آلِ عِمْرَان ٥٥
- إِذۡ ketika
- قَالَ berfirman
- ٱللَّهُ Allah
- يَٰعِيسَىٰٓ Wahai Isa
- إِنِّي sesungguhnya Aku (Allah)
- مُتَوَفِّيكَ akan mewafatkan kamu
- وَرَافِعُكَ dan mengangkat kamu
- إِلَيَّ kepadaKu
- وَمُطَهِّرُكَ dan/serta mensucikan kamu
- مِنَ daripada
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- كَفَرُواْ kafir/ingkar
- وَجَاعِلُ dan menjadikan
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- ٱتَّبَعُوكَ (mereka) mengikuti kamu
- فَوۡقَ di atas
- ٱلَّذِينَ orang-orang yang
- كَفَرُوٓاْ kafir/ingkar
- إِلَىٰ kepada
- يَوۡمِ hari
- ٱلۡقِيَٰمَةِۖ kiamat
- ثُمَّ kemudian
- إِلَيَّ kepadaKu
- مَرۡجِعُكُمۡ tempat kembalimu
- فَأَحۡكُمُ maka Aku memutuskan
- بَيۡنَكُمۡ diantaramu
- فِيمَا dalam/tentang apa
- كُنتُمۡ kalian adalah
- فِيهِ didalamnya
- تَخۡتَلِفُونَ kamu perselisihkan
(Ingatlah), ketika Allah berfirman, "Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan."
Ingatlah! (Ketika Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan memegangmu dan mengangkatmu kepada-Ku) yakni dari dunia tanpa mengalami kematian (dan menyucikanmu) atau menjauhkanmu (dari orang-orang yang kafir serta menjadikan orang-orang yang mengikutimu) artinya yang membenarkan kenabianmu di antara kaum muslimin dan orang-orang Nasrani (di atas orang-orang yang kafir) kepadamu, yakni orang-orang Yahudi; orang-orang yang percaya kepada kenabian Isa itu dapat mengalahkan mereka dengan berbagai hujah dan dengan mata pedang (sampai hari kiamat kemudian kepada Akulah kamu kembali lalu Kuputuskan di antara kamu apa-apa yang selalu kamu perbantahkan.) yakni tentang keagamaan.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 55-58
(Ingatlah) ketika Allah berfirman, "Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta menyucikanmu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kalian kembali, lalu Aku memutuskan di antara kalian tentang hal-hal yang kalian perselisihkan."
Adapun orang-orang kafir, maka akan Aku azab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak mempunyai penolong.
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka pahala yang sempurna; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.
Demikianlah (kisah Isa), Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan Al-Qur'an yang penuh hikmah.
Ayat 55
Ahli tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkatmu kepada-Ku.” (Ali Imran: 55)
Qatadah dan lain-lain mengatakan bahwa ungkapan ini termasuk versi ungkapan muqaddam dan muakhkhar, yakni mendahulukan yang akhir dan mengakhirkan yang dahulu. Bentuk lengkapnya ialah, "Sesungguhnya Aku akan mengangkatmu kepada-Ku dan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu, sesudah diangkat."
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan mutawaffika ialah mematikan kamu.
Muhammad ibnu Ishak telah meriwayatkan dari orang yang tidak dicurigai, dari Wahb ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa Allah mematikannya selama tiga saat (jam) pada permulaan siang hari, yaitu ketika Allah mengangkatnya kepada Dia. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa orang-orang Nasrani menduga bahwa Allah mematikannya selama tujuh jam, kemudian menghidupkannya kembali.
Ishaq ibnu Bisyr meriwayatkan dari Idris, dari Wahb, bahwa Allah mematikannya selama tiga hari, kemudian menghidupkannya dan mengangkatnya.
Matar Al-Waraq mengatakan, yang dimaksud ialah sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu dari dunia, tetapi bukan wafat dalam arti kata mati. Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Jarir, bahwa yuwaffihi artinya mengangkatnya.
Kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wafat dalam ayat ini ialah tidur, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya: “Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari.” (Al-An'am: 60) Juga dalam firman Allah ﷻ: “Allah memegang jiwa (orang) ketika dia mati dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati ketika dia tidur.” (Az-Zumar: 42)
Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila terbangun dari tidurnya selalu membaca doa berikut, yaitu: “Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami sesudah mematikan (menidurkan) kami.”
Makna yang terkandung di dalam firman-Nya: “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (An-Nisa: 156-157) sampai dengan firman-Nya: “Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, tetapi (sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisa: 157-159)
Dhamir (kata ganti) yang terdapat di dalam firman-Nya, "Qabla mautihi," (An-Nisa: 159) merujuk kepada Isa a.s. Dengan kata lain, tidak ada seorang pun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Isa. Hal ini terjadi di saat Nabi Isa turun ke bumi sebelum hari kiamat, seperti yang akan diterangkan kemudian. Maka saat itu semua ahli kitab pasti beriman kepadanya karena dia menghapuskan jizyah dan tidak mau menerima kecuali agama Islam (yakni ia memerangi ahli kitab yang tidak mau masuk Islam).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ja'far, dari ayahnya, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Al-Hasan, bahwa ia telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu.” (Ali Imran: 55) Yaitu wafat dengan pengertian tidur.
Maksudnya, Allah mengangkatnya dalam tidurnya. Al-Hasan mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada orang-orang Yahudi: “Sesungguhnya Isa itu belum mati, dan sesungguhnya dia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat.”
Firman Allah ﷻ: “Serta menyucikanmu dari orang-orang kafir.” (Ali Imran: 55)
Yakni dengan mengangkatmu ke langit oleh-Ku.
“Dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir hingga hari kiamat.” (Ali Imran: 55)
Dan memang demikianlah kejadiannya, karena sesungguhnya ketika Al-Masih diangkat oleh Allah ke langit, semua pengikutnya berpecah-belah menjadi berbagai macam golongan dan sekte sesudah ia tiada.
Di antara mereka ada yang tetap beriman kepada apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya, yaitu bahwa dia adalah hamba Allah, rasul-Nya, dan anak dari hamba perempuan-Nya. Ada yang berlebih-lebihan dalam menganggapnya, lalu mereka menjadikannya sebagai anak Allah. Golongan yang lain mengatakan bahwa dia adalah Allah, dan golongan yang lain lagi mengatakan bahwa dia adalah salah satu dari Tuhan yang tiga (Trinitas).
Allah ﷻ menceritakan pendapat mereka di dalam Al-Qur'an dan sekaligus membantah tiap-tiap pendapat tersebut. Mereka terus-menerus dalam keadaan demikian selama masa kurang lebih tiga ratus tahun. Kemudian muncullah untuk mereka seorang raja negeri Yunani yang dikenal dengan julukan Konstantin. Ia masuk ke dalam agama Nasrani. Menurut suatu pendapat, dia masuk ke dalam agama Nasrani sebagai siasat untuk merusaknya dari dalam, karena sesungguhnya dia adalah seorang ahli filsafat. Menurut pendapat lain, dia orang yang tidak mengerti tentang agama Nasrani, tetapi dia mengubah agama Al-Masih buat mereka dan menyelewengkannya; serta melakukan penambahan dan pengurangan pada agama tersebut, lalu ia membuat kaidah-kaidah dan peraturan besar, yang merupakan suatu pengkhianatan yang hina.
Di masanya daging babi dihalalkan, dan mereka shalat menurutinya dengan menghadap ke arah timur, membuat gambar-gambar dan patung-patung di gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah mereka atas perintahnya. Dan dia menambahkan ke dalam puasa mereka sepuluh hari untuk menebus dosa yang telah dilakukannya, menurut dugaan mereka. Sehingga agama Al-Masih bukan lagi agama yang asli, melainkan agama Konstantin, hanya saja dia sempat membangun buat mereka banyak gereja dan tempat-tempat kebaktian yang jumlahnya lebih dari dua belas ribu rumah ibadat.
Lalu ia membangun sebuah kota yang namanya diambil dari nama dirinya. Alirannya ini diikuti oleh keluarga raja dari kalangan mereka. Keadaan mereka yang demikian itu dapat mengalahkan orang-orang Yahudi. Semoga Allah membantu Yahudi dalam melawan mereka, karena Yahudi lebih dekat kepada kebenaran ketimbang mereka, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir. Semoga tetap atas mereka laknat Allah.
Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ, maka orang-orang yang beriman kepadanya beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya dengan iman yang benar. Mereka adalah pengikut semua nabi yang ada di bumi ini, mengingat mereka percaya kepada Rasul, Nabi yang Ummi dari Arab, penutup para rasul dan penghulu Bani Adam secara mutlak. Beliau ﷺ menyeru mereka untuk percaya kepada semua kebenaran. Oleh karena itu, mereka lebih berhak kepada setiap nabi daripada umat nabi itu sendiri yang menduga bahwa mereka berada dalam agama dan tuntunannya, padahal mereka telah mengubah dan menyelewengkannya.
Kemudian seandainya tidak ada perubahan dan tidak diselewengkan, sesungguhnya Allah telah me-nasakh (merevisi) syariat semua rasul dengan diutus-Nya Nabi Muhammad ﷺ yang membawa agama yang benar yang tidak akan berubah dan tidak akan diganti lagi sampai hari kiamat nanti. Agamanya tetap tegak, menang, dan unggul di atas agama lainnya. Karena itulah maka Allah membukakan bagi sahabat-sahabatnya belahan Timur dan Barat dari dunia ini. Mereka menjelajah semua kerajaan, dan semua negeri tunduk kepada mereka.
Kerajaan Kisra mereka patahkan, dan kerajaan Kaisar mereka hancurkan serta semua perbendaharaannya mereka ambil, lalu dibelanjakan untuk kepentingan jalan Allah. Seperti yang diberitakan kepada mereka oleh Nabi mereka dari Tuhannya, yaitu di dalam firman-Nya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal saleh, bahwa “Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.” (An-Nur: 55), hingga akhir ayat.
Karena itulah, mengingat mereka adalah orang-orang yang sungguh beriman kepada Al-Masih, maka mereka dapat merebut negeri Syam dari tangan orang-orang Nasrani; dan mengusir mereka ke negeri Romawi, lalu orang-orang Nasrani kembali ke kota mereka, yaitu Konstantinopel. Islam dan para pemeluknya masih tetap berada di atas mereka sampai hari kiamat.
Nabi ﷺ telah memberitakan kepada umatnya bahwa akhirnya mereka kelak akan mengalahkan Konstantinopel dan memperoleh banyak ganimah darinya serta banyak sekali pasukan Romawi yang terbunuh hingga orang-orang belum pernah melihat korban perang yang banyak seperti itu, baik sebelum ataupun sesudahnya. Kami telah menulis sehubungan dengan hal ini dalam sebuah kitab yang tersendiri.
Ayat 56
Allah ﷻ telah berfirman: “Dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kalian kembali, lalu Aku memutuskan di antara kalian tentang hal-hal yang kalian perselisihkan. Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Kuazab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak mempunyai penolong.” (Ali Imran: 55-56)
Demikian pula dilakukan terhadap orang-orang yang kafir kepada Al-Masih dari kalangan orang-orang Yahudi atau berlebih-lebihan menilainya atau menyanjung-nyanjungnya secara kelewat batas dari kalangan pemeluk Nasrani. Allah pasti mengazab mereka di dunia dengan pembunuhan dan ditawan serta harta benda mereka dirampas, dan kekuasaan mereka dicabut serta di akhirat kelak azab yang diterima mereka lebih keras dan lebih berat. dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah. (Ar-Ra'd: 34)
Ayat 57
Adapun firman Allah ﷻ: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka pahala yang sempurna.” (Ali Imran: 57)
Yakni di dunia dan di akhirat. Di dunia dengan mendapat pertolongan dan kemenangan, sedangkan di akhirat dengan mendapat surga yang tinggi. “Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali Imran: 57)
Ayat 58
Kemudian Allah ﷻ berfirman: “Demikianlah (kisah Isa), Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan Al-Qur'an yang penuh hikmah.” (Ali Imran: 58)
Apa yang telah Kami ceritakan kepadamu, wahai Muhammad, tentang perkara Isa sejak kelahirannya dan urusan yang dialaminya, merupakan sebagian dari apa yang difirmankan oleh Allah ﷻ dan diwahyukan-Nya kepadamu. Ia diturunkan kepadamu dari lauh mahfuz, maka tiada kebimbangan dan tiada keraguan padanya. Perihalnya sama dengan makna firman-Nya yang terdapat di dalam surat Maryam, yaitu: “Demikianlah kisah Isa putra Maryam, kisah yang sesungguhnya, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia.” (Maryam: 34-35)
Ayat ini menjelaskan tentang beberapa bukti kemuliaan Isa bin Maryam. Ingatlah, hai Nabi Muhammad, ketika Allah berfirman, Wahai Isa! Aku akan mewafatkanmu atau menyempurnakan keberadaanmu di dunia dan mengangkatmu kepada-Ku, yaitu ke tempat yang mulia tanpa melalui proses kematian, serta menjauhkan dan menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu yang tidak mengubah agamamu serta yang membenarkan kenabianmu di atas orang-orang yang kafir terhadapmu dengan menyembunyikan bukti-bukti kerasulanmu hingga hari kiamat. Kemudian kepada-Ku kalian kembali, baik yang beriman kepada Nabi Isa maupun yang kafir kepadanya, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kalian perselisihkan yaitu tentang Isa dan kebenaran ajaran yang dibawanya.
Allah memberi ancaman bagi orang yang kafir kepada Nabi Isa dan pahala bagi orang yang beriman kepadanya. Maka adapun orang-orang yang kafir kepada Nabi Isa, maka akan Aku azab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia, berupa kehinaan dan terusir dari daerahnya dan di akhirat berupa siksa yang kekal, sedang mereka tidak memperoleh penolong sedikit pun dari azab Allah di akhirat kelak.
. Allah membalas tipu daya orang kafir dengan mengangkat Isa a.s. kepada-Nya. Dalam hal ini terdapat berita gembira untuk Nabi, tentang datangnya bantuan Allah untuk menyelamatkan dirinya dari tipu daya orang-orang kafir sehingga mereka dalam usahanya melaksanakan tipu daya itu tidak akan berhasil.
Allah akan mengangkat Nabi Isa kepada-Nya dan akan mewafatkannya pada saat ajalnya tiba, sesudah turun dari langit pada waktu yang ditentukan ) sesuai dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ,
"Demi (Allah), yang jiwaku di tangan-Nya, Isa putra Maryam akan turun di antaramu sebagai hakim yang adil, kemudian ia akan memecah salib, membunuh babi, menghentikan peperangan, dan membagi-bagikan harta, sehingga tak seorang pun yang akan menerimanya (karena tidak membutuhkan lagi) dan merasa bahwa sujudnya (ibadahnya) lebih utama dari dunia dan semua isinya." (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah).
"Allah membersihkan Isa a.s. dari orang-orang kafir", dengan menyelamatkannya dari kejahatan, cercaan serta nistaan dan tuduhan, yang akan mereka lakukan, dan akan menjadikan pengikut-pengikutnya yang beriman itu percaya bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, percaya akan kata-kata Isa bahwa beliau diutus untuk memberi kabar gembira (as-shaff/61:6) tentang kedatangan seorang utusan Allah, yang akan datang sesudahnya, yang bernama Ahmad (Nabi Muhammad) (as-shaff/61:6). Allah akan mengangkat mereka yang percaya itu kepada derajat yang tinggi, tidak seperti orang-orang Yahudi yang menipu dan mendustakan Nabi Isa, yang direndahkan martabatnya oleh Allah. Ketinggian derajat itu ada kalanya di bidang keimanan yang bersifat rohaniah, dan dalam bidang akhlak dan kesempurnaan sopan santun serta dekatnya mereka pada yang hak dan jauhnya dari yang batil. Adakalanya kelebihan yang bersifat duniawi yaitu mereka akan memegang tampuk pimpinan di dunia.
Kemudian semua manusia akan dikembalikan kepada Allah yaitu pada hari kebangkitan, dan Allah akan memutuskan perkara yang mereka perselisihkan dalam urusan agama termasuk di dalamnya perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara pengikut-pengikut Isa a.s. dan orang-orang yang tidak percaya kepadanya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KAUM ISA TIDAK MAU PERCAYA
“Maka tatkala terasa oleh Isa kekafiran mereka."
(pangkal ayat 52)
Segala seruannya dibantah dan ditolak, segala mukjizat yang telah beliau perlihatkan hanya menambah keingkaran mereka belaka."Berkatakan dia, ‘Siapakah yang akan menolongku pada Allah?'" Yaitu siapakah kiranya yang akan sudi menolong dan membelaku di dalam menegakkan jalan Allah ini? “Menjawablah Hawariyun, ‘Kamilah penolong-penolong Allah!" Artinya, kamilah yang akan berdiri di samping engkau, wahai al-Masih, membela engkau di dalam menegakkan jalan Allah itu.
"Kami percaya kepada Allah dan kami bersaksi bahwa kami ini adalah menyerahkan diri."
(ujung ayat 52)
Siapakah yang akan sudi berkorban, meninggalkan kepentingan lain untuk menegakkan kehendak Allah? Siapa yang sudi menderita karena menegakkan kebenaran? Kadang-kadang terpisah dari keluarga yang dikasihi, kampung halaman, dan kesukaan-kesukaan yang lain? Hawari telah menjawab bahwa mereka telah menyediakan diri untuk itu. Hawari ialah gelar kemuliaan yang diberikan kepada pemuda-pemuda yang telah menyediakan jiwa raga untuk membela al-Masih karena kesucian ajarannya. Menurut cara sekarangnya ialah kader-kader pilihan yang telah tahan diterpa. Al-Qur'an tidak menjelaskan berapa bilangan mereka. Yang mengatakan bahwa bilangan mereka adalah 12 orang, 13 orang dengan Yudas yang mengkhianati lalu diganti dengan yang lain, adalah Injil-Injil catatan orang. Kristen. Hawari itu telah menyatakan iman kepada Allah dan telah menyerahkan diri dan taat kepada Isa walaupun apa penderitaan yang akan mereka tanggungkan. Sebagaimana diketahui, bagi penyerahan diri yang sungguh-sungguh itu tidak ada kata lain melainkan Islam dan orang-orangnya ialah Muslimin.
Pengakuan kesetiaan mereka itu mereka kuatkan lagi,
“Ya, Tuhan kami! Kami telah percaya kepada apa yang Engkau turunkan,"
(pangkal ayat 53)
telah percaya kepada wahyu-wahyu itu ataupun mukjizat-mukjizat itu. Satu pun tidak ada yang kami bantah atau mungkiri lagi, “Dan kami pun telah mengikut Rasul itu," yaitu Isa al-Masih. Segala jejak langkahnya telah kami ikuti, perintah Engkau yang disampaikannya telah kami junjung tinggi,
“Sebab itu, tuliskanlah kiranya kami bersama-sama orang-orang yang telah menyaksikan."
(ujung ayat 53)
Masukkanlah kami dalam daftar orang-orang yang setia kepada Engkau, ya Ilahi. Karena, segenap kehidupan kami ini telah kami sediakan buat Engkau, untuk menegakkan jalan Engkau.
Demikianlah tiap-tiap nabi mempunyai pembela, di samping orang-orang yang menolak dan menentang dia. Sebagaimana pada Nabi Muhammad ﷺ dari para sahabat Muhajirin dan Anshar, bahkan ada yang bergelar Hawari pula, yaitu Zubair bin Awwam, termasuk dalam sepuluh sahabat yang istimewa maka Nabi Isa al-Masih mempunyai Hawari sebagaimana tersebut itu. Nabi Isa al-Masih tidak sanggup menyusun kekuatan bersenjata sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ Karena, beliau menghadapi dua kekuatan, pertama pemerintahan yang dipegang oleh bangsa Romawi yang kuat di masa itu, kedua kaumnya sendiri Bani Israil, yang kadang-kadang lebih suka mengambil-ambil muka kepada penguasa bangsa Romawi itu daripada menerima seruan Isa. Di saat yang begitulah amat penting pengikut setia yang sudi mengorbankan segala-galanya walau jiwa sekalipun.
“Dan mereka telah membuat tipu daya."
(pangkal ayat 54)
yaitu kaum Nabi Isa a.s. yang tidak mau percaya kepada risalah beliau itu, kaum Bani Israil. Mereka telah mengatur siasat-siasat yang buruk hendak menyingkirkan Nabi Isa al-Masih dari muka bumi, tegasnya hendak membunuh beliau, “Tetapi Allah pun telah menipu daya pula." Artinya, tipu daya mereka yang busuk itu, hendak membunuh seorang utusan Allah, telah dibalas oleh Allah dengan tipu daya-Nya pula. Tipu daya si kafir dengan jalan yang jahat dan maksud yang jahat, sedangkan tipu daya Allah tidak lain daripada jalan yang baik dan maksud yang baik, sehingga Nabi Isa al-Masih terlepaslah dari bahaya tipu daya mereka itu.
“Dan Allah adalah sepandai-pandai (pembatas) tipu daya."
(ujung ayat 54)
Kalau manusia yang mempunyai maksud buruk mengadakan tipu daya agar maksud buruknya itu tercapai maka Allah pun lebih pandai mengadakan tipu daya dengan maksud-Nya yang baik, sehingga kalahlah maksud tipu daya mereka itu oleh tipu daya Allah. Dengan ini, nyatalah kalau di dalam Al-Qur'an tersebut Allah membalas tipu daya manusia yang salah, bukanlah berarti Tuhan mengadakan tipu daya yang buruk sebagaimana manusia yang bermaksud jahat itu.
Pada ayat selanjutnya diterangkan Allah bagaimana pandainya Dia menjawab tipu daya manusia yang jahat itu terhadap Nabi Isa al-Masih ‘alaihis salam sehingga beliau terlepas dari bahaya maut yang telah mereka atur, yaitu supaya Nabi Isa hendaknya mati disalib.
“(Ingatlah) tatkala Allah berkata. Wahai, hal Sesungguhnya, Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir."
(pangkal ayat 55)
Artinya yang tepat dari ayat ini ialah bahwa maksud orang-orang kafir itu hendak menjadikan Isa al-Masih mati dihukum bunuh, sebagaimana yang dikenal, yaitu dipalangkan dengan kayu, tidaklah akan berhasil. Akan te-tapi, Nabi Isa al-Masih akan wafat dengan sewajarnya dan sesudah beliau wafat, beliau akan diangkat Allah ke tempat yang mulia di sisi-Nya, dan bersihlah diri beliau dari gangguan orang yang kafir-kafir itu.
Kata mutawaffika telah kita artikan menurut logatnya yang terpakai arti asal itu diambillah arti ‘mematikan' sehingga wafat berarti mati, mewafatkan ialah mematikan. Apatah lagi bertambah kuat arti wafat ialah mati, mewafatkan ialah mematikan itu karena banyaknya bertemu dalam Al-Qur'an ayat-ayat, yang di sana disebutkan tawaffa, tawaffahumul-malaikatu, yang semuanya itu bukan menurut arti asal, yaitu mengambil sempurna ambil, melainkan berarti mati. Sehingga, sampai kepada pemakaian bahasa yang umum jarang sekali diartikan wafat dengan ambil, tetapi pada umumnya diartikan mati juga. Oleh karena itu, arti yang lebih dahulu dapat langsung dipahamkan apabila kita membaca ayat ini ialah, “Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari tipu daya orang yang kafir." Dia akan diangkat ke sisi Allah, ialah sebagaimana Nabi Idris yang diangkat derajatnya ke tempat yang tinggi, sebagaimana tersebut di dalam surah Maryam: 53. Sebagaimana juga orang yang mati syahid di dalam surah Aali ‘Imraan ini juga ayat 169, dikatakan bahwa dia tetap hidup.
Akan tetapi, meskipun demikian, arti ayat ini yang mula-mula masuk langsung ke dalam pikiran setelah membacanya, tetapi dalam penafsirannya telah terjadi perselisihan pendapat atau khilafiyah yang panjang di antara ahli-ahli tafsir. Satu Golongan besar ahli tafsir mengatakan bahwa arti ayat bukanlah sebagaimana yang mula-mula dipahamkan itu. Akan tetapi, inni mutawaffika artinya ialah ‘sesungguhnya Aku akan mengambil engkau jadi bukan berarti sesungguhnya Aku akan mematikan engkau. Tegasnya, Nabi Isa ‘alaihis salam, tubuh dan ruhnya dalam hidup-hidup diambil Allah dari alam ini wa rafi'uka ilayya ‘dan mengangkat engkau kepada-Ku', artinya sesudah beliau diambil dari dunia ini lalu diangkat ke langit hidup-hidup. Di langit itulah beliau sampai sekarang ini, dan di akhir zaman akan turun kembali ke dunia membunuh Dajjal.
Golongan ini menafsirkan demikian karena memang bertemu beberapa hadits yang menerangkan bahwa di akhir zaman Nabi Isa akan turun ke dunia kembali. Malahan mereka mengeluarkan pendapat bahwasanya ulama-ulama sejak zaman dahulu telah ijmak mengatakan bahwa Nabi Isa telah diangkat ke langit dan kelak dekat-dekat akan Kiamat dia akan turun ke dunia membunuh babi dan menghancurkan salib.
Dan alasan mereka pula, ketika Nabi Muhammad ﷺ Mi'raj, beliau bertemu Nabi Isa bersama Nabi Yahya.
Akan tetapi, oleh karena di dalam agama Islam benar-benar ada kebebasan pikiran di dalam menafsirkan ayat-ayat Allah, meskipun yang menafsirkan demikian itu golongan besar yang disebut dalam istilah berita dengan jumhur, (hanya sekali) dan ada yang mengatakan bahwa paham menafsirkan itu telah ijmak, telah sama pendapat seluruh ulama, tetapi yang mengeluarkan pendapat berbeda sangat dengan tafsiran itu telah timbul pula.
Al-Alusi di dalam tafsirnya yang terkenal Ruhul Ma'ani, setelah memberikan keterangan beberapa pendapat tentang arti mutawaffika, akhirnya menyatakan pendapatnya sendiri bahwa artinya ‘telah mematikan engkau', yaitu menyempurnakan ajal engkau (mustaufi ajalika) dan mematikan engkau menurut jalan biasa, tidak sampai dapat dikuasai oleh musuh yang hendak membunuh engkau.
Dan beliau menjelaskan lagi bahwa arti warafi'uka ilayya ‘dan mengangkat engkau kepada-Ku', telah mengangkat derajat beliau, memuliakan beliau, mendudukkan beliau di tempat yang tinggi, yaitu Ruh beliau sesudah mati. Bukan mengangkat badannya. Al-Alusi lalu mengemukakan beberapa kata rafa'a yang berarti angkat itu terdapat pula dalam beberapa ayat dalam Al-Qur'an yang tiada lain artinya daripada mengangkat kemuliaan ruhani sesudah meninggal.
Syekh Muhammad Abduh menerangkan tentang tafsir ayat ini demikian, “Ulama di dalam menafsirkan ayat ini menempuh dua jalan. Yang Pertama dan yang masyhur ialah bahwa dia diangkat Allah dengan tubuhnya dalam keadaan hidup dan nanti dia akan turun kembali di akhir zaman dan menghukum di antara manusia dengan syari'at kita.... Dan, jalan penafsiran yang kedua ialah memahamkan ayat menurut asli yang tertulis, mengambil arti tawaffa dengan maknanya yang nyata, yaitu mati seperti biasa, dan rafa'a (angkat) ialah ruhnya diangkat sesudah beliau mati...."
Dan kata beliau pula, “Golongan yang mengambil tafsir cara yang kedua ini terhadap hadits-hadits yang menyatakan Nabi Isa telah naik ke langit dan akan turun kembali, mereka mengeluarkan dua kesimpulan (takhrij). Kesimpulan pertama: hadits-hadits itu ialah hadits-hadits ahad yang bersangkut paut dengan soal (kepercayaan), sedangkan soal-soal yang bersangkutan dengan kepercayaan tidaklah dapat diambil kalau tidak qath'i (tegas). Padahal dalam perkara ini tidak ada sama sekali hadits yang mutawatir." Kemudian beliau terangkan pula takhrij (kesimpulan) golongan kedua ini tentang nuzul Isa (akan turun Nabi Isa di akhir zaman) itu. Menurut golongan ini, kata beliau, turunnya Isa bukanlah turun tubuhnya, tetapi akan datang masanya pengajaran isa yang asli bahwa inti sari pelajaran beliau yang penuh rahmat, cinta, dan damai, dan mengambil maksud pokok dari syari'at, bukan hanya semata-mata memang kulit, yang sangat beliau cela pada perbuatan kaum Yahudi ketika beliau datang dahulu, akan bangkit kembali. Demikianlah keterangan Syekh Muhammad Abduh.
Sayyid Rasyid Ridha pernah menjawab pertanyaan dari Tunisia. Bunyi pertanyaan, “Bagaimana keadaan Nabi Isa sekarang? Di mana tubuh dan nyawanya? Bagaimana pendapat tuan tentang ayat innii mutawaffika wa rafi'uka ilayya. Kalau memang dia sekarang masih hidup, sebagai di dunia ini, dari mana dia mendapat makanan yang amat diperlukan bagi tubuh jasmani-haiwani itu? Sebagaimana yang telah menjadi sunnatullah atas makhluk-Nya?"
Sayyid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat-pendapat ahli tafsir tentang ayat yang ditanyakan ini, mengambil kesimpulan, “Jumlah kata, tidaklah ada nash yang sharih (tegas) di dalam Al-Qur'an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawa ke langit dan hidup di sana seperti di dunia ini, sehingga perlu menurut sunnatullah tentang makan dan minum, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang makan beliau sehari-hari. Dan, tidak pula ada nash yang sharih menyatakan beliau akan turun dari langit. Itu hanyalah aqidah dari kebanyakan orang Nasrani, sedangkan mereka itu telah berusaha sejak lahirnya Islam menyebarkan kepercayaan ini dalam kalangan kaum Muslimin." Lalu beliau teruskan lagi, “Masalah ini adalah masalah khilafiyah sampai pun tentang masih diangkat ke langit dengan Ruh dan badannya itu."46
Dan berkata pula Syekh Mustafa al-Maraghi, Syekh Jami al-Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini, “Tidak ada dalam Al-Qur'an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa a.s. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya. Adapun Firman Tuhan mengatakan, ‘Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir itu." Jelaslah bahwa Allah mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zahirlah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Allah, sebagaimana Idris a.s. dikatakan Allah, ‘Dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi/ Dan ini pun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Allah, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka, dia pun hiduplah dalam kehidupan ruhani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan nabi-nabi yang lain juga."
Akan tetapi, jumhur ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Allah dengan tubuh dan nyawanya sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada hadits yang memperkatakan ini, lalu mereka tafsirkan Al-Qur'an disejalankan dengan maksud hadits-hadits itu.
Lalu kata beliau, “Tetapi hadits-hadits ini tidaklah sampai kepada derajat hadits-hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai aqidah. Sebab, aqidah tidaklah wajib melainkan dengan nash Al-Qur'an dan hadits-hadits yang mutawatir. Oleh karena itu, tidaklah wajib seorang Muslim beritikad bahwa Isa al-Masih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang yang menjalani aqidah itu tidaklah kafir dari syari'at Islam."
Berkata pula Syekh Mahmoud Syaltout, Syekh Jami' al-Azhar (meninggal tahun 1963), tentang hadits-hadits bahwa Nabi Isa akan turun. Demikian kata beliau, “Riwayat-riwayat itu adalah kacau-balau, berlain-lain saja lafalnya dan maknanya yang tidak dapat dipertemukan. Kekacaubalauan ini dijelaskan benar-benar oleh ulama hadits. Dan, di atas dari itu semua, yang membawa riwayat ini ialah Wahab bin Munabbih dan Ka'ab al-Ahbar, keduanya itu ialah Ahlul Kitab yang kemudian memeluk Islam, dan sudahlah dikenal derajat keduanya dalam penilaian ahli-ahli jarh dan ta'dil (ahli penyelidik nilai hadits)."
Meskipun hadits yang dirawikan Abu Hurairah tentang Nabi Isa akan turun ada pula, apabila hadits itu shahih, tetapi dia adalah hadits ahad. Dan, ulama telah ijmak bahwasanya hadits Ahad tidak berfaedah untuk dijadikan dasar aqidah dan tidak sah dipegang dalam urusan-urusan yang gaib.
Kemudian datanglah lanjutan ayat, “Dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau lebih atas dari orang-orang yang kafir itu sampai Hari Kiamat" Artinya, orang-orang yang teguh memegang ajaran Nabi Isa al-Masih yang asli, yaitu tauhid, akan tetap lebih atas karena kebenarannya, tidak dapat dijatuhkan, dan kepercayaan-kepercayaan yang kuat itu kian lama kian hilang pasarannya dari muka bumi, Pengetahuan manusia akan bertambah maju. Kemajuan pengetahuan akhir-kelaknya tidaklah akan sampai kepada mengatakan bahwa Allah itu bertiga dalam satu dan satu dalam tiga. Bertambah orang menyelidiki kebenaran dan suka membebaskan dirinya dari paksaan taklid kepada pemimpin agama dan pendeta, bertambahlah akan tampak kemenangan orang-orang yang benar-benar mencari kebenaran dalam dunia ini. Sebab, Allah itu sendiri adalah kebenaran: Al-Haq."Maka kepada Akulah tempat kamu kembali." Artinya, meskipun betapa perselisihan dan pertengkaran, yang satu mengatakan dia saja yang benar dan yang lain tidak mau menerima jika semuanya akan kembali kepada-Nya, untuk mempertanggungjawabkan segala keyakinan dan anutan kita pada masa hidup di dunia yang fana ini.
“Maka akan Aku putuskan nanti antara kamu, dati hal apa-apa yang telah kamu perselisihkan padanya itu."
(ujung ayat 55)
Ujung ayat ini sangatlah dalam artinya bagi mendidik kita di dalam menempuh pergolakan hidup. Adalah satu kenyataan bahwa kita telah terdiri atas berbagai golongan. Kadang-kadang kita bertengkar dan bertukar pikiran, kadang-kadang berebut pasaran dan pengaruh. Sehingga, lantaran bertengkar kadang-kadang kita lupa akan kewajiban kita yang sebenarnya, yaitu mengabdikan diri kepada Allah.
“Maka, adapun orang-orang yang kafir itu maka akan Aku siksalah mereka dengan siksaan yang sangat di dunia dan di akhirat."
(pangkal ayat 56)
Di dalam ayat ini tampak bahwasanya ajaran agama bukanlah semata-mata untuk keselamatan akhirat saja. Bahkan terlebih dahulu siksaan dunia akan dirasainya. Di dalam ilmu akhlak diterangkan betapa hidup yang lurus di dunia ini, dengan kebersihan akhlak, moral, dan mental. Tanggung jawab kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama manusia. Kufur, tidak mau percaya kepada Allah sebagai unit, sebagai pusat dan pokok pangkal tempat bertolak di dalam hidup, akan menyebabkan hidup itu sendiri penuh dengan siksaan.
"Dan tidaklah ada bagi mereka orang-orang yang akan menolong."
(ujung ayat 56)
Cobalah kita pikirkan baik-baik, siapakah yang akan dapat menolong kita sekiranya kita sendiri yang dari semula telah memilih jalan salah? Kita telah menentang Al-Haq (kebenaran), sedangkan kebenaran itu hanya satu, Allah itu sendiri bernama Kebenaran. Maka, siapakah orang lain yang akan sudi menolong kita dalam menempuh jalan yang di luar kebenaran itu? Padahal, kebenaran itu hanya satu?
“Dan adapun orang-orang yang beriman dan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang saleh maka akan Dia sempurna ganjaran-ganjaran meneka."
(pangkal ayat 57)
Kalau pada ayat yang terdahulu dikatakan bahwa orang yang menolak ajaran Allah akan mendapat siksaan di dunia dan di akhirat maka orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang saleh pun akan diberi Allah ganjaran dengan sempurna, sejak dari dunia sampai ke akhirat. Bila iman telah tumbuh di dalam jiwa, belumlah mereka akan puas kalau itu belum dibuktikan dengan amal. Bilamana satu amal sudah selesai dengan baik, sebab kewajiban yang timbul dari dalam seruan baik telah dilaksanakan. Amal usaha yang banyak memberikan kepuasan di dalam diri sendiri sebab hidup telah bernilai. Dan, kelak di akhirat akan mendapat bahagia lipat ganda lagi.
“Dan Allah tidaklah suka kepada orang-orang yang aniaya."
(ujung ayat 57)
Sebesar-besar aniaya ialah mendustai diri sendiri. Ayat ini menjelaskan bahwa kalau kita menganiaya diri, adalah itu di luar kesukaan Allah. Melainkan pilihan kita sendiri. Kalau Allah telah menyatakan tidak menyukainya, tandanya kita dilarang mendekat kepada sikap aniaya.
“Demikianlah telah Kami bacakan dia kepada engkau."
(pangkal ayat 58)
Yaitu telah diceritakan betapa Bani Israil, tegasnya Yahudi, mencoba segala tipu daya mereka hendak menjerumuskan Isa al-Masih ke dalam lembah kesengsaraan, bahkan hendak membunuhnya sekali, karena mereka telah kafir tidak mau menerima risalah Nabi Isa. Maksud mereka hendak menghinakan beliau tidak tercapai, bahkan al-Masih bertambah dimuliakan Allah. Mereka hendak membunuh beliau, tetapi Allah memeliharanya. Dan, si penolak kebenaran itu tidaklah berdaya dalam usahanya, melainkan mendapat kegagalan total. Yang dikisahkan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ ini adalah,
“Sebagian dan ayat-ayat dan peringatan yang amat bijaksana."
(ujung ayat 58)
Dijelaskan di ujung ayat ini bahwasanya kisah kemuliaan Nabi Isa ini barulah sebagian kecil saja dari ayat-ayat Allah, yaitu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Isinya pun ialah satu peringatan bahwasanya ke-curangan pasti gagal dan seorang yang dimuliakan oleh Allah, tidak ada makhluk yang sanggup menghinakanya. Lalu ditekankan di ujung ayat tentang hal bijaksana, yaitu kalau kita pelajari dari hanya sebagian ayat yang dikisahkan Allah ini dan kita bandingkan pula kepada kejadian-kejadian yang lain, akan selalu kelihatan betapa kebijaksanaan Ilahi di dalam mengatur siasat-Nya.
"The Disciples Give Their Support to `Isa
Allah said,
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى
Then when `Isa came to know,
meaning, `Isa felt that they were adamant in disbelief and continuing in misguidance.
مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ
of their disbelief, he said:
He said to them.
مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ
Who will be my helper in Allah's cause.
Mujahid commented,
""Meaning, who would follow me to Allah.""
However, it appears that `Isa was asking,
""Who would help me convey the Message of Allah!""
The Prophet said during the Hajj season, before the Hijrah,
مَنْ رَجُلٌ يُوْوِينِي حَتَّى أُبَلِّغَ كَلَمَ رَبِّي فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَمَ رَبِّي
Who will give me asylum so that I can convey the Speech of my Lord, for the Quraysh have prevented me from conveying the Speech of my Lord.
until he found the Ansar. The Ansar helped the Prophet and gave him refuge. He later migrated to them, they comforted the Prophet and protected him from all his enemies, may Allah be pleased with them all.
This is similar to what happened with `Isa, for some of the Children of Israel believed in him, gave him their aid and support and followed the light that was sent with him. This is why Allah said about them;
قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ امَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
رَبَّنَا امَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
Al-Hawariyyun said:""We are the helpers of Allah; we believe in Allah, and bear witness that we are Muslims.
Our Lord! We believe in what You have sent down, and we follow the Messenger; so write us down among those who bear witness.""
Hawari in Arabic - means `support'.
The Two Sahihs recorded that;
when the Prophet encouraged the people to fight during the battle of Al-Ahzab, Az-Zubayr came forward, and again, when the Prophet asked for fighters a second time. The Prophet said,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيَ حَوَارِيًّا وَحَوَارِيِّي الزُّبَيْر
Every Prophet has a Hawari, and Az-Zubayr is my Hawari.
Ibn Abi Hatim recorded that Ibn Abbas said about,
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
(so write us down among those who bear witness),
""Meaning among the Ummah of Muhammad.""
This Hadith has a good chain of narration.
The Jews Plot to Kill `Isa
Allah tells;
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
And they plotted, and Allah planned too. And Allah is the Best of those who plot.
Allah states that the Children of Israel tried to kill `Isa by conspiring to defame him and crucify him.
They complained about him to the king who was a disbeliever. They claimed that `Isa was a man who misguided people, discouraged them from obeying the king, caused division, and separated between man and his own son. They also said other lies about `Isa, which they will carry on their necks, including accusing him of being an illegitimate son.
The king became furious and sent his men to capture `Isa to torture and crucify him. When they surrounded `Isa's home and he thought that they would surely capture him, Allah saved him from them, raising him up from the house to heaven.
Allah put the image of `Isa on a man who was in the house; when the unjust people went in the house while it was still dark, they thought that he was `Isa. They captured that man, humiliated and crucified him. They also placed thorns on his head.
However, Allah deceived these people. He saved and raised His Prophet from them, leaving them in disarray in the darkness of their transgression, thinking that they had successfully achieved their goal.
Allah made their hearts hard, and defiant of the truth, disgracing them in such disgrace that it will remain with them until the Day of Resurrection. This is why Allah said,
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
(And they plotted, and Allah planned too. And Allah is the Best of those who plot).
Meaning of ""Take You""
Allah tells,
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى
And (remember) when Allah said:""O `Isa!
إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ
I will take you and raise you to Myself,
while you are asleep.
Allah said in a similar Ayat,
وَهُوَ الَّذِى يَتَوَفَّـكُم بِالَّيْلِ
It is He Who takes your souls by night (when you are asleep). (6:60)
and,
اللَّهُ يَتَوَفَّى الاٌّنفُسَ حِينَ مِوْتِـهَا وَالَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِـهَا
It is Allah Who takes away the souls at the time of their death, and those that die not during their sleep. (39:42)
The Messenger of Allah used to recite the following words when he would awaken;
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور
All the thanks are due to Allah Who brought us back to life after He had caused us to die (sleep), and the Return is to Him.
Allah said,
وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
بَل رَّفَعَهُ اللّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُوْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا
And because of their saying, ""We killed Al-Masih `Isa, son of Maryam, the Messenger of Allah,"" but they killed him not, nor crucified him, but it appeared as that to them, and those who differ therein are full of doubts. They have no (certain) knowledge, they follow nothing but conjecture. For surely; they killed him not.
But Allah raised him up unto Himself. And Allah is Ever All-Powerful, All-Wise.
And there is none of the People of the Scripture, but must believe in him, before his death. And on the Day of Resurrection, he will be a witness against them. (4:156-159)
`His death' refers to `Isa, and the Ayah means that;
the People of the Book will believe in `Isa, before `Isa dies. This will occur when `Isa comes back to this world before the Day of Resurrection, as we will explain.
By that time, all the People of the Book will believe in `Isa, for he will annul the Jizyah and he will only accept Islam from people.
Ibn Abi Hatim recorded that Al-Hasan said that Allah's statement,
إِنِّي مُتَوَفِّيكَ
(I will take you),
is in reference to sleep, for Allah raised `Isa while he was asleep.
Altering the Religion of `Isa
Allah said,
وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ
And purify (save) you from those who disbelieve,
by raising you to heaven,
وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
And I will make those who follow you superior to those who disbelieve, till the Day of Resurrection.
This is what happened. When Allah raised `Isa to heaven, his followers divided into sects and groups.
Some of them believed in what Allah sent `Isa as, a servant of Allah, His Messenger, and the son of His female-servant.
However, some of them went to the extreme over `Isa, believing that he was the son of Allah.
Some of them said that `Isa was Allah Himself, while others said that he was one of a Trinity.
Allah mentioned these false creeds in the Qur'an and refuted them.
The Christians remained like this until the third century CE, when a Greek king called, Constantine, became a Christian for the purpose of destroying Christianity.
Constantine was either a philosopher, or he was just plain ignorant. Constantine changed the religion of `Isa by adding to it and deleting from it. He established the rituals of Christianity and the so-called Great Trust, which is in fact the Great Treachery. He also allowed them to eat the meat of swine, changed the direction of the prayer that `Isa established to the east, built churches for `Isa, and added ten days to the fast as compensation for a sin that he committed, as claimed. So the religion of `Isa became the religion of Constantine, who built more then twelve thousand churches, temples and monasteries for the Christians as well as the city that bears his name, Constantinople (Istanbul).
Throughout this time, the Christians had the upper hand and dominated the Jews. Allah aided them against the Jews because they used to be closer to the truth than the Jews, even though both groups were and still are disbelievers, may Allah's curse descend on them.
When Allah sent Muhammad, those who believed in him also believed in Allah, His Angels, Books and Messengers in the correct manner. So they were the true followers of every Prophet who came to earth. They believed in the unlettered Prophet, the Final Messenger and the master of all mankind, who called them to believe in the truth in its entirety. This is why they had more right to every Prophet than his own nation, especially those who claim to follow their Prophet's way and religion, yet change and alter his religion.
Furthermore, Allah abrogated all the laws that were sent down to the Prophets with the Law. He sent Muhammad with, which consists of the true religion that shall never change or be altered until the commencement of the Last Hour. Muhammad's religion shall always be dominant and victorious over all other religions. This is why Allah allowed Muslims to conquer the eastern and western parts of the world and the kingdoms of the earth.
Furthermore, all countries submitted to them; they demolished Kisra (king of Persia) and destroyed the Czar, ridding them of their treasures and spending these treasures for Allah's sake. All this occurred just as their Prophet told them it would, when he conveyed Allah's statement,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءامَنُواْ مِنْكُمْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الاْرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِى ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدّلَنَّهُمْ مّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْياً
Allah has promised those among you who believe and do righteous good deeds, that He will certainly grant them succession in the land, as He granted it to those before them, and that He will grant them the authority to practice their religion which He has chosen for them. And He will surely give them in exchange a safe security after their fear (provided) they worship Me and do not associate anything with Me. (24:55)
Therefore, Muslims are the true believers in `Isa.
The Muslims then acquired Ash-Sham from the Christians, causing them to evacuate to Asia Minor, to their fortified city in Constantinople. The Muslims will be above them until the Day of Resurrection. Indeed, he, Muhammad, who is truthful and who received the true news, has conveyed to Muslims that they will conquer Constantinople in the future, and seize its treasures.
Threatening the Disbelievers with Torment in This Life and the Hereafter
Allah said,
وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالاخِرَةِ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
And I will make those who follow you superior to those who disbelieve till the Day of Resurrection. Then you will return to Me and I will judge between you in the matters in which you used to dispute.
As to those who disbelieve, I will punish them with a severe torment in this world and in the Hereafter, and they will have no helpers.
This is what Allah did to the Jews who disbelieved in `Isa and the Christians who went to the extreme over him.
Allah tormented them in this life; they were killed, captured, and lost their wealth and kingdoms. Their torment in the Hereafter is even worse and more severe,
وَمَا لَهُم مِّنَ اللَّهِ مِن وَاقٍ
And they have no Waq (defender or protector) against Allah. (13:34)
وَأَمَّا الَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ
And as for those who believe and do righteous good deeds, Allah will pay them their reward in full.
in this life, with victory and domination, and in the Hereafter, with Paradise and high grades.
وَاللّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
And Allah does not like the wrongdoers.
Allah then said,
ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الايَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
This is what We recite to you of the verses and the Wise Reminder.
meaning, ""What We narrated to you, O Muhammad, regarding `Isa, his birth and his life, is what Allah conveyed and revealed to you, sent down from the Al-Lawh Al-Mahfuz (The Preserved Tablet). So there is no doubt in it.
Similarly, Allah said in Surah Maryam;
ذلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِى فِيهِ يَمْتُرُونَ
مَا كَانَ للَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٍ سُبْحَـنَهُ إِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Such is `Isa, son of Maryam. (It is) a statement of truth, about which they doubt (or dispute). It befits not Allah that He should beget a son. Glorified be He. When He decrees a thing, He only says to it:""Be!"" and it is. (19:34-35)"
And mention, when God said, 'O Jesus, I am gathering you, seizing you, and raising you to Me, away from the world without death, and I am cleansing you of, removing you far away from, those who disbelieved, and I am setting those who follow you, those Christians and Muslims who believed in your prophethood, above those who disbelieved, in you, namely, the Jews, becoming above them through [definitive] argument and the sword, until the Day of Resurrection. Then to Me shall be your return, and I will decide between you, as to what you were at variance about, as regards religion.
The word, مُتَوَفِّيكَ 'Mutawaffi' in إِنِّي مُتَوَفِّيكَ takes 'tawaffi' as its verbal noun with its root being 'wafyun.' Lexically, the word means 'to take in full'. This being its real meaning, its derivations wafa, ifa' and 'istifa' are used to convey that sense. In fact, the real meaning of tawaffi is 'to take in full' which is universally confirmed by all lexicons of the Arabic language. Since man completes his appointed time at the hour of death and the spirit or soul given by Allah is taken back fully and conclusively, it is in that context that this word is also used figuratively in the sense of death. A simple form of death is the daily sleep of human beings. For this too, the Holy Qur'an uses the same word when it says:
اللَّـهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا
'Allah takes away lives of the living at the time of their death and of those that do not die, in their sleep'. (39:42)
Hafiz Ibn Taimiyyah says in al-Jawab al-Sahih
التوفی فی لغۃ العرب معناھا القبض والا ستیفاء و ذلک ثلاثۃ انواع، احدھا التوفی فی النوم، والثانی توفی الموت، ولثالث توفی الروح والبدن جمیعا
Al-tawaffi, in the Arabic language, means: to exact fully or take in full. It takes three forms; the first: to take in sleep; the second: to take in death; and the third: to take the soul and the body all together.
In Kulliyat Abu al-Baqa', it is said:
التوفی الامانۃ و قبض الروح ، وعلیہ استعمال العامۃ او الاستیفاء، واخذ الحق وعلیہ استعمال البلغٓاء
Al-tawaffi is putting to death and exacting of the soul in common usage while, in the classical usage, it is taking in full and the exacting of the due right.
Therefore, the majority of scholars have translated the word, 'mutawaffika' in the verse under study in the sense of 'taking in full'. This means that Allah will not leave Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) in the hands of the Jews, rather He would take him away which would be in the form that he would be risen unto Him in the heavens.
This is how the words 'I am to take you in full' have been interpreted by the majority of the scholars. However, some authentic commentators of the Holy Qur'an have interpreted these words in the sense of 'giving death' also, but they do not mean that the death of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) will occur at the hands of his enemies. The true meaning of the verse, according to these commentators is as follows:
Allah Almighty said two things to comfort Jesus at a time when the Jews were bent on killing him. One: That his death will come, not at their hands in the form of killing, but that it would be a natural death. Two: In order to rescue him from the evil designs of those people, Allah Almighty will, at that time, raise Jesus towards Him. This explanation is exactly what has been reported from Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ as quoted by al-Suyuti in his al-Durr al-Manthur on the authority of several narrators.
The gist of this tafsir or explanation is that tawaffi does mean giving death, but there is the element of precedence and sequence in the words used. The fact of وَرَافِعُكَ (I shall raise you) will come first and that of مُتَوَفِّيكَ (I shall give you death) later. Now at this point, the wisdom behind mentioning the phenomenon of the earlier lies in the hint that it gives about the events which are to come later on. It means that raising towards Allah will not last forever; it would be temporary and then, he would return to the mortal world and prevail over enemies and later on, death will come to him in a natural way.
Thus, the event of his return from heaven and his death after having established his victory in the world was not only a miracle but a consummation of the honour and integrity of Jesus (علیہ السلام) . In addition to that, the unfounded Christian belief in the divinity of Jesus was also refuted. Had it not been so, the event of Jesus being raised towards the heavens alive would have further strengthened their false belief that he too was Living and Eternal like Allah. Therefore, by introducing the word (pointing out to his death) first, all those mis-conceptions which might have arisen from 'raising of Jesus' have been refuted in advance.
The reality is that disbelievers and polytheists have always been vehemently opposed to prophets, And parallel to that there has been the customary practice of Allah - when a people unto whom a prophet has been sent stick to their own opinion, do not listen to the prophet and do not believe in him even after having witnessed the miracles, then, one of the following two counter-actions were taken: Either those people were annihilated through some natural calamity as was done with ` Ad and Thamud and the peoples of Prophets لوط Lut and صالح Salih (علیہما السلام) or, alternatively Allah would instruct His prophet to migrate from the habitat of disbelievers and go to some other place. It was there that they were provided with such power and glory that they finally achieved victory against the people whom they were sent to. For example Prophet Ibrahim, (علیہ السلام) migrated from Iraq and sought refuge in Syria. Similarly, Prophet Musa (علیہ السلام) (Moses) migrated from Egypt and came to Madyan. Finally, the Last prophet, Muhammad ﷺ migrated from Makkah and came to Madinah. It was from there that he finally attacked Makkah and conquered it. This raising of Jesus to the heavens to outmaneuver the threatening designs of the Jews was, in fact, an act of emigration in its own way following which he would return to this world and achieve total victory over the Jews.
Now comes the question as to why this emigration of his, quite separate from the rest, has the heavens as the destination? So, for that matter, Allah Almighty has Himself said about him that his case is like that of Adam (علیہ السلام) . The way in which Adam's birth differs from the normal birth of the rest of creation, (i.e., without a father and a mother) so it is that the birth of Jesus (علیہ السلام) took a miraculous form different from the normal birth of human beings; and his death too, taking a unique and unmatched form, will materialize after hundreds of years following his return to the world -- unprecedented indeed. Why then, should one be surprised if his emigration too follows some such unique pattern?
These marvels of nature led the ignorant among Christians into believing and declaring that he was God, while deliberation into the various aspects of these very marvels, are clear proofs of his servitude as a human being to God, obedience to the Divine will and the demonstration of human traits. It is for this reason that the Holy Qur'an has made a pointed reference to the refutation of belief in the Godhood of Jesus (علیہ السلام) on all such occasions. The raising towards the heavens would have made this doubt all the more strong. Therefore, by bringing the word mutawaffika (I am to take you in full) earlier, this doubt was totally eliminated. Thus we come to realize that this verse, no doubt, aims at negating the Jewish plans since they were all set to crucify and kill Jesus, and that Allah Almighty made their plans come to nothing. Moreover, this precedence and sequence of words became the mode of refuting the Christians as well, that Jesus (علیہ السلام) was no God who was never to die but that a time will come when he too will meet his death.
In his Tafsir Imam al-Razi (رح) has said that such precedence and sequence occurs frequently in the noble Qur'an in order to cover similar expedient considerations under which an event due later has been mentioned first while an event due earlier has been placed after that. (al-Tafsir al-Kabir, v. 2, p. 48)
As for رَافِعُكَ إِلَيَّ (And I shall raise you towards Me), the meaning is clear. Addressing Jesus (علیہ السلام) here, it has been said: 'I shall raise you towards Me'. Everyone knows that Jesus is not the name of just the spirit but that of the spirit and the body of Jesus. Now taking the raising of Jesus (علیہ السلام) in the sense that the act of raising was spiritual only, and not physical, is all wrong. As far as the word, raf رَفِعُ raising) is concerned, there are occasions when it is also used to indicate raising of 'ranks as it appears in the following verses of the noble Qur'an:
وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ
And raised some of you in ranks over others (6:165).
يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
... and Allah will raise up in rank those of you who believe and those who have been given knowledge (58:11).
So, it is obvious that the word, رَفِعُ raf: raising; in the sense of the raising of rank or status has been used figuratively in view of the context of the aforementioned verses. There is no reason here to ignore the real meaning and go by that which is figurative. Moreover, by using the word, إِلَيَّ ila: (towards) alongwith the word, raf (رَفِعُ : raising), at this particular place, the possibility of such a figurative meaning has been totally eliminated. What is said in this verse is رَافِعُكَ إِلَيَّ : rafi` uka ilaiyya: I shall raise you towards Me. Then there is the verse from Surah al-Nis-a' (4:158), which refutes the belief of Jews; there too, what was said وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَل رَّفَعَهُ اللَّـهُ إِلَيْهِ ; that is, the Jews certainly did not kill Jesus (علیہ السلام) ، instead, Allah raised him towards Himself. This later expression is used for nothing but the raising alive of the spirit and the body.
Explained this far were the words of the verse.
Allah Almighty's Five Promises to Jesus
In the verse under reference, Allah Almighty made five promises to ` (علیہ السلام) vis-a-vis the Jews:
1. The first promise was that his death will not come at the hands of the Jews through killing. It will be a natural death coming at its appointed time and that appointed time will come close to the Day of Doom, when ` Isa (علیہ السلام) will come down from the heavens onto the earth as reported in details in sound ahadith transmitted through unbroken chains, part of which will appear later.
2. The second promise was to raise him towards the heavens in the existing situation. This was fulfilled right then. The report of this fulfillment was given in Surah al-Nisa' (4:158) by saying:
وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا ﴿157﴾ بَل رَّفَعَهُ اللَّـهُ إِلَيْهِ
Certainly, the Jews did not kill him, instead; Allah Almighty raised him towards Himself.
1. The third promise was: وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ، that is, to have him cleansed of false accusations brought on him by his enemies. That promise was fulfilled when the last of the prophets (علیہم السلام) came and refuted all false accusations of the Jews. For instance, the Jews threw slanders on the parentage of Sayyidna lsa (علیہ السلام) because of his having been born without a father. The noble Qur'an refuted this slander by declaring that he was born without a father because such was the power and will of Allah. And that too does not call for much of a surprise. More surprising is the birth of Adam (علیہ السلام) since he was born without both a father and a mother.
2. The Jews accused Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) of claiming to be God.
There are many verses in the noble Qur'an in which, contrary to this accusation, Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) has been reported to have' publicly confessed his being human and a servant and bondsman of Allah. The fourth promise appears in وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا (and placed those who follow you above those who disbelieve) which means that his followers will be made to overcome those who deny and oppose him. This promise was fulfilled in the sense that following here means the belief in and confession of the prophethood of Sayyidna ` Isa۔ (علیہ السلام) The belief in and the practice of all injunctions ascribed to him is not a pre-condition. Thus the Christians and the Muslims both fall in this category as they believe in the prophethood and messenger-ship of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) . However, this is a different matter that holding this much of belief is not enough to bring forth salvation in the Hereafter. Instead, the salvation in the Hereafter depends on believing in all injunctions brought by Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) . One of the instructions given by Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) was that his followers should believe and have faith in the last of the Prophets (ﷺ), who would come after Jesus departs. The Christians did not follow this instruction in matters of faith and belief, therefore, they deprived themselves of salvation in the Hereafter while Muslims acted in accordance with that too, therefore, they became deserving of salvation in the Hereafter۔ But, part of the promise which relates to having dominant authority over Jews was dependent on the prophethood of Sayyidna ` tsa (علیہ السلام) only. That dominance in the world has always been the 'fate of Christians and Muslims vis-a-vis the Jews, and surely, so shall it be through the Day of Judgment.
From the time when Allah Almighty made this promise right upto now, it has always been the case that the Christians and Muslims have dominated the Jews. The world has seen the establishment of their empires. The existence of the present state of Israel cannot make the truth of this position doubtful for several reasons. To begin with, and in reality, this state is no more than a manifestation of the military might of Russia and the Christians of Euro-American origin which they have established and maintained against Muslims. As soon as Russia, America and countries of Europe withdraw their patronage, the world will itself witness the instant collapse of this state and its disappearance from the map of the world. Therefore, people who can see the reality do realise the actual position of Israel or the Government of the Jews. It is by no means a manifestation of the domination of Jews. If, just for the sake of argument, it is taken to be their own state, even then, who would - in his right frame of mind - deny that, given the totality of Christians and Muslims, they are wielders of lesser influence and are much subjugated with fear. Even if we were to leave this aspect aside, we know that a temporary domination by the Jews close to the Day of Judgment has been reported in the authentic reports of the Holy Prophet ﷺ Now if this world is destined to exist for any considerable period of time and if the Day of Judgment is close, that domination too is not contrary to the reports which Muslims consider authentic. Moreover, such short-lived occupation cannot be given the name of a state or government especially when it is based on -a conspiracy hatched by the Christians and the communists.
5. The fifth promise, that of giving a decision in respect of such conflicts in faith on the Day of Judgment will certainly be fulfilled on its appointed time as it has been indicated in the verse:
وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ
Then, to Me is your return, whereupon I shall judge between you. (3:55)
JESUS: The question of his life and second coming:
The Jews are the only people in the world who say that Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) was crucified, killed and buried following which he never returned to life. What happened really and truly has been clarified in verse 158 of Surah al-Nis-a' in the Holy Qur'an. Then, in وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّـهُ (And they made a move, and Allah made a move.) of the present verse, it has been pointed out that Allah Almighty made the sinister move of the enemies of ` Isa recoil upon those who had gone into the house to kill Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) . It was one of them that Allah Almighty changed to look exactly like Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) and then He raised Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) alive onto the heavens. The words of the verse are as follows:
وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ
And they did not kill him and they did not crucify him, but they were deluded by resemblance (4:157).
Details regarding this will appear under the commentary on Surah al-Nis-a'.
The Christians said that Jesus was, no doubt, killed on the cross but was brought back to life once again and raised onto the heavens. The verse under reference has refuted this false notion as well. It is stressed here that similar to the Jews who were rejoicing after killing their own man, the Christians fell a victim to the same mistaken identity by believing that it was Jesus who got killed on the Cross, and as such, the Christians too became the victims of mistaken identity. This is obvious from the Qur'anic statement شُبِّهَ لَهُمْ (they were deluded by re-semblance) just like the Jews were deceived by mistaken identity.
As opposed to the view of these two groups, there is the Islamic belief, stated here in this verse and in several other verses clearly, which says that Allah Almighty raised him alive onto the heavens in order to rescue him from the Jews. He was not to be killed and he was not to be crucified. He is in the heavens alive and it will be close to the Day of Judgment when he shall come down from the heavens, lead the Muslims to victory over the Jews, and finally, he will die a natural death.
There is a consensus of the entire Muslim community on this belief. Hafiz ibn Hajr, in his Talkhis al-Habir, has reported this consensus (page 319). This belief, and the consensus of the community on it, stands proved on the authority of several verses of the Holy Qur'an and reports from متواتر mutawatir ahadith transmitted through an unbroken chain of reporting. However, this is not the place for its detailed discussion, and not necessary either. The reason being that scholars of the community have already taken up this question in special books with full clarity giving detailed answers to those who dispute in the Ascension of the Christ. For instance, the Arabic work, ` Aqidatul islam fi Hayati ` Isa (علیہ السلام) by Hujjatu l'Is1am Maulana Sayyid Muhammad Anwar Shah al-Kashmiri, Hayat-e-` Isa (علیہ السلام) (the Life of Jesus) in Urdu by Hadrat Maulana Badr ` Alam Muhajir Madani, Hayat-e-Masih (علیہ السلام) in Urdu by Maulana Sayyid Muhammad Idris and hundreds of other books or essays dealing with this question have been widely published and circulated. While carrying out the orders of his respected teacher, Maulana Sayyid Muhammad Anwar Shah al-Kashmiri, this writer had collected more than one hundred متواتر mutawatir ahadith identified by him which prove in an undeniable manner that Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) was raised alive and that he will return close to the Day of Judgment. This collection in book form and entitled, Al-Tasrih bima Tawatara fi Nuzul al-Masih has been recently published from Beirut with marginal notes and commentary by ` Allama ` Abd al-Fattah Abu Ghuddah, a revered scholar of Allepo, Syria.
Hafiz ibn Kathir while explaining the verse وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ of Surah Al-Zukhruf (43:61) has said:
و قد توارت الاحادیث عم رسول اللہ ﷺ انہ اخبر بنزول عیسیٰ (علیہ السلام) قبل یوم القیامۃ اماما عادلاً الخ
There are ahadith from the Holy Prophet ﷺ narrated in an uninterrupted succession, that he proclaimed the coming of ` Isa (علیہ السلام) ، before the Day of Judgment as a just leader.
At this stage I would like to draw the attention of the reader to a point which, if noticed even with a small measure of sanity and justice would leave no room for any doubt regarding this question. The point is that in the eleventh section of Surah 'Al-` Imran, Allah Almighty while referring to past prophets deemed it sufficient to refer to prophets Adam, Nuh, 'Al-Ibrahim and 'Al-` Imran (علیہم السلام) briefly in one single verse. After that, it was in nearly three sections and twenty two verses that refer-ence was made to Sayyidna 'Isa (علیہ السلام) and his family with meticulous detail something which has not been made in that manner even in respect of the Last of the prophets ﷺ to whom the Qur'an was revealed. Note the detailed mention of the grandmother of Jesus (علیہ السلام) ، her pledge, the birth of his mother, her name, her upbringing, the conceiving of Jesus by his mother then the detailed narrative of his birth, followed by the description of what his mother ate and drank, after child birth, her return to the family with the newborn child, their blames and curses, first the gift of eloquence to the newborn as his miracle, then his growing up and call to his people, opposition faced and the help of disciples, the hostile attempts by the Jews to trap and kill him, his being raised alive onto the heavens - then complete details of his additional traits, his looks, physique, dress and its likes - these are accounts which have not been taken up in the whole spectrum of the Qur'an and Hadith in respect of any prophet or messenger with that much of detail. This point is an open invitation to everyone to think as to why did this happen and what was the wisdom behind it.
Even a moment's reflection here makes it clear that the Last of the prophets ﷺ being the final prophet and messenger with no apostle to come after him, took special care to guide his community about conditions that it was going to face right through the Day of Judgment. He therefore, took upon himself to identify those who would be worthy of the community's following. He, as a matter of principle, described them with a profile of their general qualities. There were other blessed people whom he identified by name and emphatically asked the community to follow them. Other than these, he also marked out the astray and the deviating who posed a danger to the faith of the community.
Of the mischief-makers who were to come after the Holy Prophet ﷺ the most notorious was Dajjal (the anti-Christ) the imposter of the Messiah, whose disturbing wickedness was terribly deviation-prone. Therefore, the Prophet ﷺ related many details of his profile, attending conditions and distinguishing traits, so that there remains no room for the community to doubt about his being a mischief monger whenever he appears. Similarly, among the later day religious reformers and power-worthy elders, Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) is the most distinguished whom Allah Almighty blessed with the station of prophethood, kept him alive in the heavens to come to the rescue of the Muslim community during the wicked period of Dajjal (anti-Christ) and appointed him to kill Dajjal close to the Day of Judgment. This is why it was deemed necessary that the community should be given the most clear indications of his person and qualities as well, so that no human being remains in doubt while identifying Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) when he comes, the second time.
There are many elements of wisdom in this treatment.
Firstly, should the community find it difficult to identify ` Isa (Jesus Christ) (علیہ السلام) the very purpose of his coming will be negated. If the Muslim community will not identify and cooperate with him, how could he help and support them? Secondary, although Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) will not come into the world at that time designated as Prophet (علیہ السلام) ، but he would come to lead the Muslim community as the Khalifa (vice-regent) the Holy Prophet ﷺ ، the personal station of prophethood that he has will not be taken from him. Instead, he would be like the governor of a province or state who continues to hold that position even if he has gone out to visit some other province or state for some reason. Therefore, even though he is not as a governor in that province, the office of the governorship has not been ipso facto taken away from him. Similarly, Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) will not be without his attribute of prophethood at that time, and the way the rejection of his prophethood was infidelity earlier, so infidelity it shall be at that time. Now the Muslim community which has already nursed and shown its faith in his prophethood as based on the guidance of the Qur'an would fall into the grievous error of rejection, if it fails to recognize him when he comes. So, clarifying his signs and attributes in a greater measure was extremely necessary.
Thirdly, since the event of the coming of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) will take place towards the later years of this mortal world, chances were - given the ambiguity in his marks of identification that some other person could come up with the claim of being Messiah, the son of Mary, in which case, these indicators will serve well to refute and reject any such claim. This is what happened in pre-partition India where Mirza Ghulam Ahmad of Qadian claimed that he was the promised Messiah. The scholars of the Muslim community refuted his claim on the basis of these very much cited indicators.
In short, here and at other places, the very fact of such detailed description concerning Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) is in itself indicating that his reappearance is due close to the Day of Judgment and that he would return to the world. This humble writer has taken up this subject in full details in his Urdu treatise entitled مسیح موعود کی پہچان Masih Maw` ud ki pahchan (Identifying the Promised Messiah) which may be consulted for these details.
- Keingkaran dan sifat keras kepala bangsa Yahudi
- Sikap bangsa Yahudi terhadap Nabi - nabi
- Pengukuhan kenabian dengan mukjizat
- Nabi Isa as. diangkat ke langit
- Pergulatan antara kebenaran dan kebatilan
- Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta'ala
- Kebenaran hari penghimpunan
- Keadilan Allah dalam menghakimi