ٱلْفُرْقَان ٥٣
- وَهُوَ dan Dia
- ٱلَّذِي yang
- مَرَجَ membiarkan
- ٱلۡبَحۡرَيۡنِ dua laut
- هَٰذَا ini
- عَذۡبٞ tawar
- فُرَاتٞ segar
- وَهَٰذَا dan ini
- مِلۡحٌ asin
- أُجَاجٞ pahit
- وَجَعَلَ dan Dia menjadikan
- بَيۡنَهُمَا antara keduanya
- بَرۡزَخٗا dinding
- وَحِجۡرٗا dan batas
- مَّحۡجُورٗا membatasi/menghalangi
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.
(Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir) secara berdampingan (yang ini tawar lagi segar) sangat tawar lagi menyegarkan (dan yang lain asin lagi pahit) asin sekali sehingga rasanya pahit (dan Dia jadikan antara keduanya dinding) batas yang menyebabkan kedua air tersebut tidak membaur, antara yang satu dengan yang lainnya (dan batas yang menghalangi) yakni penghalang yang mencegah keduanya untuk bercampur.
Tafsir Surat Al-Furqan: 51-54.
Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benar Kami utus ke tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur'an dengan jihad yang besar. Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi: Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan musaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.
Ayat 51
Firman Allah ﷻ: “Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benar Kami utus ke tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul).” (Al-Furqan:51) yang menyeru mereka untuk menyembah Allah ﷻ. Tetapi Kami angkat kamu secara khusus, hai Muhammad, sebagai rasul untuk seluruh penduduk bumi; dan Kami perintahkan kamu untuk menyampaikan Al-Qur'an ini kepada mereka, “supaya dengannya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya).” (Al-An'am: 19). Dalam ayat yang lainnya disebutkan pula: “Dan barang siapa di antara mereka, (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur'an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya.” (Hud: 17). “Dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya.” (Al-An'am: 92). “Katakanlah, ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua’.” (Al-A'raf: 158).
Di dalam kitab Shahihain disebutkan dalam salah satu hadisnya yang mengatakan: “Aku diutus kepada orang yang berkulit merah dan yang berkulit hitam.”
Dan dalam hadis yang lainnya lagi yang juga ada di dalam kitab Shahihain disebutkan: “Dahulu nabi diutus khusus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia.” Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
Ayat 52
“Maka janganlah kamu mengikuti orang- orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur'an.” (Al-Furqan: 52)
Menurut Ibnu Abbas, damir yang ada dalam ayat ini merujuk kepada Al-Qur'an.
“dengan jihad yang besar.” (Al-Furqan: 52)
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain oleh firman-Nya: “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu.” (At-Taubah: 73), hingga akhir ayat.
Ayat 53
Adapun firman Allah ﷻ: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit.” (Al-Furqan: 53)
Artinya, Dialah yang menciptakan kedua air itu, yakni air yang tawar dan yang asin. Air yang tawar terdapat di sungai-sungai, mata air-mata air, dan sumur-sumur; air tawar ini segar lagi mudah diminum. Demikianlah menurut takwil Ibnu Juraij, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.
Pengertian ini tidak diragukan lagi kebenarannya, karena sesungguhnya di alam wujud ini tiada suatu laut pun yang airnya berasa tawar lagi menyegarkan. Dan sesungguhnya Allah ﷻ menyebutkan hal ini tiada lain untuk mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya akan nikmat-nikmat yang telah Dia limpahkan kepada mereka agar mereka bersyukur kepada-Nya. Air yang tawar adalah air yang dikonsumsi oleh manusia, Allah membagi-baginya di antara makhluk-Nya karena mereka sangat memerlukannya, melalui sungai-sungai dan mata air-mata air di setiap kawasan di belahan bumi ini sesuai dengan kebutuhan mereka, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk keperluan tanah mereka.
Firman Allah ﷻ: “dan yang lain asin lagi pahit.” (Al-Furqan: 53)
Yakni berasa asin, pahit, sulit untuk diminum. Air ini banyak di dapat di laut-laut yang telah dikenal baik di belahan timur maupun di belahan barat. Yaitu di lautan yang luas dan laut-laut lainnya yang berhubungan dengannya, seperti Laut Merah, Laut Yaman, Laut Basrah, Laut Persia, Laut Cina, Lautan Hindia, Laut Tengah, dan laut-laut lainnya yang tenang tidak mengalir, tetapi berombak dan ombaknya makin besar bila musim dingin tiba dan musim angin kencang.
Di antara laut-laut itu ada yang mengalami pasang dan surut. Pada permulaan tiap bulan terjadi pasang; dan apabila bulan makin berkurang, terjadilah surut, maka permukaan laut kembali seperti semula. Kemudian bila bulan lainnya tiba, laut kembali mengalami pasang sampai pertengahan bulan, lalu pada hari-hari berikutnya mulai menyurut. Allah ﷻ Yang Maha Kuasa yang mengatur demikian itu dalam tatanan alam ini. Semua laut diciptakan oleh Allah ﷻ berair asin, agar tidak menimbulkan pencemaran pada udara yang akhirnya akan merusak lingkungan, juga agar bumi (pantai) tidak berbau busuk karena hewan-hewan yang mati di dalam laut.
Mengingat air laut asin, maka udaranya segar dan bangkai hewannya halal. Karena itulah Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang air laut, bolehkah dipakai sarana untuk berwudu? Maka beliau menjawab: "Laut itu bersih airnya lagi halal bangkainya.” Hadits diriwayatkan oleh Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan para pemilik kitab sunan dengan sanad yang jayyid.
Firman Allah ﷻ: “Dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas.” (Al-Furqan: 53)
Yaitu yang membatasi antara air tawar dan air asin. Makna barzakhan adalah dinding yang berupa tanah kering.
“Dan batas yang menghalangi.” (Al-Furqan: 53)
Yakni yang menjadi penghalang di antara keduanya, agar salah satu di antaranya tidak bercampur dengan yang lainnya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 19-21).
Dan firman Allah ﷻ: “Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.” (An-Naml: 61)
Ayat 54
Firman Allah ﷻ: “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air.” (Al-Furqan: 54).
Artinya, Dia menciptakan manusia dari nutfah yang lemah, lalu Dia sempurnakan dan Dia rapikan kejadiannya hingga mempunyai bentuk yang sempurna sebagai manusia, baik laki-laki ataupun perempuan menurut apa yang dikehendaki-Nya.
“Lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan musaharah.” (Al-Furqan: 54).
Pada mulanya seseorang itu berupa bayi yang dilahirkan. Setelah dewasa, ia kawin, lalu mempunyai mertua, dan selanjutnya ia mempunyai menantu dan besan serta kerabat; semuanya itu bermula dari air yang hina (nutfah). Karena itulah disebutkan oleh Allah ﷻ dalam firman berikutnya: “dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (Al-Furqan: 54)
Kemudian Allah menampilkan kembali kemahakuasa-Nya di alam seluruh agar manusia merenungkannya. Dan Dialah yang membiarkan dua laut yaitu air sungai dan laut, mengalir berdampingan; yang ini tawar dan segar enak untuk diminum dan yang lain sangat asin lagi pahit yang sangat berguna bagi hewan-hewan di laut dan kehidupan manusia lainnya. Dan Dia jadikan antara keduanya dinding yang demikian lentur dan canggih dan batas yang tidak tembus. Dengan adanya dinding itu kedua air tersebut tidak akan pernah bercampur. Masing-masing masih membawa sifat-sifat dirinya. Inilah fenomena alam yang luar biasa. 54. Fenomena kekuasaan Allah lainnya adalah terciptanya manusia dari air mani. Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air mani seorang lelaki yang bercampur dengan indung telur perempuan, lalu setelah melewati masa-masa tertentu Dia jadikan manusia itu mempunyai keturunan beranak-pinak dengan cara yang sama. Ada keturunan yang lelaki yang kelak menjadi garis keturunan bagi anak-anaknya dan ada pula keturunan perempuan yang kelak terjadi persemendaan atau mushaharah semua keluarga pihak perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan suaminya dan Tuhanmu adalah Mahakuasa. Dialah yang menentukan jenis anak-anak yang lahir, apakah lelaki atau perempuan dari air mani tersebut. Allah menjadikan air mani kaum lelaki terdiri dari ratusan juta sel yang mempunyai dua unsur kelelakian dan keperempuanan, yang akan menjadi cikal bakal manusia. Semuanya itu menjadi tanda atas kebesaran Allah.
Ayat ini berisi tanda kekuasaan Allah yang keempat, yaitu Dia yang membiarkan dua macam air mengalir berdampingan, yang satu tawar dan segar, sedangkan yang lain asin dan pahit, seperti yang terjadi di muara sungai-sungai besar. Namun demikian, walaupun berdekatan rasa airnya tidak bercampur seolah-olah ada dinding yang membatasi di antara keduanya, sehingga yang satu tidak merusak rasa yang lainnya. Walaupun menurut pandangan mata kedua lautan itu bercampur, namun pada kenyataannya air yang tawar terpisah dari yang asin dengan kekuasaan Allah seperti dalam firman-Nya:
Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (ar-Rahman/55: 19-20).
Menurut para ilmuwan, Allah telah menciptakan pemisah air laut dan sungai, walaupun air sungai terjun dengan derasnya dari tempat tinggi. Barzakh (pemisah) ini berfungsi menghalangi kedua air untuk tidak saling menghapus ciri-cirinya. Laut asin dan tawar seolah-olah sudah ada dinding pembatas di antara keduanya, sehingga tidak bercampur aduk. Manusia dapat menentukan pilihannya karena baik air asin maupun tawar ada gunanya.
Pada tahun 1873, para pakar ilmu kelautan Inggris (dengan kapal Challenger) menemukan perbedaan ciri-ciri laut dari segi kadar garam, temperatur, jenis ikan/binatang, dan sebagainya. Setiap jenis air berkelompok dengan sendirinya dalam bentuk tertentu, terpisah dari jenis air yang lain betapapun ia mengalir jauh. Air Sungai Amazon yang mengalir deras ke laut Atlantik sampai batas 200 mil, masih tetap tawar. Mata air-mata air di Teluk Persia mempunyai ikan-ikan yang khas dan masing-masing tidak hidup kecuali di lokasinya.
Kedua laut dimaksud adalah lautan yang memenuhi sekitar ? bumi ini serta sungai yang ditampung oleh tanah dan yang memancarkan mata air-mata air serta sungai-sungai besar yang kemudian mengalir ke lautan. Barzakh (pemisah) adalah penampungan air yang terdapat di bumi itu dan saluran-saluran bumi yang menghalangi air laut bercampur dengan air sungai sehingga tidak mengubahnya menjadi asin.
Keadaan air asin yang merambah atau mengalir dari lautan ke batu-batuan di dekat pantai, namun ia tidak bercampur dengan air tawar yang merambah atau mengalir ke laut dari daratan. Posisi aliran sungai yang lebih tinggi dari permukaan laut, memungkinkan air tawar yang relatif sedikit menembus air laut yang asin tetapi tidak berbaur total. Ayat lain yang terkait adalah:
Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (ar-Rahman/55: 19-20).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Demikianlah selalu manusia diberi ancaman karena kesalahan yang mereka perbuat. Kecelakaan yang menimpa dirinya adalah karena kesalahannya sendiri. Aniaya dan kezaliman tidak pernah dilakukan oleh Tuhan. Perutusan Nabi-nabi dan Rasul-rasul adalah alamat kasihan Tuhan atas hamba-hambaNya.
Kemudian itu pada ayat 45 ini kembali Tuhan membujuk RasulNya dan membujuk, setiap pejuang yang menuruti langkah-langkah Rasul itu tentang perjuangan hidup ini."Tidakkah engkau lihat, hai UtusanKu betapa Tuhan memanjangkan bayang-bayang dan jikalau Dia mau niscaya dijadikannya bayang-bayang itu tetap. Kemudian itu dijadikanNya Matahari menjadi tanda. (46) Kemudian itu Kami tarik dia kepada Kami sedikit demi sedikit."
Pengembaraan di padang pasir yang begitu luas, perjalanan berhari-hari dengan kafilah (caravan) dalam terik panasnya matahari, akan terasalah betapa nyamannya alam keliling jika bertemu dengan tempat berteduh. Entah berjumpa pohon rindang atau awan melindungi diri. Renungkanlah perjalanan hidup itu, menempuh panas terik dan bayangan tempat berteduh. Menempuh siang yang panas, kemudian itu kegelapan malam dan perteduhan yang lama. Jika fajar telah menyingsing seakan-akan tertegunlah keteduhan itu sesaat seketika sebelum matahari terbit. Alangkah tenang perasaan di pagi Subuh. Dan apabila matahari telah terbit, panjanglah bayangan kita menuju ke Barat. Beransur demi beransur panas naik, karena matahari telah naik. Sampai di pertengahan siang, buntarlah bayang-bayang, dan letailah tulang, dan cacaulah ragi kain. Kemudian matahari tadi pun condong ke Barat dan bayang-bayang kita pun condonglah ke Timur.
Selalu setiap hari kita bergelut dengan, bayang-bayang kita. Namun demikian jaranglah kita memperhatikan betapa pengaruh perjalanan matahari kepada bayaruf-bayang dan kepada “hidup, “jaranglah kita memperhatikan bahwa pergelaran keeoriddiigan bayangan adalah “ayat" jua dari kekuasaan Tuhan. Bahwa hidup kita tiada terlepas daripada pergantian masa yang menuruti peraturan yang telah tertentu jutaan dan jutaan tahun.
“Jikalau Dia mau niscaya dijadikanNya bayang-bayang itu tetap." Jikalau Dia mau, niscaya dihentikanNya perjalanan matahari itu seketika. Atau kalau Dia mau, terhentilah bumi mengedari matahari — lindungan bayang-bayang bulan, itu pun mencemaskan kita. Dan kalau itu terjadi, kacaulah hidupmu. Gambarkanlah dalam fikiran betapa gerangan perasaan kita jika gerhana terjadi, jika cahaya matahari dihambat sampai ke bumi oleh bayang-bayang bulan, sehingga seluruh bumi menjadi gelap.
Sadarkah engkau betapa pentingnya bayang-bayang dan keteduhan untuk hidupmu? Bukankah dalam perjalanan musafir yang jauh, bila bertemu sebuah Oase (wadi) yang banyak kayu-kayuan, kamu pun berteduh ke tempat itu untuk melepaskan lelah? Sadarkah engkau bahwa engkau sendiri pun perlu kepada khemah untuk mencari keteduhan? Bahkan engkau pun mendirikan rumah untuk berteduh? Dengan bayang-bayang dan keteduhan engkau memulihkan kembali kekuatanmu yang telah hilang karena teriknya panas. Dan “Matahari adalah dalil pertanda satu-satunya dari kejadian itu."
“Kemudian itu Kami tarik dia kepada Kami, dengan tarikan yang beransur, sedikit demi sedikit." Sehingga kamu tidak merasainya. Baik tarikan di waktu fajar menjelang siang, ataupun seketika matahari terbenam ke ufuk Barat.
Gambarkanlah bagaimana kalau bayangan itu tidak ada? Misalnya hari siang terus? Bumi berhenti beredar? Apa artinya hidupmu lagi?
Maka dalam perjalanan melakukan tugas hidup, ayat ini menyadarkan kita bahwa musim panas bergilir dengan musim dingin, panas terik bergilir dengan keteduhan, sehingga terbitlah dalam pepatah pantun orang tua-tua:
Gaba-gaba di halaman tangsi,
dibuat anak rang paseban;
Sabar-sabar menahan hati,
hujan dan panas berbalasan.
Insaflah bahwa Tuhan Maha Kuasa menahan matahari itu sejenak dalam peredarannya, karena alam ini kecil saja di hadapan kebesaran kudrat iradat Tuhan. Dengan ingat kepada yang demikian, engkau pun meneruskan perjalanan. Walaupun dahaga menimpa diri, tak lama akan bertemulah sumur tua, dan kamu akan minum, dan di sana ada tempat bertemu.
Setelah Tuhan memperingatkan betapa pentingnya bayangan dan keteduhan. Tuhan peringatkan lagi edaran siang dan malam, dan pentingnya pula sebagai segi hidup manusia, pada ayat 47: “Dan Dia yang telah menjadikan malam itu untuk kamu menjadi pakaian, dan tidur untuk istirahat dan siang untuk bangkit bangun kembali."
Alangkah halus ibarat yang dinyatakan Tuhan pada ayat ini. Apabila segala tenaga dan energi kita telah kita tumpahkan bagi kepentingan hidup kita di siang hari, bertani, berniaga, berusaha, berkantor, beipejabat dan belajar. Berjuang ke medan hidup dipelopori oleh cita dan cinta, beransur sebagai beransur turunnya matahari, tenaga pun mulai habis dan hari pun mulai senja, kita kembali ke rumah kita. Kita tinggalkan segala haru-hari yang membisingkan kepala, dan hari pun mulai malam. Cahaya matahari berganti dengan cahaya lampu-lampu. Dengan tidak disadari maka keteduhan malam menenteramkan kembali jiwa raga kita. Kita bercengkerama dengan anak dan dengan istri. Kita bertawajjuh dan bermunajat. kepada Tuhan mensyukuri nikmatNya. Dan semuanya itulah pakaian (libaas) yang sejati.
Pakaian-pakaian yang kita pakai siang hari telah kotor kena keringat dan telah kita tanggalkan. Dan bila hari telah malam, kita mulai melekatkan pakaian yang bersih; bersih lahir dan batin. Kita hidup bersenyum simpul dengan isteri teman hidup kita. Kita adalah pakaiannya dan dia adalah pakaian kita.
“Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka."
Kita mulai menyalinkan kasih-sayang dengan anak dan keturunan kita. Suatu syair Arab menyatakan;
“Anak-anak kita itu adalah limpa kita sendiri, yang berjalan di atas bumi."
Dan di atas dari itu semuanya ialah pakaian untuk Rohani kita. Rohani ini kita beri pakaian yang bersih malam-malam, yaitu dengan penguatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita mensyukuri rezeki yang telah diberikan dan mengharap pada hari yang selanjutnya diberi kekuatan yang baru. Takwa kepada Allah adalah pakaian, untuk hidup dan untuk mati.
Jika seseorang tidak memakai pakaian takwa,
niscaya telanjanglah dia walaupun dia berpakaian.
Dan kata syair yang lain:
Jika hati seseorang tidak dipenuhi oleh rasa benci,
apa jua pun pakaian yang dipakainya, indah juga kelihatan.
Setelah itu kita pun tidur. Urat-urat saraf kita telah istirahat, hati kita senang sebab merasa bahwa hutang kepada Tuhan telah terbayar, tanggungjawab telah dilaksanakan dan tugas telah dipikul sekedar tenaga yang ada. Mata pun ter-picing, tidur pun nyenyak... sampai kedengaran suara azan Subuh dan kita dipanggil menghadap Tuhan, karena akan bekerja lagi, sebab siang sudah mendatang. Kita pun bangkit dengan tenaga yang baru. Segala puji bagi Allah.
Pada ayat ini dapatlah kita camkan betapa hidup manusia tidak pisah dengan pergantian siang dan malam dan edaran falak selanjutnya. Akan terasalah bahwa insan tidak dapat memisahkan hidupnya dari alam sekelilingnya. Dan lebih nyata lagi sari wahyu itu dengan ayat yang selanjutnya (48): “Dan Dialah yang mengirim angin membawa khabar baik di hadapan rahmatNya."
Bukan saja di padang pasir terik di Tanah Arab, pengaruh ayat ini dapat dirasakan. Di negeri kita, daerah Khatul-lstiwa ini pun dapatlah dirasakan pengaruhnya. Pada daerah-daerah yang ﷺahnya berbandarkan langit, sudah ditentukan waktu akan turun ke ﷺah, padahal hujan belum juga turun. Tahun demi tahun musim tetap berganti, namun setiap petani masih saja merasa cemas hujan belum juga turun. Tiba-tiba kelihatanlah awan mendung mengandung hujan; maka kita lihatlah pada wajah petani mengandung kegembiraan, rasa harap-harap cemas. Belum lagi hujan turun, rahmat sudah terasa dalam tangan, padi akan baik tumbuhnya di tahun ini, berlipat-ganda hasil bumi, sumur-sumur tidak akan kering lagi. Sehingga binatang ternak pun diberi pengertian dengan nalurinya bahwa mendung awan kiriman Tuhan yang akan menurunkan hujan itu adalah rahmat adanya.
Kemudian, “Kami turunkan dari langit air yang bersih." Hujan pun turun, sejuk dingin, kelayuan hilang baik pada orang ataupun pada binatang, ataupun pada tumbuh-tumbuhan."Supaya Kami hidupkan suatu negeri yang telah mati, dan Kami beri minum segala makhluk, baik binatang atau manusia yang banyak itu."
Bila hujan telah turun, walaupun hanya sejam dua jam, bahkan kadang-kadang hanya seperempat jam saja, kelihatan desa yang telah mati menjadi hidup kembali. Kegembiraan terbayang pada segala mata.
Tafsir ayat ini dibuat pada pagi hari Arba'tanggal 17 Juli 1963, 26 Safar 1383. Sudah hamper sebulan di Jakarta tidak turun hujan, segalanya kelihatan lesu, kebetulan penyaringan air di Pejompongan rusak pula, sehingga air saluran untuk rumah-rumah penduduk terpaksa dibatasi, sumur mulai kering, bahkan aliran listrik pun sebab air yang menekan mesin listrik telah kurang pula tenaganya. Tiba-tiba pada malamnya hujan sejenak, kira-kira setengah jam. Setelah hari pagi, tanam-tanaman di hadapan rumah kelihatan menghijau, membayangkan kegembiraan, dan rumput di halaman Mesjid Agung Al-Azhar menyangkat muka, menengadah langit mengucap, syukur!
Renungkanlah olehmu hai Insan! Jika tadi bayang-bayang dan keteduhan, pergelaran di antara siang dan malam, adalah sebahagian dari yang menentukan hidupmu, maka air pun adalah membawa hidup bagi sekalian makhluk:
,
“Dan Kami jadikan dari sebab air se gala sesuatu menjadi hidup."
Maka pada ayat 50 ditekankan lagi oleh sari wahyu itu:
“Dan sesungguhnya telah Kami edarkan (hujan itu) di antara mereka agar mereka kenangkan."
Agar mereka ingat bahwasanya kekacauan sedikit saja dari turunnya hujan itu akan sangat besarlah pengaruhnya atas kehidupan mereka dan sandang pangan mereka. Tetapi awaslah hendak dikata, “Engganlah kebanyakan manusia memikirkan dan mengenangkan itu, mereka lebih suka mengingkarinya."
Setelah itu maka pada ayat 51 Tuhan menerangkan bahwa kalau Dia mau, Dia sanggup mengirim utusan-utusanNya untuk setiap desa, untuk memberikan aricaman kepada manusia yang lalai. Manusia yang tidak menaruhkan perhatiannya akan hubungan hidupnya dengan alam sekelitingnya itu, dengan panas dan keteduhan, dengan siang pengganti malam dan dengan hujan turun ke bumi. Tetapi meskipun Tuhan berkuasa mengirim Rasul untuk setiap desa, diutusNya jualah SEORANG RASUL, penutup sekalian Rasul, yang ukuran peribadinya bukan untuk sebuah desa, tetapi untuk seluruh dunia. Dan untuk segala zaman, bukan semata untuk satu zaman. itulah dia Muhammad s.a.w.
Ilmu Allah Ta'ala yang meliputi segala ruang dan segala waktu itu telah menentukan bahwa tidak perlu lagi untuk setiap desa seorang Rasul. Rasul yang seorang ini sudahlah, menjadi pilihan (mushtafaa) untuk seluruh dunia. Kalau setiap satu desa disediakan satu utusan, niscaya kaliber ukuran jiwa “Nabi Desa" itu hanya sebesar desa itu pula. Timbulnya ayat ini adalah sebagai sanggahan kepada orang-orang desa yang berjiwa kecil, yang megah dengan desanya, lalu tidak mau tahu dengan kebesaran Rasul s.a.w. Islam bukanlah untuk mempersempit daerah untuk hidup, tetapi memperluas medan untuk jihad. Apatah lagi kian seabad demi seabad, dunia ini pun telah kecil karena hubungan tambah mudah.
Maka datanglah ayat 52, sebagai perangsang penghasung kepada Rasul utama untuk dunia itu. Muhammad s.a.w. “Jangan engkau tunduk kepada orang-orang kafir itu."
Artinya, jangan engkau bimbang, ukuranmu bukan ukuran desa, engkau adalah rahmat untuk seluruh Alam; “Teruskan jihad dan perjuangan ini, dan senjata yang akan engkau pakai dalam perjuangan yang engkau tempuh itu tidak lain ialah al-Qur'an itu sendiri."
Al-Qur'an Wahyu llahi. Kalamullah, untuk seluruh dunia. Berjuanglah engkau dengan semangat yang besar menegakkan al-Qur'an itu selama hayatmu dikandung badan, dan jika pun datang waktunya panggilanKu, engkau mati, namun suara al-Qur'an itu akan terus membahana di atas permukaan bumi.
Maka amatlah berkesan ayat 52 ini, wahyu kepada Muhammad s.a.w., tetapi besar kesannya atas jiwa kita sebagai penyambut waris Muhammad. Kita pun mempunyah tugas melanjutkan jihad dengan al-Qur'an ini, jihad yang besar. Jihad yang tidak mengenal telah. Apabila kita renungkan dengan seksama, sadarlah kita akan nilai hidup kita dan mission sacre (Tugas Such) kita sebagai Muslim dalam alam ini. Sebagaimana kata seorang penyair:
Tegaklah memperjuangkan keyakinanmu dalarn hidup ini, -karena hidup itu ialah keyakinan dan perjuangan.
Setelah kita mengetahui tugas hidup itu, kita pun mendapat diri kita sendiri. Dan mencari diri sendiri itu adalah pekerjaan yang terhitung sukar dalam alam ini. Tetapi apabila kita telah mengenal tugas kita, kita pun mencapailah ketenteraman yang kita cari. Kita pun tidak kehilangan pegangan lagi. Dengan pedoman demikian, yaknh berjuang menegakkan Kalimat Allah, menegakkan al-Qur'an, kita meneruskan perjaaanan. Maka datanglah ayat 53, memberi Ingat dan menyuruh kita merenung lagi keadaan alam sekeliling kita.
“Dan Dialah yang mencampurkan dua taut, yang ini tawar sejuk, yang itu asin pahit, dan di antara keduanya ada pembatas dan penghalang yang tidak bisa dilalui."
Air sungai yang tawar enak diminum, sejuk menguras melepas dahaga, telah beribu tahun mengalir ke lautan yang airnya asin pahit. Setiap waktu air laut yang asin mendidih naik dipanaskan oleh cahaya matahari atau dibawa angin dahsyat, namun sampai di udara air yang asin itu disaring oleh awan dan dia jatuh ke bumi sebagai hujan, telah tawar sejuk pula dan hilang asinnya. Namun apabita kita pergi ke kuala kita melihat air asin dan air tawar bertemu, namun batas daerah air asin dengan daerah air tawar nampak juga. Kalau di Tanah Arab orang memperhitungkan sungai Nil, Eufrat dan Dajlah, maka di negeri kita Indonesia terdapat berpuluh sungai-sungai besar di pulau-pulau yang besar-besar pula; namun Samudera Indonesia tetap asin dan Danau Toba tetap tawar.
Bagaimana jadinya kaiau di atas sernuanya itu tidak diakui ada yang mengatur yaitu Tuhan Allah? Bukankah ini pertanda bahwa bagi Alam ada Tuhan yang mengatur?
Sudah banyak dalam ayat inh membicarakan air; air hujan yang turun, air tawar daratan dan air asin lautan, maka disuruh lagi kita memperhatikan suatu masalah air yang lain. Yaitu bahwa: “Dia pula yang menjadikan manusia daripada air juga." Alangkah pentingnya air!
Setetes air mani mengandung berjuta bibit untuk dijadikan manusia. Dan manusia itu, yang berasal dari air telah memenuhi bumi ini abad demi abad. Biarpun dia raja perkasa, ataupun dia rakyat hina-dina, adakah insan yang tidak berasal dan air? Manusia yang asal dari air itu berkawin berketurunan, semenda-menyemenda, beripar, berbesan, bermenantu, bermertua.
Setelah air mani, mencipta manusia dan manusia itu hidup, Siapakah yang menghubungkan setetes air mani itu dengan yang dinamai hidup? Mungkinkah tercipta hidup ini daripada sesuatu yang mati? Mungkinkah ADA sesuatu daripada yang tidak ada?
Kalau jiwamu mati tak berisi, kosong dan melompong, tidaklah ada perhatianmu kepada hal itu. Hujan, laut dan ... mani. Kemudian itu hidup!
Maka datanglah ayat 55: “Kamu menyembah kepada yang selain Allah." Kamu menyembah berhala, padahal berhala itu kamu sendiri yang membuatnya."Dan berhala itu tidaklah sanggup memberi manfaat dan mudharat, dan tidaklah sanggup menciptakan hujan, mengasinkan atau mentawarkan air. Bahkan tidak sanggup memberi hidup pada setetes mani. Alangkah bodohmu!
“Bahkan orang-orang yang kafir dan ingkar itu mencoba menolong syaitan guna menentang Tuhan."
Demi merenung susunan ayat ini, terasalah bahwa Islam adalah menyadarkan akal kita buat bangkit. Menyadarkan pertalian manusia dengan alam kelilingnya, kemudian itu pertalian mereka dengan Tuhan Allah Yang Maha Esa. Setiap orang disuruh sadar, disuruh mempergunakan fikiran. Dan pada ayat-ayat itu pun nyata akan lebih mendalamlah terhunjam Iman dalam hati kalau kita menuntut Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Falak, Ilmu tentang-Manusia dan sekalian macam cabang Ilmu Pengetahuan. Sebab ilmu membawa kita kepada Iman.
Frightening the Idolators of Quraysh
Allah tells:
وَلَقَدْ اتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَا مَعَهُ أَخَاهُ هَارُونَ وَزِيرًا
فَقُلْنَا اذْهَبَا إِلَى الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِأيَاتِنَا فَدَمَّرْنَاهُمْ تَدْمِيرًا
And indeed We gave Musa the Scripture, and placed his brother Harun with him as a helper; And We said:Go you both to the people who have denied Our Ayat.
Then We destroyed them with utter destruction.
Allah threatens the idolators who denied and opposed His Messenger Muhammad and He warns them of the punishment and painful torment He sent upon the previous nations who rejected their Messengers.
Allah begins by mentioning Musa, upon him be peace, whom He sent along with his brother Harun as a helper -- i.e., as another Prophet who helped and supported him -- but Fir`awn and his chiefs denied them both:
دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَـفِرِينَ أَمْثَـلُهَا
Allah destroyed them completely, and similar (awaits) the disbelievers. (47:10)
And when the people of Nuh denied him, Allah destroyed them likewise, for whoever denies one Messenger denies all the Messengers, because there is no difference between one Messenger and another. If it had so happened that Allah had sent all His Messengers to them, they would have denied them all.
Allah says
وَقَوْمَ نُوحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ
And Nuh's people, when they denied the Messengers,
although Allah sent only Nuh to them, and he stayed among them for 950 years, calling them to Allah and warning them of His punishment,
وَمَا امَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ
(And none believed with him, except a few. (11:40)
For this reason Allah
أَغْرَقْنَاهُمْ
drowned them all and left no one among the sons of Adam alive on earth apart from those who boarded the boat,
وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ ايَةً
and We made them a sign for mankind.
meaning a lesson to be learned.
This is like the Ayah,
إِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَأءُ حَمَلْنَـكُمْ فِى الْجَارِيَةِ
لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَأ أُذُنٌ وَعِيَةٌ
Verily, when the water rose beyond its limits, We carried you in the boat. That We might make it a remembrance for you, and the keen ear may understand it. (69:11-12)
which means:`We left for you ships that you ride upon to travel across the depths of the seas, so that you may remember the blessing of Allah towards you when He saved you from drowning, and made you the descendants of those who believed in Allah and followed His commandments.'
..
وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
And We have prepared a painful torment for the wrongdoers.
Allah further tells
وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ
And (also) `Ad and Thamud, and the Dwellers of Ar-Rass,
We have already discussed their story, which is referred to in more than one Surah, such as Surah Al-A`raf, and there is no need to repeat it here.
As for the Dwellers of Ar-Rass, Ibn Jurayj narrated from Ibn Abbas about the Dwellers of Ar-Rass that:
they were the people of one of the villages of Thamud.
Ath-Thawri narrated from Abu Bukayr from Ikrimah that:
Ar-Rass was a well where they buried (Rassu) their Prophet.
وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا
and many generations in between.
means nations, many more than have been mentioned here, whom We destroyed.
Allah said
وَكُلًّ ضَرَبْنَا لَهُ الاَْمْثَالَ
And for each We put forward examples,
meaning, `We showed them the proof and gave them clear evidence,'
as Qatadah said, They had no excuse.
وَكُلًّ تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا
and each (of them) We brought to utter ruin.
means, `We destroyed them completely.'
This is like the Ayah,
وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِن بَعْدِ نُوحٍ
And how many generations (Qurun) have We destroyed after Nuh! (17:17)
Generations (Qurun) here refers to nations among mankind.
This is like the Ayah,
ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قُرُوناً ءَاخَرِينَ
Then, after them, We created other generations (Qurun). (23:42)
Some defined a generation as being 120 years, or it was said that a generation was one hundred years, or eighty, or forty, etc. The most correct view is that a generation refers to nations who are one another's contemporaries, living at the same time. When they go and others succeed them, this is another generation, as it was recorded in the Two Sahihs:
خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم
The best of generations is my generation, then the one that follows it, then the one that follows that
وَلَقَدْ أَتَوْا عَلَى الْقَرْيَةِ الَّتِي أُمْطِرَتْ مَطَرَ السَّوْءِ
And indeed they have passed by the town on which was rained the evil rain.
refers to the town of the people of Lut, which was called Sodom, and the way in which Allah dealt with it, when He destroyed it by turning it upside down and by sending upon it the rain of stones of baked clay, as Allah says:
وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَراً فَسَأءَ مَطَرُ الْمُنذَرِينَ
And We rained on them a rain. And how evil was the rain of those who had been warned! (26:176)
وَإِنَّكُمْ لَّتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِينَ
وَبِالَّيْلِ أَفَلَ تَعْقِلُونَ
Verily, you pass by them in the morning. And at night; will you not then reflect! (37:137-138)
وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُّقِيمٍ
And verily, they were right on the highroad. (15:76)
وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ
They are both on an open highway, plain to see. (15:79)
Allah says:
أَفَلَمْ يَكُونُوا يَرَوْنَهَا
Did they not then see it!
meaning, so that they might learn a lesson from what happened to its inhabitants of punishment for denying the Messenger and going against the commands of Allah.
بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا
Nay! But they used not to expect any resurrection.
means, the disbelievers who passed by it did not learn any lesson, because they did not expect any resurrection, i.e., on the Day of Judgement
How the Disbelievers mocked the Messenger
Allah tells:
وَإِذَا رَأَوْكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاًإ
And when they see you, they treat you only in mockery (saying):Is this the one whom Allah has sent as a Messenger!
Allah tells us how the disbelievers mocked the Messenger when they ﷺ him. This is like the Ayah,
وَإِذَا رَاكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُواً
And when the disbelievers see you, they take you not except for mockery, (21:36)
which means that they tried to find faults and shortcomings in him.
Here Allah says:
وَإِذَا رَأَوْكَ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلاَّ هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاًإ
And when they see you, they treat you only in mockery (saying):
Is this the one whom Allah has sent as a Messenger!
i.e., they said this by way of belittling and trying to undermine him, so Allah put them in their place, and said:
وَلَقَدِ اسْتُهْزِىءَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ
And indeed Messengers before you were mocked at. (6:10
إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ الِهَتِنَا
He would have nearly misled us from our gods,
They meant:`he nearly turned us away from worshipping idols, and he would have done so, had we not been patient and persevered in our ways.'
لَوْلَا أَن صَبَرْنَا عَلَيْهَا
had it not been that we were patient and constant in their worship!
So Allah said, warning and threatening them:
وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
And they will know, when they see the torment...
مَنْ أَضَلُّ سَبِيلً
who it is that is most astray from the path!
They took Their Desires as their gods and were more astray than Cattle
Then Allah tells His Prophet that if Allah decrees that someone will be misguided and wretched, then no one can guide him except Allah, glory be to Him
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Have you seen him who has taken as his god his own vain desire!
meaning, whatever he admires and sees as good in his own desires becomes his religion and his way.
As Allah says:
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءَ عَمَلِهِ فَرَءَاهُ حَسَناً فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَأءُ
Is he then, to whom the evil of his deeds is made fair seeming. So that he consider it as good. Verily, Allah sends astray whom he wills. (35:8)
أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلً
Would you then be a guardian over him!
Ibn Abbas said:
During the Jahiliyyah, a man would worship a white rock for a while, then if he ﷺ another that looked better, he would worship that and leave the first.
Then Allah said
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ
Or do you think that most of them hear or understand!
إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالاَْنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلً
They are only like cattle -- nay, they are even farther astray from the path.
meaning, they are worse than grazing cattle. Cattle only do what they were created to do, but these people were created to worship Allah Alone without associating partners with Him, but they worship others with Him, even though evidence has been established against them and Messengers have been sent to them.
Evidence of the existence of the Creator and the extent of His Power
Here Allah begins explaining the evidence for His existence and His perfect power to create various things and pairs of opposites.
Allah says:
أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ
Have you not seen how your Lord spread the shadow.
Ibn Abbas, Ibn Umar, Abu Al-Aliyah, Abu Malik, Masruq, Mujahid, Sa`id bin Jubayr, An-Nakha`i, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi and others said,
This refers to the period from the beginning of the dawn until the sun rises.
وَلَوْ شَاء لَجَعَلَهُ سَاكِنًا
If He willed, He could have made it still,
meaning, immobile, never changing.
This is like the Ayat:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الَّيْلَ سَرْمَداً
Say:Tell me! If Allah made the night continuous for you... (28:71)
ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلً
but We have made the sun its guide.
means, were it not for the sun rising, it would not be there, for a thing can only be known in contrast to its opposite.
Qatadah and As-Suddi said,
The sun is a guide which follows the shade until the shade disappears.
ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا
Then We withdraw it towards Ourselves -- a gradual withdrawal.
This refers to the shade.
يَسِيرًا
(gradual) meaning slowly.
As-Suddi said:
A gentle, concealed, withdrawal until there is no shade left on earth except under a roof or a tree, and the sun is shining on whatever is above it.
قَبْضًا يَسِيرًا
(a gradual withdrawal).
Ayub bin Musa said:
Little by little.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا
And it is He Who makes the night a covering for you,
It covers and conceals all things.
This is like the Ayah:
وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
By the night as it envelops. (92:1)
وَالنَّوْمَ سُبَاتًا
and the sleep a repose,
means, a halt to movement so that bodies may rest. For the faculties and limbs get tired from their constant movement during the day when one goes out to earn a living. When night comes, and it becomes quiet, they stop moving, and rest; so sleep provides a rejuvenation for both the body and the soul.
وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
and makes the day Nushur.
meaning, people get up and go out to earn a living and attend to their business.
This is like the Ayah:
وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبتَغُواْ مِن فَضْلِهِ
It is out of His mercy that He has made for you the night and the day that you may rest therein and that you may seek of His bounty... (28:73
This is also part of His complete power and supreme authority
Allah says:
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
And it is He Who sends the winds as heralds of glad tidings, going before His mercy;
Allah sends the winds as heralds of glad tidings, i.e., they bring the clouds behind them.
The winds are of many different types, depending on the purpose for which they are sent. Some of them form the clouds, others carry the clouds or drive them, and others come ahead of the clouds as heralds announcing their coming. Some of them come before that to stir up the earth, and some of them fertilize or seed the clouds to make it rain.
Allah says:
وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاء مَاء طَهُورًا
and We send down pure water from the sky,
meaning, as a means of purifying it.
Abu Sa`id said,
It was said:O Messenger of Allah, can we perform Wudu' with the water of the well of Buda`ah, for it is a well in which rubbish and the flesh of dogs are thrown.
He said:
إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْء
Water is pure and nothing makes it impure.
This was recorded by Ash-Shafi`i and Ahmad, who graded it Sahih, and also by Abu Dawud and At-Tirmidhi, who graded it Hasan, and by An-Nasa'i.
His saying
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا
That We may give life thereby to a dead land,
means, a land that waited a long time for rain. It is devoid of vegetation or anything at all. When the rain comes to it, it becomes alive and its hills are covered with all kinds of colorful flowers, as Allah says:
فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَأءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ
but when We send down water to it, it is stirred to life and growth... (41:39)
His saying:
وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا
and We give to drink thereof many of the cattle and men that We had created.
means, so that animals such as cattle can drink from it, and people who are in desperate need of water can drink from it and water their crops and fruits.
This is like the Ayah:
وَهُوَ الَّذِى يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُواْ
And He it is Who sends down the rain after they have despaired, (42:28)
فَانظُرْ إِلَى ءَاثَـرِ رَحْمَةِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْىِ الاٌّرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَأ
Look then at the effects of Allah's mercy, how He revives the earth after its death. (30:50)
His saying
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا
And indeed We have distributed it among them in order that they may remember,
means, `We cause rain to fall on this land and not on that, and We cause the clouds to pass over one land and go to another, where We cause sufficient rain to fall so that its people have plenty, but not one drop falls on the first land.'
There is a reason and great wisdom behind this.
Ibn Abbas and Ibn Mas`ud, may Allah be pleased with them said:
One year does not have more rain than another, but Allah distributes the rain as He wills. Then he recited this Ayah:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا
And indeed We have distributed it (rain or water) amongst them in order that they may remember the grace of Allah, but most men refuse (out of) ingratitude.
meaning, so that they may be reminded, when Allah brings the dead earth back to life, that He is able to bring the dead and dry bones back to life, or that those from whom rain is withheld are suffering this because of some sin they have committed, so that they may give it up.
فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا
but most men refuse (out of) ingratitude.
Ikrimah said,
This refers to those who say that rain comes because of such and such a star.
This view of Ikrimah is similar to the authentic Hadith recorded in Sahih Muslim;
one day after a night's rain, the Messenger of Allah said to his Companions:
أَتَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ
Do you know what your Lord says?
They said:Allah and His Messenger know best.
He said:
قَالَ
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُوْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَاكَ مُوْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَاكَ كَافِرٌ بِي مُوْمِنٌ بِالْكَوْكَب
He says:
This morning some of My servants became believers in Me, and some became disbelievers. As for the one who said, `We have been given rain by the mercy and grace of Allah,' he is a believer in Me and a disbeliever in the stars. As for the one who said, `We have been given rain by such and such a star,' he is a disbeliever in Me and a believer in the stars.
The universality of the Prophet's Message, how He was supported in His Mission and Allah's Blessings to Mankind
Allah says:
وَلَوْ شِيْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا
And had We willed, We would have raised a warner in every town.
`Calling them to Allah, but We have singled you out, O Muhammad, to be sent to all the people of earth, and We have commanded you to convey the Qur'an,'
لااٌّنذِرَكُمْ بِهِ وَمَن بَلَغَ
that I may therewith warn you and whomsoever it may reach. (6:19)
وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الاٌّحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ
but those of the sects that reject it, the Fire will be their promised meeting place. (11:17)
لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا
that you may warn the Mother of the Towns and all around it. (42:7)
قُلْ يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Say:O mankind! Verily, I am sent to you all as the Messenger of Allah... (7:158)
In the Two Sahihs it is reported that the Prophet said:
بُعِثْتُ إِلَى الاَْحْمَرِ وَالاَْسْوَد
I have been sent to the red and the black.
And:
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّة
A Prophet would be sent to his own people, but I have been sent to all of mankind.
Allah says
فَلَ تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ
So obey not the disbelievers, but strive hard against them with it.
meaning, with the Qur'an.
This was the view of Ibn Abbas.
جِهَادًا كَبِيرًا
with the utmost endeavour.
This is like the Ayah,
يَأَيُّهَا النَّبِىُّ جَـهِدِ الْكُفَّـرَ وَالْمُنَـفِقِينَ
O Prophet! Strive hard against the disbelievers and the hypocrites, (9:73)
Allah says
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ
And it is He Who has let free the two seas, this is palatable and sweet, and that is salty and bitter;
means, He has created the two kinds of water, sweet and salty. The sweet water is like that in rivers, springs and wells, which is fresh, sweet, palatable water.
This was the view of Ibn Jurayj and of Ibn Jarir, and this is the meaning without a doubt, for nowhere in creation is there a sea which is fresh and sweet.
Allah has told us about reality so that His servants may realize His blessings to them and give thanks to Him. The sweet water is that which flows amidst people. Allah has portioned it out among His creatures according to their needs; rivers and springs in every land, according to what they need for themselves and their lands.
وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ
and that is salty and bitter;
meaning that it is salty, bitter and not easy to swallow.
This is like the seas that are known in the east and the west, the Atlantic Ocean and the Straits that lead to it, the Red Sea, the Arabian Sea, the Persian Gulf, the China Sea, the Indian Ocean, the Mediterranean Sea, the Black Sea and so on, all the seas that are stable and do not flow, but they swell and surge in the winter and when the winds are strong, and they have tides that ebb and flow. At the beginning of each month the tides ebb and flood, and when the month starts to wane they retreat until they go back to where they started. When the crescent of the following month appears, the tide begins to ebb again until the fourteenth of the month, then it decreases.
Allah, may He be glorified, the One Whose power is absolute, has set these laws in motion, so all of these seas are stationary, and He has made their water salty lest the air turn putrid because of them and the whole earth turn rotten as a result, and lest the earth spoil because of the animals dying on it. Because its water is salty, its air is healthy and its dead are good (to eat), hence when the Messenger of Allah was asked whether sea water can be used for Wudu', he said:
هُوَ الطَّهُورُ مَاوُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُه
Its water is pure and its dead are lawful.
This was recorded by Malik, Ash-Shafi`i and Ahmad, and by the scholars of Sunan with a good (Jayyid) chain of narration.
وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا
and He has set a barrier and a complete partition between them.
meaning, between the sweet water and the saltwater.
بَرْزَخًا
(a barrier),
means a partition, which is dry land.
وَحِجْرًا مَّحْجُورًا
(and a complete partition),
means, a barrier, to prevent one of them from reaching the other.
This is like the Ayat:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَّ يَبْغِيَانِ
فَبِأَىِّ ءَالاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
He has let loose the two seas meeting together. Between them is a barrier which none of them can transgress. Then which of the blessings of your Lord will you both deny! (55:19-21)
أَمَّن جَعَلَ الاٌّرْضَ قَرَاراً وَجَعَلَ خِلَلَهَأ أَنْهَاراً وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِىَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزاً أَءِلـهٌ مَّعَ اللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Is not He Who has made the earth as a fixed abode, and has placed rivers in its midst, and placed firm mountains therein, and set a barrier between the two seas! Is there any god with Allah! Nay, but most of them know not! (27:61)
And Allah says
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاء بَشَرًا
And it is He Who has created man from water,
means, He created man from a weak Nutfah, then gave him shape and formed him, and completed his form, male and female, as He willed.
فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا
and has appointed for him kindred by blood, and kindred by marriage.
in the beginning, he is someone's child, then he gets married and becomes a son-in-law, then he himself has sons-in-law and other relatives through marriage. All of this comes from a despised liquid,
Allah says:
وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
And your Lord is Ever All-Powerful to do what He wills.
And He it is Who merged the two seas: letting them [flow] one adjacent to the other: this one palatable, sweet, and the other saltish, bitter; and He set between the two an isthmus, so that the one does not mix with the other, and a forbidding ban, a shield that prevents the two from becoming mixed.
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَـٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَـٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا ﴿53﴾
And He is the One who joined the two seas - this is sweat, very sweat and this is bitter, very bitter - and made between them a buffer and a barrier, prohibited (to cross) - 25:53.
The word مَرَج (maraja) means to let off or allow to roam freely and hence pasture is called رَج (maraj) that is where animals can graze and roam about. عَذْبٌ ('adhb) is sweet water, while فُراَت means delicious and pleasant; and مِلح (milh) means salty and أُجَاجٌ means bitter.
Allah Ta’ ala in His own Wisdom has created two types of waters. One is enormous in size called oceans and cover up about two third of the global space while the rest of the one third space is made up of land mass on which people live. The water of the oceans and seas is extremely brackish, bitter and of a bad taste. On the other hand the water found on land in different forms is potable, pleasant and tasty. This water is just right for the needs of mankind and animals alike who drink it and use it for cleaning. If the water of the seas and oceans were not brackish, it would have decayed very quickly leaving behind a pungent and foul odor making the life unbearable for humans and animals on land. Moreover, the creatures living in ocean and sea water, and number manifold than those living on land could not have survived because when they die, they perish in the brackish water. If they were to die in sweet water their decomposition would have contaminated the water making the survival of the marine life impossible and its stink would have been unbearable for the life on land. Then the garbage of the land is generally dumped in the sea where it is decomposed (except for a few modern age items which need special treatment). Therefore, brackish water of the oceans and seas is a great blessing of Allah Ta’ ala for all creatures, whether living in the sea or on the land. Without the presence of brackish water mass, there would have been no marine or land life.
In this verse it is elucidated that it is a great blessing and grace of Allah Ta` a1a to have provided two types of waters in accordance with the needs of mankind. Then it is a perfect demonstration of His complete power that when a river of sweet water falls into the sea, the two waters .(the sweet and the brackish) do not mingle immediately where they meet, but for miles they remain separated from each other, despite the fact that there is no physical curtain between them. This is yet another example of His omnipotence.