Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
يَٰٓأَيُّهَا
wahai
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ءَامَنُواْ
beriman
لَا
janganlah
تَتَّخِذُواْ
kamu mengambil/menjadikan
عَدُوِّي
musuh-Ku
وَعَدُوَّكُمۡ
dan musuhmu
أَوۡلِيَآءَ
penolong/sahabat
تُلۡقُونَ
kamu menemui/menyampaikan
إِلَيۡهِم
kepada mereka
بِٱلۡمَوَدَّةِ
dengan kasih sayang
وَقَدۡ
dan sesungguhnya
كَفَرُواْ
kafir/ingkar
بِمَا
terhadap apa
جَآءَكُم
datang kepadamu
مِّنَ
dari
ٱلۡحَقِّ
kebenaran
يُخۡرِجُونَ
mereka mengusir
ٱلرَّسُولَ
rasul
وَإِيَّاكُمۡ
dan kamu
أَن
bahwa
تُؤۡمِنُواْ
kamu beriman
بِٱللَّهِ
kepada Allah
رَبِّكُمۡ
Tuhan kalian
إِن
jika
كُنتُمۡ
kalian adalah
خَرَجۡتُمۡ
kamu keluar
جِهَٰدٗا
berjihad/berjuang/bekerja keras
فِي
pada
سَبِيلِي
jalan-Ku
وَٱبۡتِغَآءَ
dan mencari
مَرۡضَاتِيۚ
keridaan-Ku
تُسِرُّونَ
kamu merahasiakan
إِلَيۡهِم
kepada mereka
بِٱلۡمَوَدَّةِ
dengan kasih sayang
وَأَنَا۠
dan Aku
أَعۡلَمُ
lebih mengetahui
بِمَآ
terhadap apa
أَخۡفَيۡتُمۡ
kamu sembunyikan
وَمَآ
dan apa
أَعۡلَنتُمۡۚ
kamu nyatakan
وَمَن
dan barang siapa
يَفۡعَلۡهُ
melakukannya
مِنكُمۡ
diantara kamu
فَقَدۡ
maka sesungguhnya
ضَلَّ
sesat
سَوَآءَ
sama/lurus
ٱلسَّبِيلِ
jalan
يَٰٓأَيُّهَا
wahai
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ءَامَنُواْ
beriman
لَا
janganlah
تَتَّخِذُواْ
kamu mengambil/menjadikan
عَدُوِّي
musuh-Ku
وَعَدُوَّكُمۡ
dan musuhmu
أَوۡلِيَآءَ
penolong/sahabat
تُلۡقُونَ
kamu menemui/menyampaikan
إِلَيۡهِم
kepada mereka
بِٱلۡمَوَدَّةِ
dengan kasih sayang
وَقَدۡ
dan sesungguhnya
كَفَرُواْ
kafir/ingkar
بِمَا
terhadap apa
جَآءَكُم
datang kepadamu
مِّنَ
dari
ٱلۡحَقِّ
kebenaran
يُخۡرِجُونَ
mereka mengusir
ٱلرَّسُولَ
rasul
وَإِيَّاكُمۡ
dan kamu
أَن
bahwa
تُؤۡمِنُواْ
kamu beriman
بِٱللَّهِ
kepada Allah
رَبِّكُمۡ
Tuhan kalian
إِن
jika
كُنتُمۡ
kalian adalah
خَرَجۡتُمۡ
kamu keluar
جِهَٰدٗا
berjihad/berjuang/bekerja keras
فِي
pada
سَبِيلِي
jalan-Ku
وَٱبۡتِغَآءَ
dan mencari
مَرۡضَاتِيۚ
keridaan-Ku
تُسِرُّونَ
kamu merahasiakan
إِلَيۡهِم
kepada mereka
بِٱلۡمَوَدَّةِ
dengan kasih sayang
وَأَنَا۠
dan Aku
أَعۡلَمُ
lebih mengetahui
بِمَآ
terhadap apa
أَخۡفَيۡتُمۡ
kamu sembunyikan
وَمَآ
dan apa
أَعۡلَنتُمۡۚ
kamu nyatakan
وَمَن
dan barang siapa
يَفۡعَلۡهُ
melakukannya
مِنكُمۡ
diantara kamu
فَقَدۡ
maka sesungguhnya
ضَلَّ
sesat
سَوَآءَ
sama/lurus
ٱلسَّبِيلِ
jalan
Terjemahan
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
Tafsir
Al-Mumtahanah (Wanita yang Diuji)
(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian) yakni orang-orang kafir Mekah (menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan) kalian beritakan (kepada mereka) tujuan Nabi ﷺ yang akan memerangi mereka; Nabi memerintahkan kepada kalian supaya merahasiakannya yaitu sewaktu perang Hunain (karena rasa kasih sayang) di antara kalian dan mereka. Sehubungan dengan peristiwa ini Hathib bin Abu Balta'ah mengirimkan sepucuk surat kepada orang-orang musyrik, karena Hathib mempunyai beberapa orang anak dan sanak famili yang musyrik. Akan tetapi Nabi ﷺ dapat mengambil surah itu dari tangan orang yang diutus olehnya, berkat pemberitahuan dari Allah kepada Nabi ﷺ melalui wahyu-Nya. Lalu alasan dan permintaan maaf Hathib diterima oleh Nabi ﷺ (padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian) yakni agama Islam dan Al-Qur'an (mereka mengusir Rasul dan mengusir kalian) dari Mekah setelah terlebih dahulu mereka mengganggu kalian supaya kalian keluar dari Mekah (karena kalian beriman) disebabkan kalian beriman (kepada Allah, Rabb kalian. Jika kalian benar-benar keluar untuk berjihad) untuk melakukan jihad (pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku) maka janganlah kalian mengambil mereka sebagai teman-teman setia. Jawab syarat ini disimpulkan dari pengertian ayat yang selanjutnya, yaitu: (Kalian memberitahukan secara rahasia kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya) yaitu memberitahukan berita-berita Nabi ﷺ kepada orang-orang musyrik secara rahasia (maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus) artinya menyimpang dari jalan hidayah. Lafal as-ﷺaa menurut pengertian asalnya berarti tengah-tengah.
Tafsir Surat Al-Mumtahanah: 1-3
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Tersebutlah bahwa penyebab turunnya permulaan surat yang mulia ini berkaitan dengan kisah yang dialami oleh Hatib ibnu Abu Balta'ah. Hatib adalah seorang lelaki dari kalangan Muhajirin dan juga termasuk ahli Badar (ikut dalam Perang Badar), dia mempunyai anak-anak dan juga harta yang ditinggalkannya di Mekah. Dan dia sendiri bukan termasuk salah seorang dari kabilah Quraisy, melainkan dia hanyalah teman sepakta Usman.
Ketika Rasulullah ﷺ bertekad akan menaklukkan kota Mekah, karena penduduk Mekah merusak perjanjian yang telah disepakati, maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada kaum muslim untuk membuat persiapan guna memerangi mereka, dan beliau ﷺ berdoa: Ya Allah, umumkanlah kepada mereka berita kami ini. Maka Hatib dengan sengaja menulis sepucuk surat ditujukan kepada orang-orang Quraisy melalui seorang wanita suruhannya. Tujuannya ialah untuk memberitahukan kepada penduduk Mekah rencana yang akan dilakukan oleh Rasulullah ﷺ , yaitu memerangi mereka. Ia lakukan demikian itu agar dirinya mendapat jasa di kalangan mereka. Maka Allah memperlihatkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ sebagai ijabah dari doanya, lalu beliau ﷺ mengirimkan beberapa orang utusan untuk mengejar wanita tersebut, kemudian surat itu diambil dari tangan si wanita, sebagaimana yang disebutkan kisahnya dalam hadits berikut yang telah disepakati kesahihannya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari pamannya, telah menceritakan kepadaku Hasan ibnu Muhammad ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Rafi'. Murrah mengatakan, sesungguhnya Ubaidillah ibnu Abu Rafi' menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Ali menceritakan hadits berikut, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutusnya bersama Az-Zubair dan Al-Miqdad seraya berpesan: Berangkatlah kalian bertiga menuju ke kebun Khakh, karena sesungguhnya di situ kalian akan berjumpa dengan seorang wanita dalam perjalanan. Ia membawa surat, maka ambillah surat itu darinya. Maka kami berangkat dengan memacu kuda kami hingga sampailah kami di kebun tersebut.
Ternyata di kebun itu kami menjumpai seorang wanita yang sedang dalam perjalanannya. Maka kami perintahkan kepada wanita itu, "Keluarkanlah surat itu!" Wanita itu berkilah, "Aku tidak membawa surat apa pun." Kami berkata mengancam, "Kamu harus serahkan kitab itu kepada kami atau kamu akan kami telanjangi." Akhirnya wanita itu mengeluarkan surat tersebut dari gelung rambutnya, maka kami ambil kitab itu dan membawanya kepada Rasulullah ﷺ Ternyata isi surat tersebut dari Hatib ibnu Abu Balta'ah, ditujukan kepada sejumlah orang-orang musyrik di Mekah, memberitahukan kepada mereka rencana yang akan dilakukan oleh Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ bertanya, "Wahai Hatib, surat apakah ini?" Hatib menjawab, "Jangan engkau tergesa-gesa mengambil keputusan terhadapku, sesungguhnya aku adalah seorang yang hidup mendompleng kepada orang-orang Quraisy, dan aku bukanlah seseorang dari kalangan mereka sedangkan di antara kaum Muhajirin yang ada bersama engkau mempunyai kaum kerabat di Mekah yang dapat melindung, keluarganya yang tertinggal.
Maka karena aku tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka, aku bermaksud menggantinya dengan jasa kepada mereka. Dan tidaklah aku berbuat demikian karena kekafiran, bukan pula karena murtad dari agamaku, serta tidak pula rida dengan kekufuran sesudah aku masuk Islam." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Dia berkata sebenarnya kepada kalian. Umar tidak sabar, ia mengatakan, "Biarkanlah aku memenggal batang leher orang munafik ini." Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya dia telah ikut dalam Perang Badar, dan tahukah kamu, barangkali Allah menengok ahli Badar, lalu berfirman kepada mereka, "Berbuatlah menurut apa yang kalian kehendaki, sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu." Hal yang sama telah diketengahkan oleh Jamaah kecuali Ibnu Majah, dari berbagai jalur melalui Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Imam Al-Bukhari di dalam Kitabul Magazi-nya menambahkan, bahwa lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia. (Al-Mumtahanah: 1) Dan di dalam kitab tafsirnya ia mengatakan bahwa Amr berkata, bahwa lalu diturunkanlah ayat berikut berkenaan dengannya (Hatib), yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia. (Al-Mumtahanah: 1) Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah ayat ini termasuk bagian dari hadits ataukah Amr yang mengatakannya.
Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa Ali ibnul Madini telah menceritakan bahwa pernah ditanyakan kepada Sufyan tentang hal ini, yaitu tentang penurunan firman-Nya: /anganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia. (Al-Mumtahanah: 1) Maka Sufyan menjawab, "Memang demikianlah yang terdapat dalam hadits orang-orang yang aku hafal dari Amr, tanpa meninggalkan satu huruf pun darinya, dan tiada yang meriwayatkannya seperti ini selain diriku.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan di dalam kitab Sahihain melalui hadits Husain ibnu Abdur Rahman, dari Sa'd ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengutusku bersama Abu Marsad dan Az-Zubair ibnul Awwam, kami bertiga berkuda. Nabi ﷺ bersabda, "Berangkatlah kalian hingga sampai di kebun Khakh, karena sesungguhnya di dalam kebun itu terdapat seorang wanita dari kaum musyrik membawa sebuah surat rahasia dari Hatib ibnu Abu Balta'ah ditujukan kepada orang-orang musyrik. Maka kami menjumpai wanita itu sedang berjalan dengan mengendarai untanya sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ Maka kami berkata kepadanya, "Di manakah surat itu?" Ia menjawab, "Aku tidak membawa surat apa pun." Lalu kami turunkan dia dan kami geledah dia, ternyata kami tidak menemukan surat tersebut.
Kami berkata dalam diri kami, bahwa mustahil Rasulullah ﷺ dusta. Akhirnya kami berkata kepada wanita itu, "Kamu harus mengeluarkan surat itu atau kami telanjangi kamu." Ketika wanita itu melihat bahwa ancaman kami sungguhan, ia membuka kain kembennya yang terhalang oleh kain kisa-nya, dan ia mengeluarkan surat itu. Kemudian kami bawa surat itu kepada Rasulullah ﷺ Maka Umar berkata, "Wahai Rasulullah, dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, maka biarkanlah aku memukul (memenggal) batang lehernya." Nabi ﷺ menginterogasi Hatib, "Apakah yang mendorongmu berbuat demikian?" Hatib menjawab, "Demi Allah, tiadalah diriku kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku bertujuan ingin mempunyai jasa di kalangan kaum itu guna untuk membela keluarga dan harta bendaku.
Tiada seorang pun dari sahabatmu, melainkan dia mempunyai kaum kerabat di sana yang melalui mereka Allah membela keluarga dan harta yang ditinggalkannya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Dia benar, janganlah kalian berkata kepadanya kecuali yang baik." Umar berkata, "Sesungguhnya dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukmin. Maka biarkanlah aku memenggal batang lehernya." Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukankah dia termasuk ahli Badar? Rasul ﷺ melanjutkan, bahwa semoga Allah memperhatikan ahli Badar (dengan perhatian yang khusus), lalu berfirman, "Berbuatlah menurut kehendakmu, sesungguhnya Aku telah memastikan surga bagimu. Atau, "Aku telah memberikan ampunan bagimu. Mendengar jawaban Rasulullah ﷺ , maka berlinanglah air mata Umar, lalu ia berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Demikianlah menurut lafal Imam Al-Bukhari di dalam Al-Magazi, yaitu Bab "Perang Badar." Telah diriwayatkan melalui jalur lain dari Ali Untuk itu disebutkan oleh Ibnu Abu Hatim bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan Al-Hasanjani, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Ya'isy, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sulaiman Ar-Razi, dari Abu Sinan alias Sa'id ibnu Sinan, dari Amr ibnu Murrah Al-Hamli, dari Abu Ishaq Al-Buhturi At-Ta'i, dari Al-Haris, dari Ali yang mengatakan bahwa ketika Nabi ﷺ hendak menuju ke Mekah, beliau merahasiakan tujuannya ini kepada sebagian dari sahabatnya, yang antara lain ialah Hatib ibnu Abu Balta'ah.
Sedangkan yang disebarkan ialah bahwa Nabi ﷺ bertujuan ke Khaibar. Maka Hatib berkirim surat kepada penduduk Mekah yang memberitakan bahwa Rasulullah ﷺ hendak menyerang kalian. Maka Rasulullah ﷺ diberi tahu (oleh Jibril a.s.), lalu beliau mengutusku dan Abu Marsad, dan tiada seorang pun dari kami melainkan berkuda. Rasulullah ﷺ berpesan kepada kami: Datanglah kamu ke kebun Khakh karena sesungguhnya kamu akan menjumpai padanya seorang wanita yang membawa surat (rahasia), maka rebutlah surat itu darinya! Kami berangkat hingga kami melihatnya di tempat seperti yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ , lalu kami berkata kepadanya, "Keluarkanlah surat itu." Ia menjawab, "Kami tidak membawa surat apa pun." Lalu kami letakkan barang-barangnya dan kami periksa semuanya, ternyata tidak kami jumpai pada barang-barang bawaannya. Lalu Abu Marsad berkata, "Barangkali surat itu ada bersamanya." Aku berkata, "Memang Rasulullah tidak dusta dan tidak pernah berdusta kepada kami." Akhirnya kami katakan kepada wanita itu, "Keluarkanlah surat itu, atau kalau tidak kami akan menelanjangimu." Wanita itu berkata, "Tidakkah kamu takut kepada Allah, bukankah kalian orang-orang muslim?" Kami berkata, "Kamu keluarkan surat itu atau kami telanjangi kamu." Amr ibnu Murrah menceritakan bahwa akhirnya wanita itu mengeluarkan surat tersebut dari kain kembennya.
Menurut Habib ibnu Abu Sabit, wanita itu mengeluarkan surat tersebut dari liang vaginanya, lalu kami datangkan surat itu kepada Rasulullah ﷺ , dan ternyata surat itu dari Hatib ibnu Abu Balta'ah. Maka berdirilah Umar dan mengatakan, "Wahai Rasulullah, dia telah berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka izinkanlah bagiku memukul batang lehernya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Mudah-mudahan Allah memperhatikan ahli Badar dengan perhatian yang khusus dan berfirman, "Berbuatlah menurut apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Aku Maha Melihat terhadap semua yang kamu kerjakan." Maka berlinanganlah air mata Umar dan berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Lalu Rasulullah mengundang Hatib dan bertanya, "Wahai Hatib, apakah yang mendorongmu berbuat seperti itu?" Hatib menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang yang mendompleng pada orang-orang Quraisy, dan aku memiliki harta dan keluarga yang ada di kalangan mereka, sedangkan tiada seorang pun dari sahabatmu melainkan dia mempunyai orang yang membela harta dan keluarganya.
Maka aku menyampaikan informasi itu kepada mereka (agar keluarga dan hartaku yang ada di sana tidak diganggu). Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Hatib benar, janganlah kamu berkata mengenai Hatib melainkan hanya kebaikan belaka. Habib ibnu Abu Sabit mengatakan bahwa lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. (Al-Mumtahanah: 1), hingga akhir ayat. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ibnu Humaid, dari Mahran, dari Abu Sinan berikut sanadnya yang semisal.
Para pemilik kitab Magazi was Siyar telah mengetengahkan pula hal ini. Untuk itu Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan di dalam kitab Sirah-nya, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja'far ibnuz Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair dan lain-lainnya, dari kalangan ulama kita, bahwa ketika Rasulullah ﷺ telah bertekad untuk berangkat menuju ke Mekah, maka Hatib ibnu Abu Balta'ah berkirim surat kepada orang-orang Quraisy, memberitakan kepada mereka tentang kebulatan tekad Rasulullah ﷺ untuk berangkat menuju mereka. Kemudian surat itu ia titipkan kepada seorang wanita, yang menurut Muhammad ibnu Ja'far diduga wanita itu berasal dari Muzayyanah, sedangkan selain dia menduganya bernama Sarah maula Bani Abdul Muttalib.
Kemudian Hatib memberinya hadiah sebagai imbalan menyampaikan surat tersebut kepada orang-orang Quraisy. Lalu wanita itu menyimpan surat tersebut di dalam gelungan rambutnya, lalu berangkat menuju ke Mekah. Dan datanglah berita dari langit kepada Rasulullah ﷺ yang menceritakan tentang apa yang dilakukan oleh Hatib itu. Maka beliau mengutus Ali ibnu AbuTalib dan Az-Zubair ibnul Awwam seraya berpesan kepada keduanya: Kejarlah olehmu berdua seorang wanita yang membavsa surat Hatib ditujukan kepada orang-orang Ouraisyyang isinya memperingatkan mereka tentang apa yang telah kita sepakati terhadap urusan mereka.
Maka keduanya keluar hingga dapat mengejarnya di Hulaifah, yaitu tempatnya Bani Abu Ahmad. Lalu keduanya menurunkan wanita itu dari untanya dan memeriksa barang bawaannya, tetapi keduanya tidak menemukan surat tersebut. Ali ibnu Abu Talib berkata kepada wanita itu, "Sesungguhnya aku bersumpah dengan nama Allah, bahwa Rasulullah tidak dusta dan beliau tidak pernah berdusta kepada kami.
Sekarang kamu harus mengeluarkan surat itu; atau kalau tidak, maka kami benar-benar akan membuka pakaianmu." Ketika wanita itu melihat bahwa ancaman Ali sungguhan, maka ia berkata, "Berpalinglah kamu." Maka Ali memalingkan mukanya, dan wanita itu membuka gelungan rambutnya dan mengeluarkan surat tersebut darinya, selanjutnya surat itu ia serahkan kepada Ali. Kemudian Ali menyerahkan surat itu kepada Rasulullah ﷺ , lalu beliau ﷺ memanggil Hatib dan bertanya kepadanya, "Wahai Hatib, apakah yang mendorongmu berbuat demikian?" Hatib menjawab, "Wahai Rasulullah, ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, aku tidak berubah dan tidak pula berganti (agama).
Tetapi aku adalah seorang yang tidak memiliki famili dan kerabat di kalangan kaum Quraisy, sedangkan aku mempunyai anak-anak dan keluarga di kalangan mereka, maka aku bermaksud membuat suatu jasa (budi) kepada mereka." Maka Umar berkata, "Wahai Rasulullah, biarkanlah aku menebas batang lehernya, karena sesungguhnya dia adalah seorang munafik." Rasulullah ﷺ bersabda: Tahukah kamu, wahai Umar, barangkali Allah memberikan perhatian yang khusus kepada ahli Badar, lalu Dia berfirman, "Berbuatlah menurut apa yang kamu kehendaki, karena sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu." Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya berkenaan dengan kisah Hatib ini, yaitu: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman sedayang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. (Al-Mumtahanah: 1) sampai dengan firman-Nya: Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang ada bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Al-Mumtahanah: 4) hingga akhir kisah.
Telah diriwayatkan pula oleh Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah hal yang semisal. Hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil ibnu Hayyan, bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan Hatib ibnu Abu Balta'ah, bahwa dia menyuruh Sarah maula Bani Hasyim untuk membawa suratnya, dan ia memberinya hadiah sepuluh dirham. Lalu Rasulullah ﷺ mengirimkan Umar ibnul Khattab dan Ali ibnu Abu Talib untuk mengejarnya, hingga keduanya dapat mengejarnya di Al-Juhfah. Kemudian selanjutnya sama dengan kisah di atas.
Telah diriwayatkan pula dari As-Suddi hal yang mendekati kisah di atas. Dan hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, Qatadah, dan Mujahid serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan kisah Hatib ibnu Abu Balta'ah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. (Al-Mumtahanah: 1) Yakni kaum musyrik dan orang-orang kafir yang selalu memerangi Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin.
Allah memerintahkan agar mereka dimusuhi dan diperangi serta melarang mengambil mereka menjadi kekasih, teman, dan orang-orang yang terdekat. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51) Ini mengandung ancaman yang keras dan peringatan yang pasti.
Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman pula dalam ayat yang lainnya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (Al-Maidah: 57) Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). (An-Nisa: 144) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya yang menyebutkan: Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.
Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali Imran: 28) Karena itulah maka Rasulullah ﷺ menerima alasan dan permintaan maaf dari Hatib, karena sesungguhnya dia melakukan hal itu semata-mata hanyalah sebagai sikap diplomasi dan basa-basinya terhadap orang-orang Quraisy, mengingat dia memiliki harta dan anak-anak di kalangan mereka. Sehubungan dengan hal ini perlu diketengahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa: telah menceritakan kepada kami Mus'ab ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Al-Ahlaj, dari Qais ibnu Abu Muslim, dari Rib'i ibnu Hirasy, bahwa ia pernah mendengar Huzaifah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menceritakan kepada kami berbagai tamsil (perumpamaan), sebanyak sekali, tiga kali, lima kali, tujuh kali, sembilan kali, dan sebelas kali.
Lalu beliau ﷺ membuatkan bagi kami sebuah tamsil saja darinya, sedangkan yang lain ditinggalkannya. Beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya pernah ada suatu kaum yang lemah lagi miskin, mereka diperangi oleh orang-orang yang sewenang-wenang dan suka permusuhan, kemudian Allah memenangkan orang-orang yang lemah atas mereka. Sesudah itu orang-orang yang tadinya lemah itu dengan sengaja berteman dengan musuh mereka dan menjadikan musuh mereka mempunyai jabatan dan kekuasaan atas diri mereka. Maka Allah murka terhadap kaum yang lemah itu sampai hari mereka bersua dengan-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu. (Al-Mumtahanah: 1) Alasan ini dan yang sebelumnya menggugah kaum mukmin untuk memusuhi mereka dan tidak boleh menjadikan mereka teman, karena mereka telah mengusir Rasul dan para sahabatnya dari kalangan mereka, sebab mereka benci kepada ajaran tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata.
Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. (Al-Mumtahanah: 1) Yakni kamu tidak mempunyai dosa terhadap mereka, melainkan hanya semata-mata karena kamu beriman kepada Allah, Tuhan semesta alam. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (Al-Buruj: 8) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, "Tuhan kami hanyalah Allah. (Al-Hajj: 40) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku. (Al-Mumtahanah: 1) Yakni jika niatmu memang demikian, maka janganlah kamu mengambil mereka sebagai teman-teman dekatmu.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwajika kamu benar keluar hanya untuk berjihad di jalan-Ku dan meraih rida-Ku kepada kalian, maka janganlah kalian berteman dengan musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh kalian. Sesungguhnya mereka telah mengusir kalian dari rumah dan harta benda kalian, karena benci dan tidak suka dengan agama kalian. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang.
Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. (Al-Mumtahanah: 1) Yakni kamu lakukan hal itu, sedangkan Aku mengetahui semua rahasia dan apa yang terkandung di dalam hati serta apa yang dinyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu). (Al-Mumtahanah: 1-2) Maksudnya, seandainya mereka mempunyai kemampuan untuk mengalahkan kalian, tentulah mereka tidak segan-segan menyakiti kalian dengan ucapan dan tangan mereka.
dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. (Al-Mumtahanah: 2) Yaitu mereka sangat menginginkan agar kamu tidak memperoleh suatu kebaikan pun. Dengan kata lain, permusuhan mereka kepada kalian telah mendarah daging, baik lahir maupun batinnya. Maka mengapa kalian berteman dengan orang-orang seperti mereka? Ini pun merupakan alasan lain yang menggugah hati kaum mukmin untuk memusuhi mereka. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat.
Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Mumtahanah: 3) Yakni kekerabatanmu tidak dapat memberikan manfaat kepadamu di sisi Allah. Apabila Allah menghendaki keburukan bagimu, dan pemberian manfaat mereka (kepadamu) tidak akan sampai kepadamu, jika kamu membuat mereka puas terhadap apa yang dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala Dan barang siapa yang membiarkan keluarganya dalam kekafiran untuk memuaskan hati mereka, maka sesungguhnya dia kecewa, merugi, dan lenyap amalnya; dan tiada bermanfaat baginya di sisi Allah hubungan kekerabatannya, siapapun dia adanya, sekalipun dia adalah orang yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan salah seorang nabi.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Sabit ibnu Anas, bahwa seorang lelaki pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, di manakah ayahku?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Di dalam neraka." Ketika lelaki itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda kepadanya, "Sesungguhnya ayahku (pun jika sama seperti ayahmu masuk neraka pula." Hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Abu Dawud melalui Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama.".
Wahai orang-orang yang beriman di mana pun dan kapan pun kamu hidup! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku, yaitu mereka yang menolak ajaran-Ku, dan musuhmu yang membenci, menganiaya, berencana membunuh dan mengusir kamu dari tanah kelahiran kamu hanya karena kamu beriman kepada-Ku sebagai teman setia sehingga kamu merasa perlu menyampaikan kepada mereka informasi tentang Nabi Muhammad yang membahayakan Islam dan kaum muslim, karena kasih sayang kamu kepada mereka, padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran, menolak beriman kepada Al-Qur'an yang disampaikan kepada kamu melalui Rasulullah. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri, ketika kamu bersama Rasulullah berada di Mekah sebelum hijrah ke Madinah, tanpa ada alasan apa pun hanya karena kamu beriman kepada Allah, Tuhan kamu, yang memelihara kamu dan seluruh jagat raya. Janganlah kamu berbuat demikan, bersahabat dengan orang-orang kafir dan membocorkan rahasia kepada mereka, jika kamu benar-benar keluar dari kota kelahiran kamu, Mekah dan berhijrah ke Madinah bersama Rasul untuk berjihad pada jalan-Ku guna mengharumkan Islam dan kaum muslim. Kamu benar-benar pengkhianat, karena kamu memberitahukan secara rahasia informasi-informasi tentang Nabi Muhammad kepada mereka, yang membahayakan Islam dan kaum muslim serta keamanan Negara Madinah, karena kecintaan kamu kepada mereka, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dari Rasul dan kaum muslim dan apa yang kamu nyatakan secara terbuka di hadapan publik. Dan barang siapa di antara kamu, wahai orang-orang beriman, melakukannya, membocorkan rahasia kepada orang-orang kafir, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus hingga bertobat dan kembali setia kepada ajaran Islam. 2. Allah lalu menjelaskan mengapa ia melarang kaum muslim membocorkan rahasia kepada kaum kafir. Jika mereka, orang-orang kafir yang memusuhi kamu, menangkap kamu atau mengalahkan kamu dalam perang, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kamu dengan berbuat kezaliman di luar batas kemanusiaan, karena orang kafir yang membenci Islam dan kaum muslim tidak bisa dijadikan sahabat setia; lalu melepaskan tangan mereka dengan tindakan dan lidahnya dengan kata-kata kasar dan tajam kepada kamu untuk menyakiti perasaan kamu, menghujat ajaran Islam, serta melukai kehormatan kamu sebagi muslim; dan mereka sangat menginginkan agar kamu kembali kafir, mengikuti keyakinan mereka.
Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin agar tidak mengadakan hubungan kasih sayang dengan kaum musyrik yang menjadi musuh Allah dan kaum Muslimin. Sebab, dengan adanya hubungan yang demikian itu, tanpa disadari mereka telah membukakan rahasia-rahasia kaum Muslimin, menyampaikan sesuatu yang akan dilaksanakan Rasulullah ﷺ kepada mereka dalam usaha menegakkan kalimat Allah. Oleh karena itu, kaum Muslimin dilarang melakukan yang demikian sekalipun kepada kaum kerabatnya.
Menjadikan orang-orang kafir yang memusuhi kaum Muslimin sebagai teman setia dan penolong adalah suatu hal yang dilarang. Hal ini tidak boleh dilakukan selama orang-orang kafir itu ingin menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin.
Allah kemudian menjelaskan penyebab larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, yaitu:
1. Mereka menyangkal dan tidak membenarkan semua yang dibawa Rasulullah. Mereka ingkar kepada Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur'an. Mungkinkah orang yang seperti itu dijadikan penolong-penolong dan teman setia? Kemudian disampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang bermanfaat bagi mereka dan menimbulkan bahaya bagi kaum Muslimin?
2. Mereka telah mengusir Rasulullah ﷺ dan orang-orang Muhajirin dari kampung halaman mereka karena beriman kepada Allah, bukan karena sebab yang lain.
Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah:
Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji (al-Buruj/85: 8)
Dan Firman Allah:
(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, "Tuhan kami ialah Allah." Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa (al-hajj/22: 40)
Allah memperingatkan kaum Muslimin bahwa jika mereka keluar dari kampung halaman atau terusir karena berjihad di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya, maka janganlah sekali-kali menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia dan penolong-penolong mereka. Cukuplah kaum Muslimin menderita akibat tindakan-tindakan mereka, dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada mereka menambah penderitaan kaum Muslimin. Bagaimana mungkin ada di antara kaum Muslimin melakukan seperti yang dilakukan hathib yang menyampaikan kepada orang-orang kafir langkah-langkah yang akan diambil Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir?
Allah Mahatahu segala yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, sehingga beliau segera dapat mengambil tindakan. Dengan demikian, kaum Muslimin tidak dirugikan.
Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa barang siapa yang berkasih-kasihan dengan musuh Islam dan menjadikan mereka penolong-penolong, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
SURAH AL-MUMTAHANAH
(PEREMPUAN YANG DIUJI)
SURAH KE-60, 13 AYAT, DITURUNKAN DI MADINAH
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Pengasih.
DISIPLIN
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu ambil musuh-Ku dan musuh kamu jadi penolong."
(pangkal ayat 1)
Yang kita artikan dengan sahabat-sahabat di sini adalah Auliya'.
Sebagaimana diketahui Auliya' adalah jamak dari wali. Arti wali bukan saja penolong, tetapi berarti juga pemimpin, pemuka, sahabat karib, orang yang melindungi. Bahkan pemimpin suatu negeri, sebagai gubernur, disebut juga wali. Ayah yang berhak mengawinkan anak perempuannya namanya wali juga. Oleh sebab itu kesimpulan arti dari wali adalah luas sekali, mencakup pembelaan, pertolongan, pelindung dan lain-lain. Arti yang cocok di sini ialah penolong. Sebab Haathib minta tolong kepada kaum musyrikin membela anaknya dan dirinya.
Kita telah maklum bahwa sebab utama dari turunnya ayat ialah karena Haathib berkirim surat kepada kaum musyrikin di Mekah menerangkan bahwa tentara Rasulullah di bawah pimpinan beliau sendiri akan menyerbu Mekah. Dengan perbuatannya ini Haathib telah membuat kontak dan membuka rahasia kepada musuh yang akan diperangi. Dengan perbuatan begini Haathib telah mengambil musuh jadi wali, yaitu orang tempat menumpahkan kepercayaan. Sudah nyata bahwa penduduk Mekah akan diperangi dan mereka masih menantang Islam. Memberitahu kepada pihak musuh adalah suatu perbuatan pengkhianatan, meskipun Haathib dalam niat hatinya bukan mengkhianat. “Yang kamu temui mereka dengan kecintaan." Maksud menemui di sini bukanlah semata-mata bertemu muka. Haathib tidaklah bertemu dengan musuh Allah dan musuh kaum Muslimin itu. Tetapi dia telah menemui dengan berkirim surat. “Padahal sungguh mereka telah kafir terhadap kepada apa yang telah datang kepada kamu dari kebenaran." Yaitu mereka telah jadi musuh Allah dan musuh kaum Muslimin, sebab mereka telah dengan terang- terangan menolak, tidak mau percaya kepada segala ajakan dan seruan kebenaran yang disampaikan oleh utusan Allah, yaitu agama yang menunjukkan kepada mereka jalan yang benar, mencegah mereka menyembah kepada yang selain Allah dan hanya tunduk kepada Allah saja. “Mereka usir Rasul dan kamu sendiri, karena kamu beriman kepada Allah, Tuhan kamu." Inilah sikap permusuhan yang paling besar yang telah mereka lakukan. Sampai Rasulullah terusir, dikeluarkan, atau diatur jalan hendak membunuhnya, sehingga kalau beliau menetap juga di Mekah sudah terang beliau akan dibunuh oleh mereka. Dan mereka usir pula orang-orang yang menyatakan iman kepada ajaran yang dibawa Rasul itu, sampai berduyun-duyunlah mereka hijrah meninggalkan Mekah dan berdiam di Madinah. Dan setelah pindah ke Madinah itu pun tidak kurang gangguan mereka dan usaha buruk mereka hendak menghancurkan ajaran Islam yang tengah tumbuh itu.
“Jika kamu keluar berjihad pada jalan-Ku dan mengharapkan keridhaan-Ku." Artinya, bahwa orang-orang yang beriman tidaklah boleh membuat hubungan dengan musuh Allah itu ketika Rasul dan orang-orang beriman bermaksud hendak keluar pergi memerangi musuh Allah yang kafir dan pernah mengusir Rasul itu; tidaklah pantas berhubungan dengan musuh di saat akan keluar meng-harapkan ridha Allah. Tidaklah pantas “Kamu berahasia kepada mereka dengan kasih sayang." Kamu pergi berhubungan secara rahasia, mengirim surat dengan perantaraan seorang perempuan, dengan tidak diketahui oleh Nabi. “Dan Aku lebih tahu dengan apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maka percobaanmu membuat suatu perbuatan yang salah, secara rahasia itu, niscaya diketahui oleh Allah. Sebagai seorang yang beriman tidak bisa berbuat sesuatu yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.
“Dan barangsiapa yang membuatnya diantara kamu, maka tersesatlah dia dari jalan yang turus."
(ujung ayat 1)
Sehingga kalau berhasil akan gagallah rencana besar yang sedang dirancangkan oleh Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin, dan sangatlah besar dosa dan tanggung jawabmu jika hal ini kejadian. Alhamdulillah Rasulullah diberitahu oleh Allah sehingga maksudmu itulah yang gagal.
“Jika mereka dapat menangkap kamu."
(pangkal ayat 2)
Artinya jika rahasia penyerbuan ini mereka ketahui, sehingga tersebab itu mereka siap dan waspada, lalu penyerbuan itu mereka tangkis atau mereka dahului, sehingga mereka beroleh kemenangan dan maksud kamu dapat digagalkan. “Adalah mereka akan jadi musuh." Artinya bahwa orang yang kau anggap sebagai sahabat itu akan jadi musuh semua. Karena masalah itu bukanlah soal kekeluargaan dan persahabatan, melainkan soal keyakinan dan kepercayaan. Tidaklah dipercayai bahwa orang yang dikirimi surat oleh Haathib ini akan memegang rahasia. Dia mesti menyampaikannya kepada yang lain. Maka kalau mereka berhasil mempertahankan diri, di situlah akan ternyata kelak bahwa semua adalah musuh. “Dan akan mereka lancangkan kepada kamu tangan mereka." Orang yang mempertahankan pendirian yang salah, tegasnya orang yang kafir, tidaklah akan ada rasa belas kasihan. Jika kamu dapat mereka tawan, pastilah dendam mereka akan mereka balaskan. Tangan mereka akan lancang berbuat apa saja terhadap kamu, memukul mencincang, memenggal, dan membacok. “Dan lidah mereka dengan jahat." dengan memaki, menghina, mencerca, sehingga tikaman lidah itu pun akan lebih sakit daripada tikaman pedang.
“Dan senanglah mereka jika kamu kafir."
(ujung ayat 2)
Boleh diartikan bahwa dengan jalan menganiaya dengan tangan dan mencela dengan lidah, mereka senang sekali jika hatimu gentar dan takut, atau patah semangat, lalu kamu kafir. Bukan main senang mereka!
Dengan ayat ini Allah melukiskan dengan perantaraan Rasul-Nya bagaimana celaka datang bertimpa jika orang kalah dalam peperangan. Inilah uraian yang lebih tepat dan tajam dengan pepatah yang terkenal, “Wailun lil maghlub" (celakalah siapa yang kalah).
“Sekali-kali tidaklah akan ada manfaatnya bagi kamu hubungan keluarga kamu dan anak-anak kamu."
(pangkal ayat 3)
Kalau pegangan hidup sudah berbeda, kalau satu pihak sudah menerima iman kepada Allah dan Rasul, dan pihak yang lain masih bertahan kepada kemusyrikan dan kesesatan tidaklah ada manfaatnya lagi mempertahankan keluarga. Lantaran inilah maka telah berpisah antara anak yang beriman yaitu Abu Bakar, dengan ayah yang masih musyrik, yaitu Abu Quhafah. Demikian juga di antara ayah yang telah beriman yaitu Abu Bakar dengan anak yang masih musyrik, yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar. Demikian juga sahabat-sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang lain. Di saat terjadi perlawanan berhadapan (konfrontasi) hubungan kekeluargaan itu tidak dapat dipertahankan lagi. “Di hari Kiamat Dia akan memisahkan di antara kamu." Ini diperingatkan oleh Allah dengan perantaraan Nabi-Nya, agar orang-orang yang beriman dapat meneguhkan imannya dan jangan mencampur aduk soal iman dan aqidah dengan soal kekeluargaan.
“Dan Allah terhadap apa yang kamu kerjakan adalah melihat."
(ujung ayat 3)
Ujung ayat ini adalah peringatan bagi orang-orang yang beriman agar dia berhati-hati menjaga lahir dan batinnya. Terutama tentang hubungan keluarga.
Orang disuruh berbaik dengan keluarganya, walaupun mereka masih kafir. Tetapi hubungan yang baik sekali-kali jangan sampai merugikan perjuangan.
Tafsir of Surah Al-Mumtahanah
Reason behind revealing Surah Al-Mumtahanah
The story of Hatib bin Abi Balta`ah is the reason behind revealing the beginning of this honorable Surah.
Hatib was among the Early Emigrants and participated in the battle of Badr. Hatib had children and wealth in Makkah, but he was not from the tribe of Quraysh. Rather, he was an ally of Uthman. When the Messenger of Allah decided to conquer Makkah, after its people broke the peace treaty between them, he ordered the Muslims to mobilize their forces to attack Makkah, and then said,
اللْهُمَّ عَمِّ عَلَيْهِمْ خَبَرَنَا
O Allah! Keep our news concealed from them.
Hatib wrote a letter and sent it to the people of Makkah, with a woman from the tribe of Quraysh, informing them of the Messenger's intent to attack them. He wanted them to be indebted to him (so that they would grant safety to his family in Makkah).
Allah the Exalted conveyed this matter to His Messenger, because He accepted the Prophet's invocation (to Him to conceal the news of the attack).
The Prophet sent someone after the woman and retrieved the letter.
This story is collected in the Two Sahihs.
Imam Ahmad recorded that Hasan bin Muhammad bin Ali said that Abdullah bin Abu Rafi` -- or Ubaydullah bin Abu Rafi` -- said that he heard Ali say,
Allah's Messenger sent me, Zubayr and Al-Miqdad saying,
`Proceed until you reach Rawdat Khakh, where there is a lady carrying a letter. Take that letter from her.'
So we proceeded on our way, with our horses galloping, until we reached the Rawdah. There we found the lady and said to her,
`Take out the letter.'
She said, `I am not carrying a letter.'
We said, `Take out the letter, or else we will take off your clothes.'
So she took it out of her braid, and we brought the letter to Allah's Messenger.
The letter was addressed from Hatib bin Abu Balta`ah to some pagans of Makkah, telling them about what Allah's Messenger intended to do. Allah's Messenger said,
O Hatib! What is this?
Hatib replied,
`O Allah's Messenger! Do not make a hasty decision about me. I was a person not belonging to Quraysh, but I was an ally to them. All the Emigrants who were with you have kinsmen (in Makkah) who can protect their families. So I wanted to do them a favor, so they might protect my relatives, as I have no blood relation with them. I did not do this out of disbelief or to renegade from my religion, nor did I do it to choose disbelief after Islam.'
Allah's Messenger said to his Companions,
إِنَّهُ صَدَقَكُم
(Regarding him), he has told you the truth.
Umar said, `O Allah's Messenger! Allow me to chop off the head of this hypocrite!'
The Prophet said,
إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ
اعْمَلُوا مَا شِيْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُم
He attended Badr. What can I tell you, perhaps Allah looked at those who attended Badr and said,
O the people of Badr, do what you like, for I have forgiven you.
The Group with the exception of Ibn Majah, collected this Hadith using various chains of narration that included Sufyan bin `Uyaynah.
Al-Bukhari added in his narration in the chapter on the Prophet's battles,
Then Allah revealed the Surah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا لَاا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء
O you who believe! Take not my enemies and your enemies as protecting friends...
Al-Bukhari said in another part of his Sahih, Amr (one of the narrators of the Hadith) said,
This Ayah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا لَاا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء
(O you who believe! Take not my enemies and your enemies as protecting friends'...) was revealed about Hatib, but I do not know if the Ayah was mentioned in the Hadith (or was added as an explanation by one of the narrators).
Al-Bukhari also said that:
Ali bin Al-Madini said that Sufyan bin `Uyaynah was asked, Is this why this Ayah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا لَاا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء
(O you who believe! Take not my enemies and your enemies as protecting friends'...) was revealed
Sufyan said,
This is the narration that I collected from `Amr, I did not leave a letter out of it. I do not know if anyone else memorized the same words for it.
The Command to have Enmity towards the Disbelievers and to abandon supporting Them
Allah's statement,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا لَاا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء
تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءكُم مِّنَ الْحَقِّ
O you who believe! Take not My enemies and your enemies as protecting friends showing affection towards them, while they have disbelieved in what has come to you of the truth,
refers to the idolators and the disbelievers who are combatants against Allah, His Messenger and the believers. It is they whom Allah has decided should be our enemies and should be fought. Allah has forbidden the believers to take them as friends, supporters or companions.
Allah the Exalted said in another Ayah,
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَـرَى أَوْلِيَأءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَأءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
O you who believe!
Take not the Jews and the Christians as protecting friends; they are but protecting friends of each other. And if any among you takes them (as such), then surely, he is one of them. (5:51)
This Ayah contains a stern warning and a sure threat.
Allah the Exalted said,
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ الَّذِينَ اتَّخَذُواْ دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَـبَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَأءَ وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِن كُنتُم مُّوْمِنِينَ
O you who believe!
Take not as protecting friends those who take your religion as a mockery and fun from among those who received the Scripture before you, nor from among the disbelievers; and have Taqwa of Allah if you indeed are true believers. (5:57)
يَـأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ الْكَـفِرِينَ أَوْلِيَأءَ مِن دُونِ الْمُوْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ للَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً
O you who believe!
Take not for protecting friends disbelievers instead of believers. Do you wish to offer Allah a manifest proof against yourselves? (4:144)
and,
لااَّ يَتَّخِذِ الْمُوْمِنُونَ الْكَـفِرِينَ أَوْلِيَأءَ مِن دُونِ الْمُوْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَىْءٍ إِلَا أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَـةً وَيُحَذِّرْكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ
Let not the believers take the disbelievers as protecting friends instead of the believers, and whoever does that will never be helped by Allah in any way, except if you indeed fear a danger from them. And Allah warns you against Himself (His punishment). (3:28)
This is why Allah's Messenger accepted Hatib's excuse when he said that he only wanted to have a favor on the Quraysh, because of the property and family members he left behind in Makkah.
Allah's statement,
يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ
and have driven out the Messenger and yourselves (from your homeland),
follows His encouragement to fight against them and to avoid being their supporters. This is because they expelled the Messenger and his Companions on account of their hatred for Tawhid and worshipping Allah alone in sincerity.
This is why Allah the Exalted said,
أَن تُوْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ
because you believe in Allah, your Lord!
meaning, `your only fault is that you believed in Allah, Lord of all that exists.'
Allah the Exalted said in other Ayat,
وَمَا نَقَمُواْ مِنْهُمْ إِلاَّ أَن يُوْمِنُواْ بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
And they had no fault except that they believed in Allah, Almighty, Al-Hamid! (85:8)
and,
الَّذِينَ أُخْرِجُواْ مِن دِيَـرِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلاَّ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا اللَّهُ
Those who have been expelled from their homes unjustly only because they said:Our Lord is Allah. (22:40)
Allah said,
إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاء مَرْضَاتِي
If you have come forth to strive in My cause and to seek My good pleasure.
Allah says, `if you are as described here, then do not take the disbelievers as supporters. If you migrated in Jihad for My cause and for seeking My pleasure, then do not take My enemies and your enemies as protecting friends, after they expelled you from your homes and property in rage against you and rejection of your religion.'
Allah's statement,
تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ
وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ
You show friendship to them in secret, while I am All-Aware of what you conceal and what you reveal.
Allah asks, `do you do this while I know the secrets of the hearts, the intentions and all apparent things,'
وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ
إِن يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاء وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُم بِالسُّوءِ
And whosoever of you does that, then indeed he has gone astray from the straight path.
Should they gain the upper hand over you, they would behave to you as enemies, and stretch forth their hands and their tongues against you with evil,
meaning, `if they gain the upper hand over you, they would use every type of harm in their disposal to hurt you in words and action,'
وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ
and they desire that you should disbelieve.
meaning, `they are eager that you do not earn any good. Therefore, their enmity to you is outward and inward, so how can you become supporters of this type of people?' This also encourages the enmity.
Allah's statement,
لَن تَنفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Neither your relatives nor your children will benefit you on the Day of Resurrection. He will judge between you. And Allah is the All-Seer of what you do.
means, `your family relations will not benefit you with Allah if Allah decided to cause harm your way. Your relations will not benefit you if you please them with what angers Allah.'
Those who agree with their family being disbelievers in order to please them will have earned loss and failure and their deeds will be rendered invalid. Their relation will not benefit them with Allah, even if their relation was with a Prophet.
Imam Ahmad recorded that Anas said that a man said,
O Allah's Messenger! Where is my father
He said,
فِي النَّار
In the Fire.
When the man went away, the Prophet called him back and said:
إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار
Verily, my father and your father are in the Fire.
Muslim and Abu Dawud also collected this Hadith.
Al-Mumtahanah (She That Is To Be Examined)
Medinese, consisting of 13 verses.
O you who believe, do not take My enemy and your enemy, namely, the disbelievers of Mecca, for friends. You offer, you communicate to, them, the Prophet's plan may peace and salutation be upon him to attack them, which he had confided to you, and had kept secret, at Hunayn, [communicating this to them out of], affection, between you and them. Haatib ibn Abee Balta'a sent them a letter to that effect, on account of his having children and close relatives, idolaters, among them. The Prophet may peace and salutation be upon him intercepted it from the person to whom he [Haatib] had given it to deliver, after God apprised him of this. Haatib's excuse for this [conduct of his] was accepted [by the Prophet]; when verily they have disbelieved in the truth that has come to you, that is, [in] the religion of Islam and Al-Qur'an, expelling the Messenger and you, from Mecca, by oppressing you, because you believe in God, your Lord. If you have gone forth to struggle in My way and to seek My pleasure . (the response to the conditional is indicated by what preceded, that is to say, [understand it as being] 'then do not take them as friends'). You secretly harbour affection for them, when I know well what you hide and what you proclaim. And whoever among you does that, that is, to secretly communicate the Prophet's news to them, has verily strayed from the right way, he has missed the path of guidance (originally, al-ﷺaa' means 'the middle [way]').
Commentary
The Surah opens with a prohibitory injunction to Muslims against having close and intimate friendship with disbelievers and those who associate partners with Allah. This injunction was revealed in the context of a particular incident which is mentioned below:
Background of Revelation
The tafsir of Qurtubi, with reference to Qushairi and Tha'labi, records that after the battle of Badr, before the Conquest of Makkah, a Makkan female vocalist whose name was Sarah, first arrived in Madinah. The Messenger of Allah ﷺ asked her whether she had migrated to Madinah. She replied in the negative. Then he asked her whether she had embraced Islam. Again her reply was in the negative. Then he asked her to explain the reason why she arrived in Madinah. She explained, 'You belong to the high society of Makkah and I used to do my living amongst you. The great leaders of Makkah were killed in the battle of Badr, and you have moved here. My living has become impossible. I am down-and-out and hard-pressed. I have come to you for help.' The Holy Prophet ﷺ said to her, 'You are a professional female singer of Makkah and where are the Makkan youngsters who used to shower money on you?' She said that after the battle of Badr all her functions and singing sessions had come to an end. "Since that time", she said, "nobody has invited me." The Holy Prophet ﷺ encouraged Banu ` Abd-ul-Muttalib to assist her. They helped her with money, clothing and other things and sent her off.
This happened at a time when the pagans of Makkah had failed to honour the treaty of Hudaibiyah, and the Holy Prophet ﷺ was making secret preparations to march on Makkah. He had also prayed to Allah that his secret plan must not be prematurely divulged to the people of Makkah. However, from amongst the foremost Muhajirin (Refugees) there was a Companion Sayyidna Hatib Ibn Abi Balta` ah ؓ . He was originally from Yemen, who had settled in Makkah where he had no relatives and had embraced Islam. After migration, he settled in Madinah, but his family was still in Makkah. The pagans of Makkah used to persecute the Muslims tortuously who had remained in Makkah after the Holy Prophet ﷺ ، and his blessed Companions migrated to Madinah. The Refugees who had relatives in Makkah had some degree of protection. But Sayyidna Hatib Ibn Abi Balta'ah ؓ was worried that he had no relatives to protect his family from the persecution. He seized this opportunity to have his family protected from Makkan persecution. So, he thought if he did a favor to the Makkans, they would feel obliged to him, and in return they will take care of his family and protect them.
Sayyidna Hatib Ibn Abi Balta'ah ؓ was sure that Allah would grant victory to the Messenger of Allah ﷺ ، and leaking the secret information would not harm the Holy Prophet ﷺ or Islam. He thought if he were to write a letter and inform the Makkans that the Holy Prophet ﷺ intends to attack them, his children would be safe. He thus committed the mistake of writing a letter to the people of Makkah telling them the intention of the Holy Prophet ﷺ to invade upon Makkah. He dispatched the letter with the singing woman, Sarah, who was on her way to Makkah. [ Qurtubi and Mazhari ].
Allah Ta` ala informed the Holy Prophet ﷺ about it through revelation, and he was also informed that the bearer of the letter, a woman, has reached the place known as Raudah Khakh. According to a narration in the two Sahibs on the authority of Sayyidna Ali ؓ ، the Holy Prophet ﷺ called for him, Abu Marthad and Zubair Ibn ` Awwam ؓ and commanded them to ride their horses and pursue the woman who would be found in Raudah Khakh. He said: "There you will find a pagan woman bearing a letter from Sayyidna Hatib Ibn Abi Balta'ah addressed to the pagans of Makkah. Overtake her and bring back the letter." The Companions, in pursuance of the command, galloped on their horses and went after the woman and found her in the place where the Holy Prophet ﷺ had named. She was seen there riding a camel. They made the camel sit and searched for the letter, but to no avail. They said to themselves that she must have the letter with her because the information of the Holy Prophet ﷺ could never be wrong. She must have hidden it somewhere. They asked her to produce the letter, but she denied any knowledge of it. They then had to adopt a sterner attitude and threatened to remove all her clothes, if she did not surrender the letter. When she ﷺ their determination, she produced it from her loincloth. The letter was brought back to the Messenger of Allah ﷺ . When Sayyidna ` Umar Al-Faruq ؓ heard the story, he exclaimed seeking the Holy Prophet's ﷺ permission to behead the one who betrayed Allah, His Messenger ﷺ and all the Muslims.
The Holy Prophet ﷺ asked Sayyidna Hatib Ibn Abi Balta'ah ؓ : '0 Hatib! What has prompted you to do this?' Sayyidna Hatib Ibn Abi Balta'ah ؓ replied that his faith was not shaken in the least. He explained that he intended to do a favor to the residents of Makkah, so that they might not harm his family. He pleaded that all other muhajirin (Emigrants) had their clans in Makkah, while his family had no one to take care of them.
The Holy Prophet ﷺ said to his Companions: "He has told you the truth." Sayyidna ` Umar Al-Faruq رضی اللہ تعالیٰ عنہ was not convinced on account of his zeal of faith, and repeated his request to kill him. The Holy Prophet ﷺ put forward more compelling arguments. He said:
'He attended Badr. What can I tell you, perhaps Allah looked at those who attended Badr and said, "0 People of Badr, do what you like, for I have forgiven you.'
Having heard this, tears rolled down from Sayyidna ` Umar's ؓ eyes and he said: "Allah and His Messenger ﷺ alone has the knowledge of reality." [ This narration of Bukhari is recorded in the Book of Mghazi: The Battle of Badr, as quoted by Ibn Kathir ]. Some of the versions also have the additional statement of Sayyidna Hatib Ibn Abi Balta` ah ضی اللہ تعالیٰ عنہ : "I never did this to harm Islam or the Muslims because I knew for sure that Allah will grant victory to the Holy Prophet ﷺ irrespective of whether or not the Makkans came to know about the impending attack."
It was with reference to this incident that Allah revealed the opening verses of Surah Al-Mumtahinah forbidding the Muslims vehemently to have friendly relations with the infidels.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ (0 you who believe, do not take My enemies and your enemies for friends, expressing love with them...60:1). The immediate occasion of the revelation of the verse under comment was the incident stated earlier. Such a letter written to the disbelievers amounted to having friendly intimacy with them. This verse uses the expression عَدُوِّی وَ عَدُوَّکُم "My enemy and your enemy" instead of kuffar [ infidels ] presumably to indicate the underlying cause of the injunction, in that hopes of friendship from your enemy and Allah's enemy are illusory. It needs to be avoided. Furthermore, this expression is an indication that an infidel, as long as he is an infidel, can never be a friend of a Muslim as long as he is a Muslim. An infidel is the enemy of Allah, whereas a Muslim loves Allah. How can there be an intimate friendship between the two?
وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّـهِ رَبِّكُمْ (...while they have rejected the Truth that has come to you, expelling the Messenger and your selves [ from Makkah ], merely because you have faith in Allah, your Lord...60:1). The word haqq [ truth ] refers either to the Qur'an or to Islam. This part of the verse refers to their kufr (rejection of Truth) as the real reason of their enmity. Then it points out even to their hostile attitude, proved on the ground, that they drove the Holy Prophet ﷺ and his followers out of their dear homes, not for any worldly grudge, but for one and only one reason, that is, their faith. Thus it becomes clear that believers as long as they are believers, the non-believers cannot be their intimate friends. This also clarifies that the position Hatib ؓ had taken was inappropriate. He was wrong in his thinking that if he did them a favor, they would be obliged to him and take care of his family, because they were enemies of the faith. Unless [ God forbid!] one loses one's faith, the hope of friendly intimacy with the enemies of Allah is illusory and virtually impossible.
إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي (...if you have set out to do jihad (struggle) in My way, and to seek My pleasure...60:1). This statement also points out that if the migration was indeed for the sake of Allah and His good pleasure, it is impossible for an infidel, the enemy of Allah, to take care of Allah's friend.
تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ (...You express love with them secretly, while I know what you have concealed and what you have revealed ....60:1). This statement makes it clear that anyone who secretly maintains a friendly intimacy with the unbelievers should not think that it will remain secret. Allah is fully aware of what people do secretly and openly, as it happened in the story recounted above. Allah informed the Holy Prophet ﷺ by revelation and had the secret plot thwarted.








