ٱلصَّافَّات ١
- وَٱلصَّٰٓفَّـٰتِ demi yang berbaris
- صَفّٗا barisan teratur
Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf,
Ash-Shaaffaat (Para Malaikat yang Bershaff)
(Demi yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya) yaitu para malaikat yang berbaris membentuk saf-saf dalam menyembah Allah, atau para malaikat yang sayap-sayapnya bersaf-saf membentuk barisan di udara sambil menunggu apa yang diperintahkan kepada mereka.
Tafsir Surat As-Saffat: 1-5
Demi (rombongan) yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-A'masy, dari Abud Duha, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi (rombongan) yang bersaf-saf dengan sebenar-benarnya. (Ash-Shaffat: l) Mereka adalah para malaikat. dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya. (Ash-Shaffat: 2). dan demi (rombongan) yang membaca pelajaran. (Ash-Shaffat: 3) Mereka juga adalah para malaikat. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Masruq, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Mujahid, As-Saddi, Qatadah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas. Qatadah mengatakan bahwa para malaikat bersaf-saf di langit.
Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fadil,dari Abu Malik Al-Asyja'i, dari Rib'i dari Huzaifah r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ Pernah bersabda: Kami diberi keutamaan di atas manusia dengan tiga perkara, yaitu saf kami dijadikan seperti 'saf para malaikat, bumi ini semuanya dijadikan bagi kami sebagai masjid, dan dijadikan bagi kami tanahnya sarana bersuci bila kami tidak menjumpai air. Imam Muslim, telah meriwayatkan pula bersama Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah melalui hadis Al-A'masy: dari Al-Musayyab ibnu Rafi', dari Tamim ibnu Tarfah, dari Jabir ibnu Samurah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Tidakkah kalian bersaf sebagaimana para malaikat bersaf-saf di hadapan Tuhan mereka? Kami bertanya, "Bagaimanakah para malaikat bersaf-saf di hadapan Tuhan mereka? Beliau ﷺ bersabda, "Mereka menyempurnakan saf terdepan dan berhimpitan sejajar di dalam saf (mereka)." As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan sehubungan makna firman-Nya: dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya. (Ash-Shaffat: 2) Bahwa para malaikat tersebut adalah yang ditugaskan untuk menggiring awan (hujan).
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya. (Ash-Shaffat: 2) Yakni hal-hal yang dilarang oleh Allah ﷻ di dalam Al-Qur'an. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Malik, dari Zaid ibnu Aslam. Dan firman Allah ﷻ: dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. (Ash-Shaffat: 3) As-Saddi mengatakan bahwa para malaikat datang dengan membawa kitab dan Al-Qur'an dari sisi Allah kepada manusia. Ayat ini semakna dengan firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan. (Al-Mursalat: 5-6) Adapun firman Allah ﷻ: Sesungguhnya Tuhanmu benar- benar Esa. Tuhan langit dan bumi. (Ash-Shaffat: 4-5) Inilah yang dijadikan subjek pada sumpah di atas, yaitu bahwa Allah ﷻ itu tidak ada Tuhan selain Dia. Tuhan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. (Ash-Shaffat: 5) Yaitu semua makhluk yang ada di antara keduanya.
dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari. (Ash-Shaffat: 5) Artinya Dialah Raja Yang Mengatur semua makhluk dengan menundukkan semua bintang yang tetap dan bintang yang beredar yang ada padanya terbit dari arah timur dan tenggelam di arah barat. Dalam hal ini, tidak disebutkan lafaz al-maghrib karena cukup hanya dengan menyebutkan al-masyariq pengertian maghrib sudah mengikut di dalamnya. Tetapi, adakalanya disebutkan dengan jelas seperti yang terdapat pada firman-Nya: Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki Timur dan Barat, sesungguhnya Kami benar-benar maha Kuasa (Al-Maarij 40) Dan dalam ayat lain Allah ﷻ berfirman: Tuhan Yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan Yang memelihara kedua tempat terbenamnya. (Ar-Rahman:17) Yakni di musim dingin dan di musim panas, bagi mentari dan bulan.".
Bila pada akhir Surah Y's'n Allah menjelaskan keesaan dan kekuasaan-Nya pada hari Kiamat, pada permulaan surah ini Allah menegaskan bukti kekuasaan-Nya di alam raya. Demi rombongan malaikat yang berbaris bersaf-saf dengan rapi dalam melaksanakan tugas dan perintah Allah;2. demi rombongan malaikat yang mencegah dengan sungguh-sungguh pelaku tindakan menyimpang, dalam rangka menegakkan aturan dan keseimbangan alam;.
Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak kata-kata untuk bersumpah, yang maksudnya untuk menguatkan kesan yang diberikan dalam ayat-ayatnya. Kata-kata yang dipakai untuk bersumpah itu pastilah kata-kata yang mempunyai arti penting yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya, misalnya: "demi matahari", "demi malam", dan sebagainya.
Pada ayat ini, Allah berfirman, "Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf." Maksudnya ialah demi malaikat-malaikat yang berbaris dalam saf-saf yang lurus dan teratur, dalam melakukan ibadah dan tugas-tugas lain yang diperintahkan Allah. Hal ini mempunyai arti bahwa para malaikat selalu disiplin, teratur, dan rapi dalam melaksanakan tugas dari Allah. Rasulullah bersabda:
Rasulullah bersabda, " Mengapa kamu tidak berbaris seperti malaikat berbaris di hadapan Allah?" Kami bertanya, "Bagaimana berbarisnya malaikat di hadapan Allah?" Rasulullah menjawab, "Malaikat menyempurnakan barisan depan kemudian merapatkan dan merapikannya." (Riwayat Abu Dawud., Ibnu Majah, dan A.hmad dari Jabir bin Samurah).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH ASH-SHAAFFAAT
(YANG BERBARIS-BARIS)
SURAH KE-37
182 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
***
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
BARISAN MALAIKAT
Sebagaimana pada beberapa surah yang lain, maka di dalam permulaan surah ini, Allah berfirman tentang tentara Allah yang bernama malaikat itu. Di ayat pertama dari surah ini Allah telah menyatakan dengan memakai wawu qasam, sebagai sumpah yang berarti bahwa Allah ﷻ menyuruh kita menjuruskan perhatian kepada soal itu,
“Demi yang berbaris-baris sebenar-benar berbaris."
(ayat 1)
Dijelaskan dalam ayat ini bahwasanya malaikat itu berbaris sebenar berbaris. Bagai-mana cara barisannya, tidaklah dapat kita memastikan. Namun berbaris sebenar berbaris adalah menunjukkan kewaspadaan.
“Demi yang mencegah sebenar-benar mencegah."
(ayat 2)
Ialah guna mencegah gangguan dari ruh-ruh jahat yang akan dapat membahayakan.
“Demi yang membacakan peringatan."
(ayat 3)
Ada malaikat yang ditugaskan oleh Allah ﷻ mengantarkan peringatan (dzikran). Peringatan ialah wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada rasul-rasul dan nabi, dan terutama Nabi terakhir, Muhammad ﷺ
“Sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar Esa adanya “
(ayat 4)
Di sini jelaslah bahwa yang dimaksud dengan adz-Dzikra itu ialah Al-Qur'an. Dengan ayat ini Allah menyatakan, bahwa Dia telah menjamin memeliharanya dan menjaganya. Maka malaikat yang berbaris sebenar berbaris itu ialah yang khusus diperintahkan Allah menjaga dan mencegah jangan sampai perjalanan Jibril mengantarkan wahyu Ilahi terganggu di tengah perjalanan.
Selanjutnya isi Dzikr yang dikirimkan Allah ﷻ kepada Rasul-Nya itu, yang dibawa oleh Malaikat Jibril dikawal oleh barisan malaikat, sesudah menjelaskan bahwa Allah itu adalah Esa, tiada tuhan melainkan Allah, dijelaskan lagi,
‘Tuhan dari semua langit."
(pangkal ayat 5)
Semua langit kita ambil jadi arti dari samaawaati, banyak langit, bukan satu langit, bahkan yang diberitahukan selalu kepada kita ialah tujuh langit. "Dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, “ yaitu Allah ﷻ juga dari bumi ini. Yang kita berdiam di dalamnya dan termasuk dalam makhluk ciptaan-Nya.
“Dan Tuhan dari tempat-tempat terbitnya matahari."
(ujung ayat 5)
Karena hubungan kebudayaan yang rapat dengan Arab karena Islam, maka tempat terbit matahari pun telah kita namai menurut nama Arab, yaitu masyriq, sebagai timbalan dari bahasa kita sendiri; timur. Dan barat pun telah kita perkaya dengan maghrib. Namun di ujung ayat ini dijelaskan, bahwa Allah ﷻ adalah Allah juga dari tempat-tempat terbitnya matahari. Memberi paham kepada kita bahwa tempat terbit matahari bukanlah satu tempat saja, melainkan beberapa tempat. Masyaariq pun adalah kalimat yang menunjukkan banyak.
Itu pun dapat kita pahamkan. Karena memang tempatterbit matahari bukanlah pada satu tempat saja. Tegasnya ialah perputaran bumi mengedari matahari tidaklah di satu garis saja. Di musim dingin dia lebih miring dari utara, di musim panas dia lebih miring ke selatan. Tiap hari dia berangsur berubah-ubah, sehingga dapat dirasakan oleh orang yang suka merasakannya.
Sampai di ayat 5 inilah rangkaian dari ayat-ayat yang sebelumnya. Jibril menyampaikan dzikr kepada Rasul, Rasul menyampaikannya kepada manusia, bahwa Allah adalah Esa. Dialah Pencipta sekalian langit itu dan bumi juga. Perjalanan falak pun diatur oleh Allah ﷻ sendiri, sehingga tempat terbit matahari tidaklah tetap pada satu tempat. Dan untuk sampainya wahyu-wahyu kepada Rasul, Jibril tidaklah pergi sendirian, dia dikawal, dia memakai pengiring, dia dijaga oleh barisan-barisan malaikat.
Selanjutnya Allah ﷻ berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan perhiasan."
(pangkal ayat 6)
Ayat ini menarik perhatian manusia kepada adanya keindahan dalam alam ini. Di ayat ini perhatian ditujukan kepada langit, bahwa langit ada diberi perhiasan oleh Allah ﷻ,
“Yaitu bintang-bintang."
(ujung ayat 6)
Cara merenungkan alam di keliling kita, di muka dan di belakang, di atas dan di bawah adalah dengan mempergunakan dua macam peralatan diri yang sama pentingnya. Pertama dengan akal, kedua dengan perasaan. Dengan akal membawa kita kepada berpikir, dari mana ini, di mana ini dan ke mana akhirnya. Dengan perasaan melihat keindahan. Orang yang melihat bintang di langit dengan akal, sampai kepada ilmu pengetahuan astronomi, ilmu tentang bintang-bintang. Bahkan sampai kepada pengetahuan yang lebih meluas lagi, sampai mengetahui bahwa adalah di antara bintang-bintang itu yang beratus kali besarnya dari bumi kita ini. Sampai di sana mereka merasa takjub dengan Kebesaran Maha Penciptanya. Adapun dengan memakai perasaan manusia akan terharu melihat keindahan itu. Bagaimana kelap-kelipnya bintang-bintang di langit di tengah malam yang hening-sepi dapat menggetarkan hati, membuat hati terharu dan akhirnya sampai juga manusia kepada pengakuan atas adanya Jamaal (Yang Mahaindah), Kamaal (Yang Mahasempurna), dan Jalaal (Yang Mahamulia). Untuk akhirnya bertemu semua dalam iman. Sehingga kata-kata yang mulia, yaitu keindahan, kebenaran, dan keadilan adalah berbagai pernyataan saja (manifestasi) dari Yang Mutlak, yaitu Allah.
“Dan pemelihara dari tiap-tiap setan yang amat durhaka."
(ayat 7)
Maka dijelaskanlah dalam ayat ini, bahwa selain untuk menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang itu ada lagi kegunaannya yang lain oleh Allah ﷻ, yaitu untuk memelihara dan menjaga dari gangguan setan-setan yang durhaka. Karena di antara bumi dengan langit ini terbentanglah ruang angkasa yang luas. Yang kelihatan hanyalah awan berarak, kabut berbuhul, asap mendulang. Namun di balik yang kelihatan itu ada lagi makhluk-makhluk yang tidak kelihatan. Di antaranya ialah setan-setan atau ruh-ruh jahat, ruh-ruh yang tidak diterima di langit lalu berbegar-begar dalam ruang angkasa dunia ini. Mereka pun dapat 4saja mengganggu.
“Supaya tidak dapat dia dengar – dengarkan golongan tertinggi."
(pangkal ayat 8)
Golongan tertinggi ialah malaikat. Mereka terdiri dari nur, atau cahaya. Mereka diberi Allah berbagai tugas. Di antaranya ada yang bertugas mengatur penyampaian takdir yang telah ditentukan oleh Allah ﷻ buat seluruh isi bumi ini. Sampai kepada letusan gunung, aliran banjir, pasang naik dan turun, pertumbuhan tanam-tanaman, demikian juga pembagian ketentuan hari depan tiap-tiap manusia. Rahasia itu dipegang teguh. Dalam istilah ahli-ahli taﷺuf, alam mereka disebut ‘Alam Malakuut.
Adapun setan atau jin adalah termasuk golongan rendah, atau suflaa. Namun oleh karena mereka sejak semula adalah ruh jahat, terjadi dari gejala api, maksud jahat itu tidaklah terlepas. Mereka mau tahu saja apa yang tengah diatur di langit. Mereka pergi mengintip-intip, mendengar-dengarkan kalau ada berita. Maksudnya ialah hendak mereka sampaikan kepada manusia-manusia yang telah mereka pengaruhi, sehingga kadang-kadang terdengarlah pangkal kata, tetapi tidak mereka ketahui ujungnya. Atau dapat ujungnya saja, tidak mereka ketahui pangkal. Dalam mengintip-intip itu.
“Dan mereka ditempati dari tiap-tiap penjuru."
(ujung ayat 8)
“Untuk mengusir."
(pangkal ayat 9)
Sehingga dalam berita yang selalu tidak sempurna mereka lari tunggang balik dan banyak juga yang terbakar,
“Dan bagi meteka adalah adzab siksaan yang berkepanjangan."
(ujung ayat 9)
Kejahatan yang diperbuat adalah begitu besar. Memperdayakan manusia sudah jadi perbuatan setiap hari. Ini ditambah dengan kesalahan yang lebih besar, yaitu ngin menge-tahui rahasia rencana Allah ﷻ Maka siksaannya pun beratlah bagi setan itu, yaitu adzab yang kekal dalam neraka kelak. Padahal sebelumnya, ketika belum ada Kiamat, pikiran yang selalu jahat itu pun sudah adzab siksaan yang berketerusan, tidak pernah berniat baik.
“Kecuali mereka yang mencari sepotong-sepotong."
(pangkal ayat 10)
Artinya bahwa kadang-kadang dapat juga mereka mendengarkan rencana di langit itu, tetapi hanya sepotong-potong. Dapat pangkal, tidak dapat ujung. Dapat ujung, tidak dapat pangkal,
“Maka mereka akan diburu oleh meteor yang berkilat."
(ujung ayal 10)
Banyaklah tersebut hadits-hadits Nabi ﷺ menerangkan dari hal perburuan setan-setan mengintip itu dikejar oleh meteor, atau cirit bintang yang mengkilat cepat, sehingga usaha setan hendak mengetahui rahasia itu tidaklah berhasil. Bagaimana pun kekuatan mereka, namun kekuatan penjagaan malaikat lebih hebat lagi. Malaikatlah yang memanahkan meteor itu, yang kadang- kadang pecahannya jatuh pula ke bumi dan dapat kita lihat. Kadang-kadang berlubanglah bumi tempat jatuhnya itu agak dalam, karena sangat cepat kejatuhan itu. Maka berita-berita yang terpotong-potong itulah yang dikirimkan ke bumi, dibisikkan oleh setan tadi kepada anak buahnya, sebagaimana dukun-dukun kebatinan, yang dalam bahasa Jawa mereka namai wangsit, lalu mereka namai wahyu.
Berita-berita yang disampaikan setan itu adalah berita terpotong-potong, tidak ada pangkalnya atau tidak ada ujungnya. Oleh si dukun kebatinan, berita itu dipercayai, bahkan kadang-kadang mereka tambah-tambah dengan dusta yang lain. Maka bukan sedikit orang yang tertipu oleh wangsit-wangsit penemuan setan itu, sehingga seorang yang bernama ﷺito pada bulan September 1976 hampir saja mengacaukan negara Republik Indonesia, karena dia mengatakan telah lama mendapat wangsit bahwa dia telah ditentukan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, sehingga di mana-mana, lama sebelumnya, dia telah memperkenalkan dirinya sebagai capres yang berarti calon presiden. Akhirnya dia ditangkap setelah ternyata mengadakan penipuan tanda tangan dari orang-orang terkemuka yang tidak menyadari bahwa tanda tangan mereka dipergunakannya untuk menyokong maksudnya menggulingkan presiden yang sah.
Demikianlah orang-orang yang kurang teguh hubungannya dengan Allah. Mereka itu telah lebih didekati oleh setan dan Iblis, sehingga selalu diperdayakan. Namun orang kuat imannya dan ibadahnya, mencoba sedikit saja mendekati orang yang beriman, setan itu akan diusirnya jauh.
Tafsir of Surah As-Saffat
The angels witness to the Oneness of Allah
It was reported that Abdullah bin Mas`ud, may Allah be pleased with him, said:
وَالصَّافَّاتِ صَفًّا
By those ranged in ranks. --
they are the angels;
فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا
By those who drive the clouds in a good way.
they are the angels;
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا
By those who bring the Dhikr.
they are the angels;
This was also the view of Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, Masruq, Sa`id bin Jubayr, Ikrimah, Mujahid, As-Suddi, Qatadah and Ar-Rabi` bin Anas.
Qatadah said,
The angels form ranks in the heavens.
Muslim recorded that Hudhayfah, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلَثٍ جُعِلَتْ صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَيِكَةِ وَجُعِلَتْ لَنَا الاَْرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَجُعِلَ لَنَا تُرَابُهَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاء
We have been favored over the rest of mankind in three ways:
our ranks have been made like the ranks of the angels;
the entire earth has been made a Masjid for us;
and its soil has been made a means of purification for us if we cannot find water.
Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i and Ibn Majah recorded that Jabir bin Samurah, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَيِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ
Will you not form ranks as the angels form ranks in the presence of their Lord?
We said, `How do the angels form ranks in the presence of their Lord?'
He said:
يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُتَقَدِّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّف
They complete the rows nearer the front and they consolidate the rows.
As-Suddi and others said that the Ayah,
فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا
(By those who drive the clouds in a good way).
means that they drive the clouds.
فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا
(By those who bring the Dhikr). As-Suddi said,
The angels bring the Scriptures and the Qur'an from Allah to mankind.
The One True God is Allah
Allah says,
إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ
Verily, your God is indeed One, Lord of the heavens and the earth,
This is the One by Whom the oath is sworn, stating that there is no God worthy of worship but He, Lord of the heavens and the earth,
وَمَا بَيْنَهُمَا
and all that is between them,
means, of created beings.
وَرَبُّ الْمَشَارِقِ
and Lord of every point of the sun's risings.
means, He is the Sovereign Who is controlling His creation by subjugating it and all that is in it of stars, planets and heavenly bodies which appear from the east and set in the west.
Mentioning the east is sufficient and there is no need for the west to be mentioned too, because it is implied in what is said.
This has also been stated clearly elsewhere, in the Ayat:
فَلَ أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَـرِقِ وَالْمَغَـرِبِ إِنَّا لَقَـدِرُونَ
So I swear by the Lord of all the points of sunrise and sunset in the east and the west that surely We are able. (70:40)
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ
(He is) the Lord of the two easts and the Lord of the two wests. (55:17)
which refers to the rising and setting points of the sun and the moon in both winter and summer
The Adornment and Protection of the Heaven comes from Allah
Allah says,
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ
Verily, We have adorned the near heaven with the stars.
Allah tells us that He has adorned the lowest heaven with the heavenly bodies for those among the people of the earth who look at it. The stars and planets in the sky give light to the people of earth, as Allah says:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَأءَ الدُّنْيَا بِمَصَـبِيحَ وَجَعَلْنَـهَا رُجُوماً لِّلشَّيَـطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
And indeed We have adorned the nearest heaven with lamps, and We have made such lamps (as) missiles to drive away the Shayatin, and have prepared for them the torment of the blazing Fire. (67:5)
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّـهَا لِلنَّـظِرِينَ
وَحَفِظْنَـهَا مِن كُلِّ شَيْطَـنٍ رَّجِيمٍ
إِلاَّ مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُّبِينٌ
And indeed, We have put the big stars in the heaven and We beautified it for the beholders. And We have guarded it from every outcast Shaytan. Except him who steals the hearing then he is pursued by a clear flaming fire. (15:16-18)
And Allah says here
وَحِفْظًا
And to guard,
meaning, to protect as it should be protected,
مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ
against every rebellious Shaytan.
means, every insolent and impudent devil, when he wants to eavesdrop (on news in the heavens), a piercing fire comes and burns him.
Allah, may He be glorified, says
لَاا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَاِ الاْاَعْلَى
They cannot listen to the higher group,
meaning, they cannot reach the higher group -- which refers to the heavens and the angels in them -- when they speak of what has been revealed by Allah of His Laws and decrees.
We have already mentioned this when explaining the Hadiths quoted when we discussed the Ayah,
حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
(when fear is banished from their hearts, they say:What is it that your Lord has said They say:The truth. And He is the Most High, the Most Great. (34:23)
Allah says:
وَيُقْذَفُونَ
for they are pelted,
meaning, they are hit,
مِن كُلِّ جَانِبٍ
from every side.
means, from all directions from which they try to reach the heaven
دُحُورًا
Outcast,
means, they are rejected, and are repelled and prevented from reaching it, and they are pelted.
وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ
and theirs is a constant torment.
means, in the Hereafter, they will have an ongoing, everlasting and painful torment, as Allah says:
وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
and (We) have prepared for them the torment of the blazing Fire. (67:5
إِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ
Except such as snatch away something by stealing,
means, except for the one among the Shayatin who manages to get something, which is a word he has heard from the heaven. Then he throws it down to the one who is beneath him, who in turn throws it down to the one who is beneath him. Perhaps the flaming fire will strike him before he is able to throw it down, or perhaps he will throw it -- by the decree of Allah -- before the flaming fire strikes him and burns him. So the other devil takes it to the soothsayer, as we have seen previously in the Hadith.
Allah says:
إِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
Except such as snatch away something by stealing, and they are pursued by a flaming fire of piercing brightness.
meaning, shining brightly.
Ibn Jarir recorded that Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, said,
The Shayatin had places where they sat in the heavens listening to what was being revealed by Allah. The stars did not move and the Shayatin were not struck. When they heard the revelation, they would come down to earth and to every word they would add nine of their own. When the Messenger of Allah was sent, if a Shaytan wanted to take his seat in the heavens, the flaming fire would come and would not miss him; it would burn him every time. They complained about this to Iblis, may Allah curse him, and he said, `Something must have happened.' He sent his troops out and they found the Messenger of Allah standing in prayer between the two mountains of Nakhlah. -- Waki` said, This means in the valley of Nakhlah. -- They went back to Iblis and told him about that, and he said, `This is what has happened.
As-Saaffaat (Who Are Ranged in Ranks)
Meccan: it consists of 182 verses, revealed after [soorat] al-An'aam.
By those who are ranged in ranks - [by] the angels who range their souls in worship or their wings in the air awaiting their orders;
Commentary
Subjects of-the Surah
This Surah is Makki, that is, it was revealed in Makkah al-Mukarramah. Like other Makki Surahs, matters of faith have been taken up as its essential subject. In it, beliefs about Divine Oneness, the mission of messengers and the certain eventuality of the Hereafter have been fortified with proofs presented in various ways. As a corollary, a refutation of the beliefs of Mushriks as well as the scenes of Paradise and Hell also appear in the Surah. After providing rational support for beliefs that formed part of the call of the noble prophets (علیہم السلام) and after removing doubts and objections raised by disbelievers, the Surah describes how Allah Ta’ ala dealt with those who embraced these beliefs in the past and what was the fate of those who opted to take the road to denial and disbelief? Accordingly, in that wise, events relating to Sayyidna Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, Ilyas, Lut and Yunus (علیہم السلام) have been mentioned, briefly at some places and in details at others.
The Mushriks of Makkah used to call angels: Daughters of God. Towards the end, this belief has been refuted in details and an overall view of the Surah seems to indicate that the refutation of this particular kind of shirk (ascribing partners to the Divinity of Allah by declaring angels to be the daughters of God) has been kept in marked sight. Therefore, the Surah has been initiated with an oath taken in the name of angels combined with a declaration of the attributes of their servitude. وَاللہ سبحانہ و تعالیٰ اَعلَم (And Allah, who is Pure, knows best).
Tauhid: The Oneness of Allah is the first subject
The Surah has been initiated by a description of the belief in Tauhid, the Oneness of Allah and the real purpose of the first four verses is to state:إنَّ إِلَـٰهَكُمْ لَوَاحِدٌ (surely your God is but One - 37:4). But, before this is asserted, three oaths are sworn ahead of it. A simple literal translation of these oaths is given below: " (I swear) by those who stand in rows, [ 1] then by those who prevent firmly [ 2], then by those who recite the dhikr.
Who are these people identified as "those who stand in rows," then, "those who prevent firmly" and then, "those who recite the dhikr?" There is no clarification in the words of the noble Qur'an about it. Therefore, different views have been expressed to explain it. Some respected commentators say that these refer to living warriors who come out to wage Jihad in the way of Allah and who stand in rows after rows, so that they prevent the aggression of the forces of the false, and even when they file in readiness for combat, even then, they remain engaged in dhikr, tasbih and the recitation of the Qur'an as well.
Some others have said that they mean the performers of prayers who stand in rows in the Masjid and prevent Shaitanic thoughts denying access to them by means of a total concentration on dhikr and the recitation of the Qur'an (Tafsir Kabir and Qurtubi). Other than these, there are some explanations that do not bear much congruity with the actual words of the Qur'an.
But, the Tafsir or explanation which found the widest acceptance with the majority of commentators was that the reference here is to angels, and given here are three attributes credited to them:
1. The first attribute is: الصَّافَّاتِ صَفًّا (those who stand in rows). This expression comes from the word: صَفّ (saff) and it means 'to align some group on a straight line' (Qurtubi). Thus, it means precisely as it has been translated above.
That the angels stand in the formation of rows has also been mentioned later in this very Surah: وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ (and We, surely We are those who stand in rows - 37:165). When are these rows formed? In answer to that, some respected commentators - such as, Sayyidna lbn ` Abbas, Hasan al-Basri and Qatadah - have said that angels are always standing in their rows in space awaiting the command of their Lord, and when it comes, they carry it out (Mazhari). Some others particularize it with the time of worship, that is, when the angels are engaged in ` ibadah, dhikr and tasbih (worship, remembrance and glorification of Allah), they are in a row formation (Tafsir Kabir).
Discipline is desirable in Islam
From this verse, we learn that doing everything in an organized and disciplined manner and giving due consideration to order and skill in whatever we do is something expected of us and is certainly liked by Allah Ta’ ala;. It is obvious that the two objectives of the worship of Allah Ta’ ala and the implementation of His command might have as well been achieved if the angels, rather than form rows, could have assembled in the form of a disorganized mob. But, instead of being subjected to something so haphazard, they were given the taufiq or ability to make rows. Then, by mentioning this very attribute first out of their good attributes in this verse, it was pointed out that Allah Ta’ ala likes this style of propriety very much.
The importance of making rows come straight and right in Salah
So this is not for angels only. Human beings too have been induced to and bound with the need to make their rows straight and right during 'ibadah'. According to a narration of Sayyidna Jabir Ibn Samurah ؓ ، the Holy Prophet ﷺ said to him and those with him, "Why do you not align yourself in perfect rows (while offering Salah) as do the angels before their Lord?" The Sahabah asked, 'How do the angels form their rows before their Lord?' He said, "They complete the rows and stand compactly (that is, leave no gap in between the row)." (Tafsir Mazhari)
So many ahadith stressing on the need to make rows complete and keep them straight in Salah have appeared that they could fill an independent treatise on the subject. Sayyidna Abu Mas'ud al-Badri ؓ says that the Holy Prophet ﷺ would touch our shoulders with his blessed hand during Salah and say, "Stand straight, do not step ahead or fall behind, otherwise, it will cause dissension to creep up in your hearts." (Jam' al-Fawa'id, with reference to Muslim and an-Nasa'i, p. 91, v.1)