Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
يَٰٓأَيُّهَا
hai
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ءَامَنُواْ
yang beriman
ٱتَّقُواْ
bertakwalah
ٱللَّهَ
Allah
وَلۡتَنظُرۡ
dan hendaklah memperhatikan
نَفۡسٞ
jiwa/diri/seseorang
مَّا
apa
قَدَّمَتۡ
yang ia telah perbuat
لِغَدٖۖ
untuk hari esok
وَٱتَّقُواْ
dan bertakwalah
ٱللَّهَۚ
Allah
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
خَبِيرُۢ
Maha Mengetahui
بِمَا
terhadap apa-apa
تَعۡمَلُونَ
kamu mengerjakan
يَٰٓأَيُّهَا
hai
ٱلَّذِينَ
orang-orang yang
ءَامَنُواْ
yang beriman
ٱتَّقُواْ
bertakwalah
ٱللَّهَ
Allah
وَلۡتَنظُرۡ
dan hendaklah memperhatikan
نَفۡسٞ
jiwa/diri/seseorang
مَّا
apa
قَدَّمَتۡ
yang ia telah perbuat
لِغَدٖۖ
untuk hari esok
وَٱتَّقُواْ
dan bertakwalah
ٱللَّهَۚ
Allah
إِنَّ
sesungguhnya
ٱللَّهَ
Allah
خَبِيرُۢ
Maha Mengetahui
بِمَا
terhadap apa-apa
تَعۡمَلُونَ
kamu mengerjakan
Terjemahan
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Tafsir
(Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok) yakni untuk menghadapi hari kiamat (dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).
Tafsir Surat Al-Hasyr: 18-20
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni'surga itulah orang-orang yang beruntung.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Aun ibnu Abu Juhaifah, dari Al-Munzir ibnu Jarir, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ketika kami bersama Rasulullah ﷺ di suatu pagi hari, tiba-tiba datanglah kepada Rasulullah ﷺ suatu kaum yang tidak beralas kaki dan tidak berbaju. Mereka hanya mengenakan jubah atau kain 'abaya, masing-masing dari mereka menyandang pedang. Sebagian besar dari mereka berasal dari Mudar, bahkan seluruhnya dari Mudar. Maka berubahlah wajah Rasulullah ﷺ melihat keadaan mereka yang mengenaskan karena kefakiran mereka. Kemudian Rasulullah ﷺ masuk dan keluar, lalu memerintahkan kepada Bilal agar diserukan azan dan didirikan shalat. Lalu Rasulullah ﷺ shalat. Seusai shalat, beliau berkhotbah dan membacakan firman-Nya: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu. (An-Nisa: 1), hingga akhir ayat. Beliau membaca pula firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Hasyr, yaitu: dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (Al-Hasyr: 18) Hendaklah seseorang bersedekah dengan uang dinarnya, dengan uang dirhamnya, dengan sa' jewawutnya, dengan sa' buah kurmanya.
Hingga Nabi ﷺ bersabda, bahwa sekalipun dengan separo biji kurma. Maka datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar dengan membawa kantong yang telapak tangannya hampir tidak mampu menggenggamnya, bahkan memang tidak dapat menggenggamnya. Kemudian orang-orang lain mengikuti jejaknya hingga aku (perawi) melihat dua tumpukan makanan dan baju. Dan kulihat wajah Rasulullah ﷺ berseri, seakan-akan berkilauan cemerlang, lalu beliau ﷺ bersabda: ". Barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang baik dalam Islam, maka baginya pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya sesudahnya tanpa mengurangi sesuatu pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang memprakarsai perbuatan yang buruk dalam Islam, maka dia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka barang sedikitpun.
Imam Muslim telah mengetengahkan hadits ini secara munfarid melalui hadits Syu'bah berikut sanad yang semisal. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah. (Al-Hasyr: 18) Perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang pengertiannya mencakup mengerjakan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), (Al-Hasyr: 18) Yakni hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dimintai pertanggung jawaban, dan perhatikanlah apa yang kamu tabung buat diri kalian berupa amal-amal saleh untuk bekal hari kalian dikembalikan, yaitu hari dihadapkan kalian kepada Tuhan kalian.
dan bertakwalah kepada Allah. (Al-Hasyr: 18) mengukuhkan kalimat perintah takwa yang sebelumnya. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18) Artinya, ketahuilah oleh kalian bahwa Allah mengetahui semua amal perbuatan dan keadaan kalian, tiada sesuatu pun dari kalian yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sesuatu pun baik yang besar maupun yang kecil dari urusan mereka yang luput dari pengetahuan-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19) Yaitu janganlah kamu lupa dari mengingat Allah, yang akhirnya kamu akan lupa kepada amal saleh yang bermanfaat bagi diri kalian di hari kemudian, karena sesungguhnya pembalasan itu disesuaikan dengan jenis perbuatannya.
Maka disebutkanlah dalam firman berikutnya: Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19) Yakni orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada Allah, yang akan binasa di hari kiamat lagi merugi di hari mereka dikembalikan. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Munafiqun: 9) Al-Hafidzh Abul Qasim At-Ath-Thabarani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Wahhab Ibnu Najdah Al-Huti, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Usman, dari Na'im ibnu Namihah yang mengatakan bahwa di antara isi khotbah yang diucapkan oleh Abu Bakar As-Siddiq adalah seperti berikut, bahwa tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berpagi hari dan bersore hari sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan? Maka barang siapa yang mampu menghabiskan waktunya untuk beramal karena Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah ia mengerjakannya.
Dan kalian tidak akan dapat meraih hal itu kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala Sesungguhnya ada suatu kaum yang menghabiskan waktu (usia) mereka untuk selain diri mereka. Maka Allah melarang kalian menjadi orang seperti mereka. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19) Manakah teman-teman kalian yang kalian kenal? Mereka telah menunaikan amal perbuatan mereka di masa lalu. Akhirnya mereka menerima balasannya, ada yang berbahagia dan ada yang celaka.
Di manakah orang-orang yang sewenang-wenang yang terdahulu yang telah menghuni kota-kota besar yang mereka bentengi dengan tembok-tembok yang tinggi, kini mereka telah berada di bawah batu dan sumur. Dan ini adalah Kitabullah yang keajaibannya tidak pernah lenyap, maka ambillah penerangan darinya untuk menghadapi hari yang gelap. Dan ambillah penerangan dari sinar dan keterangannya. Sesungguhnya Allah telah memuji Zakaria dan ahli baitnya melalui firman-Nya: Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.
Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Al-Anbiya: 90) Tiada kebaikan pada ucapan yang tidak dimaksudkan untuk mendapat rida Allah, dan tiada kebaikan pada harta yang tidak dibelanjakan kepada jalan Allah. Dan tiada kebaikan pada orang yang sifat jahilnya mengalahkan sifat penyantunnya. Dan tiada kebaikan pada orang yang takut kepada celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah. Sanad atsar ini jayyid dan semua perawinya siqah.
dan gurunya Jarir ibnu Usman adalah Na'im ibnu Namihah, sepanjang pengetahuan saya tiada yang mempertentangkannya dan tiada pula yang mengukuhkannya, hanya saja Abu Dawud As-Sijistani telah memutuskan bahwa semua guru Jarir adalah orang-orang yang berpredikat siqah. Dan Khotbah ini telah diriwayatkan melalui jalur-jalur lain yang menguatkannya; hanya Allah-Iah Yang Maha Mengetahui. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. (Al-Hasyr: 20) Yakni antara mereka dan mereka tidaklah sama menurut hukum Allah subhanahu wa ta’ala kelak di hari kiamat, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (Al-Jatsiyah: 21) Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka.
Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. (Al-Mumin: 58) Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? (Shad: 28) Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah memuliakan orang-orang yang berbakti dan menghina orang-orang yang durhaka. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr: 20) Yaitu orang-orang yang selamat dan terbebas dari azab Allah subhanahu wa ta’ala".
Salah satu sifat orang munafik adalah menyatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara lisan, padahal mereka bukan orang beriman (Lihat: Surah al-Baqarah/2:10) sehingga nasib mereka di akhirat kekal di dalam neraka. Pada ayat ini Allah mengingatkan orang beriman agar benar-benar bertakwa kepada Allah dan memperhatikan hari esok, akhirat. Wahai orang-orang yang beriman! Kapan dan di mana saja kamu berada bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh melakukan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya; dan hendaklah setiap orang siapa pun dia memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, yakni untuk hidup sesudah mati, di akhirat dengan berbuat kebaikan atas dasar iman, ditopang dengan ilmu dan hati yang ikhlas semata-mata mengharap rida Allah, sebab hidup di dunia ini sementara, sedangkan hidup di akhirat itu abadi; dan bertakwalah kepada Allah dengan menjaga hubungan baik dengan Allah, manusia dan alam. Sungguh, Allah Mahateliti sekecil apa pun juga terhadap apa yang kamu kerjakan sehingga semua yang kamu lakukan berada dalam pengetahuan Allah (Lihat: Surah Q'f/50: 18). 19. Allah mengingatkan orang berimaan dengan berfirman, 'Dan janganlah kamu, wahai orang-orang beriman seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, tidak menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi manusia dalam kehidupan ini sehingga Allah menjadikan mereka, karena pola hidup mereka yang hanya mencari kepuasaan, kelezatan, dan kenikmatan duniawi tanpa mempertimbangkan kebutuhan hidup sesudah mati, manusia yang lupa akan diri sendiri, yakni manusia yang tercabut dari akar kemanusiaannya. Mereka itulah, manusia yang lupa kepada Allah dan lupa kepada diri sendiri adalah orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang bergelimang dosa dan perbuatan keji. '.
Kepada orang-orang yang beriman diperintahkan agar bertakwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Termasuk melaksanakan perintah Allah ialah memurnikan ketaatan dan menundukkan diri hanya kepada-Nya, tidak ada sedikit pun unsur syirik di dalamnya, melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan, dan mengadakan hubungan baik sesama manusia.
Dalam ayat yang lain diterangkan tanda-tanda orang bertakwa:
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah/2: 177)
Dalam Al-Qur'an ungkapan kata takwa mempunyai beberapa arti, di antaranya: Pertama, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan diajarkan Rasulullah ﷺ seperti contoh ayat di atas. Kedua, takut melanggar perintah Allah dan memelihara diri dari perbuatan maksiat.
Orang yang bertakwa kepada Allah hendaklah selalu memperhatikan dan meneliti apa yang akan dikerjakan, apakah ada manfaat untuk dirinya di akhirat nanti atau tidak. Tentu yang akan dikerjakannya semua bermanfaat bagi dirinya di akhirat nanti. Di samping itu, hendaklah seseorang selalu memperhitungkan perbuatannya sendiri, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Jika lebih banyak dikerjakan yang dilarang Allah, hendaklah ia berusaha menutupnya dengan amal-amal saleh. Dengan perkataan lain, ayat ini memerintahkan manusia agar selalu mawas diri, memperhitungkan segala yang akan dan telah diperbuatnya sebelum Allah menghitungnya di akhirat nanti.
Suatu peringatan pada akhir ayat ini agar selalu bertakwa kepada Allah, karena Dia mengetahui semua yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang lahir maupun yang batin, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
PERSEDIAAN UNTUK HARI ESOK
Setelah demikian banyak diceritakan tentang jalan salah yang ditempuh oleh kaum munafik dan pengkhianatan hendak membunuh Nabi sampai mereka diusir, yang dilakukan oleh Yahudi Bani Nadhir, maka sudahlah patut hal itu semua jadi cermin perbandingan bagi orang yang beriman. “Wahai orang-orang yang beriman, takwalah kepada Allah." Semata-mata iman atau percaya saja, belumlah cukup, sebelum dilengkapi dengan mempercepat hubungan dengan Allah. Keikhlasan batin kepada Ilahi tawakal berserah diri, ridha menerima ketentuan-Nya, syukur menerima nikmat-Nya, sabar menerima cobaan-Nya, semuanya itu didapat karena adanya takwa. Memperteguh ibadah kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat dan sebagainya, semuanya itu menyuburkan takwa.
“Dan hendaklah merenungkan setiap diri;" artinya bawa berpikir, bawa merenung, bawa tafakur dan tadzakur (memikirkan dan mengingat). “Apakah yang telah diperbuatnya untuk hari esok." Hari esok ialah Hari Akhirat. Percaya kepada Hari Akhirat menyebabkan rezeki yang diberikan Allah, sebagian besarnya dikirimkan terlebih dahulu untuk persediaan hari esok, itulah arti qaddamat, yaitu mengirim lebih dahulu.
Hitunglah terlebih dahulu laba rugi hidup sendiri sebelum dihitung kelak. Renungkanlah perbekalan yang telah ada dan mana lagi yang kurang. Karena perjalanan akan terus maju dari dunia ini ke pintu kubur, ke alam barzakh dan ke Hari Akhirat. “Dan takwalah kepada Allah!" Ini diperingatkan sekali lagi, supaya lebih mantap dalam hati. “Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa pun jua yang kamu kerjakan." (ujung ayat 18)
“Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah; lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri." Artinya janganlah kamu lupa mengingat kepada Allah, atau dzikir. Karena bila kamu telah lupa mengingat Allah, Allah pun akan membuat lupa apa-apa yang patut dikerjakan untuk kepentingan dirimu sendiri, yang akan membawa manfaat bagimu di akhir kelak kemudian hari. Ibnul Qayyim menulis, “Oleh sebab itu maka mengenal Allah adalah pokok pangkal segala ilmu, pokok pangkal kebahagiaan dan kesempurnaan seorang hamba Allah, dunianya dan akhiratnya. Dan kalau jahil, tidak mengetahui hubungan diri dengan Allah, pastilah dia pun tidak akan tahu siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang harus dilakukannya supaya dia mencapai kemenangan. Sebab itu maka mengenal Allah adalah pangkal bahagia, dan jahil akan Dia pangkal celaka." “Itulah orang-orang yang fasik." (ujung ayat.19)
“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni sunga." Janganlah sampai terpesona melihat orang fasik, jalan hidup tidak menurut aturan itu. Bagaimana jua pun hendaklah orang beriman selalu ingat kepada Allah, dzikir kepada Allah, beribadah kepada-Nya. Orang yang selalu ingat akan Allah niscaya akan selalu dibimbing oleh-Nya ke jalan yang benar. Bagaimana pun susahnya berjuang menegakkan kebenaran itu, namun jiwanya senang, hatinya tentaram, karena merasa dekat dengan Allah. Di dunia selamat, di akhirat masuk surga. “Penghuni-penghuni surga, itulah orang-orang yang beruntung." (ujung ayat 20) Memang, tentang neraka dan surga adalah tentang hari esok, wajib kita percaya akan hari esok itu. Namun yang terang dalam hidup di dunia ini pun sudah jelas, bahwa hidup orang yang melupakan Allah dengan hidup orang yang mengikuti tuntunan Allah tetap berbeda. Bahkan sampai kepada pandangan terhadap ekonomi, sosial, atau politik sekalipun; tidaklah mungkin disamakan. Bagaimana akan menyatukan antara minyak dengan air?
GUNUNG PUN BISA RUNTUH
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah." Hendaklah khusyu tunduk hati itu menerima Al-Qur'an dan laksana pecah ketika mendengarnya. Sebab di sanalah terdapat janji-janji Allah yang benar dan ancaman bagi siapa yang durhaka yang tegas. Kalau kiranya gunung yang begitu besar dan kasar mempunyai pikiran seperti manusia, niscaya ia akan khusyu tunduk merendahkan diri karena takutnya kepada Allah. Maka adakah patut bagimu, hai insan, tidak akan melunak hatimu karena takut kepada Allah? Padahal kamu telah dapat memahamkan apa isinya, mengerti apa yang diperintahkan. Begitulah tafsiran dari Ibnu Katsir. “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berpikir." (ujung ayat 21)
The Command to have Taqwa and to prepare for the Day of Resurrection
Imam Ahmad recorded that Al-Mundhir bin Jarir narrated that his father said,
While we were in the company of the Messenger of Allah in the early hours of the morning, some people came there who were barefooted, naked, wearing striped woolen clothes, or cloaks, with their swords hung (around their necks). Most of them, nay, all of them, belonged to the tribe of Mudar. The color of the face of the Messenger of Allah underwent a change when he ﷺ them in poverty. He then entered (his house) and came out and commanded Bilal to pronounce Adhan. Bilal pronounced Adhan and Iqamah, and the Prophet led the prayer. He then addressed them, first reciting,
يَـأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّن نَّفْسٍ وَحِدَةٍ
O mankind! Have Taqwa of your Lord, Who created you from a single person... (4:1), until the end of the Ayah.
Then he recited the Ayah that is in Surah Al-Hashr:
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَد
and let every person look to what he has sent forth for tomorrow,
He then said,
A man donated his Dinar, his Dirham, from his clothes, from his Sa` of wheat, from his Sa` of dates -- until he said -- even if it was half a date.
Then a person among the Ansar came there with a moneybag, which his hands could scarcely lift; in fact, his hands could not lift it. Then the people followed continuously, until I ﷺ two heaps of eatables and clothes. I ﷺ the face of the Messenger radiate with pleasure, like gold. The Messenger of Allah said,
مَنْ سَنَّ فِي الاِْسْلَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
وَمَنْ سَنَّ فِي الاِْسْلَمِ سُنَّةً سَيِّيَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
He who sets a good example in Islam, there is a reward for him for this (act of goodness) and reward of that also who acted according to it subsequently, without any deduction from their rewards.
Whoever sets in Islam an evil example, there is upon him the burden of that evil and the burden of him also who acted upon it subsequently, without any deduction from their burden.
Muslim recorded this Hadith via the chain of Shu`bah.
Therefore, Allah's statement,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
O you who believe! Have Taqwa of Allah,
ordains the Taqwa of Allah which pertains to obeying what He ordered and staying away from what He forbade.
Allah said,
وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
and let every person look to what he has sent forth for tomorrow,
meaning, hold yourselves accountable before you are recompensed, and contemplate what you have kept for yourselves of good deeds for the Day of your return and being paraded before your Lord,
وَاتَّقُوا اللَّهَ
Have Taqwa of Allah,
again ordering Taqwa,
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Verily, Allah is All-Aware of what you do.
Allah asserts that surely, He knows all of your deeds -- O mankind -- and actions. Nothing that pertains to you ever escapes His observation, nor any matter of yours, whether major or minor, is ever beyond His knowledge
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ
And be not like those who forgot Allah, and He caused them to forget themselves.
meaning, do not forget the remembrance of Allah, the Exalted, otherwise, He will make you forget to perform the good deeds that benefit you in your return, because the recompense is equated with the action.
This is why Allah the Exalted said,
أُوْلَيِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Those are the rebellious.
referring to those who rebel against obedience to Allah, who will earn destruction on the Day of Resurrection and failure upon their return,
يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لاأَ تُلْهِكُمْ أَمْوَلُكُمْ وَلاأَ أَوْلَـدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـيِكَ هُمُ الْخَـسِرُونَ
O you who believe! Let not your properties or your children divert you from the remembrance of Allah. And whosoever does that, then they are the losers. (63:9)
The Residents of Paradise and the Residents of Hell are never Equal
Allah said
لَاا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ
Not equal are the dwellers of the Fire and the dwellers of the Paradise.
meaning, these two categories of people are never the same with regards to the judgement of Allah, the Exalted, on the Day of Resurrection.
Allah said in other Ayat,
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُواْ السَّيِّيَـتِ أَن نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ سَوَاءً مَّحْيَـهُمْ وَمَمَـتُهُمْ سَأءَ مَا يَحْكُمُونَ
Or do those who earn evil deeds think that We shall hold them equal with those who believe and do righteous good deeds, in their present life and after their death Worst is the judgement that they make. (45:21),
and,
وَمَا يَسْتَوِى الاٌّعْـمَى وَالْبَصِيرُ وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ وَلَا الْمُسِىءُ قَلِيـلً مَّا تَتَذَكَّرُونَ
And not equal are the blind and those who see; nor are those who believe and do righteous good deeds and those who do evil. Little do you remember! (40:58),
and,
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِى الاٌّرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
Shall We treat those who believe and do righteous good deeds as corrupters on earth Or shall We treat those who have Taqwa as the wicked? (38:28)
Therefore, Allah asserts that He will honor the righteous and humiliate the sinners, and this is why He said here,
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَايِزُونَ
It is the dwellers of Paradise that will be successful.
that is, they are those who will earn safety and deliverance from the torment of Allah the Exalted and Most Honored.
Asserting the Greatness of the Qur'an
Allah the Exalted emphasizes the greatness of the Qur'an, its high status and of being worthy of making hearts humble and rent asunder upon hearing it, because of the true promises and sure threats that it contains,
لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْانَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
Had We sent down this Qur'an on a mountain, you would surely have seen it humbling itself and rent asunder by the fear of Allah.
If this is the case with a mountain which is hard and huge, that if it was made able to comprehend and understand this Qur'an, will feel humble and crumble from fear of Allah the Exalted, then what about you -- O mankind Why do your hearts not feel softness and humbleness from the fear of Allah, even though you understand Allah's command and comprehend His Book
This is why Allah said,
وَتِلْكَ الاَْمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Such are the parables which We put forward to mankind that they may reflect.
There is a Hadith of the Mutawatir grade that states,
The Messenger of Allah had someone make him a Minbar. Before that, he used to stand next to a tree trunk in the Masjid to deliver speeches. So, when the Minbar was made and placed in the Masjid, the Prophet came to deliver a speech and passed the tree trunk, headed towards the Minbar, the tree trunk started weeping, just like an infant. The tree trunk missed hearing the remembrance of Allah and the revelation that were being recited next to it.
In one of the narrations for this Hadith, Al-Hasan Al-Basri said after narrating the Hadith,
You - mankind -- are more worthy to miss the Messenger of Allah than the tree trunk!
Likewise, this honorable Ayah asks that if the solid mountains feel humble and are rent asunder from the fear of Allah, if it heard Allah's Speech and comprehended it, what about you -- O mankind -- who heard the Qur'an and understood it Allah the Exalted said in another Ayah,
وَلَوْ أَنَّ قُرْانًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الاٌّرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى
And if there had been a Qur'an with which mountains could be moved, or the earth could be cloven asunder, or the dead could be made to speak. (13:31)
We mentioned the meaning of this Ayah as stating that, if there were a Qur'an that has these qualities, it would be this Qur'an.
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الَانْهَـرُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَأءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
And indeed, there are stones out of which rivers gush forth, and indeed, there are of them (stones) which split asunder so that water flows from them, and indeed, there are of them which fall down for fear of Allah. (2:74)
O you who believe, fear God and let every soul consider what it has sent ahead for tomorrow, for the Day of Resurrection. And fear God. God is indeed Aware of what you do.
Commentary
The Command to Taqwa and to prepare for the Day of Resurrection
The earlier parts of Surah Al-Hashr has described different events relating to the Jews, the pagans and the hypocrites and their punishments in this world and in the next. Now the concluding part of the Surah makes the believers conscious of their duty towards Allah and advises them to perform the righteous deeds regularly.
The first verse in this set reads يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ those who believe, fear Allah, and everybody must consider what he [ or she ] has sent ahead for tomorrow 59:18) In an eloquent style, the verse enjoins upon the believers to take care of the Hereafter and commands them to prepare for it. Here a few points need to be considered:
First: In this verse, the Hereafter is described as ghad [ tomorrow ], which means the 'day after today'. This points to two things. First of all, it means that the entire period of this world, compared to the Hereafter, is very short. That is, this entire world, in relation to the Hereafter, is like one day. In fact, in terms of pure calculation, this comparison too is difficult to imagine, because the Hereafter is eternal which will exist without an end. The age of human world is said to be a few thousand years old. If this is calculated with the creation of the heaven and the earth, it will extend to a few million years, which in any case will be a limited period. This is no comparison to an unlimited or infinite period of time. Some Traditions state' اَلدُّنیَا یَومُ وَ لَنَا فِیہِ صَومُ (The entire world is a day and on that day we fast.) Whether we calculate from human creation or from the creation of the heaven and the earth, it does not matter, because neither of these factors is important for a human individual. In fact, every individual's world is made up of the days and years of his age. Every person should be able to realize how short a period that is in relation to the eternity of the Hereafter.
Second of all, this verse shows that the Day of Resurrection is as certain as the arrival of tomorrow after today which is a stark reality, and no one doubts it. Likewise the Hereafter is beyond any reasonable doubt.
Thirdly, the Day of Resurrection will happen very shortly. Just as tomorrow is not very far away from today, it is thought to be very near, likewise, the Day of Resurrection will happen very soon after this world. The first phase of the Hour is when an individual dies, his Hour is already established as stated in a Tradition: مَن مَّاتَ فَقَد قَامَت قِیَامَتُہ "He who dies, his Day of Judgment has been established" because the signs of the next world start from the grave and examples of reward and punishment come forward. The world of grave or the world of barzakh is like a waiting room in this world which accommodates all types of people, ranging from the first class to the third class. The waiting room of the criminals is the prison house. A person should be able to determine his position and status in the waiting room. Therefore, every person's Judgment Day starts with his death. Man's death has been made such a puzzling phenomenon that not even the greatest philosopher or scientist can with any degree of certainty determine the exact time of its occurrence. In fact, every coming moment is fraught with the danger that one may not live to see it, especially in this time and age when it is moving at the pace of lightning and heart-failure is the order of the day. The second phase of the Hour is when the entire world, the heaven and earth and everything else, will perish, though this might take place after hundreds of thousands of years, it is very close in relation to the eternity of the Hereafter.
In short, this verse by describing qiyamah [ Doomsday ] as ghad [ tomorrow ] made man conscious of the fact that the Doomsday is not very far off; it is very close like tomorrow. It is also possible that it might come even before tomorrow.
The second point put by this verse for consideration is that the arrival of Doomsday being certain and also near, everyone is invited to think what he has prepared for the Day of Resurrection. This shows that his original abode is the Hereafter. His residence in this world is like a wayfarer. It is necessary to send something from here for the eternal abode. The main purpose of man's residence is to live here, acquire and accumulate things and send them forward to the eternal abode of the Hereafter. It is quite obvious that no material wealth or property can be taken with from this world. There is only one way of transferring wealth [ gold, silver, money and so on ] from one country to another, that is to deposit it into the bank from where the currency of another country is obtained. In exactly the same manner, wealth is spent in the way of Allah and the sacred laws of Allah are implemented and deposited in the Divinely celestial bank, where the currency of reward is recorded in the celestial Account-Book. When a believer reaches the eternal abode, it is handed over to him without claim or demand.
The phrase مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ 'what he (or she) has sent ahead' carries the general sense of the good, as well as, the bad deeds. He who sends forth good deeds will obtain the currency of reward in the Hereafter; and he who sends forth evil deeds will be indicted in the Hereafter. The command of "...fear Allah...[ 18] " has been repeated. It could be for emphasis, or the first of such command is for man to fulfill the obligatory and imperative duties, and the repetition of the command is to abstain from sins. The second explanation is given by Maulana Ashraf Thanawi (رح) .
Also, it is possible that the first command to fear Allah is to send forth good deeds for the Hereafter by acting upon imperatives set by Allah, and the second command to fear is to ensure that what is being sent is not fake or counterfeit. Fake or counterfeit deeds, in relation to the Hereafter, would imply the deeds done seem to be genuinely righteous deeds, but they lack sincerity of purpose and the good pleasure of Allah. What was done ostentatiously or for ulterior motive or an ostensible action that seems like an act of worship, but having no base in religion, it is tantamount to innovation (Bid'ah). Thus the second command to fear Allah implies that for the Hereafter it is not sufficient to merely accumulate ostensible actions, but to send forth genuine deeds performed with sincerity according to the rules set in religion. Spurious actions will not be acceptable there.








