Gabung menjadi bagian dari 4 juta+ pembelajar Al-Qur'an dari 180+ negara
Ayat
Terjemahan Per Kata
مُتَّكِـِٔينَ
mereka bersandar
عَلَىٰ
atas
سُرُرٖ
dipan
مَّصۡفُوفَةٖۖ
berbaris/teratur
وَزَوَّجۡنَٰهُم
dan Kami jodohkan mereka
بِحُورٍ
jelita/bidadari
عِينٖ
mata
مُتَّكِـِٔينَ
mereka bersandar
عَلَىٰ
atas
سُرُرٖ
dipan
مَّصۡفُوفَةٖۖ
berbaris/teratur
وَزَوَّجۡنَٰهُم
dan Kami jodohkan mereka
بِحُورٍ
jelita/bidadari
عِينٖ
mata
Terjemahan
Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun, dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah.
Tafsir
(Mereka bertelekan) menjadi Hal dari Dhamir yang terkandung di dalam firman-Nya, "Fii jannaatin" (di atas dipan-dipan berderetan) sebagian dari dipan-dipan itu letaknya berdampingan dengan yang lainnya (dan Kami kawinkan mereka) di'athafkan kepada lafal jannaatin, yakni Kami buat mereka senang dan tenang (dengan bidadari-bidadari) yang jeli matanya lagi sangat cantik.
Tafsir Surat Ath-Thur: 17-20
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan keadaan orang-orang yang berbahagia. Untuk itu Dia berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. (Ath-Thur: 17) Demikian itu kebalikan dari apa yang dialami oleh orang-orang yang berada dalam azab dan siksaan di neraka.
mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. (Ath-Thur: 18) Yakni mereka bersenang-senang dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka berupa berbagai nikmat yang tak terperikan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat-tempat tinggal, kendaraan-kendaraan, dan lain-lainnya. dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Ath-Thur: 18) Allah subhanahu wa ta’ala telah menyelamatkan mereka dari azab neraka, dan itu merupakan nikmat tersendiri selain dari nikmat lainnya, yaitu dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang di dalamnya banyak terdapat kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik dalam hati manusia.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala: (Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan. (Ath-Thur: 19) Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: (kepada mereka dikatakan).Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. (Al-Haqqah: 24) Yakni balasan dari amal perbuatan selama di dunia berupa berbagai macam kenikmatan itu merupakan karunia dari Allah dan kebaikan-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan. (Ath-Thur: 20) As'-Sauri telah meriwayatkan dari Husain, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah dipan-dipan yang mempunyai kelambu.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr; ia pernah mendengar Al-Haisam ibnu Malik At-Ta-i yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya seorang (ahli surga) benar-benar bersandar pada dipan sandarannya selama empat puluh tahun tanpa beranjak darinya dan tanpa merasa bosan, sedangkan ia menerima apa yang diingini oleh dirinya dan yang dipandang sedap oleh matanya. Telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hudbah ibnu Khalid, dari Sulaiman ibnul Mugirah, dari Sabit yang mengatakan bahwa telah diceritakan kepada kami bahwa seseorang (dari ahli surga) benar-benar bersandar di dalam surga selama tujuh puluh tahun, sedangkan di dekatnya terdapat istri-istrinya dan para pelayannya, serta segala sesuatu yang diberikan Allah kepadanya berupa kehormatan dan kenikmatan.
Dan apabila matanya melirik, maka ia menjumpai istri-istri yang disediakan untuknya yang sebelum itu dia tidak pernah melihat mereka, lalu mereka berkata: "Sekarang telah tiba saatnya bagimu memberikan bagian kepada kami." Firman Allah subhanahu wa ta’ala: berderet-deretan. (Ath-Thur: 20) Yakni wajah sebagian dari mereka berhadapan dengan wajah sebagian yang lainnya, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya: di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. (Ash-Shaffat: 44) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (Ath-Thur: 20) Yaitu Kami berikan kepada mereka pendamping-pendamping yang saleh sebagai istri-istri mereka yang cantik-cantik dari bidadari yang bermata jeli.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan Kami kawinkan mereka. (Ath-Thur: 20) Yakni Kami nikahkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli. Mengenai sifat dan gambaran mereka (bidadari-bidadari) telah disebutkan di banyak tempat sehingga tidak perlu diulangi lagi.".
Saat menikmati anugerah Allah itu, mereka duduk dengan nyaman sambil bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dengan indah dan rapi. Kami anugerahi mereka berbagai kenikmatan yang sempurna dan Kami berikan pula kepada mereka pasangan berupa bidadari yang bermata indah. 21. Di surga Allah akan mempertemukan orang tua dengan keturunannya yang seiman. Dan orang-orang yang beriman dan mendapat balasan surga, beserta anak cucu mereka atau ibu bapak mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, walaupun derajat keimanannya tidak serupa, akan Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga sebagai anugerah atas ketakwaan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal kebajikan yang telah mereka perbuat di dunia. Setiap orang terikat dan akan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya, dan dia tidak akan dihukum karena dosa orang lain.
Kemudian Allah menyebutkan apa yang mereka nikmati misalnya kasur-kasurnya (dipan-dipannya). Mereka duduk di sofa yang berjajar dengan santai tanpa suatu apapun yang membebani hati mereka. Tidak ada satu masalah pun yang mesti mereka hadapi waktu itu, sebab barang siapa yang duduk, sedangkan ia menghadapi suatu masalah atau di bebani pikiran oleh suatu masalah berarti pikiran dan hatinya tidak tenteram. Pada ayat ini dipergunakan kata-kata yajlis (duduk) bukan kata-kata yattaki'u (duduk santai). Dengan maksud untuk menjelaskan keadaan duduk seseorang yang diliputi kepuasan dan ketenteraman. Maka keadaan di surga itu menunjukkan suatu keadaan yang tenang, tanpa kesusahan, tanpa beban dan tanpa masalah. Dalam ayat yang sama artinya dikatakan:
Duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (al-hijr/15: 47)
Duduk santai sekadar ungkapan sebagai salah satu contoh tentang kebebasan yang sebenarnya di dalam surga sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad ﷺ: "Seseorang di dalam surga duduk santai selama 40 (empat puluh) tahun tidak berpindah dan tidak membosankannya, datang kepadanya (tanpa diusahakan) apa-apa yang diingini oleh dirinya dan disenangi oleh matanya." (Riwayat Ibnu Abi hatim) Kemudian diterangkan bahwa mereka di sana menikmati pasangan-pasangan mereka. Allah telah memberi mereka istri-istri yang cantik yang bermata jeli.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
Belum tersedia. Dibutuhkan biaya untuk menambahkan tafsir ini.
“Apakah sihir ini?"
(pangkal ayat 15)
Ungkapan ini ialah pertanyaan kepada mereka yang tidak mau menerima kenyataan dan kebenaran itu. Ketika penulis tafsir ini masih muda, banyak terdengar orang-orang yang masih sempit pikirannya dilarang oleh gurunya mendengar keterangan agama secara luas dan masuk akal. Guru itu berkata, “jangan didengarkan percakapan si anti. Dia pintar bicara, nanti engkau tertarik kepadanya lalu engkau tersesat." Demikian pula yang telah terjadi pada Rasulullah ﷺ Wahyu-wahyu
yang beliau sampaikan sangat memesona. Orang musyrikin melarang kawan-kawannya mendengar seruan Nabi. Mana yang terdengar dengan hati terbuka dengan pikiran cerdas, pasti tertarik karena seruan itu mengandung kebenaran. Di situ timbullah pertanyaan, “Apakah sihir ini?"
“Ataukah kamu yang tidak melihat?"
(ujung ayat 15)
Tegasnya ialah bahwa kalau melihat dengan saksama, berpikir dengan teratur, kamu pasti menerimanya dan kamu tidak akan mengatakan bahwa seruan Rasul itu bukanlah sihir. Tetapi mata hatimu tertutup dan telingamu engkau sumbat, tentu akan tetap engkau mengatakan sihir.
Ayat ini menyadarkan akan pentingnya mempergunakan akal dan pikiran di dalam mempertimbangkan sesuatu. Kita tidak layak hanya mendengar percakapan orang lain dengan tidak mempergunakan pertimbangan akal kita yang bebas. Tukang-tukang sihir di zaman Fir'aun mengeluarkan tali dan tongkat yang dengan kekuatan sihir disangka bahwa semuanya ular! Tetapi setelah Nabi Musa melepaskan tongkatnya maka menjalarlah tongkat Nabi Musa itu, dikejarnya segala tali dan tongkat sihir itu lalu dimakannya semua, sampai habis. Setelah semua tongkat dan tali itu habis ditelannya, dia kembali kepada Nabi Musa, sesampai di tangan beliau dia berubah jadi tongkat kembali, sedang tali-tali dan tongkat-tongkat tukang-tukang sihir itu telah habis masuk ke dalam perut tongkat Nabi Musa. Di sini ayat pertanyaan di atas dapat dipasang kembali, ‘Apakah sihir ini? Ataukah kamu yang tidak melihat?"
Tukang-tukang sihir Fir'aun telah melihat dengan saksama. Setelah mereka lihat, mereka mendapati bahwa yang dari Nabi Musa ini bukan sihir! ini betul-betul mukjizat, artinya tidak mampu akal memikirkan. Sedang tongkat-tongkat dan tali-tali yang mereka lemparkan tadi hanya dikhayatkan saja dengan kekuatan sugesti bahwa semua jadi ular. Dan setelah semuanya tali dan tongkat tidak ada yang lari, bahkan tidak ada yang berganjak dari tempatnya ketika dimakan satu demi satu oleh ular tongkat Nabi Musa dan kemudian ular itu kembali jadi tongkat, sujudlah sekalian ahli sihir itu dan mengaku tunduk kepada Musa, sebab semua sudah yakin bahwa yang dibawa Musa ini bukan sihir, melainkan qudrat dan iradah dari Allah Yang Mahakuasa. Seluruhnya segera bertukar dari tukang-tukang sihir menjadi umat yang percaya, yang iman akan adanya Yang Mahakuasa melebihi dari mengatasi segala kekuasaan yang ada di dunia ini walaupun kekuasaan Fir'aun sendiri. Untuk keyakinan itu mereka rela menerima ketika hukuman mati dijatuhkan Fir'aun kepada mereka. Hukuman itu dengan jelas diterangkan di dalam Al-Qur'an,
“Sesungguhnya akan kami potong tangan-tangan kamu dan kaki-kaki kamu dengan bersilang dan sungguh akan kami salibkan kamu sekalian di batang kurma dan akan tahu sendirilah kamu siapa di antara kita yang teramat kejam adzabnya dan terlebih kekal." (Thaahaa: 71)
Tetapi takutkah mereka akan adzab siksaan yang sangat kejam dan bengis itu? Dipotong tangan dan kaki secara bersilangan? Kalau yang dipotong tangan kanan maka kaki yang dipotong ialah yang kiri; sesudah dipotongi cara demikian lalu dinaikkan ke batang kurma dan dipakukan, disalibkan!
Takutkah mereka akan semuanya itu? Tidak! Mereka tidak takut, bahkan mereka sambut dengan gagah,
“Putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan, yang akan kamu putuskan itu cumalah hidup di dunia ini saja." (Thaahaa: 72)
Itulah keyakinan sejati. Yang dibawa oleh Nabi Musa ini sudah terang bukan sihir. Tetapi mukjizat, kekuasaan Allah yang tidak dapat diatasi oleh manusia. Fir'aun boleh menggunakan kekuasaan, kegagah-perkasaan buat memaksa mereka mengubah pendirian itu, namun mereka tidak mau. Tidak ada yang lebih sengsara daripada mengubah pendirian. Maka jawaban orang-orang Mukmin itu adalah jawaban yang tepat, “Kalian hanya berkuasa di dunia ini saja. Dengan menghukum kami sampai mati, kebenaran itu tidak juga akan dapat diubah."
Di tiap zaman akan terjadi hal seperti ini. Barang yang batil hendak ditegakkan dengan kekerasan. Maka orang-orang yang lemah imannya dapat mendustai dirinya sendiri, lalu turut mempertahankan yang batil dengan mengatakan bahwa yang batil itu ialah yang hak. Orang yang seperti ini, yang mendustai diri, kebanyakan ialah karena takut mati. Padahal dengan mendustai diri itu dia tidak insaf bahwa hidupnya tidak ada harga lagi; artinya lebih hina daripada mati.
“Nyalakanlah dia maka sobatlah kamu ataupun kamu tidak sobat, samalah bagi kamu"
(pangkal ayat 16)
Artinya ialah sebagai akibat daripada penolakan dan ketidak-percayaan kamu akan adanya hari akhirat itu, tidak lain yang akan kamu terima dan derita kelak ialah adzab siksaan, “Nyalakanlah," bagi kamu api neraka itu. Disebutkan bahwa alat penyaiakan itu ialah manusia dan batu,
“Bahan bakarnya manusia dan batu." (al-Baqarah: 24)
Kamu sabar ataupun tidak sabar namun derita neraka itu akan sama saja sakitnya. Hal ini tidak akan dapat diubah lagi sampai hukum selesai. Penderitaan itu hanya akan dapat dihindari di waktu hidup ini dengan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan melaksanakan dengan patuh apa yang disuruh.
“Sesungguhnya kamu akan diberi ganjaran hanya menurut apa yang pernah kamu kerjakan."
(ujung ayat 16)
Lebih banyak kerja atau amalan yang buruk dan tercela lebih banyak pulalah siksa dan penderitaan di akhirat itu kelak. Dan kalau yang baik yang lebih banyak, semoga dapat menghapus pengaruh dari yang jahat. Menurut sabda Nabi ﷺ,
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja pun kamu berada dan ikutilah suatu amal yang buruk dengan yang baik, semoga dapat yang baik itu menghapuskan yang buruk dan berperangailah terhadap manusia dengan perangai yang baik." (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Dengan cara demikian semoga perangAl-perangai dan kelakuan yang baiklah yang akan terbiasa banyak dikerjakan dan bertambah lama bertambah kuranglah perangai yang buruk. Karena yang baik jualah yang jadi cita-cita manusia.
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu adalah pada surga-surga yang penuh nikmat."
(ayat 17)
Sesudah rasa cemas karena ngerinya adzab di dalam neraka, langsung sekali ditunjukkan jalan keluar. Orang-orang yang bertakwa yaitu orang yang selalu memelihara hubungan baiknya dengan Allah dan tidak usah dia khawatir akan adzab yang pedih dan ngeri itu. Sebab dia tidak akan kena oleh adzab itu. Sebab
sejak semula, dalam hidup yang sekarang dia telah mendapat dan selalu menjaga, jangan sampai apa yang diperintahkan Allah tidak dikerjakan dan apa yang dilarang Allah tidak dihentikan.
“Dan adapun orang yang takut akan maqam (kebesaran) Tuhannya dan dapat menahan diri dari hawa nafsunya maka surgalah yang jadi tempat kediamannya." (an-Naazi'aat: 40-41)
Maka selalu Allah sesudah menerangkan adzab yang ngeri, siksa yang berat dalam neraka, selalu menunjukkan jalan keluar, yaitu tidak usah takut mendengar adzab pedih dan ngeri itu, dan pilihlah jalan yang baik di waktu hidup di dunia ini, niscaya tidaklah akan bertemu kelak segala yang diancamkan itu.
“Bersukaria mereka dengan apa yang diberikan oleh Tuhan mereka."
(pangkal ayat 18)
Dan yang akan diberikan itu, tidaklah seimbang dengan yang dikerjakan di dunia ini. Dalam hidup kita di dunia yang hanya sebentar, kita berbuat baik, kita beribadah bukanlah terus-menerus, kita shalat hanya lima kali sehari semalam, kita puasa hanya sebulan dalam setahun, kita berzakat hanya kalau ada harta yang akan dizakatkan, kita naik haji yang wajib hanya sekali seumur hidup. Jika kita kerjakan itu dengan setia, tulus dan ikhlas, dan kita tidak sombong, tidak aniaya kepada sesama manusia, maka bersukarialah dengan apa yang diberikan itu sebagai ganjarannya. Sungguh tidak sepadan nikmat yang akan kita terima itu dengan amal baik yang kita kerjakan. Kita misalkan berusia sampai seratus tahun, sedang nikmat yang akan kita terima itu adalah kekal selama-lamanya, tidak akan dibatas oleh maut lagi.
“Dan dipelihara mereka oleh Tuhan mereka dari adzab neraka."
(ujung ayat 18)
Itulah janji dan jaminan Allah kepada kita, hamba-Nya ini. Dan janji Allah adalah benar.
"Makanlah dan minumlah dengan senang dari apa yang telah kamu kerjakan."
(ayat 19)
Dengan ayat ini ditegaskan bahwa jaminan Allah atas makanan dan minuman di hari akhirat itu kelak adalah hasil belaka dari usaha dan amal kita ketika hidup di dunia ini juga.
Lalu dijanjikan lagi hidup yang mewah dan senang,
“… mereka atas tempat-tempat tidur yang tersusun."
(pangkal ayat 20)
Inilah lanjutan gambaran dari kesenangan yang akan dirasakan di akhirat itu. Di sana akan didirikan tempat-tempat tidur, katil yang menyenangkan jika manusia bertelekan padanya, betul-betul tempat istirahat, yang akan kita rasakan betapa besar nikmatnya jika kita rasakan betapa penat, betapa lelah dalam hidup yang sekarang.
“Dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari."
(ujung ayat 20)
Description of the Destination of the Happy Ones
Allah the Exalted described the destination of the happy ones,
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ
Verily, those who have Taqwa will be in Gardens and Delight.
in contrast to the torment and punishment of the miserable
فَاكِهِينَ بِمَا اتَاهُمْ رَبُّهُمْ
Enjoying in that which their Lord has bestowed on them,
meaning, enjoying the various types of delight that Allah has granted them therein, such as various types of foods, drinks, clothes, dwelling places, mounts, and so forth,
وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
and (the fact that) their Lord saved them from the torment of the blazing Fire.
He saved them from the torment of the Fire, which is a bounty itself. Added to this blessing is the fact that they were entered into Paradise, which has delights that no eye has ever seen, no ear has ever heard, nor has a heart ever imagined.
The statement of Allah the Exalted,
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِييًا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Eat and drink with happiness because of what you used to do.
is similar to another of His statements,
كُلُواْ وَاشْرَبُواْ هَنِييَاً بِمَأ أَسْلَفْتُمْ فِى الاٌّيَّامِ الْخَالِيَةِ
Eat and drink at ease for that which you have sent on before you in days past! (69:24)
meaning this is the just reward for your deeds; surely, all this is a favor from Allah and a reward from Him.
Allah the Exalted said
مُتَّكِيِينَ عَلَى سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ
They will recline (with ease) on thrones Masfufah.
Ath-Thawri reported from Husayn, from Mujahid, from Ibn Abbas:
Thrones in howdahs.
And the meaning of, (Masfufah) is they will be facing each other,
عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَـبِلِينَ
Facing one another on thrones. (37:44)
Allah said next,
وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
And We shall marry them to Hur (fair females) with wide lovely eyes.
We made for them righteous spouses, beautiful wives from Al-Hur Al-`Ayn.
We mentioned the description of Al-Hur Al-`Ayn in several other places in this Tafsir, and therefore, it is not necessary to repeat their description here.
The Offspring of Righteous Believers will be elevated to Their Grades in Paradise
Allah the Exalted says,
وَالَّذِينَ امَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ
And those who believe and whose offspring follow them in faith, -- to them shall We join their offspring, and We shall not decrease the reward of their deeds in anything.
In this Ayah, Allah the Exalted affirms His favor, generosity, graciousness, compassion and beneficence towards His creation. When the offspring of the righteous believers imitate their parents regarding faith, Allah will elevate the latter to the ranks of the former, even though the latter did not perform deeds as goodly as their parents. Allah will comfort the eyes of the parents by seeing their offspring elevated to their grades. Surely, Allah will gather them together in the best manner, and He will not decrease the reward or the grades of those higher in rank for joining them together, hence His statement,
أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ
.
to them shall We join their offspring, and We shall not decrease the reward of their deeds in anything.
Ath-Thawri reported that Ibn Abbas said,
Verily, Allah elevates the ranks of the believers' offspring to rank of their parents, even though the latter have not performed as well as the former, so that the eyes of the parents are comforted.
Ibn Abbas then recited this Ayah,
وَالَّذِينَ امَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ
And those who believe and whose offspring follow them in faith, -- to them shall We join their offspring, and We shall not decrease the reward of their deeds in anything.
Ibn Jarir and Ibn Abi Hatim recorded this statement from Sufyan Ath-Thawri from Ibn Abbas.
Ibn Abi Hatim also recorded that Ibn Abbas commented on Allah's statement,
وَالَّذِينَ امَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
(And those who believe and whose offspring follow them in faith, -- to them shall We join their offspring), saying,
They are the offspring of the believers who died on the faith. If the ranks of their parents are higher than their ranks, they will be joined with their parents. No part of the reward their parents received for their good deeds will be reduced for them.
Abdullah, son of Imam Ahmad, recorded that Ali said,
Khadijah asked the Prophet about two of her children who died during the time of Jahiliyyah, and the Messenger of Allah said;
هُمَا فِي النَّار
(They are both in the Fire).
When he ﷺ sadness on her face, he said,
لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَاَبْغَضْتِهِمَا
If you ﷺ their dwelling place, you would hate them.
She said, `O Allah's Messenger! What about my children with you.'
He said,
فِي الْجَنَّة
(They are in Paradise).
The Messenger of Allah said,
إِنَّ الْمُوْمِنِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي النَّار
Verily, the believers and their offspring will dwell in Paradise, while the idolators and their offspring will dwell in the Hellfire.
The Prophet then recited the Ayah,
وَالَّذِينَ امَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ
(And those who believe and whose offspring follow them in faith...)
Certainly, it is Allah's grace and favor that He grants the children this blessing because of the good deeds of their parents. He also grants His favor to parents on account of their offspring invoking Allah for them.
Imam Ahmad recorded that Abu Hurayrah, may Allah be pleased with him, said that the Messenger of Allah said,
إِنَّ اللهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنْى لِي هذِهِ
فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَك
Verily, Allah shall elevate the grade of a righteous servant in Paradise, who will ask, O Lord! How did I earn this?
Allah will reply, Through your son's invoking Me to forgive you.
This Hadith has an authentic chain of narration, but it was not recorded in the Sahih this way.
However, there is a witnessing narration for it in Sahih Muslim, from the Hadith of Abu Hurayrah, who said that the Messenger of Allah said,
إِذَا مَاتَ ابْنُ ادَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَثٍ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه
When the Son of Adam dies, his record of deeds will cease except in three cases:
an ongoing charity,
knowledge that people are benefiting from and
a righteous son who invokes Allah for him.
Allah is Just with the Sinners
Allah the Exalted said,
كُلُّ امْرِيٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Every person is a pledge for that which he has earned.
After Allah mentioned His favor of elevating the offspring to the ranks of their parents, even though the deeds of the former did not qualify them, He affirmed His fairness in that, He does not punish anyone for the mistakes of others,
كُلُّ امْرِيٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
(Every person is a pledge for that which he has earned). Therefore, every person will be responsible for his actions. No sin committed by others shall ever be added to one's load, even if committed by his or her parents or offspring.
Allah the Exalted said,
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
إِلاَّ أَصْحَـبَ الْيَمِينِ
فِى جَنَّـتٍ يَتَسَأءَلُونَ
عَنِ الْمُجْرِمِينَ
Every person is a pledge for what he has earned, except those on the Right. In Gardens, they will ask one another about the criminals. (74:38-41)
Description of the Khamr of Paradise and the Delight of its Dwellers
Allah said,
وَأَمْدَدْنَاهُم بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ
And We shall provide them with fruit and meat such as they desire.
meaning, `We shall provide them with various types and kinds of fruits and meat, whatever they wish for and desire,
يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا
There they shall pass from hand to hand a cup,
meaning, of wine, according to Ad-Dahhak,
لاَّا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ
free from any Laghw, and free from Ta'thim,
meaning, when they drink, they do not say any idle, vain words or utter dirty, sinful speech like the drunken people in this life do.
Ibn Abbas said that
Laghw means `falsehood' while Ta'thim means `lying'.
Mujahid said, They do not curse each other nor sin.
Qatadah said,
These were the consequences of drinking in this life, and Shaytan helped in this regard. Allah purified the wine of the Hereafter from the ills and harm caused by the wine of this life.
Therefore, Allah has purified the wine of the Hereafter from causing headaches, stomachaches and intoxication like the wine of this life. Allah stated that wine of the Hereafter shall not cause those who drink it to utter false, vain words that carry no benefit, full of foolishness and evil. Allah also described the wine of the Hereafter as beautiful in appearance, tasty and fruitful,
بَيْضَأءَ لَذَّةٍ لِّلشَّـرِبِينَ
لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ
White, delicious to the drinkers. Neither will they have Ghawl from that nor will they suffer intoxication therefrom. (37:46-47)
and,
لااَّ يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنزِفُونَ
Wherefrom they will get neither nay aching of the head nor any intoxication. (56:19)
Allah the Exalted said here,
يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لاَّ لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ
(There they shall pass from hand to hand a (wine) cup, free from any Laghw, and free from sin).
Allah said,
وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُوْلُوٌ مَّكْنُونٌ
And there will go round boy-servants of theirs to serve them as if they were preserved pearls.
This is a description of the servants and aids, the believers will have in Paradise. Their servants will be beautiful, graceful in appearance, clean and neat as well-preserved pearls,
يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَنٌ مُّخَلَّدُونَ
بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ
Immortal boys will go around them with cups, and jugs, and a glass of flowing wine. (56:17-18)
Allah the Exalted said,
وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءلُونَ
And some of them draw near to others, questioning.
meaning, the believers will draw near to each other talking and remembering their actions and conditions in this life, just as people in this life talk while drinking, especially when they become intoxicated,
قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ
Saying:Aforetime, we were afraid in the midst of our families.
meaning, `in the life of world and in the midst of our families, we were afraid of our Lord and fearful of His torment and punishment,'
فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ
So Allah has been gracious to us, and has saved us from the torment of the Fire.
meaning, `He has granted us a favor and saved us from what we feared,
إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ
Verily, We used to invoke Him before.
meaning, `we used to invoke Him with submission and humility, and He accepted our invocation and gave us what we wished,'
إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ
Verily, He is the Most Subtle, the Most Merciful.
[They will be] reclining (muttaki'eena is a circumstantial qualifier referring to the concealed subject of God's words fee jannaatin, 'amid the Paradises') on ranged couches, [arranged] one next to the other, and We will wed them (zawwajnaahum is a supplement to jannaatin, 'the Paradises', meaning 'We will couple them') to beautiful houris, of wide and beautiful eyes.
Not yet available. It requires resources to add this interpretation.








