لُقْمَان ٣٤
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱللَّهَ Allah
- عِندَهُۥ di sisi-Nya
- عِلۡمُ pengetahuan
- ٱلسَّاعَةِ hari kiamat
- وَيُنَزِّلُ dan Dia menurunkan
- ٱلۡغَيۡثَ hujan
- وَيَعۡلَمُ dan Dia mengetahui
- مَا apa yang
- فِي dalam
- ٱلۡأَرۡحَامِۖ rahim/kandungan
- وَمَا dan tidak
- تَدۡرِي mengetahui
- نَفۡسٞ jiwa/seorang
- مَّاذَا apa yang
- تَكۡسِبُ ia kerjakan
- غَدٗاۖ besok
- وَمَا dan tidak
- تَدۡرِي mengetahui
- نَفۡسُۢ jiwa/seorang
- بِأَيِّ di mana
- أَرۡضٖ bumi
- تَمُوتُۚ ia akan mati
- إِنَّ sesungguhnya
- ٱللَّهَ Allah
- عَلِيمٌ Maha Mengetahui
- خَبِيرُۢ Maha dalam pengetahuan-Nya
Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok.1 Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.
Catatan kaki
1 *653) Manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.
(Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat) yakni kapan kiamat itu akan terjadi (dan Dialah yang menurunkan) dapat dibaca wa yunzilu dan wa yunazzilu (hujan) dalam waktu-waktu yang Dia ketahui (dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim) apakah laki-laki atau perempuan; tidak ada seorang pun yang mengetahui salah satu dari tiga perkara itu melainkan hanya Allah ﷻ (Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok) apakah kebaikan ataukah keburukan, tetapi Allah ﷻ mengetahuinya. (Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati) hanya Allah ﷻ sajalah yang mengetahui hal ini. (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) segala sesuatu (lagi Maha Mengenal) pada yang tersembunyi sebagaimana mengenal-Nya pada yang tampak. Imam Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadis melalui sahabat Ibnu Umar r.a. bahwasanya kunci-kunci kegaiban itu ada lima perkara, antara lain sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan seterusnya.
000
Tafsir Surat Luqman: 34
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman: 34)
Apa yang disebutkan oleh ayat ini merupakan kunci-kunci kegaiban yang hanya Allah sendirilah yang mengetahuinya. Maka tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya kecuali setelah ia diberi tahu oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa tentangnya. Pengetahuan mengenai saat hari kiamat tiada seorang pun dari kalangan nabi yang diutus atau malaikat yang terdekat mengetahuinya. tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Al-A'raf: 187) Demikian pula mengenai turunnya hujan, tiada yang mengetahuinya selain Allah subhaanahu wa ta’aalaa Tetapi bila Allah memerintahkan untuk turunnya hujan, barulah para malaikat yang diserahi tugas untuk menurunkannya mengetahuinya, demikian pula orang yang dikehendaki Allah dari kalangan makhluk-Nya. Tiada yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim, yakni apa yang bakal diciptakan-Nya selain hanya Dia sendiri.
Tetapi bila Allah telah memerintahkan agar yang di dalam rahim menjadi laki-laki atau perempuan, atau menjadi orang yang celaka atau menjadi orang yang bahagia, barulah para malaikat yang diserahi tugas untuk menjaganya mengetahui hal itu, juga orang yang dikehendaki oleh Allah dari kalangan makhluk-Nya (mengetahuinya pula). Selain itu tiada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya besok di dunianya dan di akhiratnya.
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (Luqman: 34) Yakni di negerinya-kah atau di negeri lain di antara negeri-negeri yang ada; tiada seorang pun yang mengetahui hal ini. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (Al-An'am: 59), hingga akhir ayat.
Kelima perkara ini disebutkan pula di dalam sunnah dengan istilah "kunci-kunci kegaiban". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Husain ibnu Waqid, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Buraidah; ia pernah mendengar Abu Buraidah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ada lima perkara yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali hanya Allah subhaanahu wa ta’aalaa; sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nyalah pengetahuan mengenai hari kiamat, Dialah yang menurunkan hujan, Dia mengetahui apa yang terdapat di dalam rahim, dan tiada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi manakah ia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Hadis Ibnu Umar. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar yang telah menceritakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Kunci-kunci semua yang gaib itu ada lima, tiada seorang pun yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Yaitu sesungguhnya Allah, hanya di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat; Dialah yang menurunkan hujan; Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim; tiada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya besok; dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi manakah dia akan mati; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Hadis diketengahkan oleh Imam Al-Bukhari secara tunggal. Dia meriwayatkannya di dalam Kitabul Istisqa, bagian dari kitab sahihnya, melalui Muhammad ibnu Yusuf Al-Faryabi, dari Sufyan ibnu Sa'id Ats-Tsauri dengan sanad yang sama. Dia meriwayatkannya pula di dalam kitab tafsir melalui jalur lain. ". Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Muhammad ibnu Zaid ibnu Abdullah ibnu Umar; ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa Abdullah ibnu Umar pernah berkata, "Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda bahwa sesungguhnya kunci-kunci semua yang gaib ada lima.
Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. (Luqman: 34) Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Al-Bukhari dengan tunggal. Imam Ahmad meriwayatkannya melalui Gundar, dari Syu'bah, dari Umar ibnu Muhammad; ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadis ini dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah bersabda, bahwa sesungguhnya beliau telah dianugerahi kunci-kunci segala sesuatu kecuali lima perkara, yaitu: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim.
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman: 34) Hadis Ibnu Mas'ud. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Syu'bah, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Murrah, dari Abdullah ibnu Salamah yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud pernah mengatakan bahwa Nabi kalian dianugerahi kunci-kunci segala sesuatu kecuali lima perkara, yaitu: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim.
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman: 34) Hal yang sama telah diriwayatkan dari Muhammad ibnu Ja'far, dari Syu'bah, dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama, tetapi di akhirnya ditambahkan bahwa perawi menanyakannya kepada Abdullah ibnu Salamah, "Apakah engkau mendengarnya dari Ibnu Mas'ud?" Abdullah ibnu Salamah menjawab, "Ya, lebih dari lima puluh kali." Waki' telah meriwayatkannya pula dari Mis'ar, dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama. Sanad hadis ini hasan dengan syarat ashabus sunan, tetapi mereka tidak mengetengahkannya.
Imam Al-Bukhari dalam tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, dari Jarir, dari Abu Hayyan, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di suatu hari duduk dikelilingi oleh orang banyak, tiba-tiba datanglah kepadanya seorang lelaki jalan kaki, lalu lelaki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah iman itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Iman itu hendaknya kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, serta hari pertemuan dengan-Nya, dan hendaknya kamu beriman kepada adanya hari berbangkit." Lelaki itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Islam ialah hendaknya engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan hendaknya engkau mengerjakan salat, menunaikan zakat yang difardukan, dan puasa bulan Ramadan." Lelaki itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Ihsan ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya.
Dan jika kamu tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Dia selalu melihatmu." Lelaki itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, bilakah hari kiamat itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya, tetapi aku akan menceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya. Yaitu apabila seorang budak perempuan melahirkan majikannya, maka itu pertanda akan dekat hari kiamat. Dan apabila ada orang-orang yang tidak beralas kaki lagi telanjang menjadi para pemimpin, itu salah satu pertanda dekatnya kiamat, hal itu merupakan salah satu dari lima perkara yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali hanya Allah.
Yaitu sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim," hingga akhir ayat. Kemudian lelaki itu pergi dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Panggillah lelaki itu kembali kepadaku!" Maka mereka mencarinya untuk memanggil kembali lelaki itu, tetapi ternyata mereka tidak melihatnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kembali bersabda: Orang ini adalah Jibril yang sengaja datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya pula di dalam Kitabul Iman, juga Imam Muslim melalui berbagai jalur dari Abu Hayyan dengan sanad yang sama.
Kami telah membicarakan tentang hadis ini dalam permulaan Syarah Al-Bukhari, dan telah kami sebutkan pula di dalam kitab yang sama hadis Amirul Mu-minin Umar ibnul Khattab mengenai masalah ini dengan panjang lebar. Hadis ini merupakan salah satu dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara tunggal.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam duduk di suatu majelis, maka datanglah Malaikat Jibril yang langsung duduk di hadapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lutut Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam Lalu Jibril bertanya, "Apakah Islam itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Islam ialah hendaknya engkau menyerahkan dirimu kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa semata, dan engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya." Selanjutnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Jika kamu telah melakukan hal tersebut, berarti engkau telah Islam." Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, "Apabila kamu telah melakukan hal tersebut, berarti kamu telah Islam." Lelaki itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku apakah iman itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Iman ialah hendaknya engkau beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, Al-Kitab (Al-Qur'an), para nabi; engkau beriman kepada kematian dan kehidupan sesudah mati, dan kamu beriman kepada adanya surga, neraka, hisab, dan timbangan amal perbuatan; kamu juga beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah." Selanjutnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Apabila kamu telah melakukan hal itu, berarti kamu telah beriman." Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, "Bila kamu lakukan hal itu, berarti kamu telah beriman." Lelaki itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku apakah ihsan itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Ihsan ialah hendaknya engkau beramal hanya karena Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu." Lelaki itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku bilakah hari kiamat itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, bahwa hari kiamat itu Mahasuci Allah termasuk lima perkara yang tiada seorang pun mengetahuinya selain Allah: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim.
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman: 34); Tetapi jika kamu bersikeras menanyakannya, maka aku hanya dapat menyebutkan tentang tanda-tandanya saja. Lelaki itu berkata, "Baiklah, wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang tanda-tandanya itu." Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Apabila kamu telah melihat seorang budak perempuan melahirkan majikannya atau tuannya, dan kamu lihat para ahli bangunan mulai saling berlomba meninggikan bangunannya, dan kamu lihat orang-orang yang tak beralas kaki, lapar, lagi miskin menjadi pemimpin manusia, maka itulah pertanda dekatnya hari kiamat." Lelaki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah para ahli bangunan yang tak beralas kaki, lapar, lagi miskin itu?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Orang Arab." Hadis ini gharib, mereka tidak mengetengahkannya.
Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Mansur, dari Rab'i ibnu Hirasy, dari seorang lelaki dari kalangan Bani Amir yang menceritakan bahwa ia pernah meminta izin masuk menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata, "Bolehkah saya masuk?" Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada pelayannya, "Keluarlah dan temui dia, sesungguhnya dia masih belum mengetahui cara meminta izin masuk. Katakanlah kepadanya, hendaklah dia mengucapkan, 'Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?'."
Lelaki dari Bani Amir mengatakan bahwa ia mendengar sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam itu, lalu ia mengucapkannya, "Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?" Lalu ia masuk dan bertanya, "Apakah yang engkau bawa kepada kami?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: Tidaklah aku datang kepada kalian melainkan membawa kebaikan belaka. Aku datang kepada kalian dengan membawa perintah hendaknya kalian menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya; dan kamu tinggalkan penyembahan kepada Lata dan 'Uzza, dan kamu kerjakan salat di malam dan siang hari sebanyak lima kali, dan kamu puasa setiap tahunnya selama satu bulan, dan kamu berhaji ke Baitullah, dan kamu pungut zakat dari harta orang-orang kaya kalian, lalu kamu berikan kepada kaum fakir miskin kalian.
Lelaki itu bertanya lagi, "Apakah masih ada sesuatu dari pengetahuan yang tidak kamu ketahui?" Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kebaikan kepadanya dan sesungguhnya ada di antara ilmu yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali hanya Allah subhaanahu wa ta’aalaa, yaitu ada lima perkara: 'Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. ' (Luqman: 34), hingga akhir ayat. Sanad hadis ini sahih.
Ibnu Abi Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa pernah ada seorang lelaki Badui, lalu lelaki itu bertanya (kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam), "Sesungguhnya istriku mengandung, maka ceritakanlah kepadaku apa yang bakal dilahirkannya (laki-laki ataukah perempuan). Negeri kami sedang musim paceklik, maka ceritakanlah kepadaku bilakah hujan turun. Dan sesungguhnya engkau telah mengetahui kapan aku lahir, maka ceritakanlah kepadaku bilakah aku mati?" Maka Allah subhaanahu wa ta’aalaa menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman: 34) sampai dengan firman-Nya: Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman: 34) Mujahid mengatakan bahwa itulah yang dimaksudkan kunci-kunci semua yang gaib yang disebutkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa dalam firman-Nya: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (Al-An'am: 59) Hadis riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir.
Asy-Sya'bi telah meriwayatkan dari Masruq, dari Aisyah radhiyallaahu ‘anhu yang mengatakan, "Siapa pun yang berkata kepadamu bahwa dia mengetahui apa yang bakal terjadi besok, sesungguhnya dia telah berdusta." Kemudian Siti Aisyah membacakan firman-Nya: Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (Luqman: 34) Adapun firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa: Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (Luqman: 34) Qatadah mengatakan bahwa ada beberapa perkara yang hanya diketahui oleh Allah saja. Dia tidak memperlihatkannya, baik kepada seorang malaikat yang terdekat ataupun kepada seorang nabi yang diutus.
Perkara tersebut yaitu: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman: 34) Maka tiada seorang pun yang mengetahui bila hari kiamat terjadi, di tahun berapa, di bulan apa, di malam hari ataukah di siang hari. dan Dialah Yang menurunkan hujan. (Luqman: 34) Maka tiada seorang pun yang mengetahui bila hujan akan turun, di siang hari atau di malam hari. dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. (Luqman:34) Maka tiada seorang pun yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim, laki-laki ataukah perempuan, berkulit merah ataukah berkulit hitam, dan bagaimanakah nasibnya kelak.
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (Luqman: 34) Apakah kebaikan ataukah keburukan. Dan kamu tidak mengetahui, hai anak Adam, bilakah kamu mati, barangkali besok kamu akan mati, dan barangkali besok kamu tertimpa musibah. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (Luqman: 34) Yakni tiada seorang pun yang mengetahui di mana ia akan mati, di bumi ataukah di laut, di hutan, di lembah, ataukah di bukit.
Di dalam sebuah hadis disebutkan: Apabila Allah hendak mencabut nyawa seorang hamba di suatu negeri, maka Allah menggerakkan hamba yang bersangkutan ke negeri itu untuk suatu keperluan. Al-Hafidzh Abul Qasim Ath--Thabarani mengatakan di dalam kitab Mujamnya yang besar, yaitu dalam musnad Usamah ibnu Zaid. Dia menyebutkan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Ayyub, dari Abul Malih, dari Usamah ibnu Zaid yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Tidaklah Allah menjadikan kematian seseorang hamba di suatu negeri melainkan Dia menjadikan baginya di negeri itu suatu keperluan (yang menggerakkannya ke negeri itu).
Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Al-Hafri, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari Matar ibnu Akamis yang telah menceritakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Apabila Allah telah menetapkan kematian seseorang hamba di suatu negeri, maka Dia menjadikan baginya di negeri itu suatu keperluan (yang menggerakkannya ke negeri itu). Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi di dalam Bab 'Takdir' melalui hadis Sufyan Ats-Tsauri dengan sanad yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib, dan belum pernah diketahui bahwa Matar menerima hadis langsung dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam selain hadis ini. Imam Abu Dawud telah meriwayatkannya di dalam hadis-hadis mursal-nya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abul Malih ibnu Usamah, dari Abu Izzah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Apabila Allah berkehendak akan mencabut nyawa, seseorang hamba di suatu negeri, maka Dia menjadikan baginya di negeri itu suatu keperluan (yang mendorongnya pergi ke negeri itu). Abu Izzah ini adalah Basysyar ibnu Ubaidillah, yang juga dikenal dengan nama Ibnu Abdul Huzali.
Imam At-Tirmidzi mengetengahkannya melalui hadis Ismail ibnu Ibrahim, yaitu Ibnu Ulaiyyah; dan Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini sahih. ". Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam Al-Asfahani, telah menceritakan kepada kami Al-Muammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Humaid, dari Abul Malih, dari Abu Izzah Al-Huzali yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Apabila Allah berkehendak akan mencabut nyawa seseorang hamba di suatu negeri, maka Dia menjadikan baginya suatu keperluan, dan si hamba yang bersangkutan tetap bersikeras hingga mendatangi negeri itu. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Luqman: 34) sampai dengan firman-Nya: Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman: 34)
Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sabit Al-Juhdari dan Muhammad ibnu Yahya Al-Qat'i. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Ismail, dari Qais dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Apabila Allah berkehendak akan mencabut nyawa seseorang hamba di suatu negeri, maka Dia menjadikan suatu keperluan baginya di negeri itu. Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa hadis ini, sepanjang pengetahuan kami tiada seorang pun yang me-rafa '-kannya selain Umar ibnu Ali Al-Maqdami.
Ibnu Abid Dunia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Abu Masih yang mengatakan bahwa Muhammad ibnul Hakam telah membacakan kepadanya bait-bait syair milik A'sya Hamdan, yaitu: Tiada yang dapat dijadikan bekal dari apa yang telah dihimpunkan seseorang selain kapur barus untuk menjelang hari perpisahannya, dan kain kafan, juga kayu cendana .yang mengharumkannya.
Tetapi amatlah sedikit hal itu dijadikan bekal bagi orang yang bepergian. Janganlah engkau berputus asa atas sesuatu, karena setiap pemuda itu pasti berjalan ke arah kematiannya dengan langkah yang cepat. Setiap orang yang menduga bahwa kematian luput darinya, pastilah dia seorang yang jahil murakkab (bodoh berat). Di negeri mana saja telah ditakdirkan bagi kematiannya, tiada lain dia pasti mengarah ke negeri itu dengan langkah yang pasti selama ia masih hidup.
Al-Hafidzh Ibnu Asakir rahimahullah menyebutkannya di dalam biografi Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnul Haris, dialah A'sya Hamdan. Asy-Sya'bi adalah suami saudara perempuannya, dan sebaliknya A'sya Hamdan pun mengawini saudara perempuan Asy-Sya'bi. A'sya Hamdan pada mulanya termasuk salah seorang yang menuntut ilmu sambil mencari nafkah, tetapi kemudian ia beralih profesi menjadi penggubah syair, akhirnya dia terkenal sebagai seorang penyair.
Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Ahmad ibnu Sabit dan Umar ibnu Syabbah, kedua-duanya dari Umar ibnu Ali secara marfu', bahwa apabila ajal seseorang telah ditetapkan di suatu negeri, maka ada suatu keperluan yang mendatangkannya ke negeri itu. Apabila ia telah mencapai upaya terakhirnya, barulah Allah subhaanahu wa ta’aalaa mencabut nyawanya. Dan bumi kelak di hari kiamat akan berkata: Ya Tuhanku, inilah apa yang Engkau titipkan kepadaku. Imam Ath-Thabarani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Ayyub, dari Abul Malih, dari Usamah, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Tidaklah Allah menjadikan kematian seseorang hamba di suatu negeri, melainkan Dia menjadikan suatu keperluan baginya di negeri itu.
Demikianlah akhir surat Luqman, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan cukuplah bagi kami Allah sebagai Penolong, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.
000
Ayat 34
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi
Ayat ini memaparkan lima hal gaib yang hanya diketahui Allah hakikatnya. Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang kapan hari Kiamat tiba; dan Dia yang menurunkan hujan pada waktu, tempat, dan kadar yang ditentukan-Nya; dan mengetahui apa yang ada dalam rahim, terutama jenis kelamin, karakter, dan sifat-sifatnya. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya atau didapatinya besok, namun mereka tetap wajib berusaha. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya yang mutlak dan tidak terbatas pada lima hal gaib tersebut, Maha Mengenal karena ilmu-Nya meliputi hal-hal lahir dan batin. []1-2. Alif L'm M'm. Hanya Allah yang mengetahui hakikat maknanya. Allah-lah yang menurunkan Al-Qur'an, suatu mukjizat yang tidak dapat ditandingi. Turunnya Al-Qur'an itu tidak ada keraguan padanya, yaitu dari Tuhan yang menguasai, mengatur, dan merawat seluruh alam. Al-Qur'an bukan ciptaan manusia, tidak terkecuali Nabi Muhammad. Al-Qur'an juga bukan syair, apalagi sihir.
Pada ayat ini, Allah menerangkan lima perkara gaib yang hanya Dia yang mengetahuinya, yaitu:
1. Hanya Allah yang mengetahui kapan datangnya Hari Kiamat. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui meskipun itu malaikat, padahal malaikat adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Hal ini juga tidak diketahui oleh para nabi yang diutus.
Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (al-A'raf/7: 187)
2. Hanya Allah yang menurunkan hujan. Dia yang menetapkan kapan, dimana, dan berapa banyak kadar air yang akan dicurahkan-Nya. Ketetapan ini tidak seorang pun yang dapat mengetahuinya.
3. Hanya Allah yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang ada dalam kandungan seorang perempuan, apakah cacat atau sempurna, dan kapan ia akan dilahirkan.
4. Hanya Dia pula yang mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakan oleh seseorang esok harinya. Sekalipun manusia dapat merencanakan apa yang akan dikerjakannya itu, namun semuanya itu hanyalah bersifat rencana saja. Jika Allah menghendaki, pekerjaan itu akan terlaksana. Akan tetapi, jika Ia tidak menghendaki, tidak sukar bagi-Nya untuk menghalangi terlaksananya.
5. Seseorang tidak mengetahui di mana ia akan meninggal dunia nanti. Apakah di daratan, di lautan, ataupun di udara. Apakah di negeri ini, atau di negeri yang lain. Hanya Allah saja yang dapat mengetahuinya dengan pasti.
Diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dari 'Ikrimah bahwa seorang laki-laki bernama al-Waris bin 'Amr bin harisah datang kepada Nabi ﷺ, ia bertanya, "Ya Muhammad, kapan akan datang hari Kiamat? Bumi kita telah kering, kapan akan menjadi subur? Sesungguhnya aku meninggalkan istriku dalam keadaan hamil, kapan ia akan melahirkan? Aku mengetahui apa yang aku kerjakan sekarang, maka apakah yang akan aku kerjakan esok harinya? Aku mengetahui tempat aku dilahirkan, maka di tempat manakah aku akan meninggal? Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Kunci masalah yang gaib itu ada lima, "Sesungguhnya hanya pada Allah sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat. Dialah yang menurunkan hujan, Dia mengetahui apa yang dalam rahim, seseorang tidak mengetahui apa yang akan dikerjakannya esok harinya, dan ia juga tidak mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Umar).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Tidaklah penciptaan kamu dan tidak pula pembangkitan kamu, melainkan seperti satu jiwa jua."
(pangkal ayat 28)
Cara Allah ﷻ membangkitkan manusia kembali, setelah menempuh alam barzakh akan menempuh hari Kiamat serupa saja juga dengan ketika menciptakan-nya, Manusia pada mulanya dijadikan dari sari tanah, yaitu makan-makanan yang semuanya berasal dari tanah; baik sayur, atau buah-buahan ataupun daging. Makanan itu yang membentuk darah. Darah yang menyarikan mani. Mani yang jadi nuthfah bila telah bergabung mani laki-laki dengan mani perempuan, lalu dipelihara di dalam rahim, jadi nuthfah, jadi ‘alaqah, jadi mudghah. Inilah yang berangsur jadi manusia, sampai lahir ke dunia. Maka kelak bilamana mereka akan dibangkitkan kembali dalam hidup yang kedua kali, mereka akan timbul kembali dalam cara yang lain, yang Allah ﷻ saja yang tahu bagaimana caranya. Karena kejadian penciptaan manusia dari tidak ada kepada ada yang sekarang ini, kita hanya tahu berkembangnya dari sari tanah sampai jadi orang, namun demikian dia masih tetap mengagumkan dan tidak dapat ditiru oleh satu kekuatan yang lain, bagaimana jua pun tidaklah dapat menirunya. Kita aduk-adukkan mani laki-laki dengan mani perempuan, tidaklah dia akan tercipta jadi orang.
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar, Maha Melihat."
(ujung ayat 28)
Maha Mendengar apa yang dikatakan dan apa yang dikeluhkan oleh manusia. Maha Melihat apa yang dikerjakan dan apa yang mereka lalaikan.
“Apakah tidak engkau perhatikan bahwasanya Allah menyelinapkan malam ke dalam siang dan menyelinapkan siang ke dalam malam."
(pangkal ayat 29)
Menyelinap kalau dalam bahasa yang biasa bisa saja disebutkan memasukkan. Tetapi oleh karena masuknya malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam itu halus sekali, tidak kelihatan dari mana masuknya, tahu-tahu bila fajar telah menyingsing, malam berangsur hilang dan siang berangsur terang, dan sebaliknya bila matahari telah mulai ter-benam, malam telah menyelimuti bumi, tahu-tahu hari telah malam saja, memang di kedua kalinya itu terjadi pemasukan, tetapi dengan menyelinap; tahu-tahu telah siang, tahu-tahu telah malam. “Dan Dia tundukkan matahari dan bulan." Yaitu tunduk ke bawah peraturan Allah Yang Mahaperkasa sehingga tidak boleh berubah jalan keduanya dan yang telah ditentukan.
“Dan sesungguhnya Allah terhadap apa yang kamu kerjakan adalah sangat teliti."
(ujung ayat 29)
Bukan saja dengan teliti Allah ﷻ menguasai dan menundukkan perjalanan falak sampai sehalus-halusnya, sampai kepada menit dan detik perjalanan matahari, bumi, bulan dan bintang-bintang, bahkan perbuatan kita manusia sendiri pun dilihat dan diperhatikan oleh Allah ﷻ dengan teliti sekali. Ketelitian adalah salah satu dari sifat dan nama Allah ﷻ Maka manusia pun dianjurkan agar menuruti sifat Allah ﷻ dalam ketelitian ini sekadar kekuatannya sebagai manusia.
“Demikianlah, adanya."
(pangkal ayat 30)
Demikianlah adanya peraturan dan ketentuan Allah ﷻ itu, Perkasa, Bijaksana, Teliti, Teratur, Berukuran, Berjangkaan, dan yang seberes dan sesempurna itu hanya ada pada Allah ﷻ saja. “Karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Benar." Kebenaran itu dapat engkau buktikan di dalam alam seluruhnya, baik di langit atau di bumi. Sampai kepada perjalanan hidup binatang-binatang, kayu-kayuan, tumbuh-tumbuhan, bertambah diperhatikan bertambah mengagumkan. “Dan apa yang mereka seru selain Dia adalah batil," kacau-balau, rapuh, tidak tahan lama, tidak teratur, tidak sempurna, tidak teliti, tidak perkasa dan tidak bijaksana.
“Dan sesungguhnya Allah adalah Mahatinggi, Mahaagung."
(ujung ayat 30)
Dan setelah berhala yang kamu sembah dan kamu puja, baik orang ataupun barang, kayu ataupun batu, entah pohon beringin, entah gunung yang tinggi, yang kamu sebut Mahameru, semuanya itu tidak ada ketinggiannya. Dia tinggi hanya karena kamu saja yang meninggi-ninggikan dan besar karena kamu saja yang membesar-besarkan. Kadang-kadang manusia-manusia yang ditinggi-tinggi-kan dan diagung-agungkan itu hanyalah manusia-manusia tengik, keji dan membosankan; yang jika bertambah tingginya bertambah jelas kekurangannya dan bertambah dibesarkan, bertambah tampak kekanak-kanakannya,
“Tidakkah engkau lihat bahwasanya bahtera belayar di lautan dengan nikmat Allah, supaya Dia perlihatkan kepada kamu setengah dari ayat-ayat-Nya."
(pangkal ayat 31)
Sesudah disuruh manusia memerhatikan pergantian siang dan malam, penundukan matahari bersama bulan, di ayat seterusnya ini manusia dibawa pula beralih ke lautan, melihat bahtera (kapal) berlayar. Mula-mula sekali bandingkanlah kebesaran dan keluasan laut dengan kecilnya bahtera yang belayar di atasnya. Ingatlah bahwa bumi ini hanya seper-lima tanah daratan dan yang empat perlima adalah lautan belaka. Dengan bahtera manusia belayar mencari pulau dan benua lain. Kebesaran laut dengan airnya yang terus bergerak tidak berhenti-henti. Yang memecah ke tepi pantai adalah ombak, dan ujung ombak itu ialah riak, dan ombak tadi diantarkan oleh gelombang, dan gelombang itu berjalan di atas yang dinamai alun, yang besar alun itu kadang-kadang laksana gunung. Alun yang besar itulah yang diseruak oleh kapal. Kadang-kadang miringlah kapal itu, sampai seakan-akan bertaut dengan laut dan dalam pelayaran dengan kapal melalui samudra yang luas itu. benar-benar kita melihat ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ Kadang-kadang terpikirlah kita dan timbullah keinsafan tentang nilai manusia, dengan berkat karunia. Manusia seakan-akan tidak ada arti lagi, jika kita telah duduk di geladak kapal melihat lautan. Sejauh-jauh mata memandang, ke segala ufuk hanya lautan belaka. Kapal-kapal yang besar hanya laksana daun kayu terapung saja kelihatan dari jauh. Manusia yang merasa dirinya memegang peranan penting, seakan-akan tidak ada lagi. Hilang dalam kebesaran laut.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar jadi tanda-tanda bagi tiap-tiap orang yang berkorban lagi bersyukur."
(ujung ayat 31)
Perubahan angin di laut itu pun berbagai macam. Kadang-kadang dia tenang berembus, enak membuat diri jadi segar. Kadang-kadang ombak dan gelombang itu mengamuk meninggi dan alun yang besar itu laksana raksasa tak kenal ampun. Namun kapal mesti belayar melalui punggungnya. Dalam saat-saat yang demikian, baik penumpang kapal, apatah lagi para pengemudinya, nakhoda dan para mualim mesti sabar. Karena barangsiapa berumah di tepi pantai pasti bertemu pasang naik dan barangsiapa berani berlayar pasti bertemu gelombang.
Ayat yang selanjutnya adalah menggambarkan orang yang tidak beriman menghadapi pelayaran.
“Dan apabila mereka dihantam gelombang laksana gunung, mereka serulah Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama kepada-Nya."
(pangkal ayat 32)
Melihat tidak ada lagi tempat berlindung, tanah daratan tidak tampak sama sekali, pulau pun tidak, dan langit gelap diselaputi awan yang tebal dan hujan yang lebat, ketika itu barulah mereka ingat hanya Allah sajalah Yang Mahakuasa melepaskannya dari bahaya. Misalnya kalau waktu itu di dalam kapal tersebut mereka ada membawa jimat, atau patung berhala, atau keris yang dikatakannya bertuah, sekali-kali tidaklah teringat olehnya hendak meminta tolong kepada alat-alat yang dipunyai selain Allah ﷻ itu. Waktu itulah mereka betul-betul menghimbau Allah ﷻ, “Ya Tuhanku! Ya Rabbi, tolonglah kami!" Betul-betul ikhlaslah hati mereka waktu itu, tidak bercampur sedikit pun ingatan mereka kepada yang lain. Hanya Allah ﷻ “Tetapi setelah Dia selamatkan mereka ke daratan, maka sebagian saja yang berhati-hati." Hanya sebagian yang muqtashid, yang berasal dari mashdar iqtishad yang berarti memperhitungkan segala pengalaman, menaksir kekuatan diri dan melangkah dengan hati-hati menuju apa yang dimaksud. Bersiap dengan baik. Hanya sebagian, tidak semua. “Dan tidaklah memungkiri akan ayat-ayat Kami," bukti-bukti dari Maha Kekuasaan Kami.
“Kecuali orang-orang yang melupakan jasa lagi kafir."
(ujung ayat 32)
Setelah mereka tiba kembali di daratan yang aman, mereka telah lupa bahwa mereka pernah terancam bahaya maut di lautan. Mereka pernah merintih, meratap, berdoa memohon kepada Allah ﷻ agar ditolong. Namun setelah sampai di daratan, semuanya itu tidak diingatnya lagi. Orang-orang begitu tidaklah ingat kepada jasa, tidaklah pembalas guna.
“Wahai manusia! Takwalah kamu kepada Tuhan kamu dan takutlah akan hari, yang seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan si anak pun tidak dapat membela ayahnya sedikit pun."
(pangkal ayat 33)
Takwa kepada Allah ﷻ hendaknya usaha sendiri-sendiri. Jangan menggantungkan harapan karena bertali kekeluargaan dengan orang lain, walaupun dengan ayah, walaupun dengan anak. Nabi Nuh tidaklah akan dapat membela anaknya yang tidak mau masuk bahtera ketika topan besar itu akan datang, lalu anak itu tenggelam Nabi Ibrahim tidaklah akan dapat membela ayah kandungnya, Azar, yang dia cintai. Maka pendakwaan setengah orang yang mengaku dirinya keturunan Rasulullah ﷺ yang disebut bangsa Sayyid atau bangsa Habib, keturunan Rasulullah ﷺ, bahwa mereka akan selamat di akhirat, walaupun mereka berbuat berbagai dosa, sebab mereka keturunan Nabi Muhammad ﷺ, ajaran yang demikian tidaklah bersumber dari Al-Qur'an dan tidak dari sabda Rasulullah ﷺ sendiri yang dapat dipertanggungjawabkan.
Maka adalah amat rendah, tidak sesuai dengan ruh ajaran Islam yang mendidik manusia dengan ajaran tauhid, mempunyai jiwa merdeka, kalau ada yang mengajarkan bahwa seseorang dapat bersenang-senang “lenggang-kangkung" masuk surga sebab neneknya Nabi, atau bapaknya kiyai, atau cucunya waliullah. Surah al-Lahab, yang menerangkan kecelakaan dan kesialan Abu Lahab adalah i'tibar yang patut diperhatikan oleh setiap orang dan golongan yang ingin menumpang ke surga karena hubungan keluarga. Abu Lahab adalah abang dari ayah Nabi ﷺ, namun sikapnya yang menentang Islam termaktub terus-menerus selama Al-Qur'an masih ada di dunia ini. “Sesungguhnya janji Allah adalah benar." Janganlah ada yang menyangka bahwa janji Allah ﷻ dapat dipemainkan. “Maka sekali-kali janganlah memperdayakan kamu hidup di dunia." Tidaklah kamu akan lama tinggal di sini. Meskipun engkau mendapat kedudukan yang baik pada lahirnya dalam dunia ini, namun jika tidak ada bekal takwa kepada Allah ﷻ untuk dibawa ke akhirat, percumalah kemegahan dunia.
“Pan sekali-kali janganlah kamu dapat diperdayakan pada jalan Allah oleh orang yang memperdayakan."
(ujung ayat 33)
Karena orang lain itu hanya pandai membujukmu supaya tersesat. Bilamana kamu te-lah tersesat, terperosok jatuh ke dalam lembah kehinaan, tidak Seorang jua pun yang memperdayakan kamu itu yang akan datang menolong.
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang bila hari akan Kiamat."
(pangkal ayat 34)
Tidak ada seorang jua pun yang tahu selain Allah ﷻ, bila akan terjadi saat, yang berarti Kiamat itu. Malaikat pun tidak ada yang tahu. Nabi-nabi pun tidak. “Dan Dialah yang menurunkan hujan," sehingga tidaklah ada satu kekuasaan pun yang sanggup menentukan turun hujan menurut kehendaknya. Hujan turun atau tidak turun, hanyalah menurut kehendak Allah ﷻ Meskipun kita mengetahui pula tentang kebiasaan yaitu bahwa di musim dingin sekitar Desember, Januari dan Februari lebih banyak hujan turun di daerah khatulistiwa, dan dari Juli, Agustus, dan September lebih banyak panas, dan Mei sampai Juni udara lebih bagus dan hujan belum banyak turun, Maret dan April hujan masih agak banyak. Namun semuanya itu hanyalah kebiasaan, yang tidak selalu tepat. Sebab itu dapat diyakinkan bahwa yang menentukan turun hujan itu semata-mata Allah ﷻ saja.
“Dan hanyalah Dia yang tahu apa yang dikandung dalam rahim." Apakah anak yang dikandung itu akan laki-laki atau akan perempuan. Meskipun ini kadang-kadang dapat memberatkan sangka karena melihat perangai ibunya selama mengandung, namun masih banyak yang tidak dapat diketahui manusia. Bagaimana nasib anak yang dikandung ini kelak kalau lahir ke dunia. Apakah akan jadi orang pintar atau jadi orang bodoh, akan jadi menteri atau jadi saudagar; akan jadi dokter atau jadi insinyur, apakah akan berjaya (sukses) atau akan apes, yang tahu hanya Allah ﷻ saja. “Dan tidaklah seorang jua pun yang tahu apa yang akan diusahakan besok." Kesanggupan manusia hanyalah merencana; adapun kepastian tetap di tangan Allah ﷻ
“Dan tidak seorang jua pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal". Walaupun orang zaman sekarang telah menyediakan kuburannya atau mewasiatkan agar dia kalau mati dia dikuburkan di bumi anu, namun dia pun tidak dapat memastikan apakah di negeri tempat kubur yang diwasiatkannya itu dia akan mati. Jenazah di zaman modern kita ini mudah saja mengangkatnya dengan kapal udara dari ujung dunia ke ujung dunia. Tetapi tempat di mana akan meninggal, tidaklah ada manusia yang tahu.
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."
(ujung ayat 14)
Selesai Tafsir Surah Luqmaan. Alhamdulillah!.
The Might and Power of Allah Allah tells us that He
Allah says:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ
وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ
See you not that Allah merges the night into the day, and merges the day into the night,
meaning, He takes from the night and adds to the day, so that the day becomes longer and the night shorter, which is what happens in summer when the days are longest; then the day starts to become shorter and the night longer, which is what happens in winter.
وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى
and has subjected the sun and the moon, each running its course for a term appointed;
It was said that this means, each runs within its set limits, or it means until the Day of Resurrection; both meanings are correct.
The first view is supported by the Hadith of Abu Dharr, may Allah be pleased with him, in the Two Sahihs, according to which the Messenger of Allah said:
يَا أَبَا ذَرَ أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ
O Abu Dharr! Do you know where this sun goes?
I (Abu Dharr) said:Allah and His Messenger know best.
He said:
فَإِنَّهَا تَذْهَبُ فَتَسْجُدُ تَحْتَ الْعَرْشِ ثُمَّ تَسْتَأْذِنُ رَبَّهَا فَيُوشِكُ أَنْ يُقَالَ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِيْت
It goes and prostrates beneath the Throne, then it seeks permission from its Lord, and soon it will be said:Go back from whence you came.
Ibn Abi Hatim recorded that Ibn Abbas said,
The sun is like flowing water, running in its course in the sky during the day. When it sets, it travels in its course beneath the earth until it rises in the east.
He said,
The same is true in the case of the moon.
Its chain of narration is Sahih.
وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
and that Allah is All-Aware of what you do.
This is like the Ayah,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَأءِ وَالاٌّرْضِ
Know you not that Allah knows all that is in the heaven and the earth. (22:70)
The meaning is that Allah is the Creator Who knows all things, as He says:
اللَّهُ الَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـوَتٍ وَمِنَ الاٌّرْضِ مِثْلَهُنَّ
It is Allah Who has created seven heavens and of the earth the like thereof. (65:12)
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ
That is because Allah, He is the Truth, and that which they invoke besides Him is falsehood;
means, He shows you His Signs so that you may know from them that He is the Truth, i.e., He truly exists and is truly divine, and that all else besides Him is falsehood. He has no need of anything else, but everything else is dependent on Him, because everything in heaven and on earth is created by Him and is enslaved by Him; none of them could move even an atom's weight except with His permission. If all the people of heaven and earth were to come together to create a fly, they would not be able to do so.
Allah says:
وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
and that Allah, He is the Most High, the Most Great.
meaning, He is the Most High and there is none higher than Him, and He is the Most Great Who is greater than everything. Everything is subjugated and insignificant in comparison to Him
Allah tells us that He is the One Who has subjugated the sea so that ships may sail on it by His command, i.e., by His grace and power.
Allah says:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ
See you not that the ships sail through the sea by Allah's grace
For if He did not give the water the strength to carry the ships, they would not sail. So he says:
لِيُرِيَكُم مِّنْ ايَاتِهِ
that He may show you of His signs, meaning, by His power.
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَايَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Verily, in this are signs for every patient, grateful.
means, every person who bears difficulty with patience and who gives thanks at times of ease.
Then Allah says
وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ
And when waves cover them like shades,
meaning, like mountains or clouds,
دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
they invoke Allah, making their invocations for Him only.
This is like the Ayah,
وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِى الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَا إِيَّاهُ
And when harm touches you upon the sea, those that you call upon vanish from you except Him. (17:67)
فَإِذَا رَكِبُواْ فِى الْفُلْكِ
And when they embark on a ship... (29:65)
Then Allah says:
فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ
But when He brings them safe to land, there are among them those that stop in between.
Mujahid said,
This refers to the disbelievers -- as if he interpreted the word Muqtasid to mean denier as in the Ayah,
فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
but when He brings them safely to land, behold, they give a share of their worship to others. (29:65)
وَمَا يَجْحَدُ بِأيَاتِنَا إِلاَّ كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ
And Our Ayat are not denied except by every Khattar Kafur.
Khattar means one who betrays or stabs in the back.
This was the view of Mujahid, Al-Hasan, Qatadah and Malik, narrating from Zayd bin Aslam.
This word describes a person who, whenever he makes a promise, breaks his promise, and it refers to the worst form of treachery.
كَفُورٍ
(Kafur) means,
one who denies blessings and does not give thanks for them, rather he forgets them and does not remember them
The Command to fear Allah and remember the Day of Resurrection
Allah says:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا
O mankind!
Have Taqwa of your Lord, and fear a Day when,
Here Allah warns people about the Day of Resurrection, and commands them to fear Him and remember the Day of Resurrection when
لاَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ
no father can avail aught for his son,
which means, even if he wanted to offer himself as a sacrifice for his son, it would not be accepted from him. The same will apply in the case of a son who wants to sacrifice himself for his father -- it will not be accepted from him.
وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْيًا
nor a son avail aught for his father.
إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ
Verily, the promise of Allah is true,
Then Allah reminds them once again with the words:
فَلَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
let not then this present life deceive you,
meaning, do not let your feelings of contentment with this life make you forget about the Hereafter.
وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
nor let the chief deceiver deceive you about Allah.
refers to the Shaytan. This was the view of Ibn Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak and Qatadah.
The Shaytan makes promises to them and arouses in them false desires, but there is no substance to them, as Allah says:
يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمْ الشَّيْطَـنُ إِلاَّ غُرُوراً
He makes promises to them, and arouses in them false desires; and Shaytan's promises are nothing but deceptions. (4:120)
Wahb bin Munabbih said:
`Uzayr, peace be upon him, said:When I ﷺ the misfortune of my people, I felt very sad and distressed, and I could not sleep, so I prayed to my Lord and fasted, and I called upon Him weeping. There came to me an angel and I said to him:`Tell me, will the souls of the righteous intercede for the wrongdoers, or the fathers for their sons?'
He said:`On the Day of Resurrection all matters will be settled, and Allah's dominion will be made manifest and no exceptions will be made. No one will speak on that Day except with the permission of the Most Merciful. No father will answer for his son, or any son for his father, or any man for his brother, or any servant for his master. No one will care about anybody except himself, or feel grief or compassion for anyone except himself. Everyone will be worried only about himself. No one will be asked about anybody else. Each person will be concerned only about himself, weeping for himself and carrying his own burden. No one will carry the burden of another.'
This was recorded by Ibn Abi Hatim
Allah says:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الاَْرْحَامِ
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour, He sends down the rain, and knows that which is in the wombs. No person knows what he will earn tomorrow,
The Knower of the Unseen is Allah. These are the keys of the Unseen, whose knowledge Allah alone has kept for Himself, and no one else knows them unless Allah tells him about them. The knowledge of `when the Hour will occur' is not known to any Prophet who was sent or any angel who is close to Allah.
لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَأ إِلااَّ هُوَ
None can reveal its time but He. (7:187)
Similarly, no one but Allah knows when rain will fall, but when He issues the commands, the angels who are entrusted with the task of bringing rain know about it, as do those among His creation whom He wills should know.
No one but He knows what is in the wombs of what He wants to create, but when He decrees whether it is to be male or female, and whether it is to be blessed or doomed, the angels who are entrusted with that know about it, as do those among His creation whom He wills should know.
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا
No person knows what he will earn tomorrow,
No one knows what he will earn tomorrow with regard to this world or the Hereafter.
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
and no person knows in what land he will die.
in his own land or elsewhere, in some other land. No one knows this.
This Ayah is like the Ayah,
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَأ إِلاَّ هُوَ
And with Him are the keys of the Unseen, none knows them but He. (6:59)
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Verily, Allah is All-Knower, All-Aware.
It was reported in the Sunnah that the above five things are called the Keys of the Unseen.
Imam Ahmad recorded that Buraydah said that he heard the Messenger of Allah say:
خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الاَْرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
There are five things which no one knows except Allah:
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour,
He sends down the rain,
and knows that which is in the wombs.
No person knows what he will earn tomorrow,
and no person knows in what land he will die.
Verily, Allah is All-Knower, All-Aware.
The chain of narrators for this Hadith is Sahih, although they did not recorded it.
The Hadith of Ibn Umar
Imam Ahmad recorded that Ibn Umar said,
The Messenger of Allah said:
مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الاَْرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
The Keys of the Unseen are five, which no one knows except Allah:
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour,
He sends down the rain,
and knows that which is in the wombs.
No person knows what he will earn tomorrow,
and no person knows in what land he will die.
Verily, Allah is All-Knower, All-Aware.
This was recorded only by Al-Bukhari, which he narrated in the Book of the Rain Prayer in his Sahih.
He also recorded it in his Tafsir with a different chain of narrators, stating that Abdullah bin Umar said,
The Prophet said:
مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْس
The Keys of the Unseen are five.
Then he recited:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الاَْرْحَامِ
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour, He sends down the rain, and knows that which is in the wombs...
This too was recorded only by Al-Bukhari.
The Hadith of Abu Hurayrah
In his Tafsir of this Ayah, Al-Bukhari narrated from Abu Hurayrah, may Allah be pleased with him, that the Messenger of Allah was standing before the people one day when a man came to him and said,
`O Messenger of Allah, what is Iman?'
He said:
الاِْيمَانُ أَنْ تُوْمِنَ بِاللهِ وَمَلَيِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَلِقَايِهِ وَتُوْمِنَ بِالْبَعْثِ الاْخِر
Iman is to believe;
in Allah,
His Angels,
His Books,
His Messengers and
in the meeting with Him,
and to believe in the Resurrection in the Hereafter.
He said:`O Messenger of Allah, what is Islam?'
He said:
الاِْسْلَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْيًا وَتُقِيمَ الصَّلَةَ وَتُوْتِيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَان
Islam is
to worship Allah Alone and not associate anything in worship with Him,
to establish regular prayer,
to pay the obligatory Zakah, and
to fast in Ramadan.
He said, `O Messenger of Allah, what is Ihsan?'
He said:
الاِْحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك
Ihsan is to worship Allah as if you see Him, and if you do not see Him, then He sees you.
He said, `O Messenger of Allah, when will the Hour come?'
He said:
مَا الْمَسْوُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّايِلِ وَلكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا
إِذَا وَلَدَتِ الاَْمَةُ رَبَّتَهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَ الْحُفَاةُ الْعُرَاةُ رُوُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللهُ
The one who is asked about it does not know more than the one who is asking, but I will tell you of some of its signs:
when the servant woman gives birth to her mistress, that is one of its signs;
when the barefoot and naked become leaders of the people, that is one of its signs.
The timing of the Hour is one of the five things which no one knows except Allah:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الاَْرْحَامِ
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour, He sends down the rain, and knows that which is in the wombs....
Then the man went away, and the Prophet said,
رُدُّوهُ عَلَي
(Bring him back to me).
They went to bring him back, but they could not find him.
He said:
هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ دِينَهُم
That was Jibril who came to teach the people their religion.
It was also recorded by Al-Bukhari in the Book of Faith, and by Muslim with several chains of narration.
We have discussed this at the beginning of our commentary on Al-Bukhari, where we mentioned at length some Hadiths narrated by the Commander of the faithful Umar bin Al-Khattab. These were recorded only by Muslim.
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
and no person knows in what land he will die.
Qatadah said,
There are some things which Allah has kept to Himself, and they are not known to any angel who is close to Him or any Prophet who was sent by Him.
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour,
no one among mankind knows when the Hour will come, in which year or month, or whether it will come at night or during the day.
وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
He sends down the rain,
and no one knows when rain will come, night or day.
وَيَعْلَمُ مَا فِي الاَْرْحَامِ
and knows that which is in the wombs.
No one knows what is in the wombs, male or female, red or black, or what it is.
وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً
No person knows what he will earn tomorrow,
whether it will be good or bad. You do not know, O son of Adam, when you will die. You might die tomorrow, you might be stricken by calamity tomorrow.
وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
and no person knows in what land he will die.
means, no person knows where his resting place will be, on the land or in the sea, on a plain or in the mountains.
It says in the Hadith:
إِذَا أَرَادَ اللهُ قَبْضَ عَبْدٍ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَة
If Allah wants to take a person's soul in a particular land, He will give him a reason to go there.
In Al-Mu`jam Al-Kabir, Al-Hafiz Abu Al-Qasim At-Tabarani recorded that Usamah bin Zayd said,
The Messenger of Allah said:
مَا جَعَلَ اللهُ مِيتَةَ عَبْدٍ بِأَرْضٍ إِلاَّ جَعَلَ لَهُ فِيهَا حَاجَة
Allah does not will that a person should die in a certain land but He gives him a reason to go there.
This is the end of the Tafsir of Surah Luqman. Praise be to Allah, the Lord of the worlds. Sufficient for us is Allah and He is the Best Disposer of affairs.
Lo! God, with Him lies knowledge of the Hour, when it will come to pass; and He sends down (read yunzilu, or yunazzilu) the rain, at times which [only] He knows; and He knows what is in the wombs, whether it is a male or a female; and not one of the three things is known by anyone other than God, exalted be He. And no soul knows what it will earn tomorrow, of good or evil, but God, exalted be He, knows this; and no soul knows in what land it will die, but God, exalted be He, knows this. Truly God is Knower, of all things, Aware, of the inward and outward aspects thereof. Al-Bukhaaree reported [by way of an isnaad] from ['Abd Allaah] Ibn 'Umar the following hadeeth: 'The Keys of the Unseen are five: Lo! God, with Him lies knowledge of the Hour . to the end of the soora'.
إِنَّ اللَّـهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
Surely, it is Allah with whom rests the knowledge of the Hour, and He sends down the rain, and He knows what is in the wombs. And no one knows what he will earn tomorrow and no one knows in which land he will die. Surely, Allah is All Knowing, All Aware - 31:34.
Though, it has not been made explicit in the first three things that no one has their knowledge other than Allah, but the style of the statement is such that it seems to give the impression that the knowledge of these things rests limited to Divine Knowledge. As for the other two things mentioned later, there it has been explicitly said that no one has their knowledge other than Allah. These very five things have been called "keys to the Unseen" (مَفَاتح الغیب :mafatih al-ghayb) in a verse of Surah Al An` am: وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ (And with Him are the keys of the Unseen. No one knows them but He - 6:59). In Hadith, it has been referred as مَفَاتیح الغیب (mafatih al-ghayb). Both مَفَاتح (mafatih) and مَفَاتیح (mafatih) are the plural forms of مِفتَاح (miftah) meaning key which opens locks. It signifies sources of the Unseen that unravel its information.
The Issue of the ` Ilm ul-Ghayb عِلمُ الغَیب (Knowledge of the Unseen)
Necessary details about this issue have been given under the commentary on verse 65: قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّـهُ (Say, 'No one in the heavens and the earth has the knowledge of the Unseen except Allah.' - 27:65) of Surah An-Naml (Ma’ ariful-Qur’ an, Volume VI). That the knowledge of the unseen is particular to Allah Ta’ ala in the absolute sense has been explicitly mentioned in this verse - and this has been the belief of the entire Muslim community from the earliest to the succeeding generations. As for the description of only five things particularly - that no created being has their knowledge and that it is Allah alone who knows these - it is not meant for particularization. Otherwise, it would pose a contradiction with the verse of Surah An-Naml quoted above. The fact is that these five things have been mentioned here to highlight their special significance.
There is a reason for this specific treatment and marked attention. Things of the Unseen that one is generally keen to find out are just these five. Then, there are astrologers and their kind who lay a claim to the knowledge of the unseen. Things they usually pick up to inform people about, and thereby prove that they are possessors of the knowledge of the unseen, are again these very five things. And in some narratives of Hadith it has been reported that someone had asked the Holy Prophet ﷺ about these five things whereupon this verse was revealed and wherein it has been stated that the knowledge of these five is particular with Allah Ta’ ala. (Ruh u1-Ma’ ani)
As for the statement of the Holy Prophet ﷺ reported on the authority of Sayyidna Ibn ` Umar and Ibn Mas` ؓ in Hadith: اُوتِیتُ مَفَاتِح کُلِّ شَیءِ اِلَّاالخَمس (I have been given the keys to everything except the five) (reported by Imam Ahmad - Ibn Kathir), the word: اُوتِیتُ (I have been given) itself makes it all clear. It shows that the knowledge of unseen things other than these five which came to the Holy Prophet ﷺ came in the form of revelation (wahy) from Allah Ta’ ala. Therefore, it is not included under the definition of the knowledge of the unseen ('Ilm ul-ghayb) because the news about things unseen given to the blessed prophets through wahy (revelation) and to the men of Allah (auliya' ) through ilham (inspiration) come from Allah Ta’ ala. In terms of their reality, they are not the knowledge of the unseen based on which they could be called the possessors of 'the knowledge of the unseen' (` alim ul-ghayb). They are, rather, اَنباُء الغَیب (news of the unseen). This is an area of Divine prerogative. Whenever Allah Ta’ ala so wills, and in whatever measure He wills, He would bestow such information on His angels, messengers and favored servants. These are called (anba 'ul-ghayb) in the noble Qur'an, for instance: تِلْكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ (These are some reports from the Unseen (events) which We reveal to you - 11:49).
Therefore, the Hadith quoted above means that, no doubt, Allah Ta’ ala has made these five things so exclusive to Himself that no angel or messenger has been given their knowledge even as 'news' of the unseen. However, besides these, a fair amount of the knowledge relating to other unseen things is given out to the blessed prophets (علیہم السلام) through the medium of wahy (revelation).
Thus, from what has been discussed above, we now know one more reason why these five things have been mentioned specially.
A doubt and its answer
The cited verse proves that even in the absolute knowledge of the unseen which is an integral attribute of Allah Ta’ ala there are five particular things the knowledge of which is not given to any prophet even through wahy (revelation). This demands that these things should never become known to anyone. However, countless events relating to men of Allah (auliya' ) in the Muslim community have been reported to the effect that somewhere they gave the news of rain, or pregnancy, or someone doing or not doing a deed in the future, or someone's exact place of death. And this foreboding turned out to be true as well when observed.
Similarly, there are some astrologers or people well versed in the art of divination through what is known as Jafar and Ramal who would come up with some bits of information about these things and these, at some times, would turn out to be true as well. This raises the question: How, then, could these five things remain exclusive to Divine Knowledge?
One answer to this question is the same as has appeared in details under our Commentary on Surah An-Naml (27:65, Ma’ ariful-Qur an, Volume VI). A brief one has been given above to the effect that the Knowledge of the Unseen, in its real sense, is knowledge without the mediation of a physical cause - that is, sans medium, by itself. If these things are received by the blessed prophets through wahy (revelation), by men of Allah (auliya' ) through ilham (inspiration) and by astrologers and other claimants to divination or prediction through their calculations and physical causes, then, that is no knowledge of the unseen as such. Instead, these are 'news' of the unseen. If someone from among the creation of Allah were to receive such news relating to some partial or personal matter, it would not be contradictory of the cited verse. The reason is simple. According to the substance of the verse, the total knowledge of these five things, a knowledge which comprehends everything created as well as every relative condition, is something not given by Allah Ta'ala to anyone, neither through wahy (revelation) nor through ilham (inspiration). That someone gets to receive some partial knowledge through ilham (inspiration) in a stray case is not contradictory to it.
In addition to that, when we say 'ilm (knowledge), it means absolute knowledge. That no one has except Allah Ta’ ala. The knowledge a man of Allah (waliyy) receives through ilham (inspiration) is not absolute. Many probabilities of error or false perception exist in it. As for the information given out by astrologers and their ilk, it is a common observation that they hardly come up to the level of a single truth out of ten lies. How can that be called 'absolute knowledge'?
The issue of the Knowledge of the Unseen: An important note
My respected teacher, Shaykh ul-Islam Shabbir Ahmad 'Usmani has made a brief but comprehensive comment in his explanatory notes on the Holy Qur'an which helps remove all doubts and difficulties of the nature mentioned above. He has said that there are two kinds of al-Ghayb (the unseen): (1) Injunctions of the unseen (al- ahkam ul-ghaybiyyah), such as, the injunctions originating from revealed laws that include the knowledge of the Being and attributes of Allah Ta'ala as well and are called the knowledge of beliefs (al-` aqa'id). Also included therein are all injunctions of the Shari'ah or revealed law which tell us as to what sort of conduct meets the approval or disapproval of Allah Ta’ ala. It goes without saying that all these things belong to nowhere but the unseen.
(2) Cosmology of the unseen (al-akwan ul-ghaybiyyah), that is, the knowledge of the events occurring in the world. The knowledge of the unseen things of the first kind has been given by Allah Ta'ala to His prophets and messengers. This is mentioned in the Qur'an in the following words: فَلَا يُظْهِرُ عَلٰي غَيْبِهٖٓ اَحَدًا اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ (He is the) Knower of the Unseen. So He does not let anyone know His Unseen, except a messenger whom He chooses (to inform through revelation) - 72:26-27.
As for the unseen events and occurrences of the other kind, their knowledge - the whole of it - is just not given by Allah Ta’ ala to anyone. That remains categorically exclusive to Him as His intrinsic attribute. But, He gives partial knowledge of particular events when He wills and as much He wills. As such, the real knowledge of the unseen - all of it - remains exclusive to Allah Ta’ ala. Then, as is His customary practice, He reveals to the blessed prophets the knowledge of the injunctions of the unseen from out of His knowledge of the unseen - and this very knowledge is the purpose of their mission. Then, there is the partial knowledge of the events and occurrences of the world. That too is given by Allah Ta’ ala to prophets through revelation (wahy) and men of Allah (auliya' ) through inspiration (ilham) at His discretion and to the measure of His choice. Thus, the part of knowledge so given is knowledge that has been bestowed on them by Allah Ta’ ala. In the real sense, this cannot be called: علم الغیب (` ilm ul-ghayb: the knowledge of the unseen). Instead, it is called: اَنباء الغیب "an[ m ] ba' il-ghayb: the news of the unseen."
Special note concerning the words of the verse
In this verse, the objective is to describe the exclusiveness of the knowledge of these five things with Allah Ta’ ala in a manner that shows marked care and attention. This objective obviously required that five things should have been enumerated under a single head saying that their knowledge is exclusive to Allah Ta’ ala and that no created entity has been given their knowledge. But, in the cited verse, this was not done. Instead, as for the knowledge of the initial three things, it was mentioned positively as being exclusive to Allah - while, in the later two things, the statement was negative declaring that no one other than Allah has their knowledge. Let us go back to the initial three things. Here, a variation in style becomes fairly visible even in these three. We see that the knowledge of the Hour has been mentioned in the following manner: إِنَّ اللَّـهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ (Surely, it is Allah with whom rests the knowledge of the Hour). Then the mode changes. The second thing has been taken up in the form of a verbal sentence by saying: يُنَزِّلُ الْغَيْثَ (and He sends down the rain). It simply has no mention of the knowledge of rain. Instead, it mentions the sending down of rain. The third thing was mentioned with a changed mode once again and it was said: وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْ حَامِ (and He knows what is in the wombs). This change of modality can only be taken as a sampling of versatility in eloquence of speech. If one were to ponder, there are other elements of wisdom embedded here. The respected author of Bayan ul-Qur'an has described these in his Tafsir.
In brief, the last two things - what will one earn tomorrow and in which land will one die - are states connected with the human person. It was probable that one would try to seek the relevant knowledge about these. Therefore, in both these cases, the acquiring of such knowledge on the part of anyone other than Allah was negated. Also proved effectively through this statement was the absence of the knowledge of the first three things for anyone other than Allah. The argument was simple. Here is someone who does not know about his doings and earnings tomorrow. Then, he does not know the end of it all, the point when and where he will die. How could he, then, be expected to know the heavens and the coming of rains and the thing hidden in the dark layers of a mother's womb? Finally, when mentioning the last thing, it was said that one does not know the place of one's death. Yes, the text mentions 'place' only - although, one does not know one's time of death too just like the place of death. The reason is that the place of death, even if not known definitely, is something one can guess in terms of one's outward living conditions. One can naturally assume that the place where one is settled would be the place where one would die, and at the least, the place where one is to die is, after all, present somewhere in the world. This is contrary to the time of death. This time is in the future and the future is not here yet. So, a person who cannot know about his place of death, despite that it is present actually, how can it be imagined about him that he would come to know his time of death which simply does not exist then?
So, the negation of one thing here makes the negation of others obvious in the first degree. Therefore, the text takes up both these things in the negative mode. As for the first three things, they are by themselves outside the scope of human access under perceptible conditions. That human knowledge has nothing to do with it is all too clear. Therefore, a positive mode was chosen to describe their exclusiveness to Allah Ta’ ala.
Before parting with the subject, a few words about the use of nominal form in the first sentence and the verbal one in the later two sentences may be useful. Perhaps, the wisdom therein is to suggest that the Qiyamah or the Last Day is a definite imperative with no change in it. This is contrary to the coming of rain and the period of pregnancy. Their conditions keep changing - and the verbal sentence is suggestive of change. Therefore, that is what was used in both these cases. Then, we notice a delicacy of treatment within these two as well. When dealing with the conditions of pregnancy, what was mentioned was Divine knowledge: وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ (and He knows what is in the wombs - 34) while in taking up the subject of the coming of rain, there is just no mention of knowledge. There is a reason for it. Here, by mentioning the sending down of rain, it was tacitly suggested that the rain to which are tied thousands of human benefits is something that comes at the bidding of Allah alone and that no one else exercises the ultimate control over it. As for the essential exclusiveness of its knowledge being with Allah, it already stands proved from the very context of the statement....
Al-hamdulillah
The Commentary on
Surah Luqman
Ends here