عَبَسَ ١
- عَبَسَ dia bermuka masam
- وَتَوَلَّىٰٓ dan dia berpaling
Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,
'Abasa (Bermuka Masam)
(Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena,.
Tafsir Surat 'Abasa: 1-16
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.
Bukan hanya seorang dari ulama tafsir menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ di suatu hari sedang berbicara dengan salah seorang pembesar Quraisy, yang beliau sangat menginginkan dia masuk Islam. Ketika beliau ﷺ sedang berbicara dengan suara yang perlahan dengan orang Quraisy itu, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang yang telah masuk Islam sejak lama. Kemudian Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sesuatu dengan pertanyaan yang mendesak. Dan Nabi ﷺ saat itu sangat menginginkan andaikata Ibnu Ummi Maktum diam dan tidak mengganggunya, agar beliau dapat berbicara dengan tamunya yang dari Quraisy itu karena beliau sangat menginginkannya mendapat hidayah. Untuk itulah maka beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan memalingkan wajah beliau darinya serta hanya melayani tamunya yang dari Quraisy itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). ('Abasa: 1-3) Yakni menginginkan agar dirinya suci dan bersih dari segala dosa. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? ('Abasa: 4) Yaitu memperoleh pelajaran untuk dirinya sehingga ia menahan dirinya dari hal-hal yang diharamkan. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. ('Abasa: 5-6) Adapun orang yang serba cukup, maka kamu melayaninya dengan harapan dia mendapat petunjuk darimu. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). ('Abasa: 7) Artinya, kamu tidak akan bertanggungjawab mengenainya bila dia tidak mau membersihkan dirinya (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut (kepada Allah). (Abasa: 8-9) Yakni dengan sengaja datang kepadamu untuk mendapat petunjuk dari pengarahanmu kepadanya. maka kamu mengabaikannya. ('Abasa: 10) Maksudnya, kamu acuhkan dia. Dan setelah kejadian ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk tidak boleh mengkhususkan peringatan terhadap seseorang secara tertentu, melainkan harus menyamakan di antara semuanya. Dalam hal ini tidak dibedakan antara orang yang mulia dan orang yang lemah, orang yang miskin dan orang yang kaya, orang merdeka dan budak belian, laki-laki dan wanita, serta anak-anak dan orang dewasa.
Kemudian Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus, keputusan yang ditetapkan-Nya penuh dengan kebijaksanaan dan mempunyai alasan yang sangat kuat. Al-Hafidzh Abu Ya'la mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas yang mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. ('Abasa: 1) Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ yang saat itu sedang berbicara dengan Ubay ibnu Khalaf, maka beliau ﷺ berpaling dari Ibnu Ummi Maktum, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. ('Abasa: 1-2) Maka sesudah peristiwa itu Nabi ﷺ selalu menghormatinya. Qatadah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa ia melihat Ibnu Ummi Maktum dalam perang Qadisiyah, memakai baju besi, sedangkan di tangannya terpegang bendera berwarna hitam.
Abu Ya'la dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa berikut ini adalah hadits yang diceritakan kepada kami dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ayat ini, yaitu firman-Nya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. (Abasa: 1) diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang tuna netra. Dia datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, "Berilah aku petunjuk." Sedangkan saat itu di hadapan Rasulullah ﷺ terdapat seorang lelaki dari kalangan pembesar kaum musyrik. Maka Rasulullah ﷺ berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan melayani lelaki musyrik itu seraya bersabda, "Bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang aku katakan ini, apakah berkesan?" Lelaki itu menjawab, "Tidak".
Maka berkenaan dengan peristiwa inilah ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. ('Abasa: 1) Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan hadits ini dari Sa'id ibnu Yahya Al-Umawi dengan sanad yang semisal; kemudian Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa sebagian dari mereka ada yang meriwayatkan dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa surat 'Abasa diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, tetapi dalam sanad ini tidak disebutkan dari Aisyah.
Menurut hemat saya, memang demikianlah yang terdapat di dalam kitab Muwatta. Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim juga telah meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. ('Abasa: 1-2) Bahwa ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara secara tertutup dengan Atabah ibnu Rabi'ah, Abu Jahal ibnu Hisyam, dan Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib, yang sebelumnya Nabi ﷺ sering berbicara dengan mereka dan sangat menginginkan mereka beriman. Lalu tiba-tiba datanglah seorang lelaki tuna netra bernama Ibnu Ummi Maktum dengan jalan kaki, saat itu Nabi ﷺ sedang serius berbicara dengan mereka. Lalu Abdullah ibnu Ummi Maktum meminta agar diajari suatu ayat dari Al-Qur'an dan berkata, "Wahai Rasulullah, ajarilah aku dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu." Rasulullah ﷺ berpaling dan bermuka masam terhadapnya serta tidak melayaninya, bahkan beliau kembali melayani mereka.
Setelah Rasulullah ﷺ selesai dari pembicaraan tertutupnya dan hendak pulang ke rumah keluarganya, maka Allah subhanahu wa ta’ala menahan sebagian dari pandangan beliau dan menjadikan kepada beliau tertunduk, lalu turunlah kepadanya firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menegur sikapnya itu: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya? ('Abasa: 1-4) Maka setelah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat-ayat tersebut, beliau selalu menghormatinya dan selalu berbicara dengannya dan menanyakan kepadanya, "Apakah keperluanmu? Apakah engkau ingin sesuatu?" Dan apabila Ibnu Ummi maktum pergi darinya, beliau ﷺ bertanya, "Apakah engkau mempunyai sesuatu keperluan?" Demikian itu setelah Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). ('Abasa: 5-7) Hadits ini gharib dan munkar, sanadnya juga masih diperbincangkan dan diragukan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Salim ibnu Abdullah telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Bilal azan di malam hari, maka makan dan minumlah kamu hingga kamu mendengar seruan azan Ibnu Ummi Maktum.
Dia adalah seorang tuna netra yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. ('Abasa: 1-2) Tersebutlah pula bahwa dia menjadi juru azan bersama Bilal. Salim melanjutkan, bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang tuna netra, maka dia belum menyerukan suara azannya sebelum orang-orang berkata kepadanya saat mereka melihat cahaya fajar subuh, "Azanlah!" Hal yang sama telah disebutkan oleh Urwah ibnuz Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan selain mereka yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum.
Menurut pendapat yang terkenal, nama aslinya adalah Abdullah, dan menurut pendapat yang lainnya yaitu Amr; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Firman Allah ﷻ: Sekali-kali jangan (demikian, Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. ('Abasa: 11) Artinya, surat ini atau perintah menyamakan semua orang dalam menyampaikan pengetahuan, tidak dibedakan antara orang yang terhormat dan orang biasa dari kalangan mereka yang menginginkannya. Qatadah dan As-Suddi mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. ('Abasa: 11) Yakni Al-Qur'an itu. maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. ('Abasa: 12) Maksudnya, barang siapa yang menghendaki, ia dapat mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dalam semua urusannya.
Dapat pula ditakwilkan bahwa damir yang ada merujuk kepada wahyu karena konteks pembicaraan berkaitan dengannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan. ('Abasa: 13-14) Yaitu surat ini atau pelajaran ini, kedua-duanya saling berkaitan, bahkan Al-Qur'an seluruhnya. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. ('Abasa: 13) Yakni diagungkan dan dimuliakan. () yang ditinggikan ('Abasa: 14) Artinya, mempunyai kedudukan yang tinggi. () lagi disucikan ('Abasa: 14) Yaitu disucikan dari hal yang kotor, penambahan, dan pengurangan. Firman Allah ﷻ: di tangan para penulis. ('Abasa: 15) Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Adh-Dhahhak, dan Ibnu Zaid, yang dimaksud adalah para malaikat. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa mereka adalah para sahabat Nabi ﷺ Qatadah mengatakan mereka adalah para ahli qurra. Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa safarah dengan bahasa Nabtiyyah, kalau bahasa Arabnya berarti para ahli qurra.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang shahih ialah yang mengatakan bahwa safarah adalah para malaikat yang menghubungkan antara Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk-Nya. Dan termasuk ke dalam pengertian ini dikatakan safir, yang artinya orang yang menghubungkan di antara kedua belah pihak yang bersangkutan untuk tujuan perdamaian dan kebaikan. Hal yang sama dikatakan oleh salah seorang penyair dalam salah satu bait syairnya: ... Aku belum pernah mengabaikan perantara (juru runding) di antara kaumku, dan aku belum pernah berjalan (ke sana kemari) untuk tujuan menipu.
Imam Bukhari mengatakan bahwa safarah adalah para malaikat yang menjadi duta perdamaian di antara mereka. Di sini malaikat yang menurunkan wahyu Allah subhanahu wa ta’ala dan menyampaikannya kepada rasul yang bersangkutan diserupakan dengan duta yang mendamaikan di antara kaum yangberselisih. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: yang mulia lagi berbakti. ('Abasa: 16) Yakni rupa mereka mulia, baik lagi terhormat, dan akhlak serta sepak terjang mereka berbakti, suci dan sempurna. Maka berangkat dari pengertian ini orang yang hafal Al-Qur'an dianjurkan berada dalam jalan yang lurus dan benar dalam semua perbuatan dan ucapannya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa'd ibnu Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Orang yang membaca Al-Qur'an, sedangkan dia pandai membacanya (kelak akan dihimpunkan) bersama-sama dengan para malaikat safarah yang mulia lagi berbakti. Adapun orang yang membacanya, sedangkan dia melakukannya dengan berat, baginya dua pahala. Jamaah mengetengahkan hadits ini melalui jalur Qatadah dengan sanad yang sama.".
Jika bagian akhir Surah an-N'zi''t menjelaskan tugas Nabi sebagai pemberi peringatan tentang hari kiamat, maka pada permulaan Surah 'Abasa Allah menyebutkan siapa yang akan mendapatkan manfaat dari peringatan tersebut.
Disebutkan bahwa seorang pria buta bernama 'Abdull'h bin Ummi Makt'm, anak paman Khad'jah, menghadap Nabi untuk meminta petunjuk. Ketika itu Nabi tengah berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Nabi kurang berkenan dengan kedatangannya. Muka Nabi menjadi masam. Atas perilaku tersebut Allah menegurnya dengan halus. Teguran ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukanlah perkataan Nabi melainkan kal'mullah. Dengan teguran itu Allah menghendaki agar Nabi Muhammad melakukan hal yang lebih utama, yaitu memperhatikan orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran
dan berpegang teguh dengan Islam.
Dia, Nabi Muhammad, berwajah masam karena kedatangan Ibnu Ummi Makt'm, dan berpaling darinya untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemuka Quraisy. 2. Nabi kurang berkenan sehingga bermuka masam karena seorang buta telah datang kepadanya, yaitu 'Abdull'h bin Ummi Makt'm. Allah menegur Nabi karena lebih mementingkan bertemu dengan pemuka Quraisy untuk mengajak mereka masuk Islam. Dalam pandangan Allah, semestinya Nabi lebih mementingkan siapa pun yang betul-betul ingin mengamalkan ajaran Islam, tidak peduli ia dari kalangan fakir miskin bahkan cacat. 'Abdull'h terus memanggil-manggil Nabi, sedang dia karena kebutaannya tidak tahu bahwa beliau sedang bersama para pemuka Quraisy (Lihat: Surah al-An''m/6: 52; al-Kahf/18: 28).
Pada permulaan Surah 'Abasa ini, Allah menegur Nabi Muhammad yang bermuka masam dan berpaling dari 'Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, ketika sahabat ini menyela pembicaraan Nabi dengan beberapa tokoh Quraisy. Saat itu 'Abdullah bin Ummi Maktum bertanya dan meminta Nabi ﷺ untuk membacakan dan mengajarkan beberapa wahyu yang telah diterima Nabi. Permintaan itu diulanginya beberapa kali karena ia tidak tahu Nabi sedang sibuk menghadapi beberapa pembesar Quraisy.
Sebetulnya Nabi ﷺ sesuai dengan skala prioritas sedang menghadapi tokoh-tokoh penting yang diharapkan dapat masuk Islam karena hal ini akan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan dakwah selanjutnya. Maka adalah manusiawi jika Nabi ﷺ tidak memperhatikan pertanyaan 'Abdullah bin Ummi Maktum, apalagi telah ada porsi waktu yang telah disediakan untuk pembicaraan Nabi dengan para sahabat.
Tetapi Nabi Muhammad sebagai manusia terbaik dan contoh teladan utama bagi setiap orang mukmin (uswah hasanah), maka Nabi tidak boleh membeda-bedakan derajat manusia. Dalam menetapkan skala prioritas juga harus lebih memberi perhatian kepada orang kecil apalagi memiliki kelemahan seperti 'Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak dapat melihat. Maka seharusnya Nabi lebih mendahulukan pembicaraan dengan 'Abdullah bin Ummi Maktum daripada dengan para tokoh Quraisy.
Dalam peristiwa ini Nabi ﷺ tidak mengatakan sepatah katapun kepada 'Abdullah bin Ummi Maktum yang menyebabkan hatinya terluka, tetapi Allah melihat raut muka Nabi Muhammad ﷺ yang masam itu dan tidak mengindahakan Ummi Maktum yang menyebabkan dia tersinggung.
Hikmah adanya teguran Allah kepada Nabi Muhammad juga memberi bukti bahwa Al-Qur'an bukanlah karangan Nabi, tetapi betul-betul firman Allah. Teguran yang sangat keras ini tidak mungkin dikarang sendiri oleh Nabi.
'Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang yang bersih dan cerdas. Apabila mendengarkan hikmah, ia dapat memeliharanya dan membersihkan diri dari kebusukan kemusyrikan. Adapun para pembesar Quraisy itu sebagian besar adalah orang-orang yang kaya dan angkuh sehingga tidak sepatutnya Nabi terlalu serius menghadapi mereka untuk diislamkan. Tugas Nabi hanya sekadar menyampaikan risalah dan persoalan hidayah semata-mata berada di bawah kekuasaan Allah. Kekuatan manusia itu harus dipandang dari segi kecerdasan pikiran dan keteguhan hatinya serta kesediaan untuk menerima dan melaksanakan kebenaran. Adapun harta, kedudukan, dan pengaruh kepemimpinan bersifat tidak tetap, suatu ketika ada dan pada saat yang lain hilang sehingga tidak bisa diandalkan.
Nabi sendiri setelah ayat ini turun selalu menghormati 'Abdullah bin Ummi Maktum dan sering memuliakannya melalui sabda beliau, "Selamat datang kepada orang yang menyebabkan aku ditegur oleh Allah. Apakah engkau mempunyai keperluan?".
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH ABASA
(BERMUKA MASAM)
SURAH KE-80, 42 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
KITAB YANG MERUPAKAN CINTA
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
Menurut sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib, dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam, agar mereka sudi beriman; di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum. Dia masuk ke dalam majelis dengan lengan meraba-raba. Sejenak Rasulullah terhenti bicara, orang buta itu memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur'an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataan orang itu itu seakan-akan tidak beliau dengarkan, dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut.
Setelah selesai semuanya itu dan beliau akan mulai kembali kepada keluarganya, turunlah ayat ini, “Dia bermuka masam dan berpaling."Setelah ayat itu turun sadarlah Rasulullah ﷺ akan kekhilafannya. Beliau segera hadapi Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta, dan dia pun sejak itu menjadi salah seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah ﷺ Di mana saja bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum, beliau menunjukkan muka jernih berseri kepadanya, dan kadang-kadang beliau katakan, “Hai orang yang telah menjadi sebab satu kumpulan ayat turun dari langit kepadaku."
Ibnu Ummi Maktum adalah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal. Satu-satunya orang buta yang turut hijrah bersama para sahabat ke Madinah. Satu-satunya orang buta yang dua tiga kali diangkat Rasulullah ﷺ menjadi wakilnya menjadi imam di Madinah ketika beliau bepergian keluar kota untuk waktu agak lama. Ibu dari Ibnu Ummi Maktum adalah saudara kandung dari ibu yang melahirkan Siti Khadijah, istri Rasulullah ﷺ Dan setelah di Madinah, beliau pun menjadi salah seorang muadzin yang diangkat Rasulullah ﷺ di samping Bilal.
Ayat 1
“Dia bermuka masam dan berpaling." (ayat 1)
Ayat 2
“Lantaran datang kepadanya orang buta itu" (ayat 2)
Ayat 3
“Padahal adakah yang engkau tahu, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)" (ayat 3) Dalam ketiga ayat ini ahli-ahli bahasa yang mendalami isi Al-Qur'an merasakan benar-benar betapa mulia dan tinggi susun bahasa wahyu itu kepada Rasul-Nya. Beliau disadarkan dengan halus supaya jangan sampai bermuka masam kepada orang yang datang bertanya; hendaklah bermuka manis terus, sehingga orang-orang yang tengah dididik itu merasa bahwa dirinya dihargai.
Pada ayat 1 dan 2 kita melihat bahwa kepada Rasulullah tidaklah dipakai bahasa berhadapan, misalnya, “Mengapa engkau bermuka masam, mentang-mentang yang datang itu orang buta?" Dan tidak pula bersifat larangan, “Jangan engkau bermuka masam dan berpaling." Karena dengan susunan kata larangan, teguran itu menjadi lebih keras. Tidak layak dilakukan kepada orang yang Allah sendiri menghormatinya! Allah tidak memakai perkataan yang keras susunannya kepada Rasul-Nya. Melainkan dibahasakannya Rasul-Nya sebagai orang ketiga, menurut ilmu pemakaian bahasa. Dengan membahasakan sebagai orang ketiga, ucapan itu menjadi lebih halus. Apatah lagi dalam hal ini Rasulullah tidaklah membuat suatu kesalahan yang disengaja atau yang mencolok mata.
Apalah lagi Ibnu Ummi Maktum anak saudara perempuan beliau, bukan orang lain bahkan terhitung anak beliau juga. Di ayat 3 barulah Allah menghadapkan firman-Nya terhadap Rasul sebagai orang kedua dengan ucapan engkau atau kamu, “Padahal adakah yang engkau tahu, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (daridosa)" Kalimat ini pun, walaupun terhadap orang kedua, susunannya pun halus. Memang belum ada orang yang memberitahu lebih dahulu bahwa Ibnu Ummi Maktum itu di belakang hari akan menjadi orang yang sangat penting, yang benar telah dapat menyucikan dirinya. Allah pun di dalam ayat ini memakai bahasa halus memberitahukan bahwa Ibnu Ummi Maktum itu kelak akan jadi orang yang saleh, dengan membayangkan dalam kata halus, bahwa pada masanya belum ada agaknya orang yang mengatakan itu kepada Nabi ﷺ
Apakah perbuatan Nabi ﷺ bermuka masam itu satu kesalahan besar atau dosa? Ini terkait dengan ijtihad. Menurut ijtihad Nabi ﷺ orang-orang penting pemuka Quraisy itu hendak diseru kepada Islam dengan sungguh-sungguh. Kalau orang-orang semacam Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Abbas bin Abdul Muthalib mau masuk Islam, berpuluh orang di belakang mereka akan mengikut. Payah-payah sedikit menghadapi mereka tidak mengapa. Masuknya Ibnu Ummi Maktum ke dalam majelis itu beliau rasa agak mengganggu usaha dakwah yang sedang beliau lakukan. Sedang Ibnu Ummi Maktum itu orang yang sudah Islam juga.
Ayat 4
“Atau dia akan ingat, lalu memberi manfaat kepadanya ingatnya itu?" (ayat 4) Dengan kedua ayat ini Rasulullah ﷺ diberi ingat oleh Allah, bahwa Ibnu Ummi Maktum itu lebih besar harapan akan berkembang lagi menjadi seorang insan yang saleh, seseorang yang bersih hatinya, walaupun dia buta. Karena meskipun mata buta, kalau jiwa bersih, kebutaan tidaklah akan menghambat kemajuan iman seseorang.
Bayangan yang sehalus itu dari Allah terhadap seorang yang cacat jasmani, dalam keadaan buta, tetapi dapat lebih maju dalam iman, adalah satu pujian bagi Ibnu Ummi Maktum pada khususnya, dan sekalian orang buta pada umumnya. Dan orang pun melihat sejarah gemilang Ibnu Ummi Maktum, sehingga tersebut di dalam sebuah riwayat dari Qatadah, yang diterimanya dari Anas bin Malik, bahwa di zaman pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, Anas melihat dengan matanya sendiri, Ibnu Ummi Maktum turut dalam peperangan hebat di Qadisiyah, ketika penaklukan negeri Persia, di bawah pimpinan Sa'ad bin Abu Waqqash.
Ayat 5
“Adapun (terhadap) orang yang merasa diri cukup." (ayat 5) Yaitu orang yang merasa dirinya sudah pintar, tidak perlu diajari lagi, atau yang merasa dirinya kaya sehingga merasa rendah kalau menerima ajaran dari orang yang dianggapnya miskin, atau merasa dirinya sedang berkuasa sehingga marah kalau mendengar kritik dari rakyat yang dipandangnya rendah.
Ayat 6
“Maka engkau menghadapkan (perhatian) kepadanya." (ayat 6)
Itulah suatu ijtihad yang salah, meskipun maksud baik! Orang-orang yang merasa dirinya telah cukup itu memandang enteng segala nasihat. Pekerjaan besar, revolusi-revolusi besar, perjuangan-perjuangan yang hebat, tidaklah dimulai oleh orang-orang yang telah merasa cukup. Biasanya orang yang seperti demikian datangnya ialah saat kemudian, setelah melihat pekerjaan orang telah berhasil.
Ayat 7
“Padahal, apalah rugimu kalau dia tidak mau suci." (ayat 7) Padahal sebaliknyalah yang akan terjadi, sebab dengan menunggu-nunggu orang-orang seperti itu waktu akan banyak terbuang. Karena mereka masuk ke dalam perjuangan lebih dahulu akan memperkajikan, berapa keuntungan materi yang akan didapatnya. Di dalam ayat ini Allah telah melukiskan, bahwa engkau tidaklah akan rugi kalau orang itu tidak mau menempuh jalan kesucian. Yang akan rugi hanya mereka sendiri, karena masih bertahan dalam penyembahan berhala.
Ayat 8
“Dan adapun orang yang datang kepadamu berjalan cepat." (ayat 8) Kadang-kadang datang dari tempat yang jauh-jauh, sengaja hanya hendak mengetahui hakikat ajaran agama, atau berjalan kaki karena miskin tidak mempunyai kendaraan sendiri.
Ayat 9
“Dan dia pun dalam rasa takut." (ayat 9) Karena iman mulai tumbuh.
Ayat 10
“Maka engkau terhadapnya berlengah-lengah." (ayat 10)
Sejak teguran ini Rasulullah ﷺ mengubah taktiknya yang lama. Lebih-lebih terhadap orang-orang baru yang datang dari kampung-kampung yang jauh, yang disebut orang ‘Awali, atau orang Badawi, atau yang disebut Arab pedalaman. Malahan sesampai di Madinah pernah si orang kampung yang belum tahu peradaban itu memancarkan kencingnya di dalam masjid, sehingga sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ marah kepada orang itu. Lalu dengan lemah lembutnya Rasulullah bersabda, “Jangan dia dimarahi, cari saja setimpa air, lalu siram baik-baik," Maka datanglah satu Ukhuwwah Islamiyah dan satu penghormatan yang baik di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ itu, karena teguran halus yang datang dari Allah.
Tafsir of Surah Abasa
The Prophet being reprimanded because He frowned at a Weak Man
More than one of the scholars of Tafsir mentioned that one day the Messenger of Allah was addressing one of the great leaders of the Quraysh while hoping that he would accept Islam. While he was speaking in direct conversation with him, Ibn Umm Maktum came to him, and he was of those who had accepted Islam in its earliest days. He (Ibn Umm Maktum) then began asking the Messenger of Allah about something, urgently beseeching him. The Prophet hoped that the man would be guided, so he asked Ibn Umm Maktum to wait for a moment so he could complete his conversation. He frowned in the face of Ibn Umm Maktum and turned away from him in order to face the other man. Thus, Allah revealed,
عَبَسَ وَتَوَلَّى
أَن جَاءهُ الاَعْمَى
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى
He frowned and turned away. Because there came to him the blind man. And how can you know that he might become pure?
meaning, he may attain purification and cleanliness in his soul.
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَى
Or he might receive admonition, and the admonition might profit him?
meaning, he may receive admonition and abstain from the forbidden.
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى
فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّى
As for him who thinks himself self-sufficient. To him you attend;
meaning, `you face the rich person so that perhaps he may be guided.'
وَمَا عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى
What does it matter to you if he will not become pure?
meaning, `you are not responsible for him if he does not attain purification.'
وَأَمَّا مَن جَاءكَ يَسْعَى
وَهُوَ يَخْشَى
But as for him who came to you running. And is afraid.
meaning, `he is seeking you and he comes to you so that he may be guided by what you say to him.'
فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّى
Of him you are neglectful and divert your attention to another.
meaning, `you are too busy.'
Here Allah commands His Messenger to not single anyone out with the warning. Rather, he should equal warn the noble and the weak, the poor and the rich, the master and the slave, the men and the women, the young and the old. Then Allah will guide whomever He chooses to a path that is straight. He has the profound wisdom and the decisive proof.
Abu Ya`la and Ibn Jarir both recorded from Aishah that she said about,
عَبَسَ وَتَوَلَّى
(He frowned and turned away), was revealed.
At-Tirmidhi recorded this Hadith but he did not mention that it was narrated by Aishah.
I say it is reported like this in Al-Muwatta' as well.
The Characteristics of the Qur'an
Allah says,
كَلَّ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
Nay; indeed it is an admonition.
meaning, this Surah, or this advice in conveying knowledge equally among people, whether they are of noble or low class.
Qatadah and As-Suddi both said,
كَلَّ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
This means the Qur'an.
فَمَن شَاء ذَكَرَهُ
So, whoever wills, let him pay attention to Him (it).
meaning, so whoever wills, he remembers Allah in all of his affairs.
The pronoun could also be understood to be referring to the revelation since the conversation is alluding to it.
Allah said:
فِي صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ
مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ
In Records held in honor, exalted, purified.
meaning, this Surah or this admonition. Both meanings are connected to each other. Actually, all of the Qur'an is in honored pages, meaning respected and revered.
مَّرْفُوعَةٍ
exalted,
meaning, elevated in status.
مُّطَهَّرَةٍ
purified,
meaning, from impurity, additions and deficiency.
Concerning Allah's statement,
بِأَيْدِي سَفَرَةٍ
In the hands of ambassadors (Safarah),
Ibn Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, and Ibn Zayd, all said,
These are the angels.
Al-Bukhari said,
Safarah (ambassadors) refers to the angels. They travel around rectifying matters between themselves. The angels when they descend with the revelation of Allah, bringing it like the ambassador who rectifies matters between people.
Allah said,
كِرَامٍ بَرَرَةٍ
Honorable and obedient.
meaning, they are noble, handsome, and honorable in their creation. Their character and their deeds are righteous, pure and perfect.
Here it should be noted that it is necessary for one who carries the Qur'an (i.e., the angel) to be following righteousness and guidance.
Imam Ahmad recorded from Aishah that the Messenger of Allah said,
الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْانَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَوُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَان
He who recites the Qur'an proficiently, will be with the noble, righteous, ambassador angels, and the one who recites it with difficulty will receive two rewards.
This Hadith was reported by the group of scholars.
'Abasa (He Frowned)
Meccan, consisting of 42 verses.
He, the Prophet, frowned, glowered with his face, and turned away,
Commentary
Circumstance of Revelation
Sayyidna ` Abdullah Ibn Umm Maktum ؓ ، the companion of the Holy Prophet ﷺ was a blind man. It once happened that the Holy Prophet ﷺ was engaged in a talk with the leaders of Quraish about some matters of belief. Sayyidna ` Abdullah Ibn Umm Maktum ؓ arrived there. Imam Baghawi adds that being blind and unable to see the surroundings, he did not realise that the Holy Prophet ﷺ was occupied with the others. He, therefore, burst into the circle and called the Holy Prophet repeatedly. [ Mazhari ]. According to Ibn Kathir, he requested the Holy Prophet ﷺ to teach him a verse of the Qur’ an and insisted an immediate enlightenment on the question. On that occasion, the Holy Prophet ﷺ was occupied with the non-believing leaders of Makkah in the hope that they would embrace the faith of Islam. The leaders to whom the Holy Prophet ﷺ was speaking were ` Utbah Ibn Rabi` ah, Abu Jahl Ibn Hisham and the Holy Prophet's ﷺ uncle ` Abbas ؓ [ who had until then not embraced the Islamic faith ].
The Holy Prophet ﷺ disliked the intrusion, and showed his displeasure by turning aside from Sayyidth ` Abdullah Ibn Umm Maktum, thinking that he was a committed Muslim who frequently visited him, and therefore he could speak to him at another appropriate time. There was no religious loss in postponing the response to him. On the other hand, the Quraish leaders neither frequented the Holy Prophet's ﷺ company, nor could the Word of Allah be conveyed to them at any time. At that particular moment, they were listening to the Holy Prophet ﷺ ." discourse and there was hope that they would embrace the Islamic faith. But if the conversation was rashly interrupted, apparently they would have been deprived of the faith. In view of this situation, the Holy Prophet showed adverse reaction by turning aside from` Abdul)-ah Ibn umm Maktum ؓ ، and continued his discourse with the Quraish leaders. When the assembly broke up, the verses of Surah ` Abas were revealed to record Allah's dislike for this attitude, and to give directions for future.
This attitude of the Holy Prophet ﷺ was based on ijtihad or 'an opinion based on personal reasoning'. He thought that if a Muslim were to adopt a speech style that is not in keeping with etiquettes of a gathering, he needs to be reprimanded, so that in future he may be careful in future. That is the reason why Holy Prophet ﷺ turned his face away from Sayyidna ` Abdullah Ibn Umm Maktum ؓ . Secondly, disbelief (kufr) and polytheism (shirk) are the most severe sins, and an effort to eradicate them should take priority over the subsidiary precepts of Islam on which Sayyidna ` Abdullah Ibn Umm Maktum ؓ asked for enlightenment. Allah Almighty, through this Surah, did not confirm the correctness of this ijtihad of the Holy Prophet ﷺ ، and explained to him that educating a genuine seeker will most certainly benefit him, while the benefit of discussion with the opponents (who disdainfully turn away their face when the Holy Prophet ﷺ talks to them) is shaky and doubtful. Doubtful thing cannot be preferred over certainty. As for the violation of etiquette committed by Sayyidna ` Abdullah Ibn Umm Maktum ؓ ، its excuse is pointed out by the Holy Qur'an in the word 'blind'. It is indicated by this word that being a blind man, he could not see what the Holy Prophet ﷺ was doing and with whom he was engaged in conversation. Thus he was excusable, and was not liable to be subjected to aversion. This indicates that if an excusable person were to break any rule of etiquette unwittingly, he should not be reprimanded.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ (He [ the Holy Prophet ﷺ frowned and turned his face, 80:1). The word ` abasa means 'he frowned' and the word tawalla means 'he turned aside'. Since the reference here is to the Holy Prophet ﷺ who himself is addressed, the verbs should have been in the second person: 'you frowned and you turned aside'. But the Holy Qur'an on this occasion uses the third person in order to maintain the honour of the Holy Prophet ﷺ ، as if this attitude were shown by some other person, and in a subtle way it alludes to the point that what the Holy Prophet ﷺ did was not befitting his high status. Then the next sentence وَمَا يُدْرِيكَ (and what could tell you? ...80:3) alludes to the fact that the Holy Prophet ﷺ was excusable, because it did not come to his attention that the Companion is asking something whose effect will be certain and the effect of conversation with others is dubious. The second sentence abandons the third person, and switches to the second person in order to maintain the honour of the Holy Prophet ﷺ . Had he not been addressed in second person at all, it might have created the impression that he is not addressed directly because of his unapproved conduct, which would have been an unbearable pain and grief for the Holy Prophet ﷺ . Just as the third person in the first statement is meant to show respect to him, the second person in the following sentence is also meant to honor and console him.