ٱلْأَعْرَاف ١٠٧
- فَأَلۡقَىٰ maka ia menjatuhkan
- عَصَاهُ tongkatnya
- فَإِذَا maka tiba-tiba
- هِيَ ia (tongkat)
- ثُعۡبَانٞ ular
- مُّبِينٞ nyata
Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya.
(Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya) yakni ular yang sangat besar bentuknya.
Tafsir Surat Al-A'raf: 107-108
Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, lalu seketika itu juga (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.
Dan dia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihatnya.
Ayat 107
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Ular yang nyata.” (Al-A'raf: 107)
Yakni ular jantan. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh As-Suddi dan Adh-Dhahhak.
Dalam hadits yang menjelaskan tentang fitnah-fitnah, disebutkan melalui riwayat Yazid bin Harun bin Al-Asbag bin Zaid, dari Al-Qasim bin Abu Ayyub, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai makna firman-Nya:
“Maka Musa menjatuhkan tongkatnya.” (Al-A'raf: 107)
Kemudian berubahlah tongkat itu menjadi ular yang besar sambil membuka mulutnya, merayap dengan cepat ke arah Fir'aun. Ketika Fir'aun melihat ular itu berjalan menuju dirinya, ia segera melompat dari singgasananya dan lari meminta tolong kepada Musa untuk menghentikannya, maka Nabi Musa melakukannya.
Qatadah mengatakan bahwa tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat besar. Saking besarnya, hingga dapat dikatakan memenuhi suatu kota. As-Suddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
“Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, lalu seketika itu juga (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.” (Al-A'raf: 107)
Su'ban adalah ular jantan.
Ular itu membuka mulutnya, bagian bawah mulutnya berada di tanah, sedangkan bagian atasnya sampai ke tembok yang paling tinggi dari gedung yang terdekat. Kemudian ular itu berjalan ke arah Raja Fir'aun untuk menelannya. Saat Fir'aun melihat ular itu bergerak ke arahnya, ia merasa ketakutan luar biasa. Ia melompat ketakutan dan terkencing-kencing, padahal ia belum pernah mengalami situasi seperti itu sebelumnya.
Fir'aun menjerit meminta tolong kepada Musa seraya berkata, "Wahai Musa, hentikanlah ular itu, saya mau beriman kepadamu dan saya akan melepaskan kaum Bani Israil pergi bersamamu." Maka Musa a.s. memegang ular itu, dan kembalilah ular itu ke wujud semulanya, yaitu tongkat. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.
Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa ketika Musa masuk menemui Fir'aun, berkatalah Fir'aun kepadanya, "Engkau tentu telah mengenalku?" Musa menjawab, "Ya." Maka Fir'aun berkata, seperti dalam firman-Nya:
“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, sewaktu kamu masih kanak-kanak?” (Asy-Syu'ara: 18)
Lalu Fir'aun berkata, "Hentikanlah ular ini!" Maka Musa segera menghentikannya.
“Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, lalu seketika itu juga (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.” (Al-A'raf: 107)
Kemudian ular itu menyerang orang-orang dari kaum Fir'aun, maka mereka lari ketakutan, dan dua puluh lima ribu orang dari mereka mati, sebagian dari mereka terbunuh oleh sebagian yang lainnya (karena kepanikannya), dan Fir'aun sendiri melarikan diri dan masuk ke dalam istananya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dan Imam Ahmad di dalam kitab Az-Zuhd-nya serta Ibnu Abu Hatim, tetapi di dalam teksnya terkandung garabah (keganjilan).
Ayat 108
Firman Allah ﷻ: “Dan dia mengeluarkan tangannya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihatnya.” (Al-A'raf: 108)
Yakni Musa mengeluarkan tangannya dari leher bajunya sesudah ia memasukkannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya, bukan karena penyakit kulit atau penyakit lainnya.
Hal ini diungkapkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:
“Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih (bersinar) bukan karena penyakit.” (An-Naml: 12), hingga akhir ayat.
Di dalam hadits yang menerangkan perihal fitnah-fitnah, Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna min gairi sauin ialah bukan karena penyakit. Kemudian Musa memasukkannya kembali ke leher bajunya, maka tangannya kembali kepada keadaan semula. Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Mendengar tantangan itu, lalu serta merta dan tanpa selang waktu yang lama, Nabi Musa melemparkan tongkatnya yang ada di tangan kanan ke hadapan Fir'aun dan kaumnya, tiba-tiba tongkat itu berkat kekuasaan Allah berubah menjadi ular besar yang sebenarnya, yakni benarbenar ular dan bergerak dengan sangat cepat yang terlihat dengan mata kepala secara jelas. Melihat itu, Fir'aun meminta bukti yang lain, dan dia Nabi Musa mengeluarkan tangannya dari dalam lubang leher bajunya, tiba-tiba tangan itu, yang sebelumnya berwarna hitam sesuai warna kulitnya yang kehitam-hitaman, menjadi bercahaya putih gemerlapan, yang tampak jelas bagi orang-orang yang melihatnya ketika itu, bukan karena belang atau penyakit, tetapi putih karena sangat bercahaya.
.
Tantangan Firaun itu segera dijawab oleh Nabi Musa dengan memperlihatkan dua macam mukjizatnya. Pertama Musa menjatuhkan tongkatnya ke tanah, tiba-tiba tongkat tersebut menjadi seekor ular besar yang mempunyai sifat-sifat ular secara biologis, dapat bergerak dan berjalan dengan sesungguhnya, berbeda dengan ular yang diciptakan para pesihir pada masa itu, yang hanya nampak seolah-olah seperti ular yang bergerak, padahal tidak demikian. Orang-orang melihat benda itu seperti bergerak, karena pikiran mereka telah dipengaruhi terlebih dahulu oleh para pesihir tersebut. Berbeda halnya ular yang menjelma dari tongkat Nabi Musa itu.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PERJUANGAN MUSA A.S.
“Kemudian, Kami bangkitkan sesudah mereka itu Musa dengan ayat-ayat Kami kepada fir'aun dan orang-orang besarnya."
(pangkal ayat 103)
Sesudah Allah mengisahkan perjuangan nabi-nabi itu; Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu'aib, dan sesudah Allah memberikan ilmu tentang keadaan mulai mengisahkan tentang Dia membangkitkan atau menimbulkan seorang rasul lagi, yaitu Musa menghadapi Fir'aun.
Kisah Musa di dalam Al-Qur'an adalah kisah yang selalu diulang-ulangkan. Sebab, perjuangan sekalian rasul sejak Nabi Nuh a.s. sampai kepada Nabi Isa a.s., jika diperbandingkan dengan kisah Musa, adalah kisah perjuangan beliau ini yang paling hebat berbelit-belit. Tujuan perutusan beliau adalah memerdekakan Bani Israil dari perbudakan dan penindasan Fir'aun. Untuk mencapai tujuan itu, beliau terlebih dahulu wajib menghadapi Fir'aun itu sendiri dan kekuasaan orang-orang besar yang mengelilingi Fir'aun. Sebab, kejahatan seorang diktator kebanyakan adalah bisikan-bisikan orang-orang besar pengambil muka yang mengelilinginya. Oleh sebab itu, perjuangan beliau hampir menyerupai perjuangan Muhammad ﷺ Sebab, kedatangan Musa sama dengan kedatangan Muhammad ﷺ, yaitu membawa ajaran agama dan membentuk suatu umat yang akan menampung agama itu dan menegakkan kekuasaan. Sebab itu, dapatlah dipahami kalau kisah Musa selalu diulang-ulangkan, baik pada surah-surah yang diturunkan di Mekah ataupun setelah berada di Madinah. Setelah itu pula maka Nabi yang paling banyak nama beliau tersebut dalam Al-Qur'an, ialah Nabi Musa. Tidak kurang dari 135 kali. Tidak ada nabi lain yang sebanyak itu namanya tersebut dalam Al-Qur'an. Kisah beliau yang panjang ada dalam surah al-A raaf ini dan ada dalam surah Thaahaa, surah asy-Syu'araa', surah al-Qashash, surah Yuunus, surah Hud, dan lain-lain, yang semuanya turun di Mekah dan tersebut pula dalam surah al-Baqarah (Madinah), ketika membicarakan kekufuran Bani Israil.
Di sini tersebut: ‘tsumma ba'atsna' (…) artinya, ‘Kemudian Kami bangkitkan'. Sedang nabi-nabi yang disebutkan terdahulu tadi disebut ‘arsalna' (…) artinya, ‘Kami utus'. Dapatlah kita pahamkan bahwa kata ‘Kami' bangkitkan lebih berat daripada kata ‘Kami' utus.
Nama Musa itu sendiri adalah bahasa Kopti tua, gabungan di antara dua kalimat yaitu “Mu" dan “Sa". “Mu" artinya air dan “Sa" artinya pohon, jadi, Pohon Air. Demikian menurut riwayat Abusy-Syaikh dari Ibnu Abbas. Dinamai demikian sebab dia di waktu kecil dilemparkan ibunya ke dalam sungai Nil, diletakkan di dalam sebuah peti kayu lalu dipungut oleh putri Fir'aun, kemudian dipelihara sebagai anak yang didapat di dalam air dalam peti kayu.
Adapun Fir'aun ialah gelar kebesaran raja-raja Mesir, sebagai kaisar gelar kebesaran raja-raja Romawi, Negus (Najasyi) gelar kebesaran raja-raja besar Habsyi dan Kisra gelar kebesaran raja-raja Iran di zaman purbakala. Sebagai juga raja-raja besar Mongol memakai gelar Khan dan raja-raja Iran sesudah Islam memakai gelar Syah.
Orang Eropa menyebutkan Fir'aun itu Pharaoh. Sama juga menyebut Nerum juga Nero, Alathun jadi Plato. Ibnu Sina jadi Avy Siena, Syirun jadi Cicero, dan sebagainya. Pakai “n" di ujung menurut Arab dan pakai “o" saja menurut ejaan Yunani.
Maka, disebutlah di ayat ini bahwa Musa telah dibangkitkan untuk diutus kepada Fir'aun dan orang-orang besarnya, tiang-tiang kerajaannya. Sebab, seorang raja besar yang berkuasa tidak terbatas itu tidak mungkin naik kalau di kiri kanannya tidak ada orang-orang besar yang mengurbankan seluruh peribadinya buat menggalang kebesaran dan titah raja itu; kedua pihak perlu-memerlukan, naik-menaik-kan, angkat-mengangkat. Diterangkan dalam ayat ini bahwa Nabi Musa datang membawa ayat-ayat, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah, mukjizat yang mengatasi seluruh kekusaan Fir'aun itu sebagaimana akan diuraikan ayat itu satu demi satu kelak. “Namun, mereka telah berlaku zalim terhadap ayat-ayat itu." Artinya, sebagaimana Musa memperlihatkan beberapa ayat-ayat itu, tetapi mereka tidak mau percaya, tetap tidak mau tunduk dan tetap berkeras pada kemegahan mereka.
“Maka, pandanglah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan."
(ujung ayat 103)
Inilah permulaan ayat tentang perjuangan Nabi Musa dengan Fir'aun dan orang besar-besarnya itu di dalam surah al-A'raaf ini menerangkan Musa telah dibangkitkan membawa ayat-ayat tanda kebesaran Allah Yang Maha Esa, tetapi mereka tidak mau menerima. Lalu, diingatkan kepada mereka betapa akibat orang-orang yang menempuh jalan kerusakan itu. Lalu, ayat ini dituruti oleh beberapa ayat yang lain, sebagai uraian daripada pertentangan dari maksud suci Musa mencari penyelesaian dengan maksud Fir'aun
dan orang besar-besarnya mempertahankan kekusutan. Dan, di akliir nanti akan didapati akibat-akibatnya.
“Dan, berkata Musa, ‘Wahai Fir'aun!Sesungguhnya aku ini adalah utusan dari Tuhan Pemelihara seluruh alam.'"
(ayat 104)
Dalam ayat ini diperlihatkan betapa gagah perkasanya utusan Allah Musa itu, yang datang ke dalam istana Fir'aun menyatakan siapa dirinya dan apa tugasnya. Untuk meresapkan betapa besar ayat yang satu ini, pertalikanlah membacanya dengan ayat-ayat yang lain pada surah-surah yang lain. Bahwa Musa itu dibesarkan dalam istana Fir'aun, benar-benar anak pungut yang dipungut hanyut kemudian setelah besar dia lari ke negeri Madyan, sebab tangannya telah terlanjur membunuh seorang Kopti, orang golongan Raja. Sekarang dia datang kembali, membawa suara bahwa dia utusan Allah padahal di masa itu Fir'aunlah yang dipandang orang sebagai Tuhan Yang Mahakuasa dan Fir'aun itu sendiri pun merasa pula demikian. Dia katakan bahwa dia utusan dari rabbul ‘alamin, Tuhan Pemelihara dari seluruh alam dan Fir'aun itu pun termasuk alam juga. Kemudian dia teruskan pula:
“Betul-betul aku tidak mengatakan melainkan yang benar."
(pangkal ayat 105)
Apa yang aku katakan ini bukanlah ucapan main-main. Betul-betul Allah itu yang meng-utusku dan tidak ada Tuhan yang menguasai seluruh alam ini kecuali Dia. “Sesungguhnya aku datang kepada kamu dengan keterangan dari Tuhan kamu." Di sini Musa menegaskan bahwa Tuhan yang mengutus aku itu adalah Tuhan kamu juga karena betapa pun kuasamu, tetapi tidaklah kuasa itu melebihi apa yang telah ditentukan oleh Allah. Kamu mengaku ataupun ingkar, tetapi Allah tetaplah Yang Esa itu juga. Maka, keterangan-keterangan yang
aku sampaikan ini semuanya adalah datang dari Dia, bukan buatanku sendiri saja. Aku ber-cakap yang benar. Dan, disebutkannya sekali lagi maksud kedatangannya yang terutama,
“Maka, biarkanlah bersama aku Bani israil itu."
(ujung ayat 105)
Artinya, lepaskanlah Bani Israil itu dari perbudakan kamu, supaya mereka hidup bebas merdeka. Bebas merdeka melakukan keyakinan agama mereka menyembah Allah Yang Maha Esa, agama ajaran asli dari nenek moyang mereka Ibrahim. Aku datang ke mari menjemput mereka dan hendak membawa mereka ke suatu tempat yang di sana mereka bebas mengerjakan agamanya.
Itulah kedatangan Musa yang pertama menghadap Fir'aun. Dan, dia dengan tegas telah menyatakan bahwa dia bercakap sungguh-sungguh, bukan main-main. Maka, kedatangannya yang pertama itu rupanya masih dipandang enteng oleh Fir'aun. Soal jawab lebih panjang telah dikisahkan pula dalam surah asy-Syu'araa'. Sekarang Fir'aun minta bukti.
“Dia berkata, ‘Jika adalah kedatangan engkau ini dengan suatu ayat maka datangkanlah dia jika adalah engkau dari orang-orang yang benar.
(ayat 106)
Artinya, jika tadi engkau mengatakan bahwa engkau ini bercakap yang benar, tidak main-main, bahwa engkau utusan dari Allah, kalau engkau dapat menunjukkan suatu ayat atau suatu bukti, cobalah datangkan atau cobalah buktikan, aku mau melihat.
“Maka, dilemparkannyalah tongkatnya lalu tiba-tiba dia menjadi satu ular yang nyata."
(ayat 107)
“Dan, dia kembangkan tangannya lalu tiba-tiba dia putih kelihatannya bagi orang-orang yang melihat."
(ayat 108)
Beliau tunjukkanlah bukti bahwa memang dia Rasul Allah. Dilemparkannya tongkatnya ke atas lantai istana itu, tiba-tiba tongkat itu menjelma menjadi seekor ular. Disebut ular yang nyata, artinya bukan hanya karena dipandang sepintas lalu serupa ular, tetapi benar-benar ular!
Niscaya kagum tercenganglah Fir'aun dan orang-orang besarnya yang hadir itu. Setelah itu beliau ambil tongkat itu kembali. Baru saja tercecah tangannya, dia pun kembali kepada keadaannya yang asal, tongkat kayu. Dalam Fir'aun dan orang besar-besar itu tercengang dan terpesona, beliau kembangkan pula tangannya.
Di dalam surah Thaahaa diterangkan bahwa mulanya tangan itu dimasukkannya ke dalam ketiaknya, baru diangkatnya kembali, tiba-tiba timbullah cahaya benderang, putih bersih dari tangan itu.
Di dalam surah Thaahaa ayat 22 dijelaskan lagi bahwa cahaya putih yang keluar dari tangannya itu bukannya suatu penyakit, bukan penyakit balak (sopak), tetapi suatu mukjizat yang memang ganjil. Dan, kedua kejadian itu disaksikan bukan oleh Fir'aun saja, tetapi oleh seluruh orang yang berada di dalam istana pada waktu itu.
Melihat kedua hal yang ajaib ini, timbullah dua kesan pada hati orang besar-besar Fir'aun yang hadir itu.
“Berkata pemuka-pemuka dari kaum Ri ‘aun itu, ‘Sesungguhnya dia ini adalah semang ahli sihir yang berpengetahuan/"
(ayat 109)
“Dia hendak mengeluarkan kamu dari bumi kamu, apakah yang akan kamu perintahkan?"
(ayat 110)
“Mereka berkata, ‘Berilah dia dan saudaranya kesempatan dan kirimlah (utusan-utusan) ke kota-kota buat mengumpulkan orang.'"
(ayat 111)
“Nanti mereka akan datang kepada engkau dengan tiap-tiap ahli sihir yang berpengetahuan. “
(ayat 112)
Keputusan musyawarah seperti ini telah memberikan bayangan kepada kita bahwa orang besar-besar Fir'aun itu memanglah ahli-ahli musyawarah dan ahli-ahli siasat yang piawai. Dan, menunjukkan pula kepada kita bahwa kerajaan mereka teratur. Fir'aun tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap. Biarkan Musa dan Harun bebas, jangan diganggu, tetapi kelak niscaya pengaruh mereka akan hiiang. Setelah pengaruh mereka hilang dan kebencian orang banyak telah timbul, pada waktu itu jika Fir'aun mengambil keputusan menangkap, menghukum atau membunuhnya tidak akan ada bantahan orang banyak lagi.
"Story of Prophet Musa, upon him be Peace, and Fir`awn
Allah said,
ثُمَّ بَعَثْنَا مِن بَعْدِهِم
Then after them We sent,
after the Messengers whom We mentioned, such as Nuh, Hud, Salih Lut and Shu`ayb (may Allah's peace and blessings be on them and the rest of Allah's Prophets), We sent,
مُّوسَى بِأيَاتِنَا
Musa with Our signs,
proofs and clear evidences,
إِلَى فِرْعَوْنَ
to Fir`awn,
who was ruler of Egypt during the time of Musa,
وَمَلَيِهِ
and his chiefs,
the people of Fir`awn,
فَظَلَمُواْ بِهَا
but they wrongfully rejected them,
they denied and disbelieved in the signs, out of injustice and stubbornness on their part.
Allah said about them in another Ayah,
وَجَحَدُواْ بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَأ أَنفُسُهُمْ ظُلْماً وَعُلُوّاً فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَـقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
And they belied them (those Ayat) wrongfully and arrogantly, though they were themselves convinced thereof. So see what was the end of the evildoers. (27:14)
The Ayah says, `those who hindered from the path of Allah and belied in His Messengers, look how We punished them, We caused them to drown, all of them, while Musa and his people were watching.' Public drowning added disgrace to the punishment that Fir`awn and his people suffered, while adding comfort to the hearts of Allah's party, Musa and those people who believed in him.
فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
So see how was the end of the mischief-makers!
Allah mentions a debate that took place between Musa and Fir`awn, and Musa's refuting Fir`awn with the unequivocal proof and clear miracles, in the presence of Fir`awn and his people, the Copts of Egypt.
Allah said,
وَقَالَ مُوسَى يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
And Musa said:""O Fir`awn! Verily, I am a Messenger from the Lord of all that exists"".
meaning Musa said, `the one Who sent me is the Creator, Lord and King of all things,
حَقِيقٌ عَلَى أَن لاَّ أَقُولَ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقَّ
""Proper it is for me that I say nothing concerning Allah but the truth.""
`It is incumbent and a duty for me to convey only the Truth from Him, because of what I know of His might and power.'
قَدْ جِيْتُكُم بِبَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
""Indeed I have come unto you from your Lord with a clear proof.""
`I brought unequivocal evidence that Allah gave me to prove that I am conveying the truth to you,'
فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَايِيلَ
""So let the Children of Israel depart along with me.""
means, release them from your slavery and subjugation. Let them worship your Lord and their Lord. They are from the offspring of an honorable Prophet, Israel, who is Yaqub son of Ishaq son of Ibrahim, the Khalil (intimate friend) of Allah.
قَالَ إِن كُنتَ جِيْتَ بِأيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
(Fir`awn) said:""If you have come with a sign, show it forth, if you are one of those who tell the truth.""
Fir`awn said, `I will not believe in what you have said nor entertain your request'. Therefore, he said, `if you have proof, then produce it for us to see, so that we know if your claim is true.
Allah tells;
فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ
Then (Musa) threw his staff and behold! it was a (Thu`ban) serpent, manifest!
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas commented on Allah's statement,
ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ
(a (Thu`ban) serpent, manifest),
refers to ""The male snake.""
As-Suddi and Ad-Dahhak said similarly.
A report from Ibn Abbas said, ""(
فَأَلْقَى عَصَاهُ
Then (Musa) threw his staff), and it turned into a huge snake that opened its mouth and rushed towards Fir`awn. When Fir`awn ﷺ the snake rushing towards him, he jumped from his throne and cried to Musa for help, so that Musa would remove the snake from his way. Musa did that.""
As-Suddi commented,
فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ
(and behold! It was a (Thu`ban) serpent, manifest!),
""This (Thu`ban) refers to male snakes. The snake opened its mouth and headed towards Fir`awn to swallow him, placing its lower jaw on the ground and its upper jaw reaching the (top of the) wall of the palace. When Fir`awn ﷺ the snake, he was frightened, so he jumped and wet himself and he never wet himself before this incident. He cried, `O Musa! Take it away and I will believe in you and release the Children of Israel to you.'
So Musa, peace be on him, took it, and it became a staff again.""
وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاء لِلنَّاظِرِينَ
And he drew out his hand, and behold! it was white (with radiance) for the beholders.
Musa took his hand out of his cloak after he inserted his hand in it and it was shining, not because of leprosy or sickness.
Allah said in another Ayah,
وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِى جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَأءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ
And put your hand into your bosom, it will come forth white without hurt. (27:12)
Ibn Abbas said,
""without hurt', means, `not because of leprosy'. Musa inserted his hand again in his sleeve and it returned back to its normal color.""
Mujahid and several others said similarly
Fir`awn's People say that Musa is a Magician!
Allah tells;
قَالَ الْمَلُ مِن قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَـذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ
يُرِيدُ أَن يُخْرِجَكُم مِّنْ أَرْضِكُمْ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ
The chiefs of the people of Fir`awn said:""This is indeed a well-versed sorcerer.""
""He wants to get you out of your land, so what do you advise?""
The chiefs and noblemen of the people of Fir`awn agreed with Fir`awn's statement about Musa. After Fir`awn felt safe and returned to his throne, he said to the chiefs of his people,
إِنَّ هَـذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ
(This is indeed a well-versed sorcerer) and they agreed.
They held counsel to decide what they should do about Musa. They conspired to extinguish the light that he brought and bring down his word. They plotted to portray Musa as a liar and fake. They feared that he might lure people to his side by his magic, they claimed, and thus prevail over them and drive them away from their land. What they feared occurred, just as Allah said,
وَنُرِىَ فِرْعَوْنَ وَهَـمَـنَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُواْ يَحْذَرونَ
And We let Fir`awn and Haman and their hosts receive from them that which they feared. (28:6)
After they conferred about Musa, they agreed on a plot, as Allah said about them.
Allah tells;
قَالُواْ أَرْجِهْ وَأَخَاهُ
They said:""Put him and his brother off (for a time),
Ibn Abbas commented,
أَرْجِهْ
(""Put him off""),
means, ""delay him (for a time).""
وَأَرْسِلْ فِي الْمَدَايِنِ
""and send to the cities,""
areas and provinces of your kingdom -- O Fir`awn,
حَاشِرِينَ
""to collect.""
to gather magicians from various lands.
يَأْتُوكَ بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ
""That they bring to you all well-versed sorcerers.""
At this time, magic was the trade of the day and it was widespread and popular. They had the idea that what Musa brought was a type of magic similar to the magic that the sorcerers of their time practiced. Because of this incorrect assumption, they brought all the magicians in order to defeat the miracles that he showed them.
Allah said about Fir`awn,
لَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِّثْلِهِ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِداً لاَّ نُخْلِفُهُ نَحْنُ وَلَا أَنتَ مَكَاناً سُوًى
قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَن يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى
فَتَوَلَّى فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهُ ثُمَّ أَتَى
Then verily, we can produce magic the like thereof; so appoint a meeting between us and you, which neither we nor you shall fail to keep, in an open place where both shall have a just and equal chance.""
(Musa) said:""Your appointed meeting is the day of the festival, and let the people assemble when the sun has risen (forenoon).""
So Fir`awn withdrew, devised his plot and then came back. (20:58-60)"
Then he cast down his staff and lo! it was a serpent, manifest [for all to see], an enormous snake.
The prophet Musa (علیہ السلام) in response to his demand, threw down his staff on the earth, instantly it turned into a serpent: فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ. The word 'thu` ban' in Arabic signifies a huge serpent. The use of the word 'mubin' as an adjective which means 'clear or prominent' is quite descriptive of the fact that this miraculous event took place manifestly before the eyes of the people of the Pharaoh, and it was not performed secretly in a hidden or secluded place as is usually done by magicians. In some historical traditions it has been cited on the authority of the Companion Ibn ` Abbas ؓ that as the serpent moved towards Pharaoh, he jumped from his throne and sought shelter near the prophet Musa (علیہ السلام) and many of his courtiers died of extreme fear. (Tafsir Kabir)
Transformation of the staff into a real serpent is not, in fact, totally impossible as it apparently seems. It is, however, surprising due to being unusual. The miracle has to be an unusual act, beyond the power of a common individual. Allah shows the miracles through His prophets to make people understand that they possess some divine powers and are true prophets of Allah.