طه ٤٠
- إِذۡ ketika
- تَمۡشِيٓ berjalan
- أُخۡتُكَ saudara perempuanmu
- فَتَقُولُ maka/lalu ia berkata
- هَلۡ apakah
- أَدُلُّكُمۡ aku menunjukkan kepadamu
- عَلَىٰ atas
- مَن orang
- يَكۡفُلُهُۥۖ dia memeliharanya
- فَرَجَعۡنَٰكَ maka Kami mengembalikan kamu
- إِلَىٰٓ kepada
- أُمِّكَ ibumu
- كَيۡ supaya
- تَقَرَّ dingin
- عَيۡنُهَا matanya
- وَلَا dan tidak
- تَحۡزَنَۚ bersedih hati
- وَقَتَلۡتَ dan kamu membunuh
- نَفۡسٗا seseorang
- فَنَجَّيۡنَٰكَ maka Kami menyelamatkan kamu
- مِنَ dari
- ٱلۡغَمِّ kesusahan
- وَفَتَنَّـٰكَ dan Kami memberikan cobaan kepadamu
- فُتُونٗاۚ beberapa cobaan
- فَلَبِثۡتَ maka kamu tinggal
- سِنِينَ beberapa tahun
- فِيٓ dalam/diantara
- أَهۡلِ penduduk
- مَدۡيَنَ Madyan
- ثُمَّ kemudian
- جِئۡتَ kamu datang
- عَلَىٰ atas/menurut
- قَدَرٖ ketetapan waktu
- يَٰمُوسَىٰ wahai musa
(Yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga Fir'aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar dia senang dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seseorang,1 lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat); lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan,2 kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan,
Catatan kaki
1 Yang terbunuh adalah seorang bangsa Qibṭi yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil sebagaimana yang telah dikisahkan dalam Al-Qaṣaṣ (28) : 15. 514) Nabi Musa -'alaihissalām- datang ke negeri Madyan untuk melarikan diri, di sana dia dinikahkan oleh Nabi Syuaib -'alaihissalām- dengan salah seorang putrinya dan menetap beberapa tahun lamanya.
(Yaitu ketika) lafal Idz di sini bermakna Ta'lil (saudaramu yang perempuan berjalan) namanya Maryam untuk menyelidiki beritamu. Karena sesungguhnya Firaun dan keluarganya telah mendatangkan orang-orang perempuan yang menyusui, sedangkan kamu tidak mau menerima air susu seorang pun di antara mereka (lalu ia berkata, 'Bolehkah saya menunjukkan kepada kalian orang yang akan memeliharanya?') kemudian usulnya itu ternyata diperkenankan oleh keluarga Firaun, maka segera Maryam mendatangkan ibunya, lalu Nabi Musa mau menerima air susunya. (Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya) karena bertemu kembali denganmu (dan tidak berduka cita) sejak saat itu. (Dan kamu pernah membunuh seorang manusia) yaitu seorang bangsa Qibti di Mesir. Maka kamu merasa susah dan khawatir setelah membunuh orang itu terhadap pembalasan raja Firaun (lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan) Kami telah mengujimu dengan beberapa cobaan selain dari peristiwa itu, kemudian Kami selamatkan pula kamu daripadanya (maka kamu tinggal beberapa tahun) yakni selama sepuluh tahun (di antara penduduk Madyan) sesudah kamu datang ke tempat itu dari negeri Mesir, yaitu kamu tinggal di tempat Nabi Syuaib yang kemudian ia mengawinkanmu dengan putrinya (kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan) di dalam ilmu-Ku dengan membawa risalah, yaitu dalam usia empat puluh tahun (hai Musa!).
Tafsir Surat Taha: 40-44
Maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan, hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku. Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.
Ayat 40
Allah berfirman kepada Musa, bahwa sesungguhnya dia akan bermukim di tengah-tengah penduduk Madyan setelah melarikan diri dari kejaran Fir'aun dan para pembantunya. Selama itu ia menggembalakan ternak mertuanya sehingga masa kerjanya habis dan kontrak kerjanya selesai.
Kemudian Musa datang sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh takdir dan kehendak Allah tanpa ada perjanjian terlebih dahulu; segala sesuatu itu berjalan atas kehendak Allah ﷻ. Dialah Yang Mengatur dan Menjalankan urusan hamba-hamba-Nya dan hal ikhwal makhluk-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya. Untuk itulah disebutkan oleh firman-Nya:
“Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan, hai Musa.” (Thaha: 40)
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah menurut janji yang ditetapkan.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: “Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan, hai Musa.” (Thaha: 40) Bahwa makna yang dimaksud ialah sesuai dengan waktu penetapan pengangkatan kerasulan dan kenabian.
Ayat 41
Firman Allah ﷻ: “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” (Thaha: 41)
Yakni Aku telah mengangkat dan memilihmu menjadi seorang rasul menurut apa yang Kukehendaki dan apa yang Kusukai.
Imam Bukhari sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan: Telah menceritakan kepada kami As-Silt ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Mahdi ibnu Maimun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang bersabda: Adam berjumpa dengan Musa. Musa berkata, "Engkaulah orang yang menyengsarakan manusia dan yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga.” Adam menjawab, "Engkaulah orang yang dipilih oleh Allah untuk membawa risalah-Nya dan memilihmu untuk diri-Nya (dekat dengan-Nya) serta menurunkan kepadamu kitab Taurat." Musa berkata, "Ya.” Adam berkata, "Aku telah menjumpai hal itu telah tercatat (di Lauh Mahfuz) untukku sebelum Allah menciptakan aku.” Musa menjawab, "Ya.” Akhirnya Adam dapat mengalahkan Musa dalam debatnya.
Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Ayat 42
Firman Allah ﷻ: “Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku.” (Thaha: 42)
Yaitu dengan membawa hujah-hujah-Ku, bukti-bukti, dan mukjizat-mukjizat dari-Ku.
“Dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.” (Thaha: 42)
Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kamu berdua terlambat.
Menurut Mu jahid, dari Ibnu Abbas, artinya janganlah kamu berdua lemah. Makna yang dimaksud ialah bahwa keduanya diperintahkan oleh Allah untuk terus-menerus mengingat Allah; bahkan di kala mereka berdua menghadapi Fir'aun, harus tetap ingat kepada Allah.
Dimaksudkan agar mengingat Allah supaya dapat membantu keduanya menghadapi Fir'aun dan menjadi kekuatan bagi keduanya serta menjadi pengaruh yang dapat mematahkan Fir'aun, seperti yang telah disebutkan dalam hadis berikut: “Sesungguhnya hamba-Ku yang sebenar-benarnya ialah seseorang yang selalu mengingat-Ku saat dia sedang melaksanakan tugasnya.”
Ayat 43
Firman Allah ﷻ: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melewati batas.” (Thaha: 43)
Yaitu membangkang, berlaku sewenang-wenang, dan melampaui batas terhadap Allah serta durhaka kepada-Nya.
Ayat 44
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)
Ayat ini mengandung pelajaran yang penting, yaitu sekalipun Fir'aun adalah orang yang sangat membangkang dan sangat takabur, sedangkan Musa adalah makhluk pilihan Allah saat itu, Musa tetap diperintahkan agar dalam menyampaikan risalah-Nya kepada Fir'aun memakai bahasa dan tutur kata yang lemah lembut dan sopan santun.
Seperti yang telah diterangkan oleh Yazid Ar-Raqqasyi saat menafsirkan firman-Nya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (Thaha: 44) Ia mengemukakan perkataan seorang penyair seperti berikut: “Wahai orang yang bertutur lemah lembut kepada orang yang memusuhinya, maka bagaimanakah ia bertutur kata dengan orang yang menyukai dan mendambakannya (yakni tak terbayangkan kelembutan tutur katanya)?”
Wahb ibnu Munabbih telah mengatakan sehubungan dengan pengertian ini, "Sesungguhnya aku lebih banyak memaafkan dan mengampuninya daripada marah dan menghukumnya."
Dari Ikrimah, telah disebutkan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (Thaha: 44) Yakni ucapan "Tidak ada Tuhan selain Allah".
Amr ibnu Ubaid telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna firman-Nya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (Thaha: 44) Yaitu Musa diperintahkan untuk menyampaikan kepada Fir'aun kalimat berikut, "Sesungguhnya engkau mempunyai Tuhan, dan engkau mempunyai tempat kembali, dan sesungguhnya di hadapanmu ada surga dan neraka."
Baqiyyah telah meriwayatkan dari Ali ibnu Harun, dari seorang lelaki, dari Ad-Dahhak ibnu Muzahim, dari An-Nizal ibnu Sabrah, dari Ali sehubungan dengan makna firman-Nya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (Thaha: 44) Bahwa yang dimaksud dengan layyinan ialah dengan kata-kata sindiran (bukan dengan kata-kata terus terang).
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, bahwa sebutlah dia dengan julukan Abu Murrah. Pada garis besarnya pendapat mereka menyimpulkan bahwa Musa dan Harun diperintahkan oleh Allah ﷻ agar dalam dakwahnya kepada Fir'aun memakai kata-kata yang lemah lembut, sopan santun, dan belas kasih. Dimaksudkan agar kesannya lebih mendalam dan lebih menggugah perasaan serta dapat membawa hasil yang positif. Seperti yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam ayat lain yang mengatakan: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)
Adapun firman Allah ﷻ: “Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)
Yakni barangkali saja Fir'aun sadar dari kesesatannya yang membinasakan dirinya itu, atau ia menjadi takut kepada Tuhannya, akhirnya ia mau taat kepada-Nya.
Seperti yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Al-Furqan: 62) Orang yang mau mengambil pelajaran akan sadar dan menghindari hal-hal yang terlarang, sedangkan rasa syukur ini timbul dari rasa takut kepada Allah dan sebagai ungkapan terima kasih kepada-Nya, akhirnya ia mengerjakan ketaatan kepada-Nya.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44) Yakni janganlah kamu berdua mendoakan kebinasaan untuknya sebelum kamu mengemukakan alasan (argumentasi)mu kepadanya.
Sehubungan dengan hal ini saya akan mengemukakan syair Zaid ibnu Amr ibnu Nufail yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, menyitir kata-kata Umayyah ibnu Abus Silt:
Engkaulah yang memberikan anugerah dan rahmat kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkau telah mengutus Musa sebagai rasul yang menyeru (Fir'aun untuk menyembah-Mu). Maka Engkau berfirman kepadanya, “Pergilah kamu beserta Harun, serulah Firaun untuk menyembah Allah, dia adalah orang yang melampaui batas. Katakanlah olehmu berdua kepadanya, 'Apakah engkau mampu menghamparkan bumi ini tanpa pasak sehingga ia dapat terhampar seperti sekarang?'
Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, 'Apakah kamu mampu meninggikan langit ini tanpa tiang penyangga? Kalau begitu, cobalah bangun olehmu sendiri'. Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, 'Apakah engkau yang menciptakan bintang-bintang yang bersinar bila malam hari sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman arah?’ Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, 'Siapakah yang menerbitkan matahari di pagi hari, sehingga tiada suatu belahan bumi pun yang terkena sinarnya melainkan tampak dengan jelas?'
Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, ‘Siapakah yang menumbuhkah biji-bijian di bumi, sehingga tumbuhlah tetumbuhan dengan pesatnya, lalu dikeluarkan pula dari pucuk tetumbuhan itu biji-bijian?’ Dalam semuanya itu terkandung tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang yang berakal.”
Berkatalah mereka berdua, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melewati batas.” Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun)
Wahai Nabi Musa, ingatlah ketika saudara perempuanmu berjalan di sekitar istana tempat engkau berada setelah dipungut dari sungai, untuk mencari berita tentang dirimu. Ketika ia tahu engkau enggan menyusu, lalu dia berkata kepada keluarga Fir'aun, 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan menyusui dan memeliharanya'' Mereka setuju, lalu saudaramu mengajak ibumu untuk menyusuimu. Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya karena dapat memeliharamu dan tidak bersedih hati karena jauh darimu. Dan ingatlah wahai Nabi Musa pada anugerah Kami yang lain, yaitu ketika engkau setelah menginjak dewasa pernah membunuh seseorang dari penduduk Mesir, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan yang menimpamu akibat pembunuhan itu. Kami keluarkan engkau dari Mesir dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan yang berat di tempat tinggalmu yang baru. Dengan rahmat Kami engkau berhasil mengatasinya, lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan dan menjadi menantu Nabi Syuaib. Kemudian saat ini engkau, wahai Nabi Musa, datang ke tempat ini menurut waktu yang telah ditetapkan oleh Allah. 41. Dan ketahuilah, wahai Nabi Musa, sungguh Aku telah memilihmu, memeliharamu, dan mempersiapkanmu untuk diri-Ku. Aku jadikan engkau nabi dan rasul-Ku untuk menyampaikan risalah-Ku kepada umatmu. '.
Ketika Musa berada di bawah asuhan keluarga Firaun, mereka sibuk mencari wanita yang akan menyusukannya. Setiap wanita yang telah ditunjuk untuk menyusukannya, Musa tidak mau menyusu kepadanya. Ini adalah satu petunjuk dari Allah :
Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu. (al-Qashash/28: 12)
Sebelum mereka menemukan perempuan yang Musa mau menyusu kepadanya, datanglah Maryam saudara perempuan Musa yang disuruh oleh ibunya mengikuti peti adiknya secara diam-diam dan menawarkan kepada keluarga Firaun perempuan yang akan menyusukan Musa dan mengasuhnya sebagaimana dikisahkan di dalam firman Allah:
"Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?" (al- Qashash/28: 12)
Tawaran Maryam itu diterima dengan baik oleh keluarga Firaun, maka didatangkanlah ibunya, yaitu ibu Musa sendiri, dan menyusulah Musa kepada ibunya. Dengan demikian Musa kembali diasuh oleh ibunya sendiri dan hilanglah kecemasan dan duka cita ibunya, bahkan alangkah senang hatinya memandang anaknya di dalam keadaan selamat, segar dan bugar. Ini adalah karunia yang keempat. Karunia yang kelima, yaitu ketika Musa memasuki negeri Manuf, negeri Firaun, di siang hari yang sedang sepi karena penduduknya sedang istirahat. Dilihatnya ada dua orang berkelahi, yang satu dari Bani Israil yaitu golongannya, dan yang satu lagi bangsa Kibti dari golongan Firaun, bahkan ia adalah tukang masak Firaun. Ketika Bani Israil itu minta tolong, Musa lalu meninju lawan musuh Bani Israil itu. Di luar dugaan, akibat dari tinju Musa, orang Kibti itu meninggal dunia. Atas kejadian yang tidak disengaja itu, Musa merasa cemas dan takut, sebagaimana dikisahkan di dalam firman Allah:
Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya). (al-Qashash/28: 18)
Ketika peristiwa itu diketahui Firaun, dia sangat marah dan berusaha membunuh Musa. Kemarahan dan niat jahat Firaun ini diberitahukan kepada Musa oleh seorang dari golongan Firaun yang telah beriman kepada Musa, maka pergilah Musa menghindar sampai ke negeri Madyan. Dengan demikian selamatlah ia dari penganiayaan Firaun. Musa tidak saja diselamatkan dari penganiayaan dan pembunuhan di dunia ini, tetapi juga selamat dari azab akhirat, karena dosa orang yang membunuh dengan tidak sengaja telah diampuni oleh Allah, atas doanya, sebagaimana dikisahkan Allah di dalam firman-Nya:
Dia (Musa) berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku." Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Qashash/28: 16)
Allah memberikan cobaan yang bertubi-tubi kepada Musa, untuk mengetahui sampai di mana ketahanan mental Musa, sebagaimana lazimnya seseorang yang dipersiapkan untuk menerima kerasulan dari Allah, tetapi semuanya itu dapat dilaluinya dengan selamat, seperti diselamatkannya Musa dari penyembelihan bayi secara masal atas perintah Firaun, diselamatkannya ketika ia hendak dibunuh oleh Firaun karena ia mencabut jenggot Firaun, Musa dibela oleh istri Firaun dengan alasan dia masih kecil, belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka redalah kemarahan Firaun dan selamatlah Musa dari pembunuhan Firaun dan berbagai cobaan lainnya. Ini karunia yang keenam.
Karunia ketujuh yaitu pelarian Musa ke Madyan, ia tinggal lama di sana, lebih kurang sepuluh tahun. Pada mulanya mengalami hidup yang pahit di tengah-tengah penduduk negeri Madyan, merasakan pedihnya hidup sebagai seorang pendatang yang membutuhkan banyak keperluan. Akhirnya terpaksa ia menjadi buruh, menggembalakan kambing mertuanya, untuk mendapat imbalan sekedarnya, guna menutupi keperluannya, yang kemudian dinikahkan dengan Safura putri Syekh Madyan. Demikianlah Musa, sampai ia mencapai umur yang telah ditentukan, tidak lebih dan tidak kurang untuk dijadikan rasul, yaitu ketika ia mencapai umur empat puluh tahun.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
ALLAH MEMPERINGATKAN NIKMAT NYA KEPADA MUSA
“Berfirman Allah: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonanmu itu, hai Musa."
(ayat 36)
Segala permintaanmu itu diperkenankan. Dadamu mulai sekarang dilapangkan, sehingga kesempitan hati dan tertumbuk pikiran tidak akan ada lagi. Segala pekerjaan dan urusanmu mulai sekarang dimudahkan, sehingga tidak akan menemui kesukaran lagi. Lidahmu yang terantuk-antuk ketika berkata-kata itu, mulai sekarang akan berangsur hilang, sehingga ketika berkata-kata tidak lagi akan tertegun-tegun. Dengan demikian orang-orang itu pun akan paham apa yang engkau maksudkan. Permohonanmu agar Harun saudaramu dijadikan pembantumu, tangan kananmu atau wazir penolongmu, untuk memperteguh memperkuat kedudukanmu, itu pun dikabulkan. Dan dengan tangan terbuka pula Allah menyambut janji Musa dengan Allah bahwa dia akan selalu banyak-banyak mengucapkan tasbih dan kesucian bagi Allah dan ingat dan selalu menyebut nama Allah, hingga Allah tidak tercerai dari hatinya di waktu mudah dan di waktu susah,
“Dan sesungguhnya Kami pun telah pernah menganugerahkan kepada engkau pada kali yang lain."
(ayat 37)
Yaitu bahwasanya dahulu dari ini telah berkali-kali nikmat dan pertolongan, Kami anugerahkan kepada engkau. Bukan sekali ini saja engkau akan Kami tolong, bahkan dahulu, sekarang dan nanti.
Lalu Allah memperingatkan rentetan pertolongan yang telah diberikan itu.
“Ketika Kami wahyukan kepada ibumu apa yang Kami wahyukan."
(ayat 38)
Maka tersebutlah di dalam catatan sejarah bahwa telah datang mimpi kepada Fir'aun yang amat ganjil dan menakutkan, yaitu bahwa singgasana kerajaannya ada orang yang hendak meruntuhnya. Ahli-ahli tenung menyatakan ta'bir dari mimpi itu, bahwasanya seorang anak laki-laki dari Bani Israil telah lahir ke dunia. Dan anak itulah kelak yang akan meruntuhkan kerajaan baginda. Maka timbullah rasa takut dan kengerian, karena Fir'aun dan orang besar-besarnya memang telah merasakan bahwa selama ini mereka hanya bersikap zalim aniaya saja kepada Bani Israil yang telah berkembang biak di negeri Mesir itu sejak berpindahnya Nabi Ya'qub ke negeri itu atas permintaan putranya yang bernama Yusuf, karena dia menjadi Menteri Besar dalam Kerajaan Mesir. Maka oleh karena sejak meninggalnya Yusuf kedudukan Bani Israil itu serta kemah di negeri Mesir, mereka pun diperbudak dan dihinakan oleh kaum Fir'aun. Dipandang sebagai manusia kelas hina yang tidak patut dibawa duduk sama rendah tegak sama tinggi. Maka ta'bir mimpi yang disampaikan ahli-ahli tenung itu sangatlah mencemaskan raja, sehingga dijatuhkan perintah membunuh segala anak laki-laki yang lahir pada tahun itu dari kalangan Bani Israil.
Lalu diperiksalah tiap rumah orang, diselidiki perempuan-perempuan yang mengandung. Dibunuhilah jika terdapat anak laki-laki dan dibiarkan hidup jika terdapat anak-anak perempuan. Maksudnya rupanya ialah hendak memusnahkan Bani Israil dengan keturunannya dan mengambil perempuan-perempuannya menjadi gundik atau budak, jika beranak akan menambah jumlah kaum suku Qubthi Fir'aun juga.
Maka Musa pun diiahirkan; anak laki-laki. Ibunya cemas kalau-kalau kelahiran anak ini diketahui oleh tukang-tukang periksa suruhan Fir'aun.
Sangatlah cemas dan takut ibu Musa jika giliran pemeriksaan sampai pula ke rumahnya. Sudah pastilah anak buah hatinya akan dibunuh di hadapannya sendiri. Di dalam kecemasan itulah Ibu Musa mendapat wahyu dari Allah, menyuruh sediakan sebuah peti dan masukkan anak itu ke dalamnya.
“Yaitu: Bahwa hendaklah engkau masukkan dia ke dalam peti, lalu tempatkanlah dia ke dalam sungai."
(pangkal ayat 39)
Sungai yang dimaksud itu ialah sungai Nil yang mengalir sejak beribu tahun. Di tepi sungai Nil yang telah mengalir beribu tahun itu, sejak dari zaman dahulu sampai kepada zaman sekarang; melalui zaman Fir'aun dengan berbagai dinasti raja-rajanya, sampai kekuasaan bangsa Yunani di zaman Iskandar Macedonia, sampai kepada kekuasaan Cleopatra, sampai pula kepada kekuasaan bangsa Romawi, kemudian bergilir dengan kekuasaan bangsa Arab, namun kedua belah tepi Sungai Nil itu telah menjadi medan kebudayaan. Di sana didirikan gedung-gedung yang indah menurut zamannya. Dan di pinggir sungai itulah Fir'aun-Fir'aun Mesir mendirikan istana-istana dan mahligai yang berbagai macam bentuk.
Maka pada waktu kemegahan Fir'aun itulah Musa lahir ke dunia ini. Dan karena bahaya yang mengancam nyawa anaknya itu ibu Musa sangat cemas. Dalam kecemasannya itulah wahyu turun, menyuruh masukkan anak itu ke dalam peti dan hanyutkan peti itu ke dalam Sungai Nil.
Di sini terdapatlah perselisihan pendapat di antara para ulama. Karena di ayat ini di-katakan bahwa Ibu Musa mendapat wahyu dari Allah timbullah perbincangan, apakah Ibu Musa itu nabi juga? Karena yang selalu didatangi wahyu adalah nabi dan rasul, tentunya ibu Musa ini seorang nabiyat juga. Memang ada beberapa ahli berpendapat bahwa Ibu Musa dan Maryam Ibu Isa al-Masih, keduanya nabiyat. Golongan ini menetapkanlah bahwa dua kalimat wahyu.
“Maka Dia wahyukan kepada ibumu apa yang Dia wahyukan." Berartilah menurut asalnya, yaitu wahyu. Terutama karena ada satu riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa beliau menafsirkan, “Diwahyukan kepada Ibu Musa itu pada yang Dia wahyukan, ialah wahyu se-bagaimana yang diwahyukan kepada Nabi-nabi juga."
Tetapi pihak yang tidak berpendapat bahwa perempuan ada yang menjadi nabi, mengartikan wahyu di sini ialah ilham. Dan alasan mereka pun kuat. Karena di dalam surah an-Nahl (Lebah) ayat 68 tersebut pula kalimat wahyu:
“Dan telah mewahyukan Tuhan engkau kepada lebah, supaya ambillah dari gunung-gunung akan rumah dan dari pohon-pohon dan dari apa yang mereka diami (rumah-rumah)." (an-Nahl: 68)
Di sini jelas dipakai perkataan wahyu. Padahal bukanlah berarti bahwa lebah pun mendapat wahyu sebagai yang biasa dihantarkan oleh Malaikat jibril kepada nabi-nabi. Sebab itu maka kalimat wahyu yang kepada lebah ini bisa diartikan dengan naluri, atau insting, dan yang kepada Ibu Musa bisa diartikan semacam ilham dari Allah.
Setelah itu datanglah lanjutan ayat, yaitu sesudah Ibu Musa mendapat wahyu atau ilham."Maka sungai itu akan melemparkannya ke tepi." Maka tersebutlah bahwa sungai Nil mengalir terus dan peti yang dihanyutkan itu telah turut hanyut bersama aliran sungai, sampailah peti itu di muka berombong galian air yang menjurus ke dalam pekarangan taman tempat mandi-mandi putri-putri istana bersama dayang-dayang dan inang pengasuh. Dan di pinggir taman dan tempat mandi-mandi itu tumbuh dengan suburnya pohon-pohon kayu yang melindunginya.
Ketika itu Fir'aun dan permaisurinya Asiah sedang duduk berlindung makan angin di tepi kolam itu. Lalu mereka melihat peti hanyut. Artinya ditarik Allah matanya buat memerhatikan peti yang hanyut itu. Maka kelihatanlah isinya. Kelihatanlah seorang anak bayi yang masih kecil, badannya sehat tengah tertidur dengan enaknya. Lalu diperintahkannya segera mengambilnya. Setelah diambil orang lalu disembahkan ke hadapan baginda. Kelihatanlah seorang anak kecil yang cantik molek."Supaya diambil oleh musuh bagi-Ku dan musuh baginya." Musuh bagi-Ku, ialah musuh Allah dan musuh baginya, ialah bagi Musa itu sendiri. Sejak dan masa masih dalam peti itu sudahlah dinyatakan Allah dalam ilhamnya kepada ibunya bahwa orang yang akan memungutnya kelak itulah tujuan perjuangan Musa di belakang hari, sehingga rasa kecemasan hati Ibu Musa telah diredakan oleh Allah."Dan Aku pun telah melimpahkan kepada engkau kasih sayang dari-Ku sendiri." Artinya bahwa Tuhan memperingatkan kepada Musa bahwa sejak dia lahir ke dunia telah ditanamkan ke atas diri Musa, langsung anugerah dari Allah, timbul saja kasih sayang bagi barangsiapa yang melihatnya.
Ibnu Abbas berkata, “Dicintai dia oleh Allah dan ditimbulkan cinta terhadapnya dalam hati makhluk Allah"
Ibnu Athiyah menafsirkan, “Di mata Musa itu ada suatu sorot yang manis, sehingga orang yang melihatnya terus tertarik dan terus timbul kerinduan."
Tafsir Ikrimah, “Wajahmu menyinarkan suatu keindahan, sehingga barangsiapa yang melihat akan terpesona."
Lalu dijelaskan oleh lbnu Zaid, “Aku jadikan orang yang baru sekali melihat engkau, langsung tertarik dan cinta kepada engkau, sehingga Fir'aun pun cinta kepada engkau yang menyebabkan engkau terlepas dari niat jahatnya, dan jatuh cinta pula istrinya yang bernama Asiah itu kepada engkau, sehingga engkau diangkatnya menjadi anaknya."
“Dan supaya dibentuklah dirimu di hadapan mata-Ku sendiri."
(ujung ayat 39)
Di ujung ayat ini dijelaskanlah bahwasanya pemeliharaan diri Musa itu, pengasuhannya, sampai dia bertumbuh sejak kecil masih bayi sampai besarnya dan dewasa, adalah di bawah penjagaan dan tilikan mata Allah sendiri.
Meskipun kita maklum bahwa sesungguhnya segala makhluk ini bertumbuh sejak kecil budak-budak, sampai besar, bahkan sampai tua, sampai mati tidaklah pernah terlepas daripada tilikan Allah, namun bagi nabi-nabi dan rasul-rasul yang akan diutus Allah menjadi pemimpin bagi isi dunia ini niscayatah diistimewakan. Dan keistimewaan itu jelas sekali dapat kita ikuti dalam jejak sejarah Nabi Musa itu.
Perhatikanlah lanjutan ayat,
“Ketika saudara perempuanmu benjolan, lalu dia berkata: Sudikah kalian aku tunjukkan atas orang yang akan mengasuhnya."
(pangkal ayat 40)
Penjelasannya ialah demikian."Setelah Musa dimasukkan oleh ibunya ke dalam peti itu atas wahyu yang diberikan Allah, lalu di-hanyutkannya di dalam sungai Nil, disuruhnya anak perempuannya, kakak dari Musa mengiringkan dari jauh, berjalan seorang diri di tepi Sungai Nil, melihatkan ke manakah adik kandungnya yang belum berapa lama lahir ke dunia itu akan dibawa air. Bagaimanakah agaknya nasib adik yang malang itu. Maka dilihatnya dari jauh ketika peti itu dibawa oleh air melalui simpang galian air yang menuju ke dalam kolam tempat mandi di dalam taman istana raja yang indah dan dilindungi kayu-kayuan yang subur itu.
Menurut satu riwayat yang lain, yang mendapat peti itu bukanlah Fir'aun yang sedang duduk-duduk berangin-angin dengan permaisurinya Asiah itu, sebagaimana yang diceritakan di atas tadi. Menurut riwayat yang sebuah lagi, anak perempuan Fir'aun sedang mandi-mandi di kolam tempat berenang itu dan dia ditimpa penyakit kulit, lalu dia melihat peti dihanyutkan air ke dekat dia sedang mandi berlindung di bawah pohon kayu yang rindang dan bayangannya melindungi air. Kata riwayat itu, peti langsung dibukanya, lalu kelihatan anak kecil yang menangis; baru saja disentuhnya sedikit, sakit kulitnya sembuh.
Ada lagi riwayat lain bahwa mereka melihatnya bersama-sama. Dayang-dayang dan inang-inang pengasuh istana berkerumun melihat peti itu. Dicoba membuka tidak terbuka. Lalu Asiah mendekat, dan tangannyalah yang dapat membuka peti itu dan dialah yang mula-mula melihat wajah anak cantik jelita itu sedang tidur dengan nyenyaknya. Cahaya memancar dari antara kedua belah matanya, dia sedang mencucut ibu jarinya karena haus hendak menyusu.
Di dalam ayat 9 dan surah al-Qashashas diulangkan Allah bagaimana ucapan Asiah setelah melihat wajah anak yang menarik hati itu."Dia adalah biji mata bagiku dan bagimu," katanya kepada Fir'aun, suaminya. Dan diharapkannya kepada suaminya agar anak ini jangan dibunuh! Tandanya mereka telah paham bahwa anak itu tentu dari Bani Israil yang sengaja dihanyutkan. Kalau tidak tentulah Asiah tidak memohon kepada suaminya agar anak ini jangan dibunuh.
Anak itu pun tersentaklah dari tidurnya; mungkin karena diperkerumunkan orang. Menurut riwayat dari Abusy-Syekh yang diterimanya dari lbnu Abbas, waktu itulah anak itu langsung diberi nama: Musa. Musa itu adalah bahasa Qubthi, terdiri dari dua kalimat: Mu dan Sa. Mu artinya air, dan Sa artinya pohon kayu. Karena dia didapat dalam peti dibawa hanyut oleh air, di bawah naungan pohon yang rindang.
Nama itulah yang lekat untuk selama-lamanya.
Dalam orang berkumpul melihat kelucuan anak kecil yang murtgil dan lucu dan dia mulai menangis meminta disusukan, maka ada di antara dayang itu yang mencoba menyusukan, namun anak itu tidak mau mencucutnya, dia tetap menangis. Itulah yang dijelaskan Allah pada ayat 12 surah al-Qashashas: cegah atasnya penyusuan perempuan yang mau menyusukan. Di waktu itu saudara perempuannya atau kakaknya ada di sana. Dalam orang kebingungan karena anak itu tidak mau mencucut susu siapa pun yang ada di situ, kakak perempuannya itu bertanya, “Sudikah kalian aku tunjukkan atas orang yang akan mengasuhnya?"
Menurut satu riwayat dari lbnu Abbas demikian dinukilkan oleh al-Qurthubi di dalam tafsirnya—sedang orang-orang itu kebingungan karena anak kecil itu tidak mau menyusu, tampillah saudara perempuannya itu ke muka. Dia permisi mengambil adiknya, meskipun seorang pun tidak ada yang tahu bahwa itu kakaknya. Diambilnya anak itu dan setelah dalam pangkuan kakaknya dia berhenti menangis. .Lalu dikeluarkannya susunya dan disusukannya. Anak itu mau menyusu. Tetapi susu kakaknya tidak berair. Waktu itulah dia menyebut, kalau-kalau orang-orang istana itu suka dia carikan orang yang akan menyusukan anak itu, Asiah bertanya, “Siapa?'' Anak perempuan itu menjawab, ibuku sendiri. Karena ada abang anak ini yang lebih tua, belum berhenti menyusu, tua dari anak itu satu tahun, bernama Harun."
Karena orang tidak sampai hati mendengar tangis anak itu kehausan dan dia tidak mau menyusu dengan orang lain, dengan tidak sempat berpikir panjang diturutilah anjuran anak perempuan itu. Ibu Musa dipanggil."Lalu Kami kembalikanlah engkau kepada ibumu, agar senanglah hatinya dan tidak dia berdukacita lagi." Dan sejak itu hiduplah Musa kembali dalam asuhan ibunya, dan tidaklah cukup satu hari dia tercerai dengan ibunya, dan tidaklah si ibu sampai bersedih hati lama karena anaknya terpaksa dihanyutkannya di dalam sungai.
Di ujung ayat 39 tadi telah difirmankan oleh Allah."Dan supaya dibentuklah dirimu di hadapan mata-Ku sendiri." Disebut dalam ayat ini li tush-na'a ‘ala ‘aini. Tush-na'a, kita artikan dibentuk. Atau dibikin atau dibuat. Tegasnya dengan rentetan perasaian yang demikian rupalah pribadi Musa itu dibentuk oleh Allah. Raja memerintahkan membunuh seluruh kanak-kanak Bani Israil, tetapi Allah sendiri yang menakdirkan mengantarkan anak itu ke dalam pangkuan Fir'aun, ke dalam istananya yang mewah; dan ibu kandungnya pula yang menyusukannya, sehingga tidak masuk ke dalam dirinya, atau tidaklah dia dibesarkan dengan air susu orang lain, sampai dia dewasa dalam istana itu menjadi anak emas, anak angkat, anak kesayangan dari permaisuri sendiri. Alangkah ajaibnya kehendak Allah. Padahal ibu kandungnya yang mengasuhnya, dan belanja mengasuh anak kandung itu dibayar secukupnya oleh Fir'aun sendiri dan istrinya. Tegasnya bahwa anak yang ditakuti akan meruntuhkan kekuasaannya itu, Fir'aun sendiri yang mengasuhnya sampai dewasa,
“Lalu engkau bunuh satu orang." Di daiam surah al-Qashashas ayat 14 dan 15 lebih jelas lagi diuraikan sebab-sebab maka sampai Musa membunuh orang. Yaitu setelah dia dewasa dan sempurna akalnya dia pun berjalan-jalan keluar istana, sampai masuk ke tengah kota. Didapatinya dua orang tengah berkelahi. Yang seorang adalah dari kaumnya. Bani Israil. Lawannya berkelahi dari kalangan musuhnya bangsa Qibthi yang memperbudak kaumnya selama ini. Ibu kandungnya yang mengasuhnya dalam istana telah selalu memberitahu kepadanya tentang nasib kaumnya dalam tindasan kaum Qibthi, kaum Fir'aun selama ini. Orang yang dari kaumnya itu meminta tolong kepadanya, karena dia telah terdesak. Lalu dipukul oleh Musa orang yang dari kaum persukuan Raja Fir'aun itu. Dipukulnya orang itu sekali pukul, orang itu pun tersungkur mati. Padahal sengaja Musa bukanlah hendak membunuh, tetapi pukulan tangannya adalah teramat kuat, sehingga dia pun menyesal dan insaf bahwa itu adalah dari perdayaan setan belaka.
Kata Ka'ab usia Musa ketika itu baru 12 tahun! Sebuah hadits yang dirawikan oleh Muslim menyatakan bahwa Musa bukan sengaja membunuh. Dia sendiri pun tidak menyangka bahwa bekas tangannya akan berkesan sekeras itu.
Dalam ayat selanjutnya di surah al-Qashashas yang kelak akan kita dapati lagi ketika menafsirkannya pada juz 20, besok paginya nyaris lagi Musa memukul orang. Dan orang di kota telah ribut karena orang dipukulnya itu. Maka datanglah seseorang dari kota memberitahukan bahwa orang sedang berkumpul-kumpul hendak menangkapnya. Dia suruh lari meninggalkan Mesir. Maka segeralah Musa meninggalkan Mesir menuju ke negeri Madyan. Maka tersebutlah pada lanjutan ayat “Maka Kami lepaskan engkau dari kesusahankarena telah sampai di negeri Madyan, lalu bertemu dengan seorang yang baik hati, memungutnya menjadi menantu, dikawinkan dengan putrinya, dengan membayar mas kawin dengan tenaga, yaitu menggembalakan kambing selama delapan atau sepuluh tahun."Dan Kami coba engkau dengan berbagai cobaan." Itulah Allah menyebut berbagai cobaan itu; dilahirkan di zaman Fir'aun mengeluarkan perintah membunuhi kanak-kanak Bani Israil, dihanyutkan dalam Sungai Nil, turut berkelahi, sampai terlanjur membunuh orang, jadi penggembala pembayar mahar."Lalu tinggallah engkau beberapa tahun di antara penduduk Madyan." Menggembalakan kambing pembayar mahar menurut janji yang telah diikat dengan mertuanya. Maka selama memenuhi janji itu banyaklah Musa belajar dari pengalaman hidup, umpamanya kesabaran sebagai seorang penggembala, ketekunan mengurus anak dan istri, pergaulan berbaik-baik dengan mertua.
“Kemudian engkau pun datang menurut waktu yang telah ditentukan, hai Musa!"
(ujung ayat 40)
Maka dijelaskanlah ujung ayat ini bahwasanya kedatangan Musa sekarang ini adalah suatu ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Temponya buat menggembala di Madyan sudah habis dan sekarang sudah datang tugas baru, yaitu meninggalkan Madyan dan pulang kembali ke Mesir untuk menghadapi suatu kewajiban yang amat berat.
Tetapi pada ayat selanjutnya Allah berfirman, bahwasanya Musa memang disediakan buat menghadapi tugas itu.
“Dan Aku perbuat engkau untuk diri-Ku."
(ayat 41)
Tadi di ujung ayat 40, Allah telah menyatakan bahwa kedatangan Musa ke atas tempat Thuwa sekarang ini adalah menurut ukuran qadar yang telah ditentukan, atau suatu program yang telah diatur oleh Allah sendiri sejak semula. Di ujung ayat 29 tadi Allah telah menjelaskan bahwa Musa itu dibentuk dihadapan mata Allah sendiri. Sekarang Allah jelaskan lagi, bahwa Musa dibentuk atau diperbuatnya dengan kepribadian demikian rupa, ialah karena Allah sendiri akan mempergunakannya. Segala cobaan dan pengalaman yang telah ditemui Musa dalam hidupnya lain tidak adalah untuk menyempurnakan pertumbuhan sebagai seorang rasul Allah. Pengakuan Allah kepada hamba-Nya yang di-pilih-Nya inilah adalah satu penghargaan dan penghormatan teramat tinggi yang hanya diberikan dengan terus terang beberapa orang rasul saja, meskipun rasul yang lain ditempa Allah pribadinya, memang untuk keperluan Allah juga. Kata hampir serupa dengan demikian jualah yang diucapkan Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir Muhammad ﷺ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (al-Qalam: 4)
banyak, sehingga tidak akan ragu-ragu lagi. Musa yang telah diperbuat Allah pribadinya untuk keperluan Allah itu diberi pula pembantu yang keduanya disamakan haknya, meskipun kata putus ada di tangan Musa: Berangkatlah!
“Dan jangan kamu keduanya talai dalam mengingat-Ku."
(ujung ayat 42)
Inilah pedoman hidup yang diberikan Allah kepada Musa dan Harun dalam menghadapi tugas, bagaimanapun beratnya, janganlah lalai mengingat Allah. Karena ingat kepada Allah itulah yang selalu memberikan kekuatan bagi jiwa. Dan untuk yang datang kemudian ini, yang melalui jalan yang telah digariskan oleh para Nabi, berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan di atas dunia yang penuh dengan tipu daya ini, sekali-kali janganlah lalai dari mengingat Allah. Bebaskan jiwa dari Alam, kembalikan dia kepada Musa Pencipta Alam, niscaya akan menitislah ke dalam diri kekuatan dari Yang Mahakuat, Mahaperkasa itu.
Inilah satu pujian yang sangat pula besarnya bagi diri Musa untuk membangkitkannya naik, untuk menghilangkan keraguannya dan untuk menimbulkan keberaniannya menghadapi seorang raja yang demikian sombong sampai mengakui dirinya sebagai Allah. Maka berfirmanlah Allah selanjutnya,
“Pergilah engkau dan saudara engkau dengan ayat-ayat-Ku"
(ayat 42)
Glad Tidings of the acceptance of Musa's Supplication and the Reminder of the Previous Blessings
Allah tells,
قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُوْلَكَ يَا مُوسَى
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَى
إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى
أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ
(Allah) said:You are granted your request, O Musa! And indeed We conferred a favor on you another time (before).When We inspired your mother with that which We inspired. Saying:`Put him (the child) into the Tabut and put it into the river; then the river shall cast it up on the bank,
This is a response from Allah to His Messenger, Musa, for what he requested from His Lord. It also contains a reminder of Allah's previous favors upon him.
The first was inspiring his mother when she was breastfeeding him and she feared that Fir`awn and his chiefs would kill him.
Musa was born during a year in which they (Fir`awn's people) were killing all of the male children. So she placed him in a case and cast him into the river. The river carried him away and she became grieved and distressed, as Allah mentioned about her when He said,
وَأَصْبَحَ فُوَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغاً إِن كَادَتْ لَتُبْدِى بِهِ لَوْلا أَن رَّبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا
And the heart of the mother of Musa became empty. She was very near to disclose his (case) had We not strengthened her heart. (28:10)
So the river carried him to the home of Fir`awn.
فَالْتَقَطَهُ ءَالُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوّاً وَحَزَناً
Then the people of Fir`awn picked him up, that he might become for them an enemy and a (cause of) grief. (28:8)
Means that this was a destined matter, decreed by Allah.
They were killing the male children of the Israelites for fear of Musa's arrival. Therefore, with Allah having the great authority and the most perfect power, He determined that Musa would not be raised except upon Fir`awn's own bed. He would be sustained by Fir`awn's food and drink, while receiving the love of Fir`awn and his wife.
This is why Allah said,
يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّي وَعَدُوٌّ لَّهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي
and there, an enemy of Mine and an enemy of his shall take him. And I endued you with love from Me,
This means that I made your enemy love you.
Salamah bin Kuhayl said,
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي
(And I endued you with love from Me),
This means, `I made My creatures love you.'
وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي
in order that you may be brought up under My Eye.
Abu `Imran Al-Jawni said,
This means, `You will be raised under Allah's Eye.'
Concerning Allah's statement,
إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَن يَكْفُلُهُ فَرَجَعْنَاكَ إِلَى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا
When your sister went and said:`Shall I show you one who will nurse him!' So We restored you to your mother, that she might cool her eyes.
When he was accepted into the house of Fir`awn, women were brought in attempts to find someone who might be able to nurse him. But he refused to breast feed from any of them.
Allah, the Exalted, says,
وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ
And We had already forbidden (other) foster suckling mothers for him. (28:12)
Then, his sister came and said,
هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَـصِحُونَ
Shall I direct you to a household who will rear him for you, and look after him in a good manner. (28:12)
She meant, Shall I guide you to someone who can nurse him for you for a fee.
So she took him and they went with her to his real mother. When her breast was presented to him, he took it and they (Fir`awn's family) were extremely happy for this. Thus, they hired her to nurse him and she achieved great happiness and comfort because of him, in this life and even more so in the Hereafter.
Allah, the Exalted, says here,
فَرَجَعْنَاكَ إِلَى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا
وَلَا تَحْزَنَ
So We restored you to your mother, that she might cool her eyes and she should not grieve.
This means that she should not grieve over you.
وَقَتَلْتَ نَفْسًا
Then you killed man,
This means that he killed a Coptic person (the people of Egypt, Fir`awn's people).
فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ
but We saved you from great distress,
This is what he was feeling due to Fir`awn's family intending to kill him. So he fled from them until he came to the water of the people of Madyan.
This is when the righteous man said to him,
لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّـلِمِينَ
Fear you not. You have escaped from the people who are wrongdoers. (28:25)
Choosing Musa to go to Fir`awn and to be Soft and Gentle in His Invitation
Then Allah says,
وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِيْتَ عَلَى قَدَرٍ يَا مُوسَى
Then you stayed a number of years with the people of Madyan. Then you came here according to the fixed term which I ordained (for you), O Musa!
Allah, the Exalted, says in His address to Musa that he had lived among the people of Madyan, avoiding Fir`awn and his chiefs. He worked as a shepherd for his father-in-law until the appointed time for his work ended. Then he met the decree of Allah and His predetermined will, without him having any set appointment. This entire situation was under the control of Allah, Blessed be He, the Most High. He compels His servants and His creatures to whatever end He wills.
This is why Allah says,
ثُمَّ جِيْتَ عَلَى قَدَرٍ يَا مُوسَى
(Then You came here according to the fixed term which I ordained (for you), O Musa!),
Mujahid said,
For a set appointment.
Abdur-Razzaq recorded that Ma`mar reported from Qatadah that he said,
ثُمَّ جِيْتَ عَلَى قَدَرٍ يَا مُوسَى
(Then You came here according to the fixed term which I ordained (for you), O Musa!),
For the decree of Messengership and Prophethood.
Concerning Allah's statement,
وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي
And I have chosen you for Myself.
This means, I have chosen you and selected you to be a Messenger for Myself. This is as I wish and according to My will.
Concerning the Tafsir of this Ayah, Al-Bukhari recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
الْتَقَى ادَمُ وَمُوسَى فَقَالَ مُوسَى أَنْتَ الَّذِي أَشْقَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ
فَقَالَ ادَمُ وَأَنْتَ الَّذِي اصْطَفَاكَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ
قَالَ نَعَمْ
قَالَ فَوَجَدْتَهُ مَكْتُوبًا عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي
قَالَ نَعَمْ
فَحَجَّ ادَمُ مُوسَى
Adam and Musa met, and Musa said, You are the one who made things difficult for mankind and you caused them to be evicted from Paradise.
Adam said, Are you the one whom Allah chose for His Message, and He selected you for Himself and He revealed the Tawrah to you?
Musa replied, Yes.
Then Adam said, Did you find that it was preordained upon me before He (Allah) created me?
Musa replied, Yes.
Therefore, Adam defeated Musa's argument.
Both Al-Bukhari and Muslim recorded this narration.
Concerning Allah's statement
اذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِأيَاتِي
Go you and your brother with My Ayat,
This means with My proofs, evidences and miracles.
وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي
And do not, you both, slacken and become weak in My remembrance.
Ali bin Abi Talhah related from Ibn Abbas that he said,
This means do not be slow.
Mujahid reported that Ibn Abbas said,
This means do not be weak.
The meaning here is that they should not slacken in the remembrance of Allah. Rather, they both should remember Allah during their meeting with Fir`awn so that the remembrance of Allah can be an aid for them against him. The remembrance of Allah would be their strength and their power that would defeat him.
Allah's statement;
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
Go both of you to Fir`awn, Verily, he has transgressed.
means that he has rebelled and become haughty and insolent against Allah and he has disobeyed Him.
فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
And speak to him mildly, perhaps he may accept admonition or fear (Allah).
This Ayah contains a great lesson. Even though Fir`awn was the most insolent and arrogant of people and Musa was the friend of Allah among His creation at that time, Musa was still commanded to speak to Fir`awn with mildness and softness. Therefore, their invitation to him was with gentle, soft and easy speech that is used by one who is a close friend. This is so that the message may have more effect on the souls, and so it would have deeper and more beneficial results.
This is as Allah, the Exalted, says,
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـدِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
Invite (mankind) to the way of your Lord with wisdom and fair preaching, and argue with them in a way that is better. (16:125)
Concerning Allah's statement,
لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
perhaps he may accept admonition or fear (Allah).
This means that perhaps he will recant from that which he is in of misguidance and destruction,
أَوْ يَخْشَى
(or he will fear), meaning that he will become obedient due to fear of Allah.
This is as Allah says,
لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوراً
For such who desires to remember or desires to show his gratitude. (25:62)
Thus, to remember means to recant from that which is dangerous, and fear means to attain obedience
Musa's fear of Fir`awn and Allah's strengthening Him
Allah, the Exalted, informs that Musa and Harun pleaded to Allah, expressing their grievance to him:
قَالَاا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَن يَطْغَى
Both of them said:Verily, we fear lest he should hasten to punish us or lest he should transgress.
They meant that Fir`awn might seize them unexpectedly with a punishment, or transgress against them by tormenting them, when they actually did not deserve it.
Ad-Dahhak reported from Ibn Abbas that he said that;
transgress here means, To exceed the bounds.
قَالَ لَاا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
He (Allah) said:Fear not, verily, I am with you both, hearing and seeing.
meaning; Do not fear him (Fir`awn), for verily, I am with you and I hear your speech and his speech as well. I see your place and I see his place as well. Nothing is hidden from Me of your affair. Know that his forehead is in My Hand, and he does not speak, breathe, or use any force, except by My leave and after My command. I am with you by My protection, My help and My support.
فَأْتِيَاهُ فَقُولَاأ إِنَّا رَسُولَاأ رَبِّكَ
So go you both to him, and say:Verily, we are both Messengers of your Lord...
فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَايِيلَ وَلَاأ تُعَذِّبْهُمْ
so let the Children of Israel go with us, and torment them not;
Musa admonishes Fir`awn
Concerning his statement,
قَدْ جِيْنَاكَ بِأيَةٍ مِّن رَّبِّكَ
indeed, We have come with a sign from your Lord!
meaning with evidence and a miracle from your Lord.
وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى
And peace will be upon him who follows the guidance!
meaning, `peace be upon you if you follow the guidance.'
Because of this, when the Messenger of Allah wrote a letter to Heraclius, the emperor of Rome, beginning with,
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ
سَلَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدى أَمَّا بَعْدُ
فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الاْإِسْلَإمِ فَأَسْلِمْ تَسْلَمْ يُوْتِكَ اللهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْن
In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.
From Muhammad, the Messenger of Allah, to Heraclius the emperor of Rome.
Peace be upon him who follows the guidance. Thus, to proceed:
Verily, I invite you with the invitation of Islam. So accept Islam and you will be safe, and Allah will give you a double reward.
Due to this, Musa and Harun said to Fir`awn,
وَالسَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى
إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَن كَذَّبَ وَتَوَلَّى
And peace will be upon him who follows the guidance! Truly, it has been revealed to us that the torment will be for him who denies, and turns away.
In His flawless revelation, Allah has revealed to us that torment is prepared exclusively for those who reject the signs of Allah and turn away from His obedience.
As Allah says,
فَأَمَّا مَن طَغَى
وَءاثَرَ الْحَيَوةَ الدُّنْيَا
فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِىَ الْمَأْوَى
Then for him who transgressed all bounds, and preferred the life of this world, Verily, his abode will be Hellfire. (79:37-39)
Allah, the Exalted, also says,
فَأَنذَرْتُكُمْ نَاراً تَلَظَّى
لَا يَصْلَـهَأ إِلااَّ الااٌّشْقَى
الَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّى
Therefore I have warned you of a blazing Fire. None shall enter it save the most wretched. Who denies and turns away. (92:14-16)
Allah also says,
فَلَ صَدَّقَ وَلَا صَلَّى
وَلَـكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّى
So he neither believed nor prayed! But on the contrary, he belied and turned away. (75:31-32)
This means that he denied with his heart and turned away by his actions.
When (idh, for explanation) your sister, Maryam, walked up, to obtain news of you, for they had brought wet nurses [for you] but you would not take to the breast of any of them, and she then said, "Shall I show you someone who will take care of him?". Her offer was accepted and so she brought [them] his mother and he took to her breasts. Thus We restored you to your mother that her eyes might rejoice, in seeing you again, and not grieve, at that point [anymore]. Then you slew a soul, namely, the Copt in Egypt - and you became distressed for having slain him because of [how] Pharaoh [would react]; whereupon We delivered you from [great] distress, and We tried you with various ordeals, We tested you by landing you in some other [ordeal] and [again] delivered you from it. Then you stayed for several years, ten [years], among the people of Midian, after you had reached it having left Egypt, [staying] with the prophet Shu'ayb and marrying his daughter. Then you came [hither] as ordained, in My knowledge, with the Message [that you will deliver] - and this was when you were forty years old, O Moses!
إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ (When your sister was going - 20:40). The story of the sister of Sayyidna Musa (علیہ السلام) following the box along the river and the subsequent events are alluded to in this verse, which ends with the words وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا (We tested you with a great ordeal - 20:40). According to Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ these words mean "We tried you repeatedly", while Dahhak (رح) has translated them as "We subjected you to severe trials". Full details of this story have been given in a long Hadith reported by Imam an-Nisa'i (رح) in his book on the authority of Sayyidna Ibn ` Abbas رضی اللہ تعالیٰ عنہما . This story is as follows:
Detailed Story of Sayyidna Musa (علیہ السلام)
In Kitab-ut-Tafsir of his Sunan, Imam Nisa'i رحمۃ اللہ علیہ has reported a long Hadith known as (حدیث الفتون) (Hadith-ul-Futun) on the authority of Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ . Ibn Kathir has also reproduced the whole of it in his commentary and then has added that Sayyidna Ibn 'Abbas ؓ thought that it was مَرفُوع (Marfu' ), in other words, it was a statement of the Holy Prophet ﷺ . Ibn Kathfr has confirmed this view with the words: وَ صَدَقَ ذٰلِکَ ؟ عِندِی (I too believe that this Hadith is مَرفُوع ), and also gave reason in support of his opinion. However, he has admitted that the version of this story given by Ibn Jabir and Ibn Abi Haim رحمۃ اللہ علیہم is the statement of Ibn ` Abbas ؓ ، and not of the Holy Prophet ﷺ while it contains some parts which were stated by the Holy Prophet ﷺ . It appears that Ibn ` Abbas ؓ has learnt this story from Ka'b al-Ahbar as has happened in many other cases. Be that as it may, the critics like Imam Nasai and Ibn Kathir رحمۃ اللہ علیہما hold it to be marfu' (statement of the Holy Prophet ﷺ) and even those who do not accept it as such have never challenged its contents, while a major part of this story is also mentioned in the Holy Qur'an itself. Therefore, we would like to give full translation of this Hadith which has many beneficial points having academic and practical value. Imam Nisa'i (رح) has related this story which he learnt from Sa'id bin Jubair ؓ that he (Sa'id Ibn Jubair ) asked Sayyidna ` Abdullah Ibn ` Abbas ؓ to explain to him the meaning of the expression وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا ، specially the word فُتُونًا which occurs in the verse relating to Sayyidna Musa (علیہ السلام) . Ibn ` Abbas ؓ said it was a long story which he would tell him (Said Ibn Jubair) if he comes to him early the next morning. This he did and Ibn ` Abbas' ؓ told him the story which runs as follows:
One day the Pharaoh and his companions were talking about Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) and the promise which Allah Ta’ ala had made to him to raise prophets and Kings from his progeny. Some of those present said that the Bani Isra'il were indeed expecting the birth of a prophet in their community and were in no doubt that Allah Ta’ ala's promise would be fulfilled. In the beginning they thought that Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) was the prophet promised by Allah Ta’ ala but when he died they said he was not the prophet promised to Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) and that there must surely come another prophet whose arrival would fulfill Allah Ta` ala's promise. This information upset the Pharaoh who feared that if ever a prophet was born in the Isra'ili community, whom he held in bondage, he (the prophet) would try to liberate them from their servitude. He, therefore, asked his friends to advise him how such a catastrophe could be avoided. After much deliberation they came to the unanimous conclusion that the only way to meet this contingency was to put to death every male child born in an Isra'ili family. In pursuance of this decision, armed soldiers were sent out with orders to search every Isra'ili house and kill all male children.
This bloodshed continued for some time but then the Egyptians realized that all their work was done and arduous duties performed by the Bani Isra'il and if the process of killing their male children continued then a time would come when, their old men having died a natural death, no young men would be left to serve them, and they themselves would have to perform all the hard and toilsome work. In order to overcome this problem they came up with another proposal according to which all male children born in one year should be put to death while all those born in the following year should be spared. Such a device would ensure the availability of a continuous supply of labour force of young Isra'ilis who could replace the older men, yet at the same time their number would not be large enough to pose a threat to the Pharaoh's authority. Everybody approved of this proposal and a law was passed for its implementation. (And now the wisdom and power of Allah Ta` ala demonstrated itself in the following way). Sayyidna Musa's mother gave birth to Sayyidna Harun (علیہ السلام) in the year when, according to the law of the Pharaoh, male Isra'ili children were spared and there was no danger to his life. But when Sayyidna Musa (علیہ السلام) was conceived, his birth was expected in the year when the Pharaoh's decree required that all male Isra'ili children be put to death. His mother was, therefore, greatly distressed at the thought of losing her son after its birth.
Here Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ عنہما paused in his story and said, "0 Ibn Jubair! This was the first test (فتُون) to which Sayyidna Musa (علیہ السلام) was put in that his life was at risk even before he was born."
Then Allah Ta` ala, by means of وَحی الھام (Divine inspiration) told the mother of Sayyidna Musa (علیہ السلام) to set her mind at rest.
لَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Do not fear and do not grieve, surely We are going to bring him back to you and appoint him one of (Our) messengers - 28:7.
When Sayyidna Musa (علیہ السلام) was born Allah Ta` ala commanded his mother to put him in a box and float him down the river Nile, which she did. After she had completed this task the Shaitan tried to perplex her with the suggestion that she had made a mistake by floating her son down the river because even if he had been put to death by the order of the Pharaoh she would at least have had the satisfaction of burying him with her own hands. Now there is no hope for him and he would probably be eaten up by the river animals. While the mother of Sayyidna Musa (علیہ السلام) was greatly worried at what the Shaitan had told her, the waves cast the box upon a rock where the Pharaoh's slave girls used to come for bathing and washing. When they ﷺ the box they wanted to open it, but one of them said that if the box contained some valuable articles and they opened it, then the Pharaoh's wife would suspect that they had kept back some of these for themselves and nothing that they could say would satisfy her. Accordingly, they brought the box unopened to the Pharaoh's wife.
When the Pharaoh's wife opened the box she found a boy and she instinctively felt a sudden surge of love for him - something which she had never experienced before. This was just as Allah Ta` ala had told him (وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي : And I have cast love on you from Myself). On the other hand, the mother of Sayyidna Musa (علیہ السلام) in a state of puzzle caused by the Shaitan forgot the promise made to her by Allah Ta` ala and was so overwhelmed by grief that all happiness forsook her heart leaving it an empty shell. وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا (And the heart of the mother of Musa became restless - 28:10). At the same time the Pharaoh's soldiers learnt about the presence of an Isra'ili boy in the palace and they rushed with knives in their hands, and asked the Pharaoh's wife to surrender the boy so that they could put him to death.
Here Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ paused again and said, "0 Ibn Jubair! This was the second test (فُتُون) to which Sayyidna Musa (علیہ السلام) was exposed."
The Pharaoh's wife remonstrated with the soldiers. "What?" She said, "Do you think this small and frail baby, if allowed to live, can ever increase the strength of Bani Isra'il? You wait here and I will go to the Pharaoh and plead for his life. I hope the Pharaoh will spare his life. If not, then I will not stand in your way and you can take him." Saying so, she went to the Pharaoh and said to him, "This child is the joy of my heart and yours also." The Pharaoh replied, "Yes, I know that he is the joy of your heart, but as for me, I do not need him."
At this point of the story Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ quoted the Holy Prophet ﷺ as saying, I swear by Allah that if on that occasion the Pharaoh had also admitted to Sayyidna Musa (علیہ السلام) being the joy of his heart, as his wife did, Allah Ta’ ala would have guided him along the path of the True Faith as He guided his wife."
(However, on account of his wife's urgent pleas the Pharaoh spared the life of the child). Now she needed a woman to nurse him. Many women offered their services but he would not suck from any of them وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ (And We had already barred him (Musa) from (accepting) any suckling woman - 28:12). The Pharaoh's wife was in a real predicament. How will the child live if he was not nursed? She sent him with her servants to the market place to find any woman whose milk he would draw.
While these events were taking place in the Pharaoh's palace, the mother of Sayyidna Musa (علیہ السلام) was concerned by anguish at the fate of her son. She asked her daughter to go out and make inquiries about the box and the child that whether he was still alive or was he eaten up by the river animals. The promise which Allah had made to her when she was pregnant that he would protect her child and return him to her after a brief separation had completely escaped her memory. And then a miracle happened. As soon as the sister of Sayyidna Musa (علیہ السلام) came to the market place she met the Pharaoh's female servants who held Sayyidna Musa (علیہ السلام) in their arms and were looking for a woman who could nurse him. She also noticed that the child would not accept milk from any woman which caused them great anxiety and distress. So she said to them, "I can take you to a family where there is a woman whose milk, I hope, the child will accept and who will bring him up with great love and affection." Thereupon the servants held her on the suspicion that she was, perhaps, the mother or a close relation of the child and for that reason spoke with such a confidence that the proposed family is well-wisher of and sympathetic to this child.
Here Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ stopped and told Ibn Jubair ؓ that this was the third test (فُتُون) (for the sister of Sayyidna Musa (علیہ السلام) was naturally frightened at being held like that but she kept her pose and told the servants that when she said that the family would love the child and serve him with devotion what she meant was that they would do so in the hope of getting access to the Pharaoh's court and thus obtaining some material benefit for themselves. This explanation satisfied the servants and they released her. She hurried back home and informed her mother of what had happened. Then both of them went to the market place where the servants stood with the baby. The mother took him in her arms and put him to her breast, and he sucked greedily until he was satiated. The Pharaoh's wife was overjoyed when she was informed that at last a woman had been found whose milk the child would take and ordered her to be brought to her. On arrival the mother of Sayyidna Musa (علیہ السلام) sensed that the Pharaoh's wife needed her and her services badly. At the same time she remembered Allah's promise to her that her son would be re-united to her after a brief separation. So she decided that she would offer her services on her own terms. The Pharaoh's wife told her that she was extremely fond of the child and could not bear parting from him for a moment. Therefore she should come and live in the palace and nurse the child. But Sayyidna Musa's (علیہ السلام) mother declined to do so. She said she had a child of her own who too had to be nursed and fed and therefore it was not possible for her to leave her home. However, if the child was entrusted to her care she would keep him with her and nurse him. She assured the Pharaoh's wife that if she agreed to her proposal no effort shall be wanting on her part to give him the best care and attention. There was no choice for the Pharaoh's wife and she accepted this arrangement. Thus the child was, re-united to his mother and Allah's promise to her was fulfilled.
After some time when Sayyidna Musa (علیہ السلام) grew comparatively stronger, the Pharaoh's wife asked the mother of Musa (علیہ السلام) to bring the child to her so that she may see him (as she was longing for him). She also told all the courtiers that the child was coming to their home and they must show him due respect and offer him gifts. She warned them that she would watch what they would do with the child. So when Musa (علیہ السلام) came out with his mother from her home, he was showered with gifts and presents right from that moment. The Pharaoh's wife was delighted to see him and gave him many expensive presents on her own and delivered all these presents to the mother of Sayyidna Musa (علیہ السلام) . She then took him to the Pharaoh hoping that he too would give him presents. The Pharaoh took the child in his arms who suddenly clutched at his beard and pulled it causing his head to bow down. The courtiers were horrified and said to the Pharaoh: "We warned you about the promise of Allah to Sayyidna Ibrahim (علیہ السلام) that a prophet will be born in the tribe of Bani Isra'il who will inherit your Kingdom and your wealth and will defeat and overthrow you. You have seen with your own eyes the first signs of the fulfillment of Allah's promise". The Pharaoh took the warning and ordered his soldiers to put the child to death.
Here Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ stopped again in his narration and said, "0 Ibn Jubair ؓ ! This is the fourth test (فُتُون) for Sayyidna Musa (علیہ السلام) where death seemed so near".
The Pharaoh's wife at once came to the child's rescue and addressed her husband thus, "You have given this child to me. He is all mine. So what is all this fuss about?" The Pharaoh said, "Can't you see that by his action this child is warning me that one day he would overthrow me and deprive me of my Kingdom?" His wife replied, "I know a sure means of ascertaining whether his action was the action of an uninformed and innocent child or he deliberately intended to defy and challenge your authority. You order a servant to bring two trays. Put two live coals in one and two shining pearls in the other and place both the trays in front of the child. If he picks up the coal, that would be proof enough that he is totally unaware of the consequences of his action because nobody with any sense would put his hand in fire." The Pharaoh agreed to this test and when the two trays were placed before Sayyidna Musa (علیہ السلام) he picked up the coal. (However there is another tradition that he wanted to reach for the pearls but Jibra'il (علیہ السلام) guided his hand and placed it on the coal). When the Pharaoh ﷺ this he snatched away the coal from the child's hand to save him from harm. Thus the Pharaoh's wife was proved right. She turned to him and said, "0 King! Now you know the truth." Thus Allah once again saved his life because He had chosen him for a very special mission.
(And so Sayyidna Musa (علیہ السلام) continued to enjoy the favours of the Pharaoh and the great love of his mother until he grew to full manhood). Knowing in what esteem the royal family held him, the people of the Pharaoh did not dare to insult and torment Bani Isra'il as they used to do previously. One day he was out for a stroll in the city when he came across two persons who were quarrelling over some matter. One of them was a man of the Pharaoh and the other was an Isra'ili. The latter called out to Sayyidna Musa (علیہ السلام) to help him. Musa (علیہ السلام) got very angry at the Pharaoh's man. How dare he bully an Isra'ili in his presence knowing that he held a place of honour in the royal court, and also that he was full of sympathy for the Isra'ilies (on account of the harsh treatment to which they were constantly subjected by the Egyptians). People in general thought that his sympathy for the Isra'ilis was due to his being nursed and brought up by an Isra'ili woman. It is also possible that Allah Ta` ala may have informed him through his mother or by some other means that he himself was an Isra'ili and that the woman who had nursed him was in fact his own mother.
Anyway, being in extreme anger, Sayyidna Musa (علیہ السلام) hit the Egyptian with such force that he died on the spot. There were no witnesses to this incident except the Isra'i1i, and Sayyidna Musa (علیہ السلام) was certain that he (the Isra'ili) would not inform against him.
The Egyptian's death filled Sayyidna Musa علیہ السلام with remorse and he said, هَـٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِينٌ (This is some of Shaitan's act, He is indeed a clear enemy who misleads - 28:15). Then he prayed to Allah.
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
0 my Lord! I have wronged myself, so forgive me. So He forgave him. Indeed He is the Most-Forgiving, Very-Merciful - 28:16.
After this incident Sayyidna Musa (علیہ السلام) made secret inquiries about the reaction of the Egyptian about the murder and whether the matter was reported to the Pharaoh. He learned that the report that was made to the Pharaoh merely said that an Isra'i1i had killed an Egyptian for which their tribe should make full retribution, and that no mercy should be shown to them.
The Pharaoh asked them to apprehend the murderer and produce him with full proof of his guilt because although he was their own king he did not think it was right to punish someone without sufficient evidence. He assured them that if they produced the offender with sufficient proof of his guilt he would not be spared. Thereupon people went out in search of the murderer but found no clue which could lead them to him.
The next day as Sayyidna Musa (علیہ السلام) carne out of his house he ﷺ the same Isra'ili again fighting with an Egyptian. On seeing Sayyidna Musa (علیہ السلام) he again called to him for help. But Sayyidna Musa (علیہ السلام) who was full of remorse at what had happened the day before was very angry and blamed the Isra'ilie for picking up fights. However, he wanted to stop the man of Pharaoh from attacking the Isra'ili, and at the same time reproached the Isra'ili for being so quarrelsome. The Isra'ili, seeing Musa (علیہ السلام) in anger was frightened and feared that he would kill him too. So he called out, "0 Musa! Will you kill me too as you killed a man yesterday"?
And so they parted, but the Egyptian hastened to inform the people who were on the lookout for the murderer that the Isra'ili himself had accused Sayyidna Musa (علیہ السلام) of having murdered a man the day before. The Pharaoh who was informed of this latest development at once sent his soldiers to apprehend Sayyidna Musa (علیہ السلام) and to execute him. The soldiers were confident that there was no way for Sayyidna Musa (علیہ السلام) to escape and therefore they took the main road of the city searching for him. Somehow a follower of Sayyidna Musa (علیہ السلام) who lived in a far flung area of the city got wind of the Pharaoh's order to kill him and managed to reach Musa علیہ السلام through smaller streets to warn him of the impending danger.
At this point in his narration, Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ paused again and said, "0 Ibn Jubair! This was the fifth test (فُتُون) for Sayyidna Musa (علیہ السلام) when death had overcome him but Allah Ta` ala saved his life".
Sayyidna Musa (علیہ السلام) at once left the city and headed for Madyan. All his life was spent in comfort and luxury and he had never undertaken a task involving physical exertion. He was also unfamiliar with the surrounding areas and the roads connecting them. But he had full faith in Allah عَسَىٰ رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (I hope my Lord will guide me to the straight path - 28:22).
As he approached Madyan, he stopped at a well where people had gathered and were drawing water for their animals. There he ﷺ two girls standing away from the crowd with their goats. He asked them why they stood apart to which they replied that being unable to contend with men for water they were waiting until they had finished watering their animals and then, if any water was left, they would give it to their goats, Sayyidna Musa (علیہ السلام) was moved to pity for the girls and being physically a strong man he pushed forward and in no time he watered their goats. The girls went home with their herd and he sat under the shade of a tree and prayed: رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (0 my Lord, I am in need of whatever good you may send down to me - 28:24). By this payer he sought Allah's help in providing him something to eat and a place to stay.
Now when the girls returned home with their herd earlier than usual their father was surprised, but the girls told him how a kind man had helped them and watered their goats. The father asked one of the girls to bring the man home which she did, and when he heard the story of Sayyidna Musa (علیہ السلام) ، he said: ("Do not fear, you have escaped from the wrongdoing people." - 28:25).
One of the girls suggested to her father to engage Sayyidna Musa (علیہ السلام) on wages and said يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (Dear father, hire him; the best man you hire, is the one who is strong, trustworthy - 28:26). the father was disconcerted at her words and asked her how she knew, that he was strong and trust-worthy. The girl replied that she witnessed his strength when he pushed aside all the other shepherds and drew water for her goats. And she knew him to be trustworthy because when she went to bring him home he cast his eyes down and did not raise them until she had conveyed to him his invitation. Then he told her to follow him and to guide him to this place from behind. Only a person who is totally trustworthy would conduct himself in such a manner. The father (He was Sayyidna Shua'ib (علیہ السلام) ، a prophet of Allah), having being fully satisfied on this score, proposed to Sayyidna Musa (علیہ السلام) that if he would agree to work for him for eight years he would give the latter one of his daughters in marriage. He also said that he would like it if Sayyidna Musa (علیہ السلام) ، of his own free choice, worked for him for a further period of two years, but this would not be a condition for his marriage with his daughter. Sayyidna Musa علیہ السلام accepted these terms and ultimately, by Allah's command, rendered full ten years service to Sayyidna Shu'aib (علیہ السلام) .
Sayyidna Said Ibn Jubair ؓ says, "Once a Christian scholar met me and asked me whether I knew how long Sayyidna Musa (علیہ السلام) worked for Sayyidna Shu'aib (علیہ السلام) . This was before Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ had narrated to me this Hadith. So I told him that I did not know the answer to his question. Afterwards when I met Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ and put the same question to him he informed me that Sayyidna Musa (علیہ السلام) was bound to do service for the contractual period of eight years which could not be reduced in any circumstances. Also, it was Allah's will that he should also serve the additional optional two years. Therefore, he did actually serve Sayyidna Shu'aib (علیہ السلام) for full ten years. Later, when I met the Christian scholar and gave him the information, he asked me whether the person from whom I learnt this was more knowledgeable than I was. I replied him in affirmative and told him that indeed he was a very learned person and the best among us".
Having completed ten years of service with Sayyidna Shu'aib (علیہ السلام) Sayyidna Musa (علیہ السلام) departed from Madyan with his wife. He had chosen an unfrequented and unfamiliar route, and on a cold, dark night when he ﷺ fire on the mount of Tur he went there to bring some for his wife. There he ﷺ strange sights, was granted the miracles of the staff (عصا) and the bright hand (یدِ بَیضاء) and was also entrusted with the Mission of Prophethood. This story has been related by the Holy Qur'an in the preceding pages. At the mount of Tur he was also commanded by Allah to proceed to Egypt and place his message before the Pharaoh. He was anxious how he would discharge this duty when he has been declared by the royal court as an absconding offender and was under the sentence of death. Moreover, he recalled his stammer. So he prayed to Allah to remove these impediments. In response to his prayer Allah appointed his brother Haran (علیہ السلام) to share his prophethood and through a revelation commanded the latter to receive him before he entered Egypt. The two brothers met and as commanded by Allah both of them went to the Pharaoh's court to invite him to accept the True Faith. After a while they were admitted to his presence after passing through several stages. They said to him: إِنَّا رَسُولَا رَبِّكَ "We are the messengers of your Lord". The Pharaoh asked them فَمَن رَّبُّكُمَا (Who then is the Lord of you two? - 20:49).
Their reply to this question has been reported in the Qur'an itself.
(جاری ہے)