Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
وَٱلنَّـٰزِعَٰتِ
demi yang mencabut
غَرۡقٗا
dengan keras
وَٱلنَّـٰزِعَٰتِ
demi yang mencabut
غَرۡقٗا
dengan keras
Terjemahan
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.
Tafsir
An-Naazi'aat (Malaikat Pencabut Nyawa)
(Demi yang mencabut nyawa) atau demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa orang-orang kafir (dengan keras) atau mencabutnya dengan kasar.
Tafsir Surat An-Nazi'at: 1-14
Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan lemah lembut, dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut, pandangannya tunduk. (Orang-orang kafir) berkata, 'Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat? Mereka berkata, "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan. Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.
Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Masruq, Sa'id ibnu Jubair, Abu Saleh, dan Abud Dulia serta As-Suddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. (An-Nazi'at: 1) Yakni para malaikat saat mencabut arwah Bani Adam. Maka di antara mereka ada yang mencabut rohnya dengan sulit, akhirnya ia'mencabutnya dengan paksa; dan di antara mereka ada yang mencabutnya dengan mudah seakan-akan melolos sesuatu yang mudah, dan inilah yang dimaksud oleh firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut. (An-Nazi'at: 2)Demikianlah menurut Ibnu Abbas. Telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna an-nazi'at, bahwa yang dimaksud adalah arwah orang-orang kafir yang dicabut dengan paksa, kemudian dibenamkan di dalam neraka; demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. (An-Nazi'at: 1)Bahwa makna yang dimaksud ialah kematian. Al-Hasan Al-Basri mengatakan juga Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya.: Demi (malaikat-malaikat) yog mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut. (An-Nazi'at: 1-2) Bahwa makna yang dimaksud ialah bintang-bintang. ‘Atha’ ibnu Abu Rabah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "An-Nazi'at" dan "an-nasyitat" bahwa makna yang dimaksud ialah busur yang dipakai dalam peperangan. Tetapi pendapat yang shahih adalah yang pertama dan dikatakan oleh kebanyakan ulama. Adapun mengenai firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. (An-Nazi'at: 3) Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat.
Telah diriwayatkan pula dari Ali, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Abu Saleh hal yang semisal. Dan telah diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. (An-Nazi'at: 3) Yakni maut alias kematian, Qatadah mengatakan bintang-bintang, ‘Atha’ ibnu Abu Rabah mengatakan perahu (kapal-kapal laut). Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang. (An-Nazi'at: 4) Telah diriwayatkan dari Ali, Masruq, Mujahid, dan Abu Saleh serta Al-Hasan Al-Basri, bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat; Al-Hasan mengatakan bahwa para malaikat lebih dahulu beriman dan membenarkan Allah subhanahu wa ta’ala Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa makna yang dimaksud ialah kematian; Qatadah mengatakan bintang-bintang, sedangkan ‘Atha’ mengatakan kuda yang dipakai untuk berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan dunia. (An-Nazi'at: 5) Mujahid, ‘Atha’, Abu Saleh, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi ibnu Anas, dan As-Suddi mengatakan para malaikat.
Al-Hasan menambahkan, yaitu para malaikat yang mengatur urusan dunia dari langit, yakni dengan perintah dari Tuhannya, dan mereka tidak membuat-buatnya dalam urusan ini. Tetapi sikap Ibnu Jarir tidak memutuskan dengan salah satu dari pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas, melainkan hanya dia meriwayatkan sehubungan dengan makna mudabbirati amran, bahwa makna yang dimaksud adalah para malaikat.
Kemudian ia tidak menguatkan pendapat ini dan tidak pula menyanggahnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. (An-Nazi'at: 6-7) Ibnu Abbas mengatakan bahwa keduanya adalah tiupan sangkakala, yaitu tiupan yang pertama dan tiupan yang kedua. Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Adh-Dhahhak serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Telah diriwayatkan dari Mujahid bahwa adapun tiupan yang pertama disebutkan oleh firman-Nya: (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam. (An-Nazi'at: 6) Maka semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Pada hari bumi dan gunung-gunung berguncangan. (Al-Muzzammil: 14) Sedangkan tiupan yang kedua dinamakan radifah, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. (Al-Haqqah: 14) ". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari AbutTufail ibnu Ubay Ka'b, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tiupan pertama yang mengguncangkan dilakukan, lalu diiringi dengan tiupan yang kedua, maka datanglah maut berikut segala sesuatunya.
Maka seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu jika aku jadikan semua salawatku untukmu?" Rasulullah ﷺ menjawab: Kalau begitu, Allah akan menghindarkanmu dari semua kesusahan dunia dan akhiratmu. Imam At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal yang semisal melalui Sufyan Ats-Tsauri berikut dengan sanad yang sama. Lafal Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Abu Hatim menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila telah berlalu dua pertiga malam, beliau berdiri, lalu bersabda: Wahai manusia, ingallah kepada Allah, tiupan pertama yang mengguncangkan (akan) datang yang diiringi dengan tiupan yang kedua, maka datanglah maut berikut segala sesuatunya.
Firman Allah ﷻ: Hati manusia pada waktu itu sangat takut. (An-Nazi'at: 8) Ibnu Abbas mengatakan bahwa wajifah artinya takut. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah. pandangannya tunduk. (An-Nazi'at: 9) Yakni pandangan mata orang-orang yang mengalaminya tunduk. Sesungguhnya kata kerja di sini dikaitkan dengan pandangan mata, mengingat ia menunjukkan gejala kejiwaan yang dialami oleh pelakunya. Makna yang dimaksud ialah mereka tampak hina dan rendah karena menyaksikan huru-hara yang mengerikan lagi sangat menakutkan di hari (kiamat) itu.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: (Orang-orang kafir) berkata, "Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? (An-Nazi'at: 10) Yaitu orang-orang musyrik Quraisy dan orang-orang yang sependapat dengan mereka yang mengingkari adanya hari berbangkit dan tidak percaya bahwa mereka akan dihidupkan kembali sesudah mereka dimasukkan ke dalam Liang kuburnya. Demikianlah menurut Mujahid. Mereka tidak percaya bahwa mereka akan dihidupkan kembali, padahal tubuh mereka telah hancur dan tulang belulang mereka sudah berantakan.
Karena itulah mereka mengatakan, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya: Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat? (An-Nazi'at: 11) Qiraat lain ada yang membacanya "naakhirah". Ibnu Abbas, Mujahid dan Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sudah lapuk. Menurut Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah tulang yang lapuk dan rapuh serta angin dapat masuk ke dalam rongga-rongganya. Mereka berkata, "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan. (An-Nazi'at: 12) Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka'b, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Abu Malik, As-Suddi, dan Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan al-hafirah ialah kehidupan sesudah mati.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-hafirah ialah neraka, dan betapa banyaknya nama neraka itu; neraka disebut pula dengan nama Jahim, Saqar, Jahanam, Hawiyah, Hafirah, Laza, dan Hutamah. Adapun mengenai ucapan mereka yang disebutkan oleh firman-Nya: Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan. (An-Nazi'at: 12) Muhammad ibnu Ka'b mengatakan bahwa orang-orang musyrik Quraisy mengatakan, "Sesungguhnya jika Allah menghidupkan kami kembali sesudah kami mati, berarti kami benar-benar merugi." Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An-Nazi'at: 13-14) Yakni sesungguhnya kebangkitan itu hanyalah merupakan suatu perintah dari Allah yang tidak perlu ada pengulangan atau pengukuhan.
Maka begitu Allah memerintahkannya, dengan serta merta semua manusia hidup kembali dan berdiri serta melihat. Allah tinggal memerintahkan kepada Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala, maka ditiuplah olehnya tiupan berbangkit (untuk menghidupkan semua makhluk), lalu dengan tiba-tiba seketika itu juga semua orang yang terdahulu dan yang terkemudian hidup kembali berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala seraya melihat. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala: yaitu pada hari Dia memanggil kalian, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja. (Al-Isra: 52) Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (Al-Qamar: 50) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). (An-Nahl: 77) Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja. (An-Nazi'at: 13) Yakni sekali teriakan.
Ibrahim At-Taimi mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sangat murka terhadap makhluk-Nya saat Dia menghidupkan mereka kembali. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah teriakan kemurkaan. Abu Malik dan Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa makna zajratun wahidah ialah tiupan yang terakhir. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An-Nazi'at: 14) Ibnu Abbas mengatakan bahwa as-sahirah artinya bumi seluruhnya. Hal yang sama dikatakan oleh Said ibnu Jubair, Qatadah, dan Abu Saleh.
Ikrimah, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa as-sahirah artinya permukaan bumi. Mujahid mengatakan bahwa pada mulanya mereka berada di perut bumi lalu dikeluarkan di pemiukaannya. Mujahid mengatakan pula bahwa as-sahirah artinya tempat yang datar lagi rata. Ats-Tsauri mengatakan, as-sahirah artinya negeri Syam. Usman ibnu Abul Atikah mengatakan bahwa as-sahirah artinya tanah Baitul Maqdis, Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa as-sahirah adalah sebuah gunung yang berada di sebelah Baitul Maqdis.
Qatadah mengatakan bahwa as-sahirah artinya Jahanam. Semua pendapat tersebut gharib, tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa as-sahirah artinya permukaan bumi. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Husain, telah menceritakan kepada kami Hirzu ibnul Mubarak seorang syekh yang saleh, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnus Sirri, telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnu Sabit, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa'd As-Sa'idi sehubungan dengan firman-Nya: maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An-Nazi'at: 14) Bahwa yang dimaksud adalah bumi yang berwarna putih tanahnya seperti adonan roti yang bersih.
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (An-Nazi'at: 14) Yang dimaksud dengan bumi di sini adalah seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semua (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Ibrahim: 48) Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi. (Thaha: 105-107) Dan firman Allah ﷻ: Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar. (Al-Kahfi:47) Bumi yang tadinya menjadi tempat gunung-gunung ditampakkan menjadi tanah yang datar.
Bumi tersebut bukanlah seperti bumi kita sekarang, melainkan bumi lain yang belum pernah dikerjakan suatu dosa pun di atas permukaannya dan belum pernah dialirkan setetes darah pun padanya.".
1-5. Allah memulai surah ini dengan sumpah demi malaikat yang diberiNya tugas berat. Di antara tujuannya adalah agar manusia menghayati peran-peran tersebut dalam kehidupan. Demi malaikat yang mencabut nyawa kaum kafir dengan keras dan kasar sebagai tanda kegeraman para malaikat itu terhadap mereka. Demi malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan halus dan lemah lembut sebagai tanda simpati para malaikat itu kepada mereka. Malaikat mencabut nyawa mereka sambil berkata, 'Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. ' Demi malaikat yang turun dari langit dengan cepat untuk melaksanakan tugas dari Allah sembari selalu bertasbih menyucikan Allah dan mengagungkanNya sepanjang waktu, dan demi malaikat yang mendahului yang lain dengan kencang, cepat, dan cekatan untuk melakukan tugas-tugasnya tanpa mengulur waktu, dan demi malaikat yang mengatur urusan dunia, seperti pengisaran angin, turunnya hujan, dan sebagainya sesuai perintah Allah. 1-5. Allah memulai surah ini dengan sumpah demi malaikat yang diberiNya tugas berat. Di antara tujuannya adalah agar manusia menghayati peran-peran tersebut dalam kehidupan. Demi malaikat yang mencabut nyawa kaum kafir dengan keras dan kasar sebagai tanda kegeraman para malaikat itu terhadap mereka. Demi malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan halus dan lemah lembut sebagai tanda simpati para malaikat itu kepada mereka. Malaikat mencabut nyawa mereka sambil berkata, 'Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. ' Demi malaikat yang turun dari langit dengan cepat untuk melaksanakan tugas dari Allah sembari selalu bertasbih menyucikan Allah dan mengagungkanNya sepanjang waktu, dan demi malaikat yang mendahului yang lain dengan kencang, cepat, dan cekatan untuk melakukan tugas-tugasnya tanpa mengulur waktu, dan demi malaikat yang mengatur urusan dunia, seperti pengisaran angin, turunnya hujan, dan sebagainya sesuai perintah Allah.
Pada ayat-ayat ini, Allah berfirman dalam bentuk sumpah terhadap beberapa malaikat yang mencabut nyawa manusia dengan keras dan juga kepada para malaikat yang mencabut nyawa manusia dengan lemah-lembut. Hal ini dalam rangka menegaskan adanya hari kebangkitan yang diingkari orang-orang musyrik. Ayat-ayat selanjutnya yang juga dalam bentuk kalimat-kalimat sumpah kepada para malaikat yang turun dari langit dengan cepat sambil membawa perintah Allah. Bahkan Allah bersumpah kepada para malaikat yang mendahului malaikat yang lain dengan kencang, serta para malaikat yang mengatur dunia.
Firman-firman dalam bentuk sumpah ini banyak terdapat pada surah-surah Makkiyyah karena banyak orang-orang musyrik menolak dan mengingkari hari kebangkitan, seperti pada Surah as-saffat/37: 1-4:
Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, demi (rombongan) yang mencegah dengan sungguh-sungguh, demi (rombongan) yang membacakan peringatan, sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa. (as-saffat/37: 1-4)
Adapun jawab qasam (isi dari sumpah) pada awal Surah an-Nazi'at ini terdapat dalam ayat 6, yaitu sungguh pada saat alam berguncang ketika tiupan sangkakala pertama, semuanya rusak dan hancur.
Tiupan sangkakala yang pertama itu kemudian diikuti oleh tiupan kedua yang membangkitkan manusia dari kuburnya. Inilah hari Kiamat dalam arti yang sebenarnya.
Ayat-ayat permulaan pada Surah an-Nazi'at ini oleh jumhur mufasir dipahami sebagai sumpah-sumpah kepada para malaikat. Akan tetapi, ada mufasir lain, seperti Ahmad Musthafa al-Maragi, yang memahami sumpah ini bukan kepada para malaikat, tetapi kepada bintang-bintang yang beredar menurut aturan tertentu, seperti matahari, bulan, dan planet-planet yang lain. Dalam tafsir al-MarAgi, ayat-ayat ini dipahami sebagai bintang-bintang yang sigap dan cepat jalannya, cahaya-cahaya yang keluar dari bintang ke bintang, dan bintang-bintang yang jalannya cepat dari bintang-bintang yang lain.
Adapun tentang pemahaman jawab qasam-nya sama dengan pendapat jumhur mufasir.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH AN-NAZI'AAT
Nazi aat
(YANG MENCABUT)
SURAH KE-79, 46 AYAT, DITURUNKAN DI MEKAH
(AYAT 1 -46)
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
Ayat 1
“Demi yang mencabut cepat." (ayat 1)
Perkataan-perkataan yang dalam dan tangkas ini ditafsirkan oleh berbagai ahli-ahli tafsir. Jangankan tafsir-tafsir lama, sedangkan tafsir Indonesia yang dikarang di zaman kita ini pun berbeda menafsirkannya, menurut pilihan para ahli masing-masing, sesuai paham yang diyakini.
1. A. Hassan dalam al-Furqan mengartikan ayat-ayat ini ialah tentang keadaan bintang-bintang di langit. Sebab itu ayat yang pertama beliau artikan, “Perhatikanlah (bintang-bintang) yang beralih dengan cepat." (al-Furqan, hlm. 1176).
2. H. Zainuddin Hamidi dan Fakhruddin Hs. mengartikannya, “Demi (perhatikan) yang mencabut dengan keras." (Tafsir Al-Qur'an, hlm. 887).
3. Panitia Kementerian Agama dalam Al-Qur'an dan Terjemahannya mengartikan ayat pertama, “Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan keras." (Al-Qur'an dan Terjemahannya, him. 1019).
4. Al-Qasimi mengatakan dalam tafsirnya (jilid 17, 60443), arti ayat pertama itu ialah Tentara-tentara penyerbu negeri musuh (ghu-zaat) atau tangan mereka.
5. Al-Qasimi menyalinkan pula penafsiran ad-Darimi, “Pahlawan menyerbu negeri musuh dengan mencabut anak panah dan melayanglah anak panah itu dari busurnya dengan cepat sekali."
6. Menurut Ibnu Katsir, “Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas (keduanya sahabat Rasulullah ﷺ), Masruq, Said bin Jubair, Abu Saleh, Abudh-Dhuha dan as-Suddi menafsirkan bahwa yang dimaksud di ayat ini ialah malaikat-malaikat pencabut nyawa anak Adam jika datang waktunya.
Al-Qasimi mengakui perbedaan tafsir-tafsir itu, lalu beliau berkata, “Lafazh-lafazh yang mulia itu amat luas meliputi segala makna, dengan tak usah ada pertentangan. Tidaklah mungkin dipastikan satu tafsir saja, karena tidak ada hukum untuk memutuskan." Ibnu Jarir berkata dalam tafsirnya, “Yang benar di sisiku ialah bahwa Allah Ta'aala telah bersumpah dengan banyak hal yang dapat mencabut cepat lalu tenggelam, dan Dia tidak menentukan pencabutan yang mana dan tenggelam yang mana. Sebab itu segala hal yang bisa mencabut cepat dan menenggelamkan, masuklah ke dalamnya; baik malaikat-malaikat atau bintang-bintang, ataupun panah dicabut dari busurnya lalu melayang dengan cepatnya, tenggelam pada sasaran; ataupun yang lain. Mana yang sifatnya begitu, masuklah di dalamnya." Berdasar kepada jalan luas yang dibuka, dapatlah kita pakai semuanya itu.
Ayat 2
Dan ada yang selalu berpindah dari satu bagian alam kepada bagian alam yang lain, guna membagi-bagikan hujan dan panas dan peredaran musim, sebagai maksud dari
“Dan yang selalu berpindah." (ayat 2)
Ayat 3
Ada yang beredar lekas, sebagai maksud dari
“Dan yang beredar lekas." (ayat 3)
Ayat 4
Yang berganti datang ke dunia menjaga amalan manusia, dan ada yang berlomba laju, sebagai maksud dari
“Maka yang berlomba laju." (ayat 4)
Sehingga sehari dalam perhitungan kecepatan malaikat itu sama dengan 50.000 tahun perhitungan kita manusia (surah al-Ma'aarij, ayat 4) atau sehari hitungan di Hari Akhirat sama dengan 1.000 tahun hitungan kita di sini (surah as-Sajdah, ayat 5).
Ayat 5
Dan ada yang mengatur segala perjalanan itu menurut garis yang ditentukan Allah, sebagai maksud dari
“Maka yang mengatur perintah." (ayat 5)
Ia adalah Malaikat Mikail.
Semuanya ini diambil sebagai sumpah oleh Allah, artinya agar kita perhatikan, guna menambah iman kita. Kalau tafsirnya itu ialah bintang, maka insaflah kita bahwa di atas bumi tempat kita berdiam ini ada lagi bintang-bintang yang lebih besar daripada bumi dan sangat cepat peredarannya; semuanya tunduk kepada ketentuan Allah, dan ada pihak yang diperintah Allah mengaturnya. Kalau yang dimaksud itu ialah malaikat, agar insaflah kita bahwa di samping yang jelas kelihatan di mata ini, ada lagi makhluk-makhluk gaib sebagai tentara Allah, dan tidak seorang pun yang tahu berapa jumlah dan di mana bersembunyi tentara-tentara Allah itu.
Tafsir of Surah An-Naziat
Swearing by Five Characteristics that the Day of Judgement will occur
Ibn Mas`ud, Ibn Abbas, Masruq, Sa`id bin Jubayr, Abu Salih, Abu Ad-Duha and As-Suddi all said,
وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا
By those who pull out, drowning.
These are the angels who remove the souls from the Children of Adam.
Among them are those whose souls are removed by the angels with difficulty, as if he is being drowned during its removal. There are those people whose souls the angels remove with ease, as if they were unraveling him (i.e., his soul from him) due to their briskness.
This is the meaning of Allah's statement,
وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا
By those who free briskly.
This has been mentioned by Ibn Abbas.
In reference to Allah's statement,
وَالسَّابِحَاتِ سَبْحًا
And by the swimmers, swimming.
Ibn Mas`ud said, They are the angels.
Similar statements have been reported from `Ali, Mujahid, Sa`id bin Jubayr, and Abu Salih.
Concerning Allah's statement,
فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا
And by the racers, racing.
It has been narrated from Ali, Masruq, Mujahid, Abu Salih, and Al-Hasan Al-Basri that this means the angels.
Then Allah says,
فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا
And by those who arrange affairs.
Ali, Mujahid, Ata, Abu Salih, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi bin Anas, and As-Suddi all said,
They are the angels.
Al-Hasan added,
They control the affairs from the heaven to the earth, meaning by the command of their Lord, the Mighty and Majestic.
The Description of the Day of Judgement, the People, and what They will say
Then Allah says,
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ
تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ
On the Day the Rajifah shakes, followed by the Radifah.
Ibn Abbas said,
These are the two blasts (of the Trumpet) -- the first and the second.
Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak and others have made similar statements.
It has been reported from Mujahid that he said,
In reference to the first, it is the statement of Allah,
يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ
(On the Day the Rajifah shakes,) This is similar to Allah's statement,
يَوْمَ تَرْجُفُ الاٌّرْضُ وَالْجِبَالُ
On the Day the earth and the mountains shake. (73:14)
The second is Ar-Radifah, and it is like the Allah's statement,
وَحُمِلَتِ الاٌّرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَحِدَةً
And the earth and mountains shall be removed from their places, and crushed with a single crushing. (69:14)
Concerning Allah's statement,
قُلُوبٌ يَوْمَيِذٍ وَاجِفَةٌ
Hearts that Day will tremble.
Ibn `Abbas said, This means afraid.
Mujahid and Qatadah also said this.
أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ
Their vision humiliated.
meaning, the eyes of the people. It means that the eyes will be lowly and disgraced from what they will witness of terrors.
Allah then says,
يَقُولُونَ أَيِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ
They say:Shall we indeed be brought back from Al-Hafirah
meaning, the idolators of the Quraysh and whoever rejects the Hereafter as they did. They consider the occurrence of the resurrection after being placed in Al-Hafirah -- which are the graves -- as something farfetched.
This has been said by Mujahid.
They feel that this is something impossible after the destruction of their physical bodies and the disintegration of their bones and their decaying.
Thus, Allah says,
أَيِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً
Even after we are bones Nakhirah? It has also been recited:(نَاخِرَةً) (Nakhirah)
Ibn `Abbas, Mujahid and Qatadah, all said, This means decayed.
Ibn `Abbas said,
It is the bone when it has decayed and air enters into it.
Concerning their saying,
..
تِلْكَ
إِذاً كَرَّةٌ خَـسِرَةٌ
It would in that case be a return with loss. (79:12)
Muhammad bin Ka`b said that the Quraysh said,
If Allah brings us back to life after we die, then surely we will be losers.
Allah then says,
فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ
فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ
But it will be only a single Zajrah. When behold, they are at As-Sahirah.
meaning, this is a matter that is from Allah that will not occur twice, nor will there be any opportunity to affirm it or verify it. The people will be standing and looking. This will be when Allah commands the angel Israfil to blow into the Sur, which will be the blowing of the resurrection. At that time the first people and the last people will all be standing before their Lord looking.
This is as Allah says,
يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلاَّ قَلِيلً
On the Day when He will call you, and you will answer with His praise and obedience, and you will think that you have stayed but a little while! (17:52)
Allah has also said,
وَمَأ أَمْرُنَأ إِلاَّ وَحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ
And our commandment is but one as the twinkling of an eye. (54:50)
Allah also says,
وَمَأ أَمْرُ السَّاعَةِ إِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ
And the matter of the Hour is not but as a twinkling of the eye, or even nearer. (16:77)
Allah then says,
فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ
When behold, they are at As-Sahirah.
Ibn Abbas said, As-Sahirah means the entire earth.
Sa`id bin Jubayr, Qatadah and Abu Salih have all said this as well.
Ikrimah, Al-Hasan, Ad-Dahhak, and Ibn Zayd have all said,
As-Sahirah means the face of the earth.
Mujahid said,
They will be at its (the earth's) lowest part, and they will be brought out to highest part.
Then he said, As-Sahirah is a level place.
Ar-Rabi` bin Anas said,
فَإِذَا هُم بِالسَّاهِرَةِ
When behold, they are at As-Sahirah. Allah says,
يَوْمَ تُبَدَّلُ الاٌّرْضُ غَيْرَ الاٌّرْضِ وَالسَّمَـوَتُ وَبَرَزُواْ للَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
On the Day when the earth will be changed to another earth and so will be the heavens, and they will appear before Allah, the One, the Irresistible. (14:48)
and He says,
وَيَسْـَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّى نَسْفاً
فَيَذَرُهَا قَاعاً صَفْصَفاً
لااَّ تَرَى فِيهَا عِوَجاً وَلاا أَمْتاً
And they ask you concerning the mountains:
say,
My Lord will blast them and scatter them as particles of dust.
Then He shall leave them as a level smooth plain.
You will see therein nothing crooked or curved. (20:105-107)
and Allah says,
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الاٌّرْضَ بَارِزَةً
And the Day We shall cause the mountains to pass away, and you will see the earth as a leveled plain. (18:47)
and the earth will be brought forth which will have mountains upon it, and it will not be considered from this earth (of this life). It will be an earth that no sin will be performed on it, nor will any blood be shed upon it.'
An-Naazi'aat (Those Who Pull Out)
Meccan, consisting of 46 verses.
By those that wrest, [by] the angels who wrest the souls of disbelievers, violently;
Commentary
وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا (I swear by those [ angels ] who pull out [ the souls of the infidels ] vigorously ...79:1). The word naziat is derived from naz' and it means 'to draw vigorously'. The word gharqan is its corroborative because the word gharq is used here in the sense of ighraq and means 'to exert oneself much or to the utmost extent in the thing'. The Arabic idiom has it اغرق النّازع فی القوس 'He drew the bow with great vigour'. The Surah begins with an oath by certain characteristics of the angels to affirm that the Resurrection is a certainty. The subject of the oath, however, has been contextually deleted. The oath of the angels is probably apt on this occasion because they are all the time involved in the administration and running of the world. They are executing their duties loyally. On the Day of Judgment, all material causes will be severed. Unusual events will occur and the angels will be involved in them.
Five characteristics of the angels are mentioned which are concerned with or related to the extraction of the soul at the time of death. The purport of the verses is to affirm that Resurrection is a certainty. It starts with human death. Every man's death is his partial Day of Doom, and this has an important impact on his belief in Resurrection. The five qualities are as follows:
The first quality of the angels:
وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا I swear by those (angels) who pull out (the souls of the infidels) vigorously.
This refers to the angels of punishment who draw the souls of the infidels vigorously and harshly. The words 'vigorously' refer to spiritual pain. The humans around the dying person may not be sensitive to the pain. Often it is noticed that the soul of an infidel apparently slips out easily, but this ease is perceived by humans around the dying man. The pain is felt by the soul of the dying person. Who can perceive it? We are aware of it only because Allah has informed us about it in this verse.








