Dawud yang merdu bertasbih dan melantunkan kitab Zabur. Masing-masing dari gunung-gunung dan burung-burung itu sangat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dengan kewibawaan, tentara yang banyak, kekayaan yang berlimpah, dan kepiawaiannya mengatur strategi perang. Dan Kami berikan hikmah kepadanya berupa kenabian, kesempurnaan ilmu, dan ketelitian dalam berbuat serta pemahaman yang tepat (Lihat pula: Surah Saba'/34: 10'11), dan kebijaksanaan dalam memutuskan perkara dengan menunjukkan bukti-bukti yang akurat.
Allah memerintahkan kepada Rasulullah dan pengikut-pengikutnya agar tetap bersabar menghadapi apa saja yang dikatakan oleh kaum musyrikin, meskipun perkataan itu merupakan hinaan dan pendustaan. Hal serupa itu tidak saja menimpa Rasulullah dan para pengikutnya, akan tetapi juga menimpa nabi-nabi yang diutus sebelumnya. Bagi orang-orang yang beriman, pengingkaran dan penganiayaan yang datang dari pihak musuh-musuh Allah, tidaklah mengurangi semangat perjuangan mereka dalam menegakkan agama tauhid, bahkan menjadi pendorong untuk tetap mempertahankan kebenaran tauhid dan tetap berjuang menghancurkan kemusyrikan.
Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar mengingatkan kaumnya akan kisah Nabi Daud yang memiliki kekuatan. Dimaksud kekuatan pada ayat ini ialah kekuatan dalam menaati Allah dan kekuatan dalam memahami agama. Ketaatan kepada Allah dan pengetahuannya terhadap agama tergambar pada tindakannya yang selalu berjuang untuk melaksanakan amanat, menyebarluaskan seruan menganut agama tauhid, tanpa menampakkan kelemahan sedikit pun.
Nabi Daud terkenal sebagai nabi yang paling kuat beribadah. Ia menggunakan waktunya sepertiga malam untuk salat, dan selang sehari ia berpuasa.
Mengenai ketaatan Daud kepada Tuhannya lebih jauh dijelaskan dalam beberapa hadis sebagai berikut:
Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Dia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Salat yang paling dicintai Allah Ta'ala ialah salat Daud, Dia tidur separuh malam, dan melakukan salat sepertiganya, lalu tidur lagi seperenamnya. (Riwayat A.hmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa'i dari Ibnu 'Umar)
Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa Nabi Daud dalam segala urusan selalu mengembalikannya kepada Allah. Apabila ia merasa bersalah, atau terlintas dalam hatinya ada kesalahan pada dirinya, maka ia selalu meminta ampun kepada Allah.
Imam al-hakim meriwayatkan dari Abu ad-Darda' yang menyatakan:
Apabila Nabi (Muhammad) ﷺ menyebutkan Nabi Daud atau membicarakannya, maka beliau memberikan sifat bahwa ia adalah manusia yang paling banyak ibadahnya.
Imam adh-ailami meriwayatkan dari Ibnu 'Umar yang menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Tidak patut bagi seseorang mengatakan bahwa saya lebih banyak beribadah dari Nabi Daud.
Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi Daud adalah nabi yang amat taat kepada Allah, sebagaimana ditegaskan oleh Allah pada akhir ayat ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Sabarlah engkau atas apa yang mereka katakan itu."
(pangkal ayat 17)
Jangan terlalu ditekankan pikiran ke sana supaya dia jangan menjadi kusut; “Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai tangan kuat." Allah memberikan kepadanya kekuasaan dan kerajaan. Dia mempunyai tentara besar, dia menjadi raja besar yang perintahnya dipatuhi. Sebab itu maka tangannya kuat.
“Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat taat."
(ujung ayat 17)
Ujung ayat ini adalah kalimat yang arti aslinya ialah kembali. Yaitu di dalam segenap gerak langkahnya, dia selalu sadar bahwa dia akan kembali kepada Allah ﷻ Sebab itu maka dalam mengatur langkah hidup di dalam mengatur pemerintahan, di
dalam gerak-gerik hidupnya, semuanya ditujukan dalam jalan menuju pulang. Pulang kepada Allah ﷻ Sebab itu maka sebagai seorang raja, bukanlah dia sebagai Fir'aun di Mesir itu, yang mempunyai tangan kuat, tetapi tidak ingat atau tidak mengerti bahwa latar belakang hidupnya sangat bergantung kepada keizinan Allah. Sebab itu maka jiwa Fir'aun tidak ada keseimbangan. Jika nikmat dicabut, bahkan jika jiwa dicabut, dia akan terkejut, sebab dia tidak mengenal jalan kembali.
“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung sertanya."
(pangkal ayat 18)
Tunduk gunung kepada Dawud dapatlah diartikan bahwa beliau adalah seorang raja, di samping itu beliau pun seorang yang halus perasaan, seorang seniman, yang merasakan dan meresapkan keindahan alam, terutama gunung-gunung. Melihat puncak dari gunung-gunung itu, Dawud merasakan lebih dekat kepada Allah ﷻ Puncak gunung bisa menimbulkan inspirasi dan ilham bilamana kita perhatikan puncaknya yang menghijau disaput awan atau membiru tampak dari jauh. Dawud merasakan dirinya bersatu dengan gunung-gunung itu.
“Mengucapkan tasbih pada waktu petang dan waktu pagi."
(ujung ayat 18)
Puncak gunung di kala matahari akan terbenam, di kala hari berembang petang menguning melengkisau. Puncak gunung di waktu pagi yang cerah amat jernih berwarna perak. Di petang hari berwarna sabar, di waktu pagi berwarna syukur.
Semua perubahan warna, semua desiran angin, semua awan berarak, dan semua yang lain menambah mendalamnya rasa “kembali Dawud “ kepada Allah ﷻ, sehingga Mazmur yang beliau baca sambil beliau nyanyikan berpadu satu dengan alam keliling.
“Dan burung-burung pun dalam keadaan berkumpul."
(pangkal ayat 19)
Yaitu apabila burung-burung itu telah mendengar alun gelombang suara Nabi Dawud memenuhi angkasa, burung tertegun terbang, lalu hinggap di dahan-dahan kayu tempat Nabi Dawud memuja Allah ﷻ dengan Mazmurnya itu.
“Masing-masingnya itu pun taat kepada-Nya."
(ujung ayat 19)
Boleh ditafsirkan bahwa burung-burung itu taat kepada Allah ﷻ dan boleh juga ditafsirkan bahwa burung-burung itu menjadi jinak dengan Dawud. Burung-burung itu datang berkumpul, berkerumun dengan gembiranya. Mereka pun akan turut bernyanyi. Karena bila burung gembira mendengarkan suara yang menyenangkannya dia akan bernyanyi. Kuda di peperangan gembira mendengarkan suara musik gembira di medan perang. Unta akan melangkah cepat tidak merasakan lelah jika Badwi yang me-ngiringkannya bernyanyi. Burung tekukur, burung perkutut, burung kakaktua, burung beo dan lain-lain, termasuk juga burung murai bisa jinak dengan manusia kalau menunjukkan sayang kepadanya. Apatah lagi kalau mempunyai hati sebagaimana hati Dawud itu. Itulah sebabnya maka Nabi Muhammad ﷺ disuruh Allah ﷻ mengingat hamba Allah yang bernama Dawud yang tangan kuat dan hatinya sangat taat kepada Allah ﷻ itu.
“Dan Kami kukuhkan kerajaannya."
(pangkal ayat 20)
Sehingga usaha musuh-musuhnya hendak meruntuhkan kerajaan Dawud tidaklah berhasil.
“Dan Kami anugerahi dia hikmah dan penyelesaian kesulitan-kesulitan."
(ujung ayat 20)
A Reminder of Those Who were destroyed among the Previous Nations
Allah says:
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ ذُو الاَْوْتَادِ
وَثَمُودُ وَقَوْمُ لُوطٍ وَأَصْحَابُ الَايْكَةِ
Before them denied -- the people of Nuh; and `Ad; and Fir`awn the man of stakes, And Thamud, and the people of Lut, and the Dwellers of Al-Aykah;
Allah tells us about those past nations and the punishment and vengeance that struck them for their going against the Messengers and disbelieving in the Prophets, peace be upon them. We have already seen their stories in detail in numerous places (in the Qur'an).
Allah says:
أُوْلَيِكَ الاَْحْزَابُ
such were the Confederates.
meaning, `they were greater and stronger than you, they had more wealth and children, but that did not protect them from the punishment of Allah at all when the command of your Lord came to pass.'
Allah says:
إِن كُلٌّ إِلاَّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ
Not one of them but denied the Messengers; therefore My torment was justified.
`The reason for their destruction was their disbelief in the Messengers, so let those who are addressed here beware and be afraid.'
وَمَا يَنظُرُ هَوُلَاء إِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً مَّا لَهَا مِن فَوَاقٍ
And these only wait for a single Sayhah there will be no pause or ending thereto.
Malik narrated from Zayd bin Aslam;
There will none who can avert it,
i.e., they will only wait for the Hour that it shall come upon them suddenly while they perceive not. But some of its portents have already come, i.e., it has drawn nigh.
This Sayhah is the blast on the Trumpet when Allah will command Israfil to sound a long note, and there will be no one in the heaven or on earth but will be terrified, except those whom Allah spares.
وَقَالُوا رَبَّنَا عَجِّل لَّنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ
They say:
Our Lord! Hasten to us Qittana before the Day of Reckoning!
Here Allah denounces the idolators for calling for the punishment to be hastened upon themselves.
Qitt refers to a book or record, or it was said that it means one's allotted share or fortune.
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, Mujahid, Ad-Dahhak, Al-Hasan and others said,
They asked for the punishment to be hastened.
Qatadah added, this is like when they said:
اللَّهُمَّ إِن كَانَ هَـذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِندِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَأءِ أَوِ ايْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
O Allah! If this (the Qur'an) is indeed the truth from You, then rain down stones on us from the sky or bring on us a painful torment. (8:32)
It was also said that they asked for their share of Paradise to be hastened, if it really existed, so that they might have their share in this world; they said this because they thought it unlikely to exist and they disbelieved in it.
Ibn Jarir said,
They asked for whatever they deserved, good or bad, to be hastened for them in this world.
What he said is good, and A-Dahhak and Isma`il bin Abi Khalid based their views on it. And Allah knows best.
اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ
Be patient of what they say...
They said this by way of mockery and disbelief, so Allah commanded His Messenger to be patient in the face of their insults, and He gave him the glad tidings that his patience would be rewarded with victory and success.
Allah tells us that His servant and Messenger Dawud, peace be upon him, was endued with power
Allah says:
...
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الاْاَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ
... And remember Our slave Dawud, endued with Al-Ayd. Verily, he was ever oft-returning in all matters and in repentance.
Al-Ayd means strength in knowledge and action.
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, As-Suddi and Ibn Zayd said,
Al-Ayd means strength.
Mujahid said,
Al-Ayd means strength in obedience to Allah.
Qatadah said,
Dawud, peace be upon him, was given strength in worship and the proper understanding of Islam.
He told us that he, peace be upon him, used to spend a third of the night in prayer, and he fasted for half a lifetime. This was reported in the Two Sahihs, where it is recorded that the Messenger of Allah said:
أَحَبُّ الصَّلَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى صَلَةُ دَاوُدَ وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَلَا يَفِرُّ إِذَا لَاقَى وَأَنَّهُ كَانَ أَوَّابًا
The most beloved of prayer to Allah is the prayer of Dawud, and the most beloved of fasting to Allah is the fasting of Dawud. He used to sleep for half of the night, stand in prayer for a third of the night, then sleep for a sixth of the night, and he used to fast alternate days. He never fled from the battlefield, and he always turned to Allah.
which means that he turned to Allah with regard to all of his affairs.
Allah says:
إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالاِْشْرَاقِ
Verily, We made the mountains to glorify Our praises with him in the `Ashi and Ishraq.
means, Allah caused the mountains to glorify His praises with him at sunrise and at the end of the day.
This is like the Ayah:
يَجِبَالُ أَوِّبِى مَعَهُ وَالطَّيْر
O you mountains. Glorify (Allah) with him! And you birds (also)! (34:10)
The birds also used to glorify Allah's praises with him. If a bird flew by him and heard him chanting the Zabur, it would not go away; instead it would stay hovering in the air, glorifying Allah along with him. And the lofty mountains would respond to him and echo his glorification of Allah.
Ibn Jarir recorded from Abdullah bin Al-Harith bin Nawfal that,
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, did not pray Ad-Duha. (Abdullah said:) So I took him to Umm Hani, may Allah be pleased with her, and said to her, `Tell him what you told me.'
She said, `The Messenger of Allah entered my house on the day of the conquest of Makkah. He called for water to be poured into a large bowl, then he called for a garment which he used as a screen between me and him, and he washed himself. Then he sprinkled water around the house and prayed eight Rakahs. This was Ad-Duha, and its standing, bowing, prostration and sitting were all equal in brevity.'
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, left, saying,
`I have read the Qur'an from cover to cover, and I never knew about Salat Ad-Duha until now!'
Then he recited:
يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالاِْشْرَاقِ
(glorify Our praises with him in the `Ashi and Ishraq).
I used to say, What is Salat Al-Ishraq, but now I know what it is.
وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً
And (so did) the birds assembled,
meaning, hovering in the air.
all obedient to him.
means, they obeyed him and followed him in glorifying Allah.
Sa`id bin Jubayr, Qatadah and Malik said, narrating from Zayd bin Aslam and Ibn Zayd:
كُلٌّ لَّهُ أَوَّابٌ
all obedient to him.
means, Following his commands.
وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ
We made his kingdom strong,
means, `We gave him complete dominion with all that kings need.'
Ibn Abi Najih reported that Mujahid said,
He was the strongest and most powerful of the people of this world.
وَاتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ
and gave him Al-Hikmah,
Mujahid said,
This means understanding, reason and intelligence.
Qatadah said,
The Book of Allah and following what is in it.
As-Suddi said:
Al-Hikmah, Prophethood.
وَفَصْلَ الْخِطَابِ
and sound judgement.
Shurayh Al-Qadi and Ash-Sha`bi said,
Sound judgement is testimony and oaths.
Qatadah said,
Two witnesses for the plaintiff or an oath on the part of the defendant is meaning of sound judgement.
This is the sound judgement which the Prophets and Messengers judged and the believers and righteous accepted. This is the basis of this Ummah's judicial system until the Day of Resurrection.
This was the view of Abu Abdur-Rahman As-Sulami.
Mujahid and As-Suddi said,
It means passing the right judgement and understanding the case.
Mujahid also said,
It is soundness in speech and in judgement, and this includes all of the above.
This is what is meant, and this is the view favored by Ibn Jarir.
God, exalted be He, says: Bear patiently what they say and remember Our servant David, the one of fortitude, that is to say, [the one] of fortitude in worship: he used to fast every other day and keep vigil for half the night, sleep for a third and then keep vigil for the [last] sixth. Indeed he was a penitent [soul], always returning to what pleases God.
Commentary
It was said in verse 17 وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْد (and remember Our servant, Dawud, the man of might). Nearly all commentators have explained it in the sense that he used to demonstrate great courage and strength during the course of his acts of worship (` ibadah), therefore, soon after it, comes the sentence: إِنَّهُ أَوَّابٌ (Surely, he was ever-turning to Allah - 38:17). Accordingly, in a Hadith of the Sahihayn (al-Bukhari and Muslim), the Holy Prophet ﷺ said: "In sight of Allah, the most liked Salah is the Salah of Dawud (علیہ السلام) and the most liked fasts are the fasts of Dawud (علیہ السلام) . He would sleep half a night, worship a third of it, and then sleep during the sixth part, and would fast one day and remain without fast on the other; and when he confronted the enemy, he would never desert the battlefield; and, without any doubt, he turned to Allah sincerely and profusely." (Tafsir Ibn Kathir)
This method of ` ibadah has been called most likeable for the initial reason that it is harder. A lifetime of fasting would make one used to it with the result that, after a passage of time, it does not remain that hard. But fasting by skipping a day in between is different. Here, the element of hardship continues. Then, there is another aspect of this method of fasting in that one who fasts in that manner becomes capable of combining his or her ` ibadah with the necessary fulfillment of the rights of one's self, family and circle of acquaintances.