Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
أَمۡ
ataukah/apakah
لَهُمۡ
bagi mereka
سُلَّمٞ
tangga
يَسۡتَمِعُونَ
mereka mendengarkan
فِيهِۖ
padanya
فَلۡيَأۡتِ
maka hendaklah mendatangkan
مُسۡتَمِعُهُم
orang yang mendengarkan diantara mereka
بِسُلۡطَٰنٖ
dengan kekuasaan/keterangan
مُّبِينٍ
nyata
أَمۡ
ataukah/apakah
لَهُمۡ
bagi mereka
سُلَّمٞ
tangga
يَسۡتَمِعُونَ
mereka mendengarkan
فِيهِۖ
padanya
فَلۡيَأۡتِ
maka hendaklah mendatangkan
مُسۡتَمِعُهُم
orang yang mendengarkan diantara mereka
بِسُلۡطَٰنٖ
dengan kekuasaan/keterangan
مُّبِينٍ
nyata
Terjemahan
Atau apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata.
Tafsir
(Ataukah mereka mempunyai tangga) alat untuk naik ke langit (untuk mendengarkan pada langit itu?) perkataan para malaikat sehingga mereka dapat menyaingi nabi, sesuai dengan pengakuan mereka seandainya mereka mengaku-aku memiliki hal tersebut (Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan) orang yang mengaku-aku dapat mendengarkan perkataan malaikat-malaikat di langit (suatu keterangan yang nyata) atau hujah yang jelas lagi gamblang. Mengingat adanya keserupaan pada tuduhan ini dengan tuduhan mereka yang menyatakan, bahwa malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah, maka Allah ﷻ berfirman,.
Tafsir Surat Ath-Thur: 35-43
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya.
Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Semua pertanyaan yang disebutkan di atas untuk membuktikan bahwa Dialah Tuhan seru sekalian alam dan Dialah Yang Maha Esa. Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (Ath-Thur: 35) Yakni apakah mereka ada dengan begitu saja tanpa ada yang menciptakan? Ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Yakni tidaklah demikian keadaannya, bahkan Allah-lah Yang Menciptakan dan yang mengadakan mereka dari tiada.
Imam Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Az-Zuhri, dari Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut'im, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ dalam shalat Magribnya membaca surat Ath-Thur; dan ketika sampai pada ayat ini, yaitu firman-Nya: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? (Ath-Thur: 35-37) Hampir saja hatiku (jantungku) copot.
Hadits ini diketengahkan di dalam kitab Shahihain melalui berbagai jalur dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama. Dan Jubair ibnu Mut'im datang kepada Nabi ﷺ sesudah Perang Badar untuk menebus para tawanan, saat itu ia masih musyrik. Ayat-ayat inilah yang ia dengar dari Nabi ﷺ dan menjadi salah satu faktor yang mendorongnya untuk masuk Islam sesudahnya. Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (Ath-Thur: 36) Yakni apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Ini merupakan reaksi dari keingkaran mereka yang mempersekutukan Allah subhanahu wa ta’ala, padahal mereka mengetahui bahwa hanya Dialah semata Yang Menciptakan semuanya, tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, ketidakyakinan merekalah yang mendorong mereka tetap pada kemusyrikannya.
Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa:' (Ath-Thur: 37) Yaitu apakah mereka yang mengatur kerajaan (dunia) ini dan di tangan kekuasaan mereka terletak semua kunci perbendaharaannya? atau merekakah yang berkuasa? (Ath-Thur: 37) Yakni yang menghisab semua makhluk? Sebenarnya tidaklah demikian, bahkan di tangan kekuasaan-Nyalah kerajaan ini, Dialah Yang Merajai, Yang Mengatur, lagi Yang Maha Berbuat terhadap apa yang dikehendakiNya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu. (Ath-Thur: 38) Yakni tangga naik ke alam atas, untuk mendengarkan hal-hal yang gaib? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. (Ath-Thur: 38) Maka hendaklah orang yang mendengar dari mereka mendatangkan alasan-alasannya secara jelas untuk membuktikan kebenaran perbuatan dan ucapan mereka itu.
Dengan kata lain, mereka pasti tidak mempunyai jalan ke arah itu karena mereka tidak berada pada jalan yang benar sama sekali, dan tiada dalil bagi mereka. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari perbuatan mereka yang menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menganggap para malaikat adalah jenis perempuan; dan mereka memilih laki-laki buat diri mereka, sedangkan perempuan tidak. Karena apabila disampaikan berita gembira kepada seseorang dari mereka akan kelahiran anak perempuan, maka wajahnya berubah hitam dengan penuh kemarahan. Tetapi anehnya setelah mereka menganggap para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah, mereka menyembah para malaikat itu di samping Allah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? (Ath-Thur: 39) Ini mengandung ancaman yang keras dan peringatan yang pasti lagi kuat. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka. (Ath-Thur: 40) sebagai imbalan dari penyampaianmu kepada mereka akan risalah Allah subhanahu wa ta’ala Engkau sama sekali bukanlah orang yang meminta upah dari mereka atas hal tersebut barang sedikit pun. sehingga mereka dibebani dengan utang? (Ath-Thur: 40) Yakni pada kenyataannya sebaliknya hal sekecil apa pun yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, maka mereka mengecamnya dan hal tersebut dianggap mereka memberatkan mereka. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya? (Ath-Thur: 41) Duduk perkara yang sebenarnya tidaklah demikian, karena sesungguhnya tiada seorang pun dari penduduk langit dan penduduk bumi yang mengetahui hal-hal yang gaib selain Allah subhanahu wa ta’ala Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya. (Ath-Thur: 42) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa ataukah mereka bermaksud dengan perkataan mereka yang ditujukan terhadap diri Rasulullah ﷺ dan agama yang dibawanya untuk memperdaya manusia, dan mendiskreditkan Rasul beserta para sahabatnya.
Maka silakan mereka melancarkan tipu dayanya, karena sesungguhnya akibat dari tipu daya mereka itu justru akan berbalik menimpa diri mereka sendiri; orang-orang kafirlah yang justru teperdaya. Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Ath-Thur: 43) Ini merupakan keingkaran yang keras ditujukan kepada orang-orang musyrik karena mereka menyembah berhala dan tandingan-tandingan bersama Allah. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyucikan diri-Nya Yang Mahamulia dari apa yang dikatakan dan dibuat-buat oleh orang-orang musyrik itu, untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Ath-Thur: 43).
Atau apakah mereka, yaitu orang-orang musyrik, mempunyai tangga menuju langit untuk mendengarkan hal-hal gaib' Bila demikian maka hendaklah orang yang mendengarkan berita gaib di antara mereka itu datang dengan membawa keterangan yang nyata yang didengarnya. Pasti tidak akan ada yang tampil untuk mengungkapkannya. 39. Allah mengecam kaum musyrik yang meyakini Dia punya anak perempuan, yaitu para malaikat, 'Ataukah pantas bila kalian mengatakan bahwa untuk Dia Yang Maha Esa itu anak-anak perempuan seperti yang kamu yakini, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki' Sungguh, itu semua merupakan anggapan yang sangat keji dan keliru. '.
Dalam ayat ini Allah ﷻ menyatakan dengan nada pertanyaan, apakah mereka mempunyai tangga untuk naik ke langit, kemudian mereka dapat mendengarkan perkataan malaikat tentang masalah-masalah gaib yang diwahyukan Allah. Sebenarnya mereka hanya berpegang kepada hawa nafsu saja. Mereka mengakui hal itu, maka cobalah mereka mengemukakan suatu bukti yang nyata, yang menerangkan kebenaran pengakuan mereka itu yang menolak risalah seperti pembuktian yang dibawa oleh Muhammad ﷺ dari Tuhannya.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
MARI COBA TERANGKAN!
“Maka peringatkanlah,Maka tidaklah engkau dengan nikmat Tuhan engkau, seonang tukang tenung.'"
(pangkal ayat 29)
Peringatkanlah kepada mereka itu, yaitu orang-orang Quraisy yang tidak mau percaya itu, bahwa berkatnikmat Allah, tidaklah engkau, hai Muhammad, seorang tukang tenung! Anggapan umum pada masa itu, tukang tenung atau tukang ramal nasib, tidaklah kedudukan mereka di dalam masyarakat dianggap mulia. Sejak dari zaman jahiliyyah sudah dikatakan orang juga,
“Berbohonglah tukang-tukang tenung itu walaupun benar apa yang dikatakannya itu."
Artinya, dia bohong karena dia sendiri tidak yakin akan kebenaran kata-katanya, meskipun kemudian ada yang benar-benar kejadian yang dikatakannya itu.
Oleh sebab itu maka tuduhan mereka bahwa Nabi Muhammad ﷺ seorang tukang tenung, demikian juga tuduhan bahwa beliau ﷺ adalah orang gila, kedua tuduhan itu adalah penghinaan belaka. Maka dengan ayat ini Allah telah membela Rasul-Nya. Beliau bukan tukang tenung dan bukan orang gila.
“Dan tidaklah engkau orang gila."
(ujung ayat 29)
“Atau apakah mereka katakan dia seorang penyayang kami tunggu-tunggu agar dia dapat celaka?"
(ayat 30)
Ini pun tuduhan guna menghina saja! Sebab seorang penyair pada dasarnya bukanlah seorang yang patut disebut pemimpin. Penyair bukanlah seorang yang mempunyai pendirian yang akan jadi ikutan dari orang banyak. Sebab itu maka ayat 69 dari surah Yaasiin, Allah telah berfirman,
“Dan tidaklah Kami mengajar syi'ir kepadanya dan tidaklah itu patut baginya. Lain tidak dianya adalah peringatan dan Qur'an yang nyata" (Yaasiin: 69)
Lanjutan ayat mengatakan bahwa orang Arab tidaklah menaruhkan hormat yang layak bagi seorang yang disebut ahli syair. Pada ayat 224 dari surah asy-Syu'araa' dijelaskan lagi,
“Dan penyair-penyair itu, mereka diikuti oleh orang-orang yang jahat. Bukankah engkau lihat bahwa mereka di tiap-tiap lembah mereka bertualang? Dan bahwasanya mereka mengatakan barang yang tidak mereka kerjakan?" (asy-Syu'araa': 224-226)
Beginilah pandangan masyarakat waktu itu terhadap penyair, sama juga dengan pandangan terhadap seniman-seniman atau artis di zaman kita sekarang ini. Ingatlah kita kepada sejarah hidup para penyair itu. Ingatlah kita kepada riwayat petualang Imru'ul Qais, yang di dalam mabuknya keluar syairnya yang indah. Tetapi matinya sangat menyedihkan karena memakai pakaian yang dibasuh dengan racun, lalu mati, hancur badannya demi memakai pakaian itu. Ingatlah kita kepada kehidupan Abu Nawas, penyair di zaman daulah Bani Abbas, yang Imam Syafi'i mengatakan kalau bukanlah karena hidupnya yang bertualang, dapatlah dihargai ilmunya.
Syukurlah karena masih ada “tetapi"nya. Sebab ayat 226 itu masih ada ujungnya.
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan ingat mereka itu kepada Allah, banyak-banyak dan mendapat kemenangan sesudah mereka teraniaya. Maka akan tahulah orang-orang yang aniaya itu, ke tempat manakah mereka akan kembali."(asy-Syu'araa': 227)
Tegasnya bahwa Nabi sendiri bukanlah seorang penyair. Pandangan umum kepada seniman yang disebut penyair itu sejak dahulu sampai kini telah tetap kurang populer. Meskipun Nabi ﷺ sendiri pernah mengatakan,
“Setengah dari ucapan ada juga yang mengandung sihir dan setengah dari syair itu ada juga yang mengandung hikmah."
Nabi Muhammad ﷺ bukanlah penyair. Beliau telah menerangkan cacat hidup seorang penyair, sebagai disebut di ujung surah asy-Syu'araa' itu. Beliau mengakui bahwa syair itu ada juga yang baik dan ada juga yang berisi hikmah. Dalam akhir surah asy-Syu'araa' ditegaskan bahwa penyair yang beriman dan beramal saleh, tidaklah akan menjadi penyair tualang, yang hidup tidak mempunyai tujuan.
Sebab itu maka beliau pimpinlah penyair-penyair yang ada bakat syairnya agar mempergunakan untuk dakwah Islam. Terkenallah beberapa penyair di zaman Nabi ﷺ dan beberapa penyair pendakwah Islam. Yang terkemuka sekali ialah Hassan bin Tsabit. Demikian juga Abdullah bin Rawahah.
Hassan bin Tsabit disediakan Nabi buat menyambut kalau ada utusan-utusan Arab datang menemui Rasulullah ﷺ Bila mereka datang mengucapkan syairnya yang indah-indah dengan susunan kata berirama, Hassan bin Tsabit disuruh Nabi menjawab dalam bait syair yang sama tetapi bahasanya lebih indah, dan susunannya lebih memesona. Pernah Nabi ﷺ mendoakan Hassan,
“Ya Allah, sokonglah dia dengan Ruhul-Qudus."
Sampai ada utusan Arab itu yang berkata, “Penyairnya lebih pandai daripada penyair kita, ahli pidatonya lebih tangkas dari ahli pidato kita."
Teranglah bahwa Nabi ﷺ bukan seorang penyair, meskipun beliau mengaku juga bahwa tidak semua syair buruk; ada juga syair yang mengandung hikmah.
Jadi teranglah bahwa Nabi Muhammad ﷺ bukanlah seorang penyair, tetapi mengisi jiwa beberapa orang penyair dengan iman kepada Allah yang teguh dan beramal saleh, sehingga syair-syair mereka tidak lagi jadi petualang hidup yang tidak tentu arah dan tujuan, atau berani mengatakan sesuatu tetapi tidak berani bertindak.
“Katakanlah, Tunggulah! Saya pun bersama kamu dari onang yang menunggu pula.
(ayat 31)
Artinya, marilah sama-sama kita tunggu, manakah yang benar di antara pendirian kita. Kamu menuduh Nabi ﷺ tukang tenung, orang gila, tukang sihir dan sebagainya. Sedang pihak yang setia memegang ajaran Nabi itu, yakin dan percaya bahwa ini bukanlah tenung, melainkan wahyu. Nabi bukan orang gila, tetapi Rasul yang mendapat sokongan dari Allah. Nabi bukan tukang sihir tetapi mendapat mukjizat dari Allah. Kalau Nabi itu tukang tenung, orang gila, atau tukang sihir, tidaklah akan lama pengaruh ajarannya itu. Beberapa waktu saja pasti dia akan tumbang! Kepalsuannya akan terbuka, topengnya akan robek dari mukanya, sehingga kelihatan wajahnya yang sebenarnya.
Marilah sama-sama kita tunggu!
Setelah sama-sama menunggu ternyatalah bahwa semua yang mengatakan tuduhan-tuduhan yang hina itu, merekalah yang binasa, sedang Nabi ﷺ masih hidup. Agama yang beliau ajarkan kian tersebar, dan penghalangnya itu gagal di medan mana saja pun.
Sampai kepada zaman kita sekarang ini, abad keempat belas Hijriyah dan masuk ke abad kelima belas, musuh-musuh Islam yang tidak rela melihat kenyataan Islam, selalu berusaha hendak menahan kemajuan Islam dengan berbagai kekerasan dan kekejaman, namun usaha menghambat perjalanannya adalah sia-sia belaka.
“Dialah yang mengutus akan Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, supaya dialah yang lebih nyata di atas dari agama sekaliannya; walaupun benci orang-orang yang musyrik." (ash Shaff: 9)
Maka sampai zaman sekarang ini, pihak lawan menunggu, selalu menu nggu keruntuhan Islam. Bukan saja mereka menunggu bahkan berusaha agar cepat runtuhnya. Dan kita pun, kaum Muslimin, menunggu pula sebagaimana mereka menunggu. Dan berusaha pula, sebagaimana mereka berusaha. Dan kita pun penuh percaya bahwa Allah akan menolong kita.
“Atau, apakah mereka disuruh oleh mimpi-mimpi mereka sendiri untuk melontarkan tuduhan ini."
(pangkal ayat 32)
Di dalam bahasa Arab, mimpi-mimpi itu terbagi dua. Pertama disebut ar-ru'yaa ash-shaadiqah berarti mimpi yang benar. Al-ah-laam, yaitu mimpi yang kacau, yang tidak tentu ujung pangkal. Dalam bahasa Melayu keduanya disebut saja mimpi. Mimpi baik dan mimpi buruk. Tetapi di dalam bahasa daerah Minangkabau dibagi dua pula: kalau mimpi yang dapat ditabirkan, disebut mimpi. Tetapi mimpi buruk dan kacau, yang tidak berujung pangkal disebut rasian. Menurut pemakaian bahasa di Minangkabau, rasian samalah dengan al-ahlaam, dan ru'yah sama dengan mimpi. Rasian kacau balau tidak ada tabirnya, sedang ru'yah samalah dengan mimpi. Inilah yang dicari tabirnya. Dalam surah Yusuf banyak bertemu mimpi demikian dan masing-masing ada tabirnya. Dalam pepatah Minangkabau disebut:
“Rasian permainan tidur, kecimpung permainan mandi."
Artinya bahwa dalam tidur sudah biasa, sudah jadi permainan saja jika ada rasian yang buruk, yang seram; dia habis sendiri bila orang telah sadar dari tidurnya. Sebab itu jika hanya rasian janganlah terlalu diambil berat.
Maka dikatakanlah di dalam ayat ini, sebagai suatu pertanyaan apakah mimpi-mimpi atau apakah rasian yang tidak berujung pangkal itu yang menyuruh mereka melontarkan tuduhan bahwa risalah disampaikan oleh Rasul itu adalah palsu belaka?
“Ataukah mereka suatu kaum yang telah melampaui batas?"
(ujung ayat 32)
Percakapan dan penolakan atas kebenaran yang timbul dari suatu hal yang tidak dipikirkan dengan matang, samalah halnya dengan mengucapkan rasian. Yaitu orang yang bercakap-cakap sedang tidur, dia tidak tahu apa yang telah dikatakannya. Sama juga dengan bertutur, bercakap tetapi telah melampaui batas, yang patut dirasakan oleh orang yang berbudi luhur.
“Ataukah mereka mengatakan, ‘Cuma dibuat-buatnya saja."
(pangkal ayat 33)
Mereka menolak, tidak mau percaya bahwa Al-Qur'an itu adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ Kata mereka bahwa apa yang disebut oleh Nabi Muhammad ﷺ wahyu itu hanya buatan Muhammad saja.
“Bahkan mereka tidaklah percaya."
(ujung ayat 33)
Ini pun berlaku sampai sekarang. Seumpama mendiang Prof. Snouck Hourgronye, seorang Orientalis Belanda, yang sangat kenamaan. Untuk mengetahui sampai sedalam-dalamnya, beliau masuk Islam dan beliau berhasil berdiam di Mekah sampai tiga tahun, dengan memakai nama Islam: Syekh Ibrahim Snouck al-Holandi. Tetapi kemudian setelah mengarang tentang Islam, tentang perayaan Haji di Mekah, dapatlah diambil kesimpulan bahwa tidak percaya kepada Islam, tidak percaya bahwa Al-Qur'an itu adalah wahyu. Dan keluarlah nasihat-nasihat beliau kepada pemerintah Belanda, agar berusaha menghilangkan pengaruh Pan Islamisme dari Hindia Belanda. Yang meskipun orang Islam masih mengamalkan Islam, namun hubungan mereka dengan Arab hendaklah diputuskan.
"Maka kamu datangkanlah ucapan yang seumpamanya jika adalah kamu orang-orang yang benar."
(ayat 34)
Kalau kamu masih tetap mengatakan bahwa At-Qur'an adalah buatan Muhammad, padahal sejak semula kamu sendiri mengetahui bahwa Muhammad itu adalah seorang yang tidak pandai menulis dan membaca, atau ummi, tidak terkenal sebelumnya sebagai ahli pengarang, bisa saja dia mengarang dan menyusun kata demikian, niscaya kamu sekalian pun bisa menyusun kata seperti itu. Maka untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an bukan wahyu Ilahi, cobalah karang pula kata-kata seperti demikian. Tentu kalian bisa, sebab kalian jauh lebih pintar dari Muhammad.
Selama jadi Rasul, tiga belas tahun di Mekah dan sepuluh tahun di Madinah berkali-kali mereka ditantang untuk mengeluarkan kata sekuat wahyu Al-Qur'an, namun satu orang pun tidak sanggup.
“Ataukah mereka diciptakan dari tidak ada apa-apa atau mereka sendirikah mencipta dirinya?"
(ayat 35)
Artinya, mereka diciptakan dari tidak apa-apa, yaitu terjadi saja sendiri dengan tidak ada yang menciptakan? Atau manusia ada di dunia ini karena manusia itu sendiri yang menciptakan diri dengan tidak ada pencipta, tegasnya tidak ada Tuhan?
“Ataukah mereka yang telah menciptakan semua langit dan bumi?"
(pangkal ayat 36)
Artinya, kalau tidak percaya bahwa Allah pencipta alam ini seluruhnya, beranikah kamu menyatakan bahwa langit dan bumi itu kamu sendiri penciptanya? Dan ujung ayat pun menegaskan,
“Bahkan mereka pun tidak yakin."
(ujung ayat 36)
Tidak ada pula di antara mereka yang berani berkata demikian, kecuali orang gila. Dan kalau ada yang berkata begitu, semua orang akan menolaknya walaupun mereka menolak Islam. Makhluk yang sehat tidaklah akan berani berkata selancang itu.
“Ataukah di sisi mereka ada perbendahanaan Tuhan engkau."
(pangkal ayat 37)
Perbendaharaan ialah simpanan tempat menyimpan kekayaan Allah; apakah Allah yang telah menyerahkan perbendaharaan-Nya sendiri kepada mereka itu sehingga mereka jadi sombong?
“Atau merekakah yang benkuasa?"
(ujung ayat 37)
Sehingga karena mereka yang berkuasa, Allah tidak berkuasa lagi?
“Atau pada mereka ada tangga untuk mendengar mereka padanya?"
(pangkal ayat 38)
Dari tangga atau jenjang itu mereka bisa naik memanjat ke atas yang dari sana mereka dapat memasang telinga untuk mengetahui apa yang menjadi pembicaraan antara Allah dengan
malaikat-malaikat-Nya.
Kalau memang demikian perkiraan mereka, “Maka hendaklah mendatangkan pen-dengar-pendengaritu apa yang mereka dengar." jelaskan dan jangan disembunyikan.
“Dengan memberikan keterangan yang nyata."
(ujung ayat 38)
Ayat ini memberi bimbingan yang jelas dalam menegakkan suatu keterangan, hendaklah keterangan itu yang masuk di akal dan yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebab kalau seseorang mengaku dirinya, misalnya mendengar sesuatu bisikan dari langit, langsung orang yang menerima keterangan itu percaya saja, tidak dengan mempergunakan pertimbangan, niscaya masyarakat menjadi bertambah gelap dan mudah saja kena tipu. Maka sebagai orang yang mempunyai iman kepada Allah, kita percaya bahwasanya keganjilan-keganjilan yang diada-adakan oleh manusia, tidaklah akan dapat mengubah hukum yang telah tetap dari Allah. Pernah dikatakan oleh Junaid orang Baghdad yang diberi gelar julukan Syekh Thaifah atau guru besar ilmu taﷺuf. Kata beliau, “Jangan engkau terpesona kepada seseorang yang mengaku keramat. Walaupun dia kelihatan bisa terbang di udara ataupun berjalan di atas air. Yang penting diperhatikan adakah dia mengerjakan perintah Allah atau menghentikan larangan dengan betul. Karena keganjilan-keganjilan yang dia perbuat bukanlah berarti boleh mengubah hukum yang tetap.
Absolving the Prophet of the False Accusations the Idolators made against Him
Allah the Exalted commands His Messenger to convey His Message to His servants and remind them of His revelation that has been sent down to him. Next, Allah refutes the false accusations that the liars and sinners accused the Prophet of,
فَذَكِّرْ فَمَا أَنتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ
Therefore, remind. By the grace of Allah, you are neither a Kahin nor a madman.
Allah says, `by the grace of Allah, you, O Muhammad, are not a Kahin, as the ignorant Quraysh idolators claim.'
A Kahin is the soothsayer who receives information from the Jinns that the Jinns are able to eavesdrop on news from heaven,
وَلَا مَجْنُونٍ
(nor a madman) whom Shaytan has possessed with insanity.
Allah the Exalted said, while chastising the pagans for uttering false statements about the Prophet,
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
Or do they say:A poet! We await for him some calamity by time!
They said, `We await a disaster to strike him, for example, death. We will be patient with him until death comes to him and we, thus, get rid of his bother and from his Message.'
Allah the Exalted said,
قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُم مِّنَ الْمُتَرَبِّصِينَ
Say:Wait! I am with you among those who wait!
`wait and I too will wait with you, and you will come to know to whom the good end and triumph shall be granted in this life and the Hereafter.'
Muhammad bin Ishaq reported that Abdullah bin Abi Najih said that Mujahid said that Ibn Abbas said,
When the Quraysh gathered in the Dar An-Nadwah (their meeting place) to discuss the matter of the Prophet, one of them said,
`Jail him in chains. Then we will wait and in time, a calamity will strike him; he will die just as the poets before him died, such as Zuhayr and An-Nabighah, for he is a poet just like them.'
Allah the Exalted said in response to their statement,
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
(Or do they say:A poet! We await for him some calamity by time!)
Allah the Exalted said
أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلَمُهُم بِهَذَا
Or do their minds command them this,
`do their minds command them to tell these lies against you (O Muhammad), even though they know in their hearts that they are untrue and false,'
أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
or are they people transgressing all bounds?
`surely, they are misguided, stubborn and unjust people, and this is why they say what they say about you (O Muhammad). '
Allah the Exalted said
أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ
Or do they say:He has forged it?
They said, `he has forged this Qur'an and brought it from his own.'
Allah the Exalted responded to them,
بَل لاَّ يُوْمِنُونَ
Nay! They believe not!,
meaning, their disbelief drives them to utter these statements,
فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِ إِن كَانُوا صَادِقِينَ
Let them then produce a recitation like unto it if they are truthful.
meaning, if they are truthful in their statement that Muhammad has forged this Qur'an and brought it of his own, then let them produce something similar to what he has brought forth, as in this Qur'an! And even if they combine their strength to that of the people of the earth, Jinns and mankind alike, they will never produce something like the Qur'an, or ten Surahs like it, or even one Surah.
Affirming Tawhid and annulling the Plots of the Idolators. This is the position where Tawhid of Allah's Lordship and Divinity are affirmed.
Allah the Exalted said,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Or were they created by nothing? Or were they themselves the creators?
Allah asks them, were they created without a maker or did they create themselves? Neither is true. Allah is the One Who created them and brought them into existence after they were nothing.
Al-Bukhari recorded that Jubayr bin Mut`im said,
I heard the Prophet recite Surah At-Tur in Al-Maghrib prayer and when he reached this Ayah,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بَل لاَّ يُوقِنُونَ
أَمْ عِندَهُمْ خَزَايِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُون
Or were they created by nothing? Or were they themselves the creators? Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief. Or are with them the treasures of your Lord? Or are they the tyrants with the authority to do as they like?
I felt my heart would fly away.
This Hadith is collected in the Two Sahihs using various chains of narration.
Jubayr bin Mut`im went to the Messenger of Allah after the battle of Badr to ransom the captured idolators. At that time, he was still an idolator. Hearing the Prophet recite this Ayah was one of the reasons that he later embraced Islam.
Allah the Exalted said,
أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالاَْرْضَ بَل لاَّ يُوقِنُونَ
Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief.
meaning, Allah is censuring the idolators for their idolatry, while asking them if they created the heavens and earth. They knew that Allah Alone is the Creator without partners with Him. However, they fell into idolatry because they had no firm belief
أَمْ عِندَهُمْ خَزَايِنُ رَبِّكَ
Or are with them the treasures of your Lord?
meanings, do they have the authority to do whatever they will in His kingdom. Do they hold the keys to His treasures in their hands?
أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ
or are they the tyrants with the authority to do as they like?
meanings, are they the tyrants who would hold the creation to account Never, Allah the Exalted and Most Honored is the Only King and Owner of the existence and He does what He wills.
Allah the Exalted said
أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ
Or have they a stairway, by means of which they listen.
meaning, do they have a stairway to heaven (to the place where the angels are),
فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُم بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
Then let their listener produce some manifest proof.
meaning, let their listener produce evidence to the truth of their actions and statements. They will never be able to do so and therefore, they have nothing and have no evidence for their stance.
Allah admonishes them regarding their claim that He has daughters and that the angels are females! The pagans chose for themselves male offspring and preferred them instead of females, and when one of them would be brought the good news of a daughter being born, his face would turn dark on account of his suppressed anger! Yet, they made the angels Allah's daughters and worshipped them besides Allah,
أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ
Or has He only daughters and you have sons?
Allah sends a strong warning and stern admonition to them in this Ayah and a sure promise.
Allah said,
أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا
Or is it that you ask a wage from them?
meaning, `as a remuneration for your preaching Allah's Message to them!
Nay, you, do not ask them for a wage,'
فَهُم مِّن مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُونَ
so that they are burdened with a load of debt,
meaning, for in this situation, one will complain of the least bothersome thing and feel it difficult and burdensome for him,
أَمْ عِندَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ
Or that the Unseen is with them, and they write it down?
means, they do not have knowledge of the Unseen, for none in the heavens or earth knows the Unseen except Allah,
أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا
فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ
Or do they intend a plot But those who disbelieve are themselves plotted against!
Allah the Exalted is asking, `Do these people who utter such statements about the Messenger and his religion seek to deceive the people and plot against the Messenger and his Companions If they do, then let them know that their plots will only harm them. Therefore, they are being plotted against rather than being the plotters!'
أَمْ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Or have they a god other than Allah? Glorified be Allah from all that they ascribe as partners (to Him).
This Ayah contains harsh refutation directed at the idolators for worshipping the idols and calling upon rivals along with Allah.
Allah next glorifies His Most Honorable Self from what they ascribe to Him, their lies and idolatry,
سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Glorified be Allah from all that they ascribe as partners (to Him).
Or do they have a ladder, a means of ascension into the sky, whereby they eavesdrop?, that is, at the top of which [they listen in], on the conversations of the angels, so that they are then able to dispute with the Prophet, as they claim. If that is what they assert: Then let their eavesdropper, [let] the one claiming to be able to listen [in on their conversations] on top of this [ladder], produce a manifest warrant, a plain and evident proof. Now, on account of the similarity of this assertion to their assertion that the angels are the daughters of God, He, exalted be He, says:
{ 1} It means that their arguments against Islam having failed on rational grounds, the only possibility was that they had a direct link with Allah whereby they have ensured that their faith was true, but no one could bring any proof of having such a link with Allah. (Muhammad Taqi Usmani)
{ 2} This points out to the demand of the pagans of Makkah that they would not believe in the Holy Prophet unless he brings some pieces of the sky falling down from above. (See 17:92 and 26:187 in the Qur an) The answer given is that even if Allah fulfils this absurd demand, they would still not believe and would seek other excuses like claiming that the mass they are seeing is nothing but a cloud. (Muhammad Taqi Usmani)








