ٱلْوَاقِعَة ٩١
- فَسَلَٰمٞ maka keselamatan
- لَّكَ bagimu
- مِنۡ dari
- أَصۡحَٰبِ kaum/golongan
- ٱلۡيَمِينِ kanan
maka, "Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!" (sambut malaikat).
(Maka keselamatan bagi kamu) yakni baginya keselamatan dari siksaan (karena kamu termasuk golongan kanan) karena dia termasuk di antara mereka.
Tafsir Surat Al-Waqi'ah: 88-96
Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. Ketika keadaan ini merupakan kepastian yang dialami oleh manusia saat menghadapi kematiannya.
Adakalanya dia termasuk orang yang didekatkan kepada Allah, atau bukan termasuk golongan kanan, dan adakalanya termasuk orang yang mendustakan kebenaran lagi sesat dari jalan petunjuk dan tidak mengerti tentang perintah Allah. Untuk itu maka disebutkan oleh firman-Nya: Adapun jika dia. (Al-Waqi'ah: 88) Yakni orang yang sedang menghadapi kematiannya. termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah). (Al-Waqi'ah: 88) Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal-amal yang wajib dan yang sunat serta meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan, serta sebagian hal yang diperbolehkan.
maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 89) Mereka akan mendapatkan ketenteraman dan kesenangan serta para malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka di saat mereka menghadapi kematiannya, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits Al-Barra yang menyebutkan bahwa sesungguhnya para malaikat rahmat mengatakan, "Wahai ruh yang baik yang ada di dalam tubuh yang baik yang kamu huni, keluarlah kamu menuju kepada ketenteraman, kesenangan, dan menemui Tuhan yang tidak murka." Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dia memperoleh ketenteraman. (Al-Waqi'ah: 89) Yaitu ketenteraman dan kesenangan, yakni ketenangan.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, bahwa makna rauh ialah ketenteraman. Abu Hirzah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah beristirahat dari dunia. Sa'id ibnu Jubair dan As-Suddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah terbebas. Telah diriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki. (Al-Waqi'ah: 89) Yakni surga dan kesenangan. Qatadah mengatakan bahwa rauh artinya rahmat.
Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa'id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Raihan" artinya rezeki. Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas satu sama lainnya berdekatan lagi benar. Karena sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan didekatkan kepada Allah akan memperoleh kesemuanya itu, yaitu rahmat, ketenteraman, kebebasan, istirahat, kesenangan, kegembiraan, dan rezeki yang baik. serta surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 89) Abul Aliyah mengatakan bahwa tidaklah ruh seseorang yang didekatkan kepada Allah terpisah dari jasadnya sebelum didatangkan kepadanya suatu tangkai (dahan) dari pepohonan surga yang harum, sesudah itu barulah rohnya dicabut di dalamnya.
Muhammad ibnu Ka'b mengatakan bahwa tidaklah seorang manusia meninggal dunia sebelum diperlihatkan kepadanya apakah dia termasuk ahli surga ataukah ahli neraka? Dan dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadits-hadits yang mengisahkan tentang masa menjelang kematian, yaitu dalam tafsir firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu. (Ibrahim: 27) Sebaiknya kita sebutkan salah satu di antaranya yang paling utama, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Tamim Ad-Dari, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada malaikat maut: "Berangkatlah kamu kepada si Fulan dan datangkanlah dia kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku telah mengujinya dengan keadaan suka dan duka, ternyata Kujumpai dia dalam keadaan yang Aku sukai.
Datangkanlah dia, maka Aku akan membuatnya senang. Kemudian malaikat maut berangkat menuju kepadanya dengan ditemani oleh lima ratus malaikat, mereka membawa kafan-kafan dan kapur barus dari surga, juga membawa beberapa kayu wangi (cendana) yang setiap ikatan mengandung dua puluh macam jenis dan masing-masing jenis mempunyai bau wangi yang berbeda dengan lainnya, dan mereka membawa pula kain sutra putih yang mengandung minyak kesturi.
Hingga akhir hadits yang cukup panjang sebagaimana yang telah disebutkan dalam tafsir surat Ibrahim. Banyak hadits yang diketengahkan sehubungan dengan ayat ini, seperti berikut: Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Harun, dari Badil ibnu Maisarah, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Aisyah, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya dengan me-rafa'-kan huruf ra: maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki. (Al-Waqi'ah: 89) Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasai melalui hadits Harun alias Ibnu Musa yang tuna netra dengan sanad yang sama.
Imam At-Tirmidzi memberikan komentarnya bahwa kami tidak mengenal hadits ini kecuali melalui hadits Harun. Dan qira-ah ini adalah qira-ah Ya'qub semata. Sedangkan ulama qira-at lainnya berbeda dengannya, mereka membacanya: Farauhun waraihanun. Imam Ahmad mengatakan pula,, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Naufal, bahwa ia pernah mendengar Durrah binti Mu'az menceritakan hadits berikut dari Ummu Hani' yang bertanya kepada Rasulullah, "Apakah kami saling berkunjung bila telah mati dan sebagian dari kami melihat sebagian yang lainnya?" Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Kelak diri seseorang itu berupa burung yang hinggap di pepohonan (surga), dan manakala hari kiamat telah terjadi, maka tiap-tiap jiwa (ruh) masuk ke dalam tubuhnya masing-masing.
Hadits ini mengandung berita gembira bagi tiap orang mukmin. Makna yang dimaksud dengan 'hinggap' ialah 'makan', yakni makan dari pohon-pohon yang dihinggapinya. Kesahihan hal ini dibuktikan pula dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Imam Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii, dari Imam Malik ibnu Anas, dari Az-Zuhri, dari Abdur Rahman ibnu Ka'b ibnu Malik, dari ayahnya, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya jiwa orang mukmin itu berupa burung yang bergantung di pepohonan surga hingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.
Sanad hadits ini hebat dan matannya dapat dipertanggungjawabkan. Di dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: " (4) Sesungguhnya arwah para syuhada itu berada di dalam perut burung hijau yang terbang bebas di taman-taman surga sekehendak hatinya, kemudian hinggap di lentera-lentera yang bergantungan di Arasy. Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami ‘Atha’ ibnus Sa'ib yang mengatakan bahwa pada hari pertama mula-mula ia mengenal Abdur Rahman ibnu Abu Laila, ia melihatnya sebagai seorang syaikh yang telah beruban rambut dan jenggotnya, sedang mengendarai keledai mengiringi jenazah.
Lalu ia mendengarnya mengatakan bahwa Fulan bin Fulan yang telah mendengar dari Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang mencintai (hari) perjumpaannya dengan Allah, maka Allah suka berjumpa dengannya; dan barang siapa yang benci akan perjumpaannya dengan Allah, maka Allah benci pula berjumpa dengannya. Maka kaum yang ada menangis, lalu Rasulullah ﷺ bertanya, "Mengapa kalian menangis?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami benci mati." Rasulullah ﷺ bersabda, bahwa bukan itu yang dimaksud, tetapi apabila menjelang ajalnya. adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi'ah: 88-89) Apabila ia mendapat berita gembira tersebut, maka timbullah rasa cintanya untuk bersua dengan Allah, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala lebih suka darinya untuk bersua dengannya. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi'ah: 92-94) Apabila dia telah mendapat berita tersebut, maka dia benci untuk bersua dengan Allah, dan Allah lebih benci untuk bersua dengannya.
Hal yang semakna telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Di dalam kitab shahih disebutkan dari Aisyah hadits yang menguatkan maknanya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan. (Al-Waqi'ah: 90) Yakni apabila orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. (Al-Waqi'ah:91) Yaitu para malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka. Berkata malaikat kepada salah seorang dari mereka, "Salaimun laka" artinya kamu dalam keadaan baik-baik saja dan selamat, kamu termasuk golongan kanan.
Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat mengucapkan kepadanya, "Selamatlah kamu dari azab Allah," dan para malaikat mengucapkan salam penghormatan kepadanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ikrimah, bahwa para malaikat mengucapkan salam kepadanya dan memberitahukan kepadanya bahwa dia termasuk golongan kanan. Pendapat ini merupakan pendapat yang baik, dan pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya: .
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Fushshilat: 30-32) Imam Al-Bukhari telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka keselamatan bagimu. (Al-Waqi'ah: 91) Yakni kamu diselamatkan karena kamu termasuk golongan kanan, kemudian dalam bahasa Arabnya dipersingkat ungkapannya yaitu dengan membuang huruf an, tetapi maknanya masih tetap.
Sebagaimana kamu katakan, "Kamu benar akan melakukan perjalanan sebentar lagi," bilamana sebelumnya ia mengatakan, "Sesungguhnya aku akan bepergian sebentar lagi." Dan adakalanya ungkapan, "Salamun laka" ini mengandung doa, sebagaimana ucapanmu, uSuqyan laka minar rijali," semoga kamu mendapat pengairan karena kamu termasuk laki-laki; ini jika lafal salamun dibaca rafa', maka termasuk doa. Demikianlah apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari sebagian ulama bahasa yang kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi'ah: 92-94) Maksudnya, jika orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk orang yang mendustakan kebenaran lagi sesat dari jalan petunjuk. maka dia mendapat hidangan. (Al-Waqi'ah: 93) Yakni sajian. air yang mendidih. (Al-Waqi'aht93) Artinya, air yang mendidih yang dapat menghancurkan semua isi perut dan kulitnya.
dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi'ah: 94) Ini mengukuhkan keberadaannya di dalam neraka yang mengepungnya dari segala penjuru. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. (Al-Waqi'ah: 95) Yaitu berita ini benar-benar hal yang pasti terjadi, tiada keraguan dan tiada kebimbangan padanya, dan tiada jalan lari bagi seorang pun darinya. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. (Al-Waqi'ah: 96) [:1] Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ayyub Al-Gafiqi, telah menceritakan kepadaku Iyas ibnu Amir, dari Uqbah ibnu Amir Al-Juhani yang mengatakan bahwa ketika diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ayat ini, yaitu firman-Nya: Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. (Al-Waqi'ah: 96) Maka beliau ﷺ bersabda: Jadikanlah bacaan tasbih ini dalam rukuk kalian. Dan ketika turun kepada beliau ﷺ firman-Nya: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi. (Al-A'la: 1) Maka beliau ﷺ bersabda: Jadikanlah bacaan ini dalam sujud kalian. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah melalui hadits Abdullah ibnul Mubarak, dari Musa ibnu Ayyub dengan sanad yang sama.
Rauh ibnu Ubadah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj As-ﷺwaf dari Abuz Zubair, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan, "Mahasuci Allah Yang Mahabesar dan dengan memuji kepada-Nya, maka ditanamkan baginya sebuah pohon kurma di dalam surga. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi melalui hadits Rauh, dan Imam An-Nasai meriwayatkannya pula melalui hadits Hammad ibnu Salamah, dari hadits Abuz Zubair, dari Jabir, dari Nabi ﷺ dengan lafal yang sama. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadits Abuz Zubair.
Imam Al-Bukhari di dalam akhir kitabnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isykab, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Imarah ibnul Qa'qa', dari Abu Dzar'ah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Ada dua kalimah yang ringan di mulut, berat dalam timbangan amal perbuatan, lagi disukai oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu: "Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Besar." Jamaah yang lainnya (selain Imam Al-Bukhari) selain Abu Dawud, telah meriwayatkan hadits ini melalui Muhammad ibnu Fudail dengan sanad yang semisal.".
90-91. Dan adapun jika dia yang meninggal itu termasuk golongan kanan, yaitu orang yang selalu berbuat baik dan menaati ajaran Allah, maka keselamatanlah yang akan dikaruniakan bagimu karena kamu adalah bagian dari golongan kanan. 92-94. Dan adapun jika dia yang meninggal itu termasuk golongan yang mendustakan ayat-ayat Allah lagi sesat akidah dan ibadahnya, maka dia akan mendapat hidangan air yang mendidih sebagai minumannya, dan dia akan mendapat hukuman yang pedih karena dibakar di dalam Jahanam.
lihat ayat 88.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
When the Soul reaches the Throat at the Time of Death, it cannot be brought back; this proves Reckoning shall occur
Allah the Exalted said,
فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ
Then why do you not (intervene) when it reaches,
in reference to the soul,
الْحُلْقُومَ
Al-Hulqum,
i.e., the throat, at the time of death.
Allah the Exalted said in other Ayat,
كَلَّ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِىَ
وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ
وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ
وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ
إِلَى رَبِّكَ يَوْمَيِذٍ الْمَسَاقُ
Nay, when (the soul) reaches to the collar bone, and it will be said:
Who can cure him (and save him from death)
And he will conclude that it was (the time) of parting (death); And one leg will be joined with another leg (shrouded). The drive will be on that Day to your Lord (Allah). (75:26-30)
Allah said here,
وَأَنتُمْ حِينَيِذٍ تَنظُرُونَ
And you at the moment are looking,
at the dying person and witnessing the stupor of death that he is experiencing
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ
But We are nearer to him than you,
with Our angels,
وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ
but you see not.
you cannot see the angels.
Allah the Exalted said in another Ayah,
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَأءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ
ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللَّهِ مَوْلَـهُمُ الْحَقِّ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَـسِبِينَ
He is the Irresistible over His servants, and He sends guardians (angels) over you, until when death approaches one of you, Our messengers (angel of death and his assistants) take his soul, and they never neglect their duty.
Then they are returned to Allah, their true Protector. Surely, for Him is the judgement and He is the swiftest in taking account. (6:61-62)
Allah's statement,
فَلَوْلَا إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ
تَرْجِعُونَهَا
Then why do you not -- if you are not Madinin -- return the soul,
means, `Will you not return this soul, that has reached the throat, to its body as it used to be, if you are exempt from the reckoning and recompense?'
Sa`id bin Jubayr and Al-Hasan Al-Basri said,
فَلَوْلَا إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ
(Then why do you not -- if you are not Madinin. ..),
If you do not believe that you will be reckoned, recompensed, resurrected and punished, then why do you not return this soul to its body
Mujahid said that,
غَيْرَ مَدِينِينَ
(...if you are not Madinin), means,
if you are not certain.
إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
if you are truthful?
The Condition of People at the Time of Their Death
These are the three types of conditions that people face upon their death.
Either they are among the near believers or
those below their rank on the right, or
those who denied the truth, were led astray from the guidance and were ignorant about Allah.
Allah said,
فَأَمَّا إِن كَانَ
Then if he,
in reference to the dying person,
مِنَ الْمُقَرَّبِينَ
be of the Muqarrabun,
who fulfilled the obligations and the recommended acts of worship and avoided the forbidden and disliked matters and even some of the allowed,
فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ
then for him Rawh, Rayhan and a Garden of Delights.
Theirs will be Rawh and Rayhan; and the glad tidings of these traits will be conveyed to them by the angels at the time of death.
We mentioned before the Prophet's Hadith narrated from Al-Bara' in which the angels of mercy say (to a dying, believing person),
أَيَّتُهَا الرُّوحُ الطَّيِّبَةُ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ كُنْتِ تَعْمُرِينَه اخْرُجِي إِلَى رَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبَ غَيْرِ غَضْبَان
O good soul in the good body that you inhabited, come to Rawh, Rayhan and a Lord Who is not angry.
Ali bin Abi Talhah reported from Ibn Abbas,
Rawh means rest, and Rayhan means place of rest.
Mujahid said similarly that Rawh means rest.
Abu Hazrah said that Rawh means:Rest from the world.
Sa`id bin Jubayr and As-Suddi said that it means to rejoice.
And from Mujahid,
فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ
(Rawh and Rayhan) means:
Paradise and delights.
Qatadah said that Rawh means mercy.
Ibn Abbas, Mujahid and Sa`id bin Jubayr said that Rayhan means provisions.
All of these explanations are correct and similar in meaning. The near believers who die will earn all of these; mercy, rest, provision, joy, happiness and good delights,
وَجَنَّةُ نَعِيمٍ
(and a Garden of Delights).
Abu Al-`Aliyah said,
None of the near believers will depart (this life) until after he is brought a branch of the Rayhan of Paradise and his soul is captured in it.
Muhammad bin Ka`b said,
Every person who dies will know upon his death if he is among the people of Paradise or the people of the Fire.
In the Sahih, it is recorded that the Messenger of Allah said,
إِنَّ أَرْوَاحَ الشُّهَدَاءِ فِي حَوَاصِلِ طُيُورٍ خُضْرٍ تَسْرَحُ فِي رِيَاضِ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِي إِلَى قَنَادِيلَ مُعَلَّقَةٍ بِالْعَرْش
The souls of the martyrs live in the bodies of green birds flying wherever they wish in the Gardens of Paradise, and then rest to their nests in chandeliers hung from the Throne of the Almighty....
Imam Ahmad recorded that Ata' bin As-Sa'ib said,
The first day I ﷺ Abdur-Rahman bin Abi Layla, I ﷺ an old man whose hair had become white on his head and beard. He was riding his donkey and following a funeral. I heard him say, `So-and-so narrated to me that he heard the Messenger of Allah say,
مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَه
He who likes to meet Allah, Allah likes to meet him, and he who hates to meet Allah, Allah hates to meet him.
The people around him started weeping, and he asked them why they wept.
They said, `All of us hate death.'
He said,
لَيْسَ ذَاكَ وَلكِنَّهُ إِذَا احْتُضِرَ
It does not mean that. When one dies:
فَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ
-
فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ
Then, if he be of the near believers, then for him are Rawh, Rayhan, and a Garden of Delights.
فَإِذَا بُشِّرَ بِذلِكَ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلِقَائِهِ أَحَبُّ
and when this good news is conveyed to him, he likes to meet Allah the Exalted and Most Honored and Allah the Exalted and Most Honored likes, even more, to meet him,
وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ
فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ
وَتَصْلِيَةُ جَحِيم
But if he be of the denying, the erring, then for him is an entertainment with Hamim. And entry in Hellfire.
فَإذَا بُشِّرَ بِذلِكَ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ وَاللهُ تَعَالَى لِلِقَايِهِ أَكْرَه
and when this news is conveyed to him, he hates to meet Allah and Allah hates, even more, to meet him.
This is the narration that Imam Ahmad collected; and in the Sahih, there is a Hadith with this meaning collected from A'ishah.
Allah's statement,
وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ أَصْحَابِ الْيَمِينِ
And if he be of those on the right,
means, if he, the dying person, is among those on the right,
فَسَلَمٌ لَّكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ
Then Salam (peace) to you from those on the right,
meaning, the angels will deliver the good news to them by saying, Peace be upon you, i.e., be calm, you will be led to safety, you are among those on the right, as Ikrimah said, The angels will greet him with the Salam and convey to him the news that he is among those on the right.
This is a good explanation, and it conforms with Allah's statement,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَـمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَـيِكَةُ أَلاَّ تَخَافُواْ وَلَا تَحْزَنُواْ وَأَبْشِرُواْ بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
نَحْنُ أَوْلِيَأوُكُمْ فِى الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الاٌّخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِى أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ
Verily, those who say:Our Lord is Allah. and then they stand firm, on them the angles will descend (at the time of their death) (saying):Fear not, nor grieve! But receive the glad tidings of Paradise which you have been promised! We have been your friends in the life of this world and are (so) in the Hereafter. Therein you shall have (all) that your souls desire, and therein you shall have (all) for which you ask. An entertainment from the Oft-Forgiving, Most Merciful. (41:30-32).
Allah's statement,
وَأَمَّا إِن كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ
فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيمٍ
وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ
But if he be of the denying, the erring, then for him is an entertainment with Hamim (boiling water) and entry in Hellfire.
meaning, if the dying person is one of those who denied the truth, who were led astray from guidance,
فَنُزُلٌ
(then for him is an entertainment), meaning, as a guest
مِّنْ حَمِيمٍ
(with Hamim), that dissolves his intestines and skin,
وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ
(And entry in Hellfire). he will reside in Hellfire, which will engulf him from every direction.
Allah the Exalted said, next,
إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ
Verily, this! This is an absolute truth with certainty.
meaning, this news is the truth; there is no doubt about it, nor escape from it for anyone,
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ
So, glorify with praises the Name of your Lord, the Most Great.
Jabir narrated that the Messenger of Allah said,
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّة
He who says, Glory be to Allah the Magnificent and with His praise! then a date tree will be planted for him in Paradise.
This Hadith was collected by At-Tirmidhi and An-Nasa'i;
At-Tirmidhi said, Hasan Gharib.
Al-Bukhari recorded in his book (Sahih) that Abu Hurayrah said that the Messenger of Allah said,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمنِ
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيم
(There are) two statements that are light on the tongue, but heavy on the Balance, and most beloved to Ar-Rahman:
Glory be to Allah and with His praise, glory be to Allah the Magnificent.
The Group, with the exception of Abu Dawud, collected this.
This is the end of the Tafsir of Surah Al-Waqi`ah, all praise and thanks are due to Allah and all the favors come from Him.
then 'Peace be to you', that is, [then] for him there will be [peace by way of] security (salaam) from chastisement, [a greeting] from those of the right [hand], [arising] from the fact that he is one of them.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.