ٱلرَّحْمَٰن ٧
- وَٱلسَّمَآءَ dan langit
- رَفَعَهَا Dia tinggikannya
- وَوَضَعَ dan Dia letakkan
- ٱلۡمِيزَانَ timbangan
Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan,
(Dan Dia telah meninggikan langit dan meletakkan neraca) yaitu menetapkan keadilan.
Tafsir Surat Ar-Rahman: 1-13
(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya), di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang karunia dan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya, bahwa Dia telah menurunkan kepada hamba-hamba-Nya Al-Qur'an, dan memudahkan penghafalan dan pemahamannya bagi orang yang dirahmati-Nya. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: . (Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (Ar-Rahman: 1-3) Menurut Al-Hasan, yang dimaksud dengan al-bayan ialah berbicara. Adh-Dhahhak dan Qatadah serta selain keduanya mengatakan kebaikan dan keburukan. Tetapi pendapat Al-Hasan dalam hal ini lebih baik dan lebih kuat karena konteks ayat membicarakan pengajaran Al-Qur'an, yang intinya ialah menunaikan bacaannya.
Dan sesungguhnya hal tersebut dapat terealisasi (terwujudkan) bila Allah menjadikan makhluk-Nya pandai berbicara, dan dimudahkan-Nya untuk mengeluarkan bunyi huruf dari makhraj-nya masing-masing, yaitu dari halaq dan lisan serta kedua bibir dengan berbagai macam makhraj dan perbedaannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar-Rahman: 5) Yakni keduanya berjalan beriringan menurut perhitungan yang tepat dan tidak menyimpang serta tidak berbenturan, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang.
Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin: 40) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (Al-An'am: 96) Diriwayatkan dari Ikrimah yang mengatakan bahwa seandainya Allah menjadikan cahaya semua penglihatan manusia, jin, hewan, dan burung-burung pada mata seorang hamba, kemudian dibukakan baginya suatu tirai di antara tujuh puluh tirai yang menghalang-halangi matahari, niscaya ia masih tidak mampu untuk melihat kepadanya.
Cahaya matahari itu merupakan suatu bagian dari tujuh puluh bagian cahaya Kursi, dan cahaya Kursi itu merupakan suatu bagian dari tujuh puluh cahaya 'Arasy, dan cahaya 'Arasy itu merupakan suatu bagian dari cahaya tirai yang menutupi (Allah subhanahu wa ta’ala). Maka perhatikanlah, berapa banyaknya Allah memberikan cahaya kepada hamba-Nya di matanya di saat ia melihat kepada Zat Allah subhanahu wa ta’ala Yang Mahamulia dengan terang-terangan (di surga nanti). Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. (Ar-Rahman: 6) Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna an-najm dalam ayat ini, setelah mereka sepakat bahwa yang dinamakan syajar atau pohon-pohonan ialah tumbuh-tumbuhan yang tegak di atas pokok (batang)nya.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa an-najm dalam ayat ini ialah sesuatu yang tergelarkan di atas permukaan bumi, yakni berupa tetumbuhan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair, As-Suddi, dan Sufyan Ats-Tsauri. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir rahimahullah. Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan an-najm ialah bintang-bintang yang ada di langit. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah, dan pendapat inilah yang lebih jelas; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, mengingat Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam ayat yang lain, yaitu: Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata, dan sebagian besar dari manusia. (Al-Hajj: 18) hingga akhir ayat.
Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). (Ar-Rahman: 7) Makna yang dimaksud ialah keadilan, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al-Hadid: 25) Hal yang sama dikatakan pula dalam firman berikutnya: Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (Ar-Rahman: 8) Yakni Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak dan adil agar segala sesuatu berjalan dengan hak dan adil.
Dalam firman berikutnya lagi disebutkan: Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar-Rahman: 9) Artinya, janganlah kamu mengurangi timbangan dan sukatan, tetapi timbanglah dengan benar dan adil. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: dan timbanglah dengan neraca yang benar. (Al-Isra: 35) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya). (Ar-Rahman: 10) Yaitu sebagaimana Dia telah meninggikan langit, Dia telah meratakan bumi ini dan menjadikannya layak untuk dihuni serta memberinya pancangan dengan gunung-gunung yang tinggi-tinggi agar bumi stabil dan tidak mengguncangkan makhluk yang ada di atasnya yang beraneka ragam jenis, macam, warna, dan bahasa mereka yang tersebar di seluruh kawasannya.
Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-anam ialah makhluk. di bumi itu ada buah-buahan. (Ar-Rahman: 11) Yakni yang berbagai macam warna, rasa, dan baunya. dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. (Ar-Rahman: 11) Lafal an-nakhl disebutkan secara tersendiri karena manfaat yang ada padanya, yakni buahnya baik dalam keadaan basah maupun kering. Dan yang dimaksud dengan al-akmam menurut Ibnu Juraij, dari Ibnu Abbas, artinya kelopak mayang.
Hal yang sama telah dikatakan oleh banyak ulama tafsir; itulah yang dimaksud dengan akmam. yaitu kelopak mayang yang terbelah mengeluarkan ketan dan buah kurma, yang pada mulanya bernama busr, kemudian rutab, selanjutnya menjadi masak dan sempurna kemasakannya. Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ali As-Sairafi, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnul Haris At-Ta-ifi, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa Kaisar Romawi berkirim surat kepada Khalifah Umar ibnul Khattab, yang isinya sebagai berikut: Melalui surat ini kuberitahukan kepada tuan bahwa utusanku telah tiba darimu, mereka mengira bahwa di kalangan kalian terdapat sebuah pohon yang kelihatannya tidak mengandung suatu kebaikan pun.
Pada mulanya mengeluarkan kelopak mayangnya yang seperti daun telinga keledai, lalu mayang itu terbuka mengeluarkan benih buah-buahnya yang kelihatan seperti mutiara. Lalu menjadi hijau seperti permata zamrud yang hijau, setelah itu tampak memerah sehingga seperti batu yaqut yang merah. Lalu masaklah ia, dan buahnya sangat lezat rasanya; bila buah itu kering, maka dapat dijadikan sebagai makanan pokok bagi orang yang mukim dan dapat dijadikan bekal bagi musafir.
Jika utusan-utusanku itu berkata sejujurnya kepadaku, maka aku berpendapat bahwa pohon itu tiada lain kecuali salah satu dari pohon surga. Maka Umar ibnul Khattab membalas suratnya yang isinya sebagai berikut; Dari hamba Allah Umar ibnul Khattab Amirul Muminin, ditujukan kepada Kaisar Romawi. Sesungguhnya para utusanmu itu berkata sebenarnya kepadamu, pohon ini memang ada di kalangan kami, yaitu pohon yang sama seperti pohon yang ditumbuhkan oleh Allah untuk Maryam ketika dia melahirkan putranya Isa.
Maka bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau menjadikan Isa sebagai Tuhan selain Allah, karena sesungguhnya, perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah ia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Ali Imran: 59-60) Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan al-akmam ialah sabutnya yang berada di leher pohon kurma, ini menurut Al-Hasan dan Qatadah.
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. (Ar-Rahman: 12) Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: Dan biji-bijian yang berkulit. (Ar-Rahman: 12) ialah biji-bijian yang ada daunnya. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-'asf artinya daun tanaman yang hijau, yang telah dipotong bagian atasnya; itulah yang dinamakan asf bila ia telah mengering. Hal yang sama dikatakan oleh Qatadah.
Adh-Dhahhak, dan Abu Malik, bahwa yang dimaksud dengan 'asf 'ialah dedaunannya yang telah kering. Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan raihan ialah dedaunannya. Lain halnya dengan Al-Hasan, ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan raihan ialah bau-bauan yang harum seperti yang kalian kenakan. Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan raihan ialah tanaman yang hijau.
Makna yang dimaksud hanya Allah Yang Maha Mengetahui ialah bahwa yang dimaksud dengan biji-bijian ialah seperti gandum, jewawut, dan lain sebagainya yang mempunyai bulir dan daun-daunan yang melilit pada batangnya. Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan al-asf ialah dedaunan yang muda, seperti sayuran; dan yang dimaksud dengan raihan ialah dedaunan yang telah tua dan membungkus biji-bijian yang menjadi buahnya, seperti pengertian yang terdapat di dalam perkataan Zaid ibnu Amr ibnu Nufail dalam kasidahnya yang terkenal, yaitu:
Katakanlah olehmu berdua kepadanya, "Siapakah yang menumbuhkan biji-bijian di tanah, lalu tumbuh menjadi hijau dan merekah menjadi besar. Dan keluarlah darinya biji-bijian di bagian atasnya? Di dalam hal tersebut terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang menyadarinya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 13) Yakni nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, wahai dua jenis makhluk, jin dan manusia yang kalian dustakan? Demikianlah menurut pendapat Mujahid dan ulama lainnya, yang hal ini ditunjukkan oleh pengertian yang terkandung pada konteks sesudahnya.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa nikmat-nikmat Tuhanmu tampak jelas pada kalian dan kalian diliputi olehnya hingga kalian tidak dapat mengingkarinya atau tidak mengakuinya. Dan kami hanya dapat mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh jin yang beriman kepada-Nya, "Ya Allah, tiada sesuatu pun dari nikmat-nikmat-Mu yang kami ingkari, maka bagi-Mulah segala puji." Disebutkan bahwa Ibnu Abbas selalu menjawabnya dengan ucapan berikut, "Tidak, lalu yang manakah, wahai Tuhanku?" Dengan kata lain.
dapat disebutkan bahwa kami tidak mendustakan sesuatu pun darinya. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Abul Aswad, dari Urwah, dari Asma binti Abu Bakar yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ia dengar dalam salatnya membaca satu rukun Al-Qur'an sebelum diperintahkan untuk menyerukan dakwahnya secara terang-terangan, sedangkan orang-orang musyrik mendengarkannya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 13)".
7-9. Dan Dia telah menciptakan langit. Langit itu telah ditinggikan-Nya setelah sebelumnya menyatu dengan bumi dalam bentuk gumpalan, dan Dia ciptakan keseimbangan dengan mantap agar kamu jangan merusak keseimbangan itu dengan berbuat melampaui batas, dan karenanya tegakkanlah keseimbangan itu dalam segala bentuknya, termasuk kepada dirimu atau keluargamu, dengan adil sehingga menguntungkan semua pihak, dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu dengan cara dan bentuk apa pun. 7-9. Dan Dia telah menciptakan langit. Langit itu telah ditinggikan-Nya setelah sebelumnya menyatu dengan bumi dalam bentuk gumpalan, dan Dia ciptakan keseimbangan dengan mantap agar kamu jangan merusak keseimbangan itu dengan berbuat melampaui batas, dan karenanya tegakkanlah keseimbangan itu dalam segala bentuknya, termasuk kepada dirimu atau keluargamu, dengan adil sehingga menguntungkan semua pihak, dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu dengan cara dan bentuk apa pun.
Allah menyatakan bahwa Dia menciptakan langit tempat diturunkan perintah dan larangan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, tempat malaikat-malaikat yang turun membawa wahyu-Nya kepada nabi-nabi-Nya, Di samping itu Dia menghendaki adanya keseimbangan dalam segala hal. Di antaranya adalah perimbangan akidah, yaitu mentauhidkan-Nya, karena tauhid adalah pertengahan antara mengingkari adanya Allah dengan mempersekutukan-Nya begitu saja, Perimbangan dalam ibadah, dalam beramal dan dalam budi pekerti, perimbangan dalam kekuatan rohani dan jasmani dan sebagainya. Demikianlah perimbangan dan keadilan yang dikehendaki-Nya dengan tidak membiarkan sesuatu karena kecilnya dan tidak pula mementingkan yang lain karena besarnya. Perimbangan-Nya mencakup semua yang ada di alam ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH AR-RAHMAAN
(YANG MAHA PEMURAH)
SURAH KE-55, 78 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.
“Ar-Rahman, Yang Maha Pemunah."
(ayat 1)
Arti dari Rahman adalah amat luas, kalimat dalam pengambilannya iaiah rahmat, yang berarti kasih, sayang, cinta, pemurah. Dia meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan terbentang di dalam segala makhluk yang wujud dalam dunia ini. Di dalam ayat-ayat Al-Qur'an, kita akan bertemu dengan ayat-ayat yang menyebutkan rahmat Allah, tidak kurang daripada enam puluh kali, rahim sampai seratus kali.
Setelah itu mulailah Allah memperincikan rahmat-Nya itu.
“Yang mengajankan Al-Qur'an."
(ayat 2)
Inilah salah satu dari rahman, atau kasih sayang Allah kepada manusia, yaitu diajarkan kepada manusia itu Al-Qur'an yang diwahyukan kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ yang dengan sebab Al-Qur'an itu manusia dikeluarkan daripada gelap gulita kepada terang benderang, dibawa kepada jalan yang lurus. Maka tersebutlah pula di dalam ayat 36 dari surah al-Qiyaamah,
“Apakah menyangka manusia bahwa mereka akan dibiarkan saja kucar-kacir?" (al-Qiyaamah: 36)
Maka datangnya pelajaran Al-Qur'an kepada manusia, adalah sebagai menggenapkan kasih Allah kepada manusia, sesuai pula dengan firman Allah,
“Dan tidaklah Kami utus akan dikau, melainkan sebagai rahmat bagi seisi Alam." (al-Anbiyaa': 107)
Rahmat ilahi yang utama ialah ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada kita manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan, apatah lagi kalau yang diketahui itu Al-Qur'an.
“yang Menciptakan manusia."
(ayat 3)
Penciptaan manusia pun adalah satu di antara tanda rahman Allah kepada alam ini. Sebab di antara begitu banyak makhluk Allah di dalam alam, manusialah satu-satunya makhluk paling mulia. Kemuliaan itulah salah satu rahman Allah,
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam dan Kami tanggung dia di darat dan di laut dan Kami beri rezeki dia dengan yang baik-baik dan Kami lebih utamakan dia daripada yang Kami ciptakan, sebenar utama." (al-Israa': 70)
Maka terbentanglah alam luas ini dan ber-diamlah manusia di atasnya. Maka dengan rahmat Allah yang ada pada manusia tadi, yaitu akal dan pikirannya, dapatlah manusia itu menyesuaikan dirinya dengan alam. Hujan turun dan air mengalir, lalu manusia membuat ﷺah. Jarak di antara satu bagian dunia dengan bagian yang lain amat jauh. Bahkan seperlima dunia adalah tanah daratan, sedang empat perlimanya lautan yang luas.
Manusia dengan akal budinya menembus jarak dan perpisahan yang jauh tadi membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkannya satu dengan yang lain. Di antara begitu banyak makhluk Allah di dalam dunia ini, manusialah yang dikaruniai perkembangan akal dan pikiran, sehingga timbullah pepatah yang terkenal, bahwasanya tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
“Yang mengajarkan kepadanya berbicara."
(ayat 4)
Barulah rahman Allah kepada manusia tadi lebih sempurna lagi, karena manusia pun diajar oleh Allah menyatakan perasaan hatinya dengan kata-kata. Itulah yang di dalam bahasa Arab disebut al-bayaan, yaitu menjelaskan, menerangkan apa yang terasa di hati, sehingga timbullah bahasa-bahasa. Kita pun sudah sama maklum bagaimana pentingnya kemajuan bahasa karena kemajuan ilmu pengetahuan. Suatu bangsa yang lebih maju, terutama dilihat orang dalam kesanggupannya memakai bahasa, memakai bicara. Alangkah malang yang tidak sanggup memakai lidahnya untuk menyatakan perasaan hatinya, “bagai orang bisu bermimpi" ke mana dan bagaimana dia akan menerangkan mimpinya? Oleh sebab itu jelaslah bahwa pemakaian bahasa adalah salah satu di antara rahman Allah juga di muka bumi ini. Beribu-ribu sampai berjuta-juta buku-buku yang dikarang, dalam beratus ragam bahasa, semuanya menyatakan apa yang terasa di hati sebagai hasil penyelidikan, pengalaman dan kemajuan hidup.
“Matahari dan bulan, keduanya dengan perhitungan."
(ayat 5)
Perjalanan matahari dan bulan adalah dengan perhitungan yang tepat. Tidak pernah terjadi perbenturan dan tidak pernah terjadi kekacauan. Perjalanan bulan mengelilingi matahari sebagai kelihatan, atau sebenarnya ialah perjalanan bumi mengelilingi bulan teratur 365 hari dalam setahun, sedang perjalanan bulan dikurangi dari itu sebelas hari menjadi 354 hari. Sama sekali perjalanan itu dengan perhitungan, mempunyai musim-musim tertentu. Musim gugur, musim dingin, musim kembang dan musim panas, demikian berganti tiap tahun.
Terpesonalah kita dengan apa yang pernah dikatakan oleh fkrimah, menurut riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abi Hatim, “Kalau misalnya dijadikan Allah seluruh cahaya penglihatan manusia, jin, binatang-binatang dan burung-burung, lalu seluruh penglihatan itu dikumpulkan Allah kepada mata seorang hamba Allah, (manusia), lalu dibukakan satu di antara tujuh puluh dinding terhadap matahari, tidaklah manusia itu akan sanggup melihat kepadanya. Sebab cahaya matahari itu hanya sepertujuh bagian saja daripada cahaya alkursi, dan cahaya alkursi itu sepertujuh puluh bagian saja daripada cahaya Arsy, itu pun hanya sepertujuh puluh bagian saja daripada cahaya dinding, (yaitu dinding yang menghambat kita akan dapat melihat Allah kelak). Maka pikirkanlah, apa cahaya yang diberikan Allah kepada hamba-Nya pada matanya, seketika dia akan melihat wajah Allah dengan mata kepalanya sendiri kelak.
“Dan bintang dan kayu-kayuan keduanya bersujud"
(ayat 6)
Kita pun telah maklum bahwasanya semua makhluk Allah bersujud kepada Allah, artinya tunduk dan patuh kepada apa saja yang dikehendaki Allah atasnya. Jika kita manusia bertunduk atau bersujud, ialah menurut cara-cara yang telah ditunjukkan kepada kita, meniarapkan muka kta ke bumi dengan bertunduk disertai anggota badan yang tujuh, yaitu 1 kepala, 2 dan 3 kedua belah tangan, 4 dan 5 kedua belah lutut dan 6 dan 7 kedua telapak kaki dengan mencecahkan jari-jarinya ke bumi. Niscaya cara bertunduk dan bersujud bintang di langit dan kayu-kayuan di hutan menurut caranya pula. Yang terang ialah bahwa tidak satu jua pun yang dapat melanggar ketentuan Allah. Untuk kejelasan bahwa semuanya sujud itu, ada tersebut di dalam surah al-Hajj ayat 18,
‘Tidakkah engkau lihat, bahwasanya Allah itu, sujud kepada-Nya siapa yang ada di semua langit dan siapa yang di bumi dan matahari dan bulan dan bintang-bintang dan gunung-gunung dan kayu-kayuan dan binatang-binatang, dan banyak dari manusia dan banyak pula yang pasti atasnya adzab, dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidaklah ada yang akan memuliakannya; sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (al-Hajj: 18)
Maka semuanyalah tunduk dan sujud kepada Allah, masing-masing menurut cara dan kemampuannya sendiri, cuma manusia jualah yang sebanyak yang sujud dan sebanyak yang durhaka. Namun akhirnya mau atau tidak mau, manusia itu pun pasti tunduk kepada peraturan Allah dan tidak dapat membantahnya, walaupun dia akan ingkar dan keras kepala jua.
“Dan langit, Dia angkat akan Dia dan Dia letakkan pertimbangan."
(ayat 7)
Kita tengadahkan kepala ke atas, maka kelihatanlah langit terbentang luas. Siang hari biru berawan atau tak ada awan sama sekali, jika malam kelihatanlah dia dihiasi oleh beribu berjuta bintang. Semuanya itu terletak di langit yang tinggi, namun sudah berjuta tahun manusia hidup di bumi ini, belumlah pernah ada bintang yang bertumbuk di antara yang satu dengan yang lain. Letak bintang itu tetap teratur, padahal sangat banyaknya, sampai berjuta-juta. Mengapa tidak ada selisih? Mengapa tidak pernah beradu dan bertumbuk? Semuanya diletakkan dengan pertimbangan atau perimbangan, ditentukan oleh jarak antara yang satu dengan yang lain, dan gerak itu tidak berubah-ubah dari masa ke lain masa sampai berjuta tahun pula. Yang menentukan letak tempatnya itu tidak lain daripada pertimbangan dan perimbangan.
Dalam hal ini diberilah peringatan kepada manusia, agar manusia berusaha pula meniru meneladan penciptaan alam dari perbuatan Allah. Kita melihat adanya pertimbangan dan perimbangan, sehingga semua menjadi teratur. Maka hendaklah yang demikian itu kita jadikan pedoman dalam hidup kita. Kita pun mesti mencari yang teratur, meletakkan sesuatu pada tempatnya, menimbang sama berat, menggantang sama penuh, kemudian itu dijelaskan lagi.
“Supaya janganlah kamu melanggar alunan neraca."
(ayat 8)
Ayat ini sudah memberikan tuntunan lebih jauh kepada manusia, agar manusia jangan sampai melanggar aturan neraca, keseimbangan dan perimbangan.
Inilahyangmenghendaki akan adanya ilmu membangun (arsitektur), yang melengkapi ukuran, teknik dan keindahan. Supaya segala
sesuatu yang kita dirikan menunjukkan bahwa kita mempunyai ilmu pengetahuan bangunan yang teratur. Sehingga dalam ayat ini dapat kita memahamkan betapa pentingnya ilmu arsitektur, keinsinyuran dan handasah (ilmu ukur tanah). Maka kita lihatlah bangunan yang besar-besar dalam dunia ini yang amat mengagumkan, sehingga kita dapati usaha manusia membangun piramida di Mesir yang telah berusia ribuan tahun, namun sampai sekarang masih terasa bagaimana usaha manusia agar dalam membangun itu jangan sampai dia melanggar neraca. Berkumpullah jadi satu di antara keindahan bangunan, teknologi yang mengagumkan dan semuanya itu nampak sebagai hasil usaha manusia mendekati kebenaran, keadilan dan keindahan ciptaan Allah.
“Dan titikanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan pada timbangan."
(ayat 9)
Ayat ini pun memperkuat ayat-ayat di atas sebelumnya. Yaitu apabila kesadaran kita sebagai manusia telah tumbuh, lalu kita melihat kepada alam yang ada di keliling kita, niscaya akan kita rasakanlah betapa sifat rahman Allah tampak di mana-mana. Semuanya indah, semuanya benar dan semuanya adil, tidak ada yang dapat dicela, tidak ada yang dapat dicacat. Sebab itu hendaklah kita tanamkan dalam diri sendiri, agar kita pun menanamkan dalam diri sendiri sifat rahman itu. Kita berakhlak dengan akhlak dalam kesanggupan dan kemampuan kita sebagai manusia. Kalau Allah menciptakan alam dalam sifat-Nya yang rahman, yang kasih dan sayang, yang santun dan murah, mengapa kita tidak akan berusaha berbuat demikian pula. Mengapa kita akan membuat timbangan untuk merugikan orang lain karena ingin berlaba sendiri. Mengapa kita akan berbuat zalim dan aniaya, padahal Allah sendiri tidak pernah melakukan kezaliman itu.
Sebagai penyempurnaan dari kasih sayang, dari rahman rahim itu, Dia berfirman lagi,
“Dan bumi, Dia letakkan akan dia untuk manusia."
(ayat 10)
Di samping Allah mengangkat langit ke atas buatkita renungi nikmat Allah yang mengelilingi kita, maka direndahkan-Nya pula bumi ke bawah kaki kita, supaya kita injak, supaya kita berjalan di atas bumi itu, mengambil faedah daripadanya. Bumi itu disediakan buat kita. Kita makan, minum, berjalan, tidur, istirahat, berusaha, berniaga, bercocok tanam di atas bumi Allah itu. Di keliling kita ada gunung-gunung yang tinggi untuk menangkis angin badai jangan dia menghancurkan hidup kita. Disediakan lautan yang luas tempat kita belayar. Disediakan tanah yang datar untuk kita diami. Segala isi bumi boleh kita ambil, boleh kita usahakan. Asal kita mau bekerja yang sungguh-sungguh, beramal dan bekerja, niscaya akan kita dapatilah segala perbekalan hidup kita di atas bumi itu. Maka terbentangnya bumi, meluasnya laut, meningginya gunung, dengan ombak yang berdebur, dengan angin yang berembus, semuanya itu adalah disediakan buat kita.
“Padanya ada buah-buahan “
(pangkal ayat 11) Berbagai, bermacam buah-buahan disediakan Allah di muka bumi buat kita makan. Beras, gandum dan jagung. Pisang, rambutan, delima, mangga, nanas, limau, epal, anggur, jeruk dan belimbing, dan beratus lagi macam buah-buahan dengan berbagai ragamnya di muka bumi ini.
“Dan buah kuimayang mempunyai mayang."
(ujung ayat 11)
Di sini disebutkan kurma dengan mayangnya. Mari kita perhatikan lagi rahman ilahi pada tumbuh-tumbuhan lain yang sebangsa cara tumbuhnya dengan kurma. Yaitu pohon kelapa, pohon salak, enau, kelapa ﷺit dan pinang. Semuanya itu mempunyai mayang untuk melindungi buah yang tumbuh itu supaya jangan rusak di kala mudanya. Bentuk semuanya itu sama, yaitu sama-sama memakai mayang. Mayang itulah yang melindungi buah-buah yang ada dan diharapkan oleh manusia akan tumbuh dan menjadi mata penghidupan.
“Dan biji-biji yang mempunyai daun dan wangi."
(ayat 12)
Biji-biji itu dapat kita lihat pada biji murbai, pada biji buah langsat, pada kacang yang tumbuh di bumi, semua memakai biji. Dia mempunyai daun, dan daun itu yang melindunginya daripada angin dan badai, dan di dalam dirinya terdapat lagi bau yang harum. Suatu keajaiban pada beberapa buah-buahan yang ada di muka bumi. Yaitu di samping rasanya yang enak dan gurih, ialah baunya yang harum, yang wangi.
Marilah kita perhatikan segala buah-buahan yang manis itu. Sejak dari pisang, sampai kepada nanas dan rambutan, sampai kepada durian dan belimbing, sampai kepada jeruk dan duku! Semuanya manis, semuanya enak, namun kemanisan itu tidak ada yang serupa rasanya. Manis yang satu, lain dari manis yang lain. Kita perhatikan pula misalnya buah mangga! Mangga itu bukan satu macam saja, semuanya enak dan manis, namun manisnya berlain-lain. Mangga golek, mangga indramayu, mangga si harum manis, mangga si mana lagi. Semuanya enak namun manisnya tidak sama. Di Indonesia ini saja terdapat tidak kurang daripada lima belas macam pisang: pisang raja, raja sera', raja tenalun, pisang tanduk, pisang lidi, pisang jarum, pisang siam, pisang ambon, yang satu lain rasanya dengan yang lain, meskipun sama enaknya. Beras yang jadi makanan pokok pada bangsa kita pun demikian pula. Ada berbagai nama padi. Bahkan padi beras ketan dan padi beras biasa pun terdapat berlainan.
Setelah memikirkan rahman ilahi melihat semuanya itu, mulailah datang pertanyaan, yang 31 kali pertanyaan ini akan datang dalam surah ini dan menjadikan keindahan dari surah ini.
“Dan kawula Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kalian berdua dustakan7"
(ayat 13)
Inilah pertanyaan yang jadi inti dari surah ini. Setelah Allah menyebutkan bagaimana luas lebarnya rahman ilahi yang meliputi seluruh alam ini, sehingga manusia bisa tenteram hidup di atasnya, datanglah pertanyaan ini.
Hai seluruh manusia dan jin! Tenggelam kamu dalam nikmat dan rahmat, dalam rahman dan rahim Allah, adakah kamu hidup yang disia-siakan?
Tersebutlah di dalam suatu tafsir diterima daripada Ibnu Abbas, bahwasanya makhluk Allah bangsa jin itu setelah membaca atau mendengar ayat 13 ini dan yang sampai 31 kali diulang-ulang dalam surah ini, makhluk Allah yang bernama jin itulah yang menyambutnya dengan segala kerendahan hati, demikian sambutannya,
“Ya Tuhanku! Tidak ada sesuatu pun dari Karunia Engkau, Ya Rahbana, yang dapat kami dustakan."
Tafsir of Surah Ar-Rahman
Ar-Rahman revealed and taught the Qur'an
Allah informs of His favors and His mercy for His creatures, for He revealed the Qur'an to His servants, He made memorizing and understanding of it easy for those on whom He has bestowed His mercy,
الرَّحْمَنُ
عَلَّمَ الْقُرْانَ
خَلَقَ الاِْنسَانَ
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Ar-Rahman!
He has taught the Qur'an.
He created man.
He taught him Al-Bayan.
Al-Hasan said:Eloquent speech.
This refers to Allah teaching the Qur'an, that is, teaching the servants how to recite it by making it easy for them to speak and pronounce letters with the various parts of the mouth, such as the alveolar bridge, the tongue and the lips
Among Allah's Signs:the Sun, the Moon, the Sky and the Earth
Allah said,
الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
The sun and the moon (run) on fixed courses.
They move in their orbit in perfect succession, according to precise calculation that is never delayed nor disturbed,
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِى لَهَأ أَن تدْرِكَ القَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِى فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
It is not for the sun to overtake the moon, nor does the night outstrip the day. They all float, each in an orbit. (36:40),
فَالِقُ الاِصْبَاحِ وَجَعَلَ الَّيْلَ سَكَناً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَاناً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
(He is the) Cleaver of the daybreak. He has appointed the night for resting, and the sun and the moon for calculating. Such is the measuring of the Almighty, the All-Knowing. (6:96),
Allah said,
وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ
And the Najm and the trees prostrating.
Ibn Jarir commented,
Scholars of Tafsir disagreed over the meaning of Allah's statement, `And the Najm.' They agreed, however, that the trees mentioned here are those that stand on trunks.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas said,
An-Najm refers to the plants that lay on the ground.
Similar was said by Sa`id bin Jubayr, As-Suddi and Sufyan Ath-Thawri.
This is what Ibn Jarir preferred, may Allah have mercy upon him.
Mujahid said,
An-Najm (the star); the one that is in the sky.
Al-Hasan and Qatadah said similarly.
This is the saying that is the most obvious, and Allah knows best, for Allah the Exalted said,
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِى السَّمَـوَتِ وَمَن فِى الاٌّرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ
See you not that whoever is in the heavens and whoever is on the earth, and the sun, and the moon, and the stars, and the mountains, and the trees, and the moving creatures, and many of mankind prostrate themselves to Allah. (22:18)
Allah's statement,
وَالسَّمَاء رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ
And the heaven He has raised high, and He has set up the balance.
meaning the justice,
as He said in another Ayah,
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَـتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَـبَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Indeed, We have sent Our Messengers with clear proofs, and sent down with them the Book and the balance that mankind may keep up equity. (57:25)
Allah said here,
أَلاَّ تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
In order that you may not transgress the balance.
meaning, He created the heavens and earth in justice and truth so that everything is founded on, and observing, justice and truth.
Allah's statement,
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَاأ تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ
And observe the weight with equity and do not make the balance deficient.
meaning, do not cheat in the weights and measures, but rather observe justice and fairness,
وَزِنُواْ بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ
And weigh with the true and straight balance. (26:182)
Allah said,
وَالاْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِ
And the earth He has put down (laid) for Al-Ana'm.
Allah raised the heavens and put down, or laid, the earth and balanced it with firm mountains, so that it would be stable for its residents that live on it, i.e. the various types and kinds of creatures, different in species, shape, color and language.
Ibn Abbas, Mujahid, Qatadah and Ibn Zayd said that Al-An'am means the creatures
فِيهَا فَاكِهَةٌ
Therein are fruits, (of various colors, taste and scent),
وَالنَّخْلُ ذَاتُ الاْاَكْمَامِ
and date palms producing Akmam.
Allah mentioned the date tree here specifically because of its benefit, both fresh and dry.
Ibn Jurayj reported that Ibn Abbas said said Al-Akmam, means
sheathed fruit stalks.
Similar was said by more than one of the scholars of Tafsir, it refers to the stalks that the seeds grow in to become a cluster of dates, unripe green dates then they ripen and ripen more.
Allah said,
وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ
And also corn, with (its) `Asf, and Rayhan.
Ali bin Abi Talhah said that Ibn Abbas said that in,
وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ
(And also corn, with (its) `Asf), `Asf means straw.
Al-Awfi reported from Ibn Abbas,
`Asf is green leaves cut from the stem, so it is called `Asf when it dries out.
Similarly, Qatadah, Ad-Dahhak and Abu Malik said that `Asfmeans straw.
Ibn Abbas, Mujahid and others said that Rayhan means leaves, while Al-Hasan said that it means sweet-scented plants.
Ali bin Abi Talhah reported that Ibn Abbas said that Rayhan means green leaves.
The meanings here, and Allah knows best, are the various crops that produce straw, such as wheat and barley, and Rayhan are the leaves that grow on the stems.
And He has raised the sky and set up the balance, He has established justice,
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (And He raised the sky high, and has placed the scale....55:7) The verbs rafa'a and wada` a are antonyms: rafa'a means 'to raise up' and wada'a means 'to put down'. The verse first describes that Allah has raised the heavens. This could have its obvious or outer meaning referring to the physical height of the sky, and it could also have its metaphorical meaning, referring to the high status of the heaven: In relation to the earth, the heaven occupies a higher position. Normally, the earth is understood to be the opposite of the heaven. From this point of view, the heaven and the earth are treated as opposites and mentioned throughout the Holy Qur'an in that way. Having described the high position of the heaven, the Qur'an goes on to describe that Allah has set the balance, but 'placing the scale' vis-a-vis 'raising the heaven' does not seem to form a suitable pair according to the linguistic norm. As a matter of fact, a closer analysis of the context indicates that the verse is describing the 'placing of the earth'. Three verses later, verse (10) reads وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ (And the earth is placed by Him for creatures...55:10) Thus the Qur'an is actually describing the heaven and the earth as opposites. In between the two, a third factor [ that of placing the scale ] is inserted for a sage reason. The wisdom in this seems to lie in the fact that the verses that follow lay stress on observing justice and fairness. They do not allow violation of rights and practice of injustice. Following the verses referring to 'raising the heaven' and 'placing the earth' are verses that describe the scale and enjoin the correct use of it. This implies that the ultimate purpose of creating the heaven and the earth was to establish justice, peace and harmony. Peace, safety, security and harmony cannot prevail on earth without establishing justice. Without justice, chaos, disorder, mischief and corruption will hold sway in the land. Allah, the Pure and the Most High, knows best!
The word مِيزَانَ mizan has been interpreted variously. In the current verse, scholars like Mujahid, Qatadah, Suddi رحمۃ اللہ علیہم and others interpret it in the sense of 'justice', because that is the purpose of mizan [ scale ]. Other scholars have taken the word in its obvious sense of a piece of equipment used to determine the weights of people or things. This equipment could be a pair of scales, consisting of a bar with a pan or a dish at each end or it may be some modern equipment used for the purpose of measuring and weighing. The ultimate sense of this interpretation in any case is maintaining rights and establishing justice and fair play.