آلِ عِمْرَان ٤٢
- وَإِذۡ dan ketika
- قَالَتِ berkata
- ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ Malaikat
- يَٰمَرۡيَمُ Wahai Maryam!
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱللَّهَ Allah
- ٱصۡطَفَىٰكِ Dia memilih kamu
- وَطَهَّرَكِ dan Dia mensucikan kamu
- وَٱصۡطَفَىٰكِ dan Dia memilih/melebihkan kamu
- عَلَىٰ atas
- نِسَآءِ wanita-wanita
- ٱلۡعَٰلَمِينَ semesta alam
Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala wanita di seluruh alam (pada masa itu).
(Dan) ingatlah (ketika berkata malaikat) yakni Jibril ("Hai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilih dan menyucikanmu) dari sentuhan lelaki (dan mengutamakanmu atas wanita-wanita di seluruh dunia.").
Tafsir Surat Ali-'Imran: 42-44
Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata, "Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).
Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk."
Itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada di antara mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan mengasuh Maryam. Dan kamu tidak berada di antara mereka ketika mereka bertengkar.
Ayat 42
Allah ﷻ menceritakan khitab malaikat yang ditujukan kepada Maryam a.s. atas perintah dari Allah ﷻ yang isinya menyatakan bahwa Allah ﷻ telah memilihnya menjadi wanita yang terpilih, karena ibadahnya yang banyak, zuhudnya, kemuliaannya, dan kesuciannya dari semua kotoran dan godaan setan. Allah memilihnya kembali dari suatu waktu ke waktu yang lain karena kemuliaan yang dimilikinya berada di atas semua wanita di dunia (pada masanya).
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab sehubungan dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (Ali Imran: 42) Bahwa sahabat Abu Hurairah pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik wanita yang naik unta adalah wanita Quraisy, paling penyayang kepada anak semasa masih bayi, dan paling memelihara kehormatan diri suami, sedangkan Maryam binti Imran belum pernah naik unta sama sekali.”
Tidak ada yang mengetengahkannya dari jalur ini selain Imam Muslim, karena sesungguhnya Imam Muslim telah meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Rafi' dan Abdu ibnu Humaid; keduanya meriwayatkan hadits ini dari Abdur Razzaq.
Hisyam ibnu Urwah meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Ja'far, dari Ali ibnu Abu Thalib yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik wanitanya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanitanya adalah Khadijah binti Khuwailid.”
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadits yang serupa melalui Hisyam dengan lafal yang sama.
Imam At-Tirmidzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Zanjawaih, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Cukuplah bagimu dari wanita di dunia ini dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiah istri Fir'aun.”
Hadits ini hanya diketengahkan oleh Imam At-Tirmidzi sendiri, dan ia menilainya shahih.
Abdullah ibnu Abu Ja'far Ar-Razi menceritakan dari ayahnya bahwa Sabit Al-Bannani pernah menceritakan dari Anas ibnu Malik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik wanita di dunia ada empat orang, yaitu Maryam binti Imran, Asiah istri Fir'aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Rasulullah.”
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Mardawaih. Ibnu Mardawaih meriwayatkan pula dari jalur Syu'bah, dari Mu'awiyah ibnu Qurrah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Lelaki yang mencapai kesempurnaan banyak jumlahnya, tetapi dari kalangan wanita hanya ada tiga orang, yaitu Maryam binti Imran, Asiah istri Fir'aun, dan Khadijah binti Khuwailid. Sedangkan keutamaan Aisyah atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid (makanan yang sangat enak) atas makanan lainnya.”
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Adam Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Murrah; ia pernah mendengar Murrah Al-Hamdani menceritakan hadits berikut dari Abu Musa Al-Asy'ari yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Telah mencapai kesempurnaan banyak orang dari kalangan kaum lelaki, tetapi tidak ada yang mencapai kesempurnaan dari kalangan kaum wanita selain Maryam binti Imran dan Asiah istri Fir'aun.”
Jamaah menceritakan pula hadits ini selain Imam Abu Dawud melalui berbagai jalur dari Syu'bah dengan lafal yang sama. Lafal yang diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari adalah seperti berikut: “Banyak dari kaum lelaki yang mencapai tingkat kesempurnaan, tetapi dari kalangan kaum wanita tidak ada yang mencapai tingkat kesempurnaan kecuali Asiah istri Fir'aun dan Maryam binti Imran, dan sesungguhnya keutamaan Aisyah dibandingkan dengan wanita-wanita lainnya sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas semua jenis makanan.”
Kami merincikan hadits ini berikut semua lafalnya dalam kisah Isa ibnu Maryam a.s. di dalam kitab kami yang berjudul Al-Bidayah wan Nihayah. Kemudian Allah ﷻ kembali menceritakan khitab para malaikat kepada Maryam, bahwa mereka memerintahkannya untuk banyak melakukan ibadah, khusyuk, rukuk, dan sujud serta membiasakan diri beramal, karena Allah ﷻ hendak menganugerahkan kepadanya suatu perkara yang telah ditakdirkan-Nya untuk dia. Anugerah tersebut merupakan batu ujian baginya dan meninggikan derajatnya di dua negeri (dunia dan akhirat). Melalui dirinya Allah akan menampilkan kekuasaan-Nya yang besar, yaitu Allah akan menciptakan darinya seorang anak tanpa ayah.
Ayat 43
Untuk itu Allah ﷻ berfirman: “Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (Ali Imran: 43)
Yang dimaksud dengan al-qunut ialah taat dengan penuh kekhusyukan, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya: “Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya.” (Ar-Rum: 26)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr dan Ibnul Haris, bahwa Darij yang dikenal dengan sebutan Abus Samah pernah menceritakan hadits berikut kepadanya, dari Abul Haisam, dari Abu Sa'id, dari Rasulullah ﷺ yang bersabda: “Setiap kalimat yang ada di dalam Al-Qur'an disebut di dalamnya lafal al-qunut, artinya taat.”
Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur Ibnu Luhai'ah dari Darij dengan lafal yang sama, tetapi di dalam hadits ini terkandung nakarah (predikat mungkar).
Mujahid mengatakan bahwa Maryam a.s. selalu berdiri (melakukan ibadah) sehingga kedua telapak kakinya bengkak-bengkak. Al-qunut artinya rukuk yang lama di dalam shalat, yakni karena mengamalkan perintah yang terkandung di dalam firman-Nya: “Wahai Maryam, berqunutlah kepada Tuhanmu.” (Ali Imran: 43)
Al-Hasan mengatakan bahwa makna uqnuti lirabbiki ialah sembahlah Tuhanmu.
“Sujudlah dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (Ali Imran: 43) Yakni jadilah kamu salah seorang dari mereka yang rukuk.
Al-Auza'i mengatakan bahwa Maryam tetap tinggal di dalam mihrabnya sambil rukuk, sujud, dan berdiri, hingga air kuning keluar dari telapak kakinya. Semoga Allah melimpahkan keridaan-Nya kepadanya dan memberinya pahala yang besar.
Al-Hafidzh Ibnu Asakir menyebutkan di dalam kitab Turjumah melalui jalur Muhammad ibnu Yunus Al-Kadimi (yang masih diragukan), telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Bahr ibnu Barri, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Al-Auza'i, dari Yahya ibnu Abu Kasir sehubungan dengan firman-Nya: “Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu dan sujudlah (kepada-Nya).” (Ali Imran: 43) bahwa Maryam terus-menerus melakukan sujud hingga air kuning turun ke kedua matanya.
Ibnu Abud Dunya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Damrah, dari Syauzab yang mengatakan bahwa Maryam a.s. selalu mandi di setiap malamnya.
Ayat 44
Kemudian Allah ﷻ berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ sesudah memaparkan kepadanya dengan jelas semua kisah tersebut, yaitu:
“Itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad).” (Ali Imran: 44)
Yang dimaksud dengan wahyu adalah kisah yang diceritakan kepada Nabi ﷺ.
“Padahal kamu tidak berada di antara mereka.” (Ali Imran: 44)
Yakni kamu, wahai Muhammad, tidaklah bersama mereka. Karena itu, lalu kamu dapat menceritakan kepada mereka kejadian yang engkau saksikan. Melainkan Allah memperlihatkannya kepadamu hal tersebut, seakan-akan kamu ikut hadir dan menyaksikan apa yang terjadi di antara mereka ketika mereka melakukan undian perihal Maryam, yakni siapakah di antara mereka yang akan mengasuh Maryam. Itu dilakukan karena keinginan mereka untuk mendapat pahala Allah ﷻ.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepadaku Hajaj, dari Ibnu Juraij, dari Al-Qasim ibnu Buzzah, bahwa ia telah menceritakan kepadanya dari Ikrimah, juga dari Bakar, dari Ikrimah yang menceritakan bahwa Maryam dikeluarkan dari kemahnya, lalu dibawa ke tempat Banil Kahin, keturunan Harun, saudara Musa a.s. Ketika itu mereka sedang mengecat bagian dari Baitul Maqdis yang letaknya lurus dengan Ka'bah.
Lalu ibu Maryam berkata kepada mereka, “Terimalah oleh kalian bayi nazirah ini, karena sesungguhnya aku telah menazarkannya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Sedangkan dia adalah bayi perempuan, dan perempuan berhaid tidak boleh masuk masjid, tetapi aku tidak akan membawanya kembali pulang ke rumahku." Mereka menjawab, "Ini adalah anak perempuan imam kita. Imran adalah imam shalat mereka dan pemimpin kurban kami," Maka Zakaria berkata, "Serahkanlah dia kepadaku, karena sesungguhnya bibi bayi itu adalah istriku." Mereka berkata, "Kami tidak setuju, mengingat dia adalah anak perempuan imam kami." Karena itu mereka melakukan undian dengan pena-pena yang biasa mereka gunakan untuk menulis kitab Taurat, dan ternyata undian yang keluar adalah pena milik Zakaria a.s. Akhirnya ia mengasuh Maryam.
Ikrimah menceritakan pula, begitu juga As-Suddi, Qatadah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas dan lain-lain yang tidak hanya seorang, kisah sebagian dari mereka dimasukkan ke dalam kisah sebagian yang lain, bahwa mereka pergi ke Sungai Yordan, lalu melakukan undian di sungai tersebut, dengan ketentuan bahwa mereka diharuskan melempar pena-pena mereka ke dalam sungai itu. Barang siapa yang penanya tetap bertahan melawan arus air, maka dialah yang bakal mengasuh Maryam. Lalu mereka melemparkan penanya masing-masing, tetapi semuanya hanyut dibawa oleh arus air sungai, kecuali pena milik Zakaria yang tetap berada di tempatnya. Menurut suatu pendapat, pena Zakaria justru bergerak melawan arus air. Selain itu Zakaria adalah pemimpin dan penghulu mereka, juga orang yang paling alim di antara mereka, serta imam dan nabi mereka.
Usai memaparkan sosok yang merawat Maryam dan keberkahannya, melalui ayat ini Allah menjelaskan sosok Maryam. Dan ingatlah ketika para malaikat berkata, Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu berdasarkan ilmu Allah untuk menjadi ibu dari salah satu rasulNya, menyucikanmu dari segala dosa, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh dunia, yakni dengan melahirkan seorang rasul tanpa disentuh seorang lelaki
Wahai Maryam! Sebagai wujud rasa syukurmu kepada Allah, maka taatilah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan dan konsisten, serta sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.
Ayat ini kembali menceritakan keluarga Imran, sesudah ayat yang lalu menceritakan hal ihwal keluarga Zakaria yang juga termasuk keluarga Imran. Dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi Muhammad ﷺ, tentang peristiwa yang dialami oleh Maryam ketika dia didatangi oleh Malaikat Jibril (Maryam/19: 19-21). Pembicaraan Jibril dan Maryam di sini bukanlah seperti pembicaraan Jibril dengan nabi-nabi, yang merupakan penyampaian wahyu Allah kepada mereka melainkan sebagai pembicaraan malaikat dengan wali-wali Allah, yang berupa ilham.
Ungkapan rasa syukur Maryam kepada Allah dengan ibadah dan ketaatannya yang tidak putus-putusnya, menambah terpeliharanya kemuliaan dan kesempurnaan diri pribadinya, serta menambah jauhnya dari segala sifat yang tidak baik. Karena itu wajar bila Maryam memperoleh ilham dari Allah melalui Jibril sebagai penghormatan atas dirinya.
Jibril menandaskan bahwa Allah telah memilih Maryam untuk berkhidmat di Baitulmakdis, dan membersihkan dia dari keaiban lahir dan batin, serta menentukannya untuk melahirkan seorang nabi meskipun dia tidak pernah dijamah oleh seorang lelaki. Allah mengistimewakan Maryam atas semua perempuan di masanya. Sabda Rasul ﷺ:
Perempuan terbaik di dunia ini adalah empat orang: Maryam binti Imran, Asiyah istri Fir'aun, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Hisyam bin hakim).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PERMOHONAN ZAKARIA
“Pada waktu itu berdoalah Zakaria."
(pangkal ayat 38)
Pada waktu itu, yaitu setelah melihat pertumbuhan jasmani dan ruhani Maryam, anak yang dinadzarkan oleh ibunya itu, sampai ketika ditanya dari mana dia mendapat makanan, dia telah memberikan jawaban yang demikian penuh iman, padahal dia masih kecil, tersadarlah Zakaria akan dirinya. Mungkin kalau dia memohon pula dengan sungguh-sungguh kepada Allah, doanya pun akan dikabulkan, sebagaimana doa istri Imran telah dikabulkan maka berdoalah dia, “Katanya, “Ya, Tuhanku! berilah kepadaku dari sisi Engkau keturunan yang baik!" Telah tua aku ini, ya Tuhanku, tetapi keturunanku tidak ada juga maka inginlah aku agar Engkau karuniai aku seorang keturunan yang baik.
Melihat Maryam yang tumbuh dengan baik itu, dia pun ingin bilakah kiranya dia pun diberi keturunan yang baik serupa itu pula.
“Sesungguhnya, Engkau adalah. Pendengar permohonan."
(ujung ayat 38)
Demikianlah selalu doanya sedang dia mengasuh Maryam, sampai pun menjadi doa dalam sembahyangnya. Dan, memang doa itu ialah sembahyang dan sembahyang itu ialah doa, yakni menuruti aturan sembahyang pada waktu itu,
“Maka menyerulah kepadanya Malaikat, sedang dia shalat di mihrab."
(pangkal ayat 39)
Artinya sedang dia sembahyang dengan khusyunya di mihrab itu, tiba-tiba datanglah Malaikat. Menjadi alamat baik doanya terkabul. Berkatalah Malaikat itu, “Sesungguhnya, Allah menggembirakan engkau dengan Yahya!' Artinya, Tuhan telah mengabulkan permohonan engkau sebab engkau akan diberi seorang putra, namanya Yahya.
Yahya adalah kata yang di-Arab-kan dari bahasa Ibrani Yohana, arti keduanya sama, yaitu ‘hidup' Di dalam surah Maryam kelak disebutkan bahwa sebelum anak itu, belum ada orang yang bernama Yahya atau Yohana. Anak itu akan bernama si Hidup sebab hidupnya akan sangat berarti dan hidupnya akan sangat baik serta bahagia. Malaikat itu lalu menerangkan keutamaan anak itu, yaitu, “Yang akan membenarkan kalimat dari Allah."
Kalimat dari Allah itu ialah Nabi Isa al-Masih. Yahya itu kelak akan memberikan pengakuan dan kesaksian bahwa memang Isa al-Masih itu lahir semata-mata karena kalimat Allah kun, artinya ‘jadilah' maka dia pun jadi-lah."Dan akan menjadi pemimpin," yaitu menjadi pemimpin yang disegani dalam kaumnya, Bani Israil."Dan akan terpelihara," dan terbentang terutama dari pengaruh rayuan perempuan. Sebab, masih muda Yahya itu telah men-jadi rasul, sedangkan rupanya amat elok, tetapi tidaklah dapat diperdayakan oleh rayuan perempuan.
“Dan seorang nabi dari kaum yang saleh."
(ujung ayat 39)
Di sini kita sebutkan salah satu penafsiran makna kaiimah, yaitu bahwa kelahiran Nabi Isa tidak dengan perantaraan bapak, melainkan semata-mata dari kehendak Allah. Akan diakui kebenarannya oleh Yahya. Ini sesuai dengan sebagian kepercayaan orang Kristen bahwa kedatangan Yahya mendahului Isa untuk melapangkan jalan bagi kedatangan Isa al-Masih. Tetapi, hanya sampai di situ pengakuan Yahya. Tidaklah Yahya memberikan pengakuan pula bahwa Nabi Isa adalah Tuhan.
Abu Ubaidah, ahli tafsir yang terkenal, menafsirkan kaiimah yang diakui oleh Yahya itu ialah kitab dan wahyu.
Terkabulnya permohonannya itu sangatlah menimbulkan kagum dalam hati Zakaria. Memang dalam hatinya dia yakin bahwa doa yang sungguh-sungguh itu tidaklah mustahil akan dikabulkan oleh Allah. Sekarang, setelah Malaikat datang memberi tahu bahwa permohonannya telah terkabul, di dalam ke-terharuannya dia jadi tercengang,
“Dia berkata, ‘Ya, Tuhanku! Bagaimana jalannya aku akan beroleh seorang anak, padahal tua telah mencapaiku dan istriku pun mandul.'“
(pangkal ayat 40)
Dia percaya apabila Tuhan telah menjanjikan, itu pasti terjadi. Akan tetapi, bagaimana jalannya, sebab hamba ini telah tua dan istri hamba mandul. Keduanya menurut jalan yang biasa tidak mungkin mendapat anak lagi. Kalau laki-laki telah tua (usianya ketika itu menurut riwayat, telah lebih dari 90 tahun, sedangkan lain riwayat 120 tahun). Dalam usia yang begitu, menurut yang biasa, mani seorang laki-laki tidak lagi mempunyai bibit yang akan jadi anak. Apatah lagi telah tua pula. Kata setengah riwayat lebih dari 80 tahun. Istri mandul, lakinya tua, sama sekali tak mungkin akan dapat anak. Inilah yang dicengangkan oleh Zakaria."Dia berkata (yaitu firman Tuhan disampaikan dengan perantaraan Malaikat itu),
“Demikianlah Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
(ujung ayat 40)
Artinya, memang menurut kebiasaan orang tua yang berumur lebih dari seratus tahun dengan istri yang mandul dan telah tua pula, tidaklah mungkin beroleh anak. Akan tetapi, siapa yang membuat kebiasaan itu? Ialah Allah sendiri. Maka, kalau sekali-sekali Allah berbuat lain, apa yang mesti engkau herankan?
Zakaria yang gembira, terharu, dengan heran langsung tunduk kepada keputusan Allah itu. Ilmul yaqin-nya telah naik menjadi haqqul yaqin dan kelak apabila Yahya telah ada, niscaya menjadi ainul yaqin.
“Dia berkata, ‘Ya, Tuhanku! Adakanlah untukku suatu tanda.
(pangkal ayat 41)
Akan beroleh putra dalam usia setua itu, dengan istri yang tua dan mandul, sungguhlah suatu hal yang luar biasa dan ajaib bagi Zakaria. Sekarang, dia bermohon kepada Allah supaya dia diberi suatu ayat atau tanda penyambutan yang setimpal dengan anugerah besar itu."Dia (Tuhan) berfirman (dengan perantaraan Malaikat tadi),
“Tanda engkau ialah bahwa engkau tidak akan bercakap-cakap dengan manusia tiga hari kecuali dengan isyarat, dan ingatlah Tuhan engkau sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah petang dan pagi."
(ujung ayat 41)
Dengan demikian, dapatlah kita mengambil paham bahwasanya sebagai sambutan yang penuh khusyu atas anugerah yang mulia itu, Allah memerintahkan Nabi Zakaria berpuasa lamanya tiga hari. Selain dari puasa makan dan minum, puasa pula dari bercakap dengan manusia. Sehingga, kalau hendak bertegur sapa dengan manusia, cukup dengan isyarat saja. Akan tetapi, selama tiga hari itu pula hendaklah dipenuhinya dengan mengingat Allah (dzikir) sebanyak-banyaknya dan bertasbih atau sembahyang petang dan pagi. Bercakap dengan manusia hentikan dan ganti dengan menyebut nama Allah.
Kalau menurut Injil Lukas, lidahnya di-kelukan beberapa hari lamanya sehingga tidak dapat bertutur apa-apa, sebagai hukuman sebab dia masih saja tidak percaya akan janji Tuhan itu. Akan tetapi, dari wahyu yang di-turunkan kepada Muhammad ﷺ kita telah mendapat kabar pasti bahwa ini bukanlah hukuman Allah kepada Zakaria, tetapi anjuran berpuasa, termasuk berpuasa bercakap tiga hari, sebab mengelu-elukan nikmat Allah yang akan beliau terima itu.
Permohonan Zakaria telah terkabul dan Maryam pun telah mulai besar dalam asuhan beliau. Sekarang, Allah mengisahkan lagi kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ tentang kelanjutan wahyu kepada Maryam.
“Dan (ingatlah) tatkala benkata Malaikat, “Wahai, Manyam! Sesungguhnya, Allah telah memilih engkau dan membenihkan engkau dan telah memuliakan engkau atas sekalian perempuan di alam."
(ayat 42)
Ayat ini ialah melanjutkan cerita tentang pertumbuhan diri Maryam yang di kala kecilnya itu dalam asuhan Zakaria. Dia telah mulai besar dan akan dewasa. Maka, diingatkan Allah-lah kepadanya bahwa dia telah menjadi pilihan Allah, termasuk orang-orang yang terpilih sebagaimana Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan rasul serta nabi-nabi yang lain tadi, dan Nabi kita Muhammad ﷺ Datangnya jadi bukti bahwa Maryam itu pun musthafiyah di sisi Allah. Sebab itu, beberapa ulama Islam, di antaranya Ibnu Hazmin al-Andalusi berpendapat bahwa Maryam itu nabiyah. Menurut dia, perempuan-perempuan yang jadi nabiyah ialah Hawa, Sarah istri Ibrahim, Hajar istri Ibrahim, ibu Nabi Musa, dan Asiah istri Fir'aun, semuanya itulah saja perempuan-perempuan yang jadi nabiyah. Abui Hasan al-Asy'ari berkata, “Di kalangan perempuan ada beberapa nabiyah" Ibnu Abdil Barr berkata, “Banyak fuqaha berpendapat bahwa di kalangan perempuan ada nabiyah." As-Suhaili pun berkata demikian.
Tentang Maryam ini, al-Qurthubi berkata, “Yang shahih ialah bahwa Maryam itu adalah seorang nabiyah karena Malaikat menyampaikan wahyu kepadanya, mengandung perintah Allah dan perkabaran dan kabar selamat. Sebab itu, dia adalah nabiyah." Cuma sekadar nabiyah, bukan rasul sebab sudah ditegaskan bahwa yang menjadi rasul menyampaikan syari'at (balagh, tabligh) hanya rasul yang laki-laki, sebagaimana dijelaskan dalam surah an-Nahl: 43.
“Dan Dia membersihkan engkau," tetap dalam keadaannya yang suci sehingga dia melahirkan Isa kelak dalam kesucian itu, tidak disentuh laki-laki.
‘Dan telah memuliakan engkau atas sekalian perempuan di alam."
(ujung ayat 42)
Inia dalah satu kemuliaan baginya sebab dia sebagai nadzar ibunya menjadi pengkhidmat rumah suci. Adalah suatu kemuliaan baginya karena guru pengasuhnya adalah seorang nabi dan rasul yang besar. Adalah suatu kemuliaan baginya bahwa dia adalah satu-satunya perempuan yang dipilih Allah buat melahirkan Isa, satu-satunya rasul Allah yang lahir ke dunia tidak dengan perantaraan bapak. Dan, ada lagi riwayat menyatakan bahwa kesucian yang diberikan Allah kepada Maryam itu ialah benar-benar karena dia tidak pernah dikotori dengan haid, tidak pernah membawa kain kotor. Sebab itu, dia disebut juga Maryam az-Zahra, sebagaimana juga Fathimah putri Rasulullah ﷺ yang menurut beberapa riwayat tidak pula diberi haid oleh Allah, yang tidak menghalangi beliau beroleh putra Hasan dan Husain. Dan, dia pun disebut Fathimah az-Zahra,
Menurut sebuah hadits dari Nabi kita ﷺ adalah tiga perempuan yang amat mulia, pertama Maryam binti Imran, kedua Khadijah binti Khuailid (istri Rasulullah ﷺ yang pertama), ketiga Fathimah binti Muhammad. Ridha Allah terlimpah bagi mereka semuanya. Amin.
Akan tetapi, ada juga ahli tafsir menjelaskan bahwasanya kemuliaan Maryam di atas segala perempuan di alam, bukanlah buat seluruh zaman, melainkan di zamannya saja. Tidak ada tolak perbandingannya yang lain. Dan, ada pula perempuan yang amat mulia dari perempuan lain di zamannya pula.
Setelah disanjung Allah kesuciannya, Maryam pun selalu diperintah Tuhan memupuk anugerah Ilahi itu dengan firman-Nya,
“Wahai, Manyam tunduklah kepada Tuhan engkau"
(pangkal ayat 43)
Artinya, patuhilah segala perintah Tuhan.
"Dan sujudlah dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'."
(ujung ayat 43)
Selalulah engkau beribadah kepada Allah, sehingga sari kemuliaan dan pilihan atas diri engkau yang diberikan Allah tu bertambah cemerlang. Sebagai adatnya tiap-tiap nabi, yang menerima pilihan Allah atas diri mereka, dengan memperbanyak ibadah kepada Allah, bahkan kadang-kadang memohon ampun bertobat dan menyesali kealpaan diri. Sebagaimana Imam Ghazali pernah mengisahkan bahwasanya Nabi Isa sendiri kadang-kadang membawa bunga karang untuk menghapus air matanya yang mengalir karena ingat akan Allah dan burung yang sedang terbang pun tertegun mendengarkan bunyi kecapi Nabi Dawud a.s. menyanyikan nama Tuhan. Dan, Nabi Muhammad ﷺ yang sampai semutan kakinya karena lamanya shalat malam. Bertambah mulia kedudukan mereka di sisi Allah, bertambah mereka qunut, tunduk merendah diri kepada Allah.
“Demikianlah dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada engkau."
(pangkal ayat 44)
Wahai utusan-Ku Muhammad,
“Dan tidaklah engkau bersama mereka ketika mereka membuang undi tentang siapa di antara meneka yang akan mengasuh Manyam, dan tidak ada engkau di dekat mereka ketika mereka berbantah."
(ujung ayat 44)
Dengan keterangan seperti ini, Tuhan Allah menjelaskan bahwasanya berita-berita ini, baik berita nadzar istri Imran, pengasuhan Zakaria atas Maryam, maupun doa Zakaria agar diberi anak, semuanya ini adalah berita gaib, tidak diterima dari orang lain, tetapi diwahyukan langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ
"The Chosen Ones Among the People of the Earth
Allah says;
إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى ادَمَ وَنُوحًا وَالَ إِبْرَاهِيمَ وَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Allah chose Adam, Nuh (Noah), the family of Ibrahim and the family of Imran above the nations. Offspring, one of the other, and Allah is All-Hearer, All-Knower.
Allah states that He has chosen these households over the people of the earth.
For instance, Allah chose Adam, created him with His Hand and blew life into him. Allah commanded the angels to prostrate before Adam, taught him the names of everything and allowed him to dwell in Paradise, but then sent him down from it out of His wisdom.
Allah chose Nuh and made him the first Messenger to the people of the earth, when the people worshipped idols and associated others with Allah in worship. Allah avenged the way Nuh was treated, for he kept calling his people day and night, in public and in secret, for a very long time. However, his calling them only made them shun him more, and this is when Nuh supplicated against them. So Allah caused them to drown, and none among them was saved, except those who followed the religion that Allah sent to Nuh.
Allah also chose the household of Ibrahim, including the master of all mankind, and the Final Prophet, Muhammad, peace be upon him.
Allah also chose the household of Imran, the father of Maryam bint Imran, the mother of `Isa, peace be upon them. So `Isa is from the offspring of Ibrahim, as we will mention in the Tafsir of Surah Al-An`am, Allah willing, and our trust is in Him.
The Story of Maryam's Birth
Allah tells;
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ
(Remember) when the wife of Imran said:
The wife of Imran mentioned here is the mother of Maryam, and her name is Hannah bint Faqudh.
Muhammad bin Ishaq mentioned that Hannah could not have children and that one day, she ﷺ a bird feeding its chick. She wished she could have children and supplicated to Allah to grant her offspring. Allah accepted her supplication, and when her husband slept with her, she became pregnant. She vowed to make her child concentrate on worship and serving Bayt Al-Maqdis (the Masjid in Jerusalem), when she became aware that she was pregnant.
She said,
رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
O my Lord! I have vowed to You what is in my womb to be dedicated for Your services, so accept this from me. Verily, You are the All-Hearer, the All-Knowing.
meaning, You hear my supplication and You know my intention. She did not know then what she would give birth to, a male or a female.
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ
Then when she gave birth to her, she said:""O my Lord! I have given birth to a female child, ـ and Allah knew better what she bore.
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالاُنثَى
And the male is not like the female,
in strength and the commitment to worship Allah and serve the Masjid in Jerusalem.
وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ
And I have named her Maryam,
thus, testifying to the fact that it is allowed to give a name to the newly born the day it is born, as is apparent from the Ayah, which is also a part of the law of those who were before us.
Further, the Sunnah of the Messenger of Allah mentioned that the Prophet said,
وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ وَلَدٌ سَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيم
This night, a son was born for me and I called him by my father's name, Ibrahim.
Al-Bukhari and Muslim collected this Hadith.
They also recorded that;
Anas bin Malik brought his newborn brother to the Messenger of Allah who chewed a piece of date and put it in the child's mouth and called him Abdullah.
Other new born infants were also given names on the day they were born.
Qatadah narrated that Al-Hasan Al-Basri said, that Samurah bin Jundub said that the Messenger of Allah said,
كُلُّ غُلَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأَسُه
Every new born boy held in security by his Aqiqah, until his seventh day, a sacrifice is offered on his behalf, he is given a name, and the hair on his head is shaved.
This Hadith was collected by Ahmad and the collectors of the Sunan, and was graded Sahih by At-Tirmidhi.
We should mention that another narration for this Hadith contained the wording, ""and blood is offered on his behalf,"" which is more famous and established than the former narration, and Allah knows best.
Allah's statement that Maryam's mother said,
وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
""...And I seek refuge with You for her and for her offspring from Shaytan, the outcast.""
means, that she sought refuge with Allah from the evil of Shaytan, for her and her offspring, i.e., `Isa, peace be upon him.
Allah accepted her supplication, for Abdur-Razzaq recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلاَّ مَسَّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّهِ إِيَّاهُ إِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا
Every newly born baby is touched by Shaytan when it is born, and the baby starts crying because of this touch, except Maryam and her son.
Abu Hurayrah then said,
""Read if you will,
وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
(And I seek refuge with You for her and for her offspring from Shaytan, the outcast).""
The Two Sahihs recorded this Hadith
Maryam Grows Up; Her Honor is with Allah
Allah tells;
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ
So her Lord (Allah) accepted her with goodly acceptance.
Allah states that He has accepted Maryam as a result of her mother's vow and that,
وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا
He made her grow in a good manner,
meaning, made her conduct becoming, her mannerism delightful and He made her well liked among people. He also made her accompany the righteous people, so that she learned righteousness, knowledge and religion.
وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا
And put her under the care of Zakariyya,
meaning, Allah made Zakariyya her sponsor.
Allah made Zakariyya Maryam's guardian for her benefit, so that she would learn from his tremendous knowledge and righteous conduct. He was the husband of her maternal aunt, as Ibn Ishaq and Ibn Jarir stated, or her brother-in-law, as mentioned in the Sahih,
فَإِذَا بِيَحْيَى وَعِيسى وَهُمَا ابْنَا الْخَالَة
I ﷺ John and `Isa, who are maternal cousins.
We should state that in general terms, what Ibn Ishaq said is plausible, and in this case, Maryam was under the care of her maternal aunt.
The Two Sahihs recorded that;
the Messenger of Allah decided that Amarah, the daughter of Hamzah, be raised by her maternal aunt, the wife of Jafar bin Abi Talib, saying,
الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الاُْم
The maternal aunt is just like the mother.
Allah then emphasizes Maryam's honor and virtue at the place of worship she attended,
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً
Every time he entered the Mihrab to (visit) her, he found her supplied with sustenance.
Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Abu Ash-Sha`tha, Ibrahim An-Nakhai, Ad-Dahhak, Qatadah, Ar-Rabi bin Anas, Atiyah Al-Awfi and As-Suddi said,
""He would find with her the fruits of the summer during winter, and the fruits of the winter during summer.""
When Zakariyya would see this;
قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا
He said:""O Maryam! From where have you gotten this!""
meaning, where did you get these fruits from!
قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ
She said, ""This is from Allah.""
إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ
Verily, Allah provides sustenance to whom He wills, without limit.
The Supplication of Zakariyya, and the Good News of Yahya's Birth
Allah tells;
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ
At that time Zakariyya invoked his Lord, saying:
When Zakariyya ﷺ that Allah provided sustenance for Maryam by giving her the fruits of winter in summer and the fruits of summer in winter, he was eager to have a child of his own.
By then, Zakariyya had become an old man, his bones feeble and his head full of gray hair. His wife was an old women who was barren. Yet, he still supplicated to Allah and called Him in secret,
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ
O my Lord! Grant me from Ladunka, (from You),
ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
A good offspring,
meaning, a righteous offspring,
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء
You are indeed the All-Hearer of invocation.
Allah said
فَنَادَتْهُ الْمَليِكَةُ وَهُوَ قَايِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ
Then the angels called him, while he was standing in prayer in the Mihrab,
meaning, the angels spoke to him directly while he was secluded, standing in prayer at his place of worship.
Allah told us about the good news that the angels delivered to Zakariyya,
أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى
Allah gives you glad tidings of Yahya,
of a child from your offspring, his name is Yahya.
Qatadah and other scholars said that;
he was called Yahya (literally, `he lives') because Allah filled his life with faith.
Allah said next,
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ
believing in the Word from Allah.
Al-Awfi reported that Ibn Abbas said, and also Al-Hasan, Qatadah, Ikrimah, Mujahid, Abu Ash-Sha`tha, As-Suddi, Ar-Rabi bin Anas, Ad-Dahhak, and several others said that the Ayah,
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ
(believing in the Word from Allah) means,
""Believing in `Isa, son of Maryam.""
وَسَيِّدًا
And Sayyidan,
Abu Al-Aliyah, Ar-Rabi bin Anas, Qatadah and Sa`id bin Jubayr said that;
Sayyidan, means, a wise man.
Ibn Abbas, Ath-Thawri and Ad-Dahhak said that;
Sayyidan means, ""The noble, wise and pious man.""
Sa`id bin Al-Musayyib said that Sayyid is the scholar and Faqih. `Atiyah said that Sayyid is the man noble in behavior and piety. `Ikrimah said that it refers to a person who is not overcome by anger, while Ibn Zayd said that it refers to the noble man. Mujahid said that Sayyidan means, honored by Allah.
Allah's statement,
وَحَصُورًا
And Hasuran, (chaste),
does not mean he refrains from sexual relations with women, but that he is immune from illegal sexual relations.
This does not mean that he does not marry women and have legal sexual relations with them, for Zakariyya said in his supplication for the benefit of Yahya,
هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
(Grant me from You, a good offspring), meaning, grant me a son who will have offspring, and Allah knows best.
Allah's statement,
وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
A Prophet, from among the righteous.
delivers more good news of sending Yahya as Prophet after the good news that he will be born. This good news was even better than the news of Yahya's birth.
In a similar statement, Allah said to the mother of Musa,
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَـعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Verily, We shall bring him back to you, and shall make him one of the Messengers. (28:7)
When Zakariyya heard the good news, he started contemplating about having children at his age.
Allah said
قَالَ رَبِّ أَنَّىَ يَكُونُ لِي غُلَمٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ
""O my Lord! How can I have a son when I am very old, and my wife is barren!""
قَالَ
(He) said...,
meaning the angel said,
كَذَلِكَ اللّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاء
""Thus Allah does what He wills.""
meaning, this is Allah's matter, He is so Mighty that nothing escapes His power, nor is anything beyond His ability.
قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ ايَةً
He said:""O my Lord! Make a sign for me.""
meaning make a sign that alerts me that the child will come.
قَالَ ايَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ رَمْزًا
(Allah) said:""Your sign is that you shall not speak to the people for three days except by signals.""
meaning, you will not be able to speak except with signals, although you are not mute.
In another Ayah, Allah said,
ثَلَـثَ لَيَالٍ سَوِيّاً
For three nights, though having no bodily defect. (19:10)
Allah then commanded Zakariyya to supplicate, thank and praise Him often in that condition,
وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالاِبْكَارِ
And remember your Lord much and glorify (Him) in the afternoon and in the morning.
We will elaborate more on this subject in the beginning of Surah Maryam, Allah willing.
The Virtue of Maryam Over the Women of Her Time
Allah tells;
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَيِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ
And (remember) when the angels said:""O Maryam! Verily, Allah has chosen you, purified you, and chosen you above the women of the nations.""
Allah states that the angels spoke to Maryam by His command and told her that He chose her because of her service to Him, because of her modesty, honor, innocence, and conviction.
Allah also chose her because of her virtue over the women of the world.
At-Tirmidhi recorded that Ali bin Abi Talib said,
""I heard the Messenger of Allah say,
خَيْرُ نِسَايِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَايِهَا خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِد
The best woman (in her time) was Maryam, daughter of Imran, and the best woman (of the Prophet's time) is Khadijah (his wife), daughter of Khuwaylid.""
The Two Sahihs recorded this Hadith.
Ibn Jarir recorded that Abu Musa Al-Ashari said that the Messenger of Allah said,
كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَ اسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْن
Many men achieved perfection, but among women, only Maryam the daughter of Imran and Asiah, the wife of Fir`awn, achieved perfection.
The Six -- with the exception of Abu Dawud - recorded it.
Al-Bukhari's wording for it reads,
كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ اسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ
وَإِنَّ فَضْلَ عَايِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلى سَايِرِ الطَّعَام
Many men reached the level of perfection, but no woman reached such a level except Asiah, the wife of Fir`awn, and Maryam, the daughter of Imran.
The superiority of Aishah (his wife) to other women, is like the superiority of Tharid (meat and bread dish) to other meals.
We mentioned the various chains of narration and wordings for this Hadith in the story of `Isa, son of Maryam, in our book, Al-Bidayah wan-Nihayah, all the thanks are due to Allah.
Allah states that the angels commanded Maryam to increase acts of worship, humbleness, submission, prostration, bowing, and so forth, so that she would acquire what Allah had decreed for her, as a test for her. Yet, this test also earned her a higher grade in this life and the Hereafter, for Allah demonstrated His might by creating a son inside her without male intervention.
Allah said,
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
""O Maryam! Submit yourself with obedience (Aqnuti) and prostrate yourself, and bow down along with Ar-Raki`in.""
As for Qunut (Aqnuti in the Ayah),
it means to submit with humbleness.
In another Ayah, Allah said,
بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَـنِتُونَ
Nay, to Him belongs all that is in the heavens and on earth, and all surrender with obedience (Qanitun) to Him. (2:116)
Allah next said to His Messenger after He mentioned Maryam's story.
ذَلِكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيكَ
This is a part of the news of the Ghayb which We reveal.
""and narrate to you (O Muhammad),""
وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُون أَقْلَمَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
You were not with them, when they cast lots with their pens as to which of them should be charged with the care of Maryam; nor were you with them when they disputed.
meaning, ""You were not present, O Muhammad, when this occurred, so you cannot narrate what happened to the people as an eye witness. Rather, Allah disclosed these facts to you as if you were a witness, when they conducted a lottery to choose the custodian of Maryam, seeking the reward of this good deed.""
Ibn Jarir recorded that Ikrimah said,
""Maryam's mother left with Maryam, carrying her in her infant cloth, and took her to the rabbis from the offspring of Aaron, the brother of Musa. They were responsible for taking care of Bayt Al-Maqdis (the Masjid) at that time, just as there were those who took care of the Ka`bah.
Maryam's mother said to them, `Take this child whom I vowed (to serve the Masjid), I have set her free, since she is my daughter, for no menstruating woman should enter the Masjid, and I shall not take her back home.'
They said, `She is the daughter of our Imam,' as Imran used to lead them in prayer, `who took care of our sacrificial rituals.'
Zakariyya said, `Give her to me, for her maternal aunt is my wife.'
They said, `Our hearts cannot bear that you take her, for she is the daughter of our Imam.' So they conducted a lottery with the pens with which they wrote the Tawrah, and Zakariyya won the lottery and took Maryam into his care.""'
Ikrimah, As-Suddi, Qatadah, Ar-Rabi bin Anas, and several others said that;
the rabbis went into the Jordan river and conducted a lottery there, deciding to throw their pens into the river. The pen that remained afloat and idle would indicate that its owner would take care of Maryam.
When they threw their pens into the river, the water took all the pens under, except Zakariyya's pen, which remained afloat in its place.
Zakariyya was also their master, chief, scholar, Imam and Prophet, may Allah's peace and blessings be on him and the rest of the Prophets."
And, mention, when the angels, namely, Gabriel, said, 'O Mary, God has preferred you, He has elected you, and made you pure, of the touch of men; He has preferred you above all women of the worlds, that is, the inhabitants of your time.
Commentary
1. In verse 42, the sentence: وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (and has chosen you over women of all the worlds) refers to all women in that period of time. Therefore, the statement سیدۃ نسآءِ اھل الجنۃ فاطمۃ (Fatimah is the foremost among women of the Paradise) appearing in hadith does not contradict it.
2. It will be noticed that, in the last sentence of verse 43: