ٱلْمَائِدَة ٨٢
- لَتَجِدَنَّ sungguh kamu akan mendapati
- أَشَدَّ paling keras
- ٱلنَّاسِ manusia
- عَدَٰوَةٗ permusuhan
- لِّلَّذِينَ terhadap orang-orang yang
- ءَامَنُواْ beriman
- ٱلۡيَهُودَ orang-orang Yahudi
- وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang
- أَشۡرَكُواْۖ (mereka) musyrik
- وَلَتَجِدَنَّ dan sungguh kamu akan mendapati
- أَقۡرَبَهُم mereka paling dekat
- مَّوَدَّةٗ persahabatan
- لِّلَّذِينَ terhadap orang-orang yang
- ءَامَنُواْ beriman
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- قَالُوٓاْ (mereka) mengatakan
- إِنَّا sesungguhnya kami
- نَصَٰرَىٰۚ orang-orang Nasrani
- ذَٰلِكَ demikian
- بِأَنَّ disebabkan
- مِنۡهُمۡ diantara meraka
- قِسِّيسِينَ pendeta-pendeta
- وَرُهۡبَانٗا dan rahib-rahib
- وَأَنَّهُمۡ dan bahwasanya mereka
- لَا tidak
- يَسۡتَكۡبِرُونَ mereka menyombongkan diri
Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani." Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.
(Sesungguhnya kamu dapati) wahai Muhammad (orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik) dari kalangan penduduk Mekah oleh sebab menebalnya kekafiran mereka, kebodohan mereka dan tenggelamnya mereka dalam hawa nafsu (dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu) maksudnya kecintaan mereka begitu dekat terhadap orang-orang mukmin (disebabkan karena) oleh karena (di antara mereka/orang-orang Nasrani terdapat pendeta-pendeta) ulama-ulama agama Nasrani (dan rahib-rahib) orang-orang ahli ibadah Nasrani (juga karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri) untuk mengikuti barang yang hak tidak sebagaimana orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin penduduk Mekah yang menyombongkan diri. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan utusan raja Najasyi yang datang dari negeri Habasyah untuk menemui kaum Muslimin. Kemudian Nabi ﷺ membacakan surah Yasin kepada mereka setelah itu mereka menangis dan masuk Islam semuanya seraya mengatakan, "Alangkah miripnya bacaan ini dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Isa." Allah ﷻ berfirman:.
Tafsir Surat Al-Ma'idah: 82
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan An-Najasyi dan teman-temannya, yaitu ketika Ja'far ibnu Abu Thalib membacakan Al-Qur'an kepada mereka di negeri Habsyah (Etiopia), maka mereka menangis karena mendengarnya hingga membasahi janggut mereka.
Akan tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan lagi, mengingat ayat ini Madaniyah, sedangkan kisah Ja'far ibnu Abu Thalib terjadi sebelum hijrah (yakni dalam masa Makkiyyah).
Said ibnu Jubair dan As-Suddi serta selain keduanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi Raja Najasyi yang diutus kepada Nabi ﷺ untuk mendengarkan ucapan Nabi ﷺ dan melihat sifat-sifatnya. Tatkala mereka melihat Nabi ﷺ dan Nabi ﷺ membacakan Al-Qur'an kepada mereka, maka mereka masuk Islam seraya menangis dan dengan penuh rasa khusyuk (tunduk patuh). Sesudah itu mereka pulang ke Raja Najasyi dan menceritakan apa yang mereka alami kepadanya.
Menurut As-Suddi, Raja Najasyi berangkat berhijrah (bergabung dengan Nabi ﷺ di Madinah), tetapi ia meninggal dunia di tengah perjalanan. Hal ini merupakan riwayat yang hanya dikemukakan oleh As-Suddi sendiri, karena sesungguhnya Raja Najasyi meninggal dunia dalam keadaan sebagai Raja Habsyah. Nabi ﷺ beserta para sahabatnya menyalatkannya di hari kewafatannya, dan Nabi ﷺ memberitahukan bahwa Raja Najasyi meninggal dunia di tanah Habsyah.
Para ulama berbeda pendapat mengenai bilangan delegasi Raja Najasyi. Menurut suatu pendapat, jumlah mereka ada dua belas orang; tujuh orang di antara mereka adalah pendeta, sedangkan yang lima orang lainnya adalah rahib. Tetapi pendapat yang lain mengatakan sebaliknya. Menurut pendapat lain, jumlah mereka ada lima puluh orang; dikatakan pula ada enam puluh orang lebih, dan dikatakan lagi ada tujuh puluh orang laki-laki.
‘Atha’ ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum dari negeri Habsyah; mereka masuk Islam setelah kaum muslim yang berhijrah tiba di negeri Habsyah.
Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum yang memeluk agama Isa ibnu Maryam. Ketika mereka melihat kaum muslim dan mendengarkan Al-Qur'an, maka dengan spontan mereka masuk Islam tanpa ditangguh-tangguhkan lagi.
Sedangkan Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan banyak kaum yang mempunyai ciri khas dan sifat tersebut, baik mereka dari kalangan bangsa Habsyah ataupun dari bangsa lainnya.
Firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al-Maidah: 82)
Hal itu tiada lain karena kekufuran orang-orang Yahudi didasari oleh pembangkangan, keingkaran, dan kesombongannya terhadap kebenaran serta meremehkan orang lain dan merendahkan kedudukan orang-orang yang berilmu. Karena itulah mereka banyak membunuh nabi-nabi mereka, sehingga Rasulullah ﷺ tak luput dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh mereka berkali-kali. Mereka meracuni Nabi ﷺ dan menyihirnya, dan mereka mendapat dukungan dari orang-orang musyrik yang sependapat dengan mereka; semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.
Al-Hafidzh Abu Bakar ibnu Mardawaih sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnus Sirri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Habib Ar-Ruqqi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sa'id Al-Allaf, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, dari Al-Asyja'i, dari Sufyan, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim melainkan pasti orang Yahudi itu berniat ingin membunuhnya.”
Kemudian Ibnu Mardawaih meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ishaq Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Sahl ibnu Ayyub Al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Faraj ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim lain melainkan terbetik dalam hati si Yahudi itu hasrat untuk membunuhnya.” Hadits ini gharib (asing) sekali.
Firman Allah ﷻ: "Dan sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’.” (Al-Maidah: 82)
Yakni orang-orang yang mengakui dirinya sebagai orang-orang Nasrani, yaitu pengikut Al-Masih dan berpegang kepada kitab Injilnya. Di kalangan mereka secara globalnya terdapat rasa persahabatan kepada Islam dan para pemeluknya. Hal itu tiada lain karena apa yang telah tertanam di hati mereka, mengingat mereka pemeluk agama Al-Masih yang mengajarkan kelemah lembutan dan kasih sayang, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: “Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang serta rahbaniyah.” (Al-Hadid: 27) Di dalam kitab mereka tertera bahwa barang siapa yang memukul pipi kananmu, maka berikanlah kepadanya pipi kirimu; dan perang tidak disyariatkan di dalam agama mereka. Karena itulah disebutkan oleh Allah ﷻ melalui firman-Nya:
“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Maidah: 82)
Yakni didapati di kalangan mereka para pendeta, yaitu juru khotbah dan ulama mereka; bentuk tunggalnya adalah qasisun dan qissun, adakalanya dijamakkan dalam bentuk qususun. Ar-rauhban adalah bentuk jamak dari rahib yang artinya ahli ibadah, diambil dari akar kata rahbah yang artinya takut; se-wazan dengan lafal rahib yang jamaknya ruhban, dan lafal faris yang jamaknya fursan.
Ibnu Jarir mengatakan, adakalanya lafal ruhban ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah rahabin, mirip dengan lafal qurban yang bentuk jamaknya qarabin, dan lafal jar'zan (tikus) yang bentuk jamaknya jarazin. Adakalanya dijamakkan dalam bentuk rahabinah. Termasuk dalil yang menunjukkan bahwa lafal rahban bermakna tunggal di kalangan orang-orang Arab ialah perkataan seorang penyair mereka yang mengatakan: “Seandainya aku saksikan ada rahib gereja di puncak itu, niscaya rahib itu akan keluar dan berjalan menuruni (puncak tersebut).”
Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Nasir ibnu Abul Asy'as, telah menceritakan kepadaku As-Sak Ad-Dahhan, dari Jasiman ibnu Riab yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Salman mengenai firman Allah ﷻ: “Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.” (Al-Maidah: 82) Maka Salman berkata, "Biarkanlah para pendeta itu tinggal di dalam gereja-gereja dan reruntuhannya, karena Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku bahwa yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat orang-orang yang beriman dan rahib-rahib."
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih melalui jalur Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Hammani, dari Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, dari Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Ri-ab, dari Salman dengan lafal yang serupa.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, ayahnya pernah menceritakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Khani, telah menceritakan kepada kami Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, telah menceritakan kepada kami Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Riab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Salman ditanya mengenai firman-Nya: “Yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.” (Al-Maidah: 82) Maka Salman berkata bahwa mereka adalah para rahib yang tinggal di dalam gereja-gereja dan bekas-bekas peninggalan di masa lalu, biarkanlah mereka tinggal di dalamnya.
Salman mengatakan, dia pernah membacakan kepada Nabi ﷺ firman-Nya: “Yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat pendeta-pendeta.” (Al-Maidah: 82) Maka Nabi ﷺ membacakannya kepadaku dengan qiraat seperti berikut: “Yang demikian itu karena di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat orang-orang yang percaya (kepada Allah) dan rahib-rahib.”
Firman Allah ﷻ: “Yang demikian itu karena di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Maidah: 82)
Ayat ini mengandung penjelasan mengenai sifat mereka, bahwa di kalangan mereka terdapat ilmu, dan mereka adalah ahli ibadah serta orang-orang yang rendah hati.
[Akhir juz ke-6]
Pada ayat-ayat yang lalu diterangkan tentang kutukan Allah terhadap orang Yahudi, selanjutnya pada ayat ini dijelaskan bagaimana sikap para Ahli Kitab terhadap orang mukmin. Allah memberikan informasi kepada Nabi Muhammad, Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman (umat Islam), ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, yang memang merasa tidak senang dan selalu memusuhi Rasulullah dan umat Islam. Dan di samping itu, pasti akan kamu dapati juga orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani, yaitu yang tekun melaksanakan ajaran agamanya. Yang sedemikian itu karena di antara mereka, orang-orang Nasrani, terdapat para pendeta dan rahib yang saleh dan selalu melaksanakan tuntunan agamanya dengan benar, selain itu juga karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri dengan segala kesalehan dan ketekunan dalam beribadah. Setelah pada ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan tentang Ahli Kitab yang paling memusuhi kaum muslim, yaitu kaum Yahudi, dan Ahli Kitab yang merasa paling dekat dengan kaum muslim, yaitu kaum Nasrani; pada ayat ini Allah menjelaskan mengenai sebagian kaum Nasrani yang beriman kepada Al-Qur'an. Dan apabila mereka, sebagian Ahli Kitab seperti utusan kaum Nasrani dari Ethiopia, mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, yaitu Al-Qur'an, kamu, wahai Nabi Muhammad, akan melihat mata mereka mencucurkan air mata, karena ayat-ayat Al-Qur'an itu meresap ke dalam kalbu mereka secara mendalam, disebabkan mereka telah mengetahui kebenaran Al-Qur'an dari kitabkitab mereka sendiri, seraya berkata dengan tulus, Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada Al-Qur'an, maka catatlah kami menjadi bagian yang tidak terpisahkan bersama orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran Al-Qur'an dan kerasulan Nabi Muhammad.
Pada ayat ini Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa dalam perjuangannya akan menemukan manusia yang paling memusuhi dan menyakiti orang-orang mukmin. Manusia itu adalah Yahudi Medinah, musyrik Arab dan kalangan penyembah berhala. Orang Yahudi dan orang musyrik Arab sama-sama menentang ajaran Muhammad. Persamaan inilah yang mengikat kedua golongan ini, meskipun masing-masing mempunyai sifat kepribadian yang berlawanan. Selanjutnya ayat ini memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa dia akan mendapatkan manusia yang paling dekat dan menyukai orang-orang mukmin. Manusia itu adalah orang-orang Nasrani. Sebabnya ialah di antara mereka ada golongan yang memperhatikan pelajaran agama dan budi pekerti yaitu golongan biarawan yang anti terhadap kemewahan duniawi. Mereka bertakwa dan banyak bersemedi untuk beribadah. Tentunya kedua golongan ini orang-orang yang bersifat tawaduk (rendah hati) karena agama mereka mengajak mencintai musuh dan memberikan pipi yang kiri kepada orang yang memukul pipi kanannya. Kebaikan orang-orang Nasrani itu telah dibuktikan oleh sejarah yaitu sambutan Raja Habasyah (Abisinia) yang disebut Najasyi yang memeluk agama Nasrani. Dia beserta sahabat-sahabatnya melindungi Muslimin yang pertama kali melakukan hijrah dari Mekah ke Habasyah karena takut dari gangguan dan fitnahan yang dilakukan oleh kaum musyrik Arab secara kejam.
Raja Romawi Timur di Syam yaitu Heraklius, ketika menerima surat Nabi Muhammad menyambutnya dengan sambutan baik dan berusaha memberikan penjelasan kepada rakyatnya, supaya dapat menerima ajakan Nabi Muhammad meskipun rakyat belum sependapat dengannya karena masih berpegang dengan kefanatikan. Mukaukis yang menguasai Mesir, juga menyambut surat Nabi dengan sambutan yang baik, meskipun dia belum bersedia untuk menerima ajakan Nabi kepada Islam, namun beliau menjawab surat Nabi serta mengirim hadiah berharga, antara lain berupa seorang jariah yang bernama Mariah al-Qibtiyah. Demikian sambutan orang Nasrani pada masa Nabi. Berlawanan sekali dengan orang Yahudi, meskipun mereka secara terpaksa menyatakan sikap simpatik terhadap orang-orang mukmin, namun di dalam hati mereka tersembunyi pikiran tipu daya untuk memperdayakan orang-orang mukmin. Karena ajaran-ajaran pemimpin-pemimpin Yahudi menanamkan pada mereka fanatisme kebangsaan dan pendirian bahwa Bani Israil adalah satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Allah.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Sekarang disuruhlah Rasul ﷺ menanyakan kepada segala mereka yang telah mempersekutukan yang lain dengan Allah itu,
“Katakanlah, Adakah kamu sembahyang selain dari Allah, barang yang tidak berkuasa bagi kamu memudharatkan dan tidak pula memanfaatkan?"
(pangkal ayat 76)
Adakah patut kamu menyembah dan memuja kepada yang selain dari Allah itu, padahal yang lain itu tidak mempunyai kuasa dan daya apa-apa buat mendatangkan manfaat dan keuntungan, sebab semuanya itu hanya alam belaka, sama keadaannya dengan kamu yang memohon dan memuja itu sendiri.
“Sedang Allah itu, Dialah Yang Maha Mendengan, lagi Mengetahui?"
(ujung ayat 76)
Padahal Allah selalu mendengarkan sekalian permohonan dan mengetahui apa yang kamu perlukan? Mengapa kamu pindah dari Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui kepada benda, atau manusia yang tidak berdaya apa-apa, kalau bukan atas kurnia Allah? Mengapa kamu tidak langsung saja memohon kepada Allah itu, yang kalau seseorang yang lain beroleh kemuliaan dan ketinggian, tidak didapatnya kemuliaan itu kecuali dari Allah?
“Katakanlah, wahai Ahlut Kitab!"
(pangkal ayat 77)
Baik Yahudi maupun Nasrani. “Janganlah kamu berlebih-lebihan pada agama kamu, yang bukan kebenaran." Melebih-lebihi, atau berlebih-lebihan, sehingga keluar dari garis kebenaran, sehingga tidak agama lagi. Yahudi berlebih-lebihan pula sehingga mempunyai kepercayaan bahwasanya manusia yang paling mulia di atas dunia ini hanya satu saja, yaitu Bani Israil. Nasrani berlebih-lebihan, yang oleh karena terlalu cinta dan kagum dengan kebesaran dan kemuliaan al-Masih, sampai menganggapnya sebagai Allah atau anak Allah, atau sekali keduanya, sehingga sampai pula kepada kepercayaan Trimurti, pusaka agama-agama kuno, yang tidak lagi ada dasar kebenarannya.
“Dan janganlah kamu turuti hawa nafsu suatu kaum yang sesungguhnya telah tersesat sejak dahulu." Yaitu satu kaum, yang dituju ialah pemimpin-pemimpin agama, Ahbar dan Ruhban yang telah tersesat, yang didapati oleh Rasulullah ﷺ, ketika beliau diutus Allah. Tersebutlah di dalam sejarah perkembangan Kristen, bagaimana pendeta-pendeta yang dahulu berebut pengaruh terhadap pihak kekuasaan buat menumbangkan dan menghancurkan lawannya, sehingga banyaklah ahli-ahli tauhid sejati yang menjadi korban. Sehingga golongan yang kalah, walaupun besar jumlahnya, dikejar-kejar dan dihinakan, dikucilkan dari gereja, dan dipandang sebagai golongan yang telah dikeluarkan dari Kristen.
Maka terkenallah dalam perkembangan agama Kristen tentang adanya suatu musyawarah para pendeta yang tertinggi yang disebut: Konsili Ofkomini di tahun 380, yang bersidang di Constantinople, yaitu sidang besar yang kedua dalam sejarah Nasrani. Di sanalah Kaisar Theodesius menyatakan bahwa madzhab yang masih tetap mempertahankan tauhid, yang disebut Tauhid Muthlaq ajaran Perjanjian Lama, mulai waktu itu dibasmi, tidak diakui lagi. Dan mulai waktu itu hanya Trinitaslah yang wajib dianut. Siapa yang tidak menurut ajaran yang diputuskan itu, dianggaplah mereka bukan Kristen lagi. Dan menanglah keputusan yang mengatakan bahwa Tuhan itu bertiga, sebab itu yang dimenangkan oleh Kaisar. “Dan mereka pun telah menyesatkan pula kebanyakan orang, dan sesatlah mereka dari kelurusan jalan," Golongan yang menang itulah yang berpengaruh dan merekalah yang menyesatkan pengikut mereka dengan berbagai bid'ah.
“Telah dikutuk orang-orang yang telah kafir dari Bani Israil atas lidah Dawud dan Isa anak Maryam. Jadi demikian, kaiena mereka telah durhaka, dan adalah mereka telah melanggar."
(ayat 78)
Di zaman Dawud, Bani Israil itu telah melanggar peraturan syariat mereka sendiri, yaitu melanggar libur pada hari Sabtu, karena mereka lihat banyak ikan menepi di hari Sabtu dan kurang sekali di hari yang lain, sehingga peliburan hari itu mereka langgar. Mereka dikutuk sampai berperangai sebagai monyet dan kera.
Di zaman al-Masih mereka dikutuk lagi atas lidah beliau, oleh Allah, karena hanya mulut mereka saja yang bertahan pada Taurat, padahal perbuatan mereka telah jauh. Satu di antara kutuk al-Masih itu dapat kita lihat juga catatannya dalam kitab-kitab orang Nasrani ketika beliau masuk ke dalam Baitul Maqdis. Rumah yang disucikan itu, di dalamnya beliau lihat campur-aduk saja di antara orang yang memuja Allah dengan riuh rendah bunyi suara jual beli, sehingga masjid sudah jadi
pasar. Maka ayat selanjutnya menerangkan pokok datangnya segala kutuk itu dengan perantaraan lidah nabi-nabi, terutama Dawud dan Isa, padahal jarak masa kedua Rasul Allah itu sudah sangat jauh.
“Adalah mereka tidak larang-melarang dari yang mungkar yang tetak mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan."
(ayat 79)
Tidak ada lagi yang disegani dan tidak ada lagi yang berani menegur kalau ada yang bersalah. Sebab yang akan menegur itu sendiri pun telah bersalah. Orang yang telah biasa mengicuh, tidaklah berani melarang orang lain mengicuh. Orang yang telah biasa berzina, tidaklah dapat mengangkat mulut menegur perzinaan. Atau melihat telah bersimaharajalela kejahatan, orang yang tidak jahat telah bersikap masa bodoh asal diriku jangan kena. Sebab itu orang yang tidak berbuat jahat, tetapi tidak berani menegur kejahatan, dengan diamnya itu saja pun dia telah jahat.
Dirawikan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari hadits Ibnu Mas'ud, bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah mengatakan bahwa asal mula terdapat kerusakan pada Bani Israil ialah kalau seorang bertemu dengan seorang yang lain, berkatalah dia, “Takwalah engkau kepada Allah! Hentikanlah perbuatanmu yang salah itu, sebab perbuatan itu tidak halal engkau kerjakan!" Kemudian besoknya mereka bertemu pula kembali, dilihatnya orang itu masih begitu saja, maka tidaklah ditegurnya lagi, melainkan mereka bergaul juga, semakan seminum juga. Setelah mereka berbuat yang demikian, mulailah dipukul Allah hati setengah mereka dengan yang setengah. Lalu Rasulullah membaca ayat, “Dilaknati Allah orang-orang yang telah kafir dari Bani Israil itu, atas lidah Dawud dan Isa anak Maryam."
Setelah itu berkatalah Rasulullah selanjutnya, “Sungguh. Demi Allah! Hendaklah kamu menyuruh berbuat ma'ruf dan hendaklah kamu mencegah berbuat mungkar, kemudian hendaklah kamu tarik tangan orang-orang yang zalim, helakan tangan itu kepada kebenaran dengan helaan yang sungguh-sungguh, dan hendaklah kamu mencapai kebenaran secepat-cepatnya. Atau, kalau kamu tidak mau, sesungguhnya akan dipukul Allah hati setengah kamu dengan yang setengah, kemudian itu akan dilaknati Allah kamu semuanya, sebagaimana mereka (Bani Israil) itu telah dilaknati-Nya."
Dipukul Allah hati yang setengah dengan yang setengah, ialah bahwa kemungkaran dan kejahatan telah bermaharajalela, sehingga tidak dapat dikendalikan lagi, dan semua orang telah merasainya. Tetapi tidak seorang pun yang berusaha untuk memperbaiki, hanya salah menyalahkan, atau menimpakan kesalahan kepada orang lain, cemburu mencemburui dan tidak ada yang mau bertanggung jawab.
Baik ayat ini sendiri maupun hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang memerintah keras supaya kita tetap melakukan amar ma'ruf dan nahi rnunkar adalah membayangkan betapa hebatnya keruntuhan suatu kaum kalau amar ma'ruf dan nahi rnunkar tidak ada lagi. Kerusakan akhlak kaum Yahudi yang didapati Rasulullah itu, pasti akan bertemu pula pada kita kaum Muslimin, apabila hal ini tidak kita perhatikan lagi. Dan bekasnya pun selalu kita lihat. Kalau sekiranya ayat-ayat ini hanya semata-mata untuk orang Yahudi, niscaya bukanlah dia Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an yang menyusunkan ayat ini adalah buat kita.
“Engkau telah melihat kebanyakan dari mereka itu, menjadikan pimpinan orang-orang yang kafir."
(pangkal ayat 80)
Itu pun satu akibat dari kerusakan akhlak mereka waktu itu. Mereka mengatakan iman kepada Taurat, tetapi mereka telah membuat hubungan rahasia dengan orang-orang kafir, yaitu kaum musyrikin di Mekah, supaya dengan pimpinan mereka itu mereka dapat melawan Nabi Muhammad ﷺ dan memerangi beliau, “.Sungguh buruklah apa yang telah didahulukan bagi mereka oleh diri mereka sendiri." Mereka telah melanjutkan diri kepada suatu perbuatan yang akan mencelakakan diri mereka sendiri, sebagaimana perbuatan Bani Quraizah ketika Peperangan Ahzab, “Bahwa kemurkaan Allahlah atas mereka."
Karena pengkhianatan itu, yang menyebabkan kemudian mereka mendapat pukulan yang sehina-hinanya lantaran perbuatan itu,
“Dan di dalam adzab, mereka itu akan kekal."
(ujung ayat 80)
Tidak ada lagi jalan keluar dari siksaan Allah itu, karena kelepasan dari adzab hanyalah kalau mendapat ampunan dari Allah, sedang mereka bukan mencari jalan buat diampuni, melainkan buat dilaknati.
“Dan jika sekiranya adalah mereka itu beriman kepada Allah."
(pangkal ayat 81)
Tidak rusak akhlak mereka, dan tidak dibiarkan saja oleh yang patut melarang di kalangan mereka, “Dan kepada Nabi itu." Yang di dalam kitab mereka sendiri sudah dinubuwwatkan akan datangnya “Nabi Itu". “Dan kepada apa yang diturunkan kepadanya," yaitu Al-Qur'an, “Tentulah mereka tidak mengambil kafir-kafir itu jadi pimpinan." Sebab aqidah agama dan jiwa yang telah terbentuk oleh iman, tidaklah akan sampai hati berkongsi dengan kafir akan berbuat jahat. Akan dapat jua ditafsirkan secara jalan yang satu lagi, yaitu Yahudi-Yahudi itu mengambil musyrikin itu menjadi pemimpin karena mereka telah tahu bahwa musyrikin itu memang tidak mau percaya kepada Allah dan Rasul dan kepada petunjuk yang beliau bawa. Karena mereka itu memang kafir, senanglah hati si Yahudi
mengambil mereka jadi pemimpin, supaya lepas sakit hati mereka melawan Rasul.
“Akan tetapi kebanyakan dari mereka telah fasik."
(ujung ayat 81)
Oleh karena kefasikan itulah mereka berani melanggar isi kitab suci mereka sendiri, dan mau berkawan dengan musyrikin, mau mengambil musyrikin jadi pemimpin, untuk melawan Rasulullah, yang pada hakikatnya, isi pengajaran beliau tidaklah berlawanan dengan inti sari Taurat yang mereka katakan dijunjung tinggi itu. Hanya orang fasik, orang durhaka yang sampai hati berbuat demikian.
“Sesungguhnya akan engkau dapati yang sesangat-sangat manusia bermusuhan tenhadap orang-orang yang beriman, ialah Yahudi dan orang-orang yang telah mempersekutukan."
(pangkal ayat 82)
Demikianlah yang jadi kenyataan ketika Al-Qur'an diturunkan, yaitu bahwasanya orang-orang Yahudi yang ketika itu mempunyai kelompok besar di Madinah, dari berbagai-bagai kabilah besar kecil, mereka itulah yang sangat sekali memusuhi kaum beriman. Dan musuh besar yang kedua ialah orang musyrikin yang pusat kekuatannya ialah di Mekah, dan musyrikin dari kabilah-kabilah Arab, di seluruh tanah Arab di waktu itu. “Dan sesungguhnya akan engkau dapati yang sedekat-dekat mereka dalam percintaan terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini adalah Nashara/"Maka orang Nasrani di zaman itu, dibandingkan dengan orang Yahudi dan orang musyrikin adalah lebih dekat hubungan, hormat-menghormati dan harga-menghargai, malahan sebagai percintaan, tidak ada ganggu mengganggu dan menyakitkan hati.
Malahan ketika kaum Muslimin hijrah ke Habsyi mencari perlindungan diri dari tindasan kaum musyrikin, mereka telah disambut secara baik di sana. Najasyi (Negus) sendiri pun langsung memeluk Islam, “Jadi demikian, lantaran di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib." Yaitu pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang tinggi budi pekerti mereka dan baik sopan-santun mereka. Terbukti dengan sambutan terhadap perutusan mereka ke Madinah yang terdiri dari pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang disegani orang, sehingga mereka pun dipersilahkan bershalat menurut agama mereka di dalam Masjid Rasulullah ﷺ sendiri di Madinah,
“Dan karena sesungguhnya mereka itu tidaklah mereka menyombong."
(ujung ayat 82)
Di sini kita diberi tahu sebab yang terpenting dari baiknya hubungan dengan Nasrani pada waktu itu, ialah pemuka-pemuka mereka tidak sombong, sehingga dapat harga-menghargai, hormat-menghormati. Dan men-dapatlah kita satu pelajaran bahwasanya kesombongan adalah penghambat yang paling besar dari hubungan yang baik. Inilah perbedaan yang sangat besar di antara pemuka Yahudi dan pemuka Nasrani pada waktu itu.
Dapat kita perhatikan dalam sejarah betapa baiknya hubungan di antara Rasulullah dan Nasrani di waktu itu, di antara Islam dan Kristen.
Di waktu kaum Muslimin menderita tekanan hebat dari kaum musyrikin Quraisy di Mekah, sehingga banyak yang tidak tahan, maka Rasulullah menganjurkan sahabat-sahabat pindah ke negeri Habsyi (Abessinia) yang beragama Kristen. Kaum Muhajirin itu telah meminta suaka (perlindungan) politik di negeri itu. Orang Quraisy telah mengutus utusan ke Habsyi menghadap Negus di sana, memohon agar pelarian-pelarian itu diserah-kan kepada utusan, supaya dibawa pulang kembali. Kepala perutusan ialah Amr bin Ash yang di waktu itu belum Islam sedang Raja Habsyi tidak mau menyerahkan bahkan memperkuat perlindungan baginda terhadap mereka sehingga perutusan Quraisy pulang dengan tangan hampa. Malahan Raja Habsyi (Najasyi, Negus) segera memeluk Islam setelah mendengar keterangan ajarannya, dari Ja'far bin Abi Thalib, kepala keluarga pengungsi itu.
Setelah Rasulullah ﷺ berkuasa di negeri Madinah, beliau telah mengirim utusan kepada raja-raja Kristen yang berkuasa di Suriah (Heraclius) dan di Mesir, (Raja Muda Muqauqis) yang memerintah negeri-negeri itu sebagai penegak kekuasaan Romawi. Dan Rasulullah telah mengirim utusan pula kepada raja dua bersaudara yang berbangsa Arab di negeri Oman, yaitu Jaifar dan Abd, anak Jalandi, mengajak semuanya itu memeluk Islam atau menerima uluran tangan untuk bersahabat baik dan bertetangga secara damai.
Heraclius menerima utusan dengan baik dan melepasnya dengan baik pula. Muqauqis sampai mengirimkan beberapa bingkisan, dan disertai juga dengan kiriman dayang-dayang. Sedang beliau menerima kiriman seorang dayang Kopti bernama Maria. Beliau kawini dan dari dia beliau beroleh putra yang diberi nama Ibrahim.
Kepada kedua Raja Oman bersaudara tali, Jaifar dan Abd anak Jalandi, beliau utus Amr bin Ash. Dahulu dia utus Quraisy menghadap Raja Habsyi buat meminta serahkan orang-orang yang hijrah ke negeri itu, tetapi ditolak oleh Negus. Kemudian, setelah Perdamaian Hudaibiyah; Amr bin Ash datang ke Madinah dan menyatakan diri masuk Islam. Tenaga dan kepandaiannya di dalam lapangan diplomasi menyebabkan dia mendapat kehormatan buat menyampaikan seruan Rasulullah kepada Raja Arab bersaudara di Oman itu. Perutusannya berhasil, kedua Raja itu terbuka hatinya dan langsung memeluk Islam.
Di dalam ayat ini dengan jujur diterangkan sebabnya mengapa hubungan dengan Nasrani jadi baik, yaitu karena di kalangan mereka di waktu itu terdapat qissisin, kata jamak dari qiss, yang berarti pendeta atau pimpinan-pimpinan gereja, yang kedua ialah ruhban, yaitu kata jamak dari rahib, yang berarti pendeta juga, kata rahib itu adalah bahasa arab asli, diambil dari rahab, artinya takut. Yaitu orang-orang yang takut kepada Allah, yaitu orang-orang yang menyediakan dirinya semata-mata untuk Allah dan gereja, sehingga mereka tidak mau berkawin, karena takut hatinya akan terbelenggu oleh dunia. Maka dengan ayat ini ditunjukkanlah bahwa pendeta-pendeta yang betul-betul pendeta, dan rahib yang sebenar rahib, dapatlah diajak berunding. Yaitu selama mereka belum terikat oleh nafsu berkuasa. Orang-orang yang seperti demikian sudah menerima kebenaran dan hati mereka terbuka terus. Tetapi pemuka-pemuka Yahudi di waktu itu tidak dapat diajak berunding, malahan sangat memusuhi Islam, sebab kesombongan yang memenuhi hati mereka. Demikian juga pemuka-pemuka musyrikin yang di waktu itu berpusat di negeri Mekah.
Sudahlah dapat dimaklumi bahwasanya bunyi ayat ini tidaklah berlaku buat segala zaman. Karena segala sesuatu perubahan yang terjadi ialah menurut sebab dan akibat jua. Di zaman sekarang ini, bersatu padu Yahudi dan Nasrani memusuhi Islam. Permusuhan yang ditimpakan oleh dunia Nasrani kepada dunia Islam sejak Perang Salib dahulu, bukanlah kian mengendur, bahkan kian menghebat, bahkan sampai pada masa akhir-akhir ini negeri-negeri Nasrani, dengan pimpinan Kepala Gereja Katolik sendiri Paus Paulus VI memutuskan memberi ampun orang Yahudi, musuh bebuyutan mereka, Yahudi, yang menuduh Nabi Isa al-Masih anak di luar nikah. Gereja Kathohik memberikan ampunan dosa kepada Yahudi supaya dapat bersatu padu berdua, untuk memerangi Islam dan merebut Palestina dari tangan kaum Muslimin.
"Jews, Polytheists and Christians
Sa`id bin Jubayr, As-Suddi and others said that;
these Ayat were revealed concerning a delegation that An-Najashi (King of Ethiopia) sent to the Prophet in order to hear his words and observe his qualities.
When the delegation met with the Prophet and he recited the Qur'an to them, they embraced Islam, cried and were humbled. Then they returned to An-Najashi and told him what happened.
Ata bin Abi Rabah commented,
""""They were Ethiopians who embraced Islam when the Muslims who migrated to Ethiopia resided among them.""""
Qatadah said,
""""They were some followers of the religion of `Isa, son of Maryam, who when they ﷺ Muslims and heard the Qur'an, they became Muslims without hesitation.""""
Ibn Jarir said that;
these Ayat were revealed concerning some people who fit this description, whether they were from Ethiopia or otherwise.
Allah said,
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ امَنُواْ الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُواْ
Verily, you will find the strongest among men in enmity to the believers the Jews and those who commit Shirk,
This describes the Jews, since their disbelief is that of rebellion, defiance, opposing the truth, belittling other, people and degrading the scholars. This is why the Jews - may Allah's continued curses descend on them until the Day of Resurrection - killed many of their Prophets and tried to kill the Messenger of Allah several times, as well as, performing magic spells against him and poisoning him. They also incited their likes among the polytheists against the Prophet.
Allah's statement,
وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ امَنُواْ الَّذِينَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى
and you will find the nearest in love to the believers those who say:""""We are Christians.""""
refers to those who call themselves Christians, who follow the religion of the Messiah and the teachings of his Injil. These people are generally more tolerant of Islam and its people, because of the mercy and kindness that their hearts acquired through part of the Messiah's religion. In another Ayah, Allah said;
وَجَعَلْنَا فِى قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً
And We ordained in the hearts of those who followed him, compassion, mercy, and monasticism... (57:27)
In their book is the saying; """"He who strikes you on the right cheek, then turn the left cheek for him.""""
And fighting was prohibited in their creed, and this is why Allah said,
ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
That is because among them are Qissisin (priests) and Ruhban (monks), and they are not proud.
This means that among them are Qissisin (priests).
The word Ruhban refers to one dedicated to worship.
Allah said,
ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
That is because among them are priests and monks, and they are not proud.
This describes them with knowledge, worship and humbleness, along with following the truth and fairness""
""وَإِذَا سَمِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ الْحَقِّ
And when they listen to what has been sent down to the Messenger, you see their eyes overflowing with tears because of the truth they have recognized.
This refers to the good news that they have about the advent of Muhammad.
يَقُولُونَ رَبَّنَا امَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
They say:""""Our Lord! We believe; so write us down among the witnesses.""""
who testify to the truth and believe in it.
وَمَا لَنَا لَا نُوْمِنُ بِاللّهِ وَمَا جَاءنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن يُدْخِلَنَا رَبَّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ""
""""""And why should we not believe in Allah and in that which has come to us of the truth And We wish that our Lord will admit us (in Paradise) along with the righteous people.""""
Such sect of Christians are those mentioned in Allah's statement,
وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَـبِ لَمَن يُوْمِنُ بِاللَّهِ وَمَأ أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَأ أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَـشِعِينَ للَّهِ
And there are, certainly, among the People of the Scripture, those who believe in Allah and in that which has been revealed to you, and in that which has been revealed to them, humbling themselves before Allah. (3:199)
and,
الَّذِينَ اتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِن قَبْلِهِ هُم بِهِ يُوْمِنُونَ
وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا امَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ
Those to whom We gave the Scripture before it, they believe in it (the Qur'an). And when it is recited to them, they say, """"We believe in it. Verily, it is the truth from our Lord. Indeed even before it we were Muslims."""" (28:52-53) until,
لَاا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
""""We seek not the ignorant."""" (28:55)
This is why Allah said here
فَأَثَابَهُمُ اللّهُ بِمَا قَالُواْ
So because of what they said, Allah awarded them...
rewarding them for embracing the faith and recognizing and believing in the truth.
جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
Gardens under which rivers flow (in Paradise), they will abide therein forever.
and they will never be removed from it, for they will dwell and remain in it forever and ever,
وَذَلِكَ جَزَاء الْمُحْسِنِينَ
Such is the reward of good-doers.
who follow the truth and obey it wherever, whenever and with whomever they find it.
Allah then describes the condition of the miserable""
""وَالَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِأيَاتِنَا
But those who disbelieved and belied Our Ayat,
defied and opposed them,
أُوْلَـيِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
they shall be the dwellers of the (Hell) Fire.
For they are the people of the Fire who will enter and reside in it (eternally)."
You, O Muhammad may peace and salutation be upon him, will truly find the most hostile of people to those who believe to be the Jews and the idolaters, of Mecca, because of the intensity of their disbelief, ignorance and utter preoccupation with following whims; and you will truly find the nearest of them in love to those who believe to be those who say 'Verily, we are Christians'; that, nearness of theirs in love to the believers is, because some of them are priests, scholars, and monks, devout worshippers, and because they are not disdainful, of following the truth, as the Jews and the Meccans are.
Sequence of Verses
Mentioned earlier was the friendliness of Jews with disbelievers. Mentioned now is their hostility towards Muslims in tandem with the disbelievers - which was the real cause of that friendship (the enemy of my enemy is my friend! ). And since the Qur'an upholds justice universally, it has not counted everyone even among Jews and Christians as being in the same lot. Whoever among them had some good quality, that was acknowledged openly - for example, the presence of a particular group among the Christians which did not have the kind of prejudice the Jews were known for, and the statement about the Christians who had responded heartily to the call of truth and for which they were considered worthy of the best of praise and reward. This particular group was that of the Christians of Ethiopia who did nothing which could cause problems for Muslims who had migrated to Ethiopia from their home in Makkah, before the Hijrah to Madinah. Any Christian, other than them, who is like them, shall also be legally counted as one of them. As for those who had accepted the truth, they are the King of Ethiopia, Najashi (Negus) and his courtiers who wept on hearing the Qur'an in their own country and embraced Islam. After that, a deputation of thirty men from there came to the Holy Prophet ﷺ who recited the Qur'an to them which they heard in tears and took their Shahadah as Muslims. This is the Cause or Back-ground of the revelation of this verse.
Commentary
Some Votaries of the Truth among the People of the Book
Mentioned in these verses are those among the people of the Book who, had no feelings of malice or enmity for Muslims because of their godliness and tilt towards truth. But, people of such quality - like Sayyidna ` Abdullah ibn Salam - were very rare, rather almost nonexistent among the Jews. Speaking comparatively, there were more such people among the Christians. Specially so, during the blessed period of the Holy Prophet ﷺ ، there was a large number of such people in Ethiopia which included King Najashi and his civil servants. For this reason, when the Muslims of Makkah al-Mukarramah were fed up with being continually oppressed by the Quraysh, the Holy Prophet ﷺ advised them to migrate to Ethiopia saying that he had heard that the King of Ethiopia himself was no oppressor of people, nor did he allow anyone to oppress others, therefore, Muslims should go there for some time.
Following this advice, the first group of eleven persons started their journey towards Ethiopia. Included in the group were Sayyidna ` Uthman ibn ` Affan and Sayyidah Ruqaiyyah, his respected wife and the daughter of the Holy Prophet ﷺ . After that, a large caravan of Muslims comprising of eighty two men in addition to women, led by Sayyidna Ja'far ibn Abi Talib ؓ reached Ethiopia. Received there nicely and gently by the King and his people, they started living there in peace.
But, the wrath of the Quraysh of Makkah knew no bounds. They could not bear by the idea that Muslims persecuted by them could live in peace in some other country. This they did not wish to allow. They sent a deputation of their men, with gifts as customary, to the King of Ethiopia with the request that he should expel Muslims from his country. But, the King of Ethiopia decided to first investigate into the matter. He talked to Sayyidna Ja'far ibn Abi Talib and his companions about Islam and its Prophet. When he heard about the life of the Holy Prophet ﷺ and the teachings of Islam, he found these true to the prophecy of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) and Injil which contained the glad tidings of the coming of the Last of the Prophets, Sayyidna Muhammad al-Mustafa ﷺ a brief outline of his teachings, and his physical features as well as those of his Companions (for ready identification). Impressed with and convinced by what he found out, he returned the gifts brought by the Quraysh deputation telling them plainly that he could never order such people to leave his country.
The Effect of Sayyidna Ja` far's Presentation on Najashi
Sayyidna Ja'far ؓ had succeeded in presenting a brief but very comprehensive portrayal of Islam and its teachings in the court of Najashi, the King of Ethiopia. Then, there was their very stay (as Muslim role models) in Ethiopia which had generated not only in his heart but in the hearts of his officials and common people genuine feelings for Islam and its Prophet. Consequently, when the Holy Prophet ﷺ migrated to Madinah al-Tayyibah and the news that they were comfortable and at peace there reached Ethiopia the immigrating guests of the country decided to go to Madinah. Then, Najashi, the King of Ethiopia sent with them a deputation of leading scholars and missionaries from among his co-religionists to present his compliments before the Holy Prophet ﷺ . This group was comprised of seventy persons, out of which, there were sixty from Ethiopia itself, and eight from Syria.
The Visit of Ethiopian Delegation
Attired in the coarse robes of monks, this deputation presented itself before the Holy Prophet ﷺ . He recited Surah Yasin before them. As they heard it, tears kept flowing from their eyes. They all said how similar that was to what was revealed to Sayyidna 'Isa (علیہ السلام) . All of them embraced Islam.
After their return to Ethiopia, King Najashi also embraced Islam. He sent his son as the leader of another deputation to the Holy Prophet ﷺ ، with a letter from him. Unfortunately, the boat carrying them was drowned in the sea. In short, the King of Ethiopia, its officials and citizens did not only treat Islam and Muslims gently, fairly and justly, but they themselves embraced Islam finally.
According to the majority of commentators, the verses cited above were revealed about these blessed souls:
وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ
And you will certainly find that the closest of them in friend-ship with the believers are those who say, "We are Christians."
And about the verses which follow, and in which their weeping in fear of Allah and their acceptance of the truth has been described, the majority of commentators also agree that - though these verses have been revealed about Najashi and the deputation sent by him - yet, its words are general. Therefore, its legal force covers and includes all such Christians who are devoted to truth and justice similar to the people of Ethiopia. That is, they were followers of the Injil before Is-lam, and after the coming of Islam, they became followers of Islam.
Though, there were some people of this class even among Jews who adhered to the Torah since the period of Sayyidna Musa (علیہ السلام) ، but when came Islam, they entered the fold of Islam. However, the number of such people was so small that it cannot be considered significant in the context of communities and nations. As for the rest of the Jews, they were the foremost in their hostility towards Muslims. Therefore, their attitude was identified at the very beginning of the verse by saying:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ
You will certainly find that the most hostile people against the believers are the Jews ...
Limits of Interpretation
To recapitulate, it can be said that a particular group of the Christians has been praised in this verse, a group which was God-fearing and upright in matters of truth. It includes King Najashi, his officials and citizens - as well as other Christians who had these qualities, or would have in times to come. But, it does not mean - neither based on what the text says, nor could it possibly be - that the Christians have to be taken as friends of Muslims, no matter how astray they go and how aggressive in their anti Islam hostility they become, and yet Muslims will have to extend their hand of friendship towards them. This interpretation, as obvious, is false and is absolutely against facts. Therefore, Imam Abu Bakr Al-Jassas (رح) has said in his Ahkam al-Qur'an: that the thinking of some people who take the praise of Christians in this verse in an absolute sense and consider them better than the Jews, again in an absolute sense, is open ignorance - because a comparison of the religious beliefs of the two groups will show that the Christians are more pronounced in being Mushriks (as ascribers of partners in the divinity of Allah); and as for their dealings with Muslims are concerned, common modern-day Christians have not been any less than Jews in their anti-Islam activities. However, it is correct that there have been a good many God-fearing and truth-loving. people among them. That is why they had the Taufiq to accept Islam and be-come Muslims. It must be kept in mind that these verses were revealed to show this particular difference between the two groups. The Qur'an has itself pointed out to this fact at the end of this very verse (82) in the following words: ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ "That is because among them there are priests and monks and because they are not arrogant (which could make them unwilling to listen and think)." Comparison makes it clear that this was not the condition of Jews. They were not God-fearing and truth-loving. Their scholars and rabbis were far removed from renouncing the material pleasures of mortal life for the sake of knowledge and religion, instead of which, they had harnessed their knowledge and learning as a source of accumulating material benefits. This lust for the mundane had gripped them to the extent that they did not care to make a distinction between the true and the false or the lawful and the unlawful.
Those who side with Truth are the moving
spirit of a community
The statement given in the verse also tells us something crucial about the life of a community or nation (of true believers) - , that its `.Ulama' and Mashaikh are its real movers and makers, the very spirit of the system. Until such time that there are present in the society (genuine) ` Ulama' and Mashaikh, who would not follow their worldly desires (in matters of Din and public good of Believers) motivated by nothing but the fear of Allah and answerability before Him, then, the community or nation in which they are shall never be deprived of real good and real blessing.
- Sikap bangsa Yahudi terhadap Islam
- Hubungan antara bangsa Yahudi dan orang mukmin
- Hubungan antara orang Islam dan Nasrani
- Orang-orang beriman di kalangan Nasrani
- Sikap orang Nasrani terhadap Islam
- Watak-watak Yahudi
- Pergulatan antara kebenaran dan kebatilan
- Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam