ٱلْجَاثِيَة ١٤
- قُل katakanlah
- لِّلَّذِينَ kepada orang-orang yang
- ءَامَنُواْ beriman
- يَغۡفِرُواْ mereka memaafkan
- لِلَّذِينَ kepada orang-orang yang
- لَا tidak
- يَرۡجُونَ mereka mengharap
- أَيَّامَ hari-hari
- ٱللَّهِ Allah
- لِيَجۡزِيَ untuk Dia memberi balasan
- قَوۡمَۢا kaum
- بِمَا terhadap apa
- كَانُواْ adalah mereka
- يَكۡسِبُونَ mereka kerjakan
Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah,1 karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan kaki
1 *800) Hari-hari pada waktu Allah menimpakan siksaan kepada mereka.
(Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada mengharapkan) mereka yang tidak takut (akan hari-hari Allah) yaitu hari-hari di waktu Allah menimpakan azab kepada mereka. Maksudnya, maafkanlah orang-orang kafir atas perlakuan mereka terhadap diri kalian yang menyakitkan itu. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah untuk berjihad melawan mereka (karena Dia akan membalas) Allah akan membalas; menurut suatu qiraat dibaca Linajziya, artinya: karena Kami akan membalas (sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan) atas pemaafannya terhadap orang-orang kafir yang telah menyakiti mereka.
Tafsir Surat Al-Jathiyah: 12-15
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri; dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. Allah ﷻ menyebutkan tentang nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya melalui apa yang telah Dia tundukkan bagi mereka, yaitu laut. supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya. (Al-Jatsiyah: 12) Sesungguhnya yang menjadikan demikian adalah Allah; Dialah yang memerintahkan kepada laut untuk membawa kapal-kapal dapat berlayar padanya.
dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya. (Al-Jatsiyah: 12) Yakni melalui berdagang dan mata pencaharian lainnyar dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (Al-Jatsiyah: 12) Yaitu karena memperoleh berbagai macam keperluan yang didatangkan dari berbagai negeri yang jauh kepada kalian. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Al-Jatsiyah: 13) Yakni berupa bintang-bintang, gunung-gunung, lautan, sungai-sungai, dan semua dapat kalian manfaatkan.
Semuanya itu adalah karunia Allah, kebaikan dan anugerah-Nya. karena itulah disebutkan dalam firman-Nya: semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (Al-Jatsiyah: 13) Yaitu dari sisi-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. (An-Nahl: 3) Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. (Al-Jatsiyah: 13) Yakni segala sesuatu adalah dari karunia Allah ﷻ Istilah ini merupakan salah satu dari asma-asma Allah, yaitu Jam'i'an Minhu, tiada seorang pun yang menyaingi-Nya dalam hal ini, dan hal ini memang telah diyakini.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritkan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Al-Faryabi, dari Sufyan, dari Al-A'masy, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Abu Arakah yang menceritakan bahwa pernah seorang lelaki bertanya kepada Abdullah ibnu Umar r.a, "Dari apakah Allah menciptakan makhluk?" Ibnu Umar menjawab, "Dari cahaya, api, kegelapan, dan tanah." Ibnu Umar mengatakan, "Datanglah kamu kepada Ibnu Abbas r.a. dan tanyakanlah kepadanya hal ini." Lalu lelaki itu mendatanginya dan menanyakan kepadanya hal yang semisal, maka Ibnu Abbas menjawab, "Kembalilah kepada Ibnu Umar, dan tanyakanlah kepadanya mengapa Allah menciptakan semuanya itu?" maka lelaki itu kembali kepada Ibnu Umar dan menanyakannya kepadanya.
Lalu Ibnu Umar membaca firman-Nya: Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (Al-Jatsiyah: 13) Atsar ini gharib dan mengandung hal ini yang diingkari. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-Jatsiyah: 13) Firman Allah ﷻ: Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah. (Al-Jatsiyah: 14) Yakni hendaklah mereka memaafkan orang-orang tersebut dan bersabar dalam menghadapi gangguan dari mereka.
Hal ini di tetapkan di masa permulaan Islam. Kaum muslim diperintahkan untuk bersikap sabar dalam menghadapi gangguan dari kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab, agar sikap ini dijadikan sebagai pemikat hati buat mereka. Tetapi setelah mereka tetap ingkar, maka Allah memerintahkan kepada kaum mukmin untuk berjuang dan berjihad melawan mereka. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. dan Qatadah. Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah. (Al-Jatsiyah: 14) Yaitu orang-orang yang tidak memperoleh nikmat-nikmat Allah ﷻ Firman Allah ﷻ: karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Jatsiyah: 14) Apabila kaum mukmin memaafkan mereka di dunia, maka sesungguhnya Allah ﷻ akan membalas amal perbuatan mereka yang buruk itu di negeri akhirat nanti.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (Al-Jatsiyah: 15) Yakni kalian dikembalikan kelak di hari kiamat kepada Allah ﷻ, lalu semua amal perbuatan kalian dipaparkan di hadapan-Nya. Maka Dia akan membalas semua amal perbuatan kalian, yang baik maupun yang buruk nya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.".
Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada orang-orang yang ber iman kepada Allah dan rasul-Nya, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang melakukan perbuatan jahat yang tidak takut akan hari-hari di mana Allah menimpakan siksaan kepada mereka karena Dia akan membalas suatu kaum di akhirat nanti sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan di dunia ini. 15. Pembalasan yang mereka dapatkan ialah bahwa barang siapa mengerjakan kebajikan sekecil apa pun, maka pahala dan ganjarannya itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan sekecil apa pun juga, maka dosa dan sanksi amalnya itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian setelah kehidupan dunia ini kepada Tuhanmu kamu di kembalikan.
Al-Wahidi dan al-Qusyairi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa ayat ini turun berhubungan dengan persoalan yang terjadi antara 'Umar bin al-Khaththab dan Abdullah bin Ubay dalam peperangan Bani Musthalik. Mereka singgah di sebuah sumur yang disebut Al-Muraisi', kemudian Abdullah mengutus seorang anak muda mengambil air, tetapi pemuda itu lama sekali kembali, Abdullah bin Ubay bertanya kepada pemuda itu mengapa begitu lama ia baru kembali. Pemuda itu menjawab bahwa Umar duduk di pinggir sumur. Ia tidak membiarkan seorang pun mengambil air sebelum ia mengisi girbai (tempat air dari kulit) Nabi Muhammad ﷺ, girbai Abu Bakar, dan girbai bekas budak Umar, lalu Abdullah bin Ubay berkata, "Kami dan mereka tidak ubahnya seperti perumpamaan: Gemukkan anjingmu, maka ia akan memakan engkau." Kemudian kata-kata Abdullah itu sampai kepada Umar. Beliau menjadi marah, lalu menghunus pedangnya untuk membunuh Abdullah bin Ubay, maka turunlah ayat ini yang melunakkan hati Umar.
Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya agar berlapang dada dalam menghadapi sikap kaum musyrikin dan memaafkan tindakan mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah. Mereka adalah orang yang menentang Allah dan tidak takut kepada ancaman-Nya.
Dari ayat ini dipahami nilai budi pekerti yang tinggi yang diajarkan agama Islam kepada penganutnya yaitu berlapang dada dan memaafkan orang-orang yang pernah bertindak tidak baik terhadap dirinya atau berusaha menghancurkan agamanya. Memaafkan kesalahan keluarga, teman sejawat, tetangga dan kenalan dapat dengan mudah dilakukan seseorang, tetapi berlapang dada dan memaafkan perbuatan orang yang selalu ingin merusak diri dan agamanya pada setiap kesempatan memerlukan kebesaran jiwa.
Ayat ini mengajarkan dan mendidik kaum Muslimin agar dapat berlapang dada, suka memaafkan, dan berjiwa besar dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya.
Pada akhir ayat ini Allah menerangkan mengapa Rasulullah ﷺ dan pengikut-pengikutnya harus berlapang dada dan memaafkan tindakan orang Quraisy yang memperolok-olok ayat-ayat Allah itu. Sebabnya ialah karena Allah yang akan memberikan pembalasan yang setimpal kepada mereka sesuai dengan perbuatannya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman."
(pangkal ayat 14)
Demikian firman Allah kepada Rasul-Nya,"Supaya mereka maafkan orang-orang yang tidak mengharapkan hari-hari Allah itu."
Lebih baik orang-orang yang telah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasul bersikap tenang, jangan marah. Lebih baik memberi maaf saja kalau ada orang-orang musyrikin itu yang menyatakan terus terang bahwa mereka tidak percaya atau tidak mengharapkan, tidak menunggu hari-hari Allah itu, yaitu Hari Kiamat. Lebih baik orang-orang Mukmin bersabar hati.
“Karena Dia akan membalas atas suatu kaum menunut apa yang mereka usahakan jua"
(ujung ayat 14)
Ingatlah ayat ini, turun di Mekah!
Kalau kaum yang beriman mendengar perkataan-perkataan kaum musyrikin yang selalu menyatakan tidak mau percaya akan hari Kiamat itu, terus dibantah, yang akan terjadi hanya pertengkaran. Pertengkaran kalau sudah sama-sama marah, hanyalah akan membawa perkelahian yang tidak diingini. Orang-orang yang beriman tidaklah takut kalau berkelahi. Kalau mati syahid bukan? Tetapi ini belum diizinkan Allah. Kedudukan kaum musyrikin masih sangat kuat. Kaum yang beriman di bawah Rasul ﷺ mesti sanggup menahan hati. Maafkan saja; nanti Allah yang akan menyelesaikan. Diberi saja pedoman oleh Allah dengan ayat selanjutnya,
“Barangsiapa yang beriamal saleh maka adalah itu untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapayang beribuat jahat maka kecelakaan untuk dirinya jua. Kemudian itu kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan"
(ayat 15)
Dengan ayat-ayat ini, kaum yang telah beriman disuruh memperteguh pribadi ma
sing-masing dengan iman dan amal saleh dan memperkuat ukhuwah sesama Mukmin di bawah pimpinan Rasul ﷺ
Selain dari musyrikin Quraisy itu, Allah menjelaskan ada lagi penentang lain yang akan beliau hadapi, yaitu Bani Israil yang memeluk agama Yahudi itu. Lalu Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil kitab."
(pangkal ayat 16)
Kitab Taurat."Dan hukum," selepas mereka selamat keluar dari Mesir. Selain dari Hukum Sepuluh yang dipahatkan Allah pada batu itu, dituruni pula dengan hukum-hukum dan undang-undang mengatur masyarakat mereka, misalnya hukum rajam bagi yang berzina, utang nyawa bayar nyawa, mata bayar mata, gigi bayar gigi dan sebagainya. Sebab mereka semasa di Mesir dahulu hanya mematuhi hukum Fir'aun maka setelah mereka bermasyarakat sendiri, diaturlah hukumnya, dan nubuwwah.
Yaitu berturut-turut tidak putus-putus Allah membangkitkan nabi-nabi di kalangan Bani Israil itu. Sejak Yusuf sampai Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyasa', Dzulkifli, Zakaria, Yahya, dan Isa (shalawat dan salam Allah atas mereka semua). Dan banyak lagi nabi-nabi yang lain."Dan telah Kami beri rezeki mereka dari yang baik-baik." Diberi kehidupan yang layak, banyak yang menjadi kaya.
“Dan telah Kami lebihkan mereka atas seluruh manusia."
(ujung ayat 16)
Mereka dilebihkan dari seluruh manusia pada waktu itu karena merekalah kaum yang dipimpin turun-temurun sejak dari nenek moyang mereka dalam ajaran tauhid, tidak putus-putus ada Nabi, sejak Nabi Yusuf sampai Nabi Isa. Itulah keutamaan dan kelebihan mereka daripada kaum-kaum yang lain. Tetapi karena kelebihan itu, timbullah rasa kesombongan bangsa pada mereka. Mereka pandang rendahlah seluruh manusia yang bukan Yahudi di dalam dunia ini.
“Dan telah Kami betikan kepada mereka keterangan-keterangan dari perkara itu."
(pangkal ayat 17)
Di dalam kitab-kitab wahyu yang mereka pegang, yaitu Taurat dan Shuhuf, yang diterima oleh nabi-nabi mereka, selalu diterangkan bahwa kelak akan datang nabi penutup, yang akan menggenapkan, mencukupkan syari'at nabi-nabi yang dahulu itu dan menutup. Hal itu telah diterangkan di dalam wahyu yang disampaikan oleh nabi-nabi mereka dan mereka percaya dan menunggu kedatangannya."Maka tidaklah mereka berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian di antara mereka." Artinya, segala yang diajarkan nabi-nabi yang dahulu itu sudah menjadi kenyataan, nabi itu sudah datang, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, tanda-tandanya sudah bertemu, sesuai dengan yang dikatakan nabi-nabi dahulu itu dan sesuai dengan pengetahuan yang mereka terima. Tetapi mereka jadi berselisih; hanya beberapa orang saja yang mengatakan iman kepada beliau. Yang selebihnya tidak mau. Sebab timbul kedengkian di antara mereka. Mereka berpendirian karena dengki bahwa tidak ada dari kaum atau umat apa pun yang layak menjadi nabi ataupun rasul, kecuali yang berdarah Bani Israil. Maka ayat ini ditutup Allah dengan firman-Nya,
“Sesungguhnya Tuhan engkau akan memutuskan di antara mereka di hati Kiamat tentang apa-apa yang telah mereka perselisihkan padanya itu."
(ujung ayat 17)
Dan terhadap keyakinan agama, tidaklah ada paksaan. Sebab semuanya sudah jelas. Untuk menghadapi kenyataan dari pihak Bani Israil ini, kaum yang beriman teruslah hendaknya berpegang kepada perintah Allah di ayat 15 tadi, memperteguh iman, memperbanyak amalan yang saleh, dan memperteguh ukhuwah,
sehingga pribadi Mukmin itu bertambah kuat dan teguh.
“Kemudian telah Kami jadikan engkau menurut syani'at (ganis) dari penkana itu maka ikutilah dia dan jangan engkau ikuti hawa nafsu dari orang-orang yang tidak mengetahui."
(ayat 18)
Dengan ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya mengukuhkan pendirian lagi. Di sini dapat dengan jelas kita tinjau bahwa inti sari ajaran segala rasul, hanya satu. Yaitu mengakui keesaan Allah. Tetapi syari'at, kita artikan garis yang dilalui dalam cara menuju Allah yang Esa itu berubah-ubah. Yang mengubah itu adalah Allah sendiri, yang cocok dengan suasana rasul yang diutus-Nya itu.
Allah memerintahkan Rasul-Nya mengikuti terus sepanjang yang disyari'atkan kepadanya dan jangan dipedulikan hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Pimpinan sekali-kali tidak boleh lepas dari tangan, walau sesaat. Sebab yang beliau jalankan ini adalah wahyu dan yang menentangnya ialah hawa nafsu dari orang-orang yang tidak berpengetahuan.
Jika Allah memerintah Nabi-Nya supaya bersikap teguh demikian terhadap orang-orang yang berpedoman kepada hawa nafsunya karena tidak ada pengetahuan itu, sikap Allah kepada Nabi-Nya juga tegas. Sedikit saja pun dia kendur karena tenggang-menenggang dengan hawa nafsu mereka, Rasul itu pun akan kena bahaya. Ini dijelaskan pada ayat berikutnya.
“Sesungguhnya mereka tidak akan dapat melepaskan engkau dari Allah sedikit jua pun."
(pangkal ayat 19) Yaitu orang-orang yang pertimbangan mereka hanya sekadar menurutkan hawa nafsu itu, kalau dituruti oleh Nabi, mereka pun tidak akan dapat melepaskan Nabi dari kemurkaan Allah. Sebab bukan kehendak mereka yang mesti dipertimbangkan tetapi wahyu llahi-lah yang mesti dijalankan."Dan orang-orang yang aniaya itu, yang sebagian adalah pelindung dari yang sebagian." Dalam kedurhakaan dan keingkaran, mereka bantu-membantu.
“Dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa."
(ujung ayat 19)
Sebab itu, orang-orang yang bertakwa janganlah khawatir, sebab pelindungnya ialah Allah sendiri. Pada ayat ini kita insafi betapa beratnya tanggung jawab seorang rasul Allah. Mereka lebih keras bertanggung jawab di hadapan Alah. Keteledoran sedikit saja pun mendapat teguran. Ingat Nabi Sulaiman yang terlalai sedikit ketika menonton kuda-kudanya yang indah (surah Shaad). Demikian juga terkejut sedikit saja Nabi Dawud ketika musuh-musuhnya naik dari dinding mahrab (surah Shaad). Demikian juga Yunus yang terpaksa me-ringkuk di perut ikan (surah ash-Shaffaat) dan demikian juga Nabi Zakariya yang ketika gergaji sampai di kepalanya ketika dia akan dibunuh, dia mengeluh,"Aduh!" karena merasa sakit, jibril datang memberi ingat,"Jangan merintih karena engkau adalah Nabi, jika merintih sekali lagi, namamu dicoret sebagai Nabi." Ibrahim a.s. diuji dengan disuruh menyembelih anak. Isma'il a.s. diuji dengan kesediaan disembelih (surah ash-Shaaffaat). Kepada Nuh a.s. dikatakan bahwa anak kandungnya bukan ahlinya karena anaknya tidak saleh. Musa a.s. pingsan dan meminta ampun karena berani meminta hendak melihat Allah (surah al-A'raaf). Isa al-Masih a.s. diminta pertanggungjawabannya mengapa orang menuhankannya (surah al-Maa'idah: 116).
Kemudian dijelaskan tentang Al-Qur'an yang di permulaan surah telah diterangkan bahwa dia diturunkan langsung dari Yang Maha-gagah dan Mahabijaksana.
“Ini adalah undang-undang bagi manusia dan petunjuk senta rahmat untuk kaum yang yakin"
(ayat 20)
Undang-undang untuk kehidupan menganjurkan hidup yang bahagia, melarang menempuh bahaya. Sehingga orang yang memegang teguh undang-undang ini, terjamin tidak akan melanggar undang-undang negara, yang melarang kejahatan, sebab tempat takutnya ialah Allah. Undang-undang kita ambil arti Bashaa'ir, yang berarti menjauhi berbuat jahat karena pandangan batin yang insaf.
Dan dia pun petunjuk, bimbingan dan pimpinan untuk mencapai kemuliaan budi. Sebab itu dia pun menjadi rahmat yang kekal abadi. Tetapi semuanya itu hanya dapat dirasakan oleh orang yang yakin. Adapun yang tidak yakin walaupun berulang-ulang dibaca dan dikhatamkannya Al-Qur'an tiap hari, tidaklah dia akan mengecap rahmat Al-Qur'an itu. Sebab itu maka kelanjutan ayat berbunyi,
“Ataukah owng-orang yang beribuat kejahatan menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama sebagai orang-orang yang beriiman dan beriamal yang saleh? Sama semasa hidup mereka dan mati mereka? Buruklah apa yang mereka tetapkan itu."
(ayat 21)
Pertanyaan cara demikian namanya ialah"Pertanyaan berisi bantahan" (istiftiam inkari), artinya tidaklah sama, baik di kala hidup apatah lagi sesudah mati, di antara orang-orang yang berbuat jahat dengan orang yang beriman, dan beramal saleh.
Jika orang yang berbuat jahat itu gelap, hidupnya tiada pegangan. Jiwanya miskin meskipun hartanya banyak. Hatinya risau selalu karena tekanan dosa, meskipun wajahnya di-paksa-paksanya buat tersenyum. Di akhirat nanti, siksaanlah yang akan dirasainya. Orang yang beriman dan beramal saleh, ruhnya diliputi terang; Nur. Bertambah tinggi imannya bertambah memancar sinar atau Nur itu. Ketinggian imannya dibuktikan oleh banyak amal kebaikannya. Kalimat Laa Ilaha lliallah, itulah yang menghidupkan sinar itu. Dan itulah dinamonya. Maka ada sinar orang yang masih lilin, ada yang laksana lampu listrik 15 watt, 25, 100 sampai 1.000 watt, sampai tidak ada batas. Sinar yang pada nabi-nabi adalah laksana matahari. Sinar itu tak cerai lagi sampai hari akhirat. Sedang orang-orang yang jahat gelap semata-mata.
Dan untuk meyakinkan perbedaan itu, perhatikanlah kembali kejadian langit dan bumi. Hubungan di antara keduanya rapat sekali.
“Dan telah menjadikan Allah akan semua langit dan bumi dengan kebenaran."
(pangkal ayat 22)
Cobalah perhatikan kejadian langit dan bumi itu dengan saksama niscaya engkau akan kagum dengan kebenaran dan keadilannya. Adakah engkau lihat yang kacau? Yang tidak teratur? Adakah yang janggal? Yang tiada pada tempatnya? Semua dengan perimbangan dan pertimbangan. Sehingga bertambah tinggi jiwa manusia, bertambah terpujilah dia kalau dia dapat mencontoh meneladan cara Allah menjadikan dan mengatur langit dan bumi itu. Kalau hal ini sudah engkau pikirkan dengan mendalam engkau akan sampai kepada kesimpulan bahwa dalam perkara manusia berbuat baik dan berbuat jahat itu pun pasti berlaku kebenaran dan keadilan Allah. Itu sebabnya maka ujung ayat berbunyi,"Dan untuk dibalasi tiap-tiap diri menurut apa yang telah diusahakannya." Dan ditegaskan lagi pada akhirnya,
“Dan mereka tidaklah dianiaya"
(ujung ayat 22)
Tak usah khawatir Allah akan menganiaya. Cuma manusia juga yang kerap menganiaya karena perberituran di antara kepentingan dan kekuasaan di antara yang merasa kuat dengan yang lemah. Sedang kekuatan Allah mutlak, sedang makhluk-Nya sama lemahnya semua di hadapan-Nya. Allah tidak berkepentingan dengan menganiaya. Bagi-Nya hanya kebenaran. Dan kebenaran itu ialah keadilan.
The Subjugation of the Sea, etc., is among Allah's Signs
Allah the Exalted says,
اللَّهُ الَّذِي سخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ
Allah, it is He Who has subjected to you the sea,
Allah the Exalted mentions some of the favors He gave to His servants, such as subjecting the sea for their service,
لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ
that ships may sail through the sea by His command,
i.e., of Allah the Exalted, Who ordered the sea to carry ships,
وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ
and that you may seek of His bounty,
i.e. in commercial and business transactions,
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
and that you may be thankful.
i.e. for earning various provisions brought to you from far away provinces and distant areas through the sea.
Allah the Exalted said
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الاَْرْضِ
And has subjected to you all that is in the heavens and all that is on the earth;
i.e. the stars, the mountains, the seas, the rivers and all that you use for your benefit; these are all from His favor, kindness and bounty.
Allah's statement next,
جَمِيعًا مِّنْهُ
it is all from Him.
i.e. Alone without partners in giving any of it.
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَرُونَ
And whatever of blessings you have, it is from Allah. Then, when harm touches you unto Him you cry aloud for help. (16:53)
Ibn Jarir recorded that Al-`Awfi reported that Ibn Abbas said about Allah's statement,
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الاَْرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ
(And has subjected to you all that is in the heavens and all that is on the earth; it is all from Him.)
Everything is from Allah, and that is a Name from His Names. So it all comes from Him without rivals to dispute His authority; surely, this fact is completely certain.
Allah said.
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَايَاتٍ لَّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Verily, in it are signs for a people who think deeply.
The Command to be Patient with the Harm of Idolators
Allah's saying
قُل لِّلَّذِينَ امَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُون أَيَّامَ اللَّهِ
Say to the believers to forgive those who hope not for the Days of Allah,
means, let the believers forgive the disbelievers and endure the harm that they direct against them.
In the beginning of Islam, Muslims were ordered to observe patience in the face of the oppression of the idolators and the People of the Scriptures so that their hearts may incline towards Islam. However, when the disbelievers persisted in stubbornness, Allah legislated for the believers to fight in Jihad.
Statements of this meaning were collected from Abdullah bin Abbas and Qatadah.
Mujahid said about Allah's statement,
لاا يَرْجُون أَيَّامَ اللَّهِ
(those who hope not for the Days of Allah),
They do not appreciate Allah's favors.
Allah said,
لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِما كَانُوا يَكْسِبُونَ
that He may recompense people, according to what they have earned.
meaning, if the believers forgive the disbelievers in this life, Allah will still punish the disbelievers for their evil in the Hereafter.
Allah's statement next,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Whosoever does a good deed, it is for himself, and whosoever does evil, it is against (himself). Then to your Lord you will be made to return.
meaning, you will all return to Allah on the Day of Resurrection, when you and your actions will be displayed before Him. Then, He will recompense you for your deeds, good for good and evil for evil
Preference of Allah to the Children of Israel and their dispute thereafter
Allah the Exalted mentions the favors He granted the Children of Israel, such as revealing the Divine Books to them, sending the Messengers to them and granting them kingship.
Allah said,
وَلَقَدْ اتَيْنَا بَنِي إِسْرَايِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ
وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ
And indeed We gave the Children of Israel the Scripture, and the understanding of the Scripture and its laws, and the Prophethood; and provided them with good things,
such as foods and drinks,
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
and preferred them above the nations. (of their time)
وَاتَيْنَاهُم بَيِّنَاتٍ مِّنَ الاْاَمْرِ
And gave them clear proofs in matters.
i.e. `We gave them evidences, proofs and unequivocal signs.'
فَمَا اخْتَلَفُوا إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمْ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
And they differed not until after the knowledge came to them, through envy among themselves.
Therefore, the proof has been established against them, yet they differed among themselves after the proof came to them, out of transgression against each other,
إِنَّ رَبَّكَ
Verily, your Lord (`O Muhammad'),
يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
will judge between them on the Day of Resurrection about that wherein they used to differ.
He will judge between them by His just judgement.
Warning to this Ummah against following the Ways of the Children of Israel
This Ayah contains a warning to the Muslim Ummah as well. It warns them not to take the path the Jews took nor adopt their ways. This is why Allah said
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الاَْمْرِ فَاتَّبِعْهَا
Then We have put you on a (legal) way of commandment. So follow you that.
`follow what was revealed to you from your Lord, O Muhammad, there is no true deity except Him, and turn away from the idolators.'
Allah said,
وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَييًا
وإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ
and follow not the desires of those who know not.
Verily, they can avail you nothing against Allah. Verily, the wrongdoers are protecting friends of one another,
Allah says, `what will the loyalty that the idolators give each other avail them?' Indeed, all they will earn from their protecting friends is more loss, destruction and demise,
وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
but Allah is the Protector of those who have Taqwa.
and He will deliver them from the darkness to the light. In contrast, all the false deities are the protecting friends of those who disbelieve, taking them out of the light to the darkness.
Allah said
هَذَا بَصَايِرُ لِلنَّاسِ
This is a clear insight and evidence for mankind,
in reference to the Qur'an,
وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمِ يُوقِنُونَ
and a guidance and a mercy for people who have faith with certainty.
Tell those who believe to forgive those who do not anticipate, [those who do not] fear, the days of God, the events which He precipitates, that is to say, forgive the disbelievers the harm which they have caused you - this was before the command to struggle against them [had been revealed] - that He, God, may requite (a variant reading [for li-yajziya] has li-najziya, 'that We may requite') a people for what they used to earn, when they used to forgive disbelievers the harm which they did.
قُل لِّلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّـهِ ("Tell those who believe that they should forgive those who do not believe in Allah's days ...14) ". There are two narrations recorded relating to its cause of revelation. According to one narration, a pagan in Makkah reviled Sayyidna ` Umar ؓ and the latter intended to retaliate, but this verse came down and asked the believers to forgive the unbelievers and endure their harm that they direct against them. According to this incident the verse is Makki. Another narration reports that on the occasion of the battle of Bani-l-Mustaliq, the Prophet of Allah ﷺ and his Companions ؓ pitched their tent at a well called Muraisi'. ` Abdullah Ibn 'Ubayy, the leader of the hypocrites, was with the Muslims. He sent his servant to fetch water from the well. He was delayed in returning. ` Abdullah Ibn 'Ubayy asked him to give reason why he was late. He replied that one of Sayyidna ` Umar's ؓ servants was sitting on the bank of the well. He did not permit anyone to draw water unless the water-skins of the Prophet of Allah ﷺ and Sayyidna Abu Bakr ؓ were filled. ` Abdullah Ibn 'Ubayy cynically quoted the following proverb: سمّن کلبک یأکلک "Fatten your dog and it will eat you up." Sayyidna ` Umar ؓ heard about it, he armed himself with his sword and went towards ` Abdullah Ibn 'Ubayy. This verse was revealed on that occasion. According to this incident, the verse is Madani. (Qurtubi and Ruh-ul-Ma'ani). If both the chains of transmitters can be authenticated, the two incidents can be synchronized thus: In the first instance, the verse was originally revealed in Makkah. Then a similar incident took place on the occasion of the battle of Bani-l-Mustaliq. The Messenger of Allah recited the verse and applied it to the second incident. This often happened in cases of the causes of Qur'anic revelation. Another likelihood is that when the incident of the battle of Bani-l-Mustaliq took place, Sayyidna Jibra'il (علیہ السلام) might have come down with the verse the second time and reminded that this is an occasion to act upon it. In the technical parlance of Tafsir, it is called نزول مکرر or ` repeated revelation'. The verse contains the expression أَيَّامَ اللَّـهِ , (Allah's days) which, according to most commentators, refers to ` reward and punishment' which Allah will requite on the Day of Requital. The word ayyam (days) in the Arabic language is abundantly used in the sense of ` turn of events'.
Another point worth noting is that when the Qur'an commanded ` Say, [ 0 Muhammad ], to the believers that they should forgive the disbelievers, it did not say, "forgive the idolaters"; instead it has said, "...forgive those who do not believe in Allah's days ...[ 14] ". This probably purports to say that the real chastisement awaits them in the Hereafter, but because the unbelievers do not believe in the Hereafter, the punishment will be unexpected for them. An unexpected torture is most excruciating, and therefore the torment will be most harrowing and agonizing. Thus they will be recompensed and repaid fully for all their evil deeds. The Muslims are not to bother about taking them to task for every little thing.
Some of the scholars maintain that the rule of forgiving the infidels applied only before the revelation of the verse of jihad. When jihad was ordained, the rule of forgiveness, in terms of the current verse, was abrogated. However, most research scholars express the view that this verse has nothing to do with the verse of jihad. The current verse sets down the general social law that the Muslims should not wreak vengeance for every little thing. This law is universally applicable in every age and situation - the social law is needed even at the present time, and therefore it is not accurate to treat it as abrogated - especially if we were to take into account the circumstances under which it was revealed: the battle of Bani-l-Mustaliq. If this battle is the cause of revelation of this verse, then verses of jihad cannot be the abrogators, because they were revealed before this event.