Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَلَمۡ
bukankah
نَجۡعَل
Kami jadikan
لَّهُۥ
baginya
عَيۡنَيۡنِ
dua buah mata
أَلَمۡ
bukankah
نَجۡعَل
Kami jadikan
لَّهُۥ
baginya
عَيۡنَيۡنِ
dua buah mata
Terjemahan
Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata,
Tafsir
(Bukankah Kami telah menjadikan) Istifham atau kata tanya di sini mengandung arti Taqrir (baginya dua buah mata,).
Tafsir Surat Al-Balad: 1-10
Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, dan demi bapak dan anaknya. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan.Aku telah menghabiskan harta yang banyak. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir.
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Ini merupakan sumpah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyebut Mekah Ummul Qura dalam keadaan halal bagi orang yang bertempat tinggal di dalamnya. untuk mengingatkan keagungan kedudukan kota Mekah disaat penduduknya sedang melakukan ihram. Khasif telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah). (Al-Balad: 1) Sumpah ini bukanlah sanggahan terhadap mereka; Allah subhanahu wa ta’ala hanya bersumpah dengan menyebut nama kota ini (Mekah). Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini. (Al-Balad: 1) Yakni kota Mekah. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini. (Al-Balad: 2) Yaitu engkau Muhammad, diperbolehkan bagimu melakukan peperangan di dalamnya.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair, Abu Saleh, Atiyyah, Adh-Dhahhak, Qatadah, As-Suddi, dan Ibnu Zaid. Mujahid mengatakan bahwa apa saja yang engkau peroleh darinya, dihalalkan bagimu. Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini. (Al-Balad: 2) Maksudnya. engkau boleh tinggal di kota ini tanpa dibebani rasa dosa ataupun halangan. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghalalkannya bagi Nabi subhanahu wa ta’ala dalam sesaat dari siang hari. Makna dari apa yang dikatakan oleh mereka sehubungan dengan hal ini memang telah disebutkan di dalam hadits yang telah disepakati kesahihannya, yaitu: .
Sesungguhnya kota ini telah diharamkan (disucikan) oleh Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi, maka kota ini menjadi kota yang suci karena disucikan oleh Allah sampai hari kiamat nanti. Pepohonannya tidak boleh ditebang dan tetumbuhannya tidak boleh dicabuti. Dan sesungguhnya kota ini dihalalkan bagiku hanya dalam sesaat dari siang hari. kemudian kesuciannya kembali lagi di hari ini sebagaimana kesuciannya di hari sebelumnya.
Ingatlah. hendaklah orang yang hadir menyampaikan (berita ini) kepada orang yang tidak hadir. Dalam lafal lain disebutkan: Maka jika ada seseorang yang menghalalkan kesuciannya karena Rasulullah pernah melakukan peperangan (di dalamnya). maka katakanlah, bahwa sesungguhnya Allah hanya memberi izin kepada Rasul-Nya dan tidak memberi izin bagimu! Firman Allah ﷻ: dan demi bapak dan anaknya. (Al-Balad: 3) Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Atiyyah, dari Syarik, dari Khasif, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan demi bapak dan anaknya. (Al-Balad: 3) Al-walid artinya orang yang beranak, dan wama walad artinya orang yang mandul tidak dapat beranak.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadits Syarik ibnu Abdullah Al-Qadi dengan sanad yang sama. Ikrimah mengatakan bahwa al-walid artinya yang beranak, dan wama walad artinya yang tidak dapat beranak. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Mujahid, Abu Saleh, Qatadah, Adh-Dhahhak, Sufyan Ats-Tsauri, Sa'id ibnu Jubair, As-Suddi, Al-Hasan Al-Barsi, Khasif, Syurahbil ibnu Sa'd, dan lain-lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan walid ialah Adam, sedangkan yang dimaksud dengan wama walad ialah anak-anaknya.
Dan apa yang dikatakan oleh Mujahid dan teman-temannya ini baik lagi kuat. Karena pada mulanya Allah bersumpah dengan Ummul Qura, yaitu tempat-tempat tinggal; lalu diiringi-Nya dengan sumpah dengan menyebut penghuninya, yaitu Adam alias bapak moyangnya manusia dan keturunannya. Abu Imran Al-Juni mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah Ibrahim dan keturunannya; demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.
Tetapi Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah umum mencakup orang tua dan anaknya; makna ini pun dapat juga dijadikan sebagai salah satu dari takwil ayat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Sesunggahnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al-Balad: 4) Telah diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid. Ibrahim An-Nakha'i, Khaisamah, Adh-Dhahhak, dan lain-lainnya, bahwa maknayang dimaksud ialah dalam keadaan tegak lurus.
ibnu Abbas dalam suatu riwayat yang bersumber darinya menambahkan dalam keadaan tegak lurus di dalam perut ibunya. Al-kabad artinya tegak lurus. Kesimpulan dari pendapat ini menyatakan bahwa Kami telah. menciptakan manusia dengan sempurna dan tegak, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (Al-Infithar: 6-8) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tin: 4) Ibnu Abu Najih, Juraij, dan ‘Atha’ telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah dalam keadaan susah payah, yakni kejadian yang susah; bukankah engkau lihat manusia itu bagaimana kelahirannya dan bagaimana tumbuh gigi-giginya.
Mujahid mengatakan bahwa makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: berada dalam susah payah. (Al- Balad: 4) Yakni dari nutfah menjadi 'alaqah, lalu menjadi segumpal daging. Dengan kata lain, manusia itu diciptakan dalam keadaan susah payah. Mujahid mengatakan bahwa ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (Al-Ahqaf:15) dan ibunya menyusuinya dengan susah payah, dan kehidupan dia semasa bayinya susah payah pula, maka dia mengalami fase-fase tersebut dengan susah payah.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al- Balad: 4) Yaitu dalam keadaan susah dan mencari penghidupan. Ikrimah mengatakan dalam keadaan susah payah yang berkepanjangan. Qatadah mengatakan dalam keadaan susah (masyaqat). Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnu Ja'far, bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibnu Ali alias Abu Ja'far Al-Baqir bertanya kepada seorang lelaki dari kalangan Ansar mengenai makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al- Balad: 4) Lalu ia menjawab bahwa untuk dapat berdiri dan tegaknya, manusia mengalami susah payah.
Dan Abu Ja'far Al-Baqir tidak menyangkal kebenarannya. Telah diriwayatkan pula melalui jalur Abu Maudud, bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al- Balad: 4) Yakni mengalami susah payah dalam menanggulangi suatu urusan dari perkara dunianya dan suatu urusan dari perkara akhiratnya. Dan menurut riwayat yang lain, disebutkan mengalami kesusahan hidup di dunia dan kesusahan di akhirat.
Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firrnan-Nya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al- Balad: 4) Bahwa Adam diciptakan di langit, karenanya ia dinamakan Al Kabad. Tetapi Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah berada dalam kesusahan menghadapi semua urusan dan penanggulangannya yang berat. Firman Allah ﷻ: Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5) Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna firman-Nya: Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5) Yaitu yang akan mengambil hartanya.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Apakah manusia itu menyangka halnya sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5) Ibnu Adam mengira bahwa Allah tidak akan menanyai harta ini, dari manakah dia memperolehnya dan ke manakah dia membelanjakannya? As-Suddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5) Sebagai jawabannya ada, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dia mengatakan, "Aku telah menghabiskan harta yang banyak. (Al-Balad: 6) Yakni anak Adam mengatakan bahwa dirinya telah membelanjakan harta yang banyak jumlahnya menurut Mujahid, Al-Hasan, Qatadah.
As-Suddi, dan yang lainnya. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya. (Al-Balad: 7) Mujahid mengatakan bahwa apakah dia mengira bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihatnya? Hal yang sama dikatakan oleh yang lainnya dari kalangan ulama Salaf. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata. (Al-Balad: 8) yang dengan kedua matanya itu dia melihat. lidah. (Al-Balad: 9) yang dengannya dia berbicara, lalu dapat mengungkapkan apa yang terkandung di dalam hatinya. dan dua buah bibirnya. (Al-Balad: 9) yang membantunya untuk berbicara dan makan serta menjadi anggota yang memperindah penampilan wajah dan mulutnya.
Al-Hafidzh Ibnu Asakir di dalam auto biografi Abur Rabi' Ad-Dimasyqi telah meriwayatkan dari Mak-hul, bahwaNabi ﷺ pernah bersabda: Allah ﷻ berfirman, "Wahai anak Adam, Aku telah memberikan nikmat-nikmat yang besar kepadamu, yang tidak dapat kamu hitung bilangannya, dan kamu tidak akan mampu mensyukurinya. Dan sesungguhnya di antara nikmat yang Aku berikan kepadamu ialah Aku jadikan bagimu dua buah mata yang dengan keduanya kamu dapat melihat, dan Aku jadikan bagi keduanya kelopak.
Maka gunakanlah keduanya untuk memandang apa yang telah Kuhalalkan bagimu, dan jika kamu melihat apa yang telah Kuharamkan bagimu, maka katupkanlah kedua kelopaknya. Dan Aku telah menjadikan bagimu lisan dan Kujadikan pula baginya penutupnya. Maka berbicaralah dengan apa yang telah Kuperintahkan kepadamu dan apa yang telah Kuhalalkan bagimu. Dan jika ditawarkan kepadamu apa yang telah Kuharamkan bagimu, maka tutuplah lisanmu (diamlah).
Dan Aku telah menjadikan kemaluan bagimu, dan Aku telah menjadikan pula baginya penutup, maka gunakanlah kemaluanmu terhadap apa yang telah Kuhalalkan bagimu. Dan jika ditawarkan kepadamu apa yang telah Kuharamkan bagimu, maka turunkanlah penutupnya. Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau tidak akan mampu menanggung murka-Ku dan tidak akan mampu menahan pembalasan (azab)-Ku. Firman Allah ﷻ: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) Yakni dua jalan.
Sufyan Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari ‘Ashim, dari Zur, dari Abdullah ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) Artinya kebaikan dan keburukan. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Abu Wa-il, Abu Saleh, Muhammad ibnu Ka'b, Adh-Dhahhak, Ala Al-Khurrasani, dan lain-lainnya. Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi'ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Sinan ibnu Sa'd, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Keduanya adalah dua jalan, lalu apakah yang menyebabkan jalan keburukan lebih disukai olehmu daripada jalan kebaikan? Sinan Ibnu Sa'd meriwayatkan hadits ini secara tunggal, dan dikatakan pula bahwa dia adalah Sa'd ibnu Sinan, dinilai siqah oleh Ibnu Mu'in.
Imam Ahmad, Imam An-Nasai, dan Al-Juzjani mengatakan bahwa hadisnya tidak dapat diterima. Imam Ahmad mengatakan bahwa ia meninggalkan hadisnya karena hadisnya idtirab. Dan dia telah meriwayatkan lima belas hadits yang semuanya berpredikat munkar. Imam Ahmad mengatakan bahwa ia tidak mengenal suatu hadits pun dari hadisnya yang menyerupai dengan hadits Al-Hasan Al-Basri dan tidak pula menyerupai hadits Anas ibnu Malik Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Abu Raja yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami telah memmjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) Telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya keduanya adalah dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan, maka apakah yang membuat jalan keburukan lebih disukai olehmu daripada jalan kebaikan? Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Habib ibnusy Syahid, Ma'mar, Yunus ibnu Ubaid dan Abu Wahb, dari Al-Hasan secara mursal.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah secara mursal. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu lsam Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Affan, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah ﷻ: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (Al-Balad: 10) Yakni kedua Puting susu. Telah diriwayatkan pula dari Ar-Rabi' ibnu Khaisam, Qatadah, dan Abu Hazim hal yang semisal.
Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Abu Kuraib, dari Waki, dari Isa ibnu Aqqal dengan sanad yang sama. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah pendapat yang pertama. Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al-Insan: 2-3)".
8-10. Allahlah yang berkuasa atasnya dan melihat setiap perbuatannya. Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata untuk membantunya melihat sekeliling, dan lidah dan sepasang bibir untuk memungkinkannya mencecap, berbicara, dan memberi penjelasan kepada orang lain, dan bukankah Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan, yaitu kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, melalui fitrah, akal, dan petunjuk lain' Kami sudah memberinya petunjuk, lalu manusia itu sendiri yang akan memutuskan jalan hidupnya; apakah memilih jalan kesesatan atau kebenaran. 8-10. Allah-lah yang berkuasa atasnya dan melihat setiap perbuatannya. Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata untuk membantunya melihat sekeliling, dan lidah dan sepasang bibir untuk memungkinkannya mencecap, berbicara, dan memberi penjelasan kepada orang lain, dan bukankah Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan, yaitu kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, melalui fitrah, akal, dan petunjuk lain' Kami sudah memberinya petunjuk, lalu manusia itu sendiri yang akan memutuskan jalan hidupnya; apakah memilih jalan kesesatan atau kebenaran.
Allah selanjutnya bertanya mengenai orang itu, "Tidakkah Kami beri ia dua mata?" Artinya, untuk dapat mencari kekayaan, ia perlu dua mata, lalu siapakah yang memberinya dua mata itu bila bukan Allah? Untuk mencari rezeki ia perlu berbicara, lalu siapakah yang telah memberinya lidah dan dua bibir untuk mampu bicara? Dalam membesarkannya, ia telah menyusu pada kedua susu ibunya, siapakah yang telah menyediakan air susu ibunya itu bila bukan Allah? Dengan demikian, keberhasilannya adalah karena bantuan dan kasih sayang Allah. Oleh karena itu, ia tidak perlu menyombongkan dirinya karena hartanya.
Di samping itu, mata, lidah, dan nafsu adalah nikmat Allah kepadanya yang tiada taranya. Ia akan bertemu dengan dua jalan yang disediakan Allah, yaitu jalan yang benar dan jalan yang salah. Ia perlu menggunakan mata, lidah, dan nafsu itu untuk jalan yang diridai oleh Allah.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Ayat 5
“Apakah dia menyangka bahwa tidak seorang pun yang berkuasa atas dirinya?" (ayat 5)?
Apakah dia menyangka bahwa Allah akan membiarkan saja dia berleluasa berbuat sesuka hati?
Ayat 6
“Dia mengatakan ‘Aku telah menghabiskan harta yang bertumpuk.'" (ayat 6)
Ayat ini menyatakan bagaimana orang yang telah bersusah payah menghabiskan tenaga dan harta bendanya untuk perkara yang tidak berfaedah, membanggakan sudah berapa hartanya habis.
Ayat 7
“Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang yang melihatnya?" (ayat 7)
Apakah mereka menyangka bahwa perbuatannya, membuang-buang harta yang tidak berfaedah, atah mengeluarkan harta dalam menolong orang lain, hanya semata-mata ingin disanjung dipuji; apakah semuanya itu tidak ada yang tahu? Apakah dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu tidak lepas dari tilikan Allah Ta'aala?
***
Ayat 8
Di samping itu, “Bukankah telah Kami jadikan baginya dua mata?` (ayat 8)
Ayat 9
“Dan lidah dan dua bibir?" (ayat 9)
Berkata seorang ulama, “Dengan ayat-ayat ini Allah memperingatkan betapa besar nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya. Dengan dua mata untuk melihat, satu lidah untuk bercakap dan membolak-balikkan makanan dalam mulut. Dua bibir adalah bertalian dengan lidah. Bibir menghambat lidah itu ketika akan bercakap yang tidak beraturan. Apabila agak lain rasanya, kedua bibir dapat dikatupkan saja. Dan makanan yang sedang dikunyah-kunyah oleh gigi, dihambat oleh kedua bibir sehingga tidak berhamburan keluar."
Ayat 10
“Dan telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan." (ayat 10) Pertama, ialah jalan kebajikan; kedua jalan keburukan. Pilihlah dengan akal budi yang telah dianugerahkan Allah dan bimbingan taufiq hidayah-Nya jalan yang baik dan jauhi jalan yang membawa celaka.
Tafsir of Surah Al-Balad
Swearing by the Sanctity of Makkah and Other Things that Man was created in Hardship
Allah says,
لَاا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ
Nay! I swear by this city;
Here Allah has sworn by Makkah, the Mother of the Towns, addressing its resident (during the non-sacred months,) free in this city in order to draw his attention to the significance of its sanctity when its people are in the state of sanctity.
Khusayf reported from Mujahid;
لَا أُقْسِمُ بِهَـذَا الْبَلَدِ
Nay! I swear by this city;
The word La (Nay) refers to the refutation against them (Quraish). I swear by this city.
Shabib bin Bishr narrated from Ikrimah, from Ibn Abbas that he said,
لَا أُقْسِمُ بِهَـذَا الْبَلَدِ
Nay! I swear by this city;
This means Makkah.
Concerning the Ayah:
وَأَنتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ
And you are free in this city.
he (Ibn Abbas) said,
O Muhammad! It is permissible for you to fight in it.
Similar was reported from Sa`id bin Jubayr, Abu Salih, `Atiyah, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Suddi and Ibn Zayd.
Al-Hasan Al-Basri said,
Allah made it lawful (to fight in) for him (the Prophet ) for one hour of a day.
The meaning of what they have said was mentioned in a Hadith that is agreed- upon as being authentic. In it the Prophet said,
إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّموَاتِ وَالاَْرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللهِ إِلَى يَوْم الْقِيَامَةِ
لَاا يُعْضَدُ شَجَرُهُ وَلَاا يُخْتَلَى خَلَاهُ
وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةٌ مِنْ نَهَارٍ
وَقَدْ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالاَْمْسِ أَلَا فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَايِب
Verily, Allah made this city sacred on the Day that He created the heavens and the earth. Therefore, it is sacred by the sanctity of Allah until the Day of Judgement.
Its trees should not be uprooted, and its bushes and grasses should not be removed.
And it was only made lawful for me (to fight in) for one hour of a day.
Today its sanctity has been restored just as it was sacred yesterday. So, let the one who is present inform those who are absent.
In another wording of this Hadith, he said,
فَإِنْ أَحَدٌ تَرَخَّصَ بِقِتَالِ رَسُولِ اللهِ فَقُولُوا إِنَّ اللهَ أَذِنَ لِرَسُولِهِ وَلَمْ يَأْذَنْ لَكُم
So, if anyone tries to use the fighting of the Messenger (to conquer Makkah) as an excuse (to fight there), then tell him that Allah permitted it for His Messenger and He has not permitted it for you.
Concerning Allah's statement,
وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ
And by the begetter and that which he begot.
Mujahid, Abu Salih, Qatadah, Ad-Dahhak, Sufyan Ath-Thawri, Sa`id bin Jubayr, As-Suddi, Al-Hasan Al-Basri, Khusayf, Shurahbil bin Sa`d and others have said,
Meaning, by the begetter, Adam, and that which he begot is his children.
This view that Mujahid and his companions have chosen is good and strong. This is supported by the fact that Allah swears by the Mother of the Towns, which are dwellings. Then after it He swears by the dwellers therein, who is Adam, the father of mankind, and his children.
Abu `Imran Al-Jawni said, It refers to Ibrahim and his progeny.
Ibn Jarir recorded this statement as did Ibn Abi Hatim.
Ibn Jarir preferred the view that it is general and it refers to every father and his children. This meaning is also acceptable.
Allah then says,
لَقَدْ خَلَقْنَا الاِْنسَانَ فِي كَبَدٍ
Verily, We have created man in Kabad.
Ibn Abi Najih and Jurayj reported from `Ata, from Ibn Abbas concerning the phrase `in Kabad',
He was created while in hardship. Don't you see him
Then he mentioned his birth and the sprouting of his teeth.
Mujahid said,
فِى كَبَدٍ
(in Kabad.)
A drop of sperm, then a clot, then a lump of flesh, enduring in his creation.
Mujahid then said, This is similar to Allah's statement,
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً
His mother bears him with hardship. And she brings him forth with hardship. (46:15)
and she breast-feeds him with hardship, and his livelihood is a hardship. So he endures all of this.
Sa`id bin Jubayr said,
لَقَدْ خَلَقْنَا الاِنسَـنَ فِى كَبَدٍ
(Verily, We have created man in Kabad).
In hardship and seeking livelihood.
Ikrimah said, In hardship and long-suffering.
Qatadah said, In difficulty.
It is reported from Al-Hasan that he said,
Enduring the hardships of the world by life and the severity of the Hereafter.
Man is encompassed by Allah and His Bounties
Allah says,
أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ
Does he think that none can overcome him.
Al-Hasan Al-Basri said that its Meaning that,
no one is able to take his wealth.
Qatadah about this has said,
The Son of Adam thinks that he will not be asked about this wealth of his -- how he earned and how he spent it.
Allah said:
يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالاً لُّبَدًا
He says:I have wasted wealth in abundance!
This means, the Son of Adam says,
I spent an abundance of wealth.
Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, As-Suddi and others have said this.
أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُ أَحَدٌ
Does he think that none sees him.
Mujahid said,
Does he think that Allah, the Mighty and Majestic, does not see him.
Others among the Salaf have said similar to this.
Allah said;
أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ
Have We not made for him two eyes,
meaning, for him to see with them
وَلِسَانًا
And a tongue,
meaning, for him to speak with, and so that he can express that which is inside of him.
وَشَفَتَيْنِ
and two lips,
In order to help him with speaking, eating food, and beautifying his face and his mouth.
The Ability to distinguish between Good and Evil is also a Blessing
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
And shown him the two ways,
This refers to the two paths.
Sufyan Ath-Thawri narrated from `Asim, from Zirr, from `Abdullah bin Mas`ud that he said,
وَهَدَيْنَـهُ النَّجْدَينِ
And shown him the two ways,
The good and the evil.
Similar to this has been reported from `Ali, Ibn `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Abu Wa'il, Abu Salih, Muhammad bin Ka`b, Ad-Dahhak, and `Ata' Al-Khurasani among others.
Similar to this Ayah is Allah's statement,
إِنَّا خَلَقْنَا الاِنسَـنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَـهُ سَمِيعاً بَصِيراً
إِنَّا هَدَيْنَـهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِراً وَإِمَّا كَفُوراً
Verily, We have created man from Nutfah Amshaj, in order to try him:so We made him hearer and seer.
Verily, We showed him the way, whether he be grateful or ungrateful. (76:2-3)
Have We not given (an interrogative meant as an affirmative, in other words, 'We have [certainly] given') him two eyes,
أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ ﴿8﴾ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ ﴿9﴾ وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ ﴿10﴾
(Did We not make for him two eyes, and a tongue and two lips, and showed him the two ways?...90:8-10)
The word najdain is the dual form of najd which means an elevated or conspicuous road. The word najdain signifies the two high and conspicuous ways of good and evil, or of success and destruction. The preceding verse pointed out the ignorance and heedlessness of man. He thinks that Allah has no power over him, and that there is no one watching over his actions. The current verse mentions a few of the organs and abilities that Allah has endowed him with. If he reflects carefully on these endowments, he will appreciate His infinite wisdom and power within himself. He has a pair of eyes. The optic nerves and tissues are rather delicate. They send nervous impulses to the brain when stimulated by light rays from external objects. The structure of the eye itself is most delicate. Each eye consists of a hollow, spherical capsule [ eyeball ], made up of several layers and structures. It is set into a socket in the skull, and is protected by eyelids and eyelashes, and eyebrows. It works like an automatic machine. When a harmful object is seen coming from the front, the eyelids close on their own. The eyelashes block the dust from getting into the eyes. The eyebrows help keep things away from falling into the eyes directly from top. The facial bones, especially the orbit [ eye socket and the cheek bones ], protect the eye, if one were to fall on one's face or something were to fall on the face.
The second gift that man is endowed with is the 'tongue'. This organ - the articulator - is the most amazing and important creation. It is the long piece of flesh fixed to the bottom of the mouth that can represent thoughts of the heart, the automatic and mysterious machine. The heart works in an amazing way. A thought occurs in the heart, the brain interprets it, and prepares appropriate topic and words. The words are uttered by the tongue. Such a complex task is performed so swiftly that the listener does not even realise how many systems have worked before the distinguishable sounds, letters and words were uttered. Nature has equipped man with two lips that play an important role in articulating the different sounds, letters and words. Nature has made the tongue such a swift-working articulator that within half a minute it may utter a word which may take him out from Hell and admit him into Paradise, as the word of faith, or may endear him to his enemy in the world, as by seeking forgiveness of his shortcomings. The same tongue within the same short span of time may take him to Hell, as by uttering the word of disbelief, or may make him his biggest enemy who was previously his closest friend, as by using obscene language against him. The tongue has many benefits as well as many ways of destruction. It is a double-edged sword that can operate against an enemy, and it can also cut one's own throat. Therefore, Allah has kept it covered within the case of two lips. Probably, this is the reason why the pair of lips is mentioned. The Creator Who has endowed man with tongue has equipped him with a pair of lips in order to protect it. Therefore, he should be careful in its use. He should not unsheathe it unnecessarily. Allah has equipped him with a pair of eyes, a pair of lips and a tongue, and has equipped him with the ability to distinguish good from evil and right from wrong, thus:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
then inspired it with its [ instinct of ] evil and piety [ 91:8] '
Thus in the first instance man receives guidance from his own conscience. This is supported by the guidance of the Holy Prophets (علیہم السلام) and celestial books that clarify it.
In sum, an ignoramus and heedless person, who denies the power of the Omnipotent, should look into his own being, he would be able to observe His attribute of perfect power and consummate wisdom. He should observe with his two eyes and confess with his tongue. He has been shown the two ways of good and evil; and of right and wrong so that he may choose between the two. Obviously, he should choose the good way. In his make-up, there exists the ability to take either way. All these bounties have not motivated man to attempt the steep course. Then the heedless man is warned that he should reflect on the clear proofs and arguments pertaining to Allah's Omnipotence, pertaining to the Day of Judgment, life after death and Reckoning, and believe in these articles of faith. This faith requires that man should be a source of benefit and comfort to others; he should abstain from hurting them; he should believe in Allah; he should amend his own conduct and think of reforming others also, so that, on the Day of Judgment, he may be among the people of the right hand, the inmates of Paradise, enjoying a happy recompense for what he has done in this life. The unfortunate ones who persistently denied the Truth shall be encircled by the Hell-fire. This theme has been taken up from this point onward to the end of the Surah. Failing to do a few of the good deeds have been [ selectively ] described in a unique style.








