ٱلنَّبَأ ٢٣
- لَّـٰبِثِينَ mereka tinggal
- فِيهَآ didalamnya
- أَحۡقَابٗا beberapa lama
Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama,
(Mereka tinggal) lafal Laabitsiina adalah Haal bagi lafal yang tidak disebutkan, yakni telah dipastikan penempatan mereka (di dalamnya berabad-abad) yakni untuk selama-lamanya tanpa ada batasnya; lafal Ahqaaban bentuk jamak dari lafal Huqban.
Tafsir Surat An-Naba': 17-30
Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu; dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia. Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka sungguh-sungguh mendustakan ayat-ayat Kami dengan kedustaan yang sesungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain dari azab.
Ayat 17
Allah ﷻ berfirman, menceritakan tentang Hari Keputusan yaitu hari kiamat bahwa sesungguhnya hari itu telah ditetapkan waktu yang tertentu bagi kejadiannya, tidak diundurkan, dan tidak dikurangi (dimajukan), dan tiada seorang pun yang mengetahui tentang ketetapan waktunya secara tertentu melainkan hanya Allah ﷻ. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan Kami tidaklah mengundurkannya, melainkan sampai waktu tertentu.” (Hud: 104)
Ayat 18
Adapun firman Allah ﷻ: “Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok.” (An-Naba: 18)
Mujahid mengatakan bergelombang-gelombang atau berombongan-rombongan.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah setiap umat datang bersama dengan rasulnya sendiri, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya.” (Al-Isra: 71)
Imam Bukhari sehubungan dengan firman-Nya: “Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok.” (An-Naba: 18) mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-Abumasy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Jarak waktu di antara kedua tiupan adalah empat puluh.” Mereka (para sahabat) bertanya, "Apakah empat puluh hari?” Rasulullah ﷺ menjawab, "Aku tidak mau mengatakannya.” Mereka bertanya, "Apakah empat puluh bulan?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Aku menolak untuk mengatakannya.” Mereka bertanya lagi, "Apakah empat puluh tahun?” Rasulullah ﷺ menjawab, "Aku menolak untuk mengatakannya.” Lalu Rasulullah ﷺ melanjutkan, "Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka bermunculanlah mereka sebagaimana tumbuhnya sayur-mayur. Tiada suatu anggota tubuh pun dari manusia melainkan pasti hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekornya, maka darinyalah makhluk disusun kembali kelak di hari kiamat.”
Ayat 19
Firman Allah ﷻ: “Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu.” (An-Naba: 19)
Yaitu membentuk jalan-jalan atau jalur-jalur untuk turunnya para malaikat.
Ayat 20
“Dan dijalankanlah gunung-gunung, maka menjadi fatamorganalah ia.” (An-Naba: 20)
Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.” (An-Naml: 88). Dan firman-Nya: “Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (Al-Qari'ah: 5). Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
“Maka menjadi falamorganalah ia.” (An-Naba: 20)
Artinya, terbayang oleh orang yang memandangnya seakan-akan gunung itu adalah sesuatu benda, padahal kenyataannya tidaklah demikian; sesudah itu gunung-gunung tersebut lenyap sama sekali tanpa bekas, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ‘Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi’.” (Thaha: 105-107). Dan firman Allah ﷻ: “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar.” (Al-Kahfi: 47).
Ayat 21-22
Adapun firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya neraka Jahanam itu adalah tempat yang telah disediakan.” (An-Naba: 21)
Yaitu tempat yang telah disediakan dan dikhususkan “bagi orang-orang yang melampaui batas.” (An-Naba: 22). Mereka adalah para pembangkang, para pendurhaka yang menentang rasul-rasul Allah.
Ayat 22
“Sebagai tempat kembali (mereka).” (An-Naba: 22)
Yaitu sebagai tempat kembali dan tempat menetap serta tempat mereka berpulang.
Al-Hasan dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah ﷻ: “Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai.” (An-Naba: 21)
Maksudnya, tiada seorang pun yang akan masuk surga melainkan harus melewati neraka. Maka jika ia mempunyai jawaz (paspor), selamatlah ia; dan apabila tidak mempunyainya, maka ia ditahan. Sufyan Ats-Tsauri mengatakan bahwa di atas neraka terdapat tiga buah jembatan.
Ayat 23
Firman Allah ﷻ: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba: 23)
Mereka tinggal di dalam neraka selama berabad-abad, bentuk jamak dari hiqbun, yang artinya suatu masa dari zaman.
Mereka berselisih pendapat tentang lamanya masa ini. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Humaid, dari Mahran, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Ammar Ad-Duhni, darr Salim ibnu Abul Ja'd yang mengatakan bahwa Ali ibnu Abu Thalib pernah bertanya sehubungan dengan penanggalan qamariah hijriah, "Apakah yang kalian jumpai dalam Kitabullah tentang makna al-hiqbu?” Lalu dijawab, "Kami menjumpainya berarti delapan puluh tahun, tiap tahun mengandung dua belas bulan, dan tiap bulan mengandung tiga puluh hari, dan setiap hari lamanya sama dengan seribu tahun."
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Abdullah ibnu Amr, Ibnu Abbas, Sa'id ibnu Jubair, Amr ibnu Maimun, Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan Adh-Dhahhak.
Telah diriwayatkan pula dari Al-Hasan dan As-Suddi, bahwa lamanya tujuh puluh tahun dengan ketentuan yang sama. Telah diriwayatkan dari Abdullah ibnu Amr, bahwa satu hiqbu adalah empat puluh tahun, tiap hari darinya sama lamanya dengan seribu tahun menurut perhitunganmu. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Basyir ibnu Ka'b mengatakan, pernah diceritakan kepadanya bahwa satu hiqbu adalah tiga ratus tahun, dua belas bulan pertahunnya, dan setiap tahunnya mengandung tiga ratus enam puluh hari, dan lama tiap harinya sama dengan seribu tahun.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.
Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Amr ibnu Ali ibnu Abu Bakar Al-Isfidi, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah Al-Fazzari, dari Ja'far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi ﷺ sehubungan dengan makna firman-Nya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba: 23) Bahwa al-hiqbu adalah satu bulannya bulan yang berisikan tiga puluh hari, dan tahunnya berisikan dua belas bulan, dan satu tahunnya berisikan tiga ratus enam puluh hari; setiap harinya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu; maka satu hiqbu adalah tiga puluh ribu tahun.
Hadits ini munkar sekali. Al-Qasim dan orang yang meriwayatkan darinya yaitu Ja'far ibnuz Zubair kedua-duanya haditsnya tidak terpakai.
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mirdas, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Muslim alias Abul Ala yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Sulaiman At-Taimi, "Apakah ada seseorang yang dikeluarkan dari neraka?" Maka ia menjawab bahwa telah menceritakan kepadaku Nafi', dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: “Demi Allah, tiada seorang pun yang dikeluarkan dari neraka sebelum tinggal di dalamnya selama berabad-abad.” Lalu ia menyebutkan bahwa satu hiqbu ialah delapan puluh tahun lebih, setiap tahunnya mengandung tiga ratus enam puluh hari menurut perhitunganmu. Kemudian Sulaiman ibnu Muslim Al-Basri mengatakan bahwa pendapat inilah yang terkenal.
As-Suddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba: 23) Yakni tujuh ratus hiqbu, setiap hiqbu tujuh puluh tahun, setiap tahun tiga ratus enam puluh hari, dan setiap hari sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu.
Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa sesungguhnya ayat ini telah di-mansukh oleh firman Allah ﷻ yang mengatakan: “Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab.” (An-Naba: 30)
Khalid ibnu Ma'dan mengatakan bahwa ayat ini dan firman Allah ﷻ: “Kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).” (Hud: 107) berkenaan dengan ahli tauhid (yang berbuat durhaka); keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Ayat 24
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa dapat pula ditakwilkan bahwa firman Allah ﷻ: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba: 23) berkaitan dengan firman-Nya: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula (mendapat) minuman.” (An-Naba: 24). Kemudian Allah mengadakan lagi bagi mereka sesudahnya azab yang lain yang berbeda dengan azab yang sebelumnya.
Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang shahih mengatakan bahwa azab di neraka itu tiada habis-habisnya, seperti yang dikatakan oleh Qatadah dan Ar-Rabi' ibnu Anas. Yang hal ini telah dikatakannya sebelumnya: Telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdur Rahim Al-Burqi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Salamah, dari Zuhair, dari Salim yang mengatakan bahwa aku mendengar Al-Hasan ditanya tentang makna firman Allah ﷻ: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba: 23). Lalu Al-Hasan menjawab, bahwa makna ahqab tiada bilangannya melainkan hanyalah menunjukkan kekal di dalam neraka. Tetapi jika mereka menyebutkan al-hiqbu adalah tujuh puluh tahun, itu berarti setiap hari darinya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu.
Sa'id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah ﷻ: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba: 23) Yang dimaksud dengan berabad-abad adalah masa yang tiada habis-habisnya, setiap kali habis satu abad datang lagi abad selanjutnya, tanpa ada batasnya.
Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: “Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (An-Naba: 23) Bahwa tiada seorang pun yang mengetahui bilangan masa tersebut kecuali hanya Allah ﷻ. Telah diriwayatkan pula kepada kami bahwa al-hiqbu sama dengan delapan puluh tahun, dan setiap tahunnya mengandung tiga ratus enam puluh hari, sedangkan setiap harinya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu. Kedua pendapat diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Firman Allah ﷻ: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula (mendapat) minuman.” (An-Naba: 24)
Di dalam neraka Jahanam mereka tidak menjumpai hal yang menyejukkan hati mereka, tidak pula menjumpai minuman yang baik buat pengisi perut mereka. Oleh karena itu, maka disebutkan dalam firman berikutnya:
Ayat 25
“Selain air yang mendidih dan nanah.” (An-Naba: 25)
Abul Aliyah mengatakan bahwa ini merupakan lawan kata dari sebelumnya; kesejukan diganti dengan air yang mendidih dan minuman yang enak diganti dengan nanah. Yang dimaksud dengan hamim ialah air yang panasnya telah mencapai puncak didihnya; dan yang dimaksud dengan gassaq ialah campuran dari nanah, keringat, air mata, dan yang keluar dari luka-luka ahli neraka, dinginnya tidak terperikan, dan baunya yang busuk tidak tertahankan. Kami telah menerangkan tentang gassaq ini dalam tafsir surat Sad, hingga tidak perlu diulangi lagi. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut berkat karunia dan kemurahan-Nya.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa suatu pendapat ada yang mengatakan bahwa firman-Nya: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya.” (An-Naba: 24) Yaitu tidak dapat tidur selamanya, seperti yang dikatakan oleh Al-Kindi: “Terasa sejuk olehku moncong wadah minumannya, tetapi rasa kantuk yang menyerang diriku menghalangiku dari mereguknya.”
Yang dimaksud dengan al-bard (dingin) ialah rasa kantuk yang berat. Demikianlah menurut penuturan Ibnu Jarir, tetapi dia tidak menisbatkan syair ini kepada siapa pun.
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya melalui jalur As-Suddi, dari Murrah At-Tayyib; dan ia telah menukilnya pula dari Mujahid. Al-Bagawi telah meriwayatkannya pula dari Abu Ubaidah dan Al-Kisa-i.
Ayat 26
Firman Allah ﷻ: “Sebagai pembalasan yang setimpal.” (An-Naba: 26) Azab yang sedang mereka alami ini merupakan hasil dari amal perbuatan mereka yang rusak selama mereka berada di dunia. Demikianlah menurut Mujahid dan Qatadah serta selain keduanya yang bukan hanya seorang.
Ayat 27
Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan: “Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab.” (An-Naba: 27)
Mereka sama sekali tidak percaya bahwa di alam akhirat ada kehidupan lain yang mereka akan memperoleh balasan amal perbuatannya dan menjalani hisab (perhitungan) amalnya.
Ayat 28
“Dan mereka sungguh-sungguh mendustakan ayat-ayat Kami.” (An-Naba: 28)
Dahulu mereka mendustakan hujah-hujah Allah dan bukti-bukti kebenaran-Nya terhadap makhluk-Nya, yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya, tetapi mereka menyambutnya dengan kedustaan dan keingkaran.
Firman Allah ﷻ: “dengan kedustaan yang sesungguhnya.” (An-Naba: 28)
Yaitu takziban (kedustaan yang sesungguh-sungguhnya), ini merupakan bentuk masdar yang bukan berasal dari fi'il (kata kerja)nya. Ulama Nahwu mengatakan bahwa pernah ada seorang Arab Badui meminta fatwa dari Al-Farra sehubungan dengan tahalul di Marwah, "Apakah memotong rambut yang lebih engkau sukai ataukah mencukurnya pendek-pendek?" Yakni dengan memakai ungkapan al-qissar (sewazan dengan kizzaba). Dan sebagian dari mereka mengucapkan dalam salah satu bait syairnya: "Sesungguhnya telah lama masa yang menghambat dia dari menemaniku dan dari menunaikan keperluannya yang banyak disebabkan keadaanku yang sengsara."
Ayat 29
Firman Allah ﷻ: “Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.” (An-Naba: 29)
Sesungguhnya Kami mengetahui amal perbuatan semua hamba dan Kami telah mencatatkannya atas mereka, maka Kami akan membalaskannya terhadap mereka; jika baik, maka balasannya baik; dan jika buruk, maka balasannya buruk pula.
Ayat 30
Firman Allah ﷻ: “Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab.” (An-Naba: 30)
Yaitu dikatakan kepada penduduk neraka, "Rasakanlah akibat dari perbuatanmu, maka Kami tidak akan menambahkan kepada kalian selain azab yang beraneka ragam."
Qatadah telah meriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Azdi, dari Abdullah ibnu Amr ibnul Asyang mengatakan bahwa tiada suatu ayat pun yang lebih keras bagi ahli neraka selain dari firman-Nya: “Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab.” (An-Naba: 30) Bahwa mereka berada dalam tambahan azab selama-lamanya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muhammad ibnu Mus'ab As-Suri, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Jusr ibnu Farqad, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Barzah Al-Aslami tentang ayat yang paling keras di dalam Kitabullah atas ahli neraka. Maka ia menjawab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: “Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain dari azab.” (An-Naba: 30) Lalu beliau ﷺ bersabda: “Binasalah kaum itu disebabkan perbuatan-perbuatan durhaka mereka kepada Allah ﷻ.” Jusr ibnu Farqad hadisnya lemah sama sekali.
Mereka yang melampaui batas itu tinggal di sana yakni neraka Jahanam dalam masa yang lama. Hanya Allah yang mengetahui berapa
lama mereka akan tinggal di neraka secara pasti. Bagi orang yang menderita, masa yang sebentar akan terasa sangat lama, apalagi jika masa itu benar-benar lama hingga ribuan tahun atau lebih. 24. Mereka mendiami neraka Jahanam dengan penuh penderitaan. Mereka tidak pernah merasakan kesejukan di dalamnya untuk sekadar menikmati udara segar atau keteduhan, dan tidak pula mendapat minuman untuk melepas dahaga yang sangat berat.
Mereka tinggal di dalam neraka dalam waktu yang lama sebagaimana diterangkan pula dalam firman Allah:
Mereka ingin keluar dari neraka, tetapi tidak akan dapat keluar dari sana. Dan mereka mendapat azab yang kekal. (al-Ma'idah/5: 37).
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PENDERITAAN DALAM NERAKA JAHANNAM
Hari Kiamat artinya Hari Berbangkit; dinamai juga Hari Keputusan. Karena pada waktu itulah Allah akan memutuskan perkara tiap-tiap makhluk-Nya; yang baik dan yang buruk. Maka diterangkanlah akibat yang akan diterima oleh hamba Allah yang durhaka.
Ayat 21
“Sesungguhnya neraka Jahannam itu selalu mengawasi." (ayat 21)
Atau selalu menunggu dan memerhatikan orang-orang yang kufur yang akan dilemparkan ke dalamnya.
Ayat 22
“Bagi orang-orang yang durhaka, adalah dia tempat kembali." (ayat 22)
Thaghiin kita artikan saja secara ringkas dengan orang-orang yang durhaka, meskipun isi makna mungkin lebih jauh dari itu. Sebab kata thaghiin itu adalah satu sumber (mashdar) dengan thaghut, yang berarti orang atau barang yang dipuja-puja dan diagung-agungkan, sehingga dia sombong dan berlaku sesuka hati. Sebab itu pula maka diktator atau orang yang bersimaharajalela karena kekuasaan dinamai Thaghiyah. Lantaran itu dapatlah dipahamkan bahwa orang yang thaghiin, yang akan masuk ke dalam neraka Jahannam itu, ialah orang yang hanya memperturutkan kemauan sendiri, tidak mau menuruti aturan Allah dan Rasul-Nya.
Ayat 23
“Akan tinggal mereka di sana beberapa huqub lamanya." (ayat 23)
Arti satu huqub menurut orang Arab ialah sekira delapan puluh tahun. Sekarang dalam ayat ini bertemu kata jamak daripada huquban, yaitu ahqaba. Artinya akan menderitalah orang yang durhaka itu terpendam dalam neraka Jahannam berkali-kali delapan puluh tahun (bukan sekali saja). Atau seperti ditafsirkan oleh al-Qurthubi: Kinayatun ‘anit ta'bid; sebagai ungkapan dari makna kekekalan. Bila telah masuk, payah akan keluar lagi.
Ayat 24
“Tidak mereka akan merasakan dingin di sana."
Artinya ialah panas selalu, tidak sekali jua merasakan dingin.
“Dan tidak ada minuman." (ujung ayat 24)
Artinya bahwa segala minuman yang akan dapat menghilangkan dahaga tidaklah akan diberikan di sana.
Ayat 25
“Kecuali air mendidih dan air luka (nanah)" (ayat 25)
Tentu itu bukan melepaskan haus melainkan menambah adzab.
Ayat 26
“Suatu balasan yang setimpal." (ayat 26)
Ayat 27
“Karena sesungguhnya mereka tidak mengharap kepada perhitungan." (ayat 27)
Mereka tidak mempunyai harapan buat hari depan. Mereka tidak percaya bahwa segala amalan baik ataupun buruk di dunia ini, kelak akan diperhitungkan di hadapan Mahkamah Ilahi. Oleh sebab itu kalau mereka berbuat baik, bukanlah karena mereka mengharapkan mendapat ganjaran pahala dari Allah, dan kalau mereka berbuat yang jahat tidaklah mereka percaya bahwa kejahatannya itu diketahui oleh Allah dan akan diberi siksaan yang setimpal.
Ayat 28
“Dan mereka dustakan ayat-ayat Kami, sebenar-benar mendusta." (ayat 28)
Ayat boleh diartikan perintah Allah yang disampaikan oleh rasul-rasul Allah, sejak daripada Nuh sampai kepada Muhammad ﷺ, si thaghiin tidak juga mau peduli. Dan Al- Qur'an pun tersusun dari 6.236 ayat, itu pun tidak dipercayainya! Sama sekali ayat-ayat Allah itu didustakannya, atau dengan mulutnya, ataupun dengan perbuatannya, atau dengan munafiknya; percaya mulutnya, hatinya tidak. Ini sama sekali adalah mendustakan. Sebenar- benar mendustakan.
Ayat 29
“Padahal tiap-tiap sesuatunya telah Kami kumpulkan di dalam Kitab" (ayat 29)
Ayat ini boleh diartikan dua.
Pertama, tidaklah patut mereka mendustakan karena semuanya telah tertulis dengan jelas. Atau tidak patut mereka mendustakan, karena akal mereka yang murni atau yang dinamai fitrah tidak akan menolak kebenaran dari Allah itu.
Kedua, maknanya ialah bahwa manusia tidak akan dapat mengelakkan diri daripada perhitungan Allah yang sangat teliti di akhirat kelak. Sebab segala sesuatu yang telah dikerjakan oleh manusia, buruknya dan baiknya, semua sudah tertulis di dalam kitab di sisi Allah.
Ayat 30
“Sekarang rasakanlah!"
Yaitu jika datang Hari Pembalasan (Yaumul Jazaa') itu. Di saat itu kelak tidaklah akan dapat manusia berlepas diri lagi.
“Maka tidaklah akan Kami tambahkan lagi, melainkan adzab siksaan jua." (ujung ayat 30)
Artinya, bahwa sesampai di dalam neraka Jahannam itu janganlah mengharap adzab akan dikurangi, melainkan sebaliknyalah yang akan terjadi, yaitu penambahan adzab, berlipat ganda, dan terus-menerus.
Ada orang yang dengan semena-mena mencoba mengguncangkan kepercayaan Islam dengan menyebutkan bahwa ayat-ayat yang seperti ini adalah membuktikan bahwa Allah yang digambarkan oleh orang Islam itu kejam! Seorang Islam yang tidak mengerti serangan yang tengah dilakukan oleh pemeluk agama lain kepada Islam untuk mengguncang iman kaum Muslimin, tidak dapat membantah tuduhan tersebut, lalu merasa pula kalau-kalau Allah itu kejam. Padahal ayat-ayat seperti ini sangat memberikan bukti bahwa Allah itu tidak kejam! Kalau kejam semata-mata kejam, tidaklah akan diperingatkannya kepada hamba-hamba-Nya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, agar hamba-hamba-Nya ingat keadaan adzab itu, supaya si hamba menjauhkan diri daripadanya. Karena selama hidup di dunia inilah saat-saat yang semudah-mudahnya untuk mengelakkan adzab siksaan yang pedih itu, dengan cara mengikuti pimpinan yang disampaikan Allah dan dibawakan oleh rasul-rasul. Padahal sebelum adzab neraka di akhirat, kerap kali manusia telah menerima panjar (DP) adzab ketika di dunia ini juga. Misalnya adzab karena kusut pikiran, kacau akal, terguncang urat saraf dan sakit jiwa, yang semuanya itu berasal dari sebab pelanggaran garis-garis yang telah ditentukan oleh Allah.
Explaining the Day of Decision and what occurs during it
Allah says
إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا
Verily, the Day of Decision is a fixed time,
Allah says about the Day of Decision -- and it is the Day of Judgement -- that it is at a fixed time, with a set appointment. Its time cannot be added to or decreased. No one knows its exact time except Allah. This is as Allah says,
وَمَا نُوَخِّرُهُ إِلاَّ لاًّجَلٍ مَّعْدُودٍ
And We delay it only for a term fixed. (11:104)
And He informs,
يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
The Day when the Trumpet will be blown, and you shall come forth in crowds.
Mujahid said, Groups after groups.
Ibn Jarir said, This means that each nation will come with its Messenger.
It is similar to Allah's statement,
يَوْمَ نَدْعُواْ كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَـمِهِمْ
The Day when We shall call together all human beings with their Imam. (17:71)
Al-Bukhari reported concerning the explanation of Allah's statement,
يَوْمَ يُنفَخُ فِى الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجاً
Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُون
That which is between the two blowings is forty.
Someone asked, Is it forty days, O Abu Hurayrah
But he (Abu Hurayrah) refused to reply, saying no comment.
They then asked, Is it forty months
But he (Abu Hurayrah) refused to reply, saying no comment.
They asked again, Is it forty years
But he (Abu Hurayrah) refused to reply, saying no comment.
(Abu Hurayrah added:) Then the Prophet went on to say,
ثُمَّ يُنْزِلُ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ لَيْسَ مِنَ الاْنْسَانِ شَيْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَة
Then Allah will send down a rain from the sky and the dead body will sprout just as a green plant sprouts. Every part of the last person will deteriorate except for one bone, and it is the coccyx bone (tailbone). From it the creation will be assembled on the Day of Judgement.
Allah says,
وَفُتِحَتِ السَّمَاء فَكَانَتْ أَبْوَابًا
And the heaven shall be opened, and it will become as gates.
meaning, paths, and routes for the descending of the angels.
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
And the mountains shall be moved away from their places and they will be as if they were a mirage.
This is similar to Allah's statement,
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِىَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ
And you will see the mountains and think them solid, but they shall pass away as the passing away of the clouds. (27:88)
He also says,
وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ
And the mountain will be like carded wool. (101:5)
And Allah says here,
فَكَانَتْ سَرَاباً
(As if they were a mirage.)
meaning, they appear to the one who looks at them as if they are something, but they are actually nothing. After this they will be completely removed. Nothing will be seen of them, and there will be neither base nor trace of them.
This is as Allah says,
وَيَسْـَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّى نَسْفاً
فَيَذَرُهَا قَاعاً صَفْصَفاً
لااَّ تَرَى فِيهَا عِوَجاً وَلاا أَمْتاً
And they ask you concerning the mountains, say:
My Lord will blast them and scatter them as particles of dust. Then He shall leave them as a level smooth plain. You will see therein nothing crooked or curved. (20:105-107)
And He says,
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الاٌّرْضَ بَارِزَةً
And the Day We shall cause the mountains to pass away, and you will see the earth as a leveled plain. (18:47)
Allah then says,
إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
Truly, Hell is a place of ambush,
meaning, it is waiting in preparation
لِلْطَّاغِينَ
for the Taghun,
These are the disobedient rejectors who oppose the Messengers.
مَأبًا
A dwelling place,
meaning, a place of return, final destination, final outcome, and residence.
Allah said,
لَاابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا
They will abide therein Ahqab.
meaning, they will remain in it for Ahqab, which is the plural of Huqb.
Huqb means a period of time.
Khalid bin Ma`dan said,
This Ayah, and the Ayah,
إِلاَّ مَا شَأءَ رَبُّكَ
(except your Lord wills.11:107), both refer to the people of Tawhid.
Ibn Jarir recorded this statement.
Ibn Jarir also recorded from Salim that he heard Al-Hasan being asked about Allah's statement,
لَّـبِثِينَ فِيهَأ أَحْقَاباً
In reference to Ahqab, it has no specific amount of time other than its general meaning of eternity in the Hellfire. However, they have mentioned that the Huqb is seventy years, and every day of it is like one thousand years according to your reckoning (in this life).
Sa`id reported from Qatadah that he said, Allah says,
لَّـبِثِينَ فِيهَأ أَحْقَاباً
And it is that which has no end to it. Whenever one era comes to an end, a new era follows it. It has been mentioned to us that the Huqb is eighty years.
Ar-Rabi` bin Anas said,
لَّـبِثِينَ فِيهَأ أَحْقَاباً
No one knows how much time this Ahqab is, except for Allah, the Mighty and Sublime. It has been mentioned to us that one Huqb is eighty years, and the year is three hundred and sixty days, and each day is equivalent to one thousand years according to your reckoning (in this life).
Ibn Jarir has recorded both of these statements.
Allah's statement:
لاَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا
Nothing cool shall they taste therein, nor any drink.
meaning, they will not find any coolness in Hell for their hearts, nor any good drink for them to partake of.
Thus, Allah says,
إِلاَّ حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
Except Hamim, and Ghassaq
Abu Al-`Aliyah said,
- The Hamim has been made an exception to the coolness, and
- Ghassaq is the exception to the drink.
This has also been said by Ar-Rabi` bin Anas.
In reference to the Hamim, it is the heat that has reached its maximum temperature and point of boiling.
The Ghassaq is gathered from the pus, sweat, tears, and wounds of the people of Hellfire. It is unbearably cold with an intolerable stench.
May Allah save us from that by His beneficence and grace. Amin.
Then He continues,
جَزَاء وِفَاقًا
An exact recompense.
meaning, that which will happen to them of this punishment is in accordance with their wicked deeds, which they were doing in this life.
Mujahid, Qatadah, and others have said this.
Then Allah said,
إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا
For verily, they used not to look for a reckoning.
meaning, they did not believe that there would be an abode in which they would be taken to account.
وَكَذَّبُوا بِأيَاتِنَا كِذَّابًا
But they denied Our Ayat Kidhdhaba.
meaning, they used to deny the evidences of Allah and His proofs for His creation, which He revealed to His Messengers. So they met these proofs with rejection and abstinence.
His statement,
كِذَّاباً
(Kidhdhaba) it means rejection, and it is considered a verbal noun that does not come from a verb.
Allah said;
وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا
And all things We have recorded in a Book.
meaning, `surely We know the deeds of all of the creatures, and We have written these deeds for them. We will reward them based upon this.'
If their deeds were good then their reward will be good, and if their deeds were evil their reward will be evil.
Allah then says,
فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلاَّ عَذَابًا
So taste you. No increase shall We give you, except in torment.
This means that it will be said to the people of the Hellfire,
Taste that which you were in. We will never increase you in anything except torment according to its type (of sin), and something else similar to it.
Qatadah reported from Abu Ayyub Al-Azdi, who reported from Abdullah bin Amr that he said,
Allah did not reveal any Ayah against the people of the Hellfire worse than this Ayah,
فَذُوقُواْ فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلاَّ عَذَاباً
(So taste you. No increase shall We give you, except in torment.)
Then he said,
They will continue increasing in torment forever.
to remain (laabitheena is an implied circumstantial qualifier, in other words, their remaining therein will be decreed [to be]) therein for ages, for endless epochs (ahqaab is the plural of huqb),
لَّابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (who will be abiding in it for ages....78:23). The word labithin is the plural of labith which means 'one who abides'. The word ahqab is the plural of hiqbah and means 'ages or a long time'. Scholars differ on the exact length or specific amount of time meant by this word. Ibn Jarir has recorded that Sayyidna ` Ali ؓ states that hiqbah is eighty years, and the year constitutes twelve months, and every month comprises thirty days, and each day is equivalent to one thousand years, thus one hiqbah totalling about twenty million and eighty-eight hundred thousand years . Sayyidna Abu Hurairah, ` Abdullah Ibn ` Umar, Ibn ` Abbas ؓ and others say that one hiqbah is seventy years instead of eighty years. The rest of the calculation remains the same. [ Ibn Kathir ]. In Musnad of Bazzar, Sayyidna ` Abdullah Ibn ` Umar ؓ traces the following Hadith to the Holy Prophet ﷺ :
لا یخرج احدکم من النّار حتّٰی یمکث فیہ احقاباً ، والحقب بضع و ثمانون سنۃ، کل سنۃ ثلثمایٔۃ وستّون یوما ممّا یعدّون
"Those who will be put in Hell for punishment of their sins, they will not be able to come out until they tarry therein for a few Ahqib. One hiqbah will be a little over eighty years, and the year has three hundred and sixty days according to your reckoning [ in this life ]."
This Tradition, though does not interpret this verse, it does explain the sense of the word ahqab. Some of the Companions mention that one day is equivalent to a thousand years. If they had heard this from the Holy Prophet ﷺ ، there is conflict in the narratives. In the face of such conflict, it is not possible to settle on one narration. However, there is a common denominator between the two conflicting narratives, that hiqbah means 'an extremely long period of time'. Therefore, Baidawi has interpreted the word as 'many long periods of time successively following the others.
Problem of Eternity of Hell
If it be argued, as some do, that the inmates of Hell, after serving the long ages in Hell, will be released because no matter what the length of hiqbah, it is, nonetheless, finite and limited and will come to an end sometime or other. But looking at other clear verses of the Qur'an, the argument does not hold up. We come across express text like:
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
'[ They, the disbelievers ] shall remain therein [ in the Fire ] for ever'.
Therefore, there is the consensus of Ummah that neither Hell will perish, nor will the disbelievers be released at anytime.
Suddi reports from Sayyidna Murrah Ibn ` Abdullah ؓ that if the inmates of Hell are informed that they will abide in Hell for the number of pebbles in the entire world, they will be happy even at this information, because these pebbles though will count into billions or zillions, still they are finite. If so, their punishment will, some time or the other, come to an end. If the same information is given to the inmates of Paradise that they will abide therein to the count of billions of pebbles in the entire world, it will sadden them, because, in that case, no matter how long the space of time they will live in Paradise, they will be expelled after this period. [ Mazhari ]
In any case, the notion that after a few ahqab the disbelievers will be released from Hell is contrary to the explicit texts and common consent of the Ummah, and as such it is unworthy of consideration, because the verse does not mention what will happen after the ahqab. It merely mentions that they will have to abide in Hell for ages [ ahqab ] '. This does not necessarily imply that there will be no Hell after ahqab or its non-believing inmates will be released. Therefore, Sayyidna Hasan ؓ says that no specific period has been defined for the inmates of Hell, so that they will be released after that. It is that which has no end to it. Whenever one hiqbah [ era ] is over, a new hiqbah will start; when the second era come to an end, a third hiqbah will start; when the third hiqbah ends, the fourth hiqbah will start; and it will carry on ad infinitum. Sayyidna Said Ibn Jubair ؓ also interprets the word ahqab as referring to 'the time which has no end to it. Whenever one era ends, a new era follows it until eternity'. [ Ibn Kathir and Mazhari ]. Ibn Kathir describes another possibility which Qurtubi supports and Mazhari adopts. The possibility is that the word taghin 'rebellious people' probably does not refer to the disbelievers, but to the people of Tauhid, who, on account of their false beliefs, fall into one of the categories of deviant groups. Traditionalists refer to them as ahl-ul-ahwa' 'heretics whose beliefs are not in keeping with the common consent of the People of Ahl-us-sunnah wal-jama'ah. In this case, the verse purports to say that they are the people of Tauhid, but bordered on the boundary of disbelief on account of false beliefs. They, however, did not cross into the boundary of explicit disbelief. They will therefore abide in Hell for the period of ahqab, and then discharged therefrom by virtue of the creed of tuhid.
Mazhari, in support of this possibility, has cited the Prophetic Hadith which was reported earlier on the authority of Sayyidna ` Abdullah Ibn ` Umar ؓ with reference to Musnad of Bazzar, in which the Holy Prophet ﷺ said that after the period of ahqab has passed, these people will be taken out of Hell. Abu Hayyan, however, disputes this on the grounds of the verses that follow the present verse:
إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا
(They did not expect [ to face ] accounting [ of their deeds ], and they rejected Our signs totally....78:27-28)
These verses contradict the possibility that taghin 'rebellious people' could be referring to people of Tauhid and deviant groups, because in the concluding verses it is expressly mentioned that they explicitly reject reckoning and utterly deny the Prophets (علیہم السلام) . Likewise Abu Hayyan rejects out of hand Muqatil's opinion that this verse is abrogated.
A group of commentators find a third interpretation of this verse. A statement after this verse, namely, لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا will taste nothing cool in it, nor a drink, except boiling water and pus...78:25) - is circumstantial clause to ahqab, in which case the verse purports to say that for the countless aeons of ahqab that they will be in Hell they will not be tasting any coolness of air nor any food or drink excepting for boiling water and [ scalding ] pus. When the ahqab is over, the condition may change, and other kinds of punishment may be imposed. The word hamim means 'intensely boiling water if brought near the face, it would burn its flesh, and when put into the stomach it would cut into pieces the internal organs'. The word ghassaq means 'blood and pus, and washings of wounds that will ooze from the inmates of Hell'.