Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
لِلۡفُقَرَآءِ
bagi orang-orang fakir
ٱلۡمُهَٰجِرِينَ
orang-orang yang berhijrah
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
أُخۡرِجُواْ
(mereka) diusir
مِن
dari
دِيَٰرِهِمۡ
rumah-rumah/kampung mereka
وَأَمۡوَٰلِهِمۡ
dan harta mereka
يَبۡتَغُونَ
mereka mencari
فَضۡلٗا
karunia
مِّنَ
dari
ٱللَّهِ
Allah
وَرِضۡوَٰنٗا
dan keridaan
وَيَنصُرُونَ
dan mereka menolong
ٱللَّهَ
Allah
وَرَسُولَهُۥٓۚ
dan rasul-Nya
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
هُمُ
mereka
ٱلصَّـٰدِقُونَ
orang-orang yang benar
لِلۡفُقَرَآءِ
bagi orang-orang fakir
ٱلۡمُهَٰجِرِينَ
orang-orang yang berhijrah
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
أُخۡرِجُواْ
(mereka) diusir
مِن
dari
دِيَٰرِهِمۡ
rumah-rumah/kampung mereka
وَأَمۡوَٰلِهِمۡ
dan harta mereka
يَبۡتَغُونَ
mereka mencari
فَضۡلٗا
karunia
مِّنَ
dari
ٱللَّهِ
Allah
وَرِضۡوَٰنٗا
dan keridaan
وَيَنصُرُونَ
dan mereka menolong
ٱللَّهَ
Allah
وَرَسُولَهُۥٓۚ
dan rasul-Nya
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu
هُمُ
mereka
ٱلصَّـٰدِقُونَ
orang-orang yang benar
Terjemahan
(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah1 yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.
Catatan kaki
1 *837) Kerabat Nabi, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan yang kesemuanya orang fakir dan berhijrah.
Tafsir
(Terhadap orang-orang fakir) bertaalluq kepada lafal yang tidak disebutkan, lengkapnya: Takjublah kalian terhadap orang-orang fakir (yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya dan mereka menolong agama, Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar) dalam keimanannya.
Tafsir Surat Al-Hasyr: 8-10
(Juga) bagi para fuqara Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhaj irin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhaj irin dan Ansar), mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan /anganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan keadaan orang-orang fakir yang berhak untuk mendapatkan harta fai, bahwa mereka adalah: Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-(Nya). (Al-Hasyr: 8) Yakni mereka tinggalkan kampung halaman mereka dan menentang kaum mereka demi meraih rida Allah dan ampunan-Nya.
dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al-Hasyr: 8) Yaitu merekalah orang-orang yang ucapan mereka bersesuaian dengan perbuatannya, mereka adalah para pemimpin kaum Muhajirin. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memuji sikap orang-orang Ansar dan menjelaskan keutamaan, kemuliaan, dan kehormatan yang ada pada diri mereka, serta ketulusan mereka dalam mementingkan nasib Muhajirin hingga kepentingan untuk diri mereka sendiri dikesampingkan, padahal mereka sangat memerlukannya. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). (Al-Hasyr: 9) Yakni mereka telah menempati negeri hijrah sebelum kaum Muhajirin tiba, dan sebagian besar dari mereka telah beriman. Umar mengatakan, "Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang pertama, hendaknya hak mereka tetap diberikan kepada mereka dan kehormatan mereka tetap dipelihara.
Aku juga berwasiat agar orang-orang Ansar diperlakukan dengan baik, yaitu mereka yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin). Hendaklah orang-orang yang baik dari mereka diterima, dan orang-orang yang berbuat buruk dari mereka dimaafkan." Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam tafsir ayat ini. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. (Al-Hasyr: 9) Artinya, termasuk kemuliaan dan kehormatan diri mereka ialah mereka menyukai orang-orang Muhajirin dan menyantuni mereka dengan harta bendanya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas yang mengatakan bahwa orang-orang Muhajirin berkata, "Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat hal yang semisal dengan kaum yang kami datang berhijrah kepada mereka. Yakni dalam hal memberi santunan kepada kami, orang-orang yang hidup sederhana dari mereka tidak segan menyantuni kami, dan orang yang hartawan dari mereka sangat banyak dalam memberi kami.
Sesungguhnya mereka telah menjamin semua kebutuhan kami dan bersekutu dengan kami dalam kesenangan, hingga kami merasa khawatir bila mereka memborong semua pahala." Maka Nabi ﷺ menjawab: Tidak, selama kamu memuji mereka dan mendoakan bagi mereka kepada Allah. Aku belum pernah melihat hadits ini di dalam semua kitab hadits yang diriwayatkan melalui jalur ini. [] Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Yahya ibnu Sa'id.
Ia mendengar Anas ibnu Malik saat berangkat bersamanya menuju ke tempat Al-Walid mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah memanggil orang-orang Ansar dengan maksud akan memberikan bagian kepada mereka tanah Bahrain. Tetapi mereka menjawab, "Tidak, terkecuali jika engkau berikan hal yang sama kepada saudara-saudara kami dari kaum Muhaj irin." Nabi ﷺ bersabda: Jika tidak mau, maka bersabarlah sampai kamu menjumpaiku, dan sesungguhnya kelak kalian akan ditimpa oleh penyakit mementingkan diri sendiri. Imam Al-Bukhari meriwayatkan nadis ini secara munfarid melalui jalur ini. Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi', telah menceritakan kepada kami Syu'aib, telah menceritakan kepada kami Abuz Zanad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa orang-orang Ansar pernah berkata, "Bagikanlah antara kami dan saudara-saudara kami (kaum Muhajirin) kebun kurma (kami)." Nabi ﷺ menjawab, "Jangan." Kaum Muhajirin berkata, "Maukah kalian menutupi semua pembiayaannya dan kami akan menggarapnya dengan imbalan bagi hasil dari buahnya?" Orang-orang Ansar menjawab, "Kami dengar dan kami taati syarat itu." Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini secara munfarid tanpa Imam Muslim.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). (Al-Hasyr: 9) Yakni mereka tidak mempunyai rasa iri dalam hati mereka terhadap keutamaan yang telah diberikan oleh Allah kepada kaum Muhajirin berupa kedudukan, kemulian, dan prioritas dalam sebutan dan urutan. Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka. (Al-Hasyr: 9) Yaitu rasa dengki dan iri hati.
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin). (Al-Hasyr: 9) Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah terhadap apa yang telah diberikan kepada saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Zaid. Di antara dalil yang menunjukkan makna ini ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: ". ". telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Anas, bahwa ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ , lalu beliau ﷺ bersabda: Sekarang akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga.
Maka muncullah seorang lelaki dari kalangan Ansar yang jenggotnya masih meneteskan air bekas air wudunya, dia menjinjing kedua terompahnya dengan tangan kirinya. Pada keesokan harinya Rasulullah ﷺ mengucapkan kata-kata yang sama. Lalu muncullah lelaki itu seperti pada yang pertama kali. Dan pada hari yang ketiganya Rasulullah ﷺ mengucapkan kata-kata yang sama lagi, lalu muncullah lelaki itu dalam keadaan seperti pada yang pertama kali. Ketika Rasulullah ﷺ bangkit, maka lelaki itu diikuti oleh Abdullah ibnu Amr ibnul As, lalu ia berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku telah bertengkar dengan ayahku, maka aku bersumpah tidak akan pulang kepadanya selama tiga hari. Jika engkau sudi, bolehkah aku menginap di rumahmu, maka aku akan merasa senang sekali." Lelaki itu menjawab, "Silakan." Anas melanjutkan kisahnya, bahwa Abdullah telah menceritakan kepadanya bahwa ia menginap di rumah lelaki Ansar itu selama tiga malam, dan dia tidak melihatnya bangun malam untuk mengerjakan sesuatu dari shalat sunat, hanya saja bila ia berbalik di tempat peraduannya di tengah malam, ia berzikir kepada Allah dan mengucapkan takbir, hingga ia bangun dari peraduannya untuk mengerjakan shalat fajar (subuh).
Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa hanya saja ia tidak mendengarnya mengatakan sesuatu kecuali hanya kebaikan belaka. Dan setelah tiga malam berlalu dan hampir saja aku memandang remeh amal perbuatannya, maka aku berterus terang kepadanya, "Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak ada pertengkaran antara aku dan ayahku dan tidak ada pula saling mendiamkan dengannya, tetapi aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami sebanyak tiga kali: Sekarang akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga.
Ketika kulihat, ternyata engkau sebanyak tiga kali. Maka aku bermaksud untuk menginap di rumahmu guna menyaksikan apa yang engkau perbuat, lalu aku akan menirunya. Tetapi ternyata aku tidak melihatmu melakukan amal yang istimewa, lalu apakah yang menyebabkan engkau sampai kepada kedudukan seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ ?" Lelaki itu menjawab, "Tiada yang kulakukan selain dari apa yang telah engkau lihat sendiri." Ketika aku pergi darinya, ia memanggilku dan berkata, "Tiada lain amal itu kecuali seperti yang engkau lihat, hanya saja dalam hatiku tidak terdapat rasa iri terhadap seorang pun dari kaum muslim dan tidak pula rasa dengki terhadap seorang pun atas kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya." Abdullah ibnu Amr berkata, "Rupanya amal itulah yang menghantarkan dirimu mencapai tingkatan itu, amal tersebut sulit untuk dilakukan dan amatlah berat." Imam An-Nasai meriwayatkannya di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah, dari Suwaid ibnu Nasr, dari Ibnul Mubarak, dari Ma'mar dengan sanad yang sama.
Sanad ini shahih dengan syarat Sahihain, tetapi Aqil dan lain-lainnya telah meriwayatkannya dari Az-Zuhri, dari seorang lelaki, dari Anas. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). (Al-Hasyr: 9) Yakni terhadap apa yang telah diberikan kepada kaum Muhajirin. Abdur Rahman mengatakan bahwa ada sebagian orang yang memperbincangkan harta Bani Nadir yang orang-orang Ansar tidak diberi bagian darinya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menghukum mereka karena ucapannya yang demikian itu. Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Al-Hasyr: 6); Abdur Rahman melanjutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda (kepada kaum Ansar): Sesungguhnya saudara-saudara kalian ini (kaum Muhajirin) telah meninggalkan harta benda dan anak-anak mereka, lalu mereka keluar (berhijrah) kepada kalian. Orang-orang Ansar menjawab, "Kalau begitu, harta kami, kami rela berbagi dengan mereka." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Bagaimanakah kalau dengan cara selain itu?" Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Mereka (kaum Muhajirin) adalah kaum yang tidak mengetahui pertanian, bagaimanakah kalau kalian menjamin mereka saja dengan cara bagi hasil buah-buahan dengan mereka?" Orang-orang Ansar menjawab, "Kami setuju, wahai Rasulullah." Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). (Al-Hasyr: 9) Yang dimaksud dengan khasasah ialah keperluan. Yakni mereka lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan diri mereka sendiri; mereka memulainya dengan kebutuhan orang lain sebelum diri mereka, padahal mereka sendiri membutuhkannya.
Di dalam kitab shahih telah disebutkan dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sedekah yang palingutama ialahjerih payah dari orang yang minim. Yaitu dari orang yang memerlukannya. Kedudukan ini lebih tinggi dari pada kedudukan orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya: Dan mereka memberikan makanan yang disukainya. (Al-Insan: 8) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan memberikan harta yang dicintainya. (Al-Baqarah: 177) Karena sesungguhnya mereka menyedekahkan apa yang mereka sendiri menyukainya, tetapi adakalanya mereka tidak memerlukannya dan tidak mempunyai kebutuhan darurat terhadapnya. Sedangkan mereka (golongan yang pertama) mengesampingkan kebutuhan mereka, padahal mereka dalam keadaan memerlukannya dan membutuhkan apa yang mereka sedekahkan. Dan termasuk ke dalam kedudukan ini ialah apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar As-Siddiq karena dia telah menyedekahkan semua harta bendanya, hingga Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, "Lalu apa yang engkau sisakan buat keluargamu?" Abu Bakar menjawab, "Aku sisakan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya." Demikian pula halnya air minum yang ditawarkan kepada Ikrimah dan teman-temannya pada Perang Yarmuk; masing-masing dari mereka memerintahkan agar diberikan kepada temannya, padahal Ikrimah sendiri dalam keadaan luka berat dan sangat memerlukan air minum, lalu temannya menyerahkan air itu kepada orang yang ketiga, dan belum sampai air itu ke tangan orang yang ketiga.
Akhirnya mereka mati semua dan tiada seorang pun dari mereka yang meminum air itu. Semoga Allah meridai mereka dan membuat mereka puas dengan balasan pahala-Nya. Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ibrahim ibnu Kasir, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Fudail ibnu Gazwan, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim Al-Asyja'i, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ , lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku lapar." Maka Rasulullah ﷺ menyuruh seseorang ke rumah istri-istri beliau, dan ternyata tidak dijumpai makanan apa pun pada mereka.
Maka Nabi ﷺ bersabda, "Adakah seseorang yang mau menjamu orang ini malam ini, semoga Allah merahmatinya?" Maka berdirilah seorang lelaki dari kalangan Ansar seraya berkata, "Akulah yang akan menjamunya, wahai Rasulullah." Kemudian lelaki itu pulang ke rumah keluarganya dan berkata kepada istrinya, "Orang ini adalah tamu Rasulullah ﷺ , maka jangan engkau simpan apa pun untuknya." Istrinya menjawab, "Demi Allah, aku tidak mempunyai makanan apa pun selain makanan untuk anak-anak." Suaminya berkata, "Jika anak-anak ingin makan malam, tidurkanlah mereka, lalu kemarilah dan matikanlah lampu, biarlah kita menahan lapar untuk malam ini." Istrinya melakukan apa yang diperintahkan suaminya itu.
Kemudian pada pagi harinya lelaki itu menemui Rasulullah ﷺ , maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah merasa kagum atau rida dengan apa yang telah dilakukan oleh si Fulan dan si Fulanah. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). (Al-Hasyr: 9) Demikian pula Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam tempat lain, juga Imam Muslim, Imam At-Tirmidzi, dan Imam An-Nasai melalui jalur Fudail ibnu Gazwan dengan sanad yang sama dan lafal yang semisal. Di dalam riwayat Imam Muslim disebutkan nama orang Ansar tersebut, yaitu Abu Talhah Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9) Yakni barang siapa yang terbebas dari sifat kikir, maka sesungguhnya dia telah beruntung dan berhasil.
". Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Qais Al-Farra, dari Ubaidillah ibnu Miqsam, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Jauhilah perbuatan aniaya, kerena sesungguhnya perbuatan aniaya itu adalah kegelapan kelak di hari kiamat; dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang terdahulu sebelum kalian. Karena sifat kikir mendorong mereka untuk mengalirkan darah mereka dan menghalalkan kehormatan mereka.
Imam Muslim mengetengahkan hadits ini secara munfarid, maka dia meriwayatkannya dari Al-Qa'nabi, dari Daud ibnu Qais dengan sanad yang sama. ". Al-A'masy dan Syu'bah telah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Abdullah ibnul Haris, dari Zuhair ibnul Aqmar, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Hindarilah oleh kalian perbuatan aniaya, karena sesungguhnya perbuatan aniaya itu merupakan kegelapan di hari kiamat. Dan takutlah kalian terhadap perbuatan keji, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kata-kata yang keji dan tidak pula perbuatan yang keji (kotor).
Jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian. Sifat kikir mendorong mereka berbuat aniaya, maka mereka berbuat aniaya; dan mendorong mereka untuk berbuat kedurhakaan, maka mereka berbuat kedurhakaan; dan mendorong mereka untuk memutuskan silaturahmi, maka mereka memutuskan pertalian silaturahmi.' Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud telah meriwayatkannya melalui jalur Syu'bah, sedangkan Imam An-Nasai meriwayatkannya melalui jalur Al-A'masy.
Keduanya (Syu'bah dan Al-A'masy) dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama. Al-Al-Laits telah meriwayatkan dari Yazid ibnul Had, dari Suhail ibnu Abu Saleh, dari Safwan ibnu Abu Yazid, dari Al-Qa'qa' ibnul Jallah, dari Abu Hurairah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak dapat terkumpul di dalam perut seorang hamba selamanya antara debu di jalan Allah dan asap neraka Jahanam. Dan tidak dapat terkumpul pula antara sifat kikir dan iman dalam hati seorang hamba selama-lamanya.
Ibnu Abu Hatirri mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Al-Mas'udi, dari Jami' ibnu Syaddad, dari Al-Aswad ibnu Hilal yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang kepada Abdullah, lalu berkata, "Wahai Abu Abdur Rahman, sesungguhnya aku takut bila diriku binasa." Abdullah bertanya, "Apakah yang kamu takutkan?" Lelaki itu menjawab bahwa ia telah membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebutkan: Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 9) Sedangkan aku adalah orang yang kikir, hampir saja aku tidak pernah mengeluarkan sesuatu dari tanganku.
Maka Abdullah menjawab, "Bukan itu yang dimaksud dengan kikir yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya kikir yang dimaksud oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur'an itu tiada lain bila engkau memakan harta saudaramu secara aniaya. Tetapi yang itu adalah sifat kikir, dan seburuk-buruk sifat adalah kikir." Sufyan Ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Tariq ibnu Abdur Rahman, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Abul Hayyaj Al-Asadi yang mengatakan bahwa ketika ia sedang tawaf di Baitullah, ia melihat seorang lelaki mengucapkan doa, "Ya Allah, peliharalah diriku dari kekikiran diriku." Hanya itu doa yang dibacanya, tidak lebih.
Lalu aku bertanya kepadanya, "Mengapa demikian?" Ia menjawab, "Jika aku dipelihara dari kekikiran diriku, berarti aku tidak akan mencuri, tidak berzina, dan tidak berbuat macam-macam dosa." Dan ternyata lelaki itu adalah sahabat Abdur Rahman ibnu Auf Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Abdur Rahman Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepada kami Majma' ibnu Jariyah Al-Ansari, dari pamannya Yazid ibnu Jariyah, dari Anas ibnu Malik, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Telah disembuhkan dari kekikiran orang yang menunaikan zakatnya, menjamu tamunya, dan memberi derma kepada yang terkena musibah.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Al-Hasyr: 10) Mereka adalah golongan yang ketiga dari kaum fakir mereka yang berhak mendapat bagian dari harta fai.
Pertama, adalah golongan Muhajirin. Kedua, golongan Ansar. Dan ketiga, adalah orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. (At-Taubah: 100) Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah orang-orang yang mengikuti jejak mereka yang baik dan sifat-sifat mereka yang terpuji, serta menyeru (orang lain) mengikuti jejak mereka, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.
Karena itulah maka disebutkan dalam ayat ini oleh firman-Nya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa. (Al-Hasyr: 10) Yaitu selalu mendoakan. Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami. (Al-Hasyr: 10) Yakni rasa dengki dan kebencian. terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Al-Hasyr: 10) Alangkah baiknya apa yang disimpulkan oleh Imam Malik rahimahullah dari ayat yang mulia ini, bahwa kaum Rafidah yang selalu mencaci para sahabat.
Mereka tidak punya hak dari harta fai ini, karena mereka tidak termasuk orang-orang yang bersifat seperti apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam rangka memuji mereka melalui firman-Nya: Ya Tuhan kami. beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Al-Hasyr: 10) Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Abdur Rahman Al-Masruqi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim ibnu Muhajir, dari ayahnya, dari Aisyah; ia telah mengatakan bahwa mereka (orang-orang Rafidah) diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi para sahabat yang terdahulu, tetapi sebaliknya justru mereka mencacinya.
Kemudian Aisyah membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. (Al-Hasyr: 10), hingga akhit ayat. ". Ismail ibnu Aliyyah telah meriwayatkan dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Masruq, dari Aisyah yang mengatakan, "Kalian diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi sahabat-sahabat Muhammad ﷺ , tetapi kalian justru mencaci maki mereka. Aku telah mendengar Nabi kalian bersabda: 'Umat ini tidak akan lenyap sebelum orang-orang yang terkemudian dari mereka melaknat orang-orang yang terdahulunya'.
Al-Bagawi telah meriwayatkan hadits ini. Imam Abu Dawud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Az-Zuhri yang mengatakan bahwa Umar membaca firman-Nya: Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun. (Al-Hasyr: 6) Az-Zuhri melanjutkan, bahwa lalu Umar mengatakan bahwa yang ini khusus untuk Rasulullah ﷺ Dan kampung-kampung Arinah serta lain-lainnya termasuk di antara harta fai yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk kota-kota. Maka harta-harta fai itu adalah untuk Allah, Rasul-Nya, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan, serta untuk orang-orang fakir Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka, dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar).
Maka ayat-ayat ini mencakup semua orang, hingga tiada seorang muslim pun melainkan baginya ada hak dari harta fai ini. Menurut Ayyub, mempunyai bagian terkecuali sebagian dari orang-orang yang kamu miliki, yaitu para budak. Demikianlah menurut riwayat Abu Dawud, tetapi dalam sanadnya terdapat inqita' (mata rantai yang tidak berhubungan). Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul A' la, telah menceritakan kepada kami AbuSaur, dari Ma'mar, dari Ayyub, dari Ikrimah ibnu Khalid, dari Malik ibnu Aus ibnul Hadsan yang mengatakan bahwa Umar membaca firman-Nya: Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin. (At-Taubah: 60) sampai dengan firman-Nya: Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (At-Taubah: 60) Kemudian Umar mengatakan bahwa ini adalah untuk mereka.
Lalu ia membaca firman-Nya: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul. (Al-Anfal: 41), hingga akhir ayat. Kemudian Umar mengatakan bahwa ini untuk mereka, lalu ia membaca firman-Nya: Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul. (Al-Hasyr: 7) sampai dengan firman-Nya: (juga) bagi para fuqara. (Al-Hasyr: 8), hingga akhir ayat. Kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). (Al-Hasyr: 9), hingga akhir ayat.
Lalu dilanjutkan dengan firman-Nya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar). (Al-Hasyr: 10), hingga akhir ayat. Kemudian Umar mengatakan bahwa semuanya ini mencakup kaum muslim secara umum, tiada seorang pun dari mereka melainkan mempunyai hak padanya. Lalu Umar mengatakan bahwa seandainya ia masih hidup, sungguh seorang penggembala yang sedang berada di Himyar di bawah sebuah pohon Sarwu akan kedatangan bagiannya dari harta itu tanpa harus memeras keringat dahinya untuk mendapatkannya.".
Selain disalurkan sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, fai' juga disalurkan untuk orang-orang fakir yang berhijrah yaitu anak-anak yatim dan para duafa yang berhijrah bersama Rasulullah ke Madinah. Selain itu, fai' juga diberikan kepada orang-orang yang terusir dari kampung halamannya di Mekah karena beriman dan berhijrah bersama Nabi; dan fai' diberikan juga kepada Muhajirin yang terpaksa harus meninggalkan harta bendanya di Mekah karena hijrah bersama Rasulullah ke Madinah demi mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya, mengharumkan Islam dan kaum muslim, dan demi menolong agama Allah agar bisa dilaksanakan dalam kehidupan ini dan demi menolong Rasul-Nya dalam menunaikan misi kerasulan. Mereka itulah, orang-orang yang beriman dan berhijrah bersama Rasulullah demi mengharumkan agama Allah dan Rasul-Nya, orang-orang yang benar sikap, niat, dan langkahnya. 9. Muhajirin, menurut ayat sebelumnya, adalah orang-orang yang terusir dari kampung halamannya di Mekah dan berhijrah bersama Rasulullah ke Madinah demi menolong Allah dan Rasul-Nya. Pada ayat ini disebutkan sikap dan penerimaan kaum Ansar terhadap Muhajirin dengan cinta dan persaudaraan sejati. Dan orang-orang Ansar, para penolong, yang telah menempati kota Madinah jauh sebelum Rasulullah hijrah ke kota ini. Dan mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum kedatangan mereka, Muhajirin ke Madinah. Mereka, para penolong itu, mencintai Muhajirin, orang yang berhijrah ke tempat mereka, karena Allah. Dan mereka, orang-orang Ansar, ketika membantu Muhajirin yang berhijrah ke Madinah dengan harta dan berbagai fasilitas, tidak menaruh keinginan dalam hati mereka benda-benda yang diberikan itu, karena penuh keikhlasan, terhadap apa yang diberikan kepada mereka, baik harta maupun tenaga. Dan mereka mengutamakan kepentingan para sahabat Muhajirin atas dirinya sendiri, meskipun sebenarnya mereka juga memerlukan semua fasilitas yang diberikan itu. Sungguh ketentuan Allah menegaskan: dan siapa yang dijaga dirinya oleh Allah atas usaha dan perjuangan mereka dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung, karena berhasil melawan ego dan berhasil menjadi pribadi yang mulia.
Ayat ini menerangkan bahwa orang yang berhak memperoleh pembagian harta fai' dalam ayat 7 di atas, adalah orang-orang Muhajirin karena mereka dianggap kerabat Rasulullah ﷺ Mereka sebagai Muhajirin telah datang ke Medinah mengikuti Rasulullah ﷺ berhijrah dengan meninggalkan kampung halaman, sanak keluarga, harta benda, dan handai tolan yang biasa membantu mereka. Di Medinah mereka hidup dalam keadaan miskin, tetapi mereka adalah pembela Rasul dan pejuang di jalan Allah. Seakan-akan dengan ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar memperhatikan mereka dengan menyerahkan sebagian fai' ini untuk mereka.
Kemudian Allah menerangkan sifat-sifat orang-orang Muhajirin itu sebagai berikut:
1. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka menunjukkan ketaatan mereka hanya kepada Allah saja dengan mengorbankan semua yang mereka miliki hanya untuk mencari keridaan-Nya.
2. Orang-orang yang rela meninggalkan rumah dan harta bendanya untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.
3. Orang-orang yang berani mengorbankan jiwa dan raganya untuk membela Allah dan Rasul-Nya.
Diriwayatkan bahwa kemiskinan dan penderitaan orang-orang Muhajirin sedemikian rupa sehingga ada yang mengikatkan tali ke perut mereka untuk mengurangi rasa lapar. Namun demikian, mereka tidak menampakkan kemiskinan dan penderitaan mereka kepada orang lain.
Pada ayat yang lain, Allah memerintahkan kaum Muslimin agar memberi nafkah kepada mereka, di samping juga menyebutkan sifat-sifat mereka:
(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui. (al-Baqarah/2: 273)
Oleh karena itu, Allah menyediakan pahala yang besar untuk mereka sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis Nabi ﷺ:
Rasulullah ﷺ bersabda, "Berilah kabar gembira wahai kaum Muhajirin yang miskin dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat. Kalian masuk surga lebih dahulu setengah hari sebelum orang-orang kaya. Setengah hari (pada hari Kiamat) adalah selama lima ratus tahun (masa di dunia)." (Riwayat Abu Dawud dari Sa'id al-Khudri)
Orang yang memiliki sifat dan keadaan seperti orang Muhajirin itu ada sepanjang masa selama ada perjuangan menegakkan agama Allah. Oleh karena itu, perintah dalam ayat ini berlaku juga bagi kaum Muslimin saat ini dan kaum Muslimin di masa yang akan datang.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
AL-ANSHAR
“Dan orang-orang yang telah menetap di kota itu dan (tetap) beriman dari sebelum mereka." Itulah orang-orang Anshar, pembela dan penolong Rasul dan yang menampung beliau dan saudara-saudaranya yang hijrah dalam kemiskinan itu. Mereka adalah menetap dalam kota Madinah itu dan tetap pula dalam iman, lalu menunggu saudaranya yang hijrah dan meninggalkan kampung halamannya itu. “Mereka itu kasih kepada orang-orang yang telah berhijrah kepada mereka." Tidak ada rasa benci atau muak atau bosan dengan saudara sepaham yang baru datang itu, melainkan betas kasihanlah yang ada. “Dan tidak mereka dapati dalam dada mereka suatu keinginan pun dari apa yang telah diberikan kepada mereka." Artinya tidaklah ada rasa dengki atau iri hati kaum Anshar itu melihat Allah dan Rasul-Nya memberikan anugerah berlebih kepada saudara-saudara kaum Muhajirin itu. “Dan mereka lebih mengutamakan (saudara-saudara mereka yang baru datang itu), lebih dari diri mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesulitan." Nabi ﷺ setelah berkata kepada kaum Anshar itu, “Kalau kamu suka, bolehlah kamu bagi-bagikan untuk saudaramu kaum Muhajirin itu rumah-rumah kediaman dan harta benda kamu; dan aku bagikan kepada kamu harta rampasan itu sebagaimana telah aku bagikan kepada mereka; dan jika kamu kehendaki untuk mereka harta rampasan dan untuk kamu rumah-rumah dan harta benda kamu." Kaum Anshar menjawab, “Kami tidak mau begitu! Mau kami ialah menyerahkan sebagian rumah kami dan harta kami kepada mereka, dan harta rampasan itu biarlah mereka saja yang menerimanya, kami tidak usah!"
“Dan harangsiapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya." Sebab kikir atau bakhil adalah satu sifat pokok pada diri setiap orang. Oleh sebab itu barangsiapa yang dapat menguasai dan mengalahkan kikir yang menjadi sifat asli pada tiap-tiap diri seseorang itu. “Maka orang-orang inilah yang beroleh kemenangan." (ujung ayat 9). Yaitu terutama sekali kemenangan menguasai diri sendiri. Orang yang dapat mengatasi atau menekan sifat kikir yang jadi bawaan setiap diri, sehingga kikir itu tidak menghalanginya lagi buat berkorban adalah satu kemenangan utama bagi seseorang atas dirinya sendiri.
Maka kita dapati lima kelebihan dan pujian bagi kaum Anshar.
Pertama, mereka telah menunggu saudaranya Muhajirin di kota tempat mereka dengan tetap dalam iman.
Kedua, mereka mencintai saudara-saudara mereka yang datang menumpangkan diri itu.
Ketiga, mereka tidak merasa dengki ataupun keberatan jika kaum Muhajirin itu diberi pembagian lebih banyak, bahkan harta rampasan Bani Nadhir sebagian besar hanya untuk Muhajirin.
Keempat, mereka lebih mengutamakan saudara-saudara mereka yang baru hijrah itu, lebih dari mengutamakan diri mereka sendiri.
Kelima, mereka telah sanggup mengatasi sifat kikir mereka, sehingga mereka mendapat kemenangan.
“Dan (pula) orang-orang yang datang sesudah mereka." Ada dua tiga macam penafsiran tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang datang sesudah Muhajirin dan Anshar ini.
1. Setengah ulama menafsirkan ialah yang datang sesudah era sahabat, yang diberi sebutan tabi'in, yaitu mereka yang mendapati sahabat- sahabat Rasulullah dan berguru belajar kepada mereka.
2. Tetapi setengah ahli tafsir lagi menafsirkan bahwa yang datang sesudah Muhajirin dan Anshar itu ialah segala orang yang mengaku percaya kepada risalah Nabi Muhammad ﷺ, walaupun telah jauh jarak waktunya. Pertemuan di antara jiwa kaum Muslimin di seluruh tempat dan di seluruh zaman, tidaklah ada yang membatasinya. Walaupun kita yang empat belas abad sesudah Nabi ini, masuklah juga dalam golongan “orang-orang yang datang sesudah mereka", asal kita setia memegang teguh ajarannya, menjalankan Sunnah-nya.
Meskipun jarak sudah sejauh itu, namun jiwa ini masih terasa amat dekat, sehingga dibuktikan dengan doa, “Mereka itu berkata, ‘Ya Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman.'" Oleh sebab mereka telah lebih dahulu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sedang kami ini datang kemudian, sudilah kiranya Allah memberi ampun kepada kami kalau ada kesalahan kami, bersamaan juga hendaknya Engkau memberi ampunan kepada orang-orang yang beriman lebih dahulu dari kami. “Dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami rasa dengki kepada orang-orang yang beriman." Karena dengki adalah penyakit yang paling berbahaya dalam merusakkan iman itu sendiri dalam jiwa orang yang pendengki. “Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyantun, Maha Penyayang." (ujung ayat 10) Tersebutlah di dalam hadits yang shahih,“Bahwasanya pada suatu ketika Nabi ﷺ pergi ke kuburan, lalu beliau baca, “Assalamu'alaikum wahai isi kampung yang beriman, dan sesungguhnyalah kami ini in syaa Allah akan menyusul kamu. Inginlah aku melihat ikhwanuna, saudara-saudara kita." Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Bukankah kami ini saudara-saudara engkau" Rasulullah menjawab, “Bahkan kamu ini adalah sahabat- sahabatku. Saudara-saudara kita belumlah datang sekarang. Aku akan menemui mereka di telaga al-Haudh." (HR Muslim)
Those Who deserve the Fai'; and the Virtues of the Muhajirin and Al-Ansar
Allah states;
لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ
(And there is also a share in this booty) for the poor emigrants,
Allah states the categories of needy people who also deserve a part of the Fai',
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ
يَبْتَغُونَ فَضْلً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
who were expelled from their homes and their property, seeking bounties from Allah and (His) good pleasure,
meaning, departed their homes and defied their people, seeking the acceptance of Allah and His favor,
وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
أُوْلَيِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
and helping Allah and His Messenger. Such are indeed the truthful.
meaning, `they are those who were truthful in statement and deed, and they are the chiefs of the Muhajirin.'
Allah the Exalted praised the Ansar next and emphasized their virtue, status and honor, preferring to give to others over themselves, even though they were in need, and not feeling enviousness.
Allah the Exalted said
وَالَّذِينَ تَبَوَّوُوا الدَّارَ وَالاْاِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ
And (it is also for) those who, before them, had homes and had adopted the faith,
referring to those who resided in the city to which the migration occurred, before the emigrants arrived at it, and who embraced the faith before many of the emigrants.
Umar said,
I recommend the Khalifah, who will come after me, to know the rights and virtues of the foremost Muhajirin and to preserve their honor. I also recommend him to be kind to the Ansar, those who resided in the city of Hijrah and embraced the faith beforehand, that he accepts the good that comes from those who do good among them and forgives those among them who commit errors.
Al-Bukhari collected this Hadith.
Allah said,
يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ
love those who emigrate to them,
indicates that they, on account of their generosity and honorable conduct, loved those who emigrated to them and comforted them with their wealth.
Imam Ahmad recorded that Anas said,
The Muhajirin said, `O Allah's Messenger! We have never met people like those whom we emigrated to; comforting us in times of scarcity and giving us with a good heart in times of abundance. They have sufficed for us and shared their wealth with us so much so, that we feared that they might earn the whole reward instead of us.'
He said,
لَاا مَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِمْ وَدَعَوْتُمُ اللهَ لَهُم
No they won't, as long you thanked them for what they did and invoked Allah for them.
I have not seen this version in the other books.
Al-Bukhari recorded that Yahya bin Sa`id heard Anas bin Malik, when he went with him to Al-Walid, saying,
The Prophet called Ansar to divide Al-Bahrayn among them. The Ansar said, `Not until you give a similar portion to our emigrant brothers.'
He said,
إِمَّا لَا فَاصْبِرُوا حَتْى تَلْقَوْنِي فَإِنَّهُ سَيُصِيبُكُمْ بَعْدِي أَثَرَة
Perhaps, no;
but you will soon see people giving preference to others, so remain patient until you meet me (on the Day of Resurrection).
Al-Bukhari was alone with this version.
He also recorded that Abu Hurayrah said,
The Ansar said (to the Prophet), `Distribute our date-palms between us and our emigrant brothers.'
He replied, `No.'
The Ansar said (to the emigrants), `Look tend to the trees and share the fruits with us.'
The emigrants said, `We hear and obey.'
Al-Bukhari, but not Muslim, recorded it.
The Ansar never envied the Muhajirin
Allah said,
وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا
and have no jealousy in their breasts for that which they have been given,
meaning, the Ansar did not have any envy for the Muhajirin because of the better status, rank, or more exalted grade that Allah gave the Muhajirin above them.
Allah's statement,
مِّمَّا أُوتُوا
(that which they have been given), refers to what the Muhajirin were favored with, according to Qatadah and Ibn Zayd.
Selflessness of the Ansar
Allah said,
وَيُوْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
and give them preference over themselves even though they were in need of that.
meaning, they preferred giving to the needy rather than attending to their own needs, and began by giving the people before their own selves, even though they too were in need.
An authentic Hadith stated that the Messenger of Allah said,
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدُ الْمُقِل
The best charity is that given when one is in need and struggling.
This exalted rank is better than the rank of those whom Allah described in His statements,
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ
And they give food, inspite of their love for it. (76:8),
and,
وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ
And gives his wealth, in spite of love for it. (2:177)
The latter give charity even though they love the wealth they give, not that they really need it, nor that it is necessary for them to keep it. The former prefer others to themselves even though they are in need and have a necessity for what they spend in charity. Abu Bakr As-Siddiq gave away all his wealth in charity and Allah's Messenger asked him,
What did you keep for your family, and he said,
I kept for them Allah and His Messenger.
Ikrimah (bin Abi Jahl) and two other wounded fighters were offered water when they were injured during the battle of Al-Yarmuk, and each one of them said that the sip of water should be given to another of the three wounded men. They did so even though they were badly injured and craving water. When the water reached the third man, he and the other two died and none of them drank any of the water! May Allah be pleased with them and make them pleased with Him.
Al-Bukhari recorded that Abu Hurayrah said,
A man came to the Prophet and said, `O Allah's Messenger! Poverty has stuck me.'
The Prophet sent a messenger to his wives (to bring something for that man to eat) but they said that they had nothing. Then Allah's Messenger said,
أَلَا رَجُلٌ يُضَيِّفُ هَذَا اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ الله
Who will invite this person or entertain him as a guest tonight; may Allah grant His mercy to him who does so.
An Ansari man said, `I, O Allah's Messenger!'
So he took him to his wife and said to her, `Entertain the guest of Allah's Messenger generously.'
She said, `By Allah! We have nothing except the meal for my children.'
He said, `Let your children sleep if they ask for supper. Then turn off the lamp and we go to bed tonight while hungry.'
She did what he asked her to do.
In the morning the Ansari went to Allah's Messenger who said,
لَقَدْ عَجِبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ ضَحِكَ مِنْ فُلَنٍ وَفُلَنَة
Allah wondered (favorably) or laughed at the action of so-and-so and his wife.
Then Allah revealed,
..
وَيُوْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
and they give them preference over themselves even though they were in need of that.
Al-Bukhari recorded this Hadith in another part of his Sahih.
Muslim, At-Tirmidhi, An-Nasa'i collected this Hadith.
In another narration for this Hadith, the Companion's name was mentioned, it was Abu Talhah Al-Ansari, may Allah be pleased with him.
Allah said,
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَيِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
And whosoever is saved from his own greed, such are they who will be the successful.
indicating that those who are saved from being stingy, then they have earned success and a good achievement.
Imam Ahmad recorded that Jabir bin Abdullah said that the Messenger of Allah said,
إِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُم
- Be on your guard against committing oppression, for oppression is darkness on the Day of Resurrection.
- Be on your guard against being stingy, for being stingy is what destroyed those who were before you. It made them shed blood and make lawful what was unlawful for them.
Muslim collected this Hadith.
Ibn Abi Hatim recorded that Al-Aswad bin Hilal said that a man said to `Abdullah (bin Mas`ud),
O Abu Abdur-Rahman! I fear that I have earned destruction for myself.
Abdullah asked him what the matter was and he said, I hear Allah's saying,
..
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَيِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
And whosoever is saved from his own greed, such are they who will be the successful.
and I am somewhat a miser who barely gives away anything.
Abdullah said,
That is not the greed Allah mentioned in the Qur'an, which pertains to illegally consuming your brother's wealth. What you have is miserliness, and it is an evil thing indeed to be a miser.
Allah said,
وَالَّذِينَ جَاوُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلاِِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالاِْيمَان
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّ لِّلَّذِينَ امَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَوُوفٌ رَّحِيمٌ
And those who came after them say:
Our Lord! Forgive us and our brethren who have preceded us in faith, and put not in our hearts any hatred against those who have believed.
Our Lord! You are indeed full of kindness, Most Merciful.
This is the third type of believers whose poor most deserve to receive a part of the Fai'. These three types are
the Muhajirin,
the Ansar and
those who followed their righteous lead with excellence.
Allah said in another Ayah,
وَالسَّـبِقُونَ الاٌّوَّلُونَ مِنَ الْمُهَـجِرِينَ وَالَانْصَـرِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ
And of the foremost to embrace Islam of the Muhajirin and the Ansar and also those who followed them exactly, Allah is well-pleased with them as they are well-pleased with Him. (9:100)
The third type are those who followed the Muhajirin and Ansar in their good works, beautiful attributes and who invoke Allah for them in public and secret.
This is why Allah the Exalted said in this honorable Ayah,
وَالَّذِينَ جَاوُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
And those who came after them say,
meaning, the statement that they utter is,
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلاِِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالاِْيمَان
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّ
Our Lord!
Forgive us and our brethren who have preceded us in faith, and put not in our hearts any hatred,
meaning, rage or envy,
لِّلَّذِينَ امَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَوُوفٌ رَّحِيمٌ
against those who have believed. Our Lord! You are indeed full of kindness, Most Merciful.
Indeed, it is a beautiful way that Imam Malik used this honorable Ayah to declare that the Rafidah who curse the Companions do not have a share in the Fai' money, because they do not have the good quality of those whom Allah has described here that they say,
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلاِِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالاِْيمَان
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّ لِّلَّذِينَ امَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَوُوفٌ رَّحِيمٌ
Our Lord! Forgive us and our brethren who have preceded us in faith, and put not in our hearts any hatred against those who have believed. Our Lord! You are indeed full of kindness, Most Merciful.
Ibn Abi Hatim recorded that A'ishah said,
They were commanded to invoke Allah to forgive them, but instead, they cursed them!
She then recited this Ayah,
وَالَّذِينَ جَاوُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلاِِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالاِْيمَان
And those who came after them say:Our Lord! Forgive us and our brethren who have preceded us in faith, and put not in our hearts any hatred against those who have believed.
[At] the poor Emigrants (li'l-fuqaraa'i is semantically connected to an omitted [verb], that is to say, a-'ajiboo, 'What! Do they marvel [at the poor Emigrants]') who have been driven away from their homes and their possessions that they should seek bounty from God and beatitude and help God and His Messenger? Those - they are the sincere, in their faith.
The Merits of al-Muhajirin [ The Emigrants ]
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
([ And fai' is especially ] for the poor emigrants who were expelled from their homes and properties, while they were seeking the grace of Allah and (His) pleasure, and were helping Allah and His Messenger. They are the truthful.... 59:8)
This verse describes all the characteristics of the emigrants. The first of them is that they were driven from their homes and wealth, that is to say, their only crime was that they had embraced Islam and supported the Messenger of Allah ﷺ ، as a result of which the pagans of Makkah persecuted them, so much so that they had to abandon their hearths and homes and emigrate to Madinah. Some of them had to tie stones to their stomach on account of unbearable hunger, and others used to protect themselves against cold by digging holes in the ground, because they did not have clothes to save them from the chill of winter. [ Mazhari, Qurtubi ]
An Important Issue: The rule about the control of unbelievers over the wealth and property of the Muslims
This verse describes the emigrants as poor, whereas a faqir [ poor ] in Islamic law refers to a person who has no property whatever, or a person who possesses a little property, but is poor because he does not possess the minimum amount of property constituting nisab of Zakah. However, most of the emigrants were rich, wealthy and affluent while they were in Makkah. Even after migration, if the wealth had remained in their ownership, it would be inappropriate to refer to them as 'poor' because they had nisab of Zakah. But the Qur'an refers to them as 'poor' and thus points out that the wealth and property which they had left behind in Makkah, and the pagans subsequently took possession of them, became the property of the pagans and the Muslims lost its ownership.
Therefore, Imams Abu Hanifah and Malik رحمۃ اللہ علیہما ruled that if Muslims abandon their homes and possessions and migrate to some other land, and the non-believers take control of their abandoned homes and property, the ownership passes into their hands and Muslims lose ownership. Similarly, if - God forbid! - the unbelievers conquer an Islamic country, usurping Muslim property and wealth, then after having full control over it, they are deemed as owners of that property. Consequently, their transactions of sale and purchase of such properties are recognized in Shari` ah. Mazhari has, on this occasion in his commentary, cited all the relevant Traditions supporting this view.
The second characteristic of the emigrants is described thus: يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانًا (...seeking the grace of Allah and [ His ] pleasure...59:8). When they embraced Islam, abandoned their country and wealth and migrated, they did not have any ulterior motive. They did all this only to seek Divine favour and gain His good pleasure. This indicates their perfect sincerity. The word fadl [ bounty, grace ] is normally used for worldly blessings and ridwan [ good pleasure ] for blessings of the Hereafter. From this viewpoint, the verse purports to describe that the emigrants gave up all their previous means of luxury, such as their hearths and homes, and now they were in quest of their worldly needs and the blessings of the Hereafter in the shade of Islam. Their objective was to seek the necessities of worldly life under the banner of Allah's and His Messenger's efficacious grace.
The third characteristic of the emigrants is described thus: وَيَنصُرُونَ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ (...and were helping Allah and His Messenger...59:8). The phrase 'help Allah' means to help His religion, for which they made tremendous and amazing self-sacrifices.
The fourth characteristic of the emigrants is described thus: أُولَـٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (... They are the truthful...59:8). That is, such people are sincerely true in words and deeds. The covenant they made with Allah and His Messenger by reciting the kalimah, they duly fulfilled it and proved themselves to be true about it. This verse candidly testifies to the truthfulness of all emigrant Companions. Anyone calling any of them a 'liar' cannot be a Muslim, because he is rejecting this verse. God forbid! Rawafid call these Companions 'hypocrites'. This is a clear rejection of the verse. The Messenger of Allah ﷺ held the emigrant Companions ؓ in such high esteem that when he prayed to Allah, he would supplicate through their wasilah. [ as transmitted by Al-Baghawi and Mazhari ].








