ٱلْمَائِدَة ١١٧
- مَا tidak
- قُلۡتُ aku mengatakan
- لَهُمۡ kepada mereka
- إِلَّا kecuali
- مَآ apa
- أَمَرۡتَنِي Engkau perintahkan kepadaku
- بِهِۦٓ dengannya
- أَنِ hendaknya
- ٱعۡبُدُواْ sembahlah
- ٱللَّهَ Allah
- رَبِّي Tuhanku
- وَرَبَّكُمۡۚ dan Tuhanmu
- وَكُنتُ dan aku adalah
- عَلَيۡهِمۡ atas mereka
- شَهِيدٗا menjadi saksi
- مَّا apa
- دُمۡتُ selama aku
- فِيهِمۡۖ diantara mereka
- فَلَمَّا maka setelah
- تَوَفَّيۡتَنِي Engkau mewafatkan aku
- كُنتَ Engkau adalah
- أَنتَ Engkau
- ٱلرَّقِيبَ pengawas
- عَلَيۡهِمۡۚ atas mereka
- وَأَنتَ dan Engkau
- عَلَىٰ atas
- كُلِّ segala
- شَيۡءٖ sesuatu
- شَهِيدٌ menjadi saksi
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu," dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
(Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakannya) yaitu: ('Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka) sebagai pengawas yang mencegah mereka dari apa yang mereka katakan itu (selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku) Engkau telah mengambilku dengan cara mengangkatku ke langit (Engkaulah yang menguasai mereka) yang memelihara amal perbuatan mereka. (Sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu) termasuk perkataanku kepada mereka dan perkataan mereka sesudahku dan lain-lainnya (Maha Menyaksikan) Maha Waspada dan Maha Mengetahui tentang hal itu.
Tafsir Surat Al-Ma'idah: 116-118
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allah'? Isa menjawab, "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (untuk mengatakannya), yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian,' dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Ayat 116
Hal ini pun termasuk khitab Allah yang ditujukan kepada hamba dan rasul-Nya yaitu Isa putra Maryam. Allah berfirman kepadanya di hari kiamat di hadapan orang-orang yang menjadikan dia dan ibunya sebagai dua Tuhan selain Allah, yaitu: “Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allah’?" (Al-Maidah: 116) Di balik kalimat ini terkandung ancaman yang ditujukan kepada orang-orang Nasrani, sekaligus sebagai celaan dan kecaman terhadap mereka di hadapan semua para saksi di hari kiamat.
Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Qatadah dan yang lainnya. Pengertian ini disimpulkan oleh Qatadah melalui firman selanjutnya: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (Al-Maidah: 119) As-Suddi mengatakan, khitab dan jawaban ini terjadi di dunia. Pendapat ini dibenarkan oleh Ibnu Jarir. Ia mengatakan bahwa hal ini terjadi ketika Allah mengangkatnya ke langit. Imam Ibnu Jarir mengemukakan alasannya untuk memperkuat pendapat tersebut melalui dua segi, yaitu:
Pertama, pembicaraan dalam ayat ini memakai bentuk madi (masa lalu).
Kedua, firman Allah ﷻ menyebutkan: “Jika Engkau menyiksa mereka.” (Al-Maidah: 118) “Dan jika Engkau mengampuni mereka.” (Al-Maidah: 118)
Tetapi kedua alasan tersebut masih perlu dipertimbangkan lagi, mengingat madi menunjukkan pengertian bahwa kejadiannya merupakan suatu kepastian yang telah ditetapkan.
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau.” (Al-Maidah: 118), hingga akhir ayat. Ini merupakan ungkapan pembersihan diri Nabi Isa a.s. terhadap perbuatan mereka dan menyerahkan perkara mereka kepada kehendak Allah ﷻ. Ungkapan dengan bentuk syarat ini tidak memberikan pengertian kepastian akan kejadiannya, seperti juga yang terdapat di dalam ayat-ayat lain yang serupa. Tetapi pendapat yang dikatakan oleh Qatadah dan lain-lainnya adalah pendapat yang paling kuat, yaitu yang menyatakan bahwa hal tersebut terjadi pada hari kiamat, dengan makna yang menunjukkan sebagai ancaman kepada orang-orang Nasrani dan kecaman serta celaan bagi mereka di hadapan para saksi di hari tersebut.
Pengertian ini telah diriwayatkan oleh sebuah hadits yang berpredikat marfu yaitu diriwayatkan oleh An-Hafidzh Ibnu Asakir di dalam pembahasan autobiografi Abu Abdullah, maula Umar ibnu Abdul Aziz yang dinilai tsiqah (bisa dipercaya). Disebutkan bahwa ia pernah mendengar Abu Burdah menceritakan hadits kepada Umar ibnu Abdul Aziz, dari ayahnya (yaitu Abu Musa Al-Asy'ari) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila hari kiamat tiba, maka para nabi dipanggil bersama dengan umatnya masing-masing. Kemudian dipanggillah Nabi Isa, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Dia karuniakan kepadanya, dan Nabi Isa mengakuinya." Allah ﷻ berfirman: “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu.” (Al-Maidah: 110), hingga akhir ayat.
Kemudian Allah ﷻ berfirman: “Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’?” (Al-Maidah: 116) Isa a.s. mengingkari bahwa dia tidak pernah mengatakan hal tersebut. Kemudian didatangkanlah orang-orang Nasrani, lalu mereka ditanya. Maka mereka mengatakan, "Ya, dialah yang mengajarkan hal tersebut kepada kami." Maka rambut Nabi Isa a.s. menjadi memanjang, sehingga setiap malaikat memegang sehelai rambut kepala dan rambut tubuhnya (karena merinding ketakutan). Lalu mereka didudukkan di hadapan Allah ﷻ dalam jarak seribu tahun perjalanan, hingga hujjah (alasan) mereka ditolak dan diangkatkan bagi mereka salib, kemudian mereka digiring ke dalam neraka.
Hadits ini berpredikat gharib lagi 'aziz.
Firman Allah ﷻ: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya).” (Al-Maidah: 116)
Menurut Ibnu Abu Hatim, jawaban ini merupakan jawaban yang sempurna, mengandung etika yang tinggi.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Tawus, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Nabi Isa mengemukakan hujjahnya, dan Allah ﷻ menerimanya, yaitu dalam firman-Nya: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allah'?” (Al-Maidah: 116) Abu Hurairah menceritakan dari Nabi ﷺ bahwa setelah itu Allah mengajarkan hujjah (alasan) itu kepada Isa. “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya).” (Al-Maidah: 116), hingga akhir ayat.
Hal ini telah diriwayatkan pula oleh Ats-Tsauri, dari Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari Tawus dengan lafal yang serupa.
Firman Allah ﷻ: “Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui.” (Al-Maidah: 116)
Yakni jika hal ini pernah aku lakukan, maka sesungguhnya Engkau telah mengetahuinya, wahai Tuhanku. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun dari apa yang kukatakan samar bagi-Mu. Aku tidak pernah mengatakan hal itu, tidak pernah berniat untuk mengatakannya, tidak pula pernah tebersit dalam hatiku.
Ayat 117
Karena itulah dalam ayat selanjutnya disebutkan: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (untuk mengatakan)nya.” (Al-Maidah: 116-117) Yakni yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikannya kepada mereka.
“Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian!” (Al-Maidah: 117) Yakni tidak sekali-kali aku seru mereka melainkan seperti apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk menyampaikannya kepada mereka, yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian.” (Al-Maidah: 117) Yakni itulah yang aku katakan kepada mereka.
Firman Allah ﷻ: “Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.” (Al-Maidah: 117)
Yakni aku dapat menyaksikan semua amal perbuatan mereka selama aku berada bersama-sama mereka.
“Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 117)
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pergi bersama Sufyan Ats-Tsauri menuju tempat Al-Mugirah ibnun Nu'man, lalu Al-Mugirah mendiktekan kepada Sufyan yang ditemani olehku. Setelah Al-Mugirah pergi, aku menyalinnya dari Sufyan. Ternyata di dalamnya disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan hadits berikut dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan kami untuk mengemukakan suatu petuah dan nasihat. Beliau bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian kelak akan dihimpunkan oleh Allah ﷻ dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang lagi belum dikhitan. ‘Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya.’ (Al-Anbiya: 104) Dan sesungguhnya manusia yang mula-mula diberi pakaian kelak di hari kiamat ialah Nabi Ibrahim. Ingatlah, sesungguhnya kelak akan didatangkan banyak orang laki-laki dari kalangan umatku, lalu mereka digiring ke sebelah kiri, maka aku berkata, ‘Sahabat-sahabatku!’ Tetapi dijawab, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dibuat-buat oleh mereka sesudahmu.’
Maka aku katakan seperti apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang saleh, yaitu: ‘Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (Al-Maidah: 117-118) Maka dikatakan, ‘Sesungguhnya mereka terus-menerus dalam keadaan mundur ke belakang mereka sejak engkau berpisah dengan mereka’.”
Imam Bukhari telah meriwayatkannya ketika membahas tafsir ayat ini, dari Abul Walid, dari Syu'bah; dan dari Ibnu Kasir, dari Sufyan Ats-Tsauri. Kedua-duanya dari Al-Mugirah ibnu Nu'man dengan lafal yang sama.
Ayat 118
Firman Allah ﷻ: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Maidah: 118)
Kalimat ini mengandung makna mengembalikan segala sesuatunya kepada kehendak Allah ﷻ, karena sesungguhnya Allah Maha Memperbuat segala sesuatu yang dikehendaki-Nya; Dia tidak ada yang mempertanyakan apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya.
Kalimat ini pun merupakan pembersihan diri terhadap perbuatan orang-orang Nasrani yang berani berdusta kepada Allah dan rasul-Nya serta berani menjadikan bagi Allah tandingan dan istri serta anak. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Ayat ini mempunyai makna yang sangat penting dan merupakan suatu berita yang menakjubkan. Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi ﷺ membacanya di malam hari hingga subuh, yakni dengan mengulang-ulang bacaan ayat ini.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepadaku Fulait Al-Amiri, dari Jisrah Al-Amiriyah, dari Abu Dzar yang menceritakan bahwa di suatu malam Nabi ﷺ melakukan shalat, lalu beliau membaca sebuah ayat yang hingga subuh beliau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudnya, yaitu firman-Nya: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118) Ketika waktu subuh Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau terus-menerus membaca ayat ini hingga subuh, sedangkan engkau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudmu?" Rasulullah ﷺ menjawab: “Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku syafaat bagi umatku, maka Dia memberikannya kepadaku; dan syafaat itu dapat diperoleh Insya Allah oleh orang yang tidak pernah mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun (dari kalangan umatku).”
Jalur lain dan konteks lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Qudamah ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Jisrah binti Dajjajah, bahwa ia berangkat menunaikan ibadah umrahnya. Ketika sampai di Ar-Rabzah, ia mendengar Abu Dzar menceritakan hadits berikut, bahwa di suatu malam Rasulullah ﷺ bangkit untuk melakukan shalat Isya, maka beliau shalat bersama para sahabat. Setelah itu banyak orang dari kalangan sahabat beliau mundur untuk melakukan shalat (sunat).
Ketika Nabi ﷺ melihat mereka melakukan shalat setelah mundur dari tempat itu, maka Nabi ﷺ pergi ke tempat kemahnya. Setelah Nabi ﷺ melihat bahwa kaum telah mengosongkan tempat itu, maka beliau ﷺ kembali ke tempatnya semula, lalu melakukan shalat (sunat). Kemudian aku (Abu Dzar) datang dan berdiri di belakang beliau, maka beliau berisyarat kepadaku dengan tangan kanannya, maka aku berdiri di sebelah kanan beliau. Kemudian datanglah Ibnu Mas'ud yang langsung berdiri di belakangku dan di belakang beliau, tetapi Nabi ﷺ berisyarat kepadanya dengan tangan kirinya, maka Ibnu Mas'ud berdiri di sebelah kiri beliau. Maka kami bertiga berdiri melakukan shalat, masing-masing melakukan shalat sendirian, dan kami membaca sebagian dari Al-Qur'an sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah. Sedangkan Nabi ﷺ hanya membaca sebuah ayat Al-Qur'an yang beliau ulang-ulang bacaannya hingga sampai di penghujung malam. Setelah kami menunaikan shalat Subuh, aku berisyarat kepada Abdullah ibnu Mas'ud, meminta kepadanya untuk menanyakan apa yang telah diperbuat oleh Nabi ﷺ tadi malam. Maka Ibnu Mas'ud menjawab dengan isyarat tangannya, bahwa dia tidak mau menanyakan sesuatu pun kepada Nabi ﷺ hingga Nabi ﷺ sendirilah yang akan memberitahukannya kepada dia. Maka aku (Abu Dzar) bertanya, "Demi ayah dan ibuku, engkau telah membaca suatu ayat dari Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an seluruhnya telah ada padamu. Seandainya hal itu dilakukan oleh seseorang dari kalangan kami, niscaya kami akan menjumpainya (mudah melakukannya)." Nabi ﷺ bersabda, "Aku berdoa untuk umatku." Aku bertanya, "Lalu apakah yang engkau peroleh atau apakah jawaban-Nya kepadamu?" Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku mendapat jawaban (dari Allah) yang seandainya hal ini diperlihatkan kepada kebanyakan dari mereka sekali lihat, niscaya mereka akan meninggalkan shalat.”
Aku bertanya, "Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?" Nabi ﷺ bersabda, "Tentu saja boleh." Maka aku pergi seraya merunduk sejauh lemparan sebuah batu (untuk mengumumkan kepada orang-orang). Tetapi Umar berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika engkau menyuruh orang ini untuk menyampaikannya kepada orang banyak, niscaya mereka akan enggan melakukan ibadah." Maka Nabi ﷺ memanggilku kembali, lalu aku kembali (tidak jadi mengumumkannya). Ayat tersebut adalah firman Allah ﷻ: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris; Bakr ibnu Wadah pernah menceritakan kepadanya hadits berikut dari Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Abdullah ibnu Amr bin As, bahwa Nabi ﷺ membaca perkataan Nabi Isa yang disebutkan oleh firman-Nya: “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118) Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Ya Allah, selamatkanlah umatku," kemudian beliau menangis.
Maka Allah berfirman, "Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan Tuhanmu lebih mengetahui dan tanyakanlah kepadanya apa yang menyebabkan dia menangis." Malaikat Jibril datang menemui Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya. Maka Rasulullah ﷺ menceritakan apa yang telah diucapkannya padahal Allah lebih mengetahui tentang itu. Allah berfirman, "Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah (kepadanya) bahwa sesungguhnya Kami akan membuatnya sukacita tentang nasib umatnya, dan Kami tidak akan membuatnya bersedih hati."
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hubairah; ia pernah mendengar Abu Tamim Al-Jaisyani mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Sa'id ibnu Musayyab; ia pernah mendengar Huzaifah ibnul Yaman menceritakan hadits berikut: Pada suatu hari Rasulullah ﷺ tidak menampakkan dirinya kepada kami. Beliau tidak keluar, hingga kami menduga bahwa beliau ﷺ tidak akan keluar hari itu. Dan ketika beliau keluar, maka beliau langsung melakukan sujud sekali sujud (dalam waktu yang lama) sehingga kami menduga bahwa roh beliau dicabut dalam sujudnya itu. Setelah mengangkat kepalanya (dari sujud), beliau bersabda: “Sesungguhnya Tuhanku telah meminta pendapatku sehubungan dengan umatku, yakni apakah yang akan dilakukan-Nya terhadap mereka? Maka aku menjawab, “Ya Tuhanku, terserah kepada-Mu, mereka adalah makhluk dan hamba-hamba-Mu. Allah meminta pendapatku kedua kalinya, dan aku katakan kepada-Nya hal yang sama.”
Maka Allah berfirman kepadaku, "Aku tidak akan mengecewakanmu sehubungan dengan umatmu, wahai Muhammad.” Dan Allah memberi kabar gembira kepadaku bahwa orang yang mula-mula masuk surga dari kalangan umatku bersama-sama denganku adalah tujuh puluh ribu orang, dan setiap seribu orang (dari mereka) ditemani oleh tujuh puluh ribu orang, mereka semuanya tidak terkena hisab. Kemudian Allah mengirimkan utusan kepadaku untuk menyampaikan firman-Nya, "Berdoalah, niscaya kamu diperkenankan; dan mintalah, niscaya diberi.” Maka kukatakan kepada utusanNya (yakni Malaikat Jibril), "Apakah Tuhanku akan memberi permintaanku? Ia menjawab, "Tidak sekali-kali Dia mengutusku kepadamu melainkan untuk memberimu.”
Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku tanpa membanggakan diri dan telah memberikan ampunan bagiku atas semua dosaku yang terdahulu dan yang kemudian, sedangkan aku masih berjalan dalam keadaan hidup dan sehat. Dan Dia memberiku, bahwa umatku tidak akan kelaparan dan tidak akan terkalahkan. Dia memberiku Al-Kautsar, yaitu sebuah sungai di dalam surga yang mengalir ke telagaku. Dia memberiku kejayaan, pertolongan, dan rasa takut (mencekam musuh-musuhku yang) berada di hadapan umatku dalam jarak perjalanan satu bulan. Dia memberiku bahwa aku adalah nabi yang mula-mula masuk surga. Dan Dia menghalalkan bagiku dan bagi umatku ganimah (rampasan perang), serta Dia telah menghalalkan bagi kami banyak hal yang dilarang keras atas umat-umat sebelumku, dan Dia tidak menjadikan suatu kesempitan pun bagi kami dalam agama.”
Nabi Isa melanjutkan pertanggungjawabannya di hadapan Allah di akhirat, Aku tidak pernah, selama hidupku, mengatakan kepada mereka, Bani Israil, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku dalam kedudukanku sebagai rasul Allah, yaitu, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, tidak ada tuhan selain Allah dan tidak ada ibadah kecuali kepada-Nya. Dan aku, sebagai utusan Allah kepada Bani Israil, menjadi saksi terhadap sikap mereka; di antara mereka ada yang beriman dan lurus keyakinannya, dan ada pula kufur yang menyeleweng keyakinannya dengan menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah, selama aku berada, hidup dan bergaul, di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, selesailah tugasku sebagai nabi dan rasul dalam mengawasi keyakinan mereka. Sejak itu, Engkaulah yang mengawasi mereka; apakah mereka lurus atau menyeleweng dengan menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu, yang terlihat maupun tersembunyi dari pandangan manusia. Jadi, Nabi Isa selama hidupnya tidak pernah menyatakan kepada Bani Israil bahwa dirinya dan ibunya, Maryam, adalah tuhan dan tidak pernah pula memerintahkan untuk menyembah mereka berdua. Nabi Isa lalu mengembalikan nasib umatnya yang menyimpang dari ajarannya di akhirat kepada keputusan Allah. Wahai Tuhan Yang Maha Bijaksana, jika Engkau menyiksa mereka, karena mereka menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, tidak ada seorang atau suatu apa pun yang menghalangi kehendak-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, dengan kebesaran dan keagungan-Mu, meskipun mereka menyeleweng; sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana dalam segala yang hal yang Engkau putuskan.
Sesudah Nabi Isa pada ayat yang lalu mensucikan Allah dan kemudian dia membersihkan dirinya dari tuduhan menganggap dirinya sebagai Tuhan, maka dalam ayat ini Isa menjelaskan apa sebenarnya yang telah diserukannya kepada kaumnya yaitu agar mereka menyembah Allah. Tuhannya sendiri dan juga Tuhan kaumnya. Tidak benar dia menuhankan dirinya dan ibunya karena mereka berdua adalah hamba Allah seperti juga manusia lainnya. Nabi Isa telah mengajarkan pokok-pokok agama dan dasar-dasar keimanan kepada kaumnya yang seharusnya mereka jadikan pedoman dalam kehidupan beragama sepanjang masa. Sewaktu Nabi Isa masih berada bersama mereka, beliau selalu memberikan bimbingan kepada mereka dan mengawasi segala tingkah laku mereka; yang benar dibenarkan, yang salah dinyatakan salah sesuai dengan petunjuk Allah. Tetapi setelah beliau diangkat ke langit, habislah masa tugas kerasulannya, putuslah pengawasan dan bimbingan beliau terhadap kaumnya. Nabi Isa tidak mengetahui lagi amal perbuatan mereka dan sejarah perkembangan mereka dan agamanya. Hanyalah Allah yang menjadi Pengawas dan Saksi atas mereka. Allah memberi petunjuk kepada orang yang menghendaki kebenaran, membiarkan orang yang menginginkan kesesatan. Orang yang menuhankan Isa telah kafir dan haram surga bagi mereka. Hal itu ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam." Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, "Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. (al-Ma'idah/5:72).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Dan (ingatlah) tatkala berfirman Allah, Wahai Isa anak Maryam, adakah engkau pemah berkata kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai Tuban selain Allah?" Dia menjawab, ‘Mahasuci Engkau! Tidaklah patut bagiku bahwa akan mengatakan apa yang tidak hakku. Jika ada aku mengatakannya, niscaya Engkau telah mengetahuinya (sebab) Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sedangkan aku tidaklah mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya, Engkaulah yang lebih mengetahui akan hal yang gaib-gaib."‘
(ayat 116)
“Tidak ada yang aku katakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) bahwa hendaklah kamu beribadah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu."
(pangkal ayat 117)
Tegasnya, dalam urusan kepercayaan dan iktikad sebagai dasar dari agama, tidaklah terlebih daripada jangka itu karena itulah yang Engkau wahyukan kepadaku, yaitu menyembah hanya kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu. Agar aku dan kamu sama-sama bertuhan kepada Yang Satu itu saja, tidak ada Tuhan lain, apalagi diriku dan ibuku."Dan adalah aku menjadi penyaksi atas mereka itu, selama aku ada pada mereka." Artinya, selama aku hidup di kalangan mereka, aku sendiri pun menyaksikan bahwa apa yang aku sampaikan itu mereka jalankan baik-baik dan aku pun menjaga kalau-kalau ada pelanggaran. Aku tegur kalau mereka salah.
Maka, apa yang beliau jawabkan kepada Allah ini masih dapat kita lihat sisa buktinya dalam kitab-kitab pegangan orang Kristen sendiri. Pernah beliau menegur dengan keras ketika seorang muridnya berkata bahwa beliau adalah guru yang baik! Dengan tegas beliau berkata, yang baik hanyalah Allah!
“Namun tatkala telah Engkau wafatkan aku, adalah Engkau yang menjadi penilik atas mereka. Sedang Engkau, atas tiap-tiap sesuatu adalah penyaksinya."
(ujung ayat 117)
Artinya, setelah aku meninggal, Engkaulah yang menilik dan meneliti mereka. Sebab setelah aku wafat, tugasku sebagai utusan Engkau selesailah sudah.
Tidaklah aku ketahui lagi apa yang mereka perbuat sesudahku dan ke mana mereka belokkan pengajaran yang kuberikan, pengaruh dari mana dan tersebab apa mereka jadi berubah. Engkaulah, Ya Tuhanku, Yang Mahatahu dan aku sebagai hamba-Mu tidaklah mengetahuinya lagi.
Dalam kesaksian orang Kristen sendiri kita mendapati pengakuan bahwa memang pada zaman al-Masih masih hidup, belum ada orang berpikir ke jurusan itu. Hal ini seperti tulisan salah seorang pemuka Kristen yang telah kita salinkan terlebih dahulu. Memang, setelah beliau tak ada lagi di dunia ini barulah timbul kepercayaan bahwa beliau adalah Tuhan. Adapun persembahan, pemujaan yang mendudukkan Maryam sebagai Tuhan, dan disebut kadang-kadang Timur dan Barat, terutama golongan Ortodoks, Katolik Yunani, dan Katolik Roma, memang mereka menaikkan martabat Maryam menjadi martabat ketuhanan. Tempat mereka memohon, berdoa, memohonkan apa-apa, meminta berkah, memohon kesembuhan dari sakit. Di satu tempat bernama Fatima di Portugal, tersebar berita bahwa seorang anak perempuan gembala melihat Maryam menampakkan diri kepadanya. Kemudian, tempat itu pun dijadikan tempat keramat, tempat memuja, yang terkenal dengan “The Miracle of Our Lady of Fatim." (Nama Fatima ialah bekas nama yang ditinggalkan orang Islam, ketika Spanyol dan Portugal di dalam kekuasaan Islam, penulis). Golongan Katolik berbangga dan merasa sangat berbahagia karena Paus Pius IX telah mengeluarkan Fatima perintah bahwasanya Maryam adalah dara suci, yang mengandung dalam serba kesucian. Lantaran itu, hendaklah dia dimuliakan dan disucikan sebagai Tuhan juga. Gereja Armeniya memanggilnya “Ibu Allah Yang Tercinta". Gereja Kopti (Iskandariyah) pun menyebutkan dia “Ibu Tuhan". Dan di rumah-rumah orang Katolik yang saleh di negeri kita di Indonesia ini, sebagaimana juga dalam gereja, selalulah dihormati patung dari “Ibu Maria". Dengan demikian, selain dari satu Tuhan adalah tiga oknum (Trinitas) ada tambahan lagi, yaitu Maryam pun Tuhan pula. Namun, kaum Protestan, menolak sama sekali anggapan Tuhan kepada Maryam itu.
Isa al-Masih diputuskan jadi Tuhan sesudah dia meninggal dan ibunya sendiri “diputuskan" menjadi Tuhan lama pula sesudah itu. Dan Isa al-Masih sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi sesudah beliau tidak ada di dunia lagi.
“Jika hendak Engkau adzab mereka itu maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba Engkau. Dan jika Engkau beri ampun mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Mahagagah, lagi Bijaksana."
(ayat 118)
Dalam ayat ini diterangkan betapa halnya al-Masih menyerahkan soal itu sepenuhnya kepada Allah, yang diriama: tafwidh. Mula-mula terkandunglah dalam ucapan itu bahwa al-Masih sendiri mengakui tegas bahwa mereka itu patuh diadzab oleh Allah karena telah mempersekutukan yang lain dengan Allah, terutama mempersekutukan dirinya dan ibunya dengan Allah. Teranglah perbuatan itu musyrik, dosa yang amat besar dan tak dapat diampuni.
Apabila Allah melakukan adzab kepada mereka, sudah sepatutnya karena mereka adalah hamba-hamba Allah belaka. Dan Allah berkuasa berbuat sesuatu terhadap hamba-Nya dan mengertilah Dia akan keadaan hamba-Nya itu. Allah mengetahui masing-masing hamba-Nya, walaupun berjuta, bermiliar banyaknya. Demikian juga jika ada di antara mereka yang diampuni kesalahannya oleh Allah adalah semuanya itu sesudah pemeriksaan yang teliti sekali dan dengan segenap kebijaksanaan. Itulah sebabnya, di ujung ayat tentang memberi ampun, disebut dua nama Allah: Mahagagah dan Mahabijaksana. Pada ayat-ayat yang lain, ayat yang berdiri memberi ampun biasanya diakhiri dengan Ghafur dan Rahim, Pengampun dan Penyayang, sedangkan di ayat ini diujungi dengan Aziz dan Hakim, Mahagagah. Artinya, bukan memberi ampun karena pilih kasih dan bukan karena kelemahan, melainkan karena Kegaga-perkasaan dan Kebijaksanaan jua. Dapatlah kita memahaminjawaban al-Masih itu melihat keadaan umat Kristen sendiri.
Pada anggapan kita, seluruh orang Kristen itu sudah sama saja kepercayaaanya. Oleh karena itu, menurut pandangan lahir kita semua, mereka itu akan diadzab karena mem-persekutukan Allah. Namun, jika diselidiki dengan saksama, mereka mempunyai berbagai sekte. Konon, tidak kurang dari 200 macam sekte. Misalkan kaum Unitarian: mereka tidaklah memegang kepercayaan bahwa al-Masih itu Allah atau anak Allah. Beliau hanya seorang rasul saja, sebagaimana rasul-rasul yang lain dan mereka pun tidak percaya bahwa Maryam Tuhan, atau ibu Tuhan, atau dianggap Tuhan untuk memohonkan apa-apa. Selain itu, ada pula yang menurut pandangan orang luar mereka itu masih Kristen, padahal mereka tidak menganut lagi kepercayaan Kristen sebab tidak cocok dengan akal pikiran mereka. Namun, mereka tidak berani menyatakan diri.
Ada juga yang telah masuk Islam dengan diam-diam, tetapi karena hidup dalam kalangan keluarga Kristen dalam negeri Kristen pula, mereka menjadi Islam dengan diam-diam, mengucap syahadat, mengakui tiada Tuhan melainkan Allah dan al-Masih adalah hamba Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Tidak ada keluarganya yang tahu sehingga dia dikuburkan secara Kristen juga di pekuburan Kristen, padahal dia mati dalam Islam. Dan banyak lagi contoh-contoh yang lain, pada zaman Fithrat yaitu kekosongan rasul di antara al-Masih dengan Muhammad ﷺ Niscaya, Allah melakukan hukum dengan serba kegagahan dan wibawa-Nya serta dengan bijaksana dan teliti. Lantaran itulah, al-Masih menyerahkan hal itu sebulatnya pada kegagahperkasaan dan kebijaksanaan Allah.
“Beriman Allah, Inilah hari yang akan memberi manfaat kepada orang-orang yang benar kebenaran mereka."
(pangkal ayat 119)
Sekaligus dengan menyatakan firman Allah ini, tahulah kita bahwa Allah mengakui dan menghargai kebenaran yang diterangkan oleh rasul-Nya yang benar, yaitu Isa al-Masih.
Selama hidupnya, dia telah melakukan tugas dengan benar dan jujur. Dan tidak mengubah-ubah wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Dia sekali-kali tidak pernah menganjurkan manusia supaya menganggap dirinya atau ibunya sebagai Tuhan. Semuanya yang sudah berlaku itu hanyalah kejadian sesudah beliau tak ada lagi di dunia. Beliau tidaklah bertanggung jawab atas kesalahan anggapan orang terhadap beliau setelah meninggalkan dunia. Sebagaimana juga orang-orang besar yang lain, sebagaimana orang-orang saleh yang dipuja orang kuburan mereka setelah mereka mati, disembah dan dipandang sebagai berhala, menyerupai pandangan orang Kristen terhadap Maryam itu. Seumpama yang kita lihat orang-orang Islam yang tidak mengerti pokok ajaran agamanya, memuja kuburan Sayyid Abdulkadir Jailani di Baghdad, orang Syi'ah memuja kuburan Husain bin Ali di Karbala, orang awam Mesir memuja kuburan Imam Syafi'i, orang awam Jakarta memuja kuburan Alaidrus di Luar Batang. Mereka itu semua kala hidupnya tidak ada yang menyuruh orang mempersekutukan diri mereka dengan Allah. Mereka pun akan ditanya.
Sedang Isa al-Masih lagi ditanya, konon-lah yang lain itu. Karena semasa hidupnya, semua adalah orang yang benar, di akhirat ber-manfaatlah kebenaran mereka."Untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir dari bawahnya sungal-sungai, hal keadaan kekal mereka di dalamnya selama-lamanya." Dan demikian pulalah halnya tiap-tiap manusia yang di kala hidup berlaku jujur dan benar, mereka pun akan ditempatkan dengan anbiya' (nabi-nabi) seperti al-Masih itu, yaitu shiddiqin (orang-orang yang benar) seperti Maryam ibu Isa dan Abu Bakar ash-Shiddiq, dan syuhada (orang-orang yang mati setelah memberikan kesaksian kebenaran Allah dengan nyawanya sendiri), dan shalihin (orang-orang yang saleh, banyak berbuat kebaikan), yang dahulu kita dapati pula dalam surah an-Nisaa' ayat 68. Semuanya diberi tempat dalam surga yang indah permai, dalam keadaan kekal selama-lamanya. Di dalam surga itu mereka pun mendapat nikmat yang lebih tinggi lagi, yaitu:
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Yang demikian itulah kemenangan yang besar."
(ujung ayat 119)
Ridha inilah inti nikmat surga. Inilah nikmat ruhani paling dalam dan paling puncak. Untuk merasakan betapa tingginya nikmat ridha, cobalah tilik di dunia ini bagaimana rasa bahagianya orang yang mendapat ridha dari raja atau dari kepala negara. Ada seorang menteri yang bertahun-tahun tidak dapat melupakan tatkala rajanya atau kepala negaranya pernah mengajaknya tersenyum. Pada zaman kolonial dulu. Pangeran Ahmad Jayadiriingrat pernah menceritakan di dalam buku Kenang-kenangannya, betapa bahagia perasaannya saat dia diperbolehkan meng-hadap Ratu Wilhelmina. Ratu Belanda itu mengulurkan tangan kepadanya dan mengajaknya berjabat tangan dengan wajah yang berseri. Ketika itu, kata Pangeran Ahmad, berkatalah aku dalam diriku bahwa apa pun yang akan diperintahkan kepadaku akan aku junjung tinggi."Menitahlah Tuanku, segala titah patik junjung." Dan ada pula kisah lain, seorang menteri sehabis menghadap ke istana, langsung membunuh dirinya, karena yang sekali ini dalam satu pertemuan, raja tidak pernah memperlihatkan wajahnya kepadanya, tidak menoleh kepadanya. Dan dalam pergaulan pembesar-pembesar tingkat tinggi, menteri-menteri, ridha kepala negara itu menjadi perhitungan. Meskipun telah diberi pangkat tinggi, diberi bintang-bintang gemerlap penghias dada, masih berdebar hatinya dan berharap, adakah beliau atau baginda ridha kepadanya.
Sekarang datang keterangan ayat, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Ridha yang saling sambut dan saling balas, bukan laksana ladirig yang tajam sebelah dan bukan laksana bertepuk sebelah tangan. Inilah yang selamanya tak ada dalam dunia fana ini selama-lamanya. Terkadang, ketika seorang pembesar tinggi atau menteri telah merasa benar-benar ridha kepada raja atau kepala negaranya, tetapi karena fitnah orang lain yang merasa dengki, beliau belum juga membalas ridha itu. Oleh sebab itu, sela-lulah orang besar itu berhati murung dan tidak juga tercapai ridha-meridhai. Dan terkadang pula raja atau kepala negara itu dengan keri-dhaannya telah mengurbankan segenap tenaga, siang dan malam untuk kebahagiaan rakyat yang dicintainya, tetapi yang tidak membalas ridha itu pun masih banyak. Berapa banyak raja dan kepala negara yang benar-benar mengurbankan segenap tenaganya, demi kepentingan rakyatnya, tetapi masih dibenci. Tiga orang khalifah Rasulullah ﷺ„ yaitu Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thaiib mati dibunuh orang. Siapa yang tidak mengakui bahwa ketiganya adalah Khulafaur Rasyidiri? Mengapa mereka dibunuh? Ya, karena masih ada yang tidak ridha dan masih ada yang tidak membalas keridhaan mereka.
Setelah memikirkan kejadian dunia yang seperti ini, marilah kembali resapkan di dalam jiwa kita bunyi ayat ini, “AHah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada AHah." Di sini, dapatlah kita memahami apa yang dimaksud oleh shafiyah yang besar, Rabi'atul
Adawiyah, ketika orang bertanya kepadanya, “Ya Rabi'ah, mana engkau yang senang, masuk surga, padahal tidak ada keridhaan Allah atau masuk neraka padahal engkau diridhai Allah?" Meskipun pertanyaan ini satu pertanyaan yang kacau, bertanya asal bertanya saja, Rabi'ah memberi juga jawab dengan tegas, “Biar masuk neraka asal Allah Ta'aala ridha kepadaku!"
Akhirnya ditutuplah surah al-Maa'idah ini dengan kunci tauhid uluhiyah dan rububiyah yang sejati, pegangan segenap orang beriman.
“Bagi Allahlah kerajaan semua langit dan bumi dan apa jua pun yang ada pada semuanya. Dan Dia atas segala sesuatu adalah Mahakuasa."
(ayat 120)
The Messengers Will be Asked About Their Nations
Allah says;
يَوْمَ يَجْمَعُ اللّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ
قَالُواْ لَا عِلْمَ لَنَا إِنَّكَ أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
On the Day when Allah will gather the Messengers together and say to them:What was the response you received (from men to your teaching)! They will say:We have no knowledge, verily, only You are the Knower of all that is hidden.
Allah states that on the Day of Resurrection, He will ask the Messengers about how their nations, to whom He sent them, answered and responded to their teachings.
Allah said in other Ayat,
فَلَنَسْـَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ
Then surely, We shall question those (people) to whom it (the Book) was sent and verily, We shall question the Messengers. (7:6)
and,
فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينََمَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
So, by your Lord, We shall certainly call all of them to account. For all that they used to do. (15:92-93)
According to Mujahid, Al-Hasan Al-Basri and As-Suddi, The statement of the Messengers here,
لَا عِلْمَ لَنَا
(We have no knowledge),
is the result of the horror of that Day.
Abdur-Razzaq narrated that Ath-Thawri said that Al-A`mash said that Mujahid said about the Ayah,
يَوْمَ يَجْمَعُ اللّهُ الرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَا أُجِبْتُمْ
(On the Day when Allah will gather the Messengers together and say to them:What was the response you received)!
They will become afraid and reply,
لَا عِلْمَ لَنَا
(We have no knowledge),
Ibn Jarir and Ibn Abi Hatim also recorded this explanation.
Ali bin Abi Talhah said that Ibn Abbas commented on the Ayah,
They will say to the Lord, Most Honored, `We have no knowledge beyond what we know, and even that, You have more knowledge of them than us.
This response is out of respect before the Lord, Most Honored, and it means, we have no knowledge compared to Your encompassing knowledge. Therefore, our knowledge only grasped the visible behavior of these people, not the secrets of their hearts. You are the Knower of everything, Who has encompassing knowledge of all things, and our knowledge compared to Your knowledge is similar to not having any knowledge at all, for
أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
(only You are the Knower of all that is hidden).
Reminding `Isa of the Favors that Allah Granted him
Allah
إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسى ابْنَ مَرْيَمَ
(Remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):O `Isa, son of Maryam!
Allah mentions how He blessed His servant and Messenger, `Isa, son of Maryam, and the miracles and extraordinary acts He granted him.
Allah said,
اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ
Remember My favor to you,
when I created you from your mother, without male intervention, and made you a sign and clear proof of My perfect power over all things.
وَعَلَى وَالِدَتِكَ
And to your mother,
when I made you testify to her chastity and you thus absolved her from the sin that the unjust, ignorant liars accused her of.
إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ
when I supported you with Ruh-il-Qudus,
the angel Jibril, and made you a Prophet, calling to Allah in the cradle and manhood. I made you speak in the cradle, and you testified that your mother was free from any immoral behavior, and you proclaimed that you worship Me. You also conveyed the news of My Message and invited them to worship Me.
تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلً
so that you spoke to the people in the cradle and in maturity;
Meaning you called the people to Allah in childhood and in maturity.
And the word Tukallim means invited, because his speaking to people while a child is nothing strange by itself.
Allah's statement,
وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
(And when I taught you the Book and the Hikmah,) the power of writing and understanding,
وَالتَّوْرَاةَ وَالاِنجِيلَ
(and the Tawrah,) which was revealed to Musa, son of `Imran, who spoke to Allah directly.
Allah's statement,
وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْيَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي
and when you made out of the clay, as it were, the figure of a bird, by My permission,
means:`you shaped it in the figure of a bird by My permission, and it became a bird with My permission,
فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي
and you breathed into it, and it became a bird by My permission,
after you blew into it'. Then, it became a flying bird with a soul by Allah's permission.
Allah said;
وَتُبْرِىءُ الَاكْمَهَ وَالَابْرَصَ بِإِذْنِي
and you healed those born blind, and the lepers by My permission,
This was explained before in Surah Al Imran and we do not need to repeat it here.
Allah's statement,
وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوتَى بِإِذْنِي
And when you brought forth the dead by My permission,
meaning, you called them and they rose from their graves by Allah's leave, power, intent and will. Allah said next,
وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَايِيلَ عَنكَ إِذْ جِيْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ إِنْ هَـذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ
and when I restrained the Children of Israel from you since you came unto them with clear proofs, and the disbelievers among them said:This is nothing but evident magic.
Meaning:`remember My favor, when I stopped the Children of Israel from harming you, when you brought them the clear proofs and evidence, testifying to your Prophethood and Message from Me to them. They rejected you and accused you of being a magician and tried to kill you by crucifixion, but I saved you, raised you to Me, purified you from their vulgarity and protected you from their harm.' The wording of this Ayah indicates that `Isa will be reminded of these favors on the Day of Resurrection.
Allah used the past tense in these Ayat indicating that it is a forgone matter that will certainly occur.
This Ayah also contains some of the secrets of the Unseen that Allah revealed to His Messenger Muhammad.
Allah said
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ امِنُواْ بِي وَبِرَسُولِي
And when I (Allah) Awhaytu Al-Hawariyyin to believe in Me and My Messenger.
This is also a reminder of Allah's favor on `Isa, by making disciples and companions for him.
It is also said that Awhaytu in the Ayah means, `inspired', just as in another Ayah, Allah said;
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ
And We inspired the mother of Musa (saying):Suckle him... (28:7)
Allah said in other Ayat,
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِى مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ الثَّمَرَتِ فَاسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلً
And your Lord Awha (inspired) the bee, saying:Take habitations in the mountains and in the trees and in what they erect. Then, eat of all fruits, and follow the ways of your Lord made easy (for you). (16:68-69)
Al-Hasan Al-Basri commented about the Hawariyyun,
Allah inspired them,
As-Suddi said,
`He put in their hearts,
and the Hawariyyun said,
قَالُوَاْ امَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
they said:`We believe. And bear witness that we are Muslims.
Sending Down the Ma'idah
This is the story of the Ma'idah, the name of which this Surah bears, Surah Al-Ma'idah.
This is also among the favors that Allah granted His servant and Messenger, `Isa, accepting his request to send the Ma'idah down, and doing so as clear proof and unequivocal evidence.
Allah said,
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ
(Remember) when Al-Hawaryun said...
the disciples of `Isa said,
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَأيِدَةً مِّنَ السَّمَاء
O `Isa, son of Maryam! Can your Lord send down to us a Ma'idah from heaven!
The Ma'idah is the table that has food on it.
Some scholars said that;
the disciples requested this table because they were poor and deprived. So they asked `Isa to supplicate to Allah to send a table of food down to them that they could eat from every day and thus be more able to perform the acts of worship.
قَالَ اتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّوْمِنِينَ
`Isa said:Have Taqwa of Allah, if you are indeed believers.
`Isa answered them by saying, `Have Taqwa of Allah! And do not ask for this, for it may become a trial for you, but trust in Allah for your provisions, if you are truly believers.
قَالُواْ نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا
They said:We wish to eat thereof.
we need to eat from it,
وَتَطْمَيِنَّ قُلُوبُنَا
and to be stronger in faith,
when we witness it descending from heaven as sustenance for us.
وَنَعْلَمَ أَن قَدْ صَدَقْتَنَا
and to know that you have indeed told us the truth,
of your Message and our faith in you increases and also our knowledge.
وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ
and that we ourselves be its witnesses.
testifying that it is a sign from Allah, as proof and evidence that you are a Prophet, and attesting to the truth of what you brought us
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَأيِدَةً مِّنَ السَّمَاء تَكُونُ لَنَا عِيداً لاَِّوَّلِنَا وَاخِرِنَا
`Isa, son of Maryam, said:O Allah, our Lord! Send us from heaven a table spread (with food) that there may be for us -- for the first and the last of us -- a festival...
As-Suddi commented that the Ayah means,
We will take that day on which the table was sent down as a day of celebration, that we and those who come after us would consider sacred.
Sufyan Ath-Thawri said that it means,
A day of prayer.
وَايَةً مِّنكَ
and a sign from You.
proving that You are able to do all things and to accept my supplication, so that they accept what I convey to them from You.
وَارْزُقْنَا
and provide us sustenance,
a delicious food from You that does not require any effort or hardship.
وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
for You are the Best of sustainers.
قَالَ اللّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ
Allah said:I am going to send it down unto you, but if any of you after that disbelieves...
by denying this sign and defying its implication, O `Isa,
فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لاَّ أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ
then I will punish him with a torment such as I have not inflicted on anyone among the Alamin.
among the people of your time.
Allah said in similar Ayat,
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُواْ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
And on the Day when the Hour will be established (it will be said to the angels):Cause Fir`awn's people to enter the severest torment! (40:46)
and,
إِنَّ الْمُنَـفِقِينَ فِى الدَّرْكِ الاٌّسْفَلِ مِنَ النَّارِ
Verily, the hypocrites will be in the lowest depths of the Fire. (4:145)
Ibn Jarir said that Abdullah bin `Amr said,
Those who will receive the severest torment on the Day of Resurrection are three:
The hypocrites,
those from the people of Al-Ma'idah who disbelieved in it, and
the people of Fir`awn.
Ibn Abi Hatim recorded that Ibn Abbas said,
They said to `Isa, son of Maryam, `Supplicate to Allah to send down to us from heaven, a table spread with food.'
He also said, `So the angels brought the table down containing seven fish and seven pieces of bread and placed it before them. So the last group of people ate as the first group did.
Ibn Jarir recorded that Ishaq bin Abdullah said that;
the table was sent down to `Isa son of Maryam having seven pieces of bread and seven fish, and they ate from it as much as they wished. But when some of them stole food from it, saying, It might not come down tomorrow, the table ascended.
These statements testify that the table was sent down to the Children of Israel during the time of `Isa, son of Maryam, as a result of Allah's accepting his supplication to Him. The apparent wording of this Ayah also states so,
قَالَ اللّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ
(Allah said:I am going to send it down unto you...)
`Isa Rejects Shirk and Affirms Tawhid
Allah says;
وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ
And (remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):
Allah will also speak to His servant and Messenger, `Isa son of Maryam, peace be upon him, saying to him on the Day of Resurrection in the presence of those who worshipped `Isa and his mother as gods besides Allah,
يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ
O `Isa, son of Maryam! Did you say unto men:`Worship me and my mother as two gods besides Allah!'
This is a threat and a warning to Christians, chastising them in public, as Qatadah and others said, and Qatadah mentioned this Ayah as evidence,
هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
This is a Day on which the truthful will profit from their truth. (5:119)
Allah's statement,
قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
He will say:Glory be to You! It was not for me to say what I had no right (to say)...
contains Allah's direction for `Isa to utter the perfect answer.
Ibn Abi Hatim recorded that Abu Hurayrah said,
`Isa will be taught his argument in reply to what Allah will ask him,
وَإِذْ قَالَ اللّهُ
يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ
(And (remember) when Allah will say (on the Day of Resurrection):O `Isa, son of Maryam! Did you say unto men:`Worship me and my mother as two gods besides Allah!').
Abu Hurayrah then narrated that the Prophet said that Allah taught `Isa to say,
سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
Glory be to You! It was not for me to say what I had no right (to say)...
Ath-Thawri narrated this Hadith from Ma`mar from Ibn Tawus from Tawus.
`Isa's statement,
إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ
Had I said such a thing, You would surely have known it.
means, had I said it, You, my Lord, would have known it, for nothing escapes Your knowledge. Rather, I have not said these words nor did the thought even cross my mind, this why he said,
تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّمُ الْغُيُوبِ
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ
You know what is in my inner self though I do not know what is in Yours, truly, You, only You, are the Knower of all that is hidden and unseen. Never did I say to them ought except what You (Allah) did command me to say... (and convey).
أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
Worship Allah, my Lord and your Lord.
I only called them to what You sent me with and commanded me to convey to them,
أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
(Worship Allah, my Lord and your Lord) and this is what I conveyed to them,
.
وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ
And I was a witness over them while I dwelled amongst them,
I was a witness over what they did when I was amongst them.
فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
but when You took me (up), You were the Watcher over them, and You are a Witness to all things.
Abu Dawud At-Tayalisi recorded that Ibn Abbas said,
The Messenger of Allah stood up once and gave us a speech in which he said,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلا
O people! You will be gathered to Allah while barefooted, naked and uncircumcised;
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ
As We began the first creation, We shall repeat it. (21:104)
وَإِنَّ أَوَّلَ الْخَلَإيِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ أَلَاإ وَإِنَّهُ يُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي فَيُوْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَاإ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِح
The first among the creation who will be covered with clothes will be Ibrahim. Some men from my Ummah will be brought and taken to the left (to the Fire) and I will yell, `They are my followers!' It will be said, `You do not know what they innovated after you (in religion).' So I will say just as the righteous servant (`Isa) said,
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
And I was a witness over them while I dwelled amongst them, but when You took me (up), You were the Watcher over them, and You are a Witness to all things. If You punish them, they are Your servants, and if You forgive them, verily You, only You are the Almighty, the All-Wise.
فَيُقَالُ إِنَّ هوُلَاءِ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُم
It will further be said, `These people kept reverting back on their heels after you left them.'
Al-Bukhari also recorded this Hadith in the explanation of this Ayah.
Allah said;
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
If You punish them, they are Your servants, and if You forgive them, verily You, only You are the Almighty, the All-Wise.
All matters refer back to Allah, for He does what He Wills and none can question Him about what He does, while He will question them.
This Ayah also shows the crime of the Christians who invented a lie against Allah and His Messenger, thus making a rival, wife and son for Allah. Allah is glorified in that He is far above what they attribute to Him. So this Ayah has tremendous value and delivers unique news.
Only Truth will be of Benefit on the Day of Resurrection
Allah says;
قَالَ اللّهُ
Allah will say:
Allah answers His servant and Messenger `Isa, son of Maryam, after he disowns the disbelieving Christians who lied about Allah and His Messenger, and when `Isa refers their end to the will of his Lord.
هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
This is a Day on which the truthful will profit from their truth.
Ad-Dahhak said that Ibn Abbas commented,
This is the Day when Tawhid will benefit those who believed in it.
لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الَانْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Theirs are Gardens under which rivers flow (in Paradise) -- they shall abide therein forever.
and they will never be removed from it.
رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ
Allah is pleased with them and they with Him.
وَرِضْوَنٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ
But the greatest bliss is the good pleasure of Allah. (9:72)
We will mention the Hadiths about this Ayah (9:72) later on.
Allah's statement,
ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
That is the great success.
means, this is the great success, other than which there is no greater success.
Allah said in another Ayat,
لِمِثْلِ هَـذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَـمِلُونَ
For the like of this let the workers work. (37:61)
and,
وَفِى ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَـفِسُونَ
And for this let (all) those strive who want to strive. (83:26)
Allah's statement,
لِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالَارْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
To Allah belongs the dominion of the heavens and the earth and all that is therein, and He is able to do all things.
means, He created everything, owns everything, controls the affairs of everything and is able to do all things. Therefore, everything and everyone are in His domain and under His power and will. There is none like Him, nor is there rival, ancestor, son, or wife for Him, nor a lord or god besides Him.
Ibn Wahb said that he heard Huyay bin Abdullah saying that Abu Abdur-Rahman Al-Habli said that Abdullah bin `Amr said,
The last revealed Surah was Surah Al-Ma'idah.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Ma'idah. To Allah be praise and blessings.
I only said to them that which You commanded me, to [say], and that is: "Worship God, my Lord and your Lord." And I was a witness, a watcher, over them, preventing them from [saying] what they used to say, whilst I was amongst them; but when You took me [to You], [when] You raised me up to the sky, You were Yourself the Watcher over them, the Observer of their deeds, and You Yourself are Witness over all things, Aware and knowing them, including what I said to them and what they said after me, and whatever else.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.