Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
هُوَ
Dia
ٱلَّذِي
yang
بَعَثَ
mengutus
فِي
pada
ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ
yang buta huruf
رَسُولٗا
seorang rasul
مِّنۡهُمۡ
diantara mereka
يَتۡلُواْ
dia membacakan
عَلَيۡهِمۡ
atas mereka
ءَايَٰتِهِۦ
ayat-ayat-Nya
وَيُزَكِّيهِمۡ
dan dia mensucikan mereka
وَيُعَلِّمُهُمُ
dan dia mengajarkan mereka
ٱلۡكِتَٰبَ
kitab
وَٱلۡحِكۡمَةَ
dan hikmah
وَإِن
dan sungguh
كَانُواْ
mereka adalah
مِن
dari
قَبۡلُ
sebelum
لَفِي
benar-benar dalam
ضَلَٰلٖ
kesesatan
مُّبِينٖ
nyata
هُوَ
Dia
ٱلَّذِي
yang
بَعَثَ
mengutus
فِي
pada
ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ
yang buta huruf
رَسُولٗا
seorang rasul
مِّنۡهُمۡ
diantara mereka
يَتۡلُواْ
dia membacakan
عَلَيۡهِمۡ
atas mereka
ءَايَٰتِهِۦ
ayat-ayat-Nya
وَيُزَكِّيهِمۡ
dan dia mensucikan mereka
وَيُعَلِّمُهُمُ
dan dia mengajarkan mereka
ٱلۡكِتَٰبَ
kitab
وَٱلۡحِكۡمَةَ
dan hikmah
وَإِن
dan sungguh
كَانُواْ
mereka adalah
مِن
dari
قَبۡلُ
sebelum
لَفِي
benar-benar dalam
ضَلَٰلٖ
kesesatan
مُّبِينٖ
nyata
Terjemahan
Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
Tafsir
(Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf) yaitu bangsa Arab; lafal ummiy artinya orang yang tidak dapat menulis dan membaca kitab (seorang rasul di antara mereka) yaitu Nabi Muhammad ﷺ (yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya) yakni Al-Qur'an (menyucikan mereka) membersihkan mereka dari kemusyrikan (dan mengajarkan kepada mereka Kitab) Al-Qur'an (dan hikmah) yaitu hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, atau hadis. (Dan sesungguhnya) lafal in di sini adalah bentuk takhfif dari inna, sedangkan isimnya tidak disebutkan selengkapnya; dan sesungguhnya (mereka adalah sebelumnya) sebelum kedatangan Nabi Muhammad ﷺ (benar-benar dalam kesesatan yang nyata) artinya jelas sesatnya.
Tafsir Surat Al-Jumu'ah: 1-4
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Mahasuci, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesalan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.
Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Demikianlah karunia Allah, yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar. Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa bertasbih kepada-Nya semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi, yakni semua makhluk yang ada pada keduanya, baik yang berakal maupun yang tidak berakal. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. (Al-Isra: 44) Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Raja, Mahasuci. (Al-Jumu'ah: 1) Dia adalah Yang memiliki langit dan bumi dan Yang Mengatur keduanya dengan hukum-Nya, dan Dia Mahasuci dari semua kekurangan lagi menyandang semua sifat yang sempurna.
Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Jumu'ah: 1) Kedua lafal ini telah sering ditafsirkan sebelumnya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka. (Al-Jumu'ah: 2) Yang dimaksud dengan kaum yang buta huruf adalah bangsa Arab di masa itu, seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan: Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, "Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah).
Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran: 20) Penyebutan kaum yang ummi secara khusus bukan berarti menafikan selain mereka, tetapi anugerah ini terasa oleh mereka lebih menyentuh dan lebih banyak berkahnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain: Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan (yang besar) bagimu dan bagi kaummu. (Az-Zukhruf: 44) Artinya, Al-Qur'an pun merupakan peringatan bagi selain mereka yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi mereka. Demikian pula yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lainnya: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syu'ara:214) Ayat ini dan lain-lainnya yang semakna tidaklah bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Katakanlah, "Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.(Al-A'raf: 158) supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya). (Al-An'am: 19) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang Al-Qur'an, yaitu: Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur'an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya. (Hud: 17) Masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan keumuman misi risalah Rasulullah ﷺ yang mencakup semua makhluk dengan berbagai macam warna kulit dan bangsanya.
Kami telah membahas tafsir hal ini dalam tafsir surat Al-An'am berikut ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang menguatkannya. Ayat ini merupakan ijabah dari Allah terhadap kekasihnya (Ibrahim) ketika dia berdoa untuk penduduk Mekah, bahwa semoga Allah mengutus di kalangan mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah.
Maka Allah mengutusnya kepada mereka di masa kesenjangan tiada rasul dan padamnya cahaya hidayah, sehingga masa tersebut sangat membutuhkan adanya seorang rasul. Allah subhanahu wa ta’ala saat itu murka terhadap semua penduduk bumi, baik yang Arab maupun yang non Arab, kecuali sisa-sisa dari kaum Ahli Kitab, yang jumlah mereka sedikit sekali, mereka dari kalangan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa yang dibawa oleh Isa putra Maryam a.s. Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.
Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesalan yang nyata. (Al-Jumu'ah: 2) Demikian itu karena orang-orang Arab di masa lalu berpegangan kepada agama Nabi Ibrahim kekasih Allah. Lalu lama-kelamaan mereka mengubahnya, menggantinya, membalikkannya, dan menentangnya. Yaitu dengan mengganti ajaran tauhid dengan kemusyrikan, keyakinan dengan keraguan, dan mereka mengada-adakan banyak perbuatan bid'ah yang tidak diizinkan oleh Allah. Demikian pula halnya Ahlul Kitab, mereka telah mengganti kitab-kitab suci mereka dan mengubah serta menyelewengkannya dengan takwil-takwil yang mereka buat-buat.
Maka sesudah itu Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ dengan membawa syariat yang besar, sempurna, lagi mencakup semua makhluk. Di dalamnya terkandung hidayah dan penjelasan bagi apa yang diperlukan oleh mereka menyangkut urusan kehidupan dunia mereka dan kehidupan di hari kemudian, dan seruan bagi mereka kepada hal-hal yang mendekatkan diri mereka kepada surga dan rida Allah, serta mengandung larangan terhadap hal-hal yang mendekatkan mereka kepada neraka dan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala Syari'at yang dibawanya merupakan hakim yang memutuskan semua perkara yang syubhat, keraguan, dan kebimbangan dalam masalah yang pokok dan masalah yang cabang.
Dan di dalamnya terkandung kebaikan-kebaikan yang dihimpunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari apa yang pernah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, dan Allah subhanahu wa ta’ala telah menganugerahkan di dalamnya apa yang belum pernah Dia berikan kepada seorang pun dari umat-umat terdahulu dan Dia tidak akan memberikannya kepada seorang pun dari kalangan orang-orang yang terkemudian. Maka semoga salawat dan salamNya terlimpahkan kepadanya untuk selama-lamanya sampai hari pembalasan nanti. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Jumu'ah: 3) Imam Abu Abdullah Al-Al-Bukhari rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, dari Saur, dari Abul Gais, dari Abu Hurairah yang mengatakan, "Ketika kami sedang duduk di hadapan Nabi ﷺ , maka diturunkanlah kepadanya surat Al-Jumu'ah." (Dan ketika bacaan beliau ﷺ sampai pada firman-Nya: dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al-Jumu'ah: 3) Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan mereka?" Rasulullah ﷺ tidak segera menjawab mereka hingga mereka mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, sedangkan saat itu di kalangan kami terdapat Salman Al-Farisi.
Lalu Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya ke (pundak) Salman Al-Farisi, kemudian bersabda: ". Seandainya iman itu berada jauh di bintang Surayya, tentulah akan diraih oleh banyak orang lelaki, atau seorang lelaki, dari kalangan mereka (yakni kaumnya Salman) Imam Muslim, Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasai, Imam Ibnu Abu Hatim, dan Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Saur ibnu Yazid Ad-Daili, dari Salim Abul Gais, dari Abu Hurairah dengan sanad yang sama. Di dalam hadits ini menunjukkan bahwa surat ini adalah Madaniyyah dan menunjukkan keumuman misi risalah Rasulullah ﷺ ke seluruh manusia, karena dia menafsirkan firman-Nya: dan (juga) kepada kaum yang lainnya dari mereka. (Al-Jumu'ah: 3) Yakni di negeri Persia, karena itulah maka Nabi ﷺ mengirimkan surat-suratnya kepada penduduk negeri Persia, Romawi, dan umat-umat lainnya dalam rangka menyeru mereka untuk menyembah Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikuti apa yang disampaikan olehnya.
Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al-Jumu'ah: 3) Bahwa mereka adalah orang-orang 'Ajam (non-Arab) dan semua orang yang membenarkan Nabi ﷺ dari kalangan selain bangsa Arab. : (1) Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Ala Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Isa ibnu Musa, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa'd As-Sa'idi yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya di dalam sulbi, sulbi, sulbi kaum lelaki dan kaum wanita dari kalangan umatku terdapat orang-orang yang kelak akan masuk surga tanpa hisab.
Kemudian Nabi ﷺ membaca firman-Nya: dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (Al-Jumu'ah: 3) Yaitu sisa-sisa dari kalangan umat Nabi Muhammad ﷺ di kemudian hari. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Jumu'ah: 3) Yakni Tuhan Yang mempunyai keperkasaan dan kebijaksanaan dalam syariat dan ketentuan-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu'ah: 4) Makna yang dimaksud ialah pemberian yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad ﷺ berupa kenabian yang besar dan apa yang diberikan oleh Allah secara khusus kepada umatnya, yaitu diutus-Nya Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka.".
Dialah yang mengutus seorang Rasul, Muhammad kepada kaum yang buta huruf, yang secara khusus ditujukan kepada bangsa Arab yang kebanyakan tidak bisa baca tulis, dari kalangan mereka sendiri, yaitu dari kalangan bangsa Arab, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, ayat-ayat Al-Qur'an, yang isinya menyucikan jiwa mereka yang beriman kepadanya; dan mengajarkan kepada mereka yang membuka diri menerima dan membenaran kerasulan beliau, Kitab Al-Qur'an, dan Hikmah yakni Sunah Nabi, meskipun sebelumnya, yakni sebelum kelahiran Rasulullah di masa jahiliah, mereka, sebagian di antara para sahabat Rasulullah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Keyakinan mereka menyimpang dari prinsip tauhid dan perilaku mereka bertentangan dengan nilai kemanusiaan, salah satunya mengubur anak perempuan hidup-hidup. 3. Selain mengutus kepada bangsa Arab yang tidak bisa baca tulis, Allah juga mengutus Rasulullah kepada bangsa-bangsa lain di luar bangsa Arab, bahkan kepada seluruh dunia. Dan Rasulullah juga diutus kepada kaum yang lain dari mereka di luar bangsa Arab untuk masa yang tiada terbatas hingga hari kiamat, kaum yang belum berhubungan dengan mereka, karena hidup pada zaman dan tempat yang berbeda dengan mereka, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, 'Dan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. ' (Lihat: Surah al-Anbiy'/21: 107). Dan Dialah Yang Mahaperkasa, menciptakan dan menghancurkan jagat raya sekejap mata; Mahabijaksana, tidak terburu menggunakan kekuasaan-Nya yang tiada terbatas untuk menghukum manusia yang berdosa.
Allah menerangkan bahwa Dialah yang mengutus kepada bangsa Arab yang masih buta huruf, yang pada saat itu belum tahu membaca dan menulis, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yaitu Nabi Muhammad ﷺ dengan tugas sebagai berikut:
1. Membacakan ayat suci Al-Qur'an yang di dalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.
2. Membersihkan mereka dari akidah yang menyesatkan, kemusyrikan, sifat-sifat jahiliah yang biadab sehingga mereka itu berakidah tauhid mengesakan Allah, tidak tunduk kepada pemimpin-pemimpin yang menyesatkan dan tidak percaya lagi kepada sesembahan mereka seperti batu, berhala, pohon kayu, dan sebagainya.
3. Mengajarkan kepada mereka al-Kitab yang berisi syariat agama beserta hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.
Disebutkan secara khusus bangsa Arab yang buta huruf tidaklah berarti bahwa kerasulan Nabi Muhammad ﷺ itu ditujukan terbatas hanya kepada bangsa Arab saja. Akan tetapi, kerasulan Nabi Muhammad ﷺ itu diperuntukkan bagi semua makhluk terutama jin dan manusia, sebagaimana firman Allah:
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (al-Anbiya'/21: 107)
Dan firman-Nya:
Katakanlah (Muhammad), "Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua," (al-A'raf/7: 158)
Ayat kedua Surah al-Jumu'ah ini diakhiri dengan ungkapan bahwa orang Arab itu sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Mereka itu pada umumnya menganut dan berpegang teguh kepada agama samawi yaitu agama Nabi Ibrahim. Mereka lalu mengubah dan menukar akidah tauhid dengan syirik, keyakinan mereka dengan keraguan, dan mengadakan sesembahan selain dari Allah.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH AL-JUMU'AH
(HARI JUM'AT)
SURAH KE-62,11 AYAT, DITURUNKAN DI MADINAH
(AYAT 1-11)
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
HIKMAH KEBANGKITAN RASUL YANG UMMIY
Seperti juga surah ash-Shaff yang terdahulu dari surah al-Jumu'ah ini, dia dimulai dengan menyatakan bahwa,
“Mengucapkan tasbih kepada Allah apa yang di semua langit dan apa yang di bumi."
(pangkal ayat 1)
Ar-Razi menjelaskan dalam tafsirnya apa yang ada di sekalian langit dan apa yang ada di bumi, bertasbih kepada Allah! Perbedaannya ialah bahwa pangkal ayat pertama surah ash-Shaff memakai lafazh Sabbaha (…) yang berarti telah bertasbih; pilihan katanya ialah perbuatan masa lalu (fi'il madhi). Yang berarti telah bertasbih.
Ayat 1 di surah al-Jumu'ah dimulai dengan Yusabbihu mengandung masa sekarang dan masa yang akan datang [al- haal wal mustaqbal), yaitu perbuatan kini dan nanti (fi'il mudhaari'). Maka sekarang dan seterusnya tetaplah seisi langit dan bumi itu bertasbih, mengucapkan kesucian bagi Allah. Keterangan mendalam tentang arti tasbih memadailah diambil dari apa yang telah kita nyatakan pada permulaan surah ash-Shaff itu. Lalu disebutkanlah beberapa sifat Allah “Maharaja." Yang Mahakuasa atas seluruh alam yang gaib dan yang nyata, yang dahulu dan yang kemudian, yang zahir dan batin; semuanya tidak akan dapat menyimpang daripada apa yang telah ditentukan oleh Allah.
“Mahasuci." Sebagai arti dari al-Quddus. Artinya ialah yang suci dari segala macam kekurangan dan bersih dari segala tuduhan yang bukan-bukan, yang rahmat-Nya meliputi segala alam yang Dia ciptakan.
“Mahaperkasa." Sebagai arti dari al-Aziiz. Yang gagah, yang tidak dapat disanggah, yang berlaku sekehendak-Nya, apa yang Dia mau itulah yang mesti berlaku. Tak seorang pun, tak siapa pun yang sanggup menentang.
“Mahabijaksana."
(ujung ayat 1)
Arti dari al-Hakiim. Dialah yang serba tepat apa yang Dia tentukan, terletaklah sesuatu pada tempatnya, sesuai dengan akal orang yang bijak, karena kebijakan itu adalah karunia dari Dia juga.
“Dialah yang telah membangkitkan di dalam kalangan orang-orang yang ummiy."
(pangkal ayat 2)
Membangkitkan lama juga artinya dengan menimbulkan. Orang yang ummiy, artinya yang pokok ialah orang yang tidak pandai menulis dan membaca. Arti yang lebih mendalam lagi ialah bangsa Arab, atau Bani Ismail yang sebelum Nabi Muhammad diutus Allah; bangsa Arab itu belum pernah didatangi oleh seorang rasul yang membawa suatu kitab suci. Sebagai timbalan dari orang yang ummiy itu ialah Ahlul Kitab, atau disebut juga “Utul kitab". Yang pertama berarti ahli dari kitab-kitab, yang kedua berarti orang-orang yang diberi Kitab.
Di dalam surah as-Sajdah ayat 3, bahwa Nabi itu diutus oleh Allah dengan kebenaran kepada kaum yang sebelumnya belum pernah didatangi oleh pengancam. Tegasnya sesudah Isma'il meninggal, putus nubuwat, tidak ada datang lagi kepada kaum itu sampai lebih daripada dua puluh turunan; barulah dibangkitkan, “Seorang rasul dari kalangan mereka sendiri." Yaitu bahwa rasul itu bukan datang dari tempat lain, melainkan timbul atau bangkit dalam kalangan kaum yang ummiy itu sendiri. Dan, rasul itu sendiri pun seorang yang ummiy pula. Tidak pernah dia belajar menulis dan membaca sejak kecilnya sampai wahyu itu turun. Maka adalah dia rasul yang ummiy dari kalangan kaum yang ummiy.
Mereka adalah ummiy, bukan kaum terpelajar dan bukan kaum yang mempunyai sejarah peradaban yang tinggi sebagaimana yang dibanggakan oleh orang Yunani dan Romawi, orang Persia, dan India. Kalau mereka mempunyai sejarah, namun hanya satu saja. Yaitu bahwa di negeri mereka yang tandus, lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan itu, dahulu kala pernah nenek moyang mereka Nabi Ibrahim dan putra beliau Ismail diperintahkan Allah mendirikan Ka'bah tempat menyembah Allah Yang Esa. Sesudah itu tidak ada berita lagi. Gelap karena hakikat ajaran tauhid telah diselubungi oleh berbagai khurafat dan penyembahan berhala. Buta huruf betul-betul menurut arti yang sebenarnya. Dalam seratus orang belum tentu seorang yang pandai menulis atau membaca. Cuma satu kelebihan mereka, yaitu karena menulis dan membaca tidak pandai, ingatan mereka kuat.
Orang-orang Yahudi yang banyak berdiam di Yatsrib yang kemudian bernama Madinah menyebut juga bahwa orang-orang Arab itu memang ummiy, yang kadang-kadang diluaskan juga artinya, yaitu orang-orang yang tidak terpelajar. Dan orang-orang Arab itu tidaklah merasa hina karena sebutan itu. Bahkan kalau ada hal-hal yang sukar mereka tanyakan kepada orang-orang Yahudi itu. Malahan di Madinah sendiri, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke sana, orang Arab Madinah banyak yang suka menyerahkan putranya pergi belajar kepada orang Yahudi, sehingga anak-anak itu ada yang masuk Yahudi.
Dalam kalangan mereka itulah Nabi Muhammad ﷺ dibangkitkan, dalam keadaan ummiy pula. “Yang membacakan kepada mereka akan ayat-ayat-Nya." Artinya bahwa diangkatlah Muhammad yang ummiy itu menjadi Rasul Allah, diturunkan kepadanya wahyu Ilahi sebagai ayat-ayat, yang mula turunnya ialah di Gua Hira; dimulai dengan ayat Iqra' (bacalah). Di sana disebutkan, ‘Allama bil qalami, ‘allamal insaana maa lam ya'lam (yang mengajar dengan memakai pena, mengajarkan kepada manusia apa yang tadinya belum dia ketahui). Maka berturut- turutlah ayat-ayat itu turun selama beliau di Mekah dan berturut-turut lagi setelah pindah ke Madinah. Semuanya itu beliau bacakan dan beliau ajarkan. “Dan membersihkan mereka" yaitu membersihkan jiwa mereka daripada kepercayaan yang karat, daripada aqidah yang salah, daripada langkah yang tersesat, membersihkan pula badan diri mereka, jasmani mereka daripada kekotoran. Karena selama ini belum tahu apa arti kebersihan, sehingga diajar berwudhu, diajar mandi junub dan menghilangkan hadas dan najis, bahkan sampai diajar menggosok gigi. “Dan mengajarkan kepada mereka akan Kitab dan Hikmah."
Menurut kata-kata ahli tafsir, kitab ialah setelah ayat-ayat yang turun itu yang berjumlah 6.326 ayat, terkumpul dalam 114 surah, tergabung dalam satu mushaf; itulah dia Al-Kitab! Hikmah ialah Sunnah Rasul, yaitu contoh dan teladan yang dilakukan oleh beliau dalam pelaksanaan Al-Kitab.
Setengah ahli tafsir lagi mengartikan bahwa Al-Kitab artinya ialah syari'atitu sendiri; yang berisi perintah dan larangan. Hikmah ialah arti dan rahasia daripada perintah dan larangan itu. Misalnya, shalat adalah salah satu isi ajaran Al-Kitab,
“Sesungguhnya shalat itu adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar."
Shalat adalah Al-Kitab (perintah). Hikmah shalat ialah mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Atau,
“Diperintahkan kepada kamu berpuasa."
Hikmahnya ialah
“Supaya kamu bertakwa."
Oleh sebab itu supaya seseorang dapat menghayati hidup beragama, janganlah hanya bersitumpu pada syari'at dengan tidak mengetahui latar belakang yang disebut hikmah itu.
“Dan meskipun mereka sebelumnya ada di dalam kesesatan yang nyata."
(ujung ayat 2)
Ujung ayat menerangkan dengan jelas sekali perubahan pada diri orang yang ummi itu setelah kedatangan Rasul Allah yang timbul dari kalangan mereka sendiri. Sebelum Rasul itu dibangkitkan, terdapat berbagai kesesatan yang nyata. Karena mereka bukan saja ummiy yang buta huruf, bahkan lebih dari itu; ummiy buta agama, ummiy buta jalan yang benar.
Mereka kuburkan anak perempuan mereka hidup-hidup. Orang yang kaya hidup dengan menindas memeras orang miskin dengan meminjamkan uang memakai riba. Jalan menuju Allah dihambat dengan penyembahan kepada berhala. Perang suku perang kabilah. Ka'bah pusaka Nabi Ibrahim dan Isma'il, yang didirikan untuk menyembah Allah Yang Esa, mereka jadikan tempat mengumpulkan 360 berhala. Banyak lagi bukti-bukti kesesatan nyata yang lain-lain, yang semuanya itu dapat berubah dalam masa 23 tahun, sejak Nabi ﷺ yang ummiy dibangkitkan Allah dalam kalangan masyarakat yang ummiy itu.
Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menulis dalam tafsirnya, Mahaasinut-Ta'wil, tentang hikmah bahwa Nabi ﷺ diutus dan dibangkitkan Allah dalam kalangan masyarakat orang-orang yang ummiy demikian.
“Makanya diutamakan membangkitkan Nabi Muhammad ﷺ itu dalam kalangan orang-orang yang ummiy, ialah karena mereka masih mempunyai otak yang tajam, paling kuat hatinya, paling bersih fitrahnya, dan paling fasih lidahnya. Kemurnian batinnya (fitrahnya) belum dirusakkan oleh gelombang modernisasi, dan tidak pula oleh permainan golongan-golongan yang mengaku diri telah maju. Oleh sebab mereka itu masih polos, maka setelah jiwa mereka itu diisi dengan Islam, mereka telah bangkit di kalangan manusia dengan ilmu yang besar dan dengan hikmah yang mengagumkan dan dengan siasat yang adil. Dengan ajaran itu mereka memimpin bangsa-bangsa, dengan ajaran itu mereka menggoncangkan singgasana raja-raja besar. Dan dengan jelasnya bekas ajaran itu pada sisi mereka, bukanlah berarti bahwa risalah kedatangan Muhammad ini hanya khusus untuk mereka." Sekian al-Qasimi.
Demikian pula Nabi Muhammad ﷺ sendiri, seorang yang ummiy bangkit dalam kalangan bangsa yang ummiy. Itu pun suatu mukjizat yang besar. Beratus ribu, berjuta orang keluaran sekolah tinggi, orang belajar filsafat yang dalam-dalam, namun mereka tidaklah sanggup membawa perubahan ke dalam alam sehebat yang dibawa oleh sosok ummiy ini.
“Dan yang lain dari mereka yang belum bertemu dengan mereka."
(pangkal ayat 3)
Yaitu, bahwa Nabi itu pun dibangkitkan bukan saja kepada orang-orang ummiy yang beliau dapati di kala hidupnya, bahkan beliau pun diutus kepada yang lain yang belum bertemu dengan mereka; yang lain yang datang kemudian, yang belum pernah bertemu dengan kaum ummiy yang bertemu dengan Nabi ﷺ itu.
Siapakah mereka itu yang belum bertemu atau belum datang waktu Nabi masih hidup itu? Mujahid memberikan jawabnya, “Sekalian manusia yang datang sesudah bangsa Arab yang bertemu dengan Nabi ﷺ itu."
Ibnu Zaid dan Muqatil bin Hayyan mengatakan, “Ialah sekalian orang yang memeluk agama Islam sesudah Nabi ﷺ wafat sampai hari Kiamat." Dan kata Muqatil pula, “Yang dimaksud dengan orang-orang ummiy ialah Arab dan dengan “yang lain" ialah bangsa-bangsa yang menerima Islam kemudiannya."
“Dan Dia adalah Mahaperkasa, Mahabijaksana."
(ujung ayat 3)
Keperkasaan Allah ialah karena tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghalangi tumbuhnya perubahan dalam dunia dari kalangan bangsa yang ummiy. Sampai seorang pujangga Inggris, Thomas Caryle pernah mengatakan bahwa padang pasir yang panas itu telah menggelegak menjadi mesiu untuk membuat perubahan besar di dunia. Dan kebijaksanaan Allah ialah karena keadilan-Nya membagi-bagi sejarah; sesudah Mesir, Yunani, Romawi dan Persia, tiba pula giliran pada bangsa Arab menjadi pandu bagi perubahan besar dunia dengan Islam.
“Demikian itulah karunia Allah yang Ia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki."
(pangkal ayat 4)
Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana itulah yang menentukan kepada siapa Dia akan memberikan karunia. Seorang ummiy dibangkitkan dari kalangan kaum yang ummiy, dengan karunia Allah dapat memimpin dunia. Satu bangsa yang tadinya tidak mempunyai cita-cita, tidak mempunyai persatuan, yang berperang dan bermusuh sesamanya, dengan karunia Allah menjadi penyebar berita kebahagiaan ke seluruh dunia.
“Dan Allah adalah mempunyai karunia yang agung."
(ujung ayat 4)
Dan karunia Allah yang paling agung ialah menimbulkan kesadaran dalam hati manusia akan hubungannya dengan Allah, dan sadar bahwa Allah itu adalah Esa. Aqidah inilah yang membentuk pribadi bangsa yang ummiy tadi sampai menjadi bangsa yang cerdas, gagah perkasa, dan berani berkorban buat menegakkan jalan Allah.
Tafsir of Surah Al-Jumuah
Allah the Exalted said,
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الاَْرْضِ
Whatsoever is in the heavens and whatsoever is on the earth glorifies Allah --
Everything praises and glorifies Allah. Allah states that everything in the heavens and the earth glorifies His praises, including all types of living creatures and inanimate objects.
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ
Glorify Him and there is not a thing but glorifies His praise. (17:44)
Allah said,
الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
the King, the Holy,
meaning that He is the Owner and King of the heavens and the earth Who has perfect control over their affairs.
He is the Holy, free of all shortcomings, His attributes are perfect,
الْعَزِيزِ الْحَكِيم
the Almighty, the All-Wise.
Its explanation is already discussed in many places.
The Favor that Allah granted by sending Muhammad
Allah the Exalted said
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الاُْمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ
He it is Who sent among the unlettered ones a Messenger from among themselves,
the word `unlettered' here refers to the Arabs.
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَقُلْ لِّلَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَـبَ وَالاٍّمِّيِّينَ ءَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُواْ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَـغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
And say to those who were given the Scripture and those who are illiterates:Do you submit yourselves If they do, they are rightly guided; but if they turn away, your duty is only to convey the message; and Allah is All-Seer of (His) servants. (3:20)
Mentioning the unlettered ones in specific here does not mean that Muhammad was only sent to them, because the blessing to the Arabs is greater than that of other nations.
In another Ayah, Allah said,
وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ
And verily, this is indeed a Reminder for you and your people. (43:44)
Surely, the Qur'an is also a reminder for those other than Arabs to take heed.
Allah the Exalted said,
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الاٌّقْرَبِينَ
And warn your tribe of near kindred. (26:214)
These Ayat do not negate Allah's statements,
قُلْ يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Say:O mankind! verily, I am sent to you all as the Messenger of Allah. (7:158)
and,
لااٌّنذِرَكُمْ بِهِ وَمَن بَلَغَ
that I may therewith warn you and whomsoever it may reach. (6:19)
and in His statement about the Qur'an,
وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الاٌّحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ
But those of the groups that reject it, the Fire will be their promised meeting place. (11:17)
There are other Ayat that indicate that his Message is universal. He, may Allah's peace and blessings be upon him, was sent to all people, mankind and the Jinns alike. We mentioned this meaning before in Surah Al-An`am producing various Ayat and Hadiths. All praise and thanks are to due to Allah.
This Ayah testifies that Allah has indeed accepted the invocation of His friend Ibrahim when he supplicated Allah to send a Messenger to the people of Makkah from among them their own. One who will recite to them Allah's statements, purify them and teach them the Book and the Hikmah. So, Allah -- all praise and thanks be to Him -- sent him when the Messengers ceased and the way was obscure. Indeed it was a time when it was most needed. Especially since Allah hated the people of the earth, Arabs and non-Arabs alike, except for a few of the People of the Scripture, who kept to the true faith Allah the Exalted sent to `Isa bin Maryam, peace be upon him. This is why Allah said,
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الاُْمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَإلٍ مُّبِينٍ
He it is Who sent among the unlettered ones a Messenger from among themselves, reciting to them His Ayat, purifying them, and teaching them the Book and the Hikmah. And verily, they had been before in manifest error.
In ancient times, the Arabs used to adhere by the religion of Ibrahim, peace be upon him. They later changed, corrupted and contradicted it, choosing polytheism instead of Tawhid and doubts instead of certainty. They invented a religion that Allah did not legislate, just as the People of the Scriptures did when they changed and corrupted their Divine Books. Allah sent Muhammad, with a great divine legislation, perfect religion that is suitable for all humans and Jinns.
In it, there is guidance and explanations of all that they need in this life and the Hereafter. It draws them closer to Paradise and Allah's pleasure and takes them away from the Fire and earning Allah's anger.
In it, there is the final judgement for all types of doubts and suspicion for all major and minor matters of the religion.
In Muhammad, Allah gathered all the good qualities of the Prophets before him, and gave him what He has never given the earlier and later generations of mankind.
May Allah's peace and blessings be on Muhammad until the Day of Judgement.
Muhammad is the Messenger to Arabs and Non-Arabs alike
Allah said,
وَاخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
And others among them who have not yet joined them. And He is the Almighty, the All-Wise.
Imam Abu Abdullah Al-Bukhari, may Allah have mercy upon him, recorded that Abu Hurayrah said,
We were sitting with the Prophet, when Surah Al-Jumu`ah was revealed to him;
وَاخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ
(And others among them who have not yet joined them). They said, `Who are they, O Allah's Messenger'
The Prophet did not reply until they repeated the question thrice.
At that time, Salman Al-Farisi was with us. So Allah's Messenger placed his hand on Salman, saying,
لَوْ كَانَ الاِْيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ أَوْ رَجُلٌ مِنْ هوُلَاءِ
If faith were on Ath-Thurayya (Pleiades), even then some men or a man from these people would attain it.
Muslim, At-Tirmidhi, An-Nasa`i, Ibn Abi Hatim and Ibn Jarir collected this Hadith.
This Hadith indicates that Surah Al-Jumu`ah was revealed in Al-Madinah and that the Messenger's Message is universal.
The Prophet explained Allah's statement,
وَاخَرِينَ مِنْهُمْ
(And others among them) by mentioning Persia. This is why the Prophet sent messages to the kings of Persia and Rome, among other kings, calling them to Allah the Exalted and to follow what he was sent with.
This is why Mujahid and several others said that Allah's statement,
وَاخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ
(And others among them who have not yet joined them), refers to all non-Arabs who believe in the truth of the Prophet.
Allah's statement,
وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
(And He is the Almighty, the All-Wise), asserts that He is Almighty and All-Wise in His legislation and the destiny He appoints.
Allah's statement,
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُوْتِيهِ مَن يَشَاء وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
That is the grace of Allah, which He bestows on whom He wills. And Allah is the Owner of mighty grace.
refers to the great Prophethood that He granted Muhammad and the qualities that He favored his Ummah with, by sending Muhammad to them.
It is He Who sent to the unlettered [folk], [among] the Arabs (ummee means 'one who cannot write or read a book'), a messenger from among them, namely, Muhammad may peace and salutation be upon him, to recite to them His signs, Al-Qur'an, and to purify them, to cleanse them from idolatry, and to teach them the Book, Al-Qur'an, and wisdom, [in] the rulings that it contains, though indeed (wa-in: in has been softened from the hardened form, with its subject having been omitted, that is to say, [understand it as] wa-innahum) before that, [before] his coming, they had been in manifest error.
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ (He is the One who raised amidst the unlettered people a messenger from among themselves...62:2) The word ummiyyin is the plural of ummiyy, which denotes 'unlettered'. The Arabs were known by this title, because they did not know how to read and write. Very few of them had the knowledge of reading and writing. The Arabs in this verse are specially referred to in order to express the great power of Allah. The Holy Prophet ﷺ is also sent amongst them, who is himself unlettered. The duties and reformative functions of a Prophet [ as set out in the forthcoming verse ] are based on knowledge and education. These reforms are such that no unlettered individual can ever teach them, nor is it possible for an unlettered nation to learn. It was only through the Divine Supreme Power and the miracle of the Messenger of Allah ﷺ that when these reforms started, great scholars, intellectuals, men of letters, savants and sages were born among the unlettered people, and their knowledge, wisdom, sagacity and erudition was recognized by the entire world.
The Three Objectives of the Advent of the Prophet ﷺ
يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (...to recite His verses to them, and to make them pure, and to teach them the Book and the Wisdom....62:2) In the context of the Divine blessings bestowed to the mankind, three qualities of the Holy Prophet ﷺ have been mentioned. One, to recite the verses of the Qur'an to his Ummah. Two, to purify them of all the outer and inner defilements. This includes outer purification that relates to one's body and dress, and also the inner purification that relates to one's faith, actions and moral attitude. Three, to teach the Book and the wisdom. These three factors are Divine blessings to the mankind on the one hand, and these are the basic objectives and the terms of reference of the Holy Prophet ﷺ for which he was sent to this world.
يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ (...to recite His verses to them) The word tilawah lexically signifies 'to follow, to obey' but in the terminology of the Qur'an, it signifies 'recitation or reading of the Divine Words'. The word 'at refers to the verses of the Qur'an. The prepositional phrase ` alaihim [ to them ] signifies that one of the objectives or duties of the Prophet ﷺ is to recite the verses of the Qur'an to the people.
In the current verse, the second objective of the Holy Prophet ﷺ is to: يُزَكِّيهِمْ (make them pure) which is derived from tazkiyah and it means 'to make pure'. Often it is used exclusively for inner cleanliness, that is, to be free from such inner adulterating matter as kufr, shirk and free from inner moral defilement. But occasionally, it is used in the general sense of both outer and inner cleanliness. Probably, in this context it is used in the general sense of the term.
يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (...to teach them the Book and the Wisdom...62:2) The word al-Kitab refers to the Holy Qur'an, and the word al-hikmah refers to all the teachings and guidance that have been received from the Messenger of Allah ﷺ orally or practically. As a result, many of the commentators have interpreted the word hikmah as the Approved Way [ Sunnah of the Holy Prophet ﷺ .
A Question and its Answer
A question arises here that the natural order of wording in the verse should have been thus: [ 1] recitation or teaching of words; followed by [ 2] teaching of meaning; and consequently [ 3] making pure by inculcating righteous deeds and high morals. However, in most places the Qur'an has changed the sequence by inserting '[ 3] tazkiyah or making pure' between '[ 1] tilawah (recitation) and '[ 2] ta` lim (teaching). Ruh-ul-Ma'ani explains that if the natural order of wording were to be maintained in all verses, all three elements would have combined together and become 'one', as it happens in pharmaceutical mixing of many substances, the aggregate of which loses the separate identity of each element, and becomes a single 'compound' whereas probably Allah wanted to maintain separate identities of the Divine blessings and the three Prophetic duties separately identifiable. By changing the natural order in most places, the Holy Qur'an has probably alluded to this fact.
Please see Ma` arif--ul-Qur'an Vol. 1/pp 331-343, under the Surah Al-Baqarah Verse 129, for fuller explanation of this verse.








