ٱلرَّعْد ٣٩
- يَمۡحُواْ menghapus
- ٱللَّهُ Allah
- مَا apa
- يَشَآءُ Dia kehendaki
- وَيُثۡبِتُۖ dan Dia menetapkan
- وَعِندَهُۥٓ dan disisinya
- أُمُّ Ummul
- ٱلۡكِتَٰبِ Kitab
Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitāb (Lauḥ Maḥfūẓ).
(Allah menghapuskan) daripada kitab itu (apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan) dapat dibaca yutsbitu atau yutsabbitu, artinya hukum-hukum dan masalah-masalah lainnya yang dikehendaki-Nya untuk dihapus atau ditetapkan (dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) asal kitab yang tidak berubah sedikit pun daripadanya, yaitu kitab-kitab-Nya di zaman azali.
Tafsir Surat Ar-Ra'd: 38-39
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).
Ayat 38
Allah ﷻ menyebutkan bahwa sebagaimana Kami telah mengutusmu, hai Muhammad, sebagai seorang rasul dan kamu seorang manusia, begitu pula Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum kamu dari kalangan manusia; mereka makan makanan, berjalan di pasar-pasar, dan beristri serta mempunyai anak.
“Dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (Ar-Ra'd: 38)
Allah ﷻ telah berfirman kepada rasul-Nya yang paling utama dan yang menjadi penutup para rasul: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku’.” (Al-Kahfi: 110)
Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Adapun aku berpuasa dan berbuka, berdiri (salat) dan tidur, makan daging dan mengawini wanita. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnah (tuntunanku), dia bukan termasuk golonganku.”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj ibnu Artah, dari Mak-hul yang mengatakan bahwa Abu Ayyub pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Ada empat perkara yang termasuk sunnah para rasul, yaitu memakai wewangian, nikah, bersiwak, dan memakai pacar.”
Abu Isa At-Turmuzi telah meriwayatkannya melalui Sufyan ibnu Waki', dari Hafis ibnu Gailan, dari Al-Hajjaj, dari Mak-hul, dari Abusy Syimal, dari Abu Ayyub, kemudian ia menyebutkan hadis ini. Dan ia (Turmuzi) mengatakan bahwa hadis ini lebih sahih daripada hadis yang di dalam sanadnya tidak disebut Abusy Syimal.
Firman Allah ﷻ: “Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah.” (Ar-Ra'd: 38)
Artinya, tidaklah seorang rasul mendatangkan kepada kaumnya sesuatu hal yang bertentangan dengan hukum alam (mukjizat) melainkan dengan seizin Allah, bukan atas kehendaknya sendiri. Segalanya diserahkan kepada Allah. Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan apa yang disukai-Nya.
“Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).” (Ar-Ra'd: 38)
Yakni bagi tiap masa tertentu ada kitab yang mencatat batas akhirnya. Segala sesuatu ada batasannya yang ditentukan di sisi-Nya.
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al-Hajj: 70)
Ad-Dahhak ibnu Muzahim mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).” (Ar-Ra'd: 38) Yakni bagi tiap kitab ada batas masanya. Dengan kata lain, tiap kitab yang diturunkan dari langit ada batasan masa yang telah ditentukan di sisi Allah dan ada batas masa berlakunya. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:
Ayat 39
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki.” (Ar-Ra'd: 39) darinya (kitab-kitab itu).
“Dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) sehingga semuanya di-mansukh (direvisi) oleh Al-Qur'an yang Dia turunkan kepada Rasulullah ﷺ.
Mengenai makna firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) Ulama tafsir berselisih pendapat mengenai penafsirannya. As-Sauri, Waki', dan Hasyim telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Laila, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Said ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Allah-lah yang mengatur urusan sunnah (hukum). Maka Dia menghapuskan apa yang dikehendaki-Nya, terkecuali nasib celaka, nasib bahagia, hidup, dan mati.
Di dalam riwayat lain sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) Disebutkan bahwa segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk dihapus, Dia menghapusnya, kecuali mati, hidup, celaka, dan bahagia; karena sesungguhnya urusan tersebut telah diselesaikan oleh-Nya.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) Kecuali hidup, mati, celaka, dan bahagia; hal tersebut tidak berubah.
Mansur mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Mujahid tentang doa seseorang seperti berikut: "Ya Allah, jika namaku berada dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah namaku itu di antara mereka. Dan jika namaku berada dalam golongan orang-orang yang celaka, maka hapuskanlah namaku dari golongan mereka, dan jadikanlah namaku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia." Maka Mujahid menjawab, "Baik." Kemudian Mansur menjumpainya lagi setahun kemudian atau lebih, dan ia menanyakan pertanyaan yang sama kepada Mujahid.
Maka Mujahid membacakan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati.” (Ad-Dukhan: 3), hingga akhir dua ayat berikutnya. Kemudian Mujahid berkata bahwa Allah memberikan ketetapan dalam malam yang diberkati segala sesuatu yang akan terjadi dalam masa satu tahun menyangkut masalah rezeki atau musibah. Kemudian Dia mendahulukan apa yang Dia kehendaki dan menangguhkan apa yang Dia kehendaki. Adapun mengenai ketetapan-Nya tentang kebahagiaan dan kecelakaan, maka hal ini telah ditetapkan-Nya dan tidak akan diubah lagi.
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Abu Wa'il (yaitu Syaqiq ibnu Salamah) bahwa dia sering sekali mengucapkan doa berikut: "Ya Allah, jika Engkau telah mencatat kami termasuk orang-orang yang celaka, maka sudilah kiranya Engkau menghapusnya, dan catatlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bahagia. Dan jika Engkau telah mencatat kami ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia, maka tetapkanlah keputusan itu. Karena sesungguhnya Engkau menghapuskan apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang engkau kehendaki, di sisiMu terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz)." Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Abu Hakimah Ismah, dari Abu Usman An-Nahdi, bahwa Umar ibnul Khattab r.a. mengucapkan doa berikut dalam tawafnya di Baitullah seraya menangis: “Ya Allah, jika Engkau telah mencatat nasibku celaka atau berdosa, maka hapuskanlah, karena sesungguhnya Engkau menghapuskan apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan apa yang Engkau kehendaki; dan di sisi-Mu terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz), maka jadikanlah (catatan nasibku) bahagia dan mendapat ampunan.”
Hammad telah meriwayatkan dari Khalid Al-Hazza, dari Abu Qilabah, dari Ibnu Mas'ud r.a., bahwa dia pun membaca doa tersebut. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syarik, dari Hilal ibnu Humaid, dari Abdullah ibnu Alim, dari Ibnu Mas'ud.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Khassaf, dari Abu Hamzah, dari Ibrahim, bahwa Ka'b berkata kepada Umar ibnul Khattab, "Wahai Amirul Mukminin, seandainya tidak ada suatu ayat dalam Kitabullah (Al-Qur'an), tentulah aku akan menceritakan kepadamu apa yang akan terjadi sampai hari kiamat." Umar ibnul Khattab bertanya, "Ayat apakah itu?" Ka'b menjawab bahwa ayat tersebut adalah firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki.” (Ar-Ra'd: 39), hingga akhir ayat.
Pengertian semua pendapat di atas menyimpulkan bahwa takdir itu dapat dihapus oleh Allah menurut apa yang Dia kehendaki dan Dia menetapkan apa yang Dia kehendakia. Pendapat ini barangkali berpegang kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan (yaitu As-Sauri), dari Abdullah ibnu Isa, dari Abdullah ibnu Abul Ja'd, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar terhalang dari rezekinya disebabkan dosa yang dikerjakannya, dan tiada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah usia kecuali perbuatan baik.”
Imam Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama. Di dalam hadis sahih telah disebutkan bahwa silaturahmi menambah usia. Di dalam hadis lainnya disebutkan: “Sesungguhnya doa dan qada (takdir), kedua-duanya benar-benar saling tolak menolak di antara langit dan bumi.”
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sahl ibnu Askar, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jarir, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mempunyai Lauh Mahfuz yang besarnya sejauh perjalanan lima ratus tahun, terbuat dari batu permata (intan) putih yang mempunyai dua penyanggah terbuat dari yaqut. Setiap hari Allah memeriksanya sebanyak tiga ratus enam puluh kali periksaan. Dia menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang dikehendaki, di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.
Al-Lais ibnu Sa'd telah meriwayatkan dari Ziyad ibnu Muhammad, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dari Fudalah ibnu Ubaid, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Az-Zikr (Lauh Mahfuz) dibuka pada saat malam hari tinggal tiga jam lagi. Pada jam yang pertama dilakukan pemeriksaan oleh Allah padanya yang tiada seorang pun melihat pemeriksaan itu selain Dia, maka Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki”……hingga akhir hadis, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Al-Kalbi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) Bahwa Allah menghapuskan sebagian dari rezeki dan menambahkannya, dan Dia menghapuskan sebagian dari ajal (usia) dan menambahkannya. Ketika ditanyakan kepadanya, "Siapakah yang menceritakan hal itu kepadamu?" Al-Kalbi menjawab bahwa yang menceritakannya adalah Abu Saleh, dari Jabir ibnu Abdullah ibnu Rabbab, dari Nabi ﷺ. Sesudah itu ia ditanya mengenai makna ayat ini, maka ia menjawab, "Allah mencatat semua keputusan. Apabila hari Kamis, maka dibiarkanlah sebagian darinya segala sesuatu yang tidak mengandung pahala, tidak pula azab. Seperti ucapanmu, 'Saya makan, saya minum, saya masuk, saya keluar, dan lain sebagainya,' yang menyangkut pembicaraan, sedangkan pembicaraan itu benar. Dan Dia menetapkan apa yang ada pahalanya serta apa yang ada sanksi azabnya."
Ikrimah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Kitab itu ada dua, yaitu Kitab (catatan) yang Allah menghapuskan sebagian darinya menurut apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki darinya, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).” (Ar-Ra'd: 39) Hal ini menyangkut perihal seseorang yang melakukan amal ketaatan selama suatu masa, kemudian ia kembali mengerjakan perbuatan maksiat kepada Allah, lalu ia mati dalam keadaan sesat, maka hal inilah yang dihapuskan. Dan yang ditetapkan ialah perihal seseorang yang mengerjakan kemaksiatan kepada Allah, tetapi telah ditetapkan baginya kebaikan hingga ia mati, sedangkan dia dalam keadaan taat kepada Allah. Maka dialah yang ditetapkan oleh Allah.
Tetapi telah diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair, bahwa makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 284)
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) Allah mengganti apa yang Dia kehendaki, maka Dia menghapuskannya; dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, maka Dia tidak menggantinya.
“Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).” (Ar-Ra'd: 39) Kesimpulan maknanya ialah di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab yang di dalamnya terkandung hal yang dihapuskan, hal yang diganti, dan hal yang ditetapkan.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) Ayat ini semakna dengan firman-Nya dalam ayat yang lain: “Ayat apa saja yang Kami revisi, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya.” (Al-Baqarah: 106), hingga akhir ayat.
Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki).” (Ar-Ra'd: 39) Bahwa orang-orang kafir Quraisy, ketika ayat berikut ini diturunkan: “Dan tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah.” (Ar-Ra'd: 38) Mereka berkata, "Sekarang kita tidak melihat Muhammad memiliki suatu kemampuan pun. Sesungguhnya dia tidak berdaya." Maka turunlah ayat ini sebagai ancaman dan peringatan terhadap mereka. Dengan kata lain, disebutkan bahwa sesungguhnya bila Kami menghendaki, tentulah Kami mengadakan baginya sebagian dari urusan Kami menurut apa yang Kami kehendaki. Dan Allah menetapkan pada bulan Ramadan (ketetapan-Nya), maka Dia menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan rezeki-rezeki manusia serta musibah-musibah mereka, dan semua yang Dia berikan dan yang Dia bagikan buat mereka.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan. (apa yang Dia kehendaki). (Ar-Ra'd: 39) Bahwa barang siapa yang ajalnya telah datang, maka ia dimatikan, dan Allah menetapkan kehidupan bagi orang yang ditetapkan-Nya masih hidup hingga sampai pada ajalnya. Pendapat ini dipilih oleh Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah. Firman Allah ﷻ: dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). (Ar-Ra'd: 39) Maksudnya, perkara halal dan perkara haram. Sedangkan menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah keseluruhan Kitab dan pokoknya.
Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.” (Ar-Ra'd: 39) bahwa yang dimaksud ialah Kitab yang ada di sisi Tuhan semesta alam.
Sunaid ibnu Daud mengatakan, telah menceritakan kepadaku Mu'tamir, dari ayahnya, dari Yasar, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah bertanya kepada Ka'b tentang makna Ummul Kitab. Maka Ka'b menjawab, "Ummul Kitab ialah ilmu Allah tentang apa yang Dia ciptakan dan apa yang diperbuat oleh ciptaan-Nya. Kemudian Allah berfirman kepada ilmu-Nya, 'Jadilah engkau sebuah Kitab.' Maka jadilah ia sebuah Kitab.”
Ibnu Juraij mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab. (Ar-Ra'd: 39) Bahwa yang dimaksud adalah Az-Zikr (Al-Qur'an).
Allah Yang Mahabijaksana menghapus hukum yang layak untuk
dihapus, dan menetapkan apa (hukum) yang Dia kehendaki untuk ditetapkan. Allah melakukan hal itu sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan
yang dimiliki-Nya. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab, yakni Lauh
Mahfudh. Kami'Allah'Mahakuasa menetapkan atau menghapus hukum
yang Kami kehendaki sesuai kebijaksanaan Kami. Dan sungguh, jika Kami perlihatkan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, di dunia ini sebagian dari siksaan dan balasan yang Kami ancamkan kepada mereka (orang
kafir) sebagaimana permintaan mereka, atau Kami wafatkan engkau
sebelum menyaksikan siksaan itu datang kepada mereka'namun
mereka pasti akan merasakannya'maka sesungguhnya tugasmu hanya
menyampaikan saja dakwah dan risalah yang kami titipkan kepadamu,
dan Kamilah yang akan memperhitungkan amal mereka serta balasan
yang akan mereka terima atasnya.
Pada ayat ini, Allah ﷻ menerangkan satu sisi dari kekuasaan-Nya, yaitu menghapuskan atau menetapkan apa-apa yang dikehendaki-Nya, baik mengenai syariat-Nya atau nasib manusia.
Tanda-tanda adanya penghapusan dan penetapan Allah, ialah adanya siang dan malam yang datang silih berganti, adanya gelap dan terang, hidup dan mati, kuat dan lemah, sehat dan sakit, bahagia dan sengsara, kaya dan miskin, dan sebagainya.
Pada akhir ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan bahwa di sisi-Nya atau Lauh Mahfudh terdapat Ummul Kitab. Semua peristiwa dan kejadian yang terjadi di alam ini tertulis di Lauh Mahfudh yang tidak akan mengalami perubahan dan penggantian apapun.
Berdasarkan pengertian tersebut maka ayat ini juga merupakan bantahan terhadap tuntutan kaum kafir dan musyrik yang meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mendatangkan ayat-ayat atau bukti-bukti kenabian dan kerasulannya, selain Al-Qur'an. Hal tersebut tidak akan pernah terjadi, kecuali jika hal itu termasuk dalam ketentuan yang ditetapkan Allah atau telah ada dalam Lauh Mahfudh.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Katakanlah: Yang diperintahkan kepadaku hanyalah, bahwa aku menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukan dengan Dia. Kepada itulah aku menyeru, dan kepada-Nyalah tempat aku kembali."
(ayat 36)
Pendirian itulah yang senantiasa diulang-ulang, ditegaskan dan dijelaskan. Baik terhadap kaum musyrikin yang menyembah berhala atau terhadap kepada kaum yang diturunkan kitab. Kaum musyrikin supaya menghentikan penyembahan berhala dan kaum Ahlul Kitab kembali kepada pokok yang asli dari ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab itu sendiri. Bagaimanapun yang akan terjadi, namun Nabi Muhammad ﷺ tidak akan berganjak dari pendirian itu. Dia akan tetap pada pendirian mengakui Allah satu, tidak mempersekutukan yang lain dengan Dia, dan itulah yang akan tetap diserukannya, selama hayat dikandung badan. Selangkah pun dia tidak akan undur dari pendirian itu. Kalau Ahlul Kitab merasa gembira berbesar hati, marilah ikut ajaran ini.
“Dan demikianlah Kami turunkan dia, (sebagai) hukum dalam bahasa Arab."
(pangkal ayat 37)
Al-Qur'an turun dalam bahasa Arab, isinya ialah hukum yang memutuskan menjelaskan garis pemisah di antara kegelapan Jahiliyyah dengan nurul Islam. Pemisah di antara yang hak dengan yang batil. Menjelaskan halal dan haram. Diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga setiap orang dalam masyarakat yang didatangi pada waktu itu dapat mengerti sendiri, Diperingatkan kepada Utusan-Nya oleh Allah bahwa hukum yang telah terang dari Al-Qur'an itu wajib dijelaskan dan dinyatakan, walaupun kafir-kafir itu tidak merasa senang, atau merasa tersinggung. Sebab itu selanjutnya Allah berfirman,
“Dan jika engkau turuti hawa nafsu mereka sesudah datang kepada engkau pengetahuan, maka tidaklah ada bagi engkau selain Allah akan pelindung dan tidak penghambat."
(ujung ayat 37)
Dengan ujung ayat tegaslah bahwa di dalam menegakkan hukum tidak boleh beliau tenggang-menenggang. Pokok hukum ialah al-Haq, Kebenaran. Dan selain dari Kebenaran hanyalah al-Bathil, yang ada Kebatilan. Kadang-kadang bagi kaum yang mempersekutukan yang lain dengan Allah, pahitlah buat menelan kebenaran itu. Kalau diterangkanyang sebenarnya, mereka sakit hati. Apakah karena menenggang hawa nafsu mereka itu, supaya mereka jangan tersinggung, kebenaran akan diubah atau disembunyikan sama sekali? Sampai kapan? Boleh dipakai cara yang lunak atau cara yang keras, tetapi lunak atau keras, namun penolak kebenaran akan tetap menolak kebenaran. Di waktu dilunakkan, mereka pun akan menolak dengan lunak, bersilemah tak patah! Padahal Rasul telah diberi pengetahuan, dan mereka yang menentang itu berdiri atas pendirian yang bodoh. Allah menjelaskan, kalau sedikit saja Rasul-Nya memperturutkan hawa nafsu mereka, niscaya kebenaran tidak tegak lagi. Siapa yang akan melindungi Nabi ﷺ kalau itu terjadi? Kalau kebenaran yang tunggal dari Allah ditegakkan, maka Allah berjanji akan melindungi dan Allah yang akan menghambat segala bahaya yang mengancam. Tetapi kalau hawa nafsu si kafir diperturutkan bahaya akan datang bertimpa-timpa, dan tidak ada yang selain Allah itu yang akan dapat menghambat datangnya.
Nabi Muhammad ﷺ pun telah dilatih oleh Allah supaya teguh menegakkan pendirian, dan tidaklah beliau akan cenderung memperturutkan hawa nafsu orang yang ingkar itu. Tetapi peringatan ini diteruskan kepada beliau, karena akan diteruskan kepada kita, pengikut beliau. Jangan mundur menegakkan kebenaran karena tenggang-menenggang dengan hawa nafsu orang kafir. Kebenaran jangan sampai berubah. Karena bila berubah sedikit saja, tidaklah kebenaran lagi namanya. Laksana satu ember air suci, dimasukkan ke dalamnya satu tetes kencing, najislah dia semua.
“Dan sesungguhnya telah Kami utus rasul-rasul dari sebelum engkau, dan Kami jadikan mereka itu mempunyai istri-istri dan anak cucu."
(pangkal ayat 38)
Tidak berhalangan jika Nabi Muhammad ﷺ itu berumah tangga, sebab rasul-rasul yang dahulu pun berumah tangga juga. Ibrahim beristri dua; Sarah dan Hajar, beranak isma'il dan Ishaq. Ishaq pun demikian. Ya'qub kawin dengan perempuan dua bersaudara dan bertambah lagi dengan dua dayang-dayang, yang disebut selir (gundik). Demikian juga nabi-nabi yang lain. Berumah tangga, beristri dan beranak, bukanlah menurunkan derajat nabi-nabi. Malahan Dawud dan Sulaiman ber-isteri beratus orang, karena demikian susunan masyarakat pada masa itu, apatah lagi kedua beliau itu adalah raja-raja besar. Semasa ayat ini diturunkan (di Mekah) istri Rasulullah baru satu orang yaitu Khadijah dan beranak beliau dengan dia empat anak perempuan (Fathimah, Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqaiyah) dan laki-laki dua orang, Qasim dan Abdullah. Di Madinah dapat anak paling akhir, yaitu Ibrahim. Tetapi sayangnya semua anak laki-laki beliau, menurut hikmat tertinggi dari Allah, meninggal di waktu kedi belaka, sehingga beliau menjadi bapak dari seluruh umatnya, malahan lebih dari bapak dan lebih dari diri kita sendiri, dan istri-istri beliau adalah ibu-ibu kita seluruh Mukminin (al-Ahzaab ayat 6). Hal Nabi kita beristri dan beranak-cucu ini, dijelaskan pada ayat ini, karena kadang-kadang menyelinap pengaruh agama Nasrani ke dalam pikiran orang Islam, sehingga ada yang menganjur-anjurkan kepen-detaan dan memujikan jika Nabi, hendaklah seperti Nabi isa, tidak pernah kawin, dan tidak pernah punya istri.
“Berkata Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya aku adalah puasa dan berbuka, shalat tengah malam dan tidur, aku makan daging, aku kawini perempuan. Maka barangsiapa tidak mau mengikuti sunnahku itu, tidaklah dia dari golonganku." (HR Bukhari dan. Muslim)
Adapun Nabi Isa al-Masih lain halnya. Memang, Isa al-Masih sebelum meninggal dunia belum sempat kawin, tetapi beliau tidaklah menganjurkan itu, dan tidak mungkin menganjurkan supaya tidak kawin. Karena kalau ada seorang nabi menganjurkan supaya orang jangan kawin, artinya dia menganjurkan hapusnya keturunan manusia dari dalam alam ini. Suatu perintah yang berlawan dengan kehendak Allah.
Di dalam Al-Qur'an, surah al-Hadiid ayat 27 diterangkan benar-benar bila mulainya ada anjuran tidak kawin dalam kalangan agama Nasrani. Yaitu dari pengikut-pengikut nabi yang berperasaan terlalu halus dan kasihan, lalu mereka adakan Rahbaniyah, yaitu pertapaan dengan tidak kawin. Ayat itu menerangkan bahwa yang demikian itu ialah Ibtada'uuha, artinya perbuatan yang mereka timbulkan kemudian, bukan dari ajaran Nabi Isa a.s. sendiri, dan bukan dari syari'at Allah.
Kemudian kita perhatikan pula di dalam Kitab Perjanjian Baru, terutama dari ajaran-ajaran Paulus, yang banyak sekali membuat perubahan dari ajaran Nabi Isa yang asli. Dia pun menganjurkan supaya pendeta-pendeta atau orang-orangyang hendak tekun beragama supaya tidak kawin.
Pada akhir-akhir ini timbullah gerakan dalam kalangan Pendeta Katolik di kota-kota besar dan berpengaruh di Eropa dan Amerika, supaya pendeta-pendeta diperbolehkan kawin, dan sekarang sudah banyak yang kawin.
Selanjutnya Allah pun memperingatkan, “Dan tidaklah ada (kekuasaan) bagi seorang Rasul bahwa (akan) mendatangkan satu ayat, melainkan dengan izin Allah." Yaitu satu mukjizat. Rasul-rasul yang mana pun yang membawakan mukjizat, baik Nuh dengan bahteranya, atau Ibrahim tidak terbakar dimasukkan ke dalam nyala api, atau Musa melemparkan tongkatnya lalu jadi ular, baik Shalih dengan untanya, ataupun Isa al-Masih menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit kusta, bukanlah semuanya itu atas kekuasaan mereka sendiri. Musa tidak akan dapat berbuat apa-apa dengan tongkatnya itu atas kehendaknya sendiri. Setiap mukjizat tongkatnya keluar, terlebih dahulu mesti ada perintah Allah."Lemparkan tongkatmu hai Musa!" Kalau tidak ada perintah, dia tidak berani. Walaupun telah berpuluh kali tongkat itu memperlihatkan keganjilan. Ibrahim tidak berani bertindak sendiri masuk api dengan tidak ada ketentuan dari Allah. Sebab kalau berani-beranian bertindak sendiri, dia pasti terbakar. Nabi Muhammad ﷺ Isra' ke Baitul Maqdis dan MFraj ke langit, hanya sekali. Dan tidak akan dapat mengulang yang kedua kali, kalau tidak ada izin dan panggilan dari Allah.
"Bagi tiap-tiap ketentuan, ada tulisan."
(ujung ayat 38)
Ayat-ayat atau mukjizat, atau Kharqul ‘Adah, kejadian yang merobek hal yang biasa tidak mustahil kejadian. Tidak mustahil Allah Ta'aala menjadikan sesuatu di luar kebiasaan yang biasa kita pandangi, yang kita namai sebab akibat. Tetapi hal demikian terdaftar di sisi Allah, bagi tiap-tiap ketentuan ada kitabnya, ada tertulis. Tidak ceroboh.
Hal ini menjadi peringatan yang mendalam bagi kita, bahwasanya sedangkan Khususiat Mukjizat terhadap rasul-rasul lagi tidak mudah Allah memberikan, apatah lagi bagi manusia-manusia yang oleh setengah kaum taﷺuf disebut waliullah yang keramat dan dapat berbuat yang ganjil. Tentu tidaklah kita akan lekas percaya saja. Apatah lagi hujjah menegakkan agama dan kebenaran ajaran Allah, tidaklah perlu selalu digantungkan kepada keganjilan-keganjilan mukjizat, melainkan lebih penting diceruhkan oleh penyelidikan akal. Sebab itu maka percaya kepada keramat wali-wali itu pasaran tempat dia laris laku ialah di dalam kalangan orang yang kurang berpikir.
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan Dia menetapkan. Dan di sisi-Nyalah Ummut Kitab."
(ayat 39)
Untuk menafsirkan ayat ini harus kita ingat bahwa dia adalah lanjutan dari ayat yang sebelumnya, yaitu bahwa rasul-rasul tidaklah berkuasa membuat mukjizat sendiri. Sebab Ummul Kitab — Ibu Kitab, — Pusat Tulisan, ada pada Allah sendiri. Misalnya, peraturan Allah dalam alam yang dikenal oleh manusia tidak bisa pergi ke langit. Tetapi Ummul Kitab yang sebenarnya, sumber dari segala sebab dan akibat ada di tangan Allah. Sekali-sekali Allah perlihatkan, bahwa Ibrahim tidak hangus dibakar, Isa al-Masih dapat berjalan di atas air sebagai orang berjalan di atas tanah rata saja, tongkat Musa dapat menjelma jadi ular, Muhammad bisa Isra' dan Mi'raj ke langit. Ummul Kitab adalah rahasia pimpinan Ilahi atas alam, banyak yang dapat kita ketahui, tetapi berjuta-juta kali lebih banyak yang tidak dapat kita ketahui. Allah dapat menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan dapat pula menetapkan. Allah mempunyai “Administrasi" tersendiri. Kalau tidak demikian, bukanlah Dia Tuhan: A'udzu Billahi.
"All Prophets and Messengers were Humans
Allah says,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلً مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
And indeed We sent Messengers before you, and made for them wives and offspring.
Allah says, `Just as We have sent you O Muhammad, a Prophet and a human, We sent the Messengers before you from among mankind, that eat food, walk in the markets, and We gave them wives and offspring.'
Allah said to the most honorable and Final Messenger,
قُلْ إِنَّمَأ أَنَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَىَّ
Say:""I am only a man like you. It has been revealed to me."" (18:110)
It is recorded in the Two Sahihs that the Messenger of Allah said,
أَمَّا أَنَا فَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَقُومُ وَأَنَامُ وَاكُلُ اللَّحْمَ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
As for me, I fast and break the fast, stand in prayer at night and sleep, eat meat and marry women; so whoever turns away from my Sunnah is not of mine.
No Prophet can bring a Miracle except by Allah's Leave
Allah said,
وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِأيَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ
And it was not for a Messenger to bring a sign except by Allah's leave.
meaning, no Prophet could have brought a miracle to his people except by Allah's permission and will, for this matter is only decided by Allah the Exalted and Most Honored, not the Prophets; surely Allah does what He wills and decides what He wills.
لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
(For) every matter there is a decree (from Allah).
for every term appointed, there is a record (or decree) that keeps it, and everything has a specific due measure with Allah,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَأءِ وَالاٌّرْضِ إِنَّ ذلِكَ فِى كِتَـبٍ إِنَّ ذلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Know you not that Allah knows all that is in the heaven and on the earth, Verily, it is (all) in the Book. Verily, that is easy for Allah. (22:70)
Meaning of Allah blotting out what He wills and confirming what He wills of the Book
Allah said
يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاء
Allah blots out what He wills,
of the divinely revealed Books,
وَيُثْبِتُ
and confirms,
until the Qur'an, revealed from Allah to His Messenger peace be upon him, abrogated them all.
Mujahid commented;
يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاء وَيُثْبِتُ
(Allah blots out what He wills and confirms (what He wills).
""Except life and death, misery and happiness (i.e., faith and disbelief), for they do not change.""
Mansur said that he asked Mujahid,
""Some of us say in their supplication, `O Allah! If my name is with those who are happy (believers), affirm my name among them, and if my name is among the miserable ones (disbelievers), remove it from among them and place it among the happy ones.""
Mujahid said. ""This supplication is good.""
I met him a year or more later and repeated the same question to him and he recited these Ayat,
إِنَّأ أَنزَلْنَـهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَـرَكَةٍ
We sent it (this Qur'an) down on a blessed night. (44:3)
Mujahid commented next,
""During Laylatul-Qadr (Night of the Decrees), Allah decides what provisions and disasters will occur in the next year of. He then brings forward or back (or blots out) whatever He wills.
As for the Book containing the records of the happy (believers) and the miserable (disbelievers), it does not change.""
Al-A`mash narrated that Abu Wa'il, Shaqiq bin Salamah said that he used to recite this supplication often,
""O Allah, if You wrote us among the wretched ones, remove this status from us and write us among the blessed ones. If You wrote us among the blessed ones, please let us stay that way, for surely, You blot out and confirm what You will, and with You is the Mother of the Book.""
Ibn Jarir At-Tabari collected this.
Similar statements were collected from Umar bin Al-Khattab and Abdullah bin Mas`ud, indicating that Allah blots out (or abrogates) and affirms what He wills in the Book of Records.
What further supports this meaning is that Imam Ahmad recorded that Thawban said that the Messenger of Allah said,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلاَّ الْبِر
A man might be deprived of a provision (that was written for him) because of a sin that he commits; only supplication changes Al-Qadar (Predestination); and only Birr (righteousness) can increase the life span.""
An-Nasa'i and Ibn Majah collected this Hadith.
There is also a Hadith recorded in the Sahih that affirms that;
maintaining the ties of the womb increases the life span.
يَمْحُو اللّهُ مَا يَشَاء وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Allah blots out what He wills and confirms (what He wills). And with Him is the Mother of the Book.
Al-Awfi reported that Ibn Abbas said about Allah's statement,
""A man might work in Allah's obedience for a while but he reverts to the disobedience of Him and then dies while misguided.
This is what Allah blots out, while what He confirms is a man who works in His disobedience, but since goodness was destined for him, he dies after reverting to the obedience of Allah.
This is what Allah confirms.""
It was also reported that Sa`id bin Jubayr said that this Ayah is in the meaning of another Ayah,
فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَأءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَأءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Then He forgives whom He wills and punishes whom He wills. And Allah is able to do all things. (2:284)"
God effaces, of it [the Book], whatever He will and He fixes (read yuthbit or yuthabbit), therein whatever He will of rulings or other matters, and with Him is the Mother of the Book, its [source of] origin, of which nothing is ever changed, and which consists of what He inscribed in pre-eternity (azal).
Said in the next verse (39) was: يَمْحُو اللَّـهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ : 'Allah wipes off what He wills and affirms (what He wills). And with Him is the Mother Book.' [ The translation of: أُمُّ الْكِتَابِ (umm-ul-kitab) as 'Mother Book' reflects a word for word replacement possible at this place which also exhudes its applied sense in some measure, though not as clearly as given in the Tafsir immediately after ] The literal meaning of 'Umm al-Kit' is 'The Original Book.' The reference here is to the 'Preserved Tablet' (al-Lawh al-Mahfuz al-) in which there can be no change or alteration.
The sense of the verse is that Allah Ta’ ala, in His most perfect power and wisdom, obliterates what He wills, and affirms what He wills. And after this obliteration and affirmation, whatever there is stays preserved with Allah Ta’ ala. No one has access to it, nor can there be any deletion and addition into it.
Leading authorities in Tafsir, Sayyidna Said ibn Jubayr ؓ and Qatadah and others have declared that this verse too is related with the obliteration and affirmation of injunctions and religious codes, that is, with the problem of Naskh or abrogation. As for the sense of the verse, they say that in the Books which Allah Ta’ ala sends to different people through different messengers, and outlined in which are religious laws, obligations and duties, it is not necessary that all injunctions contained therein be eternal and last forever. In fact, it is in fitness with conditions prevailing among peoples and the change in times that Allah, in His wisdom, abrogates or repeals whichever injunction He wills, and affirms and retains whichever He wills. Then, the original Book is pre-served with Him after all. It is already written there that such and such injunction sent down for such and such people is for a particular period of time, or is based on particular conditions. When that term expires, or those conditions change, this injunction will also change. In this original Book, that term and that appointed time stands recorded with full and authentic determination. Also entered there is the description of the in-junction which will replace the one changed.
This eliminates the doubt that Divine injunctions should never be abrogated, because enforcing an injunction and then abrogating it indicates that the enforcer of the injunction did not have the correct perception of conditions, therefore, it was after having seen conditions that it had to be abrogated. And it is obvious that the majesty of Allah Ta’ ala is beyond the possibility that something be outside the realm of His knowledge. Since this stipulation tells us that the injunction which is abrogated exists in the knowledge of Allah Ta’ ala beforehand, that is, the injunction has been promulgated only for a specified period of time and will be changed later. This is similar to what a physician does in our world of ex-perience. He examines a patient, looks at the symptoms of what he is ailing from, then prescribes a medicine relevant to the current condition he is in. And he knows the effect the medicine is going to bring forth, and after which, the particular medicine would have to be changed and the patient would have to be given another medicine of another description. To sum up, it can now be said that, according to this Tafsir, the phenomena of obliteration and affirmation (mahw and ithbat) means the abrogation (naskh) of injunctions, and its affirmation and continuity.
As based on the view of Sayyidna ` Abdullah ibn ` Abbas ؓ a group of leading commentators, Sufyan al-Thawri, Waki` and others, have reported another Tafsir of this verse where the subject of the verse has been determined as concerning the decree of destiny. And the meaning of the verse has been explained by saying that, according to the explicit statements of the Qur an and Hadith, the destinies of the creations of Allah, including the sustenance received by every person during his entire years of life and the comfort and distress faced along the line, and their respective magnitudes are written since 'azal even before the creation of His creatures. Then, at the time of the birth of a child, the angels too are asked to keep it committed to writing. And every year, in the Laylatul-Qadr (The Night of Power), a full roster of what is supposed to happen during the course of that year is handed over to the angels.
In short, the age of every created individual, his or her sustenance, times of movement and periods of rest are all determined, and written. But, from this decree of destiny, Allah Ta` ala wipes off or obliterates what He wills and affirms or retains what He wills. However, the statement: وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (And with Him is the Mother Book) means that the original Book, according to which, after the process of obliteration and affirmation, ultimate action shall be taken, is with Allah. In this, there can be no change or alteration.
This has been elaborated in many authentic Ahadith which tell us that there are some a'mal (deeds) which cause a person's age and sustenance to increase. Some make them decrease. It appears in the Sahih of Al-Bukhari that maintaining relations which must be maintained (silah ar-rahim) becomes the cause of increase in one's age. A narration in the Musnad of Ahmad reports that there are occasions when one commits some such sin as leads to his being deprived of sustenance, and by serving and obeying one's parents, years of life increase, and nothing except dua' (prayer) can avert what is Divinely destined.
What we find out from all these narrations is that the age, the sustenance and things like that which Allah Ta` ala has written into someone's destiny can become more or less because of some deeds - and also because of du' (prayer), taqdir (destiny) can be changed.
This is the subject dealt with in this verse. It says that the change or alteration in age or sustenance or hardship or ease in life as written in the Book of Destiny which takes place because of some deed (` aural) or prayer (du’ a) means that Book of Destiny which is in the hands of the angels, or in their knowledge. There are times when, some decisions of this type of destiny are contingent on some particular condition. When that condition is not found, that decision does not take effect. Then, this condition is sometimes in writing and in the knowledge of angels, but there are times when this is not written - but exists in the knowledge of Allah Ta` ala alone. When that decision changes, everyone is left wondering. A destiny of this nature is called 'conditional' or 'contingent' (mu` allaq) in which, as explicitly stated in this verse, the process of obliteration and assertion keeps operating. But, the last sentence of the verse: وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ that is, 'with Him is the original Book,' means that above this 'conditional destiny,' (tagdir mu'allaq) there is the 'final and definite destiny' (taqdir mubram) which is with Allah Ta’ ala written in the original Book.
And that is the exclusive domain of Divine knowledge. Written there are the decisions, injunctions and commands which issue forth as the final outcome after the conditions of deeds have been fulfilled or du' has been answered. Therefore, that is totally free of obliteration and assertion and addition and deletion. (Ibn Kathir)