ٱلْمُؤْمِنُون ١٤
- ثُمَّ kemudian
- خَلَقۡنَا Kami ciptakan
- ٱلنُّطۡفَةَ air mani
- عَلَقَةٗ segumpal darah
- فَخَلَقۡنَا lalu Kami ciptakan
- ٱلۡعَلَقَةَ segumpal darah
- مُضۡغَةٗ segumpal daging
- فَخَلَقۡنَا lalu Kami ciptakan
- ٱلۡمُضۡغَةَ segumpal daging
- عِظَٰمٗا tulang
- فَكَسَوۡنَا lalu Kami bungkus
- ٱلۡعِظَٰمَ tulang itu
- لَحۡمٗا daging
- ثُمَّ kemudian
- أَنشَأۡنَٰهُ Kami tumbuhkan/jadikan
- خَلۡقًا makhluk
- ءَاخَرَۚ lain
- فَتَبَارَكَ maka Maha Besar/Suci
- ٱللَّهُ Allah
- أَحۡسَنُ paling baik
- ٱلۡخَٰلِقِينَ pencipta
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu lalu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.
(Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah) darah kental (lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging) daging yang besarnya sekepal tangan (dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging) menurut qiraat yang lain lafal 'Izhaaman dalam dua tempat tadi dibaca 'Azhman, yakni dalam bentuk tunggal. Dan lafal Khalaqnaa yang artinya menciptakan, pada tiga tempat tadi bermakna Shayyarnaa, artinya Kami jadikan (kemudian Kami jadikan dia sebagai makhluk yang lain) yaitu dengan ditiupkan roh ke dalam tubuhnya. (Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan.
Tafsir Surat Al-Mu'minun: 12-16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat.
Ayat 12
Allah ﷻ berfirman seraya memberitahukan mengenai permulaan penciptaan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, yaitu Adam.
Allah ﷻ telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Mujahid mengemukakan: Min sulaalatin berarti dari mani anak cucu Adam.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari satu genggaman tanah yang digenggam-Nya dari seluruh permukaan bumi. Kemudian anak-anak Adam datang sesuai dengan kadar warna tanah. Di antara mereka ada yang merah, putih, hitam, dan di antara hal tersebut, juga ada yang jahat dan ada juga yang baik, serta di antara keduanya. Hadits tersebut diriwayatkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih.
Ayat 13
Firman Allah ﷻ: “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani.” (Al-Mu'minun: 13).
Dhamir (kata ganti) di sini kembali kepada jenis manusia, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam ayat yang lain: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang menjijikan (air mani).” (QS. As-Sajdah: 7-8). Maksudnya, lemah dan berpindah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain dan dari satu sifat ke sifat yang lain. Oleh karena itu, di sini Allah ﷻ berfirman:
Ayat 14
Firman Allah ﷻ: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah.” (Al-Mu'minun: 14).
Artinya, kemudian Kami jadikan nuthfah, yaitu air yang memancar yang keluar dari tulang rusuk yang berada di tulang punggung laki-laki dan tulang dada wanita, yang berada di antara tulang selangka dan pusar, sehingga menjadi segumpal darah merah yang memanjang. Ikrimah mengatakan: “Itu darah.”
Firman Allah ﷻ: “Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.” (Al-Mu'minun: 14).
Yaitu segumpal daging yang tidak mempunyai bentuk tertentu dan tidak bergaris-garis.
Firman Allah ﷻ: “Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang.” (Al-Mu'minun: 14).
Maksudnya, Kami (Allah) berikan bentuk yang memiliki kepala, dua tangan, dua kaki, dengan tulang-tulang, urat, dan otot-ototnya. Dalam hadits shahih dari Abuz Zinad, dari al-Araj, dari Abu Hurairah, dia bercerita, Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap jasad anak cucu Adam akan binasa, kecuali satu bagian pangkal ekor, darinya(lah) diciptakan dan padanya disusun.”
Firman Allah ﷻ: “Lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging.” (Al-Mu'minun: 14).
Maksudnya, Kami jadikan daging yang dapat menutupi, mengokohkan, dan menguatkan.
Firman Allah ﷻ: “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang [berbentuk] lain.” (Al-Mu'minun: 14).
Yakni, kemudian Kami tiupkan ruh ke dalamnya, sehingga dia pun bergerak dan menjadi makhluk lain yang mempunyai pendengaran, penglihatan, pengetahuan, gerakan, dan goncangan.
Firman Allah ﷻ: “Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (Al-Mu'minun: 14).
Al-Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas: “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang [berbentuk] lain.” Yakni, Kami pindahkan dari satu keadaan menuju keadaan yang lain sehingga lahir sebagai seorang anak. Setelah itu tumbuh sebagai anak kecil, lalu ia mengalami masa puber dan tumbuh menjadi remaja, selanjutnya tumbuh dewasa, kemudian menjadi tua, hingga akhirnya menjadi tua renta. Hal serupa juga diriwayatkan dari Qatadah dan adh-Dhahhak, dan tidak ada pertentangan, di mana dari permulaan peniupan ruh ke dalamnya ditetapkan pada berbagai proses dan keadaan. Wallahu alam.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah ibnu Masud, ia bercerita, Rasulullah ﷺ memberitahu kami, yang mana beliau adalah selalu jujur dan dibenarkan: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut (rahim) ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah (air mani), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (empat puluh hari), lalu menjadi gumpalan seperti sekerat daging, selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya Malaikat, maka ia (Malaikat) meniupkan ruh padanya dan Malaikat itu diperintahkan untuk (menulis) empat perkara; rizkinya, ajal (umur)nya, amal perbuatannya, dan (apakah dia) sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada Ilah (yang haq) selain Dia, sesungguhnya salah seorang diantara kalian akan mengerjakan amalan penghuni surga sehingga (jarak) antara dirinya dengan surga hanya satu hasta saja, namun dia didahului oleh ketetapan (takdir) Allah sehingga dia mengerjakan perbuatan penghuni neraka, hingga akhirnya dia masuk neraka.”
“Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan mengerjakan perbuatan penghuni neraka sehingga (jarak) antara dirinya dengan neraka tinggal satu hasta saja, namun ketetapan (takdir) Allah mendahuluinya sehingga dia mengerjakan amal perbuatan penghuni surga, hingga akhirnya dia masuk surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Firman Allah ﷻ: Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.” (Al-Mu'minun: 14).
Yakni, ketika Dia menyebutkan kekuasaan dan kelembutan-Nya dalam penciptaan nuthfah ini dari satu keadaan menjadi keadaan yang lain (proses), dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya, sehingga menjadi satu bentuk, yaitu manusia yang mempunyai ciptaan yang normal lagi sempurna. Wallahu alam.
Ayat 15
Firman Allah ﷻ: “Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.” (Al-Mu'minun: 15).
Yakni, setelah penciptaan yang pertama dari ketiadaan, kalian kelak akan menemui kematian.
Ayat 16
Firman Allah ﷻ: “Kemudian, sesungguhnya kamu semua akan dibangkitkan [dari kuburmu] di hari Kiamat.” (Al-Mu'minun: 16).
Yakni, penciptaan yang terakhir. “Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.” (QS. Al-`Ankabuut: 20). Yakni, pada hari kebangkitan, dan bangkitnya ruh-ruh menuju jasad masing-masing. Lalu semua makhluk dihisab dan setiap pelaku perbuatan akan diberikan balasan sesuai dengan perbuatannya. Jika baik maka dia akan mendapatkan kebaikan, dan jika buruk maka dia akan mendapatkan balasan keburukan pula.
Setelah berada di rahim, kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, yang bergantung di dinding rahim, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, setelah Kami tiupkan roh kepadanya, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain yang sepenuhnya berbeda dari unsur-unsur kejadiannya di atas, bahkan berbeda dari makhluk-mahluk lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. 15-16. Setelah manusia lahir dan mengalami pertumbuhan, kemudian setelah itu, yakni setelah melalui proses kehidupan di dunia, sesungguhnya kamu, wahai manusia, pasti mati. Kemudian, setelah kamu mati dan dikuburkan, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan dari kuburmu pada hari Kiamat untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu di dunia.
Kemudian air mani itu Kami (Allah) kembangkan dalam beberapa minggu sehingga menjadi al-'alaq (yang menempel di dinding rahim), dari al-'alaq dijadikan segumpal daging, dan segumpal daging dijadikan tulang belulang, dan ada bagian yang dijadikan daging, kemudian tulang belulang itu dibungkus dengan daging, laksana pakaian penutup tubuh, kemudian dijadikan makhluk yang (berbentuk) lain, setelah ditiupkan Roh ke dalamnya, sehingga menjadi manusia yang sempurna, dapat berbicara, melihat, mendengar, berpikir yang tadinya hanya merupakan benda mati. Maka Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Menurut para saintis, Tahapan-tahapan dalam embriologi manusia sebagai berikut:
? Nutfah, atau dalam bahasa Arabnya 'nutfa, mempunyai arti 'sedikit air, atau 'setetes air. Hal ini jelas mendeskripsikan air yang sedikit yang dipancarkan lelaki saat bersanggama. Air yang sedikit ini mengandung sperma. Sperma atau spermatozoa terdapat di dalam air yang menjijikan dan berbentuk ikan yang berekor panjang (ini adalah salah satu arti kata sulalah. Dalam surah As-Sajdah/32 ayat 8, air mani disebut sebagai "..... Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang diremehkan...." Surah al-Insan/76 ayat 2 dan as-Sajdh/32 ayat 8 berkaitan dengan kandungan dari air mani. Ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa air mani terdiri atas empat macam lendir yang berbeda yang dihasilkan oleh empat kelenjar yang berbeda, yaitu kelenjar biji pelir, kelenjar saluran seminal, kelenjar prostat, dan kelenjar saluran kencing.
? Sperma dibentuk di dalam buah pelir. Buah pelir sendiri dibentuk, sebagaimana dibuktikan ilmu pengetahuan, oleh sel-sel yang ada di bawah bakal ginjal, di bagian punggung embrio. Kelompok sel ini kemudian turun sampai di bawah tulang rusuk, pada saat beberapa minggu sebelum kelahiran bayi. Diperkirakan jumlah sperma dalam satu kali ejakulasi adalah 500 ? 600 juta ekor. Akan tetapi dari jumlah tersebut, hanya satu yang dapat melakukan pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, maka terjadi perubahan cepat dari indung telur. Ia segera menghasilkan membran yang mencegah sperma lain untuk ikut membuahi.
? Setelah sel telur dibuahi, dan menempelkan diri di dinding uterus dan memperoleh makanan dari ibunya, maka ia akan tumbuh cepat. Pada waktu dua sampai tiga minggu kemudian, apabila dilihat dengan mata telanjang, ia akan berubah dari bentukan 'lintah atau 'alaqah ke bentukan 'mudhgah atau 'daging yang telah dikunyah. Pola yang terakhir ini sebetulnya dibentuk oleh adanya tonjolan dan lekukan, yang pada waktunya nanti akan menjadi organ-organ dalam (jantung, usus) dan luar (kaki, tangan). Surah al-hajj/22: 5 menambahkan satu catatan dari embrio. Dalam ayat ini, mudghah dideskripsikan dengan tambahan "yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna kejadiannya ....." Ini menggambarkan hal yang terjadi pada tahap 'diferensiasi, dimana banyak organ mulai berkembang dalam waktu yang tidak bersamaan. Sehingga menimbulkan situasi antara selesai di bagian lain namun belum sempurna di bagian lainnya.
? Dua tahapan terakhir yang disebutkan pada surah al-Muminun/23: 14 bercerita tentang 'pembentukan tulang belulang setelah tahap mudgah. Pada akhirnya, ceritera diakhiri dengan memberinya "baju", yang terdiri atas daging dan otot. Apabila kita mengikuti pertumbuhan embrio, maka kira-kira pada umur empat minggu suatu proses 'diferensiasi mulai berjalan. Dalam proses ini kelompok-kelompok sel pada embrio akan berubah bentuk dan mulai membentuk organ-organ berukuran besar. Salah satu yang berkembang pertama kali adalah tulang tengkorak. Proses ini akan disusul kemudian oleh pembentukan calon otot, telinga, mata, ginjal, jantung dan banyak lagi.
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari Abdullah bin Masud, bahwa Rasulullah mengatakan:
"Sesungguhnya seseorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah seperti itu, kemudian menjadi mudhgah (gumpalan daging) seperti itu. Kemudian malaikat diutus kepadanya, lalu ia meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintahkan kepada empat kalimat, rizqinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia seorang yang celaka atau bahagia. Demi Zat yang tidak ada tuhan selain-Nya, sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni surga, sehingga antara dia dan surga hanya tinggal satu hasta saja. Namun dia sudah tercatat sebagai penghuni neraka, maka ia mengakhiri amalnya dengan amalan penghuni neraka, sehingga ia masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni neraka, sehingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta saja. Namun ia sudah tercatat sebagai penghuni surga, maka ia mengakhiri amalnya dengan amalan penghuni surga, sehingga ia masuk surga." (Riwayat Ahmad)
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata: Keinginanku bersesuaian dengan kehendak Allah pada empat perkara.
Pertama: Saya usulkan pada Rasulullah ﷺ supaya di belakang Maqam Ibrahim dijadikan tempat salat maka turunlah firman Allah:
Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. (al-Baqarah/2: 125)
Kedua: Saya usulkan kepada Rasulullah ﷺ supaya istri-istrinya memasang tabir (hijab) bila kedatangan tamu laki-laki, yang kadang-kadang tidak saleh semuanya, maka turunlah firman Allah:
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (al-Ahzab/33: 53)
Ketiga: Saya berkata kepada istri-istri Nabi supaya berhenti menimbulkan kesulitan kepada beliau, karena mungkin Allah akan memberi ganti dengan istri-istri yang lebih baik, maka turunlah firman Allah:
Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu. (at-Tahrim/66: 5)
Keempat: Setelah turun ayat 12, 13 dan 14 Surah al-Mu`minun, maka saya ucapkan fatabarakallahu a?sanul Khaliqin, dan Rasululah ﷺ bersabda, "Demikian itu sesuai dengan yang diturunkan-Nya.".
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Air Saringan Dari Tanah
Setelah Tuhan mewahyukan betapa sikap seorang Mu'min sehingga Iman itu tumbuh dan subur, Tuhan memberi ingat supaya dia menekur merenung dirinya, betapa asal kejadiannya, dari mana datangnya, betapa dia hidup dan ke mana dia akan kembali. Ini amat perlu diingatkan kepada manusia, sebab gelombang hidup kerapkali menyebabkan manusia lupa.
“Dan sesungguhnya telah Kami jadikan manusia dari air saringan dari tanah." (ayat 12).
Apalah yang akan dibanggakan manusia di dunia ini, padahal asal kejadiannya hanya dari tanah. Dia makan dari sayur-sayuran, buah-buahan, padi, jagung dan sebagainya, dan segala makanan itu tumbuh dan mengambil sari dari tanah. Datang hujan menyuburkan padi, menghijaukan daun-daunan dan mekarlah bunga, bergayutlah buah. Dan jika kemarau datang layu semua.
Tuhan atas alam. Di sana ada zat besi, zat putih telur, vitamin, kalori, hormon dan sebagainya. Dengan makanan itu teraturlah jalan darahnya, dan tidak dapat hidup kalau bukan dari zat bumi tempat dia dilahirkan itu. Dalam tubuh yang sihal, mengalirlah darah, berpusat pada jantung dan dari jantung mengalirlah darah itu ke seluruh tubuh. Dalam darah itu terdapat zat yang akan menjadi mani. Setetes mani terdapat beribu-ribu bahkan bermilliun “tampang" yang akan dijadikan manusia, yang tersimpan dalam shulbi laki-laki dan taraib perempuan.
“Kemudian itu, Kami jadikan dia (‘setitik mani itu) di tempat yang tetap terpelihara." (ayat 13).
Dengan kehendak Ilahi bertemulah zat tampang dari laki-laki yang rupanya sebagai cacing yang sangat kecil, berpadu satu dengan zat mani pada perempuan yang merupakan telur yang sangat kecil. Perpaduan keduanya, itulah yang dinamai Nutfah. Kian lama kian besarlah nutfah itu, dalam empatpuluh hari. Dan dalam masa 40 hari mani yang telah berpadu, beransur menjadi darah segumpal. Untuk melihat contoh peralihan beransur kejadian itu, dapatlah kita memecahkan telur ayam yang sedang dierami induknya. Tempatnya aman dan terjamin, panas seimbang dengan dingin, di dalam rahim bunda kandung, itulah “qaraarin makiirt", tempat yang terjamin terpelihara.
“Kemudian Kami jadikan pula mani itu menjadi segumpal darah, kemudian Kami jadikan pula segumpal darah itu menjadi segumpal daging, dan daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang-tulang itu Kami liputi dengan daging pula," (pangkal ayat 14).
Lepas 40 hari dalam berituk segumpal air mani berpadu itu dia pun bertukar rupa menjadi segumpal darah. Ketika Ibu telah hamil dalam dua tengah tiga bulan. Penggeligaan itu sangat berpengaruh atas badan si Ibu, pendingin, pemarah, berubah-ubah perangai, kadang-kadang tak enak makan. Dan setelah 40 hari berubah darah, dia beransur kian membeku, membeku terus hingga jadi segumpal daging, membeku terus hingga berubah sifatnya menjadi tulang. Dikelilingi tulang itu masih ada persediaan air yang kelaknya menjadi daging untuk menyelimuti tulang-tulang itu. Mulanya hanya sekumpulan tulang, tetapi kian sehari telah ada berituk kepala, kaki dan tangan dan seluruh tulang-tulang dalam badan. Kian lama kian diaelimuti oleh daging."Kemudian itu Kami ciptakan satu berituk yang lain."Pada saat itu dianugerahkan kepadanya “roh", maka bemafaslah dia. Dengan dihembuskan nafas pada sekumpulan tulang dan daging itu, berubahlah sifatnya.' Itulah calon yang akan menjadi manusia."Maha Suci Allah, Tuhan pang sepandai-pandai memberituk." (ujung ayat 14).
Saringan tanah di bawah sayur, buah-buahan, padi, jagung yang melebur ke dalam darah jadi hormon dan menjadi mani, sekarang telah bernyawa, dan dia telan menjadi orang.
Besanya Tuhan memberi anugerah kepada si asal saringan tanah itu, kelaknya menjadi manusia yang berakal. Menjadi Khatifah Ilahi dalam bumi, merenung alam, menghitung bintang di langit, menjadi Rasul dan Nabi, menjadi Waliullah berjiwa besar, atau bertarung berebut hidup sehingga bumi ini tiada artinya kalau insan yang asal kejadiannya dari saringan tanah itu tidak ada. Maka piramide pusaka Fir'aun-fir'aun di Mesir yang diriirikan 4,000 tahun yang lalu, atau Empire State Buildirig yang diriirikan dalam abad keduapuluh adalah buah dari sesuatu yang dihembuskan Ilahi ke dalam tulang berpalut daging tempat terpelihara di rahim Ibu itu, yang asal mulanya dari air saringan tanah.
Dengan lambat perlahan Rasulullah s.a.w. menyebutkan ayat-ayat Ini seketika diturunkan dengan perantaraan Jibril. Setiap butir patah kata dalam ayatnya itu masuk laksana dituangkan ke dalam hati sahabat-sahabat Nabi yang mendengarkan, sehingga menambah kuat kokohnya iman yang sedang tumbuh itu. Terasa dalam hati, apalah arti kehidupan manusia dalam alam ini kalau tiada anugerah Tuhan.
Di antara yang hadir mendengarkan ayat ini sahabat Nabi, orang yang kedua, Umar bin Khalhab. Menurut riwayatnya Thayalisi yang diterimanya Anas bin Malik, konon setiap patah ayat itu yang beralun berirama dibawa suara Nabi, Umar telah dibawa ke dalam suasana pesona yang mendalam. Dari nutfah air setitik, menjadi darah segumpal dan daging segumpal, dan tulang segumpal, lalu diaelimuti dengan daging lain, Umar menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga terloncatlah dari mulutnya:
“Maha Suci Allah, Tuhan yang sepandai-pandai memberituk."
Tiba-tiba mendengar sambutan Umar atas ayat itu, bersabdalah Nabi: “Memang begitulah bunyi ujung ayat hai Umar."
Maka terharulah Umat atas anugerah Ilahi yang kesekian kalinya di-anugerahkan kepadanya, karena perasaan dan fikirannya sejalan dengan wahyu yang akan turun banggalah Nabi kita karena Umarlah satu-satunya umat yang mendapat anugerah demikian, sehingga pernahlah beliau berkata: “Sesudah aku tak ada Nabi lagi, yang ada adalah orang-orang yang men-dapat ilham dan Umar adalah orang itu."
Syahdan maka tersebutlah perkataan bahwasanya karena telah sangat majunya ilmu pengetahuan, telah dapatlah dikirim mani laki-laki dari tempat jauh untuk dicampurkan dengan mani perempuan hingga terjadilah hamil buatan tanpa bersetubuh. Dan ini sudah dilakukan orang untuk binatang temak dan mulai pula dilakukan orang di antara manusia.
yang mengemukakan bahwa dari campuran zat kimia dia telah dapat mencampur aduk demikian rupa, hingga menghasilkan seorang manusia yang bernyawa. Tentang hal semacam ini mungkin saja kejadian tidaklah mustahil pada akal. Ketika orang mula-mula menetaskan telur ayam dengan liatrik, banyaklah orang heran. Sebelum melihat banyaklah yang tidak percaya. Setengah orang cemas karena semuanya ini menentang agama. Atau bertentangan dengan agama. Tidak! Kemajuan ilmu pengetahuan dan kesungguhan menyelidik tidaklah bertentangan dengan agama. Kita harus merasa syukur atas kemajuan ilmu pengetahuan itu, karena bertambah maju ilmu pengetahuan bertambah yakin kita akan adanya Tuhan yang di antara sifatnya ialah “Alim" dan “llm".
Di antara kita merasa syukur karena kemajuan ilmu pengetahuan tentang tenaga atom. Soalnya sekarang bukanlah soal pesatnya ilmu pengetahuan. Soalnya sekarang ialah buat apa pengetahuan itu digunakan. Adakah kemajuan kemanusiaan atau bagi kehancurannya?
Jika pengetahuan memindahkan mani dan hamil buatan dipergunakan untuk memperbanyak dan untuk memperkembang-biakkan binatang temak seluruh dunia, sehingga dunia tidak kekurangan daging untuk makanan. Alangkah berfaedahnya pengetahuan itu.
Tetapi jika mani laki-laki dikumpul di suatu tempat untuk dikirim kepada perempuan yang memerlukannya, dari laki-laki yang tak dikenal untuk perempuan yang tak dikenal, apa namanya pekerjaan itu?
Untuk memproduksi lagi banyak-banyak manusia yang tak terang bapaknya? Salah satu tugas agama ialah memelihara keturunan, mendirikan kekeluargaan, agar seorang ayah bertanggungjawab terhadap anak. Sampai terhadap isteri. Itulah yang bernama manusia. Itulah kemanusiaan. Itulah sebabnya maka nikah kawin dipandang suci oleh segala agama.
Kalau mentemakkan manusia sudah sebagai menetaskan telur ayam dengan liatrik, atau “penyuntikan mani" di luar persetubuhan ke dalam faraj perempuan hingga timbul hamil buatan, atau kalau seorang sarjana telah membuat manusia dengan zat kimia, kalau semuanya ini telah berlaku, runtuhlah segala nilai kemanusiaan, dan samalah manusia dengan binatang! Dan menjadi -kutuklah ilmu pengetahuan itu bagi kehidupan, karena tidak ada perlunya.
Berzina yang menurut Islam adalah segala persetubuhan di luar nikah, termasuk persetubuhan dengan yang haram diriikahi, dilarang keras karena menjaga keturunan itu. Kalau tujuan hanya sekedar dapat anak, apa salahnya jika orang bersetubuh dengan ibunya, atau dengan anak perempuannya? Kalau terbuka pintu hamil buatan dan mani kiriman atau membuat manusia dengan zat kimia maka segala yang bernama nikah dan kawin, ijab-kabul, wali mahar tidak perlu lagi dipertahankan. Kata zina pun tidak usah lagi disebut-sebut. ‘Dan kembalilah manusia kepada asalnya yang diajarkan Darwin, yaitu jadi monyet.
The Sign of Allah in the progressive creation of Man from Clay then from Nutfah and thereafter
Allah tells:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الاِْنسَانَ مِن سُلَلَةٍ مِّن طِينٍ
And indeed We created man out of an extract of Tin.
Allah tells us how He initially created man from an extract of Tin. This was Adam, peace be upon him, whom Allah created from sounding clay of altered black smooth mud.
Ibn Jarir said,
Adam was called Tin because he was created from it.
Qatadah said,
Adam was created from Tin.
This is the more apparent meaning and is closer to the context, for Adam, upon him be peace, was created from a sticky Tin, which is a sounding clay of altered black smooth mud, and that is created from dust, as Allah says:
وَمِنْ ءَايَـتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُمْ بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ
And among His signs is this that He created you (Adam) from dust, and then -- behold you are human beings scattered! (30:20)
Imam Ahmad recorded from Abu Musa that the Prophet said:
إِنَّ اللهَ خَلَقَ ادَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الاَْرْضِ فَجَاءَ بَنُو ادَمَ عَلَى قَدْرِ الاَْرْضِ جَاءَ مِنْهُمُ الاَْحْمَرُ وَالاَْبْيَضُ وَالاَْسْوَدُ وَبَيْنَ ذلِكَ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَبَيْنَ ذلِك
Allah created Adam from a handful which He picked up from throughout the earth, so the sons of Adam came forth accordingly, red and white and black and in between, evil and good and in between.
Abu Dawud and At-Tirmidhi recorded something similar.
At-Tirmidhi said, It is Sahih Hasan.
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً
Thereafter We made him a Nutfah.
Here the pronoun refers back to humankind, as in another Ayah:
الَّذِى أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الاِنْسَـنِ مِن طِينٍ
ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَلَةٍ مِّن مَّأءٍ مَّهِينٍ
and He began the creation of man from clay. Then He made his offspring from semen of despised water. (32:7-8)
meaning, weak, as He says:
أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّأءٍ مَّهِينٍ
فَجَعَلْنَـهُ فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ
Did We not create you from a despised water, Then We placed it in a place of safety. (77:20-21)
meaning the womb, which is prepared and readily equipped for that,
فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ
... in a safe lodging.
إِلَى قَدَرٍ مَّعْلُومٍ
فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَـدِرُونَ
For a known period. So We did measure; and We are the Best to measure. (77:22-23)
meaning, for a known period of time, until it is established and moves from one stage to the next.
Allah says here
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
Then We made the Nutfah into a clot,
meaning, `then We made the Nutfah, which is the water gushing forth that comes from the loins of man, i.e., his back, and the ribs of woman, i.e., the bones of her chest, between the clavicle and the breast. Then it becomes a red clot, like an elongated clot.'
Ikrimah said, This is blood.
فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً
then We made the clot into a little lump of flesh,
which is like a piece of flesh with no shape or features.
فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا
then We made out of that little lump of flesh bones,
meaning, `We gave it shape, with a head, two arms and two legs, with its bones, nerves and veins.'
فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا
then We clothed the bones with flesh,
meaning, `We gave it something to cover it and strengthen it.'
ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا اخَرَ
and then We brought it forth as another creation.
means, `then We breathed the soul into it, and it moved and became a new creature, one that could hear, see, understand and move.
ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا اخَرَ
(and then We brought it forth as another creation).
Al-`Awfi reported that Ibn Abbas said,
We change it from one stage to another until it emerges as an infant, then it grows up through the stages of being a child, adolescent, youth, mature man, old man and senile man.
Imam Ahmad recorded in his Musnad that Abdullah -- Ibn Mas`ud -- said,
The Messenger of Allah, the Truthful One, told us:
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُوْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَهَلْ هُوَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَ الَّذِي لَا إِلهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيُخْتَمُ لَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيُخْتَمُ لَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
The creation of anyone of you is gathered for forty days in his mother's stomach as a Nutfah, then he becomes a clot for a similar period of time, then he becomes a little lump of flesh for a similar length of time.
Then the angel is sent to him and he breathes the soul into it, and four things are decreed:
his provision,
his life-span,
his deeds, and
whether he will be wretched or blessed.
By the One besides Whom there is no other god, one of you may do the deeds of the people of Paradise until there is no more than a forearm's length between him and it, then the decree will overtake him and he will do the deeds of the people of Hell and thus enter Hell.
And a man may do the deeds of the people of Hell until there is no more than a forearm's length between him and it, then the decree will overtake him and he will do finally the deeds of the people of Paradise and thus enter Paradise.
This was recorded by Al-Bukhari and Muslim.
فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
So Blessed is Allah, the Best of creators.
means, when Allah mentions His ability and subtlety in creating this Nutfah and taking it from stage to stage until it takes the shape of a perfectly formed human being, He says,
فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
(So Blessed is Allah, the Best of creators).
ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ
After that, surely you will die.
means, after first being created from nothing, you will eventually die.
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
Then (again), surely you will be resurrected on the Day of Resurrection.
means, you will be created anew.
ثُمَّ اللَّهُ يُنشِىءُ النَّشْأَةَ الاٌّخِرَةَ
and then Allah will bring forth the creation of the Hereafter. (29:20),
means, the Day of Return, when the souls will be restored to their bodies and all of creation will be brought to account. Everyone will be rewarded or punished according to his deeds -- if they are good then he will be rewarded, and if they are bad then he will be punished.
Then We transformed the drop [of semen] into a clot, congealed blood. Then We transformed the clot into a [little] lump of flesh (mudgha), a piece of flesh, about the size of what one would be able to chew (maa yumdagh). Then We transformed the lump of flesh into bones. Then We clothed the bones with flesh (a variant reading in both instances [instead of the plurals 'izaaman and al-'izaama, 'the bones'] is [singular] 'azman [and 'al-'azma], 'the bone'; and in all three instances above khalaqnaa, means 'We made it become' [as opposed to 'We created']). Then We produced him as [yet] another creature, by breathing into him [Our] Spirit. So blessed be God, the best of creators!, that is, [the best of] determiners (the specificier noun for ahsana, 'the best', has been omitted because it is obvious: khalqan, 'in terms of creation').
(an extract of clay) which changes into the seed ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً (then We made him a sperm-drop). Now it is well known that the production of food from the earth, its absorption in the human body of that special element which changes into the seed is a long drawn out process. Similarly the third stage of the transformation from the sperm-drop نُّطْفَةَ to clot مُضْغَةَ takes a long time to materialize and has been described by the Qur'an in the words ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً (then We made the sperm-drop into a clot - 23:14 ). The next three stages, i.e. from عَلَقَةً (clot) to مُضْغَةَ (foetus-lump), from to bones, and thirdly clothing flesh on bones occurring in short periods is not too remote a possibility, and in describing these three changes the particle فَ has been used which, as has been explained earlier, is indicative of uninterrupted succession. The final change in the condition of the unborn child comes when life and soul are breathed into it. And since, according to human reckoning, putting life and soul into a lifeless mass must necessarily take a long time, therefore, here again the word ثُم has been used to describe this final stage of transformation.
The final stage in human creation, i.e. putting life and soul into it
The Qur'an describes this change with the words ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ (We developed it into another creature - 23:14). This distinction is due to the fact that whereas the first six stages in the creation of man are related to the world of elements and substances, the final stage relates to the transfer of soul from the world of spirits into his body and is, therefore, described as - خَلْقًا آخَرَ i.e. a special or distinct creation.
Biological spirit and Real Spirit
"We developed it into another creature" in this verse is interpreted by Ibn ` Abbas, Mujahid, Sha'bi, ` Ikrimah, Dahhak and Abul-` Aliyah ؓ to mean blowing spirit into the body. Tafsir Mazhari mentions that most probably it refers to the biological spirit. According to its explanation spirits are of two kinds. Biological spirit is a subtle substance embedded in every part of the body of a human being or an animal. This is the spirit recognized by medical scientists and the philosophers. This biological spirit is created after the organs are created. That is why its creation is mentioned in this verse with the word ثُمَّ (thereafter). The other kind of spirit is the 'Real spirit'. It belongs to the spiritual universe. This real spirit was created long before the creation of human beings, and it is these spirits which were assembled by Allah when He asked them, "Am I not your Lord?" and they answered, "Why not?" This Real Spirit having been created long before, is connected by Allah Ta’ ala with biological spirit in a manner not known to anyone. Life of man depends on this connection and when biological spirit of a person is disconnected from Real Spirit, he dies. Therefore, it is also possible that it is this connection which is referred to in this verse by the words another creation.
فَتَبَارَكَ اللَّـهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (So, glorious is Allah, the best of the creators-23:14). The word خَلق and تَخلِیق mean "to create something from nothing", which is a very special and exclusive attribute of Allah. Thus, Allah alone is the creator and none else. Neither an angel nor man can create anything. However sometime these two words are used in the sense of manufacturing which is no more than the reshaping and assembly by man of substances created by Allah. The man who does this is also called the creator of an article. The Qur'an says تَخْلُقُونَ إِفْكًا (you invent a lie 29:17), and again it says about Sayyidna ` Isa أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ (I create for you from clay something in the shape of a bird - 3:49). In all these places the word خَلق (creating) has been used in the metaphorical sense to mean "manufacture".
Here the word خَالِقِینَ (creators) has been used in the plural and the meaning is that though ordinary human beings who manufacture things may also be called خَالِق or creators in the metaphorical sense, yet Allah is the best among all those creators.