لُقْمَان ٦
- وَمِنَ dan diantara
- ٱلنَّاسِ manusia
- مَن orang yang
- يَشۡتَرِي membeli
- لَهۡوَ sia-sia
- ٱلۡحَدِيثِ cerita/pembicaraan
- لِيُضِلَّ untuk menyesatkan
- عَن dari
- سَبِيلِ jalan
- ٱللَّهِ Allah
- بِغَيۡرِ dengan tanpa
- عِلۡمٖ ilmu pengetahuan
- وَيَتَّخِذَهَا dan dia menjadikannya
- هُزُوًاۚ olok-olok
- أُوْلَٰٓئِكَ mereka itu
- لَهُمۡ bagi mereka
- عَذَابٞ azab
- مُّهِينٞ yang hina
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
(Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna) maksudnya (untuk menyesatkan) manusia; lafal ayat ini dapat dibaca liyadhilla dan liyudhilla (dari jalan Allah) dari jalan Islam (tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu) kalau dibaca nashab yaitu wa yattakhidzahaa berarti diathafkan kepada lafal yudhilla, dan jika dibaca rafa' yaitu wa yattakhidzuhaa, berarti diathafkan kepada lafal yasytarii (olok-olokan) menjadi objek ejekan dan olokan mereka. (Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan) azab yang hina sekali.
000
Tafsir Surat Luqman: 6-7
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (Luqman: 6-7)
Setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang berbahagia, yaitu mereka yang menjadikan Kitabullah sebagai petunjuk mereka dan mereka beroleh manfaat dari mendengarkan bacaannya, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya: Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. (Az-Zumar: 23), hingga akhir ayat.
Kemudian dalam pembahasan selanjutnya diterangkan perihal orang-orang yang celaka, yaitu mereka yang berpaling dari Kalamullah, tidak mau mendengarkannya dan tidak mau mengambil manfaat darinya. Bahkan mereka lebih senang mendengarkan seruling, nyanyian dan suara musik. Sebagaimana yang ditakwilkan oleh Ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah. (Luqman: 6) Yang dimaksud dengan lahwul hadis ialah, demi Allah, nyanyian.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Yunus, dari AbuSakhr, dari Ibnu Mu'awiyah Al-Bajali, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Abus Sahba Al-Bakri, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Mas'ud saat ditanya mengenai makna firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah. (Luqman: 6) Maka Ibnu Mas'ud menjawab bahwa yang dimaksud adalah nyanyian.
Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia. Telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Humaid Al-Kharait, dari Ammar, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Abus Sahba bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Mas'ud tentang firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna. (Luqman: 6) Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa yang dimaksud adalah nyanyian.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Abbas, Jabir, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Mujahid, Mak-hul, Amr ibnu Syu'aib, dan Ali ibnu Bazimah. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan. (Luqman: 6) Maksudnya, nyanyian dan seruling (musik). Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan. (Luqman: 6) Demi Allah, barangkali dia tidak mengeluarkan perbelanjaan untuk itu, tetapi yang dimaksud dengan istilah syira' itu ialah menyukainya.
Sebab cukuplah kesesatan bagi seseorang bila ia memilih perkataan yang batil daripada perkataan yang hak, dan memilih hal yang mudarat daripada hal yang bermanfaat. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan firman-Nya: mempergunakan perkataan yang tidak berguna. (Luqman: 6) ialah membeli budak-budak perempuan untuk bernyanyi. Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Khallad As-Saffar, dari Abdullah ibnu Zahr, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim ibnu Abdur-Rahman, dari Abu Umamah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah bersabda: Tidak dihalalkan menjual budak-budak perempuan penyanyi dan tidak pula membeli mereka, dan memakan hasil jualan mereka haram.
Sehubungan dengan mereka Allah subhaanahu wa ta’aalaa menurunkan firman-Nya, "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah. (Luqman: 6) Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Jarir melalui hadis Abdullah ibnu Zahr dengan lafal yang semisal. Kemudian Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini gharib, dan ia menilai dha’if Ali ibnu Yazid yang telah disebutkan di atas. Menurut kami, Ali dan gurunya serta orang-orang yang menerima riwayat darinya itu semuanya berpredikat dha’if. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Adh-Dhahhak telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna. (Luqman: 6) Bahwa yang dimaksud adalah kemusyrikan. Hal yang sama dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir, yang kesimpulannya mengatakan bahwa setiap perkataan yang menghalang-halangi ayat-ayat Allah dan mencegah untuk mengikuti jalanNya, itulah yang dinamakan lahwul hadis. Firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa: untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah. (Luqman: 6) Sesungguhnya hal tersebut dikatakan menyesatkan karena bertentangan dengan Islam dan para pemeluknya.
Menurut qiraat yang membaca yadhilla berarti huruf lam bermakna lamul 'aqibah atau lamut ta'lil berdasarkan takdir Allah yang telah menetapkan bahwa mereka pasti berbuat demikian. Firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa: dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. (Luqman: 6) Mujahid mengatakan bahwa orang tersebut menjadikan jalan Allah sebagai bahan olok-olokannya. Sedangkan menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah orang tersebut menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan. Pendapat Mujahid lebih utama.
Firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa: Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (Luqman: 6) Yakni sebagaimana mereka memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan jalan-Nya, maka mereka balas dihinakan kelak pada hari kiamat dengan azab yang kekal dan terus menerus.
000
Dalam firman berikutnya disebutkan: Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya. (Luqman: 7) Orang yang gemar kepada perbuatan yang tak berguna, main-main, dan gemar bernyanyi ini apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur'an, maka ia berpaling darinya dan berpura-pura tidak mendengarnya, seakan-akan dia orang yang tuli, karena dia merasa terganggu dengan mendengarnya, sebab ia tidak mau mengambil manfaat dari ayat-ayat itu dan tidak pula rpemerlukannya.
Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih. (Luqman: 7) Yakni kelak di hari kiamat, azab itu akan menyakitkannya sebagaimana ia merasa sakit manakala mendengar Kitabullah dan ayat-ayatnya (ketika di dunia).
000
000
Ayat 6
Beralih dari penjelasan mengenai fungsi Al-Qur'an dan kriteria orang mukmin, pada ayat ini Allah menggambarkan sikap orang yang lebih senang mendengarkan selain Al-Qur'an. Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan percakapan atau cerita-cerita kosong untuk menyesatkan dan memalingkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu, yakni pemahaman yang benar. Mereka juga menghina ayat-ayat Al-Qur'an dan menjadikannya bahan olok-olokan karena ketidaktahuan mereka tentang manfaat Al-Qur'an atau keengganan mereka mengambil manfaat darinya. Di akhirat nanti mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. 7. Bukan itu saja kelakuan buruk orang yang menggunakan cerita-cerita kosong untuk menyesatkan manusia. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia serta-merta berpaling dengan menyombongkan diri dan bersikap seolah-olah dia belum mendengarnya. Dia dengan sikap demikian seperti layaknya orang tuli yang seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya. Maka, sebagai bentuk ejekan, gembirakanlah dia dengan azab yang pedih di akhirat kelak.
Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia ada yang tidak menghiraukan perkataan yang bermanfaat, yang dapat menambah keyakinan manusia kepada agama dan memperbaiki budi pekertinya. Mereka lebih suka mengatakan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaatnya, menyampaikan khurafat-khurafat, dongengan-dongengan orang masa lalu, lelucon-lelucon yang tidak ada artinya. Di antara contohnya adalah seperti yang dilakukan Nadhar bin haris, dengan cara membeli buku-buku berbahasa Persia yang berisi cerita-cerita, kemudian dia mencemoohkannya kepada orang-orang Quraisy. Kalau perlu, mereka menggaji penyanyi-penyanyi untuk diperdengarkan suaranya kepada orang banyak. Isi nyanyian dan suaranya itu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat merangsang orang yang mendengarkannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang, dan makin menjauhkannya dari agama.
Diriwayatkan dari Nafi', ia berkata, "Aku berjalan bersama 'Abdullah bin 'Umar dalam suatu perjalanan, maka terdengar bunyi seruling. 'Abdullah lalu meletakkan jarinya ke lubang telinga, agar tidak mendengar bunyi seruling itu dan ia berbelok melalui jalan yang lain. Kemudian ia berkata, Nafi apakah engkau masih mendengar suara itu? Aku menjawab, 'Tidak. Maka ia mengeluarkan anak jarinya dari telinganya dan berkata, 'Beginilah aku melihat yang diperbuat Rasulullah ﷺ jika mendengar bunyi semacam itu."
Pada riwayat yang lain dari 'Abdurrahman bin 'Auf bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku dilarang (mendengarkan) dua macam suara (bunyi) yang tidak ada artinya dan menimbulkan perbuatan jahat, yaitu suara lagu yang melalaikan dan seruling-seruling setan dan (kedua) suara ketika ditimpa musibah, yaitu yang menampar muka, mengoyak-ngoyak baju, dan nyanyian setan. (Riwayat at-Tirmidzi)
Menurut Ibnu Mas'ud, yang dimaksud dengan perkataan lahw al-hadis dalam ayat ini ialah nyanyian karena ia dapat menimbulkan kemunafikan di dalam hati. Sebagian ulama mengatakan bahwa semua suara, perkataan, nyanyian, bunyi-bunyian yang dapat merusak ketaatan kepada Allah dan mendorong orang-orang yang mendengarnya melakukan perbuatan yang terlarang, disebut lahw al-hadis.
Dari ayat dan hadis-hadis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dilarang itu ialah mendengarkan nyanyian yang dapat membangkitkan nafsu birahi dan menjurus ke perbuatan zina, seperti nyanyian yang berisi kata-kata kotor. Termasuk juga nyanyian atau musik yang menyebabkan pendengarnya mengerjakan perbuatan-perbuatan terlarang, seperti minum khamar dan sebagainya.
Mendengar nyanyian atau musik yang tujuannya untuk melapangkan pikiran pada waktu istirahat atau hari raya tidak dilarang. Bahkan disuruh mendengarkannya jika nyanyian atau musik itu mempunyai arti yang baik, menambah iman, memperbaiki budi pekerti, dan menambah semangat bekerja dan berjuang.
Qusyairi berkata, "Ditabuh rebana di hadapan Nabi ﷺ ketika beliau memasuki kota Medinah, lalu Abu Bakar ingin menghentikannya, maka Rasulullah ﷺ berkata, 'Biarkanlah mereka menabuh rebana, hai Abu Bakar, hingga orang-orang Yahudi mengetahui bahwa agama kita tidak sempit. Mereka menabuh rebana disertai dengan nyanyian-nyanyian dan syair-syair, di antara bait-baitnya berbunyi: "Nahnu banatun Najjar, habbadha Muhammadun min jar" (kami adalah perempuan-perempuan Bani Najjar, alangkah baiknya nasib kami jika Muhammad menjadi tetangga kami)."
Pada ayat ini, Allah menerangkan akibat mendengar dan memperdengarkan nyanyian, musik, dan perkataan yang terlarang. Mereka akan memperoleh azab yang sangat menghinakan di hari Kiamat akibat perbuatan mereka yang tidak mengindahkan yang hak dan memilih kebatilan, serta menukar petunjuk dengan dosa.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Surah Luqmaan
(LU Q M AN)
SURAH KE-31
34 AYAT
DITURUNKAN DI MEKAH
Bismillahirrahmanirrahim
“Alif Laam Miim."
(ayat 1)
Telah banyak ditafsirkan pada surah-surah yang lain terlebih dahulu dari ini. Sebab itu tidaklah akan kita ulangi lagi. Dia adalah laksana pintu gerbang untuk memasuki masalah-masalah yang akan dibicarakan pada tiap-tiap ayat yang terkandung di dalamnya.
“Ini adalah ayat-ayat al-Kitab al-Hakim."
(ayat 2)
Al-Qur'an disebut juga al-Kitab al-Hakim, yang berarti sebuah kitab yang seluruh kandungannya adalah hikmah belaka. Yaitu rahasia dari kebesaran Allah ﷻ Cocoklah bilamana di permulaan ayat disebutkan al-Hakim karena selanjutnya kelak akan diuraikan juga kata-kata hikmah yang akan keluar dari wasiat Luqman kepada putranya. Ahli-ahli hikmah mengambilkan kesimpulan bahwa puncak dan puncak dari seluruh hikmah, atau hikmah sejati yang dapat dicapai oleh manusia ialah mengenal Allah ﷻ
“Puncak sekalian hikmah ialah takut akan Allah."
Sebabnya ialah karena Al-Qur'an itu,
“Petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."
(ayat 3)
Petunjuk sama juga dengan pimpinan atau bimbingan. Di dalam perjalanan hidup yang jauh ini, yang baru sekali ini kita tempuh, karena dahulu dari ini kita belum pernah datang ke bumi ini, kita memerlukan petunjuk. Laksana orang yang mengendarai mobil di jalan raya yang belum pernah ditempuhnya, dia memerlukan petunjuk dari angka-angka kilometer yang dipancangkan di tepi jalan. Dia memerlukan melihat di persimpangan-persimpangan jalan, ke mana tujuan jalan itu dan beberapa kilometer dari persimpangan itu ke negeri yang tertulis namanya di papan petunjuk yang dipancangkan di pertengahan simpang jalan. Begitulah pula kita menempuh kehidupan ini. Karena hidup itu adalah terlalu mahal harganya. Usia kita yang telah habis tidak dapat diganti dengan yang baru. Sebab itu pemakaiannya mesti hati-hati daripada dia terbuang percuma. Maka di dalam al-Kitab al-Hakim itulah diuraikan petunjuk jalan tersebut. Di sana disuruhkan berbuat yang ma'ruf dan dicegahkan berbuat yang mungkar, berbuat mana yang manfaat, meninggalkan mana yang merugikan.
Dan dia pun adalah rahmat, yaitu pertanda dari kasih' sayang Allah ﷻ kepada seluruh manusia, bahkan seluruh isi alam.
Sesungguhnya Allah ﷻ telah menjelaskan sendiri, bahwa memberikan rahmat itu telah Dia wajibkan ke atas diri-Nya. Hal itu dua kali berturut-turut difirmankan Allah ﷻ kepada Rasul-Nya, yaitu pada ayat 12 dan ayat 54 dari surah al-An'aam. Bahwa Dia telah memastikan, menetapkan, mewajibkan kepada diri-Nya sendiri agar melimpahkan rahmat kepada seluruh ciptaan-Nya. Di dalam hadits disabdakan, bahwa rahmat itu seratusbanyaknya. Baru satu yang disebarkan di dunia sekarang. Yang 99 lagi akan diberikan di akhirat kelak.
“Orang-orang yang mendirikan sholat."
(pangkal ayat 4)
Karena mendirikan shalat ialah hubungan utama dengan Allah ﷻ, sebagai bukti keimanan kepada Allah ﷻ Meskipun orang mengakui percaya adanya Allah ﷻ, padahal tidak mengerjakan shalat sebagaimana yang diajarkan oleh agama, belumlah lengkap orang itu mengerjakan kebaikan. Sebab tidaklah cukup kalau mengakui adanya Allah ﷻ hanya menurut akal saja. Setelah diakui ada Allah ﷻ, hendaklah latih jiwa mendekatkan diri kepada-Nya. Kalau tidak disertai dengan shalat, pengakuan adanya Allah ﷻ hanya akan melayang-layang saja, tidak mendalam ke urat jiwa. “Dan memberikan zakat mereka." Karena maksud zakat adalah pembersihan.
“Dan dengan hari akhirat mereka adalah yakin."
(ujung ayat 4)
Keyakinan akan adanya hari akhirat, hari pembalasan adalah penguat paling penting dalam menegakkan amal. Karena kadang-kadang meskipun manusia telah berbuat berbagai macam kebaikan di dunia ini, tidaklah semua orang menghargai perbuatannya yang baik itu. Pasti akan ada saja yang dengki, yang benci, dan yang melupakan atau memandang tidak berarti apa-apa. Kalau kita berbuat baik di dunia ini karena mengharapkan pujian manusia, niscaya kita akan kecewa. Karena tidak semua orang menyukai apa yang kita kerjakan. Pendeknya asal masih di dunia ini saja, tidaklah akan mendapat penghargaan selengkapnya dari manusia. Keyakinan bahwa hari akhirat akan datang. Di balik hidup yang sekarang akan ada lagi hidup yang lebih berbahagia bagi yang berjasa, dan hidup sengsara dan siksa bagi yang berdosa adalah penarik utama untuk berbuat baik. Karena balasan jasa hanya diharapkan dari Allah ﷻ yang diri telah dilatih mengenangkan dia dengan mengerjakan shalat.
“Mereka itulah orang-orang yang “berjalan" di atas petunjuk dari Tuhan mereka
(pangkal ayat 5)
Yaitu petunjuk yang telah disebutkan di dalam al-Kitab al-Hakim, dituntunkan oleh Rasul utusan Allah ﷻ, sebagaimana yang tersebut di ayat 2 dan 3 di atas tadi. Sebab cara mengerjakan dan mendirikan shalat dan cara peraturan memberikan zakat, sudahlah di-sebutkan dalam al-Kitab al-Hakim, diuraikan secara terperinci oleh rasul,
“Dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia."
(ujung ayat 5)
Apabila petunjuk Allah ﷻ dituruti, pastilah bahagia yang akan diterima. Rasa bahagia atau keberuntungan ialah kepuasan yang dirasakan oleh manusia apabila dia telah melaksanakan tugasnya sebagai orang hidup. Rasa bahagia akan dirasakan seketika diri masih hidup dan sudah tua, dapat menyaksikan amal yang telah dikerjakan di waktu yang lampau. Rasa bahagia akan dirasakan misalnya oleh seorang profesor melihat bekas-bekas mahasiswa yang pernah menerima kuliah dari dia, sekarang semua sudah jadi orang, Rasa bahagia akan dirasakan oleh seorang ayah melihat anaknya yang “jadi" disertai kehidupan beragama. Rasa bahagia akan dirasakan oleh seorang pengarang yang mengutarakan cita-citanya dalam buku-buku yang dia karang, lalu dilihatnya bahwa isi buku itu telah dilaksanakan orang. Rasa bahagia akan dirasakan oleh seorang penganjur bangsa yang berjuang di waktu muda, sampai cita-cita tercapai, dan dilihatnya sendiri dengan matanya setelah dia tua. Rasa bahagia akan dirasakan oleh orang yang merasakan bahwa umurnya tidaklah dibuang-buangnya pada perbuatan yang tidak berfaedah. Dan rasa bahagia yang sejati akan diterima kelak di dalam surga jannatun Naim.
“Dan setengah dari manusia adalah orang yang membeli permainan kata-kata untuk menyesatkan dari jalan Allah, tidak dengan ilmu."
(pangkal ayat 6)
Hasan al-Bishri berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan permainan kata-kata itu ialah nyanyi-nyanyian dan peralatan panca-ragam, yang akan membawa orang lalai dari agama. Tetapi penafsiran dari Qatadah berbeda dari itu. Beliau berkata, “Membeli permainan kata-kata bukanlah semata-mata dengan mengeluarkan uang saja. Maksud membeli di sini ialah orang yang lebih menyukai barang yang sesat. Dia lebih suka kata-kata percuma, slogan yang tidak berisi daripada memegang kata yang benar. Dia lebih suka yang mudharat daripada yang manfaat."
Kedua-dua penafsiran itu dapatlah kita pakai. Sebagai Muslim yang taat, kita akan dapat merasakan bagaimana besar bahaya nyanyi-nyanyian dan alat pancaragam (musik) yang benar-benar melalaikan orang dari agama. Lagu-lagu yang disebut orang lagu pop (dari potongan kata populer) yang selalu didendangkan di radio, di televisi, dan di tempat-tempat keramaian umum, di pesta orang kawin. Kadang-kadang isi nyanyian itu tidak lagi mengenal sopan santun. Apakah lagi nyanyian seperti itu tidaklah akan meriah kalau tidak disertai dengan minuman keras yang membuat mabuk.
Semata-mata nyanyian pada pokoknya tidaklah haram. Baru jadi haram kalau dia telah menjadi permainan kata-kata yang menimbulkan syahwat. Majelis Tarjih Muhammadiyah pada Kongres Muhammadiyah kedua puluh di Yogyakarta tahun 1931 telah mengambil kesimpulan, bahwa alat-alat musik itu pada pokoknya tidaklah apa-apa. Dia akan menjadi terpuji kalau nyanyian yang dinyanyikan atau di-musikkan dapat menambah gairah agama. Sebaliknya dia menjadi haram hukumnya jika dia akan menimbulkan kelalaian kita beragama.
Tafsir dari Qatadah itu pun cocok jika disesuaikan dengan semboyan-semboyan atau slogan-slogan yang jadi permainan kata-kata sebagaimana kerap terjadi dalam perjuangan politik. Kerapkali isinya kosong tidak masuk akal, tetapi dia dijadikan slogan. Orang kadang-kadang dipaksa dengan kekuatan kekuasaan diri pemerintahan buat menerimanya. Seumpama slogan yang dikeluarkan pada satu ketika dalam negara kita, yaitu NASAKOM. Yang berarti NASional Agama dan KOMunis. Ketiganya mesti bersatu. Di waktu itu barangsiapa yang tidak mau menerimanya, penjaralah yang akan jadi tempat tinggalnya. Padahal itu hanyalah permainan kata-kata untuk menyesatkan orang dari jalan Allah ﷻ Karena tidaklah mungkin masuk ke dalam akal yang sehat, bahwa agama dapat dipersatukan dengan Komunis, padahal Komunis itu sudah terang menentang segala agama. Bahkan Lenin sendiri pernah mengatakan bahwa agama itu adalah opium (candu) yang meracun rakyat. Sampai dibuat propaganda, bahwa Komunis di Indonesia lain dari Komunis di seluruh dunia. Sebab Komunis di sini adalah beragama.
Tetapi apakah yang kejadian? Lain tidak ialah huru-hara, perebutan kekuasaan dan pembunuhan yang keji dan ngeri. Sampai akhirnya umat yang beragama mengambil tindakan sendiri menyapu bersih kaum Komunis yang telah jelas jadi anti dan benci terhadap segala agama itu.
Begitulah pula yang terjadi dengan Kaisar Jalaluddin Akbar dari Anak Benua India di zaman kebesaran Kerajaan Mongol-Islam di India. Beliau mempunyai cita-cita hendak mempersatukan seluruh rakyat baginda yang berbilang agama, berbilang kaum itu. Ada Hindu, ada Buddha, ada Islam, dan yang lain-lain, bahkan Kristen waktu itu pun telah masuk ke India. Lalu beliau mencipta-kan suatu penyatuan agama. Dalam istana baginda dihidupkan api 1.000 tahun sebagai lambang agama Persia, Zarasustra. Di istana pun diadakan kuil pemujaan agama Hindu dan ada juga patung Buddha, demikian juga masjid. Semuanya mesti bersatu dalam satu kepercayaan yang beliau sendiri jadi pemimpinnya, diberi nama Din Ilahi yang berarti agama Ketuhanan Yang Maha Esa.
Wazir besar baginda, Abui Fadhl Allamiy, jadi pembantu baginda menyebarkan doktrin ini. Penuhlah India dengan propaganda Din Ilahi.
Seorang orang tua yang saya ziarah dan menjadi penunjuk jalan saya ketika ziarah ke bekas istana indah Kaisar Akbar, Faithpoor Sikri di tahun 1968, bercerita bahwa ketika masuk menghadap Baginda di istana, orang menyembah merundukkan badan dan separuh menyebut “Allah “ sedang yang separuh lagi menyebut “Akbar", yang dapat diartikan bahwa Allah menjelma dalam diri Kaisar Akbar.
Adakah pengaruh agama itu di India? Akhirnya dia hanya termasuk sebagian kecil dari sejarah Kaisar Akbar sendiri, bukan sejarah India. Sebagaimana ditulis oleh Will Durant, penulis Sejarah Kebudayaan, ketika baginda wafat tidaklah lebih dari delapan orang yang mengantarkan baginda ketika dihantar ke peristirahatannya yang terakhir. Setelah naik putra baginda. Syah jihan, jadi kaisar, Din Ilahi hapus dengan sendirinya karena dia tidak pernah masuk ke dalam jiwa rakyat, walaupun berapa besar perbelanjaan yang dihamburkan untuk mempropagandakannya di kala Kaisar Akbar masih hidup. Dan walaupun kata-kata indah telah disusun, Din Ilahi sebagai permainan kata, namun maksudnya tidak lain hanyalah karena hendak menyesatkan manusia dari jalan Allah ﷻ “Dan mereka ambil jadi olok-olok". Selain dari semua perbuatan itu tidak dengan ilmu, hanya meraba-raba di dalam kelam terdapat pula maksud buruk yang lain, yaitu mengambil agama jadi olok-olok. Tidak ada yang bersungguh-sungguh. Karena hati sanubari mereka sendiri pun pada hakikatnya tidaklah mengerti apa yang mereka kerjakan.
“Mereka itu, untuk mereka adalah adab yang menghinakan."
(ujung ayat 6)
Di kala hidup di dunia mereka telah mem-perolok-olokkan ayat-ayat Allah ﷻ Kadang-kadang agama mereka cemoohkan. Kadang-kadang karena kekuasaan yang ada pada tangan mereka, mereka anggap agama itu hanyalah barang murah yang dapat disebut-sebut di bibir, tetapi mereka pandang menghalangi segala keinginan mereka. Mereka pada hakikatnya membenci agama. Sebab banyak benar kesukaan mereka yang terhambat dan dihalangi oleh agama. Sebab itu maka pemuka-pemuka agama mereka pandang hina-dina belaka. Lantaran itu maka adzab yang membuat mereka jadi hinalah yang akan mereka derita di akhirat. Di atas dunia mereka berbangga, menyombong, merasa diri sangat tinggi dan mulia. Namun, di akhirat keadaan sudah terbalik. Mereka jadi hina lantaran adzab siksaan itu. Itulah balasan yang setimpal dan adil.
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka pun benpaling dalam keadaan menyombong."
(pangkal ayat 7)
Karena merasa diri lebih pintar. Tidak perlu diajar orang. Bahkan ada yang sampai marah, mengapa mereka ditegur dengan ayat Allah ﷻ Rakyat jelata tidaklah berhak me-negur orang-orang besar kerajaan. Itu adalah penghinaan. Itu adalah mengurangi wibawa beliau. “Seakan-akan dia tidak mendengarnya. Seakan-akan pada kedua belah telinganya ada sumbat." Sehingga apa yang dia dengar bukan tertuju kepada dirinya, melainkan kepada orang lain.
“Maka beri kabar gembiralah mereka dengan adzgb yang pedih."
(ujung ayat 7)
Pemakaian kata-kata “Beri kabar gembiralah “ mereka terhadap adzab siksaan yang pedih adalah sambutan yang sepadan atas kesombongan, berpaling muka, berolok-olok dan bersikap menyumbat telinga mendengar seruan Allah ﷻ itu. Karena dalam hidup di dunia mereka merasakan bahwa mereka selalu di pihak benar, tidak pernah salah dan tidak boleh disalahkan.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal yang saleh-saleh, untuk mereka adalah surga-surga yang bernikmat."
(ayat 8)
Beginilah selalu imbalan dan orang yang melaksanakan petunjuk dan seruan yang di-sampaikan rasul. Sebab hidup mereka telah berisi, pertama dengan kepercayaan kepada Allah ﷻ, kedua pembuktian iman dengan amal perbuatan. Dan perbuatan itu ialah yang baik-baik, yang berfaedah. Baik untuk dirinya dunia dan akhirat atau untuk sesama umat manusia. Surga-surga yang luas dan lapangan, yang penuh dengan berbagai nikmat, itulah yang akan menyambut mereka di akhirat.
“Kekal mereka di dalamnya."
(pangkal ayat 9)
Kekal tidak akan mati lagi. Sebab mati telah dilampaui. “Janji Allah yang benar." Yang pasti akan ditepati; hidup dalam surga merasakan keenakan makan, kepuasan minum, tempat tinggal indah semerbak, kesuburan, keindahan warna, kecantikan perempuan. Dan Allah ﷻ akan mempertemukan mereka dengan itu semua. Karena Allah ﷻ tidak pemungkir janji. Allah ﷻ muliawan, dermawan.
“Dan Dia adalah Mahaperkasa, “pasti berlaku apa yang Dia kehendaki, “Mahabijaksana."
(ujung ayat 9)
Diberinya tahu lebih dahulu dari jauh hari bahaya yang akan menimpa kepada yang menempuh jalan salah dan dari jauh hari itu menjanjikan kebahagiaan bagi yang taat.
“Dia telah menciptakan semua langit dengan tidak bertiang, yang kamu lihat sendiri akan dia."
(pangkal ayat 10)
Arsitektur dari Yang Mahatinggi Maha-agung yang tidak dapat ditiru diteladan oleh siapa pun."Dan Dia pun meletakkan pada bumi itu gunung-gunung untuk mengukuhkan bagi kamu. “Karena dengan adanya gunung kamu tidak akan bergoyang atau rebah jatuh lagi oleh keras embusan angin." Dan Dia kembang biakkan padanya, “yaitu pada bumi itu." dari tiap-tiap macam binatang. “Di sana terdapat kalimat dan batin, yang arti asalnya ialah merangkak atau menjalar. Maka termasuklah binatang berkaki empat atau kaki enam, berkaki dua atau berkaki empat puluh, bahkan ada yang berkaki sampai seratus, semacam ulat menjalar yang di negeri saya disebut ulat sipisan.
“Dan telah Kami turunkan air dari langit, maka tumbuhlah padanya dari tiap-tiap tumbuh-tumbuhan yang serba indah."
(ujung ayat 10)
Indah dengan berbagai warnanya, dengan kembang-kembangnya, dengan pohon di hutan, rumput merata, akar menjuntai, yang semuanya itu penuh dengan keindahan dan kekayaan Ilahi.
“Inilah ciptaan Allah."
(pangkal ayat 11)
Tidak tepermanai banyaknya, kayanya, indahnya, dengan warna-warninya dan kesu-burannya dan keganjilannya, yang satu melebihi yang lain."Maka perlihatkanlah kepadaku, apakah yang telah diciptakan oleh yang selain Dia itu?" Adakah berhala yang kamu sembah itu sanggup berbuat demikian? Adakah barang yang kamu puja dan kamu sembah itu turut menciptakan langit agak selapis atau bintang agak sebuah, atau kayu agak sebatang atau lalat agak seekor?
“Namun orang-orang yang aniaya itu tetaplah dalam kesesalan yang nyata."
(ujung ayat 11)
Mereka menganiaya diri sendiri karena tidak mempergunakan pikiran untuk berpikir, hanya beramal turut-turutan, tidak berpendirian yang teguh; sehingga kesengsaraan jualah yang akan mereka tanggungkan kelak.
Tafsir of Surah Luqman
Allah says:
الم
Alif Lam Mim.
At the beginning of Surah Al-Baqarah we discussed the letters such as those that appear at the beginning of this Surah.
تِلْكَ ايَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ
These are Ayat of the Wise Book.
هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَةَ وَيُوْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُم بِالاْخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
A guide and a mercy for the Muhsinin. Those who perform the Salah and give Zakah and they have faith in the Hereafter with certainty.
Allah has made the Qur'an a guidance and healing and a mercy for the Muhsinin, who are those who do good deeds in accordance with the Shariah. They establish the obligatory prayers in the proper manner and at the correct times, and follow that with regular, optional and supererogatory prayers; they pay the Zakah to those who deserve it; they uphold the ties of kinship with their relatives; they have certain faith that there will be rewards and punishments in the Hereafter, and they seek the reward with Allah; they do not show off or seek a reward or thanks from other people. Whoever does this is one of those of whom Allah says
أُوْلَيِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ
Such are on guidance from their Lord,
meaning, they follow His guidance with clear understanding.
وَأُوْلَيِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
and such are the successful.
in this world and in the Hereafter.
The Doomed are preoccupied with Idle Talk and They turn away from the Ayat of Allah
Allah says:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
And of mankind is he who purchases idle talk (Lahw Al-Hadith) to mislead from the path of Allah without knowledge,
When Allah mentions the blessed -- who are those who are guided by the Book of Allah and benefit from hearing it, as He says:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَـباً مُّتَشَـبِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
Allah has sent down the Best Statement, a Book, its parts resembling each other (and) oft-repeated. The skins of those who fear their Lord shiver from it. Then their skin and their heart soften to the remembrance of Allah. (39:23)
He connect that with mention of the doomed, those who turn away from the Qur'an and do not benefit from hearing the Words of Allah. Instead, they turn to listening to flutes and singing accompanied by musical instruments. As Ibn Mas`ud commented about the Ayah:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
And of mankind is he who purchases Lahu Al-Hadith to mislead (men) from the path of Allah,
he said, This -- by Allah -- refers to singing.
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
And of mankind is he who purchases Lahw Al-Hadith to mislead (men) from the path of Allah without knowledge,
Qatadah said:
By Allah, he may not spend money on it, but his purchasing it means he likes it, and the more misguided he is, the more he likes it and the more he prefers falsehood to the truth and harmful things over beneficial things.
It was said that what is meant by the words
يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيث
(purchases idle talks) is buying singing servant girls.
Ibn Jarir said that it means all speech that hinders people from seeing the signs of Allah and following His path.
His saying:
لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّه
(to mislead (men) from the path of Allah) means,
he does this to oppose Islam and its followers.
وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا
and takes it by way of mockery.
Mujahid said,
This means mocking the path of Allah and making fun of it.
أُولَيِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
For such there will be a humiliating torment.
Just as they showed no respect to the signs and path of Allah, so they will be shown no respect on the Day of Resurrection, and they will be subjected to a painful, ongoing torment.
Then Allah says
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ ايَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا
And when Our Ayat are recited to such a one, he turns away in pride, as if he heard them not -- as if there were deafness in his ear.
means, when these Qur'anic verses are recited to one who is fond of idleness and play, he turns away from them and does not want to hear them. He turns a deaf ear to them as if he can hear nothing, because it annoys him to hear them since he gains no benefit from them and has no interest in them.
فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
So announce to him a painful torment.
i.e., on the Day of Resurrection, which will hurt him just as much as listening to the Book of Allah and its verses hurt him
The Good Destiny of the Believers
Allah says:
إِنَّ الَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
.
Verily, those who believe and do righteous good deeds, for them are Gardens of Delight.
Here Allah mentions the destiny of the righteous in the Hereafter, those who believe in Allah and His Messenger and do righteous deeds in accordance with the Laws of Allah.
..
لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيم
خَالِدِينَ فِيهَا
for them are Gardens of Delight. To abide therein.
means, there they will enjoy all kinds of delights and pleasures, food, drink, clothing, dwelling-places, means of transportation, women, a light of beauty and delightful sounds, which have never crossed the mind of any human being. They will stay there forever, never leaving and never desiring change.
وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا
It is a promise of Allah in truth.
meaning, this will undoubtedly come to pass, for it is a promise from Allah, and Allah never breaks His promise, because He is the Most Generous Bestower Who does what He wills and is able to do all things.
وَهُوَ الْعَزِيزُ
And He is the All-Mighty,
Who has subjugated all things and to Whom all things submit,
الْحَكِيمُ
the All-Wise.
in what He says and what He does, Who has made this Qur'an a guidance to the believers.
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدًى وَشِفَأءٌ وَالَّذِينَ لَا يُوْمِنُونَ فِى ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى
Say:It is for those who believe, a guide and a healing. And as for those who disbelieve, there is heaviness (deafness) in their ears, and it is blindness for them. (41:44)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَأءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُوْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّـلِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا
And We send down of the Qur'an that which is a healing and a mercy to those who believe, and it increases the wrongdoers nothing but loss. (17:82)
[people] from its [true] significance, that he may lead [people] astray (read li-yadilla; or li-yudilla) from the way of God, the religion of Islam, without knowledge and take it (read [subjunctive] wa-yattakhidhahaa as a supplement to yudilla, 'that he may lead astray'; or [indicative] wa-yattakhidhuhaa as a supplement to yashtaree, 'who buys') in mockery, as something to be mocked. For such there will be a humiliating chastisement, one of abasement.
The word: اشتراء (ishtira) in: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ (And from among the people who buys the distracting amusement of things - 31:6) literally means 'to buy.' And on occasions, the same word is used in the sense of 'doing an act instead of another' - as in: أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ are the people who have bought error at the rice of guidance - 2:16, 2:175 and in some other verses.
The Cause of Revelation
This verse was revealed because of a particular event relating to Nadr Ibn Harith. He was one of the top businessmen from among the Mushriks of Makkah who used to travel to different countries in connection with his business. Once he bought and brought back a collection of historical stories featuring Cyrus and other Persian kings from Iran. Thus armed, he said to the Quraish of Makkah: "Muhammad tells you the stories of the people of ` Ad and Thamud and others. I shall tell you better stories, those of Rustam, Isfandyar and other kings of Persia. They started listening to his stories eagerly simply because they contained no lessons to learn and no work to do. It was nothing but some delicious stories. Because of these, many Mushriks who had some measure of interest in the Divine Word because of its miraculous nature, rather listened to it stealthily, found an excuse to draw away from the Qur'an. (ذکرہ فی الروح عن اسباب النزول للواحدی و مقاتل و ذکرنحوہ فی الدر المنثور بروایۃ البیھقی)
And according to a narration of Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ in Ad-Durr al-Manthur, the businessman mentioned above had brought in a singing bondwoman he bought in a foreign country. It was through her that he devised a plan to stop people from listening to the Qur'an. When he found anyone intending to go and listen to the Qur’ an, he would have him hear his bondwoman sing before him. He used to say: 'Muhammad ' makes you listen to the Qur'an, then goes on to ask you to pray and fast which make life difficult for you. Come, you listen to this music and enjoy the fun.'
The verse of the Qur'an being referred to here was revealed in relation to this very event. Here, the ishtira' (buying) of lahw al-hadith (the distracting amusement of things) means either those tales of the Persian kings, or this singing bondwoman. In terms of the event in the background of the revelation, the word: (ishtira) has been used in the real sense for buying.
And in terms of the general sense of لَهْوَ الْحَدِيثِ (lahw al-Oath: the distracting amusement of things) being enunciated later, the word: اِشتَرَا (ishtira' ) is also in its general sense at this place, that is, to opt for something instead of something else. This includes the buying of things of 'lahw' (amusement) as well.
As for the word: حَدِيثِ (hadith) in لَهْوَ الْحَدِيثِ (lahw al-hadith), it is there in the sense of tales told and things said and done. Then the word لَهْوَ 'lahw' itself literally means to become heedless. In other words, things that make one become negligent of what must be done are also called 'lahw.' Then there are occasions when things that bring no worthwhile benefit, rather serve as pastime or entertainment only, are also referred to as لَهْوَ ' lahw.'
As regards the meaning and exegetical explanation of the expression: لَهْوَ الْحَدِيثِ (lahw al-hadith: distracting amusement of things - 4) in the cited verse, sayings of commentators differ. In a narration of Sayyidna Ibn Masud, Ibn ` Abbas and Jabir ؓ it has been explained as music, vocal or instrumental (reported and verified by al-Hakim, and al-Baihaqi in ash-Shu` ab)
And in the view of the majority of Sahabah, Tabi` in and commentators at large, the expression: لَهْوَ الْحَدِيثِ (lahw al-hadith: the distracting amusement of things) applies generally to everything which makes one fall into a state of heedlessness as to the remembrance and worship of Allah. Included therein is music accompanied by instruments, and obscene or absurd fictional narratives as well. Imam al-Bukhari in his book, al-'Adab al-Mufrad, and al-Baihaqi in his Sunan have both elected to go by this Tafsfr. Al-Bukhari has said:
لَهْوَ الْحَدِيثِ ھوَ الغنآُء و اَشباھُہ،
'Lahw al-hadith' means playing music and things similar to it make one heedless to the worship of Allah).
And it appears in Sunan al-Baihaqii that opting for or buying the distracting amusement of things (اِشتَرَاء لَهْوَ الْحَدِيثِ : ishtira' lahw al-hadith) means buying a bondman or bondwoman who sings and plays instruments, or buying similar other immodest things which make one heedless to the remembrance of Allah. Ibn Jarir has also taken to this general sense. The same generality is proved by a narration of Tirmidhi where the Holy Prophet ﷺ has been reported to have said, 'Do not buy or sell singing bondwomen,' after which he said, مِثل ھٰذا انزلت ھٰذہ الآیۃ و مِنَ النَّاس مَن یَّشتَرِی (About such things this verse [ i.e. verse 6 which is under discussion ] was revealed)
Islamic Legal Injunctions of لَھو وَ لَعِب 'Lahw wa La` ib' (play and game) and its Equipment
Full details of these injunctions supported by and Sunnah have been provided in a treatise contained in اَحکام القرآن (Ahkam ul-Qur'an) written by this humble writer. It also carries an equally detailed discussion on music and musical instruments in the light of the Qur'an and Hadith along with the sayings of Muslim jurists and mystics. This treatise in Arabic has been published in volume V of Ahkam ul-Qur'an. Learned readers may consult it at their discretion. A gist is being given here for others interested in the subject.
First of all, it should be borne in mind wherever the Qur'an has mentioned Lahw and La'ib, it is in the context of its disparagement and degradation, the lowest degree of which is karahah (repugnance or reprehensibility) (Ruh ul-Ma’ ani and al-Kashshaf) and the cited verse is open and clear in declaring it as vice.
And in Kitabul-Jihad of al-Hakim's Mustadrak, it has been reported by Sayyidna Abu Hurairah ؓ that the Holy Prophet ﷺ said:
کُلُّ شَیءِ مَّن لَھوِ الدُّنِیَاباطِل اِلَّا ثلٰثۃ : اِنتضالّکَ بِقَوسِکَ و تَادِیبُکَ لِفَرَسِکَ ، ومُلَاعَبَتُکَ لِاَھلِکَ فَاِنَّھُنَّ مِنَ الحَقَّ
Every Lahw (play) of the world is false except three things: (1) that you play with your bow and arrow (2) and that you play while training your horse and (3) that you play with your wife - because these are among acceptable rights.
(Hakim has said that this Hadith is Sahih on the condition set forth by Muslim. But, adh-Dhahabi and others have not accepted it as muttasil, (of an uninterrupted chain) Instead, he calls it a mursal (of an interrupted chain). But, in the sight of the majority of Hadith experts, a mursal hadith is also authentic).
In this Hadith, every 'lahw' or play has been declared as false with the exception of three. These, in reality, are just not included under the definition of 'lahw' because 'lahw' is supposed to be something in which there is no worthwhile religious or worldly benefit. And these three things are worthwhile. Many religious and worldly advantages are attached with them. As for archery and training of horses, they are part of the preparation for Jihad. Then, playfulness with one's wife serves the purpose of procreation. That they have been named as 'lahw' is simply because of outward similarity. In terms of reality, they are just not included under 'lahw.' Similarly, other than these three, there are many things that yield religious or worldly benefit while, seen outwardly, they are supposed to be 'lahw' or play. These too have been rated as permissible in other narrations of Hadith; in fact, some of these have been declared to be commendable. Relevant detail will follow.
In gist, the doing of things which are 'lahw,' in real terms, that is, in which there is no benefit, neither religious nor worldly, are all necessarily blameworthy and makruh (repugnant, reprehensible) after all. Then, there are details about them. Some reach the extent of kufr (infidelity). Others are explicitly حَرَام Haram (forbidden) the lowest degree of which is their being makruh tanzihi, that is, counter to the preferred choice (khilaf al-awl. No 'lahw,' which really qualifies as 'lahw,' is exempt from it. As for the plays exempted in Hadith, they definition of 'lahw' as it has been already clarified in Hadith itself. In Abu Dawud, Tirmidhi, An-Nasai and Ibn Majah, there is a narration from Sayyidna 'Uqbah Ibn ` Amir ؓ ، It appears in Kitab ul-Jihad in the words: لَیسَ مِنَ اللَّھوِ ثَلَاثُ تادِیبُ الرَّجلِ فَرَسَہ، وَملَا عَبَتُہ، اَھلَہ، وَرَمیُہ، بِقَوسِہٖ وَنَبلِہٖ (Three things do not fall under 'lahw:' (1) Man training his horse and (2) playing with his wife and (3) shooting with his bow and arrows (Nasbur-Rayah, p. 273, v. 4). This Hadith has itself made it clear that these three things that have been exempted are simply not included in 'lahw.' and that which is really 'lahw' is false and blameworthy. The different degrees of its blameworthiness follow next:
1. Playing that becomes a conduit of going astray from one's Religion, or making others turn away from it, is kufr (infidelity) - as stated in the cited verse: وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ - 6. There it has been declared to be an act of grave error and infidelity, the punishment of which is painful, a punishment particular to those who have disbelieved (kuffar). The reason is that this verse was revealed following an event relating to Nadr Ibn Harith in which he had used this 'lahw' to divert people from Islam. Therefore, this 'lahw' (distracting amusement) did not remain simply Haram (forbidden), in fact, it went to the extent of becoming kufr (infidelity).
2. The second form is that which does not make people go astray from Islamic Beliefs, but does make them get involved with something forbidden and sinful. This, then, would not be kufr as such. But, patently unlawful and gravely sinful it shall remain - as do all those games played with bets. In other words, these may be games where the element of gambling (qimar) is present with giving or taking of money on winning or losing, or recreational activities that impede the performance of religious duties such as prayers and fasting etc.
The reading of Shameless Fiction or Poetry or Writings of the Proponents of the False is also Not Permissible.
In our time, an alarming number of young people get introduced to shameless fiction, stories and novels based on plots featuring people who fancy and flirt with crimes, and poetry composed of indecent and shameless couplets. All these things are included under this kind of distracting amusement which is forbidden 'lahw.' Similarly, the study of ideas dished out by the wayward proponents of the false is also not permissible for common people, because this could become an active agent in misleading them from the straight path. Should the ` U1ama' who are well grounded in religious knowledge study them for rebuttal, it does not matter.
3. As for playing games that have neither an element of kufr (infidelity) nor of open sinfulness, they are makruh (repugnant) in that one would be wasting his energy and time in an activity that yields no benefit.
Buying and Selling of the Equipment used in Games
From the details given above, we have also come to know the rule operating in the buying and selling of equipment used in games. The rule is that the trading, buying and selling of equipment used in games characterized by infidelity, error, unlawfulness and sin is also haram (forbidden). And that which is used in makruh lahw, its trading is also makruh; and the equipment that is used in permissible and exempted games, its trading is also permissible; and the equipment that is used in permissible and impermissible activities both, its trading is permissible.
Allowed and Permissible Games
As already explained in detail, what is blameworthy and prohibited is that particular 'lahw' or amusement or play or game which has no religious or worldly benefit in it. Games played to maintain physical health and mobility, or for some other religious or worldly need, or at the least, are for relief from fatigue without any excessive indulgence to the extent of causing disruption in necessary duties, then, such games are allowed by the Shari` ah. And should the participation in them be with the intention of fulfilling a religious need, then, they are thawab-worthy as well.
Also mentioned in the Hadith appearing above was the exemption of three game forms from the prohibition: Shooting of arrows, riding horses and playing with 'ahl' (wife). And in a marfu` hadith (attributed to the Holy Prophet ﷺ) from Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ ، it appears: خَیر لھو المؤمن السباحہ و خیر لھو المرأۃ المغزل (The best game for a believer is swimming and the best game for a woman is the spinning wheel) (al-Jami` as-Saghir, from Ibn Adiyy, with weak chain of narrators).
According to a narration, Sayyidna Salamah Ibn Akwa' ؓ ، says, "Someone from among the Ansar of Madinah was a great sprinter. No one could win a race against him. Once he publicly threw a challenge if there was anyone who would run a race against him. I sought the permission of the Holy Prophet ﷺ if I could compete against him. When he gave me the permission, I was the one who went ahead in the race.' This tells us that it is also permissible to practice foot racing.
Once, when a well-known wrestler called Rukanah challenged the Holy Prophet ﷺ to wrestle against him, he accepted the challenge and won the bout (Abu Dawud in al-marasil).
Some Ethiopian young men used to play with spears as a rehearsal. The Holy Prophet ﷺ let Sayyidah ` A'ishah ؓ see their game of martial skill while she stood behind his back and he said to the performers, " اِلھُوا وَالعبُوا " (ilhu wal abu: have fun, keep playing) )Reported by al-Baihaqi in Ash-Shu'ab, as in al-Kanz, Bab ul-Lahw). In some narrations, the following words also appear along with it: فَاِنِّئ اَکرَہُ اَن یُّرٰی فِی دِینِکُم غِلظَۃُ (I do not like that people see harshness in your religion).
Similarly, it has been reported from some Sahabah that they, when tired after their duties relating to the Qur'an and Hadith, would once in a while relax with Arab poetry or historical events (from Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ in Kaff ar-Ra` a' ).
In a Hadith, it was said: “ رُوِّحُوا القُلُبَ سَاعَۃً فَسَاعَۃً ”(Let your hearts rest now and then). [ Reported by Abiu Dawud in his Marasil from Ibn Shihab 'mursalan', that is, attributed to the Holy Prophet ﷺ by the student of one of the Sahabah with the name of the narrating Sahabi not mentioned ] This hadith proves the permissibility of recreation meant to relax one's mind and heart and the need to spare some time for it.
However, when doing all these things, the aim should be to achieve the correct and sound objective of those games. Playing for the sake of playing should never be the objective. Even that too is restricted to the measure of need. Any indulgence that stretches to unreasonable proportions or touches the limits of excess would not be in order. Thus, the reason behind the justification of all these games is no other but that they have to be within their limits. If so, they would just not be counted as 'lahw.'
Games Prohibited Explicitly
Along with the games mentioned above, there are others the Holy Prophet ﷺ has prohibited particularly - even though, some benefits may be seen therein - such as, chess, backgammon and others played with counters and pieces. If accompanied by giving and taking of money on winning and losing, then, this is gambling, and is absolutely haram (forbidden). And should this not be the case and they may be played just for enjoyment, even then, they have been prohibited in Hadith. According to a narration of Sayyidna Buraidah in the Sahih of Muslim, the Holy Prophet ﷺ said, "A person who plays backgammon is like the one who has smeared his hands with the blood of pig." Similar to this, there is another narration where words of curse appear against the player of chess. (Uqaili in ad-Du'afa' from Sayyidna Ab` u Hurairah ؓ as in Nasbur-Rayah).
Similarly, the Holy Prophet ﷺ has declared playing with pigeons as impermissible. [ Abu Dawud in al-Marasil from Shuraih as in al-Kanz ] The apparent reason for the prohibition of this type of pastimes is that the player of these games becomes so preoccupied with them that he would turn heedless towards other things he must do, even to Salah, and other religious obligations.
The Injunctions of Music and Musical Instruments
Some Sahabah have explained the expression: لَهْوَ الْحَدِيثِ (lahw al-hadith: the distracting amusement of things) in the cited verse as singing and playing of musical instruments. Then, there are others who have explained it in the general sense and consider every such playful activity that makes one heedless towards Allah to be the meaning of: لَهْوَ الْحَدِيثِ (lahw al-hadith). But, even in their view, singing and playing of instrumental music are included therein.
And in another verse of the Qur'an: لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ (those who do not witness falsehood - Al-Furqan, 25:72), the word:... (az-zur: falsehood, the false) has been explained by Imam Abu Hanifah, Mujahid, Muhammad Ibn al-Hanafiyyah and others as ` ghina (singing and playing of instrumental music).
And Abu Dawud and Ibn Majah in Sunan and Ibn Hibban in his Sahih have reported from Sayyidna Abu Malik al-Ash'arl ؓ that the Holy Prophet ﷺ said:
لَیَشرَبَنَّ نَاسُ مِّن اُمَّتِی الخَمرَ یُسَمُّنَھَا بغَیرِ اسمِھَا یُعرَفُ عَلٰی رُؤُسِھِم بِالمَعَازِفِ وَ المُغَنِّیَاتِ ، یَخسِفُ اللہُ بِھِمُ الاَرضَ وَیَجعَلُ اللہُ مِنھُمُ القِرَدَۃَ وَ الخَنَازِیرَ
Indeed some people from my community will drink wine giving it a name other than the name it already has. Music will be played right on their faces with instruments and singing women in attendance. Allah Ta'ala will make the earth sink with them, while He will make some of them monkeys and pigs.
And according to a narration from Sayyidna ` Abdullah Ibn ` Abbas ؓ ، the Holy Prophet ﷺ said, "Allah Ta’ ala has forbidden wine, gambling, drum and sarangi (string instrument like violin) and he said, "Everything that intoxicates is haram (forbidden, unlawful) [ Reported by Imam Ahmad, Abu Dawud and Ibn Hibban ]
It has been reported from Sayyidna Abu Hurairah ؓ that the Holy Prophet ﷺ said:
روی عن ابی ھریرا ؓ قال : قال رسول اللہ ﷺ اذا اتخذ الفیء دولاً والامانۃ مغنمًا والزکوٰۃ مغرمًا و تعلم لغیر الدین واطاع الرجل أمرأتہ و عقّ اُمّہ و أدنی صدیقہ و أقصی أباہ وظھرت الاصوات فی المساجد و ساد القبیلۃ فاسقھم وکان زعیم القوم أرذلھم و اُکرمَ الرّجل مخافۃ شرّہ و ظھرت القیان و المعازف وشربت الخمور و لعن أخر ھٰذہ الأمّۃ أوّلھا فلیرتقبوا عند ذلک ریحا حمراء وزلزلۃ و خسفًا و مسخًا و قذفًا و آیات تتابع کنظام بال قطع سل کہ فتتابع بعضہ بعضاً (رواہ الترمذی و قال ھٰذا حدیث حسن غریب)
When spoils are taken as personal property and trust property as spoils and Zakah as penalty, and religious learning is acquired for worldly objectives, and when man starts obeying his wife and disobeying his mother, and keeps his friend near and his father far, and when voices rise in mosques and the chief of a tribe becomes its worst sinner and when the chief of a people becomes their lowest of the low and when wicked people are respected out of fear for them, and when singing girls and musical instruments appear all over and when wines of all sorts are consumed and when the later of this Ummah start cursing the former - then, at that time, you wait for a red storm, and earthquake, and the sinking of the earth, and the metamorphosis of figures and faces, and missiles, and the signs of Doomsday following each other, one after the other, like a broken necklace with its beads scattered simultaneously. (Reported by Tirmidhi calling it a Hasan-Gharib Hadith)
A Warning Not to Be Ignored!
Read the words of this Hadith again and again, and you will start seeing a blueprint of the world of our time spread out before you. Here is an advance warning given by the Holy Prophet ﷺ almost fourteen hundred years ago, against sins prevailing among Muslims, and which are increasing day by day. He has reminded Muslims that they have to remain vigilant against such conditions and take full precautions to avoid such sins both personally and socially. Otherwise, once these sins become accepted common practice, such sinners will be visited by Divine punishments. Then, the very last signs of Qiyamah will appear squarely before them. Since, the singing of women and the playing of musical instruments are included under those sins, this narration has been cited in the present context.
For that matter, there are many more authentic Ahadith where singing and playing of musical instruments have been declared unlawful and impermissible. Severe warnings have been given against indulging in these. This humble writer has cited all these narrations in his treatise entitled: کشف الغناء عن وصف الغِنَا which is in Arabic and has been published as Part V of Ahkam ul-Qur'an. Only some of those have been given here.
Reciting morally beneficial poetry in a good voice without musical instruments is not prohibited
In contrast to what has been stated above, there are narrations that seem to hint towards permissibility of 'ghina" (singing). Such narrations have also been collected and included in the treatise referred to here. To bring the two kinds of narration in harmony, it can be said that the singing of a non-mahram woman, or a song accompanied by musical instruments are forbidden. This is in accordance with what has been proved on the authority of the cited verses of the Qur'an and from the Ahadith of the Holy Prophet.. However, if some poetic compositions are recited in a pleasing voice, and the reciting person is not a woman or a beardless young man, and the subject of the poetry recited is also not vulgar or indecent and is not inclusive of any other sin, then, it is permissible.
As for the reports attributed to some revered Sufis, that they listened to 'ghina" (sama' ), it is based on this kind of permissible 'ghina"- because, it is certain that they followed the Shari` ah and Sunnah faithfully. That they would ever commit some such sin, simply cannot be imagined. Those learned among the Sufis have themselves explained it explicitly. The treatise mentioned earlier carries the sayings of the jurists of the four schools of jurisprudence as well as those of the Sufi authorities. At this place, the summary as given has been considered sufficient in the present context.( The original work in Arabic and its Urdu translation with exhaustive notes under the title, "Islam our Mausiqi" (Islam and Music) has been published by Maktaba-e-Darul-Uloom, Jamia Darul-Uloom, Korangi, Karachi-75180, Pakistan. Those interested in a detailed discussion of the subject would find both versions useful.)