ٱلنُّور ٣
- ٱلزَّانِي laki-laki yang berzina
- لَا tidak akan
- يَنكِحُ mengawini
- إِلَّا melainkan
- زَانِيَةً perempuan yang berzina
- أَوۡ atau
- مُشۡرِكَةٗ perempuan musyrik
- وَٱلزَّانِيَةُ dan perempuan yang berzina
- لَا tidak akan
- يَنكِحُهَآ mengawininya
- إِلَّا melainkan
- زَانٍ laki-laki yang berzina
- أَوۡ atau
- مُشۡرِكٞۚ laki-laki yang musyrik
- وَحُرِّمَ dan diharamkan
- ذَٰلِكَ demikian itu
- عَلَى atas
- ٱلۡمُؤۡمِنِينَ orang-orang mu'min
Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.1
Catatan kaki
1 *558) Tidak pantas orang yang beriman menikah dengan penzina, demikian pula sebaliknya.
(Laki-laki yang berzina tidak menikahi) (melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik) pasangan yang cocok buat masing-masingnya sebagaimana yang telah disebutkan tadi (dan yang demikian itu diharamkan) menikahi perempuan-perempuan yang berzina (atas orang-orang Mukmin) yang terpilih. Ayat ini diturunkan tatkala orang-orang miskin dari kalangan sahabat Muhajirin berniat untuk mengawini para pelacur orang-orang musyrik, karena mereka orang kaya-kaya. Kaum Muhajirin yang miskin menyangka kekayaan yang dimilikinya itu akan dapat menanggung nafkah mereka. Karena itu dikatakan, bahwa pengharaman ini khusus bagi para sahabat Muhajirin yang miskin tadi. Tetapi menurut pendapat yang lain mengatakan pengharaman ini bersifat umum dan menyeluruh, kemudian ayat ini dinasakh oleh firman-Nya yang lain, yaitu, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian..." (Q.S. An Nur, 32).
Tafsir Surat An-Nur: 3
Laki-laki pezina tidak mengawini melainkan perempuan pezina atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.
Hal ini merupakan suatu berita dari Allah ﷻ yang mengatakan bahwa seorang lelaki pezina tidaklah bersetubuh melainkan hanya dengan perempuan pezina atau musyrik. Dengan kata lain, tiada seorang wanita pun yang mau melayani hawa nafsu zina lelaki pezina melainkan hanyalah wanita pezina lagi durhaka atau wanita musyrik yang tidak menganggap perbuatan zina itu haram. Demikian pula makna yang dimaksud oleh firman selanjutnya, yaitu:
“Dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina.” (An-Nur: 3).
Yakni laki-laki durhaka karena perbuatan zinanya.
“Atau laki-laki yang musyrik.” (An-Nur: 3).
Yang meyakini bahwa zina itu tidak haram. Sufyan As-Sauri mengatakan dari Habib ibnu Abu Amrah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: “Laki-laki pezina tidak mengawini melainkan perempuan pezina atau perempuan musyrik.” (An-Nur: 3) Bahwa yang dimaksud dengan nikah dalam ayat ini bukanlah kawin, melainkan bersetubuh.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa tiada seorang pun yang berzina dengan perempuan pezina melainkan hanyalah lelaki pezina atau lelaki musyrik. Sanad riwayat ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas. Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas melalui berbagai jalur sehubungan dengan masalah ini. Hal yang serupa telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Urwah ibnuz Zubair, Ad-Dahhak, Makhul, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Firman Allah ﷻ: "Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin." (An-Nur: 3)
Maksudnya, diharamkan atas mereka melakukan perbuatan tersebut dan mengawini pelacur-pelacur, atau mengawinkan wanita-wanita yang terpelihara kehormatannya dengan laki-laki pezina.
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qais, dari Abu Husain, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: "Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin." (An-Nur: 3). Yakni Allah mengharamkan perbuatan zina atas orang-orang mukmin.
Qatadah dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa Allah mengharamkan orang-orang mukmin mengawini para pelacur, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Firman Allah ﷻ berikut ini, yaitu: "Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin." (An-Nur: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: “Sedangkan mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya.” (An-Nisa: 25). “Dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” (Al-Maidah: 5), hingga akhir ayat. Berangkat dari pengertian ini Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah berpendapat bahwa tidak sah akad nikah seorang lelaki yang memelihara diri dari perbuatan zina terhadap wanita tuna susila, selagi wanita yang bersangkutan masih tetap sebagai pelacur, terkecuali bila ia telah bertobat.
Jika wanita yang bersangkutan telah bertobat, maka akad nikah terhadapnya dari laki-laki yang memelihara diri hukumnya sah; dan jika masih belum bertobat, akad nikahnya tetap tidak sah. Demikian pula halnya kebalikannya, yaitu mengawinkan wanita yang terpelihara kehormatan dirinya dengan seorang lelaki yang suka melacur, sebelum lelaki itu bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya, karena berdasarkan firman Allah ﷻ yang mengatakan: "Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin." (An-Nur: 3)
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Arim, telah menceritakan kepada kami Mu'tamir ibnu Sulaiman yang mengatakan bahwa ayahnya pernah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hadrami, dari Al-Qasim ibnu Muhammad, dari Abdullah ibnu Umar r.a., bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum mukmin meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk mengawini seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummu Mahzul. Mahzul adalah seorang wanita yang suka membeli laki-laki untuk kepuasan hawa nafsunya dengan memberikan imbalan nafkah kepada lelaki yang disukainya. Kemudian lelaki itu mengutarakan maksudnya kepada Rasulullah ﷺ atau menyebut-nyebut perihal Ummu Mahzul di hadapannya. Maka Rasulullah ﷺ membacakan firman ini kepadanya, yaitu: “Laki-laki pezina tidak mengawini melainkan perempuan pezina, atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin." (An-Nur: 3).
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Addi, telah menceritakan kepada kami Al- Mu'tamir ibnu Sulaiman, dari ayahnya, dari Al-Hadrami dari Al-Qasim ibnu Muhammad, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa dahulu pernah ada seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummu Mahzul, dia adalah wanita tuna susila. Lalu ada seorang lelaki dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ yang ingin mengawininya. Maka Allah ﷻ menurunkan firman-Nya: “Laki-laki pezina tidak mengawini melainkan perempuan pezina, atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin." (An-Nur: 3)
Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abd ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Ubadah, dari Ubaidillah ibnul Akhnas, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang lelaki bernama Marsad ibnu Abu Marsad, dia adalah seorang lelaki yang bertugas membawa para tawanan perang dari Mekah ke Madinah. Perawi (kakek Amr ibnu Syu'aib) melanjutkan kisahnya, bahwa di Mekah terdapat seorang wanita tuna susila yang dikenal dengan nama Anaq. Ia kenal baik dengan Anaq. Dan ia pernah menjanjikan kepada seorang laki-laki dari kalangan para tawanan Mekah bahwa ia akan membawanya (ke Madinah). Maka ia datang ke Mekah hingga sampailah di suatu kebun kurma yang ada di Mekah di suatu malam bulan purnama. Anaq datang dan melihat adanya bayangan hitam di bawah naungan pohon kurma.
Ketika Anaq telah berada di dekat pohon itu, ia mulai mengenalku dan berkata, "Kamu Marsad?" Maka aku (perawi) berkata, "Ya, saya Marsad." Ia berkata, "Selamat datang, marilah menginap di rumahku malam ini." Aku menjawab, "Hai Anaq, Allah telah mengharamkan perbuatan zina." Anaq berkata, "Hai penduduk perkemahan, lelaki ini akan membawa tawanan kalian." Ketika aku kembali (bersama orang tersebut yang telah aku janjikan akan membawanya ke Madinah), maka aku diikuti oleh delapan orang, lalu aku memasuki sebuah kebun.
Dan sampailah aku pada sebuah gua, lalu aku masuk ke dalamnya, tiba-tiba mereka yang delapan orang itu datang, kemudian berdiri di dekat kepalaku dan mereka kencing sehingga air seni mereka mengenai kepalaku, dan Allah menjadikan mereka tidak dapat melihatku. Setelah itu mereka pulang. Maka aku kembali menemui temanku dan aku bawa dia di atas kendaraan hewanku; dia adalah seorang lelaki yang gendut.
Ketika aku sampai di tempat yang banyak izkhir-nya, maka aku lepaskan tali ikatannya; dan aku membawa izkhir itu, sedangkan tawanan itu membantuku, hingga sampailah aku di Madinah bersamanya. Aku datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku mau mengawini Anaq, aku mau mengawini Anaq." Rasulullah ﷺ diam, tidak menjawab sepatah kata pun, hingga turunlah firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Laki-laki pezina tidak mengawini melainkan perempuan pezina, atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin." (An-Nur: 3); Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Hai Marsad, seorang lelaki pezina tidak mengawini kecuali seorang perempuan pezina atau perempuan musyrik. Karena itu, janganlah kamu mengawininya.”
Iman Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui jalur ini. Imam Abu Daud dan Imam Nasai telah meriwayatkannya di dalam Kitabun Nikah, bagian dari kitab sunannya masing-masing melalui hadis Ubaidillah ibnul Akhnas dengan sanad yang sama.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musaddad Abul Hasan, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, dari Habib Al-Mu'allim, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Syu'aib, dari Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Seorang pezina yang telah didera tidak mengawini melainkan seseorang yang serupa dengannya.”
Hal yang sama telah diketengahkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya melalui Musaddad dan Abu Ma'mar melalui Abdullah ibnu Amr, keduanya menerima riwayat ini dari Abdul Waris dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Muhammad, dari Zaid ibnu Abdullah ibnu Umar ibnul Khattab, dari saudaranya Umar ibnu Muhammad, dari Abdullah ibnu Yasar Maula Ibnu Umar yang mengatakan ia bersumpah bahwa dirinya pernah mendengar Salim mengatakan, "Abdullah ibnu Umar pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Ada tiga macam orang yang tidak dapat masuk surga dan Allah tidak melihat mereka kelak di hari kiamat, yaitu seseorang yang menyakiti kedua orang tuanya, seorang wanita yang bertingkah laku kelelaki-lakian lagi mirip dengan laki-laki, dan seorang germo. Ada tiga macam orang yang Allah tidak mau melihat mereka kelak di hari kiamat, yaitu seseorang yang menyakiti kedua orang tuanya, pecandu khamr (miras), dan orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya'.” Imam Nasai meriwayatkannya dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Yazid ibnu Zurai', dari Umar ibnu Muhammad Al-Umra, dari Abdullah ibnu Yasar dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Kasir, dari Qatn ibnu Wahb, dari Uwaimir ibnul Ajda', dari seseorang yang menerimanya dari Salim ibnu Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Ada tiga macam orang yang Allah mengharamkan surga bagi mereka, yaitu pecandu khamr (miras), orang yang menyakiti kedua orang tuanya, dan lelaki yang menyetujui perbuatan mesum istrinya.”
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki dari keluarga Sahi ibnu Hanif, dari Muhammad ibnu Ammar, dari Ammar ibnu Yasiryang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Tidak akan masuk surga seorang lelaki germo.” Hadis ini merupakan syahid yang menguatkan hadis-hadis sebelumnya.
Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Salam ibni Siwar, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Sulaim, dari Ad-Dahhak ibnu Muzahim; ia pernah mendengar sahabat Anas ibnu Malik mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang ingin menjumpai Allah dalam keadaan suci lagi disucikan, hendaklah ia mengawini wanita-wanita merdeka.” Di dalam sanad hadits ini terdapat ke-daif-an (kelemahan).
Imam Abu Nasr Isma'il ibnu Hammad Al-Jauhari mengatakan di dalam kitab Sihah (yakni kitab kamus tulisannya) bahwa dayyus adalah seorang lelaki yang sama sekali tidak mempunyai rasa cemburu (ketika istrinya berbuat lacur). Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Abu Abdur Rahman An-Nasai di dalam Kitabun Nikah, dari kitab sunannya, disebutkan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isma'il ibnu Aliyyah, dari Yazid ibnu Harun, dari Hammad ibnu Salamah dan lain-lainnya, dari Harun ibnu Rayyab, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair dan Abdul Karim, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, dari Ibnu Abbas Abdul Karim me-rafa'-kannya sampai kepada ibnu Abbas, tetapi Harun tidak me-rafa'-kannya. Keduanya (Abdul Karim dan Harun) mengatakan: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, "Sesungguhnya saya mempunyai seorang istri yang paling saya cintai, tetapi ia tidak pernah menolak tangan lelaki yang menyentuhnya." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Ceraikanlah dia." Lelaki itu berkata, "Tetapi saya tidak tahan hidup tanpa dia." Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersenang-senanglah dengannya." Kemudian Imam Nasai mengatakan bahwa hadis ini kurang kuat karena Abdul Karim predikatnya kurang kuat, padahal Harun predikatnya jauh lebih kuat daripadanya dan dia me-mursal-kan hadis ini; dia adalah seorang yang siqah, dan hadisnya lebih utama untuk mendapat nilai kebenaran ketimbang hadis Abdul Karim.
Menurut saya Abdul Karim adalah Ibnu Abul Mukhariq Al-Basri, seorang sastrawan lagi seorang tabi'in, tetapi da'if (lemah) dalam periwayatan hadis. Harun Ibnu Rayyab berbeda pendapat dengannya, sedangkan Harun adalah seorang tabi'in yang berpredikat siqah, termasuk salah seorang perawi Imam Muslim, hadisnya berpredikat mursal lebih utama, seperti yang dikatakan oleh Imam Nasai. Akan tetapi, Imam Nasai telah meriwayatkannya pula di dalam Kitabut Talaq melalui Ishaq ibnu Rahawain, dari An-Nadr ibnu Syamil, dari Hammad ibnu Salamah, dari Harun ibnu Rayyab, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, dari Ibnu Abbas secara musnad, lalu ia mengetengahkannya dengan menyebutkan sanad ini.
Semua perawinya dengan syarat Imam Muslim. Hanya Imam Nasai sesudah meriwayatkannya mengatakan bahwa menganggapnya marfu' adalah keliru, yang benar adalah mursal. Selain An-Nadr telah meriwayatkannya dengan benar (yakni mursal). Imam Nasai dan Abu Daud telah meriwayatkannya dari Al-Husain ibnu Hurayyis, bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Waqid, dari Imarah ibnu Abu Hafzah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ, lalu disebutkanlah hadis ini, dan sanad yang baru disebutkan berpredikat jayyid (baik).
Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan predikat hadis ini, ada yang men-da'if-kannya, seperti yang telah disebutkan dari Imam Nasai; ada pula yang menilainya munkar, seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad, bahwa hadis ini berpredikat munkar. Ibnu Qutaibah mengatakan, sesungguhnya makna yang dimaksud dari hadis ini tiada lain bahwa istri lelaki tersebut adalah seorang wanita yang dermawan, tidak pernah menolak tangan orang yang meminta-minta.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab sunannya dari sebagian di antara mereka yang mengatakan bahwa menurut suatu pendapat, wanita tersebut adalah seorang yang dermawan lagi banyak berderma. Tetapi alasan ini disanggah, bahwa seandainya makna yang dimaksud adalah seperti itu, tentulah teks hadis mengatakan Yada Multamisin (tangan orang yang meminta-minta). Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya watak wanita yang dimaksud ialah tidak pernah menolak tangan orang yang menyentuhnya.
Akan tetapi, makna yang dimaksud bukanlah menunjukkan bahwa hal tersebut berdasarkan keinginan wanita itu, dan bahwa wanita itu suka melakukan perbuatan fahisyah (zina). Karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah melarang menjadikan seorang wanita yang berkarakter demikian sebagai seorang istri. Jika seseorang tetap mengawininya, sedangkan watak wanita itu tetap demikian, berarti laki-laki yang mengawininya adalah seorang germo. Padahal dalam keterangan yang lalu telah disebutkan suatu ancaman yang ditujukan terhadap germo. Tetapi karena mengingat bahwa watak wanita tersebut memang demikian, yakni tidak pernah menolak dan tidak pula menepiskan tangan lelaki yang menyentuhnya bila tidak ada seorang pun yang melihat keduanya, maka Rasulullah ﷺ menganjurkan kepada lelaki yang menjadi suaminya itu untuk menceraikannya.
Tetapi sesudah si suami mengungkapkan bahwa dia sangat mencintai istrinya itu, maka Rasulullah ﷺ membolehkan dia tetap menjadikannya sebagai istri; sebab kecintaannya kepada si istri merupakan suatu hal yang nyata, sedangkan terjadinya perbuatan fahisyah dari istrinya merupakan suatu hal yang masih dalam praduga, maka tidaklah boleh memutuskan vonis secara tergesa-gesa hanya karena rasa curiga belaka. Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi lebih mengetahui. Mereka (para ulama) mengatakan bahwa adapun jika wanita tuna susila benar-benar telah bertobat, maka ia boleh dikawini, seperti yang dikatakan oleh Imam Abu Muhammad ibnu Abu Hatim rahimahullah.
Disebutkan: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dari Ibnu Abu Zi-b yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Syu'bah maula Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan saat ditanya oleh seorang lelaki yang mengatakan kepadanya, "Sesungguhnya aku dahulu pernah berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah ﷻ dengan seorang wanita yang kusukai, kemudian Allah ﷻ memberiku jalan petunjuk untuk bertobat dari perbuatan tersebut. Sekarang saya ingin mengawininya." Maka sejumlah orang mengatakan, "Seorang lelaki pezina tidak mengawini melainkan seorang perempuan pezina atau perempuan musyrik." Maka Ibnu Abbas menjawab, "Bukan itu yang dimaksud oleh ayat tersebut. Sekarang kawinilah dia. Jika keputusan ini berdosa, biarlah aku yang menanggungnya,"
Segolongan ulama lainnya mengatakan bahwa ayat ini telah di-mansukh. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnul Musayyab, bahwa pernah disebutkan di hadapannya firman Allah ﷻ yang berbunyi: “Laki-laki pezina tidak mengawini melainkan perempuan pezina atau perempuan musyrik; dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki yang musyrik.” (An-Nur: 3). Disebutkan bahwa Sa'id ibnul Musayyab mengatakan bahwa ayat ini di mansukh oleh firman selanjutnya yang mengatakan: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian.” (An-Nur: 32). Sa'id ibnul Musayyab mengatakan bahwa yang disebutkan adalah orang-orang yang sendirian dari kalangan kaum muslim.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam di dalam kitab Nasikh wal Mansukh-nya, dari Sa'id ibnul Musayyab. Hal tersebut di-nas-kan pula oleh Imam Abu Abdullah ibnu Idris Asy-Syafii.
Usai menjelaskan hukuman atas pezina, ayat ini mengingatkan keharusan menghindari pezina, khususnya untuk dijadikan pasangan hidup. Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan atau dengan perempuan musyrik; dan demikian juga sebaliknya, pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu, yaitu menikah dengan pezina, diharamkan bagi orang-orang mukmin. 4-5. Usai menjelaskan hukuman bagi pezina dan hukum menikahinya, Allah lalu menguraikan sanksi hukum terhadap orang yang menuduh orang lain berbuat zina. Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik telah berbuat zina, dan mereka tidak dapat mendatangkan empat orang saksi yang menjadi saksi atas kebenaran tuduhannya di hadapan pengadilan, maka deralah mereka, wahai kaum mukmin melalui penguasa kamu, sebanyak delapan puluh kali. Hukuman ini berlaku jika penuduh adalah orang merdeka. Jika ia adalah seorang hamba sahaya maka deralah ia empat puluh kali (Lihat juga: an-Nis'/4: 25). Dan ja-nganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Ketentuan ini berlaku atas semua orang yang berbuat demikian, kecuali mereka yang bertobat, menyesali perbuatannya, dan bertekad tidak akan mengulanginya setelah itu, yaitu setelah menerima hukuman itu, dan mereka membuktikan tobat mereka de-ngan memperbaiki diri dan beramal saleh. Jika mereka melakukannya maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Diriwayatkan oleh Mujahid dan Ata? bahwa pada umumnya orang-orang Muhajirin yang datang dari Mekah ke Medinah adalah orang-orang miskin yang tidak mempunyai harta dan keluarga, sedang pada waktu itu di Medinah banyak perempuan tuna susila yang menyewakan dirinya, sehingga penghidupannya lebih lumayan dibanding dengan orang-orang yang lain. Di pintu rumah perempuan-perempuan tersebut, ada tanda-tanda untuk memperkenalkan dirinya sebagai wanita tuna susila. Maka berdatanganlah laki-laki hidung belang ke rumah mereka.
Melihat kondisi ekonomi perempuan tuna susila itu yang agak lumayan, maka timbullah keinginan sebagian dari orang-orang Muslim yang miskin itu untuk mengawini perempun-perempuan tersebut, supaya penghidupan mereka lumayan, maka turunlah ayat ini sebagai teguran untuk tidak melaksanakan keinginannya itu.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa laki-laki pezina tidak boleh menikahi perempuan kecuali perempuan pezina atau perempuan musyrik. Begitu juga perempuan pezina itu tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina pula atau laki-laki musyrik. Artinya tidak pantas sama sekali seorang laki-laki baik-baik, mengawini perempuan pezina yang akan mencemarkan dan merusak nama baiknya. Sebaliknya, seorang perempuan baik-baik, tidak pantas dinikahi oleh laki-laki pezina yang dikenal oleh lingkungannya sebagai laki-laki yang bejat dan tidak bermoral, karena pernikahan itu akan merendahkan martabat perempuan tersebut dan mencemarkan nama baik keluarganya. Kecuali bila laki-laki atau perempuan pezina itu sudah bertobat, maka boleh menikah atau dinikahi oleh laki-laki atau perempuan baik-baik.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
(1) Inilah dia satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankannya), dan Kami terakan pula di dalamnya ayat-ayat nyata, supaya kamu mendapat peringatan.
Di dalam ayat-ayat yang pertama ini sudah jelas bahwa Surat an-Nur ini telah diturunkan berisi peraturan-peraturan dan perintah yang wajib dijalankan dalam masyarakat Islam, dilakukan dan tidak boleh diabaikan, mesti dijadikan peraturan yang berjalan kuatkuasanya atas masyarakat.
Dan di samping peraturan-peraturan yang mesti dijalankan itu. Surat ini pun tetap mengandung ayat-ayat yang terang dan jelas, diterangkan atau di jelaskan terutama berkenaan dengan hubungan seseorang dengan Tuhannya,
dalam rangka kepercayaan Tauhid, yang menjadi pokok pangkal pendirian seorang Islam dan masyarakat Islam.
Dengan keduanya ini, peraturan yang diwajibkan dan ayat-ayat yang jelas tumbuhnya masyarakat dengan kuat dan teguhnya sebab segala peraturan yang berlaku bukan semata kehendak manusia, tetapi bersumber daripada Allah. Dijelaskan hal ini supaya kita segenap pendukung masyarakat Islam ingat benar-benar pegangan hidup atau sendi tempat menegakkan masyarakat Islam itu.
Dari ayat-ayat seperti Inilah tumbuhnya cita (ideologi) yang tak kunjung padam di dalam hati setiap Muslim hendak mengurus betapa supaya masya-rakat-yang baik dan terpuji, adil dan makmur, rambah dan ripah bIsa terberituk. Ini pula sebabnya maka dalam titik tolak fikiran Islam tidak ada pemIsahan di antara agama dengan masyarakat, baik masyarakat kesukuan dan kabilah ataupun kelaknya masyarakat yang telah memberituk dirinya sebagai sebuah negara. Tuhan mendatangkan perintah, dan perintah itu wajib dilaksanakan, dijadikan kenyataan dalam masyarakat Tuhan menjadi pemberituk undang-undang (legialatif), dan manusia sejak pemegang pemerintahan sampai rakyat pelaksananya (eksekutif). Apabila dia dapat berjihari (berjuang) untuk mencapai cita-cita itu, berapa pun tercapainya, si Muslim merasa mendapat pahala dari Tuhan, bukan saja kebahagIsan dunia, bahkan pula kebahagIsan syurga di akhirat. Dan kalau dia berlengah diri itu, dia merasa berdosa. Celakalah di dunia dan neraka di akhirat. Adapun kuat lemahnya cita yang demikian dalam dirinya adalah bergantung dari kuat atau lemahnya pengertiannya atas tuntutan-tuntutan agamanya.
Ini adalah tujuan hidup seorang Muslim: yaitu melaksanakan kehendak hukum Allah dalam masyarakat. Sebab trienurut Islam, sumber hukum ialah Allah dan Rasul, yang dinamai Syari'. Tetapi tidaklah dapat kita melupakan bahwasanya keadaan adalah terbagi dua. Yaitu tujuan (Ghayah) dan taktik untuk mencapai tujuan (Wasilah). Kadang-kadang dia jatuh karena kesalahan taktik, yang karena hebatnya rintangan atau karena belum adanya pengalaman. Tetapi kesalahan taktik atau kegagalan haruslah dijadikannya pengajaran untuk melanjutkan lagi mencapai yang ditujunya.
“Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan saja berkata: “Kami beriman.'' Padahal mereka belum diuji? Sungguh telah Kami uji orang yang sebelum mereka, maka diketahui Allah siapa di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa pula yang hanya berbohong belaka."
(al-Ankabut: 2-3)
Hukuman Zina
Berzina adalah segala persetubuhan di luar nikah. Asal persetubuhan itu belum atau tidak dIsahkan dengan nikah, atau tidak dapat dIsahkan dengan nikah, termasuklah dia dalam golongan zina. Tidaklah diperhitungkan sukakah kedua belah pihak atau tidak suka, mIsal pihak yang seorang memaksa atau memperkosa atas pihak lain.
Kita jelaskan hal ini karena dalam buku-buku hukum pidana barat, yang sudah banyak ditiru oleh negara-negara orang Islam yang dijajah oleh orang Barat, ataupun terpengaruh oleh cara berfikir orang Barat yang disebut berzina ialah jika seorang laki-laki bersetuliub dengan seorang perempuan yang bersuami, dan suami perempuan itu mengadu kepada hakim. Maka kalau suaminya tidak keberatan tidak kena hukuman lagi.
Dalam hukuman pidana Barat itu juga, baru disebut berzina kalau mIsalnya si perempuan diperkosa, artinya dia tidak suka, karena dia masih di bawah umur. Lalu dia mengadu kepada hakim, dan pengaduannya itu diterima, maka dipersalahkan laki-laki itu. Maka segala persetubuhan suka sama suka, dalam cara fikiran demikian, tidaklah termasuk zina walaupun yang bersetubuh itu tidak nikah. Dan baru mendapat hukuman keras kalau terjadi perkosaan kepada gadia di bawah umur, sehingga pecah perawannya, padahal dia belum matang buat menerima persetubuhan. Tetapi walaupun dia masih perawan, kalau dia sendiri suka, tidaklah dihukum.
Maka perzinaan menurut yang ditentukan oleh Islam itu ialah persetubuhan yang terjadi di luar nikah, walau suka sama suka.
Mana pula pentinaan yang tidak suka sama suka?
(2) Perempuan yang berzina dengan laki-laki yang berzina, hendaklah kamu dera tiap-tiap satu dari keduanya itu dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan kasihan kepada keduanya di dalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu seberianya beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan hendaklah hukuman keduanya itu dIsaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
Cara Pelaksanaan Hukuman
Sumber hukum yang pertama dalam Islam ialah al-Qur'an. Dengan demikian sudahlah ada patokan hukum dengan adanya ayat 2 pada Surat an-Nur inj. Tetapi belumlah cukup berpegang pada bunyi ayat saja, melainkan hendaklah diperhatikan pula betapa caranya Rasul Allah melaksanakan hukum itu.
Sebab ity maka “Sunnah Rasulullah" adalah sumber hukum yang kedua.
Menurut Rasul Allah s.a.w.: Yang melakukan zina itu dibagi atas dua tingkat, yaitu yang mendapat hukum sangat berat dan yang dijatuhi hukuman berat. Yang mendapat hukum sangat berat ialah orang muhshan ( j ).
Arti aslinya ialah orang-orang yang terberiteng, orang-orang yang tidak patut berzina, karena hidupnya berberiteng oleh pandangan masyarakat, sehingga pandangan umum sudah menganggap dia tidaklah patut berbuat demikian. Yaitu keduanya itu telah cukup umur (baligh) dan berakal faqil) lagi merdeka, lagi Islam dan laki-lakinya ada isteri,-dan perempuannya ada bersuami, dihubungkan “keberatan" atau tidaknya suaminya atau isterinya yang sah itu, hukumannya ialah rajam, yaitu diikat dan dibawa ke tengah kumpulan orang ramai kaum Muslimin, lalu dilempari dengan batu sampai mati.
Meskipun pelemparan dengan batu itu tidak tersebut dalam ayat, dia menjadi hujjab (alasan), karena demikianlah lelah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. Dan menjalankan hukum ini diterima dari perawi-perawi yang dapat dipercaya, yaitu: Abu Bakar, Umar, Ali, Jahir bin Abdullah, Abu Said al-Khudari, Abu Hurairah, Zayid bin Khatid dan Buraidah al-Aslami. Semuanya sahabat-sahabat yang besar-besar dan temama.
Hukuman ini pernah dilakukan oleh Rasul Allah s.a.w. kepada seorang sahabat yang bernama Ma'iz, yang datang sendiri mengakui terus-terang kepada Nabi bahwa dia telah bersalah berbuat zina. Dia sendiri yang minta dihukum. Berkali-kali Nabi s.a.w. mencoba meringankan soal ini, sehingga beliau berkata: “Mungkin baru engkau pegang-pegang saja," “mungkin tidak sampai engkau setubuhi," dan sebagainya, tetapi Ma'iz berkata juga terus-terang bahwa dia memang telah berzina, bahwa dia memang telah melanggar larangan Tuhan, dan belumlah dia merasa ringan dari pukulan dan pukulan batin sebelum dia dihukum. Maka atas permintaannya sendirilah dia dirajam, sampai mati.
Kejadian itu pula hal demikian pada dua orang wanita, seorang dari suku Bani Lukham dan seorang lagi persukuan Bani Ghamid, datang pula mengaku di hadapan Nabi bahwa mereka telah terlanjur berzina. Seorang di antaranya sedang hamil dari perzinahan itu. Sebagai Ma'iz, kedua perempuan itu rupanya merasa tekanan batin yang amat sangat sebelum hukuman itu dijalankan atas diri mereka, sehingga dijalankan pula hukuman rajam itu, sampai mati. Dan terhadap kepada perempuan yang hamil itu, hukum tersebut baru dijalankan setelah anaknya lahir dan besar, lepas dari menyusu. Itu pun perempuan itu sendiri juga yang datang melaporkan diri.
Adapun perempuan dan laki-laki yang IIOBK munsnen. miaomyo perempuan yang tidak atau belum bersuami dan laki-laki yang tidak atau belum beristeri, dilakukankan hukuman sebagai tersebut dalam ayat tadi, yaitu dipukul cambuk, atau dengan rotan 100 kali, di hadapan khalayak ramai kaum Muslimin.
Itulah hukuman duniawi. Adapun dalam perhitungan agama, zina adalah termasuk dosa yang amat besar, dan azhab siksa -yang akan diterimanya di akhirat sangat besar pula. Adalah tiga macam dosa besar yang diancam oleh siksa yang besar, yaitu pertama mempersekutukan Tuhan Allah dengan yang lain, kedua membunuh manusia, ketiga berbuat zina. Yang pertama menjadi dosa besar karena dia menghancurkan hubungan dengan Tuhan, yang kedua karena menghilangkan keamanan masyarakat, yang ketiga karena mengacaukan masyarakat.
Tersebut dalam ayat:
“Dan orang-orang yang tidak menyeru Allah beserta Tuhan yang lain, dan tidak membunuh akan suatu diri, kecuali dengan haknya (hukum bunuh) dan tidak pula berzina. Barangsiapa berbuat semacam itu, bertemulah dia dengan dosa." (al-Furqan: 68)
Daiam suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Huzaifah, tersebut pula Sabda Rasulullah s.a.w. tentang bahaya dan celakanya zina bagi seseorang yang melakukannya:'
“Hai sekalian orang, jauhilah olehmu akan zina, karena zina menimbulkan 6 kecelakaan. Adapun yang 3 di dunia ialah 3 pula di akhirat, yaitu menjatuhkan harga peribadi, menyebabkan miakin dan mengurangi umur, dan 3 di akhirat ialah keberician Tuhan, keburukan perhitungan dan azhab siksa neraka."
Sejak dari syariat Nabi Musa, baik dalam hukum 10 (Kitab Taurat) ataupun dalam pelaksanaan hukum Taurat itu, zina telah dilarang keras dan barangsiapa yang melakukannya diancam dengan hukum rajam juga. Dan Nabi Isa Almasih sendiri pun memberi peringatan keras kepada murid-muridnya agar janganlah memandang perkara enteng zina itu, sehingga beliau berpesan kalau matamu telah terlanjur berzina, yaitu salah pandangmu kepada perempuan karena syahwatmu, lebih baik dikorek mata itu. Cuma Nabi Isa yang tidak mempunyai kekuasaan buat menjalankan hukum Taurat, yaitu rajam itu. Sebab kekuasaan ketika itu tidak ada di tangan beliau. Negeri Palestina adalah di bawah kekuasaan bangsa Romawi. Dan setebli Nabi Muhammad s.a.w. menegakkan ke-
kuasaan Islam di Madinah, barulah dibangkitkan hukum Taurat itu kembali. Malahan seketika terdapat orang Yahudi dalam pemerintahan beliau di Madinah berbuat zina, telah diauruhnya membaca Nash Kitab Taurat yang masih ada di tangan mereka, dan Nabi menjalankan hukum Taurat itu untuk mereka.
Di dalam ayat No. 2 itu dijelaskan bahwa hukum itu mesti dilakukan dan tidak boleh dikendurkan karena merasa belas-kasihan atau tenggang-menenggangi Malahan di dalam susunan ayat itu diriahulukan menyebut laki-laki yang berzina. Karena menghambat jangan sampai orang mengendurkan hukum karena yang akan dihukum itu ialah “kaum lemah", “wanita yang patut dikasihani" dan sebagairiya.
Mengapa Islam sekeras itu menghukum orang yang berzina?
Diterangkanlah kesimpulan maksud agama, yaitu untuk memelihara lima
Pertama, memelihara Agama itu sendiri. Sebab itu dihukum orang yang murtad, dihukum orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja, dihukum orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Dan untuk memelihara dlan mempertahankan Agama, diperbolehkan berperang.
Kedua, memelihara jiwa raga manusia. Sebab itu dihukum Qiahash barang-siapa yang membunuh sesamanya manusia. Dan dilarang membunuh diri sendiri. Dilarang menggugurkan kandungan. Tidak boleh orang bertindak sendiri membunuh orang yang bersalah mIsalnya, kalau tidak hakim yang melakukannya karena suatu keputusan hukum. Atau berbunuh-butiuhan karena berperang menegakkan agama atau membela batas-batas negara (Stughur).
Ketiga, memelihara kehormatan. Hendaklah hubungan laki-laki dan perempuan dengan nikah. Dilarang berzina dan diriera atau dirajam barang-siapa yang melakukannya. Di zaman pemerintah Khatifah keempat, Saiyidiria Ali bin Abu Thatib pernah dilakukan hukuman bakar atas orang yang ber-setubuh sejenia (liwath), yaitu laki-laki menyetubuhi laki-laki atau perempuan mengadu farajnya dengan sesamanya perempuan (musabaqah) dan pernah juga dijatuhkan hukuman bunuh atas orang yang tertangkap menyetubuhi binatang.
Keempat, memelihara akal. Sebab itu dihukum pukul (dera) orang yang minum minuman keras yang memabukkan, karena mabuk adalah merusak akal.
Kelima, memelihara hartabenda. Dianjurkan berusaha mencari rezeki harta' yang halal. Dihukum pencuri dengan memotong tangannya, perampok dIsalib atau dipotong kaki dan tangan, atau dibuang.
Dan wibawa hukum ini harus dijaga, tidak boleh diremehkan, tidak boleh diabaikan, tidak boleh menenggang, atau karena rasa kasihan. Dikendurkan karena tenggang-menenggang.
perkara.
“Ka/au mencuri Fatimah binti Muhammad, akan saga potong juga tangan-
n ya.
Maka bereina adalah suatu dosa besar, yang apabila iman kepada Tuhan sudah amat mendalam, dan pengaruh kehidupan Islam itu telah mendalam pula dalam masyarakat Islam, sangatlah orang berusaha menjauhinya, dan seorang yang berzina akan dikutuk dan diberici oleh masyarakat yang masih dipengaruhi oleh fikiran-fikiran Islam, amat dipandang aib kalau ada seorang dara belum bersuami, setelah nikah perawannya tidak ada lagi. Sampai men-jadi adat yang ganjil dan agak buruk dipandang dengan kaca mata zaman sekarang, yaitu seluruh keluarga menunggu pagi-pagi hari pertama perkawinan, adakah pergaulan pengantin laki-laki dan perempuan itu “selamat''.
Artinya masih adakah perawan pengantin perempuan itu. Pengantin laki-laki wajib melaporkan dan menunjukkan bukti, mIsalnya kain yang berdarah.
Menilik kepada ini, sekarang mulailah hilang keheranan kita mengapa di zaman Rasul Allah hukuman rajam dan dera dilakukan kepada orang-orang yang mengaku terus-terang bahwa dia telah bersalah, padahal telah diriasihati, namun dia masih bersungguh-sungguh mengatakan bahwa dia memang bersalah, dia sendiri minta dihukum, dan jiwanya belum merasa puas sebelum dirinya mati ditimpuki batu. Sampai kejadian hal ini pada seorang laki-laki dan dya perempuan.
Nabi Muhammad s.a.w. sendiri, meskipun telah menjalankan hukum itu menurut Sabda Tuhan, dan sekali-sekali tidak dipengaruhi oleh rasa kasihan, karena membawa rasa demikian dalam melaksanakan hukum, telah dapat memIsahkan rasa kasihannya dalam pelaksanaan hukumnya. Seketika merajam seorang perempuan yang mengaku itu. sahabat-sahabat Nabi telah datang merajam beramai-ramai. Di antaranya ialah Pahlawan Islam yang besar, Khatid bin Walid turut merajamnya, dari mulutnya telah keluar perkataan kasar memaki dan mengutuk perempuan itu. Dengan tegas Nabi s.a.w. telah menegur Khatid: “Jangan memaki hai Khatid, jangan memaki. Laksanakan sajalah hukuman ini dengan tenang."
Memang, dia telah mengaku. Pengakuan itu ialah alamat.iman dan tauhid yang sudah kembali dalam jiwanya setelah dia taubat. Sebagai mana Sabda Tuhan di dalam satu Hadist Qudsi: “Kalau ada hambaKu yang bersalah agar dia bertaubat kepadaKu."
Kadang-kadang menurut ilmu jiwa, iman orang yang bersalah lalu bertaubat, kadang-kadang melebihi mumi daripada iman orang yang merasa tidak pernah bersalah.
The sounding of the Trumpet and the weighing of Deeds in the Scales
Allah says:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ
Then, when the Trumpet is blown,
Allah says that when the Trumpet is blown for the Resurrection, and the people rise from their graves,
فَلَ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَيِذٍ وَلَا يَتَسَاءلُون
there will be no kinship among them that Day, nor will they ask of one another.
meaning that lineage will be of no avail on that Day, and a father will not ask about his son or care about him.
Allah says:
وَلَا يَسْـَلُ حَمِيمٌ حَمِيماً يُبَصَّرُونَهُمْ
And no friend will ask a friend (about his condition), though they shall be made to see one another. (70:10-11)
meaning, no relative will ask about another relative, even if he can see him and even if he is carrying a heavy burden. Even if he was the dearest of people to him in this world, he will not care about him or take even the slightest part of his burden from him.
Allah says:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ
وَصَـحِبَتِهُ وَبَنِيهِ
That Day shall a man flee from his brother. And from his mother and his father. And from his wife and his children. (80:34-36)
Ibn Mas`ud said,
On the Day of Resurrection, Allah will gather the first and the last, then a voice will call out, `Whoever is owed something by another, let him come forth and take it.' And a man will rejoice if he is owed something or had been mistreated by his father or child or wife, even if it is little.
This is confirmed in the Book of Allah, where Allah says:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَإ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَيِذٍ وَلَاإ يَتَسَاءلُون
Then, when the Trumpet is blown, there will be no kinship among them that Day, nor will they ask of one another.
This was recorded by Ibn Abi Hatim.
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَيِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Then, those whose Scales are heavy, these! they are the successful.
means, the one whose good deeds outweigh his bad deeds, even by one.
This was the view of Ibn Abbas.
فَأُوْلَيِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
they are the successful.
means, those who have attained victory and been saved from Hell and admitted to Paradise.
Ibn Abbas said,
These are the ones who have attained what they wanted and been saved from an evil from which there is no escape.
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
And those whose Scales are light,
means, their evil deeds outweigh their good deeds.
فَأُوْلَيِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ
they are those who lose themselves,
means, they are doomed and have ended up with the worst deal.
Allah says:
فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
in Hell will they abide.
meaning, they will stay there forever and will never leave
تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ
The Fire will burn their faces,
This is like the Ayah:
وَتَغْشَى وُجُوهَهُمْ النَّارُ
and fire will cover their faces. (14:50)
and:
لَوْ يَعْلَمُ الَّذِينَ كَفَرُواْ حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وُجُوهِهِمُ النَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمْ
If only those who disbelieved knew (the time) when they will not be able to ward off the Fire from their faces, nor from their backs. (21:39)
وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ
and therein they will grin, with displaced lips.
Ali bin Abi Talhah narrated from Ibn Abbas,
Frowning.
Rebuking the People of Hell, their admission of Their Wretchedness and their Request to be brought out of Hell
This is a rebuke from Allah to the people of Hell for the disbelief, sins, unlawful deeds and evil actions that they committed, because of which they were doomed.
Allah says:
أَلَمْ تَكُنْ ايَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ
Were not My Ayat recited to you, and then you used to deny them!
meaning, `I sent Messengers to you, and revealed Books, and cleared the confusion for you, so you have no excuse.'
This is like the Ayat:
لِيَلَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
in order that mankind should have no plea against Allah after the Messengers. (4:165)
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
And We never punish until We have sent a Messenger. (17:15)
كُلَّمَا أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَأ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
Every time a group is cast therein, its keeper will ask:Did no warner come to you Until His saying;
فَسُحْقًا لاًّصْحَـبِ السَّعِيرِ
(So, away with the dwellers of the blazing Fire!) (67:8-10)
قَالُوا
They will say:
رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ
Our Lord! Our wretchedness overcame us, and we were (an) erring people.
meaning, evidence has been established against us, but we were so doomed that we could not follow it, so we went astray and were not guided.
Then they will say:
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ
Our Lord! Bring us out of this. If ever we return (to evil), then indeed we shall be wrongdoers.
meaning, send us back to the world, and if we go back to what we used to do before, then we will indeed be wrongdoers who deserve punishment.
This is like the Ayat:
فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ
Now we confess our sins, then is there any way to get out, Until His statement:
فَالْحُكْمُ للَّهِ الْعَلِـىِّ الْكَبِيرِ
(So the judgment is only with Allah, the Most High, the Most Great!). (40:11-12)
meaning, there will be no way out, because you used to associate partners in worship with Allah whereas the believers worshipped Him Alone.
Allah's Response and Rejection of the Disbelievers
This is the response of Allah to the disbelievers when they ask Him to bring them out of the Fire and send them back to this world.
قَالَ
He (Allah) will say:
اخْسَوُوا فِيهَا
Remain you in it with ignominy!
meaning, abide therein, humiliated, despised and scorned.
وَلَا تُكَلِّمُونِ
And speak you not to Me!
means, `do not ask for this again, for I will not respond to you.
Al-`Awfi reported from Ibn Abbas concerning this Ayah,
اخْسَوُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ
(Remain you in it with ignominy! And speak you not to Me!)
These are the words of Ar-Rahman when silencing them.
Ibn Abi Hatim recorded that Abdullah bin `Amr said,
The people of Hell will call on Malik for forty years, and he will not answer them. Then he will respond and tell them that they are to abide therein. By Allah, their cries will mean nothing to Malik or to the Lord of Malik. Then they will call on their Lord and will say,
قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْماً ضَألِّينَ
رَبَّنَأ أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَـلِمُونَ
Our Lord! Our wretchedness overcame us, and we were (an) erring people. Our Lord! Bring us out of this. If ever we return (to evil), then indeed we shall be wrongdoers. (23:106-107)
Allah will not answer them for a time span equivalent to twice the duration of this world. Then He will reply:
اخْسَوُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ
(Remain you in it with ignominy! And speak you not to Me!)
By Allah, the people will not utter a single word after that, and they will merely be in the Fire of Hell, sighing in a high and low tone. Their voices are likened to those of donkeys, which start in a high tone and end in a low tone.
Then Allah will remind them of their sins in this world and how they used to make fun of His believing servants and close friends:
إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا امَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا
Verily, there was a party of My servants who used to say:Our Lord! We believe, so forgive us and have mercy on us, for You are the Best of all who show mercy! But you took them for a laughing stock,
meaning, `you made fun of them for calling on Me and praying to Me,'
حَتَّى أَنسَوْكُمْ ذِكْرِي
so much so that they made you forget My remembrance,
means, your hatred for them made you forget what I would do to you.
وَكُنتُم مِّنْهُمْ تَضْحَكُونَ
while you used to laugh at them!
means, at their deeds and worship.
This is like the Ayah:
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُواْ كَانُواْ مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضْحَكُونَ
وَإِذَا مَرُّواْ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ
Verily, those who committed crimes used to laugh at those who believed. And, whenever they passed by them, used to wink one to another. (83:29-30)
meaning, they used to slander them in mockery.
Then Allah tells us how He will reward His friends and righteous servants, and says
إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا
Verily, I have rewarded them this Day for their patience;
meaning, `for the harm and mockery that you inflicted on them,
أَنَّهُمْ هُمُ الْفَايِزُونَ
they are indeed the ones that are successful.
I have caused them to attain the victory of joy, safety, Paradise and salvation from the Fire.
Allah tells them how much they wasted in their short lives in this world by failing to obey Allah and worship Him Alone. If they had been patient during their short stay in this world, they would have attained victory just like His pious close friends.
قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الاْاَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ
He will say:What number of years did you stay on earth!
means, how long did you stay in this world.
قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلْ الْعَادِّينَ
They will say:We stayed a day or part of a day. Ask of those who keep account.
meaning, those who keep the records
قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلاَّ قَلِيلًا
He will say:You stayed not but a little...
meaning, it was only a short time, no matter how you look at it.
لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
if you had only known!
means, you would not have preferred the transient to the eternal, and treated yourself in this bad way, and earned the wrath of Allah in this short period. If you had patiently obeyed Allah and worshipped Him as the believers did, you would have attained victory just as they did.
Allah did not create His Servants in vain
Allah tells
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا
Did you think that We had created you in play,
means, `did you think that you were created in vain, with no purpose, with nothing required of you and no wisdom on Our part!'
Or it was said that in play meant to play and amuse yourselves, like the animals were created, who have no reward or punishment. But you were created to worship Allah and carry out His commands.
وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَاأ تُرْجَعُونَ
and that you would not be brought back to Us!
means, that you would not be brought back to the Hereafter.
This is like the Ayah:
أَيَحْسَبُ الاِنسَـنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
Does man think that he will be left neglected! (75:36
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ
So Exalted be Allah, the True King.
means, sanctified be He above the idea that he should create anything in vain, for He is the True King Who is far above doing such a thing.
لَاا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
None has the right to be worshipped but He, the Lord of Al-`Arsh Al-Karim!
The Throne is mentioned because it is the highest point of all creation, and it is described as Karim, meaning beautiful in appearance and splendid in form, as Allah says elsewhere:
أَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
every good kind We cause to grow therein. (26:7
Allah says:
وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا اخَرَ
And whoever invokes besides Allah, any other god,
Shirk is the Worst form of Wrong, its Practitioner shall never succeed. Allah threatens those who associate anything else with Him and worship anything with Him. He informs that those who associate others with Allah:
لَاا بُرْهَانَ لَهُ
of whom he has no proof,
meaning no evidence for what he says.
Then Allah says:
وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا اخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ
بِهِ
And whoever invokes, besides Allah, any other god, of whom he has no proof;
this is a conditional sentence, whose fulfilling clause is:
فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ
then his reckoning is only with his Lord.
meaning, Allah will call him to account for that.
Then Allah tells us:
إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Surely, disbelievers will not be successful.
meaning, they will not be successful with Him on the Day of Resurrection; they will not prosper or be saved
وَقُل
And say:
رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
My Lord!
Forgive and have mercy, for You are the best of those who show mercy!
Here Allah is teaching us to recite this supplication, for forgiveness, in a general sense, means wiping away sins and concealing them from people, and mercy means guiding a person and helping him to say and do good things.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Mu'minun. All praise and thanks are due to Allah.
The fornicator shall not marry anyone but a fornicatress or an idolatress, and the fornicatress shall be married by none except a fornicator or an idolator, in other words, what is suitable for each of the two [for the purposes of marriage] is the above-mentioned; and that, namely, marrying of fornicators, is forbidden to believers, who are better [than those]. This was revealed when the poor among the Emigrants resolved to marry the wealthy whores of the idolaters, so that they [the women] would provide for them. Thus it is said that the prohibition applies specifically to them; but it is also said to apply in general; but it was abrogated by God's words: Marry off the spouseless among you [Q. 24:32].
Commentary
The second injunction about fornication
The first injunction was regarding the punishment of fornication, which has been described in the previous verse. The second injunction is about marrying the men or women who have committed adultery. Alongside the marriage with polytheist man and woman is also described. The commentators have given different views while explaining this verse, but the simplest and safe meaning is that fornication is an obnoxious act, and as such whoever indulges in this act loses his character and taste, and is attracted towards persons of the same character, and likes o marry them.
The objective of this verse, according to this interpretation, is not part of an injunction, but merely to describe a fact of life, normally seen in everyday life. This is a reflection on the filthy act of fornication, and its far reaching detrimental and evil effects. In other words, the verse says that fornication is a poison to ethics, and its poisonous effects ruin the moral behavior of man. He stops differentiating between good and bad, and develops a liking for evil things. He does not bother about permissible (حلال) and prohibited (حرام). Any woman that he fancies for is with the purpose of fornication, and hence he tries to cajole her into the shameful act. If he fails in his advances, only then agrees for the marriage under compulsion. But he does not really like the marriage, because he finds the objects of marriage, such as being faithful to wife, produce virtuous children and take charge of all her needs and alimony for life, a burden and nuisance for him. Since such a person does not have any concern with the marriage, his inclination is not restricted towards Muslim women but is as much for polytheist women. If a polytheist woman lays the condition of marital bond for fulfilling her religious obligation, then he would agree for the marriage as well to meet his desire, without having regard that such a marriage has no sanctity and is not valid in Islamic law. It, therefore, comes true on him that if he has a fancy for a Muslim woman, she would either be an adulterer or will become an adulterer after having illicit relations with him, or he would fancy a polytheist woman, with whom the marriage is as impermissible as adultery. This is the explanation of the first sentence of the verse, that is الزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً (24:3).
Likewise, if a woman is a habitual adulterer and does not beg Allah's pardon, then a truly believing Muslim male, for whom marriage is a religious trust, would not really fancy such a woman, especially knowing fully well that she would not give up her obnoxious habit of adultery even after the bond of marriage. Only a male adulterer would be attracted to her whose sole aim is to fulfill his lust rather than marriage. But if she makes marriage a condition for any mundane consideration, he accepts that too as a compromise. Alternatively, a polytheist male would agree to marry an adulterer (Muslim) woman. Since, marrying a polytheist is as prohibited for a Muslim woman as adultery, two things have been combined in this situation, that the man is both a polytheist and an adulterer. This is the explanation of the second sentence of the verse الزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ . This has become apparent from the above explanation that the term adulterer is used for those men and women who do not repent and beg Allah's Mercy, and stick to this evil habit. In case an adulterer man marries a chaste woman for the sake of house-keeping or for having children, then there is no ban to this marriage from this verse. Similarly, if an adulterer woman marries a virtuous man with the intent of leading a pure life, then also there is no stopping for such a marriage in the light of this verse. Such a marriage will be valid in accordance with the Islamic law. Majority of the Muslim jurists like Imam Abu Hanifah, Imam Malik and Imam Shafi` i etc. are of the same view, and it is also established that the companions of the Prophet ﷺ have solemnized such marriages. Tafsir Ibn Kathir has also reported the same fatwa by Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ . Now, as to the last sentence of the verse وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (24:3) some commentators have explained the word ذٰلک as alluding towards adultery. In that case the meaning of the sentence would be that, as the adultery is such an evil act, it has been forbidden for believers. There is no confusion in the meaning by adopting this explanation, but taking ذٰلِکَ for the meaning of adultery is rather far fetched in the context of this verse. Therefore, other commentators have adopted the explanation for ذٰلک to allude towards the marriage of adulterer (man and woman) and polytheist (man and woman).
The marriage between a Muslim man and a polytheist woman and between a polytheist man and a Muslim woman is even otherwise established as forbidden by other categorical Qur'anic injunctions, and there is consensus of Ummah on the issue. However, the marriage between an adulterer man and a chaste woman, and a chaste man and an adulterer woman is forbidden as implied by this sentence but is exclusive to the situation that a chaste man after marrying an adulterer woman does not stop her from indulging in adultery even after the marriage, as that will be nothing short of pimping, which is forbidden (حرام) by Islamic law. Similarly, if a pious and chaste lady marries a habitual adulterer man and let him indulge in adultery even after the marriage, then this is also forbidden (حرام). at is meant here is that it is a big sin, but it does not follow that their marriage will be nullified.
The word 'prohibited' (حرام) has two connotations in Islamic law. One, that this act is a sin and one who acts upon it will undergo punishment for that in the Hereafter, and the other is that it will have no legal validity in this world either. For instance if a Muslim man marries a polytheist or a woman of prohibited degree, then it is not only a sin but such a marriage is not valid under Islamic law. There is no difference between such a marriage and adultery. The second meaning of prohibition is that the act is forbidden (حرام) and is liable for punishment, but the legal consequences of the act are recognized. For example if a man elopes or abducts a woman and then marries her before two witnesses with her consent, then despite the act being unlawful, the marriage will be valid and the children legitimate. Similarly the marriage between an adulterer man and an adulterer woman is though prohibited if they marry for some worldly expediency but their real aim is adultery, yet, such a marriage is legally recognized. As such all the provisions of marriage, such as alimony, dower, lineage proof, heritage etc. will all be applicable. This way the word حرّم in this verse fits in very well for the polytheist woman as per former explanation, and for the adulterers (man and woman) according to the latter explanation.
In the light of this explanation it is not needed to declare the verse as cancelled as has been done by some commentators.