ٱلْأَعْرَاف ٥٦
- وَلَا dan jangan
- تُفۡسِدُواْ kalian membuat kerusakan
- فِي di
- ٱلۡأَرۡضِ bumi
- بَعۡدَ sesudah
- إِصۡلَٰحِهَا memperbaikinya
- وَٱدۡعُوهُ dan berdoalah kepadaNya
- خَوۡفٗا perasaan takut
- وَطَمَعًاۚ dan penuh pengharapan
- إِنَّ sesungguhnya
- رَحۡمَتَ rahmat
- ٱللَّهِ Allah
- قَرِيبٞ dekat
- مِّنَ dari
- ٱلۡمُحۡسِنِينَ orang-orang yang berbuat baik
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.
(Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi) dengan melakukan kemusyrikan dan perbuatan-perbuatan maksiat (sesudah Allah memperbaikinya) dengan cara mengutus rasul-rasul (dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut) terhadap siksaan-Nya (dan dengan penuh harap) terhadap rahmat-Nya. (Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik) yakni orang-orang yang taat. Lafal qariib berbentuk mudzakkar padahal menjadi khabar lafal rahmah yang muannats, hal ini karena lafal rahmah dimudhafkan kepada lafal Allah.
Tafsir Surat Al-A'raf: 55-56
Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Ayat 55
Allah ﷻ memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar mereka berdoa memohon kepada-Nya untuk kebaikan urusan dunia dan akhirat mereka. Untuk itu Allah ﷻ berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah diri dan suara yang lembut.” (Al-A'raf: 54)
Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah mengucapkan doa dengan perasaan yang rendah diri, penuh harap, dan dengan suara yang lemah lembut.
Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu.” (Al-A'raf: 205), hingga akhir ayat.
Di dalam kitab Shahihain disebutkan dari Abu Musa Al-Asy'ari yang menceritakan bahwa suara orang-orang terdengar keras saat mengucapkan doanya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang gaib, sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”
Ibnu Juraij meriwayatkan dari ‘Atha’ Al-Khurrasani, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
“Dengan rendah diri dan suara yang lembut.” (Al-A'raf: 55)
Yang dimaksud dengan khufyah ialah suara yang pelan.
Ibnu Jarir mengatakan, makna tadarru' ialah berendah diri dan tenang dalam ketaatan kepada-Nya. Yang dimaksud dengan khufyah ialah dengan hati yang khusyuk, penuh keyakinan kepada Keesaan dan Kekuasaan-Nya terhadap semua yang ada antara kalian dan Dia, bukan dengan suara yang keras untuk pamer.
Abdullah ibnul Mubarak meriwayatkan dari Mubarak ibnul Fudalah, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar hafal Al-Qur'an seluruhnya, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Dahulu ada orang yang benar-benar banyak menguasai ilmu fiqih, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar gemar melakukan shalat yang panjang-panjang di dalam rumahnya, sedangkan di rumahnya banyak terdapat para pengunjung yang bertamu, tetapi mereka tidak mengetahuinya. Sesungguhnya kita sekarang menjumpai banyak orang yang tiada Suatu amal pun di muka bumi ini mereka mampu mengerjakannya secara tersembunyi, tetapi mereka mengerjakannya dengan terang-terangan.
Padahal sesungguhnya kaum muslim di masa lalu selalu berupaya dengan keras dalam doanya tanpa terdengar suaranya selain hanya bisikan antara mereka dan Tuhannya. Demikian itu karena Allah ﷻ telah berfirman di dalam Kitab-Nya: “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan rendah diri dan suara yang lembut.” (Al-A'raf: 55)
Dan firman Allah ﷻ ketika menceritakan seorang hamba yang saleh yang Dia ridai perbuatannya, yaitu:
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (Maryam: 3)
Ibnu Juraij mengatakan bahwa makruh mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdoa; hal yang diperintahkan ialah melakukannya dengan penuh rasa rendah diri dan hati yang khusyuk.
Kemudian Ibnu Juraij meriwayatkan dari ‘Atha’ Al-Khurasahi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A'raf: 55)
Yakni dalam berdoa, juga dalam hal lainnya.
Abu Mijlaz mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A'raf: 55)
Maksudnya, janganlah seseorang meminta kepada Allah agar ditempatkan pada kedudukan para nabi.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Ziad ibnu Mikhraq, ia pernah mendengar Abu Nu'amah meriwayatkan dari seorang maula Sa'd bahwa Sa'd pernah mendengar salah seorang anak lelakinya mengatakan dalam doanya, "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadamu surga dan semua kenikmatannya dan baju sutranya, serta hal lainnya yang semisal. Saya berlindung kepada-Mu dari neraka, rantai, dan belenggunya." Maka Sa'd mengatakan, "Engkau telah meminta kepada Allah kebaikan yang banyak dan berlindung kepada Allah dari kejahatan yang banyak.”
Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.” Menurut lafal yang lain disebutkan, "Melampaui batas dalam bersuci dan berdoa."
Kemudian Sa'd membacakan firman-Nya:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri.” (Al-A'raf: 55)
Sa'd mengatakan, "Sesungguhnya sudah cukup bagimu jika kamu mengucapkan dalam doamu hal berikut, 'Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau surga dan semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya.
Saya berlindung kepada Engkau dari neraka dan dari semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya." Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadits Syu'bah, dari Ziyad ibnu Mikhraq, dari Abu Nu'amah, dari maula Sa'd, dari Sa'd, lalu ia menuturkan hadits ini. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Al-Hariri, dari Abu Nu'amah, bahwa Abdullah ibnu Mugaffal pernah mendengar anaknya mengucapkan doa berikut, "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau gedung putih yang ada di sebelah kanan surga, jika saya masuk surga." Maka Abdullah berkata kepadanya, "Wahai anakku, mintalah surga kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari neraka.
Karena sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam doa dan bersucinya'." Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Affan. Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Musa ibnu Ismail, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sa'id ibnu Iyas Al-Hariri, dari Abu Nu'amah yang nama aslinya ialah Qais ibnu Ubayah Al-Hanafi Al-Basri. Sanad ini dinilai baik dan dapat dipakai.
Ayat 56
Firman Allah ﷻ: “Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (Al-A'raf: 56) Allah ﷻ melarang perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi dan hal-hal yang membahayakan kelestariannya sesudah diperbaiki. Karena sesungguhnya apabila segala sesuatunya berjalan sesuai dengan kelestariannya, kemudian terjadilah pengrusakan padanya, hal tersebut akan membahayakan semua hamba Allah. Maka Allah ﷻ melarang hal tersebut, dan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah-Nya dan berdoa kepada-Nya serta berendah diri dan memohon belas kasihan-Nya. Untuk itulah Allah ﷻ berfirman:
“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harap (akan dikabulkan).” (Al-A'raf: 56)
Yakni dengan perasaan takut terhadap azab yang ada di sisi-Nya dan penuh harap kepada pahala berlimpah yang ada di sisi-Nya.
Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A'raf: 56)
Maksudnya, sesungguhnya rahmat Allah selalu berada sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yaitu mereka yang mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.” (Al-A'raf: 156), hingga akhir ayat.
Dalam ayat ini disebutkan “qaribun” dan tidak disebutkan “qaribatun” mengingat di dalamnya (yakni lafal rahmat) terkandung pengertian pahala atau karena disandarkan kepada Allah, karena itu disebutkan qaribun minal muhsinin (amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik).
Matar Al-Warraq pernah mengatakan, "Laksanakanlah janji Allah dengan taat kepada-Nya, karena sesungguhnya Dia telah menetapkan bahwa rahmat-Nya amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut sehingga kamu lebih khusyuk dan terdorong untuk menaati-Nya, dan penuh harap terhadap anugerah-Nya dan pengabulan doamu. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah Allah yang meniupkan dan menggerakkan angin sebagai kabar gembira, yakni tanda yang mendahului kedatangan rahmat-Nya, yaitu turunnya hujan, sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus yang telah rusak tanamannya karena ketiadaan air, lalu Kami turunkan hujan lebat di daerah yang tandus itu hingga daerah tersebut menjadi subur. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan dan tanaman yang beragam warna dan rasanya. Seperti menumbuhkan tanah yang sudah mati menjadi subur itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudahmudahan kamu, wahai manusia, mengambil pelajaran bahwa hari kebangkitan adalah benar adanya.
Dalam ayat ini Allah melarang manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Larangan membuat kerusakan ini mencakup semua bidang, seperti merusak pergaulan, jasmani dan rohani orang lain, kehidupan dan sumber-sumber penghidupan (pertanian, perdagangan, dan lain-lain), merusak lingkungan dan lain sebagainya. Bumi ini sudah diciptakan Allah dengan segala kelengkapannya, seperti gunung, lembah, sungai, lautan, daratan, hutan dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk keperluan manusia, agar dapat diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, manusia dilarang membuat kerusakan di muka bumi.
Selain itu, Allah juga menurunkan agama dan mengutus para rasul untuk memberi petunjuk agar manusia dapat hidup dalam kebahagiaan, keamanan dan kedamaian. Sebagai penutup kenabian, Allah mengutus Rasulullah ﷺ yang membawa ajaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Bila manusia mengikuti ajaran Islam dengan benar, maka seluruhnya akan menjadi baik, manusia menjadi baik, bangsa menjadi baik, dan negara menjadi baik pula.
Sesudah Allah melarang manusia membuat kerusakan, maka di akhir ayat ini diungkap lagi tentang etika berdoa. Ketika berdoa untuk urusan duniawi atau ukhrawi, selain dengan sepenuh hati, khusuk dan suara yang lembut, hendaknya disertai pula dengan perasaan takut dan penuh harapan. Cara berdoa semacam ini akan mempertebal keyakinan dan akan menjauhkan diri dari keputusasaan, karena langsung memohon kepada Allah yang Mahakuasa dan Mahakaya. Rahmat Allah akan tercurah kepada orang yang berbuat baik, dan berdoa merupakan perbuatan baik. Oleh karenanya, rahmat Allah tentu dekat dan akan tercurah kepadanya. Anjuran untuk berbuat baik banyak diungkap dalam Al-Qur'an, seperti berbuat baik terhadap tetangga, kepada sesama manusia, kepada kawan, kepada lingkungan dan lainnya. Karena itu, bila seseorang akan menyembelih binatang, hendaknya ia melakukan dengan cara yang baik, yaitu dengan pisau yang tajam agar tidak menyebabkan penderitaan bagi binatang itu.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah."
(pangkal ayat 54)
Sebagaimana berulang-ulang telah kita katakan dan telah diterangkan dalam tafsir ini bahwa di dalam bahasa Arab, Allah itu mempunyai dua sifat pokok, yaitu ilah dan rabbun. Sebagai pencipta menjadikan dari tidak ada kepada ada. Dia adalah llah. Tidak ada yang menciptakan alam ini selain Dia. Setelah alam Dia ciptakan, Dia pula yang terus mengatur, memelihara, menguasai, dan mendidik.
Dia sebagai Ilah. Oleh sebab itu, tidak ada Ilah yang lain kecuali Dia. Maka, segala persem-bahan, segala ibadah, tertujulah kepada Allah sebagai Ilah. Dan di dalam mengatur, memelihara, mendidik, dan menguasai yang sepenuhnya itu, tidaklah Dia bersekutu dengan yang lain. Dia sendirilah Rabbun, tidak ada Rabbun atau Arbaab yang lain. Ini selalu dijelaskan karena banyak manusia mengakui bahwa Ilah itu memang hanya satu, yaitu Allah. Namun, kelak dalam persembahan dan pemujaan, dalam ibadah dan meminta tolong mereka persekutukanlah yang lain dengan Dia. Itulah yang dijelaskan pada pangkal ayat ini, “Sesungguhnya Rabbun kamu itu adalah Allah." Tidak ada tempat menyembah selain Dia. Sebab, tidak ada yang lain turut mengatur, memelihara, dan mendidik alam ini bersama dia. ‘Yang telah menciptakan langit dan bumi di dalam enam hari."
Supaya kita dapat memahami apa arti Allah menjadikan semua langit dan bumi dalam enam hari, hendaklah kita langsung mengambil dari Al-Qur'an sendiri dengan penafsiran alam menurut perkembangan ilmu pengetahuan. Dan, yang demikian itu telah lebih mudah di zaman modern kita sekarang ini. Penyelidikan tentang alam ini berangsur-angsur maju di luar dari kepercayaan turun-temurun manusia. Karena hubungan orang Arab dengan Yahudi berdekatan maka tidak sedikit masuk pengaruh kitab Perjanjian Lama kepada ahli-ahli tafsir Islam pada zaman pengetahuan umum belum maju itu, Oleh karena itu, tidaklah kita heran jika di dalam beberapa tafsir Al-Qur'an lama, banyak ditafsirkan orang menurut Perjanjian Lama dan dongeng-dongeng orang israili. Menurut Perjanjian Lama itu, Allah menjadikan langit dan bumi ini dalam enam hari, dimulai hari Ahad, disudahi hari Jum'at dan pada hari Sabtu Allah istirahat, berlepas lelah!
Setelah ayat Al-Qur'an yang menyebutkan enam hari ditilik dari segi bahasa Arab dan dari ayat lain sendiri di dalam Al-Qur'an, sudahlah nyata bahwa yang dimaksud dengan hari pada ayat ini bukanlah hari 24 jam seperti yang kita hitung sekarang. Kemajuan ilmu pengetahuan tentang alam, yang anak sekolah dasar pun telah tahu, telah menunjukkan bahwa yang kita namai sehari semalam sekarang ini ialah edaran bumi mengedari atau mengelilingi matahari. Sekarang orang telah tahu, selain bumi ada lagi beberapa buah bintang yang mengelilingi matahari dan mereka ada yang lebih besar daripada bumi dan lebih jauh jarak putarannya dari matahari sehingga edaran dari bintang-bintang itu tidaklah 24 jam sebagai bumi. Bintang-bintang Mars, Mercurius, Saturnus, Neptunus, dan beberapa buah bintang lagi yang diriamakan satelit matahari. Atau dalam bahasa populernya, pengiring. Mereka juga mengelilingi matahari menurut jarak yang lebih jauh dari edaran bumi. Oleh sebab itu, siang-malam di sana berbeda dari siang-malam di bumi. Padahal, makhluk Allah yang bernama “semua langit" itu sangatlah banyak. Keluarga matahari dengan satelitnya dan bintang-bintangnya yang lain yang berjuta-juta banyaknya itu hanyalah satu kekeluargaan saja, dari berpuluh, entah beratus, entah berapa lagi makhluk yang lain. Dibawa pada makhluk yang maha luas itu, matahari dengan bumi dengan bulan dan bintang-bintang dan satelitnya hanyalah satu kelompok kecil kekeluargaan saja. Oleh sebab itu, dengan ini saja sudah nyata bahwa enam hari di dalam Al-Qur'an itu bukanlah enam hari 24 jam.
Di dalam Al-Qur'an surah al-Haj ayat 47 dan surah as-Sajdah ayat 5, dijelaskan bahwa ada bilangan hari satu hari di sisi Allah sama dengan 1.000 tahun hitungan kita manusia. Sedangkan 1.000 tahun kita itu ialah 1.000 kali 365 hari kita. Di dalam surah al-Ma'aarij ayat 4 diterangkan lagi satu macam hari di sisi Allah, yang pada waktu itu malaikat dan ruh naik ke atas, jumlah bilangan hari itu ialah 50.000 tahun menurut hitungan tahun edaran bumi matahari kita ini; 50.000 kali 356 hari kita. Itu baru dua contoh Allah menyebutkan hari-Nya kepada kita. Berapa juta lagikah macam hari Allah yang lain? Hanya Dia saja yang tahu. Sedangkan hari yang kita pakai hanya satu macam saja, yaitu 24 jam sekali edaran bumi keliling matahari. Oleh sebab itu, Allah menjadikan semua langit dan bumi dalam enam hari, bukanlah hari menurut hitungan kita, melainkan hari menurut hitungan Allah sendiri. Di dalam bahasa Arab pun hari itu berarti juga zaman atau masa. Maka, dapatlah kita simpulkan maksud ayat, berdasar arti yang lain dari hari dalam bahasa Arab dan kemajuan penyelidikan ilmu bahwa kejadian alam semua langit dan bumi adalah melalui enam masa. Zaman pertama bahwa semuanya masih merupakan uap atau kabut. Dari kabut itulah timbul satu pecahan kecil yang kemudiannya berbentuk jadi bumi. Zaman kedua, uap telah bersilih menjadi air. Zaman ketiga, mulai timbul yang kering, yang kelaknya akan berkumpul menjadi bukit-bukit dan gunung-gunung. Zaman keempat, mulailah kelihatan yang hidup dalam air, yaitu tumbuh-tumbuhan dan binatang. Zaman kelima, keenam, sampai sebagai yang sekarang ini.
Demikianlah, pada zaman Rasulullah ﷺ sendiri orang Yahudi menyampaikan paham dalam kalangan Arab jahiliyyah bahwasanya hari Sabtu hendaklah dijadikan hari Sabat, sebab pada hari itu Allah istirahat. Datang Al-Qur'an membantah, seperti tersebut di dalam surah ar-Rahmaan ayat 29 bahwa setiap waktu, ataupun setiap hari ada saja urusan Allah itu. Allah bukan makhluk, yang perlu istirahat.
Sungguh pun demikian ada juga dike-mukakan orang hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memang pernah mengatakan, menurut riwayat Muslim, ahli hadits yang besar itu dan Imam Ahmad menerangkan dalam masnadnya, diterima dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Allah menjadikan tanah hari Sabtu, menjadikan gunung-gunung hari Ahad, menjadikan kayu-kayuan hari Isnin (Senin), menjadikan segala yang dibenci hari Selasa, menjadikan cahaya (nur) hari Arba'a (Rabu), menjadikan bintang-bintang hari Khamis (Kamis), dan menjadikan Adam di waktu Ashar hari Jum'at itu sampai malam."
Hadits ini diselidiki orang dengan saksama menurut ilmu hadits, walaupun nama Imam Muslim disebut-sebut sebagai perawinya. Hadits jenis ini ada macam-macam, tetapi yang satu ini sanadnya agak kuat. Bukan sangat kuat, melainkan agak kuat. Tiba-tiba bertemulah dalam sanad yang merawikan itu nama Hajjaj bin Muhammad al-A'war, yang menurut penyelidikan, beliau ini pada hari tuanya jadi kacau akalnya hingga hafalannya. Menurut keterangan Ibnu Katsir di dalam tafsirnya pula bahwa hadits ini telah dibicarakan dengan saksama oleh Imam Bukhari. Ternyata bahwa hadits ini dari riwayat Abu Hurairah, yang diterimanya daripada Ka'ab al-Ahbar. Dan, kita sudah mengetahui bahwa Ka'ab al-Ahbar adalah Yahudi yang masuk Islam, banyak sekali membawa dongeng-dongeng israiliyat. Kerap kali riwayat-riwayat yang diterima dari Ka'ab ini ditulis tanpa komentar, sebab dia sendiri memang orang shalih dan taat.
Sedangkan satu hadits betapa pun bagus matannya, kalau tidak sejalan isinya dengan Al-Qur'an, sudah boleh diletakkan saja, apatah lagi jika sudah terdapat nama-nama yang mencurigakan, seperti Hajjaj bin Muhammad al-A'war tadi, yang pada hari tuanya mulai rusak hafalannya dan bertemu pula keterangan Bukhari bahwa Ka'ab al-Ahbar ada pula campur tangan di dalam memasukkan cerita ini. Maka, kalau kita tolak, bukan berarti kita menolak keterangan Rasulullah ﷺ, melainkan hanya tidak lekas menerima suatu hadits sebab riwayat silsilah atau rantai perawinya meragukan kita.
Jika kita melepaskan diri dari hadits-hadits semacam itu, yang jalan riwayatnya banyak cacatnya menurut ilmu hadits, lalu kita baca beberapa ayat dari Al-Qur'an dan disesuaikan dengan perkembangan pengetahuan tentang alam maka ayat-ayat itu akan dapat dipahamkan dengan tuntunan ilmu pengetahuan alam itu. Misalnya, pertama sekali tersebut di dalam Al-Qur'an, surah Fushshilat,
“Kemudian itu dia menuju kepada (pembikinan) langit dan langit itu adalah asap."
Sesuai dengan hasil penyelidikan ilmiah yang menyatakan, asal-usul materi kejadian bumi dan langit itu mulanya seumpama asap saja, yang kemudian berpisah-pisah menurut hukum daya tarik, yang selalu bergerak, mengumpul, dan memisah melalui proses jutaan tahun. Di dalam surah al-Anbiyaa' ayat 30 diterangkan pula bahwa pada asal mulanya langit dan bumi itu adalah sekepal, kemudian dipisahkan oleh Allah di antara keduanya. Inilah yang dikatakan oleh penyelidik ilmu alam tentang dahulunya masih chaos, kemudian membentuk diri menjadi matahari sebagai induk asal, lalu terjadilah bintang-bintang dan di antara bintang-bintang itu ialah bumi. Dan, bumi itu sendiri, yang mulanya berupa gas yang selalu menyala, dengan melalui berjuta masa, turun derajatnya menjadi air. Lama-lama, timbullah sifat kering, sezaman demi sezaman, dan setingkat masa pada setingkat, yang kemudian menimbulkan jenis logam, jenis kehidupan dan adanya tumbuh-tumbuhan, sampai martabat kehidupan itu dari lumut, naik menjadi semacam kerang, dan naik menjadi tumbuh-tumbuhan. Materi atau zat yang mulai diberi hidup itu, diriamai oleh ahli ilmu pengetahuan dengan protoplasma. Semuanya ini adalah menurut kadar atau jangka, yang telah ditentukan, yang itu dibayangkan di dalam Al-Qur'an surah al-Furqaan ayat 2. Tentang tingkat-tingkat kehidupan atau giliran-giliran hidup itu, menanjak sejak dari hidup yang mulai didapat pada lumut, berasal dari protoplasma itu, sampai pada tumbuh-tumbuhan kemudian meningkat kepada kehidupan kerang, batas di antara tumbuh-tumbuhan dengan ikan dan maju lagi pada giliran yang telah pula dibayangkan Allah di dalam surah Nuuh ayat 14.
Oleh sebab itu, ratusan tahun sebelum Darwin mengeluarkan teorinya, Ibnu Maska-waihi dan kemudian Ibnu Khaldun telah menyatakan teorinya terlebih dahulu perihal tingkatan makhluk bernyawa menempuh hidup. Menurut mereka, giliran terakhir dari tingkat kemajuan hidup binatang ialah kera. Permulaan atau tapak pertama dari permulaan hidup insan ialah kehidupan orang Zanji di tengah-tengah Benua Afrika. (Atau sebagai apa yang kita namai suku-suku terbelakang.)
Kemudian, ahli taﷺuf besar Jamaluddiri Rumi menyatakan pula pendapatnya bahwa pada mulanya ialah benda semata-mata, kemudian baru timbul apa yang diriamai hidup. Permulaan hidup terbagi pada tumbuh-tumbuhan. Dari tumbuh-tumbuhan meningkat pada hewan (binatang), tetapi melalui pula zaman peralihan yang terdapat pada hidup kerang di laut, yang bernyawa sebagai binatang, tetapi dia berurat dan berbunga seperti tum-uh-tumbuhan. Dari tingkat binatang itulah dia berangsur mencapai derajat paling tinggi, yaitu manusia. Dia pun sepaham dengan Ibnu Khaldun bahwa ekor terakhir dari proses kebinatangan ialah kera dan mula pertama tumbuhnya manusia ialah kera. Dan, menurut Jamaluddiri Rumi, perjalanan kehidupan itu tidaklah habis setahap itu saja, bahkan dia akan lebih naik lagi, sampai manusia yang diriamai alam nasut, naik lagi dan naik lagi sampai mencapai alam malakut (alam malaikat) dan akhir sekali, Inna lillahi wa inna Ilaihi raji'una.
Namun, teori-teori dari ahli filsafat Islam itu, baik Ibnu Maskawaihi ahli akhlak (etika) dalam Islam atau Ibnu Khaldun ahli filsafat sejarah atau Jamaluddiri Rumi ahli filsafat taﷺuf, tidaklah terdapat dalam teori mereka itu yang melepaskan diri dari rangka bahwa semuanya itu sunnatullah, garis ketentuan Allah, bukan materialistis yang sengaja mengelak dari Allah.
Penafsir besar, ar-Razi, pun berkata dalam tafsirnya, “Yang lebih dapat diterima oleh akal ialah bahwa bumi yang telah ramai didiami sejak zaman purbakala adalah masih lautan semata-mata. Lama-lama timbullah daripada tanah luluk yang amat banyak, yang kian lama kian membatu. Setelah itu mulailah ia terpisah-pisah. Kemudian timbullah lembah-lembah yang rendah karena aliran banjir dan angin. Karena aliran air dan hembusan angin itu, timbullah lurah dan timbullah gunung. Yang lebih memperkuat persangkaan ini ialah karena ada didapati. Batu itu kita selidiki maka terdapatlah pada pecahan batu-batu itu bekas bagian daripada binatang-binatang air, sebagai lokan-lokan ataupun ikan," Sekian ar-Razi.
Keterangan ar-Razi dalam tafsirnya ini, membuktikan pula bagi kita bahwa sarjana-sarjana Islam telah mulai menyelidiki alam dan mengeluarkan teori dari hasil penyelidikannya dalam bidang masing-masing. Kemudian mundurlah penyelidikan sendiri, dirigin semangat menyelidik dan ijtihad. Maka, setelah timbul teori Charles Darwin dalam abad kesembilan belas, mulailah dia membebaskan ilmu itu dari kepercayaan kepada Allah, menjadi semata-mata materialistis, dan disangka oranglah bahwa di kalangan Islam soal itu adalah baru, padahal sudah lama dan lebih lengkap dari segi ruhaniyahnya, yaitu kepercayaan akan kebenaran Allah. Malahan kalangan Islam sendiri tidak sanggup menilai pendapat Darwin itu dari segi pandangan sarjana Islam karena pengetahuan umum telah lama ditinggalkan, dan berpegang teguhlah setengah mereka kepada tafsir-tafsir yang bersifat israiliyat, yang dimasukkan ke dalam Islam oleh seumpama Ka'ab al-Ahbar.
BERSEMAYAM DI ATAS ARSY
“Kemudian bersemayamlah Dia di atas Arsy." Artinya, setelah Allah menciptakan semua makhluk-Nya, langit dan bumi dan seba-gainya itu, bersemayamlah Dia menurut kelayakan bagi-Nya di atas Arsy.
Istawaa diartikan “bersemayam". Karena itulah kata kehormatan yang tertinggi yang biasanya kita pakai dalam bahasa Melayu klasik terhadap raja yang bersemayam di singgasana. Arsy itu pun bisa diartikan singgasana atau mahligai atau takhta. Kalau orang biasa disebutkan duduk di kursi maka raja disebut bersemayam di mahligai.
Boleh kita ambil isi maksudnya, Allah “Malikul Mulki", raja dari segala raja, Mahakuasa di atas segala kekuasaan, bersemayam di atas Arsy-Nya, mengatur segala sesuatunya dengan segala kebesaran dan kekuasaan yang Mahasempurna. Di surah Huud ayat 7 disebut pula bahwa Arsy itu di atas air dan di surah al-Haqqah ayat 17, dikatakan bahwa Arsy itu dipikul oleh delapan malaikat.
Menjalar pertanyaan-pertanyaan orang, bagaimana Allah itu duduk semayam? Apakah kalimat istawaa yang diartikan semayam itu atau duduk itu keadaannya menurut arti yang kita pikirkan bila kita melihat orang duduk di kursi atau seorang raja tengah duduk di hadapan menteri-menteri dan hulu balang-hulu balang, biti-biti perwara? Besarkah Arsy-Nya daripada dirinya sendiri? Bertubuhkah Allah dan bertempatkah Dia? Kalau demikian niscaya serupa Dia dengan yang baru. Itulah tanya yang akan timbul.
Ulama-ulama salaf (yang datang kemudian) memberi tafsiran bahwa maksud perkataan ini untuk menjelaskan Maha Kebesaran dan Maha Kekuasaan Allah. Bilamana telah selesai Dia menjadikan semua langit dan bumi dalam masa enam hari, yaitu enam giliran zaman, yang satu zaman itu entah berjuta tahunkah, Dia saja yang tahu, kemudian Dia pun duduklah mentadbirkan alam itu menurut kehendak qudrat dan iradat-Nya. Kata mereka, kepada raja-raja yang besar-besar pun selalu dikatakan orang bahwa raja anu duduk bersemayam di atas singgasananya sekian tahun lamanya, artinya ialah bahwa raja itu berkuasa sekian tahun. Arsy itu sendiri adalah lambang ibarat dari kekuasaan. Tidak perlu kita berpikir bahwa Allah bertubuh dan Arsy-Nya itu lebih besar dari Dia. Sebab di dalam Ayat Kursi yang terkenal di dalam surah al-Baqarah ayat 255 disebutkan juga bahwa Kursi Allah meliputi semua langit dan bumi.
Akan tetapi, ulama salaf tidak mau menyinggung menafsirkan itu berdalam-dalam, melainkan menerima saja ayat itu keseluruhannya. Daerah alam jabarut, yaitu alam kebesaran Ilahi yang seperti demikian tidaklah ada bagi kita alat yang tepat buat menafsirkannya. Kita tafsirkan dengan agak-agak, padahal entah bukan begitu.
Menurut riwayat Ibnu Mardawaih dan al-La-Lakaaiy bahwa ibu orang yang beriman, ibu kita Ummi Salamah pernah berkata tentang bagaimana arti Allah bersemayam di Arsy itu. Kata ibu kita itu, “Tentang betapa keadaannya tidaklah dapat dicapai dengan akal dan tentang Dia bersemayam tidaklah majhul dan mengakui tentang hal itu adalah termasuk iman dan menolaknya adalah suatu kekufur-an.1' Itulah perkataan sahabat Rasulullah ﷺ
Dan mengeluarkan pula al-La-Lakaaiy di dalam as-Sunnah dan al-Baihaqi di dalam kitab al-Asma' was-Shifat, “Bahwa Rabi'ah, guru dari Imam Malik ditanyai orang tentang arti bersemayam di Arsy, betapa sema-yamnya?" Beliau menjawab, “Tentang bersemayam, bukanlah tidak diketahui dan betapa keadaannya bukanlah yang dapat dipikirkan. Dari Allah datang risalah dan Rasul adalah menyampaikan dan kewajiban kita adalah membenarkan." Rabi'ah adalah tabi' tabi'in.
Dan, menurut riwayat itu, datang pula orang bertanya kepada Imam Malik tentang soal ini. Tampak susah dia hendak menjawab karena marah beliau kepada orang yang bertanya setelah beliau bisa menyelesaikan napasnya, dijawabnyalah pertanyaan orang itu, “Tentang bagaimana caranya Dia duduk, tidaklah dapat dipikirkan dengan akal, tentang arti bersemayam tidaklah hal yang majhul, dan iman kepada-Nya adalah wajib bagi kita, tetapi bertanya tentang itu adalah bid'ah, dan saya takut engkau akan tersesat!" Lalu, beliau suruh orang untuk mengeluarkan orang yang bertanya itu dari dalam majelis pengajian beliau. Dan dalam riwayat yang lain tersebut beliau menjawab pertanyaan itu demikian, “Tentang ar-Rahman bersemayam di atas Arsy, adalah keadaannya sebagaimana telah disifatkan-Nya itu, dan tidak perlu kita bertanya ‘betapa', itu tidak bisa dipasangkan kepada Allah, sedang engkau sendiri adalah seorang yang jahat, tukang bid'ah."
Di sini kita, menampak bahwa ulama-ulama salaf ikutan kita, sejak sahabat-sahabat Rasulullah yang dicerminkan oleh Ibu Mukminin Ummi Salamah tadi, lalu kepada tabi'in, tabi' tabi'in dan ulama yang terdahulu (muta-qaddimin), tidaklah memandang layak kita membicarakan hal-hal semacam itu. Dan apabila Imam Malik marah kepada orang yang bertanya itu karena bertanya semata hendak membongkar-bongkar soal yang bisa menimbulkan keraguan dan memperpanjang debat, bukan karena hendak menuntut ilmu.
Bahkan, keadaan ini adalah seperti yang dikatakan salah seorang Imam ikutan, yaitu Nu'aim bin Hammad al-Khuza'i, guru dari Imam Bukhari. Kata beliau, “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya adalah kafir, dan barangsiapa yang tidak mau percaya akan sifat Allah yang telah dije-laskan-Nya sendiri tentang dirinya, dia pun kafir. Dalam sifat Allah tentang diri-Nya atau diterangkan oleh Rasul-Nya, tidaklah terdapat perserupaan dengan sifat makhluk. Barangsiapa yang mengakui apa yang tersebut di dalam nash yang demikian, jelasnya dalam Al-Qur'an dan demikian pula dari kabar-kabar (hadits) yang shahih, menurut keadaan yang layak bagi kemuliaan Allah, serta menafikan dari Allah segala kekurangan, orang itulah yang telah berjalan di atas garis petunjuk yang benar."
Berkata al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, “Pembicaraan orang tentang soal ini memang banyak. Tetapi, madzhab yang baik ditempuh dalam hal ini ialah madzhab salaf yang shalih, yaitu Imam Malik dan al-Auzal dan ats-Tsauri dan al-Laits bin Sa'ad, dan asy-Syafi'i, dan Ahmad dan Ishaq bin Rahawaihi, dan ulama-ulama ikutan kaum Muslimin yang lain, yang dahulu dan yang kemudian. Yaitu, membiarkannya sebagaimana yang tersebut itu, dengan tidak menanyai betapa dan tidak pula menyerupakan-Nya dan tidak pula menceraikan-Nya dari sifat. Dan, segala yang cepat terkenang di dalam otak orang yang hendak menyerupakan Allah dengan yang lain, sekali-kali tidaklah sesuai dengan keadaan Allah sebab tidak ada makhluk yang menyerupai Allah. Tidak sesuatu yang rae-nyerupal-Nya dan Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Dan ini pun menjadi pedomanlah bagi kita tiap-tiap bertemu ayat-ayat yang seperti ini. Di dalam filsafat modern ada satu daerah yang disebut trancendentialisme, yaitu daerah yang di atas dari kekuatan akal. Bukan daerah yang tidak masuk akal.
Kemudian, datang sambungan ayat, “Dia tutupkan malam pada siang, yang mengiringinya dengan cepat." Di dalam ayat ini, Allah menerangkan bagaimana Allah menutupkan malam pada siang, yaitu ketika matahari mulai ghurub. Dalam beberapa menit saja, kegelapan malam itu telah menutup cahaya siang, dengan terbenamnya matahari ke ufuk barat, cepat saja berubah keadaan daripada siang kepada malam, dalam masa yang tidak lebih dari 10 menit. Bahkan, setelah matahari terbenam ke ufuk barat, yang lebih jelas kalau kita lihat di tepi laut, waktu maghrib pun masuk dan hari pun telah malam.
“Dan, matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya tunduk kepada ketetapan-Nya." Apabila kita perhatikan betapa besarnya matahari itu yang sekian juta kali besarnya daripada besar bumi dan matahari itu adalah beredar pula dalam falaknya. Bukan saja bumi yang meng-edarinya, dia pun beredar pula. Bumi pun beredar mengelilingi matahari dan bulan pun beredar mengelilingi bumi yang sedang mengedari matahari itu, dan di samping itu sekalian bintang-bintang pun beredar pula pada falaknya masing-masing. Dan, masing-masingnya itu beredar dan bergerak dengan sangat teratur, yang disebut dalam ilmu pengetahuan alam dengan perseimbangan daya tarik. Karena adanya per-seimbangan itulah maka tidak pernah terjadi kekacauan alam ini sehingga manusia yang telah diberi oleh Allah Ta'aala ilmu pengetahuan tentang perjalanan falak dapat memastikan bahwa sekian tahun lagi, dalam hari sekian, jam sekian, menit dan detik sekian akan terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan. Bukanlah orang yang berpengetahuan tentang falak itu mengorek-ngorek hal yang gaib, yang “di atas dari kemauan" akal, tetapi diberi Allah mereka pengetahuan tentang kepastian peraturan dan ketetapan Allah di dalam alam ini. Bahkan, segala cabang ilmu pengetahuan tentang alam adalah menambah keyakinan tentang adanya Yang Maha Mengatur. Oleh sebab itu, ujung ayat berbunyi, “Ketahuilah bagi-Nyalah seluruh pen-ciptaan dan ketentuan." Di sini bertemu kembali tentang uluhiyah dan rububiyah tadi, yaitu tentang ilah sebagai pencipta dan rabbun sebagai penetapkan peraturan. Tidak ada campur tangan yang lain menciptakan seluruh alam itu dan tidak pula ada campur tangan yang lain di dalam mengatur dan menetapkan. Tegasnya, perjalanan matahari, bulan, bumi dan seluruh bintang-bintang dalam cakrawala yang demikian luas dan menakjubkan, tidak mungkin ada yang lain yang mengaturnya kecuali Allah. Bumi mengedari matahari dengan demikian teratur, bukanlah atas kehendak dan kemauan bumi itu sendiri.
“Mahasucilah Allah, Pemelihara sekalian Alam."
(ujung ayat 54)
Mahasuci, Mahaberkat, penuh Kebesaran dan Kemuliaan Allah, sebagai Pengatur sekalian makhluk-Nya, sebab itu dia pula Yang Mahasuci buat disembah dan diibadati. Sebab tidak ada yang bergerak ataupun diam, tidak ada, yang beredar ataupun menetap, yang terlepas daripada hukum dan ketentuan-Nya.
Menjadi peringatan bagi kita bahwasanya dalam Al-Qur'an banyak terdapat ayat-ayat yang seperti ini. Dengan demikian, bukanlah berarti bahwa ayat-ayat Al-Qur'an itu sudah ilmiah atau watenschap atau Science sifatnya.
Ayat-ayat seperti ini hanyalah semata-mata untuk perangsang pikiran bagi menyelidiki alam lebih luas dan mendalam. Kadang-kadang teori pengetahuan alam yang kuno telah diperbaiki oleh teori yangbaru. Penafsir-penafsir kuno pun kadang-kadang ketika menafsirkan suatu ayat, terpengaruh pengetahuan alam yang sedang berkembang pada zaman mereka. Misalnya pengetahuan Yunani tentang falak dan tentang langit yang tujuh. Bertemu di setengah tafsir bahwa langit yang tujuh ialah menurut Bintang Besar yang Tujuh: zuhal, musytari, marikh, syama (matahari), zahrah (Venus), utharid, dan ardh (bumi). Mereka katakan pula bahwa kursi yang tersebut di surah al-Baqarah ayat 255 itu ialah falak kedelapan, dan Arsy ialah falak kesembilan. Sekarang ilmu pengetahuan alam sangat pesat majunya dan teori Yunani tadi tidak terpakai lagi. Kalau ulama-ulama Islam hanya membaca tafsir lama, dan bersitegang mempertahankannya, padahal pengetahuan sudah sangat maju, tentu mereka ketinggalan zaman. Oleh karena itu, hendaklah kita menyadari kembali bahwa ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebut-nyebut keadaan alam itu, bukanlah dia itu sendiri yang ilmu; dia adalah semata-mata pemancing atau perangsang untuk menaruhkan perhatian pada alam keliling bagi menambah iman kepada Allah. Oleh sebab itu, kalau ada mubaligh berkata bahwa di dalam Al-Qur'an sudah cukup sekalian ilmu, maksud perkataan itu hendaklah disalurkan pada jalannya yang sebenarnya, yaitu cukup anjuran buat menuntut dan menyelidiki segala ilmu. Al-Qur'an bukanlah berisi ilmu falak, tetapi menganjurkan menyelidiki falak, buat menambah Iman.
“Serulah Tuhanmu dengan merendahkan diri dan bersunyi. Sesungguhnya Dia tidaklah suka kepada orang-orang yang melewati batas."
(ayat 55)
Serangkaian dengan memerhatikan betapa pentadbiran Allah atas seluruh alam makhluk-Nya ini, sebagaimana yang tersebut di ayat terdahulu maka sesudah memandang alam, niscaya sadarlah manusia akan kecil dirinya. Misalnya kita berdiri di tepi laut yang luas melihat betapa luasnya laut dan kapal hanyalah laksana sepotong sabut kecil terapung-apung diayun-ayunkan gelombang, akan terasalah di waktu itu betapa kecilnya diri kita ini di hadapan kebesaran Allah. Boleh dikatakan bahwa kita sudah tidak ada arti apa-apa di tengah-tengah alam itu. Pada saat yang demikian datanglah sambungan seruan Allah, supaya serulah Dia, Dekatkanlah diri yang kecil itu kepada Kebesaran-Nya. Serulah Tuhanmu dengan merendahkan diri dan bersunyi. Di sini terdapat dua cara, pertama tadharru'an, merendahkan diri dan yang kedua khujyatan, kita artikan “bersunyi". Dengan ini terdapatlah dua macam cara menyeru atau cara mendoa. Yang pertama pilihlah saat yang baik, ketika yang elok, misalnya waktu tengah malam, sedang alam hening sepi maka pada waktu demikian serulah Dia, berdoalah dan shalatlah dengan merendahkan diri kepada-Nya, memohonkan petunjuk dan hidayah-Nya. Akuilah kecil dan lemahnya diri ini dan hanya akan mendapat sedikit kekuatan apabila diberi-Nya anugerah. Dan, tujukanlah segenap perhatian dan ingatan kepada-Nya saja. Dengan demikian, akan terasalah bahwa diri ini adalah semata-mata hamba yang bergantung kepada belas-kasihan Allah. Tidak mempunyai daya upaya sendiri, kalau bukan dari kurunia-Nya.
Yang kedua ialah bersunyi, artinya jika mengerjakan ibadah bersama-sama dengan teman-teman yang lain, misalnya di dalam berjamaah kerjakanlah dengan teratur, ja
ngan ribut yang dapat menimbulkan riya, yaitu beribadah karena ingin dilihat orang. Setelah ahli tafsir mempertalikan di antara keduanya. Di antara tadharru dengan khujyah adalah terjalin menjadi satu. Ketika sendirian kerjakanlah dengan merendahkan diri dan tadharru dan ketika bersama pun hendaklah sikap tadharru itu disempurnakan dengan kesunyian.
jangan menonjol, jangan mengeraskan suara! Sebab, Allah yang diseru itu bukanlah pekak atau tuli. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang dirawikan Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy'ari, di dalam satu perjalanan bersama-sama dengan Rasulullah ﷺ ada beberapa orang yang membaca takbir dengan suara keras. Maka, bersabdalah Rasulullah ﷺ menegur mereka itu,
“Wahai manusia, batasilah dirimu karena yang kamu seru itu bukanlah pekak dan bukan pula gaib di tempat jauh. Sesungguhnya kamu menyeru yang selalu mendengar dan dekat dan Dia adalah besertamu selalu." (HR Rukhari dan Muslim)
Lantaran itu, Imam Nawawi mengatakan bahwa ini menunjukkan bahwa saat mengerjakan dzikir hendaklah dengan suara rendah dan jangan keras kalau bukan sangat perlu karena dengan bersunyi lebih memperdalam rasa kemuliaan-Nya dan membesarkan-Nya.
Kemudian Allah menyatakan bahwa Dia tidak suka kepada orang-orang yang melewati batas. Berdoa merendahkan diri atau bersunyi diri sehingga putus hubungan sama sekali dengan masyarakat, tidaklah pula disukai Allah. Berdzikir dan berdoa keras-keras sehingga mengganggu ibadah orang lain, tidaklah disukai Allah, Dan, berpanjang-panjang, bersajak berirama, tidak disukai Allah.
Mendoa meminta yang tidak-tidak, tidaklah disukai Allah. Berdoa meminta celaka bagi orang lain, tidaklah disukai Allah. Tekun beribadah dan berdoa sehingga terlalai dari keperluan sehari-hari, tidaklah disukai Allah. Maka, bersihkanlah hati, mohonkanlah kepada Allah perlindungan dan petunjuk sambil berdoa, sambil berusaha.
Dari keterangan ayat ini, ditambah lagi dengan hadits larangan Rasulullah ﷺ ber-dzikir keras-keras karena Allah tidaklah pekak dan tidaklah jauh dari kita ini, penulis tafsir ini pernah dianjur-anjurkan oleh seorang guru tarikat yang datang ke Jakarta dari Sumatera Timur. Sehabis shalat lima waktu atau dalam waktu-waktu tertentu yang lain, pengikut tarikat yang mereka namai ‘Tarikat Mufradiyah" itu telah dzikir membaca, “Allah, Allah, Allah"; bersama-sama dengan suara keras sambil menggeleng-gelengkan kepala sehingga kadang-kadang saking sangat kerasnya mereka dzikir, ada di antara mereka yang lupa diri. Dan, kebanyakan yang menjadi pengikutnya bukanlah orang yang telah ada pengertian terlebih dahulu dalam hal ilmu-ilmu agama yang perlu sehingga dzikir yang mereka sangka memuja Allah itu telah melanggar kepada larangan Allah sendiri.
Demikian juga, sewaktu penulis tafsir ini masih kecil, usia lima belas tahun, berjangkit penyakit cacar sehingga penulis dihinggapi penyakit itu, (di Napal Putih 1923). Maka, seorang guru di Napal Putih itu menggerakkan murid-muridnya mengadakan apa yang mereka namai “Ratib Tolak Bala". Berjalan beriringan di jalan raya, sambil membakar kemenyan dan mengucapkan kalimat syahadat “Laa ilaha illallah" dengan suara keras bersama-sama, beramal-ramai dan berdzikir dengan suara keras-keras, “Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah, Nabiyun akhirun zaman." Sebagaimana yang penulis lihat pula dilakukan orang di Makassar (Ujung Pandang) sewaktu penulis berada di sana pada 1932.
Semuanya ini tampaknya perbuatan yang telah menyalahi ayat yang tengah kita tafsirkan ini, yakni mengada-ada dalam hal agama (bid'ah), bahkan dengan terang-terang melanggar apa yang dilarang Allah. Itulah bid'ah yang lebih dahsyat lagi.
“Dan janganlah kamu metusak (mengusut) di bumi sesudah selesainya."
(pangkal ayat 56)
Diriwayatkan oleh Abu Syekh dari Abu Bakar bin lyyasy bahwa beliau ini ditanyai orang tentang apa maksud dari ayat Allah yang mengusut di bumi sesudah selesai, beliau menjawab, “Nabi Muhammad ﷺ telah diutus Allah ke muka bumi ini, padahal waktu itu bumi sudah kusut-masai. Dengan kedatangan Muhammad, hilanglah kekusutan itu dan timbullah bumi yang selesai. Maka, kalau ada orang yang mengajak manusia kepada ajaran yang menyalahi akan ajaran Muhammad itu, orang itulah dia yang diriamai tukang membawa kusut di muka bumi."
Membuat kusut sesudah selesai jauhlah lebih buruk dari membuat kusut sesuatu yang telah kusut juga. Maka, kalau tidak sanggup membuat yang lebih baik, janganlah dirusakkan yang telah baik. Orang yang suka membuat kusut dan merusakkan ialah orang yang jadi musuh dari masyarakat. Puncak segala kacau, kusut dan kerusakan ialah takabur, zalim, dan sewenang-wenang. Dan, ini berpokok pada bangsa yang maju ilmu pengetahuannya di zaman modern ini, kita akui bahwa mereka telah banyak membawa kemajuan dalam peri kehidupan. Perbaikan pada pabrik, perbaikan pada hubungan lalu lintas dunia, perbaikan pada hidup yang lebih mewah, tetapi sangat sedikit ikhtiar kepada perbaikan pada jiwa manusia sehingga kian lama di muka bumi ini rasa permusuhan dan dendamlah yang tumbuh di mana-mana di antara bangsa-bangsa itu. Maka, seorang Muslim yang sadar pada agamanya mempunyai kewajiban supaya jangan menambah kusut yang telah kusut, melainkan memelihara menyelesaikan yang telah ada, jangan dikusutkan lagi, dan berusaha pula membuatyang lebih baik dan yang lebih selesai.
“Dan serulah Dia dengan keadaan takut dan sangat harap." Maka, di dalam menghadapi pergaulan hidup sesama manusia tadi, yang di atasnya dirnulai dengan menyeru Allah untuk menguatkan pribadi dengan merendahkan diri dan bersunyi, lalu diiringi dengan hidup di tengah masyarakat, jangan mengusut yang selesai dan merusakkan yang telah baik, kemudiannya dikembalikan lagi kepada mendekati Allah, supaya diseru Allah itu dengan keadaan takut dan sangat harap. Takut akan dilepaskan Allah hidup sendirian, menurut kehendak hawa nafsu saja sehingga tersesat pada kerusakan atau jadi perusak dan takut pula akan siksaan yang akan ditimpakan Allah karena telah terlanggar peraturannya. Diserati keinginan yang besar, kesungguh-sungguhan dan bersemangat, mengharapkan agar selalu memberikan pimpinan-Nya. Selain ayat yang tersebut, supaya berdoa dengan merendahkan diri dan bersunyi, hendaklah sikap doa itu penuh takut dan penuh semangat keinginan. Takut akan murkanya dan sangat ingin akan ridha-Nya. Maka, orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat manusia dengan bekal kekuatan hidayah Allah karena doanya yang tidak putus-putus, niscaya akan mendapat hidayat dan taufik dari Allah sehingga dia tidak menjadi tukang perusak dan tukang kusut, melainkan turut berusaha membuat bumi yang lebih selesai dan dunia yang lebih baik, terutama memperdalam pengaruh ishlah atau perbaikan yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ ke alam ini.
Dengan doa yang khusyu dan bersunyi, diikuti dengan berkhidmat kepada pergaulan hidup memelihara hubungan sesama manusia, keselamatan dan keselesaian diiringi pula kembali dengan doa yang penuh takut dan sangat mengharap maka seseorang menjadilah seorang yang baik. Baik pribadiriya terhadap Allah dan baik pula pribadiriya terhadap masyarakat. Pada waktu senang atau waktu susah, dia selalu berkontak dengan Allah. Itulah dia orang yang disebut Muhsin, yaitu orang yang selalu mempertinggi mutu diri, mutu iman dan mutu kehidupan. Maka, berfirmanlah Allah, memberikan janjinya kepada orang-orang seperti itu, sebagai ujung dari ayat,
“Sesungguhnya rahmat Allah adalah dekat kepada orang-orang yang berbuat kebajikan."
(ujung ayat 56)
Ihsan berarti selalu baik dan memperbaiki, selalu berbuat kebajikan, membuat yang lebih elok dan lebih baik, untuk diri dan untuk orang lain. Inilah yang membuat hidup manusia ber-tambah maju meningkat naik, (kata ahli ilmu ukur ialah spiral), bukan surut ke bawah dan bukan sebagai menghasta kain sarung, berputar-putar dari sana ke di sana juga.
Maka diperintahkan kita berbuat ihsan itu, terutama dan pertama sekali dalam hal ibadah, seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ,
“Al-Itaan … bahwa kamu menyembah kepada Allah seakan-akan engkau meiihat Dia, meskipun engkau tidak melihat Dia, namun dia selalu melihat engkau."
Kemudian, berbuatlah ihsan dalam segala lapangan sehingga menyembelih binatang ternak yang akan dimakan, berbuat ihsanlah dengan memakai pisau yang sangat tajam supaya binatang itu jangan lama menderita. Di dalam berperang, kalau musuh telah mati, berbuat ihsanlah, jangan dicincang atau ditikam lagi mayat yang telah mati. Oleh sebab itu, perhaluslah perasaan hati dengan takwa sehingga dia bertambah suka pada yang lebih baik, yang lebih benar, cinta akan kebenaran, berjuang untuk keadilan, belas kasihan kepada yang lemah.
Oleh karena itu, sampai pun ke dalam peperangan, orang Islam diwajibkan berbuat ihsan. Sampai dikatakan menyuruh memakai pedang yang tajam, dan kalau memotong leher musuh hendaklah dengan pedang yang sangat tajam dan kalau sudah menyerah hendaklah ditawan dengan baik, dan negeri yang telah minta damai, hendaklah segera menghentikan perang.
Ihsan inilah yang memengaruhi Manshur lbnu Abu Amir pada zaman kejayaan Islam di Andalusia sehingga harga sebidang tanah yang akan dijadikan jembatan telah dibayar oleh pegawai kerajaan 10 diriar emas kepada seorang orang tua, dipanggilnya orang tua itu kembali dan ditambahnya 90 diriar emas lagi karena menghargai kejujuran orang tua itu. Ihsan ini pula yang menyebabkan Shalahuddiri al-Ayubi ketika berperang dengan raja Inggris, Richard, The Lion Heart (hati singa), terdengar olehnya musuhnya sakit lalu dikirimnya dokter pribadiriya untuk mengobati musuhnya itu sampai sembuh supaya kalau sudah sembuh bisa meneruskan peperangan lagi dengan badan sehat.
Itulah sebabnya, terdapat tiga pokok dasar pandangan hidup seorang Muslim, pertama iman, yaitu kepercayaan yang enam perkara, kedua Islam, yaitu rukun yang lima perkara, dan ketiga ihsan, sebagai kunci atau patri dari iman dan Islam itu.
Pada suatu hari Sayyidiria Umar bin Khaththab ketika menjadi Khalifah, berjalan di pasar dalam Kota Madiriah. Tiba-tiba dilihatnya ada seorang orang tua yang sudah payah berjalan beringsut-ingsut dan badannya bertongkat-tongkat. Dia meminta-minta derma, atas belas kasihan orang. Kemudian, beliau panggil orang tua renta itu. Ternyata seorang Yahudi. Maka, bertanyalah beliau, “Wahai orang tua! Mengapa sudah sampai begini nasibmu?"
Orang tua itu menjawab bahwa dia telah tinggal sebatang kara di dunia, anak-anak tidak ada lagi yang akan membantu, sedangkan dia mesti membayar jizyah tiap tahun. Untuk membayar jizyah itulah dia meminta-minta.
Terharu hati beliau mendengar perkataan orang tua itu. Lalu, beliau perintahkan kepada pegawai yang mengiringi beliau, “Hapuskan nama orang tua ini dari daftar orang yang wajib membayar jizyah dan sebaliknya keluarkan dari Baitul Maal belanja hidupnya sampai dia meninggal!"
Orang tua itu berlinang air mata mendengar keputusan demikian dan Sayyidiria Umar pun berlinang air mata, sambil berkata, ‘Tenaganya telah dihabiskannya untuk kita pada waktu mudanya, mengapa dia tidak akan merasai pembelaan kita di waktu tuanya?"
Inilah contoh ihsan.
Dan inilah yang dijanjikan Allah bahwa rahmat Allah selalu dekat kepada orang-orang yang mempunyai jiwa ihsan itu.
(57) Dan Dialah yang mengirim berbagai angin sebagai pembawa berita gembira di hadapan rahmat-Nya sehingga apabila dia telah membawa mega yang berat, Kami tariklah dia ke negeri yang mati dan Kami turunkanlah dengan dia air. Maka, Kami keluarkanlah dengan (air) itu tiap-tiap tumbuh-tumbuhan. Demikian pulalah akan Kami hidupkan orang yang telah mati supaya kamu mau ingat.
(58) Dan negeri yang baik akan keluarlah tumbuh-tumbuhannya dengan izin Tuhannya dan yang buruk tidaklah akan keluar melainkan dengan susah-payah. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat bagi kaum yang mau berterima kasih,
Setelah itu Allah pun menerangkan lagi bagaimana perhubungan manusia dengan alam kelilingnya sehingga berita tentang hari depan, tentang surga dan neraka, diimbangi kembali dengan kenyataan hidup yang ada sekarang. Karena memerhatikan alam itulah pangkal kesadaran akan adanya Allah.
“Dan, Dialah yang menginim berbagai angin sebagai pembawa berita gembira di hadapan rahmat-Nya."
(pangkal ayat 57)
Di dalam ayat ini angin itu disebut riyah, artinya banyak angin atau berbagai macam angin. Mufrad-nya ialah nih. Allah menyatakan di sini pokok kata, yaitu bahwasanya segala macam angin adalah pembawa berita gembira, yaitu sebagai permulaan daripada rahmat Allah yang akan dilimpahkan kepada makhluk. Jangkauan dari kata ini amat luas dari jauh. Sebab kalimat riyah dan nih itu satu pokok asalnya dengan kalimat ruh dan arwah. Tegasnya kata angin atau berbagai angin, sama artinya dengan nyawa atau berbagai nyawa. Malahan, dalam bahasa Arab yang fasih kerap kali juga kata-kata nyawa berarti angin, sebagai syair Ummi Hani binti Bahdal, perempuan desa yang diambil istri oleh Khalifah Mu'awiyah, pindah dari rumahnya di desa ke dalam istana permai di Damaskus, pernah bersyair karena teringat kembali kampung halamannya,
Sesungguhnya rumah yang diembus-embus oleh angin seperti (di desaku) lebih tercinta di hatiku daripada istana yang indah permai.
Oleh karena itu, dapatlah kita perluas arti ayat ini lebih jauh bahwa segala angin yang berembus membawa berita gembira atau rahmat Allah yang akan datang kepada manusia.
Kalau tidaklah ada angin yang meluas artinya mengandung udara atau hawa atau cuaca, tidaklah akan ada apa yang diriamai hidup di dalam alam ini. Dan, nyawa adalah sebagian dari angin, atau satu pokok artinya dengan angin. Oleh sebab itu, dapat ditegaskan bahwa nyawa tidak ada kalau angin tidak ada. Dan, bolehlah diuraikan lagi menurut ilmu fisika atau kimia bahwa udara atau hawa terdiri daripada oksigen, nitrogen, dan karbonik, yang kalau salah satunya itu tidak ada, tidaklah ada pula yang bernama hidup dalam dunia ini. Kemudian, bolehlah kita sambungkan maksud pangkal ayat ini dengan lanjutannya, “Sehingga apabila dia telah membawa mega yang berat, Kami tariklah dia ke negeri yang mati dan Kami turunkanlah dengan dia air." Angin atau hawa udara atau cuaca tadi bila telah sampai pada puncak diriginnya, berubahlah ia menjadi uap dan dari uap berubahlah ia menjadi gumpalan mega atau awan yang berat dan tebal. Dan, dari diriginnya itu, ia pun berubah menjadi air dan air itu kalau sudah meningkat lagi tinggi diriginnya, berubahlah ia menjadi salju atau es. Apabila telah cukup berat dalam diriginnya itu, jatuhlah dia menjadi hujan, membasahi bumi. Dan, di musim dirigin dia kembali menjelma menjadi salju pula. Diterangkan di sini bahwa bila mega itu telah berat, diantarkanlah ia oleh angin lagi ke bagian bumi yang telah mati karena sudah lama tidak mendapat air. Dengan turunnya air hujan itu, bumi yang telah mati atau kering itu hidup kembali."Maka, Kami keluarkanlah dengan (air) itu tiap-tiap tumbuh-tumbuhan." Yaitu, dari sebab air yang turun itu, hidup kembali tanah yang telah mersik kering, yang sudah lama tidak merasai hidup itu, lalu hiduplah kembali. Benih-benih atau biji-biji yang kering karena air, mencari hidup dan besar dan berbuah. Rumput-rumput di padang luas yang sudah sangat gersang, dijalari oleh air yang turun ke bumi itu lalu hidup kembali dengan gembiranya.
Negeri yang mati atau bagian bumi yang mati ada yang dalam masa pendek, seumpama daerah-daerah padang rumput di negeri-negeri yang berganti di antara musim panas dengan musim hujan. Pada musim panas rumputnya mati belaka dan di musim hujan dia hidup kembali. Atau kayu-kayuan yang gugur daun sampai seumpama mati pada musim gugur, kelak di musim kembang, sehabis musim dirigin, dia hidup kembali dengan riang gembira warna-warni. Namun, ada juga yang dalam jangka lama, berpuluh bahkan beratus, bahkan beribu tahun. Misalnya beberapa padang pasir di dunia ini yang sudah kering, tandus dan mati, tidak terdapat lagi kehidupan di tanah itu. Dan, meskipun ada hujan turun, oleh karena tandusnya tanah, hanyalah banjir yang dibawanya, dan air itu langsung saja ke laut. Meskipun ada yang diisap bumi, ia hilang saja ke dalam pasir, mengendap ke bawah dan mencari jalannya sendiri di bawah tanah untuk menuju lautan. Namun, apabila beberapa ribu tahun di belakang, manusia dapat menembus bumi dan mengebor agar air itu keluar maka ia dapat pula dipergunakan buat menghidupkan padang yang telah beribu tahun mati itu. Dengan ini kita mengerti betapa pentingnya hujan, la jatuh ke bumi menjadi tiga macam: Semacam ialah yang menyiram basah seluruh bumi sebagai biasa. Semacam mengendap di gunung-gunung, lalu berkumpul menjadi sungai dan mengalir. Dan, semacam lagi mengendap ke bawah tanah.
Di dalam ayat ini disebut riyaah, yang berarti berbagai hembusan angin. Bermacam angin membawa berita gembira tentang rahmat Allah yang akan turun. Maka, kata-kata yang menunjukkan angin dengan arti jamak itu, amat menarik perhatian orang yang berminat memerhatikan penjuru angin dan musim. Untuk mengetahui berbagai ragamnya penjuru angin dan perangai angin, bertanyalah kepada orang pelayaran “Kalau angin selatan turun, bahtera akan berlayar bagai pucuk dilancarkan", demikian pepatah orang pelayaran. Negeri kita yang terdiri dari pulau-pulau dan lautan luas pun mempunyai angin sendiri-sendiri yang dapat dipedomani oleh penghuni tepi pantai. Misalnya saja, orang Tanjung Pinang tidak mau berlayar ke pulau-pulau Natuna (Pulau Tujuh) pada bulan Juni dan Juli sebab saat itu waktu ombak dan gelombang sangat besar. Di bagian pulau-pulau yang lain pun, lain pula perhitungan orang tentang angin dan cuaca. Sekarang setelah ilmu pelayaran di laut ditambah dengan ilmu penerbangan di udara, perhatian terhadap angin dan cuaca lebih mendalam lagi. Tidak setiap angin membawa berita rahmat bagi setiap bagian dunia yang didiami manusia, tetapi ada di antara angin membawa gembira bagi satu bagian dunia dan angin itu juga belum tentu membawa gembira bagi bagian yang lain.
Soal embusan angin dan turunnya hujan itu dapatlah diperdalam dan diperluas lagi oleh ahli penilik cuaca. Namun, ayat telah melanjutkan lagi setelah melihat angin berembus, awan bermega, hujan pun turun, bumi pun hidup, tanaman berbuah, hendaklah manusia langsung lagi memikirkan kelanjutan dari itu.
“Demikian pulalah akan Kami hidupkan orang yang telah mati supaya mereka mau ingat."
(ujung ayat 57)
Artinya, apabila telah kamu perhatikan bumi yang kering dan mati, bisa hidup kembali setelah ditimpa hujan, ingatlah bahwa bagi Allah Ta'aala adalah perkara mudah pula akan menghidupkan kembali kelak orang yang telah mati. Maka, dengan melihat mega berkumpul, hujan turun dan tanah menjadi hidup kembali, dapatlah itu jadi dasar bagi kepercayaanmu bahwa hari akan Kiamat kelak dan manusia yang telah mati ini akan dihidupkan kembali.
Mau tidak mau ayat yang setegas ini, tentu saja menimbulkan perbincangan yang mendalam di antara ulama Islam sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang. Sampai Ibnu Sina, filsuf Islam yang terkenal, mengeluarkan pendapat bahwasanya sebagai Muslim dia percaya akan hari kebangkitan kembali itu, tetapi jika menurut pikirannya secara filsafat, yang akan bangkit itu hanyalah ruhnya, bukan dengan badannya, bukan dengan tubuh yang telah hancur itu, bahkan bukan dengan tulang-tulangnya menurut zahir kenyataan bunyi ayat bahwa tulang akan dibajui kembali dengan tubuh. Di sinilah pangkal bantahan hebat dari Imam Ghazali dan ini pula yang menjadi sebab satu pokok bagi setengah golongan ilmul kalam buat menuduh ahli filsafat Ibnu Sina dan yang sepaham dengan dia itu telah tergelincir dari Islam, bahkan ada yang menuduh telah kafir sebab pendapatnya telah sangat bertentangan dengan bunyi ayat.
Ibnu Sina mengatakan bahwa tidak mungkin manusia dibangkitkan kembali dengan tubuhnya yang ditinggalkan oleh nyawanya, dimasukkan ke dalam kubur hingga hancur dan tubuh itu pula yang akan dikumpul kembali membajui nyawa di waktu berbangkit. Dia berkata demikian karena tubuh ini katanya bukanlah pakaian tetap dari satu orang tetapi terjadi dari kumpulan benda halus (material) yang berganti-ganti manusia dan tubuh-tubuh lain memakainya. Kalau lebih dipopulerkan lagi, tubuh itu ialah dari kumpulan atom halus, yang satu waktu jadi sayur, satu waktu jadi darah, satu waktu jadi tubuh, satu waktu hancur dan jadi tanah, atau jadi abu kalau dibakar dan di laut dia bergabung dalam air, jadi garam atau jadi yang lain.
Pertukaran pikiran tentang ini atau peninjauan kembali tidaklah berhenti. Pada masa 60 tahun yang lalu (awal abad kedua puluh), Syekh Husain al-jasar mengarang kitab tauhid yang bernama al-Hushunul Hami-diyah. Menerangkan bahwa tubuh manusia
itu adalah dua bagian, yaitu bagian yang asli dan bagian yang tambahan. Yang tambahan itu bisa berubah, orang bisa jadi kurus atau gemuk, namun tubuh aslinya tidaklah berubah-ubah. Ketika Syekh Husain al-Jasar masih hidup, pengetahuan ahli-ahli tentang kejadian manusia telah mulai maju sehingga zaman Ibnu Sina telah jauh ketinggalan. Ahli-ahli mengatakan bahwa setetes air mani itu mengandung berjuta-juta bibit yang akan jadi manusia. Sehingga ahli mengatakan bahwa sekiranya sebelum manusia yang ada di dunia sekarang ini habis mati dan tinggal saja setetes air mani maka dengan mani yang setetes itu dapatlah diganti sekian miliar manusia yang hilang itu. Dan, tiap-tiapnya itu bisa hidup. Oleh karena itu, menurut beliau hari Kiamat atau kebangkitan kembali itu tidak usah dipikirkan bahwa tubuh yang telah hancur itu yang akan dibajukan kembali kepada nyawa, melainkan manusia yang hidupnya telah di-nonaktifkan selama alam Barzakh itu yang akan dipanggil kembali sebab pada hakikatnya dia masih hidup. Dan, dari sebab itu pula menurut paham itu dapat kita pahamkan bunyi ayat 172 dalam surah al-A'raaf ini nanti tentang anak-cucu Bani Adam yang terletak dalam tulang belakang Nabi Adam, ketika mereka ditanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Semuanya menjawab, “Sebenarnya!'1 Artinya sejak kita manusia ini masih tersimpan di dalam tulang belakang Nabi Adam, semua kita telah mendapat pertanyaan siapa Tuhan kita, dan kita telah menjawab, memang Allah-lah Tuhan kita. Yang menjawab itu telah ada di masa itu kemudian menurut waktunya kita pun zahir ke dunia, setelah itu kita pun mati, dengan arti berpisah tubuh asli dengan tubuh tambahan. Setelah mati itu kita dirion-aktifkan untuk kelak dibangkitkan kembali.
Sebagaimana banyak dasar-dasar hidup tumbuh-tumbuhan yang nonaktif beribu tahun di padang pasir, setelah tanah itu disirami air, bibit itu kembali. Lantaran itu, filsafat Ibnu Sina telah ditinggalkan oleh zaman karena kemajuan penyelidikan manusia.
Kemudian, diketahui orang pula bahwa tidak mesti kita berbangkit dengan tubuh yang kita pakai ini karena sebagian besar adalah tambahan belaka. Karena ternyata, segala Stof yang kita pakai buat badan kita ini, sejak kita lahir sampai kita mati, selalu berganti-ganti. Cuma bentuk dan rupa yang tidak berubah, tetapi bahannya selalu bertukar. Bahan tubuhku 50 tahun yang lalu tidak ada lagi dalam diriku, namun aku tetap aku. Dosa dan kesalahan 40 tahun yang lalu masih tetap mengganggu perasaanku sampai sekarang, walaupun anasir tubuh dan darahku telah berganti-ganti berpuluh kali. Maka, yang akan dibangkitkan kembali itu ialah aku. Ialah aku yang bahan tubuh tetap berganti, sedangkan aku sendiri masih tetap ada.
Dengan tuntutan ayat ini, tetaplah percaya kepada hari Kiamat menjadi salah satu tiang kepercayaan. Bagaimana kebangkitan itu, bolehlah kita berbincang. Sedang teori Ibnu Sina bisa dibantah oleh teori Ghazali dan teori Ghazali pada abad keenam Hijriyah, bisa disempurnakan lagi oleh teori Syekh Husain al-Jasar pada awal keempat belas Hijriyah, dan ilmu pengetahuan tentang alam dan tentang ihsan bertambah maju. Sebab itu kepercayaan kita pun akan bertambah kukuh.
“Dan, negeri yang baik akan keluarlah tumbuh-tumbuhannya dengan izin Tuhannya dan yang buruk tidaklah akan ketuai melainkan dengan susah payah."
(pangkal ayat 58)
Artinya jika dapat tanah yang memang subur, tiba hujan pun akan hidup dia kembali dengan segera. Kalau negerinya dasar tanah tandus, walaupun akan hidup juga, tumbuhnya itu susah-payah juga. Betapa pun lebatnya hujan turun, kalau tanahnya gersang sebagai padang pasir itu, hanyalah banjir yang akan terjadi dan bunga tanah akan dibawa hanyut oleh hujan itu ke laut. Namun, kalau tanah subur, misalnya adanya rimba belukar guna menahan air, tidak ada erosi, niscaya hujan atau air itu akan menghasilkan “hidup subur dan berbuah".
Ayat ini pun bisa direntang panjang. Dia dapat memberikan dorongan kepada manusia bagaimana menghidupkan kembali tanah yang tandus. Dia pun sebagai isyarat buat menjaga jangan terjadi erosi yang ditakuti itu. Dan, keseluruhan ayat menimbulkan perangsang guna mengatur pemberian Ilahi itu di dalam menyusun kesehatan dalam kota, memelihara taman untuk mengatur udara dan cuaca sehat sehingga penduduk kota jangan diracuni oleh debu, yang berbahaya di zaman modern ini bagi kesehatan. Dia pun memberi perangsang perseimbangan tanah rimba sebagai pemelihara hujan, mengatur agraria dan industri. Itu sebabnya, ujung ayat berbunyi,
“Demikianlah. Kami menjelaskan ayat-ayat bagi kaum yang mau berterima kasih."
(ujung ayat 58)
Encouraging supplicating to Allah
Allah commands His servants to supplicate to Him, for this will ensure their welfare in this life and the Hereafter.
Allah said,
ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
Invoke your Lord Tadarru`an and Khufyah,
meaning, in humbleness and humility.
Allah said in a similar Ayah,
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ
And remember your Lord within yourself. (7:205)
It is recorded in the Two Sahihs that Abu Musa Al-Ash`ari said,
The people raised their voices with supplications but the Messenger of Allah said,
أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَايِبًا إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَ سَمِيعٌ قَرِيب
O people! Take it easy on yourselves. Verily, you are not calling one who is deaf or absent, rather, the One you are calling is All-Hearer, Near (to His servants by His knowledge).
Ibn Jarir said that,
تَضَرُّعًا
(Tadarru`an),
means obeying Him in humility and humbleness,
وَخُفْيَةً
(and Khufyah),
with the humbleness in your hearts and certainty of His Oneness and Lordship not supplicating loudly to show off.
Forbidding Aggression in Supplications
Allah's statement,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
He likes not the aggressors.
Ata Al-Khurasani narrated from Ibn Abbas, who said about Allah's statement,
In the Du`a and otherwise.
Abu Mijlaz commented on,
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
(He likes not the aggressors),
Such (aggression) as asking to reach the grade of the Prophets.
Imam Ahmad narrated that Abu Ni`amah said that Abdullah bin Mughaffal heard his son supplicating,
O Allah! I ask you for the white castle on the right side of Paradise, if I enter it.
So Abdullah said, O my son! Ask Allah for Paradise and seek refuge with Him from the Fire, for I heard the Messenger of Allah saying,
يَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ وَالطَّهُور
There will come some people who transgress in supplication and purification.
Ibn Majah and Abu Dawud recorded this Hadith with a good chain that there is no harm in, and Allah knows best.
The Prohibition of causing Mischief in the Land
Allah said next
وَلَا تُفْسِدُواْ فِي الَارْضِ بَعْدَ إِصْلَحِهَا
And do not do mischief on the earth, after it has been set in order,
Allah prohibits causing mischief on the earth, especially after it has been set in order. When the affairs are in order and then mischief occurs, it will cause maximum harm to the people; thus Allah forbids causing mischief and ordained worshipping Him, supplicating to Him, begging Him and being humble to Him.
Allah said,
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا
and invoke Him with fear and hope,
fearing what He has of severe torment and hoping in what He has of tremendous reward.
Allah then said,
إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Surely, Allah's mercy is (ever) near unto the good-doers.
meaning, His mercy is for the good-doers who obey His commands and avoid what He prohibited.
Allah said in another Ayah,
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ
And My mercy envelopes all things. That (mercy) I shall ordain for those who who have Taqwa. (7:156)
Matar Al-Warraq said,
Earn Allah's promise by obeying Him, for He ordained that His mercy is near to the good-doers.
Ibn Abi Hatim collected this statement
Among Allah's Signs, He sends down the Rain and brings forth the Produce
Allah tells;
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا
And it is He Who sends the winds as heralds of glad tidings,
After Allah stated that He created the heavens and earth and that He is the Owner and Possessor of the affairs Who makes things subservient (for mankind), He ordained that He be invoked in Du`a, for He is able to do all things. Allah also stated that He is the Sustainer and He resurrects the dead on the Day of Resurrection.
Here, Allah said that He sends the wind that spreads the clouds that are laden with rain.
Allah said in another Ayah,
وَمِنْ ءَايَـتِهِ أَن يُرْسِلَ الرِّيَـحَ مُبَشِّرَتٍ
And among His signs is this, that He sends the winds with glad tidings. (30:46)
Allah's statement,
بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
going before His mercy,
means, before the rain.
Allah also said;
وَهُوَ الَّذِى يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُواْ وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِىُّ الْحَمِيدُ
And He it is Who sends down the rain after they have despaired, and spreads His mercy. And He is Al-Wali (the Guardian), Al-Hamid (the praiseworthy). (42:28)
and,
فَانظُرْ إِلَى ءَاثَـرِ رَحْمَةِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْىِ الاٌّرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَأ إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْىِ الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Look then at the results of Allah's mercy, how He revives the earth after its death. Verily, that (is the one Who) shall indeed raise the dead, and He is able to do all things. (30:50)
Allah said next,
حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً
Till when they have carried a heavy-laden cloud,
when the wind carries clouds that are heavy with rain, and this is why these clouds are heavy, close to the earth, and their color is dark.
Allah's statement,
سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ
We drive it to a land that is dead,
that is, a dry land that does not have any vegetation.
This Ayah is similar to another Ayah,
وَءَايَةٌ لَّهُمُ الاٌّرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَـهَا
And a sign for them is the dead land. We give it life. (36:33)
This is why Allah said here,
فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى
Then We produce every kind of fruit therewith. Similarly, We shall raise up the dead.
meaning, just as We bring life to dead land, We shall raise up the dead on the Day of Resurrection, after they have disintegrated.
Allah will send down rain from the sky and the rain will pour on the earth for forty days. The corpses will then be brought up in their graves, just as the seeds become grow in the ground (on receiving rain).
Allah often mentions this similarity in the Qur'an when He gives the example of what will happen on the Day of Resurrection, and bringing life to dead land,
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
so that you may remember or take heed.
Allah's statement
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ
The vegetation of a good land comes forth (easily) by the permission of its Lord;
meaning, the good land produces its vegetation rapidly and proficiently.
Allah said in another Ayah (about Maryam, mother of `Isa, peace be upon him);
وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا
He made her grow in a good manner. (3:37)
The Ayah continues,
وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِدًا
and that which is bad, brings forth nothing but with difficulty.
Mujahid, and others such as As-Sibakh, etc, also said this.
كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الايَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ
Thus do We explain variously the Ayat for a people who give thanks.
Al-Bukhari recorded that Abu Musa said that the Messenger of Allah said,
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْهُدَى كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلََ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ
The parable of the guidance and knowledge with which Allah has sent me is that of an abundant rain falling on a land, some of which was fertile soil that absorbed rain water and brought forth vegetation and grass in abundance.
وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا
And another portion of it was hard and held the rain water; and Allah benefited the people with it, they utilized it for drinking, making their animals drink from it, and for irrigation of the land for cultivation.
وَأَصَابَ مِنْهَا طَايِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَاأ تُمْسِكُ مَاءً وَلَاأ تُنْبِتُ كَلَأً
And a portion of it was barren which could neither hold the water nor bring forth vegetation.
فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِه
The first is the example of the person who comprehends Allah's religion and gets benefit which Allah sent me with, by learning and teaching others. The last example is that of a person who does not care for it and does not accept the guidance Allah sent me with.
And work not corruption in the land, through idolatry and acts of disobedience, after it has been set right, as a result of the sending forth of messengers [to it], and call upon Him in fear, of His punishment, and in hope, of His mercy - surely the mercy of God is near to the virtuous, the obedient (qareeb, 'near', as the predicate of [the feminine noun] rahma, 'mercy', is in the masculine because it [rahma] is annexed to Allaah, 'God').
In the second verse (56), it was said: وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا (And do no mischief on the earth after it has been set in order). Two antonyms have appeared here: صَلَاح (salah) and: فَسَاد (fasad). 'Salah' means the state of being good, correct, right, proper or set in order as in the translation. Then, Fasad refers to the state of evil, corruption, mischief, disorder. Imam Raghib al-Isfahan has said in his Mufradat al-Qur'an that Fasad refers to something going beyond the limits of moderation, whether this crossing over is insignificant or enormous, and the measure of an increase or decrease in every Fasad depends on this crossing of the limits of moderation. The farther the limits are crossed, Fasad will increase. Fasad means to make things bad and Islah means to correct, reform or put into order. Therefore, the verse: وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا means: ` do not make things bad on the earth after that Allah has made it good and proper.'
Imam Raghib has also said: There are several forms in which Allah Ta` ala makes something right, correct and proper. Firstly, He began by creating them right, correct and proper, as in: وَ اَصلَحَ بَالَھُم ' (He will improve their condition - 47:2). Secondly, removed was the corruption that had entered into something, as in: یُصلِح لَکُم اَعمَالَکُمُ (That He may make your deeds good and right - 33:71). Thirdly, that a command is given to put things in order. This verse carries a command of abstention from mischief on the earth after it has been set in order. Here, the ordering of the earth may be taken in two senses. Firstly, the outward propriety that it was made arable and capable of growing trees with rains made to come from clouds resulting in flowers and fruits as gifts from plants and trees - and that the earth was made the source of life support for human beings and animals.
The second sense is that Allah Ta'ala set things right on the earth inwardly and spiritually - by sending His messengers and Books and instructions and purifying it from Kufr and Shirk and error. It is quite possible that the verse means both inward and outward order in a total way. Thus, the verse would now mean that Allah Ta'-al-a has put the earth in proper order both physically and spiritually and now you should not create disorder or engineer evil in there through your acts of sin and disobedience.
What is Order or Disorder on the Earth and at have Sins of People to do with it?
The way there are two aspects of order (Islah), the outward and the inward, or the physical and the spiritual, in the same way, there are two aspects of disorder (Fasad) also. As for the outward or physical order of the earth is concerned, that it be right and proper, it will be realized that Allah Ta'ala has made it to be a mass or body which is neither liquid as water making it difficult to settle down upon it, nor is it hard as rock or iron which could not be dug up. It has been created to be in a middle state so that human beings could make it soft and smooth lending itself to being farmed and become capable of growing plants and trees and flowers and fruits. Then, they could also dig it up to sink wells and make moats and canals, lay strong foundations for houses to live; and then, right in and out of the earth, He created things and circumstances which would help habitat the earth, make vegetation, trees, flowers and fruits grow in it; and then, from the outside, He created wind, light, heat and chill, and made water rain through clouds over it so that trees could grow. And brought in service were stars and planets from where warm and cold rays were cast on them which filled flowers and fruits with colour and juice. Human beings were endowed with intelligence through which they dug up raw materials from the earth, like iron, copper, wood and so many other metals and rocks which they harnessed into a new world full of industries and artifices. This is the outward ordering of the earth which was brought into effect by the perfect power of Allah Ta` ala.
As for the inward and spiritual ordering of life is concerned, it depends on the remembrance of Allah (Dhikr), relationship with Allah تَعَّلُق مَع اَللہ (Ta'alluq ma' Allah) and on obedience to Him اِطَاعَت (Ita` ah). For this, to begin with, Allah Ta` ala has already placed in the heart of every human being a basic substance and urge to remember and to obey Him: أَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (Then, He inspired it [ that is, inspired the soul or heart instinctively ] as to its wrong and as to its right -91:8). So, all around human beings not a particle remains in which Allah Ta` ala has not placed wonders of His perfect power and His astounding creativity, seeing which, even a person of average understanding would be moved to say: فَتَبَارَكَ اللَّـهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (So blessed be Allah, the Best to create! - 23:14). Other than these manifestations, He sent His messengers, revealed His Books through which the essential linkage between the Creator and the created was fully established.
Thus, the command given is that now that the earth has been placed in proper order, outwardly and inwardly, let it not go bad through human misdeeds.
As pointed out earlier, like Islah or order having two aspects, Fasad or disorder also has two aspects, the outward and the inward. This saying of Allah Ta` ala forbids both.
Though the recurring insistence of the Qur'an and the Holy Prophet ﷺ is on spiritual order as a cardinal duty which, in effect, aims to stop any emergence of spiritual disorder as a counter possibility. But, in the world we live in, the linkage between the order and disorder of the physical and spiritual is such that any disorder in one becomes the source of disorder in the other. Therefore, when the Shari’ ah of the Qur'an has blocked the doors of spiritual disorder, it has also prohibited physical disorder. Theft, robbery, murder and all ways of immodesty and indecency create all sorts of physical and spiritual disorder in the world. So, stern restrictions were placed and punishments proposed particularly against such evil acts while common sins and crimes were also prohibited - because, every sin becomes the source of physical disorder at some time, and that of spiritual disorder at some other. And, if looked at closely, every outward disorder becomes the cause of inward disorder, and conversely, every inward disorder be-comes the source of outward disorder.
That outward or physical disorder becomes the inevitable source of inward or spiritual disorder is obvious, for it is the contravention of the command to obey Divine injunctions - in fact, disobedience to Allah Ta` ala is another name for spiritual disorder. As for the chemistry of spiritual disorder and how it transforms itself as the cause of physical disorder, this can be discerned only through a little serious reflection. The reason is that this whole world and everything big and small in it was created by the Master of the domain of creation to wherever it ex-tends, and it is but subservient to His command. So far as human beings remain obedient to Allah, everything stands harnessed into their service as due and proper. But, when human beings start disobeying Allah Ta` ala, everything in the world starts disobeying human beings from behind a curtain through which they cannot see with their mortal eyes. But, it is by deliberation into the effects, properties, results and outcomes of these things that one does find the relevant proof of their becoming hostile very conclusively.
If taken with a surface view, human beings keep using all these things normally. When water goes down the throat, it does not refuse to quench thirst; food does not stop removing hunger and dress and home do not disappoint them by refusing to provide defence against heat and chill.
But, when looked at in terms of the ultimate outcome, it would appear that none of these things is fulfilling its assigned job - because, the real function and use of all these things is that they should provide peace and comfort, that anxieties are removed and sicknesses are cured.
Now if you look at conditions prevailing in our world, you will realize that, despite the proliferation of things of comfort and the means and materials of curing diseases much beyond any expectations, the majority of human beings is victimized by extreme distresses and diseases. Never-known diseases and ever-new calamities seem to be the order of the day. No one, not even the highest among human beings, is contended and in peace in his or her station of life. In fact, the more these functional facilities and fruits of skill keep increasing in their output, the more increasing becomes the parallel manifestation of dis-eases, anxieties, disasters and hardships - very much like the saying in Urdu which means: ` The more they treat you, the more sick they make you.'
If modern man bewitched by the magic of energy and its material gains were to rise a little above his infatuation with things and technology, he will realize that all our efforts to invent and construct things and to lay the foundations of a society on top of them have flatly failed to give us peace and comfort which was our real purpose. There is no reason for this but that inward disorder we have been talking about which means that we have started disobeying our Rabb, our Creator and Master, so His creation has started disobeying us on the inward front - that it refuses to provide real peace and comfort for us, despite all our efforts at break-neck speed. To this the famous Maulana Rum' pointed out by saying that the elements of dust, air, water and fire, though they appear inert and sans sense yet, in reality, they too do possess a degree of intelligence which makes them work under the command of their Master.
To sum up, it can be said that sin, heedlessness towards Allah Ta` ala, and disobedience to Him do not only create spiritual disorder, but they also lead to the inevitable physical disorder. When the same Maulana Rumi' says that the cloud does not come to rain when you stop paying Zakah while from Zina (adultery) results an epidemic affecting all directions. This is no poetic imagination. This is a reality authentically supported by the Qur'an and Hadith. But, what becomes visible in this world is just a light sample of the ultimate punishment in the form of diseases, epidemics, storms, hurricanes and floods.
Therefore, included in the sense of the verse: لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا (And do no mischief on the earth after it has been set in order) are crimes and sins which cause disorder in the world physically and outwardly - and also included there are sin, disobedience, and heedlessness towards Allah Ta` ala. Therefore, immediately after in this verse, it was said: وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا (And supplicate to Him in fear and hope). It means that it should be done in a way that, on the one hand, one has the fear of the Du` a.' remaining unanswered, while on the other hand, one has full hope tied to His mercy. These very twin attitudes of fear and hope are the two wings of the human soul on its journey with truth and fortitude. On these it flies high and through these it reaches superior ranks destined for it.
Then, as the text obviously shows, the degree of fear and hope should be equal. Some ` Ulama have said that it is appropriate to keep fear dominate during life with health, so that there be no shortcoming in being obedient. And when comes the time to die, it is better to let hope dominate, because the strength to do what should have been done is not there anymore and there is nothing left to do except hope for the mercy of Allah Ta’ ala. (Al-Bahr Al-Muhit)
And some researchers among scholars have said that the purpose is to hold on to the straight path of religion and be constant in obedience to Allah Ta` ala. Then, the temperaments and tastes of human beings differ. Some achieve this station of fortitude and constancy in obedience by keeping fear as the dominant factor. Others achieve these by keeping love and hope as dominating factors. So, whoever finds help' to achieve this purpose through either of these two options, should try to achieve it through that option.
To summarize the comments made about Du` a', it can be said that the first verse tells us about two rules of etiquette relating to Du'a': (1) That it be with humility and submission, and (2) that it be secret and low-voiced. These two qualities belong to the outward human physique - because "tadarru"' suggests that one should, while making Du` a', assume the looks and manners of someone weak, helpless and needy and should never allow it to be proud, arrogant or seemingly need-free. Then, that it be secret also relates to one's speech through the mouth and tongue.
As for the spiritual etiquette of Du'a' as given in this verse, there are two rules to be followed. These relate to the human heart. They require that the person making the Du` a' should feel the danger in his heart that his Du'a' may, perhaps, remain unanswered while, at the same time, he should also hope that his Du'a' may be answered - because becoming careless about one's errors and sins is contrary to 'Iman (faith) and losing hope in the infinite mercy of Allah Ta` ala is Kufr (disbelief). Both are impermissible extremes. The hope that a prayer will be answered can be entertained only when one keeps in between the two states of fear and hope.
Then, at the end of the verse, it was said: إِنَّ رَحْمَتَ اللَّـهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ (Surely, the mercy of Allah is close to the good in deeds). The hint given here is that, though there should be the two states of fear and hope present while making a Du` a', but, out of the two states, the option of hope is the weightier option - because the prayer is being made to the Lord of all the worlds the extent of Whose mercy cannot be conceived, and in whose generosity and favour there is no shortage or reluctance. He can answer the Du` a' of the worst of offenders, even the Du'a' of the Satan himself. Of course, should there be a danger of Du` a' remaining unanswered, that could only be possible on account of one's own misdeeds or due to the hanging curse of sins - because being good in deeds is necessary to become close to the mercy of Allah Ta` ala.
Therefore, the Holy Prophet ﷺ has said that some people travel long distances, look like faqirs and raise their hands for Du` a' before Allah Ta` ala, but حَرَام haram is their food and حَرَام haram is their drink and حَرَام haram is their dress. So, how can a Du` a' made by such a person be answered? (Muslim, Tirmidhi from Sayyidna Abi Hurairah)
According to another Hadith, the Holy Prophet ﷺ said: The prayer of a servant of Allah keeps finding acceptance until such time that he does not pray for some sin or for the severance of some relationship - and that he does not make haste. The noble Companion asked about the meaning of ` making haste.' He said: It means that one may think - here I am making a Du` a' for all this time and it has not been answered yet - until he becomes disappointed and stops making Du` a'. (Muslim, Tirmidhi)
According to yet another Hadith, the Holy Prophet ﷺ said: Whenever you make Du` a' before Allah Ta` ala, do it in a state when you have no doubt about its being answered.
It means that one should keep his or her sight on the most extensive mercy of Allah Ta' ala and let the heart believe that the prayer being made shall be answered. This is not contrary to the danger one may feel that his or her sins may become an impediment in the acceptance of one's Du` a'. صلی اللہ تعَالیٰ علی نَبِیِّنَا وسلم