عَبَسَ ٣
- وَمَا dan apakah
- يُدۡرِيكَ tahukah kamu
- لَعَلَّهُۥ barangkali dia
- يَزَّكَّىٰٓ ia membersihkan diri
Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),
(Tahukah kamu) artinya, mengertikah kamu (barangkali ia ingin membersihkan dirinya) dari dosa-dosa setelah mendengar dari kamu; lafal Yazzakkaa bentuk asalnya adalah Yatazakkaa, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Za sehingga jadilah Yazzakkaa.
Tafsir Surat 'Abasa: 1-16
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.
Ayat 1
Bukan hanya seorang dari ulama tafsir menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ di suatu hari sedang berbicara dengan salah seorang pembesar Quraisy, yang beliau sangat menginginkan dia masuk Islam. Ketika beliau ﷺ sedang berbicara dengan suara yang perlahan dengan orang Quraisy itu, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang yang telah masuk Islam sejak lama. Kemudian Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sesuatu dengan pertanyaan yang mendesak. Dan Nabi ﷺ saat itu sangat menginginkan andaikata Ibnu Ummi Maktum diam dan tidak mengganggunya, agar beliau dapat berbicara dengan tamunya yang dari Quraisy itu karena beliau sangat menginginkannya mendapat hidayah. Untuk itulah maka beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan memalingkan wajah beliau darinya serta hanya melayani tamunya yang dari Quraisy itu. Maka Allah ﷻ menurunkan firman-Nya:
Ayat 1-3
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” ('Abasa: 1-3)
Yaitu menginginkan agar dirinya suci dan bersih dari segala dosa.
Ayat 4
“Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” ('Abasa: 4)
Yaitu memperoleh pelajaran untuk dirinya sehingga ia menahan dirinya dari hal-hal yang diharamkan.
Ayat 5-6
“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya.” ('Abasa: 5-6)
Adapun orang yang serba cukup, maka kamu melayaninya dengan harapan dia mendapat petunjuk darimu.
Ayat 7
“Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” ('Abasa: 7)
Artinya, kamu tidak akan bertanggungjawab mengenainya bila dia tidak mau membersihkan dirinya (beriman).
Ayat 8-9
Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut (kepada Allah).” (Abasa: 8-9)
Yaitu dengan sengaja datang kepadamu untuk mendapat petunjuk dari pengarahanmu kepadanya.
Ayat 10
“Maka kamu mengabaikannya.” ('Abasa: 10)
Maksudnya, kamu acuhkan dia. Dan setelah kejadian ini Allah ﷻ memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk tidak boleh mengkhususkan peringatan terhadap seseorang secara tertentu, melainkan harus menyamakan di antara semuanya. Dalam hal ini tidak dibedakan antara orang yang mulia dan orang yang lemah, orang yang miskin dan orang yang kaya, orang merdeka dan budak belian, laki-laki dan wanita, serta anak-anak dan orang dewasa. Kemudian Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus, keputusan yang ditetapkan-Nya penuh dengan kebijaksanaan dan mempunyai alasan yang sangat kuat.
Al-Hafidzh Abu Ya'la mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas yang mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah ﷻ: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” ('Abasa: 1) Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi ﷺ yang saat itu sedang berbicara dengan Ubay ibnu Khalaf, maka beliau ﷺ berpaling dari Ibnu Ummi Maktum, lalu Allah ﷻ menurunkan firman-Nya:
Ayat 1-2
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.” ('Abasa: 1-2) Maka sesudah peristiwa itu Nabi ﷺ selalu menghormatinya.
Qatadah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa ia melihat Ibnu Ummi Maktum dalam perang Qadisiyah, memakai baju besi, sedangkan di tangannya terpegang bendera berwarna hitam.
Abu Ya'la dan Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Yahya Al-Umawi, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa berikut ini adalah hadits yang diceritakan kepada kami dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ayat ini, yaitu firman-Nya: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (Abasa: 1) diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang tuna netra. Dia datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata, "Berilah aku petunjuk." Sedangkan saat itu di hadapan Rasulullah ﷺ terdapat seorang lelaki dari kalangan pembesar kaum musyrik. Maka Rasulullah ﷺ berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan melayani lelaki musyrik itu seraya bersabda, "Bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang aku katakan ini, apakah berkesan?" Lelaki itu menjawab, "Tidak". Maka berkenaan dengan peristiwa inilah ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” ('Abasa: 1)
Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan hadits ini dari Sa'id ibnu Yahya Al-Umawi dengan sanad yang serupa; kemudian Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa sebagian dari mereka ada yang meriwayatkan dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa surat 'Abasa diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, tetapi dalam sanad ini tidak disebutkan dari Aisyah. Menurut hemat saya, memang demikianlah yang terdapat di dalam kitab Muwatta.
Kemudian Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim juga telah meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah ﷻ: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.” ('Abasa: 1-2) Bahwa ketika Rasulullah ﷺ sedang berbicara secara tertutup dengan Atabah ibnu Rabi'ah, Abu Jahal ibnu Hisyam, dan Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib, yang sebelumnya Nabi ﷺ sering berbicara dengan mereka dan sangat menginginkan mereka beriman. Lalu tiba-tiba datanglah seorang lelaki tuna netra bernama Ibnu Ummi Maktum dengan jalan kaki, saat itu Nabi ﷺ sedang serius berbicara dengan mereka. Lalu Abdullah ibnu Ummi Maktum meminta agar diajari suatu ayat dari Al-Qur'an dan berkata, "Wahai Rasulullah, ajarilah aku dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu." Rasulullah ﷺ berpaling dan bermuka masam terhadapnya serta tidak melayaninya, bahkan beliau kembali melayani mereka.
Setelah Rasulullah ﷺ selesai dari pembicaraan tertutupnya dan hendak pulang ke rumah keluarganya, maka Allah ﷻ menahan sebagian dari pandangan beliau dan menjadikan kepada beliau tertunduk, lalu turunlah kepadanya firman Allah ﷻ yang menegur sikapnya itu: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya?” ('Abasa: 1-4) Maka setelah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat-ayat tersebut, beliau selalu menghormatinya dan selalu berbicara dengannya dan menanyakan kepadanya, "Apakah keperluanmu? Apakah engkau ingin sesuatu?" Dan apabila Ibnu Ummi Maktum hendak pergi darinya, beliau ﷺ bertanya, "Apakah engkau mempunyai sesuatu keperluan?" Hal itu setelah Allah ﷻ menurunkan firman-Nya: “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” ('Abasa: 5-7). Hadits ini gharib dan munkar, sanadnya juga masih diperbincangkan dan diragukan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Salim ibnu Abdullah telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya Bilal azan di malam hari, maka makan dan minumlah kamu hingga kamu mendengar seruan azan Ibnu Ummi Maktum. Dia adalah seorang tuna netra yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya: ‘Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya’.” ('Abasa: 1-2) Tersebutlah pula bahwa dia menjadi juru azan bersama Bilal. Salim melanjutkan, bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang tuna netra, maka dia belum menyerukan suara azannya sebelum orang-orang berkata kepadanya saat mereka melihat cahaya fajar subuh, "Azanlah!"
Hal yang sama telah disebutkan oleh Urwah ibnuz Zubair, Mujahid, Abu Malik, Qatadah, Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan selain mereka yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum. Menurut pendapat yang terkenal, nama aslinya adalah Abdullah, dan menurut pendapat yang lainnya yaitu Amr; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ayat 11
Firman Allah ﷻ: “Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” ('Abasa: 11)
Artinya, surat ini atau perintah menyamakan semua orang dalam menyampaikan pengetahuan, tidak dibedakan antara orang yang terhormat dan orang biasa dari kalangan mereka yang menginginkannya.
Qatadah dan As-Suddi mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah ﷻ: “Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” ('Abasa: 11) Yakni Al-Qur'an itu.
Ayat 12
“Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” ('Abasa: 12)
Maksudnya, barang siapa yang menghendaki, ia dapat mengingat Allah ﷻ dalam semua urusannya. Dapat pula ditakwilkan bahwa damir yang ada merujuk kepada wahyu karena konteks pembicaraan berkaitan dengannya.
Ayat 13-14
Firman Allah ﷻ: “Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan.” ('Abasa: 13-14)
Yaitu surat ini atau pelajaran ini, kedua-duanya saling berkaitan, bahkan Al-Qur'an seluruhnya.
Ayat 13
“Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan.” ('Abasa: 13)
Yaitu diagungkan dan dimuliakan.
“Yang ditinggikan.” ('Abasa: 14)
Artinya, mempunyai kedudukan yang tinggi.
Ayat 14
“Lagi disucikan.” ('Abasa: 14)
Yaitu disucikan dari hal yang kotor, penambahan, dan pengurangan.
Ayat 15
Firman Allah ﷻ: “Di tangan para penulis.” ('Abasa: 15)
Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Adh-Dhahhak, dan Ibnu Zaid, yang dimaksud adalah para malaikat. Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa mereka adalah para sahabat Nabi ﷺ. Qatadah mengatakan mereka adalah para ahli qurra. Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa safarah dengan bahasa Nabtiyyah, kalau bahasa Arabnya berarti para ahli qurra.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang shahih ialah yang mengatakan bahwa safarah adalah para malaikat yang menghubungkan antara Allah ﷻ dengan makhluk-Nya. Dan termasuk ke dalam pengertian ini dikatakan safir, yang artinya orang yang menghubungkan di antara kedua belah pihak yang bersangkutan untuk tujuan perdamaian dan kebaikan. Hal yang sama dikatakan oleh salah seorang penyair dalam salah satu bait syairnya: “Aku belum pernah mengabaikan perantara (juru runding) di antara kaumku, dan aku belum pernah berjalan (ke sana kemari) untuk tujuan menipu.”
Imam Bukhari mengatakan bahwa safarah adalah para malaikat yang menjadi duta perdamaian di antara mereka. Di sini malaikat yang menurunkan wahyu Allah ﷻ dan menyampaikannya kepada rasul yang bersangkutan diserupakan dengan duta yang mendamaikan di antara kaum yang berselisih.
Ayat 16
Firman Allah ﷻ: “Yang mulia lagi berbakti.” ('Abasa: 16)
Yaitu penampilan mereka mulia, baik lagi terhormat, dan akhlak serta sepak terjang mereka berbakti, suci dan sempurna. Maka berangkat dari pengertian ini orang yang hafal Al-Qur'an dianjurkan berada dalam jalan yang lurus dan benar dalam semua perbuatan dan ucapannya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa'd ibnu Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur'an, sedangkan dia pandai membacanya (kelak akan dihimpunkan) bersama-sama dengan para malaikat safarah yang mulia lagi berbakti. Adapun orang yang membacanya, sedangkan dia melakukannya dengan berat, baginya dua pahala.”
Jamaah mengetengahkan hadits ini melalui jalur Qatadah dengan sanad yang sama.
Wahai Nabi Muhammad, Kami menegur sikapmu yang demikian karena tahukah engkau barangkali dia datang menghadapmu untuk minta pengajaran darimu sebab dia ingin menyucikan dirinya dari dosa dan kesalahan masa lalunya' 4. Atau tahukah engkau bila dia datang karena dia ingin mendapatkan pengajaran Al-Qur'an dan ajaran Islam darimu, yang memberi manfaat kepadanya sehingga dia lebih tekun beribadah, beramal saleh, dan menjadi pengikut setiamu'
.
Dalam ayat-ayat ini, Allah menegur Rasul-Nya, "Apa yang memberitahukan kepadamu tentang keadaan orang buta ini? Boleh jadi ia ingin membersihkan dirinya dengan ajaran yang kamu berikan kepadanya atau ingin bermanfaat bagi dirinya dan ia mendapat keridaan Allah, sedangkan pengajaran itu belum tentu bermanfaat bagi orang-orang kafir Quraisy yang sedang kamu hadapi itu.".
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH ABASA
(BERMUKA MASAM)
SURAH KE-80, 42 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
KITAB YANG MERUPAKAN CINTA
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
Menurut sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, “Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib, dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam, agar mereka sudi beriman; di waktu itu masuklah seorang laki-laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum. Dia masuk ke dalam majelis dengan lengan meraba-raba. Sejenak Rasulullah terhenti bicara, orang buta itu memohon kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat Al-Qur'an. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu, kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataan orang itu itu seakan-akan tidak beliau dengarkan, dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut.
Setelah selesai semuanya itu dan beliau akan mulai kembali kepada keluarganya, turunlah ayat ini, “Dia bermuka masam dan berpaling."Setelah ayat itu turun sadarlah Rasulullah ﷺ akan kekhilafannya. Beliau segera hadapi Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta, dan dia pun sejak itu menjadi salah seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah ﷺ Di mana saja bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum, beliau menunjukkan muka jernih berseri kepadanya, dan kadang-kadang beliau katakan, “Hai orang yang telah menjadi sebab satu kumpulan ayat turun dari langit kepadaku."
Ibnu Ummi Maktum adalah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal. Satu-satunya orang buta yang turut hijrah bersama para sahabat ke Madinah. Satu-satunya orang buta yang dua tiga kali diangkat Rasulullah ﷺ menjadi wakilnya menjadi imam di Madinah ketika beliau bepergian keluar kota untuk waktu agak lama. Ibu dari Ibnu Ummi Maktum adalah saudara kandung dari ibu yang melahirkan Siti Khadijah, istri Rasulullah ﷺ Dan setelah di Madinah, beliau pun menjadi salah seorang muadzin yang diangkat Rasulullah ﷺ di samping Bilal.
Ayat 1
“Dia bermuka masam dan berpaling." (ayat 1)
Ayat 2
“Lantaran datang kepadanya orang buta itu" (ayat 2)
Ayat 3
“Padahal adakah yang engkau tahu, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)" (ayat 3) Dalam ketiga ayat ini ahli-ahli bahasa yang mendalami isi Al-Qur'an merasakan benar-benar betapa mulia dan tinggi susun bahasa wahyu itu kepada Rasul-Nya. Beliau disadarkan dengan halus supaya jangan sampai bermuka masam kepada orang yang datang bertanya; hendaklah bermuka manis terus, sehingga orang-orang yang tengah dididik itu merasa bahwa dirinya dihargai.
Pada ayat 1 dan 2 kita melihat bahwa kepada Rasulullah tidaklah dipakai bahasa berhadapan, misalnya, “Mengapa engkau bermuka masam, mentang-mentang yang datang itu orang buta?" Dan tidak pula bersifat larangan, “Jangan engkau bermuka masam dan berpaling." Karena dengan susunan kata larangan, teguran itu menjadi lebih keras. Tidak layak dilakukan kepada orang yang Allah sendiri menghormatinya! Allah tidak memakai perkataan yang keras susunannya kepada Rasul-Nya. Melainkan dibahasakannya Rasul-Nya sebagai orang ketiga, menurut ilmu pemakaian bahasa. Dengan membahasakan sebagai orang ketiga, ucapan itu menjadi lebih halus. Apatah lagi dalam hal ini Rasulullah tidaklah membuat suatu kesalahan yang disengaja atau yang mencolok mata.
Apalah lagi Ibnu Ummi Maktum anak saudara perempuan beliau, bukan orang lain bahkan terhitung anak beliau juga. Di ayat 3 barulah Allah menghadapkan firman-Nya terhadap Rasul sebagai orang kedua dengan ucapan engkau atau kamu, “Padahal adakah yang engkau tahu, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (daridosa)" Kalimat ini pun, walaupun terhadap orang kedua, susunannya pun halus. Memang belum ada orang yang memberitahu lebih dahulu bahwa Ibnu Ummi Maktum itu di belakang hari akan menjadi orang yang sangat penting, yang benar telah dapat menyucikan dirinya. Allah pun di dalam ayat ini memakai bahasa halus memberitahukan bahwa Ibnu Ummi Maktum itu kelak akan jadi orang yang saleh, dengan membayangkan dalam kata halus, bahwa pada masanya belum ada agaknya orang yang mengatakan itu kepada Nabi ﷺ
Apakah perbuatan Nabi ﷺ bermuka masam itu satu kesalahan besar atau dosa? Ini terkait dengan ijtihad. Menurut ijtihad Nabi ﷺ orang-orang penting pemuka Quraisy itu hendak diseru kepada Islam dengan sungguh-sungguh. Kalau orang-orang semacam Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Abbas bin Abdul Muthalib mau masuk Islam, berpuluh orang di belakang mereka akan mengikut. Payah-payah sedikit menghadapi mereka tidak mengapa. Masuknya Ibnu Ummi Maktum ke dalam majelis itu beliau rasa agak mengganggu usaha dakwah yang sedang beliau lakukan. Sedang Ibnu Ummi Maktum itu orang yang sudah Islam juga.
Ayat 4
“Atau dia akan ingat, lalu memberi manfaat kepadanya ingatnya itu?" (ayat 4) Dengan kedua ayat ini Rasulullah ﷺ diberi ingat oleh Allah, bahwa Ibnu Ummi Maktum itu lebih besar harapan akan berkembang lagi menjadi seorang insan yang saleh, seseorang yang bersih hatinya, walaupun dia buta. Karena meskipun mata buta, kalau jiwa bersih, kebutaan tidaklah akan menghambat kemajuan iman seseorang.
Bayangan yang sehalus itu dari Allah terhadap seorang yang cacat jasmani, dalam keadaan buta, tetapi dapat lebih maju dalam iman, adalah satu pujian bagi Ibnu Ummi Maktum pada khususnya, dan sekalian orang buta pada umumnya. Dan orang pun melihat sejarah gemilang Ibnu Ummi Maktum, sehingga tersebut di dalam sebuah riwayat dari Qatadah, yang diterimanya dari Anas bin Malik, bahwa di zaman pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, Anas melihat dengan matanya sendiri, Ibnu Ummi Maktum turut dalam peperangan hebat di Qadisiyah, ketika penaklukan negeri Persia, di bawah pimpinan Sa'ad bin Abu Waqqash.
Ayat 5
“Adapun (terhadap) orang yang merasa diri cukup." (ayat 5) Yaitu orang yang merasa dirinya sudah pintar, tidak perlu diajari lagi, atau yang merasa dirinya kaya sehingga merasa rendah kalau menerima ajaran dari orang yang dianggapnya miskin, atau merasa dirinya sedang berkuasa sehingga marah kalau mendengar kritik dari rakyat yang dipandangnya rendah.
Ayat 6
“Maka engkau menghadapkan (perhatian) kepadanya." (ayat 6)
Itulah suatu ijtihad yang salah, meskipun maksud baik! Orang-orang yang merasa dirinya telah cukup itu memandang enteng segala nasihat. Pekerjaan besar, revolusi-revolusi besar, perjuangan-perjuangan yang hebat, tidaklah dimulai oleh orang-orang yang telah merasa cukup. Biasanya orang yang seperti demikian datangnya ialah saat kemudian, setelah melihat pekerjaan orang telah berhasil.
Ayat 7
“Padahal, apalah rugimu kalau dia tidak mau suci." (ayat 7) Padahal sebaliknyalah yang akan terjadi, sebab dengan menunggu-nunggu orang-orang seperti itu waktu akan banyak terbuang. Karena mereka masuk ke dalam perjuangan lebih dahulu akan memperkajikan, berapa keuntungan materi yang akan didapatnya. Di dalam ayat ini Allah telah melukiskan, bahwa engkau tidaklah akan rugi kalau orang itu tidak mau menempuh jalan kesucian. Yang akan rugi hanya mereka sendiri, karena masih bertahan dalam penyembahan berhala.
Ayat 8
“Dan adapun orang yang datang kepadamu berjalan cepat." (ayat 8) Kadang-kadang datang dari tempat yang jauh-jauh, sengaja hanya hendak mengetahui hakikat ajaran agama, atau berjalan kaki karena miskin tidak mempunyai kendaraan sendiri.
Ayat 9
“Dan dia pun dalam rasa takut." (ayat 9) Karena iman mulai tumbuh.
Ayat 10
“Maka engkau terhadapnya berlengah-lengah." (ayat 10)
Sejak teguran ini Rasulullah ﷺ mengubah taktiknya yang lama. Lebih-lebih terhadap orang-orang baru yang datang dari kampung-kampung yang jauh, yang disebut orang ‘Awali, atau orang Badawi, atau yang disebut Arab pedalaman. Malahan sesampai di Madinah pernah si orang kampung yang belum tahu peradaban itu memancarkan kencingnya di dalam masjid, sehingga sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ marah kepada orang itu. Lalu dengan lemah lembutnya Rasulullah bersabda, “Jangan dia dimarahi, cari saja setimpa air, lalu siram baik-baik," Maka datanglah satu Ukhuwwah Islamiyah dan satu penghormatan yang baik di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ itu, karena teguran halus yang datang dari Allah.
Tafsir of Surah Abasa
The Prophet being reprimanded because He frowned at a Weak Man
More than one of the scholars of Tafsir mentioned that one day the Messenger of Allah was addressing one of the great leaders of the Quraysh while hoping that he would accept Islam. While he was speaking in direct conversation with him, Ibn Umm Maktum came to him, and he was of those who had accepted Islam in its earliest days. He (Ibn Umm Maktum) then began asking the Messenger of Allah about something, urgently beseeching him. The Prophet hoped that the man would be guided, so he asked Ibn Umm Maktum to wait for a moment so he could complete his conversation. He frowned in the face of Ibn Umm Maktum and turned away from him in order to face the other man. Thus, Allah revealed,
عَبَسَ وَتَوَلَّى
أَن جَاءهُ الاَعْمَى
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى
He frowned and turned away. Because there came to him the blind man. And how can you know that he might become pure?
meaning, he may attain purification and cleanliness in his soul.
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَى
Or he might receive admonition, and the admonition might profit him?
meaning, he may receive admonition and abstain from the forbidden.
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى
فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّى
As for him who thinks himself self-sufficient. To him you attend;
meaning, `you face the rich person so that perhaps he may be guided.'
وَمَا عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى
What does it matter to you if he will not become pure?
meaning, `you are not responsible for him if he does not attain purification.'
وَأَمَّا مَن جَاءكَ يَسْعَى
وَهُوَ يَخْشَى
But as for him who came to you running. And is afraid.
meaning, `he is seeking you and he comes to you so that he may be guided by what you say to him.'
فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّى
Of him you are neglectful and divert your attention to another.
meaning, `you are too busy.'
Here Allah commands His Messenger to not single anyone out with the warning. Rather, he should equal warn the noble and the weak, the poor and the rich, the master and the slave, the men and the women, the young and the old. Then Allah will guide whomever He chooses to a path that is straight. He has the profound wisdom and the decisive proof.
Abu Ya`la and Ibn Jarir both recorded from Aishah that she said about,
عَبَسَ وَتَوَلَّى
(He frowned and turned away), was revealed.
At-Tirmidhi recorded this Hadith but he did not mention that it was narrated by Aishah.
I say it is reported like this in Al-Muwatta' as well.
The Characteristics of the Qur'an
Allah says,
كَلَّ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
Nay; indeed it is an admonition.
meaning, this Surah, or this advice in conveying knowledge equally among people, whether they are of noble or low class.
Qatadah and As-Suddi both said,
كَلَّ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
This means the Qur'an.
فَمَن شَاء ذَكَرَهُ
So, whoever wills, let him pay attention to Him (it).
meaning, so whoever wills, he remembers Allah in all of his affairs.
The pronoun could also be understood to be referring to the revelation since the conversation is alluding to it.
Allah said:
فِي صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ
مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ
In Records held in honor, exalted, purified.
meaning, this Surah or this admonition. Both meanings are connected to each other. Actually, all of the Qur'an is in honored pages, meaning respected and revered.
مَّرْفُوعَةٍ
exalted,
meaning, elevated in status.
مُّطَهَّرَةٍ
purified,
meaning, from impurity, additions and deficiency.
Concerning Allah's statement,
بِأَيْدِي سَفَرَةٍ
In the hands of ambassadors (Safarah),
Ibn Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, and Ibn Zayd, all said,
These are the angels.
Al-Bukhari said,
Safarah (ambassadors) refers to the angels. They travel around rectifying matters between themselves. The angels when they descend with the revelation of Allah, bringing it like the ambassador who rectifies matters between people.
Allah said,
كِرَامٍ بَرَرَةٍ
Honorable and obedient.
meaning, they are noble, handsome, and honorable in their creation. Their character and their deeds are righteous, pure and perfect.
Here it should be noted that it is necessary for one who carries the Qur'an (i.e., the angel) to be following righteousness and guidance.
Imam Ahmad recorded from Aishah that the Messenger of Allah said,
الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْانَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَوُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَان
He who recites the Qur'an proficiently, will be with the noble, righteous, ambassador angels, and the one who recites it with difficulty will receive two rewards.
This Hadith was reported by the group of scholars.
And how would you know? Perhaps he would cleanse himself (yazzakkaa: the original taa' [of yatazakkaa] has been assimilated with the zaay), that is, [perhaps] he would purge himself of sins by what he hears from you,
لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ (May be, [ if you had attended him properly,] he would have attained purity, or have taken to the advice, and the advice would have benefited him....80:3-4).
In other words, because Sayyidna ` Abdullah Ibn Umm Maktum ؓ was a genuine believer, any advice given to him would have benefited him and served to purify him. The companion sought enlightenment and its benefit was certain. If the Holy Prophet ﷺ enlightened him on the topic, he would have purified himself and attained perfection. If that did not happen, he would have at least attained the basic benefit of Divine remembrance. He would have improved the love and fear of Allah in his heart. The word dhikra means 'to remember Allah abundantly' [ Sihah ].1
(1) This interpretation is based on taking the word 'dhikra' in the sense of remembrance of Allah'. However, some other exegetes have taken this word to mean 'advice', and the translation of the text, as well as the explanation following in the next paragraph, is based on it. (Muhammad Taqi Usmani)
On this occasion, the Qur’ an has used two sentences yazzakka and yazzakkaru. The first statement signifies 'to be purified' and the second statement signifies 'he may take heed and the reminder may benefit him'. The first stage is that of the 'righteous' who cleanse their inner and outer selves. The second stage is that of mubtadi 'beginners on the spiritual journey'. At this stage, the beginner is reminded of Allah which enhances the greatness and awe of Allah in his heart. The two sentences are disjoined by disjunctive particle sau (or) and technically they are not necessarily exclusive to one another. The sense is that` Abdullah Ibn Umm Maktum ؓ would have attained either both benefits, or at least, the second one, that is, increase in Allah's remembrance and in His awe, which is the initial step towards perfection
An Important Qur’ anic Principle of Teaching and Preaching
On this occasion, the Holy Prophet ﷺ was faced with two different requirements at the same time. On the one hand, he was required to teach a Muslim and to encourage him on attaining perfection. On the other hand, he had to provide guidance to non-Muslims. The principle laid down here makes it clear that the first requirement takes priority over the second one. It is improper to delay the first task (educating Muslims) because of the second task. This indicates that education of Muslims and their reform are more important than, and take priority over, getting the non-Muslims to embrace the faith.
Scholars should avoid any such indulgence when disposing of any doubts of the non-Muslims, which may create doubts or complaints in the minds of the general body of Muslims. The teachers, preachers and reformers need to keep in mind these Qur’ anic guidelines to maintain the welfare and priority of the Muslims. How beautifully Akbar Allahabadi, the Urdu poet, versifies this principle:
بے وفا سمجھیں تمہیں اہل حرم اس سے بچو دیر والے کج ادا کہ دیں یہ بدنامی بھلی
'Protect yourselves from a position where people of the Haram (Muslims) call you unfaithful.
As opposed to this, if People of temple [ non-Muslims ] call you 'ill-mannered', (because of your faithfulness to your religion), this dishonor is better.
The following verses clarify the principles more elaborately:
أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ فَأَنتَ لَهُ تَصَدَّىٰ (As for the one who does not care [ about faith ], you are anxious to pursue him!...80:5-6).
In other words: 'Those who turn away from you and your religion, you are pursuing them under the hope that somehow they should become Muslims, while this is not your responsibility. If they do not embrace the faith, there will be no blame on you.
Thereafter, in verses 13 and 14, Allah Almighty has described the high status of the Holy Qur’ an, thus: