Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَلَمۡ
apakah tidak
تَرَ
kamu perhatikan
كَيۡفَ
bagaimana
فَعَلَ
berbuat/bertindak
رَبُّكَ
Tuhanmu
بِأَصۡحَٰبِ
terhadap golongan (tentara)
ٱلۡفِيلِ
gajah
أَلَمۡ
apakah tidak
تَرَ
kamu perhatikan
كَيۡفَ
bagaimana
فَعَلَ
berbuat/bertindak
رَبُّكَ
Tuhanmu
بِأَصۡحَٰبِ
terhadap golongan (tentara)
ٱلۡفِيلِ
gajah
Terjemahan
Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?1
Catatan kaki
1 *925) Pasukan yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekkah, pasukan tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.
Tafsir
Al-Fiil (Gajah)
(Apakah kamu tidak memperhatikan) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna takjub; artinya sepatutnya kamu merasa takjub (bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergajah) orang yang mempunyai gajah itu bernama Mahmud yang disertai oleh teman-temannya, yaitu raja negeri Yaman yang bernama Abrahah berikut tentaranya. Dia telah membangun sebuah gereja di Shan'a dengan tujuan supaya orang-orang berpaling dari menziarahi Mekah dan tidak menziarahinya lagi. Pada suatu hari ada seseorang lelaki dari Kinanah telah membuat kejadian di gereja tersebut, ia melumuri bagian gereja yang dijadikan kiblat dengan kotoran unta dengan maksud menghinanya. Abrahah bersumpah untuk menghancurkan Kakbah. Lalu ia datang ke Mekah bersama tentaranya, beserta gajah-gajah milik Mahmud tadi. Ketika mereka mulai bergerak hendak menghancurkan Kakbah, Allah mengirimkan kepada mereka apa yang dikisahkan-Nya melalui firman selanjutnya yaitu:.
Tafsir Surat Al-Fil: 1-5
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). Ini mempakan nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum Quraisy, karena Allah telah menyelamatkan mereka dari serangan tentara bergajah, yang sejak semula telah bertekad akan merobohkan Ka'bah dan meratakannya dengan tanah hingga tiada bekas-bekasnya lagi.
Maka Allah memusnahkan mereka dan menjadikan mereka kalah serta usaha mereka menjadi sia-sia, begitu pula tiada hasilnya dari kerja mereka; Allah mengusir mereka dengan cara yang buruk dan akibat yang mengecewakan. Mereka adalah kaum Nasrani, dan agama mereka saat itu lebih mirip keadaannya dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy, yaitu menyembah berhala. Peristiwa ini terjadi sebagai irhas dan pendahuluan bagi akan diutus-Nya Rasulullah ﷺ Karena sesungguhnya di tahun itu Nabi Muhammad menurut pendapat yang terkenal dilahirkan.
Dan seakan-akan takdir Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan bahwa wahai golongan orang-orang Quraisy, Kami menolong kalian bukanlah karena kalian lebih baik daripada orang-orang Habsyah itu, tetapi karena memelihara Baitul 'Atiq yang akan Kami muliakan, Kami agungkan, dan Kami hormati dengan diutusnya seorang nabi yang ummi, yaitu Muhammad ﷺ penutup para nabi. Berikut ini adalah kisah tentara bergajah secara ringkas, padat, tetapi mendekati kebenaran. Dalam kisah orang-orang yang dimasukkan di dalam parit berapi telah disebutkan bahwa Zu Nuwas, raja terakhir orang-orang Himyar yang musyrik; dialah orang yang membunuh kaum Nasrani dengan memasukkan mereka ke dalam parit yang berapi, jumlah mereka yang dibunuh olehnya kurang lebih ada dua puluh ribu orang.
Tiada seorang pun dari mereka yang selamat kecuali Daus yang dijuluki dengan panggilan Zu Sa'labain. Daus melarikan diri dan meminta pertolongan kepada Kaisar raja di negeri Syam, yang juga seagama dengannya, yaitu pemeluk agama Nasrani. Maka Kaisar berkirim surat perintah kepada Raja Najasyi di negeri Habsyah, mengingat letak geografis Habsyah lebih dekat ke negeri Yaman.
Maka Raja Najasyi mengirimkan dua orang panglima perangnya yaitu Aryat dan Abrahah ibnus Sabah Abu Yaksum dengan membawa pasukan yang sangat banyak jumlahnya. Maka mereka memasuki negeri Yaman dan mereka merajalela di kota-kotanya, lalu merebut kerajaan negeri Yaman dari tangan orang-orang Himyar, sedangkan Zu Nuwas sendiri tewas karena tenggelam di laut. Dan Habsyah menjadikan negeri Yaman sebagai negeri yang berdiri sendiri di bawah pimpinan kedua panglima tersebut, yaitu Aryat dan Abrahah.
Lalu keduanya berselisih pendapat mengenai siapa di antara keduanya yang berhak menjadi raja di negeri Yaman; keduanya berupaya menjatuhkan yang lainnya. Pada akhirnya salah satu pihak berkata kepada pihak lawannya, "Kita tidak perlu mengorbankan prajurit yang tidak berdosa di antara kita, lebih baik kita perang tanding saja antara aku dan kamu. Maka barang siapa yang dapat mengalahkan lawannya dan berhasil membunuhnya, dialah yang berhak menjadi raja di negeri ini." Pihak lainnya menyetujui usul ini, akhirnya keduanya bertanding dalam suatu ajang perang yang di belakang masing-masing pihak ada parit.
Di suatu kesempatan Aryat berhasil menebaskan pedangnya dan mengenai hidung dan mulut Abrahah, dan hampir saja membelah wajahnya. Maka Atudah maula (bekas budak) Abrahah membela majikannya dan menyerang Aryat serta berhasil membunuhnya. Maka Abrahah diusung dari arena itu dalam keadaan terluka, lalu lukanya diobati hingga akhirnya ia sembuh; setelah itu ia sendirilah yang memimpin tentara Habsyah di negeri Yaman. Raja Najasyi (Negus) berkirim surat kepadanya, yang isinya mencela perbuatannya itu dan mengancamnya serta bersumpah bahwa dirinya benar-benar akan menginjak-injak negeri Yaman dan membelah ubun-ubunnya.
Maka Abrahah membalas suratnya dengan nada memohon belas kasihan dan berdiplomasi, seraya mengirimkan hadiah-hadiah, cindera mata, dan kantong yang berisikan tanah negeri Yaman serta potongan rambut ubun-ubunnya. Semuanya itu ia kirimkan bersama kurirnya untuk disampaikan kepada Raja Najasyi. Di dalam suratnya Abrahah mengatakan, "Hendaklah Anda (raja) menginjak-injak tanah ini untuk menunaikan sumpah Anda, dan inilah potongan rambut ubun-ubunku kuserahkan kepadamu." Ketika hal tersebut sampai di pangkuan Raja Najasyi, ternyata ia terpikat dengan cara yang dilakukan Abrahah, dan akhirnya ia puas dan mendukung apa yang dilakukan oleh Abrahah.
Dan dalam suratnya itu Abrahah menjanjikan kepada Najasyi bahwa dirinya akan membangun sebuah gereja di tanah Yaman atas nama Raja Najasyi, yang belum pernah ada suatu gereja pun dibangun sebesar itu. Maka Abrahah membangun sebuah gereja yang sangat besar di kota San'a, bangunannya tinggi sekali lagi dipenuhi dengan berbagai ukiran dan pahatan; orang-orang Arab menamainya Al-Qulais.
Disebut demikian karena bangunannya tinggi sekali, hingga membuat qalansuwah (peci) orang yang memandangnya hampir saja terjatuh dari kepalanya, mengingat puncaknya tinggi sekali. Kemudian Abrahah menginstruksikan kepada Asyram agar memalingkan para peziarah dari kalangan orang-orang Arab untuk mengunjunginya sebagaimana Ka'bah di Mekah dikunjungi mereka. Dan Abrahah memerintahkan kepada Asyram supaya menyerukan pengumuman ini di seluruh kerajaannya. Maka orang-orang Arab keturunan 'Adnan dan Qahtan tidak suka dengan hal tersebut, dan orang-orang Quraisy sangat marah karenanya, hingga sebagian dari mereka ada yang bertekad membuat kerusuhan di dalamnya.
Dia masuk dengan diam-diam ke dalamnya di malam hari, lalu menimbulkan peristiwa yang menggemparkan di dalamnya, setelah itu ia lari pulang ke Hijaz. Ketika para pelayan gereja melihat peristiwa tersebut, mereka melaporkan kepada rajanya (yaitu Abrahah) dan mengatakan kepadanya bahwa sesungguhnya yang melakukan peristiwa tersebut tiada lain adalah kaki tangan orang-orang Quraisy, karena mereka marah dan tidak suka dengan adanya gereja ini yang dianggap menyaingi kepunyaan mereka.
Maka Abrahah bersumpah bahwa dirinya benar-benar akan menuju ke Ka'bah di Mekah dan benar-benar akan menghancurkannya batu demi batu hingga rata dengan tanah. Muqatil ibnu Sulaiman menyebutkan bahwa ada seorang pemuda dari kalangan Quraisy memasuki gereja besar di Yaman itu, lalu ia membakarnya, sedangkan di hari itu cuaca sangat panas, maka dengan mudahnya gereja itu terbakar hingga ambruk.
Karena peristiwa itulah Abrahah bersiap-siap menghimpun bala tentaranya dalam jumlah yang sangat besar. Lalu ia berangkat dengan pasukannya itu dengan maksud agar tiada seorang pun yang dapat menghalang-halangi niatnya. Selain dari itu ia membawa seekor gajah yang besarnya tak terperikan, diberi nama Mahmud; gajah tersebut sengaja dikirim oleh Raja Najasyi kepadanya untuk tujuan tersebut. Bahkan menurut pendapat lain, selain gajah Mahmud itu ada delapan gajah lainnya; dan menurut pendapat yang lainnya lagi dua belas ekor gajah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Gajah tersebut akan dijadikan sebagai sarana untuk merobohkan Ka'bah, misalnya mengikat semua sisi Ka'bah dengan rantai, lalu mengikatkannya pada leher gajah, maka gajah akan menariknya dan tembok Ka'bah akan runtuh sekaligus dalam waktu yang singkat. Ketika orang-orang Arab mendengar keberangkatan Abrahah dengan pasukannya yang bergajah itu, maka mereka merasakan adanya bahaya yang amat besar akan menimpa diri mereka.
Dan mereka merasakan bahwa sudah merupakan keharusan bagi mereka membela Bait mereka dan mengusir orang-orang yang bermaksud jahat terhadapnya. Maka bangkitlah seorang lelaki dari kalangan penduduk Yaman yang terhormat dan terbilang sebagai pemimpin mereka untuk mengadakan perlawanan terhadap Abrahah. Orang tersebut bernama Zu Nafar, maka ia menyerukan kepada kaumnya dan orang-orang Arab lainnya untuk memerangi Abrahah dan berjihad melawannya demi membela Baitullah, karena Abrahah bermaksud akan merobohkannya dan meratakannya dengan tanah.
Seruannya itu mendapat sambutan yang hangat dari mereka, lalu mereka berperang melawan Abrahah dipimpin oleh Zu Nafar, tetapi pada akhirnya Zu Nafar kalah. Ini tiada lain karena kehendak Allah subhanahu wa ta’ala yang bertujuan akan memuliakan Baitullah dan mengagungkannya. Zu Nafar ditawan, tetapi Abrahah memaafkannya dan membawanya pergi bersama ke Mekah. Dan ketika perjalanan Abrahah sampai di tanah orang-orang Khas'am, ia dihalangi oleh Nufail ibnu Habib Al-Khas'ami bersama kaumnya, yang memeranginya selama dua bulan.
Tetapi pada akhirnya Abrahah berhasil mengalahkan mereka dan menawan Nufail ibnu Habib; pada mulanya Abrahah bermaksud membunuhnya, kemudian ia memaafkannya dan membawanya serta ke Mekah sebagai penunjuk jalannya di negeri Hijaz. Ketika perjalanan Abrahah sampai di dekat Taif, maka para penduduk Taif datang menyambutnya dan bersikap diplomatis dengannya karena takut dengan rumah peribadatan mereka yang mereka beri nama Al-Lata, karenanya Abrahah menghormati mereka.
Dan mereka mengirimkan Abu Rigal untuk pergi bersamanya sebagai penunjuk jalan. Ketika perjalanan Abrahah sampai di Al-Magmas yaitu di suatu tempat yang terletak tidak jauh dari Mekkah ia turun beristirahat, sedangkan bala tentaranya merampas semua ternak penduduk Mekah dan sekitarnya atas perintah Abrahah sendiri. Dan di antara ternak unta yang dirampas terdapat dua ratus ekor unta milik Abdul Muttalib.
Dan tersebutlah orang yang diserahi oleh Abrahah untuk memimpin perampasan ternak itu adalah komandan pasukan terdepannya yang dikenal dengan nama Al-Aswad ibnu Maqsud, lalu ia dikecam oleh sebagian bangsa Arab melalui bait-bait syairnya, menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Abrahah mengirimkan Hannatah Al-Himyari ke Mekah dan memerintahkan kepadanya supaya kembali membawa orang Quraisy yang paling terhormat.
Dan Abrahah menyampaikan kepadanya bahwa dia datang bukan untuk memerangi kamu, terkecuali jika kamu menghalang-halanginya dari Baitullah. Maka datanglah Hannatah ke Mekah, lalu ditunjukkan kepadanya rumah Abdul Muttalib ibnu Hasyim, lalu ia menyampaikan kepadanya apa yang dikatakan oleh Abrahah. Maka Abdul Muttalib mengatakan kepadanya, "Demi Allah, kami tidak berniat untuk memeranginya, juga kami tidak mempunyai kekuatan untuk itu.
Ini adalah Baitullah yang disucikan dan merupakan bait (rumah) kekasih-Nya, yaitu Ibrahim. Maka jika Dia mempertahankannya, sudah wajar karena ia adalah rumah-Nya yang disucikan. Dan jika Dia membiarkan antara bait-Nya. dan Abrahah, maka tiada kemampuan bagi kami untuk mempertahankannya." Hannatah berkata kepada Abdul Muttalib, "Kalau begitu, marilah engkau pergi bersamaku untuk menemuinya." Maka Abdul Muttalib berangkat bersama Hannatah. Dan ketika Abrahah melihat Abdul Muttalib, ia terkejut melihat penampilan Abdul Muttalib yang tinggi lagi berwibawa dan tampan.
Maka ia menghormatinya, dan ia turun dari singgasananya, lalu duduk bersama Abdul Muttalib di hamparan permadani. Abrahah berkata kepada juru terjemahnya untuk mengatakan kepada Abdul Muttalib mengenai keperluannya hingga datang menghadap kepadanya. Abdul Muttalib berkata kepada juru terjemah Abrahah, "Sesungguhnya aku datang untuk keperluanku sendiri, yaitu sudilah kiranya sang raja (Abrahah) menyerahkan kepadanya dua ratus ekor unta miliknya yang telah dirampasnya." Abrahah terkejut dan mengatakan kepada juru terjemahnya bahwa katakanlah kepadanya, "Sesungguhnya pada mulanya ketika aku melihatmu, aku merasa kagum dengan penampilan dan wibawamu.
Tetapi setelah engkau berbicara kepadaku, kesanku menjadi sebaliknya; apakah engkau berbicara kepadaku hanya mengenai dua ratus ekor unta yang telah kurampas darimu? Sedangkan engkau meninggalkan bait-mu yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk merobohkannya, lalu mengapa engkau tidak berbicara kepadaku mengenainya?" Abdul Muttalib menjawab, "Sesungguhnya aku adalah pemilik unta itu dan sesungguhnya bait itu mempunyai Pemiliknya sendiri yang akan membelanya." Abrahah berkata, "Dia tidak akan dapat mencegahku dari merobohkannya." Abdul Muttalib berkata, "'Kalau begitu, terserah Anda." Menurut suatu pendapat, sesungguhnya bersama Abdul Muttalib terdapat segolongan orang-orang terhormat dari kalangan orang-orang Arab.
Mereka menawarkan kepada Abrahah sepertiga dari harta Tihamah dengan syarat Abrahah mengurungkan niatnya dari menghancurkan Ka'bah. Tetapi Abrahah menolak tawaran mereka dan mengembalikan kepada Abdul Muttalib dua ratus ekor untanya. Abdul Muttalib kembali ke Mekah dan menemui orang-orang Quraisy, lalu memerintahkan kepada mereka agar keluar dari Mekah dan berlindung di atas puncak-puncak bukitnya karena takut akan serangan bala tentara Abrahah.
Setelah itu Abdul Muttalib pergi ke Ka'bah dan memegang pegangan pintu Ka'bah, sedangkan di belakangnya ikut beberapa orang dari kaum Quraisy. Mereka semuanya berdoa kepada Allah dan memohoh pertolongan kepada-Nya dari serangan Abrahah dan bala tentaranya. Abdul Muttalib dalam doanya itu mengatakan seraya memegang pegangan pintu Ka'bah: ......... Ya Allah, sesungguhnya seseorang itu diharuskan membela ternak unta miliknya, maka belalah kepemilikan-Mu.
Janganlah sekali-kali Engkau biarkan salib dan kekuasaan mereka selamanya menang atas tempat-Mu ini. Setelah itu Abdul Muttalib melepaskan pegangan pintu Ka'bah, lalu ia bersama orang-orang Quraisy lainnya keluar menuju ke daerah perbukitan, berlindungdi puncak-puncaknya. Demikianlah menurut Ibnu Ishaq. Muqatil ibnu Sulaiman menyebutkan bahwa mereka meninggalkan di dekat Baitullah seratus ekor unta budnah yang telah dikalungi (untuk dikurbankan), dengan tujuan mudah-mudahan sebagian tentara Abrahah ada yang berani mengganggunya dan menyembelih sebagiannya tanpa hak, maka akibatnya Allah akan menghukum mereka.
Dan pada pagi harinya Abrahah bersiap-siap untuk memasuki kota Mekah, lalu menyiapkan gajahnya yang diberi nama Mahmud dan ia menyiapkan pula bala tentaranya. Setelah semuanya siap, maka mereka mengarahkan gajahnya menuju ke arah Mekah, tetapi sebelum itu Nufail ibnu Habib datang dan berdiri di dekat gajah, lalu berkata, "Wahai Mahmud, duduklah kamu dan kembalilah dengan penuh kesadaran menuju ke tempat asal kedatanganmu, karena sesungguhnya engkau berada di negeri Allah yang disucikan," setelah itu melepaskan telinga gajah Mahmud, yang dipeganginya saat ia membisikinya.
Maka gajah itu duduk, dan Nufail lari dengan kencangnya menuju ke daerah perbukitan dan berlindung di puncaknya. Mereka memukuli gajah itu supaya berdiri, akan tetapi gajah itu membangkang dan tidak mau berdiri. Lalu mereka memukul kepalanya dengan palu agar bangkit, dan mereka masukkan tongkat mereka ke bagian lubang telinganya, menariknya dengan tujuan agar mau berdiri, tetapi gajah itu tetap menolak.
Kemudian mereka mengarahkannya ke negeri Yaman, dan ternyata tanpa sulit gajah itu bangkit dengan sendirinya, lalu berlari kecil menuju ke arah itu. Kemudian mereka mencoba untuk mengarahkannya ke negeri Syam, dan gajah itu menuruti perintahnya; mereka coba mengarahkannya ke timur, maka gajah itu mengikuti perintah. Tetapi bila diarahkan ke Mekah, gajah itu diam dan duduk.
Dan Allah mengirimkan kepada mereka sejumlah besar burung dari arah laut yang bentuknya seperti burung walet dan burung balsan; tiap-tiap ekor membawa tiga buah batu. Satu diparuhnya dan yang dua dipegang oleh masing-masing dari kedua kakinya; batu itu sebesar kacang humsh dan kacang 'adas. Tiada seorang pun dari mereka yang terkena batu itu melainkan pasti binasa, tetapi tidak seluruhnya terkena batu itu.
Akhirnya mereka melarikan diri dan lari tunggang langgang ke arah semula mereka datang seraya mencari Nufail ibnu Habib untuk menunjukkan kepada mereka jalan pulangnya. Sedangkan Nufail berada di atas bukit bersama orang-orang Quraisy dan orang-orang Arab Hijaz lainnya, menyaksikan apa yang ditimpakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada tentara bergajah itu sebagai azab dari-Nya. Dan ketika menyaksikan pemandangan itu Nufail berkata: Ke manakah tempat untuk berlari dari kejaran Tuhan yang mengejar; Asyram kalah dan tidak menang.
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nufail ibnu Habib dalam kesempatan itu mengumandangkan bait-bait syair yang berbunyi, ..................... "Mengapa engkau tidak menghormati kami dan agama kami, maka kami akan menghormati kedatanganmu dengan penghormatan yang luar biasa. Demi suatu agama yang seandainya engkau melihat sebagaimana yang kami lihat di dekat Al-Muhassib, tetapi ternyata engkau tidak melihatnya.
Jika engkau melihatnya, tentulah engkau memaafkanku dan memuji tindakanku, dan engkau tidak akan mengalami kekecewaan dari apa yang telah terlewatkan di antara kita. Aku memuji kepada Allah ketika melihat kedatangan burung-burung, dan aku menjadi takut akan tertimpa oleh batu-batu yang dijatuhkannya. Maka semua kaum (tentara Habsyah) mencari-cari Nufail, seakan-akan aku mempunyai utang kepada tentara Habsyah itu." Al-Waqidi meriwayatkan berikut sanadnya, bahwa mereka bersiap-siap untuk memasuki Mekah dan gajahnya telah mereka persiapkan pula, tetapi manakala mereka mengarahkannya ke salah satu tujuan dari tujuan yang lain, maka gajah itu mau bergerak.
Dan jika mereka arahkan gajahnya menuju ke kota suci Mekah, tiba-tiba ia duduk dan mengeluarkan suaranya (menolak). Lalu Abrahah memaksa pawang gajah dan membentaknya, bahkan memukulinya supaya ia memaksa gajah agar mau masuk ke kota Mekah; mereka memakan waktu yang cukup lama untuk itu. Sedangkan Abdul Muttalib dan segolongan orang dari para pemuka penduduk Mekah antara lain Mut'im ibnu Adiy, Amr ibnu Aid ibnu Imran ibnu Makhzum, dan Mas'ud ibnu Amr As-Saqafi berada di Gua Hira menyaksikan apa yang dilakukan oleh tentara Habsyah itu, dan apa yang dialami mereka dengan gajahnya yang membangkang itu; kisahnya sangat ajaib dan aneh.
Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengirimkan kepada tentara habsyah yang bergajah itu burung Ababil, gelombang demi gelombang yang warna bulunya kuning, lebih kecil daripada merpati, sedangkan kakinya berwarna merah; tiap-tiap burung membawa tiga buah batu kerikil. Lalu iringan burung-burung itu tiba dan berputar di atas mereka, kemudian menimpakan batu-batu itu kepada mereka hingga mereka binasa.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa tentara Habsyah datang dengan membawa dua ekor gajah; adapun gajah Mahmud hanya mendekam dan tidak mau bangkit, sedangkan gajah lainnya memberanikan dirinya dan akhirnya ia terkena batu itu. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa mereka membawa banyak gajah, sedangkan gajah Mahmud adalah kendaraan raja mereka, Mahmud mendekam dengan tujuan agar gajah lainnya mengikuti jejaknya.
Dan ternyata di antara kumpulan gajah yang mereka bawa ada seekor gajah yang memberanikan dirinya melangkah, maka ia tertimpa batu dan binasa hingga gajah lainnya kabur melarikan diri. ‘Atha’ ibnu Yasar dan lain-lainnya mengatakan bahwa tentara bergajah itu tidak semuanya binasa oleh azab seketika itu juga, bahkan di antara mereka ada yang segera mati, dan di antaranya ada yang tubuhnya rontok anggota demi anggota dalam pelariannya, yang pada akhirnya binasa juga.
Sedangkan Abrahah termasuk dari mereka yang tubuhnya rontok anggota demi anggota, hingga akhirnya mati di tanah orang-orang Khas'am. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa lalu mereka melarikan diri, sedangkan anggota tubuh mereka rontok satu demi satu, dan di setiap jalan mereka mati bergelimpangan. Sedangkan Abrahah, tubuhnya terkena oleh batu itu, lalu mereka membawanya lari bersama mereka, dan tubuhnya rontok sedikit demi sedikit, hingga sampailah mereka bersamanya di San'a, sedangkan keadaan Abrahah seperti anak burung yang baru menetas.
Dan Abrahah masih belum mati kecuali setelah dadanya terbelah dan jantungnya keluar; demikianlah menurut sahibul hikayat. Muqatil ibnu Sulaiman menceritakan bahwa orang-orang Quraisy memperoleh harta yang banyak dari jarahan harta benda pasukan Abrahah itu, sehingga disebutkan bahwa pada hari itu Abdul Muttalib mendapat emas yang jumlahnya dapat memenuhi suatu galian sumur. Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'kub ibnu Utbah yang menceritakan kepadanya bahwa penyakit cacar dan lepra di tanah Arab mula-mula terjadi pada tahun itu.
Dan bahwa pahitnya buah harmal, hanzal, dan 'usr dirasakan sejak tahun itu. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ikrimah melalui jalur yang jayyid. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak mengutus Nabi Muhammad ﷺ, maka termasuk di antara karunia dan nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kaum Quraisy ialah terusirnya tentara Habsyah dari mereka, demi menjaga tetapnya kekuasaan dan masa keemasan mereka (Quraisy). Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daunyang dimakan ulat. (Al-Fil: 1-5) Dan juga firman-Nya: Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Quraisy: 1-4) Yakni agar tiada sesuatu pun yang mengubah keadaan mereka dari kebiasaannya, yang hal tersebut tiada lain karena Allah berkehendak baik terhadap mereka, sekiranya mereka mensyukurinya. Ibnu Hisyam mengatakan bahwa ababil artinya berbondong-bondong, dalam bahasa Arab kata ini tidak ada bentuk tunggalnya.
Ibnu Hisyam mengatakan pula bahwa adapun makna sijjil, menurut apa yang telah dikatakan oleh Yunus An-Nahwi dan Abu Ubaidah, makna yang dimaksud menurut orang Arab ialah yang sangat keras. Ibnu Hisyam mengatakan bahwa sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa keduanya merupakan kata yang berasal dari bahasa Persia, lalu oleh orang Arab dijadikan menjadi satu. Sesungguhnya yang dimaksud tiada lain sama dengan batu dan tanah liat.
Ulama tafsir itu mengatakan bahwa batu-batu tersebut berasal dari kedua jenis itu, yakni batu dan tanah Hat. Ibnu Hasyim mengatakah bahwa al-'asfu artinya daun tanaman yang belum diketam, bentuk tunggalnya adalah 'asfah; demikianlah menurut apa yang dikemukakan oleh Ibnu Hasyim. Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Amir, dari Zurr, dari Abdullah dan Abu Salamah ibnu Abdur Rahman sehubungan dengan makna firman-Nya: burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Maksudnya, yang bergelombang-gelombang.
Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebagian darinya mengiringi sebagian yang lainnya. Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ababil ialah yang banyak jumlahnya. Mujahid mengatakan bahwa ababil artinya yang berpencar, berturut-turut, lagi berbondong-bondong. Ibnu Zaid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ababil ialah berpencar-pencar, ada yang datang dari arah ini dan arah itu, yakni mendatangi mereka dari segala penjuru.
Al-Kisa-i mengatakan bahwa ia pernah mendengar sebagian ulama Nahwu mengatakan bahwa bentuk tunggal ababil ialah ibil. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdul A'la, telah menceritakan kepadaku Daud, dari Ishaq ibnu Abdullah ibnul Haris ibnu Naufal yang mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Yaitu berkelompok-kelompok seperti ternak unta yang dilepas bebas.
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Ibnu Aun, dari Ibnu Sirin, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Maksudnya, burung-burung yang mempunyai belalai seperti gajah dan cakar-cakar yang seperti kaki anjing. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman-Nya: burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Burung-burung itu berwarna hijau keluar dari laut, kepalanya seperti kepala serigala.
Telah menceritakan pula kepada kami ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Ubaid ibnu Umair sehubungan dengan makna firman-Nya: burung yang berbondong-bondong. (Al-Fil: 3) Yakni burung yang muncul dari laut yang paruh dan kedua cakarnya semuanya berwarna hitam; semua sanad riwayat di atas berpredikat shahih. Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa burung itu berwarna hijau, sedangkan paruhnya berwarna kuning.
Burung-burung itu silih berganti menyerang mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan ‘Atha’, bahwa burung ababil itu bentuknya serupa dengan burung garuda yang dikenal di daerah Magrib. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari mereka. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Dzar'ah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Muhammad ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Ubaid ibnu Umair yang mengatakan bahwa ketika Allah berkehendak akan membinasakan tentara bergajah, maka Dia mengirimkan kepada mereka pasukan burung yang dikeluarkan dari laut yang gesitnya sama dengan burung walet.
Tiap ekor burung membawa tiga buah batu yang terbagi pada paruhnya satu buah dan pada masing-masing kedua kakinya satu buah. Burung-burung itu datang berbaris bersaf-saf di atas mereka, lalu mengeluarkan suaranya dan menjatuhkan batu-batu yang ada pada paruh dan kedua kakinya. Maka tiada sebuah batu pun yang menimpa kepala seseorang dari mereka melainkan tembus sampai ke duburnya, dan tidak sekali-kali batu itu mengenai sesuatu dari tubuh seseorang dari mereka melainkan tembus ke bagian lainnya.
Allah mengirimkan pula angin yang kencang sehingga menambah kencang jatuhnya batu-batuan itu hingga semuanya binasa. As-Suddi telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa batu-batuan dari sijjil, makna yang dimaksud ialah tanah liat yang telah berubah menjadi batu. Hal ini disebutkan keterangannya di atas dan tidak perlu diulangi lagi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Al-Fil: 5) Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pakan hewan ternak yang dikenal oleh bahasa pasaran dengan istilah habur.
Menurut riwayat lain dari'Sa'id, disebutkan daun tanaman gandum. Diriwayatkan pula darinya al-asfu artinya pakan ternak yang telah digerogoti oleh ulat dedaunannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-asfu artinya kulit ari biji gandum. Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-asfu artinya daun tanaman dan daun sayuran bilamana telah dimakan oleh ternak, maka kelihatan hanya tangkainya saja.
Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membinasakan mereka dan menghancurkan mereka serta menjadikan mereka 'senjata makan tuan' dengan penuh kedongkolan. Tiada suatu kebaikan pun yang mereka peroleh, dan sebagian besar dari mereka binasa, serta tiada yang pulang melainkan dalam keadaan terluka parah, sebagaimanayang dialami oleh raja mereka (yaitu Abrahah). Sesungguhnya dadanya terbelah dan jantungnya kelihatan ketika ia sampai di san'a, lalu ia sempat menceritakan kepada penduduk San'a apa yang telah menimpa diri mereka, setelah itu ia mati.
Kemudian tampuk pemerintahan negeri Yaman dipegang oleh anak Abrahah yang bernama Yaksum, setelah itu saudaranya yang bernama Masruq ibnu Abrahah. Kemudian Saif ibnu Zi Yazin Al-Himyari berangkat menemui Kisra (Raja Persia) dan meminta bantuan kepadanya untuk menghadapi tentara Habsyah. Maka Kisra mengabulkan permintaannya dan menyerahkan kepadanya sebagian dari tentaranya yang berperang bersama Saif ibnu Zi Yazin. Maka Allah mengembalikan kepada mereka kerajaan yang dahulu dimiliki oleh nenek moyang mereka berikut semua kekuasaannya.
Kemudian berdatanganlah kepadanya delegasi-delegasi dari orang-orang Arab, mengucapkan selamat atas kemenangannya. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Bukair, dari Amrah binti Abdur Rahman ibnu As'ad ibnu Zurarah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia sempat melihat bekas pawang gajah dan pemegang kendalinya di Mekah dalam keadaan telah tuna netra lagi cacat, tak dapat berjalan, dan meminta-minta (menjadi pengemis).
Al-Waqidi telah meriwayatkan hal yang semisal dari Aisyah. Dan Al-Waqidi telah meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar yang telah mengatakan bahwa kedua bekas pawang gajah itu dalam keadaan cacat parah, meminta-minta kepada orang di Asaf dan Na'ilah, tempat orang-orang musyrik menyembelih sembelihan mereka. Menurut hemat saya, nama pemegang kendali gajah Abrahah bernama Anis. Al-Hafidzh Abu Na'im di dalam kitabnya yang berjudul Dala'ilun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Ibnu Wahb, dari Ibnu Lahi'ah, dari Aqil ibnu Khalid, dari Usman ibnul Mugirah, kisah tentang tentara bergajah ini; tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah datang dari Yaman, melainkan dia hanya mengutus pasukannya yang dipimpin oleh seorang lelaki bernama Syamir ibnu Maqshud, jumlah pasukannya kurang lebih dua puluh ribu orang personil.
Disebutkan pula bahwa burung ababil datang menyerang mereka di malam hari, dan pada pagi harinya mereka semuanya tewas. Konteks kisah ini aneh sekali, sekalipun Abu Na'im telah menguatkannya di atas riwayat yang lain. Menurut riwayat yang benar, Abrahah Al-Asyram Al-Habsyi datang ke Mekah sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks riwayat yang lainnya dan juga yang disebutkan dalam syair orang-orang dahulu.
Hal yang sama telah disebutkan dalam riwayat yang bersumberkan dari Ibnu Lahi'ah, dari Al-Aswad, dari Urwah, bahwa Abrahah mengirimkan Al-Aswad ibnu Maqsud bersama sejumlah besar pasukannya di sertai dengan gajah, tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah sendiri ikut dalam misi tersebut. Menurut pendapat yang benar, Abrahah pun memang ikut datang dalam misi itu, barangkali Ibnu Maqsud berada di barisan pasukan yang terdepan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenarannya.
Ibnu Ishaq meriwayatkan sebagian dari syair-syair yang dikatakan oleh orang-orang Arab berkenaan dengan kisah tentara bergajah ini; di antara lain ia mengutip syair Abdullah ibnuz Zaba'ri yang menyebutkan,
"Mereka takut terhadap lembah Mekah, karena sejak masa dahulu tiada yang berani melanggar kesuciannya, bintang syi'ra masih belum diciptakan di malam-malam ia disucikan.
Karena tiada seorang pun yang mengaku dirinya perkasa, berani mengotori kesuciannya. Bila ada orang yang bertanya tentang kisah panglima pasukan apa yang telah dialaminya dari tanah suci itu, maka akan diceritakan kepadanya oleh orang yang mengetahuinya. Enam puluh ribu pasukan tidak pernah kembali ke tempat tinggal mereka, bahkan tidak dapat hidup lama orang yang sakit dari mereka sesudah kepulangannya.
Sebelum mereka terdapat kaum 'Ad dan Jurhum di dekatnya dan kekuasaan Allah berada di atas hamba-hamba-Nya, Dialah yang menjaga kesuciannya." Abu Qais ibnu Aslat Al-Ansari Al-Madani mengatakan dalam bait-bait syairnya yaitu:
Dan di antara apa yang diperbuat oleh-Nya di hari tentara bergajah Habsyah telah terbuktikan, karena setiap orang yang dikirimkan oleh mereka dikalahkan.
Tameng-tameng mereka berada di bawah qirbah wadah minum mereka, sedangkan mereka dalam keadaan terhina lagi terluka. Pada mulanya kekuatan mereka menakutkan, di saat mereka menuju kepadanya dengan penuh keangkuhan. Tetapi pada akhirnya pemimpin mereka lari tunggang langgang kembali ke tempat asal datangnya, semua orang yang ikut dengannya di tempat itu adalah orang yang aniaya. Maka dikirimkanlah kepada mereka dari atas mereka hujan batu kerikil, yang menghancurleburkan mereka.
Meskipun para pendeta mereka memerintahkan kepada pasukannya untuk bersabar, tetapi mereka menjerit-jerit bagaikan embikan kambing yang terancam bahaya." Abus-Shalt ibnu Rabi'ah As-Saqafi mengatakan bahwa telah dinukil dari Umayah ibnu Abus-Shalt ibnu Rabi'ah bait-bait syair yang berbunyi,
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda kekuasaan Tuhan kami yang masih tetap ada dan tiada yang mengingkarinya selain hanya orang yang benar-benar pengingkar kebenaran, (yaitu) adanya malam dan siang hari, semua orang memahami perhitungannya yang telah ditetapkan dengan jelas.
Kemudian Tuhan Yang Maha Penyayang menjadikan siang hari terang benderang dengan sinar mentarinya yang menyeluruh. Dialah Yang telah menahan pasukan bergajah di Magmas, hingga gajah itu merangkak seakan-akan seperti tak berdaya, ia hanya diam mendekam sekalipun punggungnya dipukuli bertubi-tubi dengan kerasnya. Di sekitarnya terdapat raja-raja Kindah yang disegani dan menjadi para pendekar dalam medan perang, semuanya menentang niatnya.
Kemudian mereka semuanya terkejut karena semua pasukan bergajah itu patah dan binasa. Setiap agama kelak di hari kiamat di hadapan Allah akan ditolak dan sia-sia kecuali agama yang hanif (Islam)." Dalam pembahasan yang lalu pada tafsir surat Al-Fath telah disebutkan bahwa di hari perjanjian Hudaibiyah ketika Rasulullah ﷺ berada di atas lereng yang darinya dapat ditempuh jalan menuju ke tempat orang-orang Quraisy, unta beliau mendekam, lalu mereka menghardiknya, tetapi unta kendaraan beliau ﷺ tetap menolak. Maka mereka mengatakan bahwa Qaswa (nama unta milik Nabi ﷺ) mogok. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Qaswa tidak mogok, karena mogok bukan merupakan pembawaannya, tetapi ia ditahan oleh Tuhan Yang telah menahan pasukan bergajah. Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah mereka meminta kepadaku hari ini suatu rencana yang di dalamnya terkandung penghormatan kepada hal-hal yang disucikan oleh Allah melainkan aku akan menyetujuinya.
Setelah itu beliau ﷺ menghardik untanya, maka untanya bangkit dan meneruskan perjalannya. Hadits ini termasuk hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid (tunggal). Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda di hari jatuhnya kota Mekah: Sesungguhnya Allah telah menahan pasukan bergajah dari Mekah, dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan sesungguhnya kini telah kembali kesuciannya pada hari ini juga, sebagaimana kesuciannya di waktu sebelumnya. Ingatlah, hendaklah orang yang hadir menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir.".
Wahai Nabi Muhammad atau siapa saja, tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah dengan menghancurkan mereka, yaitu tentara Abrahah dari Ethiopia yang hendak menghancurkan Kakbah'2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya dan usaha mereka menghancurkan Kakbah itu sia-sia, meski mereka datang dengan pasukan yang kuat dan persenjataan yang lengkap'.
Dalam surah ini, Allah mengingatkan Nabi Muhammad dan pengikutnya dengan suatu peristiwa yang menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah. Peristiwa itu adalah penyerbuan tentara gajah yang dipimpin oleh panglima Abrahah dari Yaman untuk menundukkan penduduk Mekah dan meruntuhkan Ka'bah. Akan tetapi, Allah membinasakan mereka sebelum maksud yang jahat itu tercapai. Peristiwa Gajah adalah suatu peristiwa yang paling terkenal di kalangan bangsa Arab, sehingga peristiwa ini mereka jadikan patokan tanggal bagi peristiwa-peristiwa lainnya.
Kesimpulan riwayatnya adalah bahwa seorang panglima perang yang berkuasa di Yaman ingin menguasai Ka'bah dan menghancurkannya, dengan maksud melarang orang-orang Arab mengerjakan haji ke Ka'bah. Lalu bala tentaranya bergerak menuju Ka'bah disertai beberapa ekor gajah untuk menakut-nakuti. Ketika iring-iringan angkatan perang tersebut tiba di suatu tempat bernama Muqammas (suatu tempat yang berdekatan dengan Mekah), mereka beristirahat di sana. Panglima perang mengirim utusannya kepada penduduk Mekah untuk menyampaikan maksudnya, yaitu bukan untuk memerangi penduduk tetapi untuk menghancurkan Ka'bah. Penduduk Mekah menjadi ketakutan dan lari ke gunung-gunung di sekeliling Ka'bah untuk melihat dari jauh apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan oleh panglima perang tersebut.
Dalam surah ini pula Allah menjelaskan apa yang terjadi terhadap pasukan bergajah dalam bentuk pertanyaan bahwa Muhammad tidak mengetahui keadaan yang sangat aneh dan peristiwa yang sangat dahsyat yang membuktikan kekuasaan Allah, ilmu dan hikmah-Nya yang tinggi terhadap tentara gajah yang ingin menghancurkan Ka'bah. Kejadian itu berbeda dengan kejadian lainnya yang mempunyai sebab dan akibat.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH AL-FIIL
(GAJAH)
SURAH KE-105, 5 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
Ayat 1
“Tidakkah engkau perhatikan?"
Atau tidakkah engkau mendengar berita “Bagaimana Tuhan engkau berbuat terhadap orang-orang yang mempunyai gajah?" (ujung ayat 1)
Pertanyaan Allah seperti ini adalah untuk memperkuat berita penting itu, yang mulanya ditujukan kepada Nabi ﷺ namun maksudnya ditujukan untuk umat secara umum.
Kisah orang-orang yang mempunyai gajah ini tersebut dengan selengkapnya di kitab Sirah lbnu Hisham, pencatat riwayat hidup Nabi Muhammad ﷺ yang terkenal.
Ketika itu Tanah Arab bagian selatan ada di bawah kekuasaan Kerajaan Habsyi. Najasyi (Negus) menanam wakilnya di Arabia Selatan itu bernama Abrahah. Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Habsyi adalah pemeluk agama Kristen. Untuk menunjukkan jasanya kepada raja, Abrahah sebagai wakil raja atau gubernur telah mendirikan sebuah gereja di Shan'aa diberinya nama Qullais. Dibuatnya gereja itu sangat indahnya sehingga tidak akan ada tandingnya di dunia di masa itu. Setelah selesai dikirimnyalah berita kepada Najasyi: “Telah aku dirikan sebuah gereja, ya Tuanku! Dan aku percaya belumlah ada raja-raja sebelum Tuanku mendirikan gereja semegah ini. Namun hatiku belumlah puas kalau orang Arab yang selama ini berhaji ke Mekah, tidak aku palingkan hajinya ke gereja Tuanku itu."
Berita isi surat yang pongah ini sampai ke telinga bangsa Arab, sehingga mereka gelisah. Maka bangkitlah marah seorang pemuka Arab karena tempat mereka berhaji akan dialihkan dengan kekerasan. Menurut Ibnu Hisyam orang itu ialah dari kabilah Bani Faqim bin Adiy. Maka pergilah dia sembunyi-sembunyi ke gereja itu, dia masuk ke dalam, dan di tengah-tengah gereja megah itu diberakinya. Setelah itu dia pun segera pulang ke negerinya.
Berita ini disampaikan orang kepada Abrahah. Lalu dia bertanya, “Siapakah yang membuat pekerjaan kotor ini?" Ada orang menjawab, “Yang berbuat kotor ini adalah orang yang membela rumah yang mereka hormati itu, tempat mereka tiap tahun naik haji, di Mekah. Setelah dia mendengar maksud Paduka Tuan hendak memalingkan haji orang Arab dari rumah yang mereka sucikan kepada gereja ini, orang itu marah lalu dia masuk ke dalam gereja ini dan diberakinya, untuk membuktikan bahwa gereja ini tidaklah layak buat pengganti rumah mereka yang di Mekah itu."
Sangatlah murka Abrahah melihat perbuatan itu, dan bersumpahlah dia, akan segera berangkat ke Mekah, untuk meruntuhkan rumah itu!
Dikirimnya seorang utusan kepada Bani Kinanah, mengajak mereka mempelopori naik haji ke gereja yang didirikannya itu. Tetapi sesampai utusan itu ke negeri Bani Kinanah, dia pun mati dibunuh orang.
Itu pun menambah murka dan sakit hati Abrahah.
Maka disuruhyalah tentara Habsyi bersiap. Setelah siap mereka pun berangkat menuju Mekah. Dia sendiri mengendarai seekor gajah, diberinya nama Mahmud.
Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka'bah, sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka'bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia, “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi Tuan membiarkan saya tinggal hidup." Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar di belenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.
Abrahah pun meneruskan perjalanannya. Sesampai di negeri orang Khats'am tampil pula pemimpin Arab bernama Nufail bin Habib Al-Khats'ami, memimpin dua kabilah Khats'am, yaitu Syahran, Nahis, dan beberapa kabilah lain yang mengikutinya. Mereka pun berperang pula melawan Abrahah, tetapi Nufail pun kalah dan tertawan pula. Ketika dia akan dibunuh dia pun berdatang sembah, “Tak usah saya Tuan bunuh, bebaskanlah saya supaya saya menjadi penunjuk jalan Tuan di negeri-negeri Arab ini. Dua kabilah ini, Syahran dan Nahis, adalah turut perintah Tuan." Permintaannya itu pun dikabulkan oleh Abrahah dan tetaplah dia berjalan di samping Abrahah menjadi penunjuk jalan, sehingga sampailah tentara itu di Thaif.
Sampai di Thaif pemuka Tsaqif yang bernama Mas'ud bin Mu'attib bersama beberapa orang pemuka lain datang menyongsong kedatangan Abrahah, lalu mereka menyatakan ketundukan. Dia berkata, “Wahai Raja! Kami ini adalah hamba sahaya Tuan, kami tunduk takluk ikut perintah, tidak ada kami yang bermaksud melawan Tuan. Di negeri ini memangada pula sebuah rumah yang kami puja dan muliakan (maksudnya, berhala bernama Laatta). Namun kami percaya bukanlah berhala kami ini yang Tuan maksud akan diruntuhkan. Yang Tuan maksud tentulah Ka'bah yang di Mekah. Kami bersedia memberikan penunjuk jalan buat Tuan akan menuju negeri Mekah itu." Lalu mereka berikan seorang penunjuk jalan bernama Abu Raghaal! Lantaran itu Abrahah pun melanjutkan perjalanan dengan Abu Raghaal sebagai penunjuk jalan, sampai mereka dapat berhenti istirahat di satu tempat bernama Mughammis; suatu tempat dekat ke Mekah dari jalur perjalanan dari Thaif.
Sesampai mereka berhenti di Mughammis itu tiba-tiba matilah Abu Raghaal, si penunjuk jalan itu. Kubur Abu Rughaal ditandai oleh orang Arab, maka setiap yang lalu lintas di dekat situ melempari kubur tersebut.
Setelah Abrahah berhenti dengan tentaranya di Mughammis, diutusnya seorang utusan dari bangsa Habsyi ke negeri Mekah. Nama utusan itu Aswad bin Maqfud. Dia pergi dengan naik kuda. Setelah dia sampai di wilayah Mekah dirampasnya harta benda penduduk Tihamah dari Quraisy dan Arab yang lain. Termasuk dua ratus ekor unta kepunyaan Abdul Muthalib bin Hasyim, yang ketika itu menjadi orang yang dituakan dan disegani oleh kalangan Quraisy.
Melihat perbuatan dan perampasan yang dilakukan oleh patroli Abrahah yang bernama Aswad bin Maqfud itu, naik darahlah orang Quraisy, orang Kinanah, dan Kabilah Huzail yang semuanya hidup di keliling Mekah yang berpusat kepada Ka'bah sehingga mereka pun telah menyatakan bersiap hendak berperang melawan Abrahah. Tetapi setelah mereka musyawarahkan dengan saksama, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa tidaklah seimbang kekuatan mereka hendak melawan dengan besarnya angkatan perang musuh. Sebab itu perang tidaklah dijadikan.
Lalu Abrahah mengirim lagi perutusannya di bawah pimpinan Hunathah al-Himyari ke Mekah, hendak mencari hubungan dengan pemuka-pemuka Mekah dan ketua-ketuanya. Lalu utusan itu menyampaikan pesan Abrahah, “Kami datang kemari bukanlah hendak memerangi kalian. Kedatangan kami hanyalah semata-mata hendak menghancurkan rumah ini. Kalau kalian tidak mencoba melawan kami, selamatlah nyawa dan darah kalian," Dan Abrahah berpesan pula, `Kalau memang penduduk Mekah tidak hendak melawan kami, suruhlah salah seorang ketua Mekah datang menghadapnya ke Mughammis!"
Hunathah itu pun datanglah ke Mekah menyampaikan titah raja yang tegas itu. Setelah orang yang ditemuinya menyatakan bahwa pemimpin dan ketua mereka ialah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu datanglah dia menemui Abdul Muthalib dan menyampaikan titah raja yang tegas itu. Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib.
“Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan dia. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah Allah, Baitullah al-Haram, dan Rumah Khalilullah Ibrahim. Kalau Allah hendak mempertahankan rumah-Nya dari diruntuhkan, itulah urusan Allah sendiri. Kalau dibiarkannya rumah-Nya diruntuh orang, apalah daya kami? Kami tak kuat mempertahankannya."
Berkata Hunathah, “Kalau begitu Tuan sendiri harus datang menghadap Baginda. Saya diperintahkan mengiringkan Tuan."
“Baiklah," kata Abdul Muthalib. Maka dia pun pergi bersama Hunathah mengadap raja. Beliau diiringkan oleh beberapa orang putranya sehingga sampailah mereka ke tempat perhentian laskar itu. Lalu ditanyakannya keadaan Dzu Nafar yang tertawan itu, sebab dia adalah sahabat lamanya, sehingga dia pun diizinkan menemuinya, dan masuk ke dalam tempat tahanannya.
Dia bertanya kepada Dzu Nafar, “Hai Dzu Nafar! Apa pendapat yang dapat engkau berikan kepadaku tentang kemusykilan yang aku hadapi ini?"
Dzu Nafar menjawab, “Tidaklah ada pendapat yang dapat diberikan oleh seorang yang dalam tawanan raja, yang menunggu akan dibunuh raja, entah pagi entah petang. Tak ada nasihat yang dapat saya berikan. Cuma ada satu! Yaitu pawang gajah selalu menjaga gajah raja itu, Unais namanya. Dia adalah sahabatku. Saya akan mengirim berita kepadanya tentang halmu dan saya akan memesan bahwa engkau sahabatku supaya dia mengerti, bahwa engkau ini orang penting. Moga-moga dengan perantaraannya engkau dapat menghadap raja, supaya engkau dapat menumpahkan perasaanmu di hadapannya, dan supaya Unais pun dapat memujikan engkau di hadapan baginda. Moga-moga dia sanggup."
“Baiklah" kata Abdul Muthalib.
Lalu Dzu Nafar mengirim orang kepada Unais, pengawal gajah raja. Kepada Unais itu Dzu Nafar memesankan tentang Abdul Muthalib. Bahwa dia adalah ketua orang Quraisy, yang empunya sumur Zam Zam yang terkenal itu, yang memberi makan orang yang terlantar di tanah rendah dan memberi makan binatang buas di puncak bukit-bukit. Untanya dua ratus ekor dirampas hamba-hamba raja, dia mohon izin menghadap baginda, dan engkau usahakanlah supaya pertemuan itu berhasil."
“Saya sanggupi," kata Unais. Maka Unais pun datanglah menghadap raja mempersembahkan dari hal Abdul Muthalib itu: “Daulat Tuanku, beliau adalah Ketua Quraisy. Dia telah berdiri di hadapan pintu Tuanku, ingin menghadap. Dialah yang menguasai sumur Zam Zam di Mekah. Dialah yang memberi makanan manusia di tanah rendah dan memberi makanan binatang buas di puncak gunung-gunung. Beri izinlah dia masuk, Tuanku. Biarlah dia menyampaikan apa yang terasa di hatinya."
“Suruhlah dia masuk," titah raja.
Abdul Muthalib adalah seorang yang rupawan, berwajah menarik dan berwibawa, besar dan jombang. Baru saja dia masuk, ada sesuatu yang memaksa Abrahah berdiri menghormatinya dan menjemputnya ke pintu kemah. Abrahah merasa tidaklah layak orang ini akan duduk di bawah dari kursinya. Sebab itu baginda sendirilah yang turun dari kursi dan sama duduk di atas hamparan itu berdekat dengan Abdul Muthalib. Kemudian itu bertitahlah baginda kepada penterjemah, “Suruh katakanlah apa hajatnya!"
Abdul Muthalib menjawab dengan perantaraan penterjemah, “Maksud kedatanganku ialah memohonkan kepada raja agar unta kepunyaanku, dua ratus ekor banyaknya, yang dirampas oleh hamba sahaya baginda, dipulangkan kepadaku."
Raja menjawab dengan perantaraan penerjemah, “Katakan kepadanya, mulai dia masuk aku terpesona melihat sikap dan rupanya, yang menunjukkan bahwa dia seorang besar dalam kaumnya. Tetapi setelah kini dia mengemukakan soal untanya dua ratus ekor yang dirampas oleh orang-orangku, dan dia tidak membicarakan sama sekali, tidak ada reaksinya sama sekali, tentang rumah agamanya dan rumah agama nenek moyangnya yang aku datang sengaja hendak meruntuhkannya, menjadi sangat kecil dia dalam pandanganku."
Abdul Muthalib menjawab, “Saya datang kemari mengurus unta itu, karena yang punya unta itu aku sendiri. Adapun soal rumah itu, memang sengaja tidak saya bicarakan, sebab rumah itu ada pula yang punya, yaitu Allah. Itu adalah urusan Allah."
Dengan sombong Abrahah menjawab, “Allah itu sendiri tidak akan dapat menghambat maksudku!"
Abdul Muthalib menjawab, “Itu terserah Tuan, aku datang kemari hanya mengurus untaku."
Unta yang dua ratus ekor itu pun disuruh kembalikan oleh Abrahah. Abdul Muthalib pun segeralah kembali ke Mekah, memberitakan kepada penduduk Mekah pertemuannya dengan Abrahah. Lalu dia memberi nasihat supaya seluruh penduduk Mekah segera meninggalkan Mekah, mengelakkan diri ke puncak-puncak bukit keliling Mekah atau ke lurah-lurah, agar jangan sampan terinjak, terlindas oleh tentara yang akan datang mengamuk.
Setelah itu, dengan diiringkan oleh beberapa pemuka Quraisy, Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka'bah, dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya, lalu berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya. Sambil memegang gelang pintu Ka'bah itu dia bermohon,
“Ya Tuhanku! Tidak ada yang aku harap selain Engkau! Ya Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau! Sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan Engkau."
Setelah selesai bermunajat kepada Allah dengan memegang gelang pintu Ka'bah itu, Abdul Muthalib bersama orang-orang yang mengiringkannya mengundurkan diri, lalu pergi ke lereng-lereng bukit, dan di sanalah mereka berkumpul menunggu apakah yang akan diperbuat Abrahah terhadap negeri Mekah bilamana dia masuk kelak.
Setelah pagi besoknya bersiaplah Abrahah hendak memasuki Mekah dan dipersiapkanlah gajah-gajahnya. Gajah itu diberinya nama Mahmud. Dan Abrahah pun telah besiap-siap hendak pergi meruntuhkan Kakbah, dan kalau sudah selesai pekerjaannya itu, kelak dia bermaksud hendak segera pulang ke Yaman.
Setelah dihadapkannya gajahnya itu menuju Mekah, mendekatlah tawanan yang dijadikan penunjuk jalan itu, dari Kabilah Khats'am yang bernama Nufail bin Habib itu. Dia dekati gajah tersebut, lalu dipegangnya telinga gajah itu dengan lemah lembutnya dan dia berbisik, “Kalau engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud! Lebih cerdik bila engkau pulang saja ke tempat engkau semula di negeri Yaman. Sebab engkau sekarang hendak dikerahkan ke Baladillah al-Haram (Tanah Allah yang suci lagi bertuah)."
Selesai bisikannya itu dilepaskannyalah telinga gajah itu. Dan sejak mendengar bisikan itu, gajah tersebut terus tengkurup, tidak mau berdiri. Nufail bin Habib sendiri pun pergilah berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu, menuju sebuah bukit.
Maka datanglah masa akan berangkat. Gajah disuruh berdiri tidak mau berdiri. Dipukul kepalanya dengan tongkat penghalau gajah yang agak runcing ujungnya, supaya dia segera berdiri. Namun dia tetap duduk tak mau bergerak. Diambil pula tongkat lain, ditonjolkan ke dalam mulutnya supaya dia berdiri, namun dia tidak juga mau berdiri. Lalu ditarik kendalinya dihadapkan ke negeri Yaman; dia pun segera berdiri, bahkan mulai berjalan kencang. Lalu dihadapkan pula ke Syam. Dengan gembira dia pun berjalan cepat menuju Syam. Lalu dihadapkan pula ke timur, dia pun berjalan kencang. Kemudian dihadapkan dia ke Mekah, dia pun duduk kembali, tidak mau bergerak.
Padahal Abrahah sudah siap, tentaranya pun sudah siap.
Dalam keadaan yang demikian itu, menurut Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya tampaklah di udara beribu-ribu ekor burung terbang menuju mereka. Datangnya dari jurusan laut. Burung itu membawa tiga butir batu; sebutir dimulutnya dan dua butir digenggamnya dengan kedua belah kakinya. Dengan serentak burung-burung itu menjatuhkan batu yang di bawanya itu ke atas diri tentara-tentara yang banyak itu. Mana yang kena terpekik kesakitan karena saking panasnya. Berpekikan dan berlarianlah mereka, tumpang-siur tidak tentu arah, karena takut akan ditimpa batu kecil-kecil itu yang sangat panas membakar itu. Lebih banyak yang kena daripada yang tidak kena.
Semua menjadi kacau balau dan ketakutan. Mana yang kena terkaparlah jatuh, dan yang tidak sampai kena segera lari kembali ke Yaman. Mereka cari Nufail bin Habib untuk menunjuki jalan menuju Yaman, namun dia tidak mau lagi. Kocar-kacirlah mereka pulang. Satu demi satu mana yang kena lontaran batu itu jatuh. Dan yang agak tegap badannya masih melanjutkan pelarian menuju negerinya, namun di tengah jalan mereka berjatuhan juga. Adapun Abrahah sendiri yang tidak terlepas dari lontaran batu itu masih sempat naik gajahnya menuju Yaman, namun di tengah jalan penyakitnya bertambah membahayakan. Terkelupas kulitnya, gugur dagingnya, sehingga sesampainya di negeri Yaman boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap. Lalu mati dalam kehancuran.
Maka terkenallah tahun itu dengan nama Tahun Gajah. Menurut keterangan Nabi ﷺ sendiri dalam sebuah hadits yang shahih, beliau dilahirkan dalam tahun gajah itu. Dan tersebut pula di dalam kitab Ayyamun Nubuwah, Nabi ﷺ dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran tentara bergajah itu. Setelah Nabi kita ﷺ berusia 40 tahun dan diangkat Allah menjadi Rasul, ﷺ, masih didapati dua orang peminta-minta di Mekah, keduanya buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang Mekah itu.
Tafsir of Surah Al-Fil
This is one of the favors Allah did for the Quraysh. He saved them from the People of the Elephant who had tried to tear down the Ka`bah and wipe out all traces of its existence. Allah destroyed them, defeated them, thwarted their plans, made their efforts in vain and sent them back routed.
They were people who were Christians, and thus, their religion was closer to the True Religion (Islam) than the idolatry of the Quraysh. However, this was a means of giving a sign and preparing the way for the coming of the Messenger of Allah. For verily, he was born during that same year according to the most popular opinion. So the tongue of destiny was saying,
We will not help you, O people of Quraysh, because of any status you may have over the Ethiopians (Abyssinians). We are only helping you in order to defend the Ancient House (the Ka`bah), which We will honor, magnify, and venerate by sending the unlettered Prophet, Muhammad , the Finality of all Prophets.
A Summary of the Story of the People of the Elephant
This is the story of the people of the Elephant, in brief, and summarized.
It has already been mentioned in the story of the People of the Ditch that Dhu Nuas, the last king of Himyar, a polytheist -- was the one who ordered killing the People of the Ditch. They were Christians and their number was approximately twenty thousand. None of them except a man named Daws Dhu Thalaban escaped. He fled to Ash-Sham where he sought protection from Caesar, the emperor of Ash-Sham, who was also a Christian.
Caesar wrote to An-Najashi, the king of Ethiopia (Abyssinia), who was closer to the home of the man. An-Najashi sent two governors with him:Aryat and Abrahah bin As-Sabah Abu Yaksum, along with a great army. The army entered Yemen and began searching the houses and looting in search of the king of Himyar (Dhu Nuwas). Dhu Nuwas was eventually killed by drowning in the sea.
Thus, the Ethiopians were free to rule Yemen, with Aryat and Abrahah as its governors. However, they continually disagreed about matters, attacked each other, fought each other and warred against each other, until one of them said to the other,
There is no need for our two armies to fight. Instead let us fight each other (in a duel) and the one who kills the other will be the ruler of Yemen.
So the other accepted the challenge and they held a duel. Behind each man was a channel of water (to keep either from fleeing). Aryat gained the upper hand and struck Abrahah with his sword, splitting his nose and mouth, and slashing his face. But Atawdah, Abrahah's guard, attacked Aryat and killed him. Thus, Abrahah returned wounded to Yemen where he was treated for his injuries and recovered. He thus became the commander of the Abyssinian army in Yemen.
Then the king of Abyssinia, An-Najashi wrote to him, blaming him for what had happened (between him and Aryat) and threatened him, saying that he swore to tread on the soil of Yemen and cut off his forelock. Therefore, Abrahah sent a messenger with gifts and precious objects to An-Najashi to appease him and flatter him, and a sack containing soil from Yemen and a piece of hair cut from his forelock. He said in his letter to the king,
Let the king walk upon this soil and thus fulfill his oath, and this is my forelock hair that I send to you.
When An-Najashi received this, he was pleased with Abrahah and gave him his approval.
Then Abrahah wrote to An-Najashi saying that he would build a church for him in Yemen the like of which had never been built before. Thus, he began to build a huge church in San`a', tall and beautifully crafted and decorated on all sides. The Arabs called it Al-Qullays because of its great height, and because if one looked at it, his cap would be in danger of falling off as he tilted his head back.
Then Abrahah Al-Ashram decided to force the Arabs to make their pilgrimage to this magnificent church, just as they had performed pilgrimage to the Ka`bah in Makkah. He announced this in his kingdom (Yemen), but it was rejected by the Arab tribes of Adnan and Qahtan.
The Quraysh were infuriated by it, so much so that one of them journeyed to the church and entered it one night. He then relieved himself in the church and ran away (escaping the people). When its custodians ﷺ what he had done, they reported it to their king, Abrahah, saying;
One of the Quraysh has done this in anger over their House in whose place you have appointed this church.
Upon hearing this, Abrahah swore to march to the House of Makkah (the Ka`bah) and destroy it stone by stone.
Muqatil bin Sulayman mentioned that a group of young men from the Quraysh entered the church and started a fire in it on an extremely windy day. So the church caught on fire and collapsed to the ground. Due to this Abrahah prepared himself and set out with a huge and powerful army so that none might prevent him from carrying out his mission.
He took along a great, powerful elephant that had a huge body the like of which had never been seen before. This elephant was called Mahmud and it was sent to Abrahah from An-Najashi, the king of Abyssinia, particularly for this expedition.
It has also been said that he had eight other elephants with him; their number was also reported to be twelve, plus the large one, Mahmud -- and Allah knows best.
Their intention was to use this big elephant to demolish the Ka`bah. They planned to do this by fastening chains to the pillars of the Ka`bah and placing the other ends around the neck of the elephant. Then they would make the elephant pull on them in order to tear down the walls of the Ka`bah all at one time.
When the Arabs heard of Abrahah's expedition, they considered it an extremely grave matter. They held it to be an obligation upon them to defend the Sacred House and repel whoever intended a plot against it. Thus, the noblest man of the people of Yemen and the greatest of their chiefs set out to face him (Abrahah). His name was Dhu Nafr.
He called his people, and whoever would respond to his call among the Arabs, to go to war against Abrahah and fight in defense of the Sacred House. He called the people to stop Abrahah's plan to demolish and tear down the Ka`bah. So the people responded to him and they entered into battle with Abrahah, but he defeated them.
This was due to Allah's will and His intent to honor and venerate the Ka`bah.
The army continued on its way until it came to the land of Khatham where it was confronted by Nufayl bin Habib Al-Kath`ami along with his people, the Shahran and Nahis tribes. They fought Abrahah but he defeated them and captured Nufayl bin Habib. Initially he wanted to kill him, but he forgave him and took him as his guide to show him the way to Al-Hijaz.
When they approached the area of At-Ta'if, its people -- the people of Thaqif -- went out to Abrahah. They wanted to appease him because they were fearful for their place of worship, which they called Al-Lat. Abrahah was kind to them and they sent a man named Abu Righal with him as a guide.
When they reached a place known as Al-Mughammas, which is near Makkah, they settled there. Then he sent his troops on a foray to capture the camels and other grazing animals of the Makkans, which they did, including about two hundred camels belonging to Abdul-Muttalib. The leader of this particular expedition was a man named Al-Aswad bin Mafsud.
According to what Ibn Ishaq mentioned, some of the Arabs used to satirize him (because of the part he played in this historical incident). Then Abrahah sent an emissary named Hanatah Al-Himyari to enter Makkah, commanding him to bring the head of the Quraysh to him. He also commanded him to inform him that the king will not fight the people of Makkah unless they try to prevent him from the destruction of the Ka`bah.
Hanatah went to the city and he was directed to Abdul-Muttalib bin Hashim, to whom he relayed Abrahah's message. Abdul-Muttalib replied,
By Allah! We have no wish to fight him, nor are we in any position to do so. This is the Sacred House of Allah, and the house of His Khalil, Ibrahim, and if He wishes to prevent him (Abrahah) from (destroying) it, it is His House and His Sacred Place (to do so). And if He lets him approach it, by Allah, We have no means to defend it from him.
So Hanatah told him, Come with me to him (Abrahah). And so Abdul-Muttalib went with him.
When Abrahah ﷺ him, he was impressed by him, because Abdul-Muttalib was a large and handsome man. So Abrahah descended from his seat and sat with him on a carpet on the ground. Then he asked his translator to say to him, What do you need
Abdul-Muttalib replied to the translator, I want the king to return my camels which he has taken from me which are two hundred in number.
Abrahah then told his translator to tell him,
I was impressed by you when I first ﷺ you, but now I withdraw from you after you have spoken to me. You are asking me about two hundred camels which I have taken from you and you leave the matter of a house which is (the foundation of) religion and the religion of your fathers, which I have come to destroy and you do not speak to me about it
Abdul-Muttalib said to him,
Verily, I am the lord of the camels. As for the House, it has its Lord Who will defend it.
Abrahah said, I cannot be prevented (from destroying it).
Abdul-Muttalib answered, Then do so.
It is said that a number of the chiefs of the Arabs accompanied Abdul-Muttalib and offered Abrahah a third of the wealth of the tribe of Tihamah if he would withdraw from the House, but he refused and returned Abdul-Muttalib's camels to him.
Abdul-Muttalib then returned to his people and ordered them to leave Makkah and seek shelter at the top of the mountains, fearful of the excesses which might be committed by the army against them. Then he took hold of the metal ring of the door of the Ka`bah, and along with a number of Quraysh, he called upon Allah to give them victory over Abrahah and his army. Abdul-Muttalib said, while hanging on to the ring of the Ka`bah's door,
There is no matter more important to any man right now than the defense of his livestock and property. So, O my Lord! Defend Your property. Their cross and their cunning will not be victorious over your cunning by the time morning comes.
According to Ibn Ishaq, then Abdul-Muttalib let go of the metal ring of the door of the Ka`bah, and they left Makkah and ascended to the mountains tops.
Muqatil bin Sulayman mentioned that they left one hundred animals (camels) tied near the Ka`bah hoping that some of the army would take some of them without a right to do so, and thus bring about the vengeance of Allah upon themselves.
When morning came, Abrahah prepared to enter the sacred city of Makkah. He prepared the elephant named Mahmud. He mobilized his army, and they turned the elephant towards the Ka`bah. At that moment Nufayl bin Habib approached it and stood next to it, and taking it by its ear, he said,
Kneel, Mahmud! Then turn around and return directly to whence you came. For verily, you are in the Sacred City of Allah.
Then he released the elephant's ear and it knelt, after which Nufayl bin Habib left and hastened to the mountains.
Abrahah's men beat the elephant in an attempt to make it rise, but it refused. They beat it on its head with axes and used hooked staffs to pull it out of its resistance and make it stand, but it refused. So they turned him towards Yemen, and he rose and walked quickly. Then they turned him towards Ash-Sham and he did likewise. Then they turned him towards the east and he did the same thing. Then they turned him towards Makkah and he knelt down again.
Then Allah sent against them the birds from the sea, like swallows and herons. Each bird carried three stones the size of chickpeas and lentils, one in each claw and one in its beak. Everyone who was hit by them was destroyed, though not all of them were hit. They fled in panic along the road asking about the whereabouts of Nufayl that he might point out to them the way home. Nufayl, however, was at the top of the mountain with the Quraysh and the Arabs of the Hijaz observing the wrath which Allah had caused to descend on the people of the elephant. Nufayl then began to say,
Where will they flee when the One True God is the Pursuer For Al-Ashram is defeated and not the victor.
Ibn Ishaq reported that Nufayl said these lines of poetry at that time,
Didn't you live with continued support We favored you all with a revolving eye in the morning (i.e., a guide along the way).
If you ﷺ, but you did not see it at the side of the rock covered mountain that which we ﷺ
Then you will excuse me and praise my affair, and do not grieve over what is lost between us.
I praised Allah when I ﷺ the birds, and I feared that the stones might be thrown down upon us.
So all the people are asking about the whereabouts of Nufayl, as if I have some debt that I owe the Abyssinians.
Ata' bin Yasar and others have said that all of them were not struck by the torment at this hour of retribution. Rather some of them were destroyed immediately, while others were gradually broken down limb by limb while trying to escape. Abrahah was of those who was broken down limb by limb until he eventually died in the land of Khatham.
Ibn Ishaq said that they left (Makkah) being struck down and destroyed along every path and at every water spring.
Abrahah's body was afflicted by the pestilence of the stones and his army carried him away with them as he was falling apart piece by piece, until they arrived back in San`a'. When they arrived there he was but like the baby chick of a bird. And he did not die until his heart fell out of his chest. So they claim.
Ibn Ishaq said that when Allah sent Muhammad with the Prophethood, among the things that he used to recount to the Quraysh as blessings that Allah had favored them with of His bounties, was His defending them from the attack of the Abyssinians. Due to this they (the Quraysh) were allowed to remain (safely in Makkah) for a period of time. Thus, Allah said,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْراً أَبَابِيلَ
تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولِ
Have you not seen how your Lord dealt with the Owners of the Elephant?
Did He not make their plot go astray?
And He sent against them birds, in flocks (Ababil).
Striking them with stones of Sijjil.
And He made them like `Asf, Ma'kul.
لاإِيلَـفِ قُرَيْشٍ
إِيلَـفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَأءِ وَالصَّيْفِ
فَلْيَعْبُدُواْ رَبَّ هَـذَا الْبَيْتِ
الَّذِى أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خوْفٍ
For the Ilaf of the Quraysh,
their Ilaf caravans, in winter and in summer.
So, let them worship the Lord of this House,
Who has fed them against hunger, and has made them safe from fear. (106:1-4)
meaning, that Allah would not alter their situation because Allah wanted good for them if they accepted Him.
Ibn Hisham said,
Al-Ababil are the groups, as the Arabs do not speak of just one (bird).
He also said,
As for As-Sijjil, Yunus An-Nahwi and Abu Ubaydah have informed me that according to the Arabs, it means something hard and solid.
He then said,
Some of the commentators have mentioned that it is actually two Persian words that the Arabs have made into one word. The two words are Sanj and Jil, Sanj meaning stones, and Jil meaning clay. The rocks are of these two types:stone and clay.
He continued saying,
Al-`Asf are the leaves of the crops that are not gathered. One of them is called `Asfah.
This is the end of what he mentioned.
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
And He sent against them birds, in flocks (Ababil).
Hammad bin Salamah narrated from Asim, who related from Zirr, who related from `Abdullah and Abu Salamah bin `Abdur-Rahman that they said,
(
طَيْراً أَبَابِيلَ
birds Ababil.) In groups.
Ibn `Abbas and Ad-Dahhak both said,
Ababil means some of them following after others.
Al-Hasan Al-Basri and Qatadah both said, Ababil means many.
Mujahid said, Ababil means in various, successive groups.
Ibn Zayd said,
Ababil means different, coming from here and there. They came upon them from everywhere.
Al-Kasa'i said,
I heard some of the grammarians saying, The singular of Ababil is Ibil.
Ibn Jarir recorded from Ishaq bin Abdullah bin Al-Harith bin Nawfal that he said concerning Allah's statement,
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْراً أَبَابِيلَ
This means in divisions just as camels march in divisions (in their herds).
It is reported that Ibn `Abbas said,
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْراً أَبَابِيلَ
They had snouts like the beaks of birds and paws like the paws of dogs.
Ikrimah said commenting on Allah's statement,
طَيْراً أَبَابِيلَ
They were green birds that came out of the sea and they had heads like the heads of predatory animals.
It has been reported from `Ubayd bin `Umayr that about
طَيْراً أَبَابِيلَ
he commented:
They were black birds of the sea that had stones in their beaks and claws.
And the chains of narration (for these statements) are all authentic.
تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
Striking them with stones of Sijjil.
It is reported from Ubayd bin Umayr that he said,
When Allah wanted to destroy the People of the Elephant, he sent birds upon them that came from sea swallows. Each of the birds was carrying three small stones -- two stones with its feet and one stone in its beak. They came until they gathered in rows over their heads. Then they gave a loud cry and threw what was in their claws and beaks. Thus, no stone fell upon the head of any man except that it came out of his behind (i.e., it went through him), and it did not fall on any part of his body except that it came out from the opposite side.
Then Allah sent a severe wind that struck the stones and increased them in force. Thus, they were all destroyed.
Concerning Allah's statement,
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
And He made them like `Asf, Ma'kul.
Sa`id bin Jubayr said,
This means straw, which the common people call Habbur.
In a report from Sa`id he said, The leaves of wheat.
He also said,
Al-`Asf is straw, and Al-Ma'kul refers to the fodder that is cut for animals.
Al-Hasan Al-Basri said the same thing.
Ibn `Abbas said,
Al-`Asf is the shell of the grain, just like the covering of wheat.
Ibn Zayd said,
Al-`Asf are the leaves of vegetation and produce. When the cattle eat it they defecate it out and it becomes dung.
The meaning of this is that Allah destroyed them, annihilated them and repelled them in their plan and their anger. They did not achieve any good. He made a mass destruction of them, and not one of them returned (to their land) to relate what happened except that he was wounded. This is just like what happened to their king, Abrahah. For indeed he was split open, exposing his heart when he reached his land of San`a'. He informed the people of what happened to them and then he died.
His son Yaksum became the king after him, and then Yaksum's brother, Masruq bin Abrahah succeeded him. Then Sayf bin Dhi Yazan Al-Himyari went to Kisra (the king of Persia) and sought his help against the Abyssinians. Therefore, Kisra dispatched some of his army with Sayf Al-Himyari to fight with him against the Abyssinians. Thus, Allah returned their kingdom to them (i.e., the Arabs of Yemen) along with all the sovereignty their fathers possessed. Then large delegations of Arabs came to him (Sayf Al-Himyari) to congratulate him for their victory.
We have mentioned previously in the Tafsir of Surah Al-Fath that when the Messenger of Allah approached the mountain pass that would lead him to the Quraysh on the Day of Al-Hudaybiyyah, his she-camel knelt down. Then the people attempted to make her get up but she refused. So, the people said,
Al-Qaswa' has become stubborn.
The Prophet replied,
مَا خَلَاَتِ الْقَصْوَاءُ وَمَا ذَاكَ لَهَا بِخُلُقٍ وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيل
Al-Qaswa' has not become stubborn, for that is not part of her character. Rather, she has been stopped by He Who restrained the Elephant (of Abrahah).
Then he said,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَاا يَسْأَلُونِّي الْيَوْمَ خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللهِ إِلاَّ أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا
I swear by He in Whose Hand is my soul, they (the Quraysh) will not ask me for any matter (of the treaty) in which the sacred things of Allah are honored except that I will agree with them on it.
Then he beckoned the she-camel to rise and she stood up.
This Hadith is of those that Al-Bukhari was alone in recording.
It has been recorded in the Two Sahihs that on the Day of the conquest of Makkah, the Messenger of Allah said,
إِنَّ اللهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُوْمِنِينَ وَإِنَّهُ قَدْ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالاَْمْسِ أَلَا فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَايِب
Verily, Allah restrained the Elephant from Makkah, and He has given His Messenger and the believers authority over it. And indeed its sacredness has returned just as it was sacred yesterday. So, let those who are present inform those who are absent.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Fil, and all praise and thanks are due to Allah.
Al-Fiil (the Elephant)
Meccan, consisting of 5 verses.
Have you not considered (an interrogative meant to provoke marvel, in other words, 'marvel at') the way in which your Lord dealt with the Men of the Elephant?, who was named Mahmood, and the men were Abraha, King of Yemen and his troops. He had built a church in San'aa' in order to divert pilgrims away from Mecca to it. A man from among the Banoo Kinaana defecated in it and stained its prayer niche with a deflowered virgin's blood, in contempt of it. Abraha then swore that he would knock down the Ka'ba. So he approached Mecca with his troops riding Yemeni elephants with Mahmood at the vanguard. But when they turned to destroy the Ka'ba, God unleashed upon them what He relates in His words:
Commentary
The subject-matter of the Surah
This Surah refers to the story of the People of the Elephants who came with an army of elephants for the purpose of destroying the House of Allah in (The Holy Ka'bah) in Makkah. But their plan backfired and the Divine scourge overtook them. Allah destroyed the army with a flock of ordinary birds. Thus their plans were foiled and thwarted.
When did the event take place?
This event took place in the very year in which the Holy Prophet ﷺ was born at Makkah, according to some traditions and the popular view among the historians. [ Ibn Kathir ]. The scholars of Hadith have taken this event as a special type of mujizah (miracle) of the Holy Prophet ﷺ ، but the term mujizah, in its real sense, refers to an abnormal event shown by Allah to prove the claim of a prophet to having been sent by Him. Therefore, a mujizah is shown after a prophet's Divine commission. However, sometimes it happens that a miraculous event takes place before a prophet's claim to prophet-hood. This, in the parlance of the scholars of Hadith, is called irhas which means 'prologue or introduction'. The word irahs means a 'foundation stone' [ Qamus ]. As the miraculous events taking place before the advent of prophets or before their claim to prophet-hood are meant to introduce and affirm that soon a particular prophet will be Divinely commissioned, they are referred to as irhas. Many miraculous incidents of this nature [ irhasat ] occurred before the birth and the advent of the Holy Prophet ﷺ ، and one of them was the incident of the 'People of the Elephants' who were miraculously prevented by the Heavenly scourge from destroying the House of Allah.
Story of the People of the Elephants
Ibn Kathir, the leading authority on Prophetic Tradition and history, recounts the story as follows: Yemen was under the control of the rulers of Himyar. They were idolaters. Their last king was Dhu Nuwas, an idolater himself, was the enemy of the righteous Christians of his time, who believed in and worshipped One Allah. He persecuted the believers, who were opposed to idol-worship, by burning them alive. Most scholars agree that he killed, in cold blood, by throwing about 20, 000 sincere and righteous Christians in his city into a large fire pit, burning them alive in an effort to get them to give up their sincere religion. This is the story of the 'People of Fire-Pit' referred to in [ 85:4-7]. Two men somehow managed to escape from him. They fled to Syria and took refuge with Caesar, who was himself a Christian and the emperor of Syria. They requested the emperor to avenge this cruel act of Dhu Nuwas. Caesar wrote to Najashi (Negus), the king of Abyssinia [ now Ethiopia ], who was closer to the home of the man. Najashi sent two governors with him: Arbat and Abrahah, along with a huge army.
The army invaded Yemen and freed the whole country from the possession of Himyar. Dhu Nuwas tried to escape, but was drowned in the sea and died. Yemen thus became part of the Abyssinian dominion and Abrahah was appointed its viceroy. However, he and Arbat fought each other until Arbat was eventually killed and Abrahah emerged victorious. The latter was appointed the commander of the Abyssinian army in Yemen, and the governor of that region. Having captured Yemen, he built a superbly luxurious cathedral in his area. The purpose was to attract the people of Yemen to make pilgrimage to this cathedral instead of Ka'bah in Makkah. It was huge and tall so that a person standing at the bottom was not able to see the top. He decorated the structure with gold, silver and other precious gems. In short, he meant it to be an architectural masterpiece, second to none or unsurpassed in the world, to be revered by all and sundry and divert pilgrims from the Sacred Mosque in Makkah to his cathedral in Yemen. He did this after he had witnessed the love and enthusiasm of the Yemeni Arabs - which were the same as those felt all over the Arabia - for the Ka'bah, with the aim of making them forsake their attachment to the Mosque of Makkah and turn instead to his new luxurious cathedral. Thus he proclaimed throughout his kingdom that no one should ever visit the Ka'bah in Makkah, and that the pilgrimage should from now on take place to his so-called 'Ka'bah' in Yemen.
Although the Arabs were idol-worshippers, the love and reverence for the religion of Prophet Ibrahim (علیہ السلام) and the Ka'bah had permeated their hearts. As a result, the ` Andan, Qahtan and Quraish tribes were enraged and infuriated by this proclamation. One night, someone entered the church and defecated in it. According to other narratives, a nomadic tribe halted near the church and started a fire for their own needs. The wind on that day was blowing violently and the cathedral caught on fire and sustained much loss. When Abrahah came to know about it, and learnt that a Quraishi had done this, he swore to march to the House of Makkah and destroy it stone by stone. Thus he prepared himself and set out with a huge and powerful army, so that none might prevent him from carrying out his mission. He asked for Najashi's permission. He permitted him and sent for him, particularly for this expedition, a special elephant whose name was Mahmud. It was unusually huge in size and powerful in strength the like of which had never been seen before. The king of Abyssinia sent in eight more elephants as reinforcements for the army. Their intention was to use this extraordinary elephant to demolish the Ka'bah. They planned to do this by fastening chains to the pillars of the Ka'bah and placing the other ends around the neck of the elephant. Then they would make the elephant pull on them in order to tear down the walls of the Ka'bah [ God forbid!] all at once. When the Arabs heard of Abrahah's expedition, they considered it their moral obligation to defend the Sacred House and thwart the evil plans of the conspirators. Thus, the Arabs raised a large army under the command of Dhu Nafr, a Yamenite Arab. He called the Arabs to go to war against Abrahah and fight in defense of the Sacred House, so that the enemy is unable to tear it down. The people responded to him readily and entered into battle with the enemy, but he defeated them. This was due to Allah's will that no humans should protect His House and His intent to expose the enemy to embarrassment and venerate the Sacred Sanctuary to the highest degree. Dhu Nafr was captured and taken prisoner.
The army continued on its way until it came to the settlement of the Banu Khath'am tribe. Their leader, Nufail Ibn Habib, led his entire tribe against the army, but they too were defeated and Nufail was taken prisoner. Abrahah at first decided to kill him, but at second thought he forgave him and took him as his guide to show him the way to Hijaz.
When the army approached Ta'if, the people of Thaqif went out to Abrahah. They wanted to pacify him, because they had heard about the fate of those who had resisted him previously. Also, they were afraid that he would demolish their temple consecrated in the name of their idol Al-Lat. Therefore, they did not resist him on the understanding that he would not touch the idol of Lat. He was compassionate to them, and they sent a guide with him by the name of Abu Righal. When they arrived in a place called Al-Maghmas, near Makkah, they settled there. This was the pasture where the camels of the Quraish grazed. Abrahah sent his troops on a foray to capture the camels and other grazing animals of the Makkans. They accomplished their mission. They also drove away about two hundred camels of ` Abdul-Muttalib, grandfather of the Holy Prophet Muhammad ﷺ and the leader of the Quraish. Abrahah then sent an emissary named Hanatah Al-Himyari to enter Makkah and bring to him the leader of the Quraish. He mandated him to convey to the leader of the Quraish his message that the king did not come to fight with the Makkans unless they stood in his way of destroying their Sacred Sanctuary. Arriving in the city, Hanatah was directed to ` Abdul-Muttalib Ibn Hashim, to whom he communicated Abrahah's message. According to Ibn Ishaq's narration, ` Abdul-Muttalib replied: "By Allah! We too have no desire to fight him, nor do we have the might to do so. This is the Sacred Sanctuary of Allah built by His friend Prophet Ibrahim (علیہ السلام) . If He wills to prevent Abrahah from pulling it down, He will protect it. And if He allows him to approach it, by Allah, we have no means to defend it." So Hanatah told him: "Come with me to Abrahah." So ` Abdul-Muttalib went with him.
When Abrahah ﷺ him, he was highly impressed, because ` Abdul-Muttalib had the most handsome, charming and attractive personality. He descended from his throne and sat with the latter on a carpet on the ground. He then said to his interpreter to ask him: "What do you need?" ` Abdul-Muttalib replied to the interpreter: "I want the king to give back my two hundred camels which his soldiers have taken from me." Then Abrahah told his interpreter to relay to him: "When I first set my eyes on you, I admired you greatly and had great respect for you. But all that is now lost. You speak only of your two hundred camels while you fully well know that I have come to tear down your Ka'bah which is the embodiment of your religion and the religion of your forefathers. You did not even say a single word to persuade me to spare it." ` Abdul-Muttalib calmly responded: "I am the owner of my camels and am concerned about them. I am not the owner of Allah's House. The Master of the House knows how best to protect His House." Abrahah rudely rebuffed: "Your God cannot protect it from me." ` Abdul-Muttalib made a rejoinder: "Then do as you like or [ take your chance!] " According to other narratives, there were other chiefs of Quraish with ` Abdul-Muttalib at the time of this negotiation. They proposed to Abrahah that if he withdrew from the Sanctuary, the entire region of Tihamah would pay him a third of their agricultural produce annually as tribute. But he turned down the offer. He then gave back ` Abdul-Muttalib's camels to him. ` Abdul-Muttalib took his camels and went back home, ordering his people to leave Makkah and seek shelter at the top of the mountains. He feared that atrocities might be committed by the army against them. Then he went with a few figures of the Quraish to the Sacred Sanctuary. He held the metal ring of the door of Ka'bah and prayed Allah to give them victory over Abrahah and his army. While hanging on to the ring of the Ka'bah's door, he earnestly implored: "We have no strength to face the army of Abrahah. So, 0 my Lord! Defend Your Ka'bah." Having so prayed in all earnestness, ` Abdul-Muttalib led all the Makkans to the neighbouring mountains, because they were convinced that Allah's scourge would overtake Abrahah and his troops. This is the reason why they spoke to Abrahah about their camels, and not about the House of Allah.
When the next morning dawned, Abrahah prepared to enter the sacred city of Makkah. He prepared the elephant named Mahmud and mobilized his army, and they turned the elephant towards the Ka'bah. At that moment Nufail Ibn Habib, whom Abrahah had captured earlier, approached it and stood next to it, and taking it by its ear, he said: "Return safely where you came from, because you are, verily, in the Sacred City of Allah." Then he released the elephant's ear and it knelt and sat down forthwith. The elephant drivers exerted all efforts to persuade the elephant to enter the City, but their efforts were in vain. Then they tried striking it with large iron spears and putting iron arrowheads in its trunk. They beat it on its head with axes and used hooked staffs to pull it out of its resistance and make it stand, but it refused. So they turned it towards Yemen, and it rose and walked quickly. Then they turned it towards Syria, it walked fast. Then they turned it towards the east and it walked briskly. Then they turned it towards Makkah, it knelt and sat down again.
This was one aspect of the manifestation of the Divine power unfolding itself miraculously. On the other hand, some flocks of birds were seen coming from the sea. Each bird carried three pebbles of the size of gram seeds or lentils, one in each claw and two in its beak. According to Waqidi's narration, the birds looked unusual which were never seen before. They looked smaller than pigeons, and their claws were red in colour. They flew over Abrahah's army and pelted them with the pebbles. Each pebble was more devastating than the bullet of a revolver. When it fell on anything, it tore directly through the body and settled deep in the ground. Seeing this scourge, the elephants fled in panic, except one which was harmed and destroyed by the pebble. Not all of Abrahah's men were destroyed instantly. People escaped in different directions. They died excruciatingly on their way back. As Allah had willed that the most distressful scourge should be inflicted upon Abrahah, He did not allow him to die immediately. In fact, Allah afflicted him with a deadly disease. A kind of poison spread thoroughly through his entire body and caused every single part to decay - his limbs began to rot and separate from the rest of his body and he started losing one finger after another. His body was carried back in that state to Yemen. By the time they arrived back in San'a', the capital of Yemen, his body was broken down limb by limb until he eventually died. Two of Mahmud's (name of elephant) drivers remained in Makkah, but both of them became blind and paralyzed. Muhammad Ibn Ishaq reports that Sayyidah ` A'ishah ؓ narrates that she ﷺ them blind and paralyzed. Her sister, Sayyidah Asma' ؓ says that she ﷺ the two blind and paralyzed men begging. The 'People of the Elephants' is a momentous event in Arab history, which was witnessed by hundreds of Arabs. It is to this well-known historical incident that this Surah refers.
Lexical Analysis
Verse [ 105:1] أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (Have you not seen how your Lord dealt with the people of the Elephant?) In the phrase alam tara [ have you not seen ], the second person pronoun refers to the Holy Prophet ﷺ . It is interesting to note that the event took place before the blessed birth of the Holy Prophet ﷺ . He could not have seen or witnessed it with his own eyes. However, the incident was so widely known as if the Prophet ﷺ had seen it with his own eyes, which is a sign of the certainty of its happening. Such a knowledge is described by the word ru'yat [ seeing ]. As reported earlier, Sayyidah ` A'ishah ؓ and her sister, Sayyidah Asma' ؓ both say that they had seen the two camel drivers had become blind and paralyzed and used to go around begging. In this way, the traces of this event were seen even after the birth of the Holy Prophet ﷺ .








