ٱلتِّين ٤
- لَقَدۡ sesungguhnya
- خَلَقۡنَا Kami telah menciptakan
- ٱلۡإِنسَٰنَ manusia
- فِيٓ dalam
- أَحۡسَنِ sebaik-baik
- تَقۡوِيمٖ bentuk
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,
(Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) artinya semua manusia (dalam bentuk yang sebaik-baiknya) artinya baik bentuk atau pun penampilannya amatlah baik.
Tafsir Surat At-Tin: 1-8
Demi (buah) tin dan (buah) zaitun, dan demi Bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yanga man, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan tafsir surat ini, ada beberapa pendapat yang cukup banyak di kalangan mereka mengenainya.
Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan tin adalah sebuah masjid di kota Dimasyq. Menurut pendapat yang lainnya adalah buah tin. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi adalah nama sebuah gunung penuh dengan buah tin. Al-Qurtubi mengatakan bahwa tin adalah nama masjid As-habul Kahfi. Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Al-Aufi, bahwa tin di sini adalah masjid Nabi Nuh yang ada di puncak Bukit Al-Judi.
Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah pohon tin kalian ini. Sedangkan mengenai zaitun menurut Ka'bul Ahbar, Qatadah, Ibnu Zaid, dan yang lainnya hal ini adalah nama sebuah masjid yang terletak di kota Yerussalem (Baitul Maqdis). Mujahid dan Ikrimah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah buah zaitun yang kalian peras ini. dan demi Bukit Sinai. (At-Tin: 2) Ka'bul Ahbar dan yang lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ini adalah nama bukit yang di tempat itu Allah berbicara langsung kepadaMusa’alaihissalam
dan demi kota (Mekah) ini yang aman. (At-Tin: 3) Makna yang dimaksud adalah kota Mekah, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Ibrahim An-Nakha'i, Ibnu Zaid, dan Ka'bul Ahbar; tiada perbedaan pendapat di kalangan mereka dalam hal ini. Sebagian para imam mengatakan bahwa ketiganya merupakan nama tiga tempat yang pada masing-masingnya Allah telah mengutus seorang nabi dari kalangan Ulul 'Azmi para pemilik syariat-syariat yang besar. Yang pertama ialah tempat yang dipenuhi dengan tin dan zaitun, yaitu Baitul Maqdis, Allah telah mengutus Isa putra Maryam padanya.
Yang kedua adalah Tur Sinai, yakni nama bukit yang padanya Allah berbicara langsung kepada Musa ibnu Imran. Dan yang ketiga ialah Mekah alias kota yang aman; yang barang siapa memasukinya, pasti dia dalam keadaan aman; di tempat inilah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Muhammad ﷺ Mereka mengatakan bahwa pada akhir kitab Taurat nama ketiga tempat ini disebutkan, "Allah datang dari Bukit Sinai yakni tempat yang padanya Allah berbicara langsung kepada Musa a.s. ibnu Imran. Dan muncul di Sa'ir, nama sebuah bukit di Baitul Maqdis, yang padanya Allah mengutus Isa.
Dan tampak di bukit-bukit Faran, yakni bukit-bukit Mekah yang darinya Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Muhammad ﷺ Maka Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan nama-nama ketiga tempat itu seraya memberitakan tentang mereka yang diutus-Nya secara tertib dan menurut urutan zamannya. Untuk itulah hal ini berarti Allah bersumpah dengan menyebut yang mulia, lalu yang lebih mulia darinya, kemudian yang lebih mulia dari keseluruhannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tin: 4) Dan inilah subjek sumpahnya, yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik dan rupa yang paling sempurna, tegak jalannya dan sempurna, lagi baik semua anggota tubuhnya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. (At-Tin: 5) Yakni neraka, menurut Mujahid, Abul Aliyah, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya. Yakni kemudian sesudah penciptaan yang paling baik lagi paling indah itu, tempat kembali mereka adalah ke neraka, jika mereka tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti rasul-rasul-Nya.
Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (At-Tin:6) Sebagian ulama ada yang mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Kemudian Kami kembalikan dia ke tempatyang serendah-rendahnya. (At-Tin: 5) Yaitu kepada usia yang paling hina. Hal ini telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan Ikrimah, sehingga Ikrimah mengatakan bahwa barang siapa yang hafal Al-Qur'an seluruhnya, maka ia tidak akan memasuki usia yang paling hina.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Seandainya hal itulah yang dimaksud oleh makna ayat, niscaya tidaklah menjadi indah pujian bagi kaum mukmin, mengingat sebagian dari mereka adalah yang mengalami usia pikun. Dan sesungguhnya makna yang dimaksud hanyalah sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, yakni ke neraka, bukan ke usia yang paling hina alias pikun.
Dan ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, (Al-'Asr: 1-3) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (At-Tin: 6) Yakni tiada habis-habisnya, sebagaimana yang sering diterangkan sebelumnya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan. (At-Tin: 7) wahai anak Adam. (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? (At-Tin: 7) Maksudnya, pembalasan di hari kemudian. Sesungguhnya kamu telah mengetahui permulaan kejadianmu dan telah mengetahui bahwa Tuhan yang mampu menciptakan dari semula berkuasa pula untuk mengembalikannya jadi hidup, bahkan itu lebih mudah bagi-Nya.
Maka apakah yang mendorongmu mendustakan adanya hari pembalasan, padahal engkau telah mengetahui hal tersebut? Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Sufyan, dari Mansur yang mengatakan bahwa aku pernah bertanya kepada Mujahid mengenai makna firman-Nya: Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? (At-Tin: 7) Apakah yang dimaksud adalah Nabi ﷺ? Maka Mujahid menjawab, "Ma'azallah, makna yang dimaksud adalah manusia." Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan lain-lainnya.
Firman Allah ﷻ: Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (At-Tin: 8) Yakni bukankah Dia Hakim yang paling adil, yang tidak melampaui batas dan tidak aniaya terhadap seseorang pun. Dan termasuk dari sifat adil-Nya ialah Dia mengadakan hari kiamat, lalu orang yang dianiaya di dunia dapat membalas kepada orang yang pernah berbuat aniaya kepadanya di hari itu. Dalam pembahasan yang lalu telah kami terangkan melalui hadits Abu Hurairah secara marfu': Apabila seseorang di antara kamu membaca Wat Tini Waz Zaituni (surat At-Tin), lalu sampai pada ayat terakhirnya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala, "Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya, maka hendaklah ia mengucapkan, "Benar, dan aku termasuk orang-orang yang menjadi saksi atas hal tersebut.
Demikianlah akhir tafsir surat At-Tin, dan segala puji bagi Allah atas limpahan karunia-Nya.".
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya, jauh lebih sempurna daripada hewan. Kami juga bekali mereka dengan akal dan sifat-sifat yang unggul. Dengan kelebihan-kelebihan itulah Kami amanati manusia sebagai khalifah di bumi. 5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu ke neraka, bila mereka durhaka kepada Allah dan tidak menaati utusan-Nya. Ketika itu, kesempurnaan fisik, akal, dan sifat mereka tidak akan menyelamatkannya dari azab Allah.
Setelah bersumpah dengan buah-buahan yang bermanfaat atau tempat-tempat yang mulia itu, Allah menegaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik. Dari segi fisik, misalnya, hanya manusia yang berdiri tegak sehingga otaknya bebas berpikir, yang menghasilkan ilmu, dan tangannya juga bebas bergerak untuk merealisasikan ilmunya itu, sehingga melahirkan teknologi. Bentuk manusia adalah yang paling indah dari semua makhluk-Nya. Dari segi psikis, hanya manusia yang memiliki pikiran dan perasaan yang sempurna. Dan lebih-lebih lagi, hanya manusia yang beragama. Banyak lagi keistimewaan manusia dari segi fisik dan psikis itu yang tidak mungkin diuraikan di sini.
Penegasan Allah bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik itu mengandung arti bahwa fisik dan psikis manusia itu perlu dipelihara dan ditumbuhkembangkan. Fisik manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Dan psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya agama dan pendidikan yang baik. Bila fisik dan psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan, maka manusia akan dapat memberikan kemanfaatan yang besar kepada alam ini. Dengan demikianlah ia akan menjadi makhluk termulia.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Ayat 4
“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu atas sebaik-baik pendirian." (ayat 4)
Yaitu bahwa di antara makhluk Allah di atas muka bumi ini, manusia diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk; bentuk lahir dan batinnya; bentuk tubuh dan nyawanya.
Ayat 5
“Kemudian itu, Kami jatuhkan dia kepada serendah-rendah yang rendah." (ayat 5)
Sesudah lahir ke dunia, berangsur tubuhnya kuat dan bisa berjalan, dan akal pun berkembang, sampai dewasa, sampai puncak kemegahan umur. Kemudian itu berangsur menurun tubuh tadi, berangsur kian tua. Badan mulai lemah, pikiran juga lemah, tenaga berkurang, gigi mulai rontok, rambut hitam berganti uban, kulit kencang mulai kendor, telinga berkurang pendengarannya, mulai pelupa. Kalau umur masih panjang juga, suatu ketika akal pun padam, sehingga kembali seperti anak-anak, berharap akan belas kasihan anak-cucu.
Ayat 6
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh."
Menurut Tafsir Ibnu Jarir, “Beriman dan beramal saleh di waktu badan masih muda dan sehat."
“Maka untuk mereka ada ganjarnan yang tiada putus-putus." (ujung ayat 6)
Doa yang diajarkan Nabi ﷺ itu ialah “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bakhil dan pemalas, dari tua dan kepikunan, dari siksa kubur dan fitnah dajjal, dari fitnah kehidupan dan kematian." (HR Bukhari)
Di dalam Al-Qur'an umur tua renta (Ardzalil ‘Umur) itu sampai bertemu dua kali. Yaitu surah an-Nahl, ayat 70 dan surah al-Hajj, ayat 5. Ketika menafsirkan Ardzalil ‘Umur itu terdapatlah satu tafsir dari Ibnu Abbas, demikian bunyinya, “Asal saja dia taat kepada Allah di masa-masa mudanya, meskipun dia telah tua sehingga akalnya mulai tidak jalan lagi, namun buat dia masih tetap dituliskan amal salehnya sebagaimana di waktu mudanya itu jua, dan tidaklah dia akan dianggap berdosa lagi atas perbuatannya di waktu akalnya tak ada lagi itu. Sebab dia adalah beriman. Dia adalah taat kepada Allah di masa mudanya."
Ayat 7
“Maka apakah sesuatu yang akan mendustakan kamu tentang agama." (ayat 7)
Artinya, kalau sudah demikian halnya, yaitu Allah telah menciptakan engkau, hai insan sedemikian rupa, dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan setelah lanjut umur kamu akan jatuh menjadi serendah-rendahnya; kalau tidak ada pendidikan dan asuhan agama semenjak kecil. Bukankah ajaran agama itu yang akan menjadi pegangan bagi kamu menempuh hidup ini, sejak mudamu sampai kepada hari tuamu?
Ayat 8
“Bukankah Allah itu yang paling adil diantara segala yang menghukum?" (ayat 8)
Kalau seseorang setia memegang ajaran agama untuk pedoman hidupnya, lalu hidupnya selamat sampai hari tuanya, bukankah itu suatu akibat yang adil dari hukum kebijaksanaan Ilahi?
Maka segala petunjuk yang dibawa oleh nabi-nabi, baik yang dilambangkan oleh buah tin dan zaitun yang tumbuh di pergunungan Jerusalem (Palestina) yang berupa kitab suci; atau yang diturunkan di Jabal Thursina di Semenanjung Sinai, tempat Taurat diberikan kepada Musa; atau kitab penutup yang dibawa oleh Khatamul Anbiya' wal Mursalin, Al-Qur'an yang dibawa Muhammad, yang mula diturunkan di negeri yang aman, Mekah Al-Mukarramah; semuanya itu adalah satu maksudnya, yaitu ad-Din, agama untuk maslahat hidup manusia sejak datang ke dunia ini sampai pulangnya ke akhirat esok.
Maka tersebutlah dalam sebuah hadits dirawikan Tirmidzi dari Abu Hurairah, Nabi menganjurkan bila imam sampai pada penutup ayat ini, pada shalat jahar, Alaisallaahu bi ahkamil haakimiirr, kita makmun sunnat membaca, “Balaa wa ana ‘alaa dzaalika minasy syaahidiin. Benar itu! Dan aku sendiri atas yang demikian itu turut menyaksikan."
Tafsir of Surah At-Tin
The Explanation of At-Tin and what comes after it
Allah says:
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
By At-Tin and Az-Zaytun.
Al-Awfi reported from Ibn Abbas that what is meant by At-Tin is the Masjid of Nuh that was built upon Mount Al-Judi.
Mujahid said,
It is this fig that you have.
وَالزَّيْتُونِ
By Az-Zaytun,
Ka`b Al-Ahbar, Qatadah, Ibn Zayd and others have said,
It is the Masjid of Jerusalem (Bayt Al-Maqdis).
Mujahid and `Ikrimah said,
It is this olive which you press (to extract the oil).
وَطُورِ سِينِينَ
By Tur Sinin.
Ka`b Al-Ahbar and several others have said,
It is the mountain upon which Allah spoke to Musa.
وَهَذَا الْبَلَدِ الاَْمِينِ
By this city of security. meaning Makkah.
This was said by Ibn `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Al-Hasan, Ibrahim An-Nakha`i, Ibn Zayd and Ka`b Al-Ahbar.
There is no difference of opinion about this.
Some of the Imams have said that these are three different places, and that Allah sent a Messenger to each of them from the Leading Messengers, who delivered the Great Codes of Law.
- The first place is that of the fig and the olive, which was Jerusalem, where Allah sent `Isa bin Maryam.
- The second place is Mount Sinin, which is Mount Sinai where Allah spoke to Musa bin `Imran.
- The third place is Makkah, and it is the city of security where whoever enters is safe. It is also the city in which Muhammad was sent.
They have said that these three places are mentioned at the end of the Tawrah. The verse says,
- Allah has come from Mount Sinai - meaning the one upon which Allah spoke to Musa bin `Imran;
- and shined fromSa`ir - meaning the mountain of Jerusalem from which Allah sent `Isa;
- and appeared from the mountains of Faran - meaning the mountains of Makkah from which Allah sent Muhammad .
Thus, He mentioned them in order to inform about them based upon their order of existence in time. This is why He swore by a noble place, then by a nobler place, and then by a place that is the nobler than both of them.
Man becoming Lowly even though He was created in the Best Form
and the Result of that Allah says,
لَقَدْ خَلَقْنَا الاِْنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Verily, We created man in the best form.
This is the subject being sworn about, and it is that Allah created man in the best image and form, standing upright with straight limbs that He beautified.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Then We reduced him to the lowest of the low.
meaning, to the Hellfire.
This was said by Mujahid, Abu Al-Aliyah, Al-Hasan, Ibn Zayd and others.
Then after this attractiveness and beauty, their destination will be to the Hell-fire if they disobey Allah and belie the Messengers.
This is why Allah says
إِلاَّ الَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Save those who believe and do righteous deeds.
Some have said,
ثُمَّ رَدَدْنَـهُ أَسْفَلَ سَـفِلِينَ
(Then We reduced him to the lowest of the low).
This means decrepit old age.
This has been reported from Ibn `Abbas and `Ikrimah.
Ikrimah even said,
Whoever gathers the Qur'an (i.e., he memorizes it all), then he will not be returned to decrepit old age.
Ibn Jarir preferred this explanation.
Even if this was the meaning, it would not be correct to exclude the believers from this, because some of them are also overcome by the senility of old age. Thus, the meaning here is what we have already mentioned (i.e., the first view), which is similar to Allah's saying,
وَالْعَصْرِ إِنَّ الاِنسَـنَ لَفِى خُسْرٍ إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ
By Al-`Asr. Verily man is in loss, except those who believe and perform righteous deeds. (103:1-3)
Concerning Allah's statement,
فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Then they shall have a reward without end.
meaning, that will not end, as we have mentioned previously.
Then Allah says
فَمَا يُكَذِّبُكَ
Then what causes you to deny,
meaning, `O Son of Adam!'
بَعْدُ بِالدِّينِ
after this, the Recompense,
meaning, `in the recompense that will take place in the Hereafter.
For indeed you know the beginning, and you know that He Who is able to begin (the creation) is also able to repeat it which is easier. So what is it that makes you deny the final return in the Hereafter after you have known this'
Then Allah says,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Is not the Allah the best of judges,
meaning, `is He not the best of judges, Who does not oppress or do any injustice to anyone'
And from His justice is that He will establish the Judgement, and He will give retribution to the person who was wronged in this life against whoever wronged him.
This is the end of the Tafsir of Surah At-Tin and all praise and thanks are due to Allah.
Verily We created man (al-insaan: the generic) in the best of forms, [in the best] proportioning of his shape.
The subject of the four oaths is: لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (We have created man in the best composition...95:4). The word taqwim literally denotes 'to set a thing aright or lay the foundation straight or even; or to form something into an appropriate shape in a moderate regulation'. The verse signifies that man has been endowed with the best natural powers and qualities which other creatures have not been endowed with. Physically too he is cast in the best composition - having no parallel in other creatures.
Man is the Most Beautiful of Allah's Creation
Allah has created man the most beautiful of all His creation. Ibn ` Arabi asserts that there is no creature of Allah more beautiful than man, because Allah, besides granting him life, he gave him knowledge, power, speech, hearing, sight, planning and wisdom. All these, in fact, are the qualities of Allah. It is mentioned in a hadith of Bukhari and Muslim:
اِنَّ اللہَ خَلَقَ اٰدَمَ عَلٰی صُورتِہٖ
'Allah has created Adam in His image'
It could only mean that man has been characterised by some of the qualities of Allah, because Allah is beyond any [ physical ] shape or image. [ Qurtubi ].
A Wonderful Story of Human Beauty
Qurtubi, on this occasion, cites a story of ` Isa Ibn Musa Hashimi. He was a high ranking officer in the royal court of Caliph Abu Ja'far Mansur. The officer loved his wife very much. Once he was sitting with his wife in a moonlit night and suddenly cried out:
انت طالق ثلاثاً ان لم تکونی احسن من القمر
'You are divorced thrice if you are not more beautiful than the moon.'
As soon as the wife heard this, she went into seclusion and veiled herself, on the grounds that the husband has pronounced three express divorce on her. It was said in joke. However, the law of express divorce is that it becomes effective whether uttered jokingly or seriously. ` Isa Ibn Musa spent the night restlessly and in grief. The next morning, he paid a visit to Caliph Abu Ja'far Mansur and recounted to him the whole story. Caliph Abu Ja'far Mansur invited all the jurists of the city and put the case before them. All the jurists unanimously agreed that the divorce has become effective, because no human being can possibly be more beautiful than the moon. There was, however, one scholar, a student of Imam Abu Hanifah (رح) ، who remained silent. Mansur asked him: "Why are you so quiet?" He recited 'Bismillah to the end' and then recited Surah Tin and explained: "Ruler of the Faithful, Allah says that He has created man in the best composition or in the finest mould. Nothing can be more beautiful than man." Having heard this, all the scholars and jurists were perplexed. None of them opposed him. Mansur ordered that the divorce is not effective.
This indicates that man is the most beautiful creation of Allah outwardly and inwardly, in terms of elegance and attractiveness and in terms of bodily structure. Every limb of the human body is able to move in many different ways. He is able to hold, move and lift various things by moving his hands and arms. The thumb alone is a masterpiece of creation without which man will not be able to hold things. The functioning of the ears, the eyes, the mouth, the teeth, the nose, the chest and the stomach are all wonders in their own right. Gathered together on his head, they form a beautiful and coherent assortment, each one complementing the other. The flexibility of the tongue, the arrangement of the teeth and the mastery of the vocal cords allow him to roar like a lion and sing as beautifully as a nightingale. All this makes human body look like a sophisticated factory where automatic machines are able to accomplish the delicate work. This is the reason why philosophers call man 'microcosm' [ a miniature universe as opposed to 'macrocosm' )a large universe)]. The microcosm epitomises the macrocosm. [ Qurtubi ]
The Sufis have supported this concept. Some scholars have analysed in detail - from head to toe - to show how man is the epitome of the large universe.