ٱلْكَهْف ٢٥
- وَلَبِثُواْ mereka berdiam
- فِي dalam
- كَهۡفِهِمۡ gua mereka
- ثَلَٰثَ tiga
- مِاْئَةٖ ratus
- سِنِينَ beberapa tahun
- وَٱزۡدَادُواْ dan mereka menambahkan
- تِسۡعٗا sembilan
Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.
(Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus) lafal Miatin dibaca dengan memakai harakat Tanwin pada akhirnya (tahun) berkedudukan sebagai 'Athaf Bayan yang dikaitkan dengan lafal Tsalaatsu Miatin. Perhitungan tiga ratus tahun ini berdasarkan hisab yang berlaku di kalangan kaum Ashhabul Kahfi, yaitu berdasarkan perhitungan tahun Syamsiah. Dan bila menurut hisab tahun Qamariah sebagaimana yang berlaku di kalangan orang-orang Arab, maka menjadi bertambah sembilan tahun, dan hal ini disebutkan di dalam firman selanjutnya, yaitu (dan ditambah sembilan tahun) yakni hisab yang tiga ratus tahun berdasarkan tahun Syamsiah dan hisab yang tiga ratus sembilan tahun berdasarkan tahun Qamariyah.
Tafsir Surat Al-Kahfi: 25-26
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun. Katakanlah, "Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua), kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya, tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan."
Ayat 25
Apa yang disebutkan dalam kedua ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah ﷻ kepada Rasul-Nya tentang lamanya waktu yang dijalani oleh para pemuda penghuni gua dalam gua mereka, sejak Allah menidurkan mereka hingga Allah membangunkan mereka sehingga orang-orang yang ada di masa itu dapat menjumpai mereka.
Disebutkan bahwa lamanya waktu itu adalah tiga ratus tahun lebih sembilan tahun menurut perhitungan tahun Qamariah. Sedangkan menurut tahun Syamsiah, waktu mereka adalah tiga ratus tahun. Karena perbedaan antara tahun Qamariah dan tahun Syamsiah adalah: Kalau tahun Syamsiah seratus tahun, persamaannya dalam perhitungan tahun Qamariahnya adalah seratus tiga tahun. Karena itulah sesudah disebutkan tiga ratus tahun, disebutkan pula oleh firman-Nya: "Dan ditambah sembilan tahun." (Al-Kahfi: 25)
Ayat 26
Firman Allah ﷻ : "Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua)’." (Al-Kahfi: 26)
Apabila kamu ditanya tentang berapa lama mereka tinggal di gua, sedangkan kamu tidak punya pengetahuan tentangnya dan tidak ada pula petunjuk dari Allah ﷻ yang menerangkannya kepadamu, maka janganlah kamu memberikan satu tanggapan pun, kecuali tanggapan semacam: "Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua), kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi." (Al-Kahfi: 26) Dengan kata lain, tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Dia dan orang yang diberitahu oleh-Nya dari kalangan makhluk-Nya.
Apa yang telah kami kemukakan sehubungan dengan tafsir ayat ini dikatakan oleh banyak kalangan ulama tafsir, seperti Mujahid dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf.
Qatadah berkata sehubungan dengan makna firman-Nya: "Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun." (Al-Kahfi: 25) hingga akhir ayat bahwa hal ini menyitir apa yang dikatakan oleh kaum Ahli Kitab, kemudian dijawab oleh Allah ﷻ melalui firman-Nya: "Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal (di gua)’." (Al-Kahfi: 26) Qatadah mengatakan bahwa menurut qiraat Abdullah ibnu Mas'ud disebut qalu (mereka berkata), bukannya qul (katakanlah!), artinya perkataan tersebut dikatakan oleh orang-orang.
Demikianlah menurut pendapat Qatadah dan Mutharrif bin Abdullah. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Qatadah ini masih bisa dipertanyakan kebenarannya, karena sesungguhnya menurut berita yang ada di tangan orang-orang Ahli Kitab, ashabul kahfi tinggal selama tiga ratus tahun tanpa tambahan sembilan tahun, menurut perhitungan tahun syamsiah, sekalipun Allah telah menceritakan pendapat mereka melalui firman-Nya: "Dan ditambah sembilan tahun." (Al-Kahfi: 25) Menurut makna lahiriah, sesungguhnya hal ini hanyalah pemberitaan dari Allah, bukan mengisahkan ucapan mereka. Demikianlah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Adapun riwayat Qatadah dan qiraat Ibnu Mas'ud bersifat munqati', kemudian riwayat tersebut berpredikat sya'z (menyendiri) bila dibandingkan dengan qiraat jumhur ulama, karenanya qiraat Ibnu Mas'ud tidak dapat dijadikan pegangan sebagai hujah (argumen).
Firman Allah ﷻ : "Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya." (Al-Kahfi: 26)
Artinya sesungguhnya Allah benar-benar Maha Melihat lagi Maha Mendengar tentang mereka. Ibnu Jarir mengatakan bahwa ungkapan ini merupakan ungkapan pujian yang maksimal. Seakan-akan dikatakan bahwa alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya. Dengan kata lain, takwil kalimat adalah sebagai berikut: Alangkah terang penglihatan Allah kepada semua yang ada, dan alangkah tajam pendengaran Allah terhadap semua yang didengar, tiada satu pun yang tersembunyi bagi-Nya dari hal tersebut.
Kemudian diriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: "Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya." (Al-Kahfi: 26) Maka tidak ada seorang pun yang lebih terang penglihatannya dan tidak ada pula seorang pun yang lebih tajam pendengarannya daripada Allah.
Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya." (Al-Kahfi: 26) Allah melihat semua perbuatan mereka dan mendengar hal tersebut dari mereka dengan pendengaran yang disertai dengan penglihatan.
Firman Allah ﷻ : "Tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan." (Al-Kahfi: 26)
Maksudnya sesungguhnya Allah ﷻ itu Yang menciptakan dan Yang menentukan keputusan; tiada yang mempertanyakan tentang keputusan-Nya, tiada pembantu, tiada penolong, tiada sekutu, dan tiada penasihat bagi-Nya. Dia Maha Tinggi lagi Maha Suci.
Setelah memberikan tuntunan kepada Nabi Muhammad, ayat ini
meneruskan kembali kisah penghuni gua. Dan mereka tinggal dalam gua
dalam keadaan tertidur di dalamnya selama tiga ratus tahun menurut
perhitungan tahun Syamsiah yang digunakan kaum Yahudi dan Nasrani
dan ditambah sembilan tahun jika dihitung menurut perhitungan tahun
Qamariah yang digunakan oleh penduduk negeri Mekah saat itu. Katakanlah kepada siapa yang tidak percaya atau membantah keterangan ini, Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal di dalam gua; betapa tidak, sebab
milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi, tidak ada sesuatu
pun yang terluput dari pengetahuan-Nya. Alangkah terang penglihatan-Nya terhadap segala sesuatu dan alangkah tajam pendengaran-Nya
terhadap suara; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka penduduk
langit maupun bumi selain Dia Yang Mahakuasa atas segala sesuatu; dan
Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan
keputusan, sebab Dia tidak membutuhkan siapa pun menjadi sekutu
bagi-Nya.
Allah lalu menjelaskan tentang berapa lama Ashhabul Kahf tinggal dalam gua sesudah ditutup pendengaran mereka. Mereka tidur dalam gua itu selama tiga ratus tahun menurut perhitungan ahli kitab berdasarkan tahun matahari (syamsiah) atau tiga ratus tahun lebih sembilan tahun menurut perhitungan orang Arab berdasar bilangan tahun bulan (qamariah).
Penjelasan Allah tentang berapa lama Ashhabul Kahf tidur di dalam gua merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad. Beliau tidak belajar ilmu falak tapi mengetahui selisih hitungan sembilan tahun antara perhitungan dengan sistem matahari selama 300 tahun dengan sistem perhitungan tahun bulan. Setiap seratus tahun matahari, tiga tahun selisih hitungannya dengan tahun bulan. Setiap tiga puluh tahun matahari, selisih hitungannya satu tahun dengan tahun bulan dan setiap satu tahun matahari berselisih sebelas hari dengan tahun bulan.
Pengetahuan di atas tentu datang dari Allah. Allah pula yang mengalih-kan perhatian manusia kepada keindahan yang terdapat di permukaan bumi seperti matahari, cahaya bulan, dan segala keindahan yang ditimbulkan oleh sinar matahari itu. Pertukaran musim melahirkan berbagai keindahan, dan pertukaran musim itu sendiri disebabkan perubahan letak matahari. Demi-kian pula tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, yang beraneka ragam dalam hidupnya, tergantung kepada sinar matahari yang dipancarkan ke bumi. Nabi Muhammad ﷺ diutus kepada umat manusia agar menerangkan bahwa mempelajari segala keindahan yang ada di bumi ini lebih mendekat-kan diri kepada kebenaran dan keesaan Allah. Penciptaan alam raya ini lebih rumit daripada penciptaan manusia itu sendiri. Allah berfirman:
Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Gafir/40: 57).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Mereka akan berkata, “Mereka itu tiga orang, yang keempat ialah anjing mereka."
(pangkal ayat 22)
Artinya ada satu golongan yang akan mengemukakan taksiran mereka, atau kabarnya konon yang mereka terima bahwa penduduk gua itu tiga orang, berempat dengan anjingnya."Dan berkata pula mereka (yang lain); Lima orang, yang keenam anjing mereka." Mereka ini pun mempertahankan bahwa orang itu berlima, berenam dengan anjing. Kedua bilangan yang mereka kemukakan ini adalah rajman bilghaibi saja, artinya menebak-nebak tentang hal yang gaib. Sebab tidak ada di antara mereka yang datang sendiri ke gua itu buat menyelidiki. Mereka hanya menerima kabar dari orang ke orang saja. Apatah lagi waktunya telah lama berlalu, dan letak gua itu pun tidak ada di antara mereka yang mengetahuinya pasti,
“Dan berkata lagi mereka (yang lain); “Bertujuh, dan yang kedelapan ialah anjing mereka." Perkataan yang ketiga ini pun dikeluarkan oleh yang mengata-kannya berdasar kepada pendengaran dari orang ke orang juga. Cuma ahli tafsir, seperti Ibnu Abbas, membesarkan kemungkinan bahwa kata yang ketiga inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, yang diterangkan dengan wahyu. Sebab sesudah diuraikan kata pertama (bertiga, berempat dengan anjing) dan kata kedua (berlima, berenam dengan anjing) dikatakan bahwa perkataan itu hanya menebak-nebak hal yang gaib. Sesudah itu baru diberikutkan kata ketiga, “bertujuh, danyang kedelapan ialah anjingnya." Tetapi penaksiran ahli tafsir itu belum jugalah dapat dijadikan kepastian. Sebab lanjutan ayat ialah “Katakanlah (Hai Rasul!) Tuhankulah yang lebih tahu dengan bilangan mereka, tidak ada yang mengetahui berapa mereka kecuali sedikit." Yang sedikit itu tentulah orang yang hidup pada masa itu, yang turut ziarah ke dalam gua itu, termasuk raja negeri itu, dan mereka sekarang sudah tak ada lagi. Atau yang sedikit itu ialah Rasulullah sendiri. Tetapi beliau dilarang Allah turut mempertengkarkan bilangan mereka sebab yang demikian itu hanyalah akan menghabiskan waktu belaka, sebab ilmunya tidak berdasar kepada penyelidikan (riset) yang tertentu. Sehingga kalau dipertengkarkan juga, tidaklah akan ada kesu-dahannya."Oleh karena itu janganlah engkau (turut) bertengkar tentang mereka." Inilah satu tuntunan bagi Rasul dan bagi umat yang beriman, jangan membuang-buang waktu mempertengkarkan hal yang tidak ada alasan dan pertahanan dan bukti-bukti."Melainkan pertengkaran yang jelas." Artinya bertengkar atau bertukar pikirari tidaklah dilarang, asal soalnya dapat diselesaikan dengan baik untuk mendudukkan kebenaran. Yang terang hanyalah memang ada penghuni gua itu. Itu boleh diperkatakan! Adapun berapa bilangan isinya, pertama diperdebatkan.
“Dan tak asahlah engkau beritanya tentang mereka itu, kepada seorang jua pun."
(ujung ayat 22)
Tegasnya, Nabi ﷺ pun tak perlu bertanya kepada siapa-siapa tentang berapa jumlah orang-orang yang tidur dalam gua itu. Karena tidak akan ada jawaban yang pasti. Kalau mereka jawab juga, hanya akan membuka pintu bagi mereka membuat dongeng dan khayat saja.
Berdasar kepada ayat-ayat ini sendiri maka kalau ada di dalam kitab-kitab pedukunan nama-nama penghuni gua itu, pandang sajalah nama-nama itu sebagai khayat yang tak ada dasarnya. Ada setengah tafsir menuliskan juga nama-nama mereka. Untuk memperlengkap Tafsir al-Azhar kita ini, tetapi tidak untuk memercayainya, kita salinkan nama-nama itu.
1. Yamlikha (yang diutus membeli makanan ke kota).
2. Marthunus.
3. Kastunus.
4. Berirunus.
5. Darimus.
6. Yathubunus.
7. Kalus.
Dan ada pula yang menambahkan satu nama lagi, yaitu Maxalamina. Dan nama anjingnya Hamran. Ibnu Katsir berkata, “Nama-nama ini dan nama anjingnya tidaklah dijamin shahih atau tidak! Sebab semuanya itu diterima dari ahlul-kitab saja." Dari keterangan Rasulullah ﷺ sendiri tak ada.
Biasa dukun-dukun menuliskan nama-nama itu pada kain putih diletakkan di tempat yang tersembunyi untuk menjaga rumah, sehingga maling takut memasuki pekarangan rumah itu. Entah ia, entah tidak!
Teranglah di sini bahwa yang penting kita tilik dari cerita ini bukanlah bilangan orang bertiga, atau berlima, atau bertujuh, diertai anjingnya. Yang penting kita ingati di sini ialah keteguhan iman, persamaan keyakinan, persaudaraan yang padu karena sama pendirian. Kalau benar bahwa mereka itu adalah anak raja-raja, anak orang besar, dapatlah kita mengambil i'tibar bagaimana kukuhnya keyakinan mereka, sehingga mau mereka meninggalkan hidup mewah, karena tempat yang aman memelihara iman yang telah tumbuh dalam jiwa.
Kemudian itu sambil lalu Allah memberi peringatan kepada Rasul-Nya,
“Dan sekali-kali janganlah engkau berkata tentang sesuatu hal bahwa aku akan berbuat sedemikian besok."
(ayat 23)
Artinya jika engkau menghadapi suatu urusan atau mengikat suatu janji, janganlah engkau memberikan kata pasti, bahwa urusan atau janji itu akan engkau penuhi beresok. Karena apa yang akan kejadian beresok itu, bukanlah di dalam tanganmu. Di atas sesuatu yang engkau rencanakan ada lagi rencana yang lebih besar dan lebih kuat kuasa, yaitu rencana Allah.
“Kecuali bahwa dikehendaki oteh Allah."
(pangkal ayat 24)
sebagai sambungan dari ayat 23. Yaitu alaslah segala janjimu itu dengan in syaa Allah, jangan engkau pastikan saja. Karena engkau tidaklah mempunyai daya upaya buat menolak sesuatu yang telah ditentukan Allah terlebih dahulu.
Menurut keterangan dari ahli-ahli tafsir, sebagai yang telah kita uraikan pada permulaan sebab turunnya ayat ini, orang Quraisy atau Yahudi meminta keterangan kepada beliau apakah yang dikatakan ruh itu, dan bagaimana kisahnya penghuni gua dan siapakah yang mengembara ke barat dan ke timur itu. Maka Rasulullah berjanji akan menjawabnya beresok, karena mengharap nanti malam Jibril akan datang membawa wahyu. Rupanya Jibril tidak datang-datang sampai lima belaa hari lamanya. Kekesalan menunggu lima belas hari itu dapatlah dipahami, untuk jadi pengajaran lain kali supaya jangan mengikat janji pasti, tetapi hendaklah beri ikatan dengan kalimat in syaa Allah. Sebab kekuasaan tertinggi adalah di tangan Allah."Dan ingatlah (kembali) Tuhanmu jika engkau lupa."
Dengan peringatan yang sedikit ini, Allah menyuruh Rasul-Nya mengingatnya kembali apabila dia lupa, dapatlah memaklumi kelemahan kita sebagai manusia. Seumpama kita dalam shalat diwajibkan khusyu. Namun kadang-kadang kita dalam shalat itu lupa juga kepada Allah dan teringat juga kepada yang lain. Lalu kita disuruh kembali kepada haluan yang kita tuju."Dan katakanlah,
“Mudah-mudahan kiranya memberi petunjuk Tuhanku kepadaku, kepada sesuatu yang lebih dekat dari ini kebenarannya."
(ujung ayat 24)
Kerapkali memang kita terlupa dan ter-lalai. Lupa bukanlah hal yang disengaja. Apabila biduk kita berlayar mengarungi danau atau sungai yang luas, kita sudah memastikan tujuan yang kita tempuh. Tetapi di tengah jalan kita akan bertemu dengan halangan yang sudah pasti akan membelokkan haluan biduk kita dari yang dituju; adakalanya karena biduk melawan angin, adakalanya karena arus terlalu deras. Tetapi selalu kita berpirau, selalu kita berusaha memegang kemudi dengan teguh untuk membawa haluan biduk itu kepada yang dituju. Demikianlah misalnya kita menempuh hidup ini menuju tujuan yang ditentukan Allah. Lantaran itulah maka selalu kita hendaknya memohonkan kekuatan yang langsung diberikan oleh Allah sendiri, diberinya kita petunjuk, sehingga kita sampai kepada sesuatu garis yang ditentukan Allah, yang lebih dekat kepada kebenaran.
Dengan ayat ini dan beberapa ayat yang lain kita mendapat pelajaran bahwa kekhilafan atau kealpaan yang tidak disengaja terjadi juga pada diri nabi-nabi dan rasul-rasul. Sebab itu maka ulama-ulama ahli sunnah se-pendapat bahwa kealpaan yang berkecil itu tiada mustahil bagi seorang nabi. Yang mustahil ialah jika seorang nabi atau rasul berbuat dosa besar! Namun demikian kealpaan yang kecil itu pun ditegur dengan halus oleh Allah. Kealpaan mengucapkan Insya Allah saja buat peneguh janji sudah ditegur. Namun, bagi rasul-rasul dan nabi kealpaan kecil itu amat besar artinya.
Demikianlah tersebut dalam sebuah ha-dits yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim yang dirawikan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi kita ﷺ bercerita, “Bahwa pada suatu malam Nabi Sulaiman bin Dawud berazam hendak menyetubuhi istrinya yang 70 (ada riwayat mengatakan 90 dan ada yang mengatakan 100 orang), dengan rencana satu istri melahirkan seorang anak laki laki dan setelah anak itu dewasa kelak dia akan menjadi prajurit yang berjuang pada Sabilillah. Maka lupalah beliau mengucapkan kalimat Insya Allah! Maka disetubuhinyalah istri-istrinya itu bergiliran. Tetapi yang kejadian adalah di luar rencana beliau. Tidak ada istri itu yang bunting di masa itu, kecuali seorang. Dan setelah istri itu melahirkan anak, ternyata anak itu hanya separuh sifatnya sebagai manusia." (Mungkin bodoh atau pandir). Maka bersabdalah Nabi kita ﷺ, “Demi Tuhan yang aku ini adalah di dalam tangan kekuasaan-Nya, sekiranya Sulaiman di waktu merencanakan itu menyebut in syaa Allah, niscaya akan tercapailah apa yang dia cita-citakan."
“Dan tinggallah mereka itu di dalam gua mereka tiga ratus tahun."
(pangkal ayat 25)
Yaitu menurut perhitungan tahun Syam-siyah, hisab perhitungan edaran matahari yang berjumlah setahun 365 hari.
“Dan mereka tambah sembilan (lagi)."
(ujung ayat 25)
Artinya 300 tahun menurut hitungan perjalanan matahari yang setahun 365 hari, men-jadilah ditambah sembilan tahun lagi, menjadi 309 tahun bila dihitung dengan hisab perjalanan bulan yang setahun 354 hari.
Disebut dalam ayat ini kedua bilangan ini, Syamsiyah (Matahari) dan Qamariyah (bulan), karena pada masa Nabi ﷺ bilangan hisab itu terpakai di dalam memperkatakan penghuni Kahfi itu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani memakai takwim syamsiyah karena pengaruh kekuasaan Romawi Timur yang ada di sebelah utara Tanah Arab, yaitu Tanah Syam, Mosopotami, dan Palestina. Sedang orang Arab sejak dahulu memakai perhitungan hisab qamariyah.
Kemudian datanglah sambungan ayat,
“Katakanlah, “Allah-lahyang lebih tahu berapa lama mereka tinggal (di sana)"
(pangkal ayat 26)
Pada ayat 25 di atas itu Allah telah memberitahukan berapa lamanya penghuni-penghuni Kahfi itu tidur di sana, yaitu 300 tahun Syamsiyah, tambah 9 tahun kalau dihitung menurut Qamariyah. Itulah hitungan yang betul. Maka jika ada lagi orang yang mengemukakan hitungan yang lain, lebih dari 300 atau 309 tahun, atau kurang dari itu, tidak juga dapat diterima lagi. Sebab mereka tidak dapat mengemukakan bukti-bukti atau data dan fakta yang terperinci. Keterangan dari Allah yang berupa wahyu inilah yang benar."Bagi-Nyalah kegaiban yang di sekalian langit dan bumi." Sedang pengetahuan kita manusia tidaklah dapat menyeruak kepada masa yang telah berlalu dan tidak pula mempunyai upaya mengetahui apa yang akan terjadi beresok. jangankan untuk mengetahui langit yang berlapis-lapis itu, sedangkan bumi yang kita diami ini pun tidaklah sanggup kita mengetahuinya semua, “Alangkah terang Dia Melihat, dan alangkah jelas Dia Mendengar." Bagi-Nya sama yang terdahulu dengan yang terkemu-dian, karena Dia adalah pula bersifat Muhith, artinya meliputi akan segala ruang dan segala waktu."Tidak ada bagi mereka selain Dia, akan Pelindung."
Qatadah mengatakan, “Tidak ada yang lebih melihat dan tidak ada yang lebih men-dengar, melebihi Allah. Oleh sebab itu insaflah hendaknya orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain. Bahwa tidak ada yang lain dari Allah mempunyai penglihatan menembus segala yang gaib, atau pendengaran menyeruak tempat yang jauh. Dia Yang Men-ciptakan, Dia Yang Mengatur, Dia Yang Memerintah. jangan lagi berlindung kepada yang lain. Ambillah perbandingan dengan penghuni gua Kahfi itu. Siapa pelindung mereka, kalau bukan Allah"
“Dan Dia tidak bersekutu di dalam hukum-Nya dengan seorang jua pun."
(ujung ayat 26)
Dengan ayat 26 inilah dikunci kisah penghuni Kahfi, yang karena keimanan mereka bahwa tidak ada sekutu bagi Allah Yang Maha-tunggal Maha Esa! Itulah pendirian dan Aqidah yang telah mereka pilihi, dan mereka bersedia lebur untuk itu. Dan ini pula kembali yang diperjuangkan oleh Muhammad ﷺ sebagai penutup dari sekalian rasul. Dan menjadi pengajaran pula bagi angkatan muda yang datang di belakang. Bersedia mengurbankan kemewahan dan kepentingan diri sendiri, untuk mempertahankan keyakinan hidup itu.
"How the People of the City came to know about Them; building a Memorial over the Cave
Allah tells:
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ
And thus We made their case known,
means, `We caused the people to find them.'
لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا
that they might know that the promise of Allah is true, and that there can be no doubt about the Hour.
Several scholars of the Salaf mentioned that the people of that time were skeptical about the Resurrection.
Ikrimah said:
""There was a group of them who said that the souls would be resurrected but not the bodies, so Allah resurrected the people of the Cave as a sign and proof of resurrection.""
They mentioned that when they wanted to send one of their members out to the city to buy them something to eat, he disguised himself and set out walking by a different route, until he reached the city, which they said was called Daqsus.
He thought that it was not long since he left it, but in fact century after century, generation after generation, nation after nation had passed, and the country and its people had changed. He ﷺ no local landmarks that he recognized, and he did not recognize any of the people, elite or commoners. He began to feel confused and said to himself,
""Maybe I am crazy or deluded, maybe I am dreaming.""
Then he said, ""By Allah, I am nothing of the sort, what I know I ﷺ last night was different from this.""
Then he said, ""I had better get out of here.""
Then he went to one of the men selling food, gave him the money he had and asked him to sell him some food. When the man ﷺ the money he did not recognize it or its imprint, so he passed it to his neighbor and they all began to pass it around, saying, ""Maybe this man found some treasure.""
They asked him who he was and where he got this money. Had he found a treasure! Who was he!
He said, ""I am from this land, I was living here yesterday and Decianus was the ruler.""
They accused him of being crazy and took him to the governor who questioned him about his circumstances, and he told him. He was confused about his situation. When he told them about it, they -- the king and the people of the city -- went with him to the cave, where he told them, ""Let me go in first and let my companions know.""
It was said that the people did not know how he entered it, and that the people did not know about their story.
It was also said that they did enter the cave and see them, and the king greeted them and embraced them. Apparently he was a Muslim, and his name was Tedosis.
They rejoiced at meeting him and spoke with him, then they bid farewell to him and went back to sleep, then Allah caused them to die. And Allah knows best.
وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ
And thus We made their case known,
meaning, `just as We caused them to sleep then woke them up physically intact, We made their story known to the people of that time.'
لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ
that they might know that the promise of Allah is true, and that there can be no doubt about the Hour. (Remember) when they (the people) disputed among themselves about their case,
meaning, about Resurrection.
Some believed in it and some denied it, so Allah made their discovery of the people of the cave evidence either in their favor or against them.
فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ
they said:""Construct a building over them; their Lord knows best about them,""
meaning, seal the door of their cave over them, and leave them as they are.
قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا
those who won their point said:""We verily, shall build a place of worship over them.""
Those who said this were the people of power and influence, but were they good people or not; there is some debate on this point, because the Prophet said:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَايِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِد
Allah has cursed the Jews and the Christians who took the graves of their Prophets and righteous people as places of worship.
Warning against what they did.
We have reported about the Commander of the faithful Umar bin Al-Khattab that;
when he found the grave of Danyal (Daniel) in Iraq during his period of rule, he gave orders that news of this grave should be withheld from the people, and that the inscription containing mention of battles etc., that they found there should be buried
Their Number
Allah tells:
سَيَقُولُونَ ثَلَثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُم
They say they were three, the dog being the fourth among them; and they say they were five, the dog being the sixth, guessing at the unseen; and they say they were seven, and the dog being the eighth.
Allah tells us that people disputed over the number of the people of the Cave. The Ayah mentions three views, proving that there was no fourth suggestion. Allah indicates that the first two opinions are invalid, by saying,
رَجْمًا بِالْغَيْبِ
(guessing at the unseen), meaning that they spoke without knowledge, like a person who aims at an unknown target -- he is hardly likely to hit it, and if he does, it was not on purpose.
Then Allah mentions the third opinion, and does not comment on it, or He affirms it by saying,
وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ
(and the dog being the eighth), indicating that this is correct and this is what happened.
سَيَقُولُونَ ثَلَثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ
قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم
Say:""My Lord knows best their number...""
indicating that the best thing to do in matters like this is to refer knowledge to Allah, because there is no need to indulge in discussing such matters without knowledge. If we are given knowledge of a matter, then we may talk about it, otherwise we should refrain.
مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلاَّا قَلِيلٌ
none knows them but a few.
of mankind.
Qatadah said that Ibn Abbas said:
""I am one of the few mentioned in this Ayah; they were seven.""
Ibn Jurayj also narrated that Ata' Al-Khurasani narrated from him,
""I am one of those referred to in this Ayah,""
and he would say:""Their number was seven.""
Ibn Jarir recorded that Ibn Abbas said:
مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلاَّا قَلِيلٌ
(none knows them but a few),
""I am one of the few, and they were seven.""
The chains of these reports narrated from Ibn Abbas, which say that they were seven, are Sahih, and this is in accordance with what we have stated above.
فَلَ تُمَارِ فِيهِمْ إِلاَّ مِرَاء ظَاهِرًا
So debate not except with the clear proof.
meaning, gently and politely, for there is not a great deal to be gained from knowing about that.
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَدًا
And consult not any of them (about the people of the Cave).
meaning, `They do not have any knowledge about it except what they make up, guessing at the unseen; they have no evidence from an infallible source. But Allah has sent you, O Muhammad, with the truth in which there is no doubt or confusion, which is to be given priority over all previous books and sayings.
Saying ""If Allah wills"" when determining to do Something in the Future
Allah says:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا
إِلاَّ أَن يَشَاء اللَّهُ
And never say of anything, ""I shall do such and such thing tomorrow."" Except (with the saying), ""If Allah wills!""
Here Allah, may He be glorified, shows His Messenger the correct etiquette when determining to do something in the future; this should always be referred to the will of Allah, the Knower of the Unseen, Who knows what was and what is yet to be and what is not to be, and how it will be if it is to be.
It was recorded in the Two Sahihs that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said:
قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ لَااَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً وَفِي رِوَايَةٍ تِسْعِينَ امْرَأَةً وَفِي رِوَايَةٍ مِايَةِ امْرَأَةٍ تَلِدُ كُلُّ امْرَأَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللهِ
فَقِيلَ لَهُ وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ لَهُ الْمَلَكُ قُلْ إِنْ شَاءَ اللهُ فَلَمْ يَقُلْ
فَطَافَ بِهِنَّ فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلاَّ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ
فَقَالَ رَسُولُ الله
صلى الله عليه وسلّم
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللهُ لَمْ يَحْنَثْ وَكَانَ دَرَكًا لِحَاجَتِه
وَفِي رِوَايَةٍ
وَلَقَاتَلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ فُرْسَانًا أَجْمَعُون
Suleiman bin Dawud (peace be upon them both) said:""Tonight I will go around to seventy women (according to some reports, it was ninety or one hundred women) so that each one of them will give birth to a son who will fight for the sake of Allah.""
It was said to him, (according to one report, the angel said to him) ""Say:`If Allah wills'"", but he did not say it.
He went around to the women but none of them gave birth except for one who gave birth to a half-formed child.
The Messenger of Allah said,
By the One in Whose hand is my soul, had he said, ""If Allah wills,"" he would not have broken his oath, and that would have helped him to attain what he wanted.
According to another report,
They would all have fought as horsemen in the cause of Allah.
At the beginning of this Surah we discussed the reason why this Ayah was revealed:when the Prophet was asked about the story of the people of the Cave, he said, ""I will tell you tomorrow."" Then the revelation was delayed for fifteen days. Since we discussed this at length at the beginning of the Surah, there is no need to repeat it here.
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
And remember your Lord when you forget,
It was said that this means, if you forget to say ""If Allah wills"", then say it when you remember.
This was the view of Abu Al-`Aliyah and Al-Hasan Al-Basri.
Hushaym reported from Al-A`mash from Mujahid that concerning a man who swears an oath, Ibn Abbas said
""He may say `If Allah wills' even if it is a year later.""
Ibn Abbas used to interpret this Ayah:
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
(And remember your Lord when you forget) in this way.
Al-A`mash was asked, ""Did you hear this from Mujahid?""
He said, ""Layth bin Abi Salim told it to me.""
The meaning of Ibn Abbas' view, that a person may say ""If Allah wills"", even if it is a year later, is;
that if he forgets to say it when he makes the oath or when he speaks, and he remembers it later, even a year later, the Sunnah is that he should say it, so that he will still be following the Sunnah of saying ""If Allah wills"", even if that is after breaking his oath.
This was also the view of Ibn Jarir, but he stated that this does not make up for breaking the oath or mean that one is no longer obliged to offer expiation.
What Ibn Jarir said is correct, and it is more appropriate to understand the words of Ibn Abbas in this way.
And Allah knows best.
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا
إِلاَّ أَن يَشَاء اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
And never say of anything, ""I shall do such and such thing tomorrow."" Except (with the saying), ""If Allah wills!"" And remember your Lord when you forget,
At-Tabarani recorded that Ibn Abbas said that this meant saying,
""If Allah wills.""
وَقُلْ عَسَى أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لاَِقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
and say:""It may be that my Lord guides me to a nearer way of truth than this.""
meaning, `if you (O Prophet) are asked about something you know nothing about, ask Allah about it, and turn to Him so that He may guide you to what is right.'
And Allah knows best
The Length of their Stay in the Cave
Allah says:
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَثَ مِايَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
And they stayed in their cave three hundred years, adding nine.
Here Allah tells His Messenger the length of time the people of the Cave spent in their cave, from the time when He caused them to sleep until the time when He resurrected them and caused the people of that era to find them. The length of time was three hundred plus nine years in lunar years, which is three hundred years in solar years. The difference between one hundred lunar years and one hundred solar years is three years, which is why after mentioning three hundred, Allah says, `adding nine.'
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
Say:""Allah knows best how long they stayed...""
`If you are asked about how long they stayed, and you have no knowledge of that and no revelation from Allah about it, then do not say anything. Rather say something like this:
اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضِ
""Allah knows best how long they stayed. With Him is (the knowledge of) the Unseen of the heavens and the earth.""
meaning, no one knows about that except Him, and whoever among His creatures He chooses to tell.
What we have said here is the view of more than one of the scholars of Tafsir, such as Mujahid and others among the earlier and later generations.
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَثَ مِايَةٍ سِنِينَ
And they stayed in their cave three hundred years,
Qatadah said, this was the view of the People of the Book, and Allah refuted it by saying:
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا
Say:""Allah knows best how long they stayed...""
meaning, that Allah knows better than what the people say.
This was also the view of Mutarraf bin `Abdullah.
However, this view is open to debate, because when the People of the Book said that they stayed in the cave for three hundred years, without the extra nine, they were referring to solar years, and if Allah was merely narrating what they had said, He would not have said,
وَازْدَادُوا تِسْعًا
(adding nine).
The apparent meaning of the Ayah is that Allah is stating the facts, not narrating what was said.
This is the view of Ibn Jarir (may Allah have mercy on him). And Allah knows best.
أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ
How clearly He sees, and hears (everything)!
He sees them and hears them.
Ibn Jarir said,
""The language used is an eloquent expression of praise.""
The phrase may be understood to mean, how much Allah sees of everything that exists and how much He hears of everything that is to be heard, for nothing is hidden from Him!
It was narrated that Qatadah commented on this Ayah:
أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ
(How clearly He sees, and hears (everything)!),
""No one hears or sees more than Allah.""
مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَاا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
They have no protector other than Him, and He makes none to share in His decision and His rule.
meaning, He, may He be glorified, is the One Who has the power to create and to command, the One Whose ruling cannot be overturned; He has no adviser, supporter or partner, may He be exalted and hallowed."
And they tarried in the Cave three hundred (read [with tanween] thalaathami'atin) years (sineen is an explicative supplement to thalaathami'atin, 'three hundred'): these three hundred years in the case of the People of the Cave were solar years; but for [the number of] lunar ones, the Arabs add nine years thereto, and this is mentioned in His saying: and add nine, that is, nine years; in other words three hundred solar years, while three hundred and nine lunar ones.
As for the period of sleep in the Cave given as three hundred nine years in the third verse (27), this statement concerning the time duration, as evident from the sequential arrangement of the Qur’ an, is but from Allah Ta’ ala. Ibn Kathir has declared this to be the position of the majority of commentators, earlier and later. Abu Hayyan and al-Qurtubi have also adopted this view. But, they have also reported another saying from Qatadah and others. It holds that this statement of three hundred nine years is also the saying of some of those who had differed and that the saying of Allah was what was said later: اللَّـهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا (Allah knows best how long they stayed - 26). The reason is, had the earlier statement giving the duration as three hundred nine years been the word of Allah, there would have been no occasion for saying: اللَّـهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا (Allah knows best how long they stayed) after that. But, the majority of commentators have said that both these sentences are the word of Allah. The first one describes reality as it is. The second one warns those who differ with it. They have been told that once the statement giving the duration has come from Allah, accepting it is mandatory. Since He is the One who really knows, trying to differ with Him on the basis of mere conjectures and opinions is (to make an understatement) unreasonable. The question that arises here is about the manner in which the Holy Qur'an has described the duration of stay. First it mentions three hundred years. After that, it has said that added to those three hundred there are nine. The number three hundred nine was not given initially. According to commentators, there is a reason for it. Since the Jews and Christians followed the Solar Calendar, their count remained three hundred years. And since Islam goes by the Lunar Calendar in which three more years are added every hundred years, therefore, three hundred years of Solar Calendar become nine more years in accordance with the Lunar Calendar. It was to tell the difference between the two years that this expressive diction was employed.