Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَقَالَ
dan berfirman
رَبُّكُمُ
Tuhan kalian
ٱدۡعُونِيٓ
berdo'alah kepada-Ku
أَسۡتَجِبۡ
akan Ku perkenankan
لَكُمۡۚ
bagi kalian
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَسۡتَكۡبِرُونَ
menyombongkan diri
عَنۡ
dari
عِبَادَتِي
menyembah-Ku
سَيَدۡخُلُونَ
mereka akan masuk
جَهَنَّمَ
neraka jahanam
دَاخِرِينَ
keadaan hina
وَقَالَ
dan berfirman
رَبُّكُمُ
Tuhan kalian
ٱدۡعُونِيٓ
berdo'alah kepada-Ku
أَسۡتَجِبۡ
akan Ku perkenankan
لَكُمۡۚ
bagi kalian
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
يَسۡتَكۡبِرُونَ
menyombongkan diri
عَنۡ
dari
عِبَادَتِي
menyembah-Ku
سَيَدۡخُلُونَ
mereka akan masuk
جَهَنَّمَ
neraka jahanam
دَاخِرِينَ
keadaan hina
Terjemahan
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."
Tafsir
(Dan Rabb kalian berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian) maksudnya, sembahlah Aku, niscaya Aku akan memberi pahala kepada kalian. Pengertian ini disimpulkan dari ayat selanjutnya, yaitu, (Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk) dapat dibaca Sayadkhuluuna atau Sayudkhaluuna, menurut bacaan yang kedua artinya, mereka akan dimasukkan ke dalam (neraka Jahanam dalam keadaan hina dina") dalam keadaan terhina.
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. Ini merupakan sebagian dari karunia dan kemurahan Allah ﷻ Dia menganjurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk meminta kepada-Nya dan Dia menjamin akan memperkenankan permintaan mereka, seperti apa yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, bahwa hai orang yang paling dicintai oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya, karena dia selalu meminta kepada-Nya dan banyak meminta kepada-Nya.
Hai orang yang paling dimurkai oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya, karena dia tidak pernah meminta kepada-Nya, padahal tiada seorang pun yang bersifat demikian selain Engkau, ya Tuhanku. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Hal yang semakna telah disebutkan di dalam syair yang mengatakan: ..... Allah murka bila engkau tidak meminta kepada-Nya, sedangkan Bani Adam marah manakala diminta.
Qatadah mengatakan, Ka'bul Ahbar telah mengatakan bahwa umat ini dianugerahi tiga perkara yang belum pernah diberikan kepada suatu umat pun sebelumnya kecuali seorang nabi. Yaitu apabila Allah mengutus seorang nabi, Allah berfirman kepadanya, "Engkau adalah saksi atas umatmu," dan Dia menjadikan kalian sebagai saksi atas umat manusia semuanya. Dan dikatakan kepada nabi yang diutus itu, "Tiada suatu kesempitan pun bagimu dalam agama," dan kepada umat ini dikatakan melalui firman-Nya: dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Al-Hajj: 78) Juga dikatakan kepadanya, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku memperkenankannya bagimu!" Dan kepada umat ini dikatakan oleh firman-Nya: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (Al-Mumin: 60) Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Imam Al-Hafiz Abu Ya'la alias Ahmad ibnu Ali ibnul Musanna Al-Mausuli telah mengatakan di dalam kitab musnadnya: -: telah menceritakan kepada kami Abu Ibrahim At-Turjumani, telah menceritakan kepada kami Saleh Al-Madani yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan menceritakan hadis berikut dari Anas ibnu Malik r.a., dari Nabi ﷺ dalam hadis yang ia riwayatkan dari Tuhannya. Ia mengatakan: Ada empat perkara, yang satu darinya untuk-Ku dan yang satu untukmu, dan yang satunya lagi antara Aku dan kamu, sedangkan yang terakhir antara kamu dan hamba-hamba-Ku.
Adapun mengenai yang untuk-Ku ialah hendaknya engkau menyembah-Ku, tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Adapun yang untukmu dari-Ku ialah amal kebaikan apa pun yang engkau lakukan, Aku akan membalasnya untukmu. Dan adapun yang antara Aku dan kamu ialah engkau berdoa dan Aku yang memperkenankannya. Adapun yang antara engkau dan hamba-hamba-Ku ialah retakanlah untuk mereka apa yang engkau relakan untuk dirimu sendiri.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Zar, dari Yasi' Al-Kindi, dari An-Nu'man ibnu Basyir r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya doa itu ibadah. Kemudian beliau ﷺ membaca firman-Nya: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (Al-Mumin: 60) Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-habus Sunan, Imam Turmuzi, Imam Nasai, Imam Ibnu Majah, Ibnu Abu Hatim, dan Ibnu Jarir; semuanya melalui hadis Al-A'masy dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Abu Daud telah meriwayatkan hadis ini dan juga Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir melalui hadis Syu'bah, dari Mansur dan Al-A'masy, keduanya dari Zar dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Yunus, dari Usaid ibnu Asim ibnu Mahram, telah menceritakan kepada kami An-Nu'man ibnu Abdus Salam, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats-Tsauri dari Mansur, dari Zar dengan sanad yang sama. Ibnu Hibban dan Imam Hakim telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing; Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih. (5) ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepadaku Abu Saleh Al-Madani (seorang syekh dari kalangan penduduk Madinah) yang telah mendengar hadis ini dari Abu Saleh dan sesekali ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Saleh menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang tidak pernah berdoa kepada Allah ﷻ, Allah murka terhadapnya. Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara tunggal, dan sanad hadis ini tidak mengandung cela. Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Marwan Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sabih Abul Malih, bahwa ia pernah mendengar Abu Saleh menceritakan hadis ini dari Abu Hurairah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang tidak pernah meminta kepada-Nya, maka Dia akan murka terhadapnya.
Ibnu Mu'in mengatakan bahwa Abul Malih ini nama aslinya adalah Subaih, demikianlah menurut Abdul Gani ibnu Sa'id. Adapun Abu Saleh, nama gelarnya adalah Al-Khuzi penduduk lereng Al-Khuz, menurut Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya. Hal yang sama disebutkan di dalam riwayatnya dengan sebutan Abul Malih Al-Farisi, dari Abu Saleh Al-Khuzi, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang tidak pernah meminta kepada Allah, maka Dia murka terhadapnya. Al-Hafiz Abu Muhammad Al-Hasan ibnu Abdur Rahman Ar-Ramhurmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Na'il ibnu Najih, telah menceritakan kepadaku Aiz ibnu Habib, dari Muhammad ibnu Sa'id yang mengatakan bahwa ketika Muhammad ibnu Maslamah Al-Ansari meninggal dunia, kami menjumpai pada gantungan pedangnya sebuah tulisan: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya pada sisa hari-hari usia kalian terdapat limpahan rahmat Tuhan kalian, maka memohonlah kalian kepada-Nya, mudah-mudahan ada suatu doa yang bertepatan dengan limpahan rahmat itu yang akan membuat bahagia pelakunya dengan kebahagiaan yang dia tidak akan merugi lagi sesudahnya untuk selama-lamanya.
Firman Allah ﷻ: Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku. (Al-Mumin: 60) Yakni dari berdoa kepada-Ku dan dari mengesakan-Ku, kelak akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina, yakni terhina lagi dikecilkan. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Ibnu Ajlan, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Orang-orang yang sombong digiring pada hari kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi berupa manusia; mereka diliputi oleh segala sesuatu kehinaan, hingga dimasukkan ke dalam suatu penjara di dalam neraka Jahanam yang dikenal dengan nama Bulis.
Tempat itu diliputi oleh intinya api neraka; mereka diberi minuman dari Tinatul Khabal alias perasan keringat penghuni neraka. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Yazid ibnu Khunais yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar dari Wuhaib ibnul Ward mengatakan, telah menceritakan kepadanya seorang lelaki yang mengatakan bahwa pada suatu hari ia berjalan di negeri Romawi, lalu ia mendengar ada suara tanpa rupa dari puncak bukit yang mengatakan, "Ya Tuhanku, aku merasa heran dengan orang yang mengenal-Mu, mengapa dia berharap kepada seseorang selain Engkau.
Ya Tuhanku, aku merasa heran terhadap orang yang mengenal-Mu, mengapa dia meminta keperluan-keperluannya kepada seseorang selain Engkau." Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia pergi dan selanjutnya terjadilah malapetaka yang amat besar. Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa kemudian suara itu menyerukan lagi, "Ya Tuhanku, aku heran kepada orang yang mengenal-Mu, mengapa dia melakukan sesuatu yang menyebabkan Engkau murka, sedangkan dia memuaskan selain Engkau." Wuhaib mengatakan bahwa itulah yang dimaksud dengan petaka yang amat besar.
Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berseru terhadap suara itu, "Jin atau manusiakah engkau?" Suara itu menjawab, "Tidak, aku adalah seorang manusia, sibukkanlah dirimu dengan urusanmu dan janganlah mencampuri yang bukan urusanmu!"".
Dengan semakin dekat hari Kiamat, Allah kemudian mengajak manusia dengan kasih sayang-Nya agar datang dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku dengan mendekatkan diri, niscaya akan Aku perkenankan bagimu apa yang kamu harapkan berupa hidayah dan anugerah nikmat. Sesungguhnya orang-orang yang angkuh dan sombong sehingga membuat mereka tidak mau menyembah-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. '61. Ajakan untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah adalah merupakan keniscayaan semata yang harus dilakukan oleh manusia. Sebenarnya disembah ataupun tidak, Allah tetaplah sebagai Pencipta alam semesta. Ayat ini dan ayat-ayat berikut mengukuhkan kenisca-yaan tersebut. Allah-lah yang menjadikan malam itu gelap untukmu agar kamu dapat beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang agar kamu dapat bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup. Sungguh, Allah benar-benar memiliki karunia yang tiada terhingga yang dilimpahkan-Nya kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur atas karunia itu.
Pada ayat ini, Allah memerintahkan agar manusia berdoa kepada-Nya. Jika mereka berdoa niscaya Dia akan memperkenankan doa itu.
Ibnu 'Abbas, adh-ahhak, dan Mujahid mengartikan ayat ini, "Tuhan kamu berfirman, 'Beribadahlah kepada-Ku, niscaya Aku akan membalasnya dengan pahala." Menurut mereka, di dalam Al-Qur'an, perkataan doa bisa pula diartikan dengan ibadah seperti pada firman Allah:
Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah inatsan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka. (an-Nisa'/4: 117)
Dalam hadis, Nabi bersabda:
Doa itu ialah ibadah. (Riwayat at-Tirmidzi dari an-Nu'man bin Basyir)
Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa doa dalam ayat ini berarti "permohonan".
Sebenarnya doa dan ibadah itu adalah sama dari sisi bahasa. Hanya yang pertama berarti khusus sedang yang kedua berarti umum. Doa adalah salah satu bentuk atau cara dari ibadah. Hal ini berdasar hadis:
Doa itu adalah inti ibadah. (Riwayat at-Tirmidzi dari Anas bin Malik)
Dan hadis Nabi ﷺ:
Diriwayatkan dari 'aisyah, dia berkata, "Nabi ﷺ ditanya orang, 'Ibadah manakah yang paling utama? Beliau menjawab, 'Doa seseorang untuk dirinya." (Riwayat al-Bukhari)
Berdasarkan hadis di atas, maka doa dalam ayat ini dapat diartikan dengan ibadah. Hal ini dikuatkan oleh lanjutan ayat yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka yang hina."
Ayat ini merupakan peringatan dan ancaman keras kepada orang-orang yang enggan beribadah kepada Allah. Ayat ini juga merupakan pernyataan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka memperoleh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Seakan-akan Allah mengatakan, "Wahai hamba-hamba-Ku, menghambalah kepada-Ku, selalulah beribadah dan berdoa kepada-Ku. Aku akan menerima ibadah dan doa yang kamu lakukan dengan ikhlas, memperkenankan permohonanmu, dan mengampuni dosa-dosamu".
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
MASALAH PENCIPTAAN!
“Sesungguhnya orang-orang yang mempertentangkan tentang ayat-ayat Allah, dengan tidak menguasai persoalan yang mendalang kepada mereka."
(pangkal ayat 56)
Golongan orang yang tidak mau beriman, bahkan mencari ayat-ayat Allah yang akan dibantahnya atau dipertengkarkannya atau di-perdebatkannya. Di segala zaman ada saja orang semacam itu. Mereka tidak tahu, tetapi tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Mereka tidak menguasai persoalan, namun mereka hendak membicarakannya juga. Memperkatakan tentang ketuhanan tidak dengan ilmu."Tidak ada dalam dada mereka selain ingin kebesaran,"atau selain dari keinginan supaya disangka oleh orang-orang bodoh bahwa beliau segala tahu."Yang sekali-kali tidaklah dia akan tercapai olehnya." Sekali-kali tidaklah dia akan saat mencapai kebesaran dengan cara yang demikian. Bahkan itu cuma akan memperlihatkan kebodohan dan kesempitan ilmunya saja.
Lalu Allah memberikan bimbingan kepada Rasul-Nya, “Maka berlindunglah engkau kepada. Karena hanya dengan terus-menerus melindungkan diri kepada Altah-lah orang-orang yang seperti itu saat diatasi. Sebab orang-orang itu ingin kebesaran, orang-orang itu adalah orang sombong. Lama kelamaan rahasia, kelemahannya itu akan terbuka juga; “Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar," segala pembicaraan yang menunjukkan kekosongan dada dan ilmu,
“Lagi Maha Melihat"
(ujung ayat 56)
Tingkah laku orang yang bergerak karena didorong oleh kekosongan batin.
Hal yang disebut dalam ayat ini selalu saja dihadapi oleh Rasul dan orang-orang yang telah menyediakan dan mengurbankan diri untuk menjawat warisan Rasul, Bahkan orang-orang yang telah dirusakkan jalan pikirannya oleh penjajah, dengan tidak disadarinya, telah mengemukakan berbagai perdebatan atau menimbulkan pertengkaran tentang ayat-ayat Allah. Mereka itu mengakui dirinya pintar dan bebas berpikir, padahal kebebasan berpikir kalau dipergunakan untuk persoalan yang ti-dak dikuasai, sangAllah janggal yang membuat tertawa bagi orang yang budiman, meskipun barangkali mengagumkan orang yang bodoh.
“Sesungguhnya penciptaan semua langit dan bumi lebih besar, dari penciptaan manusia. Akan tetapi kebanyakan manusia tidaklah mengetahui."
(ayat 57)
Disebutkan seperti ini oleh Allah untuk menolak kesombongan yang disebutkan pada ayat 56 tadi. Kadang-kadang manusia tidak tahu dirinya, ayat-ayat Allah pun hendak diperdebatkannya, dipertengkarkannya. Dengan demikian dia merasa dirinya besar! Malahan diberi Allah mereka sedikit pengetahuan yang tadinya gaib bagi mereka, sampai saat mengetahui rahasia atom, sampai manusia pun telah menginjak bulan. Lantaran itu dia lupa diri. Disangkanya dirinya besar, sehingga Allah pun hendak didebatnya.
Kerap manusia lupa diri. Lupa akan kelemahannya. Kekuatan mengalir ke dalam dirinya dari luar, bukan memancar dari dalam. Kekuatan itu datang dari sumber segala kekuatan: kekuatan Allah! Karena sombongnya diputuskannya pertalian dengan Allah dan dia hendak tegak sendiri, didabiknya dadanya dan dibusungkannya, merasa bahwa segala sesuatu bisa dikuasainya, sebab dia telah berilmu.
Sebab itu ingatlah lanjutan ayat,
“Dan tidaklah, bersamaan orang yang buta dengan orang yang melihat."
(pangkal ayat 58)
Orang buta berjalan meraba-raba di pinggir bendul kehidupan, tidak tahu entah ke mana akan pergi. Orang yang nyalang matanya dapat melangkah lebih bebas. Buta mata demikian, lebih lagi kalau buta hati."Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh tidaklah sama dengan orang yang durhaka." Orang yang nyalang matanya melihat dan mengetahui, tahu dia mana tempat yang berlubang dan mana yang berbahaya dan dia pun menyingkir. Tetapi orang yang buta tidak melihat, tidak mengetahui di mana dia berdiri, ke mana akan pergi dan apa yang ada di kelilingnya. Sebab itu selalulah dia salah menaksir alam sekelilingnya, terjerembab dia jatuh karena butanya.
Demikian juga orang yang beriman dan beramal saleh, tidaklah ia sama dengan orang yang durhaka, yang hidup tidak mempunyai tujuan. Iman adalah cahaya di dalam hati, cahaya dalam jiwa dan memberi sinar ke muka, Kedurhakaan membuat jiwa jadi gelap, tidak tentu ranah tujuan. Durhaka membuat hati jadi buta,
“Sedikit sekali kamu yang ingat itu."
(ujung ayat 58)
Kalau kita ingat niscaya kita waspada. Kalau waspada niscaya kita selamat. Sebab pengalaman kita mengajari kita bahwa jalan yang mulia itu bersakit dan bersusah, namun hati rasa bahagia. Jalan durhaka mulanya enak, namun akhirnya penyesalan dan gelap!
Selanjutnya Allah memberi ingat, apa yang perlu sangat diingat.
“Sesungguhnya Kiamat itu pastilah akan datang."
(pangkal ayat 59)
Itulah yang mesti kamu ingat terlebih dahulu, sehingga umurmu ini tidak akan buang-buang percuma."Tidak ada keraguan lagi padanya." Bukankah maut sendiri adalah kesaksian yang nyata tentang akan adanya hari Kiamat? Alangkah sia-sia orang yang hidup di dunia tidak ada amal yang ditinggalkan dan tidak ada catatan baik yang akan dibawa menghadap Allah? Perubahan-perubahan yang selalu terdapat dalam alam, dari tidak ada kepada ada dan akhirnya lenyap, adalah bukti yang tidak meragukan bahwa kesudahannya semua akan rusak. Dan sesudah rusak akan diperbaiki kembali dalam bentuk yang lain.
“Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mau percaya."
(ujung ayat 59)
Ada yang mengatakan percaya dengan mulutnya, tetapi tidak terbukti dalam perbuatannya. Ada yang berpegang teguh pada dunia ini seakan-akan tidak hendak dilepaskannya, padahal tiba-tiba dilepaskannya juga.
“Dan berfirmanlah Tuhan kamu, ‘Berserulah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'"
(pangkal ayat 60)
Apabila dibaca Al-Qur'an dengan teliti, dengan hati iba dan menyerah, serta diketahui pula akan isinya, kita baca urutan ayat-ayat tadi, memang terasalah kecilnya diri kita ini di hadapan kebesaran Allah. Timbul takut dan cemas! Terasa belum ada artinya amalan kita dibandingkan dengan nikmat yang kita terima. Banyak kesalahan dan kelalaian selama ini. Lalu timbul pertanyaan, masihkah aku ini akan diterima Allah sebagai hamba-Nya yang berarti?
Maka datanglah ayat Allah memuaskan dahaga jiwa dan pertanyaan hati iba itu. “Berserulah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." Berserulah, berdoalah, memohonlah, dan hamparkanlah sayap penghargaan yang tidak pernah putus.
Seruan kepada Allah, munajat atau doa mempunyai beberapa adab yang mesti dijaga. Pertama hendaklah ikhlas hati kepada-Nya semata-mata tidak teringat yang lain sama sekali dan langsung! Kedua percaya bahwa permohonan niscaya akan dikabulkan. Ketiga menanam kepercayaan penuh bahwa ber-tawajjuh berdoa adalah taufik atau bimbingan dari Allah sendiri yang keuntungannya pertama ialah memperdekat diri kepada-Nya. Adapun terkabulnya doa adalah karunia kedua.
Ahli-ahli ilmu jalan ke akhirat menunjukkan pula pengalaman lain dalam hendak menyusun doa. Hendaklah terlebih dahulu ditanamkan makrifat kepada Allah. Mengingat kelemahan kita dan kekuatan-Nya, kehinaan kita dan kemuliaan-Nya, kemiskinan kita dan kekayaan-Nya. Tahu di mana kita dan di mana Dia. Kita memohon dari bawah, Dia memberi dari atas; Dia Allah kita hamba, Dia Khaliq kita makhluk.
Yang kedua hendaklah sesudah makrifat itu tumbuh dengan suburnya rasa cinta kepada-Nya. Cinta yang sangat mendalam, sehingga kepentingan diri tidak diingat lagi, yang diingat hanya perintah-Nya dan larangan-Nya. Bahkan yang diingat hanyalah Dia. Bilamana cinta telah mendalam, apa saja yang diberikan oleh Yang Dicintai itu diterima dengan tangan dan hati terbuka. Disuruhnya pergi dicegahnya berhenti. Tidak diberi-Nya pun tidak apa-apa.
Permohonan atau doa yang paling buruk ialah jika Allah hanya dijadikan sebagai jembatan saja untuk menuju suatu keinginan. Bila keinginan telah tercapai, Allah pun dilupakan.
Dan janganlah gelisah atau mengeluh jika yang diminta tidak lekas terkabul. Karena yang demikian itu adalah tanda bukti bahwa makrifat kepada Allah belum ada. Yang ada barulah mementingkan diri sendiri.
Maka tersebutlah di dalam suatu riwayat (atsaar) atau hadits bahwa adalah seorang hamba Allah datang menghadapi menadahkan tangannya berdoa memohon sesuatu. Setelah mendengar bunyi doanya, berkatalah Allah kepada malaikat, “Beri apa yang diminta oleh hamba-Ku itu, tetap jangan lekas-lekas diberikan. Karena Aku senang sekali mendengarkan doanya."
Lalu mendoa pula hamba yang lain. Maka berkatalah Allah kepada malaikat, “Berikan lekas apa yang dimintanya, biar dia segera pergi. Karena aku tidak senang mendengarkan suaranya."
Menurut sebuah hadits yang dirawikan oleh Tirmidzi dan lain-lain yang diterimanya dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barangsiapa yang ingin gembira bahwa Allah akan mengabulkan permohonannya di waktu dalam kesulitan, hendaklah dia memperbanyak doa di waktu dia dalam kelapangan." (HR at-Tirmidzi)
Lanjutan, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku." Artinya bahwa dia terlalu percaya kepada diri sendiri, sehingga tidak ingat lagi hendak berhubungan dengan Allah, tidak beribadah, tidak bermunajat, tidak bertawakal, tidak cinta dan tidak ridha.
“Akan masuklah mereka ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."
(ujung ayat 60)
Orang biasa takabur, sombong, angkuh ketika badannya kuat, hartanya banyak atau mendapat kekuasaan tertinggi. Mereka kerap kali lupa bahwa hari tidaklah panas terus: panas berganti dengan hujan. Topan berganti dengan angin tenang. Dan angin tenang pun akan berganti dengan angin topan. Ombak di laut saat membawa pasang naik dan juga pasang surut. Kalau manusia ingat pergantian keadaan, tidaklah dia akan sombong.
Maka tersebutlah di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterimanya dari Ali bin Husain, dan dia ini menerimanya pula dari Abu Bakar bin Muhammad bin Yazid bin Khunais, bahwa Abu Bakar ini mendengar dari ayahnya menerima berita dari Wuhaib bin Alward, bahwa ada seorang Islam ditawan dalam satu peperangan di negeri Rum. Tiba-tiba sedang dia kesepian dalam tawanan itu kedengaran olehnya satu suara bersipongang dari lereng gunung, begini bunyinya:
“Ya Tuhanku! Heran aku karena ada orang yang mengaku kenal kepada Engkau;
Mengapa ia mengharapkan sesuatu dari yang selain Engkau?
Ya Tuhanku, heran aku, ada orang yang mengaku mengenal kepada Engkau;
Mengapa dia mengeluh mengadukan halnya kepada yang selain Engkau!
Mendengarkan suara yang tidak jelas dan mana datangnya itu, terasalah malapetaka besar itu akan datang.
Tiba-tiba terdengar sekali lagi.
“Ya Tuhanku! Heran aku, mengapa orang yang mengatakan mengenal kepada engkau, padahal diperbuatnya perbuatan yang menimbulkan murka-Mu, karena mengharapkan ridha orang lain."
Lalu kata orang yang mendengar suara itu, “Lalu aku panggil dia! ‘Hai yang empunya suara dan seruan, jinkah engkau atau manusia?"‘
“Saya adalah manusia," jawabnya. Dan katanya pula, “Tidak perlu engkau selidiki siapa aku, cukuplah engkau persiapkan dirimu sendiri dengan makrifat."
The Command to call upon Allah By His grace and kindness,
وَقَالَ رَبُّكُمُ
And your Lord said:
Allah encourages His servants to call upon Him, and He guarantees to respond.
Sufyan Ath-Thawri used to say:
O You Who love most those who ask of You, and O You Who hate most those who do not ask of You, and there is no one like that apart from You, O Lord.
This was recorded by Ibn Abi Hatim.
Similarly; the poet said:
Allah hates not to be asked, and the son of Adam hates to be asked.
Qatadah said that Ka`b Al-Ahbar said,
This Ummah has been given three things which were not given to any nation before, only to Prophets.
When Allah sent a Prophet, He said to him, `You are a witness over your nation.' But you have been made witnesses over mankind;
it was said to the Prophets individually, `Allah has not laid upon you any hardship in religion,' but He said to this entire Ummah:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكمْ فِى الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
(and (Allah) has not laid upon you in religion any hardship), (22:78) and
it was said to the Prophets individually; `Call upon Me, I will answer you,' but it was said to this Ummah,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُم
(Call upon Me, I will answer you).
This was recorded by Ibn Abi Hatim.
Imam Ahmad recorded that Al-Nu`man bin Bashir, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَة
Indeed the supplication is the worship.
Then he recited,
وَقَالَ رَبُّكُمُ
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
And your Lord said:Call upon Me, I will answer you. Verily, those who scorn My worship they will surely enter Hell in humiliation!.
This was also recorded by the Sunan compilers; At-Tirmdhi, An-Nasa'i, Ibn Majah, and Ibn Abi Hatim and Ibn Jarir.
At-Tirmidhi said, Hasan Sahih.
It was also recorded by Abu Dawud, At-Tirmidhi, An-Nasa'i, and Ibn Jarir with a different chain of narration.
Allah's saying:
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
Verily, those who scorn My worship,
means, `those who are too proud to call on Me and single Me out,'
سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
they will surely enter Hell in humiliation!
means, in disgrace and insignificance.
Imam Ahmad recorded from `Amr bin Shu`ayb from his father, from his grandfather that the Prophet said:
يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ النَّاسِ يَعْلُوهُمْ كُلُّ شَيْءٍ مِنَ الصَّغَارِ حَتْى يَدْخُلُوا سِجْنًا فِي جَهَنَّمَ يُقَالُ لَهُ بُولَسُ تَعْلُوهُمْ نَارُ الاْنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّار
The proud will be gathered on the Day of Resurrection like ants in the image of people, and everything will be stepping on them, humiliating them, until they enter a prison in Hell called Bulas. They will be fed flames of fire, and given for drink a paste of insanity dripping from the people the Fire.
Signs of the Power and Oneness of Allah
Allah the exalted say;
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا
Allah, it is He Who has made the night for you that you may rest therein and the day for you to see.
Allah reminds us of His grace towards His creation in that He has given them the night in which they rest and relax from their activities so that they can go back to them for their livelihood during the day. He has given them the day with its light, so that they can undertake their journeys and engage in their business.
إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
Truly, Allah is full of bounty to mankind; yet, most of mankind give no thanks.
means, they do not express gratitude for the favors which Allah bestows upon them.
Then Allah says
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ
That is Allah, your Lord, the Creator of all things, La ilaha illa Huwa.
means, the One Who does all of these things is Allah, the One, the Unique, the Creator of all things, besides Whom there is no other god or lord.
فَأَنَّى تُوْفَكُونَ
How then are you turning away?
means, `how can you worship idols which cannot create anything but are themselves hand-made and carved?'
كَذَلِكَ يُوْفَكُ الَّذِينَ كَانُوا بِأيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ
Thus were turned away those who used to deny the Ayat of Allah.
means, just as these people (Quraysh) were led astray by their worship of gods other than Allah, those who came before them also disbelieved and worshipped others, with no proof or evidence, but on the basis of ignorance and desires. They denied the signs and proof of Allah
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الاَْرْضَ قَرَارًا
Allah, it is He Who has made for you the earth as a dwelling place,
means, `He made it stable and spread it out for you, so that you might live on it and travel about in it; He strengthened it with the mountains so that it does not shake with you.'
وَالسَّمَاء بِنَاء
and the sky as a canopy,
means, `a roof covering and protecting the world.'
وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ
and has given you shape and made your shapes good,
means, `He created you in the best and most perfect form.'
وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ
and has provided you with good and pure things.
means, of food and drink in this world.
Allah states that that He is the Creator of the dwelling place and of the inhabitants and of the provision; He is the Creator and Provider, as He says in Surah Al-Baqarah:
يَـأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِىْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ الاٌّرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَأءَ بِنَأءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَأءِ مَأءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلَ تَجْعَلُواْ للَّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
O mankind! Worship your Lord (Allah), Who created you and those who were before you so that you may have Taqwa. Who has made the earth a resting place for you, and the sky as a canopy, and sent down water (rain) from the sky and brought forth therewith fruits as a provision for you. Then do not set up rivals unto Allah while you know. (2:21-22)
And here Allah says, after mentioning the creation of all these things:
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
That is Allah, your Lord, so Blessed be Allah, the Lord of all that exists.
meaning, exalted and sanctified and glorified be Allah, the Lord of all the worlds.
Then He says
هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ
He is the Ever Living, La ilaha illa Huwa;
means, He is the Ever Living, from eternity to eternity, Who was, is and shall be, the First and the Last, the Manifest, the Hidden.
لَا إِلَهَ إِلاَّا هُوَ
(La ilaha illa Huwa),
means, there is none comparable or equal to Him.
فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
so invoke Him making the religion for Him Alone.
means, affirm His Oneness by testifying that there is no God but He.
Imam Ahmad recorded that after ending every prayer, Abdullah bin Az-Zubayr used to say:
لَاا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
لَاا حَوْلَ وَلَاا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
لَاا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلَاا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ
لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ
لَاا إِلهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُون
There is no (true) God except Allah Alone with no partner or associate, to Him belongs the dominion and praise, for He is able to do all things;
there is no strength and no power except with Allah;
there is no (true) God except Allah and we worship none but Him;
to Him belong blessings and virtue and goodly praise;
there is no (true) God except Allah, we worship Him in all sincerity even though the disbelievers may hate that.
He said,
The Messenger of Allah used to say the Tahlil in this fashion after every prayer.
Similar was also recorded by Muslim, Abu Dawud and An-Nasa'i.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
All the praises and thanks be to Allah, the Lord of all that exits
The Prohibition of Shirk, the Order for Tawhid, and the Evidence
Allah says,
قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءنِيَ الْبَيِّنَاتُ مِن رَّبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Say:I have been forbidden to worship those whom you worship besides Allah, since there have come to me evidences from my Lord; and I am commanded to submit to the Lord of all that exists.
Allah says, `say, O Muhammad, to these idolators, that Allah forbids them to worship anyone, such as these idols and false gods, except Him.'
Allah explains that no one apart from Him is deserving of worship, as He says
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلً ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا
It is He, Who has created you from dust, then from a Nutfah then from a clot (a piece of coagulated blood), then brings you forth as an infant, then (makes you grow) to reach the age of full strength, and afterwards to be old.
meaning, He is the One Who Alone, with no partner or associate, causes you to pass through these different stages, and this happens in accordance with His command, will and decree.
وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى مِن قَبْلُ
though some among you die before,
means, before being fully formed and emerging to this world; so his mother miscarries him. And there are some who die in infancy or in their youth, or when they are adults but before they reach old age, as Allah says:
لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِى الاٌّرْحَامِ مَا نَشَأءُ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى
that We may make (it) clear to you. And We cause whom We will to remain in the wombs for an appointed term. (22:5)
وَلِتَبْلُغُوا أَجَلً مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
and that you reach an appointed term in order that you may understand.
Ibn Jurayj said,
In order that you may remember the Resurrection.
Then Allah says
هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ
It is He Who gives life and causes death.
meaning, He is the Only One Who does that, and none is able to do that except He.
فَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
And when He decides upon a thing He says to it only:Be! -- and it is.
means, He cannot be opposed or resisted. Whatever He wills definitely comes to pass.
And your Lord has said, 'Call on Me and I will respond to you, in other words, worship Me and I will reward you - judging [this to be the meaning] by what follows. Surely those who disdain to worship Me shall enter (sa-yadkhuloona, or [passive] sa-yudkhaloona, 'they shall be admitted into') Hell [utterly] humiliated', abased.
The reality of du` a' (supplication) and its merits, levels and conditions of acceptance
In the last verse cited in this unit, it was said:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
And your Lord has said, “ Call Me, I will respond to you. Definitely those who show arrogance against worshipping Me shall enter Jahannam, disgraced. - 40:60.
Literally, du'a means to call, and it is frequently used to call for something needed. On occasions, the dhikr of Allah (acts devoted to His remembrance) is also referred to as du'a. This verse confers a special honor on the large community of the followers of the Holy Prophet ﷺ when they were ordered to make dua' with the assurance that it would be answered. And whoever does not make a prayer has been warned of punishment.
Qatadah reports from Ka'b Ahbar that earlier this used to be peculiar to prophets, as they were the ones who were ordered by Allah Ta’ ala that they should make dua' and He would answer. Now, it is the distinction of the followers of the Holy Prophet ﷺ (popularly identified as Ummah Muhammadiyyah) that this order was universalized for his entire Ummah. (IbnKathir)
Explaining this verse, Sayyidna Nu` man Ibn Bashir ؓ narrated a Hadith that the Holy Prophet ﷺ said: اِنَّ الدُّعَآء ھُو العِبَادۃ (Surely, prayer is worship on its own) and then supported it by reciting this verse: إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي ، (Definitely those who show arrogance against worshipping Me shall enter Jahannam, disgraced.) (reported by Imam Ahmad, Tirmidhi, Nasa'i, Abu Dawud and others - Ibn Kathir)
It appears in Tafsir Mazhari that, if looked at under the rules of Arabic diction (confining of the predicate to the subject), the Hadith: اِنَّ الدُّعَآء ھُو العِبَادۃ ، could mean: 'dua' is the very name of 'ibadah' or worship, that is, every dua' is but ` ibadah. Then, by reversing the same rule (confining the subject to the predicate), it could also mean that every act of ` ibadah is itself nothing but a dua'. Both probabilities exist here. And at this place, the meaning is that dua' (prayer, supplication) and ` ibadah (worship, devotion) are, though separate from each other in terms of the literal sense, yet in terms of substantiation, they are unified, as every dua' is ` ibadah and every ` ibadah is dua'. The reason is that ` ibadah is the name of the attitude of showing one's utter modesty and abasement before someone, and it is all too obvious that showing one's utter helplessness before someone and extending one's hand before him with , the beggar's bowl is a matter of great disgrace - which is the very sense of` ibadah. Similarly, the outcome of every ` ibadah is also to ask Allah Ta’ ala for forgiveness and Jannah and that He blesses us with a perfect state of well being in this world and in the world to come. Therefore, it appears in a Hadith qudsi (a Hadith in which the Holy Prophet ﷺ conveys a saying from Allah that is not included in the Qur'an) that Allah Ta’ ala said: "One who is so engrossed in remembering Me that he does not have even the time to ask for what he needs, I shall give him more than those who ask (by fulfilling his needs without the asking) " (reported by al-Jazri in An-Nihayah) and in a narration appearing in Tirmidhi and Muslim, the words are: من شغلہ القرآن عن ذکری و مسٔلتی اعطیتہ افضل ما اعطی السأیٔلین ("One who is so engrossed in the recitation of the Qur'an that he does not have even the time to ask for what he needs, I shall give him even more than what those who ask ever get" ). This tells us that every ` ibadah brings the same benefit as is the benefit of dua'.
And in the Hadith of 'Arafat, it appears that the Holy Prophet ﷺ said, "In ` Arafat, my du a' and the du a' of prophets before me is (the saying of): لا إله إلا اللہ وحده لا شريک له له الملک وله الحمد وهو علی کل شيئ قدير (la ilaha il-lal-lahu wahdahu la sharika lahu lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa 'ala kulli shai'in qadir: There is no god but Allah who is one. No one shares His godhead. To Him belongs the kingdom and to Him belongs all praise, and He is powerful over everything) (reported by Ibn Abi Shaibah - Mazhari).
Here, عِبَادَہ ('ibadah: worship) and ذِکرُاللہ (dhikrullah: the dhikr or remembrance of Allah) has been called: دُعَا (dua': prayer, supplication).
In this verse under study, those who abandon dua' in the sense of ` ibadah the warning of Jahannam given to them is in the eventuality of being too proud, that is, a person who, in his pride, considers himself in no need of making a dua' and actually abandons it, then, this is a sign of kufr (open infidelity), therefore, the warning of Jahannam became due against him. Otherwise, making of dua's, prayers and supplications as such is not fard (obligatory) or wajib (necessary). Leaving it off brings no sin. However, by a consensus of ` ulama', doing so is mustahabb (recommended) and is: اَفضَل (afdal: better, meritworthy) (Mazhari) and in accordance with clarifications in ahadith, it is a source of many a barakah (blessing).
Merits of du'a'
HADITH: The Holy Prophet ﷺ said, "There is nothing more deserving of regard by Allah Ta’ ala than dua"' - Tirmidhi, Ibn Majah and Hakim from Sayyidna Abu Hurairah ؓ .
HADITH: The Holy Prophet ﷺ said, "dua' is the essence of ` ibadah" - Tirmidhi from Sayyidna Anas Ibn Malik ؓ .
HADITH: The Holy Prophet ﷺ said, "Ask Allah Ta’ ala of His grace because Allah Ta’ ala likes being asked, and it is a great act of ` ibadah that one waits for ease while in hardship" - Tirmidhi from Sayyidna Ibn Masud ؓ .
HADITH: The Holy Prophet ﷺ said, "Verily, one who does not pray to Allah in his needs, He becomes angry with him" - Tirmidhi from Sayyidna Abu Hurairah ؓ ، Ibn Hibban and Hakim.
In Tafsir Mazhari, after having reported all these narrations, it has been said that the warning of Divine wrath on a person who does not make a dua' is applicable only when this abstention from asking is based on arrogance, and on taking oneself to be need free, as it stands proved from the words of this verse:إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ (Definitely those who show arrogance against worshipping Me shall enter Jahannam, disgraced. 40:60).
HADITH: The Holy Prophet ﷺ said, "Do not be weary of dua', for nobody dies of making dua"' - Ibn Hibban and Hakim from Sayyidna Anas Ibn Malik ؓ .
HADITH: The Holy Prophet ﷺ said, "dua' is a weapon of the believer, a pillar of the faith, and the light of the heavens and the earth" - Hakim in al-Mustadrak from Sayyidna Abu Hurairah ؓ .
HADITH: The Holy Prophet ﷺ said, "If the gates of dua' are opened for someone (actually) the doors of mercy are. opened for him, and no dua' made before Allah Ta’ ala is appreciated more than that in which one asks of ` afiyah (well-being) from Him" - Tirmidhi and Hakim from Sayyidna Ibn ` Umar ؓ .
The word: عافیت ('afiyah) appearing in the Hadith mentioned immediately earlier is a very comprehensive word (usually rendered in English as 'well-being' meaning a state of being healthy and happy, though somewhat outdated in contemporary usage). Apart from a good life, it includes other things like security from unwelcome happenings, trials and calamities as well as a satisfactory fulfillment of all needs in life.
Ruling:
Making du'a' for committing a sin or for severance of blood relationships is Haram (forbidden) - and, for that matter, such a dua' does not get to be accepted with Allah either - as in a Hadith from Sayyidna Abu Said al-Khudri ؓ .
Du'a and the promise of acceptance
In this verse, it has been promised that the dua' a servant makes is accepted. But, on occasions, one also sees that a dua' was made and it was not accepted. The answer to this appears in a Hadith of Sayyidna Abu Sa` id al-Khudri ؓ where the Holy Prophet ﷺ has been reported to have said, "Whatever a Muslim prays for before Allah, He would let him have it - subject to the condition that the du'a' made was not for something sinful or for the severance of relationships that Allah has enjoined to be kept intact. As for the acceptance of dua', it takes one of the three forms given here: (1) That one gets exactly what one asked for. (2) That in lieu of what one wanted to have, one was given a certain return or reward of the Hereafter. (3) That one did not, though, get what one wanted, but some hardship or calamity that was due to fall on one stood removed. (Musnad Ahmad - Mazhari)
Conditions of the acceptance of dua'
As for the present verse, it obviously seems to have no condition, almost to the extent that even being a Muslim is not a condition of dua'. Allah Ta’ ala accepts the dua' of a kafir (disbeliever) as well in this world to the extent that the dua' of Iblis to be allowed to live until the last day of Qiyamah was accepted. For dua', there is no condition of time, nor is there any condition that one must be with taharah (state of purity from pollutants) or wudu (ablution). But, there are trustworthy ahadith that identify a few things that preclude the chances of its acceptance. One must abstain from these. It appears in a Hadith from Sayyidna Abu Hurairah ؓ that the Holy Prophet ﷺ said, "...a man having been on a long journey is all disheveled and dust-coated and he stretches his hands upwards for dua' (saying): '0 my Lord! 0 my Lord!' while his food is haram (unlawful), his drink: haram, his dress: haram, and he himself was brought up on the haram - how then, could his du a' become worth accepting?" (Reported by Muslim)
Similarly, if we were to say the words of dua' negligently, heedlessly, without paying any attention, the Hadith says something about that too - that such a dua' is also not accepted. (Tirmidhi from Sayyidna Abu Hurairah ؓ .








