آلِ عِمْرَان ٥٤
- وَمَكَرُواْ dan mereka membuat tipu daya
- وَمَكَرَ dan membuat tipu daya
- ٱللَّهُۖ Allah
- وَٱللَّهُ dan Allah
- خَيۡرُ sebaik-baik
- ٱلۡمَٰكِرِينَ pembuat tipu daya
Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
(Mereka mengatur tipu daya) maksudnya orang-orang kafir dari golongan Bani Israil terhadap Isa karena menunjuk orang yang akan membunuhnya secara diam-diam (dan Allah membalas tipu daya mereka) dengan jalan mengubah muka seorang seperti Isa sehingga mereka bunuh sedangkan Isa diangkat ke langit (dan Allah sebaik-baik yang membalas tipu daya.).
Tafsir Surat Ali-'Imran: 52-54
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil), berkatalah dia, "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyun menjawab, "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).
Ya Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul. Karena itu, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)."
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
Ayat 52
Allah ﷻ berfirman: “Maka tatkala Isa mengetahui.” (Ali Imran: 52)
Yakni Isa a.s. merasakan kebulatan tekad mereka dalam kekufuran dan kesesatannya, maka ia berkata: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” (Ali Imran: 52)
Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah 'siapakah yang akan mengikutiku menegakkan agama Allah?'.
Sufyan Ats-Tsauri dan lain-lain mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah 'siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku bersama dengan Allah?'
Pendapat Mujahid lebih dekat kepada kebenaran. Menurut makna lahiriahnya, Nabi Isa bermaksud ‘siapakah orang-orang yang mau menjadi penolong-penolongku untuk menyeru manusia menyembah Allah.’
Keadaannya sama dengan apa yang pernah dikatakan oleh Nabi ﷺ dalam musim-musim haji sebelum hijrah, yaitu: “Siapakah yang mau membantuku sehingga aku dapat menyampaikan kalam Tuhanku, karena sesungguhnya orang-orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan kalam Tuhanku!” Hingga beliau ﷺ berjumpa dengan orang-orang Anshar, lalu mereka memberinya perlindungan dan pertolongan. Kemudian Nabi ﷺ berhijrah ke mereka, lalu mereka semuanya yang terdiri atas berbagai bangsa ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit merah membantunya dan melindunginya; semoga Allah melimpahkan keridaan-Nya kepada mereka (orang-orang Anshar) dan semoga Allah memberi mereka pahala yang memuaskan. Demikian pula halnya Nabi Isa a.s. Ia dibantu oleh segolongan orang dari kalangan Bani Israil, lalu mereka beriman kepadanya, membela dan menolongnya serta mengikuti cahaya yang diturunkan oleh Allah kepadanya.
Ayat 53
Karena itulah dalam ayat selanjutnya disebutkan oleh Allah ﷻ: “Para hawariyyun menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beserah diri (kepada Allah). Ya Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul. Karena itu, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)’.” (Ali Imran: 52-53)
Al-hawariyyun, menurut suatu pendapat mereka adalah orang-orang yang bertubuh pendek.
Menurut pendapat lain, mereka dinamakan hawariyyun karena pakaian yang selalu mereka kenakan berwarna putih. Menurut' pendapat yang lain lagi, mereka adalah para pemburu. Menurut pendapat yang shahih, arti hawari adalah penolong. Seperti yang disebutkan di dalam kitab Shahihain, bahwa ketika Rasulullah ﷺ menganjurkan kaum muslim dalam Perang Ahzab untuk bersiap-siap menghadapi peperangan, maka sahabat Az-Zubair membantu Nabi ﷺ dan mengambil alih tugas ini, lalu Az-Zubair menyerukan hal tersebut kepada mereka. Maka Nabi ﷺ bersabda: “Setiap nabi mempunyai penolong, dan penolongku adalah Az-Zubair.”
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami israil, dari Samak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: “Karena itu, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.” (Ali Imran: 53) Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud ialah menjadi saksi bersama-sama umat Muhammad ﷺ. Sanad atsar ini jayyid.
Kemudian Allah ﷻ menceritakan tentang segolongan orang-orang terkemuka Bani Israil dalam rencana mereka yang hendak membinasakan Nabi Isa a.s. Mereka bertujuan ingin menimpakan kejahatan terhadapnya dan menyalibnya. Mereka semuanya bergabung untuk menentangnya dan menghasutnya ke hadapan raja di masa itu yang kafir. Mereka menyampaikan berita hasutan kepada si raja bahwa di sana ada seorang lelaki yang menyesatkan orang-orang banyak, menghalang-halangi mereka untuk taat kepada raja, merusak rakyat serta memecah-belah antara seorang ayah dan anaknya; dan hasutan-hasutan lainnya yang bisa mengakibatkan sanksi yang berat bagi pelakunya.
Mereka melemparkan tuduhan terhadap Nabi Isa sebagai seorang pendusta, dan bahwa dia adalah anak zina. Hal tersebut membangkitkan kemarahan si raja, lalu ia mengirimkan orang-orangnya untuk menangkap dan menyalibnya serta menyiksanya. Ketika mereka mengepung rumah Nabi Isa dan mereka mengira pasti dapat menangkapnya, maka Allah menyelamatkan Nabi Isa dari sergapan mereka. Allah mengangkatnya dari atap rumah tersebut ke langit.
Kemudian Allah memiripkan rupa seorang lelaki yang ada di dalam rumah tersebut dengan Nabi Isa a.s. Ketika mereka masuk ke dalam rumah itu, mereka mengira lelaki tersebut sebagai Nabi Isa dalam kegelapan malam, lalu mereka menangkapnya dan menghinanya serta menyalibnya, lalu meletakkan duri di atas kepalanya. Hal tersebut merupakan tipu daya dari Allah terhadap mereka, karena Dia akan menyelamatkan Nabi-Nya dan mengangkatnya dari hadapan mereka ke langit, serta meninggalkan mereka bergelimangan dalam kesesatan.
Mereka mengira bahwa mereka telah berhasil mencapai sasarannya. Dan Allah menempatkan di dalam hati mereka kekerasan dan keingkaran terhadap kebenaran. Hal ini melekat di hati mereka, dan Allah menimpakan kepada mereka kehinaan yang tidak pernah lekang dari diri mereka sampai hari kiamat nanti. Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman:
Ayat 54
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)
Setelah ancaman yang ditunjukkan secara terang-terangan tidak membawa hasil, maka mereka melakukan gerakan di bawah tanah. Mereka, yakni orang-orang yang mengingkari Nabi Isa dan ajarannya, tidak tinggal diam. Mereka membuat tipu daya secara rahasia untuk menghalangi dakwah Isa. Maka untuk menghadapi mereka sekaligus membela agama yang dibawa rasul-Nya, Isa, Allah pun tidak diam. Dia membalas tipu daya mereka itu sehingga mereka gagal total dalam melaksanakan tipu dayanya. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya, bahkan Dia menguat-kan dakwah Isa dengan Rohulkudus (Jibril).
Ayat ini menjelaskan tentang beberapa bukti kemuliaan Isa bin Maryam. Ingatlah, hai Nabi Muhammad, ketika Allah berfirman, Wahai Isa! Aku akan mewafatkanmu atau menyempurnakan keberadaanmu di dunia dan mengangkatmu kepada-Ku, yaitu ke tempat yang mulia tanpa melalui proses kematian, serta menjauhkan dan menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu yang tidak mengubah agamamu serta yang membenarkan kenabianmu di atas orang-orang yang kafir terhadapmu dengan menyembunyikan bukti-bukti kerasulanmu hingga hari kiamat. Kemudian kepada-Ku kalian kembali, baik yang beriman kepada Nabi Isa maupun yang kafir kepadanya, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kalian perselisihkan yaitu tentang Isa dan kebenaran ajaran yang dibawanya.
Sesudah Allah menerangkan tentang kaum Hawariyun, maka dalam ayat ini Allah menerangkan sikap Bani Israil terhadap Isa a.s., mereka membuat tipu daya dan bermaksud membinasakannya dengan jalan melaporkan dan memfitnah Isa kepada raja mereka. Tetapi Allah memperdayakan dan menggagalkan tipu daya mereka itu dan mereka tidak berhasil membunuhnya. Isa a.s., diangkat ke langit oleh Allah dan diganti dengan orang yang serupa dengannya, sehingga orang-orang yakin bahwa yang disalib itu adalah Isa a.s. Balasan Allah mengatasi tipu muslihat mereka, dan menimpakan kesengsaraan kepada orang-orang kafir itu, tanpa mereka perkirakan. Rencana Allah yang tidak diketahui oleh hamba-hamba-Nya, sebenarnya adalah untuk menegakkan sunnah-Nya dan menyempurnakan hikmah-Nya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KAUM ISA TIDAK MAU PERCAYA
“Maka tatkala terasa oleh Isa kekafiran mereka."
(pangkal ayat 52)
Segala seruannya dibantah dan ditolak, segala mukjizat yang telah beliau perlihatkan hanya menambah keingkaran mereka belaka."Berkatakan dia, ‘Siapakah yang akan menolongku pada Allah?'" Yaitu siapakah kiranya yang akan sudi menolong dan membelaku di dalam menegakkan jalan Allah ini? “Menjawablah Hawariyun, ‘Kamilah penolong-penolong Allah!" Artinya, kamilah yang akan berdiri di samping engkau, wahai al-Masih, membela engkau di dalam menegakkan jalan Allah itu.
"Kami percaya kepada Allah dan kami bersaksi bahwa kami ini adalah menyerahkan diri."
(ujung ayat 52)
Siapakah yang akan sudi berkorban, meninggalkan kepentingan lain untuk menegakkan kehendak Allah? Siapa yang sudi menderita karena menegakkan kebenaran? Kadang-kadang terpisah dari keluarga yang dikasihi, kampung halaman, dan kesukaan-kesukaan yang lain? Hawari telah menjawab bahwa mereka telah menyediakan diri untuk itu. Hawari ialah gelar kemuliaan yang diberikan kepada pemuda-pemuda yang telah menyediakan jiwa raga untuk membela al-Masih karena kesucian ajarannya. Menurut cara sekarangnya ialah kader-kader pilihan yang telah tahan diterpa. Al-Qur'an tidak menjelaskan berapa bilangan mereka. Yang mengatakan bahwa bilangan mereka adalah 12 orang, 13 orang dengan Yudas yang mengkhianati lalu diganti dengan yang lain, adalah Injil-Injil catatan orang. Kristen. Hawari itu telah menyatakan iman kepada Allah dan telah menyerahkan diri dan taat kepada Isa walaupun apa penderitaan yang akan mereka tanggungkan. Sebagaimana diketahui, bagi penyerahan diri yang sungguh-sungguh itu tidak ada kata lain melainkan Islam dan orang-orangnya ialah Muslimin.
Pengakuan kesetiaan mereka itu mereka kuatkan lagi,
“Ya, Tuhan kami! Kami telah percaya kepada apa yang Engkau turunkan,"
(pangkal ayat 53)
telah percaya kepada wahyu-wahyu itu ataupun mukjizat-mukjizat itu. Satu pun tidak ada yang kami bantah atau mungkiri lagi, “Dan kami pun telah mengikut Rasul itu," yaitu Isa al-Masih. Segala jejak langkahnya telah kami ikuti, perintah Engkau yang disampaikannya telah kami junjung tinggi,
“Sebab itu, tuliskanlah kiranya kami bersama-sama orang-orang yang telah menyaksikan."
(ujung ayat 53)
Masukkanlah kami dalam daftar orang-orang yang setia kepada Engkau, ya Ilahi. Karena, segenap kehidupan kami ini telah kami sediakan buat Engkau, untuk menegakkan jalan Engkau.
Demikianlah tiap-tiap nabi mempunyai pembela, di samping orang-orang yang menolak dan menentang dia. Sebagaimana pada Nabi Muhammad ﷺ dari para sahabat Muhajirin dan Anshar, bahkan ada yang bergelar Hawari pula, yaitu Zubair bin Awwam, termasuk dalam sepuluh sahabat yang istimewa maka Nabi Isa al-Masih mempunyai Hawari sebagaimana tersebut itu. Nabi Isa al-Masih tidak sanggup menyusun kekuatan bersenjata sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ Karena, beliau menghadapi dua kekuatan, pertama pemerintahan yang dipegang oleh bangsa Romawi yang kuat di masa itu, kedua kaumnya sendiri Bani Israil, yang kadang-kadang lebih suka mengambil-ambil muka kepada penguasa bangsa Romawi itu daripada menerima seruan Isa. Di saat yang begitulah amat penting pengikut setia yang sudi mengorbankan segala-galanya walau jiwa sekalipun.
“Dan mereka telah membuat tipu daya."
(pangkal ayat 54)
yaitu kaum Nabi Isa a.s. yang tidak mau percaya kepada risalah beliau itu, kaum Bani Israil. Mereka telah mengatur siasat-siasat yang buruk hendak menyingkirkan Nabi Isa al-Masih dari muka bumi, tegasnya hendak membunuh beliau, “Tetapi Allah pun telah menipu daya pula." Artinya, tipu daya mereka yang busuk itu, hendak membunuh seorang utusan Allah, telah dibalas oleh Allah dengan tipu daya-Nya pula. Tipu daya si kafir dengan jalan yang jahat dan maksud yang jahat, sedangkan tipu daya Allah tidak lain daripada jalan yang baik dan maksud yang baik, sehingga Nabi Isa al-Masih terlepaslah dari bahaya tipu daya mereka itu.
“Dan Allah adalah sepandai-pandai (pembatas) tipu daya."
(ujung ayat 54)
Kalau manusia yang mempunyai maksud buruk mengadakan tipu daya agar maksud buruknya itu tercapai maka Allah pun lebih pandai mengadakan tipu daya dengan maksud-Nya yang baik, sehingga kalahlah maksud tipu daya mereka itu oleh tipu daya Allah. Dengan ini, nyatalah kalau di dalam Al-Qur'an tersebut Allah membalas tipu daya manusia yang salah, bukanlah berarti Tuhan mengadakan tipu daya yang buruk sebagaimana manusia yang bermaksud jahat itu.
Pada ayat selanjutnya diterangkan Allah bagaimana pandainya Dia menjawab tipu daya manusia yang jahat itu terhadap Nabi Isa al-Masih ‘alaihis salam sehingga beliau terlepas dari bahaya maut yang telah mereka atur, yaitu supaya Nabi Isa hendaknya mati disalib.
“(Ingatlah) tatkala Allah berkata. Wahai, hal Sesungguhnya, Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir."
(pangkal ayat 55)
Artinya yang tepat dari ayat ini ialah bahwa maksud orang-orang kafir itu hendak menjadikan Isa al-Masih mati dihukum bunuh, sebagaimana yang dikenal, yaitu dipalangkan dengan kayu, tidaklah akan berhasil. Akan te-tapi, Nabi Isa al-Masih akan wafat dengan sewajarnya dan sesudah beliau wafat, beliau akan diangkat Allah ke tempat yang mulia di sisi-Nya, dan bersihlah diri beliau dari gangguan orang yang kafir-kafir itu.
Kata mutawaffika telah kita artikan menurut logatnya yang terpakai arti asal itu diambillah arti ‘mematikan' sehingga wafat berarti mati, mewafatkan ialah mematikan. Apatah lagi bertambah kuat arti wafat ialah mati, mewafatkan ialah mematikan itu karena banyaknya bertemu dalam Al-Qur'an ayat-ayat, yang di sana disebutkan tawaffa, tawaffahumul-malaikatu, yang semuanya itu bukan menurut arti asal, yaitu mengambil sempurna ambil, melainkan berarti mati. Sehingga, sampai kepada pemakaian bahasa yang umum jarang sekali diartikan wafat dengan ambil, tetapi pada umumnya diartikan mati juga. Oleh karena itu, arti yang lebih dahulu dapat langsung dipahamkan apabila kita membaca ayat ini ialah, “Wahai Isa, Aku akan mematikan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari tipu daya orang yang kafir." Dia akan diangkat ke sisi Allah, ialah sebagaimana Nabi Idris yang diangkat derajatnya ke tempat yang tinggi, sebagaimana tersebut di dalam surah Maryam: 53. Sebagaimana juga orang yang mati syahid di dalam surah Aali ‘Imraan ini juga ayat 169, dikatakan bahwa dia tetap hidup.
Akan tetapi, meskipun demikian, arti ayat ini yang mula-mula masuk langsung ke dalam pikiran setelah membacanya, tetapi dalam penafsirannya telah terjadi perselisihan pendapat atau khilafiyah yang panjang di antara ahli-ahli tafsir. Satu Golongan besar ahli tafsir mengatakan bahwa arti ayat bukanlah sebagaimana yang mula-mula dipahamkan itu. Akan tetapi, inni mutawaffika artinya ialah ‘sesungguhnya Aku akan mengambil engkau jadi bukan berarti sesungguhnya Aku akan mematikan engkau. Tegasnya, Nabi Isa ‘alaihis salam, tubuh dan ruhnya dalam hidup-hidup diambil Allah dari alam ini wa rafi'uka ilayya ‘dan mengangkat engkau kepada-Ku', artinya sesudah beliau diambil dari dunia ini lalu diangkat ke langit hidup-hidup. Di langit itulah beliau sampai sekarang ini, dan di akhir zaman akan turun kembali ke dunia membunuh Dajjal.
Golongan ini menafsirkan demikian karena memang bertemu beberapa hadits yang menerangkan bahwa di akhir zaman Nabi Isa akan turun ke dunia kembali. Malahan mereka mengeluarkan pendapat bahwasanya ulama-ulama sejak zaman dahulu telah ijmak mengatakan bahwa Nabi Isa telah diangkat ke langit dan kelak dekat-dekat akan Kiamat dia akan turun ke dunia membunuh babi dan menghancurkan salib.
Dan alasan mereka pula, ketika Nabi Muhammad ﷺ Mi'raj, beliau bertemu Nabi Isa bersama Nabi Yahya.
Akan tetapi, oleh karena di dalam agama Islam benar-benar ada kebebasan pikiran di dalam menafsirkan ayat-ayat Allah, meskipun yang menafsirkan demikian itu golongan besar yang disebut dalam istilah berita dengan jumhur, (hanya sekali) dan ada yang mengatakan bahwa paham menafsirkan itu telah ijmak, telah sama pendapat seluruh ulama, tetapi yang mengeluarkan pendapat berbeda sangat dengan tafsiran itu telah timbul pula.
Al-Alusi di dalam tafsirnya yang terkenal Ruhul Ma'ani, setelah memberikan keterangan beberapa pendapat tentang arti mutawaffika, akhirnya menyatakan pendapatnya sendiri bahwa artinya ‘telah mematikan engkau', yaitu menyempurnakan ajal engkau (mustaufi ajalika) dan mematikan engkau menurut jalan biasa, tidak sampai dapat dikuasai oleh musuh yang hendak membunuh engkau.
Dan beliau menjelaskan lagi bahwa arti warafi'uka ilayya ‘dan mengangkat engkau kepada-Ku', telah mengangkat derajat beliau, memuliakan beliau, mendudukkan beliau di tempat yang tinggi, yaitu Ruh beliau sesudah mati. Bukan mengangkat badannya. Al-Alusi lalu mengemukakan beberapa kata rafa'a yang berarti angkat itu terdapat pula dalam beberapa ayat dalam Al-Qur'an yang tiada lain artinya daripada mengangkat kemuliaan ruhani sesudah meninggal.
Syekh Muhammad Abduh menerangkan tentang tafsir ayat ini demikian, “Ulama di dalam menafsirkan ayat ini menempuh dua jalan. Yang Pertama dan yang masyhur ialah bahwa dia diangkat Allah dengan tubuhnya dalam keadaan hidup dan nanti dia akan turun kembali di akhir zaman dan menghukum di antara manusia dengan syari'at kita.... Dan, jalan penafsiran yang kedua ialah memahamkan ayat menurut asli yang tertulis, mengambil arti tawaffa dengan maknanya yang nyata, yaitu mati seperti biasa, dan rafa'a (angkat) ialah ruhnya diangkat sesudah beliau mati...."
Dan kata beliau pula, “Golongan yang mengambil tafsir cara yang kedua ini terhadap hadits-hadits yang menyatakan Nabi Isa telah naik ke langit dan akan turun kembali, mereka mengeluarkan dua kesimpulan (takhrij). Kesimpulan pertama: hadits-hadits itu ialah hadits-hadits ahad yang bersangkut paut dengan soal (kepercayaan), sedangkan soal-soal yang bersangkutan dengan kepercayaan tidaklah dapat diambil kalau tidak qath'i (tegas). Padahal dalam perkara ini tidak ada sama sekali hadits yang mutawatir." Kemudian beliau terangkan pula takhrij (kesimpulan) golongan kedua ini tentang nuzul Isa (akan turun Nabi Isa di akhir zaman) itu. Menurut golongan ini, kata beliau, turunnya Isa bukanlah turun tubuhnya, tetapi akan datang masanya pengajaran isa yang asli bahwa inti sari pelajaran beliau yang penuh rahmat, cinta, dan damai, dan mengambil maksud pokok dari syari'at, bukan hanya semata-mata memang kulit, yang sangat beliau cela pada perbuatan kaum Yahudi ketika beliau datang dahulu, akan bangkit kembali. Demikianlah keterangan Syekh Muhammad Abduh.
Sayyid Rasyid Ridha pernah menjawab pertanyaan dari Tunisia. Bunyi pertanyaan, “Bagaimana keadaan Nabi Isa sekarang? Di mana tubuh dan nyawanya? Bagaimana pendapat tuan tentang ayat innii mutawaffika wa rafi'uka ilayya. Kalau memang dia sekarang masih hidup, sebagai di dunia ini, dari mana dia mendapat makanan yang amat diperlukan bagi tubuh jasmani-haiwani itu? Sebagaimana yang telah menjadi sunnatullah atas makhluk-Nya?"
Sayyid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat-pendapat ahli tafsir tentang ayat yang ditanyakan ini, mengambil kesimpulan, “Jumlah kata, tidaklah ada nash yang sharih (tegas) di dalam Al-Qur'an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawa ke langit dan hidup di sana seperti di dunia ini, sehingga perlu menurut sunnatullah tentang makan dan minum, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang makan beliau sehari-hari. Dan, tidak pula ada nash yang sharih menyatakan beliau akan turun dari langit. Itu hanyalah aqidah dari kebanyakan orang Nasrani, sedangkan mereka itu telah berusaha sejak lahirnya Islam menyebarkan kepercayaan ini dalam kalangan kaum Muslimin." Lalu beliau teruskan lagi, “Masalah ini adalah masalah khilafiyah sampai pun tentang masih diangkat ke langit dengan Ruh dan badannya itu."46
Dan berkata pula Syekh Mustafa al-Maraghi, Syekh Jami al-Azhar yang terkenal sebelum Perang Dunia ke-2, menjawab pertanyaan orang tentang ayat ini, “Tidak ada dalam Al-Qur'an suatu nash yang sharih dan putus tentang Isa a.s. diangkat ke langit dengan tubuh dan nyawanya itu, dan bahwa dia sampai sekarang masih hidup, dengan tubuh nyawanya. Adapun Firman Tuhan mengatakan, ‘Aku akan mewafatkan engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku dan membersihkan engkau dari orang-orang yang kafir itu." Jelaslah bahwa Allah mewafatkannya dan mematikannya dan mengangkatnya, zahirlah (nyata) dengan diangkatnya sesudah wafat itu, yaitu diangkat derajatnya di sisi Allah, sebagaimana Idris a.s. dikatakan Allah, ‘Dan Kami angkatkan dia ke tempat yang tinggi/ Dan ini pun jelas pula, yang jadi pendapat setengah ulama-ulama Muslimin, bahwa beliau diwafatkan Allah, wafat yang biasa, kemudian diangkatkan derajatnya. Maka, dia pun hiduplah dalam kehidupan ruhani, sebagaimana hidupnya orang-orang yang mati syahid dan kehidupan nabi-nabi yang lain juga."
Akan tetapi, jumhur ulama menafsirkan bahwa beliau diangkat Allah dengan tubuh dan nyawanya sehingga dia sekarang ini hidup dengan tubuh dan nyawa, karena berpegang kepada hadits yang memperkatakan ini, lalu mereka tafsirkan Al-Qur'an disejalankan dengan maksud hadits-hadits itu.
Lalu kata beliau, “Tetapi hadits-hadits ini tidaklah sampai kepada derajat hadits-hadits yang mutawatir, yang wajib diterima sebagai aqidah. Sebab, aqidah tidaklah wajib melainkan dengan nash Al-Qur'an dan hadits-hadits yang mutawatir. Oleh karena itu, tidaklah wajib seorang Muslim beritikad bahwa Isa al-Masih hidup sekarang dengan tubuh dan nyawanya, dan orang yang menjalani aqidah itu tidaklah kafir dari syari'at Islam."
Berkata pula Syekh Mahmoud Syaltout, Syekh Jami' al-Azhar (meninggal tahun 1963), tentang hadits-hadits bahwa Nabi Isa akan turun. Demikian kata beliau, “Riwayat-riwayat itu adalah kacau-balau, berlain-lain saja lafalnya dan maknanya yang tidak dapat dipertemukan. Kekacaubalauan ini dijelaskan benar-benar oleh ulama hadits. Dan, di atas dari itu semua, yang membawa riwayat ini ialah Wahab bin Munabbih dan Ka'ab al-Ahbar, keduanya itu ialah Ahlul Kitab yang kemudian memeluk Islam, dan sudahlah dikenal derajat keduanya dalam penilaian ahli-ahli jarh dan ta'dil (ahli penyelidik nilai hadits)."
Meskipun hadits yang dirawikan Abu Hurairah tentang Nabi Isa akan turun ada pula, apabila hadits itu shahih, tetapi dia adalah hadits ahad. Dan, ulama telah ijmak bahwasanya hadits Ahad tidak berfaedah untuk dijadikan dasar aqidah dan tidak sah dipegang dalam urusan-urusan yang gaib.
Kemudian datanglah lanjutan ayat, “Dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau lebih atas dari orang-orang yang kafir itu sampai Hari Kiamat" Artinya, orang-orang yang teguh memegang ajaran Nabi Isa al-Masih yang asli, yaitu tauhid, akan tetap lebih atas karena kebenarannya, tidak dapat dijatuhkan, dan kepercayaan-kepercayaan yang kuat itu kian lama kian hilang pasarannya dari muka bumi, Pengetahuan manusia akan bertambah maju. Kemajuan pengetahuan akhir-kelaknya tidaklah akan sampai kepada mengatakan bahwa Allah itu bertiga dalam satu dan satu dalam tiga. Bertambah orang menyelidiki kebenaran dan suka membebaskan dirinya dari paksaan taklid kepada pemimpin agama dan pendeta, bertambahlah akan tampak kemenangan orang-orang yang benar-benar mencari kebenaran dalam dunia ini. Sebab, Allah itu sendiri adalah kebenaran: Al-Haq."Maka kepada Akulah tempat kamu kembali." Artinya, meskipun betapa perselisihan dan pertengkaran, yang satu mengatakan dia saja yang benar dan yang lain tidak mau menerima jika semuanya akan kembali kepada-Nya, untuk mempertanggungjawabkan segala keyakinan dan anutan kita pada masa hidup di dunia yang fana ini.
“Maka akan Aku putuskan nanti antara kamu, dati hal apa-apa yang telah kamu perselisihkan padanya itu."
(ujung ayat 55)
Ujung ayat ini sangatlah dalam artinya bagi mendidik kita di dalam menempuh pergolakan hidup. Adalah satu kenyataan bahwa kita telah terdiri atas berbagai golongan. Kadang-kadang kita bertengkar dan bertukar pikiran, kadang-kadang berebut pasaran dan pengaruh. Sehingga, lantaran bertengkar kadang-kadang kita lupa akan kewajiban kita yang sebenarnya, yaitu mengabdikan diri kepada Allah.
“Maka, adapun orang-orang yang kafir itu maka akan Aku siksalah mereka dengan siksaan yang sangat di dunia dan di akhirat."
(pangkal ayat 56)
Di dalam ayat ini tampak bahwasanya ajaran agama bukanlah semata-mata untuk keselamatan akhirat saja. Bahkan terlebih dahulu siksaan dunia akan dirasainya. Di dalam ilmu akhlak diterangkan betapa hidup yang lurus di dunia ini, dengan kebersihan akhlak, moral, dan mental. Tanggung jawab kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama manusia. Kufur, tidak mau percaya kepada Allah sebagai unit, sebagai pusat dan pokok pangkal tempat bertolak di dalam hidup, akan menyebabkan hidup itu sendiri penuh dengan siksaan.
"Dan tidaklah ada bagi mereka orang-orang yang akan menolong."
(ujung ayat 56)
Cobalah kita pikirkan baik-baik, siapakah yang akan dapat menolong kita sekiranya kita sendiri yang dari semula telah memilih jalan salah? Kita telah menentang Al-Haq (kebenaran), sedangkan kebenaran itu hanya satu, Allah itu sendiri bernama Kebenaran. Maka, siapakah orang lain yang akan sudi menolong kita dalam menempuh jalan yang di luar kebenaran itu? Padahal, kebenaran itu hanya satu?
“Dan adapun orang-orang yang beriman dan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang saleh maka akan Dia sempurna ganjaran-ganjaran meneka."
(pangkal ayat 57)
Kalau pada ayat yang terdahulu dikatakan bahwa orang yang menolak ajaran Allah akan mendapat siksaan di dunia dan di akhirat maka orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang saleh pun akan diberi Allah ganjaran dengan sempurna, sejak dari dunia sampai ke akhirat. Bila iman telah tumbuh di dalam jiwa, belumlah mereka akan puas kalau itu belum dibuktikan dengan amal. Bilamana satu amal sudah selesai dengan baik, sebab kewajiban yang timbul dari dalam seruan baik telah dilaksanakan. Amal usaha yang banyak memberikan kepuasan di dalam diri sendiri sebab hidup telah bernilai. Dan, kelak di akhirat akan mendapat bahagia lipat ganda lagi.
“Dan Allah tidaklah suka kepada orang-orang yang aniaya."
(ujung ayat 57)
Sebesar-besar aniaya ialah mendustai diri sendiri. Ayat ini menjelaskan bahwa kalau kita menganiaya diri, adalah itu di luar kesukaan Allah. Melainkan pilihan kita sendiri. Kalau Allah telah menyatakan tidak menyukainya, tandanya kita dilarang mendekat kepada sikap aniaya.
“Demikianlah telah Kami bacakan dia kepada engkau."
(pangkal ayat 58)
Yaitu telah diceritakan betapa Bani Israil, tegasnya Yahudi, mencoba segala tipu daya mereka hendak menjerumuskan Isa al-Masih ke dalam lembah kesengsaraan, bahkan hendak membunuhnya sekali, karena mereka telah kafir tidak mau menerima risalah Nabi Isa. Maksud mereka hendak menghinakan beliau tidak tercapai, bahkan al-Masih bertambah dimuliakan Allah. Mereka hendak membunuh beliau, tetapi Allah memeliharanya. Dan, si penolak kebenaran itu tidaklah berdaya dalam usahanya, melainkan mendapat kegagalan total. Yang dikisahkan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ ini adalah,
“Sebagian dan ayat-ayat dan peringatan yang amat bijaksana."
(ujung ayat 58)
Dijelaskan di ujung ayat ini bahwasanya kisah kemuliaan Nabi Isa ini barulah sebagian kecil saja dari ayat-ayat Allah, yaitu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Isinya pun ialah satu peringatan bahwasanya ke-curangan pasti gagal dan seorang yang dimuliakan oleh Allah, tidak ada makhluk yang sanggup menghinakanya. Lalu ditekankan di ujung ayat tentang hal bijaksana, yaitu kalau kita pelajari dari hanya sebagian ayat yang dikisahkan Allah ini dan kita bandingkan pula kepada kejadian-kejadian yang lain, akan selalu kelihatan betapa kebijaksanaan Ilahi di dalam mengatur siasat-Nya.
"The Disciples Give Their Support to `Isa
Allah said,
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى
Then when `Isa came to know,
meaning, `Isa felt that they were adamant in disbelief and continuing in misguidance.
مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ
of their disbelief, he said:
He said to them.
مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ
Who will be my helper in Allah's cause.
Mujahid commented,
""Meaning, who would follow me to Allah.""
However, it appears that `Isa was asking,
""Who would help me convey the Message of Allah!""
The Prophet said during the Hajj season, before the Hijrah,
مَنْ رَجُلٌ يُوْوِينِي حَتَّى أُبَلِّغَ كَلَمَ رَبِّي فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَمَ رَبِّي
Who will give me asylum so that I can convey the Speech of my Lord, for the Quraysh have prevented me from conveying the Speech of my Lord.
until he found the Ansar. The Ansar helped the Prophet and gave him refuge. He later migrated to them, they comforted the Prophet and protected him from all his enemies, may Allah be pleased with them all.
This is similar to what happened with `Isa, for some of the Children of Israel believed in him, gave him their aid and support and followed the light that was sent with him. This is why Allah said about them;
قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ امَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
رَبَّنَا امَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
Al-Hawariyyun said:""We are the helpers of Allah; we believe in Allah, and bear witness that we are Muslims.
Our Lord! We believe in what You have sent down, and we follow the Messenger; so write us down among those who bear witness.""
Hawari in Arabic - means `support'.
The Two Sahihs recorded that;
when the Prophet encouraged the people to fight during the battle of Al-Ahzab, Az-Zubayr came forward, and again, when the Prophet asked for fighters a second time. The Prophet said,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيَ حَوَارِيًّا وَحَوَارِيِّي الزُّبَيْر
Every Prophet has a Hawari, and Az-Zubayr is my Hawari.
Ibn Abi Hatim recorded that Ibn Abbas said about,
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
(so write us down among those who bear witness),
""Meaning among the Ummah of Muhammad.""
This Hadith has a good chain of narration.
The Jews Plot to Kill `Isa
Allah tells;
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
And they plotted, and Allah planned too. And Allah is the Best of those who plot.
Allah states that the Children of Israel tried to kill `Isa by conspiring to defame him and crucify him.
They complained about him to the king who was a disbeliever. They claimed that `Isa was a man who misguided people, discouraged them from obeying the king, caused division, and separated between man and his own son. They also said other lies about `Isa, which they will carry on their necks, including accusing him of being an illegitimate son.
The king became furious and sent his men to capture `Isa to torture and crucify him. When they surrounded `Isa's home and he thought that they would surely capture him, Allah saved him from them, raising him up from the house to heaven.
Allah put the image of `Isa on a man who was in the house; when the unjust people went in the house while it was still dark, they thought that he was `Isa. They captured that man, humiliated and crucified him. They also placed thorns on his head.
However, Allah deceived these people. He saved and raised His Prophet from them, leaving them in disarray in the darkness of their transgression, thinking that they had successfully achieved their goal.
Allah made their hearts hard, and defiant of the truth, disgracing them in such disgrace that it will remain with them until the Day of Resurrection. This is why Allah said,
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
(And they plotted, and Allah planned too. And Allah is the Best of those who plot).
Meaning of ""Take You""
Allah tells,
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى
And (remember) when Allah said:""O `Isa!
إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ
I will take you and raise you to Myself,
while you are asleep.
Allah said in a similar Ayat,
وَهُوَ الَّذِى يَتَوَفَّـكُم بِالَّيْلِ
It is He Who takes your souls by night (when you are asleep). (6:60)
and,
اللَّهُ يَتَوَفَّى الاٌّنفُسَ حِينَ مِوْتِـهَا وَالَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِـهَا
It is Allah Who takes away the souls at the time of their death, and those that die not during their sleep. (39:42)
The Messenger of Allah used to recite the following words when he would awaken;
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور
All the thanks are due to Allah Who brought us back to life after He had caused us to die (sleep), and the Return is to Him.
Allah said,
وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
بَل رَّفَعَهُ اللّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُوْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا
And because of their saying, ""We killed Al-Masih `Isa, son of Maryam, the Messenger of Allah,"" but they killed him not, nor crucified him, but it appeared as that to them, and those who differ therein are full of doubts. They have no (certain) knowledge, they follow nothing but conjecture. For surely; they killed him not.
But Allah raised him up unto Himself. And Allah is Ever All-Powerful, All-Wise.
And there is none of the People of the Scripture, but must believe in him, before his death. And on the Day of Resurrection, he will be a witness against them. (4:156-159)
`His death' refers to `Isa, and the Ayah means that;
the People of the Book will believe in `Isa, before `Isa dies. This will occur when `Isa comes back to this world before the Day of Resurrection, as we will explain.
By that time, all the People of the Book will believe in `Isa, for he will annul the Jizyah and he will only accept Islam from people.
Ibn Abi Hatim recorded that Al-Hasan said that Allah's statement,
إِنِّي مُتَوَفِّيكَ
(I will take you),
is in reference to sleep, for Allah raised `Isa while he was asleep.
Altering the Religion of `Isa
Allah said,
وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ
And purify (save) you from those who disbelieve,
by raising you to heaven,
وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
And I will make those who follow you superior to those who disbelieve, till the Day of Resurrection.
This is what happened. When Allah raised `Isa to heaven, his followers divided into sects and groups.
Some of them believed in what Allah sent `Isa as, a servant of Allah, His Messenger, and the son of His female-servant.
However, some of them went to the extreme over `Isa, believing that he was the son of Allah.
Some of them said that `Isa was Allah Himself, while others said that he was one of a Trinity.
Allah mentioned these false creeds in the Qur'an and refuted them.
The Christians remained like this until the third century CE, when a Greek king called, Constantine, became a Christian for the purpose of destroying Christianity.
Constantine was either a philosopher, or he was just plain ignorant. Constantine changed the religion of `Isa by adding to it and deleting from it. He established the rituals of Christianity and the so-called Great Trust, which is in fact the Great Treachery. He also allowed them to eat the meat of swine, changed the direction of the prayer that `Isa established to the east, built churches for `Isa, and added ten days to the fast as compensation for a sin that he committed, as claimed. So the religion of `Isa became the religion of Constantine, who built more then twelve thousand churches, temples and monasteries for the Christians as well as the city that bears his name, Constantinople (Istanbul).
Throughout this time, the Christians had the upper hand and dominated the Jews. Allah aided them against the Jews because they used to be closer to the truth than the Jews, even though both groups were and still are disbelievers, may Allah's curse descend on them.
When Allah sent Muhammad, those who believed in him also believed in Allah, His Angels, Books and Messengers in the correct manner. So they were the true followers of every Prophet who came to earth. They believed in the unlettered Prophet, the Final Messenger and the master of all mankind, who called them to believe in the truth in its entirety. This is why they had more right to every Prophet than his own nation, especially those who claim to follow their Prophet's way and religion, yet change and alter his religion.
Furthermore, Allah abrogated all the laws that were sent down to the Prophets with the Law. He sent Muhammad with, which consists of the true religion that shall never change or be altered until the commencement of the Last Hour. Muhammad's religion shall always be dominant and victorious over all other religions. This is why Allah allowed Muslims to conquer the eastern and western parts of the world and the kingdoms of the earth.
Furthermore, all countries submitted to them; they demolished Kisra (king of Persia) and destroyed the Czar, ridding them of their treasures and spending these treasures for Allah's sake. All this occurred just as their Prophet told them it would, when he conveyed Allah's statement,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءامَنُواْ مِنْكُمْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الاْرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِى ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدّلَنَّهُمْ مّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْياً
Allah has promised those among you who believe and do righteous good deeds, that He will certainly grant them succession in the land, as He granted it to those before them, and that He will grant them the authority to practice their religion which He has chosen for them. And He will surely give them in exchange a safe security after their fear (provided) they worship Me and do not associate anything with Me. (24:55)
Therefore, Muslims are the true believers in `Isa.
The Muslims then acquired Ash-Sham from the Christians, causing them to evacuate to Asia Minor, to their fortified city in Constantinople. The Muslims will be above them until the Day of Resurrection. Indeed, he, Muhammad, who is truthful and who received the true news, has conveyed to Muslims that they will conquer Constantinople in the future, and seize its treasures.
Threatening the Disbelievers with Torment in This Life and the Hereafter
Allah said,
وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
فَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَأُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فِي الدُّنْيَا وَالاخِرَةِ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
And I will make those who follow you superior to those who disbelieve till the Day of Resurrection. Then you will return to Me and I will judge between you in the matters in which you used to dispute.
As to those who disbelieve, I will punish them with a severe torment in this world and in the Hereafter, and they will have no helpers.
This is what Allah did to the Jews who disbelieved in `Isa and the Christians who went to the extreme over him.
Allah tormented them in this life; they were killed, captured, and lost their wealth and kingdoms. Their torment in the Hereafter is even worse and more severe,
وَمَا لَهُم مِّنَ اللَّهِ مِن وَاقٍ
And they have no Waq (defender or protector) against Allah. (13:34)
وَأَمَّا الَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ
And as for those who believe and do righteous good deeds, Allah will pay them their reward in full.
in this life, with victory and domination, and in the Hereafter, with Paradise and high grades.
وَاللّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
And Allah does not like the wrongdoers.
Allah then said,
ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الايَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
This is what We recite to you of the verses and the Wise Reminder.
meaning, ""What We narrated to you, O Muhammad, regarding `Isa, his birth and his life, is what Allah conveyed and revealed to you, sent down from the Al-Lawh Al-Mahfuz (The Preserved Tablet). So there is no doubt in it.
Similarly, Allah said in Surah Maryam;
ذلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِى فِيهِ يَمْتُرُونَ
مَا كَانَ للَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٍ سُبْحَـنَهُ إِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Such is `Isa, son of Maryam. (It is) a statement of truth, about which they doubt (or dispute). It befits not Allah that He should beget a son. Glorified be He. When He decrees a thing, He only says to it:""Be!"" and it is. (19:34-35)"
God says: And they, the disbelievers among the Israelites, schemed, against Jesus, by assigning someone to assassinate him; and God schemed, by casting the likeness of Jesus onto the person who intended to kill him, and so they killed him, while Jesus was raised up into sky; and God is the best of schemers, most knowledgeable of him [Jesus].
Commentary
In these verses the miraculous event of the Ascension of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) (Jesus Christ) has been mentioned. "And they made a move" refers to the evil designs of the Jews who planned to arrest him and to get him crucified.
The next sentence i.e. "and Allah made a move" refers to the plan designed by Allah Almighty to save his prophet ` Isa (علیہ السلام) from their ill designs. They sent one of them to Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) to arrest him and Allah changed his face totally and made him resemble Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) and raised Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) to heavens, while that person was crucified under the mistaken identity. How Allah had planned to save ` Isa (علیہ السلام) from their clutches was disclosed to him when his enemies came to arrest him. The details of these disclosures have been mentioned in verse 55.
Explanation of important words in the verse
Some sects which deny, contrary to the belief of the entire Muslim community, the Ascension of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) (Jesus Christ), his being alive in the heavens and his descension towards the later times, have worked through the words and meanings of these verses to open doors of distortion in the Qur'anic text. Therefore, it seems appropriate that these words be explained in some details.
Let us begin with وَاللَّـهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ translated as and Allah is the best of those who make moves'. The word, مکر makr in Arabic denotes a subtle and secret move or plan. If this is for a good purpose, it is good; and if this is for a bad purpose, it is bad. It was why the restriction of saiyy سِّٰی : evil) was placed with مکر makr (: move, plan) in: وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا (And evil plan besets none but its perpetrator - 35:43).
The Qur'anic word, مکر makr, is used exclusively for conspiracy, evil plan and strategy in the everyday idiom of the Urdu language (in which this commentary was originally written), therefore, it should not be equated with the Arabic usage. This is the reason why Allah has been called: خَيْرُ الْمَاكِرِينَ 'Khair al-Makirin' here.
The verse means that the Jews started making a series of conspiracies and secret schemes against Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) going to the limit of convincing the ruler of the time that he was a heretic (God forbid) all bent upon changing the Torah and was going to make apostates of everybody. The ruler ordered the arrest of Sayyidna ` Isa (علیہ السلام) . While this was the scene on one side, the subtle and secret move made by Allah Almighty was countering their evil plans more effectively, which has been mentioned in the verses coming next.