ٱلشُّورَىٰ : ٥١

  • وَمَا dan tidak
  • كَانَ ada
  • لِبَشَرٍ bagi seorang manusia
  • أَن bahwa
  • يُكَلِّمَهُ berkata dengannya
  • ٱللَّهُ Allah
  • إِلَّا kecuali
  • وَحۡيًا wahyu
  • أَوۡ atau
  • مِن dari
  • وَرَآيِٕ belakang
  • حِجَابٍ tabir
  • أَوۡ atau
  • يُرۡسِلَ mengutus
  • رَسُولٗا utusan
  • فَيُوحِيَ lalu diwahyukan
  • بِإِذۡنِهِۦ dengan idzin-Nya
  • مَا apa yang
  • يَشَآءُۚ Dia kehendaki
  • إِنَّهُۥ sesungguhnya Dia
  • عَلِيٌّ Maha Tinggi
  • حَكِيمٞ Maha Bijaksana
Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir1 atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.
Catatan kaki
1 *780) Seseorang dapat mendengar kalam Ilahi akan tetapi dia tidak dapat melihat-Nya seperti yang terjadi pada diri Nabi Musa -'alaihissalām-.
(Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali) dengan perantaraan (wahyu) yang Dia wahyukan kepadanya di dalam tidurnya atau melalui ilham (atau) melainkan (di belakang tabir) seumpamanya Allah memperdengarkan kalam-Nya kepadanya, tetapi dia tidak dapat melihat-Nya, sebagaimana yang telah terjadi pada Nabi Musa a.s. (atau) kecuali (dengan mengutus seorang utusan) yakni malaikat, seperti Jibril (lalu diwahyukan kepadanya) maksudnya, utusan itu menyampaikan wahyu-Nya kepada rasul yang dituju (dengan seizin-Nya) dengan seizin Allah (apa yang Dia kehendaki) apa yang Allah kehendaki. (Sesungguhnya Dia Maha Tinggi) dari sifat-sifat yang dimiliki oleh semua makhluk (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.