ٱلْقَصَص : ١٠

  • وَأَصۡبَحَ dan menjadi
  • فُؤَادُ hati
  • أُمِّ ibu
  • مُوسَىٰ Musa
  • فَٰرِغًاۖ kosong
  • إِن sungguh
  • كَادَتۡ ia hampir
  • لَتُبۡدِي ia menyatakan
  • بِهِۦ dengannya
  • لَوۡلَآ jika tidak
  • أَن bahwa
  • رَّبَطۡنَا Kami teguhkan
  • عَلَىٰ atas
  • قَلۡبِهَا hatinya
  • لِتَكُونَ supaya ia adalah
  • مِنَ dari/termasuk
  • ٱلۡمُؤۡمِنِينَ orang-orang yang beriman
Dan hati ibu Musa menjadi kosong.1 Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).
Catatan kaki
1 *606) Setelah ibunya Musa menghanyutkan Musa di sungai Nil, maka timbullah penyesalan dan kesangsian hatinya karena kekhawatiran atas keselamatan Musa. Bahkan hampir-hampir dia berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa Musa adalah anaknya sendiri.
(Dan hati ibu Musa menjadi) setelah ia mengetahui bahwa bayinya telah diambil (kosong) tidak memikirkan selain daripada bayinya. (Sesungguhnya) lafal in di sini adalah bentuk Takhfif daripada Inna, sedangkan Isimnya dibuang, pada asalnya adalah Innaha, yakni sesungguhnya ibu Musa (hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa) bahwa bayi itu adalah anaknya (seandainya tidak Kami teguhkan hatinya) dengan kesabaran, yakni Kami jadikan hatinya tenang (supaya ia termasuk orang-orang yang percaya) kepada janji Allah. Jawab dari lafal Laula dapat disimpulkan dari pengertian kalimat sebelumnya.