ٱلنَّجْم ٢
- مَا tidak
- ضَلَّ sesat
- صَاحِبُكُمۡ kawanmu
- وَمَا dan tidak
- غَوَىٰ keliru/sesat
kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru,
(Kawanmu tidak sesat) artinya, Nabi Muhammad ﷺ tidak sesat dari jalan petunjuk (dan tidak pula keliru) tidak pula salah, yang dimaksud adalah dia tidak bodoh tentang akidah yang rusak.
Tafsir Surat An-Najm: 1-4
Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Asy-Sya'bi dan lain-lainnya menyebutkan bahwa Pencipta boleh saja bersumpah dengan menyebut nama makhluk-Nya yang dikehendaki-Nya, tetapi bagi makhluk tidak boleh bersumpah dengan menyebut nama selain Tuhan Yang Maha Pencipta (Allah subhanahu wa ta’ala), menurut riwayat Ibnu Abu Hatim. Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi bintang ketika terbenam. (An-Najm: 1) Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan bintang di sini adalah bintang surayya, yakni apabila terbenam bersamaan dengan munculnya fajar.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sufyan Ats-Tsauri, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir. As-Suddi mengatakan bahwa bintang yang dimaksud adalah bintang zahrah (venus). Lain pula dengan Adh-Dhahhak, ia mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Demi bintang ketika terbenam. (An-Najm: 1) Yakni apabila dilemparkan ke arah setan-setan; pendapat ini mempunyai alasannya yang tersendiri. Al-A'masy telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Demi bintang ketika terbenam. (An-Najm: 1) Yaitu Al-Qur'an pada saat diturunkan.
Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. (Al-Waqi'ah: 75-80) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. (An-Najm: 2) Inilah jawab dari sumpah di atas, yaitu kesaksian terhadap Rasul ﷺ bahwa beliau adalah orang yang berada pada jalan yang lurus, mengikuti kebenaran dan bukanlah orang yang sesat.
Yang dimaksud dengan orang yang sesat ialah orang yang menempuh jalan menyimpang tanpa pengetahuan. Dan orang yang keliru ialah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi dengan sengaja menyimpang darinya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala membersihkan Rasul-Nya dan syariat-Nya dari kemiripan yang biasa dilakukan oleh ahli kesesatan seperti kaum Nasrani dan golongan-golongan orang-orang Yahudi, yang mengetahui sesuatu, tetapi menyembunyikannya dan mengerjakan hal yang bertentangan dengannya. Bahkan salawat dan salam Allah terlimpahkan kepadanya, dan apa yang diamanatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya berupa syariat yang agung merupakan syariat yang benar-benar lurus, pertengahan, dan tepat.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. (An-Najm: 3) Yakni apa yang diucapkannya itu bukanlah keluar dari hawa nafsunya dan bukan pula karena dilatarbelakangi tujuan. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (An-Najm: 4) Yaitu sesungguhnya yang diucapkannya itu hanyalah semata-mata berdasarkan wahyu yang diperintahkan kepadanya untuk ia sampaikan kepada manusia dengan sempurna dan apa adanya tanpa penambahan atau pengurangan. Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan:
telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Us'man ibnu Abdur Rahman ibnu Maisarah, dari Abu Umamah, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya dimasukkan ke dalam surga berkat syafaat seorang lelaki yang bukan nabi sebanyak orang yang semisal dengan dua kabilah atau salah satu dari dua kabilah yaitu Rabi'ah dan Mudar. Maka ada seorang lelaki yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah Rabi'ah itu berasal dari Mudar? Rasulullah ﷺ menjawab, "Aku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Ubaidillah ibnul Akhnas, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Abdullah, dari Yusuf ibnu Mahik, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa ia mencatat semua yang pernah ia dengar dari Rasulullah ﷺ dengan maksud untuk menghafalkannya.
Kemudian orang-orang Quraisy melarangku berbuat demikian. Mereka mengatakan, "Sesungguhnya kamu mencatat semua yang kamu dengar dari Rasulullah ﷺ, padahal Rasulullah ﷺ adalah seorang manusia yang juga berbicara di saat emosinya." Maka aku menahan diri dari menulis, kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ Beliau ﷺ bersabda: Teruskanlah tulisanmu, maka demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tiadalah yang keluar dari lisanku melainkan hanya hak (benar) belaka. Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini melalui Musaddad dan Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, keduanya dari Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan dengan sanad yang sama. Al-Hafidzh Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur.
telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Al-Al-Laits, dari Ibnu Ajian, dari Zaid ibnu Aslum, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Apa yang kusampaikan kepada kalian dari sisi Allah itulah hal yang tiada keraguan padanya. Kemudian Al-Bazzar mengatakan, "Kami tidak mengetahui hadits ini diriwayatkan kecuali hanya melalui sanad ini." Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Muhammad ibnu Sa'id ibnu Abu Sa'id, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: "Tiadalah yang kuucapkan melainkan benar belaka. Sebagian sahabat bertanya.Sesungguhnya engkau adakalanya berseloroh dengan kami, wahai Rasulullah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku tidak pernah mengucapkan kecuali kebenaran belaka.".
Sesungguhnya kawanmu yang sangat kamu kenal kejujurannya, yaitu Nabi Muhammad, tidak sesat dalam perilakunya saat menyampaikan dakwah dan tidak pula keliru dalam ucapan-ucapan yang disampaikannya. 3. Apa saja yang dilakukan oleh Nabi Muhammad merupakan perintah Tuhannya, dan tidaklah pula yang diucapkannya itu, yaitu ayat-ayat Al-Qur'an, merupakan perkataan kosong dan menurut keinginannya saja.
Allah menerangkan bahwa kawan mereka itu (Muhammad) adalah benar-benar seorang nabi. Dia tidak pernah menyimpang dari jalan yang benar. Ia Juga tidak pernah melakukan kebatilan. Pada kenyataannya Rasulullah ﷺ adalah seorang rasul yang diberi petunjuk oleh Allah, dia mengikuti kebenaran. Dia bukan seorang yang menyesatkan (dan bukanlah pula ia berjalan pada jalan yang ia sendiri tidak mengetahuinya). Dia bukan seorang yang sesat yang berpaling dari kebenaran dengan suatu tujuan tertentu. Keadaan beliau yang seperti itu, bukan saja setelah beliau diangkat menjadi rasul, tetapi juga sebelumnya. Oleh sebab itulah Allah memberikan kepadanya petunjuk dan syariat untuk memberikan sinar terang kepada orang-orang yang sesat baik Yahudi maupun Nasrani yang sebenarnya mereka mengetahui kebenaran itu, tetapi tidak mengamalkannya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH AN-NAJM
(BINTANG)
SURAH KE-53, 62 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.
“Demi bintang apabila dia telah terbenam."
(ayat 1)
Di permulaan surah ini Allah mengambil sumpah di atas bintang. Bahasa Arabnya ialah an-Najm, yang kita artikan bintang. Tetapi Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa arti an-Najm itu bukanlah semata-mata satu saja bintang. Beliau berkata dia berarti juga tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di bumi. Arti yang ketiga ialah bahwa bintang yang dimaksud di sini ialah Al-Qur'an sendiri, sebab dia memberi petunjuk.
Maka seorang Badwi penunjuk jalan yang tengah di perjalanan tidaklah mereka merasa bingung dan ragu jika musafir di waktu malam gelap gulita. Karena suatu jurusan yang akan ditempuh baik timur atau utara baik barat atau selatan, sudah ada bintangnya sendiri berpengalaman mengambil petunjuk pada edaran bintang-bintang itu. Maka dapatlah kita memberi tafsir dari ayat surah an-Najm.
“Demi bintang apabila dia telah terbenam." Bagaimanalah jadinya manusia yang sedang musafir dalam alam ini, kalau kiranya dia berjalan di dalam gelapgulita malam, sedang satu bintang pun tidak kelihatan cahayanya, sehingga gelap arah yang akan dituju dalam hidup.
Maka persumpahan dengan bintang pada ayat ini, sama juga artinya dengan sumpah-sumpah Allah yang lain-lain di dalam Al-Qur'an. Bila bintang-bintang tidak dapat dipedomani lagi, artinya seluruh langit telah gelap, manusia pun kehilangan pedoman, kehilangan arah pastilah kekacauan yang datang.
Ilmu manusia yang masih terbatas sekali tentang bintang di langit telah memberikan keterangan yang amat dahsyat. Ada disebutkan tentang bintang asy-Syi'raa, yang kelak akan bertemu dalam surah an-Najm ini juga pada ayat 49. Dinyatakan oleh ahli-ahli penyelidik bintang-bintang bahwa jauhnya dari bumi sampai 300.000 tahun perjalanan cahaya. Dalam bahasa Indonesia disebut Bintang Lembu. Diterangkan juga tentang peraturan keseimbangan daya tarik yang ada pada seluruh alam. Daya tarik itulah yang menyebabkan sudah berjuta-juta tahun bintang-bintang itu tetap pada tempatnya masing-masing. Maka kalau tergeser satu dari tempatnya, porak-porandalah susunan pertalian di antara yang satu dengan yang lain. Artinya, hancurlah seluruh alam ini karena keseimbangan tidak ada lagi. Pikirkanlah dan bandingkan! Bumi kita ini adalah salah satu daripada bintang-bintang yang berjuta-juta kelihatan di halaman langit. Kelihatan kecil, berkelap-kelip di halaman langit. Bumi ini terasa besar karena kita berdiam di sini. Dan dia pun akan kelihatan kecil, sekecil bintang-bintang itu pula kalau kita misalnya berada di salah satu bintang-bintang itu dan melihat ke bumi. Maka dapatlah dikira-kirakan betapa dahsyat jika salah satu bintang terganjak atau terjatuh dari tempatnya, Kiamatlah dunia, bahkan alam seluruhnya.
Yang disumpahkan Allah dengan bintang bila dia jatuh dari tempatnya itu ialah ayat yang selanjutnya,
‘Tidaklah tersesat teman kamu itu."
(pangkal ayat 2)
Ayat ini dihadapkan manusia di zaman Nabi, yang telah menyatakan beliau sebagai temannya, atau sahabatnya. Segala orang yang telah bertemu dengan beliau dan percaya akan risalah beliau, disebut sahabat beliau dan beliau adalah sahabat mereka, teman setia. Maka di dalam ayat di per ingatkanlah bahwa teman mereka itu, yaitu Nabi Muhammad ﷺ tidaklah tersesat, tidaklah bertindak sekehendak hati, semau-inaunya.
“Dan tidaklah dia keliru."
(ujung ayat 2)
Perbedaan sesat dan keliru ialah bahwa sesat (dhalla) ialah salah mengambil jalan karena tidak tahu sama sekali. Sedang keliru (ghawaa) ialah menyangka bahwa jalan yang ditempuh itulah yang benar, meskipun telah ditegur, lalu ditempuh juga, akhirnya bertemu jalan yang buntu. Dalam ayat diberi jaminan oleh Allah, bahwasanya Nabi ﷺ yang dalam ayat derajat orang yang beriman kepadanya diangkat naik karena Nabi ﷺ disebut shci-hibukum, yaitu teman kamu, sahabat kamu. Kalau kamu beriman kepadanya, kamu adalah temannya. Oleh sebab yang disebut sahabatnya adalah yang bertemu dengan dia, tentulah kita yang datang jauh di belakang beliau ini, menurut kaidah ini tidak termasuk sahabatnya lagi. Namun beliau membukakan pintu juga bagi umat beliau yang datang di belakang, sebagai tersebut di dalam hadits yang telah kita salinkan juga pada jilid pertama tafsir ini,
“Bahagialah orang yang melihat akan daku lalu percaya kepadaku. Kemudian berbahagialah (beliau ulangi tujuh kali) orang yang percaya kepadaku padahal dia tidak pernah melihat aku.''
Oleh sebab itu maka kalimat shahibukum adalah kata penghormatan yang tinggi untuk orang yang beriman pada segala zaman.
TUTUR NABI IALAH WAHYU
“Dan, tidaklah dia … dari kemauan sendiri."
(ayat 3)
Ayat ini menjelaskan bahwasanya apabila Rasulullah bertutur atau bercakap mengeluarkan perkataan, tidaklah itu timbul dari kehendaknya sendiri saja. Bahkan bila ada orang berbuat suatu perbuatan di hadapan beliau, sedang perbuatan itu tidak beliau larang, melainkan beliau diam, maka diamnya itu pun jadi hujjah (alasan dan dalil) bahwa diamnya adalah tanda perbuatan itu boleh dikerjakan.
Itulah sebabnya maka dibagi Sunnah Rasul itu kepada tiga: pertama aqwaal (ucapan) beliau. Kedua, af'aal (perbuatan) beliau. Ketiga, taqrir (perbuatan orang lain) yang tidak beliau tegur.
Oleh sebab itu maka segala ucapan yang beliau ucapkan, tidaklah lepas dari batas-batas wahyu. Dan tidaklah mungkin perkataan beliau berlawanan dengan wahyu yang beliau terima dari Allah dengan perantaraan Jibril. Sebab itu maka ayat selanjutnya menyebutkan dengan terang,
“Tidaklah dia itu melainkan wahyu yang telah diwahyukan."
(ayat 4)
Ayat ini adalah sambungan dari ayat 3 sebelumnya. Bahwa beliau bercakap tidaklah dari hawa, yaitu perasaannya sendiri. Apa yang beliau ucapkan ialah menurut wahyu Allah semata-mata. Ini dijelaskan di ayat yang lain,
“Dan kalau dia mengatakan di atas nama Kami sebagian dari kata-kata, sungguh akan Kami tarik daripadanya dengan tangan kanan; kemudian itu sungguh Kami potong daripadanya tali jantungnya." (al-Haaqqah: 44-46)
Maksudnya ialah Nabi Muhammad ﷺ sekali-kali tidak boleh bercakap dengan sebagian perkataan semau-maunya saja, tidak berdasar kepada wahyu yang dia terima dari Allah maka dia akan ditarik dengan tangan kanan Allah. Sudah terang bahwa menyebut tangan kanan adalah semata-mata menjelaskan bagaimana kerasnya hukum Allah yang akan berlaku atas diri beliau, sebab tangan kanan adalah untuk menunjukkan bahwa tarikannya
lebih kuat dari tangan kiri. Tetapi setengah ahli tafsir memberi arti bahwa tangan kanan Nabi Muhammad ﷺ-lah yang akan ditarik dan tali jantungnya yang akan diputuskan kalau dia berani bercakap semau-maunya, keluar dari garis wahyu.
Maka kita pun maklum bahwa Rasulullah ﷺ banyak bercakap, yang kita namai al-Hadits atau as-Sunnah. Percakapan Rasulullah ﷺ itu dicatat oleh ahli-ahli pencatat. Sebagai Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, an-Nasa'i, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ibnu Hibban, ad-Darimi, Ibnu Khuzaimah, Abu Dawud, dan lain-lain.
Dan hadits-hadits itu teranglah bukan wahyu. Tetapi peringatan dari ayat 44, 45, dan 46 surah al-Haaqqah itu ialah bahwa Nabi ﷺ tidak boleh bercakap dalam keadaan berbeda perkataannya dengan barang mana pun isi wahyu Ilahi. Maka kalau wahyu datang memberikan ijmaal, datanglah uraian dari Nabi ﷺ secara tafshil Misalnya datang perintah Ilahi shalat lima waktu maka datanglah perbuatan Nabi menjelaskan bagaimana melakukan shalat itu, dengan sabda beliau,
“Shalatlah kamu seperti kamu lihat aku shalat."
Datanglah perintah, wahyu di dalam Al-Qur'an supaya kita mengerjakan haji, lalu Rasulullah ﷺ memperlihatkan contoh bagaimana kaifiyat, cara-cara mengerjakan haji itu, dan beliau pun bersabda,
“Ambillah daripadaku cara-cara mengerjakan manasik (kewajiban-kewajiban dan rukun haji) kamu."
Teranglah hadits-hadits itu bukan wahyu, tetapi tidak menyalahi, tidak mengubah atau menambah atau mengurangi apa yang terkandung dalam wahyu. Dikuatkan lagi oleh ayat-ayat Allah sendiri dalam Al-Qur'an,
“Dan apa pan yang didatangkan kepada kamu oleh Rasul, hendaklah kamu ambil akan dia, dan apa yang dia larang kamu, hendaklah kamu hentikan." (al-Hasyr: 7)
Dan firman Allah lagi,
“Sesungguhnya adalah bagi kamu pada utusan Allah itu teladan yang (yaitu) bagi barangsiapa yang mengharapkan (dari Allah) dan hari yang akhir dan yang ingat kepada Allah sebanyak-banyaknya." (al-Ahzaab: 21)
Pada ayat-ayat ini teranglah bahwa Allah memberikan jaminan bahwa Rasulullah ﷺ jika bercakap, tidaklah beliau bercakap dengan sekehendak hatinya saja, melainkan percakapan beliau tidak akan keluar dari garisan wahyu. Dan ditegaskan lagi oleh Allah, bahwa dia tidak berani bercakap sekehendak hati, menyimpang dari wahyu, dia akan dihukum, tangannya akan ditarik dan dipotong tali jantungnya. Setelah itu diwajibkan taat kepadanya, kerjakan perintahnya, hentikan larangannya. Di dalam surah an-Nisaa' ayat 80 tersebut dengan jelas,
“Dan barangsiapa yang taat kepada Rasul maka sesungguhnya dia itu telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang berpaling maka tidaklah Kami mengutus engkau kepada mereka buat jadi penjaga." (an-Nisaa': 80)
Maksudnya ialah kalau Rasul tidak mereka taati, teranglah mereka akan dihukum oleh Allah dan Rasul tidak ada upaya buat menghalangi jika hukum itu datang. Semua orang sama di hadapan keadilan Allah.
Di zaman modern sekarang ini ada orang Islam tersesat berpikir. Mereka mengatakan bahwa kita cukup berpegang kepada Al-Qur'an saja. Tidak usah pakai hadits lagi. Sebab hadits itu kata mereka, banyak yang tidak shahih. Sebab itu tinggalkan saja!
Pendapat begini adalah racun perusak sendi-sendi Islam yang disiarkan oleh Orientalis Barat, yang sama sekali bukan ilmiah sifatnya. Dengan katanya cukup Al-Qur'an saja itu, anjuran ini telah melanggar akan aturan Al-Qur'an sendiri, yang menyatakan bahwa taat kepada Rasul itu. sudah sama dengan taat kepada Allah. Maka dengan meninggalkan hadits Rasul itu, telah jelas bahwa kita telah tidak berpegang lagi kepada perintah Allah. Bukan satu, bukan dua ayat-ayat yang memerintahkan taat kepada Allah dan Rasul. Sehingga dengan pasti dapat kita terangkan, bahwa anjuran orang dengan taat kepada Allah saja, dengan meninggalkan Rasul, sama artinya dengan kafir,
“Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka bagi mereka adalah api neraka Jahannam, kekal mereka di dalamnya selama-lamanya." (al-Jinn: 23)
Orang yang kekal di neraka itu ialah orang yang kafir.
Kalau mereka mengatakan bahwa al-hadits itu banyak yang palsu, yang dhaif, yang munkar.
Kita bertanya, “Adakah di antara mereka yang berani mengatakan, ‘Semua hadits Nabi ﷺ adalah palsu, semua dhaip'"
Menurut pengetahuan kita, sudah empat belas abad agama Islam sampai sekarang, tidak ada orang yang mengatakan semua hadits palsu, semua hadits dhaif. Tidak ada! Orang hanya mengatakan banyak.
Maka menurut undang-undang ilmiah, selama ilmiah itu masih memakai sendi-sendi penyelidikan yang wajar, kalau banyak yang palsu atau dhaif, bukanlah orang membuangkan semua, melainkan menyelidiki, menapis, menyaring, menyisihkan mana yang beras dan mana yang antah. Bukan membuangkan semua karena di sana terdapat antah!
Dalam perkembangan agama Islam, dari abad Islam yang kedua, di zaman tabi'in, yaitu angkatan sesudah sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ, telah diadakan orang penyelidikan, penelitian dan penyisihan tentang hadits-hadits ini, sehingga telah diketahui bahwa di samping yang dhaif atau palsu terdapat yang shahih, atau yang sah, yang kuat (gavri), yang hasan (bagus); bahkan ada yang mutawatir, yaitu yang mustahil akan bersekongkol orang membuat berita bohong. Seumpama cara shalat, menghadap kiblat, Zhuhur empat rakaat, Shubuh dua, Maghrib tiga, dan sebagainya. Ini adalah contoh-contoh dari hadits yang mutawatir, demikian juga wu-quf di Arafah. Sebab itu kalau ada orang yang mengatakan bahwa semua hadits tidak usah dipakai lagi, sebab ada hadits itu yang palsu atau dhaif, bukanlah orang itu berkata dengan ilmu, melainkan sengaja hendak menghancurkan sendi-sendi Islam dengan menghalangi hubungan orang dengan sunnah Rasul.
“Yang memberinya ajaran ialah yang sangat kuat."
(ayat 5)
Inilah jaminan selanjutnya tentang wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ itu. Bahwasanya yang mengajarkan wahyu itu kepada beliau ialah makhluk yang sangat kuat. Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan yang sangat kuat itu ialah Malaikat Jibril.
“Yang mempunyai keteguhan."
(pangkal ayat 6)
Mujahid, al-Hasan, dan Ibnu Zaid memberi arti, “Yang mempunyai keteguhan." Ibnu Abbas memberi arti, “Yang mempunyai rupa yang elok." Qatadah memberi arti, “Yang mempunyai bentuk badan yang tinggi bagus." Ibnu Katsir ketika memberi arti berkata, “Tidak ada perbedaan dalam arti yang dikemukakan itu. Karena Malaikat Jibril itu memang bagus dipandang mata dan mempunyai kekuatan luar biasa. Lanjutan ayat ialah fastawaa, artinya,
“Yang menampakkan diri yang asli."
(ujung ayat 6)
Menurut riwayat dari Ibnu Abi Hatim yang diterimanya dari Abdullah bin Mas'ud, bahwasanya Rasulullah ﷺ melihat rupanya yang asli itu dua kali. Kali yang pertama ialah ketika Rasul ﷺ meminta kepada Jibril supaya sudi memperlihatkan diri menurut rupanya yang asli. Permintaan itu dia kabulkan lalu kelihatanlah dia dalam keasliannya itu memenuhi ufuk! Kali yang kedua ialah ketika dia memperlihatkan diri dalam keadaannya yang asli itu, ketika Jibril akan menemani beliau pergi Isra' dan Mi'raj. Dalam pernyataan diri dari keasliannya itu, Nabi melihatnya dengan sayap yang sangat banyak, enam ratus sayap.
“Sedang dia berada di ufuk yang tinggi."
(ayat 7)
Kelihatan oleh Rasulullah ﷺ Jibril dalam keasliannya itu, dengan enam ratus sayap, dan tiap sayap memenuhi ufuk.
Anas bin Malik, al-Hasan, dan Ikrimah mengatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam keadaan demikian dengan matanya sendiri. Ada juga orang yang memberi tafsir bahwa yang kelihatan oleh Muhammad ﷺ itu ialah Allah sendiri. Namun Aisyah istri Nabi ﷺ membantah tafsir itu sekeras-kerasnya. Kata beliau,
“Engkau telah mempercakapkan sesuatu yang menyebabkan bulu ramaku berdiri."
Masruq (seorang tabi'in) berkata, “Harap tenang!" Lalu Masruq membaca ayat,
“,Sesungguhnya dia telah melihat ayat-ayat dari Tuhannya yang besar/' (an-Najm: 18)
Lalu Aisyah menjelaskan, “Ke mana engkau terbawa hai Masruq. Yang dimaksud ayat ini bukan Allah tetapi Jibril! Siapa yang memberitakan kepadamu bahwa Muhammad ﷺ pernah melihat Tuhannya? Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa dia Nabi ﷺ menyembunyikan, tidak menyampaikan apa yang disuruh Allah menyampaikan? Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad mengetahui lima perkara (seperti tersebut di akhir surah Luqmaan). Siapa yang mengatakan semuanya itu, dia telah membuat dusta. Beliau ﷺ hanya melihat Jibril dan dia melihat Jibril dalam keasliannya hanya dua kali."
“Kemudian dia pun dekat, bertambah Dekat."
(ayat 8)
Itu pun masih menceritakan bahwa pada waktu itu Nabi Muhammad ﷺ melihat Jibril dalam keadaan yang dekat sekali.
“Maka jadilah dekatnya sejarak dua busur panah atau lebih dekat."
(ayat 9)
Di dalam Tafsir al-Kabir oleh Fakhruddin ar-Razi, beliau ini menerangkan satu kali Malaikat Jibril itu memperlihatkan dirinya dalam keadaannya dengan enam ratus sayap dan sebelah kakinya saja memenuhi ufuk. Tetapi sekali lagi dia memperlihatkan dirinya menyerupai manusia, sebagai tersebut di dalam hadits shahih bahwa datang seorang laki-laki menanyakan beberapa soal kepada Nabi ﷺ apa arti Islam, apa arti iman, apa arti ihsan, dan bila Kiamat (Saat) akan terjadi dan apa tanda-tandanya. Dia bertanya itu di hadapan banyak sahabat-sahabat Nabi ﷺ Setelah selesai bertanya dia pun berjalan
meninggalkan tempat itu. Setelah dia pergi Nabi ﷺ memberitahu kepada para sahabat, bahwa orang tadi adalah malaikat, “Datang mengajarkan kepada kamu dari hal agama kamu."
Maka ketika Nabi ﷺ melihat Jibril dalam keadaannya yang asli itu, dengan enam ratus sayap dan kaki yang memenuhi ufuk itu, sedang Jibril jauh dari Nabi. Tetapi dia menjelma sebagai ketika datang bertanya di hadapan orang banyak itu beliau sangat dekat, “Maka jadilah dekatnya sejarak dua busur panah atau lebih dekat."
Untuk jelasnya dapat di sini kita salinkan hadits yang terkenal,
“Daripada Umar bin al-Khathab r.a., berkata dia, ‘Sedang kami duduk di dekat Rasulullah ﷺ pada suatu hari, tiba-tiba datanglah kepada kami seorang laki-laki yang sangat putih kainnya dan sangat hitam rambutnya, tidak dilihat pada dirinya bekas-bekas tanda orang musafir, dan tidak ada yang kenal kepadanya di antara kami seorang jua pun, sehingga dia duduk di sisi Nabi lalu disandarkannya lututnya kepada lutut Nabi dan diletakkannya kedua belah telapak t angannya ke atas paha Nabi dan dia pun berkata, ‘Hai Muhammad! Ceritakanlah kepadaku dari hal /siam itu (sampai kepada akhir hadits).
“Maka dia pun pergi maka tinggallah seketika lamanya."
Ucapan ini dari Sayyidina Umar sendiri.
“Kemudian heliau (ﷺ) berkata, ‘Hai Umar tahukah engkau siapa orang yang datang bertanya itu?'"
“Aku menjawab, ‘Allah dan RasulNyalah yang lebih tahu."
Beliau berkata,
“Orang itu ialah Jibril. Dia datang untuk mengajarkan kepada kamu agama kamu."(HR Muslim)
Maka hadits ini dapatlah memberikan paham kepada kita tentang maksud dari ayat, “Maka jadilah dekatnya sejarak dua busur panah atau lebih dekat"lagi daripada Nabi ﷺ, sehingga sampai disandarkannya lututnya kepada lutut Nabi ﷺ dan diletakkannya kedua belah telapak tangannya ke atas kedua belah paha Nabi, demikian rapat dan dekat sehingga tidak berjarak lagi.
“Maka Dia pun mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang hendak Dia wahyukan."
(ayat 10)
Pada ayat inilah baru dijelaskan bahwa wahyu itu datang dari Allah Ta'aala sendiri dan Jibril hanyalah sebagai pembawa wahyu belaka.
Menurut riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Asakir dengan sanadnya dari Habbar bin al-Aswad dan beberapa ahli hadits yang lain, Utbah anak Abu Lahab ketika akan pergi ke negeri Syam menyuruh orang menyampaikan pesannya kepada Rasulullah ﷺ bahwa dia tidak percaya sama sekali berita tentang Malaikat Jibril membawa wahyu kepada Rasulullah ﷺ Utbah mengatakan kepada
orang banyak, “Ketahuilah olehmu sekalian bahwa aku tidak percaya dan kafir terhadap riwayat yang dikatakan Muhammad itu bahwa Jibril telah mendekat kepadanya untuk menyampaikan wahyu itu." Berita ini pun disampaikan orang kepada Rasulullah ﷺ Mendengar sanggahannya itu bersabdalah Nabi, “Allah akan mengirim salah satu dari anjing-anjing-Nya."
Tafsir of Surah An-Najm
Allah swears the Messenger is True and His Words are a Revelation from Him
Ibn Abi Hatim recorded that Ash-Sha`bi and others stated that the Creator swears by whatever He wills among His creation, but the created only vow by the Creator.
Allah said,
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى
By the star when it goes down.
Ibn Abi Najih reported that Mujahid said,
The star refers to Pleiades when it sets at Fajr.
Ad-Dahhak said
When the Shayatin are shot with it.
And this Ayah is like Allah's saying;
فَلَ أُقْسِمُ بِمَوَقِعِ النُّجُومِ
وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ
إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيمٌ
فِى كِتَـبٍ مَّكْنُونٍ
لااَّ يَمَسُّهُ إِلااَّ الْمُطَهَّرُونَ
تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَـلَمِينَ
So, I swear by the setting of the stars. And verily, that is indeed a great oath, if you but know. That is indeed an honorable recitation. In a Book well-guarded. Which none can touch but the pure. A revelation from the Lord of all that exists. (56:75-80)
Allah said;
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى
Your companion has neither gone astray nor has erred.
This contains the subject of the oath. This part of the Ayah is the witness that the Messenger of Allah is sane and a follower of Truth. He is neither led astray, such as in the case of the ignorant who does not proceed on any path with knowledge, nor is he one who erred, such as in the case of the knowledgeable, who knows the Truth, yet deviates from it intentionally to something else. Therefore, Allah exonerated His Messenger and his Message from being similar to the misguided ways of the Christians and the erroneous paths of the Jews, such as knowing the Truth and hiding it, while abiding by falsehood. Rather, he, may Allah's peace and blessings be on him, and his glorious Message that Allah has sent him with, are on the perfect straight path, following guidance and what is correct.
Muhammad was sent as a Mercy for all that exists; He does not speak of His Desire
Allah said,
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى
Nor does he speak of desire,
asserting that nothing the Prophet utters is of his own desire or wish,
إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى
It is only a revelation revealed,
means, he only conveys to the people what he was commanded to convey, in its entirety without additions or deletions.
Imam Ahmad recorded that Abu Umamah said that he heard the Messenger of Allah say,
لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ لَيْسَ بِنَبِيَ مِثْلُ الْحَيَّيْنِ أَوْ مِثْلُ أَحَدِ الْحَيَّيْنِ رَبِيعَةَ وَمُضَر
Verily, numbers similar to the two tribes, or one of them, Rabi`ah and Mudar, will enter Paradise on account of the intercession of one man, who is not a Prophet.
A man asked, O Allah's Messenger! Is not Rabi`ah a subtribe of Mudar.
The Prophet said,
إِنَّمَا أَقُولُ مَا أَقُول
I said what I said.
Imam Ahmad recorded that Abdullah bin `Amr said,
I used to record everything I heard from the Messenger of Allah so it would be preserved. The Quraysh discouraged me from this, saying, `You record everything you hear from the Messenger of Allah, even though he is human and sometimes speaks when he is angry.'
I stopped recording the Hadiths for a while, but later mentioned what they said to the Messenger of Allah, who said,
اكْتُبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّي إِلاَّ الْحَق
Write! By He in Whose Hand is my soul, every word that comes out of me is the Truth.
Abu Dawud also collected this Hadith.
The Trustworthy Angel brought Allah's Revelation to the Trustworthy Messenger
Allah the Exalted states,
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى
He has been taught by one mighty in power.
Allah the Exalted states that the Message His servant and Messenger Muhammad brought to people was taught to him by,
شَدِيدُ الْقُوَى
(mighty in power), he is Jibril, peace be upon him,
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى الْعَرْشِ مَكِينٍ
مُّطَـعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
Verily, this is the Word a most honorable messenger, owner of power, with (Allah) the Lord of the Throne, obeyed (by the angels) and trustworthy. (81:19-21)
Allah said here
ذُو مِرَّةٍ
Dhu Mirrah,
meaning, he is mighty in power, according to Mujahid, Al-Hasan and Ibn Zayd.
In an authentic Hadith from Abdullah bin Umar and Abu Hurayrah, the Prophet said,
لَاا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيَ وَلَاا لِذِي مِرَّةٍ سَوِي
Charity is not allowed for a rich person nor Dhu Mirrah (a strong person) of sound mind and body.
Allah said;
فَاسْتَوَى
then he Istawa (rose).
this refers to the angel Jibril, according to Al-Hasan, Mujahid, Qatadah and Ar-Rabi` bin Anas,
وَهُوَ بِالاُْفُقِ الاَْعْلَى
While he was in the highest part of the horizon.
meaning, Jibril rose to the highest part of the horizon, according to Ikrimah and several others;
Ikrimah said,
The highest horizon where the morning comes from.
Mujahid said, It is (the place of) sunrise.
Qatadah said, That from which the day comes.
Ibn Zayd and several others said similarly.
Imam Ahmad recorded that Abdullah bin Mas`ud said,
The Messenger of Allah ﷺ Jibril in his original shape having six hundred wings, each wing filling the side of the horizon, with a colorful array, and pearls and rubies falling from each wing as much as only Allah knows.
Only Imam Ahmad collected this Hadith.
Imam Ahmad recorded that Abdullah bin Abbas said,
The Prophet asked Jibril to appear himself to him in his original shape and Jibril said to him, `Invoke your Lord.'
The Prophet invoked his Lord the Exalted and Most Honored, and a great huge figure appeared to him from the east and kept rising and spreading.
When the Prophet ﷺ Jibril in his original shape, he was knocked unconscious. Jibril came down and revived the Prophet and wiped the saliva off of his cheeks.'
Only Ahmad collected this Hadith.
Meaning of at a distance of two bows' length or less
Allah's statement,
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى
Then he approached and came closer,
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى
And was at a distance of two bows` length or less.
means, Jibril came closer to Muhammad when Jibril was descending to him on earth. At that time, the distance between them became only two bow lengths, when the bows are extended to full length, according to Mujahid and Qatadah.
It was said that the meaning here is the distance between the bow's string and its wood center.
Allah's statement,
أَوْ أَدْنَى
(or less) indicates that the distance was as only as far described, not more. This type of usage is found in several instances in the Qur'an, such as,
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِّن بَعْدِ ذلِكَ فَهِىَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
Then, after that, your hearts were hardened and became as stones or even worse in hardness. (2:74)
The Ayah says that their hearts became not softer than rocks, but as hard and difficult as rocks, and more.
There is a similar Ayah,
يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً
fear men as they fear Allah or even more. (4:77),
and Allah's statement,
وَأَرْسَلْنَـهُ إِلَى مِاْيَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ
And We sent him to hundred thousand (people) or even more. (37:147),
indicating that they were not less than a hundred thousand, but that amount or more.
Therefore, this verifies the facts mentioned, leaving no doubt or means of refute. Similarly, Allah said,
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى
(And was at a distance of two bow lengths or less).
We stated before that it was Jibril who came down near the Prophet, according to A'ishah, the Mother of the faithful, Abdullah bin Mas`ud, Abu Dharr and Abu Hurayrah. We will mention their statements about this soon afterwards, Allah willing.
Ibn Jarir recorded that Abdullah bin Mas`ud said about this Ayah,
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى
(And was at a distance of two bow lengths or less).
Allah's Messenger said,
رَأَيْتُ جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّمِايَةِ جَنَاح
I ﷺ Jibril; he had six hundred wings.
Al-Bukhari recorded that Talq bin Ghannam said that Za'idah said that Ash-Shaybani said,
I asked Zirr about the Ayah,
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى
فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى
And was at a distance of two bow lengths or less. So (Allah) revealed to His servant whatever He revealed.
Zirr said,
Abdullah narrated to us that Muhammad ﷺ Jibril having six hundred wings.
Allah's statement,
فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى
So he revealed to His servant whatever He revealed.
means, Jibril conveyed to Allah's servant Muhammad whatever he conveyed. Or,
the meaning here could be:Allah revealed to His servant Muhammad whatever He revealed through Jibril.
Both meanings are correct.
Sa`id bin Jubayr said about Allah's statement,
فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى
(So He revealed to His servant whatever He revealed.
Allah revealed to him,
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً
Did He not find you an orphan. (93:6), and,
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
And have We not raised high your fame, (94:4)
Someone else said,
Allah revealed to the Prophet that the Prophets will not enter Paradise until he enters it first, and the nations will not enter it until his Ummah enters it first.
Did the Prophet see His Lord during the Night of Isra
Allah said next,
مَا كَذَبَ الْفُوَادُ مَا رَأَى
أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى
The heart lied not in what he ﷺ Will you then dispute with him about what he ﷺ?
Muslim recorded from Ibn Abbas about,
مَا كَذَبَ الْفُوَادُ مَا رَأَى
(The heart lied not in what he ﷺ), and,
وَلَقَدْ رَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى
(And indeed he ﷺ him at a second descent).
He ﷺ Allah twice in his heart.
Simak reported a similar from Ikrimah from Ibn Abbas.
Abu Salih, As-Suddi and several others said similarly that the Prophet ﷺ Allah twice in his heart.
Masruq said,
I went to A'ishah and asked her, `Did Muhammad see his Lord?'
She said, `You said something that caused my hair to rise!'
I said, `Behold!' and recited this Ayah,
لَقَدْ رَأَى مِنْ ايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
(Indeed he ﷺ of the greatest signs of his Lord).
She said, `Where did your mind wander? It was Jibril. Whoever says to you that Muhammad ﷺ his Lord, or hid any part of what he was commanded (i.e., Allah's Message), or knew any of the five things which only Allah knows,
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour, He sends down the rain... (31:34),
Then he invents a great lie against Allah!
The Prophet only ﷺ Jibril twice, in his original shape, once near Sidrat Al-Muntaha and another time in Ajyad (in Makkah) while Jibril had six hundred wings that covered the horizon.'
Muslim recorded that Abu Dharr said,
I asked the Messenger of Allah , `Have you seen your Lord' He said,
نُورٌ أَنَّى أَرَاه
How can I see Him since there was a light?
In another narration, the Prophet said,
رَأَيْتُ نُورًا
I only ﷺ a light.
Allah's statement,
وَلَقَدْ رَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى
عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى
And indeed he ﷺ him at a second descent. Near Sidrat Al-Muntaha.
The Messenger of Allah said,
رَأَيْتُ جِبْرِيلَ وَلَهُ سِتُّمِايَةِ جَنَاحٍ يَنْتَثِرُ مِنْ رِيشِهِ التَّهَاوِيلُ مِنَ الدُّرِّ وَالْيَاقُوت
I ﷺ Jibril while he had six hundred wings and a colorful array of pearls and rubies falling from the feathers of his wings.
This Hadith has a good, strong chain of narration.
Ahmad also recorded that Abdullah Ibn Mas`ud said,
The Messenger of Allah ﷺ Jibril in his original shape while Jibril had six hundred wings, each wing covering the side of the horizon. From his wings, precious stones were dropping of which only Allah has knowledge.
This Hadith has a good chain of narration.
Imam Ahmad recorded that Abdullah bin Mas`ud said,
The Messenger of Allah said,
رَأَيْتُ جِبْرِيلَ عَلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَلَهُ سِتُّمِايَةِ جَنَاح
I ﷺ Jibril over Sidrat Al-Muntaha while he had six hundred wings.
One of the subnarrators of the Hadith asked `Asim about Jibril's wings and `Asim refused to elaborate. So some of his companions were asked and one of them said,
Each wing was covering what is between the east and the west.
This Hadith has a good chain of narration.
Imam Ahmad recorded that Ibn Mas`ud said that Allah's Messenger said:
أَتَانِي جِبْرِيلُ فِي خُضْرٍ مُعَلَّقٍ بِهِ الدُّر
Jibril came to me wearing green with pearls hanging down.
This Hadith has a good chain of narration.
Imam Ahmad recorded that `Amir said that Masruq asked A'ishah,
O Mother of the faithful, has Muhammad seen his Lord, the Exalted and Most Honored
She said,
Glorious is Allah! My hair is standing on end because of what you said. Three matters, if one tells you about any of them, will have lied. Whoever tells you that Muhammad has seen his Lord, will have lied.
She then recited these two Ayat,
لااَّ تُدْرِكُهُ الااٌّبْصَـرُ وَهُوَ يُدْرِكُ الااٌّبْصَـرَ
No vision can grasp Him, but He grasps all vision. (6:103),
and,
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ
It is not given to any human being that Allah should speak to him unless (it be) by revelation, or from behind a veil. (42:51)
She went on,
And whoever tells you that Muhammad knew what the morrow will bring, will have uttered a lie.
She then recited,
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى الاٌّرْحَامِ
Verily, Allah, with Him is the knowledge of the Hour, He sends down the rain, and knows that which is in the wombs. (31:34)
A'ishah said,
And whoever tells you that Muhammad has hidden any part of the Message will have lied,
and she then recited this Ayah,
يَـأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَأ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ
O Messenger proclaim which has been sent down to you from your Lord. (5:67)
She went on,
However, he ﷺ Jibril twice in his original shape.
Imam Ahmad also recorded that Masruq said,
I asked `A'ishah, `Did not Allah say,
وَلَقَدْ رَءَاهُ بِالاٍّفُقِ الْمُبِينِ
(And indeed he ﷺ him in the clear horizon. (81:23), and,
وَلَقَدْ رَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى
(And indeed he ﷺ him at a second descent),'
She said, `I was the first among this Ummah to ask Allah's Messenger about it. He said,
إِنَّمَا ذَاكَ جِبْرِيل
That was Jibril.
He only ﷺ him twice in his actual and real figure. He ﷺ Jibril descend from heaven to earth and was so huge that he covered the whole horizon between the sky and earth.'
This Hadith is recorded in the Two Sahihs via Ash-Sha`bi.
Angels, Light and colors covered Sidrat Al-Muntaha
Allah said,
إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى
When that covered the lote tree which did cover it!
We mentioned before, in the Hadiths about Al-Isra' that the angels, Allah's Light, and spectacular colors covered the Sidrah.
Imam Ahmad recorded that Abdullah bin Mas`ud said,
When the Messenger of Allah was taken on the Isra' journey, he ascended to Sidrat Al-Muntaha, which is in the seventh heaven. There everything terminates that ascends from the earth and is held there, and terminates everything that descends from above it is held there,
إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى
(When that covered the lote tree which did cover it!) He said, Golden butterflies.
The Messenger of Allah was given three things:
He was given the five prayers,
he was given the concluding verses of Surah Al-Baqarah (2:284-286), and
remission of serious sins for those among his Ummah who do not associate anything with Allah.
Muslim collected this Hadith.
Allah's statement,
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى
The sight turned not aside, nor it transgressed beyond the limit.
indicates that the Prophet's sight did not turn right or left, according to Ibn Abbas,
وَمَا طَغَى
(nor it transgressed beyond the limit), not exceeding what has been ordained for it.
This is a tremendous quality that demonstrates the Prophet's firm obedience to Allah, because he only did what was commanded and did ask beyond what he was given.
Allah's statement,
لَقَدْ رَأَى مِنْ ايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
Indeed he ﷺ of the greatest signs of his Lord.
is similar to another Ayah,
لِنُرِيَهُ مِنْ ءْايَـتِنَأ
In order that We might show him of Our Ayat. (17:1),
meaning, signs that testify to Allah's might and greatness.
Relying on these two Ayat, some scholars of Ahl us-Sunnah said that the Prophet did not see Allah during the Isra' journey, because Allah said,
لَقَدْ رَأَى مِنْ ايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
(Indeed he ﷺ of the greatest signs of his Lord). They said that, had the Prophet seen his Lord, Allah would have conveyed this news and the Prophet would have narrated it to the people.
your companion, Muhammad may peace and salutation be upon him, may God bless him and grant him peace, has neither gone astray, from the path of guidance, nor has he erred, nor has he engaged in error (al-ghayy is ignorance that results from a false belief);
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ (your companion [ the Holy Prophet ﷺ ] has neither missed the way, nor did he deviate. [ 53:2] Verse [ 1] was قَسَم qasam or oath and verse [ 2] is jawab-ul-qasam or the subject for which oath is sworn. The verse means that the path towards which the Holy Prophet ﷺ is calling the people is the perfectly straight path leading to the desired goal of Allah's good pleasure. He is following the right guidance and has not deviated from the path of righteousness.
The Reason for Describing the Holy Prophet ﷺ as 'your companion'
The Qur'an on this occasion, when referring to the Holy Prophet ﷺ ، does not refer to him by his blessed name or refer to him as a Messenger or a Holy Prophet ﷺ . In fact, it refers to him as Sahibukum or "your companion". In this there seems to be a subtle rebuke to the pagans of Makkah, telling them in effect that the Holy Prophet ﷺ is not an outsider, nor a stranger to them. He was their constant companion. He was born amongst them, he spent his childhood amongst them, and he grew up as a youth amongst them. He has lived among them a whole life-time, and they had always looked upon him as a paragon of honesty, integrity and truthfulness calling him اَمِین (The Honest One). But now - after his claim of Prophethood - they dare impute to him such a heinous sin as forging lies against Allah. A man who withheld himself from telling lies about men, how could he possibly forge lies against Allah? How inconsistent is their attitude?