إِبْرَاهِيم ٣٧
- رَّبَّنَآ ya Tuhan kami
- إِنِّيٓ sesungguhnya aku
- أَسۡكَنتُ aku menempatkan
- مِن dari
- ذُرِّيَّتِي anak-cucuku/keturunanku
- بِوَادٍ di lembah
- غَيۡرِ tidak
- ذِي mempunyai
- زَرۡعٍ tanaman
- عِندَ di sisi/di dekat
- بَيۡتِكَ rumah Engkau
- ٱلۡمُحَرَّمِ dihormati
- رَبَّنَا ya Tuhan kami
- لِيُقِيمُواْ agar mereka mendirikan
- ٱلصَّلَوٰةَ sholat
- فَٱجۡعَلۡ maka jadikanlah
- أَفۡـِٔدَةٗ hati
- مِّنَ dari
- ٱلنَّاسِ manusia
- تَهۡوِيٓ cenderung
- إِلَيۡهِمۡ kepada mereka
- وَٱرۡزُقۡهُم dan beri rezkilah mereka
- مِّنَ dari
- ٱلثَّمَرَٰتِ buah-buahan
- لَعَلَّهُمۡ agar mereka
- يَشۡكُرُونَ mereka bersyukur
Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
(Ya Rabb kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku) sebagian daripada mereka, yaitu Nabi Ismail dan Siti Hajar ibunya (di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman) yaitu Mekah (di dekat rumah Engkau yang suci) sebelum banjir besar terjadi (ya Rabb agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati) kalbu-kalbu (sebagian manusia cenderung) condong dan merindukan (kepada mereka) Sahabat Ibnu Abbas mengatakan, seandainya Nabi Ibrahim mengatakan di dalam doanya, yaitu af-idatan naasi yang artinya semua hati manusia, maka orang-orang Persia, Romawi dan semua manusia niscaya akan cenderung ke Baitullah (dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan; mudah-mudahan mereka bersyukur.") dan memang doanya diperkenankan, yaitu dengan disuplaikannya buah-buahan dari Thaif ke Mekah.
Tafsir Surat Ibrahim: 38
Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.
Segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)."
Ayat 38
Ibnu Jarir mengatakan bahwa Allah ﷻ menceritakan perihal kekasihNya, yaitu Nabi Ibrahim, bahwa ia pernah berkata dalam doanya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan.” (Ibrahim: 38) Artinya Engkau mengetahui maksudku dalam doaku dan apa yang aku kehendaki dalam doaku untuk penduduk kota suci ini. Sesungguhnya hal itu tiada lain menuju kepada rida-Mu dan mengikhlaskan diri kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau mengetahui segala sesuatu yang nyata dan yang batin (tidak tampak), tiada sesuatu pun di bumi ini tiada pula di langit yang tersembunyi dari pengetahuan-Mu.
Ayat 39
Kemudian Nabi Ibrahim dalam doanya mengucapkan pujian kepada Tuhannya atas anak yang dianugerahkan kepadanya di saat ia telah berusia lanjut, seperti yang disitir oleh firman berikut:
“Segala puji bagi Allah, yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (Ibrahim: 39)
Yakni Dia memperkenankan (mengabulkan) doa orang yang memohon kepada-Nya; dan sesunggguhnya Dia telah mengabulkan permintaanku, yaitu mempunyai anak.
Ayat 40
Kemudian Nabi Ibrahim a.s. mengatakan dalam doanya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat.” (Ibrahim: 40) Yaitu memeliharanya dan mendirikan batasan-batasannya.
“Dan begitu pula anak cucuku.” (Ibrahim 40)
Maksudnya, jadikanlah pula anak cucuku sebagai orang-orang yang mendirikan shalat.
“Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40)
Yakni kabulkanlah semua apa yang aku mohonkan kepada-Mu.
Ayat 41
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan ibu bapakku. (Ibrahim: 41) Sebagian ulama tafsir membacanya waliwalidi dalam bentuk tunggal, yakni bukan waliwalidayya. Hal ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim sebelum ia berlepas diri dari ayahnya, setelah ia mengetahui dengan jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah ﷻ.
“Dan semua orang mukmin pada hari terjadinya hisab (perhitungan).” (Ibrahim: 41)
Maksudnya, ampunilah pula semua orang mukmin pada hari Engkau menghisab (memperhitungkan amal) hamba-hamba-Mu, lalu Engkau balas mereka sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing; jika amalnya baik, maka balasannya baik; dan jika amalnya buruk, maka balasannya buruk pula.
Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku
di Mekah, lembah yang tak berpenghuni dan tidak mempunyai tanamtanaman, di lokasi yang dekat dengan rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati. Ya Tuhan, aku tempatkan mereka di sana agar mereka melaksanakan salat. Maka, aku mohon ya Allah, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan,
mudah-mudahan dengan anugerah-Mu itu mereka selalu bersyukur kepada-Mu. Ya Tuhan kami, Penolong kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa
yang kami sembunyikan dalam hati kami dan apa yang kami tampakkan
dalam bentuk perbuatan; dan kami yakin tidak ada sesuatu pun yang
tersembunyi bagi-Mu, ya Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di
langit.
Ayat ini menerangkan saat Ibrahim a.s. akan kembali ke Palestina menemui istrinya Sarah, meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil di Mekah, di tengah-tengah padang pasir yang tandus, tanpa ditemani oleh seorang manusia pun dan tanpa bekal untuk keluarganya yang ditinggalkan. Waktu itulah ia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, mohon agar keluarganya itu dilindungi dan diselamatkan dari segala bahaya dan bencana yang mungkin akan menimpanya.
Ibrahim a.s. adalah nabi dan rasul yang diutus menyeru raja Namrudz, raja Babilonia dan rakyatnya, agar mereka mengikuti agama Allah. Setelah menerima siksaan, halangan, dan ancaman dari raja Namrudz dan pengikut-pengikutnya, Ibrahim meninggalkan Babilonia dan akhirnya menetap di Palestina, bersama istrinya Sarah dan pembantu istrinya seorang wanita yang bernama Hajar. Karena Sarah wanita yang mandul, maka Ibrahim a.s. tidak mempunyai seorang putra pun, sedang umurnya telah menginjak masa tua. Sekalipun demikian keinginannya untuk mempunyai seorang putra tetap merupakan cita-cita yang selalu diidam-idamkannya. Oleh karena itu, dinikahinya pembantu istrinya bernama Hajar itu setelah mendapat izin dan persetujuan dari Sarah. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang putra yang bernama Ismail dan dengan kelahiran itu pula, terkabullah cita-cita Ibrahim yang diingininya selama ini.
Kesayangan Ibrahim kepada putranya Ismail dan bertambah cintanya kepada Hajar menimbulkan rasa cemas dan iri hati pada diri Sarah. Cemas karena khawatir akan berkurang cinta Ibrahim kepadanya, dan iri hati karena ia sendiri tidak dapat memenuhi keinginan Ibrahim untuk memperoleh seorang putra sebagai penerus hidupnya, sedang pembantunya Hajar dapat memenuhi keinginan suaminya. Sarah menyampaikan perasaan hatinya itu kepada suaminya Ibrahim, dan meminta dengan sangat agar Ibrahim membawa dan menjauhkan Hajar dan putranya Ismail darinya. Dengan demikian, ia tidak lagi melihat kebahagiaan Hajar dan semakin bertambah dewasanya Ismail. Ibrahim dapat merasakan betapa dalam cintanya kepada Sarah. Ia pun khawatir kalau-kalau Sarah sedih jika permintaan itu tidak dikabulkan. Oleh karena itu, Ibrahim pun mengabulkan permintaan Sarah. Maka dibawanya Hajar dan putranya, Ismail yang masih kecil, berjalan mengikuti untanya tanpa mengetahui tujuannya, dalam keadaan iba dan terharu mengingat nasib yang akan dialami oleh istrinya dan putranya nanti. Dalam keadaan yang demikian, tanpa disadarinya, sampailah ia ke daerah yang asing baginya, suatu daerah yang terletak di antara bukit-bukit batu yang gersang, yang sekarang bernama kota Mekah.
Pada waktu itu, Mekah merupakan daerah dataran rendah padang pasir yang belum didiami oleh seorang manusia pun. Tidak ditemukan suatu sumber air. Menurut hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa di tempat itu terdapat sebatang pohon kayu, dan di bawah pohon itulah Ibrahim dan keluarganya berteduh dan melepaskan lelah dari perjalanan yang jauh dari Palestina sampai ke Mekah sekarang ini.
Setelah beberapa hari Ibrahim menemani Hajar dan putranya di tempat itu, ia pun teringat kepada istrinya Sarah yang ditinggalkannya di Palestina. Ingin kembali ke Palestina, ia tak sampai hati pula meninggalkan Hajar dan putranya. Dalam keadaan demikian, ia pun memutuskan akan kembali ke Palestina dan meminta persetujuan dari Hajar. Di waktu ia meminta persetujuan dan kerelaan hati Hajar, maka Hajar bertanya kepada Ibrahim, "Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu agar aku ditempatkan di daerah sunyi lagi tandus ini?" Ibrahim menjawab, "Benar." Hajar menjawab, "Jika demikian, Dia (Allah) tidak menyia-nyiakan kita."
Maka berangkatlah Ibrahim ke Palestina, menemui istrinya Sarah dan meninggalkan istri dan putranya Ismail yang masih kecil di tempat itu, di tengah-tengah panas matahari membakar padang pasir, tanpa rumah tempat berteduh, dan perbekalan yang cukup, kecuali sekendi air untuk pelepas haus. Ketika Hajar dan putranya sampai kepada suatu tempat, yang waktu itu semua perbekalan dan air minum telah habis, putranya Ismail menangis kehausan, sedang air susunya tidak mengalir lagi. Ia bermaksud mencari air, dan ditidurkannya putranya di bawah pohon tempat ia berteduh. Ia pun pergi ke mana saja yang dianggapnya ada air, namun ia tidak menemukannya setetes pun. sehingga, tanpa disadarinya ia telah berlari-lari kecil pulang balik tujuh kali antara bukit Safa dan bukit Marwah, tetapi ia belum juga memperoleh air barang setetes pun. Maka dengan rasa sedih dan putus asa, ia kembali ke tempat putranya yang ditinggalkan. Waktu itu Ismail sedang menangis kehausan sambil memukul-mukulkan kakinya ke tanah. Hajar pun berdoa menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Dalam keadaan yang demikian, Ibrahim yang sedang melanjutkan perjalanannya ke Palestina, ingat akan istri dan putranya yang ditinggalkan dan nasib yang mungkin sedang dideritanya, karena diperkirakan makanan dan air yang ia tinggalkan telah habis. Lalu ia pun berdoa sebagaimana terdapat dalam ayat itu, "Wahai Tuhanku, aku telah menempatkan sebagian keturunanku, yaitu istri dan anakku Ismail, yang akan melanjutkan keturunanku, di lembah padang pasir yang tandus lagi gersang, di dekat tempat akan didirikan Kabah, rumah-Mu nanti, yang dihormati, yang Engkau akan melarang manusia mencemarkan kehormatannya, dan yang akan Engkau jadikan daerah sekitarnya sebagai daerah haram, yaitu dilarang di tanah itu berperang dan menumpahkan darah."
Doa Ibrahim dan istrinya Hajar itu dikabulkan Tuhan. Waktu itu juga, terpancarlah air dari tanah bekas pukulan kaki anaknya Ismail yang sedang menangis. Di saat itu pula, timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga, dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail. Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya, seraya berkata, "Zam! Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)" Dan terkumpullah air itu, tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama Telaga Zamzam.
Dengan adanya Telaga Zamzam di tempat itu, banyaklah orang yang lewat meminta air ke sana. Tatkala Bani Jurhum melihat adanya sumber air di tempat itu, maka mereka minta izin kepada Hajar tinggal bersama di sana, dan Hajar pun mengabulkan permintaan itu. Sejak itu, mulailah kehidupan di daerah yang tandus itu, semakin hari semakin banyak pendatang yang menetap. Akhirnya timbullah negeri dan kebudayaan, sehingga daerah tersebut menjadi tempat jalan lintas perdagangan antara barat dan timur.
Setelah Ismail dewasa, ia menikah dengan salah seorang wanita Bani Jurhum, pendatang baru itu, yang kemudian menurunkan keturunan yang merupakan cikal-bakal penghuni negeri itu. Keturunan itu berkembang biak, mendiami negeri Mekah dan sekitarnya. Dari keturunan Ismail inilah nanti, lahir Nabi Muhammad di kemudian hari, sebagai nabi dan rasul Allah yang penghabisan.
Dalam ayat di atas, selanjutnya diterangkan bahwa Ibrahim a.s. berdoa kepada Tuhan agar memelihara keturunannya yang ada di Mekah, menjadi-kan mereka sebagai orang-orang taat mengerjakan salat, menghambakan dan menundukkan dirinya kepada Tuhan. Ia juga meminta agar Tuhan menjadi-kan hati manusia cenderung, cinta, dan kasih kepada keturunannya itu, diberi rezeki, dan didatangkan bahan makanan dan buah-buahan ke negeri yang tandus itu, karena di negeri itu tidak mungkin hidup tumbuh-tumbuhan yang diperlukan sebagai bahan makanan.
Doa Nabi Ibrahim dikabulkan Allah ﷻ Terbukti sejak dahulu hingga sekarang banyak manusia yang mengunjungi Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, serta melihat bekas peninggalan-peninggalan dan perjuangan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya. Demikian pula banyak didatangkan ke bumi yang tandus itu pelbagai macam barang keperluan yang diperlukan penghuni negeri itu, seperti bahan makanan, buah-buahan, dan barang pakaian sampai barang mewah.
Penganugerahan karunia yang berlipat ganda itu ditegaskan dalam firman Allah ﷻ:
Dan mereka berkata, "Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir dari negeri kami." (Allah berfirman) Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-Qashash/28: 57)
Allah ﷻ menganugerahkan rezeki dan kekayaan yang banyak kepada penduduk dan negeri Arab itu agar mereka mensyukuri nikmat Allah dengan menjaga Baitullah, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menghentikan larangan-larangan-Nya.
Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang diperoleh selama hidup di dunia ini, adalah untuk keperluan beribadah kepada Tuhan. Dengan hasil yang diperoleh itu, dapat disempurnakan pelaksanaan perintah-perintah Allah dan penghentian larangan-Nya, bukan semata-mata untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Dan (ingatlah) tatkala berkata Ibrahim, “Ya Tuhanku! Jadikanlah negeri ini aman sentosa, dan jauhkanlah akan daku dan anak-anakku daripada menyembah berhala-berhala."
(ayat 35)
Ayat ini menyuruh Nabi Muhammad ﷺ memperingatkan kembali kepada kaum Quraisy itu bahwasanya yang memulai memancang negeri Mekah tempat mereka berdiam itu ialah nenek moyang mereka Nabi Ibrahim, Dari sebuah lembah yang belum ada penghuninya, sampai menjadi sebuah negeri besar. Dari keturunan Ibrahim itu, timbullah kaum Adnan, yang disebut Arab Musta'ribah, yang terjadi dari sebab perkawinan Isma'il anak Ibrahim dengan perempuan kaum Jurhum Kedua. Adnan itulah yang menurunkan dua cabang suku, yaitu Rabi'ah dan Mudhar. Mudhar inilah yang menurunkan Quraisy. Salah seorang dari turunannya ialah Qushai. Qushai inilah yang datang memperbaiki kembali Ka'bah dan memuliakannya. Dan dari keturunan Qushai inilah segala cabang per-sukuan Quraisy itu. Adapun maksud Ibrahim mendirikan negeri Mekah itu ialah karena hendak mendirikan sebuah rumah persembahan kepada Allah Yang Maha Esa, dan sunyi dari berhala. Sebab itu beliau memohonkan kepada Allah supaya anak-cucunya jangan sampai menyembah berhala-berhala itu. Dan didoakannya kepada Allah supaya negeri yang telah dibukanya itu aman sentosa. Merasa tenteramlah kiranya orang yang tinggal di sana. Jangan ada huru-hara, dan siapa yang masuk ke sana terjaminlah kiranya keselamatannya.
“Ya Tuhanku! Sesungguhnya dia itu," —yaitu berhala-hala — “telah menyesatkan kebanyakan manusia."
(pangkal ayat 36)
Nabi Ibrahim yang telah banyak mengembara, sejak dari tanah kelahirannya di Babil, (negeri Irak sekarang), sampai ke Palestina, tanah yang dijanjikan Allah pula buat keturunannya, sampai ke Mesir, tempat dia mengawini Hajar, ibu Isma'il, dilihatnya di seluruh negeri itu betapa sesatnya manusia karena menyembah berhala, bahkan sampai beliau bertentangan dengan ayahnya sendiri dan dengan rajanya. Sekarang dibukanya negeri baru, lembah yang tidak ada tanam-tanaman itu, ialah karena hendak mendirikan sebuah daerah yang bersih daripada berhala, bersih dari yang menyesatkan manusia.
Nabi Ibrahim memunajatkan kepada Allah, menerangkan pengalamannya bahwasanya berhala itu telah banyak menyesatkan manusia. Padahal yang patut disembah adalah Allah; sedang berhala itu adalah alam ciptaan Allah jua. Manusia tersesat membesar-besarkan dan memuja barang yang dibikinnya dengan tangannya sendiri, sehingga dia tersesat dan terperosok dari jalan yang lurus, “Ash-Shirathal Mustaqim", kepada jalan lain yang membawanya hanyut ke dalam kesengsaraan. Nabi Ibrahim sejak semula telah meruntuhkan berhala di kampung halamannya sendiri, lalu ditinggalkannya sebuah, yaitu yang paling besar. Ketika dia ditanyai, dijawabnya bahwa yang meruntuhkan berhala kecil-kecil itu ialah berhala yang paling besar. Waktu itu kaumnya yang menyembah berhala itu menolak keterangannya, karena tidak masuk di akal mereka bahwa berhala yang tidak dapat bergerak itu akan berkisar dari tempatnya buat meruntuh kawannya yang kecil-kecil itu. Di sana saja sudah terang bahwa berhala telah menyesatkan kebanyakan manusia.
“Lantaran itu maka barangsiapa yang mengikut aku, sesungguhnya dia adalah dari golonganku." Dan yang masuk golonganku itulah hanya yang dapat aku pertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan pendirian bertuhan Esa itulah yang dinamai agama Nabi Ibrahim yang harif, yaitu agama tauhid."Dan barangsiapa yang mendurhakai aku." Yakni yang mengubah pelajaran tauhid yang aku.pusaka-kan itu,
“Maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang"
(ujung ayat 36)
Sebagai seorang di antara rasul yang besar, Nabi Ibrahim pun rupanya telah mendapat ilham dari Allah bahwa sepeninggalnya kelak akan ada penyelewengan dari anak-cucunya. Dan kemudian setelah Nabi Muhammad ﷺ diutus Allah, beliau dapati agama harif Nabi Ibrahim telah dikotori dan dicampur-aduk dengan menyembah berhala. Nabi Ibrahim yang terkenal pengasih, penghiba, (Awwahun, Halimun) tidaklah mengutuk anak cucunya yang mendurhakai jalan yang ditinggalkannya yang diselewengkan itu, melainkan menyerahkannya kepada Allah, moga-moga Allah mengampuni, sebab Allah itu pun Maha Penyayang. Tanda ampun dan sayang Allah, maka diutus-Nyalah Nabi Muhammad ﷺ membawa kembali ajaran tauhid Nabi Ibrahim itu. Sesuai dengan doa Nabi Ibrahim yang ter-maktub dalam surah al-Baqarah ayat 129.
“Ya Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan itu, di dekat rumah-Moyang dihormati."
(pangkal ayat 37)
Ayat ini telah lebih menjelaskan lagi apa yang telah kita paparkan di penafsiran ayat 35 di atas sebagaimana dimaklumi, Ibrahim mempunyai dua cabang keturunan, yaitu keturunan Ishaq yang beranak Ya'qub dan Ya'qub beranak dua belas orang yang disebut Bani rsrail. Dikeluarkan oleh Musa dari penindasan Fir'aun, dan didudukkan di Palestina. Dan Isma'il, yang dibawa sendiri oleh ibunya yang tengah mengandungnya ke lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan itu, maka di sanalah Isma'il lahir ke dunia. Keturunan Isma'il itulah Arab Musta'ribah tersebut. Se-telah Isma'il mulai dewasa, dan setelah ujian Allah atas Ibrahim yang disuruh dalam mimpi menyembelih Isma'il, dan selamat terlepas dari ujian itu, maka datang perintah Allah kepadanya buat mendirikan Bait Allah, atau Ka'bah, berdua dengan anaknya itu. (Lihat al-Baqarah ayat 127). Setelah selamat pembangunan Ka'bah, Nabi Ibrahim menyatakan cita-citanya kepada Allah, moga-moga anak-cucunya yang ditinggalkannya di daerah yang baru dibangunnya itu."Ya Tuhan kami! Supaya kiranya mereka mendirikan shalat."
Moga-moga merekalah yang akan memulai meramaikan ibadah shalat di rumah yang suci itu, agar menjadi contoh teladan dari manusia yang akan datang berkumpul ke sana. Dan didoakannya pula, “Maka jadikanlah hati setengah dari manusia condong kepada mereka." Atau tertarik kepada mereka. Dan supaya kehidupan mereka terjamin di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan itu, jangan sampai mereka sengsara karena buminya amat kering, dilanjutkan doanya oleh Nabi Ibrahim,
“Dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Moga-moga mereka sama bersyukur."
(ujung ayat 37)
Telah dijelaskan di permulaan surah bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ diutus ialah hendak mengeluarkan manusia dari gelap kepada terang, menempuh jalan Allah Yang Mahagagah dan Maha Terpuji, maka ayat-ayat ini ialah dalam rangka memperlancar memberikan keterangan agar mereka keluar dari gelap. Di antara zaman Ibrahim dengan zaman Muhammad telah berlalu lebih kurang 2.300 tahun. Keturunan itu telah gelap dari asal mula mereka duduk di Mekah. Mereka hanya tahu, memang nenek moyang mereka Nabi Ibrahim, dan bahwa mereka didudukkan oleh Ibrahim di sana ialah untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa dan menjaga kesucian rumah yang dihormati dari berhala. Doa Nabi Ibrahimlah yang makbul, sehingga mereka tidak pernah kekurangan buah-buahan, meskipun negeri Mekah itu sendiri kering lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan, dan sumur Zamzam tidak cukup airnya untuk mengaliri tanah tandus itu, dan sekelilingnya adalah gunung-gunung batu semuanya, namun dari daerah-daerah luar kota Mekah bertimbun buah-buahan, sayur-sayur dan makanan dibawa oleh petani-petani Badwi. Dan mereka sendiri, orang Quraisy dapat pula melebarkan sayap perniagaan ke Thaif dan Syam, ke Yaman dan ke ujung Selatan Tanah Arab. Doa Nabi Ibrahim berujung pula, yaitu moga-moga mereka bersyukur kepada Allah.
Ayat ini untukmenginsafkan orang Quraisy tentang kedudukan mereka yang mulia, dan patutlah mereka kembali kepada pokok ajaran itu dengan mengikuti ajaran Muhammad ﷺ, bersyukur kepada Allah Yang Esa.
Sampai kepada zaman kita sekarang ini pun doa Nabi Ibrahim itu masih tetap dirasakan di negeri Mekah. Mekah sendiri tidak menghasilkan tumbuh-tumbuhan, tetapi di desa-desa Badwi luar Mekah, seperti di Wadi Fathimah, Wadi Usfan, Thaif dan lain-lain, terdapat Wadi atau Oaseyangadatelagadanadaair, danbanyak terdapat kebun-kebun. Hasil kebun-kebun itu diangkut orang ke Mekah. Sebelum Mekah mempunyai kendaraan modern sekarang ini, dengan unta diangkut orang makanan baru dan segar untuk makanan orang Mekah. Apatah lagi sekarang dengan adanya kendaraan bermotor, lebih cepatlah perhubungan. Buah anggur dan apel yang baru selesai dipetik pukul sembilan pagi, dari Libanon dan Suriah, kira-kira pukul 2 tengah hari telah sampai dengan kapal udara di Jeddah dan dibawa dengan mobil ke Mekah, dan pukul 5 sore sudah dimakan orang dengan segarnya.
Demikianlah juga doa Nabi Ibrahim yang satu lagi, yaitu supaya kiranya tertariklah hati manusia kepada mereka,yaitu sebagai jiran dan Bait Allah itu, maka meskipun jarak zaman Nabi Ibrahim dengan kita sekarang sudah kira-kira 4.000 tahun, namun doa itu tetap makbul. Tidak kurang dari 500 juta umat manusia di seluruh dunia ini yang senantiasa berniat, walaupun agak sekali dalam seumur hidup, dapat juga hendaknya bertawaf di sekeliling rumah itu, dan membawakan rezeki bagi jirannya.
“Ya Allah kami! Sesungguhnya Engkaulah yang tahu apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan."
(pangkal ayat 38)
Dengan Engkau, ya Allah, kami tidak dapat menyimpan rahasia, karena tilik pan-dang-Mu menembus sampai ke dasar lubuk hati kami.
“Dan tidaklah ada yang tersembunyi pada Allah sesuatu pun di bumi, dan tidak pula di langit."
(ujung ayat 38)
Ayat ini melukiskan keikhlasan Ibrahim dan anak-anaknya dalam berkhidmat kepada Allah. Sebab tauhid itu pun adalah ikhlas. Apa isi hati, itulah yang tampak keluar. Tetapi dengan Allah kita tidak dapat berahasia. Sedangkan isi langit diketahui Allah, apatah lagi hanya isi hati kita. Tauhid dan ikhlas itulah yang menyebabkan tidak mungkin mempersekutukan yang lain dengan Allah. Dan apabila manusia telah beroleh pendirian hidup (aqidah) tauhid dan ikhlas itu, kekayaan besarlah yang diberikan Allah kepadanya. Itulah jiwa yang telah keluar dari gelap dan menempuh terang, dan itulah hidup yang sejati. Maka hendaklah sepatutnya orang yang merasakan nikmat itu memuji Allah. Dan kepayahan Ibrahim, yang sejak muda remajanya sampai tua tidak henti-hentinya menegakkan kepercayaan tauhid itu di beberapa negeri, di Babil, di Palestina, Mesir dan Tanah Arab, dengan berbagai-bagai ujian dan cobaan, maka di hari beliau mulai tua, Allah memberinya nikmat sebagai penghargaan atas jasanya, yaitu dia diberi dua orang putra. Maka dengan rasa sangat terharu dilanjutkannya doanya dengan memuji Allah,
“Segala puji-pujian adalah untuk Allah yang telah mengaruniai aku di kala aku telah tua, Isma'il dan Ishaq."
(pangkal ayat 39)
Dipujinya Allah dengan sepenuh-penuh puji, karena selalu dia mengharap keturunan yang akan menyambung cita-citanya, jangan sampai ajaran yang diberikan Allah itu putus sehingga dia saja, ada hendaknya anak dan keturunan yang akan menyambung. Permohonannya itu didengar dan dikabulkan Allah. Sebab itu disebutnya di lanjutan pujian,
“Sesungguhnya Tuhanku adalah mendengari akan doa “
(ujung ayat 39)
Mekah sudah ramai, Ka'bah Bait Allah sudah tegak, dan anak Laki-laki pun sudah ada dua orang. Yang seorang akan mengembangkan bangsa Arabi dan yang seorang lagi akan mengembangkan bangsa Ibrani. Semuanya itu disyukuri oleh Ibrahim dengan hati yang sepenuh tulus dan ikhlas. Kemudian dilanjutkan doanya,
“Ya Tuhanku! Jadikanlah aku pendiri shalat, dan (demikian juga) dari cucu-cucuku. Ya Tuhan kami! Perkenankanlah kiranya doaku."
(ayat 40)
Doa beliau agar dia menjadi pendiri shalat, telah makbul, dan doanya untuk anak-cucu dan keturunannya pun terkabul. Dari keturunan Ishaq muncullah berpuluh nabi-nabi dan rasul-rasul; termasuk Ya'qub, Yusuf, Musa, Harun, Yusya', Ilyasat, Ilyas, Zulkifli, Ayyub, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya dan Isa al-Masih dan lain-lain dari Anbiya Bani Israil. Dan dari keturunan Isma'il, datanglah penutup segala nabi, (khatimul anbiya'), dan yang istimewa dari segala rasul (sayyidil mursalin), Muhammad ﷺ
Penutup doa Ibrahim amat lagi mengharukan,
“Ya Tuhan kami! Ampunilah aku dan bagi kedua ibu bapakku, dan bagi orang-orang yang beriman, pada hari yang akan berdiri perhitungan."
(ayat 41)
Beliau, nenek nabi-nabi dan rasul-rasul memohon ampun kepada Allah entah ada ke-lalaian, entah ada kekurangan dalam memikul kewajiban selama itu, sebab dia manusia, ampuni pula ibu bapaknya kalau boleh, dan terutama lagi, ampunilah sekalian orang yang telah menegakkan kepercayaan kepada Engkau, ya Allah!—Siapa yang tidak akan terharu merenungkan ini—Bertambah tinggi martabat manusia, bertambah dia berendah hati di hadapan Allah. Patutlah kalau bagi kita kaum Muslimin dalam penutup shalat sama kita mohonkan shalawat dan barakah untuk Muhammad dan untuk Ibrahim!
"Ibrahim's Supplication to Allah when He brought Isma`il to Makkah
Allah tells:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ
And (remember) when Ibrahim said:
Allah mentions here, while bringing forth more evidences against Arab polytheists, that the Sacred House in Makkah was established on the worship of Allah alone, without partners. He also states that Ibrahim, who established the city, has disowned those who worship others besides Allah, and that he begged Allah to make Makkah peaceful and secure,
رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ امِنًا
O my Lord! Make this city (Makkah) of peace and security,
and Allah accepted his supplication.
Allah said in other Ayat,
أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّا جَعَلْنَا حَرَماً ءامِناً
Have they not seen that We have made (Makkah) a secure sanctuary. (29:67)
and,
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَـلَمِينَ فِيهِ ءَايَـتٌ بَيِّـنَـتٌ مَّقَامُ إِبْرَهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ ءَامِناً
Verily, the first House (of worship) appointed for mankind was that at Bakkah (Makkah), full of blessing, and a guidance for Al-'Alamin. In it are manifest signs, the Maqam of Ibrahim; whosoever enters it, he attains security. (3:96)
Allah said here that Ibrahim supplicated,
رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ امِنًا
(O my Lord! Make this city (Makkah) a of peace and security), saying, ""this city,"" after he established it, and this is why he said afterwards,
الْحَمْدُ للَّهِ الَّذِى وَهَبَ لِى عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَـعِيلَ وَإِسْحَـقَ
All praise is due to Allah, Who has given me in old age Ismail and Ishaq. (14:39)
It is well-known that Ismail was thirteen years older than Ishaq. When Ibrahim took Ismail and his mother to Makkah, while Ismail was still young enough to nurse, he supplicated to Allah,
رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا بَلَدًا امِنًا
O my Lord! Make this city (Makkah) a place of peace and security. (2:126) as we in explained in Surah Al-Baqarah.
Ibrahim then said,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الَاصْنَامَ
and keep me and my sons away from worshipping idols.
It is proper for whoever supplicates to Allah to also ask for the benefit of his parents and offspring, as well as himself.
Ibrahim then said;
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
""O my Lord! They have indeed led astray many among mankind. But whoso follows me, he verily, is of me. And whoso disobeys me, still You are indeed Oft-Forgiving, Most Merciful.
Ibrahim next mentioned that many among mankind were led astray because of idols, and he disowned those who worship them and referred their matter to Allah; if Allah wills, He will punish them, and if He wills, He will forgive them.
Isa, peace be upon him, said similar words,
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
If You punish them, they are Your servants, and if You forgive them, verily, You, only You are the Almighty, the All-Wise. (5:118)
This supplication refers this and all matters to Allah, not that it is actually going to happen.
Abdullah bin Amr narrated that the Messenger of Allah recited Ibrahim's supplication,
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ
O my Lord! They have indeed led astray many among mankind.,
and the supplication of Isa,
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ
If You punish them, they are Your servants. (5:118)
then raised his hands and said,
اللَّهُمَّ أُمَّتِي
اللَّهُمَّ أُمَّتِي
اللَّهُمَّ أُمَّتِي
O Allah, Save my Ummah!
O, Allah, Save my Ummah!
O, Allah, Save my Ummah!
and cried.
Allah said to the angel Jibril, ""O Jibril, go to Muhammad, and Your Lord has more knowledge, and ask him what makes him cry.""
Jibril came to the Prophet and asked him, and he repeated to him what he said (in his supplication).
Allah said, ""Go to Muhammad and tell him this;
`We will make you pleased with your Ummah, O Muhammad, and will not treat them in a way you dislike.""
Allah tells:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلَةَ
""O our Lord! I have made some of my offspring dwell in an uncultivable valley by Your Sacred House in order, O our Lord, that they may perform Salah.
This Ayah indicates that this was different supplication than the first one that Ibrahim said when he left Hajar and her son Ismail in Makkah, before the Sacred House was built.
This prayer, it appears, was said after the House was built, begging Allah and seeking His favor, and He is the Exalted and Most Honored.
Ibrahim said here,
عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
by Your Sacred House... then he said,
رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلَةَ
(O our Lord, that they may perform Salah),
Ibn Jarir At-Tabari commented that this,
""Refers to his earlier statement,
الْمُحَرَّمِ
(the Sacred...),""
meaning, `You have made this House Sacred so that people establish the prayer next to it,'
.
فَاجْعَلْ أَفْيِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
So fill some hearts among men with love towards them,
Ibn Abbas, Mujahid and Sa'id bin Jubayr said,
""Had Ibrahim said, `The hearts of mankind', Persians, Romans, the Jews, the Christians and all other people would have gathered around it.""
However, Ibrahim said,
مِّنَ النَّاسِ
(among men), thus making it exclusive to Muslims only.
He said next,
وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ
and (O Allah) provide them with fruits
in order that they may be helped in obeying You, and because this is a barren valley; bring to them fruits that they might eat.
لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
so that they may give thanks.
Allah accepted Ibrahim's supplication,
أَوَلَمْ نُمَكِّن لَّهُمْ حَرَماً ءَامِناً يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَىْءٍ رِّزْقاً مِّن لَّدُنَّا
Have We not established for them a secure sanctuary (Makkah), to which are brought fruits of all kinds, a provision from Ourselves. (28:57)
This only indicates Allah's compassion, kindness, mercy and blessing, in that there are no fruit producing trees in the Sacred City, Makkah, yet all kinds of fruits are being brought to it from all around; this is how Allah accepted the supplication of the Khalil - Allah's intimate friend, Prophet Ibrahim, peace be upon him
Allah tells;
رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللّهِ مِن شَيْءٍ فَي الَارْضِ وَلَا فِي السَّمَاء
""O our Lord! Certainly, You know what we conceal and what we reveal. Nothing on the earth or in the heaven is hidden from Allah.""
Ibn Jarir At-Tabari said about the ayah,
رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ
(O our Lord! Certainly, You know what we conceal and what we reveal),
""meaning, `You know the intention behind my supplication for the people of this town, seeking Your pleasure in sincerity to You. You know all things, apparent and hidden, and nothing escapes Your knowledge on the earth or in heaven.""'
He next praised and thanked his Lord the Exalted and Most Honored for granting him offspring after he became old,
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء
All praise is due to Allah, Who has given me in old age Ismail (Ishmael) and Ishaq (Isaac). Verily, my Lord is indeed the All-Hearer of invocations.
`He accepts the supplication of those who invoke Him, and has accepted my invocation when I asked Him to grant me offspring.'
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُوْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
""O my Lord!
Make me one who performs Salah, and (also) from my offspring, our Lord! And accept my invocation.""
""Our Lord!
Forgive me and my parents, and (all) the believers on the Day when the reckoning will be established.""
Ibrahim said next
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَةِ
O my Lord! Make me one who performs Salah,
preserving its obligations and limits,
وَمِن ذُرِّيَّتِي
and (also) from my offspring,
make them among those who establish the prayer, as well,
رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
our Lord! And accept my invocation.
all of my invocation which I invoked You with herein
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
Our Lord! Forgive me and my parents,
Ibrahim said this before he declared himself innocent from his father, after he became sure that he was an enemy of Allah,
وَلِلْمُوْمِنِينَ
and the believers,
all of them,
يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
on the Day when the reckoning will be established.
on the Day when You will reckon Your servants and recompense or reward them for their deeds - good for good and evil for evil."
Our Lord, indeed I have made some of my seed, that is, Ishmael and his mother Hagar, to dwell in a valley where there is no sown land, namely, Mecca, by Your Sacred House, which had been there since before the Flood, our Lord, that they may establish prayer. So make some of the hearts of men yearn, incline and long, towards them - Ibn 'Abbaas said, 'Had He said: "Make [all] the hearts of men .", assuredly the Persians, the Byzantines and all of mankind would have yearned towards them'. And provide them with fruits, that they might be thankful: and this [petition] was granted, for [the town of] al-Taa'if was transferred to that [land].
Brimming with wisdom, there is another prayer of Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) which appears in the third verse (37) as follows: رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ : 'Our Lord, I have settled some of my children in a valley of no vegetation [ nor any other obvious life support system ] close to Your sanctified House, so that, Our Lord, they may establish Salah. So, make hearts of a number of people yearn towards them [ to make them familiar with each other ], and provide them with fruits, so that they may be grateful.'
The event which marks the making of this prayer by Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) goes back to the time when Allah Ta’ ala intended to have the edifice of Baytullah which was destroyed in the Deluge during the time of Sayyidna Nuh علیہ السلام reconstructed. He chose His 'friend,' Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) for this mission, arranging for him to migrate from Syria with wife, Sayyidah Hajira and son, Sayyidna Ismail (علیہ السلام) and settle down in that barren place. This he was appointed to do.
It appears in the Sahih of Al-Bukhari that Sayyidna Ismail (علیہ السلام) was an infant at that time. Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) ، as ordered, had him “ Ismail (علیہ السلام) “ and his mother, Sayyidah Hajira stay near the present Baytullah and the well of Zamzam. At that time, this place was an open and barren ground surrounded by hills. There was no water and no habitation in sight. Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) had thoughtfully put some food in a provi-sion-bag and water in a water-bag.
Thereafter, Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) was commanded to return to Syria. The spot where he received this command was the spot from where he started his journey as commanded. That there was the natural effect of having to leave his wife and infant son in this wilderness on him will become evident from the prayer which he made a little later, but he did not tolerate the idea of making the least delay in carrying out the Divine command, not even for a few moments which he could have used to inform Sayyidah Hajira and say a few words of comfort to her.
As a result, when Sayyidah Hajira ﷺ him going away, she repeatedly called from behind him wondering why would he leave them in that manner and in a place which had no human being around nor was there anything which could help them survive. But, the 'friend' of Allah did not look back. Thereupon, Sayyidah Hajira realized that one who is the 'friend' of Allah cannot betray them in that manner. Perhaps, this is nothing but a command from Allah Ta` ala. So, she called again and asked: 'Has Allah Ta` ala commanded you to leave this place?' Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) turned his face and said: 'Yes.' Hearing this, Sayyidah Hajira said: ' اِذاً لَا یُضَیِّعُنَا ' that is, 'Now it does not matter. Our Master, who has commanded you to leave this place, will certainly not let us be wasted away.'
Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) kept going ahead until he reached close to a hill from where he could no more see Sayyidah Hajira and Sayyidna Ismail علیہ السلام . That was the time when he turned his attention
towards Baytullah and prayed in the words mentioned in the verse1 (37). Many religious instructions and rulings issue forth from this prayer of
1. According to this interpretation, it is only the prayer mentioned in Verse (37) that was made at this time. As for the prayer mentioned in the verse (35) it was made at a later stage, when Makkah was already a populated city. Therefore, there is no contradiction between this statement and the comment made on the verse 35. (Editor)
Sayyidna Ibrahim علیہ السلام . These are being taken up in some details as given below.
The Wisdom of Sayyidna Ibrahim's Prayer
1. We see that Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) has accomplished two things very distinctly. On the one hand, he fulfills his obligation to his status as the Khalil or Friend of Allah. When and where he was commanded to leave for the country of Syria, he took no time in leaving his wife and infant son in a desolate wilderness. When he was saying yes to the Divine command, he did not show the least hesitation. He did what he was asked to do right away. He did not tolerate the idea of postponing or de-laying even to the natural limit whereby he would first go to his blessed wife, say some words of comfort to her and tell her that he is under Divine orders to leave about which she should not worry. This he did not do. What he did was: When and where came the Divine command, he obeyed it and moved ahead right on.
On the other hand, he did not neglect the rights of his family on him and paid the debt of their love in his own way. Once he could see them no more from behind a hill on his way, he prayed before Allah Ta’ ala that they be protected and blessed with peace. Thus, he had asked good life for them because he was confident, and at peace with himself. He knew that a prayer made after having carried out the Divine command first would never be rejected by the merciful Lord. And this is what happened actually. The helpless infant and his equally helpless mother found shelter. Not only that they settled there all alone and by them-selves, a whole city flowered with people around them and for their sake; and furthermore, the matter did not end at the fulfillment of the needs of their lives lived in peace, but it is for their sake that the doors of all sorts of blessing are still open to the people of Makkah.
This is prophetic steadfastness, and the beauty of balance; when considering one aspect, they would never ignore the other. The prophets are not like common mystics who are overpowered by the state they are in (maghlub al-hal) مَغلُوب الحال . Prophets educate. It is their education which goes on to make man perfect, universal.
Now, let us go to some significant statements made in this prayer. They are from verse 37 and are being taken up in the order they appear there.
2. غَيْرِ ذِي زَرْعٍ (valley of no vegetation): When Sayyidna Ibrahim was commanded by Allah Ta’ ala that he should leave his infant son and his mother in that barren land and go to Syria, he had become certain from the command itself that Allah Ta’ ala would not let them perish, in-stead, they would, at least, be provided with water somehow. That is why he did not say: بِوَادٍ غَيْرِ ذِي مَاء (in a valley with no water). What he said was: غَيْرِ ذِي زَرْعٍ (in a valley of no vegetation). Therefore, he requested that they be blessed with 'fruits' - even if they had to be brought in from some-where else. This is the reason why Makkah al-Mukarramah does not have any significant areas of cultivation even to this day. But, fruits from all over the world, the produce and product of things of all sorts reach there in such numbers and variety that it would be difficult to find a similar arrangement in many cities. (Al-Bahr Al-Muhit)
3. The next sentence: عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ (close to Your sanctified House) proves that the foundation of Baytullah had been laid out before the appearance of Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) as proved by the leading commentator, Al-Qurtubi on the authority of several narrations under his commentary on Surah Al-Baqarah. According to him, the structure of Baytullah was first raised by Sayyidna Adam (علیہ السلام) at the time when he was sent to the earth and was made to reach at this place from the Mountain of Sarandip through a miracle. Angel Jibra'il (علیہ السلام) directed him to the site of Baytullah. Accordingly, Sayyidna Adam (علیہ السلام) raised its structure. He and his children used to do Tawaf round it until came the Deluge during the time of Sayyidna Nuh (علیہ السلام) when the sacred Baytullah was raised up (as trust), but its foundations remained embedded under the earth. Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) was commanded to build the Baytullah anew on the already existing foundations. These were identified and shown to him by Sayyidna Jibra'il (علیہ السلام) . After that, when this Abrahimic structure collapsed during the age of Arab Jahiliyyah, the Quraysh of that period rebuilt it. When its construction work was in progress, Abu Talib along with the Holy Prophet ﷺ participated in it, which was before he was made prophet.
Here, Baytullah has been qualified as: مُحَرَّم (muharram) which means 'sanctified,' but could also mean 'protected.' The great Baytullah has both attributes. It has always been sanctified and esteemed, and always protected from enemies as well.
4. The next statement: لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ (so that they may establish Salah) is significant in that it was the first prayer he made soon after mentioning the helplessness of his infant son and his mother. His prayer was that they be made particular and punctual in their obligation of Salah as due because Salah is a cumulative receptacle of everything good and blissful in life, mortal or eternal. This tells us that there can be no greater concern, or love or desire for the betterment of children than that they be made to become particular and punctual with their Salah. Finally, there is something here we should not miss to note. Though, Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) had left behind at that time and at that place only a mother and her child, but the prayer he made was in the plural form. This tells us that Sayyidna Ibrahim had come to know that this place will have a populated city of its own and the line of this child will flourish and go far in time. Therefore, he included all of them in his prayer.
5. In the next sentence: أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ (hearts of a number of people), the word: أَفْئِدَةً (afidah) is the plural of: فُوَاد) which means heart. Here, the word: 'afidah' has been introduced in its indefinite form along with the particle: مِن (min) which is used for reducing, dividing and portioning. Hence, the meaning is: 'make hearts of a number of people yearn to-wards them). Tafsir authority, Mujahid says: If this reductive particle was not there in this prayer, instead, said there would have been: أَفْئِدَةً النَّاسِ (hearts of the people), then, Muslims, non-Muslims, Jews, Christians, virtually people of the whole world from the East to West would have converged on Makkah, which would have become a cause of inconvenience for them. It was in view of this reality that Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) ، in his prayer, used the words: 'make hearts of a number of people yearn towards them.'
6. In the next sentence: وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ (and provide them with fruits), the word: الثَّمَرَاتِ (ath-thamarat) is the plural of: ثَمَرَۃ (thamrah) which means fruit. Customarily, they refer to fruits which are eaten. Given that sense of 'fruit,' the prayer would mean: 'provide them with all sorts of fruits to eat.'
However, ثَمَرَۃ thamrah or fruit is also used in the sense of outcome and produce which is more general than things edible. The outcome of everything beneficial can be called its thamrah or fruit. Thus, the fruits of industries would be their products. The fruit of a job or work would be the pay or wages received as a result. In a verse of Surah Al-Qasas, also used there is the expression ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ (fruits [ or produce ] of all things - 28:57). Here, instead of using the word: " شَجَرَ " (shajar : tree), what has been used is the word: شَيْءٍ (sha'ii : thing). Perhaps, this may be indicating that for these people Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) has not simply prayed for the provision of fruits to eat. Rather, the prayer he has made is for the end product of everything which includes the products and produce and use-worthy things of all kinds, and again, with earnest pleading and humble plaint alongwith the recounting of praises for Allah Ta’ ala, then, this would be a manner in which it can be strongly hoped that the prayer will be answered.