ٱلْأَعْرَاف ٨٠
- وَلُوطًا dan Luth
- إِذۡ ketika
- قَالَ dia berkata
- لِقَوۡمِهِۦٓ kepada kaumnya
- أَتَأۡتُونَ mengapa kamu kerjakan
- ٱلۡفَٰحِشَةَ yang keji
- مَا tidak/belum pernah
- سَبَقَكُم dikerjakan kamu
- بِهَا dengannya
- مِنۡ dari
- أَحَدٖ seorang
- مِّنَ dari
- ٱلۡعَٰلَمِينَ semesta alam
Dan (Kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).
(Dan) ingatlah (Luth) kemudian disebutkan badalnya yaitu, (tatkala dia berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu) yakni mendatangi dubur/anus laki-laki (yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia ini sebelummu?") dari kalangan manusia dan jin.
Tafsir Surat Al-A'raf: 80-81
Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka, "Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?"
Sesungguhnya kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas."
Ayat 80
Firman Allah ﷻ: “Dan Luth.” (Al-A'raf: 80)
Bentuk lengkapnya ialah:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Luth. Ingatlah ketika ia berkata kepada kaumnya.”
Luth adalah Ibnu Haran ibnu Azar, yaitu anak saudara lelaki Nabi Ibrahim Al-Khalil a.s. Dia telah beriman bersama Nabi Ibrahim a.s. dan hijrah ke tanah Syam bersamanya. Kemudian Allah mengutus Nabi Luth kepada kaum Sodom dan daerah-daerah sekitarnya untuk menyeru mereka agar menyembah Allah ﷻ, memerintahkan mengerjakan kebajikan, dan melarang mereka melakukan perbuatan mungkar.
Saat itu kaum Sodom tenggelam di dalam perbuatan-perbuatan yang berdosa, hal-hal yang diharamkan, serta perbuatan keji yang mereka adakan sendiri dan belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan Bani Adam dan yang lainnya. Yaitu mendatangi jenis laki-laki, bukannya jenis perempuan (homoseks).
Perbuatan ini merupakan suatu hal yang belum pernah dilakukan oleh umat manusia, belum dikenal dan belum pernah terlintas dalam hati dan pikiran mereka untuk melakukannya selain penduduk Sodom, semoga laknat Allah senantiasa menimpa mereka.
Amr ibnu Dinar telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
“Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian?" (Al-A'raf: 80)
Amr ibnu Dinar berkata, "Tidak ada seorang lelaki pun yang menyetubuhi lelaki lain kecuali kaum Nabi Luth yang pertama-tama melakukannya."
Al-Walid ibnu Abdul Malik Khalifah Umayyah, pendiri masjid Dimasyq (Damaskus) mengatakan, "Seandainya Allah ﷻ tidak menceritakan kepada kita mengenai berita kaum Nabi Luth, niscaya saya tidak akan percaya dan membayangkan bahwa ada lelaki bersetubuh dengan laki-laki lain.” Karena itulah maka Nabi Luth mengatakan kepada kaumnya, seperti yang difirmankan oleh Allah ﷻ:
Ayat 81
“Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan.” (Al-A'raf: 80-81)
Yakni mengapa kalian enggan dan berpaling terhadap kaum wanita yang telah diciptakan oleh Allah untuk kalian, justru kalian menyukai sesama laki-laki.
Hal ini merupakan perbuatan yang melampaui batas dan suatu kebodohan kalian sendiri, karena perbuatan seperti itu berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Karena itulah dalam ayat yang lain disebutkan bahwa Nabi Luth berkata kepada kaumnya:
“Inilah putri-putriku (kawinilah mereka), jika kalian hendak berbuat (secara halal).” (Al-Hijr: 71)
Nabi Luth memberikan petunjuk kepada mereka untuk mengawini putri-putrinya. Tetapi mereka merasa keberatan dan beralasan tidak menginginkannya. Mereka menjawab, "Sesungguhnya engkau pasti tahu bahwa kami tidak mempunyai hasrat (syahwat) terhadap puteri-puterimu dan engkau tentu mengetahui apa yang (sebenarnya) kami kehendaki." (Hud: 79)
Yaitu sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kami tidak berselera terhadap putri-putrimu, tidak pula mempunyai keinginan terhadap mereka. Sesungguhnya engkau pun mengetahui apa yang kami maksudkan.
Para ahli tafsir mengatakan bahwa kaum lelaki mereka melampiaskan nafsunya kepada lelaki lain. Demikian pula kaum wanitanya, sebagian dari mereka merasa puas dengan sesama wanita yang lainnya.
Setelah menuturkan kisah kaum Samud yang binasa disambar petir akibat kedurhakaan mereka, selanjutnya Allah menyebutkan kisah yang lain, yakni Nabi Lut beserta kaumnya. Dan Kami juga telah mengutus Nabi Lut. Ingatlah ketika dia berkata dengan nada keras kepada kaumnya yang ketika itu melakukan kedurhakaan besar, Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yakni perbuatan teramat buruk, yaitu homoseksual, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun di zaman apa pun sebelum kamu di dunia ini' Nabi Lut berharap dengan ucapannya, mereka sadar dan meninggalkan perbuatan itu. Sungguh, kamu benar-benar telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki dengan mendatangi mereka dari duburnya, bukan kepada perempuan yang seharusnya kepada merekalah kamu menyalurkan naluri seksualmu. Kamu telah melakukan perbuatan yang sangat keji dan rendah serta durhaka. Bahkan kamu benar-benar kaum yang melampaui batas karena melakukan pelampiasan syahwat bukan pada tempatnya, menyimpang dari fitrah manusia.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Lut untuk menyampaikan agama kepada kaumnya agar mereka menyembah Allah, dan Nabi Lut bertanya kepada mereka dengan nada keras, "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu" dengan harapan mereka sadar untuk meninggalkan prilaku keji itu. Kaum Nabi Lut adalah orang yang pertama kali melakukan sodomi (homoseks) maka mereka mendapatkan dosa seperti dosa orang yang menirunya, sebagaimana diterangkan dalam hadis:
"Orang yang membuat suatu kebiasaan buruk dalam Islam, lalu kebiasaan buruk itu dikerjakan sesudahnya, maka ia akan menanggung seperti dosa orang yang melakukan kebiasaan buruk itu." (Riwayat Muslim)
Hadis lain menerangkan:
"Orang yang mengajak kepada jalan yang benar maka ia mendapat ganjaran sama banyaknya dengan ganjaran yang diberikan kepada pengikut-pengikutnya dan hal itu tidak sedikit pun mengurangi ganjaran mereka itu, dan orang yang mengajak berbuat kejahatan maka ia mendapat dosa sama banyaknya dengan dosa pengikut-pengikutnya dan hal itu tidak dikurangi sedikit pun dari dosa mereka itu." (Riwayat Muslim)
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan tujuan mengembangkan keturunan manusia guna memakmurkan alam ini. Pada masing-masing jenis memiliki nafsu birahi yang mendorong terwujudnya kebutuhan bertemunya kedua jenis manusia ini sebagai sarana untuk mengembangbiakan manusia.
Perempuan dalam bentuk kejadiannya adalah indah, halus dan menarik. Antara laki-laki dan perempuan terjadi saling tarik-menarik laksana tarikan antara positif dan negatif. Jika manusia seperti itu, alangkah ganjilnya bila ada golongan manusia yang menyimpang dari ketentuan Allah itu. Alangkah besarnya pelanggaran terhadap kemanusiaan yang dilakukan seseorang laki-laki dengan menggauli laki-laki lain dengan tujuan bukan untuk mengembangkan keturunan.
Jika saling membunuh dinilai sebagai sesuatu yang buruk, maka perbuatan kaum Nabi Lut ini dapat dikatakan lebih buruk dan dapat menjatuhkan derajat manusia dan kemanusiaan sehingga lebih rendah dari hewan. Hal ini karena hewan jantan tidak ada yang berhubungan dengan jantan pula sebagaimana yang dilakukan umat Nabi Lut. Ketetapan Allah berkaitan dengan hal ini, adalah laki-laki untuk perempuan dan perempuan untuk laki-laki. Kaum Lut bukan saja ingkar kepada Allah dan tidak bersyukur atas nikmat-Nya, tetapi juga melakukan homoseksual yang akhirnya juga mendorong para wanita melakukan lesbian (saling berhubungan sesamanya). Allah mengutus Nabi Lut kepada kaum seperti ini untuk menyampaikan ajaran Allah agar mereka kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan kelakuan yang buruk dan bertentangan dengan sunatullah. Karena mereka menolak seruan Lut, maka Allah membinasakan kaum tersebut.
Nabi Lut adalah anak Haran bin Tarikh. Tarikh adalah saudara Nabi Ibrahim. Lut dilahirkan di daerah tepian timur dari selatan Irak yang dahulunya dinamakan Babilon. Atas kehendak Nabi Ibrahim, Lut berdiam di kota Sodom salah satu kota di daerah Yordania. Lut wafat di sekitar Yordan dahulu terkenal dengan nama Laut Lut.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
NABI LUTH DAN KAUMNYA
Dan Luth, tatkala dia berkata kepada kaumnya,
“Apakah kamu perbuat suatu kekejian, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari isi alam ini."
(ayat 80)
Sekarang, berkisar pula kepada Nabi Luth dan kaumnya. Menurut ranji-ranji nasab, baik yang ada di dalam ingatan orang Arab ataupun yang tersebut di dalam Perjanjian Lama (Kitab Kejadian), Nabi Luth ini adalah anak saudara dari Nabi Ibrahim, yang bernama Haran. Ketika Nabi Ibrahim berpindah meninggalkan kampung halamannya yang bernama Ur Kal-dan itu, di tanah Babil, kemenakannya Luth itu telah beliau bawa bersama dia. (Lihat surah al-Anbiya ayat 71) Nabi Ibrahim memilih Tanah Kapaan menjadi tempat kediamannya, dan Luth beliau tetapkan di tanah Syarqil Urdon (Trans Yordaria). Di tepi-tepi Laut Mati (Dead Sea) itu terdapat lima buah negeri, yaitu Sadum, Amurrah, Adma, Sabubim dan Bala' Nabi Luth tinggal di desa yang paling besar di antara kelima desa itu, yaitu Sadum (Sodom). Penghidupan beliau ialah memelihara ternak, kambing, dan lembu sampai berkembahg biak.
Dipilih Allah-lah Luth menjadi Rasul buat kaum itu. Namun, di dalam kelima negeri itu, terutama sekali di negeri yang lebih besar itu, yaitu Sadum (Sodom), telah berjangkit suatu kehancuran akhlak yang sangat rendah, yaitu orang laki-laki lebih bersyahwat memandang sesama laki-laki, terutama dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Penyakit ini pindah-memindah, menular, dan menjalar, sebab pemuda yang sudah pernah dibegitukan oleh yang lebih tua, berbuat begitu pula kelak kepada yang lebih muda, demikian terus-menerus sehingga orang perempuan tidak begitu dipedulikan lagi. Maka diutus Allah Luth ke negeri itu, yang terkenal karena lebih besar ialah Sadum dan Amurrah (disebut oleh orang Eropa Sodom dan Gemorrah). Beliau diberi risalah (tugas suci) oleh Allah, mengajak kaum itu kembali pada tauhid, mengesakan Allah dan meninggalkan perangai yang sangat buruk dan busuk itu. Pada ayat ini dijelaskan bunyi teguran Nabi Luth kepada mereka bahwa perbuatan mereka yang keji, buruk, dan busuk itu belum pernah dikerjakan seorang pun seisi alam yang ada di waktu itu sehingga bolehlah disebutkan bahwa kaum yang mula-mula berbuat demikian di dunia ini ialah penduduk Sodom dan Gemorrah (Sadum dan Amurrah) itu.
“Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki dengan syahwat, bukan kepada perempuan."
(pangkal ayat 81)
Apakah penyakit jiwa yang lebih busuk dan buruk dari ini? Tidak timbul syahwat melihat perempuan, tetapi terbit nafsu dan menjelijih (ngiler) selera melihat laki-laki muda? Kata orang sekarang, jiwa orang yang semacam ini sudah sangat abnormal. Kalau akhlak sudah demikian rusak, martabat manusia sudah jatuh lebih hina daripada binatang. Sebab, binatang, walaupun bagaimana kebinatangannya, baik burung atau makhluk berkaki empat, yang jantan tetap mencari yang betina.
Meskipun binatang itu mempunyai syahwat hendak bersetubuh, tujuan setubuhnya mereka sangat terang, yaitu hendak mendapat keturunan. Burung-burung setelah mendapat pasangan jantan dan betina, sambil berkasih-kasihan, mereka membuat sarang, untuk si betina kelak bertelur, mengeram, dan menetas. Walaupun anjing kadang-kadang membuat malu dalam cara persetubuhannya, dan kucing bersorak-sorak sepenuh kampung di musimnya bersetubuh, keadaan tujuan setubuh mereka itu sangat jelas, yaitu karena menginginkan keturunan. Setelah tugas naluri itu selesai, mereka menunggu keturunan dan keadaan mereka balik sebagai semula. Namun, kalau manusia timbul syahwat setubuh terhadap sesama laki-laki, nyatalah betul-betul syahwat yang telah melampaui dari batas kemanusiaan, bahkan telah melampaui pula dari batas kebinatangan. Oleh sebab itu, ujung teguran Nabi Luth ialah,
“Bahkan kamu ini adalah satu kaum yang telah terlampau."
(ujung ayat 81)
Di dalam ayat, Nabi Luth menyebut mereka kaum yang musrifuun. Kita ambil saja satu di antara artinya, yaitu “sudah terlampau", atau “sudah terlalu". Kalimat ini dapat diartikan melampaui batas. Dan, dapat juga diartikan berlebih-lebihan, boros, membuang-buang harta, atau membuang-buang tenaga pada yang tidak berfaedah. Dengan membaca musrifuun, terkandunglah semua anti untuk kaum Nabi Luth itu. Orang yang sudah sangat durhaka dan tidak ditegur memang disebut terlampau. Orang yang keras kepala memang disebut terlalu. Dan, lebih tepat lagi kalau musrifuun itu diartikan boros, membuang-buang tenaga, atau berlebih-lebihan. Sebab, dengan menyetubuhi sesama lelaki mereka telah jadi musrifuun, membuang-buang air mani, yang terbuang percuma sebab tidak dipertemukan dengan mani perempuan untuk jadi keturunan yang baik. Lantaran itu pula orang yang ditimpa penyakit ini keluarlah dari batas sebagai manusia yang berharga, lebih hina dari binatang yang melata. Sebab, menurut penyelidikan ahli-ahli ilmu jiwa, baik yang lama atau yang modern, orang yang seperti ini tidak ada keinginannya hendak menikah dan hendak kawin dengan perempuan lagi. Dan, meskipun dia telah beristri, menyuruh laki-laki yang disukainya itu untuk menyetubuhi istrinya sendiri, asal laki-laki itu mau dipakainya pula. Dan, ada pula yang lebih buruk lagi sakitnya, yaitu kalau orang ini telah mulai tua, dan tidak sanggup lagi mendatangi, dia sendiri minta didatangi laki-laki lain yang lebih muda. Dia, mau memberi uang untuk mengupah orang yang mau mendatanginya. Karena perempuan tidak diberi kepuasan setubuh oleh laki-laki, penyakit semacam ini bisa pula berjangkit di kalangan perempuan sesama perempuan. Dapatlah dikira-kirakan sendiri bagaimana jatuhnya akhlak penduduk Sadum dan Amurrah lantaran menularnya penyakit ini. Inilah yang ditegur oleh Luth dengan risalah suci yang diturunkan Allah kepada beliau. Di dalam ayat 80 tadi dikatakan bahwa sebelum itu belum ada seorang pun manusia di dalam alam yang dikenal di masa itu berbuat demikian.
Oleh karena itu, dipandanglah bahwa penduduk Sadum dan Amurrah telah membuat contoh yang buruk buat seluruh alam, sampai hari Kiamat, selama manusia masih ada dalam dunia ini berbuat begitu sehingga oleh orang Eropa orang yang berpenyakit begini disebut Sodomi. Kena penyakit kaum Sodom. Dan, oleh orang Arab disebut, “Berbuat perbuatan kaum Luth."
Akhlak mereka telah demikian rusaknya sehingga teguran suci dari Nabi Luth itu telah mereka jawab,
Dan tidaklah ada jawab kaumnya, melainkan bahwa mereka berkata,
“Keluarkanlah mereka itu dari desa kamu, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang ingin suci."
(ayat 82)
Ayat ini menegaskan betapa telah sangat hancurnya akhlak mereka. Hanya satu saja jawab mereka atas seruan Nabi Luth itu, tidak ada jawab lain, tidak ada sambutan hendak tobat, yaitu jawab yang menunjukkan bahwa mereka tidak ada maksud sedikit pun hendak meninggalkan perangai itu, malahan mereka berkata kepada sesama mereka supaya usir saja Luth dan sekalian orang yang membenci perbuatan keji dan nista itu dari dalam negeri mereka. Biarlah kami di negeri ini tetap dengan perangai kami. Biar kami dikatakan kotor, keji, cabul, nista, busuk; suka hati kami. Siapa-siapa yang akan ingin hidup suci, tidak mau bermain laki-laki bersama laki-laki, yang ingin teguh beribadah kepada Allah, boleh segera meninggalkan negeri ini.
Di segala zaman pun ada saja orang yang berkata seperti ini. Ada orang yang asyik ber-senda gurau minum arak, berbuat cabul, berseloroh dengan perkataan-perkataan yang kotor maka kalau dalam majelis itu ada orang yang berani menegur, dia pun akan dicemooh dan diusir dengan halus, “Keluarlah saudara dari tempat kami ini karena saudara orang suci, orang santri, sedang kami ini adalah orang kotor!"
Kadang-kadang orang yang masih bertahan dengan kehendak agama, akan dicap “Dia itu Muhammadiyah. Jangan main-main dekat dia!"
Di surah-surahyanglain disebutkan bahwa Allah mengirim beberapa orang malaikat, merupakan diri sebagai anak laki-laki muda, datang membawa adzab Allah ke negeri itu, sebagai tersebut dalam surah adz-Dzaariyaat dan al-Hijr. Malahan malaikat-malaikat utusan Allah itu yang menjadi tetamu Nabi Luth, mereka minta supaya segera dikeluarkan dan serahkan kepada mereka karena hendak mereka setubuhi. Ketika Luth menawarkan supaya mengawini anak perempuannya saja, telah mereka tolak dengan marah. Mereka tidak tahu bahwa 6 orang laki-laki muda itu adalah penjelmaan malaikat-malaikat, diutus Allah ke negeri mereka itu untuk menghancurleburkan mereka.
“Apabila orang telah berlaku aniaya kepada Ahli Dzimmah (yaitu pemeluk agama Nasrani dan Yahudi dalam perlindungan negara Islam; Pen) maka negara itu adalah negara musuh, dan apabila telah banyak terjadi zina, akan banyaklah gadis-gadis Islam dirampas orang lain sebagai tawanan dan apabila telah banyak kejadian laki-laki menyetubuhi laki-laki maka Allah akan mencabut tangan-Nya dari makhluk sehingga tidak diketahui di lembah mana mereka akan hancur binasa." (HR at-Tirmidzi, ath-Thabrani, dan al-Hakim)
Dan, ada lagi beberapa hadits yang lain. Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ yang diminta pertimbangannya oleh Sayyidiria Abu Bakar ketika beliau jadi khalifah, apa hukuman bagi kedua orang yang mendatangi dan didatangi itu karena pernah ada tertangkap basah, semuanya memutuskan wajib kedua orang itu dibunuh. Di antara yang memberikan pertimbangan bunuh itu ialah Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas. Imam Syafi'i pun berpendapat, hukumnya ialah bunuh keduanya. Ali berpendapat cara membunuhnya ialah dipotong dengan pedang, kemudian dibakar. Umar dan Utsman berpendapat agar dilemparkan dari tempat tinggi ke bawah sampai hancur.
Penyakit Sodom ini banyak menular jika suatu negeri sudah sangat maju dalam soal kemewahan. Orang menjadi bosan dengan perempuan. Salah satu rahasia orang besar-besar pemerintah kolonial Belanda dekat-dekatnya akan jatuh telah terbuka dan membuat malu ialah ketika terjadi penangkapan besar-besaran di Jakarta dan kota-kota lain, sampai menjalar ke Kota Medan, terhadap beberapa pegawai tinggi Belanda karena mereka mendirikan perkumpulan (club) dari orang-orang yang menyukai laki-laki, sampai kirim-mengirim gambar dan pesan-memesan orang. Tidak berapa tahun sesudah kejadian yang amat memalukan itu, hancur leburlah pemerintahan Hindia Belanda karena serbuan bala tentara Jepang, dan orang-orang Belanda sendiri tidak bisa mempertahankan lagi karena semangat sudah sangat remuk oleh kemewahan. Dan, hal yang memalukan ini pernah pula kejadian di negeri Inggris, yaitu seorang Yang mulia M enteri tertangkap basah sedang menyetubuhi seorang serdadu muda penjaga istana Buckingham. Padahal, dalam surat kabar-surat kabar Inggris hal itu tidak dibesar-besarkan, dipandang hal yang lumrah atau hal yang umum saja, dan di muka hakim “Yang mulia Menteri" didenda saja beberapa pound, dan diberi nasihat, lain kali jangan bikin lagi. Sehabis membayar benda beliau pulang dan kabinet tidak krisis, lantaran kesalahan yang hanya itu.
Maka janganlah orang bertanya, “Mengapa Kerajaan Inggris belum juga menerima aki-batnya?"
Itu hanya soal tempo. Sebab kalau akhlak sudah sampai demikian, tidaklah dapat ditahan lagi keruntuhan itu.
Apabila kita kemukakan kedua contoh ini, baik di Indonesia pada zaman kekuasaan Belanda telah dekat runtuh, atau di negeri Inggris sehabis Perang Dunia II, bukanlah berarti bahwa penyakit ini tidak terdapat dalam daerah-daerah atau negeri-negeri Islam. Penyakit manusia sama. Oleh karena itu, rasul-rasul diutus kepada Bani Adam. Jangan kita membongkar kesalahan orang lain, dan menutup cacat kita sendiri. Jika kemewahan telah menjadi “bubuk makan kayu" terhadap jiwa, dan nilal-nilai ruhani mulai jatuh, dan beragama telah menjadi kepalsuan dan munafik, baik di negeri-negeri Islam maupun di negeri-negeri Kristen, hal ini akan ketemu.
Salah satu kebiasaan orang-orang India beberapa puluh tahun yang lalu, baik dia beragama Hindu maupun beragama Islam, adalah mengulurkan ujung baju kemeja keluar celana (tidak dimasukkan ke dalam celana). Di atas kemeja terulur ujung itulah kelaknya mereka pakai baju. Kononnya, timbul kebiasaan yang ganjil itu karena orang-orang yang telah sakit syahwatnya menyukai laki-laki, timbul seleranya melihat pinggul orang laki-laki. Itu sebabnya, pinggul ditutup dengan ujung kemeja yang dikeluarkan itu.
Di negara-negara Barat timbul bosan orang melihat perempuan karena sudah terlalu murah dan cayah, seluruh tubuh perempuan bisa dilihat pada tempat-tempat pemandian sehingga syahwat sudah bosan dan muak karena sudah terlalu terbuka. Lantaran itu timbullah suatu golongan orang yang patah seleranya melihat perempuan, lalu bersyahwat jika melihat laki-laki muda sehingga sebagai kita katakan tadi, ada “menteri" yang kena penyakit itu. Maka, di beberapa negeri Timur dapat pula sebab yang lain, yaitu karena dari sangat tertutupnya perempuan, tidak bisa ditengok, tidak bisa dilihat sehingga bergaul hanya laki-laki sesama laki-laki saja, dan di beberapa negeri, mahar (maskawin) terlalu tinggi sehingga sukar untuk kawin, sedangkan syahwat bangkit-bangkit juga. Di tempat-tempat demikian penyakit ini merajalela.
Wili Durant dalam History of Civilitation menulis bahwa penyakit seperti ini pun sangat menular pada zaman Yunani dan Romawi purbakala, juga di India purbakala. Yaitu, apabila kemewahan telah amat memuncak.
Kadang-kadang menular juga penyakit ini di dalam biara tempat hanya bergaul pendeta-pendeta saja, dan terdapat juga di pondok-pondok asrama orang Islam sendiri, orang belajar mengaji, tetapi itulah yang bertemu. Biksu-biksu Budha yang benci kepada kawin, mengasihi biksu yang lebih muda.
Lantaran itu, tidaklah heran jika beberapa ulama fiqih mengeluarkan fatwa haram melihat pemuda amrad, yaitu pemuda yang belum tumbuh kumisnya. Abdurrahman ibnul Jauzi di dalam karangannya, Talbis Iblis (Tipu Daya Iblis), menerangkan betapa hebat per-dayaan dan rayuan iblis dan setan kepada orang-orang yang hidup dalam zawiyah kaum sufi dengan perantaraan pemuda-pemuda yang manis ini.
Inilah penyakit yang oleh ahli-ahli diriamai homoseksual, mencintai yang sejenis, yang oleh Nabi Luth telah diriyatakan cara mengatasinya pada tingkat pertama, yaitu mendidik diri mendekati Allah dengan tauhid dan ma'rifat yang benar, dan menahan diri daripada kemewahan. Dan, pada zaman kita sekarang ini ialah dengan mempermudah perkawinan.
The Story of Prophet Lut, upon Him be Peace, and His People
Allah said,
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّن الْعَالَمِينَ
And (remember) Lut, when he said to his people:Do you commit lewdness such as none preceding you has committed in all of the nations!
Lut (Lot) is the son of Haran the son of Azar (Terah), and he was the nephew of Ibrahim, peace be upon them both.
Lut had believed in Ibrahim and migrated with him to the Sham area. Allah then sent Lut to the people of Sadum (Sodom) and the surrounding villages, to call them to Allah, enjoin righteousness and forbid them from their evil practices, their sin, and wickedness. In this area, they did things that none of the children of Adam or any other creatures ever did before them. They used to have sexual intercourse with males instead of females. This evil practice was not known among the Children of Adam before, nor did it even cross their minds, so they were unfamiliar with it before the people of Sodom invented it, may Allah's curse be on them.
Amr bin Dinar commented on;
مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّن الْعَالَمِينَ
(...as none preceding you has committed in all of the nations),
Never before the people of Lut did a male have sex with another male.
This is why Lut said to them,
أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّن الْعَالَمِينَ
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاء
Do you commit lewdness such as none preceding you has committed in all of the nations Verily, you practice your lusts on men instead of women.
meaning, you left women whom Allah created for you and instead had sex with men! Indeed, this behavior is evil and ignorant because you have placed things in their improper places. Lut, peace be upon him, said to them:
هَوُلاء بَنَاتِي إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ
(these (the girls of the nation) are my daughters (to marry lawfully), if you must act (so)). (15:71) So he reminded them of their women, and they replied that they do not desire women!,
قَالُواْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِى بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ
They said:Surely, you know that we have neither any desire nor need of your daughters, and indeed you know well what we want! (11:79)
meaning, you know that we have no desire for women and you know what we desire with your guests.
And Allah said;
بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ
Nay, but you are a people transgressing beyond bounds.
Allah tells;
وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَن قَالُواْ أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ
And the answer of his people was only that they said:Drive them out of your town, these are indeed men who want to be pure (from sins)!
So they answered Prophet Lut by trying to expel and banish him from their village, along with those who believed with him.
Allah indeed removed Prophet Lut safely from among them, and He destroyed them in their land in disgrace and humiliation.
They said (about Lut and the believers):
إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ
These are indeed men who want to be pure (from sins)!
Qatadah commented,
They shamed them (Lut and the believers) with what is not a shame at all.
Mujahid commented,
(Lut's people said about Lut and the believers,) They are a people who want to be pure from men's anuses and women's anuses!
Similar was narrated from Ibn Abbas
Allah tells;
فَأَنجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ
Then We saved him and his family, except his wife; she was of the Ghabirin (those who lagged behind).
Allah says, We saved Lut and his family, for only his household believed in him.
Allah said in another Ayah,
فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُوْمِنِينَ
فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ
So We brought out from therein the believers. But We found not there any household of the Muslims except one (of Lut and his daughters). (51:35-36)
Only his wife (from his family) did not believe, remaining on the religion of her people. She used to conspire with them against Lut and inform them of who came to visit him, using certain signals that they agreed on. This is why when Lut was commanded to leave by night with his family, he was ordered not to inform his wife or take her with him.
Some said that she followed them, and when the torment struck her people, she looked back and suffered the same punishment as them.
However, it appears that she did not leave the town and that Lut did not tell her that they would depart. So she remained with her people, as apparent from Allah's statement,
إِلاَّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
except his wife; she was of the Ghabirin.
meaning, of those who remained, or they say:of those who were destroyed, and this is the more obvious explanation.
Allah's statement
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَرًا
And We rained down on them a rain,
is explained by His other statement,
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنْضُودٍ
مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبّكَ وَمَا هِى مِنَ الظَّـلِمِينَ بِبَعِيدٍ
And rained on them stones of baked clay, in a well-arranged manner one after another. Marked from your Lord; and they are not ever far from the wrongdoers. (11:82-83)
Allah said here,
فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ
Then see what was the end of the criminals.
This Ayah means:`See, O Muhammad, the end of those who dared to disobey Allah and reject His Messengers.'
Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidhi, Ibn Majah, all recorded a Hadith (from) Ibn Abbas who said that Allah's Messenger said;
مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُول بِه
Whoever is found doing the act of the people of Lut, then kill them; the doer and the one it is done to.
And, mention, Lot (Lootan is substituted by [the following, idh qaala]) when he said to his people, 'Do you commit abomination, that is, [penetrating] the rears of men, such as no one in all the worlds ever committed before you, humans or jinn?
Commentary
Out of the continuing series of stories relating to prophets (علیہم السلام) and their communities, the fourth story is that of Sayyidna Lut (Lot) tX..JI ...lc.
Sayyidna Lut (علیہ السلام) is a nephew of Sayyidna Ibrahim Khalilullah (علیہ السلام) the patriarch of prophets. The original homeland of both was known as Babel near Basrah in western Iraq. Idol-worship was common. Even the family of Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) was involved in it. Allah Ta` ala sent Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) as a prophet for their guidance. His people opposed him which culminated in the well known Fire of Nimrud. Even his father threatened to turn him out of his home.
Out of his entire family, only his wife, Sayyidah Sarah and nephew, Sayyidna Lut (علیہ السلام) embraced Islam: فَآمَنَ لَهُ لُوطٌ (Then, Lut believed in him - 29:26). Finally, it was with these two that he immigrated to Syria leaving his home country behind. After reaching Jordon river, he settled in Can'-an near Bayt al-Maqdis under a Divine command.
Then, Allah Ta` ala made Sayyidna Lut (علیہ السلام) too a prophet and sent him to Sadum (Sodom) near Bayt al-Maqdis for the guidance of people there. This area comprised of five major cities. They were called Sadum, ` Amurah, Admah, Sububim and Bali` or ﷺghar. The Qur'an has referred to their nucleus as ` Mu'tafikah' and ` Mu'tafikat' at several places. Sadum was considered as the center and capital of these cities. It was here that Sayyidna Lut (علیہ السلام) stayed. The land was fertile and verdant abounding in all kinds of grains and fruits. (These details appear in Al-Bahr Al-Muhit, Mazhari, Ibn Kathir, AI-Manar etc.)
Man's habit, as Allah Ta` ala says in the Qur'an, is: كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ ﴿6﴾ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ ﴿7﴾ that is, when he acquires freedom from need, he starts transgressing the limits - 96:6-7. On these people too, Allah Ta` ala had opened the doors of His blessings. Goaded by this common behaviour pattern, all soaked in wealth and possessions, they reached the farthest ends of luxury and lust when they stood deprived of the most essential human sense of honour, dignity and modesty, and lost in that process, the very ability to distinguish between the good and the bad. In consequence, they got themselves involved in acts of unnatural indecencies. These are abominal acts, apart from being Haram and sinful, acts which cause hatred and distaste in the heart and mind of everyone born with sound and decent taste, so much so, that even animals would not go near it.
Allah Ta` ala appointed Sayyidna Lit (علیہ السلام) for their guidance. He addressed his people and said: أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ (Do you commit the shameful act in which nobody has ever preceded you from all the worlds?).
When referring to Zina (adultery), the Qur'an has said: إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً (Surely, it is a shameful act - 17:32). Here, the word: فَاحِشَةً (fahishah: shameful act) has been mentioned without 'Alif Lam while in the present verse, by saying: اَلفَاحِشَةً (al-fahishah: the shameful act), it has been made definite by the addition of 'Alif Lam. Thus, the hint given is that this unnatural evil act is, as if, the combination of all indecencies, and far grave a crime as compared to Zina.
Then, it was said that this shameful act has never been committed by anyone in all the worlds before they did it. ` Amru ibn Dinar has said: The act was unknown in the world before these people. (Mazhari) Neither had the worst of human being had ever thought on those lines before the people of Sadum. The Umayyad Khalifah, ` Abd al-Malik said: Had this event relating to the people of Lut (علیہ السلام) not been mentioned in the Qur'an, I would have never suspected that a human being could do something like that. (Ibn Kathir)
Here, their immodesty has been censured on two grounds: (1)-It so happens that men would get involved in many sins because of their social conditions, or because of a blind following of their ancestors - though, that too, is not a valid legal excuse in the Shar'iah of Islam. But, as a matter of customary practice, such a person could be taken as excusable in some or the other degree. But, when it comes to a sin which has never been committed by anyone before, nor does it have any particular compulsions of its own, it becomes a curse of the highest degree. (2)-The other ground is that this act becomes a channel of making others equally accursed. Think of a person who invents some evil act or custom. As obvious, the sin and punishment of his evil act falls on that person anyway, but, along with him, affected are all who sink in sin led by the act of the originator right through the Last Day, for the curse and punishment of all those so affected also sits on the shoulders of the originator of the evil.