ٱلشُّورَىٰ ٢١
- أَمۡ atau
- لَهُمۡ mereka mempunyai
- شُرَكَٰٓؤُاْ sekutu-sekutu
- شَرَعُواْ mereka mensyari'atkan
- لَهُم bagi mereka
- مِّنَ daripada
- ٱلدِّينِ agama
- مَا apa-apa
- لَمۡ tidak
- يَأۡذَنۢ mengizinkan
- بِهِ dengannya
- ٱللَّهُۚ Allah
- وَلَوۡلَا dan jika tidak
- كَلِمَةُ kalimat/ketetapan
- ٱلۡفَصۡلِ putusan
- لَقُضِيَ niscaya diputuskan
- بَيۡنَهُمۡۗ diantara mereka
- وَإِنَّ dan sesungguhnya
- ٱلظَّـٰلِمِينَ orang-orang yang zalim
- لَهُمۡ bagi mereka
- عَذَابٌ azab
- أَلِيمٞ pedih
Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridai) Allah? Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan mendapatkan azab yang sangat pedih.
(Apakah) sebenarnya (mereka mempunyai) yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekah (sesembahan-sesembahan) yaitu setan-setan mereka (yang mensyariatkan) maksudnya, sesembahan-sesembahan mereka itu mensyariatkan (untuk mereka) untuk orang-orang kafir (agama) yang rusak (yang tidak diizinkan oleh Allah?) seperti ajaran menyekutukan Allah dan mengingkari adanya hari berbangkit. (Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan dari Allah) ketentuan yang telah terdahulu yang menetapkan bahwa pembalasan itu pada hari kiamat (tentulah telah diputuskan di antara mereka) dan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang kafir akan langsung diazab di dunia. (Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu) yakni orang-orang kafir (akan memperoleh azab yang amat pedih) yang amat menyakitkan.
Tafsir Surat Asy-Syura: 19-22
[[Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya; dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah), tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedangkan siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.]] (Asy-Syura: 19-22)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan tentang kelembutan-Nya terhadap makhluk-Nya; Dia memberi rezeki mereka semuanya tanpa ada seorang pun yang terlupakan, dan sama saja diberi rezeki-Nya apakah dia orang yang bertakwa ataukah dia orang yang durhaka. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hud: 6) dan ayat-ayat yang semisal masih banyak.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya.]] (Asy-Syura: 19) Yakni Dia meluaskan rezeki siapa yang dikehendaki-Nya.
[[… dan Dialah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.]] (Asy-Syura: 19) Tiada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya. Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan: [[Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.]] (Asy-Syura: 20) Yakni barang siapa yang beramal untuk akhirat, Kami akan menguatkannya dan menolongnya untuk melakukan apa yang menjadi tujuan niatnya, maka Kami akan mengembangkan keuntungannya dan membalasnya dengan pahala satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, hingga kelipatan yang dikehendaki oleh Allah.
[[… dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.]] (Asy-Syura: 20) Artinya, barang siapa yang tujuan usahanya hanya semata-mata mencari sesuatu keuntungan duniawi, sedangkan untuk kepentingan akhiratnya tidak terlintas sedikit pun dalam hatinya, maka Allah mengharamkan baginya keuntungan di negeri akhirat. Sedangkan keuntungan dunia, jika Allah menghendakinya, maka Dia memberinya; dan jika tidak menghendakinya, maka Dia tidak memberikan kepadanya, baik keuntungan di dunia maupun keuntungan di akhirat.
Dan orang yang berusaha dengan niat ini memperoleh kerugian di dunia dan di akhirat. Dalil yang menunjukkan bahwa ayat ini terikat dengan ayat yang ada di dalam surat Al-Isra ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibatasi dengan baik. Kepada masing masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Al-Isra: 18-21)
Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Abul Aliyah, dari Ubay bin Ka'b radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Umat ini mendapat berita gembira dengan beroleh keluhuran, ketinggian, pertolongan, dan kedudukan yang teguh di muka bumi. Maka barang siapa di antara mereka yang mengerjakan amal akhirat untuk kepentingan dunianya, maka tidak ada bagian baginya kelak di negeri akhirat.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: [[Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?]] (Asy-Syura: 21) Yakni mereka tidak mau mengikuti apa yang telah disyariatkan oleh Allah kepadamu berupa agama yang lurus, bahkan mereka mengikuti apa yang telah diperintahkan oleh setan-setan mereka dari kalangan jin dan manusia, seperti mengharamkan apa yang dihalalkan bagi mereka, misalnya hewan bahirah, saibah, wasilah, dan ham. Dan mereka menghalalkan memakan bangkai, darah, berjudi, dan kesesatan-kesesatan lainnya. Itulah kejahilan yang batil yang telah mereka ada-adakan di masa Jahiliahnya, seperti menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, dan melakukan penyembahan-penyembahan yang batil yang mengusahakan harta yang haram.
Di dalam kitab shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Aku melihat Amr bin Luhay bin Qam'ah menyeret ususnya di dalam neraka. Dikatakan demikian karena dia adalah orang yang pertama mengadakan peraturan hewan saibah. Dia adalah salah seorang raja di kalangan Bani Khuza'ah, dialah orang yang mula-mula menetapkan hal-hal tersebut. Dia pulalah yang mendorong orang-orang Quraisy menyembah berhala.
Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya: [[Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah), tentulah mereka telah dibinasakan.]] (Asy-Syura: 21) Yaitu niscaya hukuman di segerakan kepada mereka sekiranya tidak ada ketetapan yang terdahulu yang memberikan masa tangguh bagi mereka sampai hari kiamat.
[[Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.]] (Asy-Syura: 21) Yakni siksaan yang sangat menyakitkan di dalam neraka Jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali adalah neraka Jahanam.
Dalam firman berikutnya disebutkan: [[Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan.]] (Asy-Syura: 22) Yakni saat mereka berada di Padang Mahsyar hari kiamat.
[[… sedangkan siksaan menimpa mereka.]] (Asy-Syura: 22) Yaitu yang mereka takutkan terjadi pada diri mereka sebagai suatu kepastian. Demikianlah keadaan mereka kelak di hari kiamat; mereka dicekam oleh rasa takut dan malu yang teramat sangat.
[[Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka.]] (Asy-Syura: 22) Maka alangkah jauh bedanya antara golongan ini dan golongan yang sebelumnya. Yakni betapa jauhnya perbedaan antara orang-orang yang berada di Padang Mahsyar dengan diliputi oleh kehinaan, kerendahan, dan dicekam oleh ketakutan yang pasti karena perbuatan aniayanya; dan keadaan orang-orang yang berada di taman-taman surga yang mendapatkan segala sesuatu yang dikehendakinya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, pemandangan, istri-istri, dan kenikmatan lainnya yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik di hati seorang manusia pun.
Al-Hasan bin Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr bin Abdur Rahman Al-Abar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa'd Al-Anshari, dari Abu Thaybah yang mengatakan bahwa sesungguhnya serombongan ahli surga benar-benar dinaungi oleh awan, lalu awan itu berkata, "Apakah yang harus kuturunkan kepadamu?" Maka tidak sekali-kali seseorang dari mereka meminta sesuatu kecuali awan itu menurunkannya kepada mereka. Sehingga ada seseorang dari mereka yang benar-benar mengatakan, "Hujanilah kami dengan perawan-perawan yang berparas indah lagi berusia sebaya." Hal yang serupa telah pula diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Al-Hasan bin Arafah.
Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya: [[Yang demikian itu adalah karunia yang besar.]] (Asy-Syura: 22) Yakni keberuntungan yang besar dan nikmat yang lengkap, sempurna, lagi menyeluruh.".
Apakah mereka yang melakukan usaha untuk kepentingan dunia semata dan melupakan akhiratnya mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka, sehingga mereka mengikuti apa yang mereka anggap telah ditetapkan sesembahan itu yang sesungguhnya tidak di izinkan atau di ridai Allah' Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang pasti dari Allah yang menunda datangnya hukuman itu akibat perbuatan syirik, maksiat, dan keingkaran mereka terhadap hari Kiamat itu, tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim, yaitu orang-orang kafir itu akan mendapat azab yang sangat pedih di akhirat kelak. 22. Kamu, wahai Nabi Muhammad dan siapa pun juga, akan melihat orang-orang zalim itu di hari Kiamat kelak sangat ketakutan atas segala sesuatu, karena perbuatan dosa dan kejahatan, yang telah mereka lakukan di dunia, dan azab Allah pasti menimpa mereka. Ini adalah kerugian yang amat besar yang di peroleh oleh orang-orang kafir. Dan engkau juga dapat melihat orang-orang yang beriman kepada Allah dan keniscayaan Kiamat itu dan mewujudkan keimanan mereka dengan mengerjakan kebajikan akan berada di dalam taman-taman surga dengan segala kenikmatannya. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan sebagai balasan atas ketaatan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar yang di anugerahkan Allah kepada mereka.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang musyrik tidak mengikuti agama Islam yang disyariatkan Allah, tetapi mengikuti apa yang digariskan oleh setan-setan mereka, baik yang berupa jin maupun berupa manusia. Mereka mengharamkan sesuatu menurut nafsu mereka seperti mengharamkan unta yang terpotong telinganya, dan menghalalkan bangkai, darah, judi, dan lain-lain. Begitu pula hal-hal yang menunjukkan kesesatan mereka yang telah dilakukan pada zaman Jahiliah. Sekalipun demikian mereka masih diberi kesempatan untuk bertobat, karena Allah telah menggariskan satu ketentuan yaitu penangguhan azab bagi mereka sampai hari Kiamat. Kalau tidak niscaya mereka itu sudah dibinasakan, sebagaimana firman Allah:
Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (al-Qamar/54: 46)
Mereka itu telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri karena telah mengada-adakan hal-hal yang tidak disyariatkan Allah. Mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka, satu tempat yang penuh siksa yang pedih dan seburuk-buruk tempat kembali.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Atau adakah bagi mereka sekutu-sekutu, (yaitu berhala-berhala yang mereka sembah itu) yang menggantikan untuk mereka dari satu agama, sesuatu yang tidak diizinkan Allah?"
(pangkal ayat 21)
Yang ditanyakan demikian itu karena memang tidak ada. Kemusyrikan bukanlah agama, dia hanya kumpulan dari khayat-khayat kebodohan manusia."Dan kalau tidaklah karena kalimat yang telah digariskan, niscaya telah diberi keputusan di antara mereka." Tegasnya, telah lama mereka dimusnahkan, tetapi karena sudah ditakdirkan bahwa Nabi akhir zaman dimenangkan terhadap musuh-musuh Allah dengan tidak ada pemusnahan. Itulah sebab dari dahulu-dahulu mereka belum dihukum.
“Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, bagi mereka adalah adzab yang pedih."
(ujung ayat 21)
Yaitu di akhirat kelak.
“Akan engkau lihat kelak (di akhirat) orang-orang yang zalim itu ketakutan, tontonan apa yang pernah mereka usahakan."
(pangkal ayat 22)
Tatkala hidup di dunia. Menghambat jalannya agama Allah menolak kebenaran, “sedang dianya yaitu segala dosa itu, “akan menimpa mereka," adzab siksanya akan mereka terima tunai. Itulah yang menimbulkan ketakutan."Dan orang-orang yang beriman dan beramal yang saleh-saleh," yang mengerjakan usaha-usaha yang mulia-mulia lantaran iman mereka, mereka “akan berada di taman-taman yang amat subur di surga. Untuk mereka apa jua pun yang mereka kehendaki di sisi Allah mereka," semua tersedia untuk mereka.
“Itulah karunia yang besar."
(ujung ayat 22)
Mengapa kaum musyrikin itu masih saja bertahan pada kekufuran mereka?
“Yang demikianlah warta gembira Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh."
(pangkal ayat 23)
Itulah sinar pengharapan di hari depan untuk Mukmin dan pejuang menegakkan amal, yang kerapkali kecewa di dunia ini. Jangan di sini mengharap upah. Yang banyak mengalir di dunia ini hanyalah air mata. Di akhiratlah terima upahmu. Sebab akan ke sanalah kita semua."Katakanlah." Demikian sambungan firman Allah selanjutnya kepada Rasul-Nya."Tidaklah aku meminta upah kepada kamu atasnya," yaitu usahaku menyebarkan berita yang benar ini; “hanyalah kasih sayang lantaran kekeluargaan belaka." Kasih sayang, iba kasihan, kalau kau tidak menyampaikan kepadamu terlebih dahulu, kamu akan jadi alas neraka semua, sedang orang lain akan menerimanya. Upahku kelak ada dari Allah, yaitu kebesaran hatiku bila kamu dapat dengan patuh menuruti kehendak Allah."Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan, akan Kami tambah baginya kebajikan itu." Tegasnya, kalau mereka akui kebenaran itu, mereka telah menempuh jalan yang baik. Maka Allah akan menggandakan kebaikan itu bagi mereka. Mereka tidak akan rugi, melainkan beruntung. Kalau selama ini mereka banyak dosa, di saat mereka menyatakan iman itu, segala dosa mereka diampuni."Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," dan kedatangan mereka disambut Allah dengan terima kasih. Sebab Allah amat kasih kepada hamba-hamba-Nya yang memilih jalan yang benar. Dan Dia “penerima kasih"
(ujung ayat 23)
Alangkah gembiranya Allah menerima hamba-hamba-Nya, yang sesudah tersesat, lalu pulang kembali ke jalan-Nya yang benar.
“Atau akan berkatalah mereka: ‘Dia itu berbuat-buat dusta atas nama Allah.'"
(pangkal ayat 24)
Itu adalah satu tuduhan yang amat nista daripada orang-orang yang mendurhakai Allah, kepada utusan Allah pembawa wahyu Ilahi untuk kebahagiaan mereka, mereka tuduh berbuat dusta di atas nama Allah."Sebab itu, jika Allah menghendaki, niscaya akan dicap-Nya hatimu," dengan kesabaran dan keteguhan, “dan akan dihapuskan-Nya yang batil dan akan dibuktikan-Nya kebenaran dengan firman-firman-Nya." Sehingga dengan jalan demikian kepalsuan mereka bertambah jelas dan kebenaran utusan Allah bertambah tampak.
“Sesungguhnya Dia Mengetahui akan isi sekalian dada."
(ujung ayat 24)
“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan diberi-Nya maaf kejahatan-kejahatan dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(ayat 25)
Betapa pun besarnya kesalahan, berapa pun banyaknya kejahatan telah diperbuat karena dorongan hawa nafsu, dunia dan setan, Allah bersedia memberi tobat dan memberi maaf, asal hamba-hamba-Nya datang dengan sungguh-sungguh memohon ampunan-Nya. Apatah lagi, Dia menjadikan kita, Dia tahu akan serba kelemahan kita. Maka jika tumbuh menyesal sementara hidup ini atas langkah yang tersesat, janganlah ditangguhkan lama-lama, di saat itu juga segera tobat dan mulailah hidup baru. Yakni hidup yang diridhai Allah, niscaya kesalahan yang lama itu dihapuskan Allah dari daftar. Inilah yang diserukan Rasulullah ﷺ kepada musyrikin, ketika mengajak mereka kepada jalan yang mulia dan ini pula pegangan kita terus-menerus.
“Dan diperkenankan-Nya," apa yang dimohonkan oleh “orang-orang yang beriman dan beramal yang saleh-saleh."
(pangkal ayat 26)
Sebab dengan iman dan amal salehnya itu, dia selalu telah mengadakan hubungan dengan Allah. Hubungan mereka dengan Allah, bukanlah hubungan ketika hendak meminta apa saja."Dan ditambahkan untuk mereka dari karunia-Nya." Karunia cahaya dari iman, karunia makrifat terhadap Allah, karunia pendekatan dari Allah dan karunia ridha kedua pihak, antara dia ke Allah, antara Allah kepada dia."Dan orang-orang yang kafir." Yang sesat tidak mau surut, yang terlanjur tidak mau kembali, yang hanya diperhambakan kepada hawa nafsu, yang tersumbat telinganya oleh sesuatu yang berat, sehingga kebenaran tak mau masuk ke dalam maka
“bagi mereka adalah adzab yang sangat."
(ujung ayat 26)
“Dan jika dilapangkan Allah rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat semau-maunya di bumi."
(pangkal ayat 27)
Inilah satu ayat pokok dalil ilmu jiwa manusia yang telah direkam Allah menjadi wahyu. Kalau hidup manusia sudah mewah, kekayaan sudah melimpah-limpah, atau kekuasaan sudah sampai ke puncak, dengan sendirinya sudah tidak dapat ditahan-tahan lagi, dia menjadi baghaa, dia hendak berbuat semau-maunya, sewenang-wenang, segala kesempatan yang ada akan dipakainya untuk mencapai keinginan-keinginan yang tidak mau puas.
“dengan ukuran apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia terhadap hamba-hamba-Nya Mahateliti, Maha Melihat."
(ujung ayat 27)
Maka setiap si manusia sudah mulai lupa dan mulai berbuat semau-maunya, akhirnya pasti dia tertumbuk kepada batas yang tak dapat dilampauinya lagi. Seakan-akan datang suara Allah, “Berhenti! Cukup sekian. Jangan ditempuh lagi, nanti engkau hancur. Yang luas tidak bertepi dan panjang tidak berbatas kekuasaan atau kesempatan, hanya aku!" Laksana kata sakti penduduk pulau-pulau Lautan Teduh, yaitu tabu. Pantangan! Jangan dilampaui pantangan itu, supaya engkau jangan celaka.
Manusia tetap manusia. Yang datang kemudian sudah sepatutnya mengambil pengajaran orang yang jatuh dahulu darinya. Dia ambil pengajaran itu ketika kesempatan belum ada.
Demi bila ada kesempatan maka setiap dia melangkah ke muka, setiap dia lupa pengajaran itu; dia melangkah terus, dan mundur tak bisa lagi, sampai terbentur kepada tanda bahaya peringatan Allah. Dia tidak dapat mundur lagi, dia mesti terus ke jurang kehancuran, untuk jadi pengajaran pula bagi yang datang di belakang, yang belum mendapat kesempatan.
Allah itu Mahateliti, jangan main-main dengan Dia. Dan Dia Maha Melihat, tak perlu bersembunyi dari Dia.
“Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka putus harapan, ditebarkan-Nya rahmat-Nya. Dan Dia adalah Pelindung, Yang Media Terpuji."
(ayat 28)
Ayat ini luas maksudnya. Dilukiskan kepu-tusasaan karena hujan tidak juga turun. Segala ikhtiar sudah dicoba, namun hasilnya tidak ada. Dengan kehendak Allah tiba-tiba mendung tebal dan hujan pun turun. Dalam beberapa menit saja harapan yang hampir putus berhari-hari, berminggu-minggu pulih kembali. Rahmat tercurah di mana-mana. Kerap kali pertolongan Allah datang, di luar dari dugaan dan perhitungan kita. Sebab itu kalimat putus harapan, tidak boleh ada dalam kamus seorang Mukmin, Yang perlu dalam kamus Mukmin ialah sabar dan tawakal. Sabar dan tawakal akan menimbulkan ilham. Dia adalah Maha Pelindung. Dia tidak akan mengecewakan hamba-Nya. Dia adalah Maha Terpuji; setelah rahmat-Nya itu turun di luar dugaan dan kemampuan kita, baru akan terasa apa artinya sifat al-Hamid, Maha Terpuji itu.
“Dan setengah daripada ayat-ayat-Nya ialah kejadian semua langit dan bumi dan apa-apa yang ditebarkan-Nya pada keduanya dari makhluk melata. Dan Dia, atas mengumpulkan mereka, jika dikehendaki-Nya, adalah Mahakuasa."
(ayat 29)
Dalam ayat ini bertemu satu wahyu yang patut menjadi perhatian ahli-ahli pengetahuan. Kalau orang Mukmin dia telah percaya bulat jangan bertanya lagi. Yaitu “dan apa-apa yang ditebarkan-Nya pada keduanya (langitdan bumi) dari makhluk melata." Makhluk melata, kalimat Arabnya dalam ayat ialah daabbatin. Tegasnya, segala yang hidup, merangkak, merayap dan berjalan dengan kaki. Yang artinya secara umum, daabbatin ialah binatang; termasuk manusia, jadi di ayat ini ditegaskan bahwa binatang melata itu bukan di bumi saja, tetapi ada juga di langit. Tegasnya di bintang-bintang lain. Kalau menurut ilmu pengetahuan kurang lebih seabad yang lalu, kemungkinan ada hidup hanya di bumi kita ini saja, tetapi hati belum puas menerima teori itu. Masakan berjuta-juta dan berjuta-juta bintang di langit dan bumi hanya satu di antaranya, hanya di bumi saja ada hidup. Tetapi orang tidak berhenti menyelidiki. Di zaman sekarang penyelidik-penyelidik mulai mengeluarkan pendapat bahwa di bintang Mars (Marikh) ada terdapat tanda-tanda hidup. Dan mulai menyusul pula kemungkinan ada hidup di bintang-bintang yang lain.
“Dan apa jua pun yang menimpa kepada dirimu dari sesuatu malapetaka maka itu adalah dari usaha tanganmu sendiri. Padahal dimaafkan-Nya sebagian yang banyak"
(ayat 30)
Ayat ini adalah satu peringatan bahwa apabila suatu malapetaka datang menimpa, janganlah segera menyalahkan orang lain, apatah lagi menyalahkan Allah. Periksalah diri sendiri. Manusia memang selalu lalai memperhitungkan bahwa dia bersalah. Setelah datang malapetaka dengan tiba-tiba dia jadi bingung lalu menyalahkan orang lain. Atau menyalahkan takdir. Kadang-kadang kesalahan yang paling besar ialah lupa kepada Allah, sehingga malapetaka yang tadinya bisa menjadi cobaan peneguh iman, menjadi satu sengsara yang amat berat: tidak terpikul oleh jiwa, karena jiwa tidak ada pegangan. Oleh sebab itu maka percaya kepada takdir buruk dan baik, bahagia dan bahaya, gembira dan sengsara, beruntung dan rugi, dijadikan rukun yang keenam dari iman. Apa yang tertulis mesti terjadi. Maka jika tiba giliran dapat musibah, periksailah diri. Kadang-kadang musibah itu didatangkan Allah dengan memakai tangan manusia dan kita yakin benar bahwa kita tidak bersalah. Mungkin engkau tidak bersalah dalam hal yang dituduhkan manusia lain kepadamu. Tetapi kalau kita mengoreksi diri, barangkali kita bersalah kepada Allah dalam hal lain, misalnya takabur, riya dalam mengerjakan ibadah, lalu kita ditimpa malapetaka dari jalan lain, supaya kita bertobat. Bukankah Nabi kita sendiri menyuruh kita setelah habis selesai shalat lima waktu supaya memohon ampun dan tobat? Bukankah bahkan dalam shalat itu sendiri, dalam rukuk, dalam sujud, dan dalam duduk di antara dua sujud kita disuruh meAllahon ampun?
“Dan tidaklah dapat kamu melepaskan diri di bumi dan tidak ada bagi kamu selain dari Allah, yang menjadi pelindung dan tidak ada penolong."
(ayat 31)
Ke bumi yang mana kita akan melepaskan diri kalau bahaya akan datang? Padahal seluruhnya di bawah kuasa Allah? Kita keluar dari rumah, menyangka tidak ada bahaya, tiba-tiba di tabrak mobil: mati! Kita keluar seberitar dari dalam rumah di waktu malam, tiba-tiba masuk angin, lalu sakit: mati! Kita berjalan di tempat ramai dengan merasa aman, tiba-tiba ada orang mengamuk gelap mata. Belatinya singgah di perut kita, usus terburai dan mati! Maka mobil, angin malam, pisau belati, orang mengamuk, semuanya ini hanya alat Allah belaka buat menepati janji kita. Ke mana kita hendak melepaskan diri dari kekuasaan Allah di bumi ini? Siapa yang akan melindungi dan menolong kita, selain Allah sendiri?
A Warning to Those Who dispute concerning Matters of Religion
Here Allah warns those who try to hinder those who believe in Allah, from following His path.
وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ
And those who dispute concerning Allah, after it has been accepted,
means, those who dispute with the believers who have responded to Allah and His Messenger, and try to stop them from following the path of guidance.
حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمْ
no use is their dispute before their Lord,
means, it is futile before Allah.
وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ
and on them is wrath, (means, from Him).
وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
and for them will be a severe torment.
means, on the Day of Resurrection.
Ibn Abbas, may Allah be pleased with him, and Mujahid said,
They disputed with the believers after they responded to Allah and His Messenger, and tried to prevent them from following the path of guidance, hoping that they would return to Jahiliyyah.
Qatadah said,
These were the Jews and Christians who said to them, `Our religion is better than your religion, our Prophet came before your Prophet, and we are better than you and closer to Allah than you.'
This was nothing but lies.
Then Allah says
اللَّهُ الَّذِي أَنزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
It is Allah Who has sent down the Book in truth,
referring to all the Books which were revealed from Him to His Prophets.
وَالْمِيزَانَ
and the Balance.
means, justice and fairness.
This was the view of Mujahid and Qatadah.
This is like the Ayat:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَـتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَـبَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Indeed We have sent Our Messengers with clear proofs, and revealed with them the Scripture and the Balance that mankind may keep up justice. (57:25)
وَالسَّمَأءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ
أَلاَّ تَطْغَوْاْ فِى الْمِيزَانِ
وَأَقِيمُواْ الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُواْ الْمِيزَانَ
And the heaven He has raised high, and He has set up the Balance. In order that you may not transgress (due) balance. And observe the weight with equity and do not make the balance deficient. (55:7-9)
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ
And what can make you know that perhaps the Hour is close at hand?
This is encouragement (to strive) for its sake, a terrifying warning, and advice to think little of this world
يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُوْمِنُونَ بِهَا
Those who believe not therein seek to hasten it,
means, they say, `when will this promise be fulfilled, if you are telling the truth' But they say this by way of disbelief and stubbornness, thinking that it is unlikely to happen.
وَالَّذِينَ امَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا
while those who believe are fearful of it,
means, they are afraid of it happening.
وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ
and know that it is the very truth.
means, that it will undoubtedly come to pass, so they prepare themselves for it and strive for its sake.
It was reported through various chains of narration, a number reaching the level of being Mutawatir, in Sahih and Hasan narrations, in the Books of Sunan and Musnad.
According to some versions, a man addressed the Messenger of Allah in a loud voice, when he was on one of his journeys,
calling out to him, O Muhammad!
The Messenger of Allah replied in a similar manner, Here I am!
The man said, When will the Hour come?
The Messenger of Allah said,
وَيْحَكَ إِنَّهَا كَايِنَةٌ فَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا
Woe to you! It will most certainly come. What have you done to prepare for it?
He said, Love for Allah and His Messenger.
He said:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْت
You will be with those whom you love.
According to another Hadith:
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَب
A man will be with those whom he loves.
This is Mutawatir beyond a doubt. The point is that he did not answer his question about when the Hour would happen, but he commanded him to prepare for it.
أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ
Verily, those who dispute concerning the Hour,
means, who dispute whether it will happen and think it is unlikely ever to come,
لَفِي ضَلَلٍ بَعِيدٍ
are certainly in error far away.
means, they are clearly ignorant, because the One Who created the heavens and the earth is even more able to give life to the dead, as Allah says:
وَهُوَ الَّذِى يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
And He it is Who originates the creation, then He will repeat it; and this is easier for Him. (30:27)
The Provision of Allah in this World and the Hereafter
Allah says:
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ
Allah is very Gracious and Kind to His servants.
Here Allah speaks of His kindness towards His creation, in that He provides for every last one of them and does not forget anyone. When it comes to His provision, the righteous and the sinner are alike.
Allah says:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الاٌّرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِى كِتَابٍ مُّبِينٍ
And no moving creature is there on the earth but its provision is due from Allah. And He knows its dwelling place and its deposit. All is in a Clear Book. (11:6)
And there are many similar Ayat.
يَرْزُقُ مَن يَشَاء
He gives provisions to whom He wills.
means, He gives generously to whomsoever He wills.
وَهُوَ الْقَوِيُّ العَزِيزُ
And He is the All-Strong, the Almighty.
means, there is nothing that can overpower Him.
Then Allah says
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الاْخِرَةِ
Whosoever desires the reward of the Hereafter,
means, whoever does things for the sake of the Hereafter,
نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ
We give him increase in his reward,
meaning, `We will give him strength and help him to do what he wants to do, and We will increase it for him. So for every good, We will multiply it and give him between ten and seven hundred good rewards,' as much as Allah wills.
وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُوتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الاْخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
and whosoever desires the reward of this world, We give him thereof, and he has no portion in the Hereafter.
means, whoever strives for the purpose of worldly gains, and never pays any heed to the Hereafter at all, Allah will deny him the Hereafter; and in this world, if He wills He will give to him and if He does not will, he will gain neither. So the one who strives with this intention in mind will have the worst deal in this world and in the Hereafter. The evidence for that is the fact that this Ayah is reinforced by the passage in Surah Al-Isra' in which Allah says:
مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَـجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَأءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَـهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
وَمَنْ أَرَادَ الاٌّخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُوْمِنٌ فَأُولَـيِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
كُلًّ نُّمِدُّ هَـوُلاءِ وَهَـوُلاءِ مِنْ عَطَأءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَأءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلٌّخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَـتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلً
Whoever desires the quick-passing, We readily grant him what We will for whom We like. Then, afterwards, We have appointed for him Hell; he will (enter) burn therein disgraced and rejected.
And whoever desires the Hereafter and strives for it, with the necessary effort due for it while he is a believer -- then such are the ones whose striving shall be appreciated.
On each -- these as well as those -- We bestow from the bounties of your Lord. And the bounties of your Lord can never be forbidden.
See how We prefer one above another (in this world), and verily, the Hereafter will be greater in degrees and greater in preferment. (17:18-21)
It was reported that Ubayy bin Ka`b, may Allah be pleased with him, said,
The Messenger of Allah said:
بَشِّرْ هذِهِ الاُْمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الاَْرْضِ فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الاْخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الاْخِرَةِ مِنْ نَصِيب
Give the glad tidings to this Ummah of sublimity, high status, victory and power in the land. But whoever among them does the deeds of the Hereafter for the sake of worldly gain, will have no portion of the Hereafter.
Making Legislation for the Creatures is Shirk Allah says:
Allah says
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ
Or have they partners with Allah who have instituted for them a religion which Allah has not ordained?
means, they do not follow what Allah has ordained for you of upright religion; on the contrary, they follow what their devils (Shayatin), of men and Jinn, have prescribed for them. They instituted taboos, such as the Bahirah, Sa'ibah, Wasilah or Ham. They also permitted eating flesh and blood of animals not slaughtered for consumption, gambling and other kinds of misguidance, ignorance and falsehood. These are things that they invented during Jahiliyyah, when they came up with all kinds of false rulings on what was permitted and what was forbidden, and false rites of worship and other corrupt ideas.
It was recorded in the Sahih that the Messenger of Allah said:
رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ لُحَيِّ بْنِ قَمَعَةَ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّار
I ﷺ `Amr bin Luhayy bin Qama`ah dragging his intestines in Hell -- (because he had been the first one to introduce the idea of the Sa'ibah).
This man was one of the kings of the Khuza`ah tribe, and he was the first one to do these things. He was the one who had made the Quraysh worship idols, may the curse of Allah be upon him.
Allah said:
وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ
And had it not been for a decisive Word, the matter would have been judged between them.
means, the punishment would have been hastened for them, were it not for the fact that it had already been decreed that it would be delayed until the Day of Resurrection.
وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
And verily, for the wrongdoers there is a painful torment.
i.e., an agonizing torment in Hell, what a terrible destination.
The Terror of the Idolators in the Place of Gathering
Allah says;
تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا
You will see the wrongdoers fearful of that which they have earned,
means, in the arena of Resurrection.
وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ
and it will surely befall them.
means, the thing that they fear will undoubtedly happen to them. This is how they will be on the Day of Resurrection; they will be in a state of utter fear and terror.
وَالَّذِينَ امَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ
لَهُم مَّا يَشَاوُونَ عِندَ رَبِّهِمْ
But those who believe and do righteous deeds (will be) in the flowering meadows of the Gardens. They shall have whatsoever they desire with their Lord.
What comparison can there be between the former and the latter How can the one who will be in the arena of resurrection in a state of humiliation and fear, deserving it for his wrongdoing, be compared with the one who will be in the gardens of Paradise, enjoying whatever he wants of food, drink, clothing, dwellings, scenery, spouses and other delights such as no eye has seen, no ear has heard, and has never crossed the minds of men.
Allah says:
ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الكَبِيرُ
That is the supreme grace.
means, the ultimate victory and complete blessing.
Or have they, the Meccan disbelievers, associates - these being their devils - who have prescribed for them, for the disbelievers, a religion, a corrupt [religion], which God has not given permission for?, such as idolatry and denial of resurrection? And were it not for a [prior] decisive word, in other words, a prior decree to the effect that requital will take place on the Day of Resurrection, it would have been judged between them, and the believers, by chastising the former in this world. Truly the wrongdoers, the disbelievers, will have a painful chastisement.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.