يُوسُف ٨٤
- وَتَوَلَّىٰ dan ia berpaling
- عَنۡهُمۡ dari mereka
- وَقَالَ dan ia berkata
- يَٰٓأَسَفَىٰ alangkah sedih hatiku
- عَلَىٰ atas
- يُوسُفَ Yusuf
- وَٱبۡيَضَّتۡ dan menjadi putih
- عَيۡنَاهُ kedua matanya
- مِنَ dari/karena
- ٱلۡحُزۡنِ kesedihan
- فَهُوَ maka/akan tetapi ia
- كَظِيمٞ orang yang menahan marah
Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, "Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf." Dan kedua matanya menjadi putih karena sedih, dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya).
(Dan Yakub berpaling dari mereka) seraya tidak meladeni pembicaraan mereka (seraya berkata, "Aduhai, duka-citaku) huruf alif yang terdapat pada kata yaa asafaa merupakan pergantian daripada huruf ya idhafat; artinya aduhai alangkah sedihnya (terhadap Yusuf," dan kedua matanya menjadi putih) bagian yang hitam dari matanya tertutup oleh benda yang putih karena terlalu banyak menangis (karena kesedihan) terhadap Yusuf (dan dia adalah seorang yang menahan amarah) terhadap anak-anaknya akan tetapi ia tidak menampakkan kemarahannya itu dan menahannya.
Tafsir Surat Yusuf: 83-86
Ya'qub berkata, "Hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (buruk) itu. Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Dan Yaqub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, "Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf," dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Mereka berkata, "Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa."
Yaqub menjawab, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak mengetahuinya."
Ayat 83
Ya'qub berkata kepada mereka seperti perkataannya ketika mereka datang dengan membawa baju gamis Yusuf yang berlumuran darah palsu di masa lalu:
“Hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku).” (Yusuf: 83)
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, "Ketika mereka datang kepada ayah mereka (Nabi Ya'qub) dan menceritakan kepadanya semua yang terjadi, maka dalam diri Nabi Ya'qub terbersit rasa curiga. Ia menduga bahwa mereka telah melakukan hal yang sama seperti apa yang mereka lakukan terhadap Yusuf dahulu. Karena itu ia berkata: 'Hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan ( buruk) itu. Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku)'." (Yusuf: 83)
Sebagian ulama mengatakan bahwa mengingat perbuatan mereka di masa lalu seperti itu, maka apa yang terjadi pada mereka saat itu disimpulkan sama dengan perbuatan mereka yang terdahulu, dan benarlah apa yang dikatakan Ya'qub: “Hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (buruk) itu.”
“Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku).” (Yusuf: 83)
Kemudian Nabi Ya'qub memohon kepada Allah semoga Dia mengembalikan ketiga anaknya, yaitu Yusuf, saudaranya Bunyamin, dan anak tertuanya (yaitu Rubel) yang masih tertinggal di negeri Mesir menunggu keputusan Allah ﷻ mengenai nasib dirinya. Bisa jadi ayahnya memaafkannya, lalu memerintahkannya untuk pulang; dan bisa jadi ia harus berusaha menculik saudaranya untuk dipulangkan kepada ayahnya. Dalam doanya itu Nabi Ya'qub berkata:
“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui.” (Yusuf: 83)
Yakni Allah ﷻ Maha Mengetahui tentang keadaanku.
“Lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf: 83) dalam semua perbuatan, keputusan, dan takdir-Nya.
Ayat 84
Dan Yaqub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, "Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf." (Yusuf: 84)
Yakni berpaling dari anak-anaknya dan berkata mengingatkan akan kesedihannya terhadap Yusuf di masa lalu.
“Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf.” (Yusuf: 84)
Kesedihan akan kehilangan anaknya yang kedua ini membangkitkan kesedihan yang pertama yang lebih mendalam.
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Sufyan Al-Usfuri, dari Sa'id ibnu Jubair, bahwa ia mengatakan bahwa tiada seorang pun yang diberi istirja' (kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji'un di saat tertimpa musibah) selain dari umat ini (yakni umat Nabi Muhammad ﷺ).
Nabi Ya'qub sendiri telah mengatakan: "Aduhai kesedihanku terhadap Yusuf, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (Yusuf: 84) Makna kazim artinya diam tidak mengadukan urusannya kepada seorang makhluk pun. Demikianlah menurut pendapat Qatadah dan lain-lainnya.
Ad-Dahhak mengatakan, kazim artinya dukacita dan sedih.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Al-Hasan, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, bahwa Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Daud a.s. pernah berdoa, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaum Bani Israil memohon kepada Engkau melalui Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub; maka jadikanlah diriku orang yang keempatnya bagi mereka."
Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Daud, "Bahwasanya, hai Daud, sesungguhnya Ibrahim pernah dilemparkan ke dalam api karena Aku, dan dia bersabar. Dan itu adalah cobaan yang belum pernah kamu alami. Dan sesungguhnya Ishaq telah mengorbankan darah dirinya karena Aku dan dia bersabar. Dan itu merupakan cobaan yang belum pernah kamu alami. Dan sesungguhnya Ya'qub telah diambil orang yang dikasihinya dari sisinya, sehingga kedua matanya putih karena menangis kesedihan, dia bersabar, dan itu adalah cobaan yang belum pernah kamu alami."
Hadits ini mursal, dan di dalam isinya terdapat hal yang munkar. Karena sesungguhnya hal yang benar ialah bahwa Ismail-lah yang (mau) disembelih (bukan Ishaq). Dan lagi Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an (salah seorang yang disebutkan dalam sanad hadits ini) mempunyai banyak hadits yang berpredikat munkar dan garib. Penilaian yang lebih dekat kepada kebenaran sehubungan dengan hadits ini ialah bahwa Al-Ahnaf ibnu Qais meriwayatkan hal ini dari sebagian kaum Bani Israil (yang telah masuk Islam), seperti Ka'b, Wahb, dan lain-lainnya. Karena orang-orang Bani Israil telah menukil dari Nabi Ya'qub, bahwa ia berkirim surat kepada Yusuf ketika Yusuf menahan saudaranya karena dituduh mencuri, dalam suratnya itu Ya'qub memohon belas kasihan kepada Yusuf untuk mengembalikan anaknya kepadanya.
Disebutkan pula bahwa mereka adalah ahli bait yang tertimpa musibah; Ibrahim diuji dengan api, Ishaq disembelih, dan Ya'qub berpisah dari Yusuf. Hal ini disebutkan di dalam sebuah hadits panjang yang tidak sahih predikatnya.
Ayat 85
Maka pada saat itu anak-anaknya merasa belas kasihan kepada ayahnya, lalu mereka berkata kepada ayahnya dengan nada memelas dan lemah lembut:
“Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf.” (Yusuf: 85)
Yakni engkau masih tetap ingat kepada Yusuf.
“Sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat.” (Yusuf: 85)
Yaitu kekuatanmu menjadi memudar dan lemah.
“Atau termasuk orang-orang yang binasa.” (Yusuf: 85)
Mereka mengatakan bahwa jika keadaan ini terus-menerus berlangsung atas dirimu, kami merasa khawatir kamu akan menjadi orang yang binasa.
Ayat 86
Ya'qub menjawab ucapan mereka dengan kalimat berikut:
"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (Yusuf: 86)
Yakni hanya kepada Allah sajalah aku mengadukan kesusahanku dan penderitaan yang kualami ini.
“Dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 86)
Artinya, aku mengharap semua kebaikan dari Allah.
Dari Ibnu Abbas disebutkan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 86) Yakni mimpi yang dialami oleh Yusuf itu adalah benar, dan Allah pasti akan menampakkannya menjadi kenyataan. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa aku mengetahui mimpi Yusuf itu benar, dan kelak aku akan bersujud menghormat kepadanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Malik ibnu Abu Buhainah, dari Hafs ibnu Umar ibnu Abuz Zubair, dari Anas ibnu Malik r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Nabi Yaqub mempunyai seorang saudara angkat, di suatu hari saudara angkatnya bertanya kepadanya, ‘Apakah yang membuat matamu buta dan punggungmu bongkok?’ Yaqub menjawab, ‘Hal yang membutakan mataku adalah karena menangisi Yusuf, dan hal yang menyebabkan punggungku bongkok ialah kesedihan karena kehilangan Bunyamin.’ Maka Jibril a.s. datang kepadanya dan mengatakan, ‘Hai Yaqub, sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepadamu, dan berfirman kepadamu, 'Tidakkah kamu malu mengadu kepada selain Aku'? Yaqub berkata, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’ Jibril a.s. berkata, ‘Allah mengetahui apa yang kamu adukan’." Hadits ini berpredikat garib (aneh), di dalamnya terdapat hal yang mungkar.
Dan setelah berkata demikian, dia (Nabi Yakub) berpaling dari
mereka untuk menyendiri seraya berkata, Aduhai duka citaku terhadap
Yusuf, dan karena terlalu banyak meneteskan air mata, kedua matanya
menjadi putih karena sedih sehingga tidak bisa lagi melihat. Dia lebih
banyak diam karena menahan amarah kepada anak-anaknya. Melihat Nabi Yakub terus-menerus mengingat Nabi Yusuf. Mereka
berkata, Demi Allah, engkau tidak pernah henti-hentinya mengingat
Nabi Yusuf yang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya, sehingga
engkau mengidap penyakit berat yang membuat badanmu kurus dan
pikiranmu kacau atau membuat engkau termasuk orang-orang yang akan
binasa dan meninggal dunia.
Karena tidak senang menerima laporan yang disampaikan para putranya, maka Nabi Yakub berpaling dari mereka seraya berkata dengan penuh kesedihan, "Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf, karena aku tadinya menunggu-nunggu berita yang menggembirakan dari Mesir, tetapi kenyata-annya justru berita yang menyedihkan yang kuterima." Karena kesedihan yang terus-menerus dialaminya dan sering menangis, maka kedua mata Yakub menjadi putih, sehingga keadaannya seperti orang buta. Akan tetapi, beliau tetap masih bisa menahan amarah terhadap anak-anaknya.
Menurut dunia ilmu pengetahuan, ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya, sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia di dalam tubuh: Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini memunculkan masalah bagi tubuh. Mungkin hal ini pula yang dialami oleh Nabi Yaqub as ketika kehilangan anak yang disayanginya Nabi Yusuf a.s.
Stres yang parah, mampu mempengaruhi bahkan mengubah fungsi-fungsi normal organ tubuh. Hal ini dapat berakibat sangat buruk. Akibat stres, kadar adrenalin dan kortisol di dalam tubuh meningkat di atas batas normal. Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama berujung pada gangguan organ tubuh antara lain dapat terjadi gangguan pada pankreas. Akibatnya timbul penyakit diabetes atau kencing manis yakni penyakit rusaknya sel-sel beta pankreas yang menghasilkan insulin, berakibat pada kadar gula darah tubuh tidak terkontrol. Dalam banyak kasus penyakit diabetes ini dapat menimbulkan gejala katarak yakni kekeruhan pada lensa mata yang mengakibatkan pandangan kabur. Apabila lensa menjadi keruh, maka cahaya yang masuk ke dalam mata dapat terpencar dan mengakibatkan pandangan kabur.
Para ahli kedokteran (mata) sepakat bahwa penanganan yang kurang atau tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan kebutaan pada penderita penyakit ini. Gejala utama katarak adalah penglihatan kabur, daya penglihatan berkurang secara progresif, adanya selaput tipis yang menghalangi pandangan, sangat silau jika berada di bawah cahaya yang terang. Pada perkembangan selanjutnya penglihatan semakin memburuk, pupil akan tampak berwarna putih (ada putih-putih pada hitam mata)
Dewasa ini penyakit "mata putih" (katarak) ini dapat disembuhkan terutama dengan semakin majunya teknologi kedokteran saat ini atau karena kadar gula dalam darah dapat dikontrol dengan baik.
Berbeda tentunya dengan Nabi Yaqub a.s. yang kesembuhannya berlangsung secara cepat, mungkin karena mukjizat bagi seorang Nabi atau bisa juga sebagai buah dari "kesabarannya". Maha Suci Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Penyembuh.
.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SABAR YANG INDAH DARI YA'QUB
Kesabaran bukanlah artinya tidak ada perasaan. Kesabaran ialah kesanggupan me-ngendalikan perasaan ketika sedih menimpa. Ini nampak pada sikap-sikap hidup Nabi Ya'qub pada saat itu.
Tengah bercakap dengan anak-anaknya yang telah membuat hatinya kecewa yang kedua kali dengan hilang pula Bunyamin, dan pengharapannya bahwa semua anak-anak itu, terutama Yusuf tidaklah mati.
“Dan berpalinglah dia dari mereka sambil berkata: “Wahai dukacitanya aku atas Yusuf Sehingga putihlah kedua belah matanya tontonan sedih, tetapi dia tahan."
(ayat 84)
Di sini Allah menggambarkan kepada kita betapa hebatnya perjuangan batin Nabi Ya'qub yang telah tua itu. Dia tetap bersabar, tetap menahan perasaan. Batin kuat tetapi jasmani sudah lemah, sehingga lantaran teguh menahan, jasmani terutama mata tidak kuat menahannya, sehingga menjadi putihlah selaput mata, dari sebab air mata yang tertahan-tahan turun, atau tidak ada air mata yang akan dikeluarkan lagi.
Maka nyatalah bahwa kesedihan itu tetap ada, tetapi berperang dalam hati. Adakah se-orang ayah yang tidak akan sedih kehilangan anak yang dicintai? Nabi kita Muhammad ﷺ menangis ketika putranya yang paling bungsu Ibrahim meninggal dalam sarat menyusu, anak beliau dengan istri sahayanya, Mariah orang Kopti itu. Menangis beliau, sehingga ada sahabat yang bertanya, “Menangis engkau ya utusan Allah?" Beliau jawab, “Hati bersedih, air mata pun titik, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutku, melainkan yang diridhai Allah jua." Dan kebetulan pada saat mengebumikan putra yang tercinta itu, gerhanalah matahari. Maka ada sahabat yang menyangka gerhana matahari adalah karena putra Rasul meninggal. Dalam kesedihan itu sempat juga junjungan kita Muhammad ﷺ berpidato pendek menyatakan bahwa gerhana matahari adalah salah satu dari pertanda kebesaran Allah di alam, yang tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang.
Melihat ayahnya berpaling meninggalkan mereka dan pergi dengan mengeluh ingatkan Yusuf, yang telah lama menyebabkan mata beliau jadi putih, “Mereka berkata,
“Demi Allah! Selalu engkau teringat Yusuf, sehingga jadilah engkau sakit-sakit, atau akan jadi engkau dari orang-orang yang binasa."
(ayat 85)
Demikianlah anak-anak itu mencoba menenangkan ayah mereka. Begini saja ayah terus, bertahun-tahun lamanya, sampai badan ayah pun sudah sakit-sakit, sampai mata ayah pun sudah putih, sudah rabun tidak kuat penglihatan lagi. Kami takut ayah akan meninggal dalam makan hati berulam jantung, atau mana tahu, entah terjatuh ayah di tempat yang berbahaya karena mata tidak melihat, sedang kami tidak tahu.
“Dia berkata: “Aku hanya mengadukan kesusahanku dan kesedihanku kepada Allah, dan aku tahu dari Allah apa yang tidak kamu ketahui."
(ayat 86)
Di sinilah rahasia kesedihan yang larat itu. Sebab beliau telah diberi tahu dengan ilham ataupun dengan wahyu oleh Allah, bahwa Yusuf masih hidup, tetapi Allah belum memberitahukan di mana Yusuf sekarang. Kalau sekiranya sudah pasti Yusuf meninggal, tidaklah dia akan sampai demikian sengsara oleh kedukaan, tidaklah matanya akan sampai putih. Itulah yang beliau bayangkan kepada anak-anaknya itu. Allah memberitahu kepadaku apa yang kamu tidak mengetahui.
Dan dia tidak mengeluhkan nasibnya kepada orang lain, sebab orang lain tidak akan dapat melepaskannya dari kesedihan itu. Hanya kepada Allah, kepada Allah jua dia memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan itu.
Tidak berapa lama kemudian. Nabi Ya'qub pun berkatalah kepada anak-anaknya itu,
“Wahai anak-anakku! Pergilah, dan selidikilah rahasia tentang Yusuf dan saudaranya."
(pangkal ayat 87)
Dengan perintah beliau seperti ini kepada anak-anaknya, bertambah tampaklah kepastian dalam hati beliau bahwa mereka masih ada. Dan bila dia sebut Yusuf dan saudaranya, padahal Bunyamin terang tertawan di Mesir, sudah mulai rupanya agak terang-terang remang dalam pikirannya bahwa Yusuf itu ada di Mesir. Anak-anak yang bukan Nabi seperti ayahnya niscaya belum juga mengerti akan hal itu, dan sebagai anak-anak yang patuh kepada orang tua, niscaya akan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh ayah mereka. Dan beliau tegaskan lagi,
“Dan janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah putus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang tidak berkepercayaan"
(ujung ayat 87)
Itulah pegangan beliau, dan pegangan itu pula yang diberikannya kepada anak-anaknya. Jangan berputus asa dari rahmat Allah! Carilah terus!
Mungkin perkataan ayah mereka yang seperti ini mulai menimbulkan pemikiran di antara mereka masing-masing, sebab mereka di waktu itu sudah orang-orang yang dewasa, yang telah berusia lebih 40 tahun pada umumnya, mungkin timbul pertanyaan dalam hati, barangkali Yang Dipertuan Muda di Mesir itulah agaknya yang Yusuf. Mengapa harga gandum mereka dikembalikan? Mengapa Bunyamin ditahan? Mengapa sambutannya atas mereka tampak mengandung kasih sayang? Mungkin telah ada yang merasa begini, tetapi belum berani mengatakannya, takut kalau-kalau ini hanya persangkaan saja. Kalau tidak, alangkah hinanya mereka, orang-orang dusun menyatakan bahwa Yang Dipertuan Muda Mesir saudara mereka. Dalam perasaan yang demikian, mereka berangkat kembali ke Mesir, melaksanakan kehendak ayah mereka, mencari Yusuf dan saudaranya. Apakah lagi musim kemarau yang tujuh tahun itu, ketika itu sudah sampai di puncak sengsaranya, persediaan makanan di dusun-dusun tambah lama tambah kering dan harta benda atau uang untuk pembeli makanan ke Mesir, makin kurang. Dalam keadaan begitu, mereka berangkat.
Teringatlah penulis tafsir ini, keadaan di Minangkabau pada beberapa negeri sesudah agresi Belanda yang kedua, karena hutan rusak, orang telah menjual seng atap rumah, atau tempat tidur, atau piring, mangkuk, untuk pembeli beras.
“Maka tatkala mereka masuk kepadanya, mereka berkata: “Wahai Yang Mulia Telah ditimpa kami dan ahli kami oleh sengsara."
(pangkal ayat 88)
Persediaan gandum yang kami beli telah habis pula."Dan (sekarang) datanglah kami membawa barang yang tidak berharga." Kami tahu bahwa bagi Yang Mulia barang-barang ini tidaklah ada harganya, tetapi bagi kami hanya inilah yang tinggal.
“Lantaran itu isilah sukaran kami dan bersedekahlah kepada kami; sesungguhnya Allah akan membalas orang-orang yang bersedekah."
(ujung ayat 88)
Sesungguhnya dengan perkataan demikian, kalau sekiranya orang lain tidaklah akan tahan air mata Yusuf mendengarnya lagi, tetapi sebagai orang besar, dia masih sanggup menahan diri.
“Dia berkata: “Adakah kamu teringat, apa yang telah kamu perbuat kepada Yusuf dan saudaranya, ketika kamu masih bodoh?"
(ayat 89)
Cara susunan pertanyaan menunjukkan bahwa dia ditanyakan dengan tidak mengandung marah, melainkan telah mengandung maaf, sebab disebutkan bahwa ketika mereka berbuat begitu, mereka masih bodoh. Janji Allah kepada Yusuf, sebaik dia dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya itu, bahwa kelak hal itu akan disebutnya kepada mereka, sekarang telah dipenuhi. (Lihat kembali ayat 15). Benar-benar mereka tidak sadar ketika itu bahwa akan beginilah yang bertemu.
Disebutnya juga dia dan saudaranya karena dengan hilangnya Yusuf, Bunyamin menjadi sepi sendirian, apalah lagi ibu mereka Rakhel telah meninggal dunia sesudah melahirkan Bunyamin.
“Mereka berkata: “Apakah kiranya engkau ini Yusuf?"
(pangkal ayat 90)
Mulai timbul kesadaran dalam hati, atau lanjutan dari sangka-sangka yang telah agak tumbuh demi mendengar peringatan bapak mereka, tetapi niscaya mereka bertanya dahulu, tidak datang berkata saja, “Engkau rupanya yang Yusuf!" Takut kalau-kalau tidak, dan mereka bertambah hina.
Allah, Tuhanku! Yang berbicara itu sekarang adalah pertalian darah, cinta kasih yang sebenarnya dalam hati sanubari orang ber-dunsanak, bila rasa dendam bersaudara, yang cabik-cabik bulu ayam. Yusuf pun tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan lagi, sebab semuanya ini adalah saudara kandungnya, belahan dirinya."Dia jawab: “Akulah Yusuf dan ini adalah saudaraku." Adik kandungku, Bunyamin!
“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia atas kami. Dan sesungguhnya barangsiapa yang takwa dan sabar, maka Allah tidaklah akan menyia-nyiakan ganjaran bagi orang-orang yang berbuat kebajikan"
(ujung ayat 90)
Yang berkata itu sekarang bukan lagi Yang Dipertuan Muda Negeri Mesir saja, dan yang berkata itu sekarang bukan lagi semata-mata Yusuf yang telah hilang lebih seperempat abad. Yang berkata sekarang lebih dari keduanya itu, ialah Rasul Allah yang yakin akan pertolongan Allah, rasul Allah yang empat kali disebut bahwa dia seorang yang suka berbuat kebaikan (Muhsinin), baik waktu diasuh di rumah induk semangnya (ayat 21), atau setelah dimasukkan ke dalam penjara, disaksikan sendiri oleh teman-temannya sepenjara, (ayat 36), atau setelah dia menjadi wakil raja (ayat 56), malahan dirasakan kebaikannya itu oleh saudara-saudaranya itu, sehingga karena itu memohon mereka agar, demi kebaikannya itu, sudilah melepaskan adik mereka Bunyamin dan mengambil salah seorang mereka jadi gantinya (ayat 78). Selalu berbuat kebaikan dalam suka dan duka, dalam mewah dan sengsara, dalam menghadapi ujian batin yang berat, sekarang mengakuilah dia bahwa keteguhannya mempertahankan kebaikan itulah yang menyebabkan mereka bertemu kembali (ayat 90).
Sekarang jelaslah sudah, memang dialah Yusuf. Aku Yusuf, ini adalah saudaraku! Untuk menambahkan yakin, dan saudara-saudaranya itu pun telah yakin, keraguan telah hilang. Benarlah ayah mereka rasul Allah, patutlah beliau tetap merasa Yusuf belum mati, Yusuf masih ada. Tetapi, alangkah rendah rasanya diri mereka ketika itu. Mereka telah bersalah besar kepada Yusuf, dan sekarang Yusuf telah bertemu di dalam keadaan yang berbeda sama sekali, telah duduk di atas puncak singgasana kemuliaan.
“Mereka berkata: “Demi Allah! Sesungguhnya Allah telah melebih-muliakan engkau atas kami, dan meskipun kami ini adalah bersalah semua"
(ayat 91)
Saudara yang hilang lebih seperempat abad sudah bertemu, dan ayah mereka telah akan merasa gembira jika mereka pulang kembali, tetapi mereka sendiri adalah orang-orang yang bersalah, terhadap saudara kandung yang sekarang telah mencapai kedudukan amat tinggi. Perhatikanlah susunan wahyu Ilahi itu, mereka langsung mengaku salah. Mereka hanya menyerah sekarang! Nasib mereka bergantunglah kepada kehendak Yusuf saja. Kalau mereka dihukum lantaran itu, adalah hal yang patut, dan mereka tidak akan menyesal. Tetapi mereka sudah puas, sebab ayah tidak akan bersusah hati lagi. Tetapi Yusuf, rasul Allah, Yang Dipertuan Muda Mesir yang telah banyak menderita dan banyak merasa bahagia, yang mengakui bahwa semua kebahagiaan adalah lantaran takwa dan sabar, lantaran sudi selalu berbuat kebaikan, akan tetaplah melanjutkan takwa dan sabar dan berbuat kebaikan itu.
“Dia berkata: ‘Tidak ada apa-apa atas kamu mulai hari ini, mudah-mudahan diampuni Allah akan kamu, dan Dia adalah Yang Sepenyayang-penyayang dari sekalian orang yang penyayang,"
(ayat 92)
Alangkah indahnya sambutan Yusuf ini, betapalah saudara-saudaranya tidak akan terharu mendengarkan jawaban itu. Mulai sehari itu jangan disebut-sebut juga soal itu, yang telah lampau biarlah hilang dalam lipatan masa lampau, dan mulai hari ini kita menghadapi zaman depan, Allah akan memberi ampun kamu wahai saudara-saudaraku, jika sekiranya di dunia ada orang-orang yang penyayang, maka Allah lebih penyayang dari sekalian orang-orang yang penyayang itu. Ditutupnya hal itu dengan penuh rasa sayang. Kemudian itu dilanjutkannya perkataannya, sambil memberikan sehelai baju atau kemeja yang bekas dipakainya dan belum dicuci.
“Bawalah kemejaku ini dan kenakanlah dia ke atas muka bapakku, nanti dia akan datang dengan mata tenang."
(pangkal ayat 93)
Dengan kata demikian sudah jelas bahwa bapaknya akan dimintanya datang ke Mesir, kepadanya, dengan mata yang tidak buta lagi, sebab baju itu akan menyembuhkannya, dan dilanjutkannya pula perkataan khusus terhadap kepada sekalian saudaranya itu,
“Dan bawalah kepadaku keluargamu semuanya,"
(ujung ayat 93)
Dapatlah agaknya kita merasai betapa jadinya suasana pada saat itu. Niscaya kedua belas orang bersaudara telah berkumpul, termasuk Bunyamin dan Raubin (atau yang lain) yang tinggal di Mesir dan tak mau pulang itu. Mereka sekarang tinggal menentukan hari akan berangkat kembali ke bumi Kana'an, menjemput ayah dan ibu, menjemput anak-anak dan istri mereka, cucu-cucu dari Nabi Ya'qub, untuk berpindah berbondong ke negeri Mesir. Yang menurut kitab Perjanjian Lama (Kejadian Pasal 46 ayat 26), adalah 66 orang banyaknya. Dan kelak jika telah dijumlahkan dengan Yusuf dan dua orang anaknya dan istrinya, menjadi 70 oranglah semuanya (ayat 27).
"Allah's Prophet Yaqub receives the Grievous News
Allah's Prophet Yaqub repeated to his children the same words he said to them when they brought false blood on Yusuf' shirt,
قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ
He (Yaqub) said:""Nay, but your own selves have beguiled you into something. So patience is most fitting (for me).
Muhammad bin Ishaq said,
""When they went back to Yaqub and told him what happened, he did not believe them and thought that this was a repetition of what they did to Yusuf. So he said,
بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ
(Nay, but your own selves have beguiled you into something. So patience is most fitting (for me).
Some said that; since this new development came after what they did before (to Yusuf), they were given the same judgement to this later incident that was given to them when they did what they did (to Yusuf). Therefore, Yaqub's statement here is befitting,
بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ
(Nay, but your own selves have beguiled you into something. So patience is most fitting (for me). He then begged Allah to bring back his three sons:Yusuf, Binyamin and Rubil to him.""
Rubil had remained in Egypt awaiting Allah's decision about his case, either his father's permission ordering him to go back home, or to secure the release of his brother in confidence. This is why Yaqub said,
عَسَى اللّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ
May be Allah will bring them (back) all to me. Truly, He! Only He is All-Knowing,
in my distress,
الْحَكِيمُ
the All-Wise,
in His decisions and the decree and preordainment He appoints.
Allah said next
وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ
وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
And he turned away from them and said:""Alas, my grief for Yusuf!""
He turned away from his children and remembered his old grief for Yusuf,
يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ
Alas, my grief for Yusuf!
The new grief, losing Binyamin and Rubil, renewed his old sadness that he kept to himself.
Abdur-Razzaq narrated that Ath-Thawri said that Sufyan Al-Usfuri said that Sa`id bin Jubayr said,
""Only this nation (the following of Prophet Muhammad) were given Al-Istirja'. Have you not heard the statement of Yaqub, peace be upon him,
يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
""Alas, my grief for Yusuf !"" And he lost his sight because of the sorrow that he was suppressing.""
According to Qatadah and other scholars,
Yaqub suppressed his sorrow and did not complain to a created being,
Ad-Dahhak also commented,
""Yaqub was aggrieved, sorrowful and sad.""
Yaqub's children felt pity for him and said, while feeling sorrow and compassion,
قَالُواْ تَالله تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ
They said:""By Allah! You will never cease remembering Yusuf,
`you will keep remembering Yusuf,
حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا
until you become weak with old age,
until your strength leaves you,'
أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ
or until you be of the dead.
They said, `if you continue like this, we fear for you that you might die of grief,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللّهِ
He said:""I only complain of my grief and sorrow to Allah.""
When they said these words to him, Yaqub said,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي
`(I only complain of my grief and sorrow) for the afflictions that struck me,
إِلَى اللّهِ
(to Allah) alone,
وَأَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
and I know from Allah that which you know not.
I anticipate from Allah each and every type of goodness.'
Ibn Abbas commented on the meaning of,
وَأَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
(and I know from Allah that which you know not),
""The vision that Yusuf ﷺ is truthful and Allah will certainly make it come true."""
And he turned away from them, no longer addressing them, and said, 'Alas, my grief for Joseph!' (yaa asafaa: the [final] alif [of asafaa] has taken the place of the [possessive] yaa' of genitive annexation [sc. yaa asafee], in other words [it means] yaa huznee ['O my sorrow']). And his eyes turned white, their dark colour was effaced and became white on account of his tears, with grief, for him, such that he was [filled] with suppressed agony, anguished and grief-stricken, but not manifesting his grief.
Said in verse 84 was: وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ :` And he turned away from them and said, "How sad I am about Yusuf' and his eyes turned white with sorrow and he was suppressing (his anger and grief).' It means that, after this second shock, Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) closed this chapter of talking to his sons about this matter, and turned to his Lord with his plaint before Him as to how sad he was about Yusuf. at happened was that this constant crying at his separation from Yusuf (علیہ السلام) caused his eyes to turn white from sorrow. The sense is that he lost his eyesight, or it became very weak. Tafsir authority, Muqatil has said that this state of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) continued for six years when his eyesight had nearly gone. In the last sentence of the verse, it was said: فَهُوَ كَظِيمٌ which can be explained by saying that he became silent, speechless, unable to share his pain with anyone else. The word: كَظِيمٌ (kazim) has been derived from: کَظم (kazm) which means to be choked up or filled. Thus, the sense would be that his heart was all filled up with sorrow and his tongue was tied for he would not talk about his grief to anyone.
Therefore, the word: کَظم (kazm) is also taken in the sense of sup-pressing anger - in a way that anger, despite having one's heart filled with it, does not become the motivating factor of doing something, by word of mouth or movement of hand, as demanded by one's anger. It appears in Hadith:
وَ مَن یَّکظِمِ الغَیظَ یَاجُرہُ اللہُ
That is, ` whoever suppresses his anger (and does not act as it demands despite having the ability to do so), Allah will reward him.'
It is said in another Hadith that, on the day of Resurrection (Al-Hashr), Allah Ta` ala will bring such people before the whole multitude of people and would give them the option to take whichever of the blessings of Jannah (Paradise) they liked.
At this point, Imam Ibn Jarir has reported a Hadith according to which, at a time of distress, reciting or prompting to recite: إِنَّا لِلَّـهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (Inna lil-lahi wa inna ilaihi rajiun : To Allah we belong and to Him we are to return) is one of the distinguishing characteristics of this Ummah, and this Kalimah is highly effective in delivering one from the suffering of sorrow. We can understand why it has been called the distinguishing characteristic of the Ummah of the Holy Prophet ﷺ since Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) ، when choked with deadly sorrow and shock, did not say this Kalimah, instead, he said: (How sad I am about Yusuf). In his Shu` abul-'Iman, Al-Baihaqi has also reported this Hadith as based on a narration of Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ .
Why Was Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) So Deeply Attached To
Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) ?
At this stage, we notice that Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) had extraordinary love for Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) . He was so affected by his disappearance that, during this whole period of his separation from him which has been reported to be forty years in some narrations while eighty in some others, he kept weeping continuously, so much so that he lost his eyesight. Apparently, this does not measure upto his spiritual majesty as a prophet that he would love his children so much and that much. On the other hand, the Holy Qur an says: إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ:` Your wealth and your children are a fitnah (trial) - 64:15.' And, as for the spiritual majesty of the noble prophets, may peace be upon them all, the Holy Qur’ an has this to say: إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ: that is, We have made them special to specialize in the remembrance of the Home (of 'Akhirah) - 38:46.' Malik ibn Dinar (رح) explains its meaning by saying that: We have taken out the love of dunya from their hearts and, in its place, We have filled their hearts with nothing but the love of Akhirah. Their only criterion, in taking or leaving something, is Akhirah.
From the sum-total of what has been said here, there rises a difficulty before us as to how could Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) allow himself to be so consumed with his love for Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) and how could that be explained as correct.
In his Tafsir (Mazhari), Qadi Thana'ullah Panipati (رح) has, with reference to this difficulty, reported a special research of Hadrat Mujaddid Alf Thani, the gist of which is that, no doubt, the love of dunya and its enjoyment is blameworthy. Categorical statements of the Qur’ an and Hadith prove that. But, the love of things of dunya which relate to 'Akhi-rah is, in reality, included under the love of 'Akhirah. The excellences of Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) were not limited to his physical beauty alone. Also to be taken into account are his prophetic chastity and high morals. So, given an overall view, love for him was not the love of what wordly life has to offer. In fact and in reality, this was nothing but the love for rah itself.
In the comment quoted above, it is worth noticing that this love, though not the love of dunya really, yet it did have a certain worldly touch. For this reason, this love became the source of the trial and test of Sayyidna Ya` qub (علیہ السلام) ، for which he had to undergo the unbearable shock of a forty-year separation from him. Then, the chains of this event, from the beginning to the end, show that things kept taking shape as determined by Allah Ta’ ala which made this shock stretch longer and longer. Otherwise, at the very start of the event, it would have not been possible for a father who loved his son so intensely that he would simply listen to what his other sons told him and elect to keep sitting home and not do anything about it. In fact, if he had immediately visited the site of the incident and made necessary inquiries and investigations, he would have known the truth of the matter on the spot. But, things happened in a way as Allah would have them, so it just did not occur to him. After that, Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) was stopped, through revelation, from sending to his father any news about himself - to the limit that he took no initiative in this direction even after his ascension to power in Egypt. Then, more trying were events which happened concerning the repeated visits of his brothers to Egypt. Even at that time, he said nothing to his brothers about himself, nor did he try to send some note of information to his father. Instead of doing all that, he detained yet another brother through a secret plan, thus inflicting yet another shock on his father. All these actions cannot possibly issue forth from a great prophet such as Sayyidna Yusuf unless and until he had not been prohibited from doing so through the medium of Wahy (revelation). Therefore, al-Qurtubi and other commentators have declared this entire range of actions taken by Sayyidna Yusuf (علیہ السلام) as directly prompted by Divine revelation. The Qur’ anic statement: كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ (This is how We planned for Yusuf -76) also indicates in this directon. Allah knows best.