يُوسُف ١٠١
- رَبِّ ya Tuhanku
- قَدۡ sesungguhnya
- ءَاتَيۡتَنِي Engkau telah menganugerahkan kepadaku
- مِنَ dari/sebagian
- ٱلۡمُلۡكِ kerajaan
- وَعَلَّمۡتَنِي dan Engkau mengajarkan kepadaku
- مِن dari
- تَأۡوِيلِ tabir/pengertian
- ٱلۡأَحَادِيثِۚ mimpi
- فَاطِرَ Pencipta
- ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)
- وَٱلۡأَرۡضِ dan bumi
- أَنتَ Engkau
- وَلِيِّۦ pelindung
- فِي di
- ٱلدُّنۡيَا dunia
- وَٱلۡأٓخِرَةِۖ dan akhirat
- تَوَفَّنِي wafatkanlah aku
- مُسۡلِمٗا orang islam
- وَأَلۡحِقۡنِي dan gabungkan aku
- بِٱلصَّـٰلِحِينَ dengan orang-orang yang saleh
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh."
(Ya Rabbku! Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takbir mimpi) takwil-takwil mimpi (Ya Rabb Pencipta) yang menjadikan (langit dan bumi! Engkaulah Pelindungku) yang mengatur kebaikanku (di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang yang saleh) di antara bapak moyangku. Maka setelah ia berdoa, ia hidup hanya seminggu atau lebih dari seminggu. Kemudian ia wafat, pada saat itu usianya telah mencapai seratus dua puluh tahun. Lalu semua orang Mesir mengiringkan jenazahnya sampai ke tempat kuburannya; mereka meletakkan jenazah Nabi Yusuf di dalam sebuah tabelah yang terbuat dari marmer, dan mereka mengebumikannya di tempat yang terletak di antara kedua tepi sungai Nil, dimaksud supaya keberkahan terlimpahkan kepada kedua tepi sungai Nil. Maha Suci Allah yang tiada akhir bagi kerajaan-Nya.
Tafsir Surat Yusuf: 101
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.
Itulah doa Nabi Yusuf yang dipanjatkannya kepada Allah ﷻ setelah limpahan nikmat Allah buatnya disempurnakan, yaitu di kala ia dapat berkumpul kembali dengan kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Juga atas nikmat lainnya yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada dirinya, yaitu berupa kenabian dan kerajaan. Kemudian ia memohon kepada Allah ﷻ agar nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya di dunia ini terus berkelanjutan sampai ke hari akhirat, dan hendaknya Allah mewafatkannya dalam keadaan Islam. Demikianlah menurut Ad-Dahhak.
Dan hendaknya Allah menghimpunkannya bersama-sama saudara-saudaranya dari kalangan para nabi dan para rasul, semoga shalawat dan salam Allah terlimpahkan kepada mereka semua.
Doa ini barangkali dipanjatkan oleh Nabi Yusuf a.s. ketika ia sedang menjelang kewafatannya, seperti yang telah disebutkan di dalam kitab Shahihain melalui Siti Aisyah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ ketika menjelang kewafatannya mengangkat jari telunjuknya seraya berdoa: “Ya Allah, (gabungkanlah diriku) bersama-sama teman-teman (ku) di tempat yang tertinggi (surga).” Doa ini diucapkannya sebanyak tiga kali.
Barangkali Yusuf a.s. pun meminta diwafatkan dalam keadaan Islam serta bergabung dengan orang-orang saleh apabila ajalnya telah tiba. Bukan berarti dia meminta hal tersebut secara tanjiz (mohon diperkenankan), seperti doa seseorang kepada lawan bicaranya, "Semoga Allah mewafatkanmu dalam keadaan Islam," dan seorang yang mengatakan dalam doanya, "Ya Allah, hidupkanlah kami dalam keadaan Islam, wafatkanlah kami dalam keadaan Islam, dan gabungkanlah kami dengan orang-orang saleh." Akan tetapi, dapat pula dikatakan bahwa Yusuf a.s.mendoakan hal itu dengan permohonan tanjiz; dan hal ini diperbolehkan dalam syariat mereka. Demikianlah menurut Qatadah.
Firman Allah ﷻ: "Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (Yusuf: 101)
Setelah Allah menghimpunkan semua anggota keluarganya dan membuatnya senang sehingga saat itu Yusuf dalam keadaan bergelimangan dengan kenikmatan duniawi, kerajaannya, dan semua perhiasannya, maka ia merindukan orang-orang saleh yang sebelumnya.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa sebelum Yusuf a.s. tiada seorang nabi pun yang mengharapkan untuk diwafatkan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Jarir dan As-Saddi, dari Ibnu Abbas, bahwa Yusuf a.s. adalah nabi yang mula-mula mengatakan demikian dalam doanya. Hal ini dapat diartikan pula bahwa dialah orang yang mula-mula meminta diwafatkan dalam keadaan Islam. Perihalnya sama dengan Nabi Nuh a.s., dialah orang yang mula-mula mengatakan dalam doanya: "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dengan beriman." (Nuh: 28) Dapat pula diartikan bahwa dialah (Yusuf) orang yang mula-mula memohon diperkenankannya hal tersebut; inilah yang tersimpulkan dari pengertian lahiriah pendapat Qatadah, tetapi hal ini tidak diperbolehkan dalam syariat kita sekarang.
Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Suhaib, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian mengharapkan mati karena bahaya yang menimpanya. Jika tiada jalan lain baginya kecuali mengharapkan mati, hendaklah ia mengatakan, ‘Ya Allah, hidupkanlah saya selagi hidup lebih baik bagi saya. Dan wafatkanlah saya apabila wafat lebih baik bagi saya’."
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadits ini, yang menurut lafaz keduanya disebutkan seperti berikut: "Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian mengharapkan mati karena bahaya (musibah) yang menimpanya, karena apabila dia orang yang berbuat baik, maka akan bertambah (kebaikannya); dan apabila dia orang yang buruk, maka mudah-mudahan ia bertobat. Tetapi hendaklah ia mengucapkan, ‘Ya Allah, hidupkanlah saya selagi hidup lebih baik bagi saya, dan wafatkanlah saya apabila wafat lebih baik bagi saya’."
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Rifa'ah, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan, "Kami duduk di majelis Rasulullah, lalu beliau memberikan peringatan kepada kami dan melunakkan hati kami, maka menangislah Sa'd ibnu Abu Waqqas dengan tangisan yang lama seraya berkata, 'Aduhai, seandainya saja diriku ini mati.' Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Hai Sa’d, apakah di hadapanku engkau berharap kematian?' Nabi ﷺ mengucapkan sabdanya ini sebanyak tiga kali, lalu beliau melanjutkan sabdanya, 'Hai Sa’d, jika engkau diciptakan untuk surga, maka usiamu yang panjang dan amalmu yang baik itu adalah lebih baik bagi kamu'."
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Abu Yunus (yaitu Muslim ibnu Jubair), dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang bersabda: "Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian mengharapkan mati karena musibah (bahaya) yang menimpanya, jangan pula ia mendoakannya sebelum maut datang sendiri kepadanya, terkecuali jika dia telah merasa yakin dengan amalnya. Karena sesungguhnya apabila seseorang di antara kalian mati, terputuslah amal perbuatannya. Dan sesungguhnya seorang mukmin itu tiada menambahkan pada amalnya kecuali hanya kebaikan." Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid.
Hal ini berlaku jika bahaya atau musibah ini hanya khusus menimpa dirinya. Jika musibah itu berupa fitnah dalam agama, maka diperbolehkan memohon dimatikan. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam kisah-Nya yang menceritakan tentang para ahli sihir di saat Fir'aun hendak memurtadkan mereka dari agama mereka dan mengancam akan membunuh mereka, yaitu: "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (Al-A'raf: 126)
Maryam juga berkata serupa ketika ia merasakan akan melahirkan anak sambil bersandar pada pangkal pohon kurma: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti lagi dilupakan." (Maryam: 23) Karena ia merasa yakin bahwa orang-orang pasti akan menuduh dirinya berbuat fahisyah (zina); karena ia belum bersuami, sedangkan ia telah mengandung dan melahirkan anak. Dan mereka memang menuduh begitu. Kaumnya berkata, "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina." (Maryam: 27-28) Maka Allah menjadikan baginya jalan keluar dan keselamatan dari hal tersebut, yaitu dengan menjadikan bayinya dapat berbicara dalam usia ayunan, mengucapkan kata-kata berikut, "Sesungguhnya aku adalah hamba dan rasul Allah." Kejadian ini merupakan suatu tanda kekuasaan Allah yang amat besar dan sebagai mukjizat yang jelas bagi Isa a.s.
Di dalam hadits Mu'az yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmuzi di dalam kisah mimpi yaitu mengenai doa antara lain disebutkan seperti berikut: "Apabila Engkau berkehendak menurunkan fitnah pada suatu kaum, maka cabutlah nyawaku kembali kepada-Mu dalam keadaan tidak terfitnah."
Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muhammad, dari Amr ibnu Asim, dari Kasir ibnu Qatadah, dari Mahmud ibnu Labid secara marfu bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ada dua hal yang dibenci oleh anak Adam, yaitu dia benci mati, padahal mati lebih baik bagi orang mukmin daripada terfitnah. Dan dia benci kekurangan harta, padahal kekurangan harta meringankan hisab."
Di saat fitnah melanda agama, diperbolehkan memohon untuk mati. Karena itulah ketika Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a. di akhir masa kekhalifahannya, yaitu ketika ia melihat bahwa kesatuan kaum muslim tidak dapat dipertahankan lagi dalam kepemimpinannya, dan perkaranya makin bertambah parah saja, maka ia berdoa seperti berikut: "Ya Allah, ambillah aku kembali kepada-Mu; sesungguhnya aku telah bosan kepada mereka, dan mereka pun bosan kepadaku."
Imam Bukhari rahimahullah mengatakan bahwa ketika fitnah itu terjadi menimpanya dan terjadi pula perselisihan antara dia (Ali r.a.) dengan Amir Khurasan, maka Imam Ali berdoa: "Ya Allah, wafatkanlah aku kembali kepada-Mu."
Di dalam hadits disebutkan: "Sesungguhnya seorang lelaki melewati sebuah kuburan yakni di zaman Dajjal nanti sedangkan ia benar-benar mengatakan, ‘Aduhai seandainya saja aku berada di tempatmu (yakni sudah mati)’." Lelaki itu mengatakan demikian karena banyaknya fitnah, gempa, huru hara, dan peristiwa-peristiwa yang menggemparkan di masa itu; hal tersebut merupakan fitnah yang melanda umat manusia.
Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa anak-anak Nabi Ya'qub yang telah melakukan perbuatan buruk terhadap Yusuf a.s. dimohonkan ampunan oleh ayah mereka. Maka Allah menerima tobat mereka, memaafkan mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka. Pendapat ulama mengatakan bahwa Nabi Yaqub memohonkan ampun kepada Allah buat mereka. Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Saleh Al-Murri, dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah ﷻ setelah menghimpunkan semua anggota keluarga Ya'qub a.s. di hadapan Ya'qub, maka Ya'qub mengajak putranya (Yusuf) menyendiri, lalu ia berbisik dengannya.
Sebagian putranya yang lain berkata kepada sebagian yang lain, "Bukankah kalian telah mengetahui apa yang telah kalian kerjakan dan apa yang telah dialami oleh orang tua kita dan Yusuf sebagai akibatnya?" Mereka menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Karena itulah kalian terpusatkan untuk meminta maaf dari keduanya, lalu bagaimana keadaan kalian dengan Tuhan kalian?" Akhirnya mereka sepakat untuk menghadap kepada orang tua mereka (Nabi Ya'qub), lalu duduk di hadapannya, sedangkan Yusuf duduk di samping ayahnya. Mereka berkata, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami sengaja datang kepadamu karena suatu urusan yang belum pernah kami datang kepadamu karena sesuatu yang seperti ini, dan kami telah tertimpa suatu perkara yang belum pernah menimpa kami sebelumnya."
Kata-kata mereka membuat hati Nabi Ya'qub tergugah, sedangkan para nabi itu adalah orang-orang yang paling belas kasihan. Maka Nabi Ya'qub bertanya, "Apakah yang telah menimpa kalian, hai anak-anakku?" Mereka menjawab, "Bukankah engkau telah mengetahui apa yang telah kami lakukan terhadapmu dan apa yang telah kami lakukan terhadap saudara kami Yusuf?" Nabi Ya'qub menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Bukankah kamu berdua telah memaafkan kami?" Nabi Ya'qub menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Sesungguhnya maafmu berdua tidak memberi manfaat sedikit pun kepada kami jika Allah tidak memaafkan kami." Nabi Ya'qub bertanya, "Lalu apakah yang kalian kehendaki dariku, hai anak-anakku?" Mereka berkata, "Kami menghendaki agar kamu mendoakan kami kepada Allah. Apabila wahyu dari Allah telah datang kepadamu yang menyatakan bahwa Dia memaafkan kami, maka barulah hati kami merasa senang dan tenteram. Jika tidak, maka tiada kesenangan bagi kami di dunia ini selamanya."
Nabi Ya'qub bangkit, lalu menghadap ke arah kiblat; Yusuf bangkit pula berdiri di belakang ayahnya, sedangkan saudara-saudaranya berdiri di belakang keduanya dengan perasaan rendah diri dan khusyuk. Nabi Ya'qub berdoa, dan Nabi Yusuf mengamininya; tetapi permohonan ampun mereka masih belum diperkenankan selama dua puluh tahun. Saleh Al-Murri mengatakan bahwa selama itu mereka selalu dicekam oleh rasa takut, dan setelah dua puluh tahun berlalu yakni pada permulaan tahun yang kedua puluhnya turunlah Malaikat Jibril a.s. kepada Nabi Ya'qub a.s. Jibril a.s. berkata, "Sesungguhnya Allah ﷻ telah mengutusku kepadamu untuk menyampaikan berita gembira, bahwa Dia telah memperkenankan doamu buat anak-anakmu. Allah telah memaafkan apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah telah mengambil janji dari mereka bahwa mereka akan menjadi nabi sesudahmu."
Atsar ini mauquf, yakni hanya sampai kepada sahabat Anas; selain itu adalah Yazid Ar-Raqqasyi serta Saleh Al-Murri, kedua-duanya berpredikat sangat daif (lemah). As-Saddi menyebutkan bahwa ketika Nabi Ya'qub menjelang kematiannya, ia berwasiat kepada Yusuf agar menguburkan jenazahnya di dekat kuburan Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq. Maka setelah Nabi Ya'qub wafat, jenazahnya dibalsam, lalu dikirimkan ke negeri Syam dan dikebumikan di dekat kuburan keduanya.
Nabi Yusuf kemudian berdoa, Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan yang tidak pernah aku
bayangkan sebelumnya, dan Engkau juga telah mengajarkan kepadaku
sebagian takwil mimpi. Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi, Engkaulah
Pelindungku yang selalu dekat denganku di dunia dan di akhirat, aku mohon kepada-Mu agar bila ajalku telah tiba, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku di akhirat kelak dengan orang-orang
yang saleh. Demikianlah kisah tentang Nabi Yusuf. Allah menceritakan kisah
ini kepada Nabi Muhammad agar menjadi pengajaran yang sangat berharga. Itulah sebagian berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu, wahai
Nabi Muhammad. Dengan wahyu itu engkau dapat mengetahui kisah
tersebut, padahal engkau tidak berada di samping mereka, yakni saudarasaudara Yusuf, ketika mereka bersepakat mengatur tipu muslihat untuk
melemparkan Nabi Yusuf ke dalam sumur.
Ayat ini adalah pernyataan dan doa yang diucapkan Yusuf a.s. sesudah Allah ﷻ menyelamatkannya dari dalam sumur, membebaskan dari fitnah istri al-Aziz dan perempuan-perempuan lainnya, membebaskan dari penderitaan dalam penjara, dan menganugerahinya pangkat dan kedudukan sesudah bebas dari semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. Yusuf segera berdoa memohon kepada Allah ﷻ supaya dilipatgandakan pahalanya di akhirat kelak sebagaimana dilipatgandakan karunia yang diterimanya di dunia. Yusuf berkata, "Ya Tuhanku, Engkau telah menganugerahkan kepadaku kedudukan dan kekuasaan, mengajarkan kepadaku takbir mimpi, dan memberitahukan kepadaku hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalam wahyu-Mu. Ya Allah! Engkaulah Pencipta langit dan bumi ini, menciptakan keduanya dengan baik dan teratur, kokoh dan rapi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, melindungiku dari maksud jahat orang-orang yang memusuhiku dan orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadaku. Ya Allah Yang Mahakuasa! Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam, sesuai dengan wasiat leluhurku yang berbunyi:
Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub, "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (al-Baqarah/2: 132)
Yusuf melanjutkan doanya dengan mengatakan, "Ya Allah Ya Tuhanku! Masukkanlah aku ke dalam kelompok orang-orang yang saleh dari leluhur kami seperti Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishak, begitu pula dengan para nabi dan rasul sebelumnya. Engkaulah Maha Pengasih, Maha Pemurah, dan Mahakuasa atas segala sesuatu."
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
YA'QUB BERTEMU ANAKNYA, YUSUF
Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Ya'qub dan seluruh keluarganya. Istrinya (Lea), anak-anak, cucu-cucu dan menantu-me-nantunya, dan anak-anaknya yang perempuan dengan suami dan anak-anaknya pula. Yusuf sengaja datang mengalu-alukan beliau ke batas negeri Mesir dengan tanah Kana'an. (Mungkin di Gizzah yang sekarang ini).
“Maka tatkala telah masuk mereka kepada Yusuf, dipeluknyalah kedua ibu bapaknya, seraya berkata: ‘Masuklah ke Mesir, in syaa Allah, dalam keadaan aman.'"
(ayat 99)
Itulah saat yang diharap-harapkan dan sangat diyakini oleh Ya'qub pasti akan datang, sebab dia belum pernah merasa bahwa anaknya itu telah mati. Niscaya bertangis-tangisanlah mereka pada saat yang amat mengharukan itu. Adapun ibu, menurut banyak ahli-ahli tafsir ialah istri Ya'qub yang tua, kakak dari Rakhel ibu Yusuf, anak dari Laban, dan Laban adalah saudara laki-laki dari ibu Ya'qub. Istri yang tua ini bernama Lea, ibu dari Raubin. Segala barang diangkut dengan pedari-pedari yang sengaja dikirim Yusuf dari Mesir. Setelah musta'id mereka pun meneruskan perjalanan ke Mesir.
“Dan didudukkanlah kedua ibu bapaknya ke atas singgasana."
(pangkal ayat 100)
Yaitu singgasana kedudukan Yusuf sebagai Yang Dipertuan Muda Kerajaan Mesir. "Lalu mereka meniarap semua menghadapnya bersujud." Yang menurut syari'at pada masa itu agaknya tidak dilarang, karena semata-mata menyatakan hormat atau sangat terharu oleh perubahan keadaan yang sangat besar itu. Semuanya bersujud, sehingga Nabi Ya'qub dan istrinya pun turut bersujud.
“Dan berkatalah Dia: “Wahai bapakku! Inilah dia takwit mimpiku yang dahulu itu, telah dijadikan oleh Tuhanku menjadi kenyataan, dan Dia telah beibuat baik kepadaku, ketika Dia telah keluarkan daku dari dalam penjaga, dan didatangkanNya kamu semua dari dusun sesudah setan mengganggu di antaraku dan di antara saudara-saudaraku, sungguhlah Tuhanku itu lemah-lembut atas apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana"
(ujung ayat 100)
Pada ayat ini jelas dan nyata lagi ketinggian budi Yusuf. Dia hanya menyebut bahwa Allah telah menyelamatkannya keluar dari penjara, dan tidak disebutkannya bahwa Allah pun telah mengeluarkannya dari dalam sumur, supaya kenang-kenangan buruk di atara dia dengan saudara-saudaranya jangan timbul lagi, sebab itu akan mengurangi kegembiraan mereka dalam pertemuan yang amat berbahagia itu. Dan lebih dari itu, ialah hormat kepada Allah! Dan tidak disebutnya bahwa dari daiam penjara dia terus naik takhta Kerajaan sebagai Wazir Besar Raja Mesir, menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan orang tuanya, karena meskipun bagaimana ketinggian pangkat yang diperolehnya, dia tidak lebih dari seorang anak yang selalu wajib berkhidmat dan hormat setinggi-tingginya kepada orang tua. Dia mensyukuri karena semua mereka itu telah datang dari dusun dan semua telah berkumpul ke Mesir, supaya hidup bersama-sama merasakan nikmat kemuliaan yang telah dirasakannya, dan tidak lagi akan menyusahkan perkara makanan yang pada masa itu masih sangat susah. Dan semua itu terjadi—katanya— setelah setan mengganggu di antara aku dengan saudara-saudaraku. Maka kesalahan saudara-saudaranya itu tidak dikatakannya salah mereka, melainkan salah setan belaka yang selalu mengganggu ketenteraman manusia. Tetapi semuanya itu tidak lain hanyalah berkat lemah lembut dan kasih mesra Allah terhadap hamba-Nya, Dia berbuat apa yang dihendaki-Nya, yang kadang-kadang tidak disangka-sangka oleh manusia. Sebab Allah itu Maha Mengetahui akan hamba-Nya dan Amat Bijaksana mengatur segala sesuatu, sehingga mengagumkan manusia.
Sejak waktu itu hiduplah mereka bersama di negeri Mesir. Menurut kitab Perjanjian Lama, hanya beberapa waktu saja Ya'qub tinggal dalam kota Mesir yang jaya itu. Tidak berapa lama kemudian Raja Mesir sendiri, karena menghormati Wazir Besarnya itu telah menganugerahi Ya'qub dan putra-putranya itu sebidang tanah yang luas untuk mereka hidup bercocok tanam dan beternak, karena demikianlah kebiasaan orang Ibrani yang mulia.
Dan setelah selamat segala kejadian ini, laksana langit sudahlah cerah dan angin ribut sudahlah tenang, dan bumi sudahlah subur, maka bersyukurlah Yusuf kepada Allah dengan ucapannya,
“Ya Tuhanku ! Sungguh telah Engkau anugerahkan kepadaku ..."
(pangkal ayat 101)
Kekuasaan yang demikian luasnya dan megahnya. Itulah nikmat dunia yang tiada taranya dan tiada aku sangka pada mulanya."Dan telah Engkau ajarkan kepadaku takwil dari kejadian-kejadian." Sehingga aku dapat mentakwilkan mimpi dan dapat menerka makanan sebelum dia terhidang dan keadaan yang lain-lain."Wahai yang Mencipta semua langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat." Semua kebenaran dunia ini, dan semua nikmat keruharian ini hanya dari Engkau datangnya. Hanya Engkau yang mengurniakannya. Tiada kalam yang dapat melukiskan dan tiada lidah yang dapat mengucapkan,'Terima/a/i akan daku sebagai Muslim" Artinya, jika datang saatnya aku sudah mesti meninggalkan dunia ini, terimalah aku Tuhanku, hamba-Mu yang lemah ini sebagai seorang Muslim, seorang yang telah menyerah kepada-Mu sebulatnya tiada yang lain.
“Dan hubungkantah daku dengan orang-orang yang saleh."
(ujung ayat 101)
Doa atau munajat yang amat mengharukan ini telah beliau ucapkan setelah kewajiban beliau sebagai Raja Muda atau Bendahara Negeri Mesir dilaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Tidak kurang dari lima belas tahun beliau telah bekerja keras siang dan malam, dan berhasil dengan gemilang, sehingga negeri Mesir terlepas dari bahaya kelaparan, malahan setelah musim kemarau yang tujuh tahun itu, dia menjadi negeri yang kaya dan dapat menjual makanan ke negeri-negeri lain yang berdekatan, sehingga tumpah ruah orang datang membeli makanan ke Mesir. Dan sehabis musim kemarau itu, Mesir menjadi negeri kaya, berkat usaha dari Bendahara, Raja Muda yang cerdik pandai mengatur pemerintahan itu. Dalam pada itu, tugas beliau sebagai rasul Allah tetap pula beliau jalankan. Terutama kepada orang-orang yang melarat, petani dan pengembala yang amat beliau kasihi dan tidak beliau pandang hina, walaupun beliau berpangkat tinggi. Cuma orang-orang kerajaan jua yang oleh karena diliputi oleh kemewahan banyak yang ragu-ragu, tetapi tidak berani membantah. Hal ini masih diingat oleh seorang besar Kerajaan Mesir, empat ratus tahun di belakang Yusuf, yaitu di zaman Nabi Musa. Tandanya zaman kejayaan Yusuf itu lama diingat orang yaitu Orang Besar keluarga Fir'aun yang telah menyatakan imannya dengan diam-diam kepada Musa. Dia memberi nasihat kepada kaumnya agar menerima seruan Musa itu, jangan ragu-ragu juga sebagaimana keraguan kepada Yusuf dahulu itu (Lihat surah al-Mu'min, ayat 34).
Satu hal lagi yang mengharukan hati kita bila membaca doa beliau ini, ialah keteguhan hati beliau menghadapi hidup. Beliau dimasukkan oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur, beliau diam dan tidak mengeluh, dan tidak berdoa menyatakan sedia mati saja, karena beliau ingin hidup, ingin berjasa. Kemudian beliau meringkuk dalam tahanan selama tujuh tahun, perkara tidak diperiksa, kesalahan tidak ada. Di sana pun beliau tidak mengeluh bersedia mati, karena ingin hidup, buat beramal dan berbuat baik. Setelah tua dan setelah kewajiban hidup beliau lunaskan, dan dikenal dalam segala penderitaan dan kesenangan sebagai seorang yang tetap berbuat baik, dan setelah bertemu kembali dengan ayahnya, barulah dia bermunajat kepada Allah,
“Jika telah tiba waktunya aku mesti menutup mata, ya Tuhanku, maka terimalah altu sebagai seorang Muslim. Dan hubungkan daku dengan orang-orang yang saleh."
Yaitu nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain. Sebagai penutup kisah yang sangat indah ini, berfirmanlah Allah kepada utusan-Nya, Nabi kita Muhammad ﷺ,
“Demikian itulah berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada engkau." (Wahai utus-an-Ku).
“Padahal tidaklah engkau ada di hadapan mereka, tatkala mereka menyatu-padukan soal mereka itu."
(pangkal ayat 102)
Yaitu sekalian saudara-saudara Nabi Yusuf bermufakat hendak membunuh atau hendak membuangnya jauh-jauh agar hilang dari mata orang tuanya, atau keputusan terakhir me-masukkannya ke dalam sumur.
“Padahal mereka tengah mengatur tipu-daya,"
(ujung ayat 102)
Tetapi kabar ini engkau ketahui selengkapnya, karena wahyu yang Aku turunkan kepada engkau jua adanya.
Sehingga tersebutlah dalam satu riwayat oleh al-Baihaqi dari jalan al-Kalbi dari Abu Shalih, dari keterangan Ibnu Abbas, bahwa suatu ketika seorang Ahbar (pendeta) Yahudi datang menziarahi Rasulullah ﷺ dan didengarnya beliau sedang membawa surah ini, dia sangat tercengang dan bertanya dari mana diterimanya riwayat itu, lalu Nabi Muhammad ﷺ menjawab, bahwa dia diterimanya dari Wahyu. Pendeta Yahudi itu tercengang, sebab kisah itu hampir sejalan dengan yang dalam Taurat, lalu dia pun menyatakan diri masuk Islam dan diajaknya pula beberapa orang temannya memeluk Islam. Maka masuk Islamlah mereka karena surah Yuusuf.
Berkata Abu Ishaq as-Sabi'i, yang diterimanya dari Masruq, dan Masruq menerima dari Abdullah bin Mas'ud, katanya, “Bani Israil masuk ke Mesir jumlahnya semua 63 manusia, kemudian setelah mereka keluar (dengan pimpinan Musa a.s.) berjumlah 670.000 orang." Ditambah lagi dengan riwayat Musa bin Ubaidah, dari Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi, dari Abdullah bin Syaddad, Datang Ya'qub sekeluarga menuruti Yusuf ke Mesir, semuanya 86 orang, kecil dan besar, laki-laki dan perempuan; dan kemudian mereka keluar (di zaman Musa) bilangan mereka 600.000 lebih. Tambahan lagi:
Di dalam kisah Yusuf ini Raja Mesir tidaklah disebut Fir'aun, melainkan “Malik" atau raja saja. Kemudian setelah zaman Nabi Musa barulah tersebut nama dan gelar raja-raja Mesir itu, yaitu Fir'aun.
Ahli-ahli penyelidik sejarah menyatakan bahwa di zaman dahulu itu, khususnya zaman Nabi Yusuf memang Mesir pernah diserang dan dikuasai oleh pengembara-pengembara dari Tanah Arab, yang dinamai kaum Hyksos. (Keterangan ini dapat dilihat dalam buku karangan saga, Sejarah Umat Islam Jilid I). Sebab itu maka di dalam kitab-kitab tafsir disebut nama Raja Mesir Zaman Yusuf tersebut, yang mengangkatnya menjadi Raja Muda atau Bendahara dengan panggilan “Yang Mulia" (al-Aziz) bahwa nama raja itu ar-Rayyan bin Al-Walid; yang menunjukkan bahwa dia adalah Raja Arab.
"Yusuf begs Allah to die as A Muslim
Allah tells about Yusuf's invocation:
رَبِّ قَدْ اتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الَاحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالَارْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنُيَا وَالاخِرَةِ
تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
""My Lord! You have indeed bestowed on me of the sovereignty, and taught me something of the interpretation of dreams - the (Only) Creator of the heavens and the earth! You are my Wali in this world and in the Hereafter. Cause me to die as a Muslim, and join me with the righteous.""
This is the invocation of Yusuf, the truthful one, to his Lord the Exalted and Most Honored. He invoked Allah after His favor was complete on him by being reunited with his parents and brothers, after He had bestowed on him Prophethood and kingship.
He begged his Lord the Exalted and Ever High, that as He has perfected His bounty on him in this life, to continue it until the Hereafter.
He begged Him that, when he dies, he dies as a Muslim, as Ad-Dahhak said, and to join him with the ranks of the righteous, with his brethren the Prophets and Messengers, may Allah's peace and blessings be on them all.
It is possible that Yusuf, peace be upon him, said this supplication while dying.
In the Two Sahihs it is recorded that A'ishah, may Allah be pleased with her, said that while dying, the Messenger of Allah was raising his finger and said - thrice,
اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الاَْعْلَى
O Allah to Ar-Rafiq Al-A`la (the uppermost, highest company in heaven).
It is also possible that long before he died, Yusuf begged Allah to die as a Muslim and be joined with the ranks of the righteous."
When he was nearing his end, realising that he would not remain [alive] forever, he longed for the everlasting kingdom and said: My Lord, indeed You have given me [something] of sovereignty and You have taught me the interpretation of events, the ability to explain dreams. Originator, Creator, of the skies and the earth! You are my Protector, Guardian of my best interests, in this world and the Hereafter. Take me [in death] to You in submission [to You] and join me to the righteous', from among my fathers. He lived after that for another week or more. He died at the age of 120 years. The Egyptians were very covetous with regard to his grave; [eventually] they placed him in a marble coffin and buried him at the top of the Nile so that both banks would be blessed [by his body] - Glory be to the One Whose Kingdom never ends.
Commentary
The address of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) in the previous verses was to his respected father. Now, after having achieved an important objective by meeting his parents and brothers, he was at peace to devote himself directly to praising Allah Ta` ala and to supplicating before Him. at he said appears immediately above. The ` salihin' or ` the righteous' or morally the most perfect servants of Allah can be the prophets themselves for they are Divinely protected (ma` sum) against all sins. (Mazhari)
Worth noticing in this du a' is the prayer for a good end to life. It presents before us a profile of the typical servants of Allah who have the honour of being accepted in the sight of their Creator. Their attitude is that they may be enjoying the highest possible ranks in this world and in the Hereafter, and they may have all sorts of power and office beneath their feet, yet, they would never wax proud over these. In fact, they keep fearing lest such things around them may be taken away or cut down. So, they keep praying that the physical and spiritual blessings given to them by Allah Ta` ala continue to be with them, even keep increasing, right through the hour of death.
At this stage, the unusual story of Sayyidna Yusuf علیہ السلام ، and the subsequent chain of instructions and lessons, as mentioned in the Qur'an, has reached its completion. at happened after that has not been re-ported in the Holy Qur’ an, or in any Marts' Hadith (with its chain of re-porting authorities ascending to the Holy Prophet himself). Most com-mentators have reported that with reference to historical or Isra'ili narrations.
Based on a narration by Hadrat Hasan (رح) ، it has been reported in Tafsir Ibn Kathir that Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) was seven years old when his brothers had thrown him into a well. Then, he remained separated from his father for eighty years, remained alive for twenty three years after having met his parents, and died at the age of one hundred and twenty years.
As in the narrations of the People of the Book, reports Muhammad ibn Ishaq, the period of separation between Sayyidna Yaqub and Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) was forty years. Then, Sayyidna Ya` qub after his arrival in Egypt, lived in the company of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) for seventeen years. After that, he died.
As in the annals of historians, reports the author of Tafsir al-Qurtubi, Sayyidna Yaqub (علیہ السلام) died after having lived for twenty four years in Egypt. Before his death, he ordered Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) that his body should be sent to his home country and that he be buried by the side of his father, Sayyidna Ishaq (علیہ السلام) .
Sayyidna Said ibn Jubayr has said that the body of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) was placed in a coffin made of wood from saul tree and taken to Baytul-Maqdis. For this reason, it became common custom among Jews that they would take their dead from faraway places to Baytul-Maqdis for a burial there. The age of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) was one hundred and forty seven years when he died.
When Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) entered Egypt with his family, says Sayyidna ` Abdullah ibn Masud ؓ ، they were a total of ninety three men and women - and when this progeny of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) ، that is, the Bani Isra'il, left Egypt with Sayyidna Musa (علیہ السلام) their number was six hundred and seventy thousand1. (Qurtubi Ibn Kathir)
1. As pointed out earlier, this is based on Israelite narrations. Ibn Khaldun, the well-known Muslim historian, has criticized this narration in his Muqaddimah and has urged that the number of Bani Isra it was not that big - (Muhammad Taqi Usmani)
It has been mentioned earlier that, after the death of the former ` Aziz of Misr, the king of Egypt had arranged the marriage of Zulaikha with Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) .
It appears in the Torah and in the historical accounts of the People of the Book that they had two sons, Ifra'im and Mansha, and a girl, Rahma bint Yusuf. Rahma was married to Sayyidna Ayyub (علیہ السلام) .Of the progeny of Ifra'im, there was Yusha' ibn Nun (علیہ السلام) who was a companion of Sayyidna Musa (علیہ السلام) . (Mazhari)
Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) died at the age of one hundred and twenty years and he was buried by the bank of the river Nile.
Based on a narration by Sayyidna ` Urwah ibn Zubayr (رح) ، Ibn Ishaq has reported: When Sayyidna Musa (علیہ السلام) was commanded to leave Egypt with the Bani' Isra'il, it was revealed to him that he should not leave the body of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) in Egypt and he was ordered to take it with him to Syria and bury him close to his ancestors. In obedi-ence to this order, Sayyidna Musa (علیہ السلام) made investigations and succeeded in locating his burial place. He found his body in a marble coffin which he took with him to Canaan in Palestine. There he buried him beside Sayyidna Ishaq and Sayyidna Ya` qub (علیہما السلام) . (Mazhari)
After Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) ، the Amalkites took over Egypt as the new Pharaohs. As for the Ban' Isra'il, they lived under them but kept adhering to the Faith of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) . However, they were taken as foreigners and subjected to all sorts of painful discriminations. Finally, Allah Ta` ala delivered them from this punishment through Sayyidna Musa علیہ السلام (Tafsir Mazhari)
Rules and Points of Guidance
1. From the previous verses (99-100), we learn that paying due respect to parents is obligatory (wajib) - as it stands proved from what Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) did.
2. We also learn from here that a prostration of reverence was permissible in the religious code of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) which is why his parents and brothers prostrated to him. But, in the Shari’ ah of the Holy Prophet ﷺ ، this Sajdah or Sujud has been declared as a particular mark of ` Ibadah (worship) and it cannot be done before anyone other than Allah. If done, it is حَرَام Haram. The Holy Qur’ an has said: لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ (prostrate not to the Sun and the Moon ... - 41:37). And in Hadith, it is said that Sayyidna Mu` adh ؓ ، when he went to Syria, ﷺ local Christians prostrating to their parents. After his return from there, he started making a prostration before the Holy Prophet ﷺ . He (ﷺ) asked him not to do that. He said: If I were to take prostration before anyone as permissible, I would have told a wife to prostrate before her husband. Similarly, when Sayyidna Salman al-Farisi ؓ wished to prostrate to him, he said:
لَا تَسجُد لِی یَا سَلمانُ وَاسجُد لِلحَیِّ الَّذِی لَا یَمُوتُ
Do not prostrate to me, 0 Salman, instead, prostrate to the Ever Living who would never die. (Ibn Kathir)
This tells us that a prostration done as a token of respect for the Holy Prophet ﷺ is not permissible. With that being the truth, how can it become permissible if done before a saint, or an elder or pir?
3. From: هَـٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ (here is the fulfillment of my early dream - 100), we learn that the fulfillment of the interpretation of a dream could sometimes take a long time to materialize - as it was in the present case when it manifested itself after forty, or eighty, years. (Ibn Jarir Ibn Kathir)
4. The words:' وَقَدْ أَحْسَنَ بِي (He favoured me - 100) said by Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) prove that if a person after having been suffering from a disease or disaster, finds him or her delivered from it, then, following the traditional way of prophets, he or she must show gratitude to Allah for this deliverance, and forget about any remembrance of that disease or disaster.
5. From the statement: إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ (Surely, my Lord does what He wills, in a subtle way - 100), we learn that, when Allah Ta` ala intends to do something, He has His subtle ways of arranging things and causes secretly in a manner that no one can get the slightest inkling about it.
6. The words of prayer: تَوَفَّنِي مُسْلِمًا (Make me die a Muslim - 101) refer to the prayer of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) in which he has wished to die while adhering to his Belief and Faith ('Iman and Islam). This tells us that to make a dua' for death under particular conditions is not prohibited. And as for the prohibition of wishing for death in sound and authentic Aha-dith, the purpose there is to tell people that it is not correct to go about asking for death just because of depression from worldly hardships or simple lack of patience. The Holy Prophet ﷺ has said: Let no one ask for death because of some hardship. If one has to say something like that, let him say: ` Ya Allah, keep me alive as long as life is better for me, and give me death when death is better for me.'