Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلۡإِنسَٰنَ
manusia
خُلِقَ
diciptakan
هَلُوعًا
keluh-kesah/loba-kikir
إِنَّ
sesungguhnya
ٱلۡإِنسَٰنَ
manusia
خُلِقَ
diciptakan
هَلُوعًا
keluh-kesah/loba-kikir
Terjemahan
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.
Tafsir
(Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah) lafal haluu`an merupakan hal atau kata keterangan keadaan dari lafal yang tidak disebutkan, dan sekaligus sebagai penafsirnya.
Tafsir Surat Al-Ma'arij: 19-35
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah; dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.
Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara salatnya.
Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal manusia dan watak-watak buruk yang telah menjadi pembawaannya. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. (Al-Ma'arij: 19) Yang hal ini ditafsirkan oleh firman selanjutnya: Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. (Al-Ma'arij: 20) Yakni apabila tertimpa kesusahan, ia kaget dan berkeluh kesah serta hatinya seakan-akan copot karena ketakutan yang sangat, dan putus asa dari mendapat kebaikan sesudah musibah yang menimpanya. dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. (Al-Ma'arij: 21) Yaitu apabila ia mendapat nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala, berbaliklah ia menjadi orang yang kikir terhadap orang lain, dan tidak mau menunaikan hak Allah yang ada padanya.
". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ali ibnu Rabah, bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadits berikut dari Abdul Aziz ibnu Marwan ibnul Hakam yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sifat terburuk yang ada pada diri seorang lelaki ialah kikir yang keterlaluan dan sifat pengecut yang parah. Imam Abu Dawud meriwayatkannya dari Abdullah ibnul Jarah, dari Abu Abdur Rahman Al-Muqri dengan sanad yang sama, dan ia tidak mempunyai hadits dari Abdul Aziz selain dari hadits ini.
Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan: kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. (Al-Ma'arij: 22) Yakni manusia itu ditinjau dari segi pembawaannya menyandang sifat-sifat yang tercela, terkecuali orang yang dipelihara oleh Allah dan diberi-Nya taufik dan petunjuk kepada kebaikan dan memudahkan baginya jalan untuk meraihnya. Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan shalat. yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23) Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah orang-orang yang memelihara shalat dengan menunaikannya di waktunya masing-masing dan mengerjakan yang wajib-wajibnya.
Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Masruq, dan Ibrahim An-Nakha'i. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan tetap dalam ayat ini ialah orang yang mengerjakan salatnya dengan tenang dan khusyuk, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al-Muminun: 1-2) Demikianlah menurut Uqbah ibnu Amir. Dan termasuk ke dalam pengertian ini kalimat al-ma-ud da-im, artinya air yang tenang dan diam, tidak beriak dan tidak bergelombang serta tidak pula mengalir.
Makna ini menunjukkan wajib tuma-ninah dalam shalat, karena orang yang tidak tuma-ninah dalam rukuk dan sujudnya bukan dinamakan orang yang tenang dalam salatnya, bukan pula sebagai orang yang menetapinya, bahkan dia mengerjakannya dengan cepat bagaikan burung gagak yang mematuk, maka ia tidak beroleh keberuntungan dalam salatnya. Menurut pendapat yang lain, apabila mereka mengerjakan suatu amal kebaikan, maka mereka menetapinya dan mengukuhkannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih diriwayatkan melalui Siti Aisyah , dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Amal yang paling disukai oleh Allah ialah yang paling tetap, sekalipun sedikit.
Menurut lafal yang lain disebutkan: yang paling tetap diamalkan oleh pelakunya Selanjutnya Aisyah mengatakan, Rasulullah ﷺ adalah seorang yang apabila mengamalkan suatu amalan selalu menetapinya. Menurut lafal yang lain disebutkan selalu mengukuhkannya. Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23), Telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Danial a.s. menyebutkan sifat umat Muhammad ﷺ Maka ia mengatakan bahwa mereka selalu mengerjakan shalat yang seandainya kaum Nuh mengerjakannya, niscaya mereka tidak ditenggelamkan; dan seandainya kaum 'Ad mengerjakannya, niscaya mereka tidak tertimpa angin yang membinasakan mereka; atau kaum Samud, niscaya mereka tidak akan tertimpa pekikan yang mengguntur. Maka kerjakanlah shalat, karena sesungguhnya shalat itu merupakan akhlak orang-orang mukmin yang baik.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (Al-Ma'arij: 24-25) Yakni orang-orang yang di dalam harta mereka terdapat bagian tertentu bagi orang-orang yang memerlukan pertolongan. Masalah ini telah diterangkan di dalam tafsir surat Az-Zariyat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. (Al-Ma'arij: 26) Yaitu meyakini adanya hari kiamat, hari penghisaban, dan pembalasan; maka mereka mengerjakan amalnya sebagaimana orang yang mengharapkan pahala dan takut akan siksaan.
Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan: dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. (Al-Ma'arij:27) Maksudnya, takut dan ngeri terhadap azab Allah subhanahu wa ta’ala: Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). (Al-Ma'arij: 28) Yakni tiada seorang pun yang merasa aman dari azab-Nya dari kalangan orang yang mengetahui akan perintah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali hanya bila mendapat jaminan keamanan dari Allah subhanahu wa ta’ala Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (Al-Ma'arij: 29) Yaitu mengekangnya dari melakukan hal yang diharamkan baginya dan menjaganya dari meletakkannya bukan pada tempat yang diizinkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. (Al-Ma'arij: 30) Maksudnya, budak-budak perempuan yang dimiliki oleh mereka. maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampauibatas. (Al-Ma'arij: 30-31) Tafsir ayat ini telah disebutkan di dalam permulaan surat Al-Muminun, yaitu pada firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Muminun: 1), hingga beberapa ayat berikutnya. sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam surat ini. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. (Al-Ma'arij: 32) Yakni apabila mereka dipercaya, mereka tidak khianat; dan apabila berjanji, tidak menyalahinya. Demikianlah sifat orang-orang mukmin dan kebalikannya adalah sifat-sifat orang-orang munafik, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadits shahih yang mengatakan: Pertanda orang munqfik itu ada tiga, yaitu apabila berbicara, dusta; apabila berjanji, menyalahi; dan apabila dipercaya, khianat.
Menurut riwayat yang lain disebutkan: Apabila berbicara, dusta; dan apabila berjanji, melanggar; dan apabila bertengkar, melampaui batas. Firman Allah ﷻ: Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. (Al-Ma'arij: 33) Yakni bersikap hati-hati dalam bersaksi, tidak menambahi dan tidak mengurangi, tidak pula menyembunyikan sesuatu. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. (Al-Baqarah: 283) Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al-Ma'arij: 34) Yakni waktu-waktunya, rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunat-sunatnya. Pembicaraan dimulai dengan menyebutkan shalat dan diakhiri dengan menyebutkannya pula, hal ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap masalah shalat dan mengisyaratkan tentang kemuliaannya.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam permulaan surat Al-Muminun melalui firman-Nya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Al-Muminun: 1) Maka di penghujung pembahasannya disebutkan hal yang sama dengan di sini, yaitu firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Muminun: 10-11) Dan dalam surat Al-Ma'arij ini disebutkan oleh firman-Nya: Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. (Al-Ma'arij: 35) Yakni dimuliakan dengan berbagai macam kenikmatan dan kesenangan surgawi.".
19-22. Setelah diuraikan tentang orang-orang yang durhaka, kini diuraikan sebab-sebab kedurhakaan mereka, yaitu adanya sifat buruk pada manusia: Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh lagi kikir. Apabila dia ditimpa sedikit kesusahan atau musibah, dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan harta yaitu keluasan rezeki, dia menjadi sangat kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat dengan baik dan benar, sehingga dapat mengalahkan sifat negatif tersebut. 19-22. Setelah diuraikan tentang orang-orang yang durhaka, kini diuraikan sebab-sebab kedurhakaan mereka, yaitu adanya sifat buruk pada manusia: Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh lagi kikir. Apabila dia ditimpa sedikit kesusahan atau musibah, dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan harta yaitu keluasan rezeki, dia menjadi sangat kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat dengan baik dan benar, sehingga dapat mengalahkan sifat negatif tersebut.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia memiliki sifat suka berkeluh kesah dan kikir. Namun, sifat ini dapat diubah jika menuruti petunjuk Tuhan yang dinyatakan-Nya dalam ayat 22 sampai 24 surah ini. Manusia yang tidak mempedulikan petunjuk Tuhan dan seruan rasul adalah orang yang sesat. Firman Allah:
Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. (Yusuf/12: 103)
Manusia bisa sesat dari jalan Allah karena sifatnya yang tergesa-gesa, gelisah, dan kikir. Hal ini bukanlah ketentuan dari Allah terhadapnya, tetapi mereka menjadi mukmin atau menjadi kafir karena usaha dan pilihan mereka sendiri.
Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu (juga) ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (At-Tagabun/64: 2)
Kepada manusia dibentangkan jalan lurus menuju keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat seperti yang disampaikan Rasulullah, sebagaimana yang termuat dalam Al-Qur\'an dan hadis. Di samping itu, terbentang pula jalan yang sesat, jalan yang dimurkai Allah dan menuju ke tempat yang penuh derita dan sengsara di akhirat. Manusia boleh memilih salah satu dari kedua jalan itu; jalan mana yang akan ditempuhnya, apakah jalan yang lurus atau jalan yang sesat. Kemudian mereka diberi balasan sesuai dengan pilihan mereka.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
MANUSIA BERSIFAT KELUH KESAH
Pada ayat-ayat 19 sampai 23 ini diterangkanlah bagaimana Allah menciptakan tabiat-tabiat yang buruk pada manusia, yang mereka hendaklah berusaha mengubah kejadian itu dengan melatih diri sendiri, sehingga kemanusiaannya naik meninggi, bukan dia jadi manusia yang jatuh martabat.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah."
(ayat 19)
Keluh kesah tidak mempunyai ketenangan hati, selalu cemas, selalu ketakutan dan selalu merasa kekurangan saja. Berbagai macam sakit jiwa dapat pula mengiringi keluh kesah itu.
“Apabila disentuh akan dia oleh suatu kesusahan dia pun gelisah."
(ayat 20)
Bila ditimpa susah, dia tidak dapat lagi mengendalikan diri. Dia menjadi gelisah, menyesali nasib atau menyalahkan orang lain. Maunya hanya “tahu beres" saja, tidak mau terganggu sedikit jua pun. Pada ayat 10 dari surah al-‘Ankabuut diterangkan juga perangai orang yang demikian. Yaitu apabila mereka bertemu penderitaan pada jalan Allah, dianggapnyalah fitnah manusia sebagai adzab Allah juga. Pendeknya, orang seperti ini tidak pernah mau menyelidiki di mana kekurangan dan kelemahan dirinya, tidak mau tahu bahwa hidup di dunia itu mesti bertemu kesusahan dan kesenangan. Tidak ada yang senang dan mudah saja.
“Dan apabila disentuh akan dia oleh kebajikan dia pun mendinding diri "
(ayat 21)
Mendinding diri, tidak mau dihubungi oleh orang lain, dia mencari seribu macam akal untuk mengelakkan kalau ada orang yang akan datang meminta pertolongan. Ada-ada saja jawabnya untuk menyembunyikan kemampuannya. Dia bakhil, tidak mau menolong orang. Maka lupalah dia akan kesusahan yang pernah menimpa dirinya. Bertambah dia mampu, bertambahlah bakhilnya. Dan dia pun tidak keberatan mendinding diri itu dengan macam-macam kebohongan. Perangai semacam ini sangatlah buruknya.
“Kecuali orang-orang yang shalat."
(ayat 22)
Tetapi diberi pula syarat pada ayat yang selanjutnya, orang shalat yang macam apa?
“Yang mereka itu atas shalat itu tetap mengerjakan."
(ayat 23)
Ayat 22 dan 23 ini menyatakan bahwa hanya orang yang shalat saja yang dapat menyembuhkan dirinya daripada keluh kesah dan gelisah itu. Yang selalu kusut mukanya ketika ditimpa susah, mendinding diri seketika mendapat kesenangan atau keuntungan. Orang shalat dapat bebas dari penyakit yang berbahaya itu. Sebab dengan shalat yang sekurang-kurangnya lima waktu dikerjakan siang dan malam, ditambah lagi dengan shalat- shalat nawafil (sunnat) yang lain, jiwanya tidak akan merasakan keluh kesah lagi. Sebab dia telah berangsur mendekat kepada Allah. Dengan shalat insaflah dia bahwasanya orang hidup di dunia tidaklah akan sunyi daripada susah dan senang, rugi dan beruntung. Maka di waktu mendapatkan kesusahan tidaklah dia akan gelisah, melainkan bersabar menderitanya. Dengan sebab sabar dia dapat mengendalikan diri, akalnya tidak pernah tertutup. Allah akan memberi petunjuk dan hidayat kepadanya, sehingga pintu yang tertutup menjadi terbuka. Dan kalau kemudian keuntungan didapat, kesenangan pun tiba, segera dia bersyukur kepada Allah. Syukur itu bukan saja ucapan dengan mulut, bahkan juga diiringi oleh perbuatan. Syukur, yaitu dengan mengingat makhluk Allah yang lain yang dalam sengsara, lalu ditolong, sebab Allah telah melepaskan dirinya sendiri dari kesusahan pula dan belum tentu lain hari akan mendapat percobaan seperti itu pula.
Tetapi di dalam ayat dua beriring ini dijelaskan bahwa orang shalatlah yang sanggup membebaskan diri dari penyakit resah gelisah itu. Yaitu orang yang tetap shalatnya, Sebab shalat itu bukanlah semata- mata rukun syarat tertentu, yang dimulai dengan takbir disudahi dengan salam itu saja. Di luar shalat seperti itu dia pun tetap shalat, artinya tetap ada hubungun jiwanya dengan Allah. Tetap ingat akan Allah. Sebab ada juga orang-orang yang mengerjakan shalat, padahal dalam melakukan shalat itulah dia lupa akan Tuhannya. Sebab shalatnya itu hanya semacam `kebiasaan" yang telah kehilangan khusyu dan kehilangan nikmat.
Dengan sebab dia melakukan shalat, dia pun ingat akan kewajibannya sebagai seorang yang berserah diri kepada Allah. Tentang itu datang sambungan firman Allah,
“Dan orang-orang yang pada harta bendanya ada hak yang tertentu."
(ayat 24)
Sesudah dia mengerjakan shalat jelaslah bahwa Imannya kepada Allah telah bertambah kukuh dan meluas. Dia ingat akan kewajibannya kepada sama hamba Allah. Sebab Islam itu sendiri mendidik demikian. Terutama shalat itu sendiri, bukanlah semata-mata mengukuhkan iman kepada Allah, bahkan juga iman akan apa yang diperintahkan Allah. Di antara yang diperintahkan Allah sesudah perintah shalat ialah menyediakan sebagian daripada harta untuk membantu orang-orang yang patut dibantu bernama zakat. Baik zakat kekayaan, ataupun zakat pertanian, atau zakat peternakan. Maka orang-orang yang beriman itu telah menentukan hak-hak yang tertentu untuk yang mesti menerima tadi. Rasa bakhil dengan sendirinya hilang! Harta itu ialah
“Untuk orang yang meminta dan yang tidak punya apa-apa."
(ayat 25)
Maksud yang meminta di sini bukanlah orang peminta-minta yang mengganggu penglihatan mata itu, orang-orang penganggur yang telah membiasakan hidupnya hanya dari meminta. Yang meminta di sini ialah, baik petugas-petugas pemungut zakat, atau orang-orang yang sudah sangat terdesak, karena misalnya dia berutang. Tidak ada tempat dia mengadu lagi kecuali kepada yang lebih mampu, mohon dibayarkan utangnya. Atau penuntut-penuntut ilmu yang kekurangan biaya, yang termasuk dalam golongan Ibnus Sabil, atau seperti yang banyak terjadi di zaman dahulu, yaitu orang yang akan dimerdekakan dari perbudakan asal dia sanggup membayar sekian, lalu orang yang diperbudak itu minta tolong dari zakat.
Orang yang mahrum, kita artikan orang yang tidak punya apa-apa. Misalnya orang yang berniaga, lalu rugi, bahkan kadang-kadang habis licin tandas hartanya karena rugi atau karena utangnya, yang di dalam agama dinamai muflis.
“Dan orang-orang membenarkan Hari Pembatasan."
(ayat 26)
Yaitu orang-orang yang percaya sungguh dia bahwasanya di belakang hidup kita yang sekarang ini, ada lagi hidup sesudah mati, untuk menerima ganjaran daripada amal yang dikerjakan pada masa hidup yang pertama ini. Baik mendapat balasan baik, buruk mendapat pembalasan buruk. Bahkan kepercayaan kepada Hari Pembalasan itu, yang boleh juga disebut menurut tulisan asalnya Hari Agama, karena agama kita di dunia ini, di waktu itulah kelak akan menentukan nasib kita di akhirat. Karena kepercayaan kepada hari itu adalah kontrol yang menentukan nilai perbuatan dan amal kita di dunia ini.
“Dan orang-orang yang dari adzab Allah, mereka merasa ngeri."
(ayat 27)
Sebab Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi-nabi yang sebelumnya telah menjelaskan bagaimana ngeri dan seramnya adzab Allah kalau terjadi di hari Pembalasan itu kelak, dia pun ngeri memikirkannya, dia pun takut akan berbuat apa yang dilarang oleh Allah dan dia pun taat mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Sebab
“Sesungguhnya dari adzab Allah tidaklah mereka akan aman."
(ayat 28)
Itulah sebab mereka amat ngeri memikirkannya. Maka untuk mengelakkan diri daripada adzab di akhirat itu kelak, misalnya panas hangatnya api neraka, sampai mengelupas kulit kepala, tidaklah dapat kalau di akhirat itu sendiri hendak dielakkan. Melainkan elak- kanlah sementara hidup di dunia ini. Jauhilah dia sementara masih hidup, supaya di Hari Pembalasan jangan bertemu dengan adzab ngeri yang diancamkan Allah itu.
Man is Impatient. Allah informs about man and his inclination to corrupt his behavior.
Allah says,
إِنَّ الاِْنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
Verily, man was created very impatient;
Then, Allah explains this statement by saying,
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Apprehensive when evil touches him;
meaning, whenever any harm touches him he is frightful, worried and completely taken back due to the severity of his terror and his despair that he will receive any good after it.
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
And suppressive when good touches him.
meaning, if he attains any blessing from Allah, he is stingy with it, not sharing it with others. He will withhold the right of Allah with that blessing.
Imam Ahmad said that Abu Abdur-Rahman informed them that Musa bin Ali bin Rabah told them that he heard his father narrating from Abdul-Aziz bin Marwan bin Al-Hakim that he heard Abu Hurayrah saying, The Messenger of Allah said,
شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِع
The worst thing that can be in a man is greedy impatience and unrestrained cowardice.
Abu Dawud recorded this Hadith from `Abdullah bin Al-Jarrah on the authority of Abu Abdur-Rahman Al-Muqri', and this is the only Hadith through Abdul-`Aziz with him.
The Exclusion of Those Who pray from what has preceded and an Explanation of Their Deeds and Their Prayer
Then Allah says,
إِلاَّ الْمُصَلِّينَ
Except those who are devoted to Salah.
meaning, man is described with blameworthy characteristics except for He whom Allah protects, helps and guides to good, making its means easy for him -- and these are those people who perform Salah.
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَتِهِمْ دَايِمُونَ
Those who with their Salah are Da'imun;
It has been said that this means they guard its times and the elements obligatory in it.
This has been said by Ibn Mas`ud, Masruq and Ibrahim An-Nakha`i.
It has also been said that it means tranquility and humble concentration (in the prayer).
This is similar to Allah's statement,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُوْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِى صَلَتِهِمْ خَـشِعُونَ
Successful indeed are the believers. Those who with their Salah are Khashi`un. (23:1-2)
This was said by `Uqbah bin `Amir.
From its meanings, is the same terminology used to describe standing (still) water (Al-Ma' Ad-Da'im). This proves the obligation of having tranquility in the prayer. For verily, the one who does not have tranquility (stillness of posture) in his bowing and prostrating, then he is not being constant (Da'im) in his prayer. This is because he is not being still in it and he does not remain (in its positions), rather he pecks in it (quickly) like the pecking of the crow. Therefore, he is not successful in performing his prayer.
It has also been said that the meaning here refers to those who perform a deed and are constant in its performance and consistent in it. This is like the Hadith that has been recorded in the Sahih on the authority of `A'ishah that the Messenger of Allah said,
أَحَبُّ الاَْعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَل
The most beloved deeds to Allah are those that are most consistent, even if they are few.
Then Allah says,
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ
لِّلسَّايِلِ وَالْمَحْرُومِ
And those in whose wealth there is a recognized right. For the one who asks, and for the deprived.
meaning, in their wealth is a determined portion for those who are in need.
Concerning Allah's statement,
وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ
And those who believe in the Day of Recompense.
meaning, they are sure of the Final Return (to Allah), the Reckoning and the Recompense. Therefore, they perform the deeds of one who hopes for the reward and fears the punishment.
For this reason Allah says,
وَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ
And those who fear the torment of their Lord.
meaning, they are fearful and dreadful.
إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ
Verily, the torment of their Lord is that before which none can feel secure.
meaning, no one is safe from it (Allah's torment) of those who understand the command from Allah, except by the security of Allah Himself.
Then Allah says,
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
And those who guard their private part (chastity).
meaning, they keep their private parts away from that which is forbidden and they prevent their private parts from being put into other than what Allah has allowed them to be in.
This is why Allah says
إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ
Except from their wives or their right hand possessions,
meaning, from their female slaves.
فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَيِكَ هُمُ الْعَادُونَ
for (then) they are not blameworthy.
But whosoever seeks beyond that, then it is those who are trespassers.
The explanation of this has already preceded at the beginning of Surah Al-Mu'minun, and therefore does not need to be repeated here.
Allah said,
وَالَّذِينَ هُمْ لاِاَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
And those who keep their trusts and covenants.
meaning, if they are given a trust they do not deceit and when they make a covenant they do not break it.
These are the characteristics of the believers which are opposite of the characteristics of the hypocrites.
This is like what is reported in the authentic Hadith,
ايَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اوْتُمِنَ خَان
The signs of the hypocrites are three.
- When he speaks he lies,
- when he promises he breaks his promise,
- and when he is given a trust he behaves treacherously (with it).
In another narration it states,
إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَر
- When he speaks he lies,
- when he makes a covenant he breaks it,
- and when he argues he is abusive.
Concerning Allah's statement,
وَالَّذِينَ هُم بِشَهَادَاتِهِمْ قَايِمُونَ
And those who stand firm in their testimonies.
This means that they guard their testimonies. They do not add or decrease from what they testify to nor do they conceal their testimonies. Allah says in another Ayah,
وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ ءَاثِمٌ قَلْبُهُ
Who hides it, surely, his heart is sinful. (2:283)
Then Allah says,
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
And those who are with their Salah, Yuhafizun.
meaning, they maintain its proper times, its pillars, its obligations and its recommended acts.
So Allah begins this discussion (of the believers' attributes) with prayer and He concludes it with prayer. This proves the importance of it and the praise of its noble status, just as what preceded at the beginning of Surah Al-Mu'minun. It is exactly the same discussion. This is why Allah says there (in Al-Mu'minun),
أُوْلَـيِكَ هُمُ الْوَرِثُونَ
الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَـلِدُونَ
These are indeed the inheritors. Who shall inherit the Firdaws (Paradise). They shall dwell therein forever. (23:10-11)
And He says here,
أُوْلَيِكَ فِي جَنَّاتٍ مُّكْرَمُونَ
Such shall dwell in the Gardens, honored.
meaning, they will be honored with various types of pleasures and delights.
Indeed man was created restless: (haloo'an is an implied circumstantial qualifier, the explanation of which [follows]):
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (Indeed man is created weak in courage...70:19). The halu`, literally, means 'one who is greedy, impatient, lacking courage'. Sayyidna Ibn ` Abbas ؓ says that the word halu' in the verse refers to a 'person who is greedy about unlawful wealth'. Sayyidna Said Ibn Jubair ؓ says that the word refers to a 'miserly person'. Muqatil says that it refers to a 'person who is impatient and miserly'. All meanings attached assigned to this word are near-synonyms. The word halu' comprehends all these meanings. The verses that follow elaborate on the meaning of this word. In the meantime a doubt might arise here which needs to be disposed of. If it is objected that, according to this verse of the Holy Qur'an, man is created weak in courage, in other words, it is man's nature or his natural weakness, to be impatient, greedy and miserly - then it is not his fault, and why is he declared 'guilty'? This doubt may be allayed thus: Allah has created human nature such that it has the innate capacity to do good as well as evil. He has endowed him with intellect and intelligence. He has raised His Prophets with His Message and sent down His Books clearly stating the consequences of every action chosen by his free will. He has the right to choose between good and bad. Man, in this sense, will be declared 'guilty', and consequently punished on account of freely choosing to do the wrong deed, not on account of his inborn capacity. This interpretation is confirmed by the following verses that speak only of actions of choice.








