ٱلْعَلَق ٣
- ٱقۡرَأۡ bacalah
- وَرَبُّكَ dan Tuhanmu
- ٱلۡأَكۡرَمُ amat mulia
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
(Bacalah) lafal ayat ini mengukuhkan makna lafal pertama yang sama (dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah) artinya tiada seorang pun yang dapat menandingi kemurahan-Nya. Lafal ayat ini sebagai Haal dari Dhamir yang terkandung di dalam lafal Iqra'.
Tafsir Surat Al-'Alaq: 1-5
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat 1
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ berupa mimpi yang benar dalam tidurnya. Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi, melainkan datangnya mimpi itu bagaikan sinar pagi hari.
Kemudian dijadikan baginya suka menyendiri, dan beliau sering datang ke Gua Hira, lalu melakukan ibadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang dan untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah (istrinya) dan mengambil bekal lagi untuk melakukan hal yang sama. Pada suatu hari ia dikejutkan dengan datangnya wahyu saat berada di Gua Hira. Malaikat pembawa wahyu masuk ke dalam gua menemuinya, lalu berkata, "Bacalah!" Rasulullah ﷺ melanjutkan kisahnya, bahwa ia menjawabnya, "Aku bukanlah orang yang bisa membaca." Maka malaikat itu memegangku dan mendekapku sehingga aku benar-benar kepayahan olehnya, setelah itu ia melepaskan diriku dan berkata lagi, "Bacalah!" Nabi ﷺ menjawab, "Aku bukanlah orang yang bisa membaca." Malaikat itu kembali mendekapku untuk kedua kalinya hingga benar-benar aku kepayahan, lalu melepaskan aku dan berkata, "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku bukanlah orang yang bisa membaca." Malaikat itu kembali mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku benar-benar kepayahan, lalu dia melepaskan aku dan berkata: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” (Al-'Alaq: 1) sampai dengan firman-Nya: “apa yang tidak diketahuinya.” (Al-'Alaq: 5) Maka setelah itu Nabi ﷺ pulang dengan hati yang gemetar hingga masuk menemui Khadijah, lalu bersabda: “Selimutilah aku, selimutilah aku! Maka mereka menyelimutinya hingga rasa takutnya lenyap.”
Lalu setelah rasa takutnya lenyap, Khadijah bertanya, "Mengapa engkau?" Maka Nabi ﷺ menceritakan kepadanya kejadian yang baru dialaminya dan bersabda, "Sesungguhnya aku merasa takut terhadap (keselamatan) diriku." Khadijah berkata, "Tidak demikian, bergembiralah engkau, maka demi Allah, Dia tidak akan mengecewakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka bersilaturahmi, benar dalam berbicara, suka menolong orang yang kesusahan, gemar menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah." Kemudian Khadijah membawanya kepada Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad ibnu Abdul Uzza ibnu Qusay.
Waraqah adalah saudara sepupu Khadijah dari pihak ayahnya, dan dia adalah seorang yang telah masuk agama Nasrani di masa Jahiliah dan pandai menulis Arab, lalu ia menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Arab seperti apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, dan dia adalah seorang yang telah lanjut usia dan tuna netra. Khadijah bertanya, "Wahai anak pamanku, dengarlah apa yang dikatakan oleh anak saudaramu ini." Waraqah bertanya, "Wahai anak saudaraku, apakah yang telah engkau lihat?" Maka Nabi ﷺ menceritakan kepadanya apa yang telah dialami dan dilihatnya.
Setelah itu Waraqah berkata, "Dialah Namus (Malaikat Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Aduhai, sekiranya diriku masih muda. Dan aduhai, sekiranya diriku masih hidup di saat kaummu mengusirmu." Rasulullah ﷺ memotong pembicaraan, "Apakah benar mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Ya, tidak sekali-kali ada seseorang lelaki yang mendatangkan hal seperti apa yang engkau sampaikan, melainkan ia pasti dimusuhi. Dan jika aku dapat menjumpai harimu itu, maka aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sekuat-kuatnya." Tidak lama kemudian Waraqah wafat, dan wahyu pun terhenti untuk sementara waktu hingga Rasulullah ﷺ merasa sangat sedih.
Menurut berita yang sampai kepada kami, karena kesedihannya yang sangat, maka berulang kali ia mencoba untuk menjatuhkan dirinya dari puncak bukit yang tinggi. Akan tetapi, setiap kali beliau sampai di puncak bukit untuk menjatuhkan dirinya dari atasnya, maka Jibril menampakkan dirinya dan berkata kepadanya, "Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah yang sebenarnya," maka tenanglah hati beliau karena berita itu, lalu kembali pulang ke rumah keluarganya.
Dan manakala wahyu datang terlambat lagi, maka beliau berangkat untuk melakukan hal yang sama. Tetapi bila telah sampai di puncak bukit, kembali Malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya dan mengatakan kepadanya hal yang sama. Hadits ini diketengahkan di dalam kitab Shahihain melalui Az-Zuhri; dan kami telah membicarakan tentang hadits ini ditinjau dari segi sanad, matan, dan maknanya pada permulaan kitab syarah kami, yaitu Syarah Bukhari dengan pembahasan yang lengkap. Maka bagi yang ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut, dipersilahkan untuk merujuk kepada kitab itu, semuanya tertulis di sana.
Mula-mula wahyu Al-Qur'an yang diturunkan adalah ayat-ayat ini yang mulia lagi diberkati, ayat-ayat ini merupakan permulaan rahmat yang diturunkan oleh Allah karena kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, dan merupakan nikmat yang mula-mula diberikan oleh Allah kepada mereka. Di dalam surat ini terkandung peringatan yang menggugah manusia kepada asal mula penciptaan manusia, yaitu dari 'alaqah.
Dan bahwa di antara kemurahan Allah ﷻ ialah Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan ilmu. Dan ilmu merupakan bobot tersendiri yang membedakan antara Abul Basyar (Adam) dengan malaikat. Ilmu itu adakalanya berada di hati, adakalanya berada di lisan, adakalanya pula berada di dalam tulisan tangan. Berarti ilmu itu mencakup tiga aspek, yaitu di hati, di lisan, dan di tulisan. Sedangkan yang di tulisan membuktikan adanya penguasaan pada kedua aspek lainnya, tetapi tidak sebaliknya. Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:
Ayat 3-5
“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-'Alaq: 3-5)
Di dalam sebuah atsar disebutkan, "Ikatlah ilmu dengan tulisan." Dan masih disebutkan pula dalam atsar, bahwa barang siapa yang mengamalkan ilmu yang dikuasainya, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.
Wahai Nabi, bacalah firman yang Allah turunkan kepadamu, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Dia membagi kemurahan-Nya kepada semua makhluk. Di antara kemurahan-Nya adalah menjadikan manusia bisa membaca, menulis, dan mempelajari ilmu pengetahuan. 4. Tuhanmu itulah yang mengajar manusia menulis dengan perantaraan pena atau alat tulis lain. Tulisan berguna untuk menyimpan dan menyebarkan pesan serta ilmi pengetahuan kepada orang lain.
Allah meminta manusia membaca lagi, yang mengandung arti bahwa membaca yang akan membuahkan ilmu dan iman itu perlu dilakukan berkali-kali, minimal dua kali. Bila Al-Qur'an atau alam ini dibaca dan diselidiki berkali-kali, maka manusia akan menemukan bahwa Allah itu pemurah, yaitu bahwa Ia akan mencurahkan pengetahuan-Nya kepadanya dan akan memperkokoh imannya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH AL-‘ALAQ
(SEGUMPAL DARAH)
SURAH KE-96
19 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
Ayat 1
“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta." (ayat 1)
Dalam suku pertama saja, yaitu “bacalah", telah terbuka kepentingan pertama dalam perkembangan agama ini selanjutnya. Nabi ﷺ disuruh membaca wahyu akan diturunkan kepada beliau itu di atas nama Allah, Tuhan yang telah mencipta.
Ayat 2
Yaitu, “Menciptakan manusia dari segumpal darah." (ayat 2)
Sesudah nuthfah, yaitu segumpal air yang telah berpadu dari mani si laki-laki dengan mani si perempuan, yaitu setelah empat puluh hari lamanya, air itu telah menjelma jadi segumpal darah, dan dari segumpal darah itu kelak akan menjelma pula menjadi segumpal daging (mudhghah). Syekh Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juz ‘Amma menerangkan, “Yaitu Allah yang Mahakuasa menjadikan manusia dari air mani, menjelma jadi darah segumpal, kemudian jadi manusia penuh, niscaya kuasa pula menimbulkan kesanggupan membaca pada seorang yang selama ini dikenal ummiy, tak pandai membaca dan menulis.“
Ayat 3
“Bacalah! Dan Tuhan engkau itu adalah Mahamulia." (ayat 3)
Nama Allah yang selalu diambil jadi sandaran hidup itu ialah Allah Yang Mahamulia, Mahadermawan, Mahakasih dan Sayang kepada makhluk-Nya;
Ayat 4
“Dia yang mengajarkan dengan qalam." (ayat 4)
Diajarkan-Nya kepada manusia berbagai ilmu, dibuka-Nya berbagai rahasia, diserahkan-Nya berbagai kunci untuk pembuka perbendaharaan ilmu Allah, yaitu dengan qalam atau pena! Di samping lidah untuk membaca, Allah pun menakdirkan pula bahwa ilmu pengetahuan dapat dicatat. Pena adalah beku dan kaku, tidak hidup, namun yang dituliskan oleh pena itu adalah berbagai hal yang dapat dipahamkan oleh manusia;
Ayat 5
“Mengajari manusia apa-apa yang dia tidak tahu." (ayat 5)
Tafsir of Surah Al-Alaq
Allah Says;
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الاِْنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
Read! In the Name of your Lord Who created.
He has created man from a clot.
The Honor and Nobility of Man is in His Knowledge
These Ayat inform of the beginning of man's creation from a dangling clot, and that out of Allah's generosity He taught man that which he did not know. Thus, Allah exalted him and honored him by giving him knowledge, and it is the dignity that the Father of Humanity, Adam, was distinguished with over the angels. Knowledge sometimes is in the mind, sometimes on the tongue, and sometimes in writing with the fingers. Thus, it may be intellectual, spoken and written. And while the last (written) necessitates the first two (intellectual and spoken), the reverse is not true.
For this reason Allah says,
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الاَْكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الاِْنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Read! And your Lord is the Most Generous. Who has taught by the pen.
He has taught man that which he knew not.
There is a narration that states,
Record knowledge by writing.
There is also a saying which states,
Whoever acts according to what he knows, Allah will make him inherit knowledge that he did not know.
Allah says;
كَلَّ إِنَّ الاِْنسَانَ لَيَطْغَى
أَن رَّاهُ اسْتَغْنَى
Nay! Verily, man does transgress.
Because he considers himself self-sufficient.
The Threat against Man's Transgression for the sake of Wealth
Allah informs that man is very pleased, most evil, scornful and transgressive when he considers himself self-sufficient and having an abundance of wealth. Then Allah threatens, warns and admonishes him in His saying,
إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى
Surely, unto your Lord is the return.
meaning, `unto Allah is the final destination and return, and He will hold you accountable for your wealth, as to where you obtained it from and how did you spend it.'
Scolding of Abu Jahl and the Threat of seizing Him
Then Allah says,
أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى
عَبْدًا إِذَا صَلَّى
Have you seen him who prevents. A servant when he prays?
This was revealed about Abu Jahl, may Allah curse him. He threatened the Prophet for performing Salah at the Ka`bah. Thus, Allah firstly admonished him with that which was better by saying,
أَرَأَيْتَ إِن كَانَ عَلَى الْهُدَى
Have you seen if he is on the guidance?
meaning, `do you think this man whom you are preventing is upon the straight path in his action, or
أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى
Or enjoins Taqwa. in his statements.
Yet, you rebuke him and threaten him due to his prayer.'
Thus, Allah says,
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَ
Knows he not that Allah sees.
meaning, doesn't this person who is preventing this man who is following correct guidance know that Allah sees him and hears his words, and He will compensate him in full for what he has done
Then Allah says by way of warning and threatening
كَلَّ لَيِن لَّمْ يَنتَه
Nay! If he ceases not,
meaning, if he does not recant from his discord and obstinacy,
لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ
We will scorch his forehead.
meaning, `indeed We will make it extremely black on the Day of Judgement.'
Then He says,
نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِيَةٍ
A lying, sinful forehead!
meaning, the forehead of Abu Jahl is lying in its statements and sinful in its actions.
فَلْيَدْعُ نَادِيَه
Then let him call upon his council.
meaning, his people and his tribe. In other words, let him call them in order to seek help from them.
سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ
We will call out the guards of Hell!
`And they are the angels of torment. This is so that he may know who will win -- Our group or his group'
Al-Bukhari recorded that Ibn Abbas said, Abu Jahl said,
`If I see Muhammad praying at the Ka`bah, I will stomp on his neck.'
So this reached the Prophet , who said,
لَيِنْ فَعَلَ لَاَخَذَتْهُ الْمَلَيِكَة
If he does, he will be seized by the angels.
This Hadith was also recorded by At-Tirmidhi and An-Nasa'i in their Books of Tafsir.
Likewise, it has been recorded by Ibn Jarir. Ahmad, At-Tirmidhi, An-Nasa'i and Ibn Jarir, all recorded it from Ibn `Abbas with the following wording:
The Messenger of Allah was praying at the Maqam (prayer station of Ibrahim) when Abu Jahl bin Hisham passed by him and said,
`O Muhammad! Haven't I prevented you from this'
He threatened the Prophet and thus, the Messenger of Allah became angry with him and reprimanded him.
Then he said,
`O Muhammad! What can you threaten me with By Allah, I have the most kinsmen of this valley with me in the large.'
Then Allah revealed,
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ
سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ
Then let him call upon his council. We will call out the guards of Hell!
Ibn `Abbas then said,
If he had called his people, the angels of torment would have seized him at that very instant.
At-Tirmidhi said, Hasan Sahih.
Ibn Jarir recorded from Abu Hurayrah that Abu Jahl said, Does Muhammad cover his face with dust (i.e., from prostration) while he is among you all
They (the people) replied, Yes.
Then he said, By Al-Lat and Al-`Uzza, if I see him praying like this, I will stomp on his neck, and I will certainly put his face in the dust.
So the Messenger of Allah came and he began praying, which made it possible for Abu Jahl to stomp on his neck. Then the people became surprised at him (Abu Jahl) because he began retreating on his heels and covering himself with his hands.
Then it was said to him, What's the matter with you
He replied, Verily, between me and him is a ditch of fire, monsters and wings.
Then the Messenger of Allah said,
لَوْ دَنَا مِنِّي لَاخْتَطَفَتْهُ الْمَلَيِكَةُ عُضْوًا عُضْوًا
If he had come near me, the angels would have snatched him limb by limb.
The narrator added;
Allah revealed an Ayah, but I do not know whether it is concerning the Hadith of Abu Hurayrah or not:
كَلَّ إِنَّ الاِنسَـنَ لَيَطْغَى
Nay! Verily, man does transgress. to the end of the Surah.
Imam Ahmad bin Hanbal, Muslim, An-Nasa'i and Ibn Abi Hatim all recorded this Hadith.
Amusement for the Prophet
Then Allah says
كَلَّ لَا تُطِعْهُ
Nay! Do not obey him.
meaning, `O Muhammad! Do not obey him in what he is forbidding from such as steadfastness in worship and performing worship in abundance. Pray wherever you wish and do not worry about him. For indeed Allah will protect you and help you, and He will defend you against the people.'
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
Fall prostrate and draw near (to Allah)!)
This is just like what has been confirmed in the Sahih of Muslim on the authority of Abu Salih who reported from Abu Hurayrah that the Messenger of Allah said,
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاء
The closest that a servant can be to his Lord is when he is in prostration. Therefore, make abundant supplications (i.e., while prostrating).
It has also been mentioned previously that the Messenger of Allah used to prostrate when he recited
إِذَا السَّمَأءُ انشَقَّتْ
When the heaven is split asunder. (84:1)
and,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ
Read! In the Name of your Lord Who has created. (96:1)
This is the end of the Tafsir of Surah Al-`Alaq. Unto Allah is due all praise and thanks, and He is the Giver of success and protection against error.
Recite: (reiterating the first one) and your Lord is the Most Generous, having no counterpart in terms of His generosity (wa-rabbuka'l-akram is a circumstantial qualifier referring to the subject [of the verb] iqra', 'recite'),
Verse [ 3] اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (Read, and your Lord is the most gracious.) The command iqra' [ Read ] has been repeated in this verse for two reasons: The first command in verse [ 1] was for the Holy Prophet himself to read or recite. The second command in this verse is to proclaim, convey, communicate and teach or preach. It is not inconceivable that the command iqra' is repeated by deliberate design for emphasis. The Divine attribute al-Akram 'the Most Gracious' signifies that Allah did not create the world or man for any ulterior motive, for selfish motivation or for His own benefit. He has done it out of His infinite grace, generosity and magnanimity. He endowed upon the universe the great favour of existence without asking for it.