Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
فَتَقَبَّلَهَا
maka menerimanya
رَبُّهَا
Tuhannya
بِقَبُولٍ
dengan penerimaan
حَسَنٖ
yang baik
وَأَنۢبَتَهَا
dan Dia menumbuhkannya
نَبَاتًا
dengan pertumbuhan
حَسَنٗا
yang baik
وَكَفَّلَهَا
dan memeliharanya
زَكَرِيَّاۖ
Zakaria
كُلَّمَا
setiap kali
دَخَلَ
masuk
عَلَيۡهَا
atasnya
زَكَرِيَّا
Zakaria
ٱلۡمِحۡرَابَ
mimbar
وَجَدَ
dia dapati
عِندَهَا
di sisinya
رِزۡقٗاۖ
makanan
قَالَ
dia berkata
يَٰمَرۡيَمُ
Wahai Maryam!
أَنَّىٰ
dari mana
لَكِ
bagimu
هَٰذَاۖ
ini (makanan)
قَالَتۡ
ia berkata
هُوَ
ia (makanan)
مِنۡ
dari
عِندِ
sisi
ٱللَّهِۖ
Allah
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
يَرۡزُقُ
dia memberi rezki
مَن
dari siapa
يَشَآءُ
Dia kehendaki
بِغَيۡرِ
dengan tidak
حِسَابٍ
perhitungan
فَتَقَبَّلَهَا
maka menerimanya
رَبُّهَا
Tuhannya
بِقَبُولٍ
dengan penerimaan
حَسَنٖ
yang baik
وَأَنۢبَتَهَا
dan Dia menumbuhkannya
نَبَاتًا
dengan pertumbuhan
حَسَنٗا
yang baik
وَكَفَّلَهَا
dan memeliharanya
زَكَرِيَّاۖ
Zakaria
كُلَّمَا
setiap kali
دَخَلَ
masuk
عَلَيۡهَا
atasnya
زَكَرِيَّا
Zakaria
ٱلۡمِحۡرَابَ
mimbar
وَجَدَ
dia dapati
عِندَهَا
di sisinya
رِزۡقٗاۖ
makanan
قَالَ
dia berkata
يَٰمَرۡيَمُ
Wahai Maryam!
أَنَّىٰ
dari mana
لَكِ
bagimu
هَٰذَاۖ
ini (makanan)
قَالَتۡ
ia berkata
هُوَ
ia (makanan)
مِنۡ
dari
عِندِ
sisi
ٱللَّهِۖ
Allah
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
يَرۡزُقُ
dia memberi rezki
مَن
dari siapa
يَشَآءُ
Dia kehendaki
بِغَيۡرِ
dengan tidak
حِسَابٍ
perhitungan
Terjemahan
Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, "Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?" Dia (Maryam) menjawab, "Itu dari Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
Tafsir
(Maka Tuhannya menerimanya) menerima Maryam sebagai nazar dari ibunya (dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik pula) Di samping pendidikan akhlaknya, Allah memperhatikan pula pertumbuhan jasmaninya, hingga dalam sehari besarnya bertambah seakan-akan dalam satu tahun. Ibunya membawanya kepada para pendeta penjaga Baitulmakdis, lalu katanya, "Terimalah oleh tuan-tuan anak yang dinazarkan ini." Berlomba-lombalah mereka untuk menerimanya sebagai anak asuhan, karena ia adalah putri dari imam mereka. Kata Zakaria, "Aku lebih berhak kepadanya, karena bibinya tinggal bersamaku." "Tidak," kata mereka, "sebelum kita mengadakan undian lebih dulu." Mereka yang banyaknya 29 orang itu pergi ke sungai Yordan dan melemparkan qalam atau anak panah mereka masing-masing ke dalamnya. Barang siapa yang qalamnya tidak hanyut dan timbul ke permukaan air, dialah yang lebih berhak menjadi pengasuhnya. Ternyata qalam Zakaria tidak hanyut dan timbul ke permukaan, hingga Maryam pun menjadi anak asuhannya, diambilnya dan dibuatkan untuknya sebuah bilik dalam mesjid dengan mempunyai tangga yang tak boleh dinaiki kecuali olehnya sendiri. Zakaria membawakannya makanan dan minuman serta alat-alat hiasannya, maka di musim dingin dijumpai padanya buah-buahan musim panas, dan di musim panas dijumpainya buah-buahan musim dingin, sebagaimana firman Allah ﷻ (dan dijadikan-Nya ia di bawah asuhan Zakaria). Menurut satu qiraat memakai tasydid sehingga berbunyi 'wakaffalahaa' sedangkan dinashabkannya 'Zakariya' itu ada yang panjang ada pula yang pendek. Yang mendatangkan buah-buahan tersebut adalah Allah ﷻ (Setiap Zakaria masuk untuk menemuinya di mihrab) yakni ruangan yang paling mulia di suatu mesjid (didapatinya makanan di sisinya, katanya, "Hai Maryam! Dari mana kamu peroleh makanan ini?" Jawabnya) sedangkan ia masih kecil ("Makanan itu dari Allah) yang didatangkan-Nya bagiku dari surga." (Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang disukai-Nya tanpa batas) yakni rezeki yang berlimpah yang diperoleh tanpa risiko dan jerih payah.
Tafsir Surat Ali-'Imran: 37
Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik, dan membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menjadikan Zakaria sebagai pengasuhnya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, "Wahai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (perhitungan).
Ayat 37
Allah ﷻ memberitakan bahwa Dia menerima nazar yang telah diucapkan oleh ibu Maryam, dan bahwa Dia menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik, yakni menjadikan rupanya cantik dengan penampilan yang bercahaya serta memberinya rahasia untuk doa yang dikabulkan, dan menitipkannya kepada orang-orang yang saleh dari hamba-hamba-Nya; dia belajar dari mereka ilmu, kebaikan, dan agama.
Disebutkan di dalam firman-Nya: “Dan Allah menjadikan Zakaria sebagai pengasuhnya.” (Ali Imran: 37) Dengan huruf fa yang di-tasydid-kan dan lafal Zakaria di-nasab-kan karena menjadi maful, yakni Allah menjadikannya sebagai pengasuh Maryam. Ibnu Ishaq mengatakan, hal tersebut tidak sekali-kali terjadi melainkan karena Maryam telah yatim. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa kaum Bani Israil di suatu waktu mengalami musim paceklik dan kekeringan, maka Zakaria mengasuh Maryam sebagai ayah angkatnya karena faktor tersebut.
Pada intinya kedua pendapat tersebut tidak bertentangan. Sesungguhnya Allah telah menakdirkan Zakaria sebagai pengasuhnya tiada lain hanyalah untuk kebahagiaan Maryam sendiri, agar Maryam dapat menimba darinya ilmu pengetahuan yang banyak lagi bermanfaat serta amal saleh. Juga karena Zakaria sendiri adalah suami bibinya, menurut yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir dan lain-lain.
Menurut pendapat lain, Zakaria adalah suami saudara perempuan Maryam. Seperti yang disebut di dalam sebuah hadits shahih, yaitu: “Tiba-tiba Nabi ﷺ berjumpa dengan Yahya dan Isa, keduanya adalah anak laki-laki bibi (saudara sepupu).” Akan tetapi, adakalanya dapat diselaraskan dengan pengertian yang telah dikatakan oleh Ibnu Ishaq dalam pengertian yang lebih luas. Atas dasar ini berarti Maryam berada di dalam asuhan dan pengasuhan bibinya. Disebutkan di dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah ﷺ pernah memutuskan dalam kasus Imarah binti Hamzah bahwa Imarah diserahkan ke dalam pengasuhan bibinya yang menjadi istri Ja'far ibnu Abu Thalib, dan beliau bersabda: “Bibi sama kedudukannya dengan ibu.”
Ayat 37
Kemudian Allah ﷻ menceritakan tentang kemuliaan dan keteguhan Maryam di tempat ibadahnya. Untuk itu Allah ﷻ berfirman: “Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, dia dapati makanan di sisinya (Maryam).” (Ali Imran: 37)
Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Abusy Sya'sa, Ibrahim An-Nakha'i, Adh-Dhahhak, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, Atiyyah Al-'Aufi, dan As-Suddi mengatakan, makna yang dimaksud adalah Zakaria menjumpai di sisi Maryam buah-buahan musim panas di saat musim dingin, dan buah-buahan musim dingin di saat musim panas.
Disebutkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: “Dia dapati makanan di sisinya.” (Ali Imran: 37) Bahwa yang dimaksud dengan rizqan bukan makanan, melainkan ilmu atau suhuf (lembaran-lembaran) yang di dalamnya terkandung ilmu.
Demikianlah menurut yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Akan tetapi, pendapat pertama (yang mengatakan makanan atau buah-buahan) adalah pendapat yang lebih shahih. Di dalamnya terkandung pengertian yang menunjukkan adanya karamah para wali Allah, dan di dalam sunnah terdapat banyak hal yang serupa. Ketika Zakaria melihat makanan tersebut berada di sisi Maryam, maka ia bertanya: "Zakaria berkata, ‘Wahai Maryam, dari manakah kamu memperoleh (makanan) ini?’" (Ali Imran: 37)
Lalu dalam firman selanjutnya disebutkan: “Maryam menjawab, ‘Makanan ini dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (perhitungan)." (Ali Imran: 37)
Al-Hafidzh Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Zanjilah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Luhai'ah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah tinggal selama beberapa hari tanpa makan sesuap makanan pun hingga kelihatan beliau sangat berat (menahan lapar). Lalu beliau berkeliling ke rumah istri-istrinya, tetapi tidak menemukan sesuap makanan pun pada seseorang di antara mereka.
Maka beliau ﷺ datang ke rumah Fatimah (putrinya), lalu bersabda, "Wahai anakku, apakah engkau mempunyai sesuatu makanan yang dapat kumakan? Karena sungguh aku sedang sangat lapar." Fatimah menjawab, "Tidak, demi Allah." Ketika Nabi ﷺ pergi dari rumahnya, tiba-tiba Siti Fatimah mendapat kiriman dua buah roti dan sepotong daging dari tetangga wanitanya, lalu Fatimah mengambil sebagian darinya dan diletakkan di dalam sebuah panci miliknya, dan ia berkata kepada dirinya sendiri, "Demi Allah, aku benar-benar akan mendahulukan Rasulullah ﷺ dengan makanan ini daripada diriku sendiri dan orang-orang yang ada di dalam rumahku," padahal mereka semua memerlukan makanan juga.
Kemudian Fatimah menyuruh Hasan atau Husain untuk mengundang Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ datang kepadanya, maka ia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Allah telah memberikan suatu makanan, lalu aku sisihkan buatmu." Nabi ﷺ bersabda, "Cepat berikanlah kepadaku, wahai anakku." Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menyuguhkan panci tersebut dan membukanya. Tiba-tiba panci itu telah penuh berisikan roti dan daging.
Ketika Fatimah melihat ke arah panci itu, maka ia merasa kaget dan sadar bahwa hal itu adalah berkah dari Allah ﷻ. Karena itu, ia memuji Allah dan mengucapkan salawat buat Nabi-Nya. Lalu Fatimah menyuguhkan makanan tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Ketika beliau ﷺ melihatnya, maka beliau memuji Allah dan bertanya, "Dari manakah makanan ini, wahai anakku?" Fatimah menjawab bahwa makanan tersebut dari sisi Allah, seraya menyitir firman-Nya: “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (perhitungan).” (Ali Imran: 37); Maka Nabi ﷺ memuji Allah dan bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dirimu, wahai anakku, mirip dengan penghulu kaum wanita Bani Israil; karena sesungguhnya dia bila diberi rezeki sesuatu (makanan) oleh Allah, lalu ditanya mengenai asal makanan itu, ia selalu menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah.Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab."
Kemudian Rasulullah ﷺ memanggil Ali, lalu makan bersama Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain serta semua istri dan keluarga ahli bait-nya, hingga semuanya merasa kenyang dari makanan itu. Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa makanan dalam panci itu masih utuh seperti sediakala, lalu sisanya dapat dikirimkan kepada semua tetangganya. Allah telah menjadikan keberkahan dan kebaikan yang banyak dalam makanan itu.
Maka Dia menerima doa-nya, dengan penerimaan yang baik, dan Dia membesarkannya, Maryam, melalui kedua orang tuanya dengan pertumbuhan yang baik, baik secara fisik maupun mental, dan karena suaminya, Imran, sudah meninggal, maka ibunya menyerahkan pemeliharaannya, Maryam, kepada Zakaria, di samping ia masih saudara, juga seorang nabi bagi Bani Israil sekaligus pengasuh rumah-rumah suci orang Yahudi. Setelah tumbuh dewasa, Allah menampakkan keistimewaan Maryam, yaitu setiap kali Zakaria masuk menemuinya, Maryam, yang biasanya dalam keadaan berzikir, di mihrab kamar khusus ibadah, dia, Zakaria, dapati makanan di sisinya. Dia, Zakaria, berkata dengan penuh keheranan, Wahai Maryam! Dari mana makanan ini engkau peroleh' Dia, Maryam, menjawab dengan singkat, Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan, baik menyangkut jumlahnya maupun caranya
Demi melihat keistimewaan Maryam dan nilai keberkahan mihrab tersebut, Zakaria menjadikan tempat yang diberkahi itu untuk memohon seorang anak kepada Allah. Di sanalah, di mihrab tempat Maryam beribadah itu, Zakaria berdoa kepada Tuhannya, dengan penuh kekhusyukan dan keyakinan. Dia berkata, Ya Tuhanku, melalui keberkahan mihrab ini, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Yang aku tahu sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa setiap hamba yang memohon kepada-Mu.
Allah menerima Maryam sebagai nazar disebabkan permohonan ibunya. Allah meridainya untuk menjadi orang yang semata-mata beribadah dan barkhidmat di Baitulmakdis walaupun Maryam masih kecil dan hanya seorang perempuan. Padahal orang yang dikhususkan untuk berkhidmat di Baitulmakdis biasanya laki-laki yang akil balig dan sanggup melaksanakan pengkhidmatan. Allah juga memelihara dan mendidiknya serta mem-besarkannya dengan sebaik-baiknya.
Pendidikan yang diberikan Allah kepada Maryam, meliputi pendidikan rohani dan jasmani. Maka dia menjadi orang yang berbadan sehat dan kuat serta berbudi baik, bersih rohani dan jasmaninya. Allah telah pula menjadikan Nabi Zakaria sebagai pengasuh dan pelindungnya.
Diriwayatkan bahwa ibunya menjemput dan membawanya ke masjid, lalu meletakkannya di depan rahib-rahib yang ada di sana. Dia berkata, "Ambillah olehmu anak yang kunazarkan ini". Maka mereka saling memperebutkan bayi itu, karena dia adalah putri dari pemimpin mereka. Masing-masing ingin menjadi pengasuhnya. Nabi Zakaria kemudian berkata, "Aku lebih berhak mengasuhnya, karena bibinya adalah istriku". Tetapi mereka menolak kecuali jika ditentukan dengan undian. Maka pergilah mereka ke sungai Yordan, melepaskan anak panah mereka masing-masing ke sungai, dengan maksud siapa yang anak panahnya dapat bertahan terhadap arus air sungai dan dapat cepat naik, maka dialah yang berhak mengasuh bayi Maryam. Ternyata kemudian anak panah Nabi Zakarialah yang dapat bertahan dan timbul meluncur di permukaan air, sedang anak panah yang lainnya hanyut tenggelam dibawa arus. Maka dalam undian itu, Nabi Zakaria yang menang dan Maryam segera diserahkan kepadanya untuk dipelihara dan dididik di bawah asuhan bibinya sendiri.
Manakala Maryam sudah mulai dewasa, dia telah mulai beribadah di mihrab. Tiap kali Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrab, ia dapati di sana makanan dan bermacam buah-buahan yang tidak ada pada waktu itu karena belum datang musimnya. Zakaria pernah menanyakan kepada Maryam tentang buah-buahan itu dari mana dia peroleh padahal saat itu musim kemarau. Maka Maryam menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan."
Kisah tersebut dikemukakan untuk meneguhkan kenabian Muhammad ﷺ, dan mengalihkan pikiran Ahli Kitab yang membatasi karunia kenabian pada keturunan Bani Israil saja. Juga untuk mengoreksi pendapat orang musyrik Arab yang menolak kenabian Muhammad ﷺ karena menganggap dia hanya manusia seperti mereka.
Allah telah menjadikan Adam sebagai orang pilihan dan khalifah di atas bumi, serta menjadikan Nuh sebagai orang pilihan dan bapak yang kedua dari umat manusia dan kemudian memilih Ibrahim serta keluarganya untuk menjadi manusia pilihan dan pembimbing manusia. Orang Arab dan para Ahli Kitab mengetahui hal itu, tetapi orang musyrik Arab menyombongkan diri sebagai keturunan Ismail dan pemeluk agama Ibrahim, dan Ahli Kitab menyombongkan diri atas terpilihnya keluarga Imran dari keturunan Bani Israil cucu Nabi Ibrahim. Banyak orang Arab maupun ahli Kitab mengetahui bahwa Allah telah memilih mereka semata-mata hanyalah atas kehendak-Nya, sebagai karunia dan kemurahan-Nya. Maka apakah yang menghalangi Allah untuk menjadikan Muhammad orang pilihan di atas bumi ini, sebagaimana Allah memilih mereka juga? Allah memilih siapa pun yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya. Allah telah memilih Muhammad ﷺ serta menjadikannya sebagai pemimpin bagi umat manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik, dan kebodohan, kepada cahaya kebenaran dan keimanan. Tidak seorang pun dari keluarga Ibrahim dan Imran lebih besar pengaruhnya daripada Muhammad ﷺ
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
KETURUNAN-KETURUNAN MULIA
Allah Subhanahu wa Ta'aala telah mengutus Rasul-Nya Muhammad ﷺ Maka, kalau kamu cinta kepada Allah, ikutilah ke mana dibimbing dan dipimpin oleh Rasul itu, niscaya cintamu itu akan disambut Allah dengan cinta pula. Akan tetapi, kalau kamu berpaling dari pimpinan itu maka Allah tidaklah cinta kepada orang yang kafir. Adapun Muhammad sebagai rasul, ialah sambungan dari rasul-rasul yang telah lalu, yaitu manusia-manusia yang telah dipilih oleh Allah sejak Adam; mereka adalah utusan menghubungkan cinta Tuhan dengan cinta makhluk-Nya. Maka, pada lanjutan ayat ini diterangkan perihal rasul-rasul yang dipilih Allah itu.
“Sesungguhnya, Allah telah memilih Adam dan Nuh dan keluarga Ibrahim dan keluanga Imran atas sekalian bangsa-bangsa."
(ayat 33)
Dipilih manusia yang utama di antara manusia yang banyak.
“(Ialah) keturunan„ yang sebagiannya adalah dari yang sebagian. Dan, Allah Maha Mendengar, lagi Mengetahui."
(ayat 34)
Adam sebagai bapak manusia. Dialah yang terlebih dahulu terpilih menerima wahyu dan menyampaikan wahyu itu kepada anak-cucu-nya. Tidaklah di sini kita akan masuk kepada perhitungan ulama, apakah Adam telah membawa syari'at ataukah belum. Akan tetapi, bahwa sudah dilimpahkan wahyu kepadanya, tidaklah ada pertikaian paham di antara ulama. Di sinilah timbul pendapat bahwa nabi dan rasul sama-sama mendapat wahyu. Akan tetapi, nabi hanya mendapat wahyu dan tidak membawa syari'at, sedangkan rasul mendapat wahyu dan di antara wahyu itu mengandung syari'at yang wajib disampaikannya kepada manusia. Itu sebabnya, seorang rasul dengan sendirinya adalah nabi, tetapi seorang nabi belumlah tentu bahwa dia merangkap jadi rasul.
Dari keturunan Adam ialah Nuh. Di antara Adam dan Nuh ada lagi seorang nabi, yaitu Idris. Akan tetapi, di dalam ayat ini lebih dikemukakan Nabi Nuh sebab dia telah mulai membawa syari'at yang tegas kepada umat manusia (lihat surah asy-Syura: 13), yang meskipun telah diajarkan oleh Adam, tetapi anak-cucunya telah mulai menyembah berhala. Nabi Nuh itulah yang disuruh membuat bahtera untuk melepaskan orang-orang yang percaya kepada Allah Yang Tunggal.
Di antara anak Nuh yang terkenal dalam catatan sejarah ialah Ham, Sam, dan Yafits, Dari keturunan Nuh yang bernama Sam itulah kemudian lahir Ibrahim. Ibrahim disebut pada ayat 33 ini, keluarga Ibrahim, sebab Ibrahim dengan beroleh kedua putranya, Ismail dan Ishaq, telah menurunkan keluarga yang besar. Ismail anak yang tertua telah mengembangkan bangsa Arab Adnani dan Ishaq telah mengembangkan Bani Israil. Berpuluh nabi dan rasul telah ditimbulkan pada Bani Israil. Kemudian timbullah dari keturunan Bani Israil itu keluarga Imran.
Di dalam Al-Qur'an ada tersebut dua Imran, tetapi jaraknya lebih kurang 1.800 tahun, Imran yang pertama adalah ayah dari Nabi Musa, sedangkan Imran yang kedua ialah ayah dari Maryam, dan Maryam ini ibu dari Nabi Isa al-Masih. Adapun satu cabang dari keluarga Ibrahim yang dari putranya Ismail tadi, dari sanalah dipilih dan diutus pula Nabi Muhammad ﷺ Maka, keluarga-keluarga yang mulia ini telah diberikan kemuliaan nubuwwat dan risalah, mengatasi sekalian manusia. Sehingga, bolehlah dikatakan bahwasanya pimpinan ruhani sebagian terbesar dari umat manusia didatangkan Allah melalui keluarga-keluarga ini. Semua keluarga itu adalah satu dari keturunan, yaitu Nabi Adam dan Nuh. Itulah sebabnya, dijelaskan di ayat 33 bahwa yang sebagian adalah keturunan dari yang sebagian.
Penyebar-penyebar agama Kristen di zaman kita ini menuduh bahwa Al-Qur'an bukanlah wahyu Allah, melainkan karangan Muhammad saja. Cerita-cerita mengenai nabi-nabi yang dahulu itu menurut pendakwaan mereka hanya dicaplok saja oleh Muhammad dari kitab-kitab mereka, terutama Perjanjian Lama. Kalau ada persamaan cerita, mereka jadikanlah itu menjadi bukti bahwa Al-Qur'an hanya menyalin kitab suci mereka. Akan tetapi, kalau tidak ada persamaan itu, mereka tuduh pula Al-Qur'an itu wahyu palsu sebab tidak cocok dengan kitab mereka. Mereka menuduh Al-Qur'an itu berkacau saja tentang nama-nama orang. Jika terdapat dua Imran, yaitu Imran ayah Musa dan Imran ayah Maryam, mereka katakan Al-Qur'an telah salah catat. Kalau dalam Al-Qur'an pernah dipanggil orang Maryam itu “saudara perempuan Harun", mereka ketawakan lagi. Karena, kata mereka Harun itu ialah saudara Musa, bukan saudara Maryam, sedang jaraknya kurang lebih 1.800 tahun. Mereka batalkan lagi karena Al-Qur'an mengatakan Haman wazir dari Fir'aun, sebab di dalam Perjanjian Lama (Kitab Ester) tersebut bahwa Haman bukan wazir Fir'aun, melainkan wazir dan Raja Ahasyweros.
Kalau hal ini dipertengkarkan, tidaklah akan putus-putus karena masing-masing akan mempertahankan pihaknya dan mendustakan yang lain. Akan tetapi, kalau masuk ke gelanggang ilmiah, marilah dipersoalkan manakah yang lebih terjamin: keaslian isi Al-Qur'an ataukan keaslian kitab-kitab yang mereka pegang sekarang itu? Apakah Perjanjian Lama yang sekarang ini menurut asli yang diterima dari Musa? Bukankah “Perjanjian Lama" baru disusun kembali setelah empat ratus tahun setelah Musa meninggal? Dan itu terbukti dari jalannya riwayat dalam kitab-kitab itu bahwa Nabi Musa hanya diceritakan sebagai orang ketiga. Siapakah penulis kitab-kitab itu yang sebenarnya? Ada Kitab Ezra (Nabi Uzair) yang disebut mengumpulkan kitab-kitab itu kembali. Siapa yang menuliskan “Kitab Ezra" itu? Tidak terang siapa penulis semua kitab itu. Tidak terang sampai sekarang ini!
Menurut undang-undang berpikir secara ilmiah, dapatkah dibatalkan Al-Qur'an, wahyu Ilahi kepada Muhammad ﷺ yang dicatat lengkap pada waktu beliau hidup lalu disalin menjadi satu mushaf di zaman Abu Bakar dan disalin lagi Mushaf Abu Bakar itu di zaman Utsman oleh satu panitia yang terang nama-nama orangnya? Yang sepakat seluruh ahli pengetahuan sampai sekarang ini bahwa tidak pernah selama empat belas abad satu kalimat pun masuk kata-kata lain ke dalamnya?
“(Ingatlah) tatkala bermohon istri Imran, ‘Ya, Tuhanku! Sesungguhnya, aku telah … (anak) yang dalam perutku ini akan diperhambakan kepada Engkau."
(pangkal ayat 35)
Ada seorang laki-laki yang saleh namanya Imran, senama dengan ayah Nabi Musa yang hidup 1.800 tahun sebelumnya. Sebab, sejak zaman purbakala lagi, sampai kepada zaman kita ini orang-orang yang saleh dalam agamanya suka sekali memakai nama orang-orang yang mulia buat menjadi nama anaknya. Rupanya ayah Imran ini menamai anaknya demikian karena ayah Nabi Musa yang besar itu bernama Imran pula. Laki-laki yang bernama Imran ini mempunyai seorang istri yang saleh seperti dia pula. Lalu dia hamil. Dalam dia hamil itu, bernadzarlah dia, kalau lahir anaknya akan diserahkannya menjadi abdi Tuhan, menyelenggarakan Baitul Maqdis, karena di antara keluarganya sendiri pun ada orang yang menjadi penyelenggara rumah suci itu, yaitu Nabi Zakaria, suami dari kakaknya. Maka, berserulah dia dalam doanya agar nadzarnya itu dikabulkan Allah, “Sebab itu, terimalah dariku" perkenankanlah nadzar itu dapat terlaksana, “Sesungguhnya, Engkau adalah Maha Mendengar" akan permohonan hamba-Mu yang sangat mengharap ini,
“Lagi Mengetahui."
(ujung ayat 35)
Betapa keinginan itu benar-benar tumbuh dari lubuk hatiku, nadzar yang tumbuh dari hati yang ikhlas.
Maka, lahirlah anak itu setelah genap bulannya,
“Maka tatkala telah dilahirkan dia."
(pangkal ayat 36)
Ternyata anak itu perempuan. Tentu yang diharapkannya dari semua ialah anak laki-laki sebab penyelenggara rumah suci adalah orang laki-laki belaka, sedangkan nadzarnya sudah bulat."Dia pun berkata, ‘Tuhanku! Sesungguhnya, aku telah melahirkannya perempuan!" Di dalam perkataan itu tampaklah keterharuan hati perempuan yang saleh itu, bagaimana aku ini, nadzar telah dibulatkan, selahir anak akan diantar ke rumah suci, ternyata anaknya perempuan, Apakah Allah bisa menerimanya? Sebab kalau Allah terima, dia masih tetap akan memegang teguh nadzarnya.
Lalu datanglah keterangan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ"Padahal Allah terlebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu" Meskipun anak itu dilahirkan perempuan, bukanlah dia perempuan biasa. Ibunya tidak mengerti hal itu. Yang diketahuinya hanya bahwa anak itu perempuan. Pada pendapatnya, niscaya tenaganya mengurus masjid Allah tidak akan sama dengan tenaga laki-laki, dan ada lagi beberapa hari dalam sebulan dia tidak boleh mendekat ke tempat beribadah yang agung itu. Dia tidak mengetahui apa yang diketahui Tuhan. Di kemudian hari baru ternyata bahwa dia akan dijadikan Allah suatu ayat bagi isi alam, bahwa sekali waktu seorang anak dara yang suci, bersih dan saleh akan melahirkan seorang putra, dan putra itu nabi Allah pula, yaitu Isa al-Masih, tidak menurut kebiasaan dunia yaitu dengan persetubuhan. Allah lalu menegaskan lagi, “Dan tidaklah laki-laki seperti perempuan!' Artinya tidaklah akan ada seorang laki-laki pun yang akan menjadi khadam rumah suci itu yang akan serupa dengan perempuan yang dilahirkannya itu.
Istri Imran lalu menyambung seruannya kepada Allah,
“Dan aku telah menamainya Maryam, dan sesungguhnya aku memperlindungkannya dan keturunan-keturunannya kepada Engkau dari setan yang terkutuk."
(ujung ayat 36)
Dengan ujung doa yang demikian, tampak sekali lagi bagaimana salehnya perempuan itu. Dia merasa anaknya yang perempuan ini lemah tidak berdaya dibanding dengan laki-laki, tetapi nadzarnya akan diteruskannya juga. Sebab itu, dia memohonkan kepada Allah agar anak itu diperlindungi. Dan, kelak, sebab dia perempuan, moga-moga kalau ada keturunannya maka keturunan itu pun moga-moga kiranya diperlindungi Allah juga dari segala per-dayaan dan pengaruh setan yang terkutuk, yang dirajam oleh kutuk Tuhan ke mana saja pun dia mencoba memperdayakan.
“Maka diterimatah (permohonannya itu) oleh Tuhannya dengan penerimaan yang baik."
(pangkal ayat 37)
Maksudnya mengantarkan anaknya itu ke rumah suci diterima Allah. Kebetulan untung baik baginya sebab penyelenggara rumah suci itu adalah suami saudara perempuan ibunya, yaitu Nabi Zakaria. Maka, tersebutlah di dalam wahyu kepada Nabi kita bahwasanya berundi-undianlah di antara khadam-khadam Allah itu siapa yang akan menjadi pengasuh Maryam itu (lihat nanti ayat 44) sebab masing-masing orang-orang saleh itu ingin, biarlah dia yang mengasuh anak itu. Untung baik, jatuh undian kepada Zakaria."Dan Dia pertumbuhkan dia dengan pertumbuhan yang baik." Artinya, tumbuhlah badannya, bertambah besarlah dia."Dan mengasuh akan dia ZakariaTuhan menyebutkan pengasuhan Zakaria bagi menambah penjelasan bagaimana terjaminnya keselamatan dan pertumbuhan anak itu, ruhani dan jasmani. Pertama, sebab Zakaria bukan orang lain bagi dia, malahan bapaknya juga, dan Zakaria itu pun seorang rasul Allah yang amat saleh sehingga kesalehannya itu berpengaruh juga kepada pertumbuhan diri anak itu.
Dua kata penting terdapat untuk kita jadikan dasar dalam pendidikan kanak-kanak di dalam ayatini. Pertama ialah dari keturunan ayah-bundanya yang saleh sehingga badannya bertambah besar dalam darah keturunan yang baik. Kedua, perhatian kepada siapa yang mengasuh dan mendidik. Sehingga, walaupun si anak lepas dari tangan kedua orang tuanya, sebab guru yang menyambutnya pun orang baik maka pertumbuhan jiwa anak itu pun di dalam keadaan baik pula. Lantaran itu, meskipun orang dan keturunan baik-baik, kalau guru yang mendidik kurang baik, pertumbuhan anak itu pun kurang wajar meskipun dasar ada. Atau meskipun mendapat guru yang baik, kalau kedua orang tua tidak menjadi dasar tumbuh jiwa kesalehan maka agama anak itu hanyalah sehingga otaknya saja. Belum tentu tumbuh dari jiwanya. Sebab itu, syarat utama ialah orang tua yang baik dan pendidik yang baik pula.
Maka, bertambah besarlah Maryam dalam asuhan Zakaria dan ditempatkannya anak gadis kecil itu dalam tempatnya sendiri di mihrab, yaitu ruang yang khas tempat beribadah menurut agama Nabi Musa."Tiap-tiap masuk Zakaria ke tempatnya di mihrab, didapatinya ada makanan di sisinya."
Ada setengah tafsir mengatakan bahwa ketika Zakaria masuk, selalu didapatinya ada saja makanan yang cukup untuk Maryam. Yang lebih mengherankan lagi, kata tafsir itu, di musim panas ada saja makanan musim dingin dan di musim dingin ada saja makanan musim panas. Tercengang Zakaria melihat,
“Berkata dia, ‘Wahai, Maryam! Dari mana engkau dapat ini?'Dia menjawab, Dia adalah dari Allah, karena sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dengan tidak berkira."
(ujung ayat 37)
Namun, karena penafsiran makanan musim panas ada saja di musim dingin dan makanan musim dingin ada saja di musim panas, meskipun elok bunyinya, tetapi sanad dan dasar riwayatnya kurang kuat, apatah lagi tidak ada penafsiran yang shahih dari Rasulullah ﷺ tentang hai yang sepenting ini, tidaklah mengapa jika kita turuti sebagaimana bunyi ayat itu saja. Yakni tiap-tiap Zakaria masuk ke mihrab itu didapatinya sudah ada saja makanan. Padahal Zakaria sendiri kadang-kadang sudah mencarikan makanan buat dia. Ketika ditanya, dia jawab bahwa itu adalah pemberian Allah.
"The Chosen Ones Among the People of the Earth
Allah says;
إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى ادَمَ وَنُوحًا وَالَ إِبْرَاهِيمَ وَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Allah chose Adam, Nuh (Noah), the family of Ibrahim and the family of Imran above the nations. Offspring, one of the other, and Allah is All-Hearer, All-Knower.
Allah states that He has chosen these households over the people of the earth.
For instance, Allah chose Adam, created him with His Hand and blew life into him. Allah commanded the angels to prostrate before Adam, taught him the names of everything and allowed him to dwell in Paradise, but then sent him down from it out of His wisdom.
Allah chose Nuh and made him the first Messenger to the people of the earth, when the people worshipped idols and associated others with Allah in worship. Allah avenged the way Nuh was treated, for he kept calling his people day and night, in public and in secret, for a very long time. However, his calling them only made them shun him more, and this is when Nuh supplicated against them. So Allah caused them to drown, and none among them was saved, except those who followed the religion that Allah sent to Nuh.
Allah also chose the household of Ibrahim, including the master of all mankind, and the Final Prophet, Muhammad, peace be upon him.
Allah also chose the household of Imran, the father of Maryam bint Imran, the mother of `Isa, peace be upon them. So `Isa is from the offspring of Ibrahim, as we will mention in the Tafsir of Surah Al-An`am, Allah willing, and our trust is in Him.
The Story of Maryam's Birth
Allah tells;
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ
(Remember) when the wife of Imran said:
The wife of Imran mentioned here is the mother of Maryam, and her name is Hannah bint Faqudh.
Muhammad bin Ishaq mentioned that Hannah could not have children and that one day, she ﷺ a bird feeding its chick. She wished she could have children and supplicated to Allah to grant her offspring. Allah accepted her supplication, and when her husband slept with her, she became pregnant. She vowed to make her child concentrate on worship and serving Bayt Al-Maqdis (the Masjid in Jerusalem), when she became aware that she was pregnant.
She said,
رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
O my Lord! I have vowed to You what is in my womb to be dedicated for Your services, so accept this from me. Verily, You are the All-Hearer, the All-Knowing.
meaning, You hear my supplication and You know my intention. She did not know then what she would give birth to, a male or a female.
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ
Then when she gave birth to her, she said:""O my Lord! I have given birth to a female child, ـ and Allah knew better what she bore.
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالاُنثَى
And the male is not like the female,
in strength and the commitment to worship Allah and serve the Masjid in Jerusalem.
وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ
And I have named her Maryam,
thus, testifying to the fact that it is allowed to give a name to the newly born the day it is born, as is apparent from the Ayah, which is also a part of the law of those who were before us.
Further, the Sunnah of the Messenger of Allah mentioned that the Prophet said,
وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ وَلَدٌ سَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيم
This night, a son was born for me and I called him by my father's name, Ibrahim.
Al-Bukhari and Muslim collected this Hadith.
They also recorded that;
Anas bin Malik brought his newborn brother to the Messenger of Allah who chewed a piece of date and put it in the child's mouth and called him Abdullah.
Other new born infants were also given names on the day they were born.
Qatadah narrated that Al-Hasan Al-Basri said, that Samurah bin Jundub said that the Messenger of Allah said,
كُلُّ غُلَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأَسُه
Every new born boy held in security by his Aqiqah, until his seventh day, a sacrifice is offered on his behalf, he is given a name, and the hair on his head is shaved.
This Hadith was collected by Ahmad and the collectors of the Sunan, and was graded Sahih by At-Tirmidhi.
We should mention that another narration for this Hadith contained the wording, ""and blood is offered on his behalf,"" which is more famous and established than the former narration, and Allah knows best.
Allah's statement that Maryam's mother said,
وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
""...And I seek refuge with You for her and for her offspring from Shaytan, the outcast.""
means, that she sought refuge with Allah from the evil of Shaytan, for her and her offspring, i.e., `Isa, peace be upon him.
Allah accepted her supplication, for Abdur-Razzaq recorded that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلاَّ مَسَّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّهِ إِيَّاهُ إِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا
Every newly born baby is touched by Shaytan when it is born, and the baby starts crying because of this touch, except Maryam and her son.
Abu Hurayrah then said,
""Read if you will,
وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
(And I seek refuge with You for her and for her offspring from Shaytan, the outcast).""
The Two Sahihs recorded this Hadith
Maryam Grows Up; Her Honor is with Allah
Allah tells;
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ
So her Lord (Allah) accepted her with goodly acceptance.
Allah states that He has accepted Maryam as a result of her mother's vow and that,
وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا
He made her grow in a good manner,
meaning, made her conduct becoming, her mannerism delightful and He made her well liked among people. He also made her accompany the righteous people, so that she learned righteousness, knowledge and religion.
وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا
And put her under the care of Zakariyya,
meaning, Allah made Zakariyya her sponsor.
Allah made Zakariyya Maryam's guardian for her benefit, so that she would learn from his tremendous knowledge and righteous conduct. He was the husband of her maternal aunt, as Ibn Ishaq and Ibn Jarir stated, or her brother-in-law, as mentioned in the Sahih,
فَإِذَا بِيَحْيَى وَعِيسى وَهُمَا ابْنَا الْخَالَة
I ﷺ John and `Isa, who are maternal cousins.
We should state that in general terms, what Ibn Ishaq said is plausible, and in this case, Maryam was under the care of her maternal aunt.
The Two Sahihs recorded that;
the Messenger of Allah decided that Amarah, the daughter of Hamzah, be raised by her maternal aunt, the wife of Jafar bin Abi Talib, saying,
الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الاُْم
The maternal aunt is just like the mother.
Allah then emphasizes Maryam's honor and virtue at the place of worship she attended,
كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً
Every time he entered the Mihrab to (visit) her, he found her supplied with sustenance.
Mujahid, Ikrimah, Sa`id bin Jubayr, Abu Ash-Sha`tha, Ibrahim An-Nakhai, Ad-Dahhak, Qatadah, Ar-Rabi bin Anas, Atiyah Al-Awfi and As-Suddi said,
""He would find with her the fruits of the summer during winter, and the fruits of the winter during summer.""
When Zakariyya would see this;
قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا
He said:""O Maryam! From where have you gotten this!""
meaning, where did you get these fruits from!
قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ
She said, ""This is from Allah.""
إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ
Verily, Allah provides sustenance to whom He wills, without limit.
The Supplication of Zakariyya, and the Good News of Yahya's Birth
Allah tells;
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ
At that time Zakariyya invoked his Lord, saying:
When Zakariyya ﷺ that Allah provided sustenance for Maryam by giving her the fruits of winter in summer and the fruits of summer in winter, he was eager to have a child of his own.
By then, Zakariyya had become an old man, his bones feeble and his head full of gray hair. His wife was an old women who was barren. Yet, he still supplicated to Allah and called Him in secret,
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ
O my Lord! Grant me from Ladunka, (from You),
ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
A good offspring,
meaning, a righteous offspring,
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء
You are indeed the All-Hearer of invocation.
Allah said
فَنَادَتْهُ الْمَليِكَةُ وَهُوَ قَايِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ
Then the angels called him, while he was standing in prayer in the Mihrab,
meaning, the angels spoke to him directly while he was secluded, standing in prayer at his place of worship.
Allah told us about the good news that the angels delivered to Zakariyya,
أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَـى
Allah gives you glad tidings of Yahya,
of a child from your offspring, his name is Yahya.
Qatadah and other scholars said that;
he was called Yahya (literally, `he lives') because Allah filled his life with faith.
Allah said next,
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ
believing in the Word from Allah.
Al-Awfi reported that Ibn Abbas said, and also Al-Hasan, Qatadah, Ikrimah, Mujahid, Abu Ash-Sha`tha, As-Suddi, Ar-Rabi bin Anas, Ad-Dahhak, and several others said that the Ayah,
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ
(believing in the Word from Allah) means,
""Believing in `Isa, son of Maryam.""
وَسَيِّدًا
And Sayyidan,
Abu Al-Aliyah, Ar-Rabi bin Anas, Qatadah and Sa`id bin Jubayr said that;
Sayyidan, means, a wise man.
Ibn Abbas, Ath-Thawri and Ad-Dahhak said that;
Sayyidan means, ""The noble, wise and pious man.""
Sa`id bin Al-Musayyib said that Sayyid is the scholar and Faqih. `Atiyah said that Sayyid is the man noble in behavior and piety. `Ikrimah said that it refers to a person who is not overcome by anger, while Ibn Zayd said that it refers to the noble man. Mujahid said that Sayyidan means, honored by Allah.
Allah's statement,
وَحَصُورًا
And Hasuran, (chaste),
does not mean he refrains from sexual relations with women, but that he is immune from illegal sexual relations.
This does not mean that he does not marry women and have legal sexual relations with them, for Zakariyya said in his supplication for the benefit of Yahya,
هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
(Grant me from You, a good offspring), meaning, grant me a son who will have offspring, and Allah knows best.
Allah's statement,
وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
A Prophet, from among the righteous.
delivers more good news of sending Yahya as Prophet after the good news that he will be born. This good news was even better than the news of Yahya's birth.
In a similar statement, Allah said to the mother of Musa,
إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَـعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Verily, We shall bring him back to you, and shall make him one of the Messengers. (28:7)
When Zakariyya heard the good news, he started contemplating about having children at his age.
Allah said
قَالَ رَبِّ أَنَّىَ يَكُونُ لِي غُلَمٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ
""O my Lord! How can I have a son when I am very old, and my wife is barren!""
قَالَ
(He) said...,
meaning the angel said,
كَذَلِكَ اللّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاء
""Thus Allah does what He wills.""
meaning, this is Allah's matter, He is so Mighty that nothing escapes His power, nor is anything beyond His ability.
قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ ايَةً
He said:""O my Lord! Make a sign for me.""
meaning make a sign that alerts me that the child will come.
قَالَ ايَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ رَمْزًا
(Allah) said:""Your sign is that you shall not speak to the people for three days except by signals.""
meaning, you will not be able to speak except with signals, although you are not mute.
In another Ayah, Allah said,
ثَلَـثَ لَيَالٍ سَوِيّاً
For three nights, though having no bodily defect. (19:10)
Allah then commanded Zakariyya to supplicate, thank and praise Him often in that condition,
وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالاِبْكَارِ
And remember your Lord much and glorify (Him) in the afternoon and in the morning.
We will elaborate more on this subject in the beginning of Surah Maryam, Allah willing.
The Virtue of Maryam Over the Women of Her Time
Allah tells;
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَيِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاء الْعَالَمِينَ
And (remember) when the angels said:""O Maryam! Verily, Allah has chosen you, purified you, and chosen you above the women of the nations.""
Allah states that the angels spoke to Maryam by His command and told her that He chose her because of her service to Him, because of her modesty, honor, innocence, and conviction.
Allah also chose her because of her virtue over the women of the world.
At-Tirmidhi recorded that Ali bin Abi Talib said,
""I heard the Messenger of Allah say,
خَيْرُ نِسَايِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَايِهَا خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِد
The best woman (in her time) was Maryam, daughter of Imran, and the best woman (of the Prophet's time) is Khadijah (his wife), daughter of Khuwaylid.""
The Two Sahihs recorded this Hadith.
Ibn Jarir recorded that Abu Musa Al-Ashari said that the Messenger of Allah said,
كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَ اسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْن
Many men achieved perfection, but among women, only Maryam the daughter of Imran and Asiah, the wife of Fir`awn, achieved perfection.
The Six -- with the exception of Abu Dawud - recorded it.
Al-Bukhari's wording for it reads,
كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ اسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ
وَإِنَّ فَضْلَ عَايِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلى سَايِرِ الطَّعَام
Many men reached the level of perfection, but no woman reached such a level except Asiah, the wife of Fir`awn, and Maryam, the daughter of Imran.
The superiority of Aishah (his wife) to other women, is like the superiority of Tharid (meat and bread dish) to other meals.
We mentioned the various chains of narration and wordings for this Hadith in the story of `Isa, son of Maryam, in our book, Al-Bidayah wan-Nihayah, all the thanks are due to Allah.
Allah states that the angels commanded Maryam to increase acts of worship, humbleness, submission, prostration, bowing, and so forth, so that she would acquire what Allah had decreed for her, as a test for her. Yet, this test also earned her a higher grade in this life and the Hereafter, for Allah demonstrated His might by creating a son inside her without male intervention.
Allah said,
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
""O Maryam! Submit yourself with obedience (Aqnuti) and prostrate yourself, and bow down along with Ar-Raki`in.""
As for Qunut (Aqnuti in the Ayah),
it means to submit with humbleness.
In another Ayah, Allah said,
بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَـنِتُونَ
Nay, to Him belongs all that is in the heavens and on earth, and all surrender with obedience (Qanitun) to Him. (2:116)
Allah next said to His Messenger after He mentioned Maryam's story.
ذَلِكَ مِنْ أَنبَاء الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيكَ
This is a part of the news of the Ghayb which We reveal.
""and narrate to you (O Muhammad),""
وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُون أَقْلَمَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
You were not with them, when they cast lots with their pens as to which of them should be charged with the care of Maryam; nor were you with them when they disputed.
meaning, ""You were not present, O Muhammad, when this occurred, so you cannot narrate what happened to the people as an eye witness. Rather, Allah disclosed these facts to you as if you were a witness, when they conducted a lottery to choose the custodian of Maryam, seeking the reward of this good deed.""
Ibn Jarir recorded that Ikrimah said,
""Maryam's mother left with Maryam, carrying her in her infant cloth, and took her to the rabbis from the offspring of Aaron, the brother of Musa. They were responsible for taking care of Bayt Al-Maqdis (the Masjid) at that time, just as there were those who took care of the Ka`bah.
Maryam's mother said to them, `Take this child whom I vowed (to serve the Masjid), I have set her free, since she is my daughter, for no menstruating woman should enter the Masjid, and I shall not take her back home.'
They said, `She is the daughter of our Imam,' as Imran used to lead them in prayer, `who took care of our sacrificial rituals.'
Zakariyya said, `Give her to me, for her maternal aunt is my wife.'
They said, `Our hearts cannot bear that you take her, for she is the daughter of our Imam.' So they conducted a lottery with the pens with which they wrote the Tawrah, and Zakariyya won the lottery and took Maryam into his care.""'
Ikrimah, As-Suddi, Qatadah, Ar-Rabi bin Anas, and several others said that;
the rabbis went into the Jordan river and conducted a lottery there, deciding to throw their pens into the river. The pen that remained afloat and idle would indicate that its owner would take care of Maryam.
When they threw their pens into the river, the water took all the pens under, except Zakariyya's pen, which remained afloat in its place.
Zakariyya was also their master, chief, scholar, Imam and Prophet, may Allah's peace and blessings be on him and the rest of the Prophets."
Her Lord accepted the child, that is, He received Mary from her mother, with gracious acceptance, and made her grow excellently, He made her grow up with excellent character. She would grow in a day by as much as a new-born grew during a year. Her mother took her to the priests, the keepers of the Holy House [of Jerusalem] and said: 'This here before you is the dedication [I offered]'. They competed for [guardianship of] her, because she was the daughter of their religious leader, at which point Zachariah said, 'I am most worthy of her, for, her maternal aunt lives with me'. The others said, 'No, [not until] we have cast lots'. Thus, all twenty nine of them departed to the River Jordan, where they cast their quills, agreeing that the one whose quill remained fast and floated to the surface of the water would be most worthy of [being guardian over] her. Zachariah's quill remained fast [and surfaced]. He took [charge of] her and built for her a gallery-room with a ladder in the temple, and none apart from him went up to her. He used to bring her food, drink and oil, and would find her with summer fruits in winter, and winter fruits in summer, just as God says, and Zachariah took charge of her, he took her to him (a variant reading [of kafalahaa, 'he took charge of her'] is kaffalahaa, 'He [God] gave Zachariah charge of her', with Zakariyyaa', or Zakariyyaa, in the accusative and 'God' as the subject of the verb). Whenever Zachariah went into the sanctuary, that is, the room, the most noble seat [in the temple], where she was, he found her with provisions. 'O Mary,' he said, 'Whence comes this to you?' She, still very young, said, 'From God, He sends it to me from the Paradise,' 'Truly God provides, abundant provision, for whomever He will without reckoning', without consequence.
Commentary
In order to fulfill her vow, Sayyidah Maryam's mother took her to the Mosque of بیت المقدس Baitul-Maqdis and talked to the care-takers and worshippers at the Mosque, Sayyidna Zakariyya (علیہ السلام) being one of them, and. told them that she had vowed to dedicate the child in the service of God and therefore, she could not keep the child with her. She asked them to take her and keep her.
Sayyidna ` Imran (علیہ السلام) was the Imam of this Mosque. He had died during the pregnancy of Maryam's mother, otherwise he would have been the most deserving person to have taken charge of the child, being the father and the Imam of the Mosque. Therefore, every keeper and worshipper of the Mosque wished to take her in his custody. Sayyidna Zakariyya (علیہ السلام) pleaded his bid for custody by saying that his wife was Maryam's aunt and she being next to her mother certainly deserved to keep her. But, people did not agree to prefer him over the others. Finally, everybody agreed to draw lots, which turned out to be fairly strange as it would appear later. Here too, it was Sayyidna Zakariyya (علیہ السلام) who turned out to be the winner.
So, he got custody of Maryam. According to some reports, he employed a wet-nurse to have her suckled. Other reports say that she just did not need to be suckled. She grew up able to sit and walk and Sayyidna Zakariyya (علیہ السلام) put her in a good house adjacent to the Mosque. When he went out, he locked the house and opened it on re-turn. This has been stated briefly in the present verse.








